Acca 13-ku Kansatsuka-ka (c) Ono Natsume

Mate to Soulmate (c) Elsoul59

Pair: Nino - Jean Otus

Warning(s): OOC, typo, Omegavers, BL/Yaoi/Sho-ai, bahasa, tidak sesuai EBI yang benar, Plot yang tidak jelas.

Enjoy!


.

Jam makan siang sudah di mulai. Jean mengusap wajahnya, diam-diam ia melirik pada Knot yang menatapnya prihatin. "Kalian serius ingin aku mengajak Nino kencan?" tanyanya tidak yakin.

Mau bagimana lagi, selama ini hubungannya dengan Nino tidak terbayangkan akan sampai pada tahap lebih, bahkan alibi karena Nino berteman dengannya untuk mengawasinya sebagai tugas adalah satu-satunya hal yang ia pikir cukup.

Dan mereka tidak mengerti ini.

"Dia tampan. Dia juga alpha, Wakil Ketua, kau harus melakukannya! Kalian sama-sama lelaki walaupun sedikit beda. Jadi tak masalah kalau kau yang mengajaknya duluan" tutur Atori santai, tangannya mrlambai bebas disertai kikikan keras darinya serta Kelly dan Moz.

"Jangan-jangan kau memang sudah menyukainya?" Moz berhenti tertawa, ia mendelik pada Jean penuh selidik.

Lantas Jean memutar matanya malas, "Tidak. Berhenti mengada-ngada."

"Huh? Wakil Ketua, jika aku menjadi dirimu sudah pasti aku akan menyukainya" Kelly menyahut penuh realistis. Atori dan Moz memgangguk setuju.

Baru Jean akan menanggapi mereka, Ketua mereka keluar dari ruangannya. Mata tuanya menatap mereka satu persatu sebelum mengeluarkan senyum khas yang sangat ramah.

"Sepertinya kalian berbincang dengan seru. Apa yang kalian bicarakan?" Oulu mengahampiri mereka, pria baya yang berstatus ketua departemen mereka menatap penuh hiburan.

Jean mengerang dalam hati. Tidak, ini memalukan. Astaga, ia tidak tahu kesalahan apa yang ia perbuat hingga masalah hubungan romantisnya harus di umbar seperti ini.

Knot menepuk meja pelan, mendahului Atori yang akan menjawab pertanyaan ketua mereka. Knot tahu gadis itu akan menjawan dengan sembarangan, ia mengerti Jean akan sangat-sangat terganggu dengan hal itu. "Wakil ketua hanya mengeluh karena tumpukan berkas, sir. Jadi kami berpikir mungkin sudah saatnya Wakil Ketua memulai sebuah hubungan lain, selama ini ia sibuk bekerja, bukan?"

Ah, Oulu mengangguk setuju. "Jean, sepertinya mereka benar. umurmu sebentar lagi menginjak tiga puluh tahun, bukan? kesehatanmu akan terganggu jika belum memiliki alpha" kata Oulu. Dalam hati tertawa kecil untuk membuat skenario seru antara Jean dan Nino.

"Sir, aku sedang berusaha untuk itu" balas Jean bimbang. Masih terus berpikir tentang Nino. Bagus sekali, Nino harus membayar mahal karena membuatnya berpikir terus menerus.

Oulu lantas tertawa, "Kau baru akan berusaha. Kelly, kau ada kenalan untuk Jean?" tanyanya menggoda. Ia mengerling jenaka pada Kelly.

Atori dan Moz bersorak heboh.

"Tidak, sir-" Kelly terkekeh, "-Wakil Ketua terlalu sempurna untuk alpha atau beta kenalanku, bukan begitu Moz? Atori?" ia mengedik pada dua temannya.

"Berlaku sama untuk kenalan kami juga, sir. Siapapun akan sulit mengimbangi Wakil ketua, dia jenius. Benar?" Moz mewakli Atori.

Atori, Kelly dan Knot mau tidak mau setuju dengan ucapan Moz.

"Jadi, kami berpikir mungkin yang bisa mengimbangi Wakil Ketua hanya orang terdekatnya. Lotta-chan pernah menunjukkan foto sahabat baik Wakil Ketua. Katanya Wakil Ketua hanya dekat dengannya, jadi kami pikir kenapa tidak jika mereka bisa berjodoh?" pendapat Atori di balas anggukan setuju.

Oke, Jean menutup matanya. Berusaha menulikan diri. Ternyata luar biasa, Jean yang malas berurusan dengan hal seperti ini seketika merasa perutnya terkocok dan wajahnya memerah malu tanpa bisa ia kontrol lagi.

Ia berdesir, dengan perasaan yang sungguh asing. Bahkan rokoknya ikut terabaikan karena Nino!

Nino yang selalu membantunya.

Nino yang selalu mengawasinya.

Nino yang luar biasa memperlakukannya, padahal tittle mereka hanya sebatas sahabat saja.

Ah Jean ingin menyiram kepalanya sekarang.

"-lagi pula, dia alpha. Bukannya sudah pas?"

Atori melanjutkan pendapatnya, semuanya setuju. Benar, Nino alpha dominan, bagaimana bisa menahan diri dengan baik saat berada dekatnya bahkan saat masa heatnya padahal mereka hanya sahabat. Bagaimana dia tahan?

"Ha'i, Ha'i. Aku akan ke sana sekarang, jadi berhenti mengoceh tentang Nino." Jean mematikan rokoknya, tungkainya bergerak, ia berdiri dan meraih mantel yang biasa ia gunakan. Setelah memperbaiki seragam kerjanya, ia melirik sebentar pada rekan-rekannya (dimana, tiga gadis itu mengacungkan kepalan tangan padanya dengan mata berbinar semangat) dan meraih knop pintu.

Oulu tertawa lagi, "Jean, pastikan besok kau sudah memiliki tanda di belakang lehermu" katanya bercanda dan di balas erangan kecil nan memilukan dari Jean.

"Anda senang melihatku menderita. Baiklah, sampai jumpa, aku akan kembali selepas makan siang."

-dan kemudian Jean melangkah keluar dan menutup pintu dengan sopan.


.

.

.

.

.

Masih dengan turtle neck hitam kesayangannya, Nino melangkah memasuki cafe setelah memarkirkan motornya. Dia akan bertingkah seperti biasa saja, dan akan sebagaimana biasanya ia berinteraksi dengan Jean.

Setelah mencari meja yang setidaknya gampang ditemukan Jean, Nino mendudukkan dirinya. Tungkainya mengetuk pelan sesuai tempo musik yang terputar pada cafe ini, kedua tangannya berada di atas meja saling bertaut. Mata elangnya mengobservasi sekitar.

Bukanlah kebohongan jika Nino benar-benar jatuh pada Jean. Cinta datang karena terbiasa itu bukan esapan jempol belaka, Nino mengalaminya dan seketika berhenti mencibir betapa menggelikannya kalimat itu. Menggelikan sekali. Apalagi mendamba jika Jean akan membalas perasaannya, ini lebih menggelikan lagi.

Nino spesies orang tau diri. Masih beruntung dirinya berteman dengan Jean. Nino benar-benar tak menuntut lebih dari pangeran itu.

Mengusap wajahnya sekali dan kembali pada posisinya semula, Nino menghela napas. Putri Schnee begitu cantik dengan sifat yang menantang, sekilas Jean memang mirip ibunya. Mulai dari warna rambut, mata hingga pola pikirnya yang tajam, untuk sikap dan tingkahnya berbeda, Jean hanya terlalu diam tapi di taraf keramahan yang sama seperti ibunya. Berbeda dengan Lotta, sikap dan sifatnya memang menurun dari putri Schnee karena jika Nino ingat, putri Schnee memang pribadi yang ceria dan polos. Surai Lotta hanya terlihat lebih keemasan daripada putri Schnee dengan iris yang sama seperti putri Schnee dan Jean.

Mereka berdua mirip putri Schnee, mungkin Jean adalah putri Schnee versi pria.

Aha, memikirkannya membuat Nino tergelak geli.

Bukankah dari banyak kalimat di atas Nino memuji visual Jean yang tampan namun cantik di saat yang sama? Jika saja matanya tak selalu memandang malas, sudah dipastikan Jean akan menjadi kelihatan lebih lagi.

Belum lagi, sifat asli Jean dan pola pikirnya. Seandainya ia bisa berpikir kotor tentang pangeran yang disembunyikan itu, Nino sudah akan bersiul menggoda dan memuji Jean.

Datar, tajam. Bukankah itu menantang?

Oh bagus, Nino akan membenturkan kepalanya sebentar lagi.

Astaga, apa yang baru saja ia pikirkan?!

"Aku gila."

Akhirnya Nino pasrah dan menelungkupkan kepalanya di antara tangan di atas meja.


.

.

.

.

.

Jarak cafe tempatnya membuat janji bersama Nino untuk makan siang tidaklah jauh dari tempat kerjanya. Mata birunya masih memandang datar sekitar, wajahnyapun minim ekspresi.

Berbanding terbalik dengan otak serta hatinya.

Pergelutan batin bukan hal yang menyenangkan untuk orang seperti Jean. Dia lebih senang langsung memutuskan sesuatu berdasarkan logikanya dan apa yang ia saksikan. Intinya, ia tipe yang tegas terhadap pikiran dan perasaannya.

Namun dihadapkan oleh kenyataan dirinya yang tak bisa hidup tanpa seorang alpha disisinya membuatnya meringis dalam hati. Pertimbangan terlalu banyak, Jean hidup terlalu santai selama ini. Statusnya sebagai omega selama ini tidak terlalu ia perdulikan, dia punya Nino yang selalu menjadi temannya tanpa memandang statusnya dan Lotta, adiknya yang sangat-sangat menyayanginya.

Jadi menurutnya, ia sebagai omega bukan masalah. Ia tangkas, organisasi sekaliber ACCA saja menerimanya dengan senang hati ketika melihat hasil tes miliknya yang luar biasa susah. Jean menyelesaikannya tanpa kesusahan, bahkan menjadi wakil ketua di departemen inspeksi dalam waktu singkat itu luar biasa. Jean sadar departemen itu sangat menariknya ketika tahu bagaimana cara kerja otak Jean yang tajam dan cepat, belum lagi ia orang yang berhati-hati pada hal apapun itu walau hal itu hal sepele.

Ah mungkin ini alasan permintaan pemindahan miliknya tidak juga di terima atau di balas. Ia terkekeh kecil, sepertinya departemen ini tak mau melepasnya.

Namun sayangnya, ia tetaplah seorang omega.

Sebagaimanapun orang-orang dari semua kantor cabang distrik atau orang-orang di kantor pusat menghormatinya, ia tetaplah seorang omega.

Jean membutuhkan seorang alpha.

Umurnya sebentar lagi menginjak tiga puluh tahun dan jika ia tetap tidak memiliki alpha disisinya, yang membantunya ketika heat, nyawanya tidak akan selamat.

Omega yang terlalu lama menangani heatnya seorang diri, umurnya akan memendek.

Memang saat ini belum terlalu parah, tapi tetap saja, Jean tidak bisa mengacuhkannya. Lotta hanya memilikinya, ia tidak bisa begitu saja meninggalkan adiknya. Belum lagi Nino,

Hei kenapa ia memikirkan Nino?!

Maksudnya -ah sudahlah, mau tidak mau Jean mengaku tidak bisa meninggalkan Nino begitu saja. Mereka berdua sama-sama sebatangkara.

Ah setidaknya Jean memiliki Lotta atau keluaga lain di kerajaan Dowa, tapi Nino?

Nino kehilangan ayahnya bersamaan ia dan Lotta kehilangan orangtua mereka. Sepertinya Nino juga lebih mencintai pekerjaan yang diteruskan ayahnya padanya untuk selalau bersama Jean dan Lotta.

Sejauh ini, Nino hanya bermain bersamanya dan Lotta, padahal Nino alpha.

Nino pernah berkata, tidak tertarik dengan kehidupan romantis. Pria yang ternyata lebih tua darinya itu mencintai hidup bebasnya. Nino tidak memiliki siapapun selain dirinya dan Lotta.

Seketika Jean merinding. Rasa takut sedikit menghinggapinya walaupun ia tangkis sekuat tenanga. Jika Nino menolaknya, Jean akan bagaimana menghadapi semuanya?

Jika ia mengatakan badannya tidak akan kuat lagi dan ia butuh alpha, apakah Nino akan menerimanya?

Tidak. Walaupun Nino menerimanya, itu sebatas karena Nino menjalankan kewajibannya untuk menjaga nyawa Jean walaupun Jean sudah berkata bahwa Nino boleh bebas melakukan apapun dan boleh memperlakukan Jean biasa saja sebatas mereka hanyalah sahabat akrab.

Jean tidak mau itu terjadi.

Nino tidak boleh berkorban lagi. Sudah cukup.

Jean kesal. Ia menjatuhkan rokoknya di tanah dan menginjaknya. Setelah memungut bekasnya ia membuangnya di tempat sampah dan meraih sapu tangannya untuk membersihkan tangan.

Tungkainya terus melangkah, jauh di dalam hati, ia menyayangkan nasibnya.

Jean tidak membenci alpha, orangtuanya sepasang alpha, teman akrabnya seoarang alpha juga. Ia juga tidak akan menyayangkan hidupnya walau harus hidup di bawah seorang alpha.

Bukan itu kekhawatiran terbesar Jean.

Bukan itu.

Kemudian langkahnya berhenti tepat di depan pintu kaca cafe. Jean memandang malas, matanya menemukan Nino yang duduk tak jauh dari pintu masuk dan melangkahkan kakinya masuk untuk menghampiri Nino setelah mendorong pintu kaca.

Jean juga takut ditinggalkan. Memangnya dia rela mengatakan Nino boleh memiliki pasangan hidupnya sendiri dan berfokus pada pasangannya saja?

Jean tahu, dia tidak akan rela walaupun pemikiran egois seperti ini sudah ia buang jauh-jauh.


.

.

.

.

.

"Yo, Jean."

Nino mengangkat tangannya sebelah ketika mendapati Jean berjalan mendekatinya.

Jean hanya mengangkat tangannya sebagai balasan. Ekspresinya tetap datar seperti biasa, membuat Nino terkikik sedikit. "Kau mengalami hal buruk hingga berwajah masam seperti itu?" tanya Nino bercanda. Ia mengisyaratkan Jean duduk didepannya.

Gelengan Nino terima. "Memang wajahku masam?" tanya Jean sambil mengernyit.

Nino mengedikkan bahunya, "Kita berteman sudah terlalu lama, kau terlihat memikirkan banyak hal. Masih memikirkan Direktur Jendral?"

Dan Jean memutar bola mata untuk membalasnya. Nino tergelak geli lagi, "akhirnya kau bisa memutar bola matamu!" serunya masih geli.

Ketika sadar Jean memandangnya dengki, Nino mengangkat kedua tangannya menyerah dan berakhir berkata, "Baiklah, maaf-maaf. Kau ingin memesan apa? Ah, bukankah kau akan membicarakan sesuatu hingga memanggilku ke tempat ini saat makan siang?"

Setelah memanggil pelayan dan menyebutkan pesanan mereka, Nino memperhatikan Jean yang diam dengan tangan kanan yang menopang dagu. Belum lagi, kedua manik biru Jean justru memandang malas keluar jendela kaca.

Sepertinya Jean memang sedang memikiran hal berat. "Ada apa? kau tahu, kita tidak bisa mabuk sekarang untuk membuatmu bercerita, kan?"

Seketika Jean mengalihkan pandangan padanya dan memasang seringai kecil serta memukul dadanya pelan.

Mereka tertawa kecil.

"Baiklah-baiklah, berhenti menatapku Nino dan ini bukan tengang Jendral Mauve. Beliau terlihat senang dengan Tuan Grossular, aku tidak lagi memikirkan itu sekarang."

Nino mengangguk paham, "Jadi?"

Kemudian Jena menaikkan sebelah alis dan mengedikkan bahu, "Aku hanya menganguminya. Jangan menatapku seolah-olah aku orang yang sedang patah hati" balas Jean dengki. Tangannya terlipat dua di dada dan sebelah kakinya menopang kaki yang lain, punggungnya juga bersandar pada kursi.

Nino melempar seringai, "Lalu apa yang membuatmu seperti ini, your highness?" tanyanya dengan nada menyebalkan.

Jena langsung melemparnya dengan korek. Nino terkekeh lagi.

"Hanya pusing memikirkan rekam medisku. Kalau kau bertanya kapan aku melakukannya, beberapa minggu yang lalu. aku diam-diam melakukannya-" Jean menunjuk Nino malas, "-karena aku tahu jika aku memberitahukan Lotta atau orang sekitarku tentang ini kau akan mudah menemukanku dan malah mengawasiku ketika memeriksakan diri."

Nino meringis ngeri mendengar ucapan tajam Jean yang seolah-olah mengatakan bahwa dirinya adalah stalker berdedikasi tinggi.

"Kau sakit apa?"

Jean menggeleng kecil, "Aku baik, ini hanya masalah sepele. Kau tenang saja."

Nino mengerutkan dahi, "Kau tahu, aku tidak mengenalmu untuk satu dua tahun ini. Berceritalah, biarkan pelayanmu ini berguna, pangeran." Nino menyelipkan nada bercanda, namun Jean merasa sakit mendengar candaan Nino.

Ia tahu Nino hanya bercanda.

Tiba-tiba semua hal tentang warisan ibunya menjadi tabu untuknya, apalagi jika itu keluar dari mulut Nino.

Benar, Nino hanya menganggapnya sekedar pangeran dari putri Schnee ibunya. Jean lantas menunduk, Nino memang menganggapnya temannya, tapi tak ada harapan lain untuk mereka bukan?

"Hei Jean, ada apa? berceritalah. Ada apa denganmu?"

Nino berhenti menggodanya, nadanya mulai terdengar serius. Jean menghela napasnya sebentar, "Mendengarmu menyebutku pangeran, yang mulia atau apapun itu membuatku kesal" ungkapnya jujur.

Lantas Nino terhenti, ia menatap Jean dalam. "Ada apa denganmu? sebelumnya candaanku yang seperti ini hanya angin lalu untukmu" desis Nino.

Jean mendelik sebentar, "Aku tak pernah menganggapnya angin lalu."

"Kalau kau kesal kenapa baru kau ungkapkan sekarang? kita teman bukan? kau selalu menanggapinya dengan wajah malas, bagaimana aku tahu jika kau kesal dengan candaanku."

Jean tahu, Nino marah padanya. "Kau marah hanya karena aku menanggapimu biasa aja ketika bercanda seperti itu dan baru sekarang memberitahumu jika aku kesal?"

Nino mengusap wajahnya, "Aku hanya berusaha agar kau tidak merasa tabu dengan apapun itu yang berasal dari ibumu. Kau pantas, kau tahu itu."

Nino mengalah, Jean mengeratkan cengkramannya pada ujung meja. "Aku hanya tak menyukainya."

"Kenapa? kau benci keluarga ibumu?"

Jean menggeleng pelan, ia mengalihkan pandangan. "Tidak, aku tidak membenci siapapun. Aku hanya merasa itu semua menyebalkan."

"Maaf, harusnya aku tidak bercanda seperti itu dari awal. Aku rasa tidak bisa ikut campur dengan apapun itu yang membuatmu merasa kesal dengan warisan ibumu." Nino menatapnya penuh maaf, Jean menjadi sesak.

Kenapa di depan Nino ia kesulitan menahan perasaannya?

"Kau tahu, aku suka memberimu banyak minuman agar kau bercerita padaku dan tidak menahannya." Nino terkekeh geli, "Jika memikirkan sesuatu dan merasa terganggu dengan sesuatu, kau harus mengungkapkannya."

Hanya anggukan yang Jean berikan. Tak lama pesanan mereka tiba, pelayan meletakkan semuanya di atas meja dan di tata rapi. Ketika pelayan itu beranjak pergi, Jean menatap Nino sebentar, sejenak ia berpikir, menimbang apakah ia akan memberitahukan Nino tentang tes kesehatannya atau tidak, setelah beberapa menit berpikir,

"Aku membutuhkan seorang alpha."

Kemudian Jean mengatakannya dengan nada yang sangat datar seperti biasanya sembari meraih garpu dan pisau untuk memulai makannya.

Dan Jean tahu, Nino saat ini sedang tersedak karena ucapannya. Kedua iris biru keunguan milik Nino menatapnya kaget.

Jean berkedip sebentar, "Apa?" tanyanya polos, harusnya Nino biasa saja mendengarnya kan?

Nino mengusap lagi wajahnya dengan kasar, "Selera makanku hilang, Jean. Katakan sekarang, kenapa tiba-tiba kau membicarakan seorang alpha ketika beberapa tahun belakangan kau bahkan malas membahasnya?" Nino bertanya penuh penekanan, ia menatap Jean intens, yang di tatap justru mengalihkan pandangan.

"hm, dokter bilang, jika aku tidak menyelesaikan heatku secara benar bersama alpha yang menandaiku, umurku akan memendek. Akhir-akhir ini, aku gampang lelah dan sering mimisan" terang Jean tanpa menatap Nino. Ia juga jadi tak berselera makan.

"Jadi kau ingin aku mengenalkanmu pada alpha?" tanya Nino pelan, namun Jean tak tahu apa yang Nino pikirkan saat ini. Bagaimana perasaan alpha itu?

Jean lantas menggeleng, sungguh bukan hal ini yang ia harapkan dari Nino. Manik birunya berpindah kepada Nino. "Kau sendiri? tak mencari pasangan?"

Nino tahu, Jean berusaha mengalihkan pembicaraan, ia tidak memperdulikan pertanyaan Jean. Ia tetap melotot pada Jean dan terus bertanya tantang penawarannya pada pria Otus itu.

Walau Nino tahu, ini menyakitkan. Apapun untuk Jean, nyawanya dan yang membuatnya senang serta aman, bukan begitu?

Dalam hati ia mendengus, ia mencap dirinya munafik seketika. Nino tahu ia menyukai Jean, dan barusan apa? ia menawarinya untuk mencarikannya alpha? aha! memalukan. Dalam hati ia mendengus dengki dan mengumpati dirinya sendiri penuh penghinaan.

"Jean, sekali lagi, kau benar-benar butuh seorang alpha? apakah harus ku carikan untukmu?"

"Hm? ku rasa Lotta punya beberapa teman beta dan omega. Kalau kau ingin memiliki pasangan."

"Mau ku carikan?"

"Teman kerjaku juga ada beberapa-"

"Jean."

"Nino."

"Jeaaaaan"

"Nino?"

Nino mendengus keras, "Oh astaga, betapa bodohnya aku."

Mereka berdua tertawa keras.

"Kenapa kau bersikeras mencarikanku pasangan?" tanya Nino di sela tawanya. Ia mencengkram erat garpunya.

"Kenapa pula kau ingin mencarikanku seorang alpha, pftt-" Jean mengalihkan pandangan dan menutup mulutnya dengan sebelah tangan, berusaha menahan tawa. Ya, mungkin. Nino memang tidak bisa. Harusnya Jean peka.

Nino akhirnya mengangkat tangannya menyerah, "Aku belum punya pasangan. Kalau itu yang ingin kau tahu. Kau ingin ku carikan alpha?" Nino mengulang pertanyaannya.

Bahkan makanan di depan mereka tak tersentuh, antara Nino yang berusaha keras untuk dirinya dan Jean yang merasa ragu akan dirinya.

Jean tidak menjawab, "Kau tertarik memiliki pasangan?"

Namun bagaimanapun Jean menyangkal dia tidak boleh egois atas Nino, ia tetap seperti itu.

Nino berusaha paham, Jean belum mau membahasnya. Dan sepertinya, ia mulai tak bisa mengendalikan diri.

Memangnya Nino bisa merasa tidak cemburu ketika melihat Jean menjalin hubungan dengan alpha lain? Benar-nenar munafik, tadi dirinya menawarkan mengenalkan alpha kepada Jean dan sekarang dia berpikir untuk membuka peluang untuk dirinya sendiri?

Wah. Harusnya dari awal Nino belajar lupa diri saja.

Akhirnya tanpa pertimbangan lagi, Nino membalas, "Ku rasa tidak. Mungkin akan ku pertimbangkan jika itu kau." nadanya setengah bercanda, walau hatinya berharap lebih, namun Nino tahu tak ada kesempatan.

Nino menyerah, belasan tahun bukan waktu yang singkat untuk Nino memendam perasaan. Semuanya selama ini selalu datar, selalu berjalan apa adanya, tanpa ada kekhawatiran Jean yang memiliki alpha, atau jatuh cinta pada seorang alpha (walaupun ia nyaris kebakaran jenggot ketika Jean curhat masalah Jendral Mauve padanya ketika mabuk).

Mereka berdua terdiam sejenak. Jean melotot sebentar, ia memandang Nino dengan sorot yang tak jelas, "Tunggu, kau bilang apa tadi?" tanya Jean pelan.

Ini bukan salah Lotta dan kawan-kawannya di departemen inspeksi. Hanya Jean yang terlalu lama sadar, hanya dia yang terlalu tidak peduli.

Nino melempar seringai menyebalkan, "Jika itu kau aku tidak masalah" ulangnya. Kedua maniknya menatap lekat Jean yang menutup wajahnya dengan tangan kanan sementara tangan kirinya masih mencengkram garpu.

Bolehkah Nino merasa senang ketika melihat rona yang menjalar hingga ke telinga Jean?

"Jean, kau bebas menyukai orang lain. Tapi sebelum semua itu, ku rasa, tidak etis jika selama ini aku hanya diam saja melihatmu. Awalnya-" Nino mengelus tengkuknya, "-aku memang berteman denganmu karena ayahku menyuruku. Aku tidak masalah untuk itu dan yah kita berteman. Namun semuanya berubah menyebalkan ketika kau, ketika aku mulai menyukai interaksi kita."

Jean bergeming, tak ingin menyangga, beberapa tahun belakangan, ia memang menikmati dan bahkan menyukai ketika menghabiskan waktu bersama Nino. Ia suka berinteraksi dengan Nino. Mungkin, mungkin saja, ia yang terlalu bodoh dan santai hingga tak memikirkan Nino lebih dari seorang teman. Tak ada kekhwatiran saat itu, Jean tak pernah berpikir sebelumnya bahwa Nino akan meninggalkannya suatu saat nanti ketika pria bersurai biru tua menemukan pilihannya. Dia egois dengan berpikir Nino akan selalu ada untuknya dan Lotta, walau sekali lagi, sudah ia tepis berkali-kali pikiran egois seperti itu.

Dia, bodohnya, baru sadar setelah berpikir keras seharian ini.

"Ketika kau beberapa hari sebelum orang tuamu meninggal, aku mencium aroma cokelat dan apel dari badanmu, aku tahu kau cepat atau lambat akan mengalami heat pertamamu-"

Mata biru Jean berkilat, "Makanya, saat itu kau memintaku dan Lotta untuk tidak keluar rumah selama beberapa minggu?" tanyanya.

Nino mengangguk, "Aku khawatir, saat itu aku sudah di beri mandat untuk menggantikan tugas ayahku. Aku sendiri ragu, apakah bisa menahan diri ketika saatnya tiba atau tidak. Jadi, ketika Lotta menelfonku dan melaporkan kondisimu, aku tidak berpikir panjang dan langsung menuju tempatmu dan Lotta. Kau bisa memujiku, aku masih bisa berpikir jernih ketika melihatmu." Nino memasang senyum masam yang menyebalkan. Dalam hati Jean meringis, sepertinya Nino benar-benar sangat di uji oleh Tuhan selama ini.

"Aku sadar, tidak mungkin merusak pertemanan kita. Perlu kau ketahui Jean, sesuka apapun aku padamu dalam konteks yang romantis, aku menghargai lebih pertemanan kita. Aku sadar, tidak lagi menganggapmu seorang pangeran yang harus ku awasi. Aku benar-benar mengharapkan pertemanan, walaupun perasaanku padamu lebih."

Jean merasa lemas mendengar perkataan Nino. Tak ada dipikirannya jika Nino menyukainya selama ini. Ia terlalu terjebak akan pertemanannya dengan Nino dan tanpa sadar itu menghambat Nino dan dirinya sendiri (persetan dengan warisan ibunya, namun sepertinya statusnya sebagai pangeran yang disembunyikan menjadi pertimbangan berat juga untuk Nino. Sekarang Jean sadar, ia merasa kesal ketika Nino memanggilnya dengan sebutan pangeran, dan sebagainya karena hatinya tidak ingin mendengarnya dari Nino.)

Dalam hati Jean mendengus lirih, membenarkan jika rasa tak sukanya akan warisan sang ibu hanya karena takut Nino menganggapnya sebatas pekerjaan saja. "Lalu kenapa kau bisa menahan dirimu setelah beberapa kali menghadapiku ketika heat?" Lantas Jean bertanya, pertanyaan yang seharian ini bergema dikepalanya . Mata biru Jean menatap piring di atas meja, tak berani menatap langsung pada Nino yang menatapnya lekat.

Namun si surai pirang tersentak ketika sebuah tangan yang dingin menyentuh jemarinya yang menggenggam erat sebuah garpu di atas meja. Ketika ia mendongak dan menurunkan tangan kanannya dari wajahnya. Betapa kagetnya ia mendapati Nino menatapnya dengan senyum tipis yang menawan.

"Bukankah sudah jelas? karena kita teman. Jean, pada akhirnya aku tetaplah seorang alpha, aku membenci statusku sebagai alpha ketika harus dihadapkan pada dirimu yang sedang heat. Aku jujur saja, kesulitan mengontrol diriku terhadapmu. Dan jika dengan hanya mengawasimu serta menahan diri pertemanan kita akan awet, aku tidak masalah mengacuhkan perasaanku padamu."

Jantung Jean, berdetak lebih kencang ketika jemari Nino menyelip di antara jemari rampingnya. Menggenggam tangannya hangat dan erat sesekali mengelus jemari Jean, seolah Nino tak akan melepaskannya, menghiburnya.

"Jadi, kau bisa memilih alpha manapun. Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu."

Maka hancur sudah pertahanan Jean. Ia menangis, seolah sesak di hatinya sudah lenyap digantikan hangat perasaan dari Nino. Walau buram, Jean dapat melihat Nino menatapnya penuh sayang. Dia tidak akan bisa meninggalkan Nino. Dia bisa terus bersama Lotta.

Tangan kanan Jean mengusap air yang mengalir sunyi di pipinya, "Aku egois sekali."

Nino tidak menanggapi. Ia hanya terus memberi senyum penuh kasihnya pada Jean, menenangkannya dengan elusan pada jemari ramping si pirang bermarga Otus.

"Aku selalu berpikir kau hanya berteman denganku karena tugas dari kerajaan."

"Aku selalu meragukanmu."

"Padahal aku sama sepertimu. Aku selalu menikmati waktu ketika kita berinteraksi."

Mendengarnya Nino meringis, "Hei, jika memang seperti itu, aku sudah meninggalkanmu dan Lotta ketika kau menyuruhku berhenti."

Benar kan?

Iris Nino dapat melihat Jean menggeleng pelan, matanya bergulir pada pipi Jean yang sedikit berisi. Air masih mengalir di pipi putih itu, walau beberapa kali sudah di seka oleh empunya.

Nino tahu, Jean orang yang tangguh. Dan seumur hidupnya, baru kali ini melihat Jean menangis. Bahkan ketika orang tuanya meninggal Jean tidak menangis sama sekali. Apakah sesesak itu perasaan Jean?

Apakah, selama ini tingkahnya menjadi beban untuk Jean?

Hingga akhirnya, setelah Jean berhasil menenangkan dirinya, "Apa kau akan cemburu jika aku memiliki seorang alpha?" tanyanya pelan. Iris birunya yang masih tergenangi sedikit air menatap Nino sama intensnya.

Nino tersentak mendengarnya, dia terkekeh pelan, tanpa melepas genggamannya pada tangan kiri Jean, sebelah tangannya menyebrangi meja untuk menepuk pelan pucuk kepala pirang Jean. Beruntung dia jauh lebih tinggi dari Jean. "Jika kau mengizinkanku untuk cemburu. Ya, tentu saja. Aku akan cemburu" jawabnya mantap.

Di sela tangisnya, Jean tertawa pelan namun sangat riang di telinga Nino dan mendengar nadanya, Nino merasa lega. "Apakah aku terlihat jelek ketika mengeluarkan emosiku seperti ini?" Jean bertanya lagi.

"Tidak buruk, lain kali kau ku buat menangis saja dari pada membuatmu mabuk" celetuk Nino bercanda yang di hadiahi lemparan kotak rokok dari Jean yang ekspresinya berubah datar lagi. "Ampun Jean! astaga kau mau membunuhku?"

Namun sedetik kemudian, Nino tersentak kaget ketika Jean berdiri dan menarik tangannya dari tangan milik Nino. Si pirang mendekatkan wajahnya pada wajah Nino dengan posisi setengah membungkuk serta tangan kanan yang mencengram turtle neck miliknya, menariknya pelan, dan berkata, "Kau tidak perlu membenci dirimu sebagai seorang alpha. Jika kau ingin tahu, aku sangat bersyukur kau seorang alpha. Dan jika aku berkata kau berhak cemburu padaku-"

Jean mendaratkan kecupan di pipi Nino yang masih diam mematung.

"-apakah aku berhak cemburu juga terhadapmu?"

Kemudian Jean melangkahkan tungkainya pergi meninggalkan Nino dengan iris birunya yang masih tergenangi sedikit air dan wajah yang memerah sempurna. Ekspresinya masih datar, namun semua orang yang melihatnya pasti bisa menebak jika wakil ketua departemen inspeksi itu sedang merasa senang.

Hanya sebuah bisikan lirih dari Jean, Namun efeknya luar biasa menyenangkan untuk Nino, pria Otus itu meninggalkan Nino yang mematung dengan wajah memerah tipis dan sebuah senyum bodoh.

.

.

.

.

.

.

.

End


Waw, astaga. ENDING MACAM APA INI?!

Ngomong-ngomong, saya masih menjanjikan epilog setelah ini. Demi menunjang asupan sendiri, saya pribadi sudah jelas tidak puas dengan kecupan kupu-kupu di pipi :v

Ya kan?

Ahahahahah :v

Dan, MAKASIH UNTUK Shinaoi-san! Makasih reviewnya! makasih udah singgah! WAH TERHARU :""""))) IYA MARI RAMAIKAN FANDOM INI!

Please, Review?

Elsoul59