Naruto bukan milik saya, mereka milik Masashi Kishimoto, saya tidak mengambil keuntungan apapun dari ini.

.

.

.

Rest in Pieces (Karma)

"Mau kemana kau?"

Aku menoleh, sebenarnya hanya menatap lewat bahu. Di sana, di belakang sana, berdiri Sasuke dalam pelukan susu strawberry. Ia tampak mencurigai diriku untuk melakukan tindakan konyol dan bodoh lainnya. Aku jadi merasa kurang nyaman di perhatikan seperti ini. Jujur saja, dia jadi sangat menyebalkan bahkan melebihi Kak Madara, walau ucapan Kak Madara lebih lembut dibandingkan Sasuke. Tapi mereka sama-sama hobi mengatur.

"Aku ingin ke rumahnya Shion." Aku menjawab begitu, tanpa berpikir harus berbohong atau tidak. Aku tidak suka berbohong sebenarnya dan aku bukan orang yang seperti itu.

"Shion?" Sasuke mengkeryit heran dan tak percaya. "Kau kenal Anak Aneh itu? Aku sih lebih baik menjauhi anak itu." Ia bergidik jijik hingga berpura-pura muntah. Berlebihan.

"Ya, dia mengajakku bicara, katanya dia akan memberitahu sesuatu. Suatu rahasia, kau mau ikut?"

"Ugh, dia tinggal di komplek lain dan itu jauh sekali. Kau butuh sepeda, Izuna..."

"Sepeda?" Aku agak terkejut ketika ia berkata demikian, bukan karena aku tak tahu apa itu sepeda, tapi aku tak tahu bagaimana mengendarainya. Aku lebih suka jalan kaki atau main skateboard. "Aku tidak bisa naik sepeda, kau mau mengantarku?"

Sasuke tampak berpikir, di lihat dari wajahnya ia mau sekali ikut. Aku tahu ia sangat suka misteri dan memecahkan puzzle. Aku dapat membaca segalanya, bahkan hanya dengan melihat bayanyannya saja. Dia bukan tipe orang yang jujur jika membicarakan soal hati tapi perkataannya yang sulit di mengerti orang awam akan membuatmu tersinggung.

"Paman belum pulang, Izuna. Dan kita harus menjaga rumah, aku tidak mau membawa Aria kemari atau meminta dia untuk menunggu kita."

"Tabahlah, ia menghilang..."

Ya, dia menghilang setelah aku mendapatkan mimpi itu. Mengerikan bukan? Aku tidak membicarakan soal mimpinya, tapi soal bagaimana alur ini terkesan mengerikan. Obito menghilang, bertepatan dengan rangkaian mimpi yang aku terima saat itu. Itachi mencoba menghubungi beberapa pihak yang dia tahu, kenalan Obito hingga Rin mantan pacarnya, tapi tidak ada kemajuan, mereka tidak tahu kapan Obito terakhir kali terlihat.

Obito jadi terkesan menghilang di dalam kamarnya. Sebetulnya kami juga tak ingat kapan terakhir kali bertemu Obito, seolah kejadian ini memang disengaja atau sudah diatur sedemikian rupa.

Pasrah dan sedih akhirnya Itachi menelepon Polisi dan duo Polisi heboh bernama Deidara dan Akasuna yang menangani, juga satu lelaki seperti penyanyi grup band bernama Hidan, dia ini yang berkeliaran di lapangan dan sok ngartis.

Hidan ini relijius, tapi aneh, ia memakai kalung yang banyak dengan bentuk segitiga dikelilingi lingkaran. Kupikir ia semacam penyamun yang basi, tapi ucapannya yang berbelit dan sombong membuatnya terlihat seperti Pengacara. Pengacara yang banyak uang sekaligus Lintah Darat. Aku tidak suka dengan orang itu dan Sasuke terus mengoceh soal parfum Hidan yang bau debu. Tapi aku suka koleksi kalungnya dan Hidan bilang ia membelinya di Paris.

Deidara bilang mereka menutup kasus Mariko karena mendapat kebuntuan dari berbagai cabang. Beberapa rekan yang menangani ini juga hilang entah kemana, berbeda dengan kasus sebelumnya yang mati ketika menangani kasus yang ada hubungannya dengan keluarga Hyuuga. Uh, bagus juga Setan itu.

"Ya sudah, aku ikut denganmu, Izuna. Aku tidak mau hal aneh terjadi padamu. Lagi pula, Kak Itachi sedang ada tugas kuliahnya. Ia kembali minggu depan."

Aku merendah. "Terima kasih."

"Aku akan mengambil sepeda di garasi, kau tunggu di sini."

Sasuke berlalu begitu cepat, aku bahkan tak sempat melihatnya berjalan melewatiku atau ketika ia membuka pintu depan. Aku duduk di depan pintu, menyender di tembok sembari berpikir bagaimana aku bisa kembali atau soal Shion yang aku sendiri tidak memercayainya seratus persen.

Sasuke sebenarnya berkata benar, Shion itu aneh. Dia agak cantik dan aku sedikit suka dengan warna rambutnya, matanya dan cara ia bicara. Tapi ia mengerikan, ia seperti Psikopat, bahkan ia tak terganggu ketika melihat mayat Naruto yang terbakar.

Lama sekali, aku sudah memikirkan banyak hal, Sasuke masih mengambil Sepeda di garasi. Aku sempat berpikir kalau ia pingsan di dalam sana. Ia belum makan dan hanya minum susu seharian, perutnya akan menderita. Percayalah. Semua orang akan begitu, walaupun kau bisa bertahan hidup dengan hanya minum air saja selama 3 minggu.

Sebelum Sasuke datang, aku mendengar suara gedebruk beberapakali tapi aku pura-pura tidak mendengar, aku lelah dan bosan juga tak mau mencari tahu. Keingintahuan melahirkan petaka. Aku dengar tetangga kami hobi kelahi dan itu mungkin hal yang biasa di dengar oleh tetangga yang baik, mungkin itu semacam kekerasan rumah tangga.

'Bruk'

'Bruk'

'Bruk'

Suara itu kembali lagi, kali ini lebih keras dan beritme dari yang sebelumnya. Aku memikirkannya sejenak, menelaah apakah suara itu keluar dari seseorang atau sesuatu, suara itu mirip seperti bola karet yang memantul di tangga kayu reot. Aku rasa kami tidak memiliki benda seperti itu di dalam sini.

'bruk'

'bruk'

'bruk'

Suara terdengar, kali ini sangat keras dan kemudian bertambah keras. Aku bangkit dari duduk, merapikan kemejaku dan memendarkan mata ke seluruh penjuru, mencoba merasakan sekitar dengan prediksiku.

"Apa aku sudah gila ya?"

Aku berjalan menjauhi pintu, mengecek setiap ruangan tanpa cela sekalipun. Dari mulai lantai atas, bawah, tengah bahkan kamar mandi dan kantor milik Fugaku. Aku yakin sekali, suara-suara itu bukan berasal dari sana, bukan berasal dari luar atau dari ruangan di seberang sana, suara itu bukan berasal dari kamar mandi atau tempat payung.

Aku takut. Aku takut sekali.

Aku kembali ke tempat asal, berdiri di depan pintu sembari melipat tangan. Dalam beberapa saat suara gedebruk itu kembali terdengar, kali ini terdengar seperti orang marah yang haus darah. Rahangku mengeras, wajahku memucat, aku bergemetar heboh, aku ngeri sendiri, aku berubah menjadi patung di tengah ruangan.

Suara itu. Suara itu ada di balik dinding! Ya! Di balik dinding!

Kutempelkan telingaku pada dinding, meneguk ludah dan merasakan sensasi yang ada. Aku hampir saja menangis, aku takut sekali.

'kekekekekek'

Ada suara! Aku mendengar suara tawa! Sumpah, itu suara tawa yang mengerikan. Aku benar-benar bersumpah, aku ngeri.

"Si-siapa itu? Siapa di sana?"

'Kekekeke'

'Dug'

Sebuah tangan mencengkramku, sangat kasar dan heboh. Aku menoleh pelan dengan wajah berkeringat. Aku melihat pemadangan yang mengerikan, rahangku hampir patah, aku melihat sosok hitam gosong berbulu putih bermanik merah yang tengah marah.

"AAAAAAAAAAHHHH!"

.

.

.

"Astaga, Izuna! Kau tak perlu kaget begitu! Kau penakut!"

"Sa-sasuke.."

Itu Sasuke, ia memakai topeng Halloween berbentuk manusia serigala yang bau apak. Ia tertawa keras, sangat keras hingga terjatuh karena aku langsung mendorongnya ketika aku berteriak.

"Dasar bodoh, kupikir kau yang membuat suara-suara aneh itu. Kau membuatku takut."

Aku marah, aku jadi bodoh dan aku tak suka begitu. Tapi Sasuke tidak meminta maaf atau mengoceh karena aku mendorongnya, ia menyukai kebodohan ini dan tertawa sepanjang detik ketika aku mengoceh tak jelas, aku bahkan tak ingat hal apa yang sedang aku bicarakan.

"Kau muncul dari mana, Sasuke?"

Sasuke menatapku jahil, lalu melempar topeng buluk itu kesembarang arah. Ia melipat tangan di dada dan tertawa kasar. "Belakang sana." Ia menunjuk dengan sebuah kode mata. "Kau serius begitu sih, kenapa kau?"

"Aku mendengar suara di balik dinding." Jawabku kesal.

"HAH? Kau apa?"

"Aku mendengar suara orang di balik dinding dan suara gedebruk yang keras. Aku sudah memeriksa semuanya dan suara itu berasal dari dinding."

"Aneh."

"Bagaimana soal sepedanya?" Tanyaku parau, jantungku masih berdetak tak karuan. Aku mengalihkan pembicaraan ini karena Sasuke tampak tak peduli.

"Bannya kempes, aku akan meminta Kei untuk membereskan ini."

"Kei?" Nama itu terdengar asing bagiku. Aku belum pernah mendengarnya.

"Keitakuno Urina. Dia anak yang heboh, ayo kita ke rumahnya."

Rumah anak itu ada di seberang kami, aku belum pernah mengunjunginya atau melihat siapa penghuninya, aku terlalu terpaku pada kejadian mengerikan akhir-akhir ini. Rumah anak itu lumayan, ada pohon Maple dan Apel di depannya. Buahnya banyak sekali dan aroma manis mengelilinginya, aku jadi lapar.

Sasuke membawaku ke belakang rumah Ini, ia bilang Kei suka sekali berada di garasi dan membuat kerajinan tangan, ia pernah diberi satu kerajinan mobil-mobilan dari kayu. Sasuke menunjuk ketika mendengar suara auman mesin, aku juga mencium bau resin beberapa cat dan juga tiner.

Ketika kami muncul, seseorang dari dari balik mobil bak terbuka terlihat, segumpal rambut pirang yang halus menyembul dari balik mobil bak terbuka. Aku hanya melihat rambut pirang pucat yang berponi dan manik biru cerah yang besar seperti kelereng kristal. Sasuke melambaikan tangan dan anak itu mendekati kami.

Ketika aku melihatnya aku merasa bahwa dia seusia denganku, dia agak pendek dengan kulit putih yang nyaris pucat, rambut panjang sebahunya ia biarkan terurai tanpa mengikatnya. Dia cantik sekali dan senyumnya manis, pantas saja Sasuke tidak berhenti tersenyum padanya, ia bahkan lebih cantik ketimbang Aria.

"Halo, Uchiha. Ada apa pagi-pagi begini?" Ia bertanya sembari menyeka keringat di dahi. Suaranya pelan sekali aku nyaris tak bisa mendengarnya.

"Siapa ini?" Ia berpaling padaku dan aku malu setengah mati, anak ini bahkan memanggil Sasuke dengan marga kami bukan dengan nama panggilan. Bukankah itu manis sekali?

"Dia Izuna, saudaraku. Aku datang ke sini mau pinjam pompa angin, ban sepedaku kempes."

Ia heran. "Kalian mau kemana?"

"Ke rumah Shion, aku ingin menanyakan sesuatu padanya."

"Shion? Oh, anak itu. Kau mau naik sepeda yang mana? Bukankah itu sudah kecil bagimu?"

"Ya, bagaimana ya? Kei, kau mau meminjamkan kami sepeda?"

"Kita naik mobil saja, biar Kakakku yang mengantar kalian."

Kei menghilang, aku dengar ia berbicara dengan Kakak perempuannya. Ia pakai kacamata dan terlihat pendiam, Kakaknya sangat tinggi, seperti pemain basket andalan. Tubuhnya atletis dengan otot-otot kecil di lengan, ia bahkan terlihat seperti anak laki-laki.

Kei mendekat, menatap satu persatu dari kami. Ia tersenyum, mata birunya berkilauan. "Kakakku setuju, aku akan ganti baju dulu."

"Terima kasih, Kei. Kau memang teman terbaikku."

Kei hanya tersenyum pada Sasuke dan menghilang masuk ke dalam rumah.

Sepanjang perjalanan kami hanya berdiam diri, aku memandangi jalanan dan sesekali melihat Kei yang ada di depan kami. Kakaknya sangat mirip dengan dia, hanya saja matanya berwarna hijau. Kei yang sudah berganti pakaian terlihat santai, ia memakai kaos hijau dan celana pendek berwarna hitam, cocok sekali untuk musim ini. Aku belum pernah melihat ada anak yang semenarik dia, dia benar-benar cantik dan mungkin aku akan naksir padanya. Aku suka rambutnya, pasti halus sekali dan ia memiliki aroma cokelat yang hangat.

Tanpa sengaja aku sudah tersenyum sendiri, aku merasa aneh.

"Izuna, jangan melihat Kei seperti itu." Sasuke berbisik lirih, aku menoleh dan bermasa bodoh. "Kau akan menyesal kalau sampai naksir dia. Dia itu cowok loh."

"HAH?" Aku berteriak. "HAH?"

Kei menoleh, ia merasa tak nyaman. "Ada apa?"

"Ti-tidak. Tidak apa-apa, Kei, maafkan aku."

Sasuke tertawa sambil menyikut rusukku, aku rasa ia telah keliru dan sedang mempermainkan aku! Tak mungkin kalau Kei seorang anak laki-laki, aku yakin sekali kalau ia perempuan. Suaranya saja pelan dan halus, aku rasa tidak ada seorang anak lelaki pun yang memiliki suara selembut ini.

Dasar Sasuke, kuhajar kau lain kali.

.

.

.

Kami tiba di sebuah rumah yang cukup besar yang bahkan dapat menampung 10 ekor Gajah sekaligus. Ada pohon Pinus dan Venus sebagai hiasan. Aku bahkan melihat mobil yang banyak dan landasan helikopter! Wah, Shion benar-benar kaya raya. Aku menganggumi rumah ini, sungguh, ini bagus sekali. Aku sampai menaruh iri dan dengki padanya. Andai saja Ayah dan Ibuku masih ada dan masih bekerja, mungkin aku dan Kak Madara bisa hidup makmur!

Ketika aku hendak melangkah, Kei menarik lenganku hingga menabrak pintu mobil. Aku terkejut dan kesakitan, tapi aku menahannya karena malu. Kakak dari Kei ini mengangguk dan ia berpamitan untuk kuliah. Kami menatap mobil merah milik Kakaknya Kei sampai tak terlihat lagi, saat itu manik biru kelereng kristal milik Kei menatapku.

"Aku harus bicara padamu, Izuna-san. Ini penting, biarkan dia pergi dulu."

"Baiklah."

Aku membiarkan Sasuke pergi sendirian menuju halaman berpagar jangkung milik Shion. Aku agak kaget dengan gelagat Kei, tapi kubiarkan dia begitu ketika aku melihat wajah seriusnya di sana.

Ia berbisik. "Izuna-san. Apa kau tidak merasa aneh?"

"Aneh bagaimana?"

"Aku rasa ada yang aneh dengan Sasuke-san. Kau tahu? Dia paling tidak suka aku panggil 'Uchiha' dan dia tak pernah tersenyum padaku."

"Um..." Aku diam, kemudian berpikir soal ini dan itu.

Ya, Kei benar. Dia terasa aneh, dia tak pernah tertawa sekeras itu, jahil atau bahkan tersenyum. Kecuali pada Obito atau Aria, ia hanya menghormati kedua orang itu.

"Izuna-san... Sasuke-san tidak pernah memanggilku Kei. Dia memanggilku Blank Paper, yang artinya bodoh."

"Itu berarti..."

Belum sempat aku melanjutkan, aku dikejutkan oleh ledakan yang amat teramat besar. Tubuhku dan Kei terpental cukup jauh, hingga punggung kami bergesekan dengan jalanan yang kasar. Bajuku sobek dan Kei mengalami luka di kedua sikunya.

"Izuna-san!"

"Aku tidak apa-apa."

Tapi tidak dengan apa yang aku lihat. Rumah Shion meledak, dengan api yang berkobar-kobar membumbung tinggi di angkasa.

A/N : HOLAAAAAA, akhirnya bisa update juga. Terima kasih kepada teman-teman yang sudah menyempatkan diri untuk membaca ini. Maaf atas keterlambatannya, semoga saya bisa update cepet ya *cheers*