Naruto bukan milik saya, mereka milik Masashi Kishimoto, saya tidak mengambil keuntungan apapun dari ini.
.
.
.
Rest in Pieces (Karma)
Tanpa cela, tidak ada satupun ruang yang tak terbakar. Di depanku, berdiri kokoh Ksatria Api yang gagah berani, membakar segalanya seperti mengajak perang. Larut dalam keadaan aku tak tahu kalau sedari tadi diam seperti Tikus yang terjaring perangkap super.
Hitam dan merah yang aku lihat, seperti dua sisi manusia yang berlainan. Aku menemukan sedikit fakta soal ini, tempat ini terbakar hebat. Tapi, siapa yang membakarnya? Kupikir Sasuke tidak akan pernah BISA melakukan kehebohan ini dan melihat bahwa Sasuke yang terlihat agak aneh, aku curiga jika dia 'makhluk' yang mirip dengannya, yang waktu itu aku dan Itachi lihat.
Ya, makhluk itu. Aku sangat yakin akan hal itu semacam Sasuke palsu atau sejenis itu. Dan dia sudah berani mencelakai orang, membuat kami mati dan membuat semua orang menanggung akibatnya. Dia sudah berbuat dosa, dia sudah melampauinya. Dia harus diusir, dia harus dikutuk!
Tapi sepertinya Kei tak berselera mendengar ini, maksudku bercerita kalau orang yang kami lihat bukanlah Uchiha Sasuke. Dia akan berpendapat bahwa aku sama gilanya dengan kejadian ini dan dia akan melemparku ke rumah sakit jiwa. Aku cukup mengerti dan aku paham.
"Kita dalam masalah!" Seseorang berteriak lantang penuh ketakutan yang mujarab, entah siapa namanya, aku tak mengenalinya.
Anak itu ada di sebelahku, berjarak beberapa senti tempat di mana aku berdiri, ada kepulan asap mengitari tubuhnya. Aku tak bisa melihat wajah anak itu. Suaranya agak samar sebab telingaku berdengung, tapi aku rasa dia anak laki-laki.
Kepalaku basah dan lembab setelah beberapa menit berdiri di sini, mungkin efek kebakaran? Tidak mungkin, tentu saja bukan begitu. Ini juga bukan hukan dan hujan tidak seaneh demikian.
Seseorang membuat air dari selang rumah, ukurannya lumayan besar dari yang pernah aku lihat, anak di sebelahku berteriak-teriak agar menjauh, membuat komando asal. Dia berisik, tapi ini perlu.
"Izuna-san, ayo kita pergi dari sini. Di sini berbahaya!"
Kala aku sadar, aku sudah diajak berlari, berlari menjauhi kerumunan api yang takut tersebar ke arah yang berlawanan, aku tidak sendirian, ada beberapa anak seusia denganku ikut berlari setelah para orang dewasa memaki mereka dengan umpatan kasar.
Di perempatan beberapa dari mereka berpencar dan hanya ada satu anak yang ikut dengan diriku. Itu anak yang ada di sebelahku, sepertinya dia memiliki ketertarikan lebih dengan kami berdua.
Kukunci mulutku rapat untuk menahan tangisan plus sesak napas akibat asap hitam yang tebal, tapi nalarku tergerak untuk membukanya saja. Untuk berteriak dan menggila bak pembunuh berantai.
"Kupikir sekarang sudah cukup jauh." Anak yang ikut berlari dengan kami menyahut damai. Dia menekuk lutut, setengah berlutut dan tampak masam. Pertahanannya hancur dan ia langsung jatuh ke lantai aspal.
Aku sekarang dapat melihat anak ini, anak yang sedari tadi berlari bersama kami. Dia lumayan tinggi dan agak aneh dari yang aku lihat tentang dia. Ia memiliki rambut merah yang sadis, maksudku nyaris seperti segumpal darah. Ada kantung mata hitam di sana, ia memiliki manik mata biru yang jernih dan tenang seperti es batu.
Kulitnya putih sekali.
"Bagus, sepertinya kita sudah cukup jauh." Kei menghela napas, ia gemetaran. Aku tak tahu kalau efek ledakan barusan akan seperti ini, telingaku juga masih berdengung, sepertinya aku akan tuli.
"Uh, panas sekali." Sejumput rambut Kei singkirkan, segera ia menoleh ke belakang, melihat gradasi warna orenji di langit biru. Warna yang bagus, mengingatkanku pada Naruto.
"Ini parah, ngomong-ngomong aku Sabaku Gaara. Kalian anak komplek sebelah 'kan?"
Kei mengangguk dan aku tersenyum pada anak ini. "Ya, aku tahu siapa kau. Kau anak Kepala Komplek ini."
"Betul, kejadian yang mengerikan. Terakhir aku melihat ledakan ini sekitar beberapa hari lalu. Kemudian ini, kurasa aku benar-benar kena terror." Jelas Gaara sedikit tegang. Ia semacam tak mau menceritakannya. Wajahnya ketakutan.
"Memangnya sebelumnya pernah ada kejadian ini? Aku tak mengerti." Aku bertanya bodoh, itu bukan pertanyaan yang bagus.
"Pernah. Beberapa hari lalu, setelah komplek kalian heboh oleh mayat Mariko-san dan Naruto, aku tidak melihat itu, aku hanya mendengar itu dari Kimimaro. Tapi berita ini cukup menghebohkan dan langsung jadi trending di Sosial Media. Shion menjadi salah satu pelopor, ia membuat berita buruk di website pribadinya dan mendapat banyak uang! Views Blognya juga bertambah."
Kei membenarkan. "Kurasa, Shion-san terlalu berlebihan. Aku juga membaca beritanya di website itu dan semua beritanya itu dibuat-buat, dia mungkin mendapat akibatnya."
"Ya, dia membuat berita bohong. Dan aku tidak suka tulisannya itu, Keluarga Besar Uzumaki dan Namikaze sedang membicarakan ini dan dianggap sebagai pelanggaran IT!"
Gaara menjelaskan dengan penuh kasih tapi ada beberapa bait yang tak aku mengerti istilahnya. Aku diam saja dan tak bertanya, aku akan dianggap aneh dan ketinggalan zaman, memang, aku bukan dari zaman ini. Istilah-istilah itu terasa bagai mantra bodoh di telingaku.
Oh, telingaku sekarang tak berdengung lagi. Bagus. Aku tidak jadi tuli.
"Ngomong-ngomong, kalian sedang apa di sini?" Gaara bertanya, ia menatapku aneh. "Kau mirip Sasuke, tapi kau terasa lain."
"Aku Uchiha Izuna, masih ada hubungan saudara dengan Sasuke. Salam kenal."
"Oh, Uchiha yang lain. Kupikir hanya keluarga Sasuke saja satu-satunya Uchiha di bumi ini"
Detik berlalu dan kepulan asap hitam perlahan menghilang, aku melihat beberapa unit pemadam kebakaran berlalu lalang, jumlahnya ada 6 kemudian menjadi 9 lalu terakhir aku menghitung ada 12, kurasa kebakaran itu cukup membuat kegemparan aku tak mau berkelana di sana dan tak mau terlibat dalam ini.
Gaara mengajakku pergi dari sini, ia bilang ia ingin makan sesuatu. Aku tak tahu apa itu, dia tidak mengatakannya, di tengah-tengah perjalanan aku melihat orang yang tak asing di mataku. Di belakang mereka ada beberapa unit mobil Polisi dan sirine yang berisik, lampu biru dan merah mewarnai trotoar, warna yang membuatku tak nyaman.
"Bocah Uchiha, kau lagi. Sepertinya kau memang tak lepas dari tragedi ya?"
"Deidara-san." Aku memanggil, ada senyum aneh di wajahnya ketika aku begitu. "Kupikir kau mundur dalam kasus di komplek ini."
"Bukan begitu, aku kebetulan saja sedang ada di sini, maksudku aku yang paling dekat dengan posisi ini. Kalian sendiri?"
Ia berlagak sok tegas, tapi wajahnya menggambarkan ekspresi gelisah, seperti kehilangan atau semacamnya. Aku tak mau bertanya perihal tragedi yang menimpanya, mungkin ia tak mau membahas ini, aku yakin sekali. Lagi pula, aku tak mau membuat keributan di dalam keributan.
"Tumben, mana Sasuke?"
Aku dan Kei beradu pandang. "Dia tidak bersama kami." Aku menjawab begitu.
"Memang seharusnya begitu, karena dia berisik sekali." Keluh Polisi ini garing, ekspresi sendunya berubah kesal seketika kala mendengar nama itu. Dia ini memang membenci Uchiha kecil ini. Ya, dia memang menyebalkan. Dan patut di benci, ya, begitu.
"Sasuke memang berisik." Aku tertawa begitupun Gaara. "Ngomong-ngomong, Si Merah ini bilang kalau di Komplek ini pernah terjadi ledakan yang sama, mungkin pelakunya sama?"
Deidara menatapku heran. "Aku tak tahu ada kasus yang sama, mungkin itu dari Divisi lain, Divisi dan Tim lain yang menanganinya, tidak semua kasus aku tahu, kecuali kasus besar."
"Begitu ya..."
"Bicara soal kasus besar, ada yang aneh soal Si Mariko ini dan aku pikir aku harus mengatakan ini padamu, Izuna."
Aku tertawa. "Sekarang aku tahu alasanmu di sini."
.
.
Kei dan Gaara tidak bersamaku, Deidara mengusir mereka disertai kalimat-kalimat jahat yang membuatmu sakit hati plus mengantarkan mereka ke rumah masing-masing, dia hanya bercanda tentang meledek, kupikir dia begitu agar kelihatan keren.
Polisi muda ini mengajakku ke toko burger, seperti kebiasaan Polisi gendut yang pemalas. Aku banyak membaca serial pembunuhan dan lelaki gendut selalu ada sebagai pengorbanan yang tak terelakan, kasihan.
Dia memilih tempat paling ujung dekat pintu 'Only Staff' kupikir di sana cukup aman untuk menceritakan hal-hal yang bersifat rahasia, aku mengira begitu karena dia sudah membuktikannya. Di sini agak sepi, suaramu tak akan terdengar oleh pengunjung meja lain.
"Kau mau mengajakku bicara apa?"
Deidara menunjukkan sikap tak biasa, mungkin ini alasan kenapa ia bertingkah aneh saat aku tiba-tiba muncul.
"Aku sudah memberikan sample DNA dari Mariko kepada tim Forensik. Tapi mereka bilang itu bukan Mariko, itu DNA milik laki-laki, seorang pria dewasa. Awalnya aku pikir simpanan Hiyashi ini memang lelaki tulen, gay, semacamnya lah. Tapi itu adalah hal lain."
Aku tidak paham soal fisika atau soal tubuh manusia. Tapi aku merasa kalau cerita Deidara menuntunku dan menyeretku ke dalam kisah buruk yang tak mengenakan. Aku menebaknya asal, semoga saja tidak begitu.
"Izuna, apa kau pernah bertemu dengan Fugaku sebelumnya?"
"Fugaku? Tidak. Kenapa?"
Aku menerka-nerka labil. Pikiranku berkelana jauh mencari seorang kenalan, Deidara tersenyum kecil agak sedikit keji, menyukai soal kejanggalan ini, aku tertawa dalam hati, ingin meledak. Ingin sekali aku mendengar kisah dibalik senyum itu
Pada akhirnya hanya jentikan jari yang menari di atmosfer. "Sebelumnya, keluarga Yamanaka pernah melapor soal penganiayaan tapi tersangka berhasil kabur, tim menemukan rambut di TKP dan membawa Sample itu ke Lab. Di sana, mereka menemukan bahwa rambut itu milik mantan anggota Polisi yang mengundurkan diri dan bekerja menjadi Akuntan."
Lalu ia melanjutkan dengan agak tergesa tapi baik. "Dia tertangkap, tersangka melakukan pembelaan dan berkata bahwa dirinya dikendalikan atau semacamnya, Hakim berpendapat bahwa dia gila, jadi dia di masukan ke RSJ."
Mendadak aku merinding. Dingin sekali. Sedingin es dan aku tidak pernah hingga merasa semengerikan ini.
"Jangan bilang kalau orang gila itu..."
Deidara tertawa. "Orang gila itu Fugaku."
Aku menemukan kejanggalan dan aku mengemukakan sebuah pertanyaan. Kepalaku berputar bodoh berusaha untuk jenaka. "Tunggu dulu, tapi mayatnya itu, mayat itu terlihat seperti seorang wanita dan Itachi bilang itu Mariko."
"Oh, aku lupa mengatakan. Mayat itu terlihat seperti perempuan karena si mayat pernah melakukan rangkaian operasi plastik, dia Trangender..."
"Siapa yang mau menjadi Transgender? Jangan gila!"
"Aku menemukan video wasiat dari Fugaku, sebuah pengakuan. Di sana, dia berkata bahwa dia dipaksa melakukan itu. Tebak oleh siapa?"
"Oleh lelaki yang mengenakan Kimono Putih? Makhluk berpakaian hitam yang membawa tongkat?" Aku asal menjawab.
"Betul. Dia adalah virus, hampir semua kejadian aneh selalu mengacu pada lelaki ini. Malam saat keluarga Hyuuga dibantai, TKP menyatakan lelaki berkimono putih menjadi orang terakhir terlihat. Kemudian dia muncul di hampir setiap kematian orang-orang, dia muncul bagai virus."
"Wow, itu mengerikan."
"Izuna tunggu dulu, bicara soal orang aneh. Apa kau tadi mengatakan soal manusia atau anomali berpakaian hitam dan membawa tongkat? Tongkat kuning yang mempunyai relik aneh?"
Ah! Kelepasan aku rupanya! Betul, aku sedang membicarakan orang itu.
Biar aku perjelas ini kepada pendengar setia dari kisahku. Jika kalian melupakan soal ini, makhluk berpakaian hitam yang membawa tongkat itu adalah anomali yang aku lihat waktu itu, ketika aku mengalami kecelakaan, kala kisah roman penuh liku ini bermula.
Dia adalah makhluk hitam yang melompat dari jendela kamarku. Makhluk aneh yang agaknya dapat memanipulasi gravitasi dengan tongkat melayang menimpa kepalaku. Kecelakaan itu sekaligus membuatku hidup dan menetap pada zaman ini. Zaman di mana tidak seharusnya aku berada.
Ah aku hampir melupakan soal ini, soal dia.
"Memangnya kenapa, Dei?"
Lelaki pirang ini membetulkan posisi duduk ia tampak ragu dan tak nyaman, benar-benar tidak nyaman untuk menjelaskan. Manik biru itu memutar basi lalu beralih padaku dalam sekejap.
"Ucapanmu terasa familiar, aku pernah mendengar soal itu sebelumnya, tapi aku tidak terlalu mengingat detailnya. Kalau tidak salah, setahun yang lalu ada pencurian di museum dan mereka kehilangan koleksi tongkat yang terbuat dari kuningan, agaknya itu dipercaya memiliki kekuatan mistis, itu keterangan yang ada di deskripsi. Catatan CCTV membuktikan kalau manusia serba hitam yang mengambilnya, tapi dia melakukannya dengan halus, maksudku dia selalu berada di titik buta CCTV, jadi kami tidak bisa melakukan scanning wajah dan tongkat itu sesuatu yang lucu."
"Maksudmu apa?"
"Katanya itu dapat membawamu ke masa depan? Memainkan tatanan waktu. Sebuah mitos, jangan dipercaya. Ngomong-ngomong, aku mendapat e-mail dari Itachi, katanya dia sedang liburan, kenapa dia tidak mengajakmu?"
"Liburan? Liburan apa? Dia sedang kuliah."
"Kau lupa atau bodoh sih? Semenjak Fugaku di bawa ke RSJ, Itachi tidak pergi kuliah. Ayolah, kau tidak tahu apa yang mereka sembunyikan. Aku tahu sebuah kebenaran."
"Aku tidak mengerti, Deidara..."
"Dengar, sejak kemunculanmu dan Sasuke bilang kau bagian dari Uchiha, aku merasa curiga. Dalam catatan kepolisian, keluarga Uchiha seharusnya hanya tersisa Sasuke, Fugaku, Itachi dan Obito "
"Kenapa begitu? Kemana yang lain?"
"Ada semacam kejadian aneh, tapi aku tidak tahu, catatan itu disegel aku tidak bisa membacanya. Tapi, ada catatan lama yang bisa terbuka, sekitar 50 tahun yang lalu ada laporan Orang Hilang dan itu adalah kau, Izuna."
.
.
.
A/N : AAAAAAA, terima kasih kepada teman-teman yang sudah menyempatkan diri dan menunggu FF gak jelas ini hehe, maaf nunggu lamaaaa soalnya ya gak ada kesempatan buat nulis sama buntuu hehe, but, sekali lagi, terima kasih. (salam cinta dari author) untuk kaliaaaan
