Akhirnya kita berjumpa lagi, readers! ^_^ Maaf lambat update karena Author sedang terkena writeblock akibat menyusun konsep lore fanfic hehehe ... /siapa nanya?/
Baiklah. Tanpa membuang waktu lagi, saya persilahkan anda membaca bagian ini. Silahkan dinikmati ceritanya ;)
Note: Gaje, Alur kecepatan dsb
Apa yang dilakukan Ying setelah melihat penampakan Ah Meng di ujung jalan? Apakah Mila sudah bisa melepaskan teman-temannya untuk bergabung di GIDO? Temukan jawabannya disini.
blossom-chan: Ehe, entahlah. Mungkin karena tema utama dari fanfic ini bukan romance jadi Yaya juga tidak terlalu dilibatkan. Tapi siapa tahu? Silahkan nikmati bagian ini ya ^^
kurohimeNoir: Ahaha, terima kasih banyak. Author jg berharap ff ini akan bagus seperti Mawar Liar, atau kalau bisa lebih bagus lagi, hehehe. Dan untuk pertanyaanmu mengenai latar waktu ff ini, memang blm masuk ke latar BBBG. Tapi bisa dibilang beberapa Chapter awal di fanfic ini dimaksudkan sebagai filler antara ML dan BBBG. Ah, ya. Petir memang imut/plak/ ^^ Sayang di bagian ini mungkin pecahan2 BBB ga akan muncul krn author sudah merencanakan untuk memunculkan satu pecahan BBB dan Mila selang-seling/ setiap dua chapter, jadi mohon maaf yg sebesar-besarnya ya :'). Silahkan nikmati bagian ini ;)
.
.
.
C.E.R.M.I.N. G.A.L.A.X.Y.
Apocalypse by 'Sapu Katharsis'
(Season 1)
.
.
.
BoBoiBoy milik Animonsta/Monsta
.
.
.
Bagian 3: Rahasia, Perpisahan dan Biskuit
"Ah Meng?"
Ying tertegun melihat sosok yang berada di seberang jalan itu. Gadis bermata sipit itu masih menahan nafas, terkejut dengan penampakan pemuda yang baru dikenalnya selama dua hari itu. Ia menelan ludah. Tanpa sadar kakinya melangkah kembali ke pintu rumah Tok Aba yang masih terbuka. Fang dan Yaya yang sudah tiba di puncak anak tangga untuk menemui teman-teman mereka di kamar BoBoiBoy merasa janggal dengan ketidakhadiran Ying. Kejanggalan itu ternyata memang benar adanya. Tanpa pikir panjang, Fang langsung melesat menuruni tangga dan pergi keluar rumah untuk menyusul Ying. Yaya terkesiap melihat itu dan segera berseru.
"Fang! Mana kau nak pegi?"
"Aku nak susul Ying! Jangan risau pasal aku." Fang balas berseru sebelum kedua kakinya membawanya keluar dari rumah Tok Aba. Yaya memandang kepergian temannya yang berambut ungu itu dengan khawatir. Mila yang baru saja hendak masuk ke kamar BoBoiBoy untuk menjenguk Ochobot terheran-heran melihat si manipulator gravitasi mematung di ujung tangga.
"Yaya, apa kau buat kat situ? Mana Ying dan Fang?"
Yaya menoleh. "Ah, sori. Diorang berdua nampaknya ada perkara penting, tapi aku tak tahu apa itu."
"Kalau macam tu, Jom laj masuk. Diorang mesti balik je kat sini nanti."
"Ba- Baiklah."
Gadis berhijab pink itu mengiyakan ajakan Mila walaupun tampak ragu dan ikut masuk ke kamar BoBoiBoy. Ia berdoa dalam hati, semoga tidak terjadi apa-apa terhadap kedua temannya yang pergi meninggalkan rumah Tok Aba secara tiba-tiba.
Sementara itu, Ying pergi menyeberang jalan menuju trotoar dimana Ah Meng berdiri tadi. Namun belum sempat ia mendekati pemuda itu, Ah Meng tahu-tahu melompat ke atas atap sebuah rumah dan bergumam.
"Jumpa saya di lorong Pak Senin Koboi, Ying."
"Ha?"
Ying melongo, tapi Ah Meng sudah menghilang dari atas atap sebelum Ying sempat bertanya lebih banyak. Gadis Cina itu jadi facepalm dibuatnya. Aneh betul pemuda itu. Untuk apa dia memunculkan dirinya di hadapannya hanya untuk bertemu kembali di tempat lain? Di Lorong Pak Senin Koboi lagi! Apakah Ah Meng tidak tahu kalau di lorong itu masih dicap sebagai salah satu tempat di Pulau Rintis yang ditakuti anak-anak saat pergi ke sekolah? Memang Kucing Gila milik Pak Senin Koboi sudah berhasil dijinakkan dua setengah tahun yang lalu oleh ketiga sahabat lelaki Ying. Dan tentu saja Pak Senin Koboi jadi bahagia karena Kucingnya telah kembali waras. Namun akibatnya, Pria paruh baya yang hampir tidak pernah terlihat batang hidungnya itu jadi punya kebiasaan lain yang malahan lebih aneh lagi. Beliau membeli Seekor Anjing Doberman di toko hewan di pusat kota. Malangnya, Anjing Ras itu adalah tipe pemburu sehingga BoBoiBoy Taufan yang pernah lewat di Lorong itu tanpa ampun langsung dikejarnya, membuat si pengendali angin 'Terbang terbirit-birit' bak dikejar Setan. Mungkin anak itu adalah korban yang pertama dikejarnya, jadi mungkin di lain waktu BoBoiBoy jangan dulu menggunakan mode Taufan saat melintasi lorong itu guna mencegah memori pahit akibat kejaran Anjing yang menghantui Taufan bangkit kembali.
Oke, Mari kembali ke Laptop.
Ying mengikuti siluet Ah Meng menuju lorong Pak Senin Koboi. Dengan menggunakan kemampuan manipulasi waktunya, dalam sekejap gadis itu telah tiba di tempat yang dimaksud. Ia memandang sekeliling lorong, tapi orang yang dicarinya belum juga muncul. Padahal Ah Meng sendiri yang menuntunnya kesini. Merasa dipermainkan, Ying lalu mendecih sembari berteriak.
"Wei, Ah Meng! Lu nak main-main kah? Bagi tengok diri kamu lah!"
"Uhh, kasarnya. Jangan lah kasar-kasar dekat lelaki wo. Lagipun lu ni pompuan ma, patutnya kena lemah lembut."
Mendengar suara Ah Meng di belakangnya, Ying buru-buru membalik badan. Ia terkejut begitu melihat pemuda itu berdiri tepat di depannya, membuat Ying tersentak dan tanpa sadar menyebabkan punggungnya menabrak tembok lorong yang tepat berada di belakangnya. Belum sempat ia menarik tubuhnya dari tembok, Ah Meng tiba-tiba sudah menaruh salah satu tangannya di permukaan tembok itu dan mencengkeram salah satu pergelangan tangan Ying dengan tangan yang lain, membuat gadis manipulator waktu itu terjebak di antara Ah Meng dan tembok lorong. Sadar bahwa pemuda berambut hitam kebiruan itu sukses menyudutkannya, Ying menelan ludah dengan raut wajah tegang. Ia berkeringat dingin.
"A- Apa maksud lu ni?!" desisnya tertahan, masih belum lepas dari rasa kaget akibat kemunculan Ah Meng yang terjadi secara tiba-tiba itu." Apa kamu nak bu-"
"Shh!" Ah Meng menaruh salah satu jarinya di depan bibir, menyuruhnya diam. "Saya datang kesini bukan nak buat pasal, tapi ada beberapa Amaran yang saya nak bagi tahu dekat kamu. Sebenarnya saya pon tak nak bagi tahu perkara ni, tapi kerana saya macam tertarik sikit dekat kamu, maka takde salahnya kalau saya bocorkan sikit rahsia ni."
"Ra- Rahsia?" Kedua mata sipit Ying mulai membelalak. "Rahsia apa yang lu maksud?"
Ah Meng menghembuskan nafas pelan sambil merendahkan kepalanya hingga sejajar dengan kepala Ying. Tindakannya itu tidak membuat Ying merasa lebih tenang. Malah sebaliknya, gadis itu merasa nafasnya terhenti saking tegangnya. Hendak diinjaknya kaki Ah Meng untuk membebaskan diri. Tapi setelah melihat pedang samurai tajam yang tersampir di pinggang pemuda yang mirip dirinya itu, nyali Ying mulai mengendur. Toh bagaimanapun juga Ying masih sayang dengan lehernya sendiri. Dan tentunya dia sama sekali tidak berminat lehernya dijadikan sasaran penggal kepala dari senjata tajam yang berkerabat dekat dengan pisau tersebut.
Namun takdir berkata lain. Ah Meng yang baru saja hendak membuka mulutnya kembali untuk melanjutkan penjelasannya, tiba-tiba saja tidak jadi berbicara saat ia merasakan beberapa sosok tangan hitam terlihat berkelebat, menerjang ke arahnya. Gerakan mereka seiring dengan sebuah seruan yang terdengar tak jauh darinya.
"SERANGAN JARI BAYANG!"
Sadar kalau dia tidak bisa menahan Ying terlalu lama, Ah Meng menarik tubuhnya sendiri dari tembok dimana ia memojokkan gadis itu dan melompat gesit ke belakang guna menghindar dari sekumpulan sosok tangan hitam keunguan yang secara tiba-tiba muncul disitu dan menyerangnya. Dia berhasil. Tangan-tangan bayangan itu lepas dari target mereka dan hilang begitu saja. Ying yang menyaksikan kejadian itu tampak semakin merapatkan punggungnya ke tembok. Nafasnya memburu. Dadanya terlihat naik turun dengan cepat karena tegang. Namun sebelum ia mengatakan sepatah kata pun, sesosok pemuda berambut tajam bagaikan landak memasang badannya tepat di hadapan Ying seakan hendak melindungi sang manipulator waktu dari si 'Lampion' pembunuh dari ONION itu.
"Ying, kau okey?" tanyanya tanpa menoleh sedikitpun kearah gadis berkacamata bundar yang berada di belakang punggungnya. Ying mengangguk pelan. Namun ia sadar kalau orang yang menyelamatkannya itu tidak melihat anggukannya sehingga ia pun melanjutkannya dengan kata-kata.
"S- Saya okey. Terima kasih, Fang," ucapnya gugup bercampur lega, senang dengan keberadaan temannya itu. Setidaknya ia merasa lebih tenang karena Fang datang dan menjauhkannya dari Ah Meng yang seolah-olah hendak melakukan sesuatu yang tidak baik terhadap Ying walaupun dengan alasan hendak memberitahunya akan 'sesuatu'. Fang menghela napas berat sebelum kembali melayangkannya pandangannya ke arah Ah Meng yang sudah pasang kuda-kuda tak jauh dari mereka. Sang manipulator bayangan pun memutuskan untuk ikut pasang kuda-kuda, bersiap sedia kalau-kalau Ah Meng hendak menyerang Ying lagi. Tapi sepertinya tindakannya itu terlalu berlebihan karena lawannya tampak mengganti kuda-kudanya ke posisi berdiri yang lebih santai, sebuah tanda bahwa ia tidak akan menyerang lagi. Namun Fang tidak mau ambil risiko kalau seandainya Ah Meng tiba-tiba menyerang dirinya dan Ying sehingga ia tetap memasang kuda-kudanya sembari menatap pemuda berpedang samurai itu dengan tatapan tajam bagaikan burung Elang.
"Apahal kau perbuat dengan Ying tadi?" tanyanya dingin. "Aku tahu kalau ada yang tak beres perihal kedatangan kau ni. Baik kau bagi tahu apa sebab kau datang kesini, Ah Meng."
Ah Meng tertawa pelan dan menatap Fang dan Ying dengan kedua mata merah keunguannya yang sipit. "Oh, Oh, maafkan saya sebab dah ganggu kawan pompuan kau tu, Fang," katanya dengan senyum mengembang di bibirnya yang kecil. "Tapi nampaknya kau tak payah tanyakan soalan tu dekat aku. Kalau kau nak, tanya je lah dekat Ying apa sebab aku datangi dia."
"Ha?" Ying melongo. "Wey, lu belum bagi tahu apa-apa benda dekat saya lah!" ujarnya heran. "Tadi lu cakap nak bagi tahu saya sebuah rahsia. Saya tak faham apa maksud cakap lu tadi."
Mendengar ucapan Ying itu membuat Fang terkejut juga. Ia menoleh ke gadis itu dengan ekspresi bingung. "Rahsia?" tanyanya curiga. "Rahsia apa yang Ah Meng bagi tahu dekat kau?"
"Haiya, saya mana tahu rahsia tu kalau dia sendiri belum bagi tahu dekat saya." Ying menjawab sambil facepalm. "Lu tanya je lah kat dia."
"He? Tadi dia kata kau dah tahu benda rahsia tu," balas Fang semakin kebingungan.
"Mana ada." ucap Ying bersikukuh. "Dia belum bagi tahu saya ma. Lu jangan mau dipermainkan sama dia, Fang."
"He- eh?! Maksud kau, Kau pon tak tahu apa Rahsia yang dia maksudkan tu?"
"Belum lah! Masa dia nak bagi tahu saya tadi, lu dah serang dia wo. Tak sempat dia bagi tahu saya pasal Rahsia tu."
Fang menepuk keningnya. "Haduuuh, apasal korang berdua tak cakap awal-awal?" ujarnya miris, kesal setelah menyadari Ah Meng berhasil mengerjainya. "Ternyata kau pon belum dia bagi tahu. Huh! Dah macam buang masa dah korang ni."
"Hehehe, sori," jawab Ah Meng cengengesan. "Sebenarnya saya dah nak bagi tahu rahsia tu dekat Ying tadi. Tapi sebab kamu dah muncul, saya jadi berubah fikiran. Sori, tapi saya kena undur diri sekarang. Jumpa lagi."
Dia lalu membalik badan, hendak pergi meninggalkan kedua teman Supehero dari BoBoiBoy itu. Melihat itu, Fang melangkah ke arahnya, hendak mencegat Ah Meng sebelum anak itu sempat pergi.
"Hoi! Kau belum jawab soalan aku!" serunya. "Rahsia apa yang nak kau bagi tahu dekat Ying tadi?"
Sayangnya dia telat berbuat hal itu. Ah Meng sudah keburu menghilang dari hadapan mereka. Aneh juga. Sepanjang yang diketahui Fang dan Ying, Anak itu tidak punya Kekuatan Teleportasi. Tapi entah mengapa Ah Meng begitu cepat menghilang dari lorong itu seolah-olah dia telah ditelan Bumi. Kalau dilihat dari tingkahnya tadi, Fang tahu kalau sejak awal anak itu tidak akan memberitahunya apa 'Rahasia' yang sebelumnya hendak diberitahunya pada Ying itu. Mungkin Ying lebih berhak untuk tahu 'Rahasia' itu ketimbang dirinya. Tapi bagaimanapun juga Fang jadi ikut penasaran. Ia akhirnya memutuskan untuk tidak terlalu terpaku pada hal itu dan kembali ke kesadarannya di dunia nyata. Dilihatnya Ying dari kepala hingga kaki. Syukurlah gadis itu baik-baik saja, walaupun ada lebam ringan di salah satu pergelangan tangannya akibat cengkeraman Ah Meng saat pemuda itu menyudutkan Ying ke tembok tadi. Sebenarnya Fang tadi sempat berprasangka buruk saat melihat Ah Meng memojokkan Ying di lorong itu. Tapi Fang buru-buru mengabaikan hal yang bukan-bukan dari pikirannya. Mungkin Ah Meng tertarik pada Ying. Namun Fang tidak tahu apakah itu adalah alasan Ah Meng untuk hanya ingin memberitahu Ying mengenai 'Rahasia' itu atau karena sebab lain.
"Fang, lu okey kah?" Pertanyaan Ying membuyarkan lamunannya. "Maaf sebab dah buat kamu repot selamatkan saya tadi. Tapi nampaknya saya boleh rasa kalau pemikiran kita ni macam sama ho."
"Eh?" Fang mendelik ke arahnya. "Pemikiran kita sama? Maksud kau-"
Ying mengangguk. "Ha'ah. Saya rasa Ah Meng tak nak bagi tahu rahsia tu dekat kita sebab keberadaan kamu tadi. Kalau sahaja kamu tak muncul, dia mesti dah bagi tahu saya perkara tu."
Mendengar Hipotesis Ying itu cukup membuat sang pengendali bayangan menyalahkan dirinya sendiri. Mungkin teman Cina-nya itu ada benarnya juga, walaupun ia masih merasa aneh karena kelakuan genit Ah Meng terhadap Ying yang tadi sempat dilihatnya sebelum ia melancarkan serangan. Salah Ah Meng sendiri. Siapa suruh dia mengunci Ying dalam posisi seperti itu? Sebagai wujud kesetiakawanan, Fang tak akan pernah sudi melihat salah satu kawannya diperlakukan tidak senonoh di depan matanya, dan Ying adalah salah satunya.
"Maaf, Ying. tapi aku pon tak nak kau terkena benda teruk," balas Fang jujur. "Masa aku jumpa korang dalam posisi pelik macam tadi, refleks aku serang dia. Ingatkan dia nak apa-apakan kau. Kau tu perempuan. Kalau aku tengok kau berduaan dengan budak lelaki genit macam Ah Meng dalam posisi tu, mestilah buat aku tekejut. Lain kali kalau kau nak pegi sorang-sorang, mintalah dekat aku atau Yaya atau sesiapa yang kau kenal betul-betul buat temankan kau. Zaman sekarang ni berbahaya pegi sorang-sorang dengan orang yang tak terlalu kita kenal. Aku harap kau fahamkan cakap aku ni."
Ying mengangguk pelan. "Saya faham ma. terima kasih sebab dah bagi saya Amaran ni, Fang."
"Hm, sama-sama," balas Fang sembari tersenyum kecil. "Dah, baik kita jangan buang masa. Kawan-kawan kita mesti dah tunggu kita kat Rumah Tok Aba."
"Okey!"
Keduanya pun berjalan keluar dari Lorong Pak Senin Koboi dengan selamat sentosa dan bergegas menuju Rumah Tok Aba dimana teman-teman mereka yang lain berada. Untungnya Anjing Doberman milik Pak Senin Koboi sedang tidak 'beroperasi' di lorong itu karena tengah diajak Tuannya pergi pesiar di pusat Kota sehingga Fang dan Ying bisa selamat darinya.
Sesaat sebelum mereka keluar dari lorong itu, dua pasang mata yang masing-masing berwarna merah dan kuning yang tanpa diketahui melihat mereka dari atas atap sebuah rumah yang berjejer disitu. Salah satu dari mereka yang bermata kuning menyeringai.
"Menarik juga diorang tu. Apa kata kalau kita jumpa diorang macam yang Ah Meng buat tadi? Dia mungkin sukakan gadis dengan kuasa manipulasi masa tu, tapi itu bukan lah fokus sebenar aku. Aku minat dekat adik lelaki Kaizo. Dia terlampau comel, ehehe... "
Rekannya yang bermata merah tertawa kecil. "Apa kepentingan kau dekat diorang? Nak mainkan diorang ke?" sindirnya pelan. "Ingatkan kau hanya sukakan budak India tu, ternyata kawan-kawan lelaki dia pon kau minatkan sekali. Untung sahaja kau tak terlalu minat dengan BoBoiBoy. Aura dia macam terlampau positif dah."
"Hah, mana aku minat dekat dia?" lawan bicaranya tertawa hambar. "Kau betul, Tian. Budak BoBoiBoy tu mungkin nampak macam perfect. Patutlah dia tipe yang Rosaline mahukan. Sayangnya dia bukan tipe aku. Hanya satu benda yang aku mahukan: Keterbalikan. Dan kawan rapat dia lah yang patut buat keterbalikan itu."
"Ya, ya, teruskan sahaja cinta monyet kau tu, Syrena," jawab Sebastian dengan nada malas. "Aku tak habis fikir kau boleh jatuh hati juga kat dia, padapun dia terlampau penakut. Memang pon dia lagi rapat dengan BoBoiBoy, tapi setidaknya cari lah yang sepadan dengan kau."
Syrena mendelik. "Kau anggap aku tak sepadan dengan dia? Haih- Tian, Tian. Kau ni gurau ke apa?" ucapnya sambil tersenyum sinis. "Dah tahu pon kalau Gopal tu ialah budak yang paling tak dianggap dalam genk Superhero dia sebab terlampau pengecut. Tapi kau kena tahu aku pilih dia sebagai Calon Raja aku bukan tanpa alasan kuat. Aku tahu dia patut buat aku. Setidaknya aku tak lah macam kau yang terjebak dalam hubungan pelik dengan Mak kau sendiri ataupun hubungan buruk kau dengan Kakak kembar kau yang lemah tu. Yah, terserah kau nak fikirkan benda ni ke tak, kerana suatu saat nanti kau akan faham dengan cakap aku ni. Dah lah. Nona besar mesti dah tunggu aku kat Aula. Jumpa lagi, Tian sayang."
Ia mengatakan itu sembari menjamah pipi Sebastian, membuat pemuda itu refleks menjauh darinya. Sepeninggal Syrena, Sebastian langsung menggosok-gosok bekas sentuhan Syrena di pipinya seraya menggerutu.
"Hih, geli betul! Nasib baik dia tak minat dekat aku," ucapnya kekeran. Setelah puas membersihkan pipinya, Sebastian celingak-celinguk ke sepanjang lorong. Awalnya dia dan Syrena hendak memata-matai Ah Meng karena pemuda itu tiba-tiba saja memutuskan untuk pergi ke Pulau Rintis guna bertemu dengan Ying, gadis yang ditaksirnya. Entah apa yang membuatnya memiliki niat untuk menemui Ying. Namun Sebastian tahu ada yang tidak beres dengan kelakuan Ah Meng. Dia harus memastikan bahwa kunjungan Ah Meng ke Pulau Rintis untuk menemui Ying bukan karena suatu pembocoran informasi. Karena kalau itu benar-benar terjadi, maka Sebastian tidak akan pernah memaafkan adik laki-laki dari Ah Ming itu.
"Hai, Tian!"
"Huwaaa!"
Sebastian terlonjak begitu sebuah suara menyapanya dari belakang. Ia menoleh dan mendapati Ah Meng yang berdiri tegap tak jauh darinya, menyeringai. Mau tidak mau Sebastian merasa malu juga tertangkap basah oleh orang yang hendak diintainya itu. Ah Meng melangkah anggun di atas kemiringan atap rumah dimana mereka berada sambil menatap heran ke arah adik kembar dari Mila itu.
"Apa lu buat kat sini, Tian? Nak jumpa Milyra ke?" tanyanya polos. "Bagus lah kalau macam tu. Dia mesti senang sebab kau nak perbaiki hubungan korang yang dah rosak."
Yang ditanya langsung mendengus begitu mendengar nama Kakak kembarnya disebut-sebut. "Huh, mana sudi aku beborak balik dengan gadis lemah tu? Tahu pon dia ialah Kakak Kembar aku. Tapi tetap sahaja dia tak sepadan dengan aku! Milyra tu lemah, dan aku benci orang lemah," umpatnya angkuh. Setelah puas merendahkan nama saudarinya, Sebastian kembali menatap Ah Meng dengan sorot mata menyelidik.
"Oh, ya. Aku pon ada satu soalan buat kau, Ah Meng," tanyanya. "Apa kau perbuat dengan Ying? Gaya kau tadi dah macam nak rangkul dia tau. Korang nak jadian ke apa?"
"Huh?" Ah Meng merasa pipinya memanas karena malu begitu mendengar kalimat Sebastian yang terkesan menyudutkannya. "Sa- Saya hanya nak buat dia panik je. Tak lebih dari itu."
"Dah tu, apasal tingkah kau macam pelik? Kau sukakan dia ke?"
"Ta- Tak lah! Dia musuh saya wo. Mana boleh saya sukakan dia?"
Sebastian memicingkan kedua mata merahnya, berusaha mencari celah kebenaran di wajah Ah Meng. "Iya ke? Macam pelik pon," katanya curiga. "Baguslah kalau macam tu. Kau kena sedar kalau Ying ialah musuh ketar kau. Kita ni ONION, dan tujuan kita ialah pemusnahan makhluk-makhluk hidup yang takde guna buat alam ni semesta ni, bukan berkawan dengan budak-budak lemah tu. Satu lagi. Aku harap kau tak bagi tahu apa-apa maklumat kita terhadap dia. Boleh hancur Organisasi ONION kalau maklumat kita bocor ke sebarang pihak. Okey lah, aku nak balik ke HQ ni. Nak join ke tak?"
Ah Meng menggeleng. "Takyah. Saya masih nak siar-siar dekat Pulau ni. Tak kan lah makan banyak masa."
Sebastian lalu mengangguk-ngangguk. "Hmm, okey lah kalau macam tu. Aku harap kau bersikap biasa selama siar-siar dekat sini. Ingat, takde yang boleh tahu kalau kau ialah daripada ONION. Lepas tu, lekaslah balik. Aku akan tunggu kau kat HQ. Jumpa lagi."
"Okey! Jumpa lagi, Tian."
Sepeninggal Sebastian, Ah Meng melompat turun dari atap dan menapakkan kakinya ke atas tanah di lorong pak Senin Koboi. Dia tidak langsung bergerak ke arah pangkal lorong untuk pesiar di Pulau Rintis seperti yang dikatakannya pada Sebastian tadi. Pemuda itu malah memutuskan untuk berdiam disitu, mengambil ponselnya dan menghubungi sebuah nomor. Tak lama kemudian, terdengar nada sambung disusul sebuah suara perempuan di ujung telepon.
"Ah Meng, mana kau?" omel suara itu. "Akak butuh kau buat latih askar T.A.S. Diorang dah cari-cari kau sedari tadi. Lekaslah balik. Lagipun Mimi baru sahaja dilantik jadi ketua ONION. Kau tak nak bantu dia beradaptasi ke?"
Ah Meng mendesah perlahan dan menurunkan volume suaranya. "Ma- Maaf, Kak Ming. Saya baru sahaja buat sesuatu yang pelik," ucapnya terbata-bata. "Saya... Saya tak tahu apa yang saya buat ni. Apa saya kena buat?"
Ah Ming yang berada di ujung telepon tentu saja heran mendengar kalimat gugup adiknya. "Apa maksud kau ni, Ah Meng?" tanyanya bingung. "Perjelas cakap kau. Akak tak faham lah."
Pertanyaan itu tidak langsung dijawab oleh Ah Meng. Pemuda itu menelan ludah beberapa kali guna menghilangkan rasa gugupnya. Sebenarnya dia sendiri tidak tahu kenapa dia tiba-tiba memutuskan untuk pergi ke Pulau Rintis dan menemui Ying yang entah mengapa berhasil menarik perhatiannya sejak dua hari lalu. Parahnya, Ah Meng seakan ingin memberitahu Ying semua informasi yang diketahuinya dari Organisasi. Apakah ini pertanda bahwa dia ingin berteman dengan gadis itu?
Ah Meng menggelengkan kepalanya yang agak pusing. Batinnya benar-benar bimbang.
Tidak.
Ia seharusnya tidak boleh melakukan ini: Memberitahu segala hal yang diketahuinya tentang ONION terhadap Ying. Dan ia hampir saja melakukannya kalau saja Fang tidak menginterupsi mereka.
"Ah Meng, Kau okey ke?" Ah Ming masih saja menyahut dari ujung telepon,sukses menyadarkan adiknya dari lamunan kebimbangan yang menghantuinya saat ini. "Kalau kau ada masalah, citer lah dekat Akak. Tak baik kalau dipendam. Sekarang bagi tahu Akak, apa kau perbuat kat situ?"
"Ma- Maaf, Kak Ming. Saya macam gugup sangat tadi," balas Ah Meng pelan seakan takut kalau suaranya terdengar. "Tapi Akak kena janji untuk tak umbar perkara ni."
Mendengar kalimat gugup akut dari adiknya itu membuat Ah Ming semakin bingung. "Cakap je apa yang buat kau risau tu," katanya lembut. "Akak janji tak kan bagi tahu sesiapa pun."
Ah Meng mengangguk pelan. Ia berusaha mengatur nafasnya sebelum akhirnya membeberkan semua hal yang mengusik benaknya saat itu.
"Kak Ming, Saya... Saya hampir sahaja bagi tahu Ying perihal satu maklumat penting," tukasnya cepat, nyaris berbisik. "Maklumat yang saya maksudkan tu ialah masa bila nak diaktifkannya 'Sapu Katharsis'. Tapi Akak tak payah lah risau. Semuanya sudah terkendali."
Di lain pihak, BoBoiBoy, Gopal, Yaya, Mila dan Ochobot tampak asyik bersenda gurau di dalam Kamar BoBoiBoy yang terletak di loteng rumah Tok Aba. Ochobot masih berada di atas kasur walaupun kondisinya sudah lebih baik dari sebelumnya. Mila dan BoBoiBoy masing-masing duduk di sisi ranjang. Yaya duduk di kursi belajar BoBoiBoy sementara Gopal-yang tidak mendapat tempat duduk kemudian menyerah, lalu duduk di atas karpet bundar yang digelar di lantai kamar itu. Menyadari Ying dan Fang tidak ada disitu, BoBoiBoy menatap teman-temannya dengan wajah terheran-heran.
"Eih? Mana Ying dan Fang?" tanyanya sembari mengerutkan kening. Ditatapnya Mila dan Yaya bergantian. "Bukannya korang berempat datang sama-sama tadi?"
Mila mengangkat bahu. "Entah. Terakhir aku tengok, diorang dah takde kat tangga masa aku dan Yaya naik kesini," ujarnya ikut heran. "Yaya, kalau tak silap, aku dengar cakap kau kalau Fang pegi cari Ying tadi. Betul ke?"
"Eh, Ha'ah lah," ucap Yaya terkesiap begitu mengingat bahwa dirinya lah yang terakhir kali melihat Fang yang berseru ke arahnya untuk mencari Ying yang katanya tiba-tiba pergi ke pinggir jalan depan rumah. "Seingat aku, Ying dah takde semasa kita nak pegi naik ke bilik ni. Lepas tu, Fang yang ada kat bawah tangga tiba-tiba ikut pegi dekat luar tu. Dia kata dia nak cari Ying. Entah apa yang diorang buat kat luar tadi."
"Hah?! Diorang pegi kat luar?" ucap BoBoiBoy seraya melototi gadis berhijab pink itu. "Kenapa kau tak cakap awal-awal? Kalau diorang kena masalah tanpa sepengetahuan kita macam mana?"
Gopal menepuk kedua pipi tembennya dengan mulut menganga lebar karena kaget. "Hayoyo, Apa jangan-jangan diorang dah kena culik Alien? Huhuhuuhuu... Jangan buat aku takut macam ni, Yaya. Ini tak betul, kan?"
"Ish, korang berdua ni. Jangan lah terlampau panik," gerutu Yaya terhadap kedua teman lelakinya yang tiba-tiba khawatir tingkat akut itu. "Keadaan diorang tu mestilah baik-baik sahaja. Entah-entah diorang siar-siar kejap kat luar buat beli ais krim kot."
Ochobot mengangguk, ikut setuju dengan kalimat positif Yaya. "Betul apa kata Yaya. Lagipun Fang mesti temankan Ying, jadi diorang berdua pon mesti aman."
Ketika mereka sedang seru-serunya membuat spekulasi kemana Ying dan Fang pergi, tanpa sadar Mila berpindah tempat ke dekat jendela kamar BoBoiBoy. Begitu ia menoleh ke arah trotoar jalan, sekonyong-konyong ia terkesiap.
"Kawan-kawan, tengok tu!" Serunya sambil menuding keluar jendela. "Fang sama Ying dah balik dah."
"Ehhh?"
Langsung saja mereka berkerumun di bingkai jendela itu, melihat ke arah tudingan Mila yang mengarah ke pagar kayu rumah Tok Aba. Benar saja. Disana terlihat Fang yang membuka pintu pagar dan membiarkan Ying masuk dahulu kemudian dirinya. Detik berikutnya, kedua anak bermata sipit itu menengadahkan kepala mereka begitu mendengar sorak-sorai dari jendela kamar BoBoiBoy dimana teman-teman mereka memunculkan diri mereka disana sambil melambaikan tangan ke arah mereka berdua.
"Fang! Ying! Korang dah buat kita cemas tau," celetuk Yaya lega. Gadis itu terbang turun dari jendela dan menghampiri Ying. "Apa yang korang buat sehingga pegi tiba-tiba tadi?"
Ying menatap sahabatnya itu dengan gembira. "Takpe, Yaya. Saya dan Fang baik sahaja maa. Tadi tu, saya pergi ke Lorong Pak Senin Koboi!"
"Ha?! Lorong Pak Senin Koboi?" Yaya membelalakkan matanya mendengar itu. "Kejap. Apasal kau dan Fang pegi kat situ?"
Fang mendesah perlahan sambil membetulkan posisi kacamatanya yang sedikit miring. "Ceritanya panjang, Yaya. Baik kita bincangkan benda tu kat dalam sahaja," usulnya sembari berjalan menuju pintu rumah Tok Aba. "Lagipun tak baik kalau kita biarkan yang lain menunggu."
"Okey!"
Yaya dan Ying lalu mengekori Fang masuk ke rumah Tok Aba dan naik tangga ke lantai dua dimana Gopal, BoBoiBoy dan Ochobot serta Mila telah menunggu kedatangan mereka. Sesampainya mereka disana, langsung saja Fang dan Ying dihujani berbagai pertanyaan.
"Ying, Fang, Apa korang buat kat luar tadi?" BoBoiBoy mengulangi pertanyaan milik Yaya. "Ying kata korang lepas balik dari Lorong Pak Senin Koboi. Apa keperluan korang sampai pergi kesana?"
Gopal mengangguk. "Um! Betul tu," katanya, ikut penasaran. "Korang ni kejap-kejap muncul, kejap-kejap hilang. Ingatkan korang diculik Alien tadi."
"Mana ada. Tak kan lah sampai Alien senang-senang culik kitorang," balas Fang ketus. "Aku pegi kat luar tu sebab tengok Ying pegi ke Lorong Pak Senin Koboi. Betul tak, Ying?"
"Ehh- betul ho," jawab Ying pelan. Tiba-tiba saja sikapnya berubah menjadi gugup. "Sebenarnya saya pegi kesitu sebab ada ahli pasukan daripada Supreme Diamond yang minta saya jumpakan dia."
"APA!?"
Teman-temannya minus Fang terperanjat mendengar kalimat Ying itu. Salah seorang dari anggota Supreme Diamond, Kelompok Elite dari ONION menyuruh Ying untuk pergi menemuinya di lorong Pak Senin Koboi? Untuk apa dia melakukan itu? Baik BoBoiBoy maupun teman-temannya jadi kebingungan karena ini. Apakah ini ada hubungannya dengan rekaman suara milik Rosaline yang baru saja mereka dengarkan saat berada di Kedai Kokotiam tadi?
Ying mendesah lesu. Sebenarnya ia mau saja memberitahukan secara detail bahwa Ah Meng lah yang menemuinya tadi sebelum Fang menginterupsi mereka. Tapi setelah melihat gelengan halus dari Fang yang seakan-akan mengisyaratkan bahwa kenyataan itu belum boleh diketahui oleh BoBoiBoy yang merupakan teman lama dari Ah Meng, Ying akhirnya mengurungkan niatnya untuk memberitahu fakta yang mungkin saja akan membuat BoBoiBoy sakit hati nanti. Dia dan Fang menelaah raut wajah kaget teman-teman mereka satu-persatu. Tahu-tahu BoBoiBoy angkat bicara.
"Maaf kalau aku macam interupsi, tapi aku punya satu soalan untuk korang berdua," katanya seraya melihat Fang dan Ying secara bergantian. "Siapa ahli pasukan Supreme Diamond yang korang jumpa dekat lorong Pak Senin Koboi tadi?"
Baik Ying maupun Fang terperangah mendengar pertanyaan itu. Alasan mereka tidak memberitahu bahwa Ah Meng lah yang menemui mereka di lorong itu adalah karena adanya BoBoiBoy di antara mereka, dan tentunya Fang dan Ying tidak ingin membuat Sang Superhero Elemental sakit hati karena mereka terkesan sembarang menuduh bahwa salah satu teman lamanya telah bergabung ke dalam kelompok Elite salah satu Organisasi kejahatan di dunia. Tapi bagaimana caranya mereka bisa mengelak dari pertanyaan polos namun menjebak itu?
Ketika Fang dan Ying masih sibuk merangkai kata untuk menjawab pertanyaan itu, sekonyong-konyong sebuah nada dering telepon berbunyi. Mila langsung merogoh kantung roknya, mengeluarkan sebuah ponsel dari situ dan melihat pemilik nomor yang menghubunginya itu. Ternyata dari Hafiz. Buru-buru ia mengangkat telepon itu
"Halo, Kak Milyra? Akak dimana sekarang?"
"Alamak, maafkan saya, Fiz. Saya terlupa pasal latihan tu. Sekarang saya ada kat rumah kawan, tapi sekejap lagi saya akan pergi kesitu."
"Oh, iye. Iye. Tapi sebaiknya Kak Milyra datang cepat. Akak dah ditunggu sama Ketua Divisi Meteor, Master Chang sejak satu jam lepas buat mulakan latihan perdana Akak sebagai ahli pasukan baru daripada GIDO. Satu lagi: Beliau tak suka dibuat menunggu."
Mila terlonjak juga mendengar itu. "Baiklah. Saya akan segera pergi kesitu. Tolong minta beliau buat tunggu saya sehingga setengah jam lagi."
"Hmm, okey lah. Akan aku usahakan Master Chang buat tunggu Kak Milyra sehingga setengah jam. Jumpa lagi kat Markas nanti."
"Okey, Fiz. Jumpa lagi."
Gadis itu lalu menutup ponselnya seraya menghela nafas panjang. Sebenarnya ia masih ingin tinggal untuk bercengkerama dengan BoBoiBoy dan teman-temannya disitu, tapi kewajiban tetaplah kewajiban. Dipandanginya wajah mereka satu-satu dan berharap dalam hati bahwa ini bukanlah terakhir kali ia melihat mereka.
"Err, kawan-kawan. Maaf mengganggu, tapi sekarang aku ada pasal dengan GIDO," jelasnya dengan nada suara seakan-akan kalimatnya itu adalah salam perpisahan. "Mungkin lain masa lagi aku beborak dengan korang macam ni. Aku dah dapat call dari rakan aku disana. Dia kata latihan perdana aku dah menunggu. Aku harap korang boleh maklumkan ini."
BoBoiBoy tertawa mendengarnya. "Mestilah kitorang akan maklumkan kau. Kau kan dah termasuk kawan kitorang," ucapnya berkelakar. Ditatapnya gadis manipulator gelombang itu lekat. "Baiklah kalau macam tu. Jumpa lagi, Mila. Semoga kita berjumpa lagi di masa hadapan nanti. Senang betul aku punya kawan elok macam kau."
"Terima kasih, BoBoiBoy. Aku pun senang kerana punya kawan terbaik macam kau," balas Mila sembari tersenyum simpul. Tanpa sadar sebuah bulir hangat mengalir turun di pelupuk matanya. Rupanya gadis itu menangis saking terharunya. Dadanya serasa sesak karena rasa haru yang membuncah disana. Kalau mau diingat-ingat, ia bertemu dengan anak itu dalam kondisi yang penuh kecurigaan. Mila sendiri sempat dimanfaatkan Adu Du untuk mencuri Ochobot yang tak disangka adalah awal mula hubungan platonic antara BoBoiBoy dan dirinya. Tapi sekarang mereka telah berteman baik, walaupun hubungan antara Ibunya dan BoBoiBoy merupakan keterbalikan dari hubungannya dengan anak itu. Mila hanya bisa berharap takdir akan mempertemukannya dengan BoBoiBoy kembali suatu saat nanti.
Setelah melepaskan rasa harunya dengan Sang Superhero Elemental, Mila lalu beralih ke arah Fang. Tanpa sungkan ia langsung melangkah maju, hendak merangkul pemuda itu. Tentu saja sang pengendali bayangan langsung mundur saking terkejutnya, membuat Mila nyaris terjungkal. Mau tidak mau wajah Fang memerah juga karena itu.
"Mi- Mila, apa kau buat ni?" tanyanya gagu saking malunya. Mila pun tampaknya sadar kalau Fang malu dipeluk lawan jenis. Ditatapnya wajah Fang dengan cengengesan seraya berucap.
"Fang, kau tahu... aku suka kau," lanjut Mila senang. "Aku suka kau sebagai kawan terbaik aku juga saingan aku sebagai pecinta Donut Lobak Merah. Maaf sebab Bunda aku ikut belasah kau jugak. Kau mungkin tak sedekat macam BoBoiBoy buat, tapi kau tetap termasuk kawan baik aku. Lagipun kau bukan manusia, macam aku je. Kau ni Populer betul lah."
Fang menelan ludah, berusaha mengatasi rasa malunya dengan bersikap sekeren mungkin. "Ah- Um, iye, iye, terima kasih, Mila," ucapnya seraya berlagak memperbaiki posisi kacamatanya guna menyembunyikan wajahnya yang luar biasa merona merah. Mau tidak mau BoBoiBoy dan Gopal terpaksa menggembungkan pipi-pipi mereka akibat menahan tawa melihat adegan blushing overdosis dari Fang saat ia nyaris dirangkul Mila tadi. Sebaliknya, Ochobot terpaksa menahan rasa cemburunya saat melihat adegan itu terjadi tepat di hadapan kedua mata biru lautnya.
Setelah puas melepaskan unek-uneknya pada Fang yang masih saja berusaha menyembunyikan rona merah di pipinya, Mila mendekati Gopal. Tahu-tahu dia mencubit kedua pipi gembul pemuda India itu. Rupanya Mila merasa gemas dengan sang manipulator Molekul, membuat Gopal memekik kesakitan. Refleks salah satu tangan besar Gopal menarik tangan Mila dari pipinya, membuat gadis peri itu keheranan.
"Kau ni, jangan lah mainkan pipi aku," ucap Gopal memelas sambil melepas tangan Mila cepat-cepat. "Ingatkan pipi aku ni boneka ke, boleh dipegang-pegang? Huhuhuu... sakit lah," katanya seraya meraba pipinya yang tampak merah akibat cubitan brutal dari tangan Mila yang liar itu. Melihat lebam kemerahan di kedua pipi Gopal, Mila jadi kasihan juga. Dulu saat ia berpecah menjadi Gamma, tak sengaja pecahannya itu jadi terobsesi dengan pipi-pipi temben, termasuk pipi temben milik Taufan sebelum Mila tahu kalau BoBoiBoy tidak mau disentuh oleh perempuan yang bukan mahram, dan kini obsesi itu nyaris kambuh saat melihat Gopal punya hal yang sama.
"Hehehe, sori Gopal, aku tak sengaja tadi," tukasnya cengar-cengir. "Entah kenapa aku jadi sukakan pipi beso macam kau punya. Tapi kau pun comel tau, macam BoBoiBoy. Aku senang bisa berkawan dengan kawan humoris dan suka makan macam kau. Lagipun kaulah yang tertua diantara korang semua ni. Jaga kawan-kawan kau ye, terutama BoBoiBoy. Aku tak nak dia kena benda teruk sebab aku lagi."
Gopal menyeringai. "Mestilah, Dey. Aku ni Superhero. Akan aku jaga kawan-kawan aku macam yang diorang buat dekat aku," imbuhnya bersemangat. "Oh iye Mila, bila kau dah berjaya dapatkan Takhta kau sebagai Puteri Mahkota, ajaklah kitorang siar-siar kat Planet Biskut Tim Tam Cokelat kau tu. Mesti best!"
"Err- itu Planet Tim Tam Dua, Gop. Bukan Planet Biskut Cokelat," bisik BoBoiBoy mengingatkan. "Nanti kalau Mila marah sebab kau cakap benda tak betul pasal Planet dia cam mana?"
"Hahahaha, santai je lah, BoBoiBoy. Gopal begurau je tadi," kata Mila geli. "Lagipun aku suka lawakan dia tu. Boleh juga satu Planet dia tukar jadi makanan kalau dia mahu."
"Ehehe, takyah Mila. Aku mana kuat kalau nak tukarkan satu Planet," balas Gopal sambil senyam-senyum memalukan. "Kuasa aku ni kuat masa aku takut je. Kalau aku tukarkan satu Planet, mestilah aku dah meninggal sebab sakit jantung."
"Humm, tak payah lah kau nak cari biskut Tim Tam dekat Planetnya Mila, Gopal. Aku punya biskut kan ada." Yaya tiba-tiba menimpali sambil mengeluarkan sebungkus Biskuitnya yang terkenal sangat tidak enak dari kantung bajunga. Spontan teman-temannya kecuali Mila mengidik ngeri bak melihat sosok Monster dalam biskuit buatan Yaya itu.
Gopal tersengih sendiri melihat biskuit maut yang dipegang Yaya itu. "Ehehe, tak pe lah, Yaya. Aku gurau je pasal cari biskut Tim Tam Cokelat tu," tolaknya halus. Bagaimanapun juga, dia dan teman-temannya tidak akan pernah sudi mengakui 'Kelezatan' biskuit Yaya selama gadis itu tidak mencoba untuk mencicipinya sendiri. Melihat reaksi teman-temannya yang tampak ketakutan setelah melihat biskuitnya, sang manipulator gravitasi akhirnya bergumam sedih sambil melirik ke arah sebungkus Biskuit buatannya yang sekali lagi tidak laku.
"Yaya, Jangan lah sedih. Biskut kau tu mesti akan laku," tukas Mila berusaha menghibur. "Memang pon aku belum pernah cuba biskut tu, tapi nampaknya biskut kau tu macam sedap, bentuk pon comel. Boleh tak aku beli satu atau dua pek? Aku nak belanja buat rakan kerja aku kat GIDO."
Permintaan Mila itu tentu saja membuat Yaya merasa tubuhnya melayang gemulai di langit, padahal saat itu dia tidak menggunakan kekuatan manipulasi gravitasinya sama sekali. Ia menjerit kegirangan dan merangkul Mila beberapa kali dengan sikap penuh terima kasih. Lain halnya dengan BoBoiBoy, Gopal dan Fang serta Ying. Mereka tahu kalau Mila tanpa sadar telah menjatuhkan dirinya sendiri ke dalam sebuah lubang mengerikan dengan senang hati. Tapi apa daya, Mila tampak sangat optimis saat memberi uang sekian ringgit ke atas tangan Yaya dan menerima dua bungkus plastik berisi biskuit yang terasa sangat tidak enak itu.
"Ayak! BoBoiBoy, Macam mana ni wo? Mila dah beli biskut tu!" bisik Ying ketakutan. "Kalau Mila dah makan biskut tu, habislah! Mesti dia tak nak berkawan dengan kita lagi."
BoBoiBoy terhenyak. "Eh, betul lah," tanggapnya segera dengan wajah cemas minta ampun. "Habislah kita! Macam mana cara ambik biskut tu dari dia?"
"Hmm, biar aku cuba pujuk Mila," saran Gopal dengan nada sangsi. Didekatinya Mila dan memelankan suaranya agar tidak didengar Yaya yang saat itu masih saja bergembira karena barus saja menemukan pembeli biskuit yang sekian lama telah dinantikannya.
"Ehm- Mila, kau pasti ke nak bawakan Biskut Yaya buat rakan GIDO kau?"
Mila menatap Gopal sambil mengerutkan kening, bingung. "Mestilah aku nak bagi rakan aku biskut ni. Lagipun bentuknya comel. Mestilah sedap, kan? Kan?"
"Haeh, kau ni. Jangan tertipu dengan penampilan luar lah, dey!" pekik Gopal tertahan. "Bentuk biskut tu memang lah comel, tapi lagi baik kalau kau kena dengar cakap aku, Mil! Rasa Biskut Yaya tu-"
"Ha- kenapa dengan rasa biskut aku?"
"Rasa biskut kau tu-" Gopal tanpa sadar telah mengalihkan perhatian pada sang penanya yang tidak lain tidak bukan adalah, "ALAMAK, YAYA!"
Langsung saja ia kehilangan keseimbangan saking kagetnya melihat Yaya disitu. Mila hanya bisa melongo ria melihat tingkah laku aneh dari teman Indianya ini.
"Apasal kau ni, Gopal? Kata nak bagi tahu maklumat rasa daripada Biskut Yaya," ujarnya heran, membuat Yaya tertegun.
"Eh, ya ke?" tanyanya dengan mata berbinar-binar. "Rasa biskut aku? Mestilah sedap! Kan, Gopal?"
"Ehh- sedap, sedap, sedap!" ucap Gopal segera, tidak sampai hati untuk menghina rasa dari biskuit buatan teman berhijab pink-nya yang pada faktanya memang tidak enak. Tapi mau bagaimana lagi. Bubur sudah tidak bisa diubah jadi beras. Tentu saja Gopal tahu tanggapan tidak enak hatinya tadi bakal membuat semuanya kian memburuk. Dan kali ini semua itu telah berubah menjadi kenyataan.
"Wah, betul ke tu, Gopal? Biskut Yaya sedap?" ucap Mila kagum. Ia lalu menoleh ke Yaya sambil mengeluarkan uang sekian ringgit dari dompetnya dan berkata. "Okey lah kalau macam tu. Aku nak beli biskut kau lagi. Boleh tak, Yaya?"
Yaya mengangguk dengan riang. "Boleh! Mumpung masih ada sisa dua pek."
"Okey! Aku beli semuanya. Terima kasih dah tawarkan aku biskut ni."
"Um! Sama-sama, Mila. Saya yaaaakin seratus peratus rakan GIDO kau tu mesti akan sukakan biskut aku."
"Ahahaha! Kau ni boleh lah buat lawak, Yaya."
Fang menepuk jidatnya sendiri saat melihat Mila yang tampaknya semakin berminat untuk membeli biskuit buatan Yaya setelah melihat reaksi hipokrit milik Gopal tadi. "Aduuhh- apasal Mila belanja semua biskut Yaya?" desisnya miris. "Siapa yang nak tanggung jawab kalau rakan GIDO dia pengsan selepas makan biskut tu nanti?"
Markas GIDO, 29 Juli 2014 pukul 16:20
Suasana di Sektor L-313 dimana Markas badan Galactic Imperial Defender Organization atau disingkat GIDO berada tampak sepi. Mungkin karena angka kejahatan di Galaksi telah menurun sehingga hanya beberapa bagian staff saja yang tampak 'lembur'. Sisanya tengah melaksanakan perekrutan anggota-anggota baru, dan Divisi Meteor yang berisi para instruktor dari badan itulah yang mengurus penerimaan anggota baru tersebut. Ketua Divisi Meteor, Xuo Chang sedang melihat-lihat arlojinya. Umurnya mungkin sekitar 30 tahun lebih. Mata sipitnya jarang terbuka. Rambut coklatnya yang bermodel duri turun tersisir rapi. Wajahnya ramah. Dan tubuh pria itu sungguh atletis, mungkin nyaris seperti Ade Rai. Sambil memainkan Nunchaku-nya, beliau memperhatikan semua kandidat yang sudah berkumpul di halaman utama. Master Chang tersenyum simpul. Kandidat yang terpilih tahun ini lebih banyak dari kemarin. Dan itu adalah berita bagus.
Dihitungnya jumlah semua Kandidat dengan teliti sembari mencocokkan jumlah mereka dengan data yang masuk. Sepanjang menghitung ia tetap tersenyum sampai akhirnya senyum itu lenyap setelah menyadari bahwa ada satu Kandidat yang belum tiba disitu.
"HAFIIIIIIZZZZZ!"
Master Chang berseru kencang, membuat semua Kandidat yang berada di halaman utama terlonjak kaget. Seruan itu kuat sekali hingga terdengar ke segala penjuru sektor L-313. Hafiz yang saat itu tengah bermain Game di ruang santai sontak terguling ke belakang mendengarnya. Belum sempat ia bangkit, tahu-tahu pintu ruang santai dibuka dari luar. Disana tampak Master Chang, berdiri dengan raut wajah merah padam.
"Mana budak Milyra tu, Heh? Lu kata dia dah nak tiba. Mana buktinya?" ucapnya dengan suara menggelegar, membuat Hafiz buru-buru berdiri dan memberi hormat ke arahnya dengan wajah tegang.
"Ah, ma- maaf Master Chang. Nampaknya Kak Milyra tengah dalam perjalanan," ucap Hafiz cepat-cepat, takut kalau Master Chang kembali mengamuk. "Mungkin dia masih beborak dengan kawan-kawan dia kot."
"Dia beborak dengan kawan dia ke beborak dengan musuh ke, saya tak peduli!" sergah Master Chang, masih kesal. "Yang jelas dah hampir setengah jam lebih dia belum tiba. Kalau dia belum tiba juga, dia akan didiskualifikasi daripada GIDO, SELAMANYA! Baik kau suruh dia datang selaju dia sebelum saya sendiri yang tendang dia keluar daripada GIDO. Faham?!"
"Fa- Faham, Master Chang..."
"Bagus," balas Master Chang seraya merenggut. Ia berbalik arah menuju halaman utama. Hafiz yang melihat pria yang tengah kesal itu menelan ludah beberapa kali. Xuo Chang bukan tipe yang suka keterlambatan. Baginya, Disiplin adalah hal utama dalam hidup. Dan GIDO tidak pernah memerlukan orang yang suka menyia-nyiakan waktu, baik sedikit ataupun banyak.
Hafiz segera bergerak cepat. Disambarnya ponselnya yang terletak di atas Sofa dan segera menghubungi Mila. Sayang nomor gadis itu tidak aktif, membat Hafiz memandang ponselnya sendiri dengan tatapan horor.
"Alamak... macam mana ni? Kak Milyra tak angkat telefon aku," gumamnya cemas. "Ya Allah, Semoga dia datang saat ini juga. Dan-"
"Hai, Hafiz! Hehehe, Maaf datang lamban. Aku ada pasal sekejap dengan kawan-kawan aku tadi."
Kalimat kecemasan Hafiz langsung terputus begitu ia mendapati sosok yang ditunggunya sejak tadi di ambang pintu. Tampak Mila disana, melambaikan tangan ke arahnya. Tanpa basa-basi lagi, pemuda itu langsung berseru.
"KAK MILYRA! Apasal Akak lama sangat?" serunya senang bercampur gemas. "Master Chang dah tunggu Kak Milyra sedari tadi. Mesti beliau dah marah. Baik Akak pergi melapor kat beliau sekarang. Kalau tak, Akak akan didiskualifikasi."
"Ha?! Iya ke?!" pekik Mila panik. "Okey lah, Aku akan jumpa beliau sekarang. Ah, ya. Hampir lupa."
Dikeluarkannya sebuah kantong kresek dari balik bajunya dan berseru, bersamaan dengan tangannya yang melempar kantong kresek itu ke udara.
"Hafiz, tangkap!"
"Eh?!"
Hafiz menerima kantong kresek yang dilempar Mila ke arahnya. Cukup sakit juga saat ia menangkapnya dengan tangan kosong. Sudah berat, keras lagi! Apa jangan-jangan isi kantong kresek ini adalah batu?
"Kak Milyra, apa isi beg plastik ni?" tanyanya. Mila menoleh sebentar dan menjawab dengan terburu-buru.
"Oh, itu. Cuma biskut kot. Aku belanja buat kau. Kalau nak cicip sekarang pon takpe."
"Tapi-"
Namun Mila sudah menghilang dari ambang pintu sebelum Hafiz menanyakan perihal isi kantong kresek itu lebih lanjut. Ia lalu memandang kantong kresek di tangannya selama beberapa detik. Biskuit? Boleh juga. Tapi siapa sih yang berniat membuat biskuit yang beratnya bagaikan sekantung batu kerikil ini? Aneh betul!
Tak lama kemudian, Hafiz akhirnya memutuskan untuk melihat benda itu secara utuh. Ditaruhnya kantong yang katan Mila berisi biskuit di atas meja ruang santai. Pemuda berambut hitam itu lalu merogoh ke dalam kantong itu dan meraih sebungkus biskuit berbentuk hati darinya. Awalnya Hafiz takjub melihat bentuk imut biskuit itu. Rasa laparnya muncul seketika melihat keimutan biskuit berbentuk hati yang seakan menggodanya untuk melahapnya sesegera mungkin. Tanpa pikir panjang, Hafiz langsung memasukkan satu keping utuh biskuit itu ke dalam mulutnya. Dikunyahnya perlahan. Sekonyong-konyong kedua mata coklat anak itu membelalak. Wajahnya terpana. Ia mematung disitu seraya menggumam tidak percaya.
"Sedapnya biskut ni..."
Bersambung ...
Ga nyangka bagian ini malah jadi gaje. Mungkin karena masih efek dari writeblock. Maafkan saya, semua :'(
Mungkin ada yg ingin memberi krisar di kolom review krn bagian ini sangat pendek dan kurang berguna :'D tapi setidaknya Author sudah berusaha.
Tetap setia menunggu kelanjutannya, ya. Love you all, dear readers :)
