Okey, karena sudah ada reader yang menaruh fanfic ini di favorite-nya, maka saya lanjutkan, Yeah! ^_^ /Apa hubungannya?/ Maaf karena bagi kebanyakan readers, fanfic ini mungkin membosankan. maafkan Author ya :''') /bungkuk2/ Silahkan dinikmati ceritanya, ok? ;)
Note: Sudut pandang pindah-pindah, OC baru, gaje, Sedikit referensi dari BoBoiBoy Galaxy.
GUZRAAAAKKK!
Pesawat Angkasa TAPOPS berwarna jingga itu mendarat darurat di taman Kota. BoBoiBoy yang tiarap sedari tadi di lantai Pesawat lambat laun mengangkat kepalanya yang sakit akibat terbentur sebuah kotak yang jatuh saat Pesawat TAPOPS tiba-tiba tertarik masuk ke sebuah portal teleportasi misterius dan mendarat darurat di Taman Kota. Anak itu lalu merapikan pakaiannya yang kusut dan berdiri. Mata coklat hazelnya memandang sekeliling.
Dilihatnya Yaya yang bangkit dari tumpukan besi ringan yang nyaris menguburnya saat pendaratan darurat tadi. Ying melepaskan pegangannya dari kursi kemudi dimana Papa Zola yang meringkuk ketakutan berada. Gopal yang berpegangan pada salah satu tiang pelan-pelan melepaskan tangannya walaupun sekujur tubuhnya masih gemetar akibat pendaratan darurat. Fang yang juga berpegangan pada salah satu tiang di ruang kendali melepas pegangannya dan berjalan mendekati teman-temannya.
"Korang semua okey?"
"Um, kitorang okey," jawab BoBoiBoy lega. "Apa benda yang tarik masuk kita tadi? Macam portal Teleportasi yang Ochobot punya, tapi portal tu nampak lagi besar dan kuat."
"Ja... Jangan-jangan kita dah ditarik masuk lohong hitam punya Bora Ra!" teriak Gopal ketakutan." Huhuhu, habislah, habislah..."
Yaya merenung. "Apa kata kalau kita periksa kat luar? Mungkin kita akan dapatkan petunjuk kalau kita siasat penyebab kita tertarik masuk ke portal asing tu."
"SUDAH! Kebenaran dah muak dengan semua ini!" ucap Papa Zola gusar becampur gemetar. "Ayo, Anak-anak Didikku! Mari kita siasat tempat ni!"
Mereka pun keluar dari Pesawat Angkasa TAPOPS untuk memeriksa keadaan diluar sana. Sontak mereka melongo begitu melihat tempat dimana pendaratan darurat itu terjadi.
Taman Kota Pulau Rintis.
"Ei? Bukannya ini Pulau Rintis ke?" tanya BoBoiBoy heran bercampur was-was. "Kenapa kita boleh terdampar kat sini? Bukannya kita nak pegi bantu Sai dan Shielda selamatkan Ochobot ke? Apasal kita tertarik kesini pulak?"
Fang membelalakkan matanya. "Ap- Apakah?! Kenapa kita semua terbawa ke tempat ini?" ucapnya terkejut begitu menyadari tempat mereka berada. "Apa benda yang sedang berlaku?!"
"BoBoiBoy, tengok tu!" Yaya menuding ke arah Selatan. Segera teman-temannya melihat ke arah yang ditunjuknya itu. Tempat itu memang Pulau Rintis, namun ada beberapa bangunan lain asing tersebar di setiap ujung jalan utama. Di ujung cakrawala terlihat tiga buah gedung pencakar langit, membuat Ying terkesiap. Gadis itu menerawang, mengingat sebuah nostalgia yang pernah terjadi padanya dan teman-temannya mengenai tiga gedung pencakar langit itu.
"Ayak! Ini... Ini Sektor 456 lah! Kamu semua tak ingat ke ho?"
"Dah tu, apa masalahnya, Dey?" ucap Gopal, heran dengan pekikan tiba-tiba teman Cina-nya itu. "Kau ni macam paranoid sangat lah, Ying."
Ying mendengus kesal. "Haiya, Saya tak paranoid lah," ujarnya membela diri sendiri. "Sektor 456 tu berada kat dimensi lain Pulau Apung wo. Lagi tepatnya, ini wilayah utama daripada Markas ONION! Lu ingat kan? Kita dah pernah lawan Organisasi tu satu tahun lepas?"
"APA?!"
.
.
.
CERMIN GALAXY
Apocalypse by 'Sapu Katharsis'
(Season 1)
.
.
.
BoBoiBoy milik Animonsta/Monsta
.
.
.
Bagian 1: Sebuah Peringatan
(Satu tahun sebelum Kejadian)
Di Kedai Kokotiam, tampak kelima teman BoBoiBoy yang menunggu kedatangan teman bertopi jingga mereka yang saat itu mengambil buku Fisikanya yang tertinggal di rumah. Ying tengah mencoba mengerjakan beberapa soal di buku latihan yang menurutnya menantang. Yaya membaca beberapa Teori Mekanika Kuantum di buku cetaknya. Fang membantu Gopal mempelajari hal-hal yang belum dimengerti dari Asas Black. Ochobot membersihkan peralatan makan dan minum berhubung saat itu belum ada pelanggan yang datang ke Kedai Kokotiam, walaupun Gopal adalah pengecualian karena anak gembul itu merasa kepalanya sakit akibat penjelasan Fang yang menurutnya masih kurang dipahami dan tahu-tahu memesan satu Special Ice Koko pada robot kuning itu.
"Ochobot, boleh tak aku order satu Special Ice Koko? Otak aku kena buat pendinginan tau," katanya kelelahan. "Kalau bukan kerana si Fang ni."
"Wey, apasal aku yang disalahkan pulak?" tanya Fang kaget. "Aku dah guna cara paling senang yang aku tahu, tapi masih sahaja kau tak faham?"
"Ceh! Cara paling senang konon." Gopal menggerutu. "Tetap sahaja Aku tak faham lah!"
"Apa kau cakap?!"
"Sudah, Sudah! Jangan begaduh!" ujar Yaya menegur karena merasa terganggu dengan keonaran yang ditimbulkan kedua anak laki-laki itu. "Korang ni tak boleh senyap ke?"
Gopal mendengus lalu mendelik ke arah temannya yang berambut ungu landak. "Si Fang ni, Yaya," rajuknya. "Cara dia ajar aku tu dah macam Encik Professor kat Universiti buat! Ingatkan aku ni Pelajar form atas ke?"
"Haiya, kalau macam tu, meh sini saya ajar kamu," tawar Ying. Mendengar tawaran si gadis Cina, Gopal langsung menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
"Tak nak lah," tukasnya menolak. "Mana aku reti dengan cakap kau yang laju sangat tu?"
"Apa?! Lu nak cari nahas dengan saya kah?!"
"Ekh, tak, tak, tak!"
"Dah, dah, jangan bising kat sini! Nanti takde yang nak datang kat Kedai tau," kata Ochobot sembari menyodorkan pesanan Gopal. "Nah, ini pesanan kau. Semuanya empat ringgit."
"Ei?" Gopal tersengih. "Alahh, apasal tak bagi aku free je, Ochobot?"
"Mana boleh? Hutang kau belum lunas lagi, dan kau masih nak free je?" ujar Ochobot sembari 'berkacak pinggang'. "Berhutang tu jangan dibiasakan, Gop. Tak baik buat diri kau nanti."
"Hehehe-" Gopal tersenyum memalukan seraya mengambil dompetnya dari saku celananya dan mengeluarkan empat lembar uang biru bernilai 1 RM dari sana dan memberikan uang itu pada si Pelayan Kokotiam. Yaya melirik jam kekuatannya yang menunjukkan pukul 14:01. Sudah setengah jam lebih BoBoiBoy pergi ke Rumah Tok Aba untuk mengambil Buku Fisikanya yang tertinggal. Gadis berhijab pink itu merasa ganjil. Kenapa bocah itu lama sekali walau hanya sekedar mengambil buku? Ia lalu menatap keempat temannya dengan pandangan bertanya-tanya.
"Kawan-kawan, korang tak rasa pelik ke? BoBoiBoy dah pegi sehingga setengah jam lebih, tapi hingga saat ni dia belum tiba pon."
"Eh, ha'ah lah," Kata Ochobot, baru sadar akan hal itu. "Dia kata dia nak ambik Buku Fisika dia kat rumah tadi."
"Humm, tak kan lah buang banyak masa kalau hanya ambik buku je," timpal Gopal seraya asyik meminum minuman pesanannya. "Entah-entah dia tetido pulak."
Ying mendesah panjang. "Kalau macam tu, biar saya yang jemput dia," katanya sambil beranjak dari kursi bundar yang didudukinya dan mengambil ancang-ancang. "LARIAN LAJU-"
Belum sempat dia mengeluarkan kekuatannya untuk pergi ke rumah Tok Aba, sekonyong-konyong BoBoiBoy muncul di ujung jalan sambil menenteng Tas sekolah dan Tape Recorder di kedua tangannya. Melihat kedatangannya yang tiba-tiba, Sontak teman-temannya berseru.
"BoBoiBoy!"
BoBoiBoy datang menghampiri mereka. "Oh, hai kawan-kawan. Maaf sebab aku lama sangat tadi," katanya cengengesan. Ditaruhnya Tas sekolah dan Tape Recorder di atas meja konter sambil menaruh bokongnya di atas salah satu kursi bundar yang mengelilinginya. "Ada beberapa benda penting yang aku jumpa kat Rumah. Korang mesti berminat."
Ia lalu mengeluarkan buku Fisika dan sebuah kotak kayu berukuran sedang dari tas sekolahnya. Dibukanya kotak kayu itu dan mengeluarkan isinya yang berupa Lima buah Liontin. Melihat benda-benda mungil nan berkilau itu, kedua mata Yaya dan Ying langsung berbinar-binar.
"Wuahh- Cantiknye!" seru mereka kagum. "Kau beli kat mana Liontin-liontin ni, BoBoiBoy?"
"Bukan beli, tapi ada kawan yang bagi aku," balas BoBoiBoy sambil memberi kedua teman perempuannya dua Liontin huruf Y yang masing-masing berwarna biru muda dengan aksesoris jam kuning mini di tengahnya dan merah muda dengan aksesoris bunga putih berinti kuning muda di tengahnya. Gopal dan Fang menyangka bahwa mereka tidak akan diberi karena umumnya Laki-laki tidak memakai kalung ataupun Liontin. Namun mereka terkejut begitu BoBoiBoy menyodorkan kedua Liontin lainnya pada mereka.
"Nah, ini buat korang berdua," tukasnya, membuat kedua teman lelakinya tertegun.
"Err- BoBoiBoy, lelaki kan hampir tak pernah pakai kalung?" tanya Fang sangsi. BoBoiBoy tertawa mendengarnya.
"Sebenarnya ini ialah kenang-kenangan daripada salah sorang kawan aku kat Kuala Lumpur. Dia kata kalau tak nak pakai, jadikan je lah Liontin ni hiasan kat barang-barang korang. Kalaupun tak, korang boleh simpan je. Aku pun dapat jugak."
Diperlihatkannya Liontin huruf B kuning berdesain Petir yang berada di Dasar Kotak dengan senyum mengembang. Mau tidak mau Gopal dan Fang akhirnya menerima kedua Liontin yang diberikan pada mereka. Masing-masing adalah huruf G berwarna hijau cerah dan huruf F berwarna ungu. Liontin-liontin itu berkilau terkena sinar matahari siang yang saat itu sedang menyinari seantero belahan Bumi.
"Umm- BoBoiBoy, aku tak dapat Liontin ke?" Tanya Ochobot tiba-tiba. BoBoiBoy tiba-tiba pasang wajah bersalah mendengar kalimat itu.
"S- Sori, Ochobot. Tapi aku tak bagi perihal diri kau terhadap Kawan aku yang bagi Liontin-Liontin ni," katanya penuh sesal. "Aku tak nak maklumat keberadaan kau bocor. Setidaknya hanya orang-orang kat Pulau Rintis je yang tahu perihal Sfera Kuasa. Kalau ada yang tahu diluar itu, nasib kau akan lagi buruk daripada kena culik Tengkotak."
Ochobot mangut-mangut. "Okey, aku faham, BoBoiBoy. Terima kasih," katanya tulus. "Tak sangka kau rahsiakan semua maklumat tentang aku hanya untuk keselamatan aku. Kau memang kaaawan terbaik!"
Tahu-tahu dirangkulnya BoBoiBoy, membuat anak itu terkekeh. Ying memakai Liontin miliknya di lehernya yang kecil lalu terkikik senang.
"Wah, Liontin ni bagus lah punya! Saya suka! Saya suka!" katanya girang. "Oh, ya BoBoiBoy. Liontin ni mesti mahal, kan? Siapa kawan kau yang bagi benda elok ni?"
BoBoiBoy tersenyum kecil. "Kalau tak silap, nama dia ialah Siti."
Mendengar nama Siti disebut-sebut, Yaya dan Fang saling pandang. Pasalnya mereka berdualah yang cermat melihat papan nama yang tersemat di dada salah satu boneka di Istana Boneka gedung Markas ONION. Kedua anak itu saling memberi kode. Dengan hati-hati, Fang menyikut bahu si Superhero Elemental, menyita perhatiannya.
"Ada apa, Fang?"
"Eh, Umm… sebenarnya ada benda penting yang nak aku tanyakan dekat kau, BoBoiBoy. Lagi tepatnya, kami semua yang ada disini nak tanyakan soalan ni: Kau kenal budak-budak bernama Mimi, Arumugam, Ah Ming dan Ah Meng ke?"
BoBoiBoy mengangguk. "Ha'ah. Diorang tu ialah sekian daripada kawan-kawan lama aku, macam Siti je," jawabnya spontan. Tiba-tiba saja wajahnya berubah menjadi murung. "Tapi aku macam rasa aku dah telantarkan diorang. Korang tahu sendiri, kan? Aku belum pernah pulang ke KL lagi. Ada masalah ke?"
"Haih, diorang tu lah masalahnya, BoBoiBoy," sembur Gopal tiba-tiba. "Diorang dah jadi ahli pasukan daripada ONI- MPHH!"
Kata-katanya terputus begitu Ochobot membekap mulutnya menggunakan tangan logamnya kuat-kuat. Segera robot bola itu berbisik tajam. "Ish, kau ni Gopal, Jangan langsung ke pokok masalah lah! Kau nak tengok BoBoiBoy kena serangan jantung sebab tekejut dengar cakap kau tadi ke? Kita kena pelan-pelan tanyakan perihal ini dekat BoBoiBoy tau."
Gopal menggeleng Horor, membuat Ochobot melepaskan tangannya dari mulut pemuda India itu. BoBoiBoy yang melihat kejadian itu hanya bisa melongo.
"Ehh, apasal kau tutup mulut Gopal?" tanyanya polos.
"Ehehe, tak da pe. Aku takut kalau-kalau ada Lalat nak masuk ke mulut dia tadi," ucap Ochobot segera. Gopal langsung memberinya tatapan tajam. Namun si robot tidak peduli dan kembali sibuk mengelap piring-piring yang masih basah dengan kain di balik meja konter.
BoBoiBoy menggaruk kupingnya yang agak gatal. "Tumben je korang tanyakan soalan macam tu dekat aku," ujarnya heran karena biasanya teman-temannya tidak terlalu 'K.E.P.O' tentang kehidupannya sebelum bersekolah di Pulau Rintis. "Biasa pun korang jarang sangat nak tahu pengalaman aku sebelum berkawan dengan korang, itupun kalau Tok Aba yang citer kat korang. Ah, ya. Aku dah pernah janji kat Siti buat ajak korang siar-siar kat rumah aku di Kuala Lumpur, walaupun aku masih ragu kalau dia ingat janji tu. Apa kata selepas peperiksaan naik kelas dan Cuti sekolah nanti kita pergi kesana? Korang pon belum pernah berjumpa dengan Ibubapa aku."
"Wuahh- mestilah kitorang nak, BoBoiBoy!" tukas Gopal gembira hingga ia nyaris tersedak oleh minuman Special Ice Koko yang dipesannya tadi. "Aku penasaran dengan kehidupan kat Bandar besar. Gedung-gedung tinggi, Mall-Mall luas dan Rumah-Rumah megah, mesti seronok! Belum lagi makanannya, Nyam, Nyam! Makanan kat sana mesti lagi bervariasi ketimbang disini."
Ying mengangguk setuju. "Yaloh, saya setuju juga. Lagipun kami belum tengok kawan-kawan lama kamu disana. Mesti best, hihihi," kekehnya geli. "Ayo, BoBoiBoy. Lu kena bawa kita semua pergi kesana. Kami boleh duduk kat rumah kau selama bercuti, kan?"
BoBoiBoy tersenyum puas. "Boleh. Kalau macam tu, kita semua kena deal Cuti dekat bandar selepas naik tingkat nanti," katanya riang lalu menoleh ke arah Fang dan Yaya yang terlihat merenung. "Nah, kalau korang macam mana? Nak cuti kat KL juga kah?"
"Hm, okey lah. Aku join." Fang akhirnya berbicara. "Tapi selepas aku dapatkan izin daripada Abang aku."
"Elehh, paling-paling Abang kau nak kau bercuti dekat Kapal Angkasa dia buat latihan tempur," ledek Gopal. "Hobi dia kan memang cam tu."
"Wei, Abang aku tak lah kaku macam tu jugak!" dengus bocah berambut ungu itu, merenggut. "Aku malah senang dia dapatkan Kapal Angkasa dia sendiri. Kalau dia latihan tempur dekat rumah aku, dah habis dia buat seisi rumah macam Kapal pecah, tahu tak? Kapten Kaizo tu memang liar dari kecik dia lagi. Dan kalau dia lepas buat rumah bersepah selepas Latihan Tempur, aku lagi yang dia suruh bersihkan."
Ying tertawa. "Mungkin Kapten Kaizo cuma mahu tes kerajinan kamu maa."
"Tahu pon " ucap Fang masih cemberut. "Tapi tak macam tu jugak lah! Ingatkan aku ni Cleaning Service dia ke?"
"Hehehe, terbaik," ucap BoBoiBoy, geli. "Kau sorang macam mana, Yaya? Nak join ke tak?"
Yaya mengangguk kecil. "Okey lah. Aku pun nak join," katanya kemudian. "ToToiToy ada acara berkemah kat Tadika dia masa Cuti nanti, jadi Mak aku tak lah risau sangat kalau aku tak jaga dia."
"Okey lah kalau macam tu. Kita semua dah deal bercuti dekat rumah aku selepas peperiksaan akhir nanti. Ada lagi yang nak ditanyakan?"
Ochobot mendesah lesu. "Maaf, BoBoiBoy. Nampaknya aku tak boleh join kau nanti," ujarnya sedih. "Kau tahu lah, ini masalah Identiti dan keamanan aku. Kalau ada musuh yang kesan aku diluar sana macam mana?"
"Haiya, lu join kitorang je lah, Ochobot," pinta Ying. "Rasanya tak lengkap kita kalau tak ada kamu. Lagipun kamu boleh bertukar jadi wujud Cyborg ma. Kalaupun tak, lu menyamar je lah jadi Bola sepak BoBoiBoy."
"Hadoii- tak seronok lah!" Ochobot mendengus kesal. "Mana boleh aku menikmati cuti kalau aku menyamar jadi Bola sepak? Lagipun kalau aku bertukar ke wujud Cyborg aku, mesti aku dah populer dan kena kejar gadis-gadis sana! Hiih- geli lah! Kalau ada yang minat kat aku nanti macam mana? "
Fang tersentak. "Apa?! Mana boleh!" katanya kaget. "Aku sorang je yang boleh Populer kat Planet ni- eh, maksud aku... Pulau ni! Jangan kau cuba nak lagi Populer daripada aku macam BoBoiBoy dan Mila tu!"
"Ceh, Populer kat Pulau ni je, bukannya Populer kat Kuala Lumpur pon," ledek Gopal seraya menghabiskan sisa minumannya. Merasa jengkel karena terus diejek, Fang akhirnya berteriak sembari membentuk jari-jemarinya menjadi bentuk Harimau.
"HARIMAU BAYANG! SERANG!"
"GROOAAAAAA!"
"HUWAAAAAA! Ampun, Fang! Ampun! Huhuhuu... Kenapa kau panggil Kucing beso ni?!" Gopal langsung lari terbirit-birit memutari daerah taman kota dengan Harimau bayang Fang yang mengejar di belakangnya. Teman-temannya hanya bisa tertawa miris melihat kejadian itu. Rupanya Fang sudah tidak tahan lagi dengan Gopal yang meledeknya sedari tadi dan akhirnya hilang kesabaran dengan cara menyerang anak itu menggunakan Harimau Bayangnya yang terkenal ganas.
Ketika Harimau Bayang sedang 'Asyik-asyiknya' memburu Gopal mengelilingi taman Kota, tiba-tiba muncul Mila di ujung taman, berjalan ke arah Kedai Kokotiam. Wajahnya terlihat kurang senang, dan itu membuat teman-temannya heran. Apa yang terjadi pada gadis berambut perak itu?
"Hai, Mila," panggil Yaya ramah. Mila mendongak dan memaksakan dirinya untuk tersenyum. Namun tindakannya itu tidak mampu menyembunyikan kemurungan yang tersirat di wajahnya yang halus.
"Hai, Yaya. Hai, semua," sapanya dengan nada suara yang kurang bergairah. "Maaf sebab aku datang lamban. Aku ada pasal dengan Cikgu Anisa tadi."
"Eh? Pasal apa tu?" tanya BoBoiBoy, penasaran. "Muka kau pun nampak lesu dah. Apa benda yang sedang berlaku?"
Mila menggeleng dan duduk di kursi bundar di sebelah Ying. "Tak da pe. Bukan perkara teruk pon."
"Alah, bagi tahu je lah," desak Yaya. "Mungkin kita boleh bantu kau. Bagi tahu je apa benda yang berlaku."
"Ehh- takyah, susah-susah je korang nak bantu aku," kata Mila, masih berusaha menutupi apa yang merisaukan pikirannya. Ochobot yang sedang memikirkan cara agar tunangannya itu mau buka mulut, melihat Sebungkus Donat Lobak Merah yang menyembul dari dalam Tas Sekolah Fang yang terbuka. Sebuah ide muncul di benaknya. Dengan cekatan ia langsung menyambar makanan itu, membuat Fang menjerit.
"Oi! Apa pasal kau ambik Donut aku, Ochobot?!"
"Kau senyap je lah," ujar Ochobot tak acuh dan segera menyodorkan Donat itu pada Mila. "Nah, Milyra. Aku bagi kau Donut ni, tapi dengan syarat: Kau kena Bagi tahu kitorang benda yang buat kau risau tu."
"Ekh?"
Dalam sekejap wajah Mila merona merah melihat Ochobot menyodorkan Donat Lobak merah milik Fang padanya. Bagaimanapun juga, gadis itu adalah penggemar Donat Lobak Merah walaupun dia tidak semaniak Fang. Melihat makanan favoritnya itu, pendirian Mila akhirnya luluh juga dan menerima Donat itu sembari tersenyum jenaka.
"Okey lah. Aku akan bagi tahu korang apa masalah aku," katanya sambil membuka bungkus Donat Lobak merah milik Fang dan langsung memakannya dengan lahap. Melihat makanan kesayangannya itu dimakan 'orang lain', Fang langsung pasang ekspresi tidak rela di wajahnya. Kalau saja Mila bukan perempuan, maka sudah sejak tadi Fang merampas balik Donat itu darinya. Ini sudah kedua kalinya dia merelakan Donat kesayangannya dimakan oleh gadis itu. Yang pertama adalah saat Mila pertama kali menjadi teman mereka, walaupun pada saat itu Fang merelakan kepergian 'sang kekasih' untuk menjauhkan Mila dari Teror Biskuit Yaya. Gopal yang baru saja dihajar habis-habisan oleh Harimau bayang tampak terhuyung-huyung mendekati mereka. Wajah anak itu lebam disana-sini ditambah beberapa bekas cakar di wajah dan tangannya. Untung saja seragam sekolahnya tidak koyak oleh terkaman Harimau Bayang. Karena kalau itu terjadi, Pak Kumar sudah pasti akan menghukum Anaknya dengan menyita semua game miliknya dan menyebabkan Gopal menangis tujuh hari tujuh malam.
Melihat penampilan si pemuda India yang lebam-lebam itu, Mila nyaris saja tersedak Donat yang dikunyahnya. Segera gadis itu meminum air mineral yang diambil dari dalam Tas dan menghembuskan nafas.
"Apasal badan kau jadi lebam-lebam cam ni, Gopal?" tanyanya heran sekaligus khawatir. "Kau lepas dibelasah Genk Moto ke?"
"Ish, ini lagi teruk dari Genk Moto lah, dey!" keluh Gopal seraya mendelik ke arah Fang. "Budak Alien ni yang bagi Harimau bayang dia buat belasah aku-"
Melihat ekspresi wajah Mila yang tampak menahan tawa membuatnya terdiam. Detik berikutnya gadis itu tertawa berderai-derai.
"HAHAHAHAHAAA! Fang, kau pon Alien macam Kapten Kaizo?!" ucapnya seraya memegang perutnya yang sakit akibat geli hati. "Astaga, Lawak apekah ini?! HAHAHAHAHA! Kau dah berjaya tipu aku dah! HAHA-"
BLETAK!
"ADUH!"
Mila berhenti tertawa begitu Fang tahu-tahu menjitak kepalanya. "Kenapa kau ketuk kepala aku?!" tanyanya seraya meringis kesakitan.
"Kau ni, jangan lah gelakkan aku," kata Fang cemberut. "Populariti aku bergantung pada harga diri jugak la."
"Dah tu, kenapa kau marah?"
"Hish, kau tak faham ke? Kau gelakkan aku, berkurang juga Harga diri aku!"
"Pfft- Teori macam apa tu? Takde relasinya pon."
"Diamlah."
Mila mengusap air mata yang keluar dari kedua pelupuk matanya akibat tertawa tadi. "Sori, Fang. Aku gurau je tadi," katanya lembut. "Jangan lah marah. Kalau kau maafkan aku, Nanti aku belanja kau Donat Lobak merah. Nak tak?"
Mendengar 'Nama Kekasihnya' disebut-sebut, gengsi Fang mulai goyah. Ia menelan ludah dan menatap teman makhluk Fantasinya itu dengan tatapan seorang adik yang hendak merayu Kakaknya agar dibelikan Kereta Mainan.
"Mestilah aku nak! HOREEE!" ia berseru girang, membunuh gengsinya sendiri. "Terima kasih, Mila!"
"Sama-sam~"
Ia tidak melanjutkan kalimatnya begitu Fang tiba-tiba merangkulnya erat. Kejadian itu tentu saja membuat kedua pipi Mila memerah malu karena dipeluk anak laki-laki tepat di hadapan BoBoiBoy dan teman-temannya. BoBoiBoy menepuk keningnya sambil facepalm, Gopal menganga dan Yaya serta Ying menutup kedua mulut mereka dengan tangan. Mereka tidak habis pikir, apa-apaan Fang memeluk Mila disitu? Bisa-bisa mereka dikira pasangan kencan yang sedang bermesraan di depan umum!
Lain halnya dengan Ochobot. Melihat mantan tunangannya dipeluk oleh laki-laki yang notabene adalah temannya sendiri, mau tidak mau sang Power Sphera kesembilan itu merasa cemburu juga. Dengan insting cemburu itulah dia menyentak tubuh Fang dari Mila, membuat sang pengendali bayangan jatuh dengan bokong yang duluan mendarat di tanah.
"Kau ni, jangan peluk-peluk dia!" sembur Ochobot, merajuk." Kau dah tahu pasal tu kan?"
Fang merengut sambil berdiri. "Ye lah, ye lah. Aku minta maaf," katanya ketus sembari membersihkan bokongnya yang terkena tanah dan rumput Taman Kota itu. "Tak payah lah kau jeles macam tu. Aku dan Mila tu kawan je."
"Haeh, kawan konon. Dah macam dua budak jadian dah."
"Apa?!" Sontak wajah Fang memerah mendengar itu." I- Itu hanya… dah lah! Lupakan saja."
Melihat itu, Gopal lalu membisikkan sesuatu pada BoBoiBoy. BoBoiBoy tiba-tiba tersenyum jahil. Begitu Fang kembali ke tempat duduknya, anak bertopi jingga itu berbisik di sampingnya.
"Fang, kau suka sama Mila ke?"
Fang mendelik tajam ke arahnya. "Kau nak aku panggil Harimau bayang buat belasah kau macam si Gopal tu, BoBoiBoy?"
"Eh?" BoBoiBoy tersengih dan langsung menggeleng ngeri. "Tak, Tak nak lah."
"Hmp!" Fang kembali merajuk. 'Ultimatum' yang diberikannya pada BoBoiBoy cukup membuat temannya itu kapok. Tentu saja BoBoiBoy tidak mau bernasib sama seperti Gopal yang sudah menjadi korban terkaman dari Harimau bayang. Tiba-tiba ia teringat sesuatu dan menoleh ke arah Mila yang juga sudah kembali ke tempat duduknya.
"Oh, iye. Mila, tadi kau kata nak bagi tahu masalah kau," katanya. "Masalah apa tu?"
Pertanyaan itu membuat Mila terkejut juga. "Eh, Ha'ah lah," sengihnya. "Ini mungkin akan buat korang tekejut. Tapi aku kena bagi tahu korang sebab benda tu penting sangat."
"Apa benda tu?"
"Aku..."
Mila menelan ludahnya. Ditatapnya wajah teman-temannya satu persatu dengan cemas. Wajahnya menunduk, tidak berani melihat mereka secara langsung. Kedua tangannya saling menggenggam satu sama lain di depan dadanya. Ia lalu menggumam pelan.
"Aku nak berhenti jadi murid kat Akademi Pulau Rintis."
"HAH?!"
Kalimat itu tentunya membuat BoBoiBoy dan teman-temannya kaget. Mereka tidak menyangka kalau teman baru mereka ini mau berhenti jadi siswi Akademi Pulau Rintis dan keluar dari sekolah mereka.
"Ta- Tapi kenapa?" tanya BoBoiBoy terbata-bata. Ditatapnya wajah Mila lekat. "Kenapa kau nak berhenti?"
Yaya mengangguk tanda simpati. "Betul tu. Apasal kau nak berhenti?" tanyanya bingung. "Kau nak pindah sekolah ke apa?"
"Iya ho. Lu kan belum tamat satu semester pon," timpal Ying sedih.
"Dey, kita baru berjumpa pulak tu," sanggah Gopal. "Padahal baru sahaja kita buat rancangan buat cuti lepas peperiksaan tengah semester nanti. Janganlah pindah, Mila. Huhuhuu..."
Fang menghela nafas. "Terangkan alasan kau, Mila," ujarnya sembari mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya. "Kalau alasan kau masuk akal, kitorang akan relakan kau. Tapi kalau tak, mohon fikirkan lagi. Berhenti sekolah tu bukan benda senang untuk dibuat."
Mila semakin menunduk, tidak berani melihat teman-temannya yang kebingungan itu. Ochobot yang merasa situasi menegang lalu terbang mendekatinya.
"Fang betul. Terangkan je alasan kau," katanya lembut. "Aku tahu kau boleh."
Milyra menghembuskan nafas dan menoleh ke arah si robot kuning. "Terima kasih, Ochoboy," balasnya lalu mengangkat wajahnya, menatap teman-temannya. Diberanikannya dirinya untuk berbicara.
"Sebenarnya aku baru sahaja ditunjuk sebagai ahli pasukan daripada suatu badan perlindungan kat Galaxy," ujarnya memulai penjelasan. "Nama badan tu ialah Galactic Imperial Defender Organization atau biasa disingkat GIDO. Awalnya aku tak tahu pasti kenapa mereka pilih aku. Tapi selepas mereka sebut alasan mereka buat rekrut aku, aku sedar kalau aku bukan lah diri aku yang dahulu yang macam terkukung kat bayang-bayang Bunda aku. Aku dah berubah, termasuk Spesies aku." Ia lalu melirik sang pengendali bayangan. "Fang, masa aku peluk kau tadi, kau tak rasa lemas kan?"
Fang terkejut. Betul juga apa yang dikatakan Mila. Pemuda itu tidak merasa lemas lagi begitu Mila memeluknya tadi, padahal gadis itu adalah Succubus yang notabene bisa menyerap energinya. Tapi kenapa dia tidak merasakan apa-apa?
Melihat wajah Fang yang bingung, Mila melanjutkan penjelasannya. "Spesies aku bukan Succubus lagi. Ketua GIDO kata aku dah bertukar spesies disebabkan pribadi aku yang tak jahat dan hodoh macam Ras Succubus punya. Ras aku sekarang ialah Guardian Fairy atau Peri Pelindung. Ini bukan hal biasa, sebab jarang Makhluk Fantasi kat Planet Tim Tam Dua bertukar-tukar ras dan spesies. Mungkin benda tu disebabkan kerana dedikasi tiap Makhluk untuk tetap pertahankan insting tiap spesies diorang, macam Bunda aku yang dah kental dengan identiti Succubus dia yang jahat plus kelainan Pedofil dia tu. Sebab Bunda ialah keturunan sah pemerintah kat Planet Tim Tam Dua, maka dia yang dinobatkan jadi Ratu sementara aku jadi Puteri Mahkota. Aku rasa peribadi aku bukan macam Bunda, tapi lebih ke Ayah aku: Romeo Sparklouise. Nama kecik dia tu Romy. Ayah aku bukan Makhluk Fantasi melainkan Alien berwujud manusia macam Fang dan Kaizo. Sebab tu lah korang tengok adik kembar aku: Sebastian yang spesies dia Humanoid Alien. Gen lahir aku lebih ke Bunda sementara Gen lahir Tian lebih ke Ayah, namun peribadi kitorang terbalik. Aku dan Ayah lagi sukakan cahaya sementara Bunda dan Tian ialah sebaliknya. Korang faham maksud aku, kan?"
"Wahh- tak sangka perkara tu berlaku dekat kau, Mila," ucap Yaya kagum. "Tapi aku nak tanyakan satu soalan. Mana Ayah kau? Apasal kitorang tak pernah jumpa dia?"
Mila terhenyak. Wajahnya murung. "Entah," ungkapnya. "Terakhir aku tengok Ayah aku ialah masa Bunda marah kat Ayah sebab berkawan dengan kawan lama mereka yang kebetulan ialah perempuan. Kalau tak salah nama dia ialah Auntie Ju. Mungkin Bunda cemburu kat dia. Sebab tu, Bunda jadi hilang akal dan mengamuk kat Ayah dan Auntie Ju. Itulah kali pertama aku tengok kuasa Mawar Liar milik Bunda muncul. Mawar Liar Bunda hancurkan seisi Istana. Aku nampak Auntie Ju sekarat sebab terkena sabit Bunda di dada dia. Ayah lalu bawa aku dan Tian yang masa tu baru berumur 4 tahun ke gerbang utama dan taruh kitorang berdua kat depan sana. Lepas tu, Ayah balik masuk tuk hadapi Bunda yang masih garang. Istana aku lalu hancur selepas tu. Aku nampak Ayah dan Auntie Ju dibawa ke hospital dalam keadaan sekarat sementara Bunda dibawa ke Psikiater Kerajaan. Aku dan Tian lalu diasuh oleh Ashrlati dan Ibu Bu di Planet Ata Ta Satu dan Ata Ta Tiga hingga Bunda datang dari psikiater satu tahun kemudian untuk jemput kitorang. Sebab tu lah aku kenal dan berkawan baik dengan Ochoboy dan Adu Du. Tahu-tahu Bunda minta Makcik Rati buat tunangkan aku dan Ochoboy sementara Makcik Bu restui pertunangan tu. Aku tak tahu kalau kelainan Pedofil Bunda muncul balik selepas tengok Ochoboy, dan pertunangan tu hanyalah alat untuk jadikan Ochoboy milik dia. Sementara Ayah dan Auntie Ju... aku tak pernah lagi dengar Khabar perihal mereka. Aku rasa... mereka sudah tiada."
Ia mengatakan kalimat terakhir dengan suara tercekat. Matanya berair. Namun Mila tidak mau membuat teman-temannya semakin khawatir sehingga dihapusnya air matanya itu. Ying merengkuh bahunya, berusaha menenangkannya.
"Mila, tak payah kamu citer semua benda tu kalau kamu tak kuat wo," hiburnya. "Keluarga kamu mungkin dah rosak sebab Bunda kamu, tapi kamu masih punya kami maa. Kami ni kawan-kawan kamu dan akan selalu berusaha jadi kawan-kawan terbaik kamu. Jangan risau, okey?"
Ochobot mengangguk. "Dan juga, aku pon akan selalu bersama kau." ujarnya tulus. "Aku, BoBoiBoy dan yang lain akan selalu dukung kau. Kau tak pernah sendiri, sebab kitorang ada untuk kau. Ingat itu."
Mila terharu mendengar itu. Ditatapnya BoBoiBoy yang mengangguk tanda mengiyakan. Gopal menyeringai sembari berkacak pinggang seakan tubuhnya adalah perisai. Fang tersenyum simpul dan Yaya tertawa kecil.
"Semuanya, terima kasih," ucapnya terharu karena tanggapan positif teman-temannya. "Korang semua dah bantu aku. Korang dah korbankan jiwa dan raga korang untuk aku yang bukan siapa-siapa korang. Korang bahkan dapat masalah teruk dengan Bunda aku dan ONION sebab nak berkawan dengan aku. Aku bahagia berjumpa dengan korang. Namun aku sedar, tempat aku bukan disini. Aku Puteri Mahkota Planet Tim Tam Dua yang dikudeta. Rakyat Tim Tam Dua butuh aku. Maka dari tu, aku memilih berhenti jadi murid kat Akademi Pulau Rintis dan masuk ke GIDO untuk lindungi Galaxy sekaligus dapatkan balik Takhta aku. Selain itu, umur aku dah terlampau tua untuk jadi murid sekolah. Aku dah delapan belas tahun umur Galaxy, walaupun badan aku macam nampak sebaya dengan korang. Aku harap aku boleh berjumpa dengan korang di lain masa nanti."
BoBoiBoy tersenyum tulus. "Jangan risau, Mila. Kitorang akan selalu jadi kawan terbaik kau," ucapnya bertekad. "Walaupun kita terpisah, tapi selama kita saling ingat, maka perkawanan kita tak kan pernah sirna. Ingat, ye."
"Um!" Angguk Mila sumringah. "Akan selalu kuingat pesan kau, BoBoiBoy," tukasnya bahagia. "Ah, ya. Satu lagi. Aku nak korang rahsiakan sebab aku berhenti jadi murid sekolah. Bagaimanapun juga, GIDO ialah badan rahasia. Tak sembarang orang boleh tahu keberadaan mereka. Aku bagi tahu korang tentang benda ni sebab aku percaya dekat korang. Kalau ada kawan daripada Darjah 7 Cerdas yang tanya pasal aku, cakap je umur sebenar aku. Diorang mesti maklum sebab mana boleh budak umur 18 tahun bersekolah kat darjah tujuh?"
"Ha, betul tu," sahut Yaya setuju. "Lagi baik kau keje dekat GIDO. Kau akan bantu mereka jaga Galaxy dan menumpas musuh-musuh yang bervariasi. Mesti best! Sayangnya kitorang tak boleh tinggalkan Bumi ni dahulu. Masih banyak yang kitorang kena buat sebagai budak pelajar."
Fang tertawa kecil. "Jangan risau, Mila. Rahsia kau aman dengan kitorang."
"Betul tu!" angguk Gopal dengan gagah berani. "Percayakan sahaja rahasia kau dekat kita, khususnya aku, Gopal Kumar! Rahsia-rahsia terkecik pun aku boleh jaga."
Krikk … Krikk … Krikk …
"Hehehe…"
Krikk … Krikk … Krikk …
"Lu ni, cakap tak serupa bikin," dengus Ying, menggerutu. Tentu saja, dia dan teman-temannya tahu betul dengan kebiasaan sang manipulator molekul yang mulutnya nyaris tidak bisa dikunci kalau berhadapan dengan orang lain. Sebagai contoh: Saat Insiden Raksasa Koko menyerang Pabrik Cokelat di ujung kota terjadi dan hendak mencari Cokelat untuk meningkatkan kekuatannya, tanpa sadar Gopal memberitahu Raksasa Koko dimana letak tangki raksasa Pabrik yang berisi Stok Kakao melimpah ruah dan hasilnya malah membuat mereka semakin kesulitan untuk melawan Raksasa Koko yang semakin kuat akibat menyantap seluruh isi tangki itu. Kalau saja Probe yang 'hidup kembali' tidak menyelamatkan mereka dengan Mode-nya yang terbaru, maka BoBoiBoy dan teman-temannya pasti sudah hancur saat itu juga.
Gopal hanya nyengir hambar, berusaha menyembunyikan rasa malunya akibat kebiasaan buruknya yang dinafikkannya sendiri. Mila sendiri sudah tahu dengan kebiasaan Gopal yang jarang tutup mulut, jadi gadis itu tidak memberitahu mereka mengenai info GIDO lebih lanjut karena GIDO sendiri akan terancam keberadaannya jika diketahui oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. Begitu selesai mengucapkan salam perpisahan, sekonyong-konyong kedua mata merah jambunya menangkap sosok tape recorder yang tadi dibawa BoBoiBoy dari rumah, ditaruh di atas meja konter kedai Kokotiam. Sebelum mereka berpisah, Mila iseng-iseng berkomentar.
"Boleh juga Tape Recorder kau ni, BoBoiBoy. Tumben aku tengok kau bawa benda ni kat Kedai. Biasa pon jarang sangat. Kau nak manjakan pelanggan kau dengan rekaman-rekaman lagu Hindustan milik Gopal ke?"
Mendengar kalimat itu membuat sang manipulator elemen tersentak. Nyaris saja dia lupa sebab mengapa dia membawa tape recorder ke Kedai saat itu. Buru-buru dikeluarkannya kotak perekam milik Rosaline dari saku jaketnya dan berseru.
"Kejap, Mila! Ada benda aku nak bagi tahu kau," katanya, membuat Mila yang sudah mau pulang ke rumahnya menoleh.
"Apa benda tu, BoBoiBoy?"
BoBoiBoy memasukkan kotak perekam Rosaline ke dalam tape recorder itu. "Aku nak korang semua dengarkan rekod ni betul-betul," pintanya. "Aku jumpa kotak rekod ni selepas kita belasah Rosaline hari tu. Masa aku ambik buku Fisika dan Liontin-Liontin Siti dari rumah Atok tadi, aku dengar isi rekod ni, tapi aku tak lah terlalu faham apa maknanya. Mungkin korang semua boleh bantu aku, terutama kau Mila, sebab kau lagi tahu maklumat Mak kau dibanding kitorang."
Diputarnya tombol Play di tape recorder dan mengajak teman-temannya mendengar dan menelaah isi rekaman itu. Awalnya terdengar bunyi gemerisik saat tape recorder membaca kotak perekam Rosaline dan beberapa lama kemudian, terdengarlah suara Rosaline darinya.
"Halo, Ochoboy. Ini aku, Rosaline."
"Ada beberapa hal yang nak aku bincangkan dengan kau secara empat mata."
"Kau kenal Haryan Pakpak Darwish, kan? Ketua ke-99 dari ONION?"
"Dia tidak suka dengan dunia ini, kau tahu tak?"
"Sayang, dia terlampau degil dengan kebencian dia."
"Ambisi dia dah bunuh diri dia sorang."
"Dan Penduduk Alam semesta... mereka mungkin boleh berjaya sekarang."
"Tapi bagaimanapun juga, Haryan bukan lelaki bodoh."
"Sebab dia punya banyak 'HAMBA', 'HAMBA YANG KUAT'."
"Dan Hamba-Hamba dia tu lagi kuat dari yang kau ingat selama ni."
"Aku bagi tahu kau semua benda ni agar kau boleh sedia, Ochoboy."
"Sedia untuk apa? Cari sendiri jawabannya."
"Dan satu satu soalan lagi yang nak aku tanyakan dekat kau."
"Kau sedar ke kalau Mak kau MASIH HIDUP? MWAHAHAHAHAHAHAAA!"
Cepat-cepat BoBoiBoy mematikan tape recorder begitu melihat teman-temannya kaget bukan kepalang akibat mendengar suara tawa sinis mengerikan milik Rosaline yang keluar dari benda itu. Pemuda cilik itu mendesah panjang dan menoleh ke arah mereka.
"Nah, korang tahu tak apa maksud cakap dia tadi?"
"Dey, mana kita tahu maksud dia kalau dia gelak-gelak macam orang gila kat situ?" Ujar Gopal facepalm. "Hiiyy... menakutkan betul! Gelak Rosaline tu dah macam gelak Hantu pontianak punya! Kan, BoBoi- Eh? Kenapa kau, Ochobot?"
Perhatiannya teralihkan sejenak pada sang Sfera kuasa generasi kesembilan yang tampak gemetar setelah mendengarkan suara rekaman itu. Ochobot memegang bagian atas tubuh logamnya seakan ia sedang sakit kepala. Ia mengerang seperti orang sakit ayan. Fang yang berada di dekatnya segera menangkap tubuh bolanya yang terbang oleng agar tidak terjatuh ke lantai Kedai.
"OCHOBOT!"
Mereka segera mengerumuninya disitu, khawatir karena Ochobot yang tiba-tiba berkelakuan seperti terkena epilepsi pasca mendengarkan rekaman suara Rosaline yang secara jelas ditujukan pada dirinya. Fang melihat kedua mata proyektor biru milik Ochobot tampak linglung. Anak itu langsung menyodorkannya pada BoBoiBoy dengan isyarat was-was.
"Aku rasa Ochobot macam tekejut pasal benda-benda teruk yang Rosaline bagi tahu lewat rekod suara dia, macam kita je tadi," ucapnya serius. "Dan dia lagi kaget selepas dengar maklumat perihal 'Mak' dia. Dia kena berehat. Kau kena bawa dia ke rumah Tok Aba sekarang, BoBoiBoy. Lepas tu kau balik sini. Nanti kita bincangkan apa-apa maklumat yang rekod tu bagi dekat kita."
BoBoiBoy menerima tubuh bola Ochobot yang setengah sadar itu dengan wajah bersalah. "Maaf. Ini salah aku sebab aku dah buat dia dengarkan rekod ni," sesalnya karena merasa terlalu cepat menunjukkan 'barang spekulasi' itu pada Ochobot. Ia menoleh ke arah sahabat Indianya, memberi isyarat. Gopal mengerti dengan tatapan BoBoiBoy itu dan mengangguk. Dia mengekori BoBoiBoy membawa Ochobot ke rumah Tok Aba untuk beristirahat, meninggalkan Fang dan ketiga teman perempuannya di Kedai. Sepanjang jalan mereka membisu, masih memikirkan apa maksud dari pesan rekaman suara dari Rosaline.
"Gopal, kau tahu tak maksud daripada cakap Rosaline tadi?" tanya BoBoiBoy bingung. Gopal mengerutkan kening. Lima menit kemudian, dia akhirnya pasrah.
"Haeh- yang aku tahu, gelak dia tu menakutkan!" tukasnya, langsung pasang ekspresi orang gemetar. "Dah meninggal pon dia masih boleh buat kita takut! Merinding aku tadi, macam buat aku fikir dia dah hidup balik tau."
"Ish, kau ni. Dia dah jadi arwah lah. Mana boleh hidup balik?"
"Ehehe, tapi tebak pon boleh kan?"
BoBoiBoy menghela nafas. "Ye lah tu," katanya malas. "Tapi tetap sahaja kemungkinan dia hidup balik tu masih ada, walaupun itu Sembilan puluh Sembilan perseratus mustahil. Kalaupun dia tak hidup balik, kita kena waspada juga. Dari maklumat yang Rosaline bagi lewat rekod dia tu, aku samar-samar tangkap kalau rancangan Uncle Haryan tak berakhir sampai disini sahaja. Kau tahu maksud aku, kan?"
Gopal tiba-tiba memucat. "Maksud kau... kita belum tamatkan ONION seluruhnya ke? Walaupun selepas Uncle Haryan terhapuskan?!"
Temannya yang bertopi jingga merenung. "Kemungkinan iya," jawabnya agak ragu. "Nampaknya Uncle Haryan belum bagi tengok seluruh rancangan dia terhadap kita. Kita mungkin boleh santai untuk beberapa masa hadapan, tapi setidaknya kita kena waspada sikit. Oh, ya. Masa cuti kat bandar nanti, aku mahu kenalkan kau dengan salah sorang daripada kawan lama aku. Dia macam kau, suka makan-makan tau. Nak ke tak?"
"Ha? Ye ke?" ujar Gopal berbinar-binar. "Kawan kau tu suka makan-makan juga kah? Mestilah nak! Akhirnya ada juga yang satu minat dengan aku," katanya gembira. "Apasal kau tak pernah bagi tahu aku kalau kau ada kawan yang minat makanan? Jarang betul aku punya kawan sama minat macam dia."
"Hehehe, sori, Gop. Itu surprise buat kau," ucap BoBoiBoy geli. "Aku yakin korang mesti cepat akrab. Pokoknya Best lah!"
Sementara itu di Kedai Kokotiam, Fang dan ketiga teman perempuannya menunggu kedatangan kedua teman mereka yang tengah membawa Ochobot yang tidak sadarkan diri ke rumah Tok Aba. Mila melihat ke arah Jam gantung Kedai yang menunjukkan pukul 15:10. Satu jam lagi dia harus sudah berada di Markas GIDO untuk dilatih sebagai anggota baru. Namun karena BoBoiBoy memperlihatkan kotak perekam milik Rosaline dan menelaah isinya di hadapan mereka semua, dia akhirnya memutuskan untuk tinggal sejenak disitu dan menunggu Gopal dan BoBoiBoy kembali dari rumah Tok Aba.
"Fang, kau yakin ke tak nak bagi tahu BoBoiBoy pasal Siti?" tanya Yaya tiba-tiba. "Aku rasa lagi baik kita bagi tahu dia sahaja. Aku macam curiga masa tengok patung manekin bertudung biru di Istana Boneka Mimi kat Markas ONION. Benda tu nampaknya ada sangkut pautnya dengan Siti."
Usulan itu dibalas dengan gelengan kepala sang manipulator bayangan. "Jangan, Yaya. Kita tak boleh bagi tahu dia," katanya sangsi. "Aku yakin BoBoiBoy akan syok berat sebab tu. Ini bukan masanya."
Ying mengangguk setuju. "Fang betul ho. Baik kita cari lain masa untuk bagi tahu dia," ujarnya. "Saya pon tak terlalu faham pasal boneka manekin bertudung biru tu. Tapi saya fikir BoBoiBoy belum siap untuk dengarkan spekulasi kita perihal Siti. Untung sahaja Ochobot cegat si Gopal dari bagi tahu BoBoiBoy pasal tu tadi. Kalau tak, berbahaya!"
Mila yang diam sejak ketiga sahabat BoBoiBoy itu beralih topik, menguping pembicaraan mereka. Boneka Manekin? Sejak kapan ONION punya relasi dengan Pabrik Boneka? Kalaupun memang benar, untuk apa mereka menjalani relasi itu? Gadis itu tidak mengatakan apa-apa. Dia tidak mau menginterupsi mereka. Barangkali rekan kerja barunya: Hafiz yang bekerja magang di GIDO punya informasi lebih mengenai hal tersebut lebih lanjut. Dan mungkin saja dia akan membantunya untuk ini.
Ketika mereka sedang asyik-asyiknya bercengkerama, sekonyong-konyong mereka mendengar langkah kaki dari ujung taman. Mereka menoleh ke sana dan mendapati seseorang berjalan mendekati Kedai Kokotiam. Menurut taksiran Yaya, umurnya mungkin sekitar 26 tahun. Orang itu tinggi dan agak kekar namun berpenampilan formal. Pakaiannya bergaya perlente dengan beberapa lempengan logam di kaki, lengan dan bahunya. Sebuah jubah bertudung berwarna putih keabuan dengan garis-garis biru asap menjuntai dari lempengan logam di bahunya hingga setengah betis. Tudung jubah itu ditarik hingga ke depan kepalanya, menutupi hampir seluruh wajah kecuali bagian daerah hidung, mulut dan dagu.
Ying memicingkan matanya, berusaha mengenali ciri orang itu. Samar-samar ia melihat beberapa helai rambut berwarna pirang gelap kehitaman menjuntai dari tudung si asing. Begitu dia tiba di depan Kedai Kokotiam, Fang segera menghadangnya.
"Maaf, tapi penjual Kedai ni tengah berehat," katanya ketus. "Anda boleh datang di hari lain kalau Anda mahu."
Orang yang dihadangnya menghentikan langkah. Beberapa saat ia mematung disitu. Fang melirik ke ikat pinggang orang itu. Disana tersampir sebuah pedang cahaya bergagang biru tua, membuat Fang was-was. Siapa orang ini? Kenapa dia membawa pedang ke Kokotiam? Pedang yang dibawanya pun tampaknya bukan pedang biasa. Pedang itu mengingatkannya pada pedang tenaga milik Kaizo, hanya saja bilah pedang orang itu berwarna putih sementara Kaizo berwarna biru muda. Apa jangan-jangan dia adalah musuh yang hendak mencuri Koko milik Tok Aba?
Tiba-tiba Mila merasa aura disekitar mereka mendingin. Tubuhnya terasa kaku seiring kedatangan orang asing tersebut. Mau apa dia disini? Ia menelan ludah. Kepalanya terasa sakit, namun Mila berusaha keras untuk menahannya. Dia tidak mau membuat ketiga temannya repot karenanya. Pelan-pelan ia menatap orang bertudung yang mendatangi Kedai Koko milik Tok Aba itu.
Dalam keheningan, orang itu tersenyum dan tertawa pelan pada mereka. Suaranya berat, mengindikasikan bahwa dia adalah laki-laki.
"Tak sangka kau dah tumbuh besar, Fang."
"Hah?"
Kenapa pria bertudung itu tahu namanya? Fang kaget sekali. Otaknya berusaha mengingat-ngingat apakah dia pernah bertemu dengan orang ini, tapi otaknya pun serasa buntu. Fang tidak ingat siapa pria bertudung itu. Ying turun dari kursi bundarnya dan ikut menghampiri mereka, bertanya.
"Apa Uncle nak buat kat sini?"
"Aku? Nak buat apa?" pria bertudung itu mendesah panjang. "Korang ni nampaknya mahu tahu betul alasan aku. Baiklah. Aku hanya nak bagi korang amaran, walaupun itu mungkin macam tak masuk akal."
"Eh? Amaran?" Yaya mengerutkan kening. "Amaran macam apa yang nak Uncle bagi tahu dekat kami?"
Mulut pria itu tiba-tiba murung. Ia melirik ke arah kotak rekaman Rosaline di atas meja konter dan berkata, "Korang dah dapatkan benda tu? Nampaknya korang memang dah berjaya kalahkan Roz." Ia menggerutukkan giginya. Suaranya memelan. "Asal korang tahu, ini bukanlah akhir. Roz dan Haryan mungkin sudah terhapuskan. Tapi selama Supreme Diamond masih ada, ONION tak kan pernah bisa dikalahkan, sebab dioranglah back up sebenar Organisasi tu. Tapi selepas tengok korang hanyalah budak-budak, aku kecewa. Korang seharusnya tak boleh terlibat dengan ONION. Baik korang lupakan semuanya dan jangan masuk campur. Camkan kata-kata aku ni."
Setelah ia mengatakan itu, ia berjalan ke depan, melewati Fang dan Ying menuju samping kanan Kedai Kokotiam dimana kursi bundar yang diduduki Mila berada. Begitu ia melewati gadis itu, tangannya terulur dan menepuk pundak Mila seraya bergumam.
"Aku nak kau cegat kawan-kawan kau daripada masuk campur dengan pasal ONION, Milyra. Diorang tak layak urus benda teruk macam ni."
DENG!
Mila terbelalak. Entah mengapa tubuhnya terasa berat sekali begitu lelaki itu menepuk pundaknya. Ia berkeringat dingin. Si lelaki bertudung menarik tangannya dari pundak Mila dan kembali berjalan melewatinya. Tiba-tiba angin kencang berhembus, menyapu dedaunan di taman kota. Begitu angin itu berhenti, lelaki bertudung itu sudah hilang.
"Mila, kau takpe?"
Didapatinya Yaya di sampingnya, memegang bahunya dengan khawatir. Fang dan Ying kembali ke tempat duduk bundar mereka masing-masing. Mila merasa sakit kepalanya mereda. Setelah merasa lebih tenang, gadis itu berucap.
"Aku... Aku baik kot," katanya lemah. "Hanya pening sikit je. Jangan risau pasal aku."
"Haih- lu jangan bohong ma. Masa kamu disentuh lelaki bertudung tadi, muka kamu memucat," tanggap Ying. "Lu tahu siapa dia kah?"
Mila menggeleng. "Tak. Aku tak tahu siapa dia," jawabnya, walaupun nada suaranya terkesan agak ragu. "Hanya sahaja aku macam merinding masa dia muncul tadi. Dia tahu nama aku. Dan dia bagi tahu kalau korang jangan masuk campur terhadap ONION. Dia kata... korang tak layak."
"Pelik," komentar Fang sembari berlipat lengan di depan dada, merenung. "Dia juga sebut nama aku tadi, macam aku ni kenalan dia. Anehnya, aku dan Mila tak ingat siapa Uncle tu."
"Mungkin sebab Cecair hilang ingatan yang dimasukkan kat tubuh korang tu belum hilang lagi," ucap Yaya sembari menatap Mila dan Fang bergantian. "Tapi lambat laun korang mungkin akan ingat siapa dia. Aku rasa dia bukan orang Jahat. Dia bagi kita Amaran, walaupun cara dia kaku macam tu."
"Um," angguk Mila setuju. "Dia mungkin kaku, tapi dia bukan di pihak jahat. Hanya sahaja korang tak boleh terintimidasi dengan cakap dia, macam aku tadi. Nampaknya dia tak suka dengan korang sebab umur korang yang terlampau kecik tapi dah berani masuk campur dengan badan teruk macam ONION."
"Jadi kesimpulannya dia nak kita berhenti, begitu?" ucap Fang kesal. "Hmp, tak layak dia kata? Peremeh betul! Mari kita buktikan siapa yang lagi layak! Dia takde hak untuk rendahkan kita hanya kerana umur kita yang terlampau muda."
"Wey, lu ingat ini kompetisi kah? Jangan cakap lu nak balas dia, Fang," sambar Ying begitu ia merasa aura persaingan Fang muncul lagi. "Dia tu orang dewasa ma. Lagipun apa manfaatnya kamu lawan dia? Baik kamu jangan fikirkan pasal tu, Okey?"
Fang mendesah. ""Ye lah, Ye lah," tukasnya malas. "Aku tahu aku tak selayak dia, tapi setidaknya dia tak boleh remehkan kita! Itu je yang buat aku risau pasal dia. Dia fikir dia siapa? Pahlawan Galaxy?"
Lelaki bertudung yang tadi menemui Fang dan teman-temannya di Kedai Kokotiam itu melangkahkan kakinya menuju hutan cemara di samping Akademi Pulau Rintis dimana dahulu Mila bertarung melawan BoBoiBoy dan Gopal saat mengambil profesi sebagai siswi. Lelaki itu menghembuskan nafas panjang dan membuka tudung jubahnya, memperlihatkan rambutnya yang berwarna pirang kehitam-hitaman. Kedua matanya yang berwarna merah gelap menatap kosong. Ia menggerutukkan giginya, menahan emosi.
"Tak sangka aku jumpa Milyra disini. Syukurlah dia selamat daripada serangan Kudeta Syrena dekat Planet Tim Tam Dua beberapa bulan lepas," gumamnya lega. "Nampaknya Fang dan budak-budak Bumi tu dah berjaya amankan dia. Tapi apa pasal diorang masuk campur dengan benda ONION ni jugak? Diorang masih budak kecik! Mana boleh dipercaya untuk lindungi Galaxy? Hmp! Kalau sahaja Kaizo dahulu tak biarkan diorang guna kuasa daripada Jam-Jam Kuasa Ochoboy, tak kan lah semua ini akan berlaku. Kau memang tak berguna, Kaizo... Tapi semuanya sudah berlaku. Apa boleh buat, aku kena bertindak sendiri hanya kerana standar kelayakan kau yang tak relevan. Tak guna betul."
Tiba-tiba angin kencang berhembus di hutan cemara itu. Lelaki bertudung itu mendongak, mendapati sebuah Pesawat Angkasa bergaya Klasik di atasnya. Benda itu besar sekali. Mungkin lebih besar dari Pesawat Angkasa milik Ejo Jo. Lelaki itu lalu kembali menarik tudungnya menutupi kepala hingga pangkal hidung. Pesawat Angkasa itu mendarat tak jauh di hadapannya. Begitu Pintu depan Pesawat Angkasa itu membuka, sekumpulan Alien Humanoid berpakaian serba logam melanin kaku keluar dari Pesawat dan membungkuk hormat padanya. Lelaki bertudung itu balas mengangguk dan membuka mulut.
"Bagaimana dengan Keadaan Tuan Puteri?" tanyanya pada salah satu dari prajurit itu. Yang ditanya kembali membungkuk hormat dan berusaha menjawab pertanyaan itu dengan lancar.
"Keadaan Puteri Liena sudah cukup membaik, walaupun suara dia masih lemah. Nampaknya Tuan Puteri terlampau gunakan Kuasa Planet Blessing dia untuk tetap aktifkan pelindung maya dekat Planet kita agar boleh halau serangan musuh. Anda boleh jenguk Puteri Liena sekarang kalau Anda mau, Komander Spark."
"Hm, iya ke? Baiklah. Aku akan jumpa dia sekarang," balasnya datar seraya berjalan melewati si Prajurit. "Lagi baik kita balik ke Planet kita sekarang juga. Aku rasa tak sedap hati kalau kita Patroli keliling Galaxy tanpa lindungi Planet kita. Kita dah gagal lindungi dan lacak keberadaan Tuan Klamkabot empat tahun lepas, padapun kita ni ialah askar penjaga beliau. Memalukan. Aku tak nak benda tu berlaku lagi. Faham semua?"
"Faham, Komander."
Lelaki bertudung yang dipanggil Komandan Spark itu lalu masuk ke dalam Pesawat Angkasa raksasa diikuti prajurit-prajuritnya. Pintu Pesawat Angkasa Klasik itu menutup dengan bunyi derakan yang cukup berat. Untungnya, Akademi Pulau Rintis yang berada persis di samping Hutan Cemara itu sudah kosong sehingga tidak ada saksi mata yang melihat keberadaan Benda terbang asing tersebut. Pesawat Angkasa itupun terbang menjauh dari atmosfer Bumi dengan kecepatan tinggi hingga akhirnya tiba di ruang angkasa.
Setelah beristirahat sejenak di ruang kendali, Komandan Spark lalu pergi menuju sebuah pintu berwarna biru dengan bingkai emas di lantai dua Pesawat. Dibukanya pintu itu perlahan dan masuk. Ia kini berada di sebuah ruang tidur berukuran sedang. Warna dindingnya putih kebiruan dengan beberapa saluran neon yang menyala di setiap sudutnya. Di tengahnya terdapat sebuah ranjang busa putih berukuran King Size. Komandan Spark lalu menghampiri ranjang itu dan mendapati sesosok wanita muda yang duduk setengah berbaring disana. Umurnya mungkin sekitar dua puluh dua atau dua puluh tiga tahun. Kulitnya bersih dan wajahnya yang putih pucat tampak halus. Rambut ikalnya yang berwarna pirang muda panjang menjuntai hingga menyentuh seprai ranjang. Sebuah gaun tidur berwarna biru muda menutupi tubuhnya yang kurus ditambah sebuah Bed Cover yang menutupi bagian pinggangnya hingga ujung ranjang. Kedua tangannya berada di pangkuan. Dia menyambut kedatangan lelaki bertudung itu dengan senyum hangat, walaupun terkesan dipaksakan.
"Terima kasih sebab dah sempatkan masa Anda untuk jenguk saya, Komander Spark."
Komandan Spark tersenyum kecil. "Itu sudah jadi tugas aku, Puteri Liena," balasnya sembari duduk di tepi ranjang. "Macam mana keadaan kau?"
"Lagi baik dari sebelumnya," balas Liena lembut. "Walaupun macam pening sikit. Tapi Komander tak payah risau. Saya masih boleh berbuat ektiviti sehari-hari. Saya masih kuat kot."
"Jangan, Liena. Aku mohon... jangan paksakan diri kau."
"Ini dah jadi kewajiban saya sebagai Keturunan Akhir daripada Pelindung sejati dekat Planet kita. Saya tak boleh tinggalkan benda penting tu. Kalau tak, Planet kita akan diserang oleh musuh."
"Tapi Liena, dah non-stop kau gunakan kuasa kau selama satu tahun ni untuk pertahankan Planet kita. Memang pon Planet kita tak pernah kena serang sebab Dinding Tenaga kemasyuran daripada kuasa Planet blessing kau cegat musuh untuk masuk. Setidaknya kau ambik lah Cuti dahulu. Kau dah melampau!"
"Maaf, Komander. Tapi kewajiban ialah kewajiban. Saya kena buat benda ni sorang-sorang. Anda tahu kan? Kuasa Planet Blessing ni seharus pun ada 'penyeimbang', dan hanya 'mereka' yang boleh seimbangkan kuasa tu agar badan saya boleh stabil balik."
"Liena, kau masih percaya kalau mereka penyeimbang tu? Kau salah! Mereka dah jadi pemberontak Legenda kat Galaxy ni, dan kau masih percayakan mereka?!" Komandan Spark membalas dengan emosi. Wajahnya yang merah padam terhalang oleh bingkai tudungnya. Namun Liena bisa melihat gerak mulut sang Komandan yang menggeretuk. Sang Putri menelan ludah. Dia tahu lelaki di hadapannya ini mengkhawatirkan kondisinya yang semakin lemah karena memakai kekuatannya terus menerus. Tapi hanya ini yang bisa dia lakukan sembari menunggu hingga 'Para penyeimbang' kembali.
"Komander, saya tahu Anda tak percayakan dia. Tapi Kaizo dan Fang bukanlah pembelot macam tu," katanya dengan suara tercekat. "Mereka mesti punya alasan kuat, dan saya percaya itu. Mereka memang dah tinggalkan tanggung jawab diorang di dimensi tetangga Planet kita untuk luaskan pandangan diorang akan Galaxy ni. Saya yakin diorang akan balik dekat tanggung jawab sebenar diorang suatu masa nanti."
"Hmp, itupun kalau kau masih sanggup tunggu mereka, Tuan Puteri," dengus sang Komandan sembari beranjak menuju pintu. "Maaf sebab kelancangan aku tadi. Tapi aku hanya nak bagi kau Amaran: Jangan buang sia-sia nyawa kau hanya kerana kau tunggu mereka untuk selamatkan dimensi Planet kita. ONION dan musuh kita yang lain tak kan segan untuk serang kita dengan rancangan-rancangan picik mereka kalau usaha kita hanya menunggu. Ingat itu."
Dibukanya Pintu kamar Liena dan keluar. Liena menatap kepergiannya dengan air muka pasrah. Dia sudah menganggap Komandan Spark sebagai pengganti Kakak lelakinya yang dahulu menghilang. Tapi entah mengapa sejak Kaizo dan Fang meninggalkan dimensi Planet mereka untuk perluasan informasi, Komandan Spark langsung mengurangi kepercayaannya pada kedua Kakak-Beradik itu. Liena menghela nafas dan menggenggam kedua tangannya satu sama lain di depan dada seraya menutup mata.
"Semoga semuanya berjalan dengan lancar," gumamnya berharap. "Akan aku tunggu hingga masa itu tiba, Kaizo, Fang..."
Diluar kamar, Komandan Spark bersandar di dinding lorong tingkat dua Pesawat Angkasa. Pria itu membisu. Tak lama kemudian, ia menyentak tubuhnya sendiri dan berjalan ke arah ruang kendali dengan wajah gusar.
"Sampai bila kau percayakan mereka, Liena? Abang tak suka kalau kau keras kepala macam tu."
Ia terus berjalan menuju ruang kendali dengan kaku. Selain dia, tidak ada siapa-siapa di lorong itu. Sebagian besar prajuritnya berjaga di lantai bawah dan beberapa mengawasi ruang kendali pesawat. Tiba-tiba Komandan Spark menghentikan langkahnya. Detik berikutnya ia menarik pedang laser putihnya dari ikat pinggangnya dan membalik badan dengan gesit.
TRAAANNNGGGGG!
Pedang lasernya saling bertangkisan dengan dua buah Gauntlet baja milik si penyerang yang tahu-tahu berada disitu. Merasa Gauntlet-nya akan retak, lawannya segera melompat mundur dan berhadap-hadapan dengan sang Komandan yang langsung memberinya tatapan dingin.
"Tak sangka kau masih sahaja serang aku," ujarnya seraya kembali menghunus pedang lasernya. "Aku hairan, kau bantu Kaizo ungkap rancangan-rancangan ONION, tapi kau pun bahagian daripada mereka. Mana pihak sebenar kau, Ratu Ashrlati? Jawab aku."
Ashrlati memegang permukaan salah satu Gauntlet-nya sembari menatap lelaki itu. "Maaf, tapi itulah kode etik daripada kami, Ras Ultra Humanoid. Kami memang dah diprogram oleh Ilmuwan-Ilmuwan Galaxy untuk layani Alam semesta," jawabnya murung. "Planet kami dah kalah oleh ONION. Aku dan rakyat aku pun kena tunduk dekat mereka. Keberadaan kau berbahaya bagi ONION, jadi mereka pon suruh aku buat hapuskan kau. Alasan kenapa aku bantu Kaizo sebab dialah yang tahu keadaan Ochoboy kat Bumi, dan aku percayakan Ochoboy pada rakan-rakan dia kat sana. Tapi untuk kau, itu lain pasal."
"Menyedihkan," ucap Komandan Spark datar. "Sebegitu beratkah posisi Agen Ganda tu? Ratu Ashrlati, kau penerus Kepemimpinan Ultra Humanoid selepas Tuan Klamkabot dan Power-Power Sphera lainnya menghilang. Tapi tak sangka kau relakan harga diri kau dan rakyat kau untuk layann Organisasi durjana tu. Apa yang sebenarnya kau fikirkan?"
Tidak ada jawaban.
Komandan Spark mengangkat wajahnya. Dia kembali sendirian di lorong itu. Sadar Ashrlati sudah tidak ada disitu, dikepalnya tangannya kuat. Ia menggeram kesal.
"Kau memang nak kena rupanya."
SLING!
"AKH!"
Sai terkena tebasan ringan dari Pedang energi biru itu dan terjungkal hingga menabrak dinding ruang latihan di Markas TAPOPS. Ia meringis sembari berusaha berdiri. Kaizo yang berada tak jauh di depannya mengambil Topi lebar milik Sai yang tertancap di lantai dengan ekspresi acuh tak acuh. Dilemparnya topi itu ke depan pemiliknya dengan enteng dan kembali memberi instruksi pada anak berambut merah itu.
"Bangun."
"Ergh- Jaga kau!" teriak Sai gusar. Disambarnya topinya dan melemparnya ke arah sang Kapten. "Aku akan lulus dari ujian ni, tengok je! LONTARAN TOPI PERISAI!"
BLASHH!
Dilemparnya Topinya dengan gerakan tubuh berputar. Topi itu mendesing ke arah Kaizo yang masih tidak beranjak dari posisinya. Tahu-tahu Sang Kapten menghilang dari situ. Akibatnya, Topi Sai mengenai dinding ruang latihan dan nyaris saja merubuhkannya.
"Ha... Ha…" Nafas Sai tersengal-sengal. Dia harus lulus, tapi kenapa dia merasa susah sekali untuk melawan Kakak lelaki dari Fang ini?
Di sisi lain ruangan tampak Shielda yang duduk di sebuah kursi tanpa sandaran. Gadis itu menggenggam Perisai bundarnya yang besar. Wajahnya menyiratkan kekhawatiran. Dia memang sudah lulus dengan ujian yang diberikan Kaizo, tapi dia tidak mau meninggalkan Saudaranya di belakang, jadi dia memutuskan untuk menonton Sai dan Kaizo bertarung dengan harap-harap cemas. Dia melihat Sai sudah berdiri di kedua kakinya dan menarik kembali Topinya yang berada di dinding seberang. Sekonyong-konyong mereka mendengar suara tepuk tangan lambat. Mereka menoleh ke sumber suara tepukan itu dan mendapati Kaizo disana, berdiri di atas sebuah pipa yang melintangi bagian atas ruang latihan itu.
"Bagus. Korang berdua dah layak untuk ikut ujian kental nanti," katanya sembari menyeringai kecil. "Selepas ini, aku akan kenalkan korang pada adik aku. Dia mungkin tak tahu, tapi korang akan temankan dia buat ujian kental nanti. Faham?"
"Faham, Kapten," balas Shielda seraya mengangguk. Kaizo lalu turun dari pipa itu dan berjalan menuju pintu keluar sementara Shielda menghampiri Sai yang masih berusaha mengatur nafasnya yang tidak terkontrol akibat kelelahan. Ia tersenyum kecil dan memberikan satu tangannya pada Saudaranya, membantunya berdiri.
"Selamat, kau dan aku dah berjaya lulus ujian persiapan," ucap Shielda senang. "Macam mana? Senang tak?"
Sai mendengus. "Senang pon. Tapi aku belum habis lawan dia lagi," gerutunya sambil memakaikan topinya ke kepalanya. "Kau pun jangan bahagia dahulu. Ini bukan ujian kental, melainkan ujian persiapan untuk ujian kental sebenar. Huh, tak sangka Kedai Dobi ni dah bertukar jadi pelatihan militer."
"Nama pun TAPOPS, mestilah tempat ni kena disamarkan," ucap Saudarinya geli. "Dah, dah. Jom kita pergi ke Kantin. Kau mesti lapar. Ujian ni dah kuras tenaga kita semua, tau."
"Ye lah, aku join," ucap Sai dengan tidak bersemangat. Ia dan Shielda pergi ke pintu keluar ruangan latihan dan tiba di lorong menuju Kantin TAPOPS untuk makan siang. Namun begitu mereka tiba di pertengahan lorong, Sai mendengar sebuah suara wanita yang mendengung-dengung di telinganya dan entah kenapa tiba-tiba membuatnya pusing.
"Kau dan Shielda dah lulus ujian persiapan tu? Hebat, hebat… aku terkesan. Ternyata korang pun lagi kuat dari yang aku ingat terakhir kali. Sayang, aku tak kan bisa dapatkan kau, sebab aku pun dah terhapuskan balik oleh BoBoiBoy dan kawan-kawan dia. Bila kita berjumpa kalau aku dah takde kat dunia ni?"
"Argh!"
Sai buru-buru memegang salah satu sisi kepalanya yang terasa semakin nyeri dan menghentikan langkahnya. Menyadari saudaranya berhenti, Shielda menoleh. Ia terkejut begitu melihat Sai bertingkah laku seperti orang kena sakit kepala sebelah.
"Sai! Kau okey?" tanyanya cemas. "Kepala kau sakit ke? Baik kau berehat. Nanti aku hantarkan makanan ke bilik kau."
Sai menggeleng pelan. "Tak, i- ini bukan apa-apa," katanya sembari meringis. " Aku hanya penat sikit selepas latihan tadi. Jangan risaukan aku."
"Kau yakin ke?"
"Aku baik je. Dah lah. Jom kita ke Kantin. Nanti kita kehabisan makanan, tau."
Kedua saudara kembar itu lalu melanjutkan langkah mereka menuju Kantin. Shielda tidak berkomentar apa-apa lagi. Namun bagaimanapun juga, dia masih mencemaskan Sai. Diliriknya saudara. Topi lebar Sai nyaris menutupi wajah anak itu. Tapi Shielda bisa melihat wajah pucat Sai dari setengah wajahnya yang masih terlihat.
"Memang pon kita tak kan pernah berjumpa, Sai. Tapi asal kau tahu, aku tak pernah sendiri. Rakan-rakan aku akan buat korang semua bersenang-senang nanti, tepatnya satu tahun kemudian. Fufufu... Dan aku yakin korang tak kan bisa kalahkan rakan-rakan aku kalau benda tu dah berlaku. Selamat bersenang-senang untuk satu tahun hadapan, HAHAHAHAHAHAAAAAA!"
"Henti... Hentikan! ARRGGGHHHH!"
Ia menjerit kuat-kuat sebelum akhirnya jatuh terjerembab ke lantai lorong. Pandangannya mulai menghitam. Topinya terlepas dari kepalanya dan menggelinding ke tepi lorong. Sai mendengar Shielda menjerit, meneriakkan namanya beberapa kali hingga akhirnya pandangan Sai ditutupi kegelapan yang kelam.
Bersambung ...
Nah, bagaimana ceritanya? Mungkin terkesan Aneh bin gaje, Hehehehe. Tapi ...
Sai:" Kau nak cari gara2 dengan aku, Author?"(Siapin Topi)
Eh, tak. Tak. Jangan la marah, dedek ganteng. Nanti gantengnya hilang lho :D
Sai:" Hm, tahu pon." /muka cemberut/
Aih, senyum dong. Nanti cepat tua kalau jarang senyum. Kan? Kan? ^^
Akhir kata, mungkin para readers mau menambahkan review. Dan saya akan sangat senang kalau readers melakukannya. Terima kasih karena telah membaca fanfic ini. :)
Tetap setia menunggu kelanjutannya, ya. ^^ Love you all, dear readers :)
