Disclaimer : I don't own GS/GSD or any of the characters. I love Asucaga too much to make them fall apart.
Halooo! Buat yang baru baca, oneshot ini sebenarnya berseri, cuma saya buatnya jadi 5 oneshot terpisah. Ini urutannya :
Blind Dates
The Offer
The Deal
The Meeting
Imperfection
Jadi yang mau baca, disarankan baca oneshot di atas sesuai urutan, bisa ditemukan di profile saya. Okay, this is the end of the series, so enjoy!
Pertemuan Athrun dengan Ayah Cagalli seperti menjadi titik balik bagi perusahaan Zala. Athrun bekerja keras membuat rencana untuk meningkatkan profit perusahaannya menjadi 5 kali lipat hanya dalam rentang 3 tahun. Awalnya ayah Athrun tidak ambil pusing dengan rencana Athrun yang sangat tiba-tiba, namun melihat semangat Athrun yang menggebu, Patrick Zala pun mulai mendukung Athrun.
Hubungan Athrun dan Cagalli pun diawali dengan mulus. Orang tua Athrun tanpa protes langsung menyukai Cagalli. Mereka berkata Cagalli perempuan yang cantik dan sangat baik. Cagalli punya pesonanya sendiri dan orangnya sangat polos. Lenore pun langsung memuji Athrun karena menurut Lenore, ia telah memilih seseorang yang cocok untuk melengkapi hidupnya.
Tahun pertama hubungan mereka dapat dikatakan sangat lancar, walaupun Ayah Cagalli masih tetap mengenalkan Cagalli dengan putra konglomerat dari negara tetangga yang pernah ia sebutkan, tetapi tidak ada kalimat pertunangan bisnis atau perjodohan yang keluar dari mulut Uzumi. Hanya saja Athrun menganggap bahwa hal itu seperti peringatan dari Uzumi, jika dia gagal, maka tak segan-segan Uzumi akan menjodohkan Cagalli dengan anak konglomerat itu. Athrun dan Cagalli masih sering bertemu saat weekend, biasanya mereka makan bersama ke suatu tempat atau saling mengunjungi rumah masing-masing.
Di tahun kedua, Athrun mulai lebih sibuk dengan urusan perusahaannya, hingga dia jarang sekali menyempatkan waktu untuk bertemu Cagalli. Urusan Athrun semakin banyak, seiring dengan pembukaan beberapa pabrik baru di luar kota, dia jadi sering bertugas keluar kota bahkan saat weekend. Terkadang Athrun sudah sangat lelah dan ia meminta maaf karena tidak bisa menemui Cagalli karena ia sangat butuh istirahat. Tentu saja Cagalli tidak pernah komplain soal hal itu. Cagalli bukan perempuan clingy yang tidak mengerti jadwal pacarnya yang sibuk. Satu hal yang selalu Cagalli ingatkan setiap saat adalah soal kesehatan Athrun. Cagalli sudah seperti alarm jam makan yang mengingatkan Athrun untuk makan tiga kali sehari. Walaupun terkadang Cagalli juga pernah lupa, semisal ia sedang sibuk dengan pekerjaan di kantornya. Sesibuk apapun, Athrun tetap masih ingin menyempatkan bertemu Cagalli walaupun hanya dua minggu sekali atau bahkan sebulan sekali.
Athrun bekerja sangat keras, siang dan malam, mencari klien baru, merombak bagian RD (Research and Development), serta memotong segala cost perusahaan yang tidak diperlukan. Semua yang dilakukan Athrun mulai terasa hasilnya di tahun ketiga mereka bersama. Perusahaan Zala berkembang dengan sangat pesat, lebih dari yang dibayangkan. Tidak hanya menjadi pemain dominan di dalam negeri, perusahaan Zala juga sudah menjadi salah satu eksportir terbesar di ORB. Namun sayang, setiap perbuatan dan pilihan pasti ada resikonya. Begitu juga dengan pilihan Athrun mengembangkan bisnisnya secara besar-besaran dalam waktu singkat. Hanya dalam 6 bulan sejak keberhasilan Athrun, beberapa masalah mulai bermunculan. Hutang dan Piutang perusahaan yang tidak balance juga cash flow yang macet. Athrun hampir jatuh sakit karena berbagai pikiran di benaknya, ia sepertinya sudah sangat lelah sehingga tidak bisa berpikir jernih. Beruntung Ayah Athrun masih berkepala dingin, menurutnya beberapa masalah tersebut bukan hal besar, ia meminta Athrun untuk berlibur sementara waktu, untuk menyegarkan pikirannya. Sementara masalah perusahaan Ayahnya yang akan mengurusnya.
Athrun awalnya menolak, tapi setelah dipikir mungkin ayahnya memang benar, ia butuh refreshing. Maka ia pun menyetujuinya dan ia memutuskan untuk pergi berlibur ke villa milik keluarganya di December City dengan mengajak Cagalli. Athrun merasa mengajak Cagalli akan membuat liburannya lebih menyenangkan karena mereka juga sudah sangat jarang bertemu. Selama di perjalanan Cagalli terlihat sangat gembira, berbeda dengan Athrun yang merasa pikirannya masih berkutat dengan beberapa masalah perusahaannya. Sesampainya di villa, Athrun langsung ijin pada Cagalli untuk beristirahat sebentar karena dia merasa sangat lelah telah mengemudi seharian. Cagalli mengangguk dan mengatakan bahwa ia akan menonton tv di ruang tengah.
Saat Athrun terbangun dari tidurnya, Athrun melihat Cagalli yang tertidur di sofa ruang tengah. Mungkin saat ia sedang menonton sebuah film action, ia tertidur. Athrun tersenyum kecil melihat kekasihnya yang sedang terlelap itu.
Drrrt drrrt drrrt
Athrun mengalihkan pandangannya ke atas meja. Terlihat ponsel Cagalli bergetar di atasnya. Athrun melihat nama dari sang penelpon dan ia terkejut. Ia memberanikan diri untuk mengangkat telepon pada ponsel Cagalli.
"Halo? Cagalli? Ini Halsten. Ah syukurlah kau angkat juga telponku. Dengar Cagalli, aku sebenarnya tahu kau sudah punya pacar. Namun, aku sudah menyelidiki hubunganmu dengannya. Dia sibuk kan? Teman-temanmu bilang kau seperti tidak memiliki pacar. Aku hanya ingin kau tau aku, sejak makan siang kita waktu itu, aku semakin merasa cocok denganmu. Aku rasa orang tua kita juga mendukung. Kau belum bertunangan dengan pacarmu, jadi aku masih punya kesempatan bukan? Cagalli kau mendengarku? Halo? Kenapa kau diam saja?"
Athrun langsung mematikan telepon di ponsel Cagalli. Athrun merasa amat marah, rasanya ia ingin melempar ponsel Cagalli, namun ia urungkan niatnya. Athrun tidak mengerti kenapa ia langsung menaruh curiga pada kekasihnya, apakah Cagalli bermain dengan pria lain saat ia sibuk dengan usahanya. Sungguh tidak bisa dipercaya. Makan siang dengan Halsten? Kapan Cagalli bertemu dengannya? Kenapa Cagalli tidak pernah menceritakan hal itu kepadanya?
"Athrun?" Panggilan Cagalli menyadarkan lamunannya namun ia tidak menjawab. Ternyata Cagalli sudah terbangun dari tidurnya.
"Athrun? Ada apa? Kau terlihat tidak baik?" Cagalli menyadari wajah Athrun yang terlihat marah, lalu mengalihkan pandangannya ke arah tangan Athrun, terlihatlah ponselnya yang tengah digenggam pria di depannya.
"Athrun ada apa?" Tanya Cagalli bingung melihat Athrun yang tidak menjawabnya. Athrun meletakkan ponsel Cagalli di atas sofa sebelum menjawab.
"Kau, kau bertemu dengan Halsten di belakangku?" Gertak Athrun. Cagalli terkejut, mengapa Athrun tiba-tiba bertanya kepadanya seperti itu. Lalu ia mengingat pertemuannya dengan Halsten yang tidak disengaja saat ia bekerja di kantor minggu lalu. Halsten sedang mengunjungi ayahnya dalam urusan bisnis, kebetulan Cagalli tidak diikutsertakan dalam proyek tersebut, hanya saja, tidak sengaja mereka bertemu di lift dan Halsten mengajaknya makan siang. Cagalli dengan berat hati mengiyakan karena ia tidak ingin hubungan bisnis dengan perusahaan Frigard berjalan tidak baik. Namun, Cagalli meminta Kira untuk ikut bersama mereka. Jadi ia tidak hanya pergi berdua dengan Halsten.
"Athrun itu tidak seperti-" Sebelum Cagalli sempat menjelaskan, Athrun sudah memotongnya. Ia seakan melampiaskan semua pikirannya yang tertekan selama ini pada Cagalli. Ia tidak bisa berpikir jernih.
"Jadi benar?" Tanyanya.
"Athrun dengarkan aku dulu. Kami memang makan siang-" Cagalli berusaha menjelaskan tapi sekali lagi Athrun memotong pembicaraannya.
"Kau tahu benar aku bekerja keras untuk apa Cagalli!" Athrun membentak. Wajahnya merah padam karena marah.
"Athrun!" Cagalli berteriak, ia berharap Athrun bisa sadar bahwa dia bertindak sangat konyol.
"Kau tahu ayahmu menginjak-injak harga diriku dengan tetap mengenalkanmu padanya. Kau kira aku tidak sakit hati saat ia mengenalkannya padamu di depanku?"
"Athrun, kumohon tenangkan dirimu, kau hanya salah paham." Bulir air mata Cagalli mulai terbentuk tapi dia tidak menangis, ia tidak mengerti kenapa Athrun tiba-tiba menjadi tidak logis seperti ini.
"Dia bilang, dia masih punya kesempatan karena kita belum bertunangan. Dia bilang teman-temanmu melihatmu seperti tidak memiliki pacar! Apa aku tidak kau anggap?"
"Athrun Zala! Demi Tuhan! Kau ini kenapa?"
"Aku tidak mengerti apakah kau pernah memiliki perasaan terhadapku atau tidak. Selama ini aku yang selalu berusaha lebih untukmu. Apa yang sudah kau usahakan untuk hubungan kita? Aku rasa tidak ada." Menutup matanya, Athrun berucap dengan dingin. Ia tidak mengerti kenapa dia seperti tidak percaya pada Cagalli. Apa dia takut? Apa dia takut mendengar penjelasan Cagalli? Dia tahu selama ini dia sibuk mengurus perusahaan, mereka jarang bertemu namun Cagalli tidak pernah mengeluh. Lalu, kenapa Cagalli makan siang dengan pria lain? Pikirannya seperti tertutup awan mendung. Dia butuh menenangkan diri. Tanpa melihat Cagalli, Athrun segera membalikkan badannya menuju kamar tidurnya lagi.
Akhirnya tangisan itu pun keluar dari mata Cagalli saat Athrun meninggalkannya, dia tidak menyangka Athrun akan berbicara seperti itu setelah apa yang mereka lewati selama tiga setengah tahun ini. Cagalli mencoba mengingat kembali apa yang terjadi, memang akhir-akhir ini hubungan mereka menjadi cukup dingin. Athrun terlihat sangat tertekan dengan pekerjaannya, sehingga Cagalli tidak pernah berani mengganggunya dengan meminta bertemu atau sebagainya. Cagalli menganggap mereka sudah saling percaya, karena Cagalli pun sudah berjanji akan menunggunya. Dia sama sekali tidak mengerti apa yang ada di pikiran Athrun kali ini. Dia sudah dengan sabar menunggunya selama tiga setengah tahun, mencoba menyemangatinya semampunya. Mendoakan keberhasilannya setiap saat. Bahkan walaupun Halsten terus mencoba mendekatinya, dia tidak pernah luluh dan ia berpegang pada janjinya, bahwa ia akan menunggu Athrun. Lalu, kenapa tiba-tiba Athrun seperti orang yang tidak mengenalnya. Apakah Athrun sudah berubah? Apakah dia bukan pria yang dulu ia temui? Yang ingin berjuang untuk hubungan mereka?
Kakinya yang masih lemas, akhirnya mencoba berdiri. Diambilnya ponselnya yang ada di atas sofa dan ia segera menghubungi Kisaka untuk menjemputnya. Ia sudah tidak mungkin berlibur dengan perasaan campur aduk seperti ini. Mungkin sekarang Athrun sudah membencinya, membencinya karena hal yang tidak ia mengerti. Untuk saat ini dia hanya ingin pulang. Cagalli masih merasa sakit karena sebenarnya dia tak ingin berpisah seperti ini. Saat Athrun mengajaknya liburan, ia sangat gembira dan sudah sangat menantikannya. Jujur sebenarnya Cagalli begitu merindukan Athrun, tetapi tidak ia sangka akhirnya akan menjadi berantakan seperti ini. Kalau Athrun tahu, betapa ia juga sudah sangat mencintai Athrun, apakah ia akan tetap bersikap seperti tadi? Apa boleh buat, jika Athrun memang sudah tidak mau melanjutkan hubungan mereka, Cagalli hanya bisa pasrah untuk saat ini.
"Jadi kau mau apa Cagalli?" Halsten bertanya padanya.
"Hmm, mungkin Banana Split saja."
Sudah tiga minggu semenjak Athrun dan Cagalli bertengkar hebat dan mereka masih belumberkomunikasi lagi, mendengar hal ini Kira hampir saja menghajar Athrun, tapi Cagalli melarangnya, ia berkata bahwa mungkin ialah yang salah tidak menjadi kekasih yang baik. Ia juga meminta Kira untuk merahasiakan hal ini pada ayahnya. Kira sejujurnya masih sangat geram, tapi ia mencoba menghargai permintaan adiknya.
Hari ini Halsten mengajak Cagalli pergi berkencan, awalnya ia menolak, namun Kira terus-terusan meminta ia agar menyetujuinya atau ia akan pergi menghajar Athrun. Akhirnya dengan berat hati, untuk pertama kalinya Cagalli mengiyakan ajakannya. Sebenarnya Kira ingin adiknya keluar dari rumah, selama tiga minggu ini, ia terus-terusan diam di rumah, bahkan ia pun tidak mau masuk kantor. Cagalli bilang urusan kantor bisa dikerjakan dari rumah. Padahal Kira tahu, adiknya hanya takut menangis di depan umum. Kira sudah meminta bantuan Lacus, namun sepertinya tawaran es krim Lacus pun tidak mempan kali ini.
Cagalli tidak menyangka Halsten akan memilih tempat pertama ia dan Athrun berjumpa, Cafe Archangel. Sakit, hati Cagalli sakit lagi kalau mengingat hubungan mereka. Athrun sama sekali tidak menghubunginya setelah kejadian itu, maka Cagalli menganggap mungkin Athrun memang sudah benar-benar ingin putus dengannya. Hampir saja air mata jatuh dari matanya tapi ia mencoba menahannya.
"Cagalli, kau baik-baik saja? Apa kau mau menunda kencan kita?" Halsten bertanya dengan suara berat khasnya. Halsten pria yang cukup baik, hampir mirip seperti Athrun, ia pantang menyerah, namun bedanya Halsten lebih bisa menahan diri, tidak seperti Athrun yang senang sekali membuat jantung Cagalli hampir berhenti bekerja setiap saat karena tindakan-tindakannya.
"Tidak, aku tidak apa-apa, sepertinya beban kantor sedikit meresahkan pikiranku." Cagalli mencoba tersenyum. Cagalli pun mengalihkan topik pembicaraan, walaupun ia merasa hal ini agak berat karena ia tidak tahu mengapa hari itu Halsten sangat mengingatkan Cagalli dengan Athrun, apalagi mereka sama-sama memiliki mata berwarna hijau. Saat mereka sedang berbincang sambil menikmati pesanan mereka. Terdengar suara derap langkah kaki yang sangat kencang mendekati meja mereka.
Brak!
Suara meja makan mereka digebrak oleh seorang pemuda yang baru saja datang menghampiri mereka. Membuat pengunjung di sekitar mereka kaget dan ingin mencuri dengar.
"Kau! Berani-beraninya kau mendekati Cagalli!" Pria berambut biru gelap itu mencengkram kerah kemeja hitam yang dipakai oleh Halsten sehingga Halsten terangkat berdiri. Terkejut dengan kejadian yang tiba-tiba Halsten hanya diam dan mencerna kejadian di depannya.
"Athrun!" Teriak Cagalli yang juga sangat kaget dengan hal yang terjadi sangat tiba-tiba ini. Athrun melepaskan cengkramannya dari kerah Halsten dan menarik lengan Cagalli.
"Cagalli masih pacarku! Jika kau berani mendekatinya lagi, kau harus berhadapan denganku. Kuberitahukan satu hal padamu, kau tidak ada harapan!"
Athrun menyeret tangan Cagalli yang masih bingung dengan kejadian yang baru saja terjadi. Orang-orang di dalam cafe semua terdiam sambil memperhatikan mereka. Cagalli memberontak, tapi genggaman Athrun sangat kuat sehingga Cagalli tidak bisa melepaskannya. Athrun menariknya ke arah parkiran mobil tanpa sepatah katapun.
"Lepaskan! Apa-apaan ini! Athrun Zala lepaskan aku sekarang juga!"
Athrun tidak menjawab, sampai mereka sampai di depan mobil Athrun. Dengan cepat athrun membuka kunci mobilnya dan mendorong Cagalli ke kursi penumpang, memasangkan sabuk pengamannya dan mengunci sabuk tersebut dengan sebuah kode[1, setelahnya ia berlari cepat menuju kursi pengemudi. Secepat kilat Athrun mengunci mobilnya dan ia mengemudikan mobilnya sekencang mungkin.
"Kau tahu, kau bisa ku tuntut dengan pasal penculikkan!" Teriak Cagalli.
Athrun masih diam, dia tidak menjawab sama sekali apa yang Cagalli katakan sejak tadi. Merasa perkataannya sia-sia, Cagalli akhirnya diam. Mereka berkendara cukup lama, kira-kira selama dua jam. Cagalli sama sekali tidak tahu mereka ada dimana sampai Cagalli melihat pemandangan laut dari dalam mobilnya. Setelah sampai lebih dekat dengan laut, Athrun memarkirkan mobilnya. Ia masih terdiam di kursi pengemudi. Setelah beberapa saat akhirnya Athrun membalikkan badannya ke arah Cagalli. Ia menggenggam tangan Cagalli yang langsung Cagalli tarik kembali.
"Cagalli, aku-"
"Apa maumu? Bukankah kita sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi?" Cagalli dengan susah payah memalingkan wajahnya ke arah jendela di sampingnya. Rasanya tidak adil, selama tiga minggu ia bersusah payah melupakan Athrun, kini pria ini kembali lagi dengan seenaknya. Matanya menahan air mata yang sudah mau terjatuh.
"Cagalli, aku-"
"Lepaskan sabuk pengamanku Athrun, aku mau pulang."
Athrun menundukkan kepalanya, lalu tangannya menekan beberapa angka dan sabuk pengaman Cagalli pun terlepas. Saat Athrun memasukkan kode pada sabuk pengamannya, Cagalli merasakan tangannya sedikit basah. Ia akhirnya mencoba memandang wajah Athrun yang masih menunduk.
'Oh tidak mungkin.' Pikir Cagalli dalam hati.
Cagalli mengangkat wajah Athrun dengan tangannya dan terlihat ia yang sedang menangis tanpa suara. Terlihat wajahnya pucat, terlihat lebih kurus dari terakhir ia melihatnya tiga minggu yang lalu. Terlihat juga bagian atas pipi kanannya yang sedikit memar.
"Athrun, kau baik-baik saja? Kenapa kau bisa memar?"
Bukannya menjawab Athrun malah memeluknya.
"Maafkan aku."
Mata Cagalli terbelalak dengan pelukkan Athrun, pria ini selalu begini, sering sekali melakukan hal-hal yang tidak terduga. Mendengar isakan kecil dari Athrun, Cagalli pun ikut menitikkan air matanya, dia tidak tahu apa yang Athrun pikirkan saat ini. Namun, yang jelas Cagalli salah besar jika Athrun sama sekali tidak memikirkannya selama tiga minggu kemarin. Mereka terdiam beberapa saat di dalam mobil, Athrun masih memeluknya tapi Cagalli hanya diam tidak tahu harus berkata apa. Kalau ditanya apakah Cagalli mau memaafkan Athrun. Tentu saja Cagalli akan memaafkannya, ia masih sangat mencintai Athrun, tidak mungkin Cagalli bisa melupakan hubungannya yang sudah terjalin selama tiga setengah tahun hanya dalam tiga minggu. Mendorong Athrun untuk melepaskan pelukannya, Cagalli menatap wajah Athrun.
"Kau sudah makan? Kau terlihat sangat kurus." Cagalli mengusap bagian poni Athrun yang sedikit menghalangi wajahnya. Athrun memberengut, bodoh sekali ia jika ia menganggap Cagalli ada niat berselingkuh. Athrun sadar bahwa tindakannya waktu itu sangat bodoh. Setelah apa yang dia lakukan, sekarang Cagalli malah mengkhawatirkannya. Sungguh kalau Kira tidak menghajarnya kemarin dan ibunya tidak menceritakan apa yang Cagalli rencanakan, mungkin ia akan tetap berkutat dengan pikiran bodohnya.
Bruk!
Sebuah pukulan keras melayang dari Kira berhasil mengenai pipi kanan Athrun.
"Aku kira kau itu pintar ternyata kau sangat bodoh! Apa kau hanya bermain-bermain dengan adikku?" Kira sangat marah, dia ternyata tidak bisa menahan amarahnya terhadap Athrun, awalnya ia bisa, namun melihat keadaan adiknya, ternyata ia tidak bisa tinggal diam.
"Adikmu yang punya niat berselingkuh! Dia berkencan bersama Halsten! Dia tidak menganggapku sebagai pacarnya!" Jawab Athrun marah dengan pukulan Kira yang tepat mengenai wajahnya.
"Kencan? Huh? Bagaimana tiga orang dapat dikatakan dengan kencan! Aku ada bersama mereka bodoh! Cagalli memintaku ikut makan bersama mereka!" Kira mencengkram kerah kemeja Athrun.
"Huh?" Athrun merasa bingung dengan penjelasan Kira.
"Ya, kau ini bodoh Tuan Zala. Dengar, kalau bukan karena aku tahu betapa Cagalli masih mencintaimu, aku tidak akan repot-repot datang kesini. Cagalli tidak seperti biasanya selama beberapa minggu ini, dia masih sangat sedih semenjak bertengkar denganmu. Aku sudah sangat lelah melihatnya seperti itu. Bahkan Lacus pun sudah tidak bisa membantu. Jika kau memang ingin putus darinya, jangan gantungkan hubunganmu dengannya. Katakanlah sendiri padanya di Cafe Archangel pukul 10 pagi besok, setelah itu enyahlah selamanya dari kehidupan Cagalli."
Sampai pagi tadi Athrun sebenarnya masih bimbang, apakah ia benar-benar ingin mengakhiri hubungannya dengan Cagalli. Dalam hati kecilnya, Athrun juga tidak menginginkan hal tersebut. Ia juga masih mencintai Cagalli, hanya saja dia tidak berani memikirkan bahwa Cagalli berniat berselingkuh di belakangnya. Selama tiga minggu ini Athrun banyak memikirkan hubungannya dengan Cagalli, benarkah Cagalli tidak pernah menganggapnya sebagai kekasih? Memang Cagalli bukan tipe perempuan yang clingy. Ia selalu menganggap Cagalli perempuan yang kuat. Apakah ia salah menganggap Cagalli seperti itu?
"Kau tidak menghubungi Cagalli, nak? Ibu sudah lama tidak bertemu dengannya, akhir-akhir ini juga ia tidak pernah menelpon ibu." Pertanyaan ibunya membuyarkan lamunannya.
"Aku tidak tahu Bu." Jawab Athrun singkat.
Mendengar hal ini, alis sang ibu berkerut."Kalian bertengkar? Aku kira kalian melewati liburan yang menyenangkan kemarin. Cagalli sangat senang saat tahu kau mengajaknya liburan. Dia sampai menelpon ibu untuk menanyakan resep roll cabbage kesukaanmu. Katanya dia mau memberikanmu kejutan dengan memasak."
"Apa?" Athrun tidak tahu Cagalli merencanakan hal itu.
"Athrun, sebenarnya ada apa? Kalian hanya bertengkar kecil kan?"
Mendengar hal itu, Athrun bergegas mengendarai mobilnya untuk menuju cafe Archangel. Betapa bodohnya ia, tentu saja Cagalli sangat mencintainya, kalau tidak, mana mungkin ia tahan dengan hubungan mereka selama tiga tahun, padahal Athrun sangat sibuk dengan pekerjaannya. Bodoh! Bodoh! Bodoh! Entah apa yang ada di pikirannya kemarin. Mungkin ia terlalu tertekan dengan masalah di perusahaannya, sehingga ia tidak dapat berpikir jernih.
Saat sampai di tujuan, rasanya Athrun sangat geram melihat Cagalli bersama Halsten di sana, amarahnya memuncak, rasanya ia menghajar Halsten saat itu juga. Dia adalah penyebab utama keretakan hubungan mereka kemarin, walaupun Athrun lebih banyak salah paham. Namun melihat Cagalli, ia urungkan niat untuk menghajar Halsten karena tidak ingin mempermalukan mereka di tempat umum.
Athrun menggelengkan kepalanya.
"Aku juga belum. Ayo kita cari makan dulu, baru kita lanjutkan pembicaraan ini." Cagalli menyarankan.
Mereka keluar dari mobil, tidak jauh dari tempat mereka terdapat restoran seafood sederhana yang baunya tercium sangat lezat.
"Aku mau makan disana." Cagalli menunjuk restoran seafood sederhana itu. Kalau kau mengetahui seberapa besar kekayaan keluarga Cagalli, kau tidak akan pernah menyangka ia mau makan di tempat seperti itu. Restoran seafood itu hanya restoran tenda sederhana, yang pastinya kurang higienis, tapi Cagalli seperti tidak peduli.
"Ayahmu akan komentar kalau ak-" Athrun mencoba memberikan saran namun dipotong oleh Cagalli.
"Aku mau makan disana." Sepertinya dia sudah mantap dengan pilihannya.
"Baiklah ayo." Athrun berjalan mendahului Cagalli menuju restoran seafood yang hanya dibangun dari tenda plastik yang ada di pinggiran pantai tersebut.
"Aku mau pesan lobster bakar, hmm lalu kepiting saus barbeque! Aku juga mau cumi-cumi, ah semua terlihat enak." Athrun tahu Cagalli mencoba mencairkan suasana, tapi dia hanya tersenyum, betapa ia rindu masa-masa tahun pertamanya bersama Cagalli. Sudah berapa lama sejak saat itu, rasanya sudah sangat jarang mereka bertemu, bahkan hanya untuk makan bersama. Melihat tingkah Cagalli membuat Athrun merasakan kebahagiaan kecil di hatinya, teringat pertama kali ia bertemu Cagalli, mungkin benar ia sudah jatuh cinta pada Cagalli sejak saat itu.
"Hei, tuan muda Zala, jangan senyum-senyum saja, kau mau makan apa?" Tanya Cagalli sambil mengerutkan keningnya.
"Aku mau sama seperti yang kau pesan saja." Athrun menjawab pelan.
"Baiklah, kalau begitu kepitingnya kita bagi dua saja ya, pasti terlalu besar kalau untukku sendiri."
"Hmm." Athrun menjawab masih sambil memandangi Cagalli.
Cagalli pun memanggil pelayan dan memesan makanan mereka, sambil menunggu Cagalli berupaya mengalihkan topik pembicaraan mereka dengan topik-topik ringan seperti bagaimana kabar orang tua Athrun atau rencana pernikahan Lacus dan Kira yang akan digelar beberapa bulan lagi. Selama makan Athrun lebih banyak diam, dia sedang berpikir keras bagaimana cara menyelesaikan masalahnya dengan Cagalli. Masalah ini tidak terlalu rumit, tapi dia tahu benar bahwa dia di pihak yang salah dan dia sudah sangat menyakiti Cagalli.
"Hmm enak ya, aku suka sekali, kapan-kapan kita kesini-." Cagalli tersentak, dia lupa bahwa mereka sedang dalam hubungan yang tidak jelas. "Ah, maksudku, aku akan kesini lagi, tidak denganmu, aku bisa sendiri, atau mengajak Lacus atau Kira."
Athrun hanya tersenyum sedih, dalam hatinya ia berjanji akan mengajak Cagalli ke tempat itu lagi, jika tentu saja Cagalli mau memaafkannya. Setelah selesai makan, Athrun mengajak Cagalli berjalan menyisiri pantai. Dia berencana untuk membicarakan tentang hubungan mereka.
"Indah sekali pantainya, aku jarang sekali datang ke pantai." Ucap Cagalli sambil memandang jauh ke arah pantai. Mereka berhenti di tengah pantai yang sepi, pantai itu memang sepi pengunjung. Athrun hanya terdiam, pikirannya berkecamuk, masih memilih kata yang tepat untuk ia katakan kepada Cagalli.
"Athrun-"
"Cagalli-" Mereka saling memanggil secara bersamaan.
"Kau dulu Athrun."
"Cagalli, aku minta maaf. Aku sangat menyesal dengan apa yang sudah kulakukan." Akhirnya Athrun mengatakan hal yang sedari tadi ada di dalam benaknya.
"Kau memang bodoh ya." Cagalli berhenti sejenak sebelum melanjutkan."Kau memang sudah bodoh sejak pertama kali kita bertemu sih. Namun, saat aku menerimamu dulu, aku sudah menerima semuanya satu paket dengan kebodohanmu." Cagalli berkata masih sambil menatap ke arah pantai. Rambut pirang pendeknya melambai-lambai diterpa angin pantai.
"Cagalli-"
"Mungkin syarat dari ayahku membuatmu tertekan sehingga kau bekerja terlalu keras. Aku tidak mengeluh, bukan berarti aku tidak menganggapmu. Aku sudah janji aku akan menunggumu bukan? Kau hanya perlu percaya." Cagalli memberikan senyum terindahnya. Athrun teringat lagi betapa ia sangat mencintai gadis ini. Sehingga ia rela bekerja mati-matian memenuhi syarat ayahnya.
"Apa kau mau memaafkanku?"
"Tentu saja bodoh! tapi-"
"Tapi?"
"Tapi, mulai saat ini aku ingin kau bekerja dengan kecepatanmu sendiri. Mungkin aku juga salah, menjadi wanita yang terlalu independen, sehingga kau merasa aku tidak membutuhkanmu. Soal syarat ayah, aku akan bicara padanya. Aku tidak mau kau tertekan karenanya. Aku sudah berjanji bukan? Aku akan menunggumu."
Mendengar perkataan Cagalli, hati Athrun lega. Dia bukan tipe orang yang berkata banyak, tapi sepertinya Cagalli sangat mengerti dirinya. Keinginan Athrun untuk memeluk Cagalli lagi tidak terbendung. Betapa beruntungnya dia memiliki kekasih seperti Cagalli. Dia berjanji tidak akan menyakiti Cagalli lagi, dia berjanji akan tetap memperjuangkan hubungan mereka. Cagalli yang selalu terkejut dengan serangan Athrun, menenangkan dirinya dan membalas pelukan kekasihnya itu.
"Kau tidak perlu menunggu lagi. Aku sudah siap." Athrun berkata dalam pelukannya.
"Eh?"
"Aku sudah siap mempertemukan kedua orang tuaku dengan ayahmu."
2 tahun kemudian
Cagalli sedang duduk sambil memandangi sebuah album foto yang menggugah kenangan lama. Album foto perjalanan hidupnya bersama Athrun. Waktu mereka kencan pertama kalinya, lalu saat anniversary hubungan mereka, foto travelling mereka dan terakhir foto pernikahan mereka.
Cagalli memandangi wajah suaminya di dalam foto tersebut, terlihat jelas nanar wajahnya yang bahagia, terlihat seperti habis memenangkan sesuatu. Cagalli beralih melihat dirinya di foto, terlihat sebuah senyum tulus menghiasi wajahnya. Pikiran Cagalli kembali pada masa sebelum mereka menikah. Pertemuan orang tua mereka berjalan lancar, Ayah Cagalli pun tidak sedingin waktu pertama kali mereka bertemu. Uzumi sudah benar-benar menyetujui hubungan mereka, bahkan menawarkan beberapa proyek kerjasama yang dapat dikerjakan oleh kedua perusahaan. Athrun sudah meminta maaf pada Kira, dan dia berjanji jika hal seperti kemarin terjadi lagi, Kira boleh menghajarnya sampai babak belur seperti Sai.
Setelah pertemuan itu, Athrun pun tidak lagi bekerja gila-gilaan, tujuan awalnya membuat profit perusahaan menjadi lima kali lipat dari sebelumnya sudah tercapai. Dia mulai bekerja dengan pace yang normal. Patrick juga banyak membantunya membuat perusahaan Zala dapat berjalan secara autopilot.
Tepat di tahun keempat hubungan mereka, akhirnya mereka menikah. Banyak orang yang terkejut dengan berita pernikahan mereka, karena selama ini Athrun dikenal workaholic, jadi tidak ada yang menyangka kalau dirinya sudah memiliki calon istri. Para wartawan ingin sekali meliput pernikahan spektakuler mereka, hanya saja pernikahan mereka dilaksanakan secara tertutup dan hanya dihadiri oleh teman dan kerabat terdekat mereka.
Sambil memegang perutnya yang sedang membesar, Cagalli tersenyum mengingat kisah mereka yang diawali dari tawaran es krim dari Lacus. Seandainya ia tidak menerima tawaran itu, apakah mereka akan tetap berjodoh? Kening Cagalli mengkerut memikirkan kemungkinan bahwa mereka tidak akan pernah bertemu jika Cagalli menolak permintaan Lacus.
"Kau sedang memikirkan apa sampai mengerutkan kening seperti itu?" Athrun membuyarkan lamunan Cagalli dan segera mengambil tempat duduk di samping istrinya.
"Ah tidak, aku hanya ingat semua ini gara-gara voucher es krim. Hmm, mungkin aku harus berterima kasih pada Lacus." Jawab Cagalli sambil mengusap-usap perutnya.
"Voucher es krim?" Athrun bertanya sambil ikut mengusap perut Cagalli, terasa tendangan kecil dari usia kandungan Cagalli yang sudah 6 bulan.
"Ya, sebenarnya kalau Lacus tidak menyuapku dengan voucher es krim, mungkin kita tidak akan pernah bertemu."
"Hmm, begitu yaa." Athrun tidak terlalu yakin dengan teori yang dikemukakan Cagalli.
"Kenapa kau terdengar tidak percaya?"
"Hmm, karena menurutku walaupun kita tidak bertemu saat itu, kita pasti akan bertemu di kesempatan lain, karena kita sudah berjodoh."
"Selalu, kau itu terlalu percaya diri. Mungkin saja kan kalau aku bertemu Halsten lebih dulu aku akan memilihnya?" Menggelengkan kepalanya, Cagalli sudah sangat terbiasa dengan kepercayaan diri suaminya.
"Tidak, pasti kau akan tetap memilihku." Jawab Athrun sambil menyandarkan telinganya ke perut Cagalli, seakan dia bisa mendengar apa yang sedang dilakukan sang janin di perut ibunya.
"Aku kasihan pada anak kita yang akan mewarisi kepercayaan dirimu yang terlalu tinggi."
"Sudah kubilang, kita ini berjodoh, kau mau bertemu siapa lebih dulu pasti tetap akan berakhir denganku."
"Ckckck, kau dan kepercayaan dirimu." Cagalli tersenyum kecil, Athrun selalu terdengar yakin. Mungkin itu juga yang membuat Cagalli jatuh cinta padanya waktu itu, Athrun selalu terdengar yakin.
"Dan kalau kau mau tahu aku tidak suka kau menyebut-nyebut nama orang itu. Hampir saja hubungan kita rusak karena orang itu." Athrun memberengutkan wajahnya, dia merasa nama laki-laki itu selalu merusak moodnya.
"Oh, ayolah itu juga salahmu. Lagipula dia sudah menikah, kenapa kau masih saja terus cemburu padanya."
"Baiklah. Maafkan aku."
Cagalli tidak menjawabnya, hanya membalasnya dengan mencium pipi Athrun yang sedang cemberut. Air muka Athrun langsung berubah dari yang tadinya sedikit kecewa, menjadi tersenyum. Sekarang kepala Athrun sudah bersandar di pangkuan Cagalli. Dia senang menikmati momen-momen seperti ini dengan istrinya.
"Kalau memang sudah bodoh, memang susah diubah." Cagalli membelai rambut suaminya sambil sedikit menyindirnya, tentu saja maksudnya bercanda, mereka sudah sering bercanda seperti ini.
"Kau sendiri mau menikah dengan orang bodoh." Jawab Athrun, sambil kembali mengusap-usap perut Cagalli di sebelah wajahnya.
"Habis bagaimana, aku sudah terlanjur menyayangi orang bodoh itu sih."
"Kalau kau mau tahu orang bodoh itu juga sangat mencintaimu."
"Ya sudah berarti memang jodoh."
"Ya." Athrun pun kembali ke posisi duduknya dan mencium bibir Cagalli dengan cepat. Mata Cagalli terbelalak, satu hal yang masih ia belum terbiasa adalah serangan Athrun yang selalu tanpa peringatan. Lalu Athrun langsung memeluknya sambil mencium puncak kepalanya.
"Aku beruntung bertemu Cagalli, aku akan selalu disini, kuharap kau juga." Cagalli hanya mengangguk sambil membalas pelukan suaminya.
END
A/N : Horeeee selesaaai! Akhirnya blind dates series ini kelar jugaa.
QA
Q : Sejak kapan Kira jadi berandal?
A : Sejak negara api menyerang
Q : Kenapa Cagalli ga beli pabriknya Lacus?
A : Karena Cagalli orangnya humble, sederhana dan tidak sombong. Dia tidak mungkin beli pabrik eskrim hanya untuk dirinya sendiri.
Q : Kira sama Lacus nikah ga?
A : Nikah, udah punya anak, anaknya perempuan, suka main ke rumah Athrun sama Cagalli juga.
Dah segitu aja pertanyaannya. Makasih banget buat semua reviewers terbaikkuu : Atcakun, char01, mhlynda, Cyaaz, Panda Nai, LaNiinaViola, ShinkuAlice, Aylazala. Semoga kalian suka yaaa sama ceritanya.
Sampai ketemu di next project saya (kalau ada, wkwkwk), jaa na!
