Hai readers sekalian. Author akhirnya kembali bsa membawakan lanjutan ff gaje ni. Hehehe, maaf kalau menunggu lama. Silahkan dibaca ya :)

Bagaimanakah Mila mengikuti ujian masuk GIDO? Apakah benar Hafiz suka biskuit Yaya? Apa yang akan dilakukan Cici Ko dan TAPOPS? Cari jawabannya di bagian ini :)

Note: rated T+, OOC, gaje, dll


.

.

C.E.R.M.I.N. G.A.L.A.X.Y.

Apocalypse by 'Sapu Katharsis'

.

.

.

BoBoiBoy milik Animonsta/Monsta


.

.

.

Bagian 4: Firasat.

"HUWAAAA! JANGAN! Jangan tarik-tarik pipi akuuuu!"

"Apahal kau ni, Angin? Asyik lari dari aku je."

"Kau pulak, apasal nak kan pipi aku?! Dia bukan mainan kau lah! JANGAN PEGANG!"

"Alahh, Pipi kau tu terlampau comel lah, macam bakpau tau. Meh lah sini kejap."

"TAK NAK!"

Di dunia alam bawah sadar itu- atau lebih tepatnya di sebuah lapangan terbuka- tampak Milyra Gamma yang tengah asyik memburu BoBoiBoy Angin dengan tujuan mencubit pipi imut dari sang pengendali angin. Tentu saja Angin tidak berminat untuk melayani hobi gila-gilaan milik Gamma itu. Ia terus saja terbang di udara, berusaha menghindar. Namun Gamma punya sejuta cara agar Angin bisa menyerahkan apa yang diinginkannya tanpa protes. Ia lalu memunculkan tongkat piercing miliknya dan mengubahnya menjadi tunggangan udara layaknya sapu terbang penyihir dari cerita-cerita dongeng zaman dahulu. Tanpa menunggu lebih lama, tongkat piercing lalu membawa Gamma ke udara, membuat Angin memberinya tatapan ngeri.

"Hehehe, sori Angin. Tapi aku takkan menyerah sampai Pipi kau tu jadi milik aku!" pekik Gamma dengan tawa 'rada psikopat' miliknya. Sadar kalau gadis aneh berkuncir dua itu semakin liar mengejarnya, Angin terpaksa mengeluarkan kekuatannya sebagai pertahanan diri. Dengan gesit ia membalik badan dan mengambil ancang-ancang. Setelah semua tenaganya terkumpul di kepalan tangannya, ia pun berteriak.

"TUMBUKAN ANGIN!"

Ditinjunya udara kosong di depannya, menciptakan dorongan angin tajam darinya. Dorongan angin tajam itu menukik ke arah Gamma bagaikan burung elang yang mengincar mangsa. Gamma mengerem tongkatnya dan menghunusnya. Sebuah sinar putih kekuningan memancar darinya.

"Kau ingat kau boleh serang aku? Hehehe, mana ada," ucapnya jahil seraya memutar dirinya sendiri beberapa kali seolah-olah ia sedang menari ballet di udara. "PERISAI GAMMA!"

SRRIIIINGG!

Sebuah bola transparan berwarna putih kekuningan melingkupi sekujur tubuh Milyra Gamma. Detik berikutnya, serangan tumbukan angin milik BoBoiBoy Angin menembus bola transparan dimana Gamma berlindung . Anehnya, bola transparan itu tidak bergeming. Gamma tertawa kecil sembari memudarkan bola transparan yang melindunginya dari serangan Angin itu. Ditudingnya pemuda itu menggunakan tongkat sihirnya, membuat Angin terperangah.

"Apa- Apakah?! Serangan aku tak berkesan?" ucapnya kaget. "Kenapa ini boleh berlaku?"

Gamma terkekeh. "Itulah kau! Asyik lupa je," sindirnya riang. "Kau tak ingat ke kalau aku pernah munculkan kuasa perisai gamma tu masa kita pertama kali berjumpa dekat Danau kat pinggir Hutan Cemara samping sekolah ? Ish, ish, ish, Apalah kau ni. Masih kecik dah pelupa."

"Hehehe, tahu pon," ucap Angin sambil nyengir malu. "Sifat pelupa tu termasuk salah satu kelemahan daripada BoBoiBoy, jadi aku pon kena impact-nya sekali sebab aku masih termasuk diri dia jugak. Kau tahu tak? Aku pernah lupa habis semuanya hingga aku tak ingat siapa diri sebenar aku. Parahnya, aku anggap pecahan-pecahan aku yang lain tu macam budak mentah, takde guna, terutama Petir. Aku lalu serang dia dan juga seisi Taman Pulau Rintis selepas makan Biskut Yaya dan- Egh?!"

Ucapannya terpotong begitu ia merasa sepasang tangan mencengkeram kedua pipinya, membuat Angin mengidik horor. Rupanya ia terlalu asyik bercerita akan pengalamannya saat berubah menjadi fase keduanya yang berinisial Taufan hingga ia lupa kalau Gamma ada disitu dan hendak mengincar pipinya. Dan kini ia sudah terlambat.

"Ha! Akhirnya dapat juga pipi kau!" pekik Gamma puas. Belum sempat Angin mengajukan protesnya, tanpa ampun gadis berkuncir dua itu langsung mencubit pipi Angin seliar-liarnya, membuat bocah bertopi samping itu menjerit-jerit kesakitan.

"HUWAAAA! Lepaskan, Gamma! LEPASKAN AKUUUU! "

"Kyaaaaa! COMELNYAAA!"

"Argh! Lepas aku kata!"

"Alahh, aku belum selesai main lah. Bagilah aku masa kejap."

"Ish, Kau ni. Dah tahu aku tak suka, masih saja nak buat! Lagipun kita ni bukan mahram lah, mana boleh pegang-pegang? Lepaskan pipi aku!"

Keduanya bergumul. Angin berusaha mendorong kedua tangan buas Gamma yang terus mencubit kedua pipinya sementara Gamma masih saja mempertahankan serangannya, bersikukuh disitu. Ketika mereka sedang saling bergumul, sebuah tepukan tangan yang disertai asap harum berwarna kemerahan membuat aktifitas brutal mereka terhenti. Angin dan Gamma mematung disitu. Belum sempat mereka bereaksi, sebuah suara gadis menyapa mereka.

"Owh, bagus betul lah. Jadi ini yang korang buat semenjak alam bawah sedar BoBoiBoy dan Milyra bersatu?Haish, Apalah korang ni, buat benda tu kena betul-betul tau. Tak lah main tarik pipi macam budak kecik."

"Hah?"

Secara bersamaan Angin dan Gamma menoleh ke sumber suara. Tak jauh dari mereka berdiri sesosok gadis berambut perak panjang terurai. Ia memakai pakaian berwarna merah hati. Asap kemerahan yang mengelilingi gadis itu sungguh tebal, membuat Angin sulit melihat penampakan si gadis secara jelas. Namun tidak bagi Gamma. Baginya, asap wangi kemenyan kemerahan itu telah melenyapkan segala keraguan akan sosok itu.

"Fragrance? Apa kau buat kat sini?" desisnya pilu. Sorot mata liarnya hilang bersamaan dengan pertanyaan yang keluar dari mulut kecilnya. Angin yang berada di sampingnya tertegun mendengar nama yang menurutnya asing tersebut.

"Gamma, kau kenal dia ke?" tanyanya. Gamma mendelik ke arahnya seraya mendesah.

"Mestilah aku kenal," ucapnya sedih. "Dia tu pecahan keenam daripada Milyra. Dia sepadan dengan adik kau: Thorn a.k.a. Daun atau mungkin lagi tua sikit. Tapi Fragrance… dia tak sukakan aku dan pecahan-pecahan Milyra yang lain. Dia kata kitorang ni tak layak."

Fragrance tertawa cekikikan. "Hihihi… Hebat lah, akhirnya mengaku juga," ujarnya centil sembari berjalan keluar dari kepulan asap kemenyannya dan menampakkan dirinya seutuhnya pada kedua pecahan kekuatan yang mematung tak jauh darinya itu. "Akhirnya kau sedar betapa tak bergunanya diri kau. Kau tu memang tak patut ada kat dunia ni, ehehe. Apa kata kalau kau hilangkan saja diri kau daripada Milyra, hmm?"

"Ehhh, Kejap, Kejap. Apa urusan kau kat sini?" potong Angin segera. "Apasal kau suruh Gamma hilangkan diri dia? Kau nak Milyra takde kuasa gelombang sinar gamma ke? Tak berperikuasaan lah!"

"Hm? Tak berperikuasaan kau kata?" Fragrance mendelik ke arah si pengendali angin. "Tak sangka kau lagi dukung Kakak aku yang lemah tu ketimbang aku. Aku takut kalau lemah dia tu menular, tahu tak?"

"Apa?!" Angin terbawa emosi juga mendengar sindiran penuh hinaan itu. Namun Gamma segera melintangkan tangannya di depan wajah pecahan kedua dari BoBoiBoy, mencegahnya agar tidak sampai marah meledak-ledak.

"Sudah, Angin. Tak payah kau layan dia," ucap Gamma murung. "Fragrance betul. Mungkin lagi baik kita tak berkawan lagi. Aku memang lemah lah."

"Ei'? Sejak bila kau lemah?" tanya Angin bingung karena melihat emosi Gamma yang memburuk dalam sekejap akibat kalimat pedas dari Fragrance. "Kau tu kuat. Kita ni sama-sama kuat! Lagipun kalau kau lemah, mustahil kau boleh ciptakan kuasa Perisai gamma tembus tu. Kan? Kan?"

Sang pengendali Gelombang Alpha tertawa pelan melihat sikap penuh semangat milik Angin itu. "Jadi kau masih cuba dukung Gamma, huh?" tukasnya dengan nada polos. "Kau memang kawan yang baik, Angin. Aku terkesan. Tapi ada satu benda yang nak aku bagi tahu kau secara empat mata, jadi aku tak nak Gamma ganggu pasal kita. Alpha Wave: UDARA PEMENGSAN!"

Sekonyong-konyong Fragrance mengangkat satu tangannya ke udara, membuat asap kemenyan yang mengelilinginya menerjang ke arah Angin dan Gamma. Buru-buru Angin mengayunkan udara di sekitarnya, menangkis asap itu. Sayangnya Gamma yang saat itu tengah dirundung kerendahan diri tidak berusaha menghindar. Detik berikutnya ia tahu-tahu sudah terkapar di lantai akibat menghirup asap kemerahan milik Fragrance. Angin yang melihat temannya itu sudah tidak sadarkan diri langsung panik dan bergegas menghampirinya dengan raut muka cemas.

"Gamma?! Bangun, GAMMA!" ia berseru-seru di dekat telinga si pengendali gelombang gamma yang sudah terbius itu. Sayang usahanya itu memang sia-sia. Begitu ia mendengar tawa cekikikan Fragrance yang ditujukan pada mereka, Angin langsung mengangkat wajahnya dan menatap nanar ke arah sumber tawa yang entah mengapa membuatnya kesal itu.

"Apa kau buat dekat Gamma, Hah?!" semburnya seraya berdiri di atas kedua kakinya hingga ia dan Fragrance saling tatap-menatap. "Gamma memang merimaskan, tapi dia tetap lah kawan aku! Kalau kau berani apa-apakan dia, Aku yang akan ajar kau!"

"Ow, ow, tak sangka kau boleh garang juga rupanya," desis Fragrance sambil memasang ekspresi ketakutan di wajahnya walaupun itu hanya ditujukan untuk ledekan. "Yah, terserah kau nak buat apa. Yang jelas Tuan Puteri kau yang lemah tu tak kan pernah bisa sepadan dengan aku. Ah, ya. Aku datang kesini sebab aku nak tanyakan satu soalan."

Angin mendengus. "Kalau cuma nak tanya soalan, Tak payah lah sampai buat Gamma pengsan jugak!" Ujarnya kesal sembari pasang kuda-kuda. "Kau ni pelik betu-"

SET!

"Ekh?!"

Tanpa diduga, Fragrance tahu-tahu sudah berdiri di belakangnya. Disergapnya kedua bahu Angin melewati ketiak, membuat anak itu tidak punya kesempatan untuk mengelak. BoBoiBoy berbaju serba biru tua itu kaget sekali. Dia tidak menyangka kalau gerakan Fragrance bisa selincah itu. Setelah memastikan bahwa gerakan pemuda itu terkunci oleh cengkeramannya, Fragrance mendekatkan mulutnya ke telinga kiri Angin, mendesis disana.

"Aku butuh Daun… sekarang."

"Hah? Daun?" balas Angin kekeran. "Lah, Daun tu ada kat Pokok lah. Itupun kau tak tahu?"

Krikk… Krikkk…Krikkk… Krikkk….

Merasa dipermainkan, Fragrance menghunus kipas besinya di sebelah leher Angin, membuat mata hazel anak itu membelalak horror.

"Kau ingat aku senang nak kena tipu?"

"Ehehe, tak lah. Aku gurau je tadi."

"Dah tu, mana dia? Mana BoBoiBoy Daun?"

Angin mendelik ke arahnya. "Sebelum aku jawab soalan kau tu, aku pon nak tanyakan satu soalan dekat kau jugak," imbuhnya tegang. "Apa kepentingan kau kat dia?"

"Apa kepentingan aku dekat dia tu bukan kau punya pasal," bisik Fragrance riang. "Jawab je lah soalan aku. Mana Daun?"

"Haehh, kalau pun aku jawab soalan tu, kau mestilah tak kan butuh dia," kata Angin sweatdrop. "Kuasa BoBoiBoy Daun tu belum aktif lagi. Kena ada reaksi dari luar dahulu baru dia boleh bangun. Apa lagi yang mahu kau sangkal daripada aku?"

Mendengar penjelasan dari Angin itu membuat Fragrance tersenyum cerah. "Iya ke? Ingatkan dia dah aktif, ternyata belum," kekehnya. "Baiklah, budak comel. Itu je yang nak aku tanyakan dekat kau. Maaf sebab dah ganggu hari kau, hihihi. Nah, Sila sambung balik urusan kau dengan Puteri Gamma yang lemah tu, ehehe. Jumpa lagi di lain waktu."

Dilepaskannya cengkeramannya terhadap Angin dan mundur. Sebuah portal merah keunguan muncul di belakangnya. Fragrance mundur ke portal itu dan menghilang dalam sekejap. Setelah menyadari bahwa Fragrance sudah tidak ada disitu, Angin menghembuskan nafas lega. Akhirnya ia bebas dari intimidasi negatif gadis itu. Didekatinya Gamma yang masih terkapar di tanah sambil berseru tertahan.

"Gamma! Kau dah siuman ke?"

"Uhh-" Gamma mengernyit, sebuah tanda kalau dia sudah siuman dari pingsannya. Mungkin efek aroma penidur dari gelombang alpha milik Fragrance menghilang bersamaan dengan perginya gadis itu. Masih dalam kondisi setengah sadar, Gamma pun berhasil duduk sambil mengucek matanya, memandang Angin dengan tatapan seperti orang mengantuk. "Apa… Apa jadi ni?" tanyanya lemas. "Apa yang berlaku tadi? Mana Fragrance?"

"Jangan risau. Dia dah takde kat sini," balas Angin sembari tersenyum kecil. "Kau okey? Asap dia tadi bukan racun, kan?"

Gamma menggeleng. "Tak. Seingat aku, Fragrance jarang lawan musuh dia guna benda beracun, walaupun itu pon ada kemungkinannya juga," jelasnya sambil berdiri. "Oh, iya. Kau tadi ikut pengsan juga ke?"

"Tak. Aku block serangan dia," jawab Angin bangga. "Tapi dia tak berhenti sampai situ. Ada satu soalan yang dia tanyakan dekat aku. Pasal BoBoiBoy Daun."

"Eh? Daun?" Tanya Gamma terheran-heran. "Apahal dia tanyakan pasal tu dekat kau?"
"Entah," jawab lawan bicaranya sambil angkat bahu. "Aku pon tak faham apa motif sebenar dia dibalik semua ni. Tapi selepas tengok gerak-gerak dia yang macam pelik, aku rasa Fragrance butuh Daun buat suatu benda penting. Sayangnya aku tak tahu apa benda tu. Moga-moga dia tak butuhkan Daun buat benda jahat. Sebab kalau iya, maka benda tu mestilah teruk! Mulai saat ini aku tak kan biarkan Fragrance dekati 'adik' aku, apapun yang berlaku."

Gamma tertawa mendengarnya. "Ye kot," ujarnya geli. "Jangan lah terlampau panik, Angin. Kerana bagaimanapun juga, kejadian buruk tak kan berlaku dekat kita selama takdir tak menjadikan kita terkena kejadian buruk tu, okey?"


Markas TAPOPS, 29 Juli 2014 pukul 16:25

"Baiklah, kalau itu yang kau mahukan. Semoga Berjaya, Kaizo."

"Terima kasih banyak, Komander Koko Ci."

Kaizo membungkuk hormat ke arah sang Komandan dari TAPOPS itu. Ia lalu menoleh ke arah Motobot yang terlihat kaget dengan keputusan Cici Ko untuk membiarkan Kaizo mengemban dua tanggung jawab sekaligus, mengangguk ke arah Power Sphera generasi kedelapan Itu seolah dirinya akan baik-baik saja. Sepeninggal pemuda itu, Motobot merayap ke sebelah Cici Ko dan bergumam sangsi.

"Komander, apasal Komander biarkan dia emban dua tanggung jawab sekali?"

Cici Ko menghela nafas panjang. "Aku takde pilihan lain. Kau tahu sendiri kalau Kaizo tu keras kepala," ujarnya pasrah. "Padapun kita tak nak fokus dekat ONION sebab amaran 'dia' hari tu. Tapi entahlah, Motobot. Aku rasa kita kena buat sesuatu perihal ONION ni. Menyesal aku izinkan dia buat dua tugas tu tadi."

"Maksud Komander?"

"Maksud aku, kita pon kena cari maklumat daripada perkembangan ONION."

"HAH?!" Motobot membelalak horror mendengar usulan tiba-tiba dari Cici Ko itu. "Ta- Tapi kenapa? Aku tahu ONION ialah musuh bersama kita, tapi Komander kena sedar diri. Kita ni bukan macam GIDO yang boleh atasi semua kejahatan dekat Galaxy. Kita ni TAPOPS, pengesan dan pelindung daripada Power Sphera. Tugas kita lagi khusus. Baik kita pusatkan perhatian kita dekat tujuan kita bentuk badan TAPOPS ni. Pasal ONION tu boleh lah dilantarkan buat sekejap."

Mendengar protes dari Motobot itu membuat Cici Ko terdiam. Memang betul apa yang dikatakan Sfera Kuasa pembuat Kendaraan itu. TAPOPS dibentuk untuk tujuan yang lebih khusus yaitu menyelamatkan Power Sphera karena kerawanan mereka akibat diburu terus-menerus oleh para penjahat yang menginginkan kekuatan-kekuatan spektakuler dari tubuh mereka. Namun di sisi lain, Cici Ko merasakan sebuah firasat bahwa ONION sedang menyusun agenda untuk menguasai dunia. Sekitar sepuluh menit lebih mereka membisu. Tak lama kemudian, Cici Ko turun dari kursinya dan mendekati salah satu jendela di ruang kendali itu seraya bergumam.

"Aku tahu itu. Aku tahu fokus utama kita ialah Power Sphera, bukan yang lain, terlebih perkara ONION," imbuhnya getir. "Tapi sayang ini bukan masanya untuk bersantai. Gerak-gerik mereka makin lama makin mencurigakan. Dalam erti kata lain, mereka tak boleh kita remehkan. Kita kena bertindak segera!"

Dia mengatakan itu dengan suara tegas. Motobot jadi bingung dibuatnya. Apa sebenarnya yang dipikirkan Komandannya ini? Motobot tahu sendiri kalau 'jenisnya' itu sedang diburu habis-habisan oleh para penjahat di Galaksi. Ia pun tahu kalau ONION tidak seremeh yang dibayangkan. Badan kejahatan itu sudah beroperasi selama hampir beratus-ratus tahun. Mereka lah yang menjadi dalang dari sebagian besar kasus kejahatan yang terjadi antar Galaksi seperti Perampokan, Pencurian dan jenis kejahatan lainnya dari satu Planet ke Planet lain. Ketua-ketua mereka semua kejam, terutama empat ketua termansyur mereka. Tujuan mereka hanya dua pilihan: Menjadikan dunia sebagai milik mereka ataupun menghancurkannya sama sekali. Ada rumor bahwa kini mereka mulai menarget Sfera Kuasa. Tapi Motobot sendiri tidak yakin akan hal itu. Dipandangnya punggung mungil Cici Ko, berharap dalam hati kalau Sang Komandan akan mengubah cara berpikirnya, atau setidaknya mendahulukan prioritas badan TAPOPS yang tujuan utamanya adalah keselamatan para Sfera Kuasa, bukan yang lain. Motobot menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya sebelum akhirnya ia membuka mulut, memecah kesunyian di ruangan itu.

"Tapi Komander, Kalau kita melangkah terlalu jauh, mereka akan sedar kalau selama ni kita perhatikan mereka juga. Bukannya selama ni TAPOPS hanya fokus dekat benda Power Sphera?" ucap Motobot kaku, bersikeras akan prioritas TAPOPS. "Lagipun takde lagi maklumat yang kita dapatkan selain ni. Kita hanya bergantung pada maklumat yang 'Logam mulia' bagi dekat kita lewat perantaraan Kaizo. Bahkan ada rekaman video Haryan yang dia bagi dekat kita. Memang pon itu masih termasuk sedikit, tapi itu dah termasuk cukup buat kita jadikan pegangan akan ektiviti ONION agar kita boleh fokus betul-betul akan tujuan utama kita dalam TAPOPS. Aku mohon, Komander kena faham pasal ni."

Cici Ko memalingkan wajahnya pada Motobot. "Maaf, Motobot. Tapi kau tahu sendiri, maklumat yang aku dapatkan terlampau minim," tukasnya murung. "Kita tak boleh bergantung banyak terhadap Kaizo buat carikan maklumat mereka. Setidaknya kita dah usaha, sebelum semuanya terlambat."

Setelah puas mengatakan semua unek-uneknya, Cici Ko lalu melompat ke atas kursinya dan menarik salah satu mikrofon di meja kendali. Tak lama kemudian, ia membuat sebuah pengumumam.

"Perhatian, kepada semua ahli pasukan dekat Markas TAPOPS, harap datang segera ke bilik pantau utama. Ada beberapa hal yang aku kena bagi tahu kalian. Harap datang segera. Saya akan tunggu kalian hingga lengkap disini."


Markas GIDO, 29 Juli 2014 pukul 16:44

Milyra tergopoh-gopoh berlari menuju halaman utama dimana Master Chang dan kader-kader GIDO lainnya berada setelah sebelumnya memberikan oleh-oleh Biskuit buatan Yaya ke Hafiz untuk dicicipi. Sesampainya disana, ia langsung menjadi pusat perhatian. Bagaimana tidak, acara perekrutan itu tidak akan dilaksanakan sebelum semua kandidat sudah lengkap. Dan kini Milyra-lah yang paling terlambat datang di antara mereka semua. Tentu saja hal itu membuatnya gugup. Dan ia terlihat semakin gugup begitu Master Chang mendatanginya dengan auranya yang penuh dengan suasana intimidasi.

"Baiklah, peri kecil. Saya punya satu soalan khusus untuk kamu," ujarnya berang sembari berkacak pinggang. "APASAL LU DATANG LAMBAN SANGAT, HAAAAAHHHH?!"

"Ekh?!" Mila langsung mematung di tempatnya berdiri begitu Ketua Divisi Meteor itu menyemburnya dengan ganas bak naga api. Gadis berambut perak itu tidak percaya kalau pria itu akan sangat kesal terhadap dirinya. "A- Anu… saya ada pasal sekejap dengan kawan-kawan saya dekat Pulau Rintis tadi. Macam perpisahan la tu. Lepas tu saya-"

"SUDAH! Kamu ni dah datang lamban, tambah berkisah pulak!" sembur Master Chang dengan wajah merah padam. "Kamu dah buat rakan-rakan seperjuangan kau ni menunggu lama, tahu tak?! Maka dari tu, kamu akan saya bagi hukuman atas keterlambatan kamu! Sekarang, lari keliling halaman utama ni sehingga 30 putaran!"

"Ha?! 30 puluh putaran?!" Spontan kedua mata pink kemerahan Mila melotot mendengar angka fantastis itu. "Alahh, apasal banyak sangat? Penat lah-"

"Oi, ini hukuman kamu sebab datang lamban! Pakai acara protes pulak," dengus Master Chang sebal. "Jangan banyak alasan! Hanya kerana kamu ialah Puteri Mahkota dari Planet Tim Tam Dua, bukan berarti saya akan bagi kamu dispensasi. Dekat GIDO semua derajat ahli pasukan baru ialah sama. Sana, pergi lari! Saya akan bagi kamu masa sehingga lima minit sahaja."

"Apa?! Lima minit? Anda mesti bergurau!"

"Itu patut buat Makhluk lamban macam kau! Dah lah, kamu ni memang nak didiskualifikasi rupanya."

"Ekh- tak, tak, tak! Saya tak mahu didiskualifikasi lah."

"Dah tu, apa lagi yang kamu tunggu? BERLARI LAH SEKARANG JUGA!"

"Ba- Baik, Bos!"

Langsung saja Mila melesat memutari halaman utama Markas GIDO yang luasnya sama dengan ukuran satu buah lapangan Sepakbola. Gila benar pelatihnya ini. Untuk apa Master Chang menyiksanya dengan hukuman gila-gilaan seperti ini? Hukumannya sebagai kandidat saja sudah berat. Bagaimana jadinya kalau dia sudah menjadi ketua Divisi nanti? Mila merinding dibuatnya. Diliriknya Master Chang yang tampaknya puas melihat Mila kesulitan berlari. Jangan-jangan pria yang menjabat sebagai ketua Divisi Meteor itu sudah tidak lagi waras karena memberi hukuman gila kepada kader barunya.

"Oh, iya. Saya hampir lupa," ucap Master Chang tiba-tiba. Ditaruhnya pangkal Megafon yang sedari tadi dipegangnya tepat di depan mulutnya dan berseru ke arah Mila yang sedang berjuang di putaran kelima. "Jangan sekalipun kamu cuba untuk berhenti! DAN JANGAN PAKAI KUASA SELAMA KAMU BERLARI!"

Oh, bagus. Sepertinya pria itu memang sudah tidak waras.

"Ish, ape lah Master Chang ni," keluh Mila sambil berusaha mengatur nafasnya yang berat. Gadis itu baru saja hendak menggunakan sayapnya untuk dipakai terbang. Namun tampaknya Master Chang ingin ia memakai kemampuan berlari regularnya. Dasar pria aneh! Bisanya cuma menyiksa saja.

Setelah selesai berlari, Mila pun kembali ikut bersama rekan-rekan kandidat baru lainnya untuk menjalani tes perekrutan. Sebagian besar dari mereka tidak lulus dan terpaksa menjadi anggota biasa. Untung saja Mila tidak mengalami nasib yang sama dengan teman-teman seperjuangannya itu. Ia dan beberapa kandidat baru beruntung mendapat posisi sebagai anggota Eksklusif. Dengan kata lain, kemungkinan mereka bisa dicalonkan menjadi anggota maupun Ketua Divisi lebih besar ketimbang rekan-rekan mereka yang hanya sebatas sebagai anggota biasa. Merasa puas dengan pencapaiannya, Mila senang bukan kepalang. Ia lalu berlari menuju ruang santai dimana Hafiz berada dengan suasana hati riang gembira.

"Aku kena bagi tahu Hafiz kalau aku dah masuk sebagai member Eksklusif," gumamnya bahagia."Dia mesti senang sebab derajat kita dah seimbang, hihihi…"

BRUK!

"Aduh!"

Tanpa diduga ia menabrak seseorang di lorong menuju ruang santai itu. Saking kerasnya tabrakan itu membuat Mila kehilangan keseimbangan dan jatuh ke lantai. Orang yang ditabraknya pun ikut terjatuh. Kertas-kertas penting yang dibawanya jatuh berserakan di lantai, membuat Mila terkejut sekaligus merasa bersalah. Buru-buru ia berdiri dan mengumpulkan kertas-kertas itu.

"Ma- Maaf, saya tak tengok awak dekat lorong ni tadi, jadi tak sengaja tabrak," tukasnya gugup sambil terus mengumpulkan kertas-kertas itu di tangannya sampai semuanya terkumpul. Dipandangnya orang yang ditabraknya itu, Seorang pemuda yang tampaknya kurang lebih seumuran dengan BoBoiBoy. Rambut hitam kecoklatannya yang agak ikal tampak tersisir rapi. Ia memakai kemeja lengan panjang berwarna hitam dan dasi merah serta celana panjang berwarna hitam. Pemuda itu mengangkat wajahnya, menampakkan kedua mata coklat tenang dibalik kacamata berbingkai hitam yang bertengger di depan hidungnya. Mila terkesiap. Wajah anak itu lumayan ganteng juga, walau terkesan sedikit dingin. Awalnya Mila mengira kalau anak itu akan memakinya karena tabrakan tadi. Namun ia keliru. Anak berkacamata itu malah mendekatinya dengan tatapan simpatik.

"Kau baik-baik saja?" tanyanya dengan logat asing dan terkesan formal, membuat Mila untuk sementara waktu merasa tersihir dengan rasa peduli dari anak itu. Akan tetapi ia cepat-cepat menyadarkan dirinya sendiri dan menggangguk ke arah lawan bicaranya dengan malu-malu.

"Um. Aku okey kot," jawab Mila gugup dan menyodorkan kertas-kertas itu kepada empunya. "Sekali lagi maafkan aku sebab dah tabrak kau tadi. Aku terlampau senang tadi."

Anak berkacamata itu tersenyum. "Tidak apa-apa. Lagipula itu bukan disengaja, kan?" katanya tenang. "Ah, ya. Sepertinya aku belum pernah melihatmu disini. Apa kau baru saja menjadi anggota baru?"

"Eh? I- Iya. Saya ahli pasukan baru dekat GIDO," balas Mila segera. "Tapi syukurlah saya jadi sebagai member eksklusif. Oh, hampir lupa. Nama saya Milyra Sparklouise. Siapa nama kau?"

"Dimas Abdul Rasyid. Panggil saja Dimas," jawab anak berkacamata itu. "Eh, tunggu. Nama kau Milyra? Putri Mahkota dari Planet Tim Tam Dua? Hafiz banyak bercerita tentangmu. Suatu kehormatan bisa bertemu denganmu, Tuan Putri."

"Ehh, tak payah lah berformal dekat aku." Mila jadi risih juga diperlakukan secara formal oleh Dimas. "Aku lepas dikudeta, jadi sama sahaja aku bukan Puteri Mahkota. Oh, kau pon kenal Hafiz jugak? Wah! Best-nya aku dapat dua kawan baru dekat GIDO ni."

Dimas tertawa kecil. "Hafiz itu sahabatku sejak bersekolah dasar di Kuala Lumpur. Tentu saja aku tahu banyak tentang dia," ujarnya menjelaskan. "Kami berdua dan salah satu sahabat perempuan kami masuk GIDO secara bersamaan. Kami bertiga pun berhasil lulus menjadi anggota Eksklusif, Sama sepertimu, kak Milyra. Senang berkenalan denganmu."

"Senang berkenalan dengan kau juga, Dimas," jawab Mila lembut. "Oh, ya. Aku nak jumpa Hafiz ni. Aku nak bagi tahu dia perihal aku lulus sebagai member Eksklusif. Mesti dia senang selepas dengar maklumat tu."

"Hmm, kebetulan aku juga ingin menemui Hafiz. Ada hal yang ingin kusampaikan padanya," timpal Dimas segera. "Bagaimana kalau kita sama-sama pergi temui dia? Sekalian saja aku ikut denganmu, Kak Milyra."

Mila mengangguk. "Okey lah kalau macam tu. Jom kita pergi ke bilik santai dia."

Mereka berdua pun pergi menuju ruang santai dimana Hafiz berada. Dimas lalu membuka pintu ruang santai itu. Tahu-tahu mereka tertegun melihat Hafiz yang tampaknya tengah asyik mengunyah biskuit Yaya yang dibelikan Mila untuknya di atas sofa. Merasa ada yang membuka pintu, Hafiz pun menoleh ke arah Dimas dan Mila. Di sekitar bibirnya terlihat remah-remah biskuit berwarna coklat. Segera ia melambaikan tangannya dengan riang ke arah kedua temannya yang berada di depan pintu.

"Dimas! Kak Milyra! Mumpung lah korang berdua dah tiba kat sini," tukasnya dengan nada riang. "Meh sini temankan aku makan biskut. Oh, ya. Kak Milyra, Biskut ni sedap betul! Dekat mana Akak beli camilan sedap ni?"

"Ehe, Kawan Sekolah aku yang jual. Dia sorang buat biskut tu," balas Mila sambil cengar-cengir lalu masuk ke dalam ruang santai diikuti Dimas. Ia duduk di sofa yang berseberangan dengan sofa yang diduduki Hafiz sementara Dimas duduk di samping sahabatnya. Anak berkacamata itu melirik ke atas meja yang berada di antara kedua sofa itu. Disitu ada dua bungkus plastik. Salah satu plastik sudah kosong sementara plastik yang satu lagi masih berisi beberapa keping biskuit berbentuk hati coklat berinti merah stroberi. Imut memang. Tapi entah mengapa perasaan Dimas jadi tidak enak saat ia melihat biskuit itu, seolah-olah benda itu bukan makanan yang layak dikonsumsi. Melihat tampang curiga Dimas, Hafiz lantas menyikutnya.

"Ei, apasal kau hanya pandang-pandang biskut tu? Makan lah," ucapnya menawari. "Biskut ni sedap tau. Kau kena cicip juga, Dim."

Dimas mengerutkan kening. "Sori, Fiz. Entah kenapa aku jadi tidak berselera untuk makan biskuit ini," katanya sangsi. Ia mengalihkan pandangannya pada Mila. "Kak Milyra, kau tahu apa saja bahan-bahan yang digunakan untuk membuat biskuit ini?"

Mendengar pertanyaan itu, spontan Mila mengangkat bahu. "Tak tahu," jawabnya jujur. "Aku tak sempat tanyakan soalan tu dekat Yaya. Dia yang buat biskut ni. Tapi nampaknya kita tak payah risau. Buktinya Hafiz sukakan biskut tu."

"Ha'ah, betul apa Kak Milyra cakap," angguk Hafiz setuju sambil mengunyah keping biskuitnya yang terakhir. "Aku suka biskut ni. Sedap betul! Kalau aku jumpa Yaya nanti, aku akan jadi pelanggan setia biskut dia. Rasa kertas pasir dalam biskut dia ni unik tau."

"HEEEEE?"

Refleks Dimas dan Mila melotot begitu medengar ucapan yang keluar dari mulut Hafiz barusan. Ampelas? Sejak kapan biskuit Yaya mengandung Ampelas? Mereka terlihat mengidik. Dimas segera pindah duduk di sebelah Mila dan berbisik perlahan pada gadis itu.

"Kak Milyra, kenapa kau beli biskuit itu?" tanyanya panik. "Kalau Hafiz jatuh sakit bagaimana?"

Mila terkesiap. "Alamak! Sori, aku tak tahu lah kalau ada kertas pasir kat dalam biskut tu," ujarnya cemas. "Aku tak enak hati dekat Yaya, jadi aku beli biskut dia je. Tak tahu lah kalau ada benda pelik yang dia masukkan semasa buat biskut ni."

Dimas mendengus. "Lalu apa yang harus kita lakukan?" gumamnya ketus. "Hafiz sudah makan biskuit itu sebanyak dua bungkus! Habislah sudah..."

"Ei, apa korang berdua bisik-bisik tu?" tahu-tahu Hafiz menginterupsi mereka. "Tak baik tahu bisik-bisik kalau ada pihak ketiga. Apa benda yang korang bincangkan kat situ? Macam pelik je."

"Ehehe, tak payah kau curiga, Hafiz. Bukan perkara teruk pon," ujar Mila sambil menyeringai hambar. "Apa kata kau jangan makan biskut tu?"

"Eh? Memangnya kenapa?" tanya Hafiz bingung. "Biskut ni sedap lah. Apasal aku tak boleh makan? Lagipun aku- Uuuuhhhh…."

PLUK!

Belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya, ia tahu-tahu sudah merosot ke dudukan sofa. Biskuit yang dipegangnya terlepas dari genggamannya. Detik berikutnya, anak itu sudah tidak bergerak lagi. Langsung saja Mila memekik begitu ia melihat Hafiz pingsan di tempat.

"Alamak! Dia pengsan lah!" pekiknya ketakutan. Dilihatnya Hafiz yang sudah tidak sadarkan diri dan berseru. "Hafiz! Bangun, Hafiz!"

Dimas menepuk keningnya melihat insiden itu. "Sudah kuduga ini akan terjadi," tukasnya sambil faceplam. "Cepat! Kita harus segera bawa dia ke ruang kesehatan. Kalau tidak, bisa gawat!"

Setelah Cici Ko mengizinkannya untuk menangani dua tugas yang sebenarnya terdengar cukup berat bagi pria muda seusianya, Kaizo lalu undur diri untuk melanjutkan acara pelatihan yang diembankan padanya semenjak Laksamana Tarung pensiun dari TAPOPS. Selain itu, ia juga harus segera pergi ke Bumi untuk 'mengundang' Fang agar bisa ikut serta dalam Ujian masuk sebagai anggota resmi yang pantas untuk menjadi bagian dari TAPOPS bersama kedua Kadet TAPOPS lainnya: Si Kembar Sai dan Shielda.

Sang Kapten berjalan dengan tegap di sepanjang lorong markas TAPOPS itu sembari menyunggingkan sebuah senyum kecil di bibirnya. Matanya yang berwarna merah gelap memandang kosong. Dalam hati ia berpikir... Mungkin agenda perekrutan ini lebih baik ketimbang ia harus memberi Fang latihan tempur gila-gilaan di Pesawat Angkasanya. Alasannya karena Kaizo masih saja kesal terhadap sang adik. Ya, kesal semenjak ia tahu bahwa Fang tidak bisa menjaga Laptop pemberiannya dengan baik. Lebih parahnya lagi, Laptop yang dibelinya untuk Fang sebagai hadiah atas keberhasilan sang adik masuk di Sekolah Menengah itu dihancurkan oleh orang yang tidak lain dan tidak bukan adalah Ayah Angkat Kaizo selama menjalani Penelitian di Bumi beberapa tahun yang lalu: Haryan Pakpak Darwish. Kaizo sendiri masih tidak percaya kalau Haryan telah memangku jabatan sebagai Ketua Organisasi ONION di periode ini setelah sebelumnya pria paruh baya itu ditawari oleh Rosaline untuk menggantikannya sebagai Ketua badan tersembunyi itu. Menurut kabar burung yang diterima Kaizo dari Ashrlati: Sang Ratu Cyborg Ultra Humanoid yang menjadi pemerintah boneka di Planetnya dan sekaligus berperan sebagai agen ganda atau informan gelap untuk sang Kapten- bahwa Rosaline lah yang sengaja mengompori Haryan untuk melakukan rencana perekrutan anggota-anggota baru bagi ONION, termasuk anak-anak dibawah umur yang dimana hal itu adalah merupakan sebuah kemujuran yang luar biasa bagi seorang wanita pengidap kelainan Pedofilia sepertinya. Kaizo mendecih. Entah mengapa ia masih saja bisa merasakan bekas serangan maut dari Ratu Succubus yang menyebabkan dirinya mengalami mati suri hingga berjam-jam lamanya. Saking lamanya Kaizo mengalami mati suri, Fang bahkan sampai mengalami stress karena mengira bahwa Abangnya itu sudah meninggal dunia.

"Kau ingat kau sanggup ambik dua tanggung jawab tu sekaligus? Hmp, sombong betul lah kau ni, Kaizo."

"Huh?"

Dalam sekejap lamunan Kaizo buyar begitu kedua kupingnya mendengar sebuah suara bernada mencemooh yang dialamatkan pada dirinya. Suara itu berasal dari sebuah sudut gelap di ujung lorong. Segera Kaizo menghentikan langkahnya dan menaruh tangan kanannya di atas gagang Pedang Tenaga-nya sembari pasang kuda-kuda. Kalau orang itu adalah musuh, maka ia sudah siap untuk menghadapinya saat itu juga.

"Siapa disitu?" desis Kaizo dingin. Dikuatkannya kuda-kudanya sambil tetap waspada. "Baik kau bagi tengok diri kau, kalau kau masih merasa sebagai Makhluk terhormat yang punya harga diri."

Setelah ia berkata seperti itu, sosok yang mencemoohnya tadi perlahan keluar dari kegelapan lorong yang menyelimutinya. Sedikit demi sedikit penampakan sosok itu tersingkap, mulai dari kakinya yang berlapiskan sepatu bot berbahan logam hingga tudung berjubah yang menutupi hampir sebagian besar kepalanya. Beberapa helai rambut berwarna pirang kehitaman menjuntai keluar dari bagian kanan-kiri pipinya. Kaizo tidak bisa melihat wajah orang itu akibat bingkai tudung yang nyaris menutupi seluruh bagian atas kepala lawannya. Namun Sang Kapten bisa memastikan sikap tidak bersahabat dari orang yang menghadangnya ini. Dipicingkannya kedua matanya guna mengenali ciri-ciri si lawan dengan cermat.

"Apa pandang-pandang? Ingatkan aku senang dipandang macam selebriti ke?" sambar orang itu, kesal karena kelakuan Kaizo yang membuatnya seolah-olah menjadi barang yang harus di-scan menggunakan sinar x. "Setidaknya aku tak sombong macam kau. Berlagak betul boleh rampungkan dua tugas sekali. Kau ingat kau ni Alien terhebat kat Galaxy? Jangan mimpi."

Disindir seperti membuat Kaizo panas hati juga. "Hmph! Kau pulak, apasal masuk campur dekat urusan aku? Ingatkan aku ada pasal peribadi dekat kau ke?" balasnya sengit. "Sudah! Baik kau bagi tahu siapa diri sebenar kau, sebelum aku sorang yang paksa kau buat benda tu."

Lawannya terkekeh pelan. "Kau boleh panggil aku Spark, Komander Spark," ujarnya memperkenalkan diri dengan gaya angkuh. "Aku ialah Pimpinan daripada kumpulan Askar SUPERNOVA, Pengawal daripada Puteri Liena sekaligus Pelindung utama daripada Kerajaan Knightia dekat dimensi beta Planet xxxx. Puas?"

"Eh?" Kaizo tersentak mendengar penuturan dari Komandan Spark. Dia tahu badan SUPERNOVA yang berasal dari dimensi tetangga Planet asalnya itu. Mereka adalah sekumpulan pengawal yang melindungi Kerajaan Knightia, salah satu Kerajaan utama di dimensi tetangga Planet xxxx dan sekaligus sebagai Sekutu dari dimensi Planet dimana Kaizo dan Fang tinggal sebelum kedua kakak beradik itu memutuskan untuk pergi meninggalkan Planet mereka setelah Tengkorak menyerang Planet mereka. Tidak heran kalau Kaizo dijuluki pemberontak legenda di Galaksi akibat aksi nekatnya membentuk sebuah badan baru bersama Fang dan Lahap untuk melindungi Sfera Kuasa yang tersebar di seluruh penjuru Alam Semesta yang kekuatan mereka sampai sekarang diburu oleh penjahat-penjahat haus kekuatan di luar angkasa. Ketiganya tetap menjadi kelompok bebas hingga akhirnya Cici Ko menawari mereka untuk menjadi bagian dari sebuah badan rahasia pelindung Sfera Kuasa bernama TAPOPS. Sang Kapten akhirnya menyetujui tawaran itu tanpa pertimbangan sama sekali.

Masalahnya adalah karena Komandan Spark juga menyebut nama Liena: Salah satu teman masa kecil Kaizo. Liena merupakan Pewaris sah pemimpin Kerajaan Knightia dimana keturunan mereka secara turun-temurun mewarisi kemampuan pelindung terkuat yang pernah ada dimensi beta Planet itu: Planet Blessing. Kemampuan Planet Blessing adalah sebuah dinding energi yang melingkupi seluruh bagian permukaan Planet mereka bagaikan perisai pelindung agar tidak dapat dimasuki oleh siapapun kecuali pihak-pihak yang mendapat izin dari Liena sendiri. Sayang, kekuatan terbesar yang pernah ada di Planet xxxx itu pun memiliki efek samping yang antara lain dapat menyerap tenaga pemakainya secara drastis. Maka dari itu, Leluhur-leluhur dari Liena sebagian besar meninggal di usia muda karena energi kehidupan mereka terkuras habis oleh penggunaan kuasa Planet Blessing. Hanya ada satu cara untuk mencegah hal itu terjadi. Beberapa orang dari leluhur Liena membagi setengah kekuatannya kepada kenalan dekat mereka agar berfungsi sebagai Penyeimbang kuasa Planet Blessing itu. Dengan begitu energi kehidupan mereka tidak mudah habis dan mereka pun bisa mengontrol kekuatan itu dengan mudah. Awalnya Liena meminta Kaizo dan Fang agar menjadi penyeimbang kuasa untuknya. Namun karena Kaizo dan Fang terpaksa meninggalkan Planet mereka, Liena pun terpaksa mengurungkan niatnya untuk menyeimbangkan kuasa Planet Blessing. Hal inilah yang membuat Komandan Spark melabeli Kaizo dan Fang sebagai salah satu 'Pengkhianat' dan berusaha mati-matian mencari kedua Kakak beradik itu agar mereka dapat segera menjadi Penyeimbang kuasa Planet Blessing bagi Liena. Sayang sekali Kaizo tidak tahu hal ini. Ia malah menganggap pria itu sebagai penghalang dirinya untuk menjaga Galaksi dari para penjahat rakus akan Sfera Kuasa. Namun karena sang Komandan menyebut dirinya adalah Pengawal dari Liena, Kaizo jadi terpancing juga untuk menanyakan perihal hubungan Komandan Spark dan Putri Liena.

"Kejap," ujarnya cepat-cepat. "Kau? Pengawal daripada Lien? Macam mana kau-"

"Tak payah kau tekejut macam tu, kau pembelot!" potong Komandan Spark kasar. "Yang jelas semua ini berlaku selepas kau dan Fang tinggalkan Planet kita. Korang ingat dengan cara tu korang boleh lindungi Galaxy daripada musuh? Hmph! Kapten Bora Ra pon tak mampu kau kalahkan masa dia mulakan invasi dia dekat Power-power Sphera yang tersebar ke seluruh penjuru Alam semesta ni. Macam mana kau boleh lindungi Makhluk-Makhluk tak berdosa kalau kau masih tak mampu lawan Alien rakus macam dia tu?"

Kaizo mendecih. "Apa sebenarnya yang kau nakkan dari aku, Hah?" gertaknya marah. "Aku tak kesah kalau pangkat kau lagi tinggi daripada aku hanya kerana aku ialah seorang Kapten dan kau ialah seorang Komander. Lagipun aku dan Fang terpaksa tinggalkan Planet kita sebab Bora Ra serang keluarga aku! Aku tak takut terhadap kau, Kalau takde benda penting yang ada sangkut-pautnya dengan aku dan kau, baik kau pergi dari sini sekarang juga.

"Tch, jadi kau masih tak faham apa maksud dari kedatangan aku ni?" timpal Komandan Spark geram. "Baiklah kalau ini yang kau mahukan. Nampaknya aku dah tak mampu untuk sembunyikan identiti sebenar aku daripada kau. Mungkin hanya dengan cara ini kau akan faham sepenuhnya apa maksud kedatangan aku dekat sini."

Sambil memindahkan tangannya ke pedang laser putihnya, Komandan Spark membuka tudung yang menutupi sebagian besar kepalanya hingga seluruh bagian kepalanya tersingkap. Wajahnya terlihat kaku. Mata merah gelapnya menyorot dingin. Rambut pirang kehitamannya berayun pelan seiring ia melangkah menuju Kaizo yang membelalak kaget setelah melihat wajah asli dari lawannya itu seutuhnya.

"Ka- Kau?! Aku ingat kau," desisnya kaget sambil melototi lawannya itu. "Ingatkan kau dah meninggal selepas Puan Rosa serang kau dekat Istana Tim Tam Dua beberapa tahun lepas. Macam mana kau masih hidup?"

Komandan Spark tersenyum kecut. "Ini bukan masanya aku buat bagi tahu kau sebab aku masih hidup," ujarnya miris. "Aku taklah boleh meninggal sesenang itu. Lagipun Roz tak boleh tahu kalau aku masih hidup. Maka dari tu, aku guna nama Spark sebagai nama samaran aku."

"Ergh, apasal baru sekarang kau bagi tahu maklumat kau ni?" Kaizo menggerutukkan giginya sembari memandang nanar ke arah Komandan Spark yang tampaknya sudah menggeser tangannya ke gagang pedang tenaga-nya yang berwarna putih. "Dan apasal kau macam tak sukakan aku? Apa salah aku terhadap kau? Atau jangan-jangan kau ni bahagian daripada ONION?"

"Tak. Aku takde sangkut pautnya dengan Organisasi pelik tu," ujar Komandan Spark sambil menggeleng pelan. "Tapi bagaimanapun juga, aku takkan pernah setuju kau dan Fang jadi penyeimbang Kuasa Planet Blessing. Kau pon lagi pentingkan misi patroli kau ketimbang Planet kau sendiri. Alasan keluarga kau diserang Tengkotak tu seharusnya bukan alasan kuat buat tinggalkan Planet kau! Betapa memalukannya dirimu."

"Ergh… Diam kau!" timpal Kaizo berang. lama-kelamaan ia merasa muak juga mendengar hinaan-hinaan dari Komander Spark. Namun Komandan Spark tampaknya tidak peduli dan terus saja meneror sang kapten dengan kalimat-kalimatnya yang terdengar cukup pedas itu.

"Macam mana aku nak diam kalau kau lagi pentingkan benda lain daripada Planet kita? Hmp, memalukan. Kau ni memang lah takde guna, Kaizo."

"DIAM KAU!"

Kaizo berteriak murka sembari menghunus pedang tenaga-nya. Detik berikutnya ia melesat ke arah Komandan Spark dan melayangkan pedangnya ke arah leher pria itu sekuat tenaga. Sadar lehernya diincar, Komandan Spark bergerak cepat. Diayunkannya bilah pedang tenaga berwarna putih miliknya ke arah Pedang tenaga Kaizo, menyebabkan bunyi hantaman telak hingga membuat dinding lorong itu bergetar.

"Jadi kau nak aku diam, hm?" decih Komandan Spark kesal seraya berusaha mempertahankan kuda-kudanya. "Selepas kau dan Fang tinggalkan Planet kita, kau suruh aku diamkan perkara tu? Hmph, kolot. Tak sedar diri! Planet sendiri pon tak nak jaga, apalagi seisi Galaxy! Lagipun kalau seandainya ONION ataupun musuh-musuh lain dah Berjaya hancurkan Planet kita, baru kau tahu rasa."

"Kau ingat aku mahukan Tengkorak serang Keluarga aku?" Kaizo mendesis sebal sembari terus mendesak Komandan Spark dengan pedangnya. "Kau kena bezakan alasan sengaja dan alasan terpaksa! Kau ni tak faham ke kalau keluarga aku kena belasah?"

Komandan Spark mendengus. "Huh, kau dan adik kau tu memang takde bedanya dengan budak kecik," ujarnya berang. "Baik korang ambik balik tanggung jawab korang sebagai penjaga Planet kita dan tinggalkan badan sok berani TAPOPS ni."

"Tidak akan!"

Kaizo mendesak pedangnya kembali, membuat Komandan Spark mulai kewalahan. Ia menyadari bahwa energi tubuhnya yang disalurkan pada pedang tenaganya mulai menipis. Merasa tidak punya pilihan lain, Ketua dari SUPERNOVA itu akhirnya memutuskan untuk mundur. Ia berkelit, mendorong pedang Kaizo ke samping dan melompat ke belakang sebelum sang Kapten sempat menyerangnya lagi. Disimpannya pedang tenaga-nya sambil menatap dingin ke arah lawannya.

"Mungkin sampai sini dulu perjumpaan kita, Kaizo," ujarnya datar. "Aku akan jumpa kau lagi di masa hadapan, dan saat itulah aku akan bagi tengok Liena bahwa kau dan Fang sama sekali tak patut untuk jadi kawan baik dia. Ingat itu."

"Tch, jangan cuba kau buat Lien ragukan perkawanan dia," balas Kaizo geram sembari pasang kuda-kuda, siap menyerang lagi. "Tak sangka kau nak persulit dua. Aku akan buktikan kalau aku dan Fang lagi patut jadi penyeimbang kuasa Planet Blessing dia. Aku akan lindungi Galaxy dari orang berfikiran picik macam kau!"

"Hm, buatlah semampu kau," Komandan Spark menanggapi dengan cuek. "Aku tak kesah kalau kau buat usaha sekeras mungkin untuk perkara tu. Mari kita buktikan siapa lagi layak untuk ungkap semua maklumat tentang 'Kunci' Sapu Katharsis, itupun kalau kau sanggup buat benda tu. Akan aku tunggu hingga masanya tiba."

Sekonyong-konyong angin kencang berhembus di lorong tempat mereka berada, membuat Kaizo terpaksa melindungi wajahnya dengan kedua tangan. Begitu ia menurunkan tangannya dari depan wajahnya, Komandan Spark sudah hilang dari situ. Kaizo jadi tertegun dibuatnya. Ia mendesis bingung.

"Dia... apa maksud dari cakap dia tadi tu?"

Sambil mendesah panjang, ia kembali menyimpan Pedang tenaga-nya di samping ikat pinggangnya. Pria itu tampak merenung. Aneh juga. Kenapa tidak ada satupun penghuni Markas TAPOPS yang melihat pertarungan singkat antara dirinya dan Komandan Spark tadi? Markas ini memang besar, tapi masa sih tidak ada yang melihat mereka? Apa mungkin Cici Ko telah memanggil semua karyawan TAPOPS ke ruang kendali untuk membicarakan sesuatu hal yang penting? Tapi setidaknya toh harus ada yang bertugas jaga di semua lorong di markas itu agar mereka tahu bahwa ada penyusup yang masuk ke markas mereka beberapa menit yang lalu. Karena kalau keberadaan badan mereka ini sampai terungkap ke pihak yang tidak bertanggung jawab, bisa gawat jadinya.

Sang Kapten lalu mengalihkan pandangannya ke arah tempat dimana Komandan Spark terakhir kali terlihat olehnya. Ia masih saja bingung dengan kedatangan pria itu. Kenapa ketua SUPERNOVA yang merupakan pasukan keamanan di dimensi tetangga Planet-nya itu harus repot-repot mendatanginya tadi dan-

Eh, tunggu dulu. Kenapa ia harus membuang-buang waktu memikirkan masalah itu?

Bukannya saat ini dia harus segera pergi ke Bumi untuk menjemput Fang? Adiknya itu harus segera mengikuti Ujian masuk sebagai anggota resmi TAPOPS bersama Sai dan Shielda. Kalau tidak, Cici Ko akan langsung mendiskualifikasi anak itu dan Fang tidak akan bisa membantunya lagi untuk melindungi Galaksi. Kaizo mendengus, kesal pada pikirannya yang hampir terpecah dua. Ia lalu bergegas pergi ke Pesawat Angkasanya yang terparkir di salah satu pad pendaratan, masuk ke ruang pilot dan menghidupkan semua mesin. Ia duduk di kursi kendali utama pesawat, memejamkan matanya dan berdoa agar semuanya berjalan lancar.

Tak lama kemudian, pesawat angkasa itu pun terbang meninggalkan Markas TAPOPS dan melesat menuju Bumi.


Halaman depan gedung Markas ONION, 29 Juli 2014 pukul 16:48

Sebastian melangkahkan kakinya menuju pintu masuk utama markas utama ONION. Sesampai disana, ia berpapasan dengan Ah Ming yang terlihat sedang membawa sebuah Map berkas di tangannya. Begitu jarak antar keduanya sudah dekat, Ah Ming menghentikan langkahnya.

"Tian," ucapnya tanpa menoleh sedikitpun. "Ini mungkin terdengar gila. Tapi aku nak kau bantu aku untuk buat Mimi beradaptasi dekat sini."

Kalimat itu spontan membuat Sebastian ikut menghentikan langkahnya. Ia mendelik ke arah Ah Ming dengan sorot mata menyelidik. "Apa maksud cakap kau tu?" tanyanya heran. "Mimi tu dah jadi Ketua daripada ONION. Mestilah dia dah tahu apa saja kewajiban dia. Tak payah kita bantu dia beradaptasi lagi. Dia bukan budak kecik lagi, Ah Ming."

Ah Ming mendesah panjang lalu membalik badannya ke arah Sebastian, saling pandang dengan pemuda itu. "Nampaknya kau tak tahu apa yang sebenarnya sedang berlaku dekat Mimi," tukasnya lirih. "Memang pun dia bukan budak kecik. Tapi kau tahu kan kalau dia terobsesi sangat dekat BoBoiBoy? Selain itu, dia pon baru sahaja jadi yatim piatu. Selepas dia dilantik sebagai Ketua ONION ke-100 dua hari lepas, tak henti-hentinya dia gelak-gelak macam orang gila dekat bilik rehat dia. Aku pon tak tahu apa aku kena buat agar dia boleh sedar balik. Yang jelas dia tak boleh jadi Ketua ONION kalau jiwa dia masih terganggu. Aku mohon, kau kena bantu aku."

"Sori, kawan. Tapi untuk saat ini aku tak tertarik buat sedarkan jiwa dia," tolak Sebastian segera sambil melambaikan tangannya ke udara sebagai tanda perpisahan. "Ada benda lagi penting yang aku kena buat sekarang. Aku tak nak berurusan dengan budak psikopat tu. Buang masa je. Dah lah. Aku nak pegi dekat Lab bawah tanah ni. Jumpa lagi."

Ia pun melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti oleh interupsi Ah Ming tadi. Namun penolakannya yang terkesan agak kasar itu rupanya membuat Ah Ming kesal juga. Gadis berambut ungu dan berkuncir dua itu segera berlari ke depan pintu masuk menuju Lab bawah tanah dan menghadang Sebastian sebelum dia sempat membukanya.

"Apasal kau halang-halang ni? Tepi lah!" Sebastian menukas kesal, berusaha menggertak Ah Ming agar membiarkannya masuk. "Dah cakap pon kalau aku tak minat buat bantu kawan psikopat kau tu. Aku nak sambung proyek aku. Minggir sana!"

Ah Ming mendengus. "Proyek pelik kau lagi berharga ke dari kawan kau?" desisnya getir. "Aku tahu kau nak uji proyek back-up Tuan Haryan, tapi setidaknya kau bagi perhatian dekat anak beliau juga. Lagipun Mimi tu kawan kau. Kau nak dia makin terpuruk ke?"

Diserang seperti itu membuat amarah Sebastian memuncak. "Dengar, Ah Ming. Aku berkawan dengan korang sebatas ahli pasukan daripada Supreme Diamond, tak lebih dari itu," imbuhnya gusar. "Dah, dah! Buang masa je aku beborak dengan kau ni. Jangan ganggu aku!"

Didorongnya Ah Ming keras-keras ke samping dan membuka pintu menuju Lab bawah tanah. Setelah itu, dibantingnya benda itu sekuat tenaga dan menyebabkan suara hantaman yang cukup memekakkan telinga hingga Ah Ming merasa gendang telinganya mau pecah saat itu juga.

"Hish, dasar budak pelik! Tak mahu bantu orang lain." Ah Ming mengomek perlahan, kesal dengan sikap tak acuh Sebastian barusan. "Ingatkan dia boleh berbuat seenak diri dia ke? Hmph! Seandainya saja dia ialah musuh, dah lama aku serang dia hingga babak belur."

Setelah puas mengatai-ngatai Sebastian, Ah Ming lalu membalik badan dan kembali melanjutkan penelusurannya mencari 'Sukarelawan' di Markas ONION. Memang, Syrena sudah tiba di kamar Mimi sejak satu jam yang lalu dan tengah berusaha mengajak gadis itu mengobrol. Tapi itu belumlah cukup. Mimi butuh banyak bantuan psikologis dari luar guna menstabilkan jiwanya yang masih saja terguncang akibat kematian Ayahnya, belum lagi keadaannya semakin memburuk saat ia tahu kalau BoBoiBoy dan teman-teman Pulau Rintis-nya yang membuat Haryan terpaksa melakukan bunuh diri dengan cara menjatuhkan dan meledakkan dirinya sendiri dari atas gedung. Miris memang, tapi Nasi sudah menjadi bubur. Ah Ming tahu mustahil Ketua ke-99 dari ONION itu akan hidup kembali, walaupun saat ini Sebastian baru saja memulai pengujian sebuah proyek back-up kecil-kecilan miliknya. Tapi tetap saja hal itu tidak masuk akal bagi Ah Ming. Karena bagaimanapun juga, Orang mati yang kembali hidup itu adalah merupakan sebuah perlawanan dari kodrat kehidupan dan tentunya bersifat sungguh menyimpang dari kehidupan itu sendiri.

Sementara itu, Sebastian yang berada di balik pintu menuju Lab bawah tanah mendengar langkah kaki Ah Ming menjauh. Pemuda itu tersenyum miris. Dasar Ah Ming. Kenapa gadis itu tidak mengerti juga? Sebastian tahu kalau proyek back-up Haryan terdengar cukup gila. Tapi mau bagaimana lagi. Baginya, Mimi tidak akan pernah layak untuk menjadi Ketua ONION walaupun Sebastian mengakui bahwa gadis itu lebih kuat dan pantas serta lebih kejam dari Kakak Kembarnya: Milyra. Namun sayang, kelabilan dan kekanakan Mimi membuat Sebastian merasa harus kembali mempertimbangkan kelayakan Mimi untuk menggantikan posisi Ayahnya di usia yang masih sangat belia.

"Memalukan. Baik dia jadi Pemerintah Boneka ketimbang Ketua yang patut buat posisi Ketua tu."

Dia masih meracau saja sambil melangkah menuruni tangga yang menuntunnya menuju Lab bawah tanah. Sesampainya di Lab, Sebastian mengamati keadaan sekeliling. Beberapa tabung berisi cairan berwarna biru terang dipasang berjejer di tiap sisi dinding. Selang-selang elastis dimasukkan ke dalam tabung yang ujungnya dibiarkan bebas di dalam tabung. Sebastian mendekati dua buah tabung yang berada di ujung ruang Lab. Dipandangnya kedua tabung itu lamat.

Tabung pertama berisi kilauan yang berpendar kebiruan sementara tabung kedua berisi kilauan yang berpendar kemerahan. Sebastian mendekati tabung yang berpendar kemerahan dan mengusap papan nama logam yang terletak di bawah tabung. Tak lama kemudian, sebuah tawa pelan terdengar darinya diikuti gumaman penuh harap.

"Akan aku tunggu hingga masanya tiba, Bunda…"


Markas TAPOPS, 29 Juli 2014 pukul 16:52

Di Kamar Sai, tampak Shielda yang tengah duduk pinggir ranjang saudaranya. Sai sendiri masih terbaring di atas kasurnya, belum kunjung siuman. Beberapa bulir keringat tampak mengalir turun dari keningnya. Shielda memandang wajah letih saudaranya dengan cemas. Diusapnya rambut merah Sai dengan lembut, berharap pemuda itu akan baik-baik saja walaupun ia sendiri mulai ragu akan hal itu. Namun segera ditepisnya keraguannya dan kembali meyakinkan dirinya sendiri bahwa semuanya akan berjalan seperti biasanya. Sai akan segera siuman dan mereka akan mengikuti ujian resmi TAPOPS bersama-sama.

Lima menit pun berlalu. Shielda terlihat mulai terkantuk-kantuk akibat kelelahan menunggu saudaranya siuman. Ia pun memutuskan untuk beristirahat sejenak. Namun gadis itu tidak mau ambil risiko kalau ia pergi ke kamarnya sendiri dan meninggalkan Sai sendirian. Ia pun merebahkan kepalanya di pinggir kasur Sai dan perlahan menutup kedua matanya. Tapi sebelum ia sempat terlelap, telinganya menangkap sebuah suara erangan.

"Ja- Jangan… Rosa… line…"

Shielda mengangkat kepalanya dari pinggir kasur. Dilihatnya Sai meracau tidak jelas dalam ketidaksadarannya. Tanpa buang waktu lagi dijamahnya bahu saudaranya dan mengguncangnya perlahan.

"Sai, kau dah siuman ke?"

Sayangnya usaha Shielda itu tidak membuahkan hasil. Memang Sai menggumamkan sesuatu, namun bukan berarti pemuda itu sudah siuman dari pingsannya. Shielda melihat Sai mengejang pelan sebelum akhirnya melemas kembali. Tubuhnya berkeringat dingin.

"Rosa… line… apa kau… nak buat?" Dia menggumam lemah, membuat Shielda tidak tahu harus melakukan apa. Wajah gadis itu semakin terlihat khawatir. Apa jangan-jangan saudaranya ini sedang kesurupan? Lagipula siapa Rosaline? Kenapa Sai menyebut-nyebut nama itu?

"Apa aku kena buat ni?" desis Shielda panik. "Siapa Rosaline? Dia ke wanita yang selama ini bagi mimpi buruk dekat Sai? Ini tidak baik. Aku kena hubungi Komander sekarang juga."

Ditekannya tombol di jam tangan komunikasinya, hendak menghubungi Cici Ko. Sekonyong-konyong layar hologram-nya terlihat kacau. Tentu saja itu membuat Shielda heran. Sejak kapan jam tangannya jadi rusak begini? Apa gara-gara sinyal di markas TAPOPS sedang bermasalah?

Tapi Shielda tahu ia tidak bisa menunda-nunda waktu lagi. Kondisi Sai terlihat memburuk, dan ia harus menolong saudara kembarnya itu sekarang atau tidak sama sekali. Dia lalu bergegas menuju pintu kamar Sai dan menekan tombol pembuka pintu kamar untuk membukanya agar ia bisa segera pergi menemui Cici Ko dan menjelaskan kondisi Sai sekarang ini. Anehnya, pintu itu tidak mau membuka, membuat Shielda semakin panik. Sinyal jam tangan komunikasinya sedang bermasalah dan sekarang pintu kamar Sai pun mengalami hal yang sama? Apa kata dunia?!

"Owh, Nampaknya kau punya masalah dengan pintu itu. Bukan begitu, Shielda?"

Mendengar suara berat yang tiba-tiba terdengar itu membuat Shielda refleks memutar tubuhnya ke belakang dimana suara itu berasal. Alangkah terkejutnya ia melihat seorang pria paruh baya bersandar di salah satu dinding kamar Sai sambil berlipat lengan. Tentunya Shielda segera pasang siaga satu melihat orang asing yang tiba-tiba berada di kamar saudaranya ini.

"Siapa kau?" tanyanya was-was sambil menarik Perisai bundar berukuran raksasa miliknya dan pasang kuda-kuda. "Dan macam mana kau tahu nama aku? Seingat aku, Tak pernah aku berjumpa dengan lelaki pelik macam kau. Apasal kau tiba-tiba ada dekat sini?"

Pria itu tertawa pelan dan menaikkan topi fedora yang menutupi wajahnya hingga wajah itu terlihat jelas. "Kau boleh panggil aku Azurian. Kita memang tak pernah berjumpa, tapi aku kenal kau dan Abang kembar kau," ucapnya santai sambil berjalan perlahan mendekati Shielda. "Aku dah kenal korang sejak lama. Korang je yang tak sedar kalau aku dah amati korang walaupun dari jauh. kesian. Tenang saja, Shielda. Aku takkan buat kau menyesal."

"Kau..." tukas Shielda dingin. "Apa maksud kau ni, Hah? Cakap!"

"Ush, garangnye…" kekeh Azurian geli. "Aku gurau je. Nasib baik Rosaline dah berjaya lumpuhkan Abang Kembar kau, fufufu..."

Mendengar nama Rosaline disebut-sebut, Shielda jadi terhenyak juga. "Eh, kejap. Kau kenal Rosaline?" timpalnya heran. "Siapa dia? Aku dengar Sai gumam-gumam nama tu dekat tido dia tadi. Apa yang sebenarnya berlaku kat sini? Jawab aku!"

"Oke, oke. Akan aku jawab semua benda yang buat kau bingung macam ni," ujar Azurian sembari tersenyum simpul." Tapi sebelumnya, biar aku bagi kau beberapa aturan."

"Eh? Aturan?" Shielda menelan ludah. Entah kenapa firasat buruk mulai melanglang buana di pikirannya. Azurian jelas adalah pria yang mencurigakan. Namun tampaknya lelaki itu punya beberapa informasi mengenai Rosaline yang mungkin saja akan membantu Shielda untuk menolong saudara kembarnya. Sayangnya gerak-gerik aneh Azurian membuatnya harus mempertimbangkan apa yang dilakukannya ini walaupun tindakannya ini cukup membuatnya ragu.

Lamunannya sirna begitu ia melihat Azurian yang masih saja berjalan ke arahnya. Lelaki itu melepas topi fedoranya, menampakkan rambut ikal berwarna biru tua yang selama ini ditutupinya. Sekonyong-konyong ia melesat ke samping. Saking cepatnya, Shielda nyaris tidak bisa memprediksi gerakan pria itu. Namun sebelum gadis itu sempat berbuat sesuatu, Azurian tahu-tahu sudah berada di belakangnya. Disambarnya tangan Shielda yang memegang perisai dan mengunci tubuh gadis itu hingga Shielda nyaris tidak bisa bergerak. Shielda sendiri kaget bukan kepalang. Nafasnya memburu karena tegang.

"Ap- Apakah!?" jerit Shielda dengan tatapan horror. Ia berusaha membebaskan diri. Namun Azurian hanya tertawa pelan. Ditendangnya tangan Shielda yang memegang perisai kuat-kuat hingga perisai itu terlepas dari tangan saudari kembar Sai dan terlempar ke sudut ruangan. Shielda melihat Azurian menyeringai ke arahnya. Kedua mata merah keunguan pria itu berkilat-kilat.

"Akan aku bagi tahu semua maklumat yang aku tahu pasal Rosaline," ujarnya sinis. "Tapi nampaknya aku kena belasah kau dahulu. Itu lagi elok kan? Hahahahaha!"

Sadar kalau Azurian sudah mencengkeram lehernya dan mulai mengangkat tubuhnya ke udara, Shielda mau tidak mau merasa kesakitan juga. Detik berikutnya, Ia berteriak.

"AAAAAAAAAAHHHHHHHH!"

Jeritan Shielda menggema hingga seantero markas, membuat Cici Ko, Motobot dan semua karyawan TAPOPS yang saat itu tengah berada di ruang kendali utama tertegun. Merasa ada yang tidak beres, Cici Ko langsung turun dari kursinya dan bergegas pergi keluar diikuti Motobot dan para karyawan. Susah payah Motobot menyusul Komandan dari TAPOPS itu.

"Komander, mana Komandan nak pergi ni?"

Cici Ko mendengus. Ia berbicara tanpa menoleh. "Takde masa buat menerangkan, Motobot. Aku dengar teriakan Shielda tadi, macam ada sesuatu benda teruk yang menimpa dia. Kita kena tolong dia sekarang juga!"


Bersambung...

Ahai! Akhirnya tuntas juga bagian ini. Maaf karena BoBoiBoy dkk tak muncul, soalnya nanti terlalu panjang. Mungkin dibagian selanjutnya Author akan memasukkan mereka ke cerita lagi. Jangan risau, ok? ;)

Shielda:" Oh, bagus. Kemarin Sai, dan Sekarang kau berani siksa aku juga, Author?!"

Ehe, gapapa... biar ada bumbu sedikit :v /dihantam Perisai Shielda/

Jika readers sekalian berminat, silahkan review bagian ini. Walaupun sebenarnya agak aneh sih hehehe /ditendang/

Tetap setia menunggu kelanjutannya, ya. Love you all, dear readers :)