Acca 13-ku Kansatsuka-ka (c) Ono Natsume
Mate to Soulmate (c) Elsoul59
Pair: Nino - Jean Otus
Warning(s): OOC, typo, Omegavers, BL/Yaoi/Sho-ai, bahasa, tidak sesuai EBI yang benar, Plot yang tidak jelas.
Enjoy!
Nino adalah sekian dari ratusan ribu penduduk yang ada di Distrik Bādon. Perangainya cukup menyenangkan untuk ukuran seseorang yang banyak diam. Statusnya alpha, dengan dukungan paras menawan pula, Nino seketika dipuja beberapa kaum.
Itu tidak membanggakan. Menurutnya.
Sekian tahun ia hidup di dunia, ia benci statusnya ketika harus berhadapan dengan omega yang selama ini ia awasi.
Tidak! kalian salah sangka, Nino tidak semaniak itu untuk mengincar omega. Berawal dari kesetiaan ayahnya pada pengawal khusus putri Schnee (Abend) dan kerajaan Dowa yang luar biasa masokis (ini menurutnya, siapa pula orang yang rela kehilangan semuanya demi mengikuti seorang putri kerajaan yang ingin bebas dari tittle sangkar emas itu?)
Sekali lagi tidak, ayahnya tidak menyukai sang putri, hanya lebih berdedikasi pada gadis bersurai pirang dengan permata biru di kedua maniknya serta pemikiran terbuka yang sama luar biasanya (saking luar biasanya, putri cantik itu justru di hapus dari keluarga kerajaan karena pemikiran tajamnya. Itu luar biasa, terlepas secara terhormat, tidak bermaksud menyinggung namun Nino tahu sabotase kematian putri kedua keluarga kerajaan itu semacam suatu cara untuk menjaga ketentraman monarki Dowa. Bukankah sang putri lepas dengan terhormat?) dengan parasnya.
Ayahnya selalu mengawasi sang putri dan mengirim semua hasil potretan yang ia dapatkan kepada Yang Mulia Raja selaku ayahanda si putri cantik bersurai pirang dan Abend selaku pengawal putri Schnee yang memberi ayahnya tugas.
Nino menjadi saksi perkembangannya, walau saat itu masih kecil, ia terbiasa mendengar celotehan ayahnya yang mengatakan bahwa tuan putri begini, tuan putri begitu.
Nino Terbiasa.
Hingga suatu masa, sang ayah mendapati sang putri di landa perasaan absurd bernama cinta. Singkatnya sang putri yang menyembunyikan diri itu jatuh cinta kepada seorang pria muda pemanggang roti yang miskin. Setelah melaporkan hal itu, Ayah Nino memberi tahu bahwa Tuan Abend langsung membangun sebuah apartemen mewah dan menjadikan pria muda itu manager untuk membantunya menikahi putri Schnee (Yah, pria bernama Karl Otus itu sangat beruntung karena Tuan Putri jatuh cinta padanya). Tapi tidak masalah, ayah Nino berkata, Otus pria yang baik. Maka rasa waswas Nino hilang seketika.
Semuanya berjalan sebagaimana mestinya, Tuan putri Schnee yang berstatus alpha resesif menikah dengan seorang alpha juga. Hingga akhirnya mereka memiliki anak pertama lelaki berstatus omega bersurai pirang dan beriris biru sama seperti putri Schnee dan kemudian melahirkan anak kedua setelah beberapa tahun anak pertama mereka lahir. Anak kedua mereka seorang gadis beta yang luar biasa cantik, parasnya mengikuti putri Schnee dengan surai keemasan serta manik biru yang sama.
Nino dan ayahnya bahagia dengan semua kebahagiaan yang berdatangan kepada keluarga kecil tuan putri mereka.
Hingga anak sulung (yang sering Nino dan ayahnya panggil pangeran kecil) tuan putri Schnee menginjak jenjang sekolah menengah atas, Nino akhirnya terjun ke lapangan membantu ayahnya mengawasi keluarga itu (Walaupun saat itu usianya sudah mencapai 25 tahun). Nino menyamar dan berusaha sebaik mungkin membuat pangeran kecil berteman dengannya.
Walaupun semua berjudulkan tugas, Nino benar-benar senang bisa berteman dengan anak sulung keluarga Otus. Nino suka reaksinya yang datar, perangainya yang tenang serta pemikiran dan analisisnya yang tinggi. Tak ada yang bisa diharapkan bukan? Tuan putri Schnee menurunkan kecakapannya dengan sempurna kepada sulung Otus.
Nino benar-benar sangat senang.
Suatu masa, dengan banyaknya takdir yang berjatuhan pada pundak mereka, akhirnya strata dunia masih saja mengoloknya. Tuan putri Schnee serta suaminya tewas pada sebuah kecelakaan kereta, Ayahnya yang ikut mengawasi keduanya juga ikut tewas pada saat itu juga. Mereka meinggalkan Pangeran dan Putri kecil serta Nino yang sekarang harus berjuang mengawasi keduanya dari dekat.
Berteman dengan seorang omega tidak semudah itu, apalagi jika omega itu adalah seorang yang harus sangat kau perlakukan dengan baik karena itu adalah tugasmu. Omega itu tidak akan bisa kau gapai begitu saja. Pangeran kecil itu tidak bisa kau gapai begitu saja. Nino kau terlalu banyak bersenang-senang.
Tuhan tidak berbelas kasih padanya. Pada pangeran yang berusaha kuat untuk adiknya dan pada putri kecil yang kehilangan kedua orang tuanya.
Tak lama setelah pasangan Otus meninggal, Jean dan Lotta hidup berdua, pangeran dan putri kecil hidup berdua. Tak ada yang perlu dikhawatirkan untuk materi kedua anak itu, Nino dan Abend memastikan mereka hidup normal tanpa kesusahan.
Walaupun keduanya memastikan hal itu, status pangeran kecil sebagai omega benar-benar menampar mereka. Apalagi Nino yang notabene mendeklarasikan diri menjadi teman si pangeran.
Mereka berdua (Nino dan Abend) begitu pula almarhum ayahnya benar-benar memutar otak agar pangeran kecil mereka tidak mengalami hal buruk karena status omeganya. Salah satu alasan mengapa ayahnya mengirimnya juga adalah selain untuk mengawasi, juga untuk melindungi Jean apapun yang terjadi. Dengan status yang seperti itu tidak akan ada hal baik yang bisa mereka pikirkan tentang hidup pangeran kecil mereka meski itupun harus mengirim alpha seperti Nino untuk menjaganya.
Naasnya, tak lama setelah kejadian memilukan tentang tuan putri Schnee dan suaminya, Jean mengalami periode pertamanya sebagai seorang omega.
Semuanya kacau. Dengan si kecil Lotta yang terisak mengkhawatirkan kakaknya. serta Nino yang hanya bisa mengunci Jean di kamar setelah meninumkan pil pereda heat.
Nino terpaku.
Pada akhirnya, Nino hanya bisa membenci status alphanya ketika dihadapkan pada Jean yang sedang dalam periodenya.
Nino membenci dirinya. Statusnya sebagai alpha. Dan betapa tak adilnya dunia ini.
.
.
.
.
.
.
Dulu, Jean pernah berkata padanya. Bahwa statusnya sebagai omega dan status Nino sebagai alpha bukanlah sebuah perkara susah. Tinggal lupakan saja status mereka, maka mereka berdua selalu berteman dengan baik.
Seharusnya begitu. Memang seharusnya begitu.
Namun Jean Otus adalah pribadi yang santai di luar tapi penuh kerusuhan di dalam. Nino selalu menghawarapkan reaksi lain dari Jean dan Jean selalu memberinya sebuah kejutan yang luar biasa sebagai gantinya. Misalnya, betapa tajamnya intuisi pangeran tersembunyi ini tentang keberadaannya. Jean juga selalu memiliki insting serta kecakapan yang bagus, ia selalu waspada akan hal apapun dan selalu berpikir mengatasi masalah apapun dengan pola pikirnya yang tak terbaca.
Jean Otus itu jenius.
Sayangnya, Jean Otus -walaupun sejenius apapun, ia juga bukan pribadi yang sepeka itu. Asli, Jean Otus bukanlah orang yang peka.
"Kau terlihat stress."
Nino lantas mengusap wajahnya. "Kau melihatnya dengan jelas" desisnya.
Oulu (ketua deparemen inspeksi sekaligus atasan Jean si wakil ketua) tertawa pelan, "Semuanya sudah berakhir, Pangeran kecil meminta kita menjalani hidup semau kita. apalagi yang kau pusingkan?" tanyanya.
Sekedar informasi, Tak ada siapapun yang mencurigai Oulu dengan kecakapan seperti itu. Di bantu dengan surai pirang palsu dan kumis siapa sangka jika Oulu adalah pengawal khusus putri Schnee yang tewas pada kecelakaan kapal palsu itu? Intinya, surai putih Oulu (Abend) kini terganti dengan surai pirang, belum lagi usut punya usut, pria baya itu sengaja masuk di ACCA dengan pikiran bahwasanya Jean akan tertarik pada ACCA.
Sasuga, tidak heran ia bisa menjadi pengawal khusus tuan putri dulu. Instingnya tajam. Dan sesuai perhitungannya, Jean benar-benar memasuki ACCA hingga kini menjadi wakil ketua di divisi tempatnya menjadi ketua. Oulu -Abend membimbing Jean dengan baik. Nino kagum akan hal itu.
"Kau tidak mengerti" Sahut Jean.
Setelah kejadian dimana Jean dikambing hitamkan dalam sebuah kudeta palsu demi menjebak Lilium (Lima kepala perwakilan dari Furawau) beserta saudaranya yang berakhir Furawau memisahkan diri dari kerajaan Dowa, Jean dan Lotta memang tidak diumumkan jika memiliki darah biru kerajaan, bahkan Jean yang sudah mengetahui identitasnya menyuruhnya untuk berhenti dan mereka bisa berteman yang benar-benar 'teman'.
Namun, namun itu menimbulkan masalah untuk Nino yang sebelumnya hanya bisa bertingkah normal pada Jean dengan menyugesti diri bahwasanya Jean adalah orang yang harus ia jaga dan tidak boleh terluka sama sekali.
Hebat.
Bahkan Nino rela membiarkan dirinya sebagai sasaran peluru hanya untuk melindungi Jean. Oh, pikiran sialan, siapa sangka pula ia bisa jatuh hati pada pangeran pertama itu?!
Lantas memikirkannya kembali membuat Nino mengacak rambutnya penuh frustasi.
Oulu terbahak, "apa? kau menyukainya? arwah ayahmu akan mengutukmu Nino" ucapnya lucu setengah bercanda.
"Yah, Aku benar-benar di kutuk." Nino menelungkup di meja.
"Atau itu hanya ketertarikan jiwa alphamu kepada Jean?" Oulu melirik sekilas pada Nino dan menyeruput tehnya.
Nino melipat kedua tangannya di dada, "Kau pikir berapa lama aku selalu menyaksikan periode heat Jean? setiap dua bulan sekali aku tahu, karena-"
"-kau mengawasinya." Oulu memotong, kemudian berkata lagi, "Jangan-jangan kau pernah melihat Jean-"
Belum selesai, Nino langsung memotong perkataan Oulu dan berseru histeris, "-APA?! Ya tuhan, aku akan membunuh diriku sendiri jika aku melihatnya tanpa benang sekalipun!"
"heh, saat dia bayi kau sudah melihatnya tanpa benang, stalker." Mau tidak mau, Oulu terkikik geli, usianya memang tidak muda lagi tapi permasalahan Nino bisa ia terima.
Anak muda.
Tapi melihat perbedaan usia asli Nino dan Jean itu cukup membuatnya meringis. itu hampir selisih 10 tahun dan dunia begitu terbuka dengan hal itu. Intinya bukan masalah.
Yang jadi masalah, Jean bukanlah omega sembarangan. Darahnya biru dan itu tidak bisa di perlakukan sembarangan walaupun Jean berkata dia adalah orang biasa jadi perlakukan saja ia seperti orang biasa, di tambah perangainya yang tidak peka dan tidak peduli, Oulu paham.
Nino benar-benar stress.
Konflik memang berakhir, namun siapa sangka sekarang justru konflik batin yang didapatkan. Kasihan.
"-untung aku awet muda, dan pada saat dia bayi aku tidak melihatnya tanpa pakaian. Ingat itu" Nino berucap salah sambung.
Oke, Oulu paham, ini benar-benar sudah di ambang batas. "Jadi kau tidak puas hanya sebagai teman minumnya?"
"Aku membenci diriku"
Oulu memgenyit, "Karena kau alpha dan Jean seorang omega?"
Nino melirik sekilas dari sela lengannya yang menutup wajah, "Ya, itu menyebalkan. Instingku kurang ajar, selalu ingin menyentuh Jean" jelasnya lesu.
"Ah, aku sendiri heran kau bisa tahan. Memang sugesti dirimu luar biasa, kenapa tidak kau manfaatkan saja keadaan? semuanya sudah berakhir."
"Wah, kau benar-benar membuatku rela di kutuk ayahku, Tuan Abend."
"Kau keluar dari karaktermu. Lagipula, Jean sepertinya tidak akan keberatan."
Nino memutar bola matanya malas, "Dia menyukai Jendral Mauve. Jangan di bahas, aku memang bodoh bisa-bisanya mendengar semua ocehannya tentang jendral wanita itu ketika ia mabuk."
Oulu meringis lagi, bertahun-tahun hidup membuatnya bisa bersikap seperti ini. Coba saja ia melihat kebelakang dirinya dulu, minim ekspresi sekali. "Kau mengajakku bergosip?"
"Tidak, bahkan aku tidak ingin membahas itu. Jean patah hati. Minggu lalu dia mabuk dan mengoceh tentang hal itu. Katanya Jendral Mauve menjalin hubungan romantis dengan mantan kepala Grossular."
Akhirnya hening. Oulu tak bisa membahas apapun soal masalah Nino. Ini pertemuan kedua mereka setelah perkara kudeta selesai, pertemuan pertama mereka hanya mengucapkan selamat tinggal dan mengatakan akan menjalankan hidup masing-masing. Cafe di pinggir jalan Bādon yang ramai cukup mendukung suasana kelam Nino sepertinya.
"Aku tidak akan mengatakan apapun tentang ini. Menjaga Jean terlalu ketat dengan pilihannyapun hanya mendatangkan masalah kerajaan, ku rasa Yang Mulia Raja akan selalu senang jika cucunya senang. Nah Nino, selamat tinggal. Aku menunggu kabar baik darimu."
"Katakan itu untuk seratus tahun kedepan. Nasibku benar-benar terkutuk."
Setelah menepuk kepala Nino dan melambaikan tangan tanda perpisahan, Oulu meninggalkan Nino sendirian.
.
.
.
.
.
"Onii-san, Apakah Nino menghubungimu? dia sudah jarang ke sini."
Jean bergeming mendengar pertanyaan Lotta, kemudian menggeleng. "Tidak. aku juga baru sadar jika ia tidak menghubungiku. Minggu lalu aku masih minum bersamanya" kata Jean. Mata malasnya melirik Lotta yang sibuk memasak sesuatu untuk mereka makan.
Lotta kemudian berceloteh lagi. Menceritakan bagaimana minggunya ketika di kerajaan, Putri tertua memperlakukannya sangat baik walaupun pernah mengirim pembunuh untuk mereka berdua, kelihatannya Yang Mulia Raja juga senang dengan kedatangan Lotta.
Jean bersyukur untuk hal itu.
"-Pangeran Schwan juga sangat baik, semuanya sangat baik. Yang Mu- uh, maksudku kakek ingin Onii-san juga sering berkunjung. Beliau menitip salam untuk Onii-san" Lotta merona kecil, Jean lantas tersenyum tipis melihatnya.
Bagaimanapun mereka belum terbiasa. Mengetahuinya beberapa minggu terakhir cukup membuat keduanya kewalahan. Jika diingat-ingat, Jean bahkan sempat tertekan walaupun masih di anggap biasa saja.
"Aku akan berkunjung saat libur. Kita berdua akan ke sana."
Balasan Jean membuat Lotta memekik senang dan memeluk Jean erat. Namun belum sedetik, Lotta bergeming.
Sejak kapan kakaknya memakai parfum semenyengat ini? hingga akhirnya beberapa detik berpikir, Lotta paham. "Onii-san kau harus membawa obatmu kemana-mana. Kapan periodenya akan datang?" tanya Lotta.
Bau kakanya seperti cokelat, manis sekali. Lotta sangat suka, ah, baunya juga tercampur dengan bau apel. Walaupun Jean merokok, bau tembakau dari rokoknya justru tertelan begitu saja oleh aroma manis cokelat dan apel.
Jean hanya mengangguk saja. Ia orang yang cukup waspada, obatnya tidak pernah absen di saku sama seperti kotak rokoknya. Sebenarnya badannya akhir-akhir ini sering kelelahan, berujung ia sering memeriksakan diri diam-diam.
Ia selalu waspada, takut jika Nino mengikutinya tentu saja. Sebagai omega ia tidak boleh terlalu lama membiarkan dirinya melalu heat seorang diri. Singkatnya, dokter mengatakan ia membutuhkan seorang alpha walaupun Jean tidak terlalu membutuhkannya.
"Lotta, kau tidak akan marah jika aku memiliki seorang alpha?"
Lotta yang baru saja melepas pelukannya pada Jean dan beralih meletakkan piring berisi lauk di atas meja hanya menggeleng dan tersenyum lebar, "Tentu tidak, Bukankah seharusnya memang begitu? Cepatlah mencari pasangan!" seru Lotta semangat dan tak lupa, mengangkat sendok supnya tinggi-tinggi.
Jean terkekeh kecil. "Kau tidak ingin mengenalkanku pada seseorang?"
Lotta mengedikkan bahu dan mendudukkan diri di depan Jean. "Tidak, kenalanku tidak banyak. Nino itu alpha bukan? kenapa tidak dengan Nino saja? Nino sudah menolak ku waktu kecil ketika mengajaknya menikah. Jadi kalau Onii-san mengambil Nino, aku tidak masalah. Setidaknya alpha Onii-san baik dan dekat padaku" ucapnya setengah cemberut.
Seketika Jean tersedak. "Kau bercanda."
Setelah melempar senyum jahil, Lotta lantas mengangkat sendoknya dan menodongkannya pada Jean dan berkata, "uh? Tidak, apa salahnya? coba saja. Nino baik. Selama mengawasi kita dia tidak pernah menyentuh Onii-san. Bukankah Nino sering menolong Onii-san ketika dalam masa heat?"
Jika di pikir-pikir, perkataan Lotta ada benarnya. Statusnya sebagai omega banyak memiliki kendala. Pertama mengalaminyapun, ia kewalahan. Saat itu hanya ada dirinya dan Lotta di apartemen, semuanya terjadi begitu cepat. Suhu badannya naik dan pikirannya berkabut.
Lotta cemas, berakhir menelepon Nino dan yang di telepon langsung melesat menuju apartemen mereka. Jean masih ingat ketika Nino menatapnya tanpa bergeming hingga akhirnya menggendong dirinya dan menguncinya di kamar setelah meminumkannya obat pereda heat.
Sejak saat itu, Nino mewanti-wanti dirinya untuk menyediakan obat di dalam saku hingga tas. Antisipasi, Nino bahkan ikut membawa obat juga didompetnya dan membuat nomor ponselnya menjadi nomor darurat di ponsel Jean.
Jean kembali bergeming, Nino memang melakukan banyak hal. Dan itu terlalu banyak walaupun ia berkata hanya mengawasinya saja sebagai tugasnya.
Belum lagi insiden di Furawau, Nino tertembak karena melindunginya. Nino juga tak jarang membantunya meredakan heat dengan aura alphanya, atau menolongnya ketika kondisinya tidak memungkinkan.
Namun baru saja ia akan berpikir lagi tentang ini Lotta membuyarkannya memaksa Jean cepat-cepat menghabiskan makanannya.
.
.
.
.
.
.
.
Bādon pada pagi hari sudah cukup ramai. Setelah menyelesaikan sarapannya, Jean kembali pada rutinitasnya yang seperti biasa. Ia berjalan santai melewati jalanan kota yang sudah mulai padat, lantas ia merogoh sakunya dan mengambil kotak rokok.
Semua orang memandangnya seperti melihat sesuatu baru yang langka, padahal Jean hanya mengambil rokoknya, mengapitnya di bibir, dan mengeluarkan pematiknya.
Oh benar, rokok menjadi sesuatu yang langka karena harganya sekarang. Tidak heran lagi, Jean tidak akan heran lagi. Walaupun wajahnya nampak tak peduli ia bisa menyembunyikannya rasa herannya dengan baik.
Jean sangat suka udara pagi, Jean juga suka sesuatu yang sederhana. Maka pemandangan kota sudah cukup menghiburnya. Jean juga bukan seseorang yang menunutut banyak hal, ia menerima semuanya dengan baik. Jean tak banyak protes. Ia menikmati hidupnya, ia bersenang-senang.
Sekagi tungkainya melangkah, ia kembali berpikir akan saran adiknya. Jean paham, Lotta sangat menyayanginya, Jean juga sangat menyayangi adik perempuannya itu walaupun rautnya terlihat malas dan tidak peduli akan hal itu. Lotta adik yang baik, perangainya lugu dan pengertian. Diam-diam Jean merasa seperti bersama sang ibu jika berdua dengan adiknya.
Tahu umurnya akan memendek jika tetap melalui heat sendirian, Jean merasakan sesak didadanya. Tentu dia tidak akan mau meninggalkan adiknya sendirian.
Jean membutuhkan seorang alpha, cinta bisa datang karena terbiasa, bukan begitu? Seumur hidupnya ia pernah berpikir jika ia menyukai Jendral di tempatnya bekerja. Jendral Mauve adalah wanita terhormat, tingkahnya anggun, pola pikirnya juga sangat bagus. Sikapnya sungguh bijak, berhati-hati. Laki-laki menapun mengharapkan Jendral Mauve untuk menjadi pasangannya.
Jean kira ia menyukainya.
Setelah mendengar Jendral Mauve menjalin hubungan dengan mantan Kepala Grossular, ia merasa sedikit terganggu. Jean pikir karena rasa terganggu itu, ia menyukai Jendral Mauve.
Namun setelah acara minum berakhir mabuknya bersama Nino, Ia sadar hanya mengagumi Jendral berwawasan luas itu. Jean hanya merasa terganggu karena mereka menggosipkan kedua orang yang ia kagumi seperti itu.
Kehidupan romansa Jean sangat datar. Ia tak pandai bersosialisasi saat sekolah, temannya hanya Nino. Hanya Nino pula yang bersedia berada disampingnya walaupun ia terlampau diam dan cuek. Nino menemaninya, benar-benar menjadi temannya yang baik walaupun ia seorang omega.
Walaupun omega, Jean orang yang tangkas. Ia di akui. di kantor pusat ACCA, tak ada omega selain dirinya. Teman satu divisinya di kantor pusat semuanya adalah beta, Ketua Oulu hanya menjawab ia beta walaupun Jean lebih tidak percaya dan berpikir jika atasannya itu seorang alpha. Kemampuannya membuat deskriminasi antar status sirna seketika. Siapa yang berani berurusan dengannya? sebelum darah birunya menjadi rahasia umum di ACCA, tak ada yang berani membuat urusan dengannya.
Selain tangkas, Jean sadar dirinya tak mudah di tebak. Itu yang membuat orang lain menjaga hubungan baik dengannya selain karena ia berpikiran tajam.
Sudah banyak kasus yang ia bongkar dan selesaikan. Cukup membuat namanya di waspada banyak orang.
Akhirnya Jean hanya menghela nafas. Ia membutuhkan alpha. Nino adalah pilihan terakhirnya, tapi apakah Nino bisa menerimanya?
Lantas Jean tersenyum miring. Ia menunduk memperhatikan lankahnya yang mulai memasuki kawasan kantor pusat ACCA.
'heh, jika memang Nino tidak akan keberatan, kenapa Nino tidak menyerang ku saja dari dulu?'
Jean memang orang yang egois.
.
.
.
.
.
.
.
"Knot, tolong siapkan dokumen yang di kirim dari distrik Fāmasu."
"Ha'i!"
Ah Jean lelah, kenapa ada begitu banyak berkas yang harus diperhatikan? kenapa surat permintaan pemindahan tugasnya tidak pernah terjawab?
Ia lantas memijat keningnya pusing. "Aku bisa mati muda."
Hening seketika, Kelly yang tadi sibuk dengan sekotak kue untuk dibagikan kini memandangnya tidak percaya. Begitu pula dengan Knot, Atori dan Moz.
Ini terlalu lama, akhirnya karena penasaran kenapa anggota divisinya yang biasanya tak bisa diam kini menjadi sangat diam, ia mendongakkan kepalanya. Menatap mereka semua dengan wajah malas dari sepasang kelereng biru. "Apa?"
Moz seketika histeris, ia meraih Atori yang sudah seperti kehilangan nyawa dan memeluknya. Kelly juga ikut bersama mereka berdua.
Knot tertawa, "Hei, berhentilah kalian. Wakil Ketua hanya mengeluh. Yah walaupun kami sedikit kaget karena kau sejauh ini, bersama kami, tidak pernah mengeluh."
Atori yang sudah tersadar dari syoknya mengusap wajahnya, kemudian menyatuhkannya di depan dada. "Wakil Ketua, sepertinya kau memang perlu pasangan!" serunya sambil memejamkan mata, berlagak seperti orang yang tahu segalanya.
Moz dan Kelly mengangguk setuju.
"Kau terlalu lama melajang!"
"Kami akan membantu mencarikan alpha dan beta untuk kencan buta!"
"Wakil Ketua, kau melewati banyak hal! kami akan membantumu."
"Lotta-chan pasti sangat bersedih karena kau masih lajang!"
Ketiganya menggebu, Knot hanya memandang Jean penuh rasa bersalah. "Sudalah kalian, Wakil Ketua hanya merasa lelah, bukan begitu?" ucapnya berusaha meredakan kehebohan tiga gadis tadi.
Manik biru Jean berkilat penuh humor, "Knot, biarkan mereka seperti itu dulu. aku benar-benar butuh hiburan."
Astaga, Knot menepuk keningnya tidak percaya.
Lantas ketiga gadis itu makin lancar membuat rencana kencan buta untuk Wakil Ketua mereka, tak lupa melihat daftar kontak di ponsel mereka dan memikirkan yang mana setidaknya cocok dengan bos mereka.
"Ah, tidak. Tidak. Wakil Ketua terlalu baik untuk orang ini!"
"Ku rasa orang ini tidak bisa menyaingi Wakil Ketua. Dia kan bodoh. Bos kita terkenal pintar."
Setelah beberapa menit berceloteh yang membuat Jean sedikit terhibur dan Knot yang seketika ingin membenturkan kepalanya pada tembok terdekat, mereka menyerah. Ketiganya tepar di meja dengan nyawa imajener melayang-layang di udara.
Pusing.
Wakil Ketua mereka terlalu sempurna.
Namun Jean yang baru saja akan melanjutkan kembali pekerjaannya setelah Knot menyerahkan berkas yang baru saja di cetak, terhenti ketika Kelly memukul meja. Matanya yang tadi kosong karena menyerah, kini kembali berkilat sempurna.
Jean tersenyum miring, sepertinya si surai hijau ada rencana untuknya.
"Kalian ingat Lotta-chan pernah bercerita tentang teman Wakil Ketua?" ia menaikkan sebelah tangannya, jari telunjuknya menghadap atas.
Moz mengangguk, Atori yang memang suka lelaki tampan langsung semangat, ia berkata, "Yang rambutnya biru itu bukan? yang ada di album foto milik Lotta-chan? Wah dia tampan dengan kacamatanya."
Jean tersedak liurnya sendiri. Bagaimana pula mereka bisa mengetahui wujud Nino?
"Sepertinya cocok dengan Wakil Ketua. Dia pasti alpha!" seru Moz, "ne, ne, Wakil Ketua! ayo hubungi temanmu itu untuk kencan buta!"
Astaga cepat sekali mereka menyimpulkan sesuatu. Jean sampai bertambah pusing, harusnya dari tadi ia mengikuti alur yang disediakan Knot, Bukannya membiarkan mereka.
Hingga akhirnya wajahnya kembali datar, memandang malas semuanya dan berkata, "Nah, ayo kembali bekerja." dan mengecek dokumennya kembali.
"WAKIL KETUA!"
"astaga, berhentilah. Aku akan menghubunginya nanti. Jadi selesaikan pekerjaan kalian sekarang" balas Jean tanpa memandang mereka.
"Wakil Ketua! lakukan sekarang!"
"Ayolah!"
"Knot bantu kami!"
"Wakil Ketua, semangat!" Knot akhirnya pasrah dan mengikuti jejak tiga gadis di belakangnya.
Jean mendengus sebentar, tak ada pilihan lain. Bertingkah tidak peduli pun percuma, tiga gadis itu akan merusuh. Kemudian ia meraih ponselnya di saku celana, mengotak-atik sebentar dan mendekatkan ponselnya pada telinga setelah menemukan kontak milik Nino dan mengaktifkan loudspeaker agar mereka bisa mendengar.
Setidaknya Jean cari aman agar mereka diam dan tidak ribut lagi.
Ia membuat gestur telunjuk di depan bibirnya, menyuruh tiga gadis itu diam selama ia berbincang dengan Nino.
"Halo? Jean?"
Jean terdiam sebentar, sedikit ragu. "a-ah, Nino. Aku menggangumu?"
"Tidak. Ada yang kau perlukan?"
Jean kembali mengingat ucapan Lotta. Kenapa Nino masih sangat perhatian padanya? semuanya sudah selesai. Ini memberikan respon aneh pada diri Jean. Selama ini ia tak pernah sadar dan menganggap semuanya biasa aja. Namun setelah memikirkan ulang perkataan Lotta cukup membuatnya berpikir lagi.
"Jean? kau baik-baik saja?"
Sadar mengacuhkan Nino, Jean kemudian tersadar dan membalas, "Aku baik-baik saja. aku ingin bertemu untuk makan siang bersama, kau mau?"
kekehan terdengar nyaring di sebrang sana, Nino tertawa. "Ku kira kau akan mengajakku minum" candanya.
Jean tersenyum tipis, "Nanti saja, periodeku datang sebentar lagi. Kau tahu bukan?"
"Yah, Satu minggu lagi. Baiklah, di tempat biasa. Sampai jumpa."
"Baiklah, sampai jumpa." Sambungannya terputus, perjanjiannya selesai.
Jean langsung mengalihkan pandangannya pada rekan kerjanya. "Kenapa kalian seperti itu?" tanyanya heran ketika mendapati Moz yang menutup mulut Atori dan Kelly dengan kedua tangannya, Atori yang menutup mulut Knot, Kelly yang menutup mulut Moz.
Tidak ada jawaban.
"Dan sampai kapan kalian akan seperti itu?"
Akhirnya mereka melepas tangan mereka. Kelly, Atori dan Moz senyum lebar, mata mereka menyipit senang. Berbeda dengan Knot yang hanya tersenyum tipis, "Aku tidak tahu, jangan tanya aku. berhati-hatilah Wakil Ketua. Mereka sepertinya merencanakan sesuatu."
Belum sempat Jean menanggapi, mereka berteriak penuh kesenangan dan berkata kompak, "SELAMAT WAKIL KETUA! KAMI MENUNGGU BAYI-BAYI LUCU DARI KALIAN!"
Memalukan. Memalukan.
Jean menutup wajahnya dengan telapak tangan kanan. Sudah terlampau malu.
.
.
.
.
.
.
.
Nino memutuskan sambungannya duluan. Mempertahankan ketenangan rasanya percuma. Jean tidak pernah menghubunginya duluan hanya untuk meminta makan siang bersama.
Selama ini ia yang selalu duluan menghubungi.
Perasaannya campur aduk. Perasaan absurd ini benar-benar menginvasi tubuhnya. Jantungnya berdebar, perutnya seperti akan meledak, darahnya naik ke wajah. Memalukan, untung saja dia bisa mempertahankan suara tenangnya saat berbincang dengan Jean.
Menyukai Jean bertahun-tahun itu luar biasa, hidupnya yang datar menjadi tidak datar, hidupnya yang abu-abu berubah menjadi banyak warna. Awalnya ia hanya ingin berteman, kemudian entah bagaimana ia berkahir menyukai Jean dalam konteks romantis.
Nino membuang nafasnya kasar, "Astaga, aku benar-benar akan di kutuk. Tuhan ampuni aku, ayah ampuni aku, Tuan Putri Schnee ampuni aku, Tuan Karl Otus jangan menghantuiku. Aku benar-benar menyukai Jean."
Sepertinya, Nino sudah benar-benar gila.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Hai! lagi senang banget sama ACCA 13-ku kansatsu-ka :D
Ini awalnya oneshoot, cuma kayaknya harus jadi di bagi dua part karena terlalu panjang.
Saya masih baru dalam tulis, menulis. asli ini hanya untuk menambah asupan karena menurutku Nino-Jean itu kurang banget :'(
Gak puas saya :(
Please, Review? :D
Ah ngomong-ngomong, plotnya gak jelas ya? gak sesuai judul juga kayaknya. ahahaha :') maaf, hanya ini yang terlintas begitu saja setelah nonton mereka lagi.
