Note:
English version will come soon
Chapter 10: Kembali
"Yui-chan! Matte!" teriak Mugi berlari mengejar Yui
.
Namun Yui tidak menghiraukannya dan terus berlari. Hal tersebut menjadi tontonan bagi mereka yang belum pulang ke rumah. Hingga akhirnya Yui berada di belakang sekolah. Di tempat dimana tidak ada seorangpun kecuali dirinya dan Mugi
.
"Yui-chan" Mugi berusaha mendekat
.
"Pergi!" teriak Yui sambil menutup kedua telinganya
.
"Yui-chan dengarkan aku!"
.
"Pergi, aku tidak mau mendengarmu!" ia kembali berteriak, tanpa melepas kedua tangannya dari kedua telinganya
.
"Yui-chan!" teriak Mugi
.
Kini giliran Yui yang kaget dan melihat ke arah Mugi yang matanya berkaca-kaca. Kemudian ia menundukkan kepalanya
.
"M-maaf.. aku berteriak-" tanpa disadari Mugi memeluk Yui dengan cepat
.
"Mugi..-chan?" panggilnya. Namun Mugi tidak menjawabnya. Kemudian tangis Yui pecah dalam dekapan Mugi
.
.
.
Sementara di ruang musik. Mio, Ritsu dan Azusa diam dalam keadaan canggung. Tidak ada suara hingga Ritsu berbicara
.
"Apa... yang kulakukan..."
.
Semua melihat ke arah Ritsu
.
"Dia tidak bersalah, kenapa aku melakukan itu?!" tanya Ritsu pada dirinya
.
"Aku... ketua yang buruk.." ucap Ritsu menyesali perbuatannya
.
Begitupun Mio, ia tidak dapat berkata apa-apa. Ia juga sama-sama merasa bersalah
.
"Bukan kau saja, aku juga sama..." ucap Mio
.
"Apa kita pantas disebut temannya?" lanjut Mio
.
"Senpai!" kini Azusa yang berbicara. "Kalian tidak perlu merasa bersalah. Wajar jika kalian merasa kehilangan seorang teman, dan hal itu terjadi" ucap Azusa lantang
.
"Tapi, kami menyakitinya" sangkal Ritsu
.
"Ritsu-senpai juga.. tidak kita semua juga merasakan sakitnya kehilangan sosok Yui-senpai"
.
"Azusa, lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Mio
.
"Kita harus selesaikan kesalahpahaman ini. Kita harus berbicara dengan Yui-senpai!"
.
"Tapi.. apa ia mau berbicara dengan kita?" ucap Ritsu ragu
.
"Tenang saja senpai.. aku yakin Yui-senpai akan mengerti. Karena semua ini, adalah bagian dari pertemanan kita" ucap Azusa
.
Mio dan Ritsu, keduanya tersentak kaget dengan kata-kata Azusa
.
"Benar juga, ini adalah bagian dari persahabatan kita, ini bukan akhir" ucap Ritsu
.
Mio mengangguk "Benar, kita harus meluruskan kesalahpahaman ini, juga untuk meminta maaf pada Yui" lanjut Mio
.
"Azusa.. arrigatou" ucap Mio dan Ritsu bersamaan
.
"Senpai..." ucap Azusa dengan mata berbinar
.
.
.
Tangis Yui sudah mulai mereda, membuat baju Mugi basah akan airmatanya
.
"Maaf, Mugi-chan, aku membasahi bajumu" ucap Yui sambil melepas dekapan Mugi
.
"Tidak masalah Yui-chan, nanti ini akan kering" jawabnya. Lalu mengusap mata Yui yang basah dengan sapu tangannya
.
"Apa yang harus aku lakukan... aku meluapkan emosiku pada Mio-chan dan Ritsu-chan... mereka pasti akan membenciku"
.
Mugi menggelengkan kepalanya. "Yui-chan, tenang saja. Mereka tidak akan membencimu"
.
"Bagaimana kau bisa seyakin itu?" tanya Yui
.
"Karena kita adalah teman" Angin berhembus bersamaan dengan kalimat tersebut. Meniup rambut kedua gadis itu. Lalu mereka berjalan beriringan menuju klub musik mereka
.
.
.
Sore itu, klub musik disinari oleh warna oranye dari matahari, Mio, Ritsu dan Azusa duduk di kursi mereka masing-masing. Mereka memikirkan kalimat apa yang seharusnya mereka ucapkan pada Yui nanti. Namun ditengah keheningan itu, terdengar suara pintu terbuka, menampakkkan wujud Yui dan Mugi di depan pintu
.
Mereka masuk ke dalam ruang klub. Suasana disana canggung, tidak ada satu orang pun yang memulai percakapan, sampai Yui berbicara
.
"R-Ritsu-chan, M-Mio-chan.." ucapnya gugup. "A-aku minta maaf... tidak seharusnya aku berkata seperti itu pada kalian" ucap Yui
.
Ritsu dan Mio berdiri berhadapan dengan Yui. "Tidak... kami yang salah, kau kehilangan ingatanmu dan sifatmu berubah. Kami tidak berhak menyalahkanmu"
.
"Tapi.. aku menyakiti kalian... Ritsu-chan, kau kehilangan teman manzaimu... Mio-chan, aku telah melontarkan kalimat jahat seperti tadi pada dirimu... Mugi-chan.. aku tidak memakan kue dan teh yang sudah kau berikan pada kami... Aku.. aku.." Yui kembali terisak
.
"A-aa! Yui-chan jangan menangis.." Mugi mencoba menenangkan Yui yang mulai menangis
.
"Yui.." panggil Mio lembut. "Semua yang terjadi, biarlah berlalu, aku tidak mempermasalahkan hal itu lagi" ucap Mio
.
"Mio benar, kau adalah teman kami, Yui. Apapun yang terjadi hari ini, itu adalah bagian dari kisah kita, perjalanan dari persahabatan kita. Walau dirimu berbeda sekalipun, kami tetaplah temanmu. Akan kami dukung sampai kau kembali pulih" lanjut Ritsu
.
Yui terperangah mendengar ucapan teman-temannya. "Minna.." ucapnya. Lalu ia menghapus air matanya dan berjalan memeluk Ritsu dan Mio. Lalu Mugi menyusulnya dan Azusa bangkit dari kursinya untuk bergabung. Mereka berlima berpelukan erat di bawah cahaya matahari sore
.
Tapi, mendadak Yui terkulai lemas dari pelukan itu
.
"Yui!" teriak Ritsu. Sambil menopang tubuhnya yang lemas itu
.
"Yui! Yui! Ada apa?" tanya Mio panik
.
"Yui-chan tunggu, aku buatkan teh hangat" lalu Mugi bergegas membuat teh
.
"Senpai duduklah" lalu Azusa mengarahkan Yui untuk duduk di kursi panjang
.
"Uh.. terima kasih Azusa-chan.." lalu Yui duduk. "Aku baik-baik saja, hanya kepalaku tiba-tiba pusing sekali" jelas Yui
.
"Apa kau menabrak sesuatu tadi?" tanya Mio
.
Yui menggeleng
.
"Yui-chan minum teh dulu" Mugi memberinya teh hangat
.
"Arrigatou Mugi-chan" kemudian Yui meminum tehnya
.
"Kita tidak bisa melanjutkan kegiatan klub musik hari ini" ucap Ritsu
.
"Kau benar" ucap Mio setuju
.
"Aku baik-baik saja teman-teman" ucap Yui
.
"Senpai, jangan memaksakan dirimu. Lebih baik kau pulang" saran Azusa
.
"Baiklah..." ucap Yui
.
Setelah menghabiskan tehnya. Ia memberi gelas itu pada Mugi untuk dicuci. Setelah dibantu berkemas, ia berjalan keluar ruangan. Langkahnya goyah dan ia bertopang pada pintu keluar
.
"Huft..." mereka berempat menghembuskan nafasnya
.
'Kita harus mengantarnya ke rumah' pikir mereka
.
.
.
Mereka telah sampai di rumah Yui
.
"Mari masuk" ucap Yui. Kemudian mereka masuk ke dalam
.
"Ah, selamat datang semuanya" ucap Ui. "Onee-chan baik-baik saja?" ucap Ui khawatir melihat Ritsu dan Mugi menopang Yui
.
"Ui.. Aku baik-baik saja kok" ucap Yui melepas topangan Mugi dan Ritsu. "Arrigatou minna" ucap Yui
.
"Bukan masalah besar" jawab Mugi
.
"Semuanya mari masuk, aku siapkan teh" tawar Ui
.
"Terima kasih, tapi tidak perlu repot-repot Ui-chan. Kami hanya mengantar Yui saja" ucap Mio. Disusul anggukan Azusa
.
"Baikah, terima kasih semua telah menjaga onee-chan" ucap Ui membungkuk. Kemudian Mui, Ritsu, Mugi dan Azusa pergi untuk pulang
.
"Onee-chan! Kau baik-baik saja?" tanya Ui panik
.
"Aku baik Ui, hanya kepalaku pusing sekali" lalu dengan berpegangan pada tembok ia berjalan menuju kamarnya. "Maaf Ui, aku tidak bisa membantumu hari ini"
.
Ui menggeleng. "Tidak apa onee-chan, lebih baik kau beristirahat dulu" ucap Ui sambil mengamati kakaknya yang tampak kesulitan menaiki tangga
.
Ketika kembali ke dapur. Ui mendengar suara terjatuh dari arah kamar Yui. Ui segera berlari menuju sumber suara. "Onee-chan!" teriaknya, medapati Yui terkapar tak sadarkan diri di depan pintu kamarnya. Setelah ia membawa Yui ke kasurnya ia mencoba menyadarkan kakaknya, namun tidak ada yang berhasil.
.
"Mhm.. U..i.." ucap Yui dalam kondisinya yang tidak sadar
.
Mendengar suara itu, ia membatalkan niatnya untuk memanggil dokter. "Mungkin onee-chan terlalu lelah. Aku melihat kondisi yang sama pada Azusa-chan dan lainnya" simpul Ui. Kemudian ia menuju dapur dan melanjutkan kegiataninya
.
Hingga pukul 11.00 Yui belum sadarkan diri. Selama itu Ui secara berkala melihat Yui dikamarnya. Sekarang ia berada disamping kakaknya dengan piyama
.
'Aku akan tidur disini untuk berjaga-jaga'. Kemudian ia terlelap satu kasur dengan kakaknya
.
.
.
Ditengah malam Yui terbangun. Keringat membasahi tubuhnya seakan-akan ia terkena demam. Ia memegangi kepalanya.
.
"Ap-apa yang terjadi" rintih Yui
.
Semua memori kejadian selama Yui berubah terasa langsung masuk ke dalam kepalanya begitu saja
.
Merasakan adanya gerakan disebelahnya Ui bangun dari tidurnya. Ia mendapati kakaknya terlihat kesakitan. "Onee-chan!, kau baik-baik saja?!" Ui langsung panik
.
Namun tidak ada jawaban dari Yui hingga beberapa saja kemudian.
.
"Ui..?" panggil Yui
.
"Onee-chan aku disini" ucap Ui hadir di depannya
.
"Aku... kembali" ucap Yui
.
Mata Ui berbinar, kemudian ia memeluk kakaknya yang langsung dibalas sedemikian eratnya oleh Yui
.
.
.
Keesokan paginya disekolah
.
"Yui!" panggil Ritsu di koridor
.
"Yoo! Ricchan, Mio-chan. Ohayou" sapa Yui. Ritsu bersama Mio
.
"Ohayou, kamu baik-baik saja?" tanya Ritsu
.
Yui mengangguk. "Iya, sekarang aku jauh lebih baik" jawab Yui. "Jika dipikir-pikir jarang sekali kita berpapasan di koridor ya?" tanyanya
.
"Benar juga ya. Mungkin karena hari ini Ritsu sedikit kesiangan" komentar Mio. Yang jadi terasa sarkasme untuk Yui dan Ritsu. "Ngomong-ngomong Yui. Apa yang terjadi hingga kau bisa seperti itu kemarin?" lanjut Mio
.
Yui menggeleng. "Aku juga tidak tau, mungkin karena terlalu lelah" jawabnya. "Ahh sebaiknya kita cepat, atau nanti kita terlambat
.
Kemudian Ritsu dan Yui segera naik tangga menuju kelas mereka.
.
"Dahh Mio"
"Dahh Mio-chan!"
Ucap mereka berdua melambaikan tangan
.
.
.
Pelajaran berlangsung seperti biasa, hingga waktunya pulang sekolah. Yui, Mio, Ritsu dan Mugi berada di ruang klub
.
"Silahkan kuenya" ucap Mugi memberi mangkuk berisi kue stroberi kesukaan mereka
.
"Itadakimasu!" ucap mereka lalu menyantap hidangan di depan mereka dengan tehnya
.
"Ngomong-ngomong Yui. Tumben hari ini kau ikut makan kue bersama kami" tanya Mio
.
"Oh iya, aku lupa bilang. Ingatanku kembali" jawabnya santai
.
Mereka semua membeku sesaat. Kemudian Ritsu dan Mugi berlari memeluk Yui
.
"Huuuuu Yui. Selamat datang!" ucap Ritsu
.
"Arrigatou Ricchan" jawabnya
.
"Yui-chan, kukira kau tidak akan kembali" ucap Mugi
.
"Itu menakutkan, Mugi-chan" jawabnya
.
Sementara Mio tetap duduk menyaksikan pemandangan di depannya sambil tersenyum. 'Yare-yare, akhirnya semua selesai. Yui yang merepotkan kembali'. "Kita tinggal menunggu Azusa sekarang" lanjutnya
.
Mereka mengangguk bersamaan
.
"Azusa-chan piket ya hari ini? Sehari setelah aku mengacaukan kue Azusa ia juga piket" ucap Yui
.
"Yui? Kau baik-baik saja?" ucap Mio
.
Yui memiringkan kepalanya tanda tidak mengerti
.
"Maksudnya, kemana nama Azunyan itu?" jawab Ritsu
.
"Ahh..., itu..". Sebelum Yui sempat memberitahu alasannya Azusa masuk ke ruang klub
.
"Konichiwa.." ucap Azusa lalu ia masuk. "Ada apa senpai?" tanya Azusa, menyadari ia di tatap keempat senpainya itu. Semuanya tersenyum.
.
"Yui-chan kembali" ucap Mugi singkat
.
Mendengar itu, Azusa terdiam. Kejadian Yui kehilangan ingatan adalah hal mengejutkan dan pertama kalinya ia melihatnya. Hal seperti ini bukanlah hal yang biasa untuknya
.
Kemudian Yui berdiri, dan berjalan kehadapan kouhainya yang membeku di tempat menahan haru. "Yo.. aku kembali" ucapnya
.
Azusa mengangguk dan tersenyum. "Aku lega akhirnya kau kembali senpai" ucap Azusa
.
"Ahaha.. iya" ucap Yui garing. "Kurasa karena aku kelelahan karena kejadian kemarin" jawabnya. "Azusa-chan, aku minta maaf karena membuat masalah waktu itu"
.
Azusa menggeleng. "Kenapa kau minta maaf? Kita sudah selesaikan masalah itu kan?"
.
Yui mengangguk. "Kau benar, tapi hari itu aku tidak merasa seperti diriku yang meminta maaf, jadi aku ulangi lagi" jawabnya
.
"Aku memaafkanmu Yui-senpai. Lagipula aku tidak kena marah orangtuaku juga. Dan... kenapa Yui-senpai memanggilku tidak seperti biasanya?"
.
"Itu.. kurasa lebih baik aku tidak asal memanggil nama kan? Aku memanggilmu di luar keinginanmu dan kamu terganggu dengan itu. Jadi kurasa aku akan melepas panggilan itu untukmu" ucap Yui
.
Sementara Mio, Mugi dan Ritsu berada di kursi mereka masing-masign mengamati percakapan Yui dan Azusa
.
"Senpai.. aku tidak keberatan dengan itu?" ucap Azusa
.
"Ehh?" Yui tidak menyangka akan mendapat respon seperti itu
.
"Senpai.. kenyataanya, keadaanku lebih baik ketika kau memanggilku dengan nama itu. Aku ingin memberitahumu saat itu. Tapi kau memotongku sebelum aku menjelaskannya". Kemudian Azusa melanjutkan kalimatnya. "Senpai, nama itu mendekatkanku pada klub musik ini.. menghilangkan batas antara senpai semua dengan diriku. Aku bisa lebih masuk dalam kehidupan klub ini. Aku tidak merasa seperti orang asing, karena kenyataannya hanya diriku satu-satunya adik kelas dalam klub ini. Panggilan spesialmu tidak membuatku merasa begitu Yui-senpai.. Jadi kumohon.. jangan melepaskan nama itu" ucap Azusa
.
Yui terdiam lalu ia mendekap Azusa. "Gomenne, Azusa-chan jika kau merasa begitu. Kau tidak perlu nama itu jika kau tidak mau. Kami akan lebih memperhatikanmu" ucap Yui
.
Dalam dekapannya Yui, Azusa menggeleng. "Yui-senpai. Kurasa kau salah paham" sambil melepas dekapannya. "Aku menyukai nama itu"
.
Mata Yui terbuka lebar dan ia menghembuskan nafas panjang. "Azunyan, aku kembali" ucap Yui
.
"Selamat datang... Yui-senpai" ucap Azusa, berhadapan dengan Yui
Tamat
Catatan penulis:
Halo semua, terima kasih udah baca Fragile Memories karya Xalova. Gak nyangka saya bisa selesaikan fanfic ini. Sedikit rahasia bagi yang udah baca sampe chapter 10 alias chapter terakhir berjudul "kembali". Ini fanfic saya yang pertama kali saya selesaikan dan di upload dalam sebuah platform :D
Bukan rahasia besar, tapi mungkin ini jadi jawaban bagi kalian yang bergumam "kok ceritanya mbosenin" "plotnya kurang" "awkward nih" dannnn sebagainya :D
Karena itu, tolong reviewnya ya. Biar Xalova jadi lebih baik
Sampai jumpa pada fanfic lainnya
