Naruto bukan milik saya, mereka milik Masashi Kishimoto, saya tidak mengambil keuntungan apapun dari ini.

.

.

.

Rest in Pieces (Karma)

Setelah melakukan percakapan panjang dengan Deidara, Hidan dan Aria. Kami sepakat untuk bertemu sesekali jika kami membutuhkan sesuatu yang berbau penting.

Hidan dan Deidara sepakat untuk mencari informasi demi informasi, meski dunia membutakan mereka dengan kesibukan lain.

Hidan dan Deidara jarang sekali mendapat waktu libur, mereka selalu kesulitan dan hasilnya dihadiahi wajah suram akibat kelelahan. Kapten Yahiko, Ketua dari Divisi yang mereka tempati adalah pria banyak omong yang tak begitu terampil menyembunyikan fakta, ia bahkan terlalu banyak bicara untuk ukuran Kapten, tapi ia memiliki jiwa kepemimpinan yang tangguh, seperti bulatan Matahari.

Dia agak mirip seperti seseorang yang aku kenal di masa lalu, dengan kobaran api yang tak padam oleh air manapun. Hashirama, itu namanya, seseorang yang tak boleh aku sebutkan jika aku sedang bersama Kak Madara. Mereka pernah terlibat adu mulut panjang akibat perbedaan pendapat, tidak ada yang mau mengalah, Si Bodoh Tobirama juga tidak mau membahas soal ini.

Teman sejawat Kapten atau mungkin Penasihat Hukum adalah seorang pria terampil, cerdas dan tekun, aku tak ingat siapa namanya. Ia berlagak lebih tua dari yang kelihatannya, dia juga bijaksana dan lembut, meski pada keadaan tertentu bisa jadi sangat keras kepala dalam melengkapi sebuah usul tertentu.

Rambutnya merah dan bagus, terlihat lembut dan terawat, ia selalu pergi bersama wanita berambut biru yang seolah-olah menjadi Si Ahli Bicara, aku mengkategorikan wanita itu sebagai Pengacara. Namanya Konan, maskulin dan cantik.

Aku bertemu ketiga orang ini secara tak sengaja dan mereka mulai memperkenalkan diri ketika Deidara berkata sesuatu yang tak aku pahami secara jelas, Kapten menganggapku sebagai serpihan kayu, lelaki merah itu tak berkomentar dan Konan sepertinya menyukai keberadaanku.

Kami berbicara mengenai beberapa hal dan mereka menyebutkan sesuatu tentang kepadatan dan hal aneh seperti kasus yang rumit. Mereka tidak membahas seluruhnya, karena ini rahasia pekerjaan. Aku menghargai itu.

Kejadian itu sekitar 3 hari yang lalu dan hari ini adalah hari kala semuanya terasa sangat tenang, meski aku diam di rumah bersama Aria, aku merasa seperti sedang sendirian. Sendirian dan bertapa.

Aria itu bukan tipe orang yang banyak bicara, dia seorang Novelis horror, tapi masih malu-malu untuk mempublikasikan karyanya. Ia juga menulis di blog misteri dan hobi mencari infomasi demi tulisannya, itu yang membuat Deidara tertarik padanya.

Si Ahli Informasi, Yuzuru Aria. Begitu kata Deidara.

Setahuku, Yuzuru Aria adalah teman masa kecil Obito, itu kesimpulan yang dapat aku tarik, mungkin mereka memiliki hubungan khusus? Obito tidak menceritakannya atau mendadak membahasnya.

Rasanya Sasuke dan Itachi juga sama-sama memiliki perasaan yang spesial pada Aria ini, aku melihat gerak-gerik yang kurang wajar menurut sudut pandangku. Perhitungaku kali ini tidak salah, Sasuke memang gemar mencari perhatian dan Itachi itu Playboy jempolan yang memiliki banyak fans.

Aku mengakui soal ini, Aria memang menarik perhatian. Setiap kali aku melihat Aria, ia seolah-olah mengurung diriku dalam dimensinya. Bahasa kasarnya, ia seperti wanita penggoda. Walau niatnya tidak seperti itu.

Aku bilang pada Aria kalau aku ingin keluar rumah, ia mengizinkanku untuk pergi, meski ditanyai oleh serangkaian pertanyaan absolut yang tak dapat aku bantah. Aku menjawabnya kelewat jelas dan wanita itu percaya padaku seratus persen dengan apa yang aku utarakan. Dia mungkin khawatir dengan apa yang akan terjadi.

Di luar sana langit terlihat biasa saja, tidak terlalu panas atau mendung. Dari arah gerbang keluar komplek, gesekan ban kecil dan terompet ulang tahun terdengar nyaring. Seseorang yang menimbulkan suara itu melambaikan tangan di udara.

"Kimimaro?"

.

.

.

"Ini di mana?"

Itu pertanyaan yang terlintas di pikiran kala lelaki putih ini membawaku dengan Sepedanya. Sebuah tempat dengan aroma tanah basah yang sangat kuat. Aku pikir ini halaman belakang sebuah Sekolah, aku melihat lapangan Baseball dan Auditorium di ujung sana. Sedikit heran para bocah seperti kami boleh mengunjungi Sekolah di jam ini.

Aku menatap lurus dan absolut hanya untuk penelitian visual. Pandanganku tepat pada sekumpulan remaja yang bersidekap dada juga terlihat membicarakan sesuatu. Dari kejauhan aku menerka-nerka apa yang mereka diskusikan, kerjakan dan pikirkan. Sepengetahuanku mereka terlihat agak asing, aku belum pernah melihat mereka di komplek.

Kecuali...

Kei! Gaara!

"Hey teman-teman, aku sudah membawa member tambahan!" Kimimaro merongrong sok asik, sempat memberi salam ala anak Punk pada semua orang yang ada di sana. Mereka menyambut kehadiran Kimimaro tapi tidak semuanya tampak heboh, hanya beberapa yang menikmati kedatangan Kimimaro.

Aku turun dari boncengan, mendekati mereka dengan langkah terlewat sopan dan keren. Tersenyum dan membungkuk pada mereka yang jumlahnya belum aku hitung, seluruh mata menangkapku kala ini terjadi.

"Halo, aku Uchiha Izuna, salam kenal."

Kuperhatikan satu persatu dari mereka, kupersembahkan senyum manis yang selalu aku tunjukkan pada orang baru, meski Kakakku datar dan aneh dalam pertemanan, ia selalu mengajarkanku untuk selalu ramah kepada siapapun.

Dari orang-orang ini, aku sudah membaca setiap karakter yang mereka miliki sejak dalam masih dalam kandungan, meski tidak seluruhnya dapat aku baca. Mereka, kecuali Gaara, Kei dan Kimimaro bukan orang-orang yang terlihat menyenangkan, ada yang menatap sinis, suka, tak peduli, mungkin agak sedikit sinting? Aku tidak tahu, ini hanya pendapat dan kesimpulanku.

Aku jadi sedikit khawatir mereka bertindak seperti ini kepadaku karena ulah Sasuke terhadap mereka. Awal aku bertemu dengan Sasuke, aku sering diperlakukan kurang sopan, tak tahu apa niat sebenarnya, aku rasa itu hobi yang terkandung.

"Dia mirip dengan Sasuke, tapi bukan. Kau dari Uchiha ya? Aku jarang melihatmu." Salah seorang anak berkomentar agak kasar, tak hentinya ia menatap tak suka, ia kurang ramah dan sedikit urakan. Lelaki muda ini memakai coat tebal dan topi kepala seekor Anjing.

Yang satunya adalah gadis tomboy dan tak henti-hentinya memperhatikanku, ia sempat memperkenalkan diri, namanya Tenten. Katanya ia dari Klub Pecinta Alam. Satunya lagi lelaki pirang yang tampak seperti Ketua dari perkumpulan ini, ia tak menyebutkan namanya, tapi Gaara memanggilnya "Shii" atau semacamnya, nama yang aneh.

Shii ini tampan dan dingin, Gaara bilang ia bukan warga asli komplek sini. Shii berasal dari daerah lain, murid pindahan, sudah kelas 3 SMA. Shii berbicara dengan logat aneh, aku tidak bisa menangkap apa yang ia katakan. Tapi Gaara membantu menjelaskan jika aku mulai menunjukkan ekpresi tak mengerti.

Sebelumnya Kimimaro membujukku untuk ikut ke suatu tempat, dia tak bilang tempat apa itu, aku bertanya padanya sepanjang perjalanan tentang apa semua ini. Tapi Kimimaro mengatakan hal yang sudah-sudah selama perjalanan, aku jadi malas untuk bertanya lagi.

Kimimaro mengatakan hal misterius dengan cepat tanpa menunggu balasan dariku. Yang aku tangkap dari ucapannya adalah pertemuan kecil ala anak SMA dengan jiwa pemberontak, aku ikut saja walau sebenarnya malas.

"Apa aku bisa membantu?" Akhirnya aku bertanya, lelaki bernama Shii itu berpaling padaku.

"Kei menemukan sesuatu yang aneh. Tape Recorder, aku meminta kalian berkumpul di sini untuk mendengarkannya." Shii menjawab dengan logat aneh lagi. Logat seperti orang-orang dari Kumo, ya semacam itu.

"Aneh bagaimana?"

"Tidak di bilang aneh kalau menemukannya di toko, tapi Kei menemukannya di loker milik Shion."

Aku yang merasa risih melayangkan komen. "Seharusnya kalian menyerahkan benda itu pada Kepolisian 'kan? Itu mencuri barang bukti! Aku tidak mau terlihat masalah dan membuat temanku salah paham, ketahuilah itu, kawan!"

Shii tertawa keras mendengar jawabanku, ia membicarakan sesuatu dalam tawa berkembang macam kuman, suaranya tak terdengar jelas karena tawa itu. Shii berpaling padaku untuk beberapa detik, lalu tertawa lagi bak kesurupan. Aku salah tentang sifat dinginnya, dia lebih buruk ketimbang kepribadian Si Bodoh Tobirama.

"Kau tidak sopan..." Aku berkomentar dingin, agak marah, ingin sekali aku pergi dari sini jika saja aku hafal semua belokkan di komplek.

Lelaki bercoat bernama Kiba juga ikut tertawa, tapi lebih terdengar menjengkelkan. "Sudah aku duga kalau dia tidak diberitahu Kimimaro!"

"Apa yang kalian sembunyikan? Aku harap itu tak merugikan kita..."

"Kei sudah memberikan itu pada Polisi." Gaara bersuara, ia agak tak nyaman setelah aku menunjukkan gelagat tersinggung.

"Tapi benda itu kembali lagi, kami sudah membicarakan ini pada Polisi lain, tapi mereka tidak bicara." Sambung Kei agak canggung, ia melirik Kimimaro dengan rasa tak nyaman. "Lalu, Kimimaro datang..."

"Ya, kami sepakat untuk mendengar apa isi rekamannya. Aku pikir kita harus mendengarkan ini bersamamu, Izuna."

Aku mulai merasa khawatir. "Kenapa aku?"

"Karena aku suka padamu."

Aku dibuat ngeri dengan jawaban Shii, dia menggelikan, suka padaku katanya?

"Tapi, aku tidak mengerti, apa maksud dari kembali lagi? Jangan melayangkan fakta aneh."

Aku sebenarnya mengerti arah pembicaraan ini, hanya saja aku sedang mengulur waktu dan berpikir apa yang harus lakukan setelahnya. Anak-anak ini tidak mengerti atau bagaimana dengan yang terjadi? Seharusnya mereka memikirkan kedepannya ketimbang menghadapi risiko. Setelah aku mengalami hal-hal aneh, aku berusaha untuk telaten dan berpikir lebih jernih.

Karena ini agaknya menyangkut hubungan manusia. Aku kaget ketika mereka menyebut-nyebut nama Shion. Gaara dan Kei mungkin tidak setuju dengan Shii dan Kiba, mereka terlihat agak gusar setelah ledakan kemarin.

Kimimaro? Ia tak bisa dibaca, sepertinya anak ini tidak terlalu mempedulikan tentang apa yang akan terjadi. Ia terlihat pandai dalam mengolah data sebenarnya, tapi tidak melakukan kelebihannya sebagai satuan yang positif. Atau mungkin hanya perasaanku saja, ya... atau ada sesuatu yang ia sembunyikan dan menunggu waktu paling tepat untuk membeberkannya?

Lihat saja nanti.

Tenten? Aku rasa dia hanya ingin ikut-ikutan.

"Kembali lagi di sini maksudnya benda itu kembali pada Kei, padahal ia sudah memberikan itu pada Polisi! Itu sudah terjadi tiga kali." Tenten berkata sok pintar, ia mengedipkan mata kala aku menangkap wajahnya.

Aku yang masih kurang yakin bertanya agak terburu, helaiku terhembus angin, aku merasa sedikit nyaman. "Kau yakin itu Tape yang sama? Bukan salinan?"

"Tidak ada bukti kongkrit sebenarnya, tapi aku merasakannya." Kiba menyombongkan diri, berlagak terpakai di kelompok ini. "Aku merasa kalau ini hal berbau mistis, sampai-sampai membawakan ini padaku."

"Lalu, apa kesimpulan yang dapat kalian tarik dari ini?"

Semuanya diam, tidak berkomentar atau tampak berpikir keras. Aku tidak terlalu suka dengan keadaan ini, malah aku membenci semua orang yang ada di sini dan sandiwara ini. Jika mereka mau berkomitmen, seharusnya mereka bisa dan mampu menanggung dan memikirkan rencana ke depannya.

Lalu mereka?

Mereka tak mumpuni sama sekali, hanya sekumpulan manusia yang hobi mendengarkan gosip horror dan misteri. Itu tak masalah, aku tak akan mengomentarinya, tapi jangan pernah terlibat dalam kasus ini.

"Kalian seharusnya jangan terlibat dalam kasus aneh ini. Kalian tahu apa yang terjadi pada Shion, bukan?"

Shii menyalang, tampak tersinggung dengan ucapan dinginku. "Aku sedang mencari tahu, kau mau bilang dia kena sial, 'kan? Komplek tempat Shion dan Gaara tinggal sering terjadi kesialan, makanya aku menarik benang kesimpulan!"

Aku menarik napas panjang. "YA, lalu apa kesimpulanmu? Dalam sebuah hipotesis kau harus punya kesimpulan, lalu apa kesimpulanmu?"

"Orang yang meledakkan rumah Shion adalah orang yang sama dengan orang yang membuat kehebohan sebelumnya."

Kalau itu aku juga tahu!

"Dia lelaki berkimono putih!" Kiba melanjutkan ucapan Shii.

Aku juga tahu, bodoh!

"Aku tahu siapa dia."

.

.

Lelaki berkimono putih agaknya sangat populer di kalangan pencinta misteri, buktinya orang-orang ini menunjukkan reaksi berlebih saat menyebut-nyebut nama itu. Aku baru tahu kalau Shii adalah pembuat artikel tentang ledakan Pesawat, sesuatu yang disinggung Hidan ketika kami bertemu.

Shii belagak tahu betul apa yang sedang dihadapi, ia menjelaskan beberapa kasus yang sebelumnya pernah aku dengar dari Deidara, ia mengulanginya, sempat meledek Gaara dan menatapku tak suka seolah dirinya pintar, padahal aku tahu fakta yang terkandung ketika Shii membeberkan rumor.

Shii mengajak kami ke Auditorium, katanya mereka akan mendengarkan Tape itu di sana. Terlebih ia baru saja mengatakan sesuatu yang amat positif, aku ikut saja apa yang ia katakan walau sebenarnya malas untuk mengikuti tindak tanduknya. Shii tak mencurigakan, ia cuma sombong, hanya itu. Mungkin karena dia lebih tua, alasan dia dan Kimimaro mengajakku masih aku pikirkan, mungkin ia mengajakku karena aku aneh?

Mungkin saja. Aku memang aneh, bukan? Aku terasa misterius di sudut pandang orang-orang.

"Kau yakin akan mendengarkan ini di sini?" Tenten berpaling padaku. "Bagaimana, Izuna?"

"Aku menyerahkan ini pada kalian."

Ada apa dengan gadis ini? Aneh sekali dia ini. Sejak aku melihat dirinya ia selalu menatapku seperti itu, tidak, dia sudah begitu sejak Kimimaro berteriak jika ia merekrut member baru.

Auditorium ini sepi, ada gema melintas kala aku bicara, bahkan angin terdengar cukup jelas di dalam sini. Dengan sigap aku memperhatikan sekitar, takut ada hal yang mencurigakan muncul di saat-saat tertentu. Tempat ini lenggang dan agung, aku rasa Arsiteknya sengaja membuatnya begitu agar menampung banyak murid.

Langitnya jangkung seperti lapangan indoor, lampunya banyak dan terang, lantainya menimbulkan decitan seperti lantai dansa. Tempat yang stabil dan menenangkan, setidaknya jika tempat ini sepi.

Shii, Kiba dan Tenten berjalan meninggalkan aku, Gaara, Kei dan Kimimaro. Di depan sana mereka membicarakan sesuatu dan menunjuk udara dengan wajah serius. Mereka mungkin sedang mencari pemutar, aku pikir mereka sudah mempersiapkannya sebelum aku datang kemari.

Kimimaro berjalan di belakangku bersama Kei, saling diam seperti meneliti keadaan, Gaara tepat 20 sentimeter di depanku. Namun, ia berhenti berjalan dan menutar tubuh.

"Ada apa, Gaara?" Aku bertanya karena kaget dengan gerakannya yang tiba-tiba.

"Aku ingin pulang, Izuna." Ia berbicara setengah berbisik, suaranya seperti Ular. Lantas, ia memutar lalu berdiri tepat di sampingku, bahu kami bersentuhan. Ia berbisik lagi. "Aku pergi saja, deh."

"Pulang? Kau takut atau bagaimana?"

"Bukan takut, Izuna. Aku merasa tak nyaman dengan suasananya. Tapi tak enak pada Tenten, dia teman Kakakku."

Aku tidak tahu dia punya Kakak.

Aku menoleh, menatap bingung Kei juga Kimimaro. "Bagaimana?" Bertanya untuk sebuah persetujuan.

"Oh, kau mau apa, Izuna?" Itu Kimimaro yang membalas.

"Aku tanya apa kalian-"

...terhenti oleh pesan masuk pada Ponselku. Aku baru dibelikan Ponsel oleh Aria dan dia memberiku tutorial cara penggunannya, di zamanku tidak ada benda ini.

"Sebentar..."

03:25 PM

From : Deidara

Subject : Izuna, kau ingat pembuat artikel yang Hidan ceritakan tempo hari? Dia tewas kemarin siang di Auditorium Sekolah.

Aku akan melampirkan foto dan video padamu, foto ini menunjukkan hal yang sama seperti penemuan mayat Naruto.

(lampiran )

(lampiran )

( 4)

( 4)

Kau melihatnya? Apa kesimpulanmu?

Saat itu terjadi, aku langsung merinding.

"Izuna, ada apa?"

Seraut wajah mengerikan tampak di kedua belah mataku.

A/N : Yup, akhirnya saya bisa update lagi chapter berikutnya. Thanks buat teman-teman yg sudah meninggalkan review! Oh, buat yang request FF kemarin, saya tampung dulu ya! Tapi gak akan cepet dan saya gak bisa janji, hehehe. Terima kasih sudah mau request ke saya!

Terima kasih juga buat yang menyediakan waktu untuk baca di sini, untuk next chapter saya gak tau kapannya. Tapi terima kasih atas semangatnya, saya akan lebih bersemangat, hehe. See you soon!

Selamat Akhir Tahun.