Naruto bukan milik saya, mereka milik Masashi Kishimoto, saya tidak mengambil keuntungan apapun dari ini.

.

.

.

Rest in Pieces (Karma)

"Jadi maksudmu, aku hilang sekitar 50 tahun yang lalu?"

"Aku tidak bilang begitu. Aku bilang namamu sama seperti anak yang hilang 50 tahun lalu. Kasus itu sudah berdebu, dianggap kurang menarik, Divisi Kepolisian di Kota ini macam sampah, jadi mereka merelakan kasus ini begitu saja. Karena tidak menghasilkan uang ataupun Media."

Deidara membuat jeda sembari mengunyah kentang goreng setengah hangus.

Ia melanjutkan. "Keluarga Pelapor tidak memberi keterangan lebih berupa foto, hal-hal penting semacam itu. Jadi kasus ini sulit sekali untuk diusut, makanya mereka punya kesempatan menutup kasus ini. Padahal ini bisa jadi kasus besar! Yah, karena mereka lebih mementingkan uang dan popularitas, padahal ini menyangkut hidup seorang manusia."

"Lalu, apa yang terjadi pada Keluarga itu? Apakah mereka membuat semacam tuntutan?"

"Arsip soal Uchiha kebanyakan di segel, aku tidak mengerti dan hanya soal anak hilang itu saja yang bisa dibuka. Arsip itu ada banyak sekali, sama seperti seluruh rambut di kepalamu."

"Kau tahu darimana semua ini?"

"Ketika di Akademi Kepolisian, aku hobi membaca artikel kriminal. Aku mendengar hal-hal yang aku sebutkan tadi dari blog Anonymous, benar atau tidaknya aku tak tahu. Dia itu penulis nomor satu yang banyak diminati, makanya aku memiliki kecenderungan percaya padanya. Dia bilang para Uchiha pergi ke suatu tempat. Tahun berlalu, kemudian bermunculan Uchiha lain..."

Aku sedikit heran mendengarnya. "Uchiha yang lain?"

"Ya, seperti Kagami dan orang-orang aneh yang sok idealis. Beberapa Uchiha ada yang menjadi pejabat negara."

"Aneh..."

"Kemudian sesuatu terjadi, para Uchiha menghilang, semacam di Genosida, tapi tak tampak. Mereka menghilang di Publik, lalu digantikan beberapa orang dari Yamanaka dan Nara."

Deidara tampak tertarik dengan cerita ini. Ia bahkan tak henti-hentinya menggerak-gerakan jemari, seperti kebiasaan orang pintar yang kena stroke. Aku terus membiarkannya berbicara, tapi lama-lama aku menjadi pusing karena ia menceritakan sesuatu yang tak aku pahami sama sekali.

Aku mengucapkan kembali kalimat-kalimat itu dengan cepat. "Arsip yang di segel, blogger Anonymous dan peran Pemerintah di ambil alih oleh Yamanaka dan Nara. Bukankah itu terlalu kebetulan?"

"Pelaku penyerangan keluarga Yamanaka adalah Fugaku, jadi terlihat seperti dendam. Hyuuga, aku tidak mengerti. Keluarga Hyuuga naik pamor pada era sekarang, mereka tak terlihat ada kaitannya dengan kejadian Uchiha di masa lalu. Tapi jika kau menarik benang, apa yang terjadi antara Hyuuga-Uchiha-Yamanaka itu saling berkaitan. Apa kau berpikir apa yang aku pikirkan, Izuna?"

"Kau tahu? Ayahku dulu menamai Keluarga Hyuuga dengan sebutan Si Samar, karena mereka pandai menyembunyikan sesuatu. Jujur saja, aku hanya merasa sedikit aneh."

Deidara tertawa garing. "Aneh itu relatif. Ayo kita bertemu lagi besok dan mulai menyusun puzzle. Aku akan ajak beberapa orang, kita bertemu di sini lagi saat jam makan siang!"

.

.

.

Deidara bilang beberapa, tapi aku hanya melihat Aria. Ya, Yuzuru Aria. Aku bahkan hampir lupa soal gadis ini. Dia sempat menanyakan soal Obito dan Itachi dengan wajah gusar, aku bilang, aku tak melihat mereka sejak beberapa hari terakhir. Dan aku menceritakan soal Sasuke padanya, ia tak menunjukkan gejala yang baik atau ekspresi yang aku tunggu-tunggu.

Hanya saja, wajahnya menjadi muram dan pucat pasi kala aku menyebut-nyebut soal Sasuke yang meledak bersama rumah Shion. Aku rasa ia tak mempercayai kisahku atau dia punya cerita lain yang terlihat benar. Memang aku merasa aneh soal Sasuke yang ini, aku merasa kalau ia bukan Sasuke.

Aria bahkan tak mengomentari ini sebagai ketelitianku dalam bercerita. Aku agak tersinggung.

Deidara datang paling akhir, ia bilang ia harus menyelesaikan beberapa tugas. Dan kemudian dia datang bersama lelaki berambut perak yang nyentrik, seorang Polisi yang aku bilang mirip vokalis utama sebuah band rock. Dia kali ini tampak serius dan tak mengatakan sesuatu yang aneh, aku pikir dia sedang waras.

"Senang melihatmu, Yuzuru-san." Deidara tersenyum lugas, senyum yang belum pernah ia tunjukkan pada siapapun selama aku melihatnya. Oh, sekarang aku tahu alasannya.

"Jadi, apa yang akan kita diskusikan?" Polisi perak itu bertanya sopan, namanya adalah Hidan.

"Sebelumnya aku ingin bilang sesuatu padamu Izuna. Sasuke masuk rumah sakit, dia bukan meledak seperti yang ada dalam ceritamu." Aria menyela, semua yang ada di meja menjadi heboh.

"Hah?!" Aku melongo, kaget, bukan main, panik, takut, kejam. Segala sesuatu yang buruk meluncur di kepalaku, sekarang aku mengerti kenapa Aria tampak murung.

"Bukannya aku tak percaya padamu, Izuna. Tapi itulah yang sebenarnya terjadi, Sasuke di serang seseorang oleh paku berkarat dia kena Tetanus."

Deidara menganga, ia sama tak percayanya. "Siapa pelaku penyerangnya?"

"Entahlah, Sasuke tak terlalu ingat. Dia hanya bilang dia di kejar orang gila yang membawa paku besar. Lalu... itu semua terjadi."

Itu... Sama seperti mimpiku! Ya, benar! Aku bermimpi menyerang seseorang dengan sebuah paku berkarat. Semua mimpiku, apa yang terjadi padaku, semuanya menjadi kenyataan!

"Itu sama seperti mimpimu 'kan Izuna? Sasuke juga mendapatkan mimpi yang sama sebelum dia di serang. Dia di serang bertepatan saat rumah Shion meledak, ya, dia di serang setelah mendengar suara-suara aneh."

"Terdengar seperti kau pernah mengalami mimpi ini beberapa kali, Izuna."

Aku menoleh pada yang bertanya, ada keringat bercucuran di keningku yang tak terasa sama sekali, tubuhku mengigil dan leherku sakit sekali. Apalagi aku mendapat luka tambahan di punggung yang membuatku menjerit frustasi ketika hendak membasuh diri.

Deidara, dialah orang yang sedang bertanya. Ditatapnya aku dengan nyalang seperti Juri di atas panggung Hukum. Aku yang tadi refleks berdiri dari kursi, duduk kembali, menyadarkan kembali diriku dengan ilusi hujan di bulan November kalau semua akan baik-baik saja dan akan selalu begitu.

Pada nyatanya aku tak yakin oleh kisahku sendiri. Aku takut pada kisahku sendiri dan aku tak tahu harus menyalahkan siapa.

Dilirik secara takut olehku pada semua orang yang ada di depan wajah, agak takut kala aku ingin mengucapkan. Bibir lembutku berubah menjadi serpihan kaca yang tak dapat disatukan, aku kesulitan untuk bicara di saat-saat yang paling sempurna.

Tapi, karena keadaan ini kian memaksaku, aku berujar pasi. "Aku mengalami mimpi aneh. Pertama aku mimpi membakar orang, lalu aku melihat Naruto terbakar. Lalu, soal paku berkarat itu. Sebelumnya aku bermimpi melihat lukisan, lukisan itu memiliki model seperti pembunuh berkelas yang masing-masing dari mereka membawa sesuatu yang tak lazim. Lalu, soal penyerangan, aku bukan melihatnya, itu terasa seperti aku yang melakukannya..."

"Wow!" Ada desah napas yang keluar di sana, seperti si pendengar yang tak percaya dengan apa yang barusan telinganya lakukan. Deidara melihatku antara takut dan takjub, sama seperti saat Orangtua miskin yang menang judi.

Bagiku itu terlihat menakutkan dan bodoh.

"Ngomong-ngomong seluruh penghuni rumah mengalami mimpi yang sama dan Itachi bermimpi menyerang Obito dengan paku berkarat."

Hidan berkomentar. "Ya, itu bukan kali pertama. Sebelum keluarga Hyuuga di bantai mereka juga mengatakan bahwa mereka mengalami mimpi yang sama dan aku juga mendengar salah satu penumpang Pesawat yang meledak itu bilang mengalami mimpi yang aneh."

Aku mengkeryit, heran dan merasa aneh. Entah mengapa semua kejadian-kejadian mengerikan ini mengarah pada petaka yang aku alami.

"Apa maksudmu?" Seseorang bertanya takut dan itu suara Aria.

"Setelah berita Pesawat menjadi trending topik. Banyak yang membuat artikel dan salah satunya berita garing soal mimpi aneh. Dalam artikel itu dia tertulis, salah satu penumpang yang mengalami mimpi aneh, kemudian berkata menerima video call dari pria berkimono putih."

"Hah?!"

"Hey, Deidara bisakah kau berhenti kaget seperti Hah, Hoh, Hah, Hoh, macam itu? Kau membuatku pusing!"

Decakan kesal hadir, Deidara yang kesal langsung menyindir. "Kau itu Polisi, harusnya kau menjelaskan dengan penjelasan yang detail."

"Oke, baiklah, maafkan aku. Berita itu tersebar sangat cepat. Kami Polisi kadang membaca beberapa artikel amatiran, di situ tertulis, sebelum naik Pesawat ada penumpang yang curhat kalau dia sering mendapat video call dari lelaki asing berkimono putih, setelah ia mendapatkan mimpi. Awalnya ia mengira itu prank, tapi itu terus berlanjut sampai ajal menghampiri."

"Jadi maksudmu, ketika ia bermimpi ia langsung dapat video...call?" Aku tak tahu apa itu video call? Tapi aku bertanya bukan karena aku penasaran pada arti dari itu.

"Ya, semacam itu. Dia bermimpi barang-barang elektronik di rumah meledak. Setiap satu mimpi, satu benda akan meledak, hanya meledak di dalam mimpi, begitu seterusnya." Hidan melanjutkan. "Lalu, ia akan mendapat video call dari pria berkimono putih, tapi tak bicara apapun."

"Itu mengerikan."

"Benar. Setelah postingan itu beredar, teman-teman satu sekolah yang memosting itu langsung banjir komenan dan mereka semua penumpang Pesawat itu. Mereka bilang, mereka juga mengalami mimpi yang sama. Aku tidak mau berpikir begitu, tapi kau harus hati-hati, Izuna."

Deidara tertawa pahit. "Ya, dan semua penumpang di Pesawat kebanyakan orang-orang dari Keluarga Yamanaka dan Nara, suatu kebetulan!"

Aku diam sejenak, memikirkan apa aku pernah berteman dengan salah satu Keluarga Nara atau Yamanaka. Tapi sejauh aku memperhatikan dan mencari, aku tak menemukan jawaban atas pertanyaanku.

Ya, aku tak pernah berteman dengan Nara atau Yamanaka. Di zamanku, Keluarga itu tak sebesar nama Keluarga Uchiha dan Hyuuga, yah aku sedikit menyombongkan diri boleh lah.

Dalam keheningan yang seolah abadi, Aria bertanya. "Hidan, apa kau pernah mendengar sebuah Rawa yang akan memberikan Karma?"

"Oh.." Ada jeda, ia tampak tak nyaman. "Itu cukup populer sejak aku masih Sekolah. Ya, aku pernah mendengarnya. Jika kau membenci seseorang minta saja pada Rawa, maka akan ada Karma yang menghampiri. Karma yang menyakitkan dan kebanyakan soal kematian. Tapi ada sesuatu yang tak banyak orang tahu."

Deidara sedikit terpicu, ia mengubah posisi duduk. "Hn?"

"Ya, soal Karma yang bisa diturunkan. Jadi, kalau Moyangmu terkena Karma atau dikirim Karma, dia bisa menghilangkan itu dengan memindahkannya pada keturunanmu. Itu terus bergulir dan terus bergulir seperti kutukan."

"Kapan itu akan berakhir?" Aria bertanya parau.

"Oh, aku lupa mengatakannya. Karma yang dikirimkan itu, yang diturunkan maksudku, tidak pada semua keturunan, kau harus memilih salah satu untuk di tumbalkan dalam lingkaran Karma."

"Bukankah itu agak menyeramkan?" Ungkap Deidara ketakutan. "Siapa yang mau?"

"Ngomong-ngomong yang terjadi pada Keluarga Hyuuga cukup aneh, jika mereka terkena Karma, kenapa ini dibuat seolah mereka yang menularkan kematian dan Karma pada orang tak berdosa? Seperti Naruto, ia adalah mantan pacar anak Keluarga Hyuuga dan Mariko ini selingkuhan Hiyashi."

Hidan melanjutkan. "Aku pikir aku punya sesuatu yang aneh lagi soal Mariko."

"Aku kira kasus Mariko itu sudah ditutup, bukannya kau yang bilang ya, Deidara?"

Kali ini giliran Deidara yang bicara. "Ya, tapi Detektif Akasuna sangat peduli pada kasus ini. Jadi aku dan dia memberanikan diri untuk menguasainya dan yeah, aku menemukan banyak fakta dalam beberapa hari saja!"

"Wow!" Aku memuji kaku, lalu melanjutkan ucapanku ini dengan nada sedikit garing. "Kau seharusnya meminta semacam penghargaan pada Kapten."

"Kapten Yahiko bukan orang yang gampang memberi Award..." Deidara tertawa bak Tirani yang menguasai tahta klasik. Aku sedikit terjerumus dalam tawa kecil namun penuh kesombongan itu, meski dalam keadaan rancu seperti ini, ia masih bisa memanjakan diriku dengan Kesombongan Polisi yang di milikinya.

Baru saja Deidara menghabiskan satu gelas jumbo soda tanpa gula. Ia sedikit terbatuk akibat menahan tawa saat hendak minum, aku terkejut tapi pura-pura tak peduli, kecuali orang-orang yang mulai menatap kami dengan sorot mata aneh yang mengangguku, semua orang menatap begitu karena suara tawa Deidara dan merasa puas juga lugas ketika mendengar ia terbatuk heboh.

Aku tidak suka ditatap orang, jujur saja. Dan mungkin mereka melakukan itu karena kami sudah terlalu lama berada di sini, memang kami membayar pajak lebih dan Deidara memiliki wewenang tambahan sebagai anggota Kepolisian di Kota ini. Ya, semacam perlakuan spesial.

"Lalu, ke mana Detektif Akasuna? Aku tak melihatnya ada di antara mobil patroli. Apa dia berganti Partner?" Aku penasaran dan pertanyaan itu refleks dari mulutku. Deidara yang terlihat anggun ketika makan, langsung berubah haluan menjadi suram dan mematikan. Ia terlihat seperti menahan marah atau kesal, hal-hal klasik yang akan kau perlihatkan ketika kau sedang marah oleh keadaan hidup.

"Aku tidak tahu." Jawaban yang keluar sangat cepat dan padat, seolah Deidara tak mau tahu persoalan ini dan tak mau membawa nama itu dalam percakapan kami. Aku sebenarnya heran dengan perubahan suaranya, Deidara membuat semuanya tampak aneh pada detik ini.

Aku jadi penasaran kalau Detektif itu semacam menghilang. Ya, menghilang. Seperti di telan bumi, seperti orang-orang di Divisi Kepolisian yang diceritakan dirinya pada saat kami pertamakali bertemu.

"Wah, kenapa kau menjawab gitu? Bukankah kalian Partner?"

"Hey!" Agak sedikit emosi Deidara menjawab, ia mendaratkan tatapan tajam kepadaku, aku sendiri tidak nyaman diperlakukan begini. Dia ini aneh sekali.

"Maaf."

"Bukan begitu, Izuna. Harusnya aku yang minta maaf, aku benar-benar... tidak tahu di mana Detektif. Aku bahkan tak ingat kapan terakhir kali bertemu dia."

Tunggu dulu. Tunggu sampai sana! Jangan lanjutkan lagi, jangan. Ungkapan itu terasa Deja Vu bagiku. Terasa lama dan tak asing, tapi begitu dekat dan jauh.

"Apa maksudmu?"

"Ahh.. Itu." Desahan pelan tersengar malas itu buatku berpikir bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi. Seperti sebuah cerita anak belasan tahun yang diculik Alien jelek bersama Ufo dan lain sebagainya.

"Aku pikir Detektif menghilang. Aku bahkan tak sadar tentang ini, lalu aku tiba-tiba ingat begitu saja padanya. Dia tidak ada di Apartmentnya dan di Galerinya, ini aneh. Aku jadi berbohong pada Kapten Yahiko kalau Detektif mengambil cuti..."

"Menghilangnya Obito juga sama seperti Detektif Akasuna. Ia pergi begitu saja, menghilang seperti debu di atas permukaan laut. Kami bahkan lupa bagaimana ia menghilang..."

"Seperti anomali saja..." Deidara mencibir.

Hidan tertawa lagi. "Nah, kalian mengerti maksud cerita ini 'kan? Jadi rasanya antara Nara-Yamanaka-Uchiha-Hyuuga, sama-sama mengirimkan Karma pada keturunannya. Lalu, si orang yang terkena sial dari Moyangnya berkumpul pada tahun ini, tahun yang sama! Menakjubkan."

.

.

A/N : I'm back! Sudah lama sekali rasanya saya gak update FF ini dan selamat datang kembali! Maaf atas keterlambatannya, saya kadang suka buntu ide., hehehe.

Terima kasih pada teman-teman yang sudah bersedia menunggu ini, maaf membuat kalian pusing, saya memang menyukainya, hahahaha. Sampai jumpa di chapter selanjutnya.