Hai, kita bertemu lagi, readers setelah dua minggu lebih hiatus,hehehe ... Author juga sedang dalam masa liburan, jadi lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga. Author juga seringkali terkena Writeblock, entah itu karena main game, nonton film dll. Tapi pada akhirnya Author bisa kembali melanjutkan ini. Silahkan nikmati bagian ini, Oke? ;)
Note: OOC, Genre campur aduk, gajeness, referensi BBB Galaxy, Imajinasi ketinggian dll ...
Apa yang akan dilakukan Shielda setelah melihat Sai pingsan? Akankan Ochobot siuman? Temukan jawabannya disini. :)
Blackred: Terima kasih atas dukungan selama ini serta jempol-jempolnya ... sampai pinjam punya orang segala, hehehe... silahkan dibaca kelanjutannya ya. ;)
Cardavianz Nyxio-37 Aquartic: Hehehe, terima kasih telah menanggapi previewnya yang mungkin terlalu hambar(Emang Air?-_-) Iya sih ... Author harus merancang fanfic ini sedikit hati-hati karena canon BBBG sendiri pun masih dalam proses, jadi mungkin fanfic ini sedikit lebih lambat untuk update karenanya. Silahkan baca bagian selanjutnya ;)
.
.
.
C.E.R.M.I.N. G.A.L.A.X.Y.
Apocalypse by 'Sapu Katharsis'
(Season 1)
.
.
.
BoBoiBoy milik Animonsta/Monsta
.
.
.
Bagian 2: Dua Tugas
"SEAAAAHHH!"
TRAAANGGG!
Kedua pedang itu saling menangkis. Petir berusaha mempertahankan kuda-kudanya sembari mencoba mendorong pedang lebar milik X yang menghantam senjatanya tadi. X sendiri masih terus mempertahankan posisinya dan malah mendesak pedang beraliran listrik kuning 'Pikachu' milik pecahan pertama dari BoBoiBoy itu. Wajah X datar atau mungkin bisa dibilang 'Sarkastik'. Tanpa diduga, ia mendorong Petir dengan kekuatan yang cukup kuat dan menyebabkan kedua pedang berwarna kuning keemasan itu pecah berkeping-keping di depan empunya. Akibatnya, Petir kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke lantai Colossium dimana pecahan pertama dari Milyra itu melatihnya. Belum sempat ia berdiri, bilah tajam pedang besar X tahu-tahu sudah dihunuskan di sebelah lehernya, membuat kedua mata hazel Petir membelalak akibat tegang seakan pedang X bisa mengores lehernya saat itu juga.
"Usaha yang bagus, Petir. Tapi Markah kau kali ni ialah D-," ucap X datar. Wajahnya seakan tidak merasa kasihan dengan pemuda bertopi depan yang dikalahkannya itu. Petir mendecih, kesal dengan hasil yang didapatkannya malah tidak membuatnya puas sama sekali.
"Huh! Ini baru permulaan lah," katanya gusar sambil saling tatap-menatap dengan gadis berpakaian serba hitam dan putih itu. "Tengok je. Aku akan buktikan kalau aku boleh dapatkan Markah A daripada kau!"
X mendesah dan menghilangkan pedangnya dari tangannya yang berubah menjadi serbuk-serbuk cahaya berwarna putih bak kunang-kunang. Didekatinya Petir dan memberikan satu tangannya pada anak itu. Namun Petir malah menggeleng dan kembali berdiri. Tubuh anak itu menjulang, dan X yang berdiri di dekatnya mungkin hanya mencapai hidungnya.
"Kenapa kau tak terima tangan aku?" tanya gadis itu. Petir menepuk keningnya dan memalingkan wajahnya pada X dengan malas.
"Ei, kau tak ingat ke? Kita ni bukan Mahram lah. Mana boleh pegang tangan?"
"Ah" X menjawab dengan malu-malu gengsi. "Aku lupa pasal tu. Sori..."
Petir mengangguk, menerima permintaan maaf itu. "Tak dape. Kau lupa je, bukan pula sengaja," katanya seraya menatap pecahan-pecahan pedang petirnya yang dihancurkan X saat ia dilatih tadi. "Tapi aku tak faham. Apasal kau masih sahaja bagi aku Markah rendah buat latihan ni? Mana boleh aku lawan musuh kalau aku masih lemah macam tu?"
X menoleh padanya begitu sang pengendali petir menggumam seperti itu. "Kau tahu, Petir... sebenarnya kau itu kuat. Kau sangat kuat, bahkan lagi kuat dari aku," jawabnya seraya berkacak satu pinggang. "Tapi selama aku latih kau ni, aku dapatkan satu titik terang daripada kelemahan kau: Pertahanan."
"Uh?" Petir agak kaget mendengar ungkapan itu. "Pertahanan? Kelemahan aku? Apa maksud kau ni, X?"
Sang pengendali sinar x memutari Petir dan berhenti di depannya. Diangkatnya wajahnya dengan tatapan serius lalu memulai penjelasannya.
"Kau kuat, tapi benda tu hanya berlaku untuk serangan kau sahaja. Macam yang aku cakap tadi, kau lemah dalam Pertahanan, tapi kau kuat dalam Serangan. Aku dah usaha untuk tingkatkan Pertahanan kau, tapi nampaknya aku gagal. Maka dari tu, biar aku bagi kau beberapa saran. Pertama: Sebisa mungkin kau jangan cuba untuk tangkis lawan kau. Lagi baik kau menghindar dan cari masa untuk serang dia kerana kelebihan kau ada kat situ. Kedua: Kalaupun kau terpaksa tangkis lawan kau, buat je, tapi jangan lama sangat. Kau tengok pedang petir kau tu? Diorang bukan dirancang untuk menangkis, tapi untuk serangan kilat. Tu lah sebab kenapa diorang boleh pecah kalau kau terlampau fokus terhadap tangkisan kau. Dah faham sampai sini?"
Petir mengangguk pelan seraya menunduk guna menyembunyikan wajahnya yang malu berat. Dia tidak habis pikir kalau dia lemah dalam hal Pertahanan seperti yang dikatakan X terhadapnya. Mungkin gadis itu ada benarnya juga. Saat Petir masih dalam Mode Halilintar dulu, kedua pedangnya seringkali retak bahkan pecah saat ia menggunakan mereka untuk mempertahankan diri dari musuh, Terutama saat melawan lawan-lawan yang permukaannya dan serangannya cukup keras seperti Laser Robot Mukalakus milik Adu Du, Pedang Data milik Suit Ejo Jo, Kulit Robot Trenggiling milik Trio Perampok: Rob, Robert dan Roberto dan Pedang Laser milik Kaizo, jangan dikata. Petir merasa menyesal juga karena telah membuat kedua pedangnya pecah beberapa kali hanya untuk Pertahanannya yang tergolong lemah itu.
Tiga puluh menit kemudian, keduanya memutuskan untuk berhenti berlatih dan beristirahat sejenak. Petir mengikuti X yang pergi ke telundakan Arena latihan dan duduk disana. Petir mendengus. Kalau dia tidak cepat beradaptasi dengan Wujud lamanya ini, dia tidak akan aman. Untung saja Milyra X menawarinya untuk berlatih satu kali setiap hari sehingga mau tidak mau Sang Pengendali Petir bersyukur ada yang membantunya beradaptasi dengan Kekuatan lamanya.
"Kau nak?"
Petir menoleh dan mendapati X yang menyodorinya setoples Permen Bon-bon beraneka warna dan rasa. Anak itu terperangah seakan terhipnotis. Diraihnya sebutir Bon-bon dan mencicipinya. Detik berikutnya sebuah rasa manis fantastis meledak di mulutnya, membuat Petir nyaris tersedak. Baginya, ini adalah Permen Bon-bon terenak yang pernah ia rasakan. Dengan lirikan super gengsi, Pemuda bertopi kuning itu lalu melihat X tersenyum penuh kemenangan di sampingnya.
"Nah, Amacam? Sedap?" goda gadis itu. "Aku sorang yang buat ni. Infra bagi tahu aku cara masak-memasak, walaupun aku tak lah terlalu faham. Maka dari tu, aku ambik spesialisasi untuk Bon-bon sebab senang je cara buatnya. Dan semalam aku dah berjaya buat ni. Sedap ke tak?"
"Hmph- dah lah," ujar Petir mengalah. "Harus aku akui, Bon-bon kau ni memang la sedap. Tapi tetap sahaja aku kurang berminat."
"Huh, cakap je kau minat sangat," dengus X jengkel melihat gengsi jadian-jadian pemuda itu. "Kalau kau tak nak pon, okey. Aku tak kan bagi kau lagi."
"A- APA?!"
Petir terperanjat. X hendak melempar Toples Bon-bon itu ke tong sampah di sampingnya. Namun Petir langsung pakai Gerakan Kilat dan menahan Toples itu, mencegah X untuk membuang hasil jerih payahnya sendiri.
"Aku bagi kau Amaran… JANGAN BUANG BON-BON NI!" Petir mendesis dingin, nyaris membentak. "Kalau kau buat benda tu, aku akan ajar kau! Faham?"
X tertawa kecil. "Apakah ini ialah sebuah deklarasi pujian?" sindirnya halus. "Dah lah, Petir. Cakap je kau minat sangat dengan Bon-bon aku ni. Dan setiap selesai berlatih, aku bagi kau Bon-bon percuma. Deal?"
Sadar X telah menjebaknya, Petir akhirnya pasrah. Dengan mulut manyun ia lalu mengiyakan hal itu.
"Humh, Deal je lah," ucapnya dengan nada tidak bersemangat." Dan aku-"
"Ohoho- tengok tu, Petugas Listrik minat sangat dengan Bon-bon rupanya, Ahaha... Menggelikan sekali, Hahaha… Aduh Perutku, Ohohohahahahaaa!"
Serentak Petir dan X menoleh ke suara tawa yang ditujukan pada pecahan BoBoiBoy yang pertama itu. Disana, di ujung atap arena yang berhadap-hadapan dengan mereka tampak sesosok gadis berambut perak duduk di tepi atap dengan berpangku paha bak seorang ratu ugal-ugalan. Gadis itu mirip Milyra namun berpakaian serba ungu. Rambut peraknya yang panjang sebahu dijepit ke atas. Sebuah kacamata ungu gelap bergaya nyentrik menutupi kedua matanya yang berwarna lavender kelabu. Ia terkekeh sebentar. Petir dan X yang melihatnya lalu berdiri dari dudukan mereka dan menatap tajam ke arah gadis yang duduk di tepi atap itu.
"Apa maksud kau dengan 'Petugas Listrik', Heh?" Petir menggeram, kesal dengan ejekan gadis itu. "Kau ingat aku keje kat Pembangkit tenaga Listrik, kah? Ceh, diri sorang pon masih kecik konon. Jaga kau!"
"Sudah, Petir. Kau jangan termakan hasutan dia," kata X datar lalu kembali menatap gadis di atap. "Tak payah kau rendahkan Petir, Violet. Asal kau tahu, Petir tu kuat, bahkan lagi kuat dari aku. Tak boleh ke kau berhenti hinakan orang lain? Baik kau dan Fragrance balik sini, biar aku dan yang lain boleh bantu kau hilangkan kebiasaan buruk kau tu."
Violet mendelik ke arah mereka dengan wajah merajuk. "Aku? Dibantu kau? Iyuh- tak level," tukasnya dengan ekspresi jijik. "Kau ni memang la hodoh, X. Menyesal aku punya 'Kakak' macam kau. Kerjanya cuma berlatih, bertarung, berlatih, bertarung- Huh, membosankan betul! Patut lah Fragrance tak sukakan kau. Lagipun Milyra terlampau hina untuk dunia ni. Apa yang dia punya? Kuasa pon dia dapatkan dari Ochoboy je. Lemah! Nasib baik Tian punya kuasa buay summon Makhluk-Makhluk Astral. Dia lagi baik dibandingkan korang yang lembek ni."
X mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat, menahan emosi. "Cukup, Violet. Kau dah melampau!" desisnya marah. "Kau tak sedar ke kalau kau pun Milyra jugak? Kau pon bawa-bawa Petir ke urusan ini pulak. Apa yang kau nakkan sebenarnya, Eh? Hapuskan kitorang?"
Lawan bicaranya tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Ia menguap sebentar lalu berdiri dari dudukannya di atap seraya menepuk-nepuk roknya yang agak berdebu. Selanjutnya ia meregangkan badannya layaknya bersenam dan menyeringai kecil.
"Sori Kakak satu huruf, tapi ini bukan masanya untuk hapus-menghapus," ucapnya remeh. Matanya lalu beralih pada Petir. "Dan kau budak comel, aku terkesan dengan kau, walaupun kau macam Petugas Listrik je, fufufuu... Ah, apa aku merepek ni? Baik kau jangan dekat-dekat si X tu. Lemah dia menular, tau. Bye, Bye!"
Diperbaikinya posisi kacamata hitamnya lalu membalik badannya. Sebuah portal muncul di depannya dan ia melangkah masuk ke dalamnya. Petir menghunus kedua pedang petirnya, hendak mencegat gadis itu namun X segera memegang ujung salah satu pedang milik Petir seraya menggeleng perlahan.
"Tahan, Petir. Kau jangan kacau dia," timpalnya serius. "Violet mungkin menyebalkan, tapi kuasa dia pon cukup berbahaya. Impact serangan dia tu macam 'Adik' kau: Solar a.k.a. Cahaya. Kau belum boleh hadapi Violet kalau kau masih dalam tahapan petir. Kau faham maksud aku, kan?"
Petir menoleh padanya dengan wajah suram. "Jadi maksud kau, aku kena jadi Halilintar dahulu baru boleh lawan dia, begitu?" sindirnya ketus. "Cih, buang masa. Violet tu dah hina aku dan kau tadi, tapi kau masih cuba tahan aku? Sifat buruk dia mesti lagi teruk kalau dia dibiarkan macam tu, X!"
"Aku tahu," ucap X getir. Ia menerawang ke arah atap dimana Violet tadi berada. "Hanya sahaja kita kena siasat dahulu apa motif sebenar dia memanasi keadaan tadi. Terkadang hidup ni berat sebelah, Petir. Apa-apa benda yang kita nakkan terkadang dimiliki orang lain, padapun kita minat sangat dengan benda tu. Maaf, tapi ini bukan masanya kita ambik benda tu daripada dia."
Sang Pengendali petir tertegun mendengarnya. Ia membisu. Ada kalanya dia memang harus menahan diri seperti ini. Petir tahu dirinya sangat Agresif, apalagi terhadap lawan yang nyata-nyatanya berada di depan matanya. Sebenarnya tangannya sudah gatal sekali untuk menebas Violet dan mulutnya yang suka meremehkan orang lain itu. Tapi Petir sadar, X melatihnya beberapa hari ini karena Petir sendiri belum siap betul menghadapi tantangan baru dari luar. Satu hal yang meresahkan Petir saat ini adalah penyebab Violet meninggalkan 'Kakak-Kakaknya'. Kemungkinan besar dia dan Fragrance keluar dari tubuh Mila karena memandang pecahan-pecahan kekuatan yang lain hanya seperti bulu-bulu yang berterbangan di udara dan tidak punya pendirian yang kuat. Tapi toh seharusnya mereka tidak arogan seperti itu. Petir bersyukur kedua 'Adik barunya', Thorn a.k.a Daun dan Solar a.k.a. Cahaya tidak pernah merendahkan orang lain. Ia tidak mau kejadian saat Angin berubah menjadi Taufan dan merendahkan dirinya sebagai kekuatan lemah BoBoiBoy terulang kembali. Sudah cukup sifat sombong memporak-porandakan kehidupan ini. Karena bagaimanapun juga, Rasa sombong itulah yang menyebabkan Iblis diusir oleh Tuhan dari Surga-Nya.
Petir mendesah panjang dan membalik badan, hendak menuruni telundakan arena latihan. Dilewatinya X yang masih merenung. Ia lalu menghentikan langkahnya sejenak seraya mendelik ke arah pecahan pertama dari Kekuatan Gelombang Milyra itu. Sekitar satu menit keduanya saling memunggungi dalam kebisuan hingga akhirnya Sang Pecahan Pertama dari Kekuatan Elemen dari BoBoiBoy berbicara.
"Kau benar. Aku belum sedia buat perkara tu."
Markas TAPOPS, 28 Juli 2014 pukul 15:17
"Sa- Sai? Kenapa kau? Bangun, Sai! SAI!"
Shielda mengguncang-guncang tubuh Saudara Kembarnya yang tiba-tiba jatuh pingsan di lorong menuju Kantin tersebut. Gadis itu cemas bukan main. Dia tahu ada yang tidak beres dengan Sai, namun Saudaranya itu masih saja menolak untuk mengungkapkan isi pikirannya. Shielda menelan ludah. Apakah 'wanita itu' lagi yang mengusik batin saudaranya? Ada kemungkinan kalau hal itu memang betul. Tapi untuk apa dia menghantui Sai? Lagipula pemuda itu sudah mulai memasuki masa remajanya jadi seharusnya dia tidak menghantuinya lagi. Wanita itu sudah mati. Dan seharusnya tidak ada yang perlu ditakutkan lagi. Tapi kenapa dia masih saja mengusik orang-orang yang masih hidup seperti mereka?
Beberapa detik kemudian, selusin Alien Mop-Mop karyawan TAPOPS menghampiri mereka dan membawa Sai menuju Kamar tidurnya. Begitu mereka selesai, sesosok Alien kecil berpakaian Militan masuk ke kamar itu dengan tergesa-gesa sekali. Shielda yang duduk di pinggir ranjang Sai menoleh padanya dengan air muka resah.
"Komander Koko Ci"
"Shielda, apa yang baru saja berlaku dekat Abang kembar kau?" Cici Ko mendekati gadis itu dengan nada panik. "Salah sorang daripada Alien Mop-Mop tadi lapor kalau Sai pengsan secara tiba-tiba dekat lorong menuju Kantin, dan masa tu kau temankan dia. Betul ke?"
"Betul, Komander," angguk Shielda murung. "Sebenarnya ini dah kali kesepuluh Sai berperilaku macam ni, macam dia asyik Pengsan je. Dan setiap kali selepas dia siuman, dia mesti cakap kalau 'Perempuan tu' yang hantui dia selalu."
Mendengar kalimat itu, Cici Ko terperangah. Sai sudah pernah pingsan sebanyak sembilan kali sebelum ini? Kenapa Shielda tidak pernah memberitahunya ataupun anggota TAPOPS yang lain? Cici Ko jadi menyesali sikap gadis itu. Kalau saja dia memberitahukan perihal Sai sejak dulu, maka masalah ini sudah pasti akan selesai secepatnya. Namun Sang Komandan TAPOPS segera menyampingkan rasa kesalnya begitu ia mendengar kalimat 'Perempuan itu' dari mulut Shielda.
"Kejap. Tadi kau cakap 'Perempuan tu'?" selidik Cici Ko sembari menatap Shielda lamat. "Siapakah gerangan 'Perempuan' yang kau maksudkan?"
"Kalau tak silap, dia ialah Mak Kandung daripada Milyra: Sang 'Mawar Liar'"
"Apa?!"
Setelah mendengar pernyataan itu, Cici Ko nyaris terjungkal dari tepi ranjang Sai karena terkejut, membuat Shielda terbengong-bengong. Gadis Humanoid Alien itu jadi heran dibuatnya, Kenapa Atasannya ini bertingkah layaknya orang yang terkena serangan jantung begitu ia menyebutkan hipotesisnya kalau makhluk halus yang menyebabkan Sai seringkali pingsan akhir-akhir ini adalah Ibu dari Milyra, Ratu Planet Tim Tam Dua? Cici Ko memang tidak pernah memberitahu siapa nama wanita itu pada mereka berdua, baik karena alasan umur mereka masih terlalu muda untuk mengetahui hal-hal rumit ataupun karena alasan pangkat mereka dalam TAPOPS masih kurang dari kata mumpuni. Sayang tindakan sang Komandan menyembunyikan info penting itu membuat rasa penasaran si kembar berpakaian serba hijau cerah itu semakin menjadi-jadi. Shielda berharap banyak bahwa semoga kali ini Cici Ko akan memberitahu nama asli wanita itu padanya. Mungkin dengan begitu ia bisa menolong saudaranya dari tekanan batin yang menyerangnya saat ini.
"Komander, Anda macam tekejut. Siapa nama sebenar daripada 'Mawar Liar' tu?" Shielda bertanya dengan hati-hati, khawatir kalau-kalau Cici Ko akan menolak permintaan itu seperti biasanya. Cici Ko mendesah perlahan. Wajahnya terlihat menegang. Ditatapnya Shielda dengan sorot mata nanar.
"Kau yakin ke nak tahu nama sebenar dia?"
Shielda mengangguk mantap. "Saya yakin seratus peratus, Komander. Mungkin dengan cara ni saya boleh tolong Sai. Siapa nama sebenar 'Mawar Liar' tu?"
'Gadis ini sudah gila!' Cici Ko membatin. Alien berkepala kotak hijau itu menelan ludah dengan berat seolah-olah menelan batu gunung dalam kerongkongannya akibat keraguan yang cukup besar. Apakah Shielda sudah bisa dikatakan pantas untuk mengetahui nama asli wanita itu? Gadis itu memang sudah bukan anak kecil lagi. Menyadari dirinya sudah tidak sanggup menyembunyikan kebenaran dari Shielda, Cici akhirnya pasrah dan perlahan membuka mulutnya.
"Nama dia tu-"
FUSSSHHH!
Sebelum Cici Ko sempat memberitahu info nama asli 'Mawar Liar' secara sempurna, Pintu kamar Sai dibuka dari luar. Di ambang pintu tampak Kaizo dan Motobot: Sang Power Sphera Generasi Kedelapan dengan Kekuatan unik berupa Kekuatan untuk menciptakan Kendaraan canggih dalam sekejap serta beberapa karyawan Mop-Mop yang ikut berkerumun ambang pintu.
"Komander Koko Ci, maaf mengganggu," tukas Kaizo datar seraya melangkah masuk ke dalam Kamar itu. "Ada benda penting yang nak aku dan Motobot bincangkan dengan Anda, kalau Anda tak keberatan."
"Okey, tunggu sekejap." Cici Ko membalas dengan buru-buru. Ditatapnya Shielda lamat. "Mungkin lain masa aku bagi tahu kau perihal maklumat ni, Shielda. Ada benda penting yang Kaizo dan Motobot nak bincangkan dengan aku sekarang. Aku harap kau boleh maklum."
"Uh- Baik, Komander," balas Shielda ragu-ragu. "Maaf sebab dah paksa Anda buat bagi tahu maklumat tu."
"Takpe, Shielda. Kita boleh bahas benda tu lain masa," ujar sang atasan seraya turun dari tepi ranjang Sai dan melangkah cepat menuju lorong diluar kamar Sai dan bergabung dengan Kaizo dan Motobot serta beberapa pegawai Mop-Mop yang mengiringi mereka menuju ruang monitor markas TAPOPS tersebut. Sesampai disana, Cici Ko naik ke atas kursi utama ruang monitor dan memutarnya sehingga ia akhirnya duduk berhadap-hadapan dengan Kaizo dan Motobot disana. Dibukanya kacamata hitam ganda miliknya dan mengerjap sebentar sebelum memulai pembicaraan.
"Jadi benda penting apa yang nak korang bincangkan dengan aku?" tanyanya sembari memakai kacamatanya kembali. Kaizo dan Motobot saling pandang sejenak dan mengangguk. Setelah itu, Sang Power Sphera generasi kedelapan lalu menghembuskan nafas panjang seraya berkata,
"Komander, mungkin ini terdengar pelik. Tapi Kaizo cakap dia dah dapatkan maklumat dari 'Logam Mulia' bahawa Organisasi ONION tak lagi dalam keadaan Vacuum Power. Anda tahu maksud aku, kan?"
Cici Ko terlonjak di atas kursinya. "Maksud kau mereka dah rekrut Ketua baru lagi ke?" tanyanya cemas. "Padapun Haryan baru sahaja bunuh diri dua hari lepas. Laju betul mereka bertindak. Apa kita kena buat ni?"
"Satu hal yang pasti: Mereka tak boleh dibiarkan," ucap Kaizo kaku. Ia berlipat lengan di depan dada dengan wajah murung. "Tapi sayangnya kita tak boleh terlampau fokus dekat merrka untuk masa ni. Fokus utama kita sekarang ni ialah Power Sphera, bukan yang lain. Apa kata kalau aku sahaja yang pantau diorang? Maksud aku, aku boleh buat dua keje dalam satu masa. Aku boleh pantau gerak-gerik ONION sekaligus aktif dalam TAPOPS. Sai dan Shielda belum boleh diandalkan sebab diorang belum patut untuk tahu apa-apa benda tentang Organisasi tu. Fang pon belum aku bagi pemanasan untuk jadi ahli pasukan rasmi, ditambah kawan-kawan Bumi dia masih amatir untuk masalah ini. Lahap juga ada urusan penting kat Planet dia, jadi aku tak boleh harapkan dia dahulu, ditambah Anda mesti sibuk pantau aktiviti TAPOPS. Belum lagi banyak member penting kat TAPOPS macam Laksamana Tarung yang memutuskan untuk pensiun. Aku harap Anda izinkan aku untuk buat tugas ganda nie, Komander Koko Ci."
"Kau sanggup ke buat dua benda tu sekaligus?" Tanya Cici Ko khawatir. "Memang terdengar senang, tapi setidaknya kau fikirkan keamanan diri kau juga. Organisasi ONION dah pernah targetkan kau buat jadi bahagian daripada Supreme Diamond, dan mungkin sahaja hingga masa kini mereka masih juga targetkan kau. Kau tak fikir pasal tu ke?"
"Aku dah tahu pasal tu, Komander. Tapi aku pon punya 'Orang dalam' kat Organisasi," ucap Sang Kapten bersikeras. "Dan hingga saat ini dia selalu bagi tahu aku perihal perkembangan mereka. Dia dah bantu aku dapatkan banyak maklumat penting, termasuk rekaman Video milik Vader selama masih menjabat sebagai Ketua ONION ke-99. Aku mohon, biarkan aku uruskan semua ini."
Sang Komandan termenung sejenak. Ia resah dengan sikap keras kepala milik Kaizo. Bagaimana tidak, Pria itu sudah pernah koma hingga dikira meninggal akibat berurusan dengan ONION. Mana lagi Ayah Angkatnya yang berpaham Genosidal membuat sang Kapten dihantui dengan berbagai guncangan batin. Dan sekarang dia punya orang dalam? Bagaimana kalau orang dalam itu malah menyulitkan Kaizo dengan info-info palsu? Cici Ko merasa tidak bisa menjamin kepercayaannya seratus persen pada pria itu. Namun kalau dilihat dari situasi yang semakin runyam, mau tidak mau ia akhirnya membuat sebuah keputusan untuk Kaptennya itu walaupun dengan berat hati.
"Baiklah, kalau itu yang kau mahukan. Semoga berjaya, Kaizo."
Rumah Tok Aba, 28 Juli 2014 pukul 15:19
BoBoiBoy menaruh tubuh bola Ochobot yang masih tidak sadarkan diri di atas ranjang kamar tidurnya. Dia sendiri duduk di lantai samping ranjang dan mengelus kepala Ochobot seakan Robot itu adalah adiknya sendiri, walaupun secara teknis Ochobot lebih tua darinya. Gopal yang duduk di kursi dekat jendela kamar juga terlihat sama khawatirnya. Anak gembul itu takut kalau ada lagi yang tidak beres dengan Power Sphera generasi kesembilan itu. Sudah cukup Ochobot merasakan hidup yang tidak tenang seperti ini: Diburu Adu Du and the gank, diculik Tengkotak, dihancurkan Rosaline dan mungkin masih banyak kesulitan yang dialami Ochobot namun tidak pernah diterangkan pada mereka. Untung saja dia bertemu dengan BoBoiBoy dan teman-temannya sehingga dia bisa merasakan bagaimana rasanya hidup dalam kedamaian.
"Dey, BoBoiBoy. Kau yakin ke kalau keadaan Ochobot masih okey?" tanya Gopal sangsi. "Aku rasa dia masih suka asyik pengsan je. Apa kerana ada maklumat dari rekod suara Rosaline yang buat dia jadi sakau?"
BoBoiBoy mengalihkan pandangannya pada sahabatnya itu. "Kalau kau dengar lagi seksama rekod tu, maka rekod tu memang ditujukan pada Ochobot," ujarnya bingung. "Aku tahu hubungan Rosaline dan Ochobot sangat kurang dari kata baik, tapi bagaimana pun juga Ochobot ialah mantan calon menantunya, walaupun alasan dia macam tak masuk akal sebab kelainan Pedofilia dia tu. Harap-harap dia tak kacau hidup kita lagi. Nasib baik hanya pecahan-pecahan kuasa aku yang dia belasah masa tu dan bukan aku. Boleh hancur maruah kita semua kalau dia tak kita hentikan."
"Hmm, betul jugak tu," tanggap Sang Manipulator Molekul seraya mangut-mangut. "Fiuh, nasib baik cuma kau dan Fang je yang kena belasah. Aku mana mahu kena perkara macam tu, Apalagi dengan si Dugong Syrena tu, Hiih- tak nak lah! Peragai dia macam sebelas dua belas dengan Rosaline, walaupun aku tak tahu betul niat sebenar dia."
"Eh?" BoBoiBoy mengerutkan kening begitu Gopal menyebut nama seseorang yang tidak dikenal. "Syrena? Siapa Syrena? Teman istimewa kau ke?"
"Hayoyo, Teman Istimewa kau kata?! Dia tu macam wanita genit lah, dey!" jerit Gopal horor. "Mila kata Syrena ialah Pejabat daripada Ras Siren, salah satu Makhluk Fantasi. Dia juga Penasihat daripada Rosaline. Nampaknya dia pon menjabat menjadi salah satu ahli pasukan daripada Supreme Diamond sebab dia macam berpengaruh sangat kat ONION. Masa kau masih berpecah, aku dan Yaya serta Ying jumpa dia menyusup kat Kapal Angkasa Kapten Kaizo. Dia kata dialah orang yang kudeta Mila daripada takhta Mila sebagai ratu Tim Tam Dua dan buang Mila ke Bumi. Dan masa aku lawan dia, dia kata aku ni patut jadi Raja dia kat Planet Tim Tam Dua. Uhuk- merinding betul aku dengar cakap dia tu!"
BoBoiBoy tertawa mendengarnya. "Gopal, kau ialah tertua dibandingkan aku, Yaya, Ying dan Fang," ucapnya geli. "Lagipun umur kau dah empat belas tahun lah. Patut je kalau kau berfikiran romantik-romantik. Dah nak puber lah kau ni, tapi aku tengok peragai kau macam masih seumur dengan aku dan kawan-kawan kita yang lain."
"Dey, aku memang dah tahu semua pasal tu. Tapi tetap sahaja aku belum sedia lah!" Gopal merenggut seraya bersandar di sandaran kursi belajar milik BoBoiBoy. "Lagipun kalau aku nak buat benda romantik, bukan pulak dengan Syrena tu. Rosaline memang dah takde, tapi aku takut kehadiran Syrena macam lagi parah dari dia. Aku tak lah melampau hensem macam muka Kapten Kaizo punya, tapi apasal Syrena tertarik dekat aku pulak?"
"Entah." BoBoiBoy mengangkat bahu, ikut bingung dengan arah pembicaraan itu. "Aku pon tak lah terlalu faham pasal cinta, tapi Tok Aba pernah cakap kalau Cinta tu bukan hanya kerana perkara hensem atau tidak, tapi kerana rasa kepedulian antara satu lelaki dan satu perempuan yang teramat dalam. Tunggu, apa pasal kita bahas bab-bab Cinta ni? Kita masih budak kecik lah. Mana boleh bahas benda macam tu?"
"Hayou, dey! kau sorang pun yang ajak aku bahas mendalam pasal tu kan?" sengih Gopal seraya cemberut. "Apa jangan-jangan sebab kau pon suka sama salah satu daripada kawan-kawan pompuan kita macam Ying atau Yaya ke? Atau malah kau ikut-ikut dengan Fang buat suka sama Mila?! Cakap je lah. Siapa orang yang kau sukakan tu?"
"A- Apa? Mana ada!" ujar BoBoiBoy kaget. Wajahnya tampak memerah. "Aku anggap Yaya dan Ying tu macam kau dan Fang je, sama-sama kawan aku. Mila pon lagi tua dari aku. Lagipun dia dah pernah bertunang dengan Ochobot. Jangan suruh aku masuk ke benda dewasa macam tu lah."
"Hmm, iya ke?" Gopal mengernyit, heran dengan sikap BoBoiBoy yang aneh dengan hal romantis. "Kalau bukan diorang, lalu siapa yang kau suka? Nana ke?"
"Tak."
"Amy?"
"Tak juga."
"Melissa?"
"Tak lah."
"Err, Melody? Atau Suzy?"
"Tak keduanya."
"Ohh, aku tahu! Rosaline, kan?"
"Wei, mana sudi aku dengan Makcik-Makcik macam dia?"
Gopal menepuk kening kepalanya sambil facepalm. "Hayoyo, dah tu kau sukakan siapa dey?" ujarnya frustasi. "Kau takde rasa ke dengan pompuan? Atau jangan-jangan kau ni Aseksual? Atau mungkin yang lagi parah... suka dengan sesama jenis?"
Sepertinya konteks kalimat Gopal kali ini terlalu berlebihan. Temannya yang bertopi jingga langsung saja mendelik tajam ke arahnya begitu mendengar kalimat yang seakan menyambar bagaikan petir di telinganya itu.
"Apa? Sesama jenis?!" BoBoiBoy memasang tampang Horor. "Hish, tak nak lah! Mana aku minat dengan lelaki? Geli betul!" ucapnya dengan tampang seolah ingin muntah. "Tak sudi aku buat macam tu sebab benda tu lagi hina dari Haiwan. Hanya orang-orang yang tak peduli Agama je yang buat tu. Kalau di Agama aku, Orang-orang pelik macam tu dah dihukum Tuhan dengan cara yang teruk! Tanah pijak diorang dibalik lalu dihujani batu. Bukan hanya Agama aku, Semua Agama larang perbuatan tu. Agama kau pon melarang, kan?"
"Err- betul juga apa yang kau cakapkan tu," ucap Gopal sambil nyengir memalukan. "Sori, BoBoiBoy. Aku hanya hairan sebab kau macam nampak tak de rasa dengan kawan-kawan pompuan kita je."
BoBoiBoy menoleh padanya. "Mungkin memang belum masanya aku fikirkan benda tu, Gop," ucapnya dengan raut muka pasrah. "Aku tak macam kau yang dah mula fikirkan benda romantik. Tiap orang punya masa berbeza buat perihal suka-menyukai, dan mungkin buat aku belum masanya. Tuhan pon dah atur semua kot, jadi tak payah lah risau sangat perihal benda tu, okey? "
Gopal mengangguk. "Kau betul lah. Jangan seksa diri kita dengan benda macam tu," katanya sembari tertawa ngakak. Tawanya berhenti begitu ia menoleh ke arah Ochobot yang terbaring di ranjang, tampak bergerak. Sepertinya Power Sphera itu sudah mulai siuman.
"Uhh... apa... apa benda yang berlaku dekat aku tadi?" tanyanya terbata-bata. Spontan BoBoiBoy dan Gopal melompat ke pinggir ranjang saking senangnya karena melihat teman mereka sudah siuman dari pingsannya.
"OCHOBOT!" ucap mereka bersamaan dengan ekspresi lega. "Kau okey ke?"
"Aku okey, walaupun masih pening sikit," ujar Ochobot lemah. "Apa benda yang dah berlaku?"
BoBoiBoy menatapnya lamat. "Kau pengsan m..." tukas anak itu dengan mata berkaca-kaca. "Kau pengsan selepas kau dengarkan rekod suara daripada Rosaline. Seharusnya aku jangan buat korang semua dengarkan rekod tu dahulu. Mana lagi rekod tu memang ditujukan pada kau, dan salah satu isinya singgung keberadaan Mak kau. Maafkan aku, Ochobot. Maafkan aku..."
Ia menundukkan kepala sedalam-dalamnya, menyesali tindakannya yang dianggap ceroboh karena terlalu cepat memperdengarkan isi kotak rekaman Rosaline tanpa memikirkan risikonya terlebih dahulu. Gopal yang berada di sampingnya memberi tatapan simpati dan menepuk bahu BoBoiBoy, berharap temannya itu tidak terlalu memikirkan perbuatannya yang malah menyebabkan Ochobot pingsan tadi. Ochobot merasa kasihan juga melihat BoBoiBoy yang tampak menyalahkan diri sendiri. Ia terbang mendekati BoBoiBoy dan ikut menepuk bahu bocah itu seperti halnya yang dilakukan Gopal lalu bergumam,
"BoBoiBoy, kan aku dah kata, jangan pernah salahkan diri kau akan nasib orang lain, terlebih kalau itu takde sangkut paut dengan perihal diri kau," ujarnya menenangkan." Ini salah aku sebab terlampau sensitif akan benda-benda yang berhubungan dengan keberadaan Rosaline. Sudah, jangan sedih. Mungkin Rosaline hanya cuba buat kita berfikir perihal benda yang bukan-bukan. Sifat dia kan memang cam tu."
BoBoiBoy mengangkat kepalanya, menatap Ochobot dengan senyum lega. "Mungkin kau benar. Aku memang terlampau cemaskan kau," katanya walaupun terdengar agak sangsi. "Terima kasih, Ochobot. Kau dah buat diri aku tenang balik. Rosaline mesti takkan pernah ganggu kita lagi, baik secara langsung ataupun tidak. Aku pasti itu."
"Nah, ini baru kawan terbaik aku, selalunya Optimis!" tambah Gopal seraya merangkul bahu BoBoiBoy erat. Mungkin karena terlalu erat, BoBoiBoy merasa pundaknya seakan remuk.
"A- Aduh! Lepas, Gopal! Sakit lah!"
"Alamak! S- Sori, BoBoiBoy..." Gopal langsung melepaskan rangkulannya dari bahu sahabatnya itu. Tubuh anak itu memang gembul, ditambah dengan otot-otot tubuhnya yang keras dan tangan kekar, dia bisa mematahkan sebatang kayu kalau dia mau. Tidak heran jika BoBoiBoy merasa kesakitan saat Gopal merangkul bahunya tadi. Mungkin selanjutnya pemuda berdarah India itu harus lebih 'lembut' memperlakukan teman-temannya, terutama terhadap BoBoiBoy yang tubuhnya cenderung lebih kurus darinya.
Ochobot terkekeh melihat kelakuan kedua sahabatnya itu. "Tak payah lah merasa bersalah, Gopal. Si BoBoiBoy tu yang kena kekarkan badan dia yang macam lidi tu," ucapnya geli, membuat BoBoiBoy mendelik ke arahnya dengan kesal.
"Ei, badan aku bukan lidi lah." tanggapnya merajuk. "Kurus-kurus macam ni aku masih boleh bertarung. Tak lah macam Gopal yang kejenya asyik sembunyi je."
"Dei, aku pon boleh berlawan lah!" kali ini Gopal yang merasa tersinggung begitu mendengar BoBoiBoy menyebut-nyebut kebiasaan penakut milik Gopal setiap kali mereka melawan musuh, walaupun pada akhirnya rasa takut itulah yang membuat Kekuatan Manipulasi Molekul anak berdarah India itu semakin meningkat.
BoBoiBoy menghela nafas seraya memberi tatapan malas pada teman gembulnya. "Ye lah tu. Kau pon boleh berlawan, tapi masa kuasa kau lagi kuat sebab kau takut je, kan? Kan?" godanya jahil, membuat Gopal nyaris terbawa emosi juga. Menyadari gelagat Gopal yang tampak menegang dan candaan BoBoiBoy yang terkesan terlalu berlebihan, Ochobot akhirnya memutuskan untuk melerai guna menghindari konflik di antara mereka berdua. Ia lalu terbang ke tengah-tengah kedua anak itu sembari berseru.
"Boleh ke korang berhenti begaduh!? Korang berdua ni kawan rapat lah. Jangan begaduh!" lerainya tegas, membuat BoBoiBoy dan Gopal terdiam dalam sekejap. Sadar Ochobot merasa terganggu dengan percekokan mereka, BoBoiBoy dan Gopal langsung membungkuk beberapa kali tanda penyesalan.
"Ma- Maaf, Ochobot... kitorang tersilap tadi," ucap BoBoiBoy malu. "Sekali lagi, maaf ..."
"Ha'ah, aku pon nak minta maaf boleh?" tambah Gopal sembari menyeringai, berusaha menutupi wajahnya yang penuh rasa bersalah. Ochobot pasang muka facepalm melihat keduanya dan segera memaafkan mereka.
"Ye lah, Ye lah, aku terima permintaan maaf korang," ujarnya pasrah sambil meraba bagian atas kepala logamnya. "Ugh- kepala aku pening balik dah."
"Kalau macam tu, balik lah rehat," saran Gopal sambil menarik selimut BoBoiBoy menutupi separuh badan bulat milik Ochobot yang sudah kembali berbaring di ranjang kamar itu. BoBoiBoy lalu beranjak membuka jendela kamarnya agar udara segar masuk. Begitu ia membuka jendela itu, sekonyong-konyong matanya tertuju pada empat sosok yang berjalan ke arah rumahnya: Yaya, Ying, Fang dan Mila. Tampaknya keempat temannya itu sudah hilang kesabaran untuk menunggu BoBoiBoy dan Gopal kembali ke Kedai Kokotiam sehingga memutuskan datang langsung ke rumah Tok Aba. Segera BoBoiBoy berseru.
"Kawan-Kawan! Korang datang rupanya."
"BoBoiBoy!" Mereka balik berseru melihat sang manipulator elemen nongol di jendela kamarnya yang terletak di lantai dua rumah Tok Aba. BoBoiBoy buru-buru keluar dari kamarnya, meninggalkan Gopal yang masih mengurusi Ochobot dan pergi menuruni tangga menuju ruang depan untuk membuka pintu. Begitu pintu terbuka, tampak Fang yang berada paling depan sementara Yaya, Ying dan Mila berjejer di baliknya. BoBoiBoy baru saja hendak merangkul temannya yang berambut ungu landak itu. Namun sebelum ia sempat melakukannya, Fang tiba-tiba mendorongnya keras-keras hingga BoBoiBoy nyaris terjungkal.
"Aduh! Apasal kau dorong aku, Fang?" tanyanya bingung sekaligus kesal." Aku nak sambut korang je dan-"
"Oi! kau tu lama sangat lah, BoBoiBoy!" sembur Fang marah seraya melirik ke arah Mila. "Sekejap lagi Mila dah nak pegi dan kau masih saja buat dia menunggu? Huh, tak gentlemen betul!"
"Apa kau cakap?!" BoBoiBoy jadi tersulut emosi juga mendengar hinaan yang dilontarkan Fang terhadap dirinya. Pemuda itu memang temannya, namun tetap saja keduanya adalah saingan yang terkadang masih sering menyulutkan api kemarahan. Melihat keadaan mulai tidak stabil, Yaya dan Ying mengangguk satu sama lain. Yaya segera terbang dan menghalangi kedua anak lelaki itu sebelum mereka sempat berkelahi.
"Korang berdua, Stop!" ucapnya tegas seraya melirik ke arah BoBoiBoy. "BoBoiBoy, ini rumah Atok kau, jadi jangan buat dia bersepah hanya kerana kau dan Fang nak begaduh," katanya lalu menoleh ke arah Fang. "Dan Fang, baik kau stabilkan emosi kau. Kita datang kesini sebab BoBoiBoy dan Gopal masih tunggu keadaan Ochobot membaik, jadi kau kena faham sikit dengan keadaan yang tengah berlaku."
"Ya loh," angguk Ying menimpali. "Lagipun kita datang kesini sebab nak jenguk Ochobot maa."
Mila mendekati BoBoiBoy dengan wajah cemas. "Macam mana keadaan Ochoboy? dia okey ke?" tanyanya pelan.
BoBoiBoy mengangguk. "Jangan risau, Mil. Keadaan Ochobot okey, dia pon dah siuman jugak," ucapnya sumringah, membuat Mila bisa bernafas lega.
"Syukurlah kalau macam tu." gadis itu mengelus dadanya tenang. "Jadi mana dia sekarang?"
"Dia ada kat bilik rehat aku, dengan Gopal," jawab BoBoiBoy lalu mengayunkan tangannya menuju tangga ke arah kamar tidurnya yang berada di lantai dua. "Jom kita pergi ke bilik rehat aku."
"Jom!"
Mila lalu mengikuti BoBoiBoy ke lantai dua disusul Fang dan Yaya dibelakangnya. Ying paling terakhir. Namun sebelum gadis itu sempat menaiki tangga, sekonyong-konyong kedua mata sipitnya menangkap sebuah penampakan sosok di balik tiang listrik. Ying menelaah penampakan sosok yang berdiri di pinggir jalan yang berseberangan dengan rumah Tok Aba.
Sosok itu agak tinggi, mungkin setinggi Fang. Dia memakai jas tuxedo hitam dengan kemeja putih lengan panjang dibaliknya. Rambutnya yang hitam mengilap terkena sinar matahari sore. Sebuah Katana tersampir di pinggangnya. Kacamata bulatnya yang berbingkai kuning dibiarkan bertengger di atas kepala. Matanya yang berwarna merah keunguan memancarkan kehangatan yang kaku. Walaupun tidak jelas, Ying tahu kalau sosok itu tersenyum ke arahnya.
Gadis itu menahan nafas, bergumam pelan seraya menggumamkan nama sosok yang belum lama dikenalnya itu.
"Ah Meng?"
Bersambung ...
Pada awalnya Author hendak melanjutkan bagian ini hingga 7000 kata lebih. Namun karena merasa ini baru bagian permulaan, maka Author akan membagi-baginya terlebih dahulu agar tidak terkesan memusingkan, hehehe ...
Dan mungkin ada yang bertanya-tanya kenapa ONION belum juga muncul disini, walaupun Ah Meng sudah disebut. Yaah, bisa dibilang Author masih ingin menyembunyikan adegan-adegan musuh dari readers sekalian agar peran-peran mereka tidak terlalu frontal. Akhir kata, jika ingin menambahkan review, dengan senang hati Author mempersilahkan readers sekalian mengungkapkan isi pikiran tentang bagian yang mungkin terasa aneh ini. Tehee ...
Tetap setia menunggu kelanjutannya, ya. Love you all, dear readers :)
