Halo, Readers. Kita berjumpa lagi di serial aneh bin gaje ini, hehehe ... maaf karena Author hiatus melulu, soalnya terkadang Author ada urusan di Dunia Maya ataupun karena rasa malas sehingga terkena Writeblock, ehe ... mohon maaf sebesar-besarnya. Silahkan baca bagian ini ya. ;)
Note: Alur acak, bagitu juga dengan peralihan scene yang amburadul, suspensionalisasi, kegajean akut dan lain sebagainya
Apa yang akan dilakukan Kaizo setelah tiba di Bumi? Apakah BoBoiBoy akan menceritakan perihal setruman Jam Kuasanya pada Ochobot? Apa reaksi SUPERNOVA? Apakah Cici Ko Berhasil menyelamatkan Shielda dari serangan Azurian? Temukan jawabannya disini.
Lavento Zenya: Hehehe, maaf karena tiba-tiba update cerita tanpa sepengetahuanmu. Silahkan baca bagian ini ya ^^
kurohimeNoir: Hiks, yang sabar ya... Kaizo pun masih dalam tugas menjaga galaxy, Liena pun terpaksa menunggu :'') Untuk yg Fragrance nyariin Daun itu ... sebenarnya masih rahasia Author, wehehe(?) Silahkan nikmati bagian ini, ok? ;)
dj: This is the Update. Hope you enjoy it. ^^
LynKZ: Gahh ... tak sangka Akak tengok juga bahagian Kasih antara Kaizo dan Liena. hehehe ... Iya, Akak betul, Liena tu macam inspirasi daripada Lynna, OC Akak. Hanya sahaja untuk Liena punya kisah berbeda daripada Lynna punya. Sila baca bahagian ini, ya ^^
.
.
.
C.E.R.M.I.N. G.A.L.A.X.Y.
Apocalypse by 'Sapu Katharsis'
(Season 1)
.
.
.
BoBoiBoy milik Animonsta/Monsta
.
.
.
Bagian 5: Dendam, Kepercayaan dan Kenangan
Gedung Markas ONION, 29 Juli 2014 Pukul 17:40
Di salah satu lorong di lantai 89, terlihat sebuah ubin lantai yang tampak termodifikasi sebagai kolam air. Detik berikutnya, sesosok Siren perempuan keluar dari 'kolam' itu. Setelah semua tubuhnya sudah berada di atas permukaan lantai, ia celingak-celinguk menelaah seisi lorong itu. Setelah beberapa lama memeriksa, dia akhirnya yakin kalau inilah lantai yang dituju olehnya.
"Betul lah ini Lantai 89. Dah mulai pelupa dah aku ni," ucapnya terkekeh. Maklum, 'Umurnya' saat ini sudah mencapai 27 tahun. Tapi sebenarnya angka itu masih terbilang muda bagi seseorang untuk menjadi pelupa seperti dirinya.
Ia pun berjalan anggun menuju salah satu pintu di lorong lantai 89 itu. Begitu tiba, diangkatnya salah satu punggung tangannya, hendak mengetuk. Sekonyong-konyong sebuah tawa pelan terdengar dari ruangan dibalik pintu, membuatnya tertegun dan tidak jadi mengetuk pintu tersebut.
"Vader... apasal Vader dah takde? Moeder pon dah takde jugak. Huhuhu… Siti pon ikut sekali. Dan sekarang BoBoiBoy dah tinggalkan aku… sampai hati dia dan kawan-kawan busuk dia hapuskan Vader… Kenapa semua ini berlaku?"
Mendengar itu, Sang Siren segera pasang tampang keras. "Haih, apasal peragai dia makin pelik ni?" desisnya getir. Didorongnya pintu itu dan masuk ke dalam. Disana ia mendapati sesosok gadis berambut coklat yang meringkuk di atas sebuah ranjang busa nomor satu yang terletak di pojok ruangan. Gadis itu masih mengenakan gaun tidurnya yang berwarna pink muda. Kemungkinan besar gaun tidur itu melekat di badannya sejak tadi pagi. Rambut ikalnya terlihat acak-acakan tidak karuan bak seorang pasien di rumah sakit jiwa. Sang Siren lalu mendekati ranjang si gadis dan berkacak pinggang disana seperti seorang Ibu yang hendak mengomeli anaknya.
"Mimi, kau tak pergi Sekolah lagi ke? Dah dua hari kau ponteng sekolah tau."
Mimi menoleh ke arahnya dengan wajah kuyu. "Apa pentingnya Sekolah? Hihihi… kau tak tengok aku sedang tak mood ke? Payah lah kau ni, Syrena."
Lawan bicaranya mendengus. "Ckckck, Justru kau yang Payah! Kau ni degil betul pasal Kematian Ayah kau," ujarnya sweatdrop. "Kawan-kawan kau yang lain pon mesti sedih pasal Kematian beliau, tapi diorang tetap tegar hingga sanggup pegi Sekolah. Diorang tak lembek macam kau. Sampai bila kau nak jadi macam ni?"
"Bukan urusan kau," desis Mimi cemberut, membuat Syrena geleng-geleng kepala.
"Dah, dah, daripada kau terus meratapi nasib, baik kau mandi dulu. Badan kau tu mesti lengket sebab dua hari ni tak mandi. Sana, ambik towel dan basuh betul-betul badan kau. Ketua ONION tu kena lah rapi dan bersih. Lagipun perasaan kau mesti lagi baik selepas mandi, terutama kalau kau mandi guna air hangat."
"Ye lah, ye lah. Aku mandi," ucap Mimi malas. Dengan setengah hati ia bangkit dari ranjang dan menyambar handuknya yang tergantung di pengait yang tertempel di salah satu sisi kamar. Setelah itu, ia berjalan sempoyongan menuju Kamar mandi yang berada tepat di samping kamar tidurnya, masuk dan melepas gaun tidurnya yang digantungkannya di pengait pintu kamar mandi bagian dalam. Rasa segar langsung menyelimuti tubuhnya begitu air hangat yang keluar dari Shower di atas kepalanya terciprat ke seluruh badannya hingga kaki. Benar juga kata Syrena. Perasaan Mimi berangsur-angsur menjadi nyaman setelah tubuhnya diguyuri air hangat. Mimi terkikik, merasa geli dengan perilaku sintingnya selama dua hari ini. Dia tahu kalau akal sehatnya memang sudah tidak waras, dan ia pun membiarkan hal itu terjadi begitu saja seolah ia memang sengaja membiarkan dirinya menjadi seorang psikopat gila yang terus dirundung perasaan dendam dan kasih sayang yang bercampur aduk menjadi satu. Dan kini Mimi begitu menikmati keadaan dirinya yang jauh dari kata normal itu, ditambah lagi gadis berpita itu telah menjadi Ketua ONION ke-100 setelah Kematian Haryan, ia bisa berbuat apapun yang ia mau dan menghalalkan segala cara untuk mencapai semua yang diinginkannya.
Ah, tunggu. Bukankah dengan begini dia bisa membalas perlakuan BoBoiBoy terhadap dirinya selama ini? Dengan jabatan Eksekutif tertinggi di ONION yang berada di genggamannya saat ini, BoBoiBoy tidak akan bisa berkutik. Bukankah itu sempurna?
"Jaga kau, BoBoiBoy... Jaga kau! Hahahaha-"
"Oi, apahal kau gelak-gelak kat dalam tu? Sambung mandi kau lah!"
Kata-kata Syrena diluar kamar mandi memotong tawa aneh yang hendak keluar dari dalam mulutnya. Dasar Siren aneh! Orang lagi enak-enak ketawa kok dilarang?
"Ish, kau ni Syrena! Apasal pantau aku masa mandi lagi?"
Syrena mendengus. "Aku yang kena tanggung jawab kalau ketidakwarasan kau muncul balik," gerutunya. "Dah lah. Sambung balik mandi kau. Malam ni kau kena datang ke Rapat Perdana kau sebagai Ketua ONION untuk buatkan rancangan-rancangan kau selama menjabat nanti. Dan jangan lupa, ada pekerjaan Rumah daripada mendiang Haryan yang kena kau kembangkan pulak."
"Ya, Ya, tahu pon pasal tu. Dah berapa kali Vader cakap kalau 'Sapu Katharsis' kena direalisasikan, cepat atau lambat," balas Mimi sebal seraya memeras ujung rambutnya yang basah. "Tak payah lah risau. Semua dah terkendali."
Sang Siren tersenyum simpul. "Okey lah kalau macam tu. Aku tunggu kau dekat luar bilik rehat," balasnya. "Jumpa lagi, Mimi-"
"Ehh, Kejap." Mimi menggumam tiba-tiba. "Syrena, jangan pergi dulu. Ada benda aku nak tanyakan dekat kau."
Syrena yang baru saja hendak meninggalkan pintu kamar mandi dimana Mimi berada dibaliknya langsung tertegun. Ia menoleh ke arah daun pintu kamar mandi dan merapatkan salah satu telinganya disana seraya berucap.
"Benda apa tu?"
Mimi mendesah. "Kau tahu ke siapa salah sorang daripada kawan BoBoiBoy kat Pulau Rintis? Maksud aku, budak berkulit gelap yang mirip Arumugam tu... Kau sukakan dia ke?"
"Ah-" Syrena langsung tersipu mendengar pertanyaan dari Mimi itu. Ia terkekeh malu. "Maksud kau Budak Gopal tu? Ahaha, memang pon dia macam penakut sangat, kontras daripada Arumugam. Tapi aku macam rasa kalau dia cocok untuk jadi 'Raja' daripada Planet Tim Tam Dua. Budak tu menarik kot. Kau tahu, aku belum ada pendamping untuk temankan aku kuasai Planet tu seluruhnya, Kan?"
Mimi mendesis geli. "Hiih, jangan cakap kau ikut terjangkit kelainan Pedofilia macam Rosaline punya!" desisnya kaget sekaligus jijik. "Umur kau tu dah tua lah. Mana boleh kahwin dengan budak kecik macam dia?"
"Hm? Budak kecik kau kata?" Syrena merasa geli juga mendengar kalimat itu. "Nampaknya kau salah besar, Mimi. Justru kerana dia yang tertua di antara BoBoiBoy dan kawan-kawan Superhero dia, makanya aku pilih dia. Kau tak tahu ke kalau Rosaline kahwin masa dia 'berumur' 38 tahun dan Suami dia 17 tahun? Jadi wajar sahaja kala aku pon nak buat benda tu jugak. Jangan lah terlampau sensitif, Mimi."
"Hum, sensi lah tu," balas Mimi faceplam sembari membalutkan handuknya di sekujur tubuhnya yang semi-kering. Dibukanya pintu kamar mandi dan melangkah keluar. Syrena mendelik ke arahnya. Wajahnya terlihat geli, membuat Mimi terheran-heran.
"Apa?" tanyanya. Mau tidak mau Syrena akhirnya menjawab setelah berhasil menahan dirinya agar tidak cekikikan di depan gadis itu.
"Oh, takda pe. Aku hanya berfikir... kau nampak macam terobsesi sangat dengan budak BoBoiBoy tu. Dia tu teman Istimewa kau ke ape?"
"Ekh?!"
Tanpa sadar kedua pipi Mimi merona merah begitu mendengar pertanyaan mendadak dari Syrena itu. Kenapa tiba-tiba seluruh tubuhnya terasa kaku? Ia menggigit bibir bawahnya. BoBoiBoy memang temannya. Dan suatu hal yang wajar kalau Teman harus saling mengingat, bukan? Tapi entah mengapa Mimi merasa jantungnya berdebar-debar begitu sang Siren menyebut-nyebut hubungannya dengan anak bertopi jingga dinosaurus itu dengan nada curiga seakan-akan BoBoiBoy adalah kekasihnya. Memang anak itu adalah pujaan hatinya, tapi itupun hanya sebatas pertemanan. Tidak kurang, tidak lebih. Mimi merasa berutang budi dengan BoBoiBoy karena telah membuatnya berteman dengan anak-anak lain saat bersekolah dasar dulu. Dan itulah yang membuat gadis itu tidak bisa melupakan BoBoiBoy begitu saja.
Tapi sayang, Mimi mulai ragu dengan pandangan hatinya selama ini. Bagaimanapun juga, BoBoiBoy itu laki-laki. Mimi jadi malu juga kalau ia digoda akan hubungannya dengan bocah itu lebih dari sekedar berteman. Ada-ada saja. Lagipula Mimi sudah naksir setengah mati pada Hafiz. Hanya saja karena perbuatannya yang dulu membunuh Siti membuat jarak antara dirinya dan Hafiz semakin menjauh. Hafiz memang tidak tahu kalau Mimi-lah yang membunuh Kakak Perempuannya dan mengawetkan mayatnya sebagai boneka Manekin. Tapi Mimi tahu dia tidak bisa memberitahu hal itu pada Hafiz. Dia tidak mau membuat pemuda yang ditaksirnya itu membencinya. Dia ingin Hafiz hidup, bukan berakhir tragis seperti hal-nya Kakak Perempuannya. Namun untuk BoBoiBoy, itu lain perkara.
Karena dia ingin anak itu mati. Dia ingin BoBoiBoy mati.
Itulah ganjaran yang pantas untuk sahabat yang tega melupakannya, walaupun pada hakikatnya dia juga menyayangi pemuda itu seperti saudaranya sendiri. Sayang sekali hal itu tidak akan pernah berguna lagi. Hasrat membunuh Mimi telah mengalahkan rasa kasih sayangnya terhadap anak bertopi jingga itu.
"A- Aku... Aku anggap dia kawan aku je, tak lah sampai jatuh hati pulak," ujarnya gugup sembari menunduk sedikit guna menyembunyikan wajahnya yang merona merah. "Aku suka dia sebab dia dah bantu aku berkawan dengan semua murid dekat Sekolah rendah aku dahulu. Tapi tetap sahaja dia tak boleh diampuni! Aku benci dia sebab dah lupakan aku. Sampai hati dia lagi pentingkan kawan-kawan hodoh dia kat Pulau Rintis ketimbang aku dan kawan-kawan lama dia yang lain. Tak sanggup aku tahan semua beban ni. Aku kena balas dia, Syrena!"
"Ow, Ow, sabar Mimi, kau kena tahan amarah kau." Syrena langsung meremas-remas kedua pundak Mimi seakan memijit gadis itu untuk menenangkannya. "Kau boleh seksa dia semau kau, tapi sekarang bukanlah masa yang tepat buat benda tu. Selepas Sapu Katharsis dah berfungsi, baru kau boleh apakan budak BoBoiBoy tu semahu kau, oke?"
Mimi menghembuskan nafas panjang, berusaha menenangkan dirinya sendiri agar tidak emosi. "Huff, okey lah. Mungkin cakap kau tu ada betulnya juga," gumamnya setelah perasaannya lebih rileks. "Aku kena kawal diri aku. Terima kasih banyak, Syrena."
"Sama-sama," balas Syrena sambil terkekeh. "Jom kita pergi kat Aula utama. Semuanya mesti dah tunggu kau kat sana. Santai sahaja, Mimi. Sebab dengan begitu kau akan lagi rasa elok untuk buat rancangan-rancangan baru daripada Organisasi kita ni. Kau sedia?"
Mimi tersenyum simpul seraya mengangguk mantap. Sorot mata liarnya kembali cerah. Ia menyeringai lebar.
"Aku Sedia."
Rumah Tok Aba, 29 Juli 2014 pukul 17:30
Sepeninggal Mila, BoBoiBoy dan teman-teman Superhero-nya kembali melanjutkan aktifitas pekerjaan rumah mereka yang sempat tertunda saat berada di Kedai Kokotiam tadi untuk mengucapkan salam perpisahan terhadap teman Peri mereka. Awalnya mereka kaget begitu mendengar pernyataan mendadak dari Mila yang secara jelas nan akurat hendak berhenti menjadi siswi di Akademi Pulau Rintis dan menerima tawaran pekerjaan di sebuah instansi rahasia berinisial GIDO. Tapi sebenarnya tindakan gadis itu tidak salah. Jika dilihat dari sudut pandang umur dan pengalaman, Mila lebih tahu dan lebih dewasa dari mereka. Jadi wajar saja kalau ia hendak bekerja di sebuah badan perlindungan Galaksi seperti itu. Walaupun gadis itu tidak menyebutkan secara detail bagaimana seluk-beluk GIDO, namun BoBoiBoy yakin seratus persen kalau GIDO adalah merupakan sebuah instansi yang baik-baik. Mana mungkin Mila bisa diterima disana kalau dia tidak memenuhi kriteria sebagai orang baik di alam semesta ini?
Tanpa sadar ia melamun dan sibuk menerawang sembari mengetuk-ngetuk ujung penanya di meja ruang tamu dimana ia dan teman-temannya duduk melingkari meja itu sambil belajar bersama atau lebih tepatnya mengerjakan tugas review yang diberikan Papa Zola untuk dikumpul keesokan harinya. Ia berhenti melamun begitu mendengar desisan keras Ying yang secara tersirat ditujukan padanya, seolah-olah memperingatkan untuk berhenti melamun dan kembali menulis review. Sambil cengar-cengir guna menutupi rasa malunya, BoBoiBoy langsung tancap pena sambil tersipu sendiri.
Di samping kanan BoBoiBoy duduklah Fang. Anak berambut ungu landak itu tampak lancar menulis review-nya hingga akhirnya nyaris mencapai dua lembar halaman kertas polio bergaris. Tentu saja, dia termasuk anak yang otaknya encer di sekolah itu. Dia bisa menjadi juara satu di kelasnya setiap tahun kalau dia mau. Sayangnya dia seringkali berada di peringkat juara tiga di kelas karena hendak 'memuliakan' kedua sahabat perempuannya: Yaya dan Ying yang notabene seringkali bersaing memperebutkan Juara satu atau dua di kelas sejak sekolah dasar, walaupun sebenarnya dia terpaksa melakukannya karena merasa ngeri dengan kompetisi tidak sehat di antara kedua gadis itu.
Di samping kiri BoBoiBoy duduklah Gopal. Pemuda gembul berdarah India itu tampak menggaruk-garuk kepalanya. Dahinya berkerut dalam. Sepertinya dia tengah berpikir keras mencari kalimat-kalimat yang pas untuk ditulis diatas kertas review-nya. Dalam benaknya ia berpikir, Syukur-syukur kalau dia bisa menulis lima atau enam paragraf untuk review-nya. Bagi dirinya yang memiliki metode belajar secara kinestetik, bermain game dan memperagakan gerak-gerik tokoh dari film detektif lebih bisa memberinya inspirasi untuk belajar dan menulis ketimbang mengingat-ngingat kembali kejadian yang menimpa dirinya dan teman-temannya tiga hari yang lalu secara visual maupun audio.
Di seberang meja dari tempat Gopal berada tampak Yaya yang duduk berhadapan dengan Sang Manipulator Molekul. Gadis berhijab Pink itu menulis dengan hati-hati agar tulisannya terlihat indah dan dapat dibaca oleh guru. Ia bersikap seakan hendak memberikan semua yang terbaik untuk review-nya. Tentu saja dia harus melakukan hal itu. Karena kalau tidak, maka pamornya sebagai murid dengan prestasi terbanyak di sekolah akan jatuh, dan Yaya tidak ingin hal itu terjadi. Pokoknya, dia harus mempertahankan gelar-gelar hebat yang diberikan kepada dirinya selama berada di dunia pendidikan formal, bagaimanapun caranya.
Di samping kiri Yaya duduk Ying yang juga tampak asyik menulis di atas kertasnya. Jari-jemarinya yang halus bergerak lincah, menuntun bolpoinnya merangkai gaya tulisan yang tidak kalah indahnya dari Yaya. Saking gesitnya, gadis berdarah tionghoa itu tidak sadar kalau ia sudah menulis review sebanyak delapan halaman! Fang sampai bersungut-sungut sendiri melihat Ying bisa menulis beberapa halaman lebih banyak darinya. Ia dan kedua teman lelakinya hanya bisa memandang tegang melihat Yaya dan Ying berlomba-lomba menyelesaikan review mereka, seakan-akan mereka sedang berada di antara hidup dan mati.
"Wei, korang berdua ni apahal? Slow sikit lah tu," imbuh BoBoiBoy cemas melihat Yaya dan Ying masih saja terus berlomba menulis indah di atas kertas polio mereka. "Ini bukan pulak kompetisi. Reviu tu kena lah dibuat elok-elok."
"Haiya, lu senyap je lah BoBoiBoy. Kami nak fokus dah ni," balas Ying segera sambil terus menulis. "Saya kena buat reviu namber satu dekat kelas ma."
"Apa? Aku yang lagi patut dapat namber satu, bukan kau!" balas Yaya sengit sembari mempercepatkan gerakan tangannya untuk menulis. "Awas kau, Ying!"
"Hah! Lu ingat lu lagi baik dari saya ke hoo? Hmph! Meh kita tengok!"
"Meh lah!"
"Hayoyo diorang mule dah." Gopal mendesis ngeri melihat kedua teman perempuan mereka mulai memperlihatkan tanda-tanda siaga satu. "Aku punya reviu satu lembar je dah rasa besyukur tau."
"Ha'ah. Lagipun yang penting dari reviu ni bukan kuantitas, tapi isi serta kualitas," ucap BoBoiBoy, setuju dengan kalimat Gopal. "Yaya, Ying, dah lah tu korang berdua. Kita disini nak keje tugas tau, bukan lumba Olimpiade."
Sayang sekali, Kalimatnya itu tidak dihiraukan. Yaya dan Ying berhenti menulis. Mereka langsung saling melototi satu sama lain bak dua ekor singa betina yang hendak berduel. Merasa teguran BoBoiBoy tidak ada gunanya, Fang mendengus.
"Sesia je kau nak lerai diorang, BoBoiBoy. Diorang tak kan faham," tukasnya pasrah. "Paling-paling diorang yang terkam kau kalau kau masih cuba nak lerai diorang."
"Tapi kalau diorang dibiarkan begaduh, bisa hancur rumah Tok Aba!" pekik Gopal tertahan. Ia melompat ke belakang sofa dan meringkuk disana, bersiap-siap akan kemungkinan buruk yang akan terjadi selanjutnya.
Benar saja. Yaya dan Ying tampak mulai mengeluarkan kekuatan mereka masing-masing. Keduanya berdiri garang, melototi satu sama lain. Cahaya kuning dan merah jambu terlihat berpendar dari kedua jam kekuatan mereka. BoBoiBoy menelan ludah. Gawat, pikirnya. Kalau mereka berdua benar-benar bertarung disini, bisa-bisa rumah Tok Aba akan hancur lebur!
"BoBoiBoy, buatlah sesuatu!" terdengar bisikan tajam Fang dari belakang, membuat BoBoiBoy menoleh dan melongo hebat. Ternyata Fang sudah tidak ada di sampingnya dan ikut meringkuk di belakang sofa bersama Gopal, membiarkan teman Superhero elemental mereka berhadap-hadapan dengan kedua teman perempuan mereka yang dimana kondisi hati mereka sedang tidak baik. Sebegitu mengerikannya kah persaingan akademik di antara Yaya dan Ying hingga sanggup membuat Gopal dan Fang bertekuk lutut pada mereka?
"Weih, apasal kau pergi sorok-sorok dekat sini pulak?" bisik Gopal keras, kaget melihat Fang yang sudah berada di sebelahnya dan ikut meringkuk di belakang Sofa." Kau nak BoBoiBoy diterkam sorang-sorang ke?"
"Ish, senyap je lah!" Fang balas berbisik. Merasa curiga, Gopal menelaah wajah sahabatnya itu lekat. Terlihat wajah sang pengendali bayangan yang tampak pucat pasi. Rupanya Fang merasa ketakutan melihat Yaya dan Ying hendak mengamuk. Melihat itu, lantas Gopal menyikut pelan Fang, membuat anak itu kaget.
"Oi, apasal kau sikut aku ni?"
"Dey, Fang. Kau takut dekat Yaya dan Ying ke?"
"A- Apa?" Spontan wajah Fang yang awalnya pucat pasi berubah menjadi merah karena malu. "A- Aku tak takut lah! Mana ada aku takutkan diorang?"
"Elehh, aku tengok muka kau macam pucat sangat tadi. Cakap je kau takut dekat diorang, Kan? Kan? "
Detik berikutnya, wajah Gopal berubah menjadi horor begitu melihat Fang mulai membentuk jari-jemarinya menjadi wujud seekor burung Elang.
"Kau ni memang nak cari pasal dekat aku, eh?"
"Egh?! Tak, tak, tak! So- Sori, Fang… aku gurau je tadi."
Sementara itu, BoBoiBoy masih berpikir keras bagaimana caranya agar Yaya dan Ying tidak sampai berkelahi. Perempuan kalau sedang bertengkar ternyata parah juga, malah mungkin lebih sangar dari Laki-laki. Dilihatnya Yaya mendengus kesal dan mulai mengeluarkan lingkaran cahaya berwarna pink dari bawah kakinya.
"Berani kau nak lagi hebat dari aku?"
Ying tersenyum kecut. "Huh! Meh sini kalau kamu berani, Yaya!"
"APA KAU CAKAP?! HIAHH!"
"CIAAAATTT!"
Tak tanggung-tanggung keduanya langsung saling bergumul bak di arena gulat, membuat BoBoiBoy menjerit panik sementara Fang dan Gopal semakin meringkukkan tubuh mereka di belakang sofa, ngeri. BoBoiBoy menelan ludah. Sebenarnya dia tidak mau marah meledak-ledak terhadap kedua teman perempuannya. Tapi kalau mereka dibiarkan, Rumah ini tidak akan selamat. Dan tentunya, Tok Aba punya alasan untuk marah-marah terhadap mereka berlima, jadi tidak ada alasan untuk menjadi orang lembek disini.
"BERHENTI KORANG BERDUA!"
Bentakan BoBoiBoy tahu-tahu membuat Yaya dan Ying yang tampak sudah bersiap menerkam satu sama lain kembali menjadi mematung di tempat. Suasana menjadi hening seketika. BoBoiBoy menatap Yaya dan Ying bergiliran dengan wajah merah padam karena kesal.
"Boleh ke korang tak begaduh hanya kerana pasal Juara kelas tu?" desisnya ketus. "Kita disini nak jalankan kewajiban kita sebagai pelajar, belajar bersama-sama, bukan nak bergulat pulak! Kalau korang masih nak berlumba juga, buat je masa kita dah berada kat bilik ajar, bukan dekat rumah Atok! Faham?!"
Mendengar itu, Yaya menundukkan pandangannya karena malu. Ying menggigit bibir bawahnya tanda rasa bersalah. Pelan-pelan mereka menyadari bahwa perbuatan mereka ini dilakukan tidak pada tempatnya. Untung saja BoBoiBoy langsung menunjukkan sisi ganasnya. Kalau tidak, habis sudah rumah Tok Aba mereka hancurkan.
"Ma- Maaf, BoBoiBoy... kitorang lepas kawalan diri tadi," ungkap Yaya kikuk.
"Be- Betul hoo... tak ingat pon kalau kami ada dekat rumah Tok Aba," tambah Ying, melengkapi rasa bersalahnya dan juga rasa bersalah Yaya. Kedua gadis itu merasa aneh. Tidak biasanya mereka sampai merasa begitu kesal seperti tadi. Padahal diluar dunia akademik, mereka adalah sahabat baik. Persaingan mereka hanya berlaku di kelas. Entah mengapa mereka jadi tidak bisa mengontrol diri mereka sendiri untuk selalu menjadi yang terbaik di dunia akademi. Dan kini mereka yang notabene berada diluar arena persaingan merasa kelakuan mereka kali ini terlalu berlebihan.
Beberapa saat kemudian setelah suasana terasa mulai membaik, Yaya mengulurkan salah satu tangannya ke arah Ying, hendak berjabat tanda damai. Ying pun menyambut uluran tangan itu dengan segera. Keduanya bersalaman.
"Ying, sori. Aku tak bermaksud marah dekat kau tadi," aku Yaya penuh sesal. "Aku harap kita boleh berkawan balik macam semula."
Ying mengangguk kecil. "Um, tak pe Yaya. Saya pon nak minta maaf," balasnya lembut. "Nasib baik BoBoiBoy lerai kita tadi. Kalau tak, dah habis rumah Tok Aba kita buat bersepah."
Keduanya pun berangkulan selama beberapa detik. BoBoiBoy tersenyum simpul melihat kedua teman perempuannya akhirnya kembali baikan. Ia menghembuskan nafas lega dan menoleh ke belakang sofa dimana Gopal dan Fang meringkuk sekaligus mengintip kejadian yang berlaku. BoBoiBoy mengangguk pelan ke arah mereka berdua, sebuah isyarat kalau keadaan sudah terkendali.
Di sisi lain, Ochobot baru saja keluar dari dapur untuk membuatkan minuman coklat hangat bagi kelima sahabatnya yang tengah berjuang menulis review mereka. Belajar itu pasti menguras pikiran dan tenaga, jadi tidak ada salahnya kalau Ochobot hendak menjamu mereka dengan sedikit mewah. Ketika tiba di ruang tamu dimana BoBoiBoy dan kawan-kawannya berada, ia melihat Yaya dan Ying melepas rangkulan mereka, membuat Sang Sfera Kuasa generasi kesembilan itu terheran-heran. Apa yang baru saja terjadi di antara kedua gadis itu? Memang tadi ia mendengar suara-suara berisik seperti sahut-menyahut yang asalnya dari ruang tamu, namun Ochobot sibuk mengurusi dapur sehingga tidak terlalu memperhatikan hal itu. Merasa penasaran, Ochobot lalu bergegas terbang ke arah mereka dan menaruh nampan berisi lima gelas cokelat hangat dan setoples Bon-bon cokelat beraneka warna di atas meja ruang tamu sebelum akhirnya menghampiri teman-temannya.
"Kawan-kawan, apa benda yang berlaku tadi?" tanyanya, membuat semuanya serentak menoleh ke arahnya.
"Oh, takda pe Ochobot. Bukan benda teruk pon," balas BoBoiBoy ramah. "Hanya sahaja Yaya dan Ying macam nak begaduh tadi. Tapi sekarang keadaan dah boleh dikawal."
"Eh, ya ke? Bagus lah kalau macam tu. Nasib baik diorang tak jadi begaduh, kalau tak, dah habis rumah ni jadi besepah," desah Ochobot lega seraya mengangguk ke arah penganan yang ditaruhnya di atas meja. "Nah, korang berehat dan makan lah dulu. Mesti penat selepas keje reviu tu. Aku dah bagi Bon-bon dan buatkan korang Special Hot Koko."
"Wuaaahh!"
BoBoiBoy dan kawan-kawannya mau tidak mau jadi takjub juga saat melihat Penganan kecil yang disajikan Ochobot untuk mereka. Tanpa menunggu air liur mereka sempat menetes, kelima sahabat Superhero itu langsung menyerbu meja ruang tamu guna menyantap sajian yang menggiurkan itu.
"Eh, kejap." Gopal tiba-tiba berseru lalu memandang Ochobot sebelum memakan camilan yang disediakan. "Ochobot, ini free kan?"
"Hadoi- kau ni, mestilah free. Ini bukan dekat Kedai Tok Aba lah," balas Ochobot facepalm sembari mendarat di atas dudukan Sofa dan duduk disana sambil melihat teman-temannya menyantap camilan. "Tapi ingat, hutang kau dekat Tok Aba belum lunas lagi tau."
"Hehehe, sori... suatu saat nanti aku akan lunaskan semua hutang aku. Tengok je," ucap Gopal sambil memasukkan tiga buah Bon-bon ke dalam mulutnya sekaligus. Segera saja kedua matanya membelalak begitu mengulum Bon-bon itu di dalam mulutnya. Ternyata rasa Bon-bon itu enak sekali. Gopal nyaris tersedak karenanya, membuat teman-temannya heran.
"Eih? Apasal kau ni, Gopal?" Tanya BoBoiBoy khawatir. "Bon-bon tu keras ke ape?"
Gopal terbatuk-batuk, berusaha mengatur nafasnya dan kembali mengunyah Bon-bon di mulutnya perlahan. Setelah selesai menelan seluruh Bon-bon, anak gembul itu mengembuskan nafas lega dan cepat-cepat meminum Cokelat hangatnya untuk melonggarkan kerongkongannya. Ditatapnya teman-temannya bergantian.
"Uhm, tak da pe. Hanya sahaja Bon-bon ni macam sedap sangat. Hampir aku tersedak tadi " katanya lega lalu memandang Ochobot lamat. "Dey, Ochobot. Mana kau beli Bon-bon ni?"
Ochobot mengambil sebutir Bon-bon cokelat dari dalam toples dan mengamatinya. "Ohh, Bon-Bon ni? Mila yang bagi. Dia buat sorang-sorang tau. Khusus untuk aku, dia bagi free."
"Wuahh, hebat lah!" ujar Gopal dengan mata berbinar-binar. "Mila tak bagi tahu kalau dia boleh buat makanan sedap cam ni. Manis dan pahitnya pon pas dah. Tak kan lah macam Biskut Yaya yang tak sedap tu."
"APA?!" Yaya langsung mengintervensi begitu mendengar Gopal mengatai Biskuitnya tidak enak. "Kau cakap Biskut aku tak sedap?!"
"Egh! Tak, tak! Biskut kau sedap kot, ehehe," Gopal cepat-cepat membalas sambil senyam-senyum memalukan. Ying mengambil satu Bon-bon dari toples dan mengulumnya perlahan. Sama halnya dengan Gopal, gadis manipulator waktu itu langsung membelalakkan kedua mata sipitnya begitu mengunyah Bon-bon itu di dalam mulutnya.
"Wah! Betul lah apa yang lu cakap tadi, Gopal. Bon-bon ni sedap lah punya! Hihi," kikiknya senang. "Saya suka! Bila-bila masa nanti saya juga nak order dekat Mila pasal Bon-bon sedap dia ni."
"Tapi macam mana kita nak jumpa dia?" ujar Fang tiba-tiba. "Dia mesti dah sibuk selepas masuk jadi ahli pasukan dekat badan GIDO tu. Lagipun dia tak guna Jam Kuasa macam kita. Mesti susah kalau nak hubungi dia nanti."
BoBoiBoy merenung. "Mungkin dia boleh guna telefon kot. Bila-bila masa nanti kita boleh Call dia."
"Haeh, macam mana kau tahu kalau Mila punya namber telefon?" gumam Ochobot. "Kalaupun dia punya, kita tak tahu namber dia. Kau ni ada hal je."
"Ehehe, aku cuma tebak kot. Takde salah kan?"
" Hmm, ye lah tu." Ujar Ochobot sembari menggerutu. "Dah, dah, korang sambung makan dan minum korang je lah. Dah nak Maghrib tau. Nanti korang balik terlampau malam."
"Okey!"
Setelah selesai mengemil dan menulis review, Keempat sahabat Superhero BoBoiBoy pun mohon diri. BoBoiBoy dan Ochobot mengantar teman-teman mereka hingga pintu pagar rumah Tok Aba. Sesampai disana, mereka saling melambaikan tangan.
"Jumpa lagi, BoBoiBoy!"
"Jumpa lagi!"
Setelah mengucapkan salam perpisahan, Yaya melesat terbang menuju rumahnya yang terletak di samping kanan rumah Tok Aba. Ying mengaktifkan kekuatannya dan berlari secepat kilat menuju rumahnya agar Neneknya tidak sampai khawatir karena ia pulang kemalaman. Gopal dan Fang mengambil jalan pintas tercepat menuju rumah mereka masing-masing. Sepeninggal mereka, BoBoiBoy mengajak Ochobot masuk ke rumah dan bergegas mengambil Air Wudhu untuk melaksanakan Sholat Maghrib. Setelah memakai baju koko dan sarung, ia mematut dirinya di depan cermin. Ochobot terkekeh juga melihat itu.
"Haish- kau ni, dah macam selebriti dah, tengok-tengok penampilan kau dekat cermin tu," ujarnya geli. "Ingatkan kau nak ikut interviu ke apa?"
BoBoiBoy memasang kopiahnya sembari tersenyum hangat. "Ahaha, kau mesti lah tahu kalau kita kena pakai baju terbaik kita kalau nak pergi beribadah," katanya lembut. "Oh, iya. Ochobot, Ada benda aku nak bagi tahu kau."
"Ei?" Ochobot memiringkan kepala bulatnya tanda bingung. "Apa benda yang nak kau tanyakan dekat aku?"
"Hmm, mungkin selepas balik dari surau baru aku bagi tahu." BoBoiBoy membalas cepat-cepat sambil melirik jam dinding kamarnya, tersentak. "Alamak! Dah jam tujuh. Aku tak nak lamban tiba kat surau. Okey, Ochobot! Aku pergi Sholat Maghrib dulu!"
Sang Superhero Elemental langsung melesat menuju tangga dan segera lari keluar rumah menuju Masjid. meninggalkan Ochobot yang terbengong-bengong di kamar.
"Apa benda yang nak BoBoiBoy bagi tahu dekat aku?" gumamnya sembari merapikan selimut BoBoiBoy yang terlihat berantakan. "Pelik. Moga-moga soalan dia tak terlampau sulit."
Setelah selesai merapikan selimut, Ia lalu terbang menuju lemari buku guna merapikan buku-buku pelajaran BoBoiBoy yang tampak berserakan. Namun ketika ia melewati cermin, kedua mata biru lautnya menangkap sebuah sosok yang terpantul di kaca cermin itu.
Sosok itu berlutut di ambang jendela kamar BoBoiBoy. Tubuh dan pakaiannya tampak seperti modifikasi antara suku cadang dan kulit asli manusia, bisa dibilang semacam Cyborg. Rambut coklat keemasannya yang panjang melambai sedikit tertiup angin malam. Sayang wajahnya tidak terlalu tampak. Mulutnya terlihat mengucapkan sesuatu.
'Mak senang kau boleh hidup balik, Ochoboy.'
Ehh?
Sontak Ochoboy membalik tubuh bolanya menghadap ke arah jendela dimana sosok itu berlutut. Akan tetapi ia terlambat. Sosok itu sudah hilang dari sana.
"Si- Siapa tu?" ujar Ochoboy gugup. "Bagi tengok diri kau!"
Tidak ada jawaban.
"Pelik... apasal aku macam tengok seseorang kat tingkap tadi?" gumamnya pada diri sendiri sembari terbang menuju ambang jendela dan memeriksa keadaan diluar. "Atau mungkin aku salah tengok ke?"
Sekitar dua menit lebih dia memeriksa daerah di sekitar jendela. Hasilnya nihil. Tidak ada siapa-siapa disitu. Ochoboy akhirnya menyimpulkan bahwa apa yang dilihat dan didengarnya barusan adalah kesalahpahaman.
"Mungkin halusinasi aku je," katanya lega. "Bertenang, Ochobot. Kau dah aman sekarang. Jangan buat BoBoiBoy risau lagi, okey?"
Tanpa diketahui, sosok yang nongol di ambang jendela BoBoiBoy terlihat berlutut di atas atap rumah Tok Aba. Wajahnya yang cantik tampak lesu. Kedua tangan robotiknya yang terpasang semacam Gauntlet yang terbuat dari besi mengepal erat. Ia menelan ludah.
"Mungkin ini bukan masanya aku buat bagi tahu dia."
Salah satu lorong sempit di Pulau Rintis, 29 Juli 2014 pukul 19:16
Gopal dan Fang pulang ke rumah mereka melewati salah satu lorong sempit di kompleks itu. Angin malam yang dingin berhembus, membuat bulu kuduk Gopal merinding. Mana lagi lorong tempat dimana mereka berjalan ini cukup gelap, ditambah nyala lampu jalan yang mati dan hidup bergiliran. Anak berdarah India itu tidak tahan lagi- dan tahu-tahu merangkul Fang kuat-kuat dari belakang karena ketakutan. Tentu saja tindakannya itu membuat sang manipulator bayangan berteriak kaget setengah mati.
"Woi! Apasal kau peluk aku ni?!" tukas Fang histeris seraya berusaha melepas kedua tangan besar Gopal yang seolah-oleh hendak mencekik lehernya. Gopal melolong pelan hingga akhirnya ia tersedu-sedu disitu.
"Huhuhuu... kau pulak, apasal ajak aku lewat lorong ni?" ujarnya memelas. "Lorong ni gelap sangat! Kalau ada hantu nanti macam mana?"
"Ish, kau ni! Penakut betul lah! Lepaskan aku!" Fang masih berusaha melepas cengekraman Gopal dari lehernya. "Lorong ni je yang tercepat bawa kita ke rumah-rumah kita, jadi kau kena lah faham sikit!"
"Ta- Tapi, Fang… aku takut…"
"Dah tu, kau nak aku tinggal kat lorong ni? Kita dah tiba kat pertengahan tau. Sikit je lagi, kita dah tiba kat rumah aku. Lepas tu, sekitar 12 meter lagi, baru lah kau tiba kat rumah kau. Tak boleh ke kau tahan diri kau sekejap lagi?"
"Uhh , okey. Aku akan cuba tahan. Tapi kau kena temankan aku."
"Huh, terserah kau je lah," dengus Fang sambil menggerutu. "Dan lepaskan tangan kau dari leher aku! Sesak nafas aku."
"Hehehe- sori, Fang." Gopal nyengir hambar sambil melepas rangkulannya dari leher Fang dan buru-buru menyusul. Tak lama kemudian, mereka sudah tiba di depan rumah besar bergaya Victoria dimana Fang bertempat tinggal. Sebelum masuk ke pagar rumah, Kedua anak laki-laki itu mendongak ke atas atap rumah besar itu. Disana terlihat sebuah Pesawat Angkasa yang melayang-layang. Fang tahu pesawat angkasa itu, dan bergegas masuk ke balik pagar, meninggalkan Gopal disitu. Lantas Gopal menjerit dibuatnya.
"D- Dey, Fang! Apahal kau tinggal aku kat sini? Tunggu aku!"
Setelah berjuang masuk melewati pagar besi menuju pekarangan tidak terawat rumah itu, Gopal bergegas mengekori Fang menuju pintu masuk rumah besar itu. Begitu keduanya sampai, mereka mendapati seseorang yang tampak bersandar di dinding telundakan rumah itu. Sinar bulan menerpa wajah orang itu, membuat Gopal dan Fang terperangah. Refleks Gopal menggumamkan nama sosok itu setelah wajah sosok itu terlihat jelas.
"Kapten Kaizo?"
Benar saja. Orang yang bersandar di dinding telundakan itu adalah Kaizo. Pria muda itu menarik punggungnya dari dinding telundakan lalu berjalan menuju tempat dimana Fang dan Gopal berada.
"Ka- Kapten? Apasal Kapten ada kat sini?" tanya Fang segera, heran dengan penampakan Abangnya yang tiba-tiba ada disitu. Kaizo mendesah panjang. Rambut ungu gelapnya bergoyang perlahan terkena hembusan angin malam seiring dengan mulutnya yang membuka, hendak mengatakan sesuatu.
"Pang, baik kau ikut aku sekarang."
"Eh?"
Fang melongo, begitu juga dengan Gopal. Keduanya terlihat berpikir-pikir: Kenapa Kaizo tiba-tiba menyuruh Fang untuk ikut dengannya? Apa jangan-jangan mereka hendak pulang kampung?
"Dey Kapten Kaizo, ini belum masa cuti sekolah lah. Apasal Kapten nak bawak Fang sekali?" ujar Gopal segera. Fang setuju dengan kata-kata sahabatnya itu. Ditatapnya Abangnya lekat.
"Ha'ah. Betul apa Gopal cakap tu," ujarnya menambahkan. "Apasal Kapten nak aku ikut? Lagipun esok aku kena kumpul tugas reviu aku. Kalau tak penting sangat, tak payah lah Kapten suruh aku ikut jugak."
Kaizo mendesah perlahan. "Pang, ini perkara penting. Aku nak kau ikut dengan aku," ujarnya sembari berkacak pinggang dengan satu tangan. "Pasal tugas reviu tu, kau titip kat Gopal sahaja buat dikumpul esok. Nanti aku akan hubungi Kepala Sekolah kau buat bagi kau izin hingga dua hari ke depan. Ini benda penting, Pang. Kalau tak penting, tak kan lah aku suruh kau ikut pulak."
"Uhh, baiklah," ujar Fang pasrah. Disodorkannya kertas-kertas review-nya kepada Gopal seraya berucap. "Gop, aku titip tugas reviu aku tuk dikumpul esok kat Cikgu Papa. Terangkan je sebab kenapa aku tak masuk belajar. Mesti beliau akan faham."
Gopal menerima kertas-kertas review milik Fang seraya menyeringai. "Okey, Fang. Aku akan pastikan kalau reviu kau ni selamat sentosa hingga ke tangan Cikgu Papa," tukasnya sumringah. "Tapi boleh tak aku salin reviu kau sebahagian? Aku punya reviu hanya dua lembar tau."
"Mana boleh! Dah penat aku buat reviu tu, dan kau nak salin jugak? Awas sahaja kalau kau berani salin keje sekolah aku!" pekik Fang marah, membuat Gopal menciutkan nyalinya untuk menyontek tugas review Fang guna disalin ke tugas review Gopal sendiri.
"Ehehe, aku gurau je tadi."
"Sudah!" Kaizo berseru, menyita perhatian kedua anak itu. "Jangan buang masa lagi. Sekarang mari kita pegi."
"Ehh, kejap," pinta Gopal tiba-tiba. "Kapten Kaizo, boleh tak Kapten hantarkan aku kat rumah aku sekali? Tak berani aku pulang lewat lorong ni sorang-sorang."
Fang mendelik ke arahnya." Oi, kau ni! Ingatkan boleh suruh-suruh Kapten sesuka hati kau?" desisnya kesal. "Aku akan-"
"Pang, tak payah kamu larang kawan kamu ikut dengan kita sekejap. Lagipun kita cuma nak hantar dia ke rumah dia," ujar Kaizo segera sambil menarik tangan Gopal dan Fang bersamaan dan masuk ke dalam Pesawat Angkasa mereka. "Lagipun bukan masalah kalau dia ikut menumpang dengan kita sekali."
"Hum, baik Kapten," desis Fang bersungut-sungut. Ia melirik ke arah Gopal yang tampak meledeknya dari belakang. Fang meringis kesal. Dikeluarkannya aura-aura bayangannya, hendak melabrak sahabatnya itu. Namun dilihatnya Kaizo yang duduk di kursi kendali dan memberinya tatapan tajam, membuat Fang terpaksa mengurungkan niatnya untuk menyerang sang manipulator Molekul.
Seusai mengantar Gopal hingga sampai ke rumahnya, Kaizo lalu membawa adiknya dan Pesawat Angkasa mereka menuju Angkasa Lepas. Fang duduk di kursi di samping kursi utama ruang kendali dimana Kaizo duduk sembari mengendalikan Pesawat Angkasa. Anak itu terlihat kebingungan. Bingung karena Sang Abang yang tiba-tiba saja menyuruh Fang pergi dengannya dikala Fang tengah menjalani Semester Genap di Sekolah Menengah Kebangsaan Pulau Rintis. Ditatapnya punggung Kaizo dengan mata nanar.
"Kapten- maksud aku, Abang- Apa sebab Abang bawak Adik ni?" tanyanya guna menghilangkan rasa penasarannya akan tindakan Kaizo. "Adik dah nak kumpul reviu yang Cikgu Papa suruh keje pasal Petualangan adik dan Kawan-kawan Adik tiga hari lepas. Tiba-tiba Abang suruh Adik untuk Cuti sekolah sehingga tiga hari dan suruh adik tuk titip tugas reviu adik kat Gopal. Apa benda sebenarnya yang berlaku?"
Ditanya begitu, Kaizo tidak bereaksi. Sorot matanya kaku. Merasa dipermainkan oleh Kakaknya, Fang lalu berseru keras-keras.
"ABANG! JAWAB SOALAN ADIK!"
"SENYAP, PANG! Abang nak kau jadi bahagian rasmi daripada TAPOPS, faham?!" Kaizo balas berseru tanpa menoleh sedikitpun pada adiknya, sukses membuat Fang melongo hebat.
"A- Apa?!" ujar Fang seraya melotot. "Adik kena gabung dekat TAPOPS sebagai member rasmi!?Abang dah gila ke? Diorang punya program tu keras sangat! Dah macam badan Militer punya! Adik tak nak bergabung kat situ lah."
"Sudah! Dengar sahaja apa cakap Abang," sergah Kaizo segera. "Dah terbukti kalau pribadi kau tu Lembek semasa Abang tengok kau dibelasah sama Puan Rosa hari tu. Abang nak kau bangun pribadi baja, macam Abang punya. Selepas kau dah terbiasa sebagai member rasmi TAPOPS, maka Kawan-kawan Bumi kau pon mungkin boleh begabung juga suatu masa nanti."
Mendengar kalimat tegas Kaizo itu membuat Fang menelan ludah. Memang benar apa yang dikatakan Kaizo. Dirinya memang masih labil seperti bayi. Dan tentunya Kaizo ingin dia meninggalkan kelabilannya itu. Namun Fang tahu kalau TAPOPS itu bukanlah sebuah badan perlindungan Galaksi biasa. Tugas mereka terkhususkan untuk mencari dan melindungi Sfera-Sfera Kuasa yang tengah diburu oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, dan tentunya suasana di dalamnya pasti lebih keras ketimbang dia menjadi Superhero di Bumi. Anak berkacamata itu lalu mendesah panjang sembari bersandar lemas di kursinya, membayangkan latihan-latihan sangar yang akan diberikan TAPOPS untuknya.
"Baik, Kapten..."
Tak jauh dari Pesawat Angkasa Kaizo tampak sebuah Pesawat Angkasa yang berukuran lebih besar mengintai dari balik sebuah Asteroid. Bentuknya lebih lebar ketimbang Pesawat Angkasa Kaizo yang cenderung ramping. Pesawat Angkasa itu adalah Pesawat Angkasa milik SUPERNOVA yang dipimpin oleh Komandan Spark. Sang Komandan melihat Pesawat Angkasa Kaizo dari balik jendela depan ruang kendali seraya membisu. Dipandangnya Pesawat Angkasa berukuran ramping itu dengan sorot mata kaku, seakan hendak menelan benda itu bulat-bulat. Detik berikutnya, Lamunannya buyar begitu salah seorang petugas pesawat berbicara padanya.
"Komander Spark, apa kata kalau kita kejar Kapten Kaizo sekarang?"
Mendengar itu, Komandan Spark segera menggelengkan kepalanya. "Jangan," katanya cepat-cepat. "Jangan kejar dia. Memang pon Kaizo dan Fang ialah pembelot, tapi nampaknya untuk saat ni kita tak bisa dekati diorang dahulu. Aku tahu kalau Kaizo dah ajak adik dia buat ikut serta dengan TAPOPS, dan itu patut disayangkan. Diorang belum patut untuk berkeliaran dekat Alam Semesta ni. Tapi diorang masih sahaja degil. Hmp, bertuah punya kepala batu. Parahnya, kita belum jumpa masa tepat untuk paksa diorang balik dan-"
"Apa maksud daripada cakap Anda tu, Komander?"
Sebuah suara lembut namun tegas tahu-tahu memotong kalimat Komandan Spark. Pria itu langsung menoleh ke sumber suara dan mendapati Liena yang sudah berdiri tak jauh dari belakang punggungnya. Wanita muda itu pasang tampang keras, seakan hendak mengadili pria bertudung yang berdiri di hadapannya itu.
"Tuan Puteri, Kau tak kan faham," ujar Komandan Spark segera. "Kita dah jadi pihak ketiga dalam Perang dingin kat Galaxy ni, dan Puteri Liena mesti dah tahu benda tu. Lagipun kita semua mesti dah tahu kalau Kaizo tu dah berbuat seenak hati dia dan cuma guna alasan keluarga dia yang dibelasah. Dia dah jadi pemberontak legenda dan begabung kat badan Galaxy lain tanpa sepengetahuan kita dan-"
"Cukup, Komander," potong Liena seraya mengangkat salah satu tangannya ke udara. "Aku tahu semua benda tu. Aku tahu kalau Kaizo dan Fang sengaja pegi tinggalkan Planet kita. Tapi tak boleh ke kita tengok sejenak alasan mereka? Diorang hanya mahu lindungi Galaxy sebab Ibubapa mereka kena belasah Tengkotak. Diorang pon dah mulakan operasi penyelamatan Power Sphera yang diincar orang ramai secara ilegal. Diorang lah yang aktif lindungi Galaxy ni. Sedangkan kita… kita hanya duduk kat Planet kita macam orang pasif dan berfikiran picik. Kita hanya fikirkan diri kita dan Planet kita tanpa fikirkan nasib Planet dan makhluk-makhluk Galaxy yang lain. Kita semua ni egois! Kalau sahaja aku tak kehilangan Abang Romy, mungkin aku dah ikut dengan diorang untuk aktif lindungi Galaxy. Kaizo dan Fang lah yang obati rasa kehilangan aku akan Abang aku."
Begitu ia selesai berbicara, sontak semua prajurit SUPERNOVA plus Komandan Spark membisu. Suasana menjadi hening seketika. Hanya suara halus dari mesin pesawat angkasa yang terdengar. Tiga menit kemudian, Komandan Spark mendengus keras sembari memalingkan wajah dari Liena dan para prajuritnya. Ia kemudian berjalan melewati wanita muda itu tanpa mengucapkan satu kata pun. Sejenak ia beradu pandang dengan Sang Putri sebelum akhirnya keluar dari ruang kendali itu, membuat Liena memberinya tatapan iba.
"Komander Spark, kenapa Anda boleh berfikiran picik macam tu?"
Ia lalu beralih ke para prajurit SUPERNOVA lainnya dan berucap. "Maafkan aku sebab ketidaknyamanan tadi. Tapi nampaknya kalian kena bagi Komander Spark masa buat sekejap. Saya rasa dia kena tenangkan diri dia dahulu. Maka dari itu, biar saya yang gantikan dia untuk pimpin Kapal Angkasa ni. Kita akhiri Patroli kita untuk hari ini dan segera balik ke Planet kita, faham semua?"
"Faham, Tuan Puteri."
Tak lama kemudian, Pesawat Angkasa SUPERNOVA pun melaju dengan kecepatan sedang menuju Planet xxxx. Liena duduk di kursi komando utama ruang kendali pesawat dimana sebelumnya Komandan Spark berada. Wajahnya terlihat pucat. Mungkin karena hari ini dia terlalu banyak mengeluarkan dan mentransfer kekuatan Planet Blessing-nya dari Galaksi Bima Sakti ke Planet xxxx untuk melingkupi dimensi beta Planet itu dari bahaya yang mengancam, mengingat bahwa hanya lapisan dari kekuatan Planet Blessing itulah yang berfungsi sebagai perisai. Namun Liena tetap berusaha siuman. Dia sudah beristirahat tadi, dan kini ada kewajiban yang harus dilaksanakan olehnya.
Ketika ia tengah fokus menuntun Pesawat Angkasa, sekonyong-konyong seorang prajurit tergopoh-gopoh menghampiri Liena seraya membawa sebuah tampilan hologram di tangannya.
"Puteri Liena, maaf mengganggu. Saya mendapat sebijik maklumat penting yang dihantar oleh seseorang untuk kita. Nampaknya Tuan Puteri pon kena tahu maklumat ni."
Liena terhenyak. "Huh? Maklumat penting?" katanya heran. "Siapa kah gerangan yang bagi kau maklumat tu?"
"Maaf, Tuan Puteri. Dia tak bagi tahu nama asli dia. Dia hanya bagi nama kode dia: Logam Mulia."
"Logam Mulia?" ujar Liena segera sambil mengambil layar hologram itu dari tangan si prajurit. "Macam pernah dengar nama kode tu. Dia punya nama kode dah macam Kakak Ipar aku punya. Hanya sahaja Kakak Ipar aku guna nama kode 'Mawar Liar'. Oh, dan bukannya Logam Mulia tu ialah ahli pasukan daripada Supreme Diamond kat ONION ke?"
"Betul, Tuan Puteri. Tapi entah kenapa dia bagi kita maklumat ni. Mohon Puteri Liena cuba tengok apa isi daripada maklumat tu. Bila-bila masa berguna untuk kita juga nantinya."
"Baiklah."
Perlahan jari-jemari halus Liena mengusap layar hologram itu. Setelah ia mengusapnya, munculah sebuah deretan daftar agenda berisi berbagai rencana darinya. Rupanya itu adalah duplikat dari agenda ONION untuk tiga tahun ke depan, membuat Liena terbelalak saking kagetnya.
"I- Ini..." gumamnya tidak percaya. "Ini rancangan agenda daripada ONION buat satu hadapan! Syukurlah, dengan begini kita boleh tahu gerak-gerik diorang dalam sekejap. Baik betul lah Logam mulia tu."
"Err, tapi Tuan Puteri, kita belum boleh rasa pasti kalau ini ialah agenda sebenar ONION hingga satu tahun hadapan," kata si prajurit sangsi. "Kita jangan senang-senang nak percayakan maklumat agenda ni. Kita tak tahu kalau Logam Mulia tu nak tipu kita ke tak."
"Ah, betul juga." Liena langsung tersipu sendiri begitu menyadari kepolosannya tadi. "Kau betul. Kita tak tahu pasti apekah Logam Mulia tu ada di pihak kita atau tidak. Tapi entah kenapa aku macam rasa kalau aku kena percayakan dia, walaupun berhubung dia dari pihak ONION. Kejap, akan aku hubungi kawan Bumi aku tuk bantu aku pecahkan masalah ni."
Digesernya hologram itu dari hadapannya dan menggantinya dengan hologram lain. Beberapa menit kemudian, hologram itu menampakkan sesosok pria paruh baya yang berumur sekitar tiga puluh tahun yang tampak terkantuk-kantuk di atas meja kamarnya. Tanpa menunggu lama, Liena langsung berseru ke layar hologram yang menampakkan lelaki yang terkantuk-kantuk itu.
"Halo kawanku, Ganesha Khan! Lama tak jumpa!"
"GAAAAAAHHHHHHH!"
Pria itu- Ganesha Khan yang kerap disapa Khan dan merupakan salah satu rekan kerja Ayah BoBoiBoy di Kedutaan- terjungkal dari kursi kerjanya dan jatuh ke lantai karena kaget melihat wajah Liena yang tiba-tiba muncul di layar Laptopnya. Khan berusaha berdiri dari lantai sambil bersungut-sungut, cemberut.
"Ish, kau ni. Mentang-mentang dah menjabat sebagai Puteri, seenak hati nak kacau tido aku," gerutunya.
"Hehehe, maaf. Tak sangka kau jadi marah macam ni," ujar Liena geli. "Oh, ya. Dah lama aku tak bagi kau perihal maklumat Alam Semesta yang penting. Mungkin maklumat kali ini akan buat kau tertarik."
"Hee? Maklumat apa tu?" Khan langsung melupakan rasa kesalnya dan menggantinya menjadi rasa penasaran. "Kalau itu maklumat penting, ada baiknya aku tengok."
"Okey, akan aku hantarkan file maklumat tu ke Laptop kau sekarang. Baca elok-elok, ye."
Dengan cekatan, Liena mengirim file berisi Agenda ONION untuk tiga tahun ke depan itu ke Laptop Khan. Lantas Khan langsung membuka file itu dan menelaah isinya dengan seksama. Semakin lama matanya semakin membelalak seiring ia membaca keseluruhan dari isi file itu. Ditutupnya file itu dan kembali ke percakapan Video Call di Laptopnya dengan Liena.
"Liena, Ini maklumat daripada Agenda ONION buat satu tahun hadapan!" pekiknya tertahan. "Tak sangka maklumat ni ada dekat kau. Darimana kau dapatkan maklumat langka macam ni? Kau lepas susup Markas diorang ke apa?"
Liena tertawa kecil. "Tak. Aku belum pernah susup kat dalam Markas diorang," ungkapnya jujur. "Ini mungkin terdengar gila. Tapi ada baiknya kau percaya dengan cakap aku ni. Salah sorang daripada ahli pasukan Supreme Diamond yang bagi maklumat ni kat aku. Awal-awal aku pon tak percaya, tapi nampaknya kau pon kena tahu akan perkara ni. Aku ragu kalau dia ada kat pihak ONION atau tidak."
Khan mengerutkan kening. "Siapa member daripada Supreme Diamond yang kau maksudkan tu?"
"Hmm, mengikut data dari salah sorang prajurit aku, ahli pasukan daripada Supreme Diamond tu tak sebut nama sebenar dia. Tapi sebagai gantinya, dia bagi kitorang nama kode dia."
"Apa nama kode dia?"
"Logam Mulia."
Mendengar nama itu cukup membuat Khan terkejut. "Nama kode dia 'Logam Mulia'?" tanyanya segera, seakan hendak memastikan kebenaran info itu. "Dia lagi. Tak sangka dia dah jadi Ejen ganda di antara pihak kita dan pihak ONION. Ini mesti rumit."
"Eih? Ejen ganda? Apa maksud kau ni, Khan?" kali ini Liena yang mengerutkan kening tanda bingung. "Kau pernah berjumpa dengan dia ke?"
Khan mengangguk. "Aku pernah berjumpa dengan dia sekali," katanya gugup. "Kalau tak silap, dia ialah wali kepada generasi sfera kuasa kesembilan. Ah iya, aku hampir lupa. Kau dah tahu ke perihal Tuan Haryan dah diganti sebagai Ketua ONION? Aku tak tahu pasti kenapa dia tetiba digantikan. Aku belum dapat maklumat lebih perihal tu, mana lagi Ayah BoBoiBoy tak nak masuk campur perkara ni. Aku rasa dia terlampau trauma dengan kejahatan Haryan. Harap-harap dia boleh pulih balik."
Liena merenung. "Mungkin apa yang kau cakap tu ada betulnya juga, Khan," ujarnya seraya berkeringat dingin. "Oh, dan satu lagi. Kau rasa ke kalau Maklumat agenda ONION buat satu tahun hadapan ni betul seratus peratus? Maksud aku, ini bukan sebuah media buat tipu kita, kan?"
"Entahlah, Liena. Aku pon tak pasti," kata Khan sembari kembali menelaah file agenda yang dimaksud. "Aku tengok semua agenda kat sini ialah agenda kecik je, macam penyusupan, pembunuhan dan perkara jenayah dasar lainnya. Takde agenda besar yang tercantum kat sini. Pelik betul, padapun Tuan Haryan macam punya Agenda Proyek besar yang bersifat Genosidal. Dan Tuan Haryan bagi nama proyek tu guna nama pelik."
"Eh? Kejap, nama pelik kau kata?" sanggah Liena tiba-tiba. "Aku dapatkan rumor daripada Komander Spark kalau ONION tengah buat suatu rancangan yang sifatnya Genosidal. Nama kode proyek tu kalau tak salah ialah 'Sapu Katharsis'. Pelik memang, tapi aku macam rasa kalau proyek tu bukan suatu rumor belaka."
Begitu mendengar nama 'Sapu Katharsis', sontak Khan terlonjak kaget. "Itu dia!" katanya cepat-cepat. "Liena, nampaknya mulai sekarang kita kena jaga-jaga. Mesti ada sebab kenapa proyek dengan nama kode 'Sapu Katharsis' tak dicantumkan disini. Dengan kata lain, 'Sapu Katharsis' bukan lah suatu agenda jenayah biasa, walaupun nama yang dibagi kat dia macam tak macho sangat. Dan kerana itu lah aku kena bagi Ayah BoBoiBoy perihal maklumat ni, walaupun ada kemungkinan dia akan trauma balik. Sebab kau tahu sendiri, Liena... Ini bukan perkara senang."
Markas TAPOPS, 29 Juli 2014 pukul 19:10
"AAAAAAAAAHHHHH!"
Sayup-sayup ia mendengar suara jeritan itu. Sai perlahan membuka kelopak matanya yang terasa begitu berat. Kepalanya terasa pusing sekali. Hal terakhir yang diingatnya sebelum ia tidak sadarkan diri adalah suara Rosaline yang masih saja meneror benaknya saat ia dan Shielda baru saja selesai latihan dan hendak pergi ke Kantin untuk makan siang. Sai mendecih muram. Sampai kapan dia mau dihantui seperti ini? Tampaknya wanita itu memang betul-betul tertarik pada dirinya. Tapi kenapa?
Namun tampaknya Sai sedang tidak berminat untuk mengurus hal itu untuk saat ini. Pemuda itu berbaring kaku di atas kasurnya. Mata hijaunya memandang kaku ke langit-langit kamar. Dalam hati ia berpikir: Bukankah kini ia mulai siuman setelah sebelumnya mendengar sebuah suara jeritan? Sai tahu betul siapa pemilik suara itu. Siapa lagi kalau bukan adik Kembarnya: Shielda? Pemuda itu merasa bingung. Kenapa Shielda menjerit seperti itu? Jangan-jangan ada sesuatu yang tidak beres menimpa saudarinya.
Dipaksakan tubuhnya yang lemah lunglai untuk bangkit dari ranjangnya walaupun secara perlahan-lahan. Setelah berhasil mencapai posisi setengah duduk setengah berbaring, Sai melayangkan pandangannya ke seluruh penjuru kamarnya. Awalnya tidak ada yang aneh, namun tampaknya ia keliru begitu melihat sebuah adegan janggal yang saat itu tengah berlangsung di dekat pintu kamarnya.
Seorang Pria berambut biru tua ikal sebahu yang tampaknya berusia kurang lebih 40 tahun dan berpakaian serba gelap terlihat mencekik Shielda di udara. Tentu saja Sai langsung kaget bukan kepalang begitu melihat Saudarinya hendak disakiti oleh orang yang tidak dikenalnya sama sekali. Dengan naluri seorang Kakak, Sai langsung menyambar Topi lebarnya yang terletak di atas meja tidurnya dan tanpa pikir panjang melempar topi itu sekuat tenaga. Benda bundar itu meluncur cepat ke arah Pria yang mencekik Shielda dan tanpa ampun langsung menabrak pria itu hingga terlempar dari Shielda dan menghempasnya ke dinding kamar Sai, membuatnya bergetar hebat. Shielda yang menyaksikan kejadian itu kemudian terbatuk-batuk sejenak dan sebisa mungkin menjauhi pria itu. Begitu ia melihat topi bundar Sai yang tertancap di dinding, Shielda menoleh ke belakang dan mendapati Sai yang ambruk ke tepi ranjang karena baru saja melakukan serangan dalam kondisi tubuh yang tidak fit. Melihat kondisi lemah saudaranya, Shielda buru-buru menghampiri Sai dan memapahnya naik kembali ke ranjangnya. Ditatapnya saudaranya lekat. Wajah Sai tampak pucat pasi.
"Sai, kau tak pe? Apasal kau langsung serang Azurian masa kondisi badan kau belum stabil lagi?"
Sai memalingkan wajah ke arahnya. Ekspresinya terlihat kaku. Jelas dia merasa begitu khawatir saat melihat adik kembarnya hampir saja kehabisan nafas akibat tercekik. Kalau saja dia tidak siuman setelah mendengar jeritan Shielda, maka gadis itu pasti sudah berada diantara hidup dan mati.
"Ma- Maaf, Shielda. Aku tak sudi kalau kau dibelasah di hadapan aku," ucapnya dengan suara bergetar. "Siapa lelaki tu? Apasal dia ada kat dalam bilik rehat aku?"
Sebelum Shielda sempat membuka mulut untuk menjawab pertanyaan dari saudara kembarnya, Sekonyong-konyong lelaki berambut biru tua ikal yang tadi mencekiknya terkekeh pelan, menyita perhatian kedua anak kembar yang berada tak jauh darinya itu.
"Ow, Ow, nampaknya si Abang dah siuman," ucapnya sinis sembari menarik tubuhnya yang agak lunglai dari dinding kamar yang terlihat retak pasca terkena serangan telak dari Topi bundar milik Sai tadi. "Maafkan aku sebab dah ganggu waktu tido kau. Untung sahaja kau serang aku dalam masa yang tepat. Kalau tak, tak tahu lah apa yang dah kene dengan adik kau tu, fufufu… Syabas, anak muda. Syabas atas keberhasilan ananda!"
"Diam kau!" desis Sai kesal. "Tak payah kau nak melawak pulak. Jawab sahaja soalan aku. Apahal kau buat kat bilik rehat aku ni? Sampai nak belasah Shielda pulak. Siapa kau ni sebenarnya?"
Lelaki itu tersenyum simpul. "Ohh, kau nak tahu sangat ke apa sebab aku masuk-masuk kat bilik rehat kau ni?" katanya sambil mengambil Topi Fedoranya yang ada di lantai dan menaruhnya di atas kepalanya dengan gaya resmi. "Hmm, apa kata kalau korang lawan aku dahulu, aku bagi korang maklumat kemudian, hm?"
Shielda mendengus. "Tch, kau ni memang nak sindir kitorang ke apa?" sanggahnya kesal. "Apa maksud daripada tindakan kau tu, Pakcik Azurian? Apa benda yang nak kau bagi tahu sebenarnya? "
Lelaki yang bernama Azurian itu tertawa pelan. "Ahaha, maafkan aku sebab dah cekik kau tadi. Dah lama aku tak cekik budak kecik tau," katanya dengan nada riang. "Tapi tenang. Aku bukan lah tipe yang macam dah ketagihan sangat, macam si Rosaline buat. Dengan kata lain aku nak cuba kawal diri aku. Jadi jangan risau, aku hanya akan buat benda tu kalau aku dah macam idam sangat."
Mendengar itu. Spontan Sai dan Shielda tersentak sedikit. Pria ini pengidap kelainan kah? Adalah sebuah kelainan jika kita senang dan ketagihan mencekik anak-anak. Tapi anehnya, pria itu seakan tidak terlalu memusingkan hal aneh yang diumbar-umbarnya ini. Dunia seakan telah menjadi terbalik, dimana Kejahatan dianggap sebagai hal biasa dan Kebaikan adalah hal yang langka. Entah sampai kapan mereka akan hidup di dunia seperti ini.
Tapi tunggu dulu. Secara tidak sengaja Azurian menyebut-nyebut nama Rosaline- yang notabene menimbulkan rasa penasaran pada kedua anak itu. Pasalnya mereka secara tidak langsung sudah mengetahui siapa nama wanita yang seringkali menghantui dan membuat Sai pingsan selama beberapa hari ini. Aneh juga. Dan kini mereka berhadapan dengan orang yang tiba-tiba menyinggung permasalahan itu.
"Tunggu kejap," gumam Shielda segera. "Tadi Pakcik sebut nama Rosaline. Pakcik tahu ke siapa dia?"
Sai yang mendengar kalimat saudarinya itu ikut terhenyak. Bukankah dia belum pernah memberitahu nama wanita yang sering singgah tiba-tiba di benaknya dan membuatnya sering pingsan belakangan ini? Merasa penasaran, Ia pun menyikut gadis itu dan berbisik.
"Shielda, macam mana kau tahu nama wanita tu?"
Shielda menoleh ke arahnya. "Aku tengok kau mengigaukan nama dia semasa kau tido tadi," Jelasnya. "Nampaknya dia pon ada hubungannya dengan ONION. Kita kena jaga-jaga. Kita tak tahu dia sekuat apa."
Setelah ia mengatakan itu, tiba-tiba saja Azurian tertawa keras-keras karena geli. Kelakukannya itu tentu saja membuat Sai dan Shielda melongo. Ada apa dengan perihal wanita yang bernama Rosaline ini hingga Azurian merasa geli setengah mati seperti itu?
"Hahahaha! Astaga, budak-budak ni, korang memang lah kena disuap banyak-banyak maklumat! Hahahaha!" tawanya geli hingga perutnya mulai terasa sakit. "Pasal keberadaan Rosaline pon korang tak tahu? Apa kata Dunia? Hahahahaha!"
"Hoi! Kau ingat ada benda lawak ke, Hah?!" sergah Sai kasar. "Baik kau bagi tahu kitorang apa-apa maklumat yang kau tahu perihal pompuan bernama Rosaline tu, sebelum kau impas."
Azurian mengusap air matanya yang sempat keluar karena tertawa. "Hahaha, baiklah, baiklah, akan aku bagi tahu apa-apa maklumat Rosaline yang aku tahu, walaupun mungkin hanya secara garis besar sahaja," tukasnya setelah puas tertawa. "Baiklah. Mula-mula korang kena tahu kalau dia memang Mak daripada Milyra, Ratu sah daripada Planet Tim Tam Dua. Kedua, dia ialah ahli pasukan terkuat daripada Supreme Diamond. Dan yang terakhir, dia sudah terhapuskan. Nah, Puas?"
"Eh?" Shielda terbelalak." Maksud Pakcik, Rosaline dah tiada ke?"
"Mestilah!" jawab lawan bicaranya sambil menyeringai lebar. "Kau nak aku cakap kalau dia masih hidup ke selepas dihapuskan? Mana logic korang ni? Haish, ingatkan korang dah faham pasal tu. Ternyata sama sahaja, ckckck..."
"Bukan tak faham. Kitorang cuma rasa pelik je," tukas Sai ketus. "Tapi kalau dia memang dah terhapuskan, apasal dia boleh muncul kat mimpi aku?"
"Haih- budak ni, masih tak faham pulak," kata Azurian sambil geleng-geleng kepala. "Nama pon dah terhapuskan. Mestilah dia dah jadi arwah! Habislah kau! Dia mesti nakkan diri kau jugak. Baiklah kalau macam tu. Perbincangan kita mungkin berakhir dahulu sampai saat ni. Masih ada benda aku nak keje. Jumpa lagi."
Ia pun membalik badan dan memunggungi Sai dan Shielda yang sudah pasang senjata masing-masing. Namun begitu ia melangkahkan kaki sebanyak tiga kali, tiba-tiba ia berhenti dan berkata,
"Oh, hampir lupa. Mungkin kita akan berjumpa lagi semasa proyek 'Sapu Katharsis' akan diberlakukan. Selamat menunggu hari pembantaian, anak-anak. "
Tepat setelah ia mengatakan itu, Sebuah cahaya merah terang tahu-tahu muncul di kamar itu dan menyinari seisi kamar, membuat Sai dan Shielda terpaksa melingkupi diri mereka dengan topi bundar dan perisai raksasa mereka agar tidak silau. Begitu cahaya merah terang itu lenyap, mereka mengintip dari balik senjata mereka dan mendapati Azurian sudah tidak ada lagi disitu.
"Pelik betul lah Pakcik tu. Kejap-kejap muncul, kejap-kejap hilang. Maklumat yang dia bagi dekat kita pun tak rinci pulak," ujar Sai seraya menggerutu. Dipalingkannya pandangan menuju saudarinya dan menjamah bahu gadis itu. "Shielda, kau tak luka kan? Masa aku siuman tadi, aku tengok dia nak cuba cekik kau. Kau tak pe ke?"
"Takpe kot. Aku okey," balas Shielda lega, walaupun dalam hati dia masih lumayan terguncang juga. "Hanya sahaja dia sempat sergap aku tadi. Hebatnya, dia punya kuasa pon pelik. Dia macam boleh muncul tiba-tiba tau. Stamina dia pon lumayan kuat, sampai aku tak boleh lawan dia masa dia cekik aku tadi. Kalau tak silap, nama dia tu Azurian. Aku rasa dia dah lama pantau kita sejak kita bergabung kat TAPOPS ni. Buktinya dia boleh tahu watak kita sementara kita tak tahu watak dia."
"Jadi maksud kau dia ialah Ejen rahsia daripada ONION?" gumam Sai ragu. "Dia dah berjaya buat kita risau. Apasal dia pantau-pantau kita? Memang pon Komander Koko Ci tutup elok-elok segala maklumat perihal Organisasi ONION daripada kita. Sayang benda tu dah tak guna lagi selepas Azurian bagi tahu kita apa-apa maklumat yang dia tahu. Kita dah tahu sebahagian tentang perihal diorang tu, terutama Rosaline. Tapi tetap sahaja aku masih rasa bingung dengan semua ni."
Shielda menghela nafas panjang. "Aku pon sama, tak faham seratus peratus," imbuhnya setuju. "Tapi setidaknya kita dah tahu sebagian maklumat yang Komander Koko Ci sembunyikan daripada kita. Oh, kau dengar tak apa yang Azurian cakap dekat kita sebelum dia menghilang tadi?"
"Hmm-" Sai langsung pasang pose berpikir. "Maksud kau proyek 'Sapu Katharsis'? Betul juga. Nampaknya benda tu bukan sebarang benda. Azurian pon nampak tak bagi tahu benda 'Sapu Katharsis' tu secara rinci kat kita. Mungkin kita akan jumpa jawaban tu suatu masa nanti."
Tepat setelah pemuda itu menyelesaikan kata-katanya, pintu kamar itu terbuka dari luar, menampakkan Cici Ko dan Motobot serta beberapa Alien Mop-Mop Karyawan TAPOPS yang berdiri di depan pintu dengan wajah-wajah panik mereka. Motobot melihat retakan di dinding kamar Sai akibat hempasan tubuh Azurian yang cukup keras disitu dan lantas mendelik ke atasannya.
"Komander Koko Ci, cuba Anda tengok retakan kat dinding tu," ujarnya seraya mengangguk ke arah retakan dinding yang dimaksud. Cici Ko yang baru saja hendak mendekati Sai dan Shielda sehingga tersita perhatiannya dan menoleh ke arah dinding retak yang dimaksud oleh Sfera Kuasa Generasi ke-8 itu. Sontak sang Komandan TAPOPS membelalakkan matanya karena kaget.
"Ap- Apakah?!" desisnya tertahan. Ia berjalan masuk ke dalam Kamar itu dan mendekati retakan dinding itu sambil mengusapnya dengan wajah tidak percaya. Selama beberapa detik ia tertegun disitu sebelum akhirnya memalingkan wajah tegangnya pada Sai dan Shielda yang berjalan ke arahnya. Tanpa pikir panjang, Cici Ko langsung menggumamkan sebuah pertanyaan dengan nada suara yang terkesan menginterogasi.
"Korang berdua, terangkan apa-apa benda yang baru sahaja berlaku kat sini."
Sai baru saja hendak membuka mulut untuk menjawab pertanyaan itu. Akan tetapi Shielda segera memegang pundaknya seraya menggelengkan kepala.
"Takpe, Sai. Biar aku yang terangkan semua benda tu pada Komander. Kau baru siuman, jadi jangan paksa diri kau."
Menyadari kalau Shielda masih mengkhawatirkan kestabilan kondisinya yang baru saja siuman, Sai akhirnya menyerah. Memang benar kalau tubuhnya masih terasa begitu lemas, ditambah dia baru saja menyerang telak Azurian dengan luncuran ganas dari Topi bundarnya tadi. Ia pun mengangguk, mengiyakan hal itu. Shielda lalu menoleh ke arah Cici Ko dan menghela nafas panjang sebelum akhirnya memulai penjelasannya.
"Komander, mungkin ini terdengar pelik. Tapi aku dan Sai sudah tahu sebahagian daripada maklumat ONION," tukasnya jujur. "Tadi ada seorang lelaki misteri bernama Azurian masuk kesini. Dia cakap beberapa benda tentang Organisasi tu, termasuk perihal Rosaline, sang 'Mawar Liar'. Kami pon tak tahu kenapa Azurian boleh tahu identiti kami, berhubung kami tak pernah sekalipun berjumpa dengan dia. Peliknya, dia macam dah tahu kami sejak lama. Dia pon sempat cekik aku. Satu lagi. Dia mention salah satu rancangan rahsia Organisasi ONION mengenai suatu Proyek dengan nama kode 'Sapu Karthasis'. Harap-harap Komander maklum dengan semua benda ni."
Setelah mendengar penjelasan Shielda yang panjang lebar, Cici Ko lalu terhenyak kaget dan langsung merenung. Azurian... dia kenal orang itu. Sayangnya Memori Cici Ko akan pria itu sudah lumayan samar, berhubung mereka sudah tidak pernah bertemu selama bertahun-tahun. Dan selama itulah kabar tentang pria paruh baya bertopi fedora itu tidak pernah terdengar lagi. Hampir saja Cici Ko lupa akan Azurian kalau saja Shielda tidak menyebut-nyebut nama Pria misterius itu. Terlihat sang Komandan mendecih keras, seakan-akan ada beban berat yang hinggap di benaknya.
"Azurian... dia lagi. Macam mana dia boleh kesan Markas TAPOPS?" ujarnya geram. Ia lalu menoleh ke arah Sai dan Shielda seraya menggumam pelan. "Baiklah kalau macam tu. Sebab korang dah tahu sebahagian daripada maklumat Organisasi, maka aku tak kan lagi halang korang buat tahu semua benda tentang badan tu. Tapi korang kena ingat: Jangan fokuskan diri korang dekat pasal tu. Memang pon ONION ialah badan berbahaya, tapi korang belum patut untuk masuk campur perkara mereka. Aku dah bagi tugas tu dekat Kaizo, jadi ada baiknya korang jalankan tugas korang sebagai member TAPOPS, bukan yang lain. Faham?"
Sai dan Shielda mengangguk. "Faham, Komander," ujar mereka bersamaan. Setelah itu, Motobot dan para Alien Mop-mop karyawan TAPOPS yang masih berada di ambang pintu tiba-tiba dikejutkan oleh dua sosok yang muncul di ujung lorong. Segera Motobot menghampiri Cici Ko dan melaporkan apa yang dilihatnya barusan.
"Maaf mengganggu, tapi nampaknya Kaizo dah bawa Adik dia buat dilatih menjadi ahli pasukan rasmi TAPOPS."
Mendengar itu, Cici Ko langsung tersenyum simpul. "Ah, akhirnya budak manipulator bayang tu dah tiba," katanya sumringah lalu menoleh ke arah si kembar Sai dan Shielda yang tampaknya merasa kebingungan dengan informasi itu.
"Eih? Ada lagi budak yang nak jadi ahli rasmi TAPOPS?" gumam Sai heran. "Siapa dia, Komander?"
Cici Ko tertawa pelan. "Dia ialah adik daripada Kaizo. Tapi tenang sahaja, ini bukan termasuk benda Nepotis," ujarnya sembari tertawa. "Macam korang, dia akan ikut ujian Kental TAPOPS buat begabung sebagai member rasmi. Nampaknya korang akan akrab nanti. Berkawan baik lah dengan dia, Okey?"
Sai dan Shielda mengangguk pelan. Dalam hati mereka merasa senang karena telah mendapatkan teman sebaya mereka di TAPOPS ini, walaupun mungkin Fang adalah termasuk berusia lebih muda dibandingkan mereka. Tentu saja, bocah pengendali bayangan itu baru saja menginjak umurnya yang ke-13. Kedua saudara kembar itu berharap banyak akan menjadi teman baik anak itu.
"Macam menarik je budak tu," komentar Sai pelan. "Shielda, kau perasan ke kita boleh berambuk dengan dia masa ujian kental TAPOPS nanti?" ujarnya pada saudarinya seraya melirik Fang yang saat itu tengah bercengkrama ringan dengan Kaizo dan Motobot. Shielda menanggapi pertanyaan Saudara kembarnya itu sambil mendelik sebentar ke arah sang manipulator bayangan sebelum akhirnya memalingkan pandangannya ke arah Sai kembali.
"Betul, Sai. Ini mesti akan terasa menarik," balasnya sambil tersenyum kecil. "Mari kita tengok seberapa hebat budak bernama Fang tu."
Seusai melaksakan Sholat Isya di Masjid, BoBoiBoy pun bergegas pulang ke Rumah Tok Aba dimana Ochobot tengah menunggunya dengan tidak sabar. Pasalnya anak itu sudah berjanji akan memberitahukan sesuatu padanya, walaupun Ochobot sendiri tidak tahu apa itu. Robot kuning itu masih bertanya-tanya dalam hati: Siapakah gerangan yang menyapanya beberapa menit yang lalu? Suara orang yang menyapanya itu terdengar persis seperti suara wanita dewasa. Ochobot mulai merinding. Apa jangan-jangan orang itu adalah Rosaline?
Ah, mana mungkin? Wanita aneh itu kan sudah meninggal. Mana mungkin dia hidup kembali? Tidak masuk akal!
Tapi kalau wanita yang memanggilnya berusan itu bukan Rosaline, lalu siapa?
Berbagai pertanyaan bejibun mulai menumpuk di kepala bulat Ochobot hingga Sfera Kuasa itu dibuat kebingungan olehnya. Kenapa sih selalu saja ada masalah baru setelah masalah sebelumnya telah diselesaikan dengan baik? Memang hidup ini tidak akan seru tanpa adanya masalah, tapi bukan berarti setiap detik kita harus dihampiri oleh masalah juga, kan? Ada-ada saja.
"Ochobot? Ochobot!"
"EHH?!"
Suara pelan namun keras dari BoBoiBoy tahu-tahu membuyarkan lamunannya, membuat sang Sfera Kuasa Generasi ke-9 nyaris terguling ke lantai kamar BoBoiBoy. Langsung saja dia menyeimbangkan tubuhnya agar tidak oleng saat terbang dan menoleh ke arah BoBoiBoy dengan tatapan gusar.
"Ish, kau ni! Kalau masuk, cakap salam lah dahulu," ujarnya cemberut.
"Hehe- sori Ochobot, tak sengaja kot," balas BoBoiBoy malu-malu. "Aku nampak kau macam melamun tadi. Ada masalah ke?"
Ochobot menggeleng. "Takyah, bukan perkara teruk pon," katanya sembari menyipitkan kedua mata biru lautnya seolah menyeringai. "Oh, iya. Tadi kata kau nak bagi tahu aku satu benda penting. Apa benda tu?"
BoBoiBoy mengerutkan kening tanda berpikir. Ia lalu menoleh ke arah jam kuasanya dan tiba-tiba berseru.
"Itu dia!" katanya senang sambil menatap Ochobot lekat. "Okey, Ochobot. Jadi begini: Semasa aku nak ambik Liontin-liontin Siti dan Buku Fisika aku kat sini, tiba-tiba je aku rasa Jam kuasa aku macam setrum aku. Aku takut kalau benda berharga ni kenapa-kenapa. Aku nak kau cuba periksa. Boleh tak?"
Mendengar penjelasan sahabatnya, Ochobot kemudian melepas Jam Kekuatan milik BoBoiBoy dan mengamatinya lamat. "Macam takde yang rosak pon," katanya sembari memindai komponen-komponen dalam dari Jam tersebut. "Eh, tunggu kejap! "
"Huh? Apa masalahnya, Ochobot? Jam aku rosak ke?" BoBoiBoy mendekatkan wajahnya ke Jam Kekuatan Elemental-nya dengan wajah risau. "Kalau rosak, habislah! Aku tak boleh guna kuasa super lagi."
"Haih, bukan macam tu. Jam kau tak rosak pon," ujar Ochobot sambil facepalm. "Hanya sahaja aku nampak sistim kat dalam Jam kau ni macam terprogram ulang. Dengan kata lain, Kuasa-kuasa Elemental dah kau balik ke tahap semula. Kau hanya punya kuasa Petir, Angin dan Tanah."
Mendengar itu, BoBoiBoy terperanjat juga. "A- Apakah?! Kuasa aku terprogram balik?!" ujarnya kaget, nyaris menjerit. "Kenapa benda tu boleh berlaku?!"
"Entah. Aku pon tak tahu kenapa kuasa-kuasa kau boleh terprogram ulang," tukas Ochobot seraya angkat bahu. "Tapi aku macam rasa kalau benda tu berlaku selepas aku diperbaiki balik oleh Adu Du. Semasa dia benda buat tu, mesti ada komponen yang secara tak sengaja dia restart balik. Maka dari tu, kuasa kau pon balik ke tahap semula."
"Alahh- kenapa jadi macam tu, Ochobot? Aku tak nak lah," keluh BoBoiBoy lesu sambil memandang Jam Kekuatannya dengan murung. "Jadi aku kena berlatih balik dengan kuasa-kuasa dasar ni? Aku tak nak ditangkap Adu Du lagi dan diletupkan belon kat hadapan aku hanya kerana aku nak dapatkan balik Kuasa Halilintar tu, sama halnya juga dengan kuasa-kuasa lain. Takde cara lain ke?"
Ochobot menggaruk bagian bawah dagu bundarnya, berpikir keras bagaimana caranya agar mendapatkan kembali ketujuh kekuatan elemental BoBoiBoy sekaligus fase kedua dari masing-masing kekuatan tersebut. Namun nihil. Dia tidak mendapatkan cara jitu untuk mengembalikan semua itu. Ditatapnya anak bertopi jingga itu dengan wajah sedih.
"Maaf, BoBoiBoy. Aku pon tak tahu lah macam mana cara untuk dapatkan balik kuasa-kuasa tu."
"Ei? Kau kan yang bagi aku kuasa. Masa tak tahu?"
"Ish, kan aku dah cakap, aku tak tahu lah!"
"Iye ke?"
"Iyee. Dah lah! Aku masih ada keje ni, nak bantu Tok Aba kunci pintu rumah. Kau pulak, siapkan buku-buku kau buat sekolah esok. Dah pukul delapan ni. Nanti kau lamban masuk sekolah."
"Uhh, okey," ujar BoBoiBoy heran sembari menatap Ochobot yang terbang keluar menuju ruang keluarga. Sebenarnya BoBoiBoy merasa sedikit bersalah juga karena terlalu memaksakan pertanyaannya pada Sfera Kuasa berwarna kuning itu tadi. Mungkin saja robot bulat itu memang tidak tahu menahu cara untuk mendapatkan kembali kekuatan-kekuatan fantastis Elemen-elemen yang diperolehnya sebelum konfliknya dengan Rosaline berlangsung saat tiga hari yang lalu. Tapi masak sih dia harus kembali berjuang mendapatkan kekuatan-kekuatan itu lagi? Apakah dia harus mengulang kejadian-kejadian aneh yang memicu kekuatan-kekuatan elementalnya untuk berubah ke tahap kedua mereka? Yang benar saja!
Setelah beberapa lama memikirkan bagaimana cara untuk mendapatkan kekuatannya kembali, BoBoiBoy akhirnya menyerah. Sekarang bukanlah waktunya untuk memikirkan hal itu. Dia harus mempersiapkan buku-buku pelajarannya untuk sekolah besok. BoBoiBoy jadi terkekeh sendiri. Terkadang ia merasa geli dengan dirinya sendiri yang terlalu membesar-besarkan suatu masalah hingga lupa kalau ada hal lain yang harus diprioritaskannya sekarang.
Ia lalu beranjak menuju rak bukunya dan mempersiapkan buku-bukunya untuk besok. Ketika ia tengah asyik memilah-milah buku, sekonyong-konyong ia menyenggol Liontin huruf B kuning berbentuk petir miliknya dari atas meja belajar yang letaknya tepat berada di sebelah rak buku. BoBoiBoy lalu berjongok dan mengulurkan tangannya ke liontin itu, hendak meraihnya. Namun begitu jari-jemarinya menyentuh benda itu, tanpa sadar matanya mendelik ke sepasang sepatu yang nyaris tertutup oleh rok biru dengan renda kuning yang tepat berada di sebelah liontin itu. Langsung saja ia terkesiap dan mendongakkan kepalanya ke arah si empunya sepatu. Detik itu juga kedua mata hazelnya membelalak.
Orang yang memakai sepatu itu adalah seorang gadis. Ia mengenakan hijab lebar berwarna biru laut dengan renda kuning, sama halnya dengan rok dan bajunya. Walaupun wajahnya tidak terlalu jelas, tapi BoBoiBoy bisa memastikan kalau wajah gadis itu tengah pasang ekspresi sayu. Selama beberapa detik BoBoiBoy mematung disitu, tidak bergerak sama sekali saking kagetnya.
Apa-apaan?!
Kenapa gadis itu tiba-tiba berada di dalam kamarnya?
BoBoiBoy menelan ludah. Ia merasa kalau keduanya matanya membelalak lebar saat itu. Jantungnya berdegup kencang. Dia tidak tahu apakah dia harus berteriak atau tidak. Namun sebelum BoBoiBoy sempat melakukan sesuatu, gadis itu membuka mulutnya perlahan seraya berucap,
"Aku Mohon, BoBoiBoy... Selamatkan Mimi... Selamatkan dia dari kehancuran..."
Ehh?
Sang Superhero elemental tertegun mendengar kalimat itu. Mimi? Harus diselamatkan? Apa maksudnya?
Belum sempat BoBoiBoy bertanya balik, gadis berhijab biru itu menghilang dalam satu kedipan mata, membuat BoBoiBoy memenjamkan matanya dan menggeleng kuat-kuat. Sejenak ia melongo. Apakah dia berhalusinasi? Siapa gadis itu? Kenapa dia memberitahu kalau Mimi harus diselamatkan? Apakah gadis berambut coklat ikal itu sedang dalam masalah?
"Aku halusinasi ke ape? Apasal dia tiba-tiba bagi tahu aku benda tu?" ujar BoBoiBoy bingung seraya memungut Liontin huruf B miliknya dari lantai dan melanjutkan persiapan bukunya untuk besok. "Macam pelik je. Apa jangan-jangan dia ialah hantu?"
Tapi BoBoiBoy tahu, gadis misterius yang muncul layaknya fatamorgana itu tidak berniat untuk menjahilinya. Pasti ada hal buruk yang terjadi pada Mimi. Tapi apa? BoBoiBoy jadi bingung sendiri. Dia harus mendapatkan jawaban dari pertanyaan itu. Kalau saja dia masih tinggal di Kuala Lumpur, mungkin sudah sedari tadi dia datang ke rumah Mimi dan menolong gadis itu dari 'Kehancuran' yang dimaksud oleh gadis berhijab biru.
Seusai mempersiapkan bukunya, Iseng-iseng BoBoiBoy menyalakan Laptopnya untuk melihat aktifitas di Dunia Maya sebelum ia sendiri beranjak tidur. Secara naluri dia membuka akun Facebook miliknya yang sudah lama tidak dibukanya. Terlihat puluhan Notifikasi disitu. BoBoiBoy tersenyum simpul. Tak disangka dia sudah tidak aktif menanyakan kabar teman-teman lamanya. Dilihatnya status-status baru di beranda. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba benaknya membisikkan sebuah suruhan untuk membuka ruang Chat-nya dengan Siti Zubaidah, salah satu teman lamanya yang dahulu mengajaknya mengobrol tentang aktifitas mereka selama liburan kenaikan Kelas dahulu. Sayang Siti tidak membalas Chat-nya lagi setelah itu. BoBoiBoy berharap kali ini gadis itu akan mengobrol dengannya. Diketiknya sebuah kalimat sapaan di ruang Chat itu.
BoBoiBoy: "Assalamualaikum. Hai, Siti. Dah lama tak jumpa, hehehe. Kau sihat? Oh, ya. Aku ada kejutan buat kau! Nak tahu apa tu? Haa- tengok ni, Aku dan Kawan-kawan Pulau Rintis aku akan siar-siar kat Kuala Lumpur masa Cuti semester nanti! Aku tahu kau nak sangat berjumpa dengan merrka. Amacam? Senang tak? Aku jamin seratus peratus kalau kawan-kawan baru aku tu mengasyikkan! Mesti seronok kalau kita kumpul-kumpul nanti, Kan? Kan?"
Ditekannya tombol enter, mengirim pesan tersebut ke ruang Chat Siti. BoBoiBoy lalu menunggu respon dari Siti, namun tampaknya usahanya itu sia-sia. Dilihatnya status Chat temannya itu sedang Offline. BoBoiBoy mendesah pasrah. Mungkin Siti sedang sibuk, jadi tidak sempat bertandang ke media sosial. Lagipula BoBoiBoy tahu kalau Siti adalah tipikal yang menempatkan segala sesuatu pada tempat yang semestinya. Gadis itu hanya berkutat di media sosial saat hari libur ataupun kalau tidak ada PR. Dalam hati BoBoiBoy memuji sahabatnya itu. Kalau saja dia bisa fokus seratus persen pada prestasi akademiknya, mungkin dia akan sebaik Siti, atau mungkin lebih.
Tanpa ia sadari, sosok gadis berhijab biru yang dilihatnya tadi kembali menampakkan dirinya di dalam cermin Kamar BoBoiBoy. Ditatapnya punggung BoBoiBoy dari kejauhan dengan murung sebelum akhirnya menghilang.
Bersambung ...
Hore! Akhirnya berhasil merampungkan juga bagian ini, hehehe ... maaf kalau alurnya acak gimana gitu, soalnya Author lagi ngebut juga sih/emang balap mobil? pake ngebut segala -_- Dan tentunya, Silahkan beri review dan saran jika berminat ;)
Tetap setia menunggu kelanjutannya, ya. Love you all, dear readers :)
