Daiya no A belongs to Terajima Yuuji
PERHATIAN!
CERITA INI MENGANDUNG UNSUR PEMBUNUHAN YANG CUKUP KEJAM DAN DESKRIPSI TUBUH YANG CUKUP DETAIL. BAGI PARA PEMBACA YANG TIDAK BEGITU MENYUKAI GENRE SEPERTI INI, SAYA TIDAK MENYARANKAN UNTUK MEMBACA CERITA INI!
CERITA INI JUGA MENGANDUNG BAHASA-BAHASA KASAR YANG TIDAK PANTAS UNTUK DIUCAPKAN!
KEBIJAKSANAAN PARA PEMBACA BERPERAN PENTING!
Typo, OOC, OC (untuk kepentingan cerita), dll.
Selamat membaca!
MASK OF RABBIT
.
"Sawamura Eijun?"
Laki-laki itu kecil dan kurus. Rambutnya berwarna merah muda dan poninya panjang sampai menutupi matanya. Blazer sekolahnya tampak kebesaran ketika dipakainya. Dia tersenyum ramah pada Sawamura.
"Ya?" tanya Sawamura.
Hari ini adalah pemindahan tempat duduk di kelasnya. Sawamura kebagian tempat duduk di samping jendela yang mengarah ke lapangan basket dan taman yang dipenuhi pohon sakura yang belum berbunga.
"Kominato Haruichi," kata lelaki kecil itu, "mohon bantuannya untuk satu semester ke depan."
Kominato Haruichi adalah teman pertama Sawamura Eijun di SMP. Mereka berteman karena kebetulan rotasi tempat duduk dari wali kelas.
.
Rahang kiri Sawamura Eijun kembali berdenyut-denyut. Sudah hampir 10 menit dia dihajar oleh anak-anak di halaman belakang sekolah. Berdiri congkak paling belakang sambil menyeringai adalah Narumiya Mei. Dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan menikmati para anak buahnya menghajar Sawamura.
Sawamura jatuh terduduk akhirnya. Kakinya tidak kuat lagi bertahan karena ditendang terus-menerus. Keringatnya bercucuran dan seluruh tubuhnya sakit tidak karuan. Sawamura bahkan bisa merasakan rasa besi di dalam mulutnya, yang artinya kemungkinan mulutnya sobek.
"Siapa yang suruh duduk?"
Kerah kemeja sekolahnya ditarik paksa oleh Kamiya Carlos, seorang anak blasteran Jepang-Meksiko dan sahabat dekatnya Narumiya Mei. Sawamura bangun sambil tertatih-tatih. Lalu, perutnya ditendang kuat oleh Kamiya dan membuat punggungnya menabrak pagar besi dan dia jatuh terduduk lagi. Dia mengerang kesakitan sambil terbatuk.
"Jangan berlebihan Carlos," kata Shirakawa Katsuyuki. Dia adalah seorang pemuda elegan yang berasal dari sebuah keluarga pengusaha kaya di Jepang. Sebuah buku saku mengenai pelajaran IPA selalu dibacanya di kala senggang. Tatapan matanya dingin dan tanpa ampun. "Kalau sampai mati repot mengurusnya."
Carlos tertawa meremehkan sambil menatap Sawamura. "Kalau dia sampai mati, ya mati saja. Tidak ada yang peduli juga padanya," katanya.
Sawamura mengatur napasnya.
Sebuah kuapan yang dilebih-lebihkan berasal dari Narumiya Mei. Dia melakukan peregangan pada seluruh tubuhnya seperti baru bangun tidur. "Aku bosan," katanya. Dia melirik Sawamura yang sudah babak belur. Dia berjalan mendekati Sawamura. Carlos dan Shirakawa membuka jalan untuk Narumiya. Dia meletakkan telapak kakinya yang dibalut sepatu ruangan di kepala Sawamura yang menunduk.
"Besok. Jam istirahat," kata Narumiya, "jangan sampai kau mengulangi kesalahan yang sama lagi."
Sawamura diam saja. Dia tetap menunduk. Kaki milik Narumiya menendang kepala itu sampai terbentur pagar besi. "Jawab!" bentaknya.
"Baik," kata Sawamura pada akhirnya.
Narumiya menyunggingkan sebuah senyum superior.
"Bagus."
"Sebaiknya kita kembali," kata Shirakawa sambil mengecek jam tangannya, "sebentar lagi bel masuk." Carlos dan Narumiya setuju. Mereka bertiga berjalan meninggalkan halaman belakang sekolah, menuju gedung SMA megah yang menjadi tempat mereka menuntut ilmu.
Setelah tiga sekawan itu pergi, Sawamura mencoba bangun sambil tertatih-tatih. Seluruh tubuhnya sakit dan perutnya berdenyut-denyut. Tendangan Carlos memang tidak main-main. Hampir saja tadi dia muntah karena ditendang tepat di ulu hati, tetapi untung saja itu tidak terjadi.
Sawamura bersandar pada pagar besi. Blazernya kotor karena dia ditendang berkali-kali dan jatuh. Dia bisa memastikan wajahnya sudah biru-biru dan penuh dengan memar. Dia tidak bisa masuk kelas dengan kondisi mengenaskan seperti ini, meskipun dia tahu bahwa tidak ada satu orang pun yang peduli pada nasibnya. Semua orang pasti sibuk menyelamatkan diri sendiri dan tidak mau membuat Raja Sekolah, Narumiya Mei, sebagai musuh mereka.
Sawamura mendongak menatap langit biru. Musim panas sudah lewat dan akan memasuki musim gugur. Namun, langit di Tokyo Barat masih terlihat cerah dan biru. Awan-awan putih berjalan lambat dan tampak malas di tengah langit. Burung-burung gereja terbang dengan bebas.
Bel masuk berbunyi.
Sawamura tidak mau masuk ke dalam kelasnya. Dia tidak mau kembali ke gedung itu. Yang ingin dia lakukan hanyalah pergi jauh ke tempat dimana dia bisa bernapas dengan bebas dan tidak perlu merasa kesakitan setiap waktunya. Dia ingin menjadi bagian dari burung-burung gereja yang sedang terbang memutar di langit biru.
"Harucchi, aku pasti bisa bertahan," bisiknya ke angin yang sedang berhembus. Kata-kata itu ikut terbawa angin dan menguap di langit.
.
"Kenapa lagi wajahmu?" tanya Kanemaru Shinji. Dia adalah seorang teman Sawamura di tempat kerja sambilannya, sebuah café di Taman Bermain. Mereka berdua sedang berada di ruang ganti karyawan. Sawamura memakai apronnya pelan-pelan karena perutnya masih berdenyut-denyut.
"Jatuh," kata Sawamura datar.
Kanemaru tampak tidak setuju. Dia menutup pintu lokernya. "Oh ya? Apa kau punya infeksi telinga yang membuatmu terus-menerus jatuh setiap hari?" sindirnya.
Sawamura hanya mengangkat bahunya acuh. "Mungkin," jawabnya, "apa kau bisa melihat cairan berbau keluar dari telingaku?" tanyanya.
"Sawamura," kata Kanemaru serius. Sawamura memutuskan untuk tidak menatap temannya.
"Aku jatuh," kata Sawamura lagi, "serius."
"Aku juga serius," kata Kanemaru. Namun Sawamura tidak mengatakan apapun lebih jauh. Dia menutup lokernya dan bersiap untuk bekerja. Kanemaru mencegatnya.
"Apa lagi?" tanya Sawamura. "Aku tidak mau gajiku di potong."
Kanemaru memberinya tatapan tajam. "Aku tidak akan mendesakmu untuk menceritakannya," kata Kanemaru, "tapi kita obati dulu wajahmu."
Sawamura berusaha menghindar. "Aku baik-baik saja."
"Apa kau sudah melihat tampangmu di kaca? Memarmu sudah berubah menjadi hijau dan kuning yang artinya tidak baik-baik saja." Kanemaru menghela napas. "Ada kotak P3K di ruang ganti ini."
Sawamura tidak bisa mendebat Kanemaru. Dia ikut lelaki itu dan duduk di salah satu kursi yang sering digunakan oleh pekerja untuk istirahat. Kanemaru mengambil kotak P3K di salah satu loker. Dia duduk di hadapan Sawamura.
Dengan hati-hati, dia mengusap semua memar milik Sawamura menggunakan alkohol 70%. Beberapa luka yang terbuka terasa perih ketika bersentuhan dengan alkohol. Sawamura mendesis menahan sakit.
"Maaf," kata Kanemaru.
"Tidak masalah," jawab Sawamura.
Setelah semua memar dan luka dibersihkan dengan alkohol 70%, Kanemaru mengambil beberapa plester dan ditempel di luka-luka Sawamura. Kanemaru memandang wajah Sawamura yang sudah ditempel plester dengan puas dan bangga.
"Sekarang wajahmu jadi enak dilihat," katanya. Dia seperti seorang seniman yang berhasil membuat karya seni yang indah. Sawamura berjalan ke arah kaca di ruang ganti sementara Kanemaru meletakkan kembali kotak P3K di tempatnya.
Pantulannya di kaca adalah seorang lelaki pecundang yang wajahnya babak belur dan ditempeli oleh plester. Kanemaru benar ketika mengatakan wajahnya jadi enak dilihat. Sebelumnya, jauh lebih mengerikan. Pantulannya menatap balik Sawamura. Keduanya memiliki pandangan yang sama. Sama-sama menyedihkan, payah, dan membosankan.
"Kita tukar bagian saja," kata Kanemaru. "Aku akan melayani pelanggan, dan kau di dapur saja."
Sawamura menatapnya dengan tatapan protes. "Aku bisa bekerja kok," katanya.
Kanemaru menghela napas. "Bukan itu bodoh," katanya. Dia menunjuk wajah Sawamura. "Siapa yang mau dilayani oleh pelayan yang mukanya babak belur?" retoriknya.
Otomatis Sawamura langsung memegang wajahnya yang sudah ditempeli plester. Lagi-lagi Kanemaru ada benarnya. Dia tidak bisa mendebat temannya. "Oh, oke."
Mereka berdua keluar dari ruang ganti. Kanemaru menuju wilayah depan café dan bersiap untuk melayani para pelanggan, sementara Sawamura menuju wilayah belakang café, di dapur.
.
Sawamura Eijun membuka pintu belakang café untuk membuang sampah yang cepat sekali menumpuk. Para koki senior sedang sibuk memasak berbagai pesanan pelanggan dan sebagai yang paling junior, Sawamura kebagian sebagai errand boy, alias pesuruh dan kacung. Sawamura sendiri tidak keberatan. Dia mengambil piring dan gelas, mencuci piring dan gelas yang habis dipakai, sampai membuang sampah. Satu per satu kantong hitam dilempar ke tong sampah besar. Total ada 5 kantong sampah yang penuh.
Pintu belakang terbuka dan seorang senior memanggilnya. Sawamura berjalan menghampirinya.
"Kau bisa istirahat sekarang," katanya, "aku sudah bilang pada Kanemaru."
"TERIMA KASIH SENPAI!" kata Sawamura semangat. Inilah yang ditunggu-tunggunya selama dia bekerja. Jam istirahat.
Sawamura melepas apron hitamnya dan keluar dari café lewat pintu belakang. Rupanya Kanemaru sedang duduk santai di salah satu kursi istirahat di taman bermain sambil merokok. Sawamura menghampirinya. Kanemaru menawarinya sebatang rokok yang ditolak oleh Sawamura.
"Kau sudah makan?" tanya Sawamura.
"Aku lebih butuh rokok daripada makan," kata Kanemaru sambil kembali merokok.
"Kalau begitu, aku cari makan dulu," kata Sawamura. Kanemaru balas melambai pada Sawamura yang berjalan lebih jauh.
Taman Bermain hari ini lumayan ramai. Ada beberapa sekolah yang berkunjung dan para maskot berupa badut-badut lucu berjoget-joget untuk menghibur para pengunjung. Banyak juga keluarga yang mengunjungi taman bermain, meskipun saat ini bukanlah saat liburan.
Sawamura pergi ke vending machine untuk membeli sekaleng cola dingin dan juga dua bungkus onigiri. Ketika dia mengambil makanannya, tak jauh dari tempatnya, badut kelinci sedang dikerubungi beberapa anak kecil. Bedanya, mereka tidak sedang berfoto, tetapi anak-anak itu sedang menendang-nendang badut tersebut.
"Kelinci Jelek!" teriak seorang anak kecil.
Sawamura menatapnya tidak habis pikir. Di satu sisi dia kasihan melihat si badut kelinci yang tampak kepayahan menghadapi serangan anak nakal. Namun, di sisi lain, dia belajar untuk tidak ikut campur masalah orang lain. Kalau dia memarahi anak-anak nakal itu, para orangtua yang akan bicara dengan manager Taman Bermain dan Sawamura juga yang ujung-ujungnya dimarahi dan di potong gajinya.
Sawamura memutuskan untuk tidak terlibat lebih jauh lagi. Lagipula, siapapun yang menjadi badut kelinci itu sudah tahu bahwa serangan anak-anak nakal merupakan salah satu risiko pekerjaan. Dia tidak berhak untuk protes ataupun marah. Di dunia yang penuh dengan ketidakadilan ini hanya kaum superior lah yang berhak protes atau marah.
Badut kelinci itu akhirnya jatuh tersungkur karena terus-menerus dipukuli oleh anak-anak nakal. Mereka tidak berhenti sampai di situ. Mereka bahkan mencoba menarik-naik kostum kelinci dan melepaskan kepalanya.
Tanpa sadar, kaki Sawamura melangkah mendekati kejadian itu.
"Hei anak-anak," kata Sawamura, "kalian harus berhenti melakukan hal ini."
Ada 6 orang anak lelaki yang usianya sekitar 10 sampai 11 tahun. Mereka menatap Sawamura. "Kau siapa?" tanya seorang anak. Nada suaranya kasar dan congkak. Sawamura jadi ingat Narumiya Mei dari sekolahnya. Mungkin dulu Narumiya juga adalah anak seperti ini, suka memukuli badut. Ketika dia merasa tidak ada badut yang bisa dipukuli, Sawamura lah target selanjutnya.
"Aku temannya," kata Sawamura sambil menunjuk si badut kelinci, "dan aku tidak suka melihat temanku dipukuli."
"Jadi, kau mau apa?" tanya anak itu lagi. Dia melipat tangannya di depan dadanya. "Ibuku sangat kaya dan kalau dia mau, aku bisa menyuruhnya untuk membeli taman bermain ini," katanya sombong.
Sawamura sampai melongo mendengar kalimat anak itu. Rasanya absrud. Pada akhirnya, dia tertawa terpingkal-pingkal sampai perutnya ikut kesakitan. Dia mengaduh di akhir.
"Aku tidak akan mendebatmu," kata Sawamura sambil mengusap air matanya. "Oh Tuhan," katanya sambil menahan tawa yang keluar lagi. Lalu, dia mengatur napasnya agar tampak biasa saja dan tidak lagi cekikikan karena kalimat si anak nakal.
"Kekayaan Ibumu tidak ada hubungannya dengan temanku," kata Sawamura. Dia menunjuk luka-luka di wajahnya. "Kau tahu darimana kudapatkan luka-luka ini? Dari menghajar anak-anak sepertimu!" serunya di akhir. Sebagai pelengkap, Sawamura menyentak kakinya dan itu memberikan efek kejut pada anak-anak nakal. Mereka berenam mundur karena kaget.
"Aku akan mengadu pada Ibuku!" seru si anak sombong itu, "dan aku akan memastikan kau dan si badut jelek ini dipecat!"
Lalu, mereka berlari menjauh dari badut kelinci itu dan Sawamura.
"Yeah, semoga berhasil," kata Sawamura. Lalu ketika dia merasa mereka berenam tidak akan kembali, dia berpaling pada badut kelinci.
"Kau tak apa?" tanyanya. Sawamura mengulurkan tangannya untuk membantu si badut berdiri. Uluran tangan itu disambut oleh badut kelinci dan dia bangkit dari posisi jatuhnya.
"Terima kasih," kata si badut kelinci itu dari balik penutup kepalanya.
"Ayo kita duduk di kursi dulu," kata Sawamura.
Mereka menuju kursi yang agak ujung dan jarang di datangi oleh pengunjung. Si badut kelinci membuka penutup kepalanya dan bernapas lega. Kepala kelincinya ditaruh di bawah bangku.
"Terima kasih," katanya lagi.
Sawamura menatap orang yang menjadi badut kelinci itu. Dia seorang pemuda yang berusia sekitar 20 tahunan. Rambutnya coklat tua, setua tanah dan lumayan panjang untuk ukuran laki-laki. Rambut coklat itu tampak acak-acakan dan lengket karena keringat. Dia memakai kacamata dan kedua bola matanya berwarna coklat juga, senada dengan rambutnya. Dia tersenyum miring pada Sawamura.
"Di daerah sini memang kebanyakan anak-anak nakal," kata Sawamura. Dia menyodorkan cola dinginnya.
"Tidak usah repot-repot," katanya, menolak pemberian Sawamura.
"Dibandingkan aku, sepertinya kau yang lebih membutuhkan minuman dingin," kata Sawamura. Dia bisa melihat betapa pengap dan lembab berada di dalam kostum kelinci itu. Keringat menetes dari pelipisnya. Pada akhirnya, pemuda itu mengambil cola yang ditawarkan oleh Sawamura.
"Terima kasih lagi," katanya. Dia meneguk minuman soda itu.
Sawamura menatapnya. "Aku tidak pernah melihatmu sebelum ini. Apa kau karyawan baru?" tanya Sawamura.
"Begitulah," jawabnya. "Baru satu minggu aku bekerja." Dia menaruh kaleng cola di sampingnya dan menatap Sawamura. "Kau tampak terlalu muda untuk menjadi karyawan," katanya.
"Aku hanya kerja sambilan di sini," kata Sawamura, "di café itu." Dia menunjuk ke arah café tempatnya bekerja terletak. Pemuda itu mengangguk paham.
"Jadi kau masih sekolah?" tanyanya basa-basi.
"SMA. Kelas 2," jawab Sawamura.
"Sekolahmu memperbolehkanmu bekerja sambilan?" tanya pemuda itu lagi.
Sawamura menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Sebenarnya tidak boleh, tapi manager di café baik dan merahasiakannya." Lagipula aku butuh bekerja untuk mengalihkan perhatianku.
Sawamura kembali teringat bahwa dia membeli dua bungkus onigiri. Dia menyerahkan satunya pada pemuda badut itu. "Untukmu," katanya.
Pemuda itu tampak terkejut. Dia seperti tidak menyangka bahwa Sawamura memberikan bantuan, lalu memberikan cola, dan sekarang onigiri secara cuma-cuma dalam waktu kurang dari satu menit.
"Bukankah itu makan siangmu?" tanyanya. Lagi-lagi dia berusaha menolak pemberian Sawamura.
Sawamura hanya mengangkat bahunya, "Kau mengalami hari yang payah," kata Sawamura. "Ini tidak diracun kok."
Pemuda itu mengambil onigiri dari tangan Sawamura. "Kau baik sekali," katanya sambil tersenyum.
Mendengar pujian itu, Sawamura mendengus. Dia sudah dengar kalimat itu berjuta-juta kali dan pada akhirnya, kebaikan itu membawanya pada takdir sekolahnya yang hancur lebur.
"Aku hanya berusaha memupuk karma baik," kata Sawamura. Pemuda itu sudah membuka bungkusan onigiri dan mulai memakannya. "Tapi sepertinya tidak begitu berhasil," lanjutnya pelan.
"Kau oke?" tanya pemuda itu sambil mengunyah. Pipinya terlihat penuh dan Sawamura jadi tersenyum geli.
"Iya," jawab Sawamura.
Pemuda itu masih menatap Sawamura. Sawamura yang risih, akhirnya bertanya, "Apa ada yang ingin kau katakan?"
"Apa benar kau menghajar bocah-bocah itu?" tanya pemuda itu.
Sawamura melongo. "Apa?"
Pemuda itu menunjuk ragu-ragu pada semua bekas luka Sawamura yang diplester. "Wajahmu," katanya.
Sawamura menjadi paham. "Oh ini," katanya sambil menyentuh pipinya yang diplester dengan rapi oleh Kanemaru. "Tentu saja tidak. Itu hanya bualan. Kalau tidak diancam seperti itu, mereka pasti terus memukulmu."
"Jadi, kenapa kau luka?" tanya pemuda itu lagi. Onigirinya sudah habis setengah.
"Jatuh."
Jawaban singkat, padat, jelas, dan penuh kebohongan. Sawamura sudah otomatis mengatakan hal itu setiap semua orang bertanya apa yang terjadi padanya. Itu adalah sebuah kebohongan wajib yang diucapkannya.
Pemuda itu tidak berkomentar lebih jauh lagi dan menghabiskan onigiri yang diberikan oleh Sawamura. Dia meneguk cola itu lagi sampai habis. Lalu, kaleng itu diremasnya sampai gepeng.
"Ah, aku kenyang~" katanya puas. Sekaleng cola dan sebungkus onigiri gratis benar-benar sebuah nikmat yang tiada tara. Sekali lagi, dia menatap Sawamura. Pemuda itu tersenyum dengan lebar, sampai matanya menyipit.
"Terima kasih," katanya.
Sawamura mendengus. "Kau mengatakan terima kasih sampai empat kali," katanya.
Pemuda itu tertawa. "Habis kau benar-benar baik padaku," jawabnya.
Sawamura memalingkan wajahnya. Dia menatap ke arah taman bermain dan orang-orang yang sedang menikmati hiburan. "Tapi tidak semua orang mengatakan hal itu padaku," gumamnya.
"Kau mengatakan sesuatu?" tanya pemuda itu.
Sawamua menggeleng. "Tidak," katanya. Dia bangkit dari bangku taman itu. Pemuda badut itu ikut bangkit bersama Sawamura. "Aku harus kembali ke café," katanya.
Pemuda itu mengambil kepala kelinci yang tadi di taruh di bawah bangku. "Aku juga sepertinya harus kembali berjoget-joget," katanya bergurau.
Sawamura tertawa mendengarnya. "Kalau kau mau, di sekitar istana boneka saja," kata Sawamura, "di sana anak-anak nakalnya lebih sedikit."
Pemuda itu tersenyum. "Terima kasih untuk sarannya," katanya. "Aku akan mencoba peruntunganku." Dia memakai lagi kepala kelincinya. Wajah pemuda itu sudah berganti menjadi badut kelinci seutuhnya.
"Sampai bertemu lagi," kata Sawamura sambil melambai tangannya dan tersenyum tipis. Ketika dia berjalan menjauh, tangannya ditahan.
"Ada apa?" tanya Sawamura.
"Ah, aku belum tahu namamu," kata si badut kelinci. "Siapa namamu?" tanyanya.
"Sawamura," jawab remaja lelaki itu, "Sawamura Eijun."
Badut kelinci itu melepaskan tangan Sawamura dan dia melakukan gerakan ke kanan dan ke kiri, persis sekali seperti badut pesta yang mencoba menghibur para anak kecil. Sawamura hanya tertawa kecil dan tidak habis pikir dengan tingkah aneh pemuda itu.
"Salam kenal Sawamura Eijun."
"Kau badut aneh."
.
Semuanya bermula dari kelas mereka berdua.
"Harucchi!" sapa Sawamura sambil merangkulnya. Kominato tersenyum maklum.
"Selamat pagi juga, Eijun-kun."
Mereka berjalan bersama dan duduk bersebelahan di bangku mereka, Sawamura di sebelah jendela dan Kominato di sebelahnya. Mereka berdua tidak sadar, tapi dari bangku belakang terdengar suara cekikikan kecil.
"Ayo cocokkan PR Kimia kita," kata Sawamura sambil mengeluarkan buku PR Kimianya.
Kominato melakukan hal serupa. Dua buku PR Kimia disejajarkan dan mereka berdua menatap soal yang sama. Kepala mereka saling berdekatan dan bahu mereka bersentuhan. Sawamura fokus pada rumus kimia yang ditulis rapi oleh Kominato.
"Wah, penyelesaianmu efektif sekali," puji Sawamura jujur. "Rupanya bisa langsung seperti ini."
Kominato tersenyum. "Punyamu tidak salah juga. Kalau ujian, penyelesaianmu yang lebih diterima oleh sensei."
"Kau ikut bimbel, Harucchi?" tanya Sawamura.
"Tidak," katanya. "Aniki yang mengajarinya kemarin malam."
"Enaknya~" kata Sawamura, "aku juga mau punya kakak yang bisa ditanya-tanya," keluhnya.
Kominato Haruichi hanya tersenyum simpul. "Kau mau main ke rumahku?" tawarnya, "sekalian kita bertanya pada Aniki PR yang lain."
Sawamura menegakkan badannya. Matanya berbinar. "Sungguh?" tanyanya.
Kominato mengangguk. "Iya. Aku akan menghubungi Ibuku untuk memberitahunya kau akan datang ke rumah."
Sawamura merangkul Kominato dengan bersahabat. "Aku sayang Harucchi!"
Lalu, meja milik Kominato disenggol keras oleh seorang teman sekelas. Buku PR Kimia mereka berdua terjatuh ke lantai.
"Hei!" kata Sawamura keras. "Apa-apaan tadi?" tanyanya kesal.
Teman yang tadi menyenggol meja mereka hanya menatapnya sombong. Dagunya terangkat dan kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana.
"Apa?" tanyanya menantang.
Sawamura bangkit dan menunjuk buku-buku mereka yang jatuh ke lantai. "Kau menyenggol meja Harucchi," katanya.
"Jadi?"
"Minta maaf," kata Sawamura.
Teman itu malah mendengus meremehkan. Bukannya melakukan apa yang diminta oleh Sawamura, dia malah berjalan dan menendang meja Kominato lagi. "Kalau aku tidak mau, kau mau apa?" tanyanya.
Vena-vena di sekitar leher Sawamura mulai menegang. Otot-otot di kedua tangannya juga sudah bersiap untuk sesuatu yang yang paling buruk yang bisa terjadi.
"Apa katamu?" tanya Sawamura berbahaya. Dia sudah hampir melangkah untuk menarik kerah teman mereka, tetapi Kominato bangkit berdiri dan menahan gerakan tangan Sawamura yang sudah hampir terangkat.
"Eijun-kun, tenanglah," katanya. Dia membungkuk dan mengambil buku-buku kimia mereka berdua yang terjatuh. Lalu, dia juga membenarkan posisi mejanya yang tadi disenggol dan ditendang. "Sudah. Tidak perlu dibesar-besarkan masalah seperti ini," katanya.
Sawamura dibimbing untuk kembali duduk ke bangkunya, tetapi vena jugularis-nya masih tercetak jelas di lehernya. Dia masih menatap nyalang teman sekelas mereka. Tangan Kominato masih memegang tangannya yang tegang.
Teman sekelas mereka mendengus jijik melihat adegan itu.
"Dasar homoseksual."
.
Sawamura Eijun benci pergi ke sekolah. Dia benci masuk ke dalam gedung megah milik SMA Inashiro hanya untuk dipukuli dan ditindas setiap hari tanpa henti. Dia benci ketika dia berjalan di koridor seorang diri, tidak bisa menyapa teman-temannya, bahkan hanya untuk mengucapkan 'Selamat pagi'. Dia benci ketika para guru memilih untuk menutup mata dengan aksi pem-bully-an yang dilakukan oleh Narumiya dan kawan-kawannya hanya karena mereka tidak ingin bermasalah dengan sponsor sekolah.
Iya, keluarga Narumiya Mei adalah sponsor dan donatur terbesar di SMA Inashiro. Jelas para guru lebih melampuhijaukan semua aksi Narumiya daripada kehilangan sumber keuangan yang berlimpah.
Sawamura juga benci ketika murid-murid lain jadi ikut menindasnya hanya karena dia adalah target utama dari Narumiya Mei. Para murid jadi merasa superior atas Sawamura, padahal mereka bukan siapa-siapa. Sawamura benci berjalan sambil menunduk. Sawamura benci ketika dia lemah.
Sawamura membenci semua hal itu.
Pagi yang sangat biasa di SMA terkenal itu, loker sepatu Sawamura penuh dengan sampah basah dan bau. Semua orang yang lewat hanya menatapnya sambil cekikikan kecil. Tidak ada simpati dan empati. Mereka semua sedang berusaha berlomba untuk menindas Sawamura sekejam mungkin agar bisa masuk ke lingkaran pertemanan Narumiya Mei.
Konyol.
Sepatu ruangannya sudah basah dan bau sampah. Sudah tidak mungkin dipakai kalau seperti ini. Saat ini, satu-satunya yang bisa dilakukannya adalah meminjam sandal ruangan di UKS. Namun, itu artinya sudah hampir setiap hari selama dua tahun Sawamura selalu meminjam sandal ruangan milik UKS.
"Kenapa lagi sepatu ruanganmu?" tanya dokter UKS dengan galak. Awal-awal, dia masih ramah dan baik hati meminjamkan sandal, tetapi karena Sawamura terus-menerus meminjam dan alasannya selalu tidak masuk akal, dia kadang menolak, sampai Sawamura harus memohon-mohon.
"He he, tadi saya menyenggol ember berisi air pel dan sepatu ruangan saya basah," kata Sawamura sambil menyengir.
Dokter UKS itu mengamati Sawamura Eijun.
Di beberapa bagian wajahnya dipasangi plester. Sepatu ruangan yang selalu basah. Sebenarnya, sekali melihat saja, sedari tahun lalu, dia sudah tahu apa yang terjadi pada Sawamura sehingga lelaki itu selalu meminjam sandal ruangan. Namun, seperti para staff sekolah yang lain, lebih baik menutup mata dan pura-pura tidak tahu apa yang terjadi.
Semua orang di sekolah ini harus tahu seperti apa perannya dan posisinya di kedudukan rantai makanan milik Narumiya Mei.
"Ya sudah," katanya kasar, "kembalikan setelah kegiatan sekolah berakhir."
"Terima kasih sensei!" kata Sawamura sambil membungkuk. Lalu, dia berjalan ke sebuah loker yang sudah sangat dikenalnya dan mengambil salah satu sandal ruangan yang berwarna putih.
"Saya akan mengembalikannya dengan utuh tanpa kurang suatu apapun!" janji Sawamura semangat.
Dia membungkuk sekali lagi pada dokter UKS sebelum menutup pintu UKS dari luar. Baru beberapa langkah dia berjalan di koridor, belakang kepalanya sudah di tampar dengan keras. Sawamura mendadak pusing dan pandangannya gelap untuk sesaat.
"Pecundang," kata orang yang menampar kepalanya.
Seorang laki-laki bernama Nakamura Kenzo. Sawamura tidak begitu mengenalnya, mungkin mereka pernah satu kelas di tahun pertama, mungkin juga tidak. Entahlah. Sawamura terlalu sibuk ditindas sampai dia tidak punya waktu untuk menghapal nama teman sekelasnya.
Nakamura Kenzo adalah tipikal anak yang seperti parasit dan penjilat. Dia hanya menindas semua orang yang dianggapnya lemah dan tidak berkuasa, tetapi patuh dan menunduk bagai budak pada orang-orang yang berkuasa.
Dia lelaki yang tingginya sama dengan Sawamura, berambut hitam dan dipotong cepak untuk mengikuti gaya Narumiya Mei. Giginya tidak rata dan rahang atasnya menonjol. Matanya sipit.
"Kenapa menatapku, HAH?" bentaknya sok kuat. Sawamura, berjengit pun tidak. Dia sudah terbiasa ditindas oleh Narumiya dan dua orang temannya. Jadi dia bisa tahu intimidasi yang sesungguhnya itu seperti apa. Dan orang yang dihadapannya ini, bukan apa-apa.
Nakamura bersiap untuk memukul Sawamura lagi, tetapi tangannya dipegang dengan erat oleh Sawamura.
"Apa-apaa kau?" tanyanya tidak terima. Dia berniat melepaskan tangannya, tetapi cengkraman Sawamura semakin kuat. "Lepas!" bentaknya. Bola matanya bergerak liar dan penuh dengan kekalutan. Sawamura menikmati ekspresi yang dikeluarkan oleh Nakamura Kenzo.
"Lepaskan aku brengsek atau kau akan kubuat babak belur!" ancamnya kosong. Mendengar ancaman itu, Sawamura semakin kuat mengcengkram lengan Nakamura.
"Sakit sial!" bentaknya. Sawamura memegang tangannya seolah ingin mematahkannya menjadi dua. Semakin lama, cengkraman itu semakin menyakitkan. Bahkan, Nakamura merasa lengan bawahnya sudah kebas dan berubah menjadi putih karena kekurangan aliran darah dan oksigen.
Pada akhirnya, Sawamura melepaskan cengkramannya. Nakamura mengaduh-aduh sambil menatap lengannya. Bercak tangan Sawamura menempel dan berwarna merah.
"Bajingan kau!" desisnya kesakitan. "Kau akan menyesal!" katanya dan dia pergi menjauh sambil mengaduh kesakitan.
Sawamura hanya menatap datar kepergian Nakamura.
"Palsu."
.
Perutnya lagi-lagi ditendang oleh Kamiya Carlos. Sawamura untuk sesaat lupa caranya bernapas karena diafragma-nya terkena. Dia mengap-mengap seperti ikan yang kekurangan air. Dia memegang perutnya, berharap rasa sakitnya akan berkurang. Sekali lagi, kepalanya ditendang oleh Kamiya. Sawamura refleks melindungi kepalanya untuk mengurangi rasa sakit dari tendangan Carlos.
"Sudah dibilang tidak boleh terlambat kan?" retorik Carlos dengan dingin. Sawamura berusaha bangkit dari posisinya. Dia tidak menjawab Carlos. Dia terlalu sibuk bernapas dengan diafragma yang sakit.
"Kudengar kau banyak lagak hari ini," kata Narumiya. Dia maju sampai berhadapan dengan Sawamura. Aura superiornya begitu kuat, dan tatapannya begitu menusuk. Bukan hanya karena Narumiya Mei adalah anak kesayangan semua guru dan keluarganya donatur terbesar di sekolah ini, tapi juga dia bertindak seperti seorang ditraktor secara alami. Dia memimpin dengan ketakutan dan kekuasaan yang tidak bisa diganggu gugat. Satu-satunya cara untuk melawan Narumiya adalah mempunyai harta dan kekuataan intimidasi yang sama besar.
Sawamura Eijun tidak punya kedua hal itu.
Sawamura bersandar pada pagar besi yang menjadi saksi bisu semua tindakan yang dilakukan Narumiya pada Sawamura. Pagar besi itu turut menyakiti Sawamura ketika punggungnya terbentur, ikut serta membuat ngilu kepalanya ketika ditendang. Namun, pagar besi itu juga sebagai penyokong Sawamura ketika dia hendak berdiri, tempat sandaran Sawamura ketika dia lelah dan ingin bernapas sejenak.
Kaki kanan Narumiya yang dibalut sepatu ruangan menekan dada Sawamura. Dia kembali sulit bernapas. Narumiya memandanginya seperti memandang kotoran anjing. "Kenapa kau banyak lagak hari ini?" tanyanya. "Apa kau sudah merasa hebat? Kau lupa siapa aku dan apa yang bisa aku lakukan dengan menjentikkan jari?"
Sawamura tidak menjawab.
Dia menatap Narumiya Mei dengan kedua irisnya yang bersinar seperti emas. Tidak ada rasa takut ataupun gentar di sana. Sawamura sudah kehilangan emosi itu lama sekali. Satu-satunya alasan kenapa dia diam saja ketika ditindas oleh Narumiya hanya karena dia tidak punya kekuatan untuk menyerang balik. Dia bisa saja memberikan bogem mentah pada Narumiya, tetapi itu artinya Sawamura harus kehilangan kesempatannya untuk lulus SMA dan menjadi blacklist di semua SMA di Jepang.
Untuk sesaat, Narumiya sama sekali tidak berkutik ketika Sawamura menatapnya dalam-dalam. Iris emas itu seperti sebuah lubang hitam tidak berdasar yang menyeretnya masuk dan tenggelam selamanya. Dia benci mengakuinya, tetapi aura Sawamura membuatnya ketakutan untuk sejenak. Rasanya, kalau dia berdiri sejajar dengan Sawamura, dia bisa dikalahkan oleh aura Sawamura.
Untuk menekan ketakukannya, dia menekan dada Sawamura lebih keras lagi, sampai Sawamura Eijun merintih dan bernapas pendek-pendek. Seolah-olah jika dia menyiksa Sawamura seperti ini, ketakutannya akan hilang. Namun, lubang hitam tidak berdasar itu masih ada di kedua mata Sawamura.
"Kau hanya pecundang!" bentak Narumiya, "INGAT ITU!" teriaknya diakhir.
Kedua temannya tidak menyangka bahwa Narumiya sampai berteriak hanya untuk menghadapi pecundang sekolah, Sawamura Eijun. Lalu, Narumiya berbalik dan pergi dari halaman belakang sekolah dengan tergesa-gesa. Kedua temannya, dalam keadaan tidak begitu mengerti dan bingung, mengikuti Narumiya.
Waktu-waktu ketika Narumiya sudah bosan menindasnya adalah waktu paling tenang sekaligus menyedihkan dalam hidup Sawamura. Dia sendirian, sepi, dan pagar besi lah yang lagi-lagi menjadi tempat bersandarnya.
Dia menatap langit biru yang sudah mau menjadi kelabu.
"Dasar pembunuh."
.
"Halo Ei-chan~!"
Badut kelinci itu menari-nari dengan menggoyangkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Dia persis seperti badut yang berusaha menghibur anak kecil yang menangis karena balonnya pecah.
"Kau terlihat konyol kalau menari di depanku," kata Sawamura. Mereka berdua sedang beristirahat di bangku yang kemarin. Kali ini, badut kelinci itu membawa bekal sendiri dan botol air minum yang terisi dengan air mineral. Sawamura membawa satu bungkus onigiri dan air mineral dingin.
"Tapi tugas badut itu menghibur semua orang yang sedang bersedih," katanya masih sambil menari-nari.
Sawamura mendengus. "Sekarang aku sudah terhibur, jadi hentikan tarian konyolmu dan ayo kita makan bersama," katanya.
"Tapi Ei-chan belum terlihat seperti orang yang terhibur," katanya. Dia masih menari-nari di depan Sawamura.
Sawamura memutar bola matanya. "Kau ini banyak maunya," katanya, "dan apa-apaan panggilan 'Ei-chan' itu? Kau pikir aku anak lima tahun?" gerutunya.
"Tapi Ei-chan memang seperti anak lima tahun yang kehilangan orangtuanya di taman hiburan," kata si badut.
Sawamura tertawa hambar. "Leluconmu tidak lucu," katanya. "Lagipula aku juga tidak akan mau berfoto bersamamu."
Si badut kelinci itu akhirnya berhenti menari-nari. Dia menghampiri Sawamura dan duduk di sebelahnya. Kepala kelincinya dilepas dan ditaruh di bawah bangku. Sosok pemuda tampanlah yang berganti wajah di hadapan Sawamura. Pemuda itu membenarkan letak kacamatanya dan mengelap keringatnya. Rambutnya acak-acakan dan lepek karena keringat dan udara lembab di dalam kostum kepala kelinci. Namun, cengirannya sangat ringan dan tanpa beban.
"Kau benar," kata pemuda itu, "di depan istana boneka tidak begitu banyak anak nakal," ceritanya.
Sawamura tersenyum. "Aku juga sempat menjadi penjaga di istana boneka. Kebanyakan yang datang ke istana boneka adalah anak-anak perempuan. Mereka tidak akan senakal anak laki-laki," jelasnya.
"Memang tidak, tapi mereka banyak yang menangis melihat badut," katanya sambil mendesah lelah. "Padahal isinya istana bonek juga boneka besar seperti badut."
Sawamura tertawa mendengarnya. "Mungkin sebaiknya kau sesekali cuci kostum kelincimu," kata Sawamura. Dia menunjuk ke arah badan kostum yang dipenuhi bulu putih, tetapi ada beberapa bercak merah. "Kau ketumpahan sirup tuh."
Pemuda itu ikut menunduk dan menatap bulu-bulu yang beberapa helainya berwarna merah. "Wah, padahal aku sudah mencucinya kemarin."
"Kurang bersih," kata Sawamura. Sawamura menyentuh bulu-bulu yang berwarna merah itu. "Sudah sampai kering seperti ini. Harus disikat dengan pemutih," sarannya.
"Wah, kau tahu banyak ya," kata pemuda itu.
Sawamura mengangkat bahunya acuh tak acuh. "Aku sering mencuci baju putih juga," jawabnya. Dia terbiasa mencuci baju seragam putihnya yang kotor karena ditendang, diinjak, atau bahkan disiram dengan minuman.
"Kau rajin juga ya," komentar pemuda itu.
Sawamura memutuskan untuk tidak melanjutkan topik itu lagi. Dia menatap pemuda badut yang sedang makan dengan tenang di sampingnya. "Oh ya," kata Sawamura, "aku bahkan belum tahu namamu."
Pemuda itu menghentikan makannya dan menatap Sawamura dengan serius. Mendadak, Sawamura merasa tidak enak karena tatapannya yang begitu dalam dan intens. "Namaku?" ulangnya, seolah memastikan apakah dia salah dengar ucapan Sawamura.
Sawamura mengangguk. "Iya. Aku sudah memberitahu namaku padamu, dan kau belum memberitahu namamu," jelas Sawamura. "Siapa namamu?" tanyanya.
Pemuda itu tidak langsung menjawab, malahan dia tersenyum miring dan berkata, "menurutmu, namaku siapa?"
"Curang!" seru Sawamura, "padahal aku langsung memberitahumu namaku. Kenapa sekarang ada teka-teki seperti ini?" rajuknya. Dia menggembungkan pipinya kesal dan membuang pandangannya, sama sekali tidak mau melihat pemuda badut yang duduk disampingnya.
"Kau tidak suka teka-teki? Ini kan biar seru," kata pemuda itu.
Sawamura meliriknya. Ekspresi kesal masih terpasang sempurna di matanya. "Tapi namamu kan bisa siapa saja! Belum tentu juga namamu itu nama Jepang," protes Sawamura.
"Tebak saja dulu," kata pemuda itu.
Sawamura tidak bisa marah lebih lama lagi dan juga dia merasa tidak ada gunanya. Sawamura punya firasat bahwa apapun yang dilakukannya, pemuda badut itu tidak akan pernah mau mengatakan siapa namanya. Mendadak, Sawamura merasa dia sangat misterius. Namun, dia kan hanya pekerja badut dengan gaji tidak seberapa, seperti Sawamura. Kalau dipikir-pikir, aneh juga merasa misterius pada orang seperti itu.
"Usagi," kata Sawamura akhirnya.
"Apa?"
Sawamura menatapnya. Pandangannya tegas. "Aku tidak peduli siapa namamu. Bagiku, kau Usagi."
"Kelinci?" ulang pemuda itu penuh penekanan.
Sawamura mengangguk. "Habis, kau selalu memakai kostum badut kelinci, jadi namamu Usagi," kata Sawamura, "dan tidak boleh protes! Kau sendiri yang menolak memberitahu namamu, jadi kalau aku memanggilmu Usagi, kau tidak boleh protes."
"Aku tidak akan protes," katanya. Dia tersenyum, "lagipula, nama yang kau pilihkan sangat bagus."
Sawamura menganga bingung. "Aku baru saja menamaimu dengan nama hewan lho," katanya, "dan kau bilang itu sangat bagus?"
Pemuda–Usagi–itu menatap Sawamura. "Nama itu sangat penting," katanya, "itu menunjukkan identitas seorang manusia di dunia ini. Misalnya, dari nama saja, kau bisa tahu dari negara mana dia berasal, apa saja harapan orangtuanya. Nama juga hal yang paling utama ditanyakan oleh orang-orang. Ketika kau membuat akta kelahiran, kartu tanda penduduk, ijazah, semuanya yang pertama kali ditanya adalah nama."
Sawamura terpaku mendengarnya. Dia tidak tahu bahwa nama memiliki arti yang sangat dalam seperti itu. Selama ini dia pikir nama itu hanya sebagai pelengkap saja, supaya orang tidak bingung memanggil orang lain dengan sebutan apa. Kalau konsep nama tidak diciptakan di dunia, bisa dibayangkan betapa sulitnya memanggil ratusan orang setiap harinya.
"Kau menamaiku Usagi karena aku selalu memakai kostum kelinci. Itu hal yang lumrah dan aku tidak keberatan dengan hal itu. Identitasku bagimu adalah seorang pemuda yang selalu memakai badut kelinci dan aku merasa terhormat dengan nama itu."
Sawamura membuka mulutnya yang mendadak kaku. "Tapi, kau punya nama asli kan? Mungkin saja nama aslimu lebih bagus dari nama yang aku berikan," kata Sawamura.
"Tapi Usagi juga nama yang kau berikan dan aku suka. Ini tidak ada hubungannya dengan nama asliku yang bagus atau tidak," kata Usagi.
Sawamura terlihat tidak begitu puas. "Kalau begitu, beritahukan nama aslimu. Aku juga ingin tahu. Nama itu penting kan? Kau sendiri yang bilang seperti itu."
Pemuda Usagi itu tidak mengatakan apapun lebih jauh lagi. Keheningan menggantung. Tak terasa, waktu istirahat mereka berdua sudah habis.
"Sebaiknya kau kembali ke café," kata Pemuda Usagi itu. "Jam istirahatmu sudah hampir selesai."
Sawamura baru sadar akan hal itu. Dia buru-buru membuang bungkus onigiri-nya ke tempat sampah terdekat. Sawamura tahu bahwa seperti apapun didesak, Pemuda Usagi itu tidak akan memberitahu namanya. Jadi, dia berdeham.
"Maaf ya, kalau aku membuatmu tidak nyaman," kata Sawamura sambil mengusap tengkuknya.
"Kenapa kau berpikir seperti itu?" tanya Usagi.
Sawamura memandangnya dengan tatapan tidak enak. "Tentang nama itu. Aku tidak akan mendesakmu lebih jauh lagi. Toh nama Usagi memang lebih cocok untukmu karena kostum kelincimu."
Usagi tersenyum. "Aku tidak merasa seperti itu kok. Aku suka menghabiskan waktu bersamamu."
Mendengarnya Sawamura hanya tertawa keki. "Well, semoga aku tidak begitu membosankan."
Usagi hanya tersenyum. Lalu, Sawamura pamit padanya untuk kembali ke café. Namun, Usagi memanggilnya.
"Ei-chan, tunggu."
Sawamura berhenti. Usagi berjalan ke arahnya. "Apa lagi?"
Dia menyerahkan sebuah kertas seukuran kartu nama. Ketika dipegang, itu memang sebuah kartu nama. "Ini untukmu," kata Usagi.
Sawamura mengambil katu nama itu dengan bingung. Ketika dia melihat isinya, hanya ada kertas seputih gading. Tidak ada tulisan nama atau alamat perusahaan seperti kartu nama pada umumnya. Di atas kertas putih kosong itu, hanya terdapat satu baris kalimat. Itupun sebuah link di internet.
_ .onion
"Apa ini?" tanya Sawamura bingung. Dia membalik kartu nama itu, tetapi di belakangnya tidak ada tulisan lain. Hanya ada satu baris link saja. Dia menatap Usagi.
"Kalau kau ingin berkomunikasi denganku, kau bisa masuk ke dalam link itu," kata Usagi.
Sawamura memandangnya bingung. "Kenapa kita tidak tukar nomor telepon saja?" tanyanya.
Usagi tertawa mendengar saran dari Sawamura. "Aku lebih suka kita berbincang-bincang lewat link itu. Aku tidak memaksamu untuk membuka link itu, tapi kalau kau butuh sesuatu, kau selalu bisa menghubungiku lewat link tersebut."
Sawamura terlihat tidak begitu paham dan puas dengan penjelasan dari Usagi. Seorang pemuda misterius yang menolak memberikan namanya, lalu mengajaknya berkomunikasi lewat sebuah link aneh. Namun, Sawamura tetap menyimpan kartu nama itu di saku celananya.
"Oke," katanya, "kalau aku sedang bosan, aku akan menghubungimu lewat link ini. Dan sebaiknya kau fast respond ya!" tegasnya.
Usagi tertawa. "Baik, baik Ei-chan~! Aku menanti sapaanmu."
Lalu, Sawamura benar-benar pergi kali ini. Dia kembali ke café-nya.
Usagi berdiri sendirian di dekat bangku mereka. Dia memakai kembali kepala kelincinya.
"Nama memang sangat penting. Selain untuk identitas manusia, nama juga memudahkan para pembunuh untuk membunuh mangsanya. Karena itu, jangan sembarangan memberikan namamu pada orang yang tidak dikenal."
.
Kominato Haruichi sudah ditabrak setidaknya lima kali hari ini. Buku-bukunya kembali berserakan di lantai kelas. Teman-teman sekelasnya hanya tertawa meremehkan ketika dia terjatuh dan berusaha memunguti buku-bukunya. Sawamura Eijun sedang tidak bersama dengannya. Sawamura sedang ada latihan baseball untuk mempersiapkan kejuaraan di musim panas.
"Dasar menjijikan," desis beberapa teman kelasnya.
Kominato menulikan pendengarannya. Dia duduk di bangkunya, di sebelah Sawamura. Dia tidak begitu mengerti asal-usul mengapa tiba-tiba dia jadi target anak kelasnya. Rasanya dia tidak memiliki banyak masalah atau pun berbuat onar. Dia selalu berusaha menjadi anak baik yang tidak terlibat masalah. Sawamura juga bukan tipe anak yang hobi berbuat onar.
Sebuah notifikasi masuk ke ponsel milik Kominato, dari Sawamura Eijun.
Eijun-kun: Tunggu aku selesai latihan ya, setelah itu kita pulang bersama
Harucchi: Oke. Aku akan menunggu di pinggir lapangan saja
Eijun-kun: Tidak perlu. Panas. Kau nggak akan kuat
Harucchi: Kau kelupaan handuk dan minuman isotonikmu. Nanti kau dehidrasi
Eijun-kun: OH IYA! HARUCCHI TOLONG ANTARKAN KE LAPANGAN!
Kominato menghela napas mendapati balasan dari Sawamura.
"Iya… nanti malam aku menginap di rumahmu ya~" suara seorang teman sekelasnya memasuki pendengaran Kominato. Suara itu milik seorang laki-laki, tetapi dia mengatakannya dengan nada tinggi, seolah meniru seorang perempuan.
"Oke sayangku. Malam ini kita bisa sepuasnya bercinta~" sambung yang lain dengan suara yang ditinggi-tinggikan.
Kominato hanya duduk tidak nyaman di kursinya. Dia tidak mau berburuk sangka seperti berpikir bahwa mereka sedang mengejek dirinya. Mungkin saja mereka sedang bermain dengan satu sama lain. Tetapi, anak-anak lain ikut tertawa dan itu membuatnya semakin tidak nyaman.
Kominato akhirnya cepat-cepat membereskan semua bukunya dan dimasukkan ke dalam tas. Dia meninggalkan ruang kelas itu tergesa-gesa. Namun, pendengarannya masih bisa menangkap percakapan-percakapan aneh dari teman-teman sekelasnya.
"Aku sudah tidak sabar bertemu denganmu sayang~"
"Aku juga~"
Kominato mengeratkan pegangannya pada tas selempangnya. Terakhir yang dia dengar, teman-teman di kelasnya tertawa terbahak-bahak dan rasanya sungguh menyakitkan.
.
Satu minggu itu sangat buruk bagi Sawamura Eijun. Di Taman Bermain, Usagi sudah tidak kelihatan lagi. Biasanya, jika Sawamura telat datang, maka Usagi sudah duduk terlebih dahulu di bangku biasa. Namun, sudah satu minggu ini badut kelinci itu tidak menampilkan batang hidungnya. Sawamura menyisir area istana boneka, tetapi tidak ada badut kelinci yang hobi menari-nari. Dan hal itu sukses membuat semangatnya turun.
Sawamura memang mengatakan bahwa Usagi menari seperti orang norak, tetapi rupanya dia bisa merasa kesepian juga karena temannya tiba-tiba menghilang. Kini, dunia Sawamura sudah kembali menjadi hitam dan putih. Dia kembali makan sendiri dan merenung sendiri.
Apakah sebenarnya Sawamura Eijun itu dikutuk? Kenapa semua teman-teman yang dia sukai dan merasa nyaman selalu pergi begitu saja? Kenapa Sawamura selalu ditinggal begitu saja tanpa penjelasan? Apakah sebenarnya mereka tidak mau berteman dengan Sawamura? Bosan?
Sawamura melempar tas sekolahnya sembarangan ke apartemen kumuh dan sempit miliknya. Dia tinggal sendiri. Dia hanya punya seorang Ayah yang kerja sebagai buruh dengan gaji pas-pasan dan hobi berjudi. Ayahnya bahkan sudah tidak pulang ke rumah selama dua minggu. Entah dimana dia berjudi dan rugi besar. Apapun itu, Sawamura tidak mau tahu.
Apartemennya menjadi lumayan bersih dan segar ketika Ayahnya tidak di rumah. Kaleng-kaleng bir tidak berserakan dan asap rokok tidak membuat rumah menjadi pengap. Sawamura membuka pintu kamarnya dan langsung tiduran di futonnya yang sudah tipis. Dia menghela napas lelah. Kenapa kehidupannya begitu payah dan menyedihkan? Kenapa dia tidak punya satu episode di hidupnya dimana dia bisa bersekolah dengan normal? Kenapa sulit sekali mempunyai seorang teman yang bisa menemaninya?
Sawamura memejamkan matanya dan rasanya dia sudah lelah juga dengan menangis. Semakin dia menangis, semakin tidak berguna hidupnya. Tidak ada yang berubah dengan menangis, karena itu Sawamura tidak akan menangis. Mematikan semua emosi di dalam dirinya adalah hal paling realistis yang bisa dilakukan. Berjuang seperti apapun, tidak akan ada yang berubah, jadi yang bisa dilakukannya hanya menerima kenyataan.
Setelah cukup lama berbaring, Sawamura bangkit untuk menyiapkan buku pelajaran. Ketika dia sedang menumpuk buku pelajaran di meja belajarnya, matanya memandang sebuah kartu nama. Diambilnya kartu nama itu.
Dia ingat sekarang. Itu adalah kartu nama yang diberikan oleh Usagi tempo lalu, di hari terakhir mereka bertemu. Kini, setelah Usagi tidak terlihat lagi selama seminggu, Sawamura curiga bahwa Usagi memang berniat untuk pergi dan meninggalkan selembar kartu nama itu untuk Sawamura.
Berapa kali dilihatpun, hanya terdapat sebuah link di atas kartu nama itu. Tidak ada penjelasan atau kata-kata lain. Penuh misteri, seperti Usagi. Satu-satunya cara untuk membunuh rasa penasarannya yang menumpuk hanyalah membuka link tersebut dan melihat apakah Usagi jujur atau berbohong padanya.
Sawamura meraih laptop murahnya. Setelah menunggu cukup lama, Sawamura membuka Google Chrome dan mengetik link yang ada di kartu nama tersebut.
Membutuhkan loading yang cukup lama sampai tampilan layar berubah menjadi gelap gulita. Sawamura bisa melihat pantulan bayangannya di layar laptop.
WELCOME BACK!
MASK OF RABBIT!
KAU MEMINTA, KAMI LAKUKAN!
PERATURAN: JANGAN SAMPAI RANTAINYA TERPUTUS!
Lalu, di tengah layar terdapat sebuah foto badut kelinci yang berwarna putih. Persis sekali dengan kostum milik Usagi. Foto itu begitu berwarna dan cerah, sangat kontras dengan tampilan layar web yang gelap dan suram.
Chat sekarang!
Sawamura meng-klik tulisan tersebut dan layar berubah menjadi sebuah room chat seperti di LINE. Sampai di sini Sawamura bingung harus melakukan apa. Haruskah dia mengirim pesan terlebih dulu? Apa yang harus dia katakan lewat chat?
Setelah setengah jam berdebat dengan diri sendiri, sebuah notifikasi masuk ke room chat.
Masuku: Ei-chan?
Sawamura tersentak mendapati notifikasi seperti ini. Hatinya berdebar cepat mendapati nama absrud itu. Ini Usagi, pikirnya.
Guest1987: Usagi…?
Sawamura mengirimnya sambil harap-harap cemas.
Masuku: Iya, ini Usagi-mu~ Apa kabar Ei-chan?
Sawamura tanpa sadar menahan napasnya. Entah mengapa dia bisa tahu bahwa ini adalah Usagi, si pemuda badut kelinci.
Guest1987: Ini benar… Usagi…?
Sawamura mengirim sekali lagi.
Tak berselang lama notifikasi muncul lagi, kali ini bukan pesan, tetapi foto. Begitu Sawamura membukanya, sebuah foto selfie dari Usagi. Dia melepas kepala kelincinya, tetapi kostum badan kelincinya masih di pakai.
Masuku: Apa kau percaya sekarang?
Sawamura mengangguk, meski dia tahu Usagi tidak bisa melihatnya.
Guest1987: Kenapa kau pergi tiba-tiba? Kau dimana sekarang? Ini web apa? Apa itu mask of rabbit? Apa ini ada hubungannya dengan pekerjaanmu sebagai badut kelinci?
Tanpa sadar Sawamura sudah mengirim rentetan pertanyaan.
Masuku: Woah, kau benar-benar tidak sabaran ya, Ei-chan
Guset1987: Jangan panggil aku Ei-chan!
Masuku: Oke, oke. Aku akan menjelaskan satu per satu. Kontrakku habis, jadi aku sudah tidak bekerja di taman bermain lagi. Aku ada di rumahku yang nyaman. Ini web tempat aku menjalankan bisnisku. Iya, ada.
Sawamura membacanya perlahan-lahan dan berkali-kali. Ada banyak yang tidak dia mengerti.
Guest1987: Kontrakmu habis? Bukankah kau baru kerja selama beberapa minggu saja? Dan lagi, bisnismu itu apa? Menjadi badut panggilan?
Masuku: Aku memang tidak dikontrak lama-lama kok~ Bisnisku ya berkaitan dengan badut kelinci ini. Badut panggilan? Sejenis itu sih, tapi sedikit berbeda.
Guest1987: Apa bedanya? Tarifmu lebih mahal? Atau bagaimana?
Masuku: Bedanya, orang yang menyewaku tidak boleh berhenti menyewa. Tidak ada hubungannya dengan tarif kok ini
Guest1987: Aku tidak begitu mengerti. Kenapa kau suka berteka-teki padaku?
Masuku: Susah juga kalau dijelaskan. Bagaimana kalau kau coba menyewaku? Mungkin dengan begitu kau bisa paham pekerjaanku
Guest1987: Ha? Aku tidak mengerti. Kenapa aku harus menyewamu? Aku tidak butuh badut kelinci untuk menghiburku. Lagipula, aku tidak punya uang untuk menyewamu tahu!
Masuku: Habis kau ingin tahu kan? Aku tidak harus berupa badut untuk menghiburmu. Tapi kalau kau lebih suka badut, aku bisa memakai kostum badut. Kau tidak mesti membayarnya dengan uang kok
Guest 1987: Usagi, aku semakin tidak mengerti. Kenapa sekali menyewa tidak boleh berhenti? Apa yang terjadi jika berhenti menyewa? Kenapa kau terasa sangat aneh?
Masuku: Ei-chan, aku ini adalah badut untuk menghapus kesedihan orang lain. Kesedihan para penyewaku, akulah yang akan menghapusnya. Kesedihan satu dihapus, muncul kesedihan lainnya. Aku akan terus menghapus kesedihan itu dan tidak boleh berhenti. Ini tidak aneh, Ei-chan. Pekerjaan badut adalah untuk menghapus kesedihan.
Sawamura membaca kalimat itu dengan bimbang. Apa-apaan percakapan ini? semuanya terasa aneh dan tidak masuk akal. Tampilan web ini juga sangat aneh dan terkesan seram. Sawamura merasakan sesuatu yang tidak enak di tulang punggungnya. Jarinya kemabli berada di atas keyboard laptop.
Guest1987: Apa ini penipuan? Apa kau mencoba menipuku?
Masuku: Kalau aku memang ingin menipumu, aku pasti tidak akan menyerahkan link web ini padamu. Aku pasti akan melakukan hal lain ketika sedang bersama denganmu. Percayalah Ei-chan. Badut tidak pernah menipu. Dia hadir untuk menghapus kesedihanmu.
Sawamura menghela napasnya. Kalimat-kalimat milik Usagi begitu menenangkan dan lembut.
Guest1987: Oke, aku mau coba menyewamu.
Masuku: Kalau begitu, sekarang kau berikan aku sebuah nama.
Guest1987: Sawamura Eijun…?
Masuku: LOL! Bukan! Bukan namamu, Ei-chan, tapi nama orang yang menjadi sumber kesedihanmu.
Sawamura membacanya bingung. Sekarang dia harus mencantumkan nama orang? Dia semakin tidak mengerti dengan alur percakapan ini. Namun, bicara tentang kesedihan, ada banyak sumber kesedihan milik Sawamura. Kehidupan nerakanya dimulai dari semua sumber kesedihan ini.
Sawamura mencoba mengingat-ingat orang-orang yang membuatnya sedih dan hasilnya, ratusan! Seluruh sekolah membuatnya sedih. Sekolah sudah merenggut sahabat yang paling disayanginya. Namun, sebaiknya kalau memberikan nama dimulai dari hal-hal remeh dulu.
Guest1987: Nakamura Kenzo. Dia satu sekolah denganku di SMA Inashiro. Orangnya banyak lagak dan sok kuat. Aku benci padanya.
Masuku: Dia sumber kesedihanmu?
Guest1987: Untuk saat ini. Dia seorang penjilat. Hanya karena dia merasa berteman dengan Penguasa Sekolah, dia bisa seenaknya menindas orang lain.
Masuku: Duduk yang nyaman Ei-chan~ Usagi-mu akan segera menghapus kesedihanmu~
Guest1987: Kau masih konyol saja. Oke, aku tunggu berita baiknya
Lalu, sambungan mereka terputus.
Sawamura keluar dari link tersebut dan mematikan laptop-nya. Setidaknya, sekarang perasaannya sedikit lebih baik. Temannya tidak benar-benar menghilang.
.
Sawamura Eijun berlari dengan terburu-buru di gedung tua dan tidak berpenghuni lagi. Sebuah foto dikirim lewat LINE dan itu membuatnya kalang kabut. Pertandingan baseball yang baru dimenangkan menjadi tidak terasa menarik lagi.
Gedung tua itu terdiri dari enam lantai. Lift sudah jelas tidak berfungsi karena tidak berpenghuni. Satu-satunya akses menuju balkon adalah dengan berlari manual menggunakan tangga darurat. Keringatnya menetes sebesar biji jagung dan membasahi kaos olahraganya yang sudah lembab dan basah.
Kumohon… kumohon…
Pintu balkon dibuka secara keras oleh Sawamura. Ada empat orang anak di balkon. Ada Narumiya Mei, Kamiya Carlos, Shirakawa Katsuyuki, dan Kominato Haruichi.
"LEPASKAN DIA BANGSAT!" teriak Sawamura penuh kemarahan. Dia sudah berlari ingin menerjang Narumiya, tetapi Narumiya ikut berteriak.
"BERANI KAU MENYENTUHKU, AKAN KUDORONG PACAR HOMOSEKSUALMU INI!"
Langkah Sawamura terhenti. Kominato Haruichi berdiri di ujung balkon. Selangkah lagi, dia akan terjun bebas menuju tanah. Narumiya berdiri di hadapan Kominato, meskipun dia tidak di ujung balkon. Namun, tangan Narumiya bisa menggapai Kominato untuk mendorongnya atau pun menariknya dari ujung balkon.
"Kau bedebah kotor dan licik!" umpat Sawamura.
"Eijun-kun…"
Perhatian Sawamura terbagi antara Narumiya dan Kominato. Dia ingin menghajar Narumiya sampai semua giginya rontok dan di saat bersamaan dia juga ingin menyelamatkan sahabatnya.
"Oh, cinta yang begitu menjijikan di antara homoseksual ini~" kata Narumiya.
"Tidak ada yang lebih menjijikan daripada caramu memperlakukan orang lain, bangsat!"
Hidung Narumiya kembang kempis. Dia menatap Carlos dan memberinya kode. Carlos mengerti kode itu dan berjalan ke arah Sawamura. Sawamura mengantisipasi kedatangan Carlos.
"Kalau kau berani melayangkan pukulanmu pada teman baikku, pacarmu akan kudorong!" tegas Narumiya.
Lalu, detik selanjutnya bogem mentah milik Carlos membuyarkan penglihatan Sawamura. Sawamura hampir jatuh tersungkur, tetapi dia mempertahankan kuda-kudanya. Matanya seperti melihat titik-titik hitam dan kabur. Pukulan Carlos sangat menyakitkan.
Belum sempat Sawamura bangkit dengan benar, Carlos sudah memukulnya lagi. Dia jatuh terduduk. Dari dalam mulutnya Sawamura bisa merasakan rasa besi. Dia yakin bahwa besok mulutnya akan susah makan dan minum karena robek.
Sawamura sudah hampir melayangkan tinjunya, tetapi Narumiya kembali berteriak, "KAU MAU DIA KUDORONG?" teriakan itu sangat nyaring, seperti Narumiya menghirup helium sebelum berteriak.
Sawamura dihajar lagi.
.
Sawamura Eijun datang ke sekolah dan anehnya hari ini tidak ada anak yang mengerjainya. Sepatu ruangannya masih bersih dan belum ada sampah yang dilempar kepadanya. Semua anak bahkan sibuk berbincang-bincang dengan serius dengan teman-temannya. Berhubung Sawamura adalah seorang pecundang di sekolah, dia tidak tahu harus berbincang-bincang dengan siapa atau bertanya apa yang terjadi.
Dia masuk ke dalam kelas dan tidak ada yang capek-capek meliriknya. Anehnya lagi, mejanya belum kotor karena dicoret oleh spidol permanen. Sama seperti semua orang yang ditemui di koridor, mereka sibuk melihat ponsel dan berbisik-bisik.
"Seram sekali…"
"Aku merinding jadinya…"
Hanya itu yang dapat ditangkap oleh telinga Sawamura.
Tak berselang lama, bel masuk berbunyi dan wali kelas mereka masuk. Semua anak duduk dengan tegak dan rapi. Wali kelas Sawamura menaruh buku laporan absensi dan menghela napas sedih dan lelah.
"Kabar duka datang dari seorang teman kita, Nakamura Kenzo. Kemarin dia ditemukan meninggal karena tertabrak truk di jalan raya. Saat ini dia sudah berada di rumah duka dan akan dikremasikan."
Bisik-bisik mengudara. Namun, Sawamura tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Nakamura Kenzo.
Nama itu berputar-putar di kepala Sawamura. Dia merasa ada yang bergolak seperti tornado di dalam perutnya, mengobrak-abrik isi ususnya sehingga dia bisa muntah kapan saja. Namun, perasaan itu ditahan.
Jantungnya berdebar keras dan keringat dingin mulai mengucur keluar. Rasanya dia tidak bisa berada di ruang kelas ini terus, tetapi dia juga tidak tahu harus melangkah kemana. Kepalanya mendadak berat dan dia mulai kesulitan bernapas.
Tenang. Tenang.
Bernapaslah. Bernapaslah.
"Sekian berita hari ini," kata wali kelas Sawamura, "jam kosong karena guru-guru sedang melayat ke rumah duka. Sebaiknya kelas ini memberikan satu atau dua perwakilan untuk ke rumah duka."
Lalu, wali kelas keluar.
Meja Sawamura digebrak keras sampai dia terlonjak kaget. "A-Apa?" tanyanya.
"Kau datang sana ke rumah duka Nakamura," kata ketua kelas. Lalu, dia meninggalkan Sawamura di mejanya sendirian.
.
Nyonya Nakamura meraung keras di rumah duka. Dia sama sekali tidak terima kematian anaknya. Sawamura Eijun berdiri kaku dan linglung di tengah-tengah aula rumah duka. Dia tidak tahu harus kemana atau menyapa siapa, dia mendadak pusing karena semua kejadian terjadi bersamaan.
Bahunya ditepuk lembut. Yang menepuk adalah pria berusia paruh baya yang matanya sembab. Bisa dipastikan ini adalah Tuan Nakamura.
"Teman Kenzo juga?" tanyanya.
Teman?
Sawamura mendengus muak. Mereka berdua tidak berteman dan Sawamura juga tidak punya kewajiban datang ke rumah duka ini. Nakamura hanya memberinya masa SMA yang sulit dan penuh siksaan.
"Iya," jawab Sawamura.
"Kenapa dia bisa-bisanya tertabrak truk?" gumam Tuan Nakamura di depan Sawamura. Dia menatap Sawamura. "Istriku tidak memperbolehkan siapa pun melihatnya. Wajar saja, kondisinya mengenaskan dan aku tidak yakin aku bisa melihatnya lagi sekarang."
Sawamura diam mendengarkan.
Kedua orangtua Nakamura Kenzo terlihat sangat menderita. Sawamura tidak tahu apa yang dirasakannya saat ini. Nakamura Kenzo sudah mati. Dia terbujur kaku di sebuah peti mati yang tidak boleh dilihat oleh siapapun. Sawamura tidak mau mengakuinya, tetapi dia rasa bahwa semuanya ada hubungan dengan percakapannya dengan Usagi kemarin.
"Saya turut berduka cita," kata Sawamura sopan.
Tuan Nakamura tersenyum. "Terima kasih."
Lalu, Sawamura pamit menuju toilet pria di rumah duka. Dia masuk ke salah satu bilik toiler dan memastikan tidak ada orang yang bisa melihat atau mengintip kegiatannya. Dia membuka ponselnya. Dia membuka Google Chrome dari ponselnya dan mengetik di mesin pencarian 'mask of rabbit'.
SITUS DEEP WEB PEMBUNUH BAYARAN! HOAX OR REAL?
MEMBAHAS MENGENAI SITUS PEMBUNUH BAYARAN YANG PALING KEJAM DI DEEP WEB
CARA MEMBUAT TOPENG KELINCI
CARA CEPAT MEMBUAT TOPENG KELINCI LUCU-LUCU UNTUK HALOWEEN
Perut Sawamura kembali diisi oleh tornado.
Pembunuh Bayaran?
Dia tidak sadar kalau tangannya bergetar ketika membuka salah satu artikel mengenai Mask of Rabbit.
Mask of Rabbit merupakan situs pembunuh bayaran yang paling mematikan. Organisasi ini menerapkan sistem chain atau rantai, yang berarti sekali klien menyewa pembunuh, dia tidak boleh berhenti memberikan nama baru untuk pembunuh. Kalau dia berhenti menyebutkan nama untuk dibunuh, maka klien lah yang akan jadi target pembunuhan.
Sampai sekarang tidak jelas bagaimana terbentuknya organisasi ini, siapa yang mendirikan, dan bagaimana mereka bekerja. Yang pasti, semua pembunuh mask of rabbit selalu memakai kostum kelinci ketika membunuh korbannya. Biasanya mereka selalu melakukan selfie sebelum atau sesudah membunuh korbannya.
Mungkin bagi sebagian orang ini adalah hoax, tetapi mungkin jika Anda pernah menjelajahi deep web, apakah Anda percaya dengan situs pembunuh bayaran ini?
Sawamura memejamkan matanya. Perasaannya campur aduk, tapi yang pasti, setetes air mata keluar dari kelenjar airmatanya. Semakin lama, tetesannya semakin banyak. Dia berusaha meredam isakannya agar tidak terdengar sampai keluar bilik toilet. Dia masih tidak percaya apa yang sedang terjadi padanya saat ini.
Sawamura membayangkan Usagi. Dia menari-nari dengan konyol di depan Sawamura hanya untuk menghibur remaja pecundang ini. Dia juga Usagi yang sama yang dipukuli anak-anak nakal sampai jatuh tersungkur. Usagi yang sama juga yang mengucapkan kata terima kasih banyak sekali pada Sawamura. Sekaligus, Usagi yang sama yang menolak memberitahu namanya, dan secara misterius memberinya sebuah link dan ternyata itu adalah situs web pembunuh bayaran!
Bisakah Sawamura mempercayai ini? Sebagian dirinya tidak percaya dan kemungkinan ini hanya mimpi. Sebagian lagi berkata bahwa ini nyata terjadi dan Sawamura memberikan nama Nakamura Kenzo kepada Usagi kemarin malam. Kalau itu memang benar, maka Sawamura adalah orang yang paling bertanggung jawab atas kematian dari Nakamura Kenzo. Sawamura adalah penyebab Nyonya Nakamura meraung-raung dan Tuan Nakamura bermata sembab dan bernada sedih.
Sebuah notifikasi masuk ke dalam ponselnya. Ketika Sawamura buka, ternyata dia tersambung pada link web yang kemarin dia buka di laptopnya. Seketika, perasaan takut dan kalut bersarang di hatinya. Dia ingin membuang ponsel itu jauh-jauh dan kabur dari Tokyo ke tempat yang sangat jauh. Dia tidak mau berurusan lagi dengan Usagi atau siapapun dia.
Namun, notifikasi itu terus-menerus berdering dan Sawamura bisa gila karenanya. Dengan tangan gemetar dan ketakutan yang luar biasa, Sawamura membuka link tersebut dan room chat-nya dengan Usagi.
Masuku: Ei-chan pagi~
Masuku: sent you a video
Masuku: Maaf telat kukirim, videonya harus diedit dulu karena akunya jelek di sana
Masuku: Ei-chan, bagaimana perasaanmu? Apakah kesedihan sudah lenyap dari hatimu?
Masuku: Ei-chan sibuk ya~?
Masuku: Apa Usagi sudah jadi badut yang berguna?
Sawamura membaca semuanya dan tidak tahu harus mengatakan apa. Air matanya kembali turun dan tangannya dengan gemetar membuka sebuah video yang dikirim oleh Usagi.
Video itu sepertinya diambil melalui kamera dari ponsel android yang resolusinya belum begitu bagus. Pertama, video itu menampilkan jalanan raya yang kosong di malam hari. Lalu, tak berselang lama, muncul lah Usagi, lengkap dengan kostum badut kelincinya. Dia menatap ke arah karema dan melambai ceria. Selanjutnya, dia mulai menari-nari ke kanan dan ke kiri. Tariannya persis seperti yang dia tampilkan di depan anak-anak kecil dan Sawamura.
Lalu, setelah itu dia keluar dari arah kamera. Scene selanjutnya, Nakamura Kenzo berjalan dan ingin menyebrang. Detik selanjutnya, sebuah truk berkecepatan tinggi menghantam tubuh Nakamura dan melindasnya. Darah dimana-mana dan Sawamura bisa melihat ususnya terburai. Dia mati di tempat dengan sebagian kepalanya hancur lebur. Otaknya berceceran. Lalu, dari dalam truk keluarlah Usagi, masih dengan menggunakan kostum lengkap. Dia berjalan melewati mayat Nakamura dan ke arah kamera. Lalu, video berakhir.
Sawamura lemas sampai ponselnya jatuh ke lantai toilet. Ketika dia mengingat bagaimana Nakamura ditabrak oleh truk, isi perut Sawamura langsung keluar semua. Setelah hanya tersisa asam lambung, Sawamura kembali duduk di atas kloset.
Dia mengambil ponselnya.
Guest1987: KAU PEMBUNUH! MASK OF RABBIT ADALAH SITUS PEMBUNUH BAYARAN! TERNYATA KAU MENIPUKU!
Masuku: Ei-chan, tenang dulu.
Guest1987: KAU PIKIR AKU BISA TENANG! AKU SEDANG BERADA DI RUMAH DUKA NAKAMURA KENZO, ORANG YANG KAU TABRAK DENGAN BRUTAL DI VIDEO ITU! DASAR PEMBUNUH!
Masuku: Aku tidak pernah menipumu, Ei-chan sayang. Aku bersungguh-sungguh ketika mengatakan menghapus kesedihanmu. Pikirkan lagi Ei-chan. Bagaimana cara agar manusia bisa hidup tanpa kesedihan? Kesedihan selalu datang dari orang lain. Selama orang yang memberi kesedihan itu belum lenyap dari dunia ini, maka kesedihan pun akan terus hidup dan menghantuinya. Aku ada untuk menghapus kesedihan itu. Di bagian mana aku menipumu?
Gueast1987: Bagaimana dengan sistem rantai? Sekarang aku harus memberimu nama atau kau akan membunuhku!
Masuku: Aku yakin aku sudah menjelaskannya di chat-chat awal kita. Apa harus aku screenshot agar kau percaya?
Sawamura kehabisan kata-kata. Memang benar bahwa ada bukti percakapan mereka dimana Usagi mengatakan hal itu, tapi Sawamura sama sekali tidak menyangka bahwa percakapan mereka ini menyangkut nyawa orang!
Sekarang kepala Sawamura terasa berdenyut-denyut.
Masuku: Ei-chan, kau masih di sana?
Energi Sawamura habis untuk dua minggu ke depan. Semua yang terjadi hari ini begitu tidak dapat dideskripsikan dan dijelaskan dengan akal sehat.
Guest1987: Kapan aku harus menyerahkan nama selanjutnya? Kapan kau akan datang membunuhku?
Masuku: Take your time Ei-chan. Aku bukan penuntut. Sebaiknya kau pulihkan dulu kondisi mentalmu dan ketika kau siap, kau bisa berbicara lagi. Aku selalu di sini dan kapan pun kau membutuhkan aku, kau selalu tahu cara menghubungiku.
Lalu, sambungan terputus. Sawamura memejamkan matanya lagi dan menghela napas lelah untuk kesekian kalinya.
.
Sawamura terduduk lemas di rumah duka. Air matanya tidak berhenti mengalir dan dia sudah capek sesegukan. Nyonya Kominato menangis histeris di depan peti mati anak bungsunya, Kominato Haruichi. Tuan Kominato memeluk istrinya yang bisa tumbang kapan saja. Kominato Ryousuke berdiri kaku di sebelah Ibunya.
Bunuh diri.
Itu adalah kesimpulan dari kepolisian. Mereka tidak berkomentar lebih jauh lagi. Tidak ada investigasi lebih dalam lagi. Bunuh diri. Case closed.
Kominato Haruichi tidak mungkin bunuh diri. Sawamura Eijun tahu hal itu. Mereka sudah bersahabat selama masa SMP dan tidak mungkin seorang Kominato Haruichi memutuskan untuk bunuh diri.
Malah sebaliknya. Ingatan Sawamura masih sangat jelas hari itu. Narumiya Mei, Kamiya Carlos, Shirakawa Katsuyuki. Mereka adalah dalang di balik meninggalnya Kominato. Sawamura masih ingat jelas bagaimana Narumiya mendorong sahabatnya sampai dia hilang keseimbangan dan langsung jatuh dari lantai 6. Tewas seketika.
Selanjutnya, mereka bertiga melenggang pergi begitu saja tanpa tersentuh oleh polisi. Sawamura sudah berusaha keras menjelaskannya, tetapi para polisi yang sudah kenyang karena disuap oleh keluarga Narumiya tidak menanggapinya sama sekali.
Sejak saat itu Sawamura paham satu hal.
.
Malam itu, Sawamura tidur tanpa tenaga di futonnya. Ponsel di tangan kanannya, menampilkan video yang disetelnya berulang-ulang sampai dia ingat semua scene di luar kepala. Dia menatap langit-langit.
Dia mengingat-ingat lagi semua perlakukan Nakamura Kenzo padanya. Semakin diingat, semakin muak dan sakit hati Sawamura. Lalu, dia kembali menonton video yang diberikan oleh Usagi. Lagi dan lagi, sampai matanya sakit.
Dia menonton Nakamura Kenzo terus menindasnya. Menampar belakang kepalanya tanpa ada angin. Mencelupkan tasnya ke dalam ember berisi cairan pel, sampai membuang baju olahraga Sawamura ke tempat pembakaran sampah. Sawamura jadi harus membeli baju olahraga baru, padahal keuangannya tipis.
Anehnya, semakin lama dia menonton video itu, dia sama sekali tidak merasa kasihan.
Dia pantas mendapatkannya.
Iya, ini adalah ganjaran yang sesuai dengan apa yang dilakukannya kepada Sawamura. Dia membuat hidup Sawamura tidak bahagia.
Sumber kesedihan.
Kini dia paham apa yang sedang Usagi coba lakukan untuknya. Dia berusaha menghibur Sawamura dengan menghilangkan kesedihannya. Tugas dari badut adalah membawa kebahagian dan melenyapkan kesedihan. Badut akan melakukan apapun untuk mmebuat para kliennya terhibur.
Usagi menghapus sumber kesedihannya. Sekarang, Sawamura merasa satu bebannya mulai terangkat dari bahunya.
"Harucchi, sepertinya aku menemukan cara agar kita berdua bisa bahagia."
.
Masuku: Selamat pagi Ei-chan
Guest1987: Pagi Usagi!
Masuku: Apakah tidurmu nyenyak? Apa kau bermimpi indah?
Sawamura mendengus membaca pertanyaan klasik milik Usagi.
Guest1987: Pertanyaanmu konyol sekali sih. Tapi tidurku nyenyak dan untuk pertama kalinya aku bisa tidur tanpa bermimpi buruk.
Masuku: Dan itu hal bagus, kurasa…?
Guest1987: Yep, itu hal yang sangat bagus. Terima kasih padamu.
Masuku: Aku jadi merasa terhormat! Itu artinya aku berhasil menghapus kesedihanmu.
Guest1987: Ya, kau berhasil dengan baik. Tapi seperti katamu, kesedihan ini terus-menerus hadir.
Masuku: Katakan saja Ei-chan. Sebutkan namanya dan aku akan menghapuskan semua kesedihanmu.
Guest1987: Tanaka Nobu. Dia adalah Kepala Sekolahku di SMP. Dia merupakan sumber kesedihanku dan aku tidak bisa memaafkannya setelah apa yang dia lakukan.
Masuku: Oh, memangnya dia melakukan apa padamu?
Guest1987: Membuatku menderita dengan menutupi kasus penindasan.
Masuku: Tenang Ei-chan, aku tidak akan membuatmu sedih.
Lalu, sambungan terputus.
Sawamura jadi tidak sabar melihat video yang akan dikirimkan oleh Usagi.
.
Sebuah notifikasi masuk ke dalam ponsel Sawamura. Perutnya sakit karena lagi-lagi Carlos menendang perutnya tanpa ampun. Sawamura sedang berada di halaman belakang sekolah, babak belur karena dipukuli oleh Narumiya dan teman-temannya.
Masuku: sent you a video
Masuku: Aku disini jauh lebih baik daripada video sebelumnya
Masuku: Enjoy the video
Sawamura Eijun membuka video itu. Seperti biasa, di awal video, Usagi selalu menari-nari dengan norak. Lalu, kali ini, Tanaka Nobu berjalan di malam hari sepulang kerja. Sawamura masih bisa mengingat jelas bagaimana gemuk tubuhnya, dan sikap cueknya ketika Sawamura melaporkan kasus penindasan yang menimpa Kominato Haruichi.
Kepala Sekolah itu, yang sudah kenyang karena disuap berkoper-koper uang dari keluarga Narumiya, hanya setengah tertidur ketika Sawamura melapor. Dia bahkan membentak Sawamura karena mengganggu waktu kerjanya yang berharga. Lalu, ketika kasus kematian Kominato Haruichi, di berdalih bahwa sedari awal Kominato Haruichi mempunyai penyakit mental kronik dan dia bunuh diri karena penyakit mentalnya. Tidak ada sangkut pautnya dengan penindasan di sekolah. Dia juga mengatakan bahwa sekolahnya tidak mungkin melakukan penindasan. Semakin Sawamura mengingatnya, semakin dia mendidih karena amarah.
Dia diseret oleh Usagi yang mengenakan kostum kelinci ke sebuah gang sempit. Lalu, kedua tangan dan kakinya diikat, mulutnya di sumpal. Usagi mengambil kapak yang biasa digunakan untuk menebang pohon, kini dia menebang kepala Tanaka Nobu sampai lepas dari lehernya. Darah muncrat ke mana-mana, termasuk ke kostum yang digunakan oleh Usagi.
Video berhenti di situ.
Guest1987: Kau harus mencuci kostummu dengan benar. Direndam air panas dan disikat menggunakan pemutih.
Masuku: Terima kasih sarannya Ibu~ Aku sedang mencobanya, ternyata lumayan susah menyikatnya
Guest1987: Berusalah Usagi~ Terima kasih untuk video yang bagus ini. Setidaknya, aku lebih suka gerakan tarianmu di video ini.
Masuku: Apa sebaiknya aku kirim satu video tarianku untukmu?
Guest1987: TIDAK TERIMA KASIH!
Sambungan terputus lagi.
Lagi, Sawamura Eijun bisa bernapas semakin lega sekarang.
"Sebentar lagi Harucchi. Ini akan selesai sebentar lagi."
.
Masuku: Apa kau sedang sibuk Ei-chan?
Guest1987: Kalau aku menyuruhmu berhenti memanggilku Ei-chan, kau tidak akan melakukannya juga kan?
Masuku: Yep! Bagiku, kau tetap Ei-chan yang menggemaskan dan manis.
Sawamura pura-pura muntah membacanya.
Guest1987: Aku muntah nih membaca kalimatmu yang cheesy ini.
Masuku: Kau tidak akan muntah, tenang saja. Kau sibuk?
Guest1987: Hanya mengerjakan PR dan tugas makalah saja. Kenapa kau bertanya?
Masuku: Tidak. Aku hanya takut sedang mengganggumu saja.
Guest1987: Kau tidak menggangguku. Justru aku merasa ditemani.
Masuku: Oh, jadi kau suka chatting denganku?
Entah mengapa, Sawamura merasa salah tingkah membacanya.
Guest1987: Tidak jadi. Kau menyebalkan. Kutarik lagi kalimatku.
Masuku: Tidak bisa Ei-chan sayang~ Jadi kau suka chatting denganku.
Guest1987: Kau menyebalkan. Sudah ah!
Masuku: Selamat belajar Ei-chan. Kau tahu bagaimana cara menghubungiku.
Sawamura mendengus.
.
"Sudah dengar?" tanya Shirakawa.
Kamiya Carlos dan Narumiya Mei yang sedang berjalan bersama menatapnya. "Tentang apa?" tanya Carlos.
"Tanaka Nobu, dia ditemukan meninggal di gang sempit di sekitar rumahnya," info Shirakawa.
"Tanaka Nobu itu kepala sekolah SMP kita dulu kan?" tanya Carlos memastikan.
Shirakawa mengangguk. "Iya."
"Kenapa meninggal?" tanya Narumiya.
Shirakawa mengangkat bahunya. "Mungkin perampokan. Dia dibunuh dengan kapak. Sangat brutal."
Carlos mengernyit jijik. "Pembunuhnya tidak punya selera. Kenapa kau harus membunuh dengan kapak?"
Shirakawa juga sama tidak tahunya. "Jangan tanya aku. Polisi juga sedang menyelidikinya. Kamera CCTV di jalanan sekitar kebetulan sedang mati semua, jadi belum bisa dipastikan siapa pembunuhnya."
Carlos menyikut Narumiya. "Dia salah satu antekmu kan?" tanyanya.
Narumiya mendengus muak. "Dia meminta banyak sekali uang tutup mulut, dasar parasit," gerutunya. "Baguslah dia sudah mati sekarang. Uang keluargaku tidak terbuang sia-sia lagi hanya untuk mengenyangkan perutnya."
Carlos terkekeh dan Shirakawa mendesah malas. "Kau memang berdarah dingin, Narumiya Mei."
Mereka bertiga berjalan sampai bahu Shirakawa menyenggol seseorang. Buku saku IPA-nya jatuh dan terkena air mineral yang juga jatuh.
"Maaf," kata orang yang menyenggol. Sawamura Eijun.
Carlos langsung menendang Sawamura. Para murid yang berada di koridor berpura-pura menjadi orang buta dan meneruskan kegiatan mereka. Mereka sama sekali tidak berani mengusik kegiatan ketiga orang yang paling berkuasa di SMA Inashiro.
Shirakawa mengambil buku sakunya yang sudah basah karena air mineral milik Sawamura yang jatuh. "Wah, lihat ini," gumamnya. Air masih menetes-netes dari halaman-halaman buku saku tersebut. Tintanya luntur dan membuat kalimat-kalimat di dalam buku itu menjadi buram.
Sawamura Eijun mendesah malas. Dia sama sekali tidak mau bersinggungan dengan tiga sekawan itu. Sawamura hanya ingin membeli air mineral di vending machine, tapi sialnya dia malah bertabrakan dengan Shirakawa dan membuat airnya tumpah dan membasahi buku keramat milik pemuda itu. Apa yang terjadi selanjutnya sudah bisa diprediksi.
Sawamura Eijun menatap Shirakawa Katsuyuki. Dia seorang pemuda yang pendiam. Tidak seperti Narumiya Mei dan Kamiya Carlos, Shirakawa tidak pernah satu kali pun menggunakan tangannya atau kakinya untuk menindas Sawamura. Dia selalu berdiri di belakang Carlos atau di samping Narumiya, sibuk membaca bukunya dan tidak pernah peduli.
Shirakawa tidak pernah melirik Sawamura barang satu kali pun. Dia hanya pengamat, berdiri di pinggir lapangan dan seolah tidak sudi ikut campur. Apakah itu membuatnya menjadi lebih baik? Bagi Sawamura tidak. Dia sama parahnya dengan kedua temannya dan sama-sama melenggang pergi begitu saja setelah kematian Kominato Haruichi.
Buku saku yang sudah basah itu dilempar ke arah wajah Sawamura.
"Karenamu, bukuku sudah tidak bisa dibaca lagi," katanya dingin. "Kau benar-benar tidak berguna, persis seperti pacar homoseksualmu itu."
Mereka bertiga pergi meninggalkan Sawamura Eijun. Para murid yang tidak mau tahu dan tidak mau terlibat hanya berjalan seperti biasa, seolah tidak ada kasus penindasan yang terang-terangan terjadi di SMA itu.
Sawamura Eijun melangkah menuju toilet pria. Kedua telinganya berdenging sampai dia tidak bisa mendengar suara apapun. Dia seperti berjalan di bawah laut, sangat gelap dan sangat menyesakkan. Dia selalu terlilit oleh kegelapan dan tidak bisa keluar. Namun, belakangan ini sebuah benang laba-laba diulurkan padanya, berusaha menariknya keluar dari dasar laut yang gelap. Sawamura Eijun yang selalu sendirian itu meraih benang laba-laba itu, berharap ketika dia sampai di permukaan laut, seorang teman sedang menunggunya dan hidup bersama dengannya.
Guest1987: Kau di sana?
Masuku: Aku selalu di sini. Bukankah ini masih jam sekolah?
Guest1987: Iya, tapi sedang istirahat. Aku di bilik toilet
Masuku: Kau butuh teman mengobrol?
Guest1987: Sepertinya begitu. Maukah kau menemaniku mengobrol?
Masuku: Aku sama sekali tidak keberatan.
Guest1987: Apa yang sedang kau lakukan saat ini?
Masuku: Tidak banyak. Aku sedang mengeringkan kostum kelinciku.
Guest1987: Nodanya sudah hilang?
Masuku: Iya. Aku merendamnya dengan air panas sesuai saranmu.
Guest1987: Syukurlah. Kalau kostummu kotor, tidak ada yang mau berfto denganmu nanti
Masuku: Tidak akan terjadi, tenang saja~!
Sawamura menggigit bibir bawahnya.
Guest1987: Aku ingin bertanya.
Masuku: Silahkan bertanya Ei-chan
Guest1987: Apakah aku boleh menulis dua nama sekaligus?
Masuku: …? Memangnya apa yang terjadi?
Guest1987: Aku ingin kau membunuh keduanya, tetapi harus di dalam satu video.
Masuku: Kau meminta request?
Guest1987: Iya, seperti itulah. Tidak boleh ya?
Masuku: Kata siapa tidak boleh? Kalau ada permintaan, videonya akan semakin bagus
Sawamura Eijun menghembuskan napas lega setelah membaca jawaban yang terakhir.
Masuku: Kalau aku boleh tahu, kenapa kau tiba-tiba meminta request?
Guest1987: Namanya Shirakawa Katsuyuki. Dia tidak seperti orang lain yang selalu menindasku. Dia tidak pernah melakukan apapun. Tapi dia tidak pernah melakukan apapun. Dan aku ingin dia dibunuh setelah kau membunuh Kamiya Carlos, sahabatnya terlebih dahulu. Biarkan dia melihat sahabatnya dibunuh, seperti dia selama ini hanya melihat semua kelakukan sahabatnya.
Masuku: Wow, detail sekali permintaanmu
Guest1987: Maaf, apakah terlalu merepotkan?
Masuku: Tidak kok. Aku malah semangat untuk melakukannya sesuai permintaanmu!
Guest1987: Oh ya? Benar tidak keberatan kan?
Masuku: Tenang Ei-chan. Kalau aku memang keberatan, aku pasti akan mengatakannya.
Guest1987: Syukurlah kalau kau tidak keberatan. Aku akan menantikan hasil videonya
.
Sawamura Eijun bukanlah seorang homoseksual, begitu pula dengan Kominato Haruichi. Mereka berteman dan bersahabat karena nyaman ketika bersama satu sama lain. Sawamura tidak paham mengapa teman-teman sekolahnya mempermasalahkan persahabatan mereka berdua dan berakhir melakukan penindasan yang menyakitkan. Apakah salah persahabatan terjalin di antara dua orang lelaki? Kenapa orang lain boleh bersahabat, tetapi ketika Sawamura dan Kominato bersahabat, semua orang mencela? Apa yang salah? Bersahabat tidak menjadikan seeorang menjadi homoseksual kan?
Pemuda badut kelinci itu mengirim video tiga hari berikutnya, yang tergolong lama. Sawamura bosan menunggunya karena selama weekend dia tidak punya hiburan baru.
Guest1987: Kenapa lama sekali?
Masuku: Maaf… maaf… Aku berusaha membuat videonya seindah mungkin. Semoga kau suka Ei-chan
Masuku: sent you a video
Sawamura membuka video tersebut. Durasi video itu sedikit lebih lama dari video-video yang lain. Latar tempat juga bukan berada di perkotaan, tetapi seperti di sebuah ladang gandum dan sebuah rumah tua yang sudah usang dan tidak berpenghuni. Jendelanya sudah usang dan kacanya pecah, sehingga ditambal oleh kayu-kayu. Pintunya sudah lepas dari engselnya.
Seperti video biasanya, semua diawali dengan Usagi yang menari-nari dengan norak. Harus Sawamura akui bahwa semakin lama dia semakin menikmati tarian norak dan aneh itu. Lalu, Usagi masuk ke dalam rumah kosong itu. Di dalam rumah kosong itu, penuh debu, terdapat dua orang yang Sawamura kenal dengan baik. Kamiya Carlos dan Shirakawa Katsuyuki.
Kamiya Carlos terbaring di lantai penuh debu, dengan kedua tangan dan kaki diikat. Dia meronta-ronta berusaha membebaskan dirinya. Tak jauh dari tempat Carlos, Shirakawa juga diikat tangan dan kakinya, bedanya dia duduk di atas kursi.
Pemuda badut kelinci itu masuk dan menuju Carlos. Diseretnya lelaki blasteran Jepang-Meksiko ke sebuah mesin pemotong daging yang lumayan besar. Sawamura tidak akan bertanya bagaimana caranya ada mesin pemotong daging di rumah kosong dan tidak berpenghuni.
Carlos meronta-ronta, tetapi tidak ada yang bisa dilakukannya. Shirakawa juga berusaha membebaskan diri, tetapi ikatan pada tangan dan kakinya begitu kuat dan dia sudah kehabisan tenaga.
Mungkin itu merupakan mesin pemotong daging paling besar yang pernah dilihat Sawamura. Sawamura tidak yakin daging apa yang dipotong di mesin sebesar itu. Usagi menuju mesin tersebut dan menyalakannya. Secara otomatis, gigi-geligi mesin itu mulai perputar dan rasanya pisaunya sangat-sangat tajam. Carlos diletakkan di antara pisau runcing tersebut.
Jeritannya begitu menggema dan darah berhamburan kemana-mana. Pisau-pisau itu mencacah-cacah dari mulai kulit kepala, menghancurkan tempurung kepala, lalu langsung melesat ke otak. Jeritan antara Carlos dan Shirakawa bersahut-sahutan dan darah semakin banyak mengalir. Tak berselang lama, seluruh kepala milik Carlos hancur dan sudah dicincang-cincang. Tubuhnya terbujur kaku dan tidak bergerak liar lagi. Kamiya Carlos sudah meninggal.
Sawamura Eijun tanpa sadar menyunggingkan senyum.
Usagi berjalan ke arah Shirakawa yang sudah pucat dan menangis. Dia berusaha semakin kuat untuk melepaskan diri, tetapi Usagi tidak terpengaruh. Dia menyeret kursi Shirakawa sampai menuju sebuah tong besar yang berisi simbol tengkorak, seperti bendera bajak laut. Usagi mengambil sebuah rantai besi dan mengaitkannya kepada empat kaki kursi yang diduduki Shirakawa. Lalu, dia berjalan ke arah yang agak jauh untuk dan mulai menarik sisa-sisa rantai besi tersebut. Kursi Shirakawa mulai terangkat pelan-pelan.
Setelah dia cukup tinggi menggantung bebas di udara, Usagi menarik rantai besi itu lagi sampai Shirakawa berada tepat di atas tong besar. Lalu, bagai antiklimaks, rantai besi yang tadi ditarik susah-susah mendadak di lepas oleh Usagi dan membuat Shirakawa dan kursi itu terjun bebas masuk ke dalam tong penuh dengan H2SO4, sebuah asam yang sangat kuat.
Video telah berhenti berputar.
Guest1987: Ini indah sekali! Aku sangat suka dengan video yang satu ini!
Masuku: Oh ya? Aku ikut senang kalau kau senang.
Guest 1987: Sepertinya malam hari ini aku bisa mimpi indah. Terima kasih
Masuku: Selamat mimpi indah Ei-chan
.
Narumiya Mei berjalan sendirian di koridor sekolah. Dia menekuk wajahnya dan terus mendumel. Kedua sahabatnya tidak bisa dihubungi sejak akhir pekan. Suasana hatinya yang jelek itu membuatnya memaki semua orang yang ditemuinya. Tidak ada yang berani mendekatinya dan para murid lebih memutuskan untuk berjalan memutar lebih jauh daripada menyinggung Narumiya.
Satu-satunya yang melewati koridor yang sama dengan Narumiya adalah Sawamura Eijun. Dia berjalan dengan tenang dan tanpa beban.
"Dimana dua pacar homoseksualmu?" tanya Sawamura sambil berjalan di koridor.
Mendengar kalimat Sawamura, Narumiya berhenti berjalan. Dia menatap Sawamura yang juga berhenti berjalan. Mereka saling bertatapan satu sama lain.
"Apa katamu, bajingan tengik?" tanya Narumiya sambil berjalan mendekat. Sawamura tidak mundur lagi. Dia hanya berdiri di tempatnya sambil menunggu Narumiya menghampirinya. Kerah bajunya ditarik kasar.
"Kominato Haruichi," kata Sawamura, "kau ingat nama itu?"
"Jangan bicara di depanku, dasar sampah," desis Narumiya.
Sawamura menatapnya tenang. Iris emas itu bagaikan sebuah lautan yang sangat tenang dan damai, tetapi menyimpan jutaan misteri dan ledakan amarah di dalamnya. Kedalamannya tidak terkira dan Narumiya sebentar lagi akan terseret oleh arus itu.
"Aku tidak akan pernah melupakan apa yang telah kau lakukan pada sahabatku," kata Sawamura, "bahkan jika itu harus menjual jiwaku pada iblis, aku akan melakukannya."
"Kau semakin banyak tingkah. Kau pikir hanya karena kedua temanku tidak bersamaku, aku akan takut padamu? Aku lebih berkuasa dari pada semua orang di sekolah ini. Kalau aku mau, aku bisa melenyapkanmu seperti si pacar bancimu itu."
Sawamura menahan godaannya untuk tidak meninju Narumiya karena kalimat kasarnya untuk Kominato. Dia punya sebuah rencana yang lebih bagus daripada berkelahi dengan Narumiya di koridor. Sawamura menepis tangan Narumiya.
"Kau akan membayar semuanya Narumiya. Kau akan membayar hutangmu lengkap beserta dengan bunganya."
.
Guest1987: Narumiya Mei.
Masuku: Wowowow! Ada apa hari ini? Kau tanpa basa-basi sekali.
Guest1987: Aku sedang tidak ingin berbasa-basi, apalagi mengenai orang yang satu ini.
Masuku: Sepertinya kau benci sekali dengannya ya.
Guest1987: Terlihat sekali ya?
Masuku: Begitulah. Apa dia membuatmu menderita?
Guest1987: Sangat! Dialah akar dari semua kesedihanku. Kehidupan sekolahku hancur karena orang itu.
Masuku: Ada permintaan spesial?
Guest1987: Buat dia menderita. Jangan langsung dibunuh. Aku ingin melihatnya menderita
Masuku: Rogeeer
Sawamura melempar ponselnya dan menutup matanya dengan tangannya. Langit-langit di kamar tidurnya tampak membosankan dan mulai usang.
Sawamura sudah menahan dan menimbun semuanya hampir di sepanjang masa SMP dan SMA-nya. Perasaan itu tidak membaik seiring berjalannya waktu. Malahan, dia semakin menderita dan semakin terluka setiap harinya. Setiap udara yang dihirupnya seperti menghirup pecahan kaca. Setiap langkahnya terasa seperti dirantai dan dia harus menyeret kaki-kakinya yang terasa hampir copot. Sudah berkali-kali Sawamura putus asa dan memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.
Tidak ada yang lebih diinginkan Sawamura selain melihat Narumiya Mei menderita dan mati.
.
Video dikirim oleh Usagi ketika waktu hampir berlalu selama dua minggu.
Guest1987: Kenapa yang ini lama sekali? Kau baik-baik saja?
Masuku: Maaf untuk ketidanyamanannya~ Aku baik-baik saja kok.
Guest1987: Jadi, kenapa lama?
Masuku: Persiapannya agak susah, tapi semua sudah baik-baik saja sekarang.
Masuku: sent you a video
Sawamura membuka video itu terlalu cepat. Dia menontonnya dengan jantung yang derdentum-dentum.
Video dimulai ketika kamera menyorot sebuah tempat pembakaran sampah yang lumayan besar. Melihat dari latar waktu, tampaknya waktu sudah mulai malam. Seperti biasa, pembunuh bayaran berkostum kelinci itu menari-nari terlebih dahulu ke arah kamera (yang lagi-lagi membuat Sawamura senyum-senyum sendiri). Lalu, dia berjalan ke luar dari jangkauan kamera dan tak berselang lama dia kembali sambil menyeret seseorang. Kaki dan kedua tangan diikat dengan kuat. Mulut disumpal. Sosok yang diseret itu adalah Narumiya Mei.
Seperti tanpa beban, Usagi membawa tubuh Narumiya Mei seperti membawa karung beras dan menaruhnya di sebuah peti. Belakangan ini Sawamura baru sadar bahwa itu adalah peti mati. Narumiya meronta-ronta dan berusaha bangkit. Namun, Usagi menahan pergerakannya dan langsung menutup peti mati tersebut.
Lalu, kamera berganti dengan kamera yang ditaruh di dalam peti mati. Dari kamera ini, Sawamura bisa melihat jelas wajah Narumiya yang menampilkan sebuah ekspresi ketakutan yang luar biasa, yang tidak mungkin ditampilkan di ekspresi sehari-harinya. Ekspresi congkak itu sudah luntur tak bersisa lagi. Air mata menetes dari kedua matanya yang bergetar ketakutan. Dia berusaha berteriak, tetapi tidak ada suara yang keluar dari mulutnya.
Sawamura menikmati setiap ekpresi ketakutan alamiah itu. Jadi ini toh yang selalu dirasakan oleh Narumiya Mei dan kawan-kawannya. Sebuah perasaan superioritas yang sangat memabukkan. Perasaan menyenangkan ketika berdiri di atas penderitaan orang lain. Melihat seseorang menderita dan tidak bisa melawan, rupanya sangat menyenangkan.
Tak berselang lama, sebuah asap mulai memasuki peti mati dan Narumiya Mei semakin meronta-ronta bagaikan ular yang ditaburi oleh garam. Lalu, perlahan-lahan, lidah api mulai menggerogoti peti mati dan menyentuh tubuh Narumiya. Rekaman video dari dalam peti mati berakhir sampai di sana.
Video berpindah lagi ke depan mesin pembakaran. Sebuah api besar tampak sangat terang, seperti sinar matahari yang baru saja terbit dari ufuk timur. Usagi berdiri santai di depan mesin pembakaran dan tidak melakukan apapun.
Rekaman telah berakhir.
Sawamura langsung meletakkan ponselnya lagi dan kembali berbaring di kasurnya.
Selesai sudah.
Akar dari semua kesedihan di dalam kehidupan Sawamura Eijun telah selesai. Semua beban berat yang telah dipikulnya selama ini sudah hilang bagai debu yang tertiup angin. Hatinya terasa sangat kosong dan ringan. Tanpa sadar, air mata menetes dan mengalir ke samping mata Sawamura, jatuh ke bantal yang dia gunakan untuk menyagga kepalanya.
Hutang-hutang mereka telah dibayar lunas, beserta bunganya.
Benang laba-laba itu kini telah menuntun Sawamura keluar dari lautan hitam dalam dan tidak berdasar. Dia sudah siap menyokong kehidupannya dengan seorang teman.
Guest1987: Ini video yang sangat memukau. Apa kau sengaja membeli kanera baru untuk diletakkan di peti mati?
Masuku: Iya. Makanya memakan waktu lumayan lama. Pemindahan dan pengeditan videonya juga butuh waktu lama. Apa kau puas?
Guest1987: Sangat puas. Terima kasih banyak!
Masuku: Aku siap membantu kapan pun Ei-chan.
Guest1987: Aku punya nama berikutnya.
Masuku: Wow, cepat sekali!
Guest1987: …
Masuku: Apa kau serius?
Guest1987: Ya. Apa itu melanggar kontrak?
Masuku: Tidak juga. Secara teknis, kau bebas memilih nama siapapun untuk diberikan padaku. Selama rantai tidak terputus, tidak masalah.
Guest1987: Baguslah kalau begitu. Maaf ya, kau harus mengikuti keegoisanku.
Masuku: Tidak masalah. Selama aku bisa menghapus kesedihanmu, aku akan melakukannya.
Guest1987: Terima kasih banyak.
.
Angin musim gugur menusuk-nusuk kulit hingga ke tulang. Sawamura Eijun memejamkan matanya untuk menikmati desiran angin yang dingin dan menyegarkan ini. Suara-suara Kota Tokyo Barat terasa sangat jauh. Namun, di sini dia merasa sangat tenang. Dia mendengar pintu balkon dibuka pelan dan kemudian ditutup, lalu langkah kaki yang berjalan pelan ke arahnya.
"Sawamura Eijun."
Sawamura tersenyum mendengar nama lengkapnya dipanggil. Dia menoleh ke arah belakangnya dan mendapati sesosok badut kelinci berjalan mendekatinya.
"Apa kau selalu menyebut nama mangsamu dengan nama lengkap seperti itu?" tanya Sawamura.
"Aku pernah bilang kalau nama merupakan suatu hal yang penting kan?" retotik Usagi.
Sawamura mendengus geli. "Kalau tahu kau akan memanggil namaku dengan serius seperti itu, dari awal kutulis namaku."
Pembunuh berkostum badut kelinci itu tidak menjawab. Dia berjalan terus mendekati Sawamura sampai jarak mereka berdua hanya sekitar 30 sentimeter. Udara malam di awal musim gugur begitu dingin, tetapi Sawamura Eijun tidak kedinginan. Seluruh tubuh Sawamura terasa hangat, sebuah perasaan yang lama sudah mati dari dalam dirinya.
Sawamura tanpa sadar mengangkat tangannya untuk meraih kepala kelinci tersebut. Dipertengahan jalan, tangan Sawamura berhenti. Dia menatap ke dalam mata dari badut kelinci itu. Tatapannya dalam dan tegas. "Bolehkah?" tanyanya pelan.
"Silahkan," kata Usagi.
Sawamura melanjutkan kegiatannya. Dengan pelan dan berirama, dia melepas kepala kelinci itu dari kostum badut tersebut. Angin segera membelai seluruh kepala milik pembunuh itu. Rambutnya acak-acakan dan lepek. Dia memakai kacamata. Wajahnya masih setampan ketika Sawamura pertama kali melihatnya. Tanpa sadar Sawamura menahan napasnya. Pemuda rupawan di hadapan Sawamura adalah seorang pembunuh bayaran keji yang bisa membunuh semua mangsanya dalam sekali kedipan. Sawamura masih tidak bisa memahami sepenuhnya hal itu.
"Apakah ini tempat spesial?" tanya Usagi.
Sawamura mengangguk. Dia meletakkan kepala kelinci itu begitu saja di beton yang menjadi alas balkon. "Di tempat ini sahabat baikku meninggal," cerita Sawamura, "dia di dorong jatuh dari atas balkon ini. Mati seketika."
"Kau sering datang kemari?" tanya Usagi lagi.
Sawamura menggeleng. "Aku tidak pernah datang ke sini sejak kematiannya. Aku menghindari dan terus menghindar. Kupikir aku akan baik-baik saja jika menjauhi sumber kesedihanku, tapi ternyata aku semakin menderita."
"Jadi kau kembali ke tempat ini?"
Sawamura mengangguk. "Iya. Aku akan menghapus sumber kesedihanku di tempat ini. Dan aku butuh bantuanmu, Usagi."
Sawamura mulai berjalan mundur dan membimbing Usagi untuk melangkah maju. Langkah mereka seperti melengkapi satu sama lain.
"Apakah sakit?" tanya Sawamura.
"Akan kulakukan dengan cepat, jadi kau tidak akan merasa kesakitan," jawab Usagi.
Sawamura menghela napas lega. "Syukurlah," katanya. "Aku selalu merasa sakit selama hidupku, jadi setidaknya ketika aku mati, aku tidak mau merasakan sakit."
Pembunuh itu mengeluarkan sebuah pistol yang dilengkapi dengan alat peredam suara. Dia mengecek isi pelurunya dan mengokangnya. Sawamura menatap kegiatan pemuda itu dengan tenang.
"Sebelum aku dibunuh, apa aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Sawamura.
"Aku akan berusaha menjawabnya."
Angin berhembus kencang. "Siapa nama aslimu?"
Pembunuh itu mendengus. "Kau masih penasaran dengan hal itu?"
Sawamura mengangguk. "Katamu nama adalah hal yang penting kan? Setidaknya aku ingin menjawab rasa penasaranku sebelum mati. Siapa tahu aku bisa mati dengan tenang setelah mendengar nama aslimu."
"Siapa yang konyol sekarang?" tanya Usagi.
Sawamur terlihat tidak puas. "Kau masih tidak mau memberitahu nama aslimu?" tanyanya, setengah merajuk.
"Siapapun yang tahu nama asliku tidak bisa kubiarkan hidup," kata Usagi.
Sawamura mengangkat bahunya acuh tak acuh. "Momen yang tepat kan? Toh kau juga akan membunuhku sebentar lagi. Dan aku bisa menjaga rahasia dengan baik, bahkan di alam kubur sekalipun."
"Oh ya?" Usagi menaikkan alisnya jenaka.
Sawamura mengangguk mantap. "Iya. Kalaupun Hades bertanya padaku, aku akan menutup mulutku rapat-rapat dan tidak akan membocorkannya pada Raja Dunia Bawah."
Usagi tertawa terpingkal-pingkal. "Kau benar-benar menarik, Sawamura Eijun. Bersama denganmu tidak pernah membuatku bosan."
"Jadi…" kata Sawamura menggantung, "apa kau akan memberitahuku?" tanyanya penuh harap.
Pembunuh itu menatap figur remaja lelaki berusia 17 tahun yang ada di hadapannya. Seorang penyewa jasa pembunuh bayaran yang siap menyambut kematiannya di tempat sumber kesedihannya berasal. Bahkan, sebelum dia mati pun, Sawamura masih bisa melawak dan mendesaknya sampai dia tidak punya pilihan.
"Aku akan mengatakannya sekali," kata Usagi, "dan tidak ada pengulangan. Jadi dengarkan baik-baik."
Sawamura memasang tampang sangat sangat serius. Dia seperti akan mendapat bocoran jawaban paling sulit di ujian masuk perguruan tinggi.
Pembunuh itu mendekati Sawamura sampai wajah mereka sangat dekat, lalu dia berbisik ke telinga kanan Sawamura.
"Miyuki Kazuya."
Untuk sesaat, Sawamura tidak bisa berpikir. Di dalam otaknya hanya berputar-putar dua kata.
Miyuki Kazuya.
"Miyuki Kazuya…" ulang Sawamura.
Usagi–Miyuki Kazuya–mengangguk. "Jangan sampai namaku bocor pada Dewa Hades ya~" kata Miyuki.
Sawamura Eijum tersenyum lima jari, sampai matanya menyipit. "Kau bisa percaya padaku, Tuan Miyuki Kazuya!"
Sawamura Eijun mengatur napasnya lagi. Kini semuanya sudah berakhir. Dia tidak punya penyesalan apapun. Dia tidak punya tuntutan apapun. Tugasnya sudah berakhir. Dia sudah siap untuk bertemu lagi dengan Kominato Haruichi, sahabat baik yang sangat disayanginya.
Kita akan bertemu sebentar lagi, Harucchi.
Miyuki mengokang pistolnya dan membidiknya tepat di pelipis Sawamura. Remaja 17 tahun itu mulai menutup matanya. Hal terakhir yang diketahuinya adalah sebuah peluru memecahkan pelipisnya, membuat otaknya terburai dan tubuhnya mulai hilang keseimbangan. Gravitasi menarik tubuh lemas Sawamura dan jatuh dari lantai 6 gedung tua itu.
Dia persis jatuh di tempat Kominato Haruichi menghembuskan napas terakhirnya. Darah merembes keluar dan mengotori aspal. Bau mesiu mengudara dan Miyuki sudah hapal sekali baunya. Angin musim gugur kembali berhembus dan bau anyir darah begitu menusuk penciuman Miyuki.
Miyuki Kazuya menatap ke baeah, tempat tubuh Sawamura tergeletak bagai boneka rusak yang dibuang. Tulangnya mencuat kemana-mana. Tangan dan kakinya membentuk posisi tidak wajar dan persendiannya hancur total. Ceceran otaknya mengotori jalanan. Darah mengalir seperti rembesan air hujan.
Terlepas dari itu, Sawamura Eijun menutup matanya dengan tenang. Tidak ada ekspresi orang mati penasaran seperti yang biasa Miyuki lakukan pada korbannya. Dia seperti memutuskan untuk beristirahat setelah melakukan sebuah perjuangan yang panjang. Ekspresi yang begitu damai, seperti orang tidur. Miyuki tidak mau mengusik tidurnya.
"Senang berkenalan denganmu, Sawamura Eijun."
.
Taman Bermain selalu ramai di saat bulan Agustus. Musim panas dan liburan musim panas adalah sebuah kombinasi yang ditunggu-tunggu oleh banyak pihak. Segerombolan remaja akil balig terlihat melakukan selfie di sebuah air mancur. Mereka tertawa-tawa. Ada beberapa dari mereka yang protes dan meminta selfie ulang karena ekspresi wajahnya tidak bagus.
Selain kelompok remaja, para keluarga dan pasangan juga banyak yang datang ke Taman Bermain. Mereka ingin melepas penat setelah dipaksa bekerja selama setahun penuh dan stress karena tekanan di kantor.
"Ah, Usagi-chan!" seru seorang remaja perempuan. Dia menghampiri seorang badut kelinci yang sedang menari-nari di samping air mancur. Badut kelinci itu melambaikan tangannya ramah pada remaja perempuan itu.
Remaja perempuan itu memberikan ponselnya pada temannya. "Aku mau berfoto dengan Usagi-chan!" katanya riang sambil memeluk kostum badut kelinci itu.
Teman yang diminta tolong hanya meringis tidak enak pada badut itu. "Maaf ya, dia sedikit terlalu bersemangat pada badut kelinci," katanya.
"Hei!" protes remaja perempuan itu, "aku tidak seperti itu!" rajuknya.
"Dasar bocah," ejek temannya.
"Aku hanya suka sekali pada kelinci!" katanya, "dan itu tidak bocah!"
Temannya melambaikan tangannya acuh tak acuh. "Terserahlah."
Remaja itu berpose dengan beberapa gaya. Badut kelinci itu juga ikut melakukan beberapa pose.
"Lucu sekali~!" serunya riang dan gemas. Dia menatap badut kelinci. "Usagi-chan juga lucu sekali!" pujinya.
Badut kelinci itu hanya melambaikan tangannya. Remaja itu dan temannya pergi untuk menikmati hiburan lainnya. Si badut kelinci kembali pada aktivitasnya, yaitu menari-nari.
Ya, itulah badut.
Dia hadir untuk menghapus kesedihan manusia.
Nah, kesedihan siapa lagi yang harus dihapus?
.
SELESAI
"There is no justice in this world, unless we make it"
[Lord Petyr Baelish to Lady Sansa Stark]
Game of Thrones (2011-2019)
A/N: Kok di akhir quotes-nya malah ngutip dari Game Of Thrones? Tapi ya sudahlah.
Mask of Rabbit sendiri dipercaya sebagai situs pembunuh bayaran dengan sistem chain atau rantai. Ada yang bilang itu hanya hoax, tetapi ada juga yang percaya. Meskipun sampai sekarang belum bisa diketahui kebenarannya seperti ini. Jujur saja, saya sendiri tidak pernah masuk ke dalam deep web, apalagi mencari-cari situs mask of rabbit. Jadi, semua yang ada di cerita ini murni hasil imajinasi saya semata.
Semoga para pembaca menikmati cerita ini dan silahkan tinggalkan jejak berupa komentar, kritik, dan saran di kolom review. Atau hanya sekedar menekan tombol favorite dan follow.
Salam,
Sigung-chan
.
Stay safe para pembaca
