Before I start this. Thank you so much for reading my fanfiction. This is the first time I publish fanfic. I am glad, really :D
And next, I can see readers from another country is pretty much here. Do you agree if I make English translation? please review :D
And then, without further ado, let's begin
(Sebelum saya mulai, terima kasih banyak karena udah baca fanfic saya. Ini pertama kali saya posting fanfic saya. Saya seneng banget, bener :D Selanjutnya, aku liat pembaca dari negara luar cukup banyak. Apa kalian setuju kalo saya buat translate inggrisnya? tolong review :D lalu, tanpa basa-basi lagi, mari mulai)
Chapter 7:Bukan Sempurna Untuk Sebuah Pertemanan
"Tadaimaa" ucap Yui masuk ke rumahnya
.
"Okaeri, onee-chan" jawab Ui. "Bagaimana sekolahnya onee-chan?" tanyanya
.
"Jika diceritakan, aku merasa seperti murid baru, aku tidak kenal teman sekelasku kecuali Ritsu-chan dan Mugi-chan. Ketika aku masuk kelas, aku langsung diserang teman-temanku, mengenai perban di kepalaku ini" jelasnya
.
"Heee, lalu bagaimana dengan klubmu?"
.
"Itu parah sekali Ui, mereka tidak latihan sama sekali, hanya makan kue dan minum teh" jawabnya.
.
Mendengar penjelasan kakaknya ia hanya tertawa kecil. 'Kuharap tidak akan ada masalah' batinnya
.
.
.
Setelah ganti baju dan menaruh tas dan gitarnya di kamar. Yui pergi ke dapur untuk bergabung dengan Ui.
.
"Ada yang bisa kubantu Ui?" tanya Yui
.
"Onee-chan, aku baik-baik saja. Onee-chan bisa menunggu di meja" jawab Ui
.
Yui menggeleng. "Tidak-tidak, aku harus melakukan sesuatu" bantah Yui
.
"One-"
"Ui..." Yui memotong pembicaraan adiknya. "Huft..." desahnya. "Ui, terima kasih perhatiannya, tapi aku tidak bisa melihat dirimu mmelakukan ini sendiri"
.
"B-baiklah jika begitu... tolong jaga ini agar tidak gosong, aku harus menyiapkan sayurnya." Kemudian Ui menyerahkan sodetnya pada Yui dan membiarkannya menjaga masakannya agar tidak gosong.
.
Ui sesekali memperhatikan kakaknya yang sedang membantunya itu, memastikan jika masakannya aman. Tapi mengejutkan, Yui bisa menjaga masakannya
.
.
.
"Terima kasih makanannya" ucap Yui dan Ui
.
"Onee-chan luar biasa" puji Ui
.
"Apanya? Aku hanya mengaduk masakannya saja kok"
.
"Tidak tidak, biasanya onee-chan pasti akan menggosongkan masakannya" jawab Ui lurus pada kakaknya
.
"Ugh, itu terdengar menyakitkan" jawab Yui
.
"Ehehe, gomen, gomen"
.
"Ui, aku dengar dari Nodoka jika kamu selalu merawatku sejak orang tua kita sering bepergian, apa kamu tidak lelah?" tanya Yui
.
Ui menggeleng. "Sebaliknya onee-chan, aku senang bisa melihat senyum-mu ketika memakan masakanku"
.
"Ui adalah orang yang unik ya. Jika kau punya pacar aku yakin ia akan bahagia bersamamu"
.
"Onee-channn!" ucap Ui malu
.
"Hahahah, gomenasai" ucap Yui sambil mengambil barang dari kantungnya. "Ui, terima kasih telah merawatku selama ini" sambil memberikan gantungan tas yang terukir disitu Yui & Ui. "Terima lah, memang tidak mahal, apalagi berkelas, tapi-"
.
"Arrigatou onee-chan!" Ui tiba-tiba memeluk kakaknya.
.
"Ui.." kemudain ia membalas pelukkan adiknya itu
.
.
.
"Permisi, apa Nodoka-chan ada?" tanya Yui pada salah satu murid kelas 2-1 yang di luar kelas
.
"Nodoka-chan? Ahh sebentar ku panggilkan" kemudian ia masuk ke kelas memanggil Nodoka
.
Pagi ini Yui sengaja ke kelas Nodoka untuk menemuinya, ia ingin memberi hadiah pada Nodoka seperti yang ia lakukan pada Ui
.
"Ara, Yui, ada apa pagi-pagi kesini?" tanya Nodoka yang baru keluar kelas
.
"Bukan sesuatu yang mendesak kok, aku hanya ingin memberimu ini" Yui memberikan gantungan tas dari sakunya pada Ndodoka, sama seperti Ui hanya saja kini tertulis Yui & Nodoka
.
"Arrigatou.. " ucap Nodoka sambil tersenyum. "Tapi mengapa tiba-tiba?" tanyanya
.
"Hanya sedikit ucapan terima kasihku, selama ini aku telah merepotkanmu, arrigatou Nodoka" jawabnya
.
"Huft.." Nodoka menghembuskan nafas. "Sama-sama Yui"
.
"Ngomong-ngomong, apa Mio sudah datang?"
.
"Ia belum masuk ke kelas"
.
"Begitu,, baiklah Nodoka, aku kembali ke kelas!" ucap Yui sambil melambaikan tangannya dan pergi menuju kelasnya
.
'Yui.. Aku penasaran bagaimana ketika ingatannya sudah kembali' batin Nodoka, kemudian ia kembali masuk ke kelasnya
.
.
.
Bel sekolah berbunyi, tanda selesai sekolah. Yui, Ritsu, Mugi berjalan bersama menuju ruang musik
.
"Yui-chan bagaimana belajar gitarmu?" tanya Mugi
.
"Berjalan baik, aku sudah hafal semua chordnya" jawab Yui
.
"Tidak mungkin, dalam sehari?" ucap Ritsu tidak percaya
.
"Heheheh" Yui hanya tertawa garing
.
Sesampainya di ruang musik, sudah ada Mio dan Azusa di dalam
.
"Mio-chan, Azusa-chan. Konbawa" ucap Yui
.
"Konbawa" ucap mereka bersama
.
"Mio-chan, tolong ajari aku bermain lagu kita"
.
"Lebih baik pelajari chordnya dulu Yui, tidak perlu memaksakan dirimu" jawab Mio
.
"Ia sudah hafal semua chordnya" potong Ritsu mendadak
.
"Nani?!" ucap Mio dan Azusa berbarengan
.
Kemudian Mio menguji Yui dengan beberapa chord acak, dan Yui bisa melakukannya
.
"Luar biasa, semua dalam sehari?" ucap Mio tidak percaya
.
"Yui-senpai, aku tidak menyangka dia luar biasa" tambah Azusa
.
"Eheheh, tolong ajari aku, Mio-chan" pinta Yui
.
"Baiklah, kemari" ajak Mio
.
Kemudian Mio mengajari Yui bermain lagu band, ditemani Azusa sebagai tambahan untuk beberapa pengetauan umum Sementara Ritsu dan Mugi makan kue dan minum teh
.
"Sawa-chan kemana ya? Ia tidak pernah kesini sejak kejadian itu" tanya Ritsu
.
"Sensei mungkin sibuk.. kudengar klub orkestra akan berlomba bulan ini" jawab Mugi
.
"Begitukah?..". Kemudian ia melanjutkan makan kuenya
.
"Mugi.." panggil Ritsu pelan
.
"Ada apa Ricchan?" jawabnya, mendekat pada Ritsu
,
"Bagaimana menurutmu? Tentang Yui sekarang" tanyanya
.
"Yui-chan? Menurutku ia berbeda sekali dari sebelumnya, ia cepat belajar, dan tidak ceroboh" jawab Mugi
.
"Aku juga berpikiran sama" komentar Ritsu. "Huuuft" Ritsu menghembuskan nafas panjang. "Tapi ada hal yang harus dibayar untuk itu" tambahnya
.
"Eh? Aku tidak mengerti" Mugi memiringkan kepalanya
.
"Klub jadi terasa berbeda dari sebelumnya, sekarang aku tidak ada teman untuk bermain manzai" jelas Ritsu
.
"Ricchan..." ucap Mugi. "Jika dirasakan, kurasa kamu benar. Biasanya klub ini ramai sekali, melihat kalian berdua bermain manzai bersama Mio-chan" tambah Mugi
.
"Benarkan.." jawabnya. "Kuharap ia cepat kembali ke dirinya semula" ucap Ritsu
.
Kemudian terdengar suara gitar Fuwa-Fuwa Time yang dimainkan Yui
.
"Hebat sekali Yui, kau bisa memainkannya secepat ini" puji Mio
.
"Bagaimana bisa Yui-senpai? Apa kau ada rahasia atau semacamnya?" tanya Azusa
.
"Entahlah, aku bisa merasakan chord dari musiknya" ucap Yui
.
"Senpai, kurasa kamu memiliki kemampuan tala mutlak (perfect pitch)" simpul Azusa
.
"Benarkah?! Tidak heran kau juga bisa memainkan lagu Death Devil sewaktu training camp dulu" ucap Mio
.
"Jadi.. Yui sudah bisa menguasai lagunya?" tanya Ritsu yang mendekat bersama Mugi
.
"Hebat sekali Yui-chan, aku tidak menyangka jika kau memiliki bakat itu" puji Mugi
.
"Ini juga karena Mio-chan dan Azusa-chan mengajariku dengan baik" jawab Yui
.
"Sekarang, bagaimana jika kita berlatih bersama Yui, untuk menyesuaikan permainan kita" usul Mio
.
"Ide bagus Mio-chan" jawab Yui
.
Kemudian mereka berlatih bermain bersama
.
.
.
Jrengg..
Permainan Yui sangat baik untuk penampilan pertamanya setelah kehilangan ingatan
.
"Tinggal penyesuaian tempo saja, itu adalah hal wajar, karena ini saat pertamamu bermain bersama" jelas Mio
.
"Arrigatou Mio-chan" ucap Yui
.
"Ah, Mio-chan, Azusa-chan dan Yui-chan belum makan kuenya" Mugi teringat jika hanya mereka bertiga yang belum makan kuenya
.
"Ahh.. kau benar Mugi, mari Yui, Azusa" ajak Mio
.
"Baik senpai!" ucap Azusa
.
Semua, kecuali Yui kembali ke meja untuk makan dan minum teh
.
"Yui!" panggil Ritsu mengajaknya makan bersama
.
"Kau boleh ambil jatahku Ritsu-chan" ucap Yui, lalu ia kembali membaca buku tutorial bermain gitar
.
"Benarkah? Yey, Arrigatou!" ucap Ritsu dan bersiap memakan jatah kue Yui
.
"Hey Yui.. kau yakin tiak apa?" tanya Mio pada Yui
.
Yui menggeleng. "Terima kasih Mio-chan, aku baik-baik saja" jawab Yui, tetap fokus pada bukunya
.
"Yui.." ucap Mio. Kemudian ia memakan kuenya
.
Tidak terdengar suara apapun selain seseorang membalik halaman buku, dan suara dari benturan garpu pada piring kue. Mereka makan dalam keadaan sunyi. Sampai Azusa membukan pembicaraan
.
"Senpai.. apa kalian baik-baik saja?" Azusa merasakan hawa ruangan klub ini sedikit tidak nyaman
.
"Kami baik Azusa.." jawab Mio
.
"Apa yang kau bicarakan? Apa kami terlihat memiliki masalah?" tanya Ritsu
.
"Bukan begitu, Ritsu-senpai" jawab Azusa
.
"Gomenasai.. Azusa-chan" ucap Mugi
.
Azusa menggeleng. "Tidak apa-apa senpai" jawab Azusa
.
.
.
Hari semakin sore, anggota klub bersiap untuk pulang.
.
"Mugi-chan, biar kubantu" tawar Yui, ia ingin membantu Mugi membersihkan piring kue mereka
.
"Eh? Tidak perlu repot-repot Yui-chan" jawab Mugi. "Lagian kamu tidak makan kuenya" tambahnya
.
"Mugi-chan, kamu sudah sangat baik menyediakan kue untuk kami, setidaknya biar aku mencucinya" lalu ia mengambil nampan dari tangan Mugi dan menuju wastafel
.
"Baiklah Yui-chan, terima kasih bantuannya" lalu Mugi merapikan tasnya
.
"Sepertinya kamu akan dipecat dari posisi mencuci piring Mugi" goda Ritsu
.
"Ehehehe, kurasa begitu, setidaknya sampai ingatannya pulih" jawab Mugi
.
.
.
Yui, Ritsu, Mio, Mugi dan Azusa berjalan beiringan untuk pulang
.
"Jadi Mio, bagaimana setelah kau terpisah dari kami bertiga? Apa kau kesepian?" goda Ritsu pada Mio
.
"Apa itu? Jangan anggap aku anak SD ya. Lagipula aku sekelas dengan Nodoka. Kau tau itu"
.
"Akiyama ojou-sama jadi tidak merindukan kami huh?" lanjut Ritsu
.
"Tidak... tidak sama sekali. Lagipula, pasti kau selalu merepotkan Mugi mengenai PR-mu kan?"
.
"Gaaaahhh!" Ritsu terkejut. "Tega sekali kau mengatakan itu Akiyama ojou-sama.." ucapnya
.
Sementara Mugi hanya tersenyum melihat tingkah kedua sahabatnya
.
"Ritsu-chan, mencontek PR orang lain bukanlah hal yang baik, kau tau?" protes Yui
.
"Gaaahhhh!, virus Mio sudah menginfeksi Yui, segera selamatkan dirimu Mugi!, kau bisa tinggalkan aku!" Ritsu bermain manzai
.
Semua terhenti dan terdiam melihat akting Ritsu
.
"Ritsu-chan?... daijobu...?" tanya Yui perlahan
.
.
.
"Haaahh.. memalukan sekali melakukani hal itu" sesal Ritsu
.
"Jangan lakukan lagi" jawab Mio singkat
.
"Haaaahhhh..." Desah Ritsu. "Yui, selanjutnya adalah bagianmu tau.." ucap Ritsu lemas.
.
"Eh? Bagianku? Apa maksudnya?" tanya Yui
.
"Lupakan, bukan hal serius kok" selanjutnya ia hanya diam
.
Hening, itu yang dirasakan kelima anggota klub musik itu. Hingga sampai pada persimpangan tempat mereka berpisah
.
"Baiklah, sampai jumpa" ucap Ritsu dengan nada datar pada Yui, Mugi dan Azusa. Kemudian ia berbalik dan pergi menuju arah rumahnya
.
"Tunggu Ritsu!" Panggil Mio, yang Ritsu tidak tanggapi. "Minna, sampai jumpa esok" kemudian ia berlari menyusul sahabatnya
.
"Ricchan.." ucap Mugi
.
"Neee.. Mugi-chan, ada apa dengan Ritsu-chan?" tanya Yui dengan cemas
.
Mugi dapat menebak apa yang menjadi alasan dibalik tingkah Ritsu barusan. Namun ia tidak dapat memberitahunya pada Yui. 'Jika aku memberitahu Yui-chan, itu sama saja menyalahkannya atas sesuatu yang tidak bisa disalahkan padanya; batin Mugi
.
"Mugi-chan?" Yui melambaikan tangannya di hadapan Mugi, menyadari teman blondenya ini kehilangan fokusnya
,
"E- eh? Gomenasai Yui-chan" jawab Mugi tersadar dari pikirannya
.
"Daijobu?" tanya Yui
.
Mugi mengangguk. "Aku baik Yui-chan. Mengenai pertanyaanmu, kurasa Ritsu hanya sedikit kelelahan" Mugi menjawab dengan fakta, bahwa memang Ritsu terlihat sedikit lesu semenjak Yui kehilangan ingatan
.
"Apa jangan-jangan ia marah karena aku tidak melanjutkann boke-nya tadi? Ritsu-chan pernah berkata aku adalah partner manzainya" simpul Yui dengan cemas.,
.
"Yui-chan... Jangan terlalu dipikirkan, jika tidak pem-" Insting detektifnya membuat Mugi menghentikan kalimatnya. 'Aku tidak bisa mengatakan tentang pemulihan ingatan atau segala hal yang berkaitan dengan itu. Yui-chan berbeda dari sebelumnya, jika ia menyadari Ricchan tidak menyukai dirinya yang berubah...' Mugi menghentikan batinnya. Ia tidak ingin membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang akan dilakukan Yui.
.
"Mugi-chan? Ada apa?" tanya Yui
.
"Ahh, maaf, aku tiba-tiba teringat sesuatu.. Gomen Yui-chan! Sampai jumpa" kemudian Mugi berjalan cepat ke arah rumahnya
.
Sekarang tinggal Yui dan Azusa yang ada disana
.
"Maaf ya Azusa-chan, kamu harus melihat sesuatu seperti ini"
.
"Senpai, aku juga bagian dari klub musik. Lagipula semua ini awalnya adalah kesalahanku, jika saja aku tidak menyikutmu, mungkin hal ini tidak akan terjadi." Azusa menyesali perbuatannya
.
"Azusa-chan, berhentilah menyalahkan dirimu, jika aku tidak membuat masalah dengan kue tersebut pada saat itu" ucap Yui
.
"Tidak senpai, bukan disitu masalahnya, tapi.." Azusa menahan kalimatnya. "Senpai memberiku nama yang aneh, dan selalu memeluk diriku melawan keinginanku. Jujur saja itu menggangguku, oleh karena itu, hari itu aku menyikutmu, meski tidak sengaja"
.
"Azusa-chan.. benarkah itu? Mio belum menceritakan hal tersebut" Yui terkejut mendengar penjelasan kouhainya itu
.
"Iya senpai, tapi kurasa aku-" ucapan Azusa dipotong oleh Yui
.
"Azusa-chan, tenang saja, aku tidak akan melakukan hal itu lagi. Kau bisa pegang kata-kataku" ucap Yui dengan serius
.
Azusa hanya terdiam
,
"Ahh, soal Ritsu-chan dan Mugi-chan, Azusa-chan tenang saja" kemudian Yui berbalik, berjalan pulang ke rumah. "Sampai bertemu besok, Azusa-chan" Yui melambaikan tangannya
.
Azusa membalas lambaian tangan Yui. 'Senpai, aku ingin berkata jika aku tidak keberatan dipanggil dengan nama itu..' batin Azusa. 'Tenang saja dengan Ritsu-senpai dan Yui-senpai mengenai keadaanmu? Apa maksudnya senpai?' Azusa tidak menyukai perkataan Yui mengenai hal itu. Baginya kalimat itu membuat dirinya menjadi bukan anggota klub musik, atau setidaknya ada jarak antara senpainya pada adik kelasnya. Dan Azusa juga menyadari, semakin hari, perhatian senpainya pada dirinya tidaklah sama. Seperti saat ini, Azusa hanya bisa terdiam selama mereka jalan bersama.
.
'Bukannya aku tidak bisa berbicara, tapi kalian tidak memberikanku kesempatan' batinnya. Ia melempar masalah ini pada perubahan sifat Yui, yang artinya Yui tidak akan berlaku sama seperti sebelum ia kehilangan ingatan padanya.
.
'Panggilan Azunyan, dan pelukkanmu setiap hari, kurasa kini aku tidak keberatan dengan itu. Kedua hal itulah yang membuatku merasa menjadi bagian dari klub musik... Degan kedua hal itu aku bisa masuk dalam kegiatan kalian, aku bisa dilihat oleh kalian, dan mendapat tempat dalam keseharian kalian' batinnya
.
.
.
Sementara itu, Mio berjalan cepat mengejar Ritsu yang tiba-tiba pergi pulang. "Ritsu! Ritsu! tunggu aku". Ia terus mengerjar Ritsu yang tidak mempedulikan panggilannya. Karena tidak di dengar, terpaksa Mio berlari dan menangkap tangannya. "Ritsu! Kau mendengarkukan? Mengapa kau mengabaikanku?" tanya Mio
.
"Gomen, Mio, aku hanya.." Ritsu memotong ucapannya
.
"Kenapa?" tanya Mio khawatir
.
"Yang jelas, bukan karena dirimu, Mio" kemudian Ritsu melepas genggaman Mio dari tangannya. "Mari jalan bersama, ajaknya" kemudian ia mulai berjalan beriringan bersama Mio untuk pulang
.
"Ritsu, apa karena Yui?" tanya Mio, mencoba menerka pikiran sahabatnya
.
Ritsu hanya mengangguk kecil
.
"Aku mengerti perasaanmu, tapi haruskah kau melakukan itu? Yui kehilangan ingatan. Kau tidak bisa menyalahkannya atas hal tadi" ucap Mio, merujuk pada Yui yang tidak melanjutkan boke milik Ritsu
.
"Aku tau!" ucap Ritsu setengah berteriak "Aku mengetahui hal itu.." kini suaranya lebih pelan.
.
"Ritsu.." ucap Mio
.
"Aku orang yang buruk ya? Teman kita kehilangan ingatan, tetapi aku malah berpikir begitu" ucap Ritsu sambil tertunduk
.
"Tidak juga, wajar untuk kita bersedih karena teman kita berubah" ucap Mio, sambil berusaha menenangkan sahabatnya
.
"Mio, apa kau juga begitu?" tanya Ritsu
.
"Hmm, bagaimana ya? Ia rajin, tidak ceroboh, bisa mengurus dirinya sendiri dan tidak merepotkan.." ucap Mio
.
"Huh? Apa itu? Kau tidak ingin ia kembali?" tanya Ritsu mendekat ke arah Mio
.
"Tenanglah Ritsu" Ucap Mio mendorong Ritsu agar tidak terlalu dekat dengannya
.
"Tentu aku juga sama sepertimu" ucap Mio sambil menunduk. " Meski sedikit menyebalkan, tapi bersama dirinya setiap hari, selalu menyenangkan bagiku" ucap Mio dengan nada sedih
.
"Mio..." ucap Ritsu. "Semoga ia cepat kembali seperti semula" harap Ritsu
