Kagami?

Jadi, surat itu ditulis oleh Uchiha Kagami. Aku tak pernah mendengar nama itu sebelumnya, berarti ia tidak lahir di zamanku. Apa jangan-jangan, dia lelaki aneh yang mengirimku ke dunia ini? Aku ingat cerita Hidan yang berkata ada Pusaka ajaib hilang di Museum barang antik.

Ketika aku ingat cerita itu, aku sesegera mungkin melihat di internet (tentu saja dengan bantuan Aria) kemungkinan kalau benda selayaknya tongkat sakti itu sama seperti deskripsi Hidan. Ingat itu, ia pernah menceritakan detailnya pada kami ketika bertemu di restoran cepat saji beserta mitos lainnya yang menggelitik hingga tembus ke dimensi lain. Tongkat itu ada di museum dan seseorang mencurinya! Dia belum tertangkap, ya pencuri itu.

Ingatanku tidak begitu sempurna. Tapi untuk hal-hal tertentu aku bisa melihat detail dari tongkat itu dan nyatanya memang sama persis dilihat dari berbagai sudut. Untuk meyakinkan itu semua, aku bergegas ke perpustakaan tersembunyi dan mencari lagi buku pohon keluarga milik Uchiha. Agak was-was karena takut orang aneh yang pada waktu aku dan Sasuke lihat muncul kembali.

Melihat lelaki itu di siang bolong merupakan hal paling brutal dari penampakan hantu. Ketakutanku bercampur rasa marah yang tak mampu digambarkan oleh kalimat manapun. Aku berharap, mimpi-mimpi yang aku alami bukanlah berasal dari dirinya. Aku sangat yakin tidak ada hantu dari jenis manapun yang dapat mengendalikan mimpi.

Buku Pohon Keluarga itu lebih mengerikan dari terakhir kali aku dan Sasuke memergokinya. Buku ini tak rusak sama sekali, tapi baunya seperti tikus mati dan kecoa kering ada aura aneh yang mengitarinya, itu yang membuatku takut. Kau tak perlu membayangkan seperti apa bau jahanam itu, aku tak mau membayar kalian untuk hal seperti ini.

Setelah membersihkannya dengan lap yang agak basah, aku mengambil hand sanitizer sebagai langkah akhir dan membuka halaman buku itu menggunakan sarung tangan karet. Aku merasa aneh pada diriku sendiri, biasanya Kak Madara yang selalu bersikap sok higenis. Mungkin aku melakukan ini hanya karena merindukan Kak Madara.

Aku melihat wajah Ayahku, Ibu, Kak Madara di sana. Ada juga wajahku lengkap bersama tahun dan tempat lahir, aku mendapatkan huruf tanda tanya di kolom wafat, berarti sampai Kak Madara tiada, aku menghilang seperti angin kosong, tak ditemukan. Aku membuka halaman berikutnya, hati-hati dan canggung. Nyatanya kertas buku ini lebih rapuh dari yang aku duga. Aku tak habis pikir bagaimana Sasuke dapat membaca buku ini dengan gaya sok heroiknya yang pasaran.

Halaman yang baru aku buka itu menampilkan foto orang yang tak aku kenali, tapi beberapa detail melambangkan bahwa mereka memanglah seorang Uchiha. Mereka lahir setelahku jumlahnya banyak, aku tak menyangka akan menemukan begitu banyak anggota Uchiha. Tapi mendapati kenyataan kalau mereka menghilang satu persatu tinggal menyisakan orang-orang yang ada di rumah ini membuatku takut.

Apakah yang dikatakan orang-orang benar? Bahwa keluarga Uchiha menghilang secara misterius? Entahlah.

Aku mengingat-ingat kembali nama Kagami itu. Tiba-tiba nama itu muncul, disana terukir potret lelaki dengan wajah tegas dan keras seperti sosok Kak Madara dengan manik mata tajam seperti tentara. Aku yakin sekali bahwa dia anggota militer. Sama sepertiku, tidak ada tanda atau detail bagaimana dia meninggal, tapi dia menghilang ketika usianya 25 tahun. Jika aku perkirakan dengan baik-baik seharusnya dia sudah meninggal, kecuali jika dia memang abadi.

Aku pikir akan sangat aneh jika Kagami itu muncul dan memberikan surat pada Ibunya si Hinata. Membuat pengakuan polos bahwa ia tahu segalanya, ia meramalkan semua malapetaka dan menyelamatkan wanita itu dengan kemampuan meramalnya. Tentu saja ia patut bangga soal itu.

Jika pada kenyataannya Kagami memang memberikan surat itu, pastilah ia sudah tua sekali. Aku yakin umurnya melebihi Fugaku, tentu saja! Apakah dia orang yang mengaku-ngaku sebagai Kagami hanya untuk menakut-nakuti Ibunya si Hinata? Kupikir itu terlalu berlebihan untuk dilakukan, seperti orang bodoh saja!

Sasuke masih belum siuman akibat penyerangan itu akupun tidak tahu siapa pelaku penyerangannya. Aku sangat yakin kalau Sasuke diserang oleh makhluk yang menyamar menjadi dirinya.

Dia diserang sebuah paku, paku yang tebal belum pernah aku lihat sebelumnya. Aku ingat suara aneh dan ribut-ribut tak jelas sebelum Sasuke Palsu muncul, bersikap aneh seolah berlainan kepribadian. Sasuke Palsu juga pernah menampakkan diri padaku dan Itachi, menembus tembok dan membuat anjing marah.

Sasuke Palsu itu mengajakku juga Kei menemui Shion, hingga pada detik detik terakhir rumah milik Shion meledak seperti serangan nuklir, aku bertemu Gaara dari kejadian itu. Kemudian, dari pertemuan itu siklus kematian terulang kembali. Setiap orang yang aku temui berakhir hilang atau mati, termasuk Akasuna.

Anehnya, setelah kejadian itu aku tak mendapatkan mimpi lagi, setelah Obito dan Itachi mendadak hilang. Padahal mimpi itu adalah bukti kalau orang-orang yang mati di sekitarku adalah bagaimana cara mereka mati. Aku harap, aku bisa menghentikan kematian, tapi ketika aku sadar dan mengulang seluruh kejadian, semua itu hanya kiasan dan kebodohan.

Aku penasaran dengan keberadaan keluarga Nara dan Yamanaka, Gaara dan Kimimaro tidak pernah membicarakan ini. Mungkin karena kami belum lama kenal, jadi mereka belum mau berbagi cerita ini dan itu atau kemungkinan besar mereka tidak tahu, aku harap mereka mengatakan sesuatu soal ini meskipun hanya gosip murahan berbumbu sangat picisan.

Apa aku tanya Aria saja ya? Mungkin dia tahu sesuatu. Tapi, aku tak tahu bagaimana berbicara dengan gadis itu, aku punya perasaan malu dan sungkan yang tak dapat kugambarkan jika aku berada di sekitar Aria. Dia memiliki pesona yang aneh dan Sasuke pun mengakui bahwa Aria memang memiliki pesona yang aneh.

Gadis itu dengan mudah masuk ke Keluarga ini dan entah mengapa aku merasa sangat nyaman ada di sekitarnya. Kalau tak salah dia dari klan Yuzuru. Aku pernah dengar soal klan itu dan Kak Madara juga pernah menceritakan tentang mereka, dia lumayan dekat dengan salah seorang bernama Seimei atau Fujiwara, pokoknya nama-nama aneh semacam itu.

Aku belum pernah dekat dengan mereka kecuali Aria ini. Tapi aku pernah melihat beberapa diantara mereka dan mereka identik dengan rambut putih selayaknya salju. Semacam keidentikan klan Uzumaki, rambut merah.

Aku membuka lembar buku itu lagi, masih penasaran dan terus mencari. Kemudian aku melihat seseorang yang tampak familiar di sana, mataku membulat karena tercengang hampir tersedak ludah dan mendadak mendapat serangan jantung dadakan.

Eh, orang ini?

.

.

.

"Kau tahu dia siapa, Aria?"

"Siapa?"

"Yang ada dalam album keluarga ini."

Kuberikan foto yang aku tangkap lewat ponsel pada Aria, aku tak mau membawa album foto itu keluar dari Perpustakaan. Buku ini sudah terlalu rapuh dan aku tak mau sesuatu yang buruk terjadi pada benda ini. Aku juga tidak mau disalahkan oleh hal yang teramat sepele. Bukankah, tidak sengaja merusak sebuah buku tua akan membuat kesan konyol? Jangan bercanda!

Oh iya, Aria masih tinggal di sini. Katanya untuk menjagaku. Kadang dia mengujungi Sasuke yang masih berada di Rumah Sakit. Apa kalian masih ingat apa yang terjadi pada Sasuke? Ya benar. Seseorang menyerangnya dengan sebuah paku berkarat, mirip seperti mimpi yang aku dapatkan beberapa minggu lalu. Aku pikir begitu, aku masih mengingat mimpi itu. Mimpi yang menjadi kenyataan.

Aria tampaknya tidak mengenali figur lelaki yang barusan aku tunjukkan, ia meneliti foto itu beberapa kali dengan kerutan yang tampak jelas di dahinya. Aku pikir, ia sedang berpikir keras, mencari sejauh mana otaknya dapat menemukan sosok yang tengah aku tunjukkan. Ia mengulangi untuk mengamati figur itu untuk yang terakhir kali, lalu menghela napas seperti tidak bisa menemukan jawaban yang tepat atau ungkapan seperti, lagi-lagi orang ini.

"Aku sepertinya tahu dia siapa. Kenapa kau begitu penasaran dengan orang itu?"

"Aku seperti pernah melihat orang itu di suatu tempat, itu membuatku penasaran, haha. Tapi, entah mengapa aku lupa."

"Seperti ada yang mengganjal ya, Izuna? Tapi kalau dibilang kenal sih, sepertinya bukan begitu. Sebenarnya, dia itu model."

Mendengar itu aku ingin sekali tertawa keras, tapi tawa itu tak mau keluar. Lalu aku bertanya pada gadis ini, meski itu terdengar seperti sebuah olokan remeh. "Model?"

"Ya, semacam itu. Kau mungkin pernah lihat dia saat pulang dari Rumah Sakit. Papan reklame iklan, orang itu ada di Pusat Kota dekat RS di mana kau dirawat, mungkin kau lihat dia di sana. Dia agak mencolok sih, iklannya itu."

Benar!

Kala otakku berusaha mencari dari sudut mana orang ini berasal. Aku berhasil menemukannya. Orang itu pernah aku lihat sekilas ketika aku pulang dari RS, memang benar apa yang dikatakan Aria. Lelaki ini agak mencolok, iklan dari papan reklame itu yang paling menonjol diantara iklan lainnya.

Sebuah iklan parfum. Ia memakai jas hitam dan tengah melompat pada langit mendung yang hitam.

"Aku tidak tahu kalau dia dari Uchiha." Aria menambahkan. "Dia menggunakan nama panggung dan tak pernah mempublisikan nama aslinya. Tapi... aku yakin kalau dia orang yang sama dengan yang kita lihat. Dia punya sesuatu yang tak dapat ditutupi."

"Sesuatu?"

"Mata itu. Ciri khas mata orang-orang Uchiha. Kau tahu 'kan, setiap klan punya ciri khas sendiri yang kadang tak bisa kau ungkapkan dengan kata-kata, kau hanya bisa menemukan itu dengan melihatnya saja..."

"Oh, begitu..."

"Kau begitu penasaran Izuna. Memangnya ada apa? Apa dia membuatmu ingat pada sesuatu? Sesuatu yang ada pada masamu?"

"Aku pikir bukan begitu... dia mirip dengan Kagami?"

"Siapa dia?"

"Um, aku akan menjelaskannya nanti."

Waktu itu aku tak begitu ingat kapan tubuhku terasa sangat ringan. Ketika aku merasakan hal itu, aku langsung ambruk diatas sofa yang kemudian aku menyebutkan bahwa gejala ini adalah tidur. Seingatku ada seseorang yang mendekatiku ketika aku ada di sofa, orang itu... entah bagaimana memiliki kulit yang sangat hitam nyaris seperti arang. Rambutnya merah setengah terbakar, kulitnya yang hitam dan aneh itu membuatku takut setengah mati.

Maaf, aku tidak bermaksud untuk rasis. Tapi itulah yang aku lihat. Aku tak begitu yakin ini sebuah kenyataan atau bunga tidur. Tapi, jika ini adalah kenyataan aku tak mau ini menjadi nyata. Aku ingin membuang kenangan ini dan amensia.

Dia mengatakan sesuatu yang tak dapat aku mengerti, berkali-kali aku bertanya pada sosok hitam itu. Tapi ia tak menjawabnya sama sekali. Ia terus mengulanginya dan menaikkan volume suaranya setiap kali ia selesai berbicara.

Tolong hentikan siklus ini. Hentikan... tidak ada yang boleh mati oleh kutukan ini. Tidak ada yang boleh mengulangi siklus ini. Karma mungkin memang ada, tapi tolong jangan libatkan orang tak bersalah.

Lalu ia bicara lagi.

Aku tak ingin mati. Aku mau hidup. Tolong, ini sakit sekali...

Kemudian sosok itu melebur, menjadi abu panas yang bau. Ketika aku meraba abu itu, kulitku merasa terbakar. Lalu, ketika aku berteriak memanggil kembali sosok itu aku sudah berada di sebuah kasur putih, putih sekali, hingga aku tak bisa memalingkan pandanganku pada sosok ini.

Ketika itu terjadi...

"Izuna? Hey, bangun."

"Ugh... Aria?"

Sebenarnya bukan suara itu yang membuatku terbangun dari alam bawah sadarku. Yang membuat tubuh ini terangkat adalah jemari-jemari kecil Aria yang terlalu dingin menyentuh permukaan kulit pipiku. Tangannya lembut sekali, tapi terlalu dingin, apa dia baik-baik saja ya? Aku tak pernah menanyakan soal kesehatannya.

Lalu sekarang aku khawatir kalau Aria tidak menjaga kesehatannya dengan baik, ia juga cuti dari pekerjaannya di percetakan majalah dan meninggalkan naskah novelnya begitu saja demi menjagaku dan juga Sasuke.

Aku merasa tidak enak.

"Ada apa? Apakah sesuatu telah terjadi?"

"Dengarkan ini, Izuna..."

Sudah berapa lama aku tertidur? Aku tak ingat kapan aku tidur. Mungkin aku terlalu lelah karena sudah lama meneliti soal orang-orang Uchiha ini.

Rumah ini terasa agak pengap dari biasanya, hanya ada sedikit cahaya yang menerangi setiap sudutnya. Aku pikir ini sudah larut malam, seingatku aku bicara dengan Aria tadi sore... sudah selama itu kah aku tertidur?

Kulirik jam cokelat berbentuk rumah di ujung sana, aku menyipitkan mata karena penglihatanku masih begitu buram.

Jam 2. Sudah lama sekali berarti aku tertidur.

"Sesuatu baru saja terjadi di komplek sebelah. Itu soal temanmu, aku ingin membawamu pergi dari sini karena itu membuatku khawatir..."

Aku yang masih setengah sadar merasakan sakit kepala yang amat luar biasa. Kepalaku berputar-putar aneh, rasanya aku ingin muntah karena merasa sangat bingung. Lalu aku berusaha berpikir siapa gerangan orang yang dibicarakan Aria. Tapi, sebelum aku bertanya, ia sudah menarik pergelangan tanganku, ia tak bicara sama sekali hanya melempar tubuh hampaku ke dalam mobil.

Selagi aku mengumpulkan kesaradaranku, aku mendengar beberapa suara yang tampaknya aku kenal. Suara milik Aria yang mengoceh sembari menahan tangisan dan Deidara yang menenangkannya meski ia tak tahu mesti mengatakan hal bijak macam apa.

Aku duduk dikursi belakang kemudi, merasa kedinginan dan mengigil, lalu aku sadar kalau Aria belum menutup pintu mobil ini. Entah dia lupa atau memang sedang menunggu seseorang untuk masuk ke dalam. Lalu, kala kesadaranku sudah terkumpul semua, seseorang masuk ke dalam mobil dan ia duduk di sebelahku.

Percekcokan antara Deidara dan Aria berakhir dengan kurang sempurna ketika orang itu masuk ke dalam. Itu adalah Hidan.

"Tidak bisa di selamatkan. Dia mati terpanggang..."

Tangis Aria kembali pecah dan kali ini Deidara juga terlihat sangat panik dari sebelumnya. Bau terbakar dari tubuh Hidan membuatku berkeringat dingin, beberapa helai rambutnya terbakar hingga menyisakan botak aneh di sebelah kiri.

"Semoga arwahnya tenang di alam sana. Gaara yang malang, mati terbakar di atas kasurnya..."

Berarti... mimpi itu menjadi kenyataan...

.

.

.

Sembari termenung layaknya orang bodoh, aku mengamati sekeliling mobil. Rasanya aneh dan tak tertahankan, masih tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Apakah semua itu benar? Apa aku benar-benar kehilangan orang-orang disekitarku?

Gaara sudah mati.

Ya, benar.

Dia sudah mati! Dia mati karena dia dekat denganku! Karena dia... dia mengenali semua keluarga Uchiha! Benar. Memang seperti itu kenyataannya! Memang begitu akhirnya!

Inilah akhir dari Klan Uchiha. Memang seharusnya mereka mati. Jika itu terjadi tak ada yang harus menerima maut itu lagi, tak ada lagi yang kematian-kematian bodoh. Mereka orang-orang yang malang.

Maka dari itu... Maka...

"Izuna." Sebuah suara menginterupsi, lalu ia melanjutkan dengan terburu. "Jika kau berpikir kalau kematianmu akan membuat siklus kematian ini berhenti, kau salah. Siklus Kematian akan tetap ada. Kematianmu tidak akan membawa perubahan apapun." Itu suara Hidan. Tampaknya ia bisa membaca pikiranku atau setidaknya begitu. Dari balik setir ada Deidara, tak mengatakan apa-apa. Tapi dia masih kepanikan.

"Aku tahu penyebabnya. Semua yang ada pada Nyoya Hyuuga dalam surat itu benar. Selain fakta soal informasi pembantaian Keluarganya." Hidan berkata begitu dengan suatu kebanggaan, semua orang meliriknya, kecuali Aria yang melamun.

Isi surat itu memang begitu. Isinya soal info pembantaian keluarga Hyuuga, lelaki berkimono putih dan beberapa info soal Uchiha. Tapi tidak begitu jelas menurut pendapatku.

"Aku tahu mengapa semua ini bisa terjadi. Itu karena Kakekmu... Aduh, sialan, Kakek Tua Bangka itu... Isian surat itu adalah kebenarannya! Dan lelaki berkimono putih itulah yang membawa kebenarannya! Orang itu, aku sekarang tahu siapa dia. Wajahnya mirip dengan Shisui 'kan? karena mereka orang yang sama."

"HAH? Jadi, Kagami dan Shisui itu orang yang sama?"

"Ya, kita bisa mengatakannya begitu, Deidara. Mari kita lanjutkan penjelasannya!"

Hidan melanjutkan lagi. "Apa yang terjadi pada Fugaku, Keluarga Hyuuga, Nara dan Yamanaka adalah karena Kakeknya Izuna! Jadi sebenarnya kejadiannya itu begini... Kakeknya Izuna waktu itu terkena kutukan, sepertinya Nara dan Yamanaka atau Hyuuga pelakunya. Zaman dulu orang-orang ahli dalam ilmu sihir, salah satunya kemampuan itu ada di Nara dan Yamanaka. Kalian pernah dengan istilah Kodoku? Ya, itu Nara yang membuatnya. Tapi itu hanya contoh!"

Hidan terus bicara. "Kakeknya Izuna, ia ingin melepas kutukan itu, di surat itu tertulis begitu bukan? Walau tak jelas apa Kutukannya. Lalu, Kakeknya Izuna menemukan cara agar lepas dari kutukan itu, dia harus menguasai suatu Ilmu Sihir juga. Ia berpikir jika ia tidak dapat melepaskan kutukan itu, maka rantai klan Uchiha akan terputus dan mereka akan musnah. Jadi, apa yang akan dia lakukan?"

Semuanya diam menunggu jawaban, Hidan mengambil napas panjang. Ia sebenarnya terlihat kesakitan. "Ya, dia harus panjang umur agar dapat menguasai ilmu sihir itu dengan sempurna! Beberapa ilmu sihir membutuhkan waktu lama untuk menguasainya dan Kakeknya Izuna sangat yakin kalau umurnya tak akan cukup untuk belajar. Tapi, bagaimana caranya agar dia panjang umur? Dia sebenarnya menguasi ilmu lain."

"Tapi ada syaratnya agar tercapai, syaratnya agak berat. Suatu saat nanti, salah satu anggota keluarga klan akan menjadi tumbalnya dari ilmu itu. Orang yang ditumbalkan kelak sudah ada tanda-tandanya sejak mereka lahir. Tanda itu ada padamu, Izuna. Seharusnya kau sudah mati akibat tumbal itu. Tapi, hal aneh terjadi, bukan? Orang yang mengirimmu ke masa depan membuat kematianmu tertunda. Jadi segalanya menjadi kacau! Karena ketika ilmu panjang umur itu berhasil dikuasai, kau malah menghilang!"

Deidara meracau. "Jadi efek domino ya? Atau paradox?"

"Yah, keduanya mungkin benar. Mungkin seseorang telah mengubah timeline. Tongkat itulah yang dapat membuatmu berpindah masa!" Hidan tertawa remeh.

"Jadi soal Karma dan Rawa itu... bohong?"

"Sejak awal kisah itu memang bualan, Izuna. Pintar sekali orang zaman dulu membual semacam ini. Mereka telah menipu kita semua, yeah."

Barulah kali ini Aria mau bicara. "Lalu, apa kau punya saran. Hidan?"

"Kau tahu dari mana cerita itu, Hidan? Bukankah surat yang kau berikan padaku tidak menjelaskan sampai serinci itu?"

"Aku akan menjawab dua pertanyaan dari Izuna dan Yuzuru Aria." Ia tersenyum manis. "Semuanya jawabannya ada di belakang."

Aku menoleh kebelakang. "Siapa yang ada di belakang?"

"Lelaki berkimono putih itu. Dia ada di bagasi mobil."

A/N : HOLAAAA akhirnya aku bisa Update lagi. Maaf karena menunggu terlalu lama. Aku akhir-akhir ini banyak kerjaan di real life. Karena sudah mulai kerja seperti biasa dan sebulanan ini sudah mulai sibuk. Terima kasih sudah menunggu! Bagaimana kabar kalian selama PSBB dan New Normal? Semoga kalian baik-baik saja ya! *cheers*

Oh, ya aku mau menjelaskan lagi. Kenapa judulnya Rest in Pieces bukan Rest in Peace? Karena mereka meninggalnya menjadi potongan tubuh aka pieces. Haha, agak konyol juga sih kenapa kepikiran begini. Sebenarnya aku mau bilang kalau Uchihas itu bukan karakter favoriteku, tapi hanya mereka aja orang-orang yang paling gampang dibuat Fanfiknya, karena sifat mereka beragam dan paling banyak dikenalkan daripada klan lain.

Jadi misterinya mulai terungkap kan. Dan sebenarnya itu bukan Karma, melainkan efek karena Kakeknya Izuna gak menyelesaikan ilmunya. Jadinya seluruh orang malah kena imbas. Beberapa ilmu sihir biasanya di film-film dan buku ada efek dan pengorbanan, salah satu pengorbanan agar ilmunya sempurna adalah kematiannya Izuna. Tapi karena dia dikirim ke masa depan malah jadi kacau, karena kematiannya tertunda. Mengerikan bukan efeknya? Semua orang yang kenal keluarga Uchiha malah jadi mati satu persatu dan kadang dapat "hint" kematiannya lewat mimpi Izuna walau gak begitu jelas.

Oke, untuk selanjutnya aku gak tau kapan akan rilis. Tapi aku berharap semoga terselesaikan dengan cepat.