Chapter 9: Pertengkaran Sahabat

Keesokan harinya, sepulang sekolah di ruang musik. Ritsu, Mio, Mugi dan Azusa sedang beristirahat setelah latihan. Sementara Yui membaca buku lanjutan tentang gitar.

.

"Minna, aku baru ingat, orang yang mengantarku ke rumah sakit. Apa ia guru disini?" tanya Yui yang sedang membaca di bangku panjang. Tidak ingin mengganggu kegiatan makan teman-temannya

.

"Ahh maksudmu Sawako-sensei? Dia adalah guru pembimbing klub ini. Sepertinya ia sedang sibuk dengan klub orkestra." Mio menjawab pertanyaan Yui

.

"Bukankah itu buruk? Dia adalah pembimbing klub musik. Namun ia lebih mementingkan klub orkestra. Apa klub itu tidak punya pembimbing lain?" Tanya Yui

.

"Sebenarnya.. klub musik adalah klub kedua yang ia bimbing" jawab Mio

.

"Souka?" kata Yui mengerti. "Sawako-sensei adalah guru yang cantik, ia juga berbakat jadi pembimbing ya.." kata Yui

.

"Ehehe, iya, begitulah" kini Mugi yang menjawab pertanyaan Yui. Ia tidak ingin terjadi pembicaraan panjang mengenai Sawako. Ia hanya tersenyum pada Mio, Ritsu dan Azusa yang menatapnya bingung

.

"Minna, apa akan baik-baik saja jika Sawako-sensei mengetahui kalian makan dan minum di klub musik?" tanya Yui, mengesampingkan keberadaan tea set yang sebenarnya aneh menurutnya untuk diperbolehkan di sekolah

.

"M-maa.. " Mugi tidak melanjutkan kalimatnya

.

Yui juga idak menanyakan kelanjutan dari kalimat Mugi. Ia berpikir jika pembicaraan itu tidak perlu dilanjutkan dan kembali fokus pada bukunya

.

Ritsu dan Mugi saling bertatapan. Dalam ekspresi Ritsu terlihat dirinya tidak bersemangat. Kemudian ia kembali memakan kuenya. Mugi khawatir mengenai keadaan Ritsu

.

Sunyi, tanpa canda dan tawa. Seperti ini keadaan klub musik sekarang. Sang pembuat masalah kehilangan ingatan dan sifatnya berubah, dan pembuat masalah lainnya tidak bersemangat mengetahui parter in crime-nya sedang 'istirahat' untuk sementara waktu

.

Dan dengan keadaan yang demikian, Mio tidak bisa memukul Ritsu seperti biasanya, atau mengomentari tingkah laku Yui yang ceroboh, aneh dan tidak wajar

.

Sementara Mugi yang biasanya hanya mengikuti suasana tidak dapat berbuat banyak selain tetap menyuguhkan teh dan kue pada teman-temannya

.

Dan Azusa sebagai adik kelas dan anggota baru juga tidak berdaya

.

Suasana terus begitu hingga kegiatan klub selesai hari ini. Bagi mereka berempat waktu berjalan lama dari biasanya

.

Setelah mencucikan peralatan makan mereka, Yui izin pulang duluan. "Minna, aku pulang duluan ya?" kata Yui

.

"Ada apa Yui? Biasanya kita selalu pulang bersama" tanya Mio

.

"Aku ingin berbelanja makan malam bersama Ui malam ini. Baiklah, sayonara" Yui melambaikan tangannya dan pergi dengan cepat

.

Tersisa mereka berempat di klub musik. Kemudian mereka berjalan beriringan untuk pulang bersama.

.

"Tebal sekali ya Yui" keluh Ritsu dengan wajah murung

.

"Sepertinya aku mengerti perasaanmu" jawab Mio. Dan memalingkan wajahnya ke arah Mugi untuk bertanya "Bagaimana menurutmu Mugi?"

.

"Tidak ada yang bisa kita lakukan untuk itu, selain bersabar sampai ingatannya kembali" jawabnya

.

Huuufttt mereka berempat menghembuskan nafas panjang

.

.

.

Keesokan harinya Ritsu tidak menghadiri klub musik. Di ruang musik hanya ada Yui, Mugi, Mio dan Azusa

.

"Jadi Yui, kemana Ritsu?" tanya Mio

.

"Dia bilang tidak enak badan, jadi dia pulang duluan" jawab Yui

.

"Anak itu.." ucap Mio geram. "Yui, aku tidak ikut klub hari inil, aku akan menjenguk Ritsu" ucap Mio yang dengan tidak sabar mengemas tasnya. "Sampai jumpa besok" ucapnya lalu menutup pintu klub

.

"Mio-chan khawatir sekali dengan Ritsu-chan ya.." ucap Yui

.

"Maa.. mereka adalah sahabat sejak kecil" tambah Mugi

.

"Begitu" ucap Yui pendek. "Kalau begitu, bagaimana jika kita berlatih? Mugi-chan? Azusa-chan?" ajak Yui

.

Akhirnya, tanpa bassist dan drummer mereka berlatih sore itu.

.

Sementara itu Mio berbicara dengan Ritsu di kamarnya

.

"Ritsu, apa kau harus bersikap begitu?" tanya Mio

.

"Aku katakan pada Yui jika aku tidak enak badan, apa dia tidak menyampaikannya padamu?"

.

"Dia memang berkata demikian, tapi.." Mio memotong ucapannya sementara Ritsu hanya memiringkan kepalanya bingung

.

"Kau tampak baik-baik saja" ucap Mio

.

"Ha?" Sebelum Ritsu melanjutkan perkatannya, Mio memotongnya

.

"Maksudku, kau bahkan belum berganti baju, kau tidak dikompres, kau tidak berselimut, kau tidak menggigil dan suhu tubuhmu.." Mio mendadak memegang dahi Ritsu "Suhu tubuhmu normal... Aku yakin kau tidak sakit Ritsu"

.

"Ap-apa maksudmu dengan semua itu? Dan kenapa kau memegang dahiku tiba-tiba? Kau menakutiku" ucap Ritsu menghindari pertanyaan Mio

.

"Ritsu.. Sudahlah, aku tau kau tidak nyaman dengan Yui kan?" tanya Mio

.

Ritsu haya terdiam menundukkan kepalanya

.

"Ritsu, apa kau lupa dengan diriku?"

.

"Apa maksudmu?"

.

"Apa aku temanmu?"

.

"Apa yang kau bicarakan? Tentu saja kau temanku!"

.

"Lalu, apa hanya karena kau asing dengan satu orang kau melupakan yang lain?" ucap Mio. "Ada aku, Mugi, dan Azusa.. Jika kau asing dengan Yui, maka kami bertiga juga bisa kau ajak bicara"

.

"Itu.." Ritsu terdiam, ia tidak mampu menjawab apa yang dilontarkan Mio kepadanya

.

"Jika kau sudah mengerti, maka kuharap kau akan kembali ke klub musik besok" ucap Mio, "Kalau begitu, aku pulang dulu" kemudian Mio berdiri dan hendak keluar dari ruangan Ritsu

.

"Mio!" cegah Ritsu

.

"Ada apa? Ritsu" tanya Mio

.

"Maaf merepotkanmu, terima kasih"

.

"Sama-sama" kemudian Mio keluar dari kamar Ritsu

.

Saat hendak berjalan pulang Mio menerima pesan dari Yui.

Yui: Mio-chan, apa Ritsu-chan baik-baik saja? Aku ingin menjenguknya, tapi aku sedang berada di toko buah

.

Kemudian Mio membalas pesan Yui

.

Mio: Ritsu baik-baik saja, besok ia sudah bisa kembali ke klub. Tidak perlu repot-repot mengunjunginya

.

Lalu Mio pulang ke rumah

.

Sementara itu Yui Mugi dan Azusa sedang berada di toko buah

.

"Mio-chan bilang Ritsu-chan baik-baik saja, dia juga bilang tidak perlu repot-repot mengunjunginya" ucap Ritsu

.

"Kalau begitu kita tidak jadi membelikannya buah" ucap Mugi

.

"Kalau begitu senpai, sebaiknya kita juga segera pulang" ucap Azusa

.

"Yap, kau benar Azusa-chan" jawab Yui

.

Kemudian mereka pulang

.

Keesokan harinya, di ruang klub musik

.

"Konnichiwa!" ucap Ritsu

.

"Konnichiwa, Ritsu-chan" ucap Yui pada Ritsu. "Bagaimana keadaanmu? Ritsu-chan?"

.

"Aku baik-baik saja, terima kasih sudah khawatir" jawab Ritsu

.

"Begitukah? Syukurlah" kata Yui

.

Kemudian seperti biasa Mugi membawa kue dan menuangkan teh untuk semuanya. Mereka duduk bersama, kecuali Yui, yang seperti biasa berlatih gitar sendirian di kursi panjang

.

"Yui, kau tidak makan kue?" ajak Mugi

.

"Terima kasih Mugi-chan, teh dan kueku kalian boleh mengambilnya" jawab Yui

.

"Hey Yui, tidak ada salahnya jika sesekali kau bersantaikan?" ajak Mio

.

"Jika sesekali memang tidak apa, tapi... bukankah kalian bersantai setiap hari?" tanya Yui

.

"Itu..." Mio tidak dapat menjawab Yui

.

"Kan?" lalu Yui fokus kembali pada gitarnya

.

'Jika dipikir lagi, biasanya aku yang berada di posisi Yui. Bukankah aku harusnya senang Yui jadi gemar berlatih? Tapi.. apa ini? Aku malah merasa kesal' batin Mio

.

"Lagipula Mio-chan, aku dengar dari Nodoka-chan jika kau yang selalu kerepotan mengajak kami berlatih. Lalu mengapa kau duduk dan makan kue sekarang?" tanya Yui tajam

.

Sebelum Mio bangkit dari duduknya, Ritsu mendahuluinya

.

"Hei! apa kau perlu berkata seperti itu? Yui!" ucap Ritsu dengan nada tinggi

.

Semua yanga ada disitu terkejut mendengar Ritsu marah untuk pertama kalinya, bahkan untuk Mio

.

"Jika kau mendengar dari Nodoka, harusnya kau juga tau jika dirimu selalu memberi kami masalah!" lanjut Ritsu dengan nada tinggi

.

"Tapi Ritsu-chan.. bukankah kau juga sama malasnya denganku?" tanya Yui lurus pada Ritsu

.

Mendengar Ritsu direndahkan, kini Mio yang berdiri dari duduknya. "Ritsu sudah menguasai drum sejak SMP, dia tetap bisa mengikuti walau dia sedikit bermain!"

.

Yui terdiam, kemudian ia berdiri menghadapkan wajahnya ke arah teman-temannya

.

"Aku bisa bermain gitar..."

.

"Aku berlatih setiap hari..."

.

"Aku berusaha untuk tidak membebani kalian..."

.

"Aku ingin bisa bermain bersama kalian..."

.

"Tapi kenapa? Apa aku salah...?"

.

"Bukan salahku aku kehilangan ingatanku..."

.

"Jika kalian tidak menyukaiku, bukan keinginanku, aku jadi seperti ini!"

.

Tanpa terasa air mata Yui menetes. Ia megusapnya dan berlari keluar ruangan setelah menjatuhkan gitarnya

.

"Yui-chan!" teriak Mugi

.

Sementara Ritsu dan Mio hanya membeku ditempat, Mugi berlari keluar mengejar Yui

.

Kini hanya Ritsu, Mio dan Azusa yang berada di dalam ruangan