Hai, semua. Berjumpa lagi dengan saya, Murasaki Dokugi alias Author yang entah apa yang ditulisnya disini, hehehe. Akhirnya setelah sekian lama saya berhasil merampungkan bagian 6 ini. Terima kasih saya ucapkan kepada blossom-chan, kurohimeNoir, Lavento Zenya, Kageyama Akira dan anggita rosa delicious mysairy atas review-review yang diberikan. Mungkin perlu saya tekankan lagi kalau serial fanfic ini tidak mengandung unsur pairing BoYa, FaYi atapun pairing Yaoi seperti BoyFang dsb. Dan Author sekali lagi menekankan bahwa Author tidak mendukung Gerakan Pacaran baik di dunia fiksi maupun di dunia nyata, jadi mohon Harap dimaklumi, walaupun di serial ini bakal ada beberapa unsur 'Friendzone-Crush' dimana ada tokoh yang menyukai tokoh lain atau saling menyukai satu sama lain namun tidak mengungkapkannya dan hanya tetap berada dalam pertemanan. Dan mungkin semakin cerita ini berlanjut maka akan semakin banyak plot rumit yang bermunculan, jadi mohon persiapkan analisis kalian. :) Silahkan baca Chapter ini ya ^^
Apa yang direncanakan ONION sejauh ini? Apa misi perdana Mila? Akankan BoBoiBoy dkk berhasil mewujudkan rencana liburan mereka ke Kuala Lumpur? Temukan jawabannya di bagian ini ;)
.
.
.
C.E.R.M.I.N. G.A.L.A.X.Y.
Apocalypse by 'Sapu Katharsis'
(Season 1)
.
.
.
BoBoiBoy milik Animonsta/Monsta
.
.
.
Bagian 6: Libur telah tiba!
Dunia Alam bawah sadar itu tampak tenang. Langitnya yang luas berhiaskan tirai-tirai sinar bak Aurora Borealis berkelebat kian kemari, memberikan rasa tenang bagi siapa saja yang memandangnya. Di bawah tirai-tirai sinar itu tampak sebuah bangunan yang lumayan besar. Gaya Arsitekturnya adalah campuran antara gaya Victoria dan gaya bangunan Pencakar langit era modern. Bangunan itu adalah Penyimpanan Memori Intelegensi dan Ilmu Pengetahuan milik BoBoiBoy dan Mila. Jika kita masuk ke dalamnya, maka kita akan mendapati jejeran rak-rak buku berukuran besar yang mengelilingi ruangan dalam bangunan yang berbentuk bundar. Setiap rak buku memiliki tinggi kurang lebih 2 meter. Buku-buku itu sendiri adalah memori Intelegensi milik BoBoiBoy dan Mila sejak kedua anak itu berteman baik. Di lantai dua perpustakaan terlihat BoBoiBoy Tanah yang sibuk mencari buku tentang tata cara kepemimpinan atau Leadership. Sementara di tengah-tengah ruangan lantai satu perpustakaa berbentuk bundar itu tampak Milyra Infra yang duduk di atas sebuah kursi kayu jati berwarna coklat kemerahan dengan sandaran lengan. Gadis itu membaca buku tentang cara memasak penganan yang manis-manis. Sesekali ia terkekeh hingga akhirnya ia sukses menyita perhatian Sang manipulator tanah yang baru saja turun ke lantai satu menggunakan tangga.
"Apahal kau ni, Infra? Asyik gelak je," katanya heran. "Ada benda lawak ke dekat buku kau?"
Menyadari Tanah agak terusik dengan tawanya, Infra memalingkan pandangannya ke pemuda itu. "Oh takda pe," balasnya seraya tersenyum hangat. "Aku lepas tengok resepi Bon-bon kat sini. Tadi selepas X latih Petir, dia jumpa aku. Dia kata kalau Petir tu peminat Permen Bon-Bon. Tak sangka budak agresif dan serius macam Petir boleh takluk dengan benda comel macam Bon-bon. Tak boleh aku bayangkan macam mana ekspresi dia masa tu. Mesti dia pasang muka gengsi, kan? Kan?"
"Mungkin kot," ujar Tanah seraya merenung. "Pelik. Jarang betul aku tengok Petir sukakan Bon-bon. Biasa pon dia asyik berlatih je sebab dia ialah tipe penyerang di antara pecahan kuasa BoBoiBoy. Entah kenapa sejak kitorang berjumpa dengan pecahan kuasa daripada Milyra macam korang ni tingkah aku dan 'saudara-saudara' aku jadi lain daripada yang lain."
Infra tertawa. "Maknanya, kita semua dah punya peribadi unik selepas BoBoiBoy dan Milyra berkawan baik," tukasnya geli. "Hebat betul lah efek perkawanan tu. Masing-masing dari kita pon akhirnya punya kawan, macam kau dan aku, Petir dan X, Angin dan Gamma, Api dan Longy serta Air dan Versa. Sayangnya aku tak tahu pasti dengan Fragrance dan Violet. Diorang tu belum pernah aktif bertarung, tapi entah-entah diorang anggap aku dan pecahan-pecahan Milyra yang lain macam penghalang diorang. Parahnya, diorang jadi sombong. Memang pon kuasa diorang tu kuat sangat. Gelombang Alpha milik Fragrance boleh hancurkan musuh dia secara lamban sementara gelombang UV milik Violet boleh hancurkan musuh dalam efek dia yang mengerikan."
"Ah, pasal kedua 'adik' kau?" kata Tanah mangut-mangut seraya merenung di ujung tangga. "Betul juga. Aku tak faham apa motif sebenar diorang tinggalkan badan Milyra disamping sebab kesombongan diorang yang kau sebutkan tadi. Jarang ada kes macam ni. Dahulu pon aku dan pecahan-pecahan elemental yang lain pernah alami kejadian macam ni. Semasa Petir bertukar jadi Halilintar untuk kali pertama, dia serang kitorang selepas dia diperdaya oleh Adu Du. Untung sahaja Probe tak sengaja cakap 'terbaik', salah satu kata favorit BoBoiBoy, jadi Halilintar pon ingat kalau dia ialah BoBoiBoy dan berbalik pihak. Kalau Angin semasa dia bertukar jadi Taufan untuk kali pertama, dia jadi macam tak boleh kawal diri dia yang bahagia sangat selepas makan biskut Yaya yang diberi cecair pelik buatan Adu Du. Tapi sama macam Halilintar, Taufan boleh dikawal balik selepas Ochobot bagi tengok dia episode final daripada Telenovela Seguni Mawar Merah yang mengharukan."
Infra terkekeh. "Boleh lah aku bayangkan emosi korang semasa naik tahap tu, Hahaha! Lawak betul!" katanya geli sembari menutup Buku Resep Penganan Manis yang dibacanya dan menaruhnya di atas meja kecil yang berada di sebelahnya. Tiba-tiba Bibirnya berubah menjadi manyun. "Korang beruntung. Aku dan Pecahan-pecahan Milyra lainnya takde tahap kedua macam korang punya. Mesti seronok kalau kami punya tahap kuasa kedua."
Ia mengatakan itu dengan nada suara lesu. Melihat perubahan suasana hati temannya yang tiba-tiba itu, Tanah langsung memberinya tatapan empatik. Betul juga apa yang dikatakan Infra. Pecahan-pecahan kekuatan Gelombang milik Mila tidak memiliki Tahap kedua seperti yang dimiliki oleh Kekuatan Elemental milik BoBoiBoy. Dengan kata lain, Mila tidak bisa menambah kekuatannya menjadi lebih kuat. Wajar saja Infra menjadi rendah diri.
Tapi tunggu dulu. Jika Kekuatan Gelombang Mila tidak memiliki tingkatan kekuatan, maka itu berarti Mila sudah mendapatkan batas kekuatannya yang terkuat, bukan?
Tanah tersenyum simpul. Kini ia tahu bagaimana cara untuk menyemangati sang manipulator infra merah.
"Dengar. Aku dan pecahan Elemental milik BoBoiBoy lainnya mungkin boleh punya Tahap kedua. Kau tahu apa maknanya?"
Infra menggeleng. "Entah," balasnya segera. "Untuk apa kau cakap benda tu?"
"Sebab kuasa kitorang belum mencapai batas yang terkuat."
Mendengar itu, Infra jadi tertegun, merenungi maksud tersembunyi dari kalimat Tanah. Satu menit kemudian, ia menoleh ke arah Tanah dengan raut wajah bahagia.
"Kau benar. Mila mungkin takde kuasa tahap kedua macam BoBoiBoy punya. Tapi kerana itulah kuasa gelombang Mila dah mencapai yang terkuat sehingga tak payah nak punya tahapan. Tak sangka ulasan kau macam logic sangat. Terima kasih, Tanah. Lega betul aku dengar cakap kau yang bermanfaat tu."
"Sama-sama," balas Tanah lega. Dia senang melihat Infra kembali percaya diri akan kekuatan Gelombang Mila yang tidak perlu lagi memiliki fase kedua seperti halnya kekuatan Elemental milik BoBoiBoy. Tanah tertawa kecil. Mungkin memang beginilah tabiat Perempuan-pikirnya. Mereka kadang suka membesar-besarkan masalah berlandaskan perasaan.
Ketika mereka hendak melanjutkan kesibukan masing-masing, tiba-tiba pintu lantai satu perpustakaan alam bawah sadar itu diketuk dari luar.
"Masuklah," tukas Infra ramah.
Detik berikutnya, Pintu gedung perpustakaan itu terbuka, menampakkan sesosok anak laki-laki mirip BoBoiBoy yang berpakaian serba putih. Wajahnya datar. Dialah Balance, pengontrol utama alam bawah sadar milik BoBoiBoy. Dengan langkah mantap namun santai, ia berjalan ke tengah-tengah ruang bundar Perpustakaan yang besar dimana Tanah dan Infra berada.
"Maaf sebab dah ganggu masa korang. Tapi ada maklumat penting yang nak aku bincangkan sekarang," katanya kaku, nyaris seperti robot. "Harap korang maklumkan apa yang aku buat ni."
"Takde hal, Balance. Cakap je apa maklumat kau tu," ujar Tanah santai. "Aku dan Infra okey je."
Infra mengangguk. "Ha'ah. Lagipun kalau maklumat tu penting, mestilah kitorang nak tahu jugak," desaknya halus. "Bagi tahu je lah."
"Hmm, okey," ucap Balance seraya mendesah pelan. "Ada laporan daripada 'Saudara-Saudari' korang mengenai kemunculan dua pecahan terakhir daripada kuasa gelombang Milyra: Milyra Fragrance dan Milyra Violet di alam bawah sedar BoBoiBoy dan Milyra. "
"Hah?! Fragrance dan Violet?" ujar Tanah dan Infra, nyaris bersamaan. "Apasal diorang boleh muncul kat sini?"
Balance mengangkat bahu. "Entah. Mengikut maklumat secara logic, Fragrance dan Violet seharusnya tak boleh masuk ke alam bawah sedar sesuka hati kerana diorang hanyalah pecahan kuasa, bukan makhluk hidup utuh. X dan Petir jumpa Violet semasa diorang berlatih kat Colossium sementara Gamma dan Angin jumpa Fragrance semasa berlumba kuasa kat halaman utama alam bawah sedar. X dan Petir cakap kalau Violet muncul sebab nak cari sensasi kat diorang. Tak henti-henti dia rendahkan X kalau dia tu lemah."
Mendengar itu, Infra menggigit bibir. "Aku tak hairan pon kalau Violet buat benda macam tu. Dia dan Fragrance memang suka cari kesalahan orang lain. Sebab tu lah diorang pandang pecahan kuasa Milyra yang lain macam kuasa lemah sementara diorang la yang terkuat," ujarnya getir. Tanah jadi gemas juga mendengar kata-kata Infra itu. Aneh, kenapa ada kekuatan seperti Violet dan Fragrance yang bisa meninggalkan tubuh empu mereka hanya karena ambisi mereka akan kekuatan?
"Balance, aku rasa ini bukan benda yang patut diremehkan," kata sang pengendali tanah dengan nada serius. "Tak tahu lah kalau dua pecahan terakhir daripada Milyra boleh tinggalkan tubuh utama diorang hanya kerana pasal kecik macam tu."
Balance mengangguk. "Memang pon ini kejadian langka. Aku akan cuba cari maklumat penyebab diorang boleh keluar masuk alam bawah sedar sesuka hati," tukasnya segera. "Ah, satu lagi. Untuk kes Fragrance, ada benda pelik semasa dia jumpa Angin dan Gamma. Angin kata kalau Fragrance butuh BoBoiBoy Daun. Entah apa rancangan dia sampai kena butuh budak elemen baru tu."
"Eh?" kali ini Tanah yang terkesiap. "Apa pasal Fragrance nakkan Daun juga? Dia tak tahu ke kalau kuasa Daun belum aktif? Lagipun kemungkinan besar Daun tak nak ikut campur dengan pasal Fragrance ni. Dia terlampau lurus bendul."
"Balance, kau ada spekulasi ke mengenai kelakuan Fragrance dan Violet?" tanya Infra cemas. "Aku tahu diorang memang dah rendahkan aku dan pecahan-pecahan kuasa gelombang Milyra yang lain, tapi aku kena tahu sebab diorang berkelakuan pelik. Bagaimana pun juga diorang ialah 'adik-adik' aku. Tak kan lah aku biarkan diorang terjerumus ke sisi gelap macam Bunda dan Sebastian buat."
"Hm, spekulasi kau kata?" Balance menggaruk pipinya. "Aku pun tak tahu pasti, tapi nampaknya ada seseorang yang provokasi diorang buat jadi ambisius akan kuasa terkuat hingga diorang terlampau masuk ke sisi gelap. Orang tu mesti orang kat luar alam bawah sedar, sebab mustahil ada pecahan-pecahan kuasa Elemental dan Gelombang yang boleh provokasi diorang jadi cam tu. Awalnya aku curiga dekat Angin sebab ada record dia yang pernah rendahkan Halilintar selepas dia bertukar menjadi Taufan. Namun lepas tu aku berfikir kalau Angin tak kan mampu ajak orang lain buat jadi ambisius hingga ke tahap mencarut menyakitkan macam Fragrance dan Violet buat."
"Haih, apasal semua benda ni boleh berlaku?" tukas Tanah pusing. "Tapi janga risau. Aku dan Infra akan cuba awasi Alam bawah sedar ni kalau-kalau Fragrance dan Violet datang balik suatu masa nanti. Entah kenapa aku macam rasa diorang akan datang ke alam bawah sedar ni untuk buli kita lagi. Dan kalau benda tu jadi berlaku, kita akan lagi sedia buat halau diorang."
Balance menghembuskan nafas perlahan. "Baiklah. Nampaknya itu je yang aku nak bagi tahu korang. Sekarang korang boleh sambung balik kegiatan harian korang tu. Jumpa lagi."
"Jumpa lagi, Balance!" ucap Tanah dan Infra begitu Balance berjalan menjauhi mereka dan melangkah menuju pintu utama perpustakaan. Sepeninggal Balance, Infra tahu-tahu menyentak lengan Tanah dan menarik anak itu keluar dari gedung perpustakaan alam bawah sadar itu.
"In- Infra, apahal kau heret aku?" Tanya Tanah kaget bercampur bingung. Namun Infra tidak juga melepaskannya sampai akhirnya mereka tiba di tengah-tengah sebuah ruang hampa yang memiliki delapan buah tabung yang bersinar remang-remang. Masing-masing tabung itu mengeluarkan sinar berwarna Merah terang, Jingga kekuningan, Biru Cyan, Hijau payau, Hijau daun, Merah gelap dan putih kekuningan serta ungu terang. Di dalam enam tabung-tabung sinar yang pertama tampak enam sosok yang melayang-layang. Mata mereka tertutup, seakan tengah tertidur pulas. Mereka adalah Elemen Api, Gelombang Longitudinal, Elemen Air, Gelombang Transversal dan Elemen Tumbuhan serta Elemen Cahaya. Anehnya, Dua tabung yang berwarna merah gelap dan ungu terang terlihat kosong.
Begitu tiba, segera saja Infra melepaskan tangan Tanah, membuat sang pengendali tanah nyaris tersandung. Merasa aneh dengan kelakuan sang pengendali infra merah, Tanah memberinya tatapan bingung.
"Ish, kau ni! Tak payah heret-heret aku. Bukan mahram lah," katanya agak kesal. "Lagipun apa benda kau nak buat hingga heret aku kat sini? Nak tengok pecahan-pecahan kita yang belum aktif ke apa?"
Infra tidak menanggapi kalimat milik Tanah. Sebaliknya, ia malah mendekati dua tabung merah gelap dan ungu terang yang kosong dengan tatapan mata sendu. Digigitnya bibir sambill menundukkan kepalanya. Tubuhnya tampak gemetar. Tanah tidak punya waktu untuk mengesalkan tindakan Infra sebelumnya karena sekarang ia melihat Infra sedikit terisak sembari menaruh kedua telapak tangannya di permukaan kedua tabung kosong tersebut. Merasa ada sesuatu yang membuat Infra sedih, Tanah lalu melihat Infra dengan wajah cemas.
"Infra? Kau takpe?"
Menyadari kehadiran Tanah, Infra tersentak dan menghapus air matanya yang mulai meluber keluar. Diangkatnya wajahnya menatap pemuda berpakaian serba warna coklat susu itu, membuat Tanah kaget dengan wajah Infra yang memerah, hendak menangis.
"Aku... Aku tak tahan lagi. Kenapa Fragrance dan Violet buat semua ni?" katanya tercekat. "Aku hanya... Aku hanya nak semua pecahan kuasa Milyra lengkap dan harmonis balik. Aku iri terhadap kau, Tanah. Aku iri sebab kau dan pecahan-pecahan kuasa elemental milik BoBoiBoy yang lain lengkap dan tak terpisahkan. Korang macam keluarga sejati. Sementara aku... aku bahkan tak becus buat sedarkan kedua 'adik' aku yang terlampau ambisius akan kuasa. Kakak macam apa aku ni?"
Isakan Infra semakin menjadi-jadi. Ia merosot ke bawah hingga terduduk sambil menutupi wajahnya yang sembab dengan kedua tangannya yang kurus. Kekalutan temannya membuat Tanah memandang Infra dengan sorot mata empati. Dihiburnya gadis itu.
"Jangan menangis macam ni, Infra. Aku pon boleh rasa kesedihan kau," ujar Tanah menenangkan. "Aku tahu kau belum terbiasa dengan semua ni. Tapi tenang. Aku yakin Fragrance dan Violet boleh beborak balik dengan kau dan pecahan Mila yang lain di masa hadapan nanti. Aku dan pecahan Elemental yang lain akan selalu dukung korang. Lagipun kita semua dah berkawan baik. Jangan menyerah untuk berharap, okey?"
Mendengar kalimat penyemangat itu, perasaan kalut yang berkecambuk dalam tubuh Infra berangsur-angsur menghilang. Setelah merasa lebih baik, Infra menoleh ke arah Tanah dengan tatapan lega.
"Kau benar. Tak akan aku lepaskan harapan aku buat bawa Fragrance dan Violet balik. Terima kasih banyak, Tanah. Kau memang kawan terbaik."
Tak jauh dari mereka, dua sosok siluet terlihat berdiri memandangi kedua pecahan kekuatan itu. Salah satu dari mereka menggumam pelan sembari mendengus.
"Aku tak suka lah tengok diorang tu. Bila kita nak hapuskan diorang?"
"Haih- kau ni Fragrance, sabar sikit lah. Sebastian belum bagi kita perintah buat hapuskan pecahan-pecahan kuasa lemah tu tau."
"Dah tu, sampai bila kita nak menunggu?" bisik Fragrance cemberut. "Aku tahu kalau Daun dan Cahaya belum aktif. Tapi kau tahu sendiri kalau Sebastian butuh diorang buat proyek rahasia dia. "
Violet tertawa kecil. "Jangan terburu-buru, Fragrance. kau kena ingat satu pasal: Kita tak boleh ambil dua pecahan terakhir elemental tu kalau diorang belum aktif. Kita bukan pengawal alam bawah sedar ni. Lagipun kita ni bukan Makhluk hidup utuh, melainkan pecahan kuasa. Kita tak boleh berbuat sesuka hati kita. Ingatkan kau dah faham pasal tu."
"Hump, aku memang dah faham pasal tu, tapi tetap sahaja aku nakkan budak elemen tumbuhan tu sekarang," balas Fragrance dengan wajah merajuk. "Tak boleh ke kita langsung ambik tabung tempat dia dan Cahaya berada lalu pergi dari sini?"
"Tak boleh, Fragrance. Sekuat apapun kita, Selama diorang belum aktif kita tak kan mampu sentuh diorang," jelas Violet sembari memegang ujung kacamata gelapnya dengan gaya serius, memandang ke arah sepatunya yang bergaya glamour dan terkejut. "Ah, ada debu kat sepatu aku. Tempat ni hodoh betul. Jom, Fragrance. Kita kena keluar dari sini sebelum Balance jumpa kita. Aku rasa tak sedap hati kalau jumpa dia kat sini. Dia macam buat aku merinding dah."
"Hmp, okey lah kalau cam tu. Jom kita pergi," balas Fragrance dengan nada malas. "Tapi tetap sahaja aku akan urus budak daun tu secepat mungkin. Kalau boleh sebelum Proyek Sapu Katharsis bermula nanti, hihihi..."
Akademi Pulau Rintis, 30 Juli 2014 pukul 6:30
Pagi itu sungguh cerah. BoBoiBoy akhirnya tiba di depan gerbang sekolahnya. Sesekali dia melirik ke sekitar gerbang sekolah terutama di 'garis lintang' dimana Yaya biasa berdiri untuk berjaga, mengawasi siapa saja siswa-siswi yang sudah tiba di sekolah. Benar saja. Gadis berhijab pink itu sudah berada disana, lengkap dengan peralatan 'algojo' miliknya: Sebuah buku catatan kecil di tangan kiri dan Sebuah Bolpoin berkepala Domba di tangan kanan. Melihat Yaya berjaga disitu membuat hati BoBoiBoy agak mengidik juga. Sampai kapan temannya itu sanggup menjadi 'diktator' kesiswaan di Sekolah itu? Memang gadis itu hampir unggul dalam segala hal. Mulai dari ketua kelas, ketua klub pembuat Biskuit(?) hingga Presiden tertinggi semua unit kegiatan siswa di Sekolah. Dalam hati BoBoiBoy berpikir: Tidak bisakah Guru-guru memalingkan perhatian mereka dari Yaya walaupun hanya sekejap untuk memperhatikan siswa berbakat lainnya? Jujur saja, BoBoiBoy merasa sangat bangga sekaligus iri terhadap sang pengendali Gravitasi. Yaya memang baik dan ramah, namun sayangnya gadis itu terlampau Ambisius dan kelewat percaya diri. Saking percaya dirinya sampai-sampai gadis penyuka warna pink itu tidak mempermasalahkan rasa biskuit buatannya. Dia yakin seratus persen kalau Biskuit buatannya sangat enak, walaupun pada kenyatannya tidaklah demikian dan berbalik tiga ratus enam puluh derajat!
"HAI, BOBOIBOY!"
"GAHH!"
Tanpa sadar BoBoiBoy melamun di depan gerbang sekolah hingga Yaya menyapanya secara tiba-tiba. Sambil mengelus-elus dadanya karena kaget, BoBoiBoy menatap gadis itu dengan tegang.
"Ish, kau ni! Longgar Jantung aku," gerutunya, membuat Yaya tertawa kecil.
"Tu lah, melamun je dari tadi," goda Yaya, membuat BoBoiBoy cemberut. "Tak baik sering melamun tau. Nanti boleh ditarget bomoh buat kena rasuk!"
"Wey, jangan lah cakap yang bukan-bukan, terutama benda bomoh tu! Hiihh, merinding badan aku," balas BoBoiBoy dengan ekspresi gemetar. "Lagipun apahal kau dah berjaga kat gerbang sekolah pagi-pagi buta ni? Belum masanya buat bagi hukuman dekat murid yang lamban tau."
Yaya tersenyum. "Takde salah lah aku berjaga pagi-pagi ni," katanya senang. "Lagipun aku nak tengok sesiapa je yang disiplin masuk sekolah dalam masa satu bulan ini. Nanti aku bagi hadiah untuk murid yang senantiasa disiplin dan tepat waktu datang sekolah. Hebat tak idea aku?"
"Wuahh, hebat lah!" ujar BoBoiBoy dengan mata berbinar-binar. "Senang pon aku tengok kau hargai murid-murid yang disiplin datang ke sekolah. Oh, iye. Kalau boleh tahu, apa hadiah yang kau nak bagi kat murid yang senantiasa disiplin tu?"
"Hadiahnya? Mestilah lima pek biskut buatan aku. Itu hadiah yang patut buat murid disiplin. Kan? Kan?" Tukas Yaya mantap, membuat jantung BoBoiBoy nyaris copot mendengarnya.
"Alamak- kau nak bagi biskut kau sebagai hadiah buat murid paling disiplin?!" kata BoBoiBoy, nyaris menganga karena terkejut. "Nasib baik aku tak sering datang tepat waktu."
"Apa kau cakap?!"
"Ehh- tak, tak, tak! Maksud aku, nasib baik aku tak sering datang lamban."
Sang manipulator gravitasi tertawa. "Tahu tak pe," katanya riang. "Okey lah. Aku masih nak berjaga ni. Kau tak masuk ke? Nanti aku catat nama kau kerana lamban masuk kelas."
"Ha?! Oke, oke. Aku masuk sekarang. Bye, Yaya!" ujar BoBoiBoy cepat-cepat sembari berlari memasuki gerbang sekolah, meninggalkan Yaya disana dan melesat ke ruang Kelas 7 Cerdas. Sambil terengah-engah pasca berlari, Ia melangkah gontai ke mejanya yang terletak di samping jendela kelas yang menghadap ke lapangan dan menghempaskan bokongnya ke atas kursi. Gopal dan Iwan yang sudah sedari tadi berada di kelas melongo hebat melihat kemunculannya.
"Dey, apasal kau macam penat sangat ni, BoBoiBoy?" tanya Gopal heran. "Kau lepas dikejar Anjing Doberman milik Pak Senin Koboi ke?"
BoBoiBoy mengatur nafasnya sebentar sebelum akhirnya menjawab pertanyaan sahabatnya itu. "Bukan macam tu, Gopal," katanya dengan wajah letih. "Si Yaya tu... aku dah tiba tepat waktu pun dia masih nak catat nama aku dekat notes hukuman dia. Padapun ini masih dini hari."
"Haeh, tak payah kau hairan pasal Ketua Darjah kita tu, BoBoiBoy. Memang tebiat Yaya dah macam singa garang kalau dia dah berada kat sekolah," ujar Gopal menggerutu seraya kembali duduk di atas bangku kelasnya, begitu juga Iwan. Setelah itu, mereka langsung mengeluarkan beberapa lembar kertas polio bergaris tertulis dari dalam tas. Rupanya kertas-kertas itu adalah Tugas Review yang diberikan Papa Zola tempo hari mengenai Petualangan mereka selama berada di Sektor 456 dalam upaya menghentikan ONION. Melihat tugas-tugas review milik mereka membuat BoBoiBoy takjub. Jika dibandingkan dengan Tugas review milik BoBoiBoy yang hanya mencapai lima halaman, Tugas review Iwan dan Gopal terlihat begitu banyak. Mungkin lebih dari sepuluh halaman. Iwan mengambil Penjepit kertas dari kotak tempat alat tulisnya dan segera mengaitkannya di kertas-kertas review miliknya. Setelah itu dia menggumam tidak jelas karena terlalu senang.
"Wuah! Banyak betul reviu yang kau buat tu, Iwan. Terbaik lah!" puji BoBoiBoy kagum. Mendengar itu, Iwan terkesiap dan langsung menjatuhkan dirinya ke belakang karena tersanjung.
"Hmm, patut lah dia punya reviu panjang sangat. Dia dan Stanley kan ikut Ochobot dan Milyra X buat ambik cecair Penawar hilang ingatan dekat Lab Power Sphera," sanggah Gopal lesu, membuat BoBoiBoy memalingkan wajah ke arahnya dengan tatapan bingung.
"Ei? Bukannya kau punya reviu pon banyak ke? Aku tengok reviu kau ada lima belas halaman, tau."
Gopal mendengus. "Ini bukan cuma aku punya reviu, BoBoiBoy. Reviu punya Fang pun ada juga," katanya sambil memisahkan kertas-kertas review nya yang berjumlah lima halaman dari kertas-kertas review Fang yang berjumlah sepuluh halaman di atas mejanya. "Dia dijemput Kapten Kaizo semalam. Lantas dia titip tugas dia kat aku. Entah-entah diorang nak ambik cuti."
"Fang? Ambik cuti?" tanya BoBoiBoy segera, heran dengan info tentang Fang itu. "Maknanya dia tak masuk sekolah hari ni. Berapa hari dia ambik Cuti tu?"
"Kalau tak silap, Kapten Kaizo cakap tiga hari je."
"Tiga hari? Apa benda Kapten Kaizo dan Fang buat semasa cuti tu?"
"Entah," ujar Gopal mengangkat bahu. "Aku pun tak tahu. Baru je sehari kita lepas hapuskan Organisasi, ada benda lain pulak yang diorang nak buat. Macam tak betul je."
BoBoiBoy mendesah. "Mungkin ada benda penting yang diorang nak perbuat, Gopal. Jangan buruk sangka dahulu. Ada kemungkinan diorang punya agenda hebat. Tapi apa?"
"Hafiz, bangun."
Mendengar suara lembut familiar yang ditujukan padanya, Hafiz membuka kelopak matanya. Sesaat dia memicingkan matanya karena silau. Anak itu memandang sekeliling dan saat itulah ia melongo.
Dia berada di sebuah ruang kosong berwarna putih, seakan dia tidak berada dimana-mana.
"Apasal aku boleh ada kat sini?" tukasnya seraya menggaruk dagu, berpikir. Dia berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi. Hal terakhir yang diingatnya adalah: Dia bercengkerama dengan Dimas dan Mila di ruang santai markas GIDO sambil memakan biskuit buatan teman Mila yang bernama Yaya.
Itu dia! Sepertinya dia pingsan setelah memakan Biskuit itu. Bagi Hafiz, itu cukup mengherankan. Karena 'menurutnya', rasa Biskuit itu unik, dengan aroma khas zat besi dan kunyit. Jujur saja, Belum pernah dia merasakan biskuit dengan rasa seunik itu. Walaupun kedengarannya aneh, Hafiz merasa ingin mencoba biskuit itu lagi.
"Hafiz."
Suara familiar itu kembali memanggilnya, kali ini dari arah belakang. Hafiz mengerutkan kening. Dia tahu kalau dia tengah bermimpi di ruang kosong putih yang menunjukkan bahwa dia tidak berada dimanapun. Tapi suara familiar itu membuatnya penasaran. Setidaknya dia tidak sendirian disitu. Dengan sigap dia membalik badan dan kembali melongo hebat untuk kedua kalinya.
Tak jauh darinya berdiri sesosok orang yang dikenalnya. Penampilannya sama persis dengan saat kali terakhir Hafiz melihatnya di kamarnya dua tahun yang lalu. Hafiz menganga. Sosok itu tidak lain dan tidak bukan adalah Kakak perempuannya: Siti Zubaidah.
"Kak... Kak Siti?"
Terbata-bata Hafiz memanggil Kakaknya setelah sekian lama dia tidak pernah melihatnya selama dua tahun ini. Sungguh suatu kebetulan yang hebat dia melihat Siti disini. Tapi Hafiz tahu, ini hanya mimpi. Dan mimpi bukanlah sesuatu yang nyata.
"Hafiz, Akak senang berjumpa dengan kau disini. Macam mana khabar kau? Sihat?"
Mulai dari detik itulah Hafiz merasa dadanya sesak akibat kerinduan yang mendalam. Tubuhnya gemetar. Dia masih sadar kalau ini hanyalah mimpi, tapi entah kenapa kakinya tiba-tiba memaksanya berlari ke arah sosok Siti yang masih saja berdiri tak jauh di depannya dengan sebuah senyum hangat di wajahnya. Secara naluriah, Hafiz langsung merentangkan kedua tangannya sembari berlari menghampiri Siti, hendak memeluknya. Kedua matanya mulai berlinangan air mata. Tanpa bisa ditahan lagi, dia berseru keras-keras.
"AKAAAKKK!"
BRUK!
Tak disangka kedua tangannya menembus tubuh Siti, membuat Hafiz kehilangan keseimbangan dan tersungkur di belakang Kakaknya yang masih berdiri. Dengan wajah sembab karena menangis, Hafiz pelan-pelan bangkit sambil mengusap air matanya yang mulai mengalir deras menggunakan lengannya.
"A- Akak... kenapa... kenapa aku tak boleh sentuh Akak?"
Oh, tentu saja. Dia kembali sadar kalau ini semua hanyalah 'mimpi'.
Siti mendesah perlahan lalu membalik badan, berhadap-hadapan dengan Adiknya. "Hafiz, maafkan Akak. Tapi kau tahu sendiri ini semua bukanlah nyata."
"A- Aku tahu, kak," gumam Hafiz dengan suara tercekat. "Aku... Aku rindukan Kak Siti. Kak Siti kemana saja? Aku tak jumpa badan Akak selepas insiden hari tu. Hanya Liontin Akak je yang aku dan Dimas jumpa. Tapi kenapa aku boleh berjumpa dengan Akak disini? I- Ini hanya halusinasi aku ke ape?"
Siti menggeleng." Tidak, Hafiz. Ini bukan halusinasi. Ini memang Akak sorang," katanya lembut. "Sebab kenapa kau tak boleh sentuh Akak, itu rahasia. Belum masanya kau tahu perkara sebenar dari semua ni. Tapi Akak yakin kau akan jumpa benda tu di masa hadapan nanti."
"Jadi maksud Kak Siti, Aku akan jumpa Kak Siti di dunia nyata nanti?"
"Iya. Bisa dibilang macam tu," kata Siti riang. "Tapi jangan terlampau senang dengan pasal ni, Hafiz. Kau akan tekejut kalau kau tahu apa yang sebenarnya berlaku. Maafkan Akak sebab tak boleh berjumpa dengan kau untuk masa ni. Jumpa lagi, Hafiz. Salam dekat Ummi ye. Akak sayang kalian."
"Tidak..." Hafiz mendesis pilu begitu melihat tubuh Siti mulai menghilang. Diraihnya tubuh maya Kakaknya, walaupun hasilnya sia-sia. "Jangan tinggalkan aku, Kak. Aku mohon..."
"Maafkan Akak, Hafiz. Tapi waktu Akak dah habis."
"Tidak! Aku mohon, Kak Siti! JANGAN PERGI!"
Begitu ia meneriakkan kalimat itu, tahu-tahu Hafiz membuka matanya dan langsung terbangun dari ranjang kamar rawat dimana dia terbaring. Tubuhnya menegang dan basah karena berkeringat dingin. Kepalanya terasa berdenyut-denyut. Belum sempat ia mengenali keadaan sekitar secara jelas, sekonyong-konyong sebuah suara familiar terdengar dari tepi ranjangnya.
"Hafiz! Syukurlah kau dah sedar. "
Ia menoleh ke asal suara dan mendapati Mila yang duduk di sebuah kursi di samping ranjang rawatnya dengan tatapan khawatir. Hafiz melongo sejenak sebelum akhirnya ia mendapati Dimas yang duduk di sofa panjang yang terletak di salah satu sudut ruang rawat. Di sebelahnya tampak seorang gadis berdarah India yang tengah mengaduk sebuah karee. Gadis itu, seperti halnya Mila dan Dimas, langsung memekik gembira begitu melihat Hafiz siuman. Lantas didekatinya pemuda itu dan menyodorkan mangkuk karee nya.
"Aku senang kau dah siuman, kawan. Ini, makanlah. Aku buatkan Karee ni agar keadaan kau stabil balik."
Hafiz mendesah perlahan. Ia terdiam sejenak dan akhirnya mengambil mangkuk berisi Karee itu seraya berucap tulus.
"Terima kasih banyak, Tara."
Tara tersenyum simpul." Sama-sama, Fiz. Makan la yang banyak." Katanya lalu menoleh ke arah Dimas yang masih duduk malas di sofa." Dim, jom sini. Kau kena menerangkan kejadian sebenar kenapa Hafiz boleh pengsan dari semalam."
Mendengar itu, Hafiz yang baru saja menelan dua suap Karee nyaris tersedak. Ia terbatuk-batuk beberapa kali dan langsung menatap Mila, Tara dan Dimas secara bergantian.
"Aku pengsan selama dua hari?" tanyanya kaget. "Kenapa bisa?"
"Ehm- sori Hafiz, tapi sebenarnya ini aku punya salah," kata Mila gugup. "Tak tahu lah kalau Biskut buatan Yaya tu macam mengerikan hingga boleh buat orang-orang pengsan. Mana lagi kau dah makan hingga lima pek! Dah tahu rasa Biskut tu seram sangat, apasal masih kau makan jugak?"
Hafiz menyeringai. "Hehehe, sori Kak Milyra. Aku macam rasa kalau Biskut tu unik, kaya akan zat besi tau. Mungkin aku nak cuba rasa yang lain lagi, misalnya Biskut Asam manis ke apa. Yang jelas, aku suka biskut tu. Boleh tak aku order dekat Yaya lagi?"
Dimas menepuk keningnya sembari facepalm. "Fiz, sudahlah. Aku tidak yakin akan melihatmu makan biskuit lagi itu. Kau tahu, itu merepotkan kami."
Tara mengangguk. "Betul apa kata Dim. Tak payah kau nak buat diri kau pengsan balik, Hafiz. Nasib baik aku dah takde tugas laporan masa jumpa Kak Milyra dan Dimas dekat bilik rehat, jadi aku boleh diorang bantu jaga kau hingga siuman."
"Hehehe, sori. Tak sangka aku dah repotkan korang semua," kata Hafiz seraya menyeringai hambar. Mila tertawa kecil dan menoleh ke arah Tara seraya menggumam.
"Terima kasih sebab dah bantu aku dan Dimas urus Hafiz," katanya lembut. "Oh, iya. Maaf sebab aku baru perkenalkan diri aku dekat kamu sekarang, padapun kita dah berjumpa sejak semalam. Nama saya Milyra Sparklouise, member Eksklusif baru daripada GIDO. Salam kenal."
"Eh?" Tara membelalakkan matanya begitu mendengar nama Mila. "Ka- Kau Milyra Sparkouise?" tanyanya dengan mata berbinar-binar. "Waahh! Tak sangka aku berjumpa dengan Puteri Mahkota daripada Planet Tim Tam Dua lah, dey! Kyaaa! Salam kenal juga, Yang Mulia! Namaku Tara Singh, kawan baik daripada Dimas dan Hafiz."
Ia mengatakan itu sambil merangkul Mila erat-erat, membuat gadis pengendali gelombang itu menganga hebat. Ia baru berucap begitu rangkulan erat Tara mulai membuat dadanya sesak.
"Uh, i -iya... Tara, lepas...kan aku."
"Ah! Ma- Maaf, Yang Mulia. Tak sengaja aku," kata Tara cepat-cepat seraya melepaskan rangkulan mautnya dari Mila. "Aku macam tekejut tadi masa tahu Yang mulia ialah Milyra Sparklouise."
Mila menghela nafas panjang. "Takda pe, Tara. Aku maklum kot," ujarnya ramah. "Dan mungkin ada baiknya kalau kau tak panggil aku dengan sebutan 'Yang Mulia'. Aku bukan Puteri Mahkota Planet Tim Tam Dua lagi sebab aku dah dikudeta. Lagipun kita disini sama-sama pejuang, jadi jangan terlampau menyanjung aku, ya."
"Siap, Kak Milyra!" ujar Tara riang sembari menaruh sisi tangan kanannya di samping pelipisnya layaknya menghormati seorang Jenderal. Ia lalu menoleh ke arah Hafiz. "Nah, amacam rasa Karee buatan aku? Sedaap, kan? Kan?"
Hafiz mengangguk lemah. "Karee kau memang sedap, Tara," pujinya tulus. "Aku sebenarnya tak ragu lagi pasal Masakan buatan kau yang sedap sejak kita bertiga berkawan kat Sekolah Rendah. Kau memang jago masak!"
"Aww, jangan sanjung aku macam tu, Hafiz. Malu lah," kata Tara seraya tersipu malu saat mendengar pujian Hafiz mengenai Kelezatan Karee buatannya, yang sebenarnya tidak perlu dipertanyakan lagi karena sejak Kecil Tara sudah diajari masak-memasak oleh Ibunya walaupun Tara adalah anak orang kaya. Bukan hanya Karee, tapi Roti Naan dan Canai pun bisa dimasak olehnya menjadi makanan lezat. Hanya satu kelemahan Tara di bidang memasak: Dia kurang bisa memasak makanan yang manis-manis seperti Coklat, Donat, Es Krim ataupun penganan manis lainnya. Tara berharap bisa memasak makanan-makanan manis secara kilat, kalau saja Ibu dan Ayahnya tidak meninggal dua tahun yang lalu akibat Keracunan Gas beracun yang tiba-tiba mengepul di dalam Rumahnya. Hanya Tara dan Abangnya: Arumugam yang selamat. Begitu Ganesha Khan, adik dari Ibu Arumugam dan Tara mengadopsi mereka, Tara sudah jarang memasak di rumah karena Juru masak Khan terlalu menganggapnya sebagai seorang Putri Raja yang tidak pantas untuk memasak makanan di dapur. Maka sejak Tara bergabung di GIDO, ia mendapat Dapur pribadi sebagai hadiah karena berhasil menyukseskan misi pertamanya saat Infiltrasi ke Planet Darghaya satu setengah tahun yang lalu.
"Hafiz, maaf kalau aku menyinggung perasaanmu. Tapi aku mendengarmu mengigau tentang Kak Siti tadi," kata Dimas tiba-tiba, membuat Hafiz tertegun murung menatap sahabatnya itu. "Kau bermimpi bertemu dengannya atau bagaimana?"
Hafiz mengangguk pelan. "Iya, kau mimpi jumpa dia," katanya lesu. "Aku tahu kalau itu hanya mimpi, dan Kak Siti tidak lah nyata. Anehnya, dia kata aku akan jumpa dia kat masa hadapan nanti, di dunia nyata. Aku tak tahu apakah aku kena senang ke bingung."
Mendengar itu, Ketiga temannya mau tidak mau memberinya tatapan Simpatik. Tidak terasa sudah dua tahun berlalu sejak Siti menghilang pasca perhelatannya dengan Mimi. Hafiz sudah menanyakan hal itu pada teman-teman dari kelas 5A, tapi anehnya mereka semua seperti tutup mulut dan tidak mau tahu tentang masalah itu, terutama Mimi. Sejak kejadian itu Mimi seperti menghindari Hafiz. Padahal bukan sebuah rahasia besar lagi kalau Mimi memang menaruh hati pada pemuda cilik itu di samping BoBoiBoy. Tara bahkan meminta salah satu kenalannya yang bekerja di Kepolisian untuk melakukan pencarian walaupun pada akhirnya nihil. Setelah beberapa lama berusaha, Hafiz pun menyerah. Dia memutuskan untuk fokus ke GIDO guna melindungi Galaksi sekaligus mencari kakaknya yang menghilang, walaupun sepertinya hal itu nyaris tidak mungkin mengingat sudah beberapa tahun sejak raibnya gadis berhijab biru itu dari tengah-tengah Kota. Tapi Hafiz bukan orang yang mudah menyerah. Dia pun tidak menaruh curiga pada teman-teman baiknya terutama BoBoiBoy karena sejak kepergian anak bertopi jingga itulah semua hal mengerikan itu terjadi.
"Hafiz, aku tahu perasaan kau. Tapi aku fikir itu hanya halusinasi kau sahaja sebab terlampau sangat memikirkan keadaan Kakak kau," ucap Mila empati. "Aku pun sama macam kau, aku rindukan Adik kembar dan Bunda aku. Aku rindukan keluarga aku dan Planet aku. Kita kena terus usaha, apapun yang berlaku, okey?"
"Betul sekali apa yang dikatakan kak Milyra," angguk Dimas setuju. "Lagipula Kak Siti pernah bilang, selama kita saling mengingat, pertemanan kita tidak akan pernah sirna. Kak Siti itu teman baik kita. Kita harus yakin kita akan menemukannya suatu saat nanti."
"Lagipun kau masih punya kita. Kita akan selalu bantu kau. Itu lah gunanya kawan, kan?" ujar Tara riang. "Aku yakin kita boleh!"
Mendengar kalimat-kalimat tulus mereka mau tidak mau membuat Hafiz terharu juga. Dia bersyukur memiliki teman-teman yang perhatian seperti mereka ini. Tanpa sadar, ia menyunggingkan sebuah senyum lega.
"Kawan-kawan, terima kasih," tukasnya bahagia. "Korang betul. Walaupun aku belum pernah jumpa Kak Siti lagi, Aku masih punya Ummi dan juga korang. Korang ialah sahabat aku. Aku akan selalu ingat korang, apapun itu."
Tara tertawa kecil. "Deya, tak payah lah cakap macam kita baru kali pertama berjumpa," katanya geli. "Kau ni ada hal je lah, Fiz."
Mereka pun tertawa setelah mendengar humor segar milik Tara itu sampai akhirnya tawa mereka terputus begitu seseorang membuka pintu kamar rawat. Ternyata Bu Anisa, Sang Ketua GIDO. Melihat wanita paruh baya di ambang pintu itu membuat keempat anggota GIDO itu buru-buru mengubah sikap tubuh mereka menjadi sangat sopan. Tentu saja tingkah gelagapan mereka membuat Bu Anisa merasa geli.
"Ah, anak-anak... korang ada kat sini rupanya," katanya senang. "Maaf sebab dah ganggu masa rehat korang, tapi ada beberapa benda yang saya nak bagi tahu kat korang berempat."
"Apa itu, Nyonya Anisa?" tanya mereka hampir bersamaan. Bu Anisa menghembuskan nafas sebentar sebelum akhirnya melangkah masuk ke kamar rawat itu.
"Baiklah. Ini benda yang korang kena buat," ucapnya memulai. "Dimas, saya nak kamu pegi sekejap ke Laboratorium utama. Salah sorang member daripada Divisi kau menjumpai sebuah cetak biru misterius yang dibawakan oleh salah sorang Intel luar kita. Cetak biru tu nampaknya masih hangat. Saya nak kamu dan member Divisi kamu buat menelaah apa maksud daripada Cetak biru itu. Kalau kamu dah berjaya dapatkan maksud daripada Cetak biru tu, bawa langsung hasil analisa kamu ke Tuan Chang. Tara, saya harap kamu mengurutkan semua laporan misi pengintaian Divisi kamu terhadap Planet-Planet yang kau dan member Divisi kau awasi selama enam bulan terakhir ini dari A hingga Z, dan tolong bagi masukan daripada Divisi kau dekat tiap-tiap laporan, nanti Tuan Chang akan siasat apakah laporan-laporan tu layak buat kita kaji atau tidak. Hafiz, saya tahu kalau keadaan kamu masih belum stabil, tapi bukan berarti kamu akan saya bebaskan dari tugas. Selepas keadaan kau pulih balik, saya nak kamu dan Divisi kamu beredar ke Planet Gurunda. Ada serangan robot-robot pelik dekat Kampung Kaktus. Saya nak kamu pertahankan Kampung tu dan kalau bisa, ambik maklumat daripada asal robot-robot tu. Dan Milyra, kerana kamu ialah member baru, saya akan bincang empat mata dengan kamu selepas ni. Faham, semua?"
"Faham, Nyonya Anisa," jawab Dimas, Hafiz dan Tara dengan sigap, kecuali Mila karena dia belum tahu apa pekerjaan yang akan diberikan Bu Anisa untuknya.
Begitu mereka keluar dari kamar rawat Hafiz untuk membiarkan anak itu beristirahat sebelum menjalankan misi barunya, Mila mengekori Bu Anisa berjalan di sepanjang lorong. Ia berusaha menyamakan langkah kakinya dengan wanita itu. Setelah berhasil berjalan berpapasan, Ia pun bertanya.
"Nyonya, apa benda yang Anda nak bagi tahu dekat saya?"
Bu Anisa tersenyum simpul. Ia dan Mila melangkahkan kaki masuk ke dalam Lift. Ditekannya tombol menuju lantai tiga puluh dimana Kantornya berada. Begitu lift mulai naik, ia memulai penjelasannya.
"Ini mungkin terdengar pelik, tapi saya sudah mulai merancangkan sebuah Divisi untuk kamu."
"Ehh?"
Mila melongo hebat. Sebuah Divisi? Dia bahkan baru seumur jagung di badan GIDO ini, tapi tak disangka keberadaannya membuat GIDO akan bertambah satu Divisi lagi disamping empat Divisi cabang yang sudah ada. Dalam hati Mila berpikir, Divisi macam apa yang akan diembankan Bu Anisa untuknya?
Melihat reaksi kaget gadis itu, Bu Anisa terkekeh sebentar lalu melanjutkan, "Ini memang masih sebuah rancangan. Tapi kamu tengok sendiri, Mila. Saya macam terlampau banyak tanggung jawab. Nampaknya Divisi Nebula yang saya pimpin kena dikurangi tugasnya, khususnya buat perancangan misi Divisi lain kat lapangan serta Back up planning-nya. Maka dari tu, saya merancangkan sebuah Divisi buat kamu. Divisi kamu akan berinisial Star. Tapi sebelum idea saya ini terwujud, saya nak kamu konsultasi dekat seseorang yang hebat kat Planet Darghaya buat bagi ilmu perihal rancangan lapangan dekat kamu."
"Konsultasi kat Planet Darghaya? Siapa orang yang Anda maksudkan ni?" tanya Mila heran. Pasalnya sepanjang pengetahuannya, Planet yang disebutkan Bu Anisa itu memiliki makhluk hidup berakal yang minim. Tidak mungkin kan kalau Mila disuruh berkonsultasi dengan Makhluk-Makhluk primitif disana?
Bu Anisa menoleh ke arahnya dengan senyum mengembang. "Tenang sahaja, Milyra. Dia akan bagi konsultasi yang berguna buat kamu kedepannya. Percayalah, Encik Tarung akan bagi semua ilmu dia perihal rancangan di lapangan semasa misi berlangsung mengikut pengalaman dia sebagai bekas Laksamana dengan sangat efisien. Semoga berjaya, nak."
Selesai mengatakan itu, Bu Anisa lalu keluar dari Lift yang berhenti di lantai 5 dimana gedung parkir berada dan melangkah menuju salah satu Pesawat Angkasa Induk. Merasa janggal dengan itu, Mila yang seharusnya menetap di Lift untuk pergi ke ruang kerjanya guna menyiapkan segala sesuatu untuk perjalanannya ke Planet Darghaya dua hari kemudian tahu-tahu keluar dari Lift dan menyusul sang Ketua GIDO sambil berseru.
"Nyonya Anisa! Kejap, Mana Engkau nak pergi?"
Mendengar seruan Mila, Bu Anisa lalu membalik badan dan tersenyum. "Maaf, Mila. Tapi untuk saat ini saya kena pergi kat Bandar utama Persatuan antar Galaxy guna mendiskusikan masalah teruk perihal kes jenayah pemburuan Liar Sfera Kuasa. Maka dari tu, saya kena pergi sekarang. Tuan Chang akan mengurus Markas GIDO selama saya pergi, okey?"
"Ehh?" Mila melongo mendengar kalimat itu. "Ta- Tapi untuk apa? Ingatkan Anda hanyalah Cikgu Honor kat Akademik Pulau Rintis dan Ketua GIDO, tapi ternyata Anda pon nak masuk campur dekat hubungan formal antar Galaxy. Siapa diri Anda sebenarnya?"
Bu Anisa menatap Mila dengan sorot mata seorang ibu yang tengah berbicara kepada anaknya. "Saya hanyalah Manusia biasa, Milyra. Saya bukan orang yang terlampau berpengaruh dekat Galaxy ni. Saya jadi Ketua GIDO pun hanya sebab GIDO butuh saya, entah apa maksud dari itu. Di samping itu, saya ialah salah satu dari sekian wakil Planet Bumi dalam Persatuan antar Planet dan Galaxy. Manusia dan Makhluk-Makhluk hidup lainnya butuh kedamaian. Maka dari tu, saya kena wujudkan benda tu, cepat atau lambat. Mungkin ini dah buat kamu terkejut, tapi saya tahu kamu akan fahamkan semua ni, terutama jika kamu dah berjaya ambik balik Takhta kau sebagai Ratu sah Planet Tim Tam Dua dekat masa hadapan. Baiklah, mungkin itu sahaja yang akan saya sampaikan dekat kamu, Milyra. Harap-harap kamu akan kerasan buat menjunjung tinggi Kebenaran. Jumpa lagi."
Selesai menjelaskan, Bu Anisa kemudian melempar senyum hangat pada Mila yang masih saja terbengong-bengong pasca mendengar berbagai info mengenai dirinya terhadap sang manipulator gelombang sebelum akhirnya membalik badan dan masuk ke dalam Pesawat Angkasa Induk diiringi beberapa pengawal pribadi dari Divisi Nebula. Tak lama kemudian, Pesawat Angkasa Induk itu terangkat ke udara dan langsung melesat dengan sekejap mata menuju langit. Mila yang melihat itu masih mematung di tempat karena ling-lung.
"Uhh, apahal lah Nyonya Anisa ni. Beliau memang sulit ditebak," tukasnya pening sambil berjalan menuju Lift. "Ah, jangan ambil pusing, Milyra. Sekarang bukan masanya untuk memikirkan benda pelik macam tu. Aku kena fokus dekat misi perdana aku buat cari Laksamana Tarung dekat Planet Darghaya agar dapatkan maklumat dan konsultasi. Semoga peribadi dia sesuai dengan yang aku harapkan."
Gedung Markas ONION, 30 Juli 2014 pukul 15:00
Seperti yang telah diagendakan sebelumnya, Para Anggota Supreme Diamond yang masih menjabat menyempatkan waktu mereka untuk rapat besar kelanjutan penyusunan rencana pengaktifan alat kemansyuran hasil rancangan dari Haryan Pakpak Darwish plus diskusi mengenai kandidat dua kursi kosong di keanggotaan Supreme Diamond yang kini dipimpin oleh Ashrlati. Sekarang tinggal menunggu Mimi, yang tampaknya agak telat untuk datang ke rapat karena harus membersihkan 'Boneka-boneka' manekin miliknya di ruang boneka terlebih dahulu. Ah Ming terpaksa menunggunya sambil mendesah panjang.
"Mimi, bila kau nak selesaikan acara bersih-bersih kau ni? Supreme Diamond dah tunggu kau lah. Tanpa kehadiran kau, rapat besar ni takkan dimulai."
"Sabar sikit, Ah Ming. Aku tak lama kot," balas Mimi tanpa menoleh sedikitpun ke arah sahabatnya yang masih saja merenggut di sebelahnya. "Masih ada dua patung lagi."
"Hmm- dua patung konon, tapi masa buat bersihkan mereka dah macam bersihkan empat patung dah."
"Hehe, sori. Tunggu sekejap ye."
Ah Ming mendesah kembali melihat tingkah laku Mimi. Dalam hati ia berpikir, sampai kapan Mimi akan terobsesi dengan Boneka-boneka manekinnya yang jauh dari kata normal itu? Gadis bermata sipit itu jadi merinding, karena baik dia maupun Ah Meng dan Arumugam sudah tahu darimana asal boneka-boneka itu. Diliriknya boneka berhijab biru dan berenda kuning serta berwajah sayu yang berada tak jauh di ujung ruangan. Mau tidak mau Ah Ming merasa sedih juga melihat 'mayat' salah satu temannya itu. Dia tahu kalau Pembunuhan yang dilakukan Mimi terhadap Siti terasa berlebihan. Tapi mau bagaimana lagi? Ah Ming dan kedua teman lelakinya tahu kalau mereka melakukan suatu kesalahan fatal di hadapan Mimi yang tampaknya sudah memiliki mental 'Pshycopath Womanchild', maka nasib mereka akan berakhir seperti Kakak perempuan dari Hafiz itu.
"Ah Ming? Halooo? Ah Ming!"
"Ekh?"
"Apahal kau melamun ni?" tanya Mimi heran, membuyarkan fokus Ah Ming tentang penurunan mental temannya. "Aku dah selesai bersihkan semua patung manekin aku. Eh, kau jadi melamun pulak. Ada yang tak beres ke?"
Melihat wajah penasaran Mimi, Ah Ming cepat-cepat mengubah sikapnya. "Ah, takda pe. Bukan perkara teruk pon," ujarnya sembari menyeringai kecil. "Jom lah, ahli Supreme Diamond lain dah tunggu kita tau. Lagipun aku masih ada keje sekolah, jadi aku tak nak berlama-lama dekat rapat tu."
Mimi tertawa. "Tahu takpe. Aku pon ada keje sekolah juga," ucapnya sembari cengengesan. Ia lalu merapikan alat-alat pembersih boneka miliknya, menaruh mereka semua di Laboratorium di sebelah Istana Boneka dan langsung menyambar tangan Ah Ming, menyeret gadis itu menuju ruang rapat dimana anggota-anggota Supreme Diamond yang lain sudah menunggu. Begitu mereka sudah tiba disana, sekonyong-konyong Mimi mendorong pintu ruang rapat keras-keras hingga menimbulkan suara bedebum, membuat para anggota Supreme Diamond yang berada di ruang rapat mengelus-elus dada mereka saking kagetnya.
"Halo, rakan-rakanku yang tersayang! Maaf sebab dah buat kalian menunggu," ucap Mimi sembari melempar senyum kekanakannya ke segala penjuru ruangan bak orang nyentrik. "Aku lepas bersih-bersih kat Istana Patung tadi, jadi datang lamban sikit."
"Hmm, Ye lah tu. Ratu Lamban dah muncul dah," sindir Arumugam kesal sembari melipat kedua lengannya di depan dada dengan gaya bosan. "Kau ni dah jadi Ketua ONION, bukan lagi budak kecik yang suka datang lambat ke tadika lah, dey."
Sebastian tertawa mengejek. "Betul apa yang Aru cakap. Kau memang belum patut buat posisi Ketua ONION, Mimi," desisnya sarkastik. "Kalau sahaja kau bukan anak daripada Tuan Haryan, dah lama aku tendang kau keluar dari sini."
"Ma- Maaf..." Mimi buru-buru mendatangi kursinya yang terletak di salah satu ujung meja rapat Supreme Diamond yang panjang dan duduk dengan sikap kikuk akibat diprotes beberapa kali oleh rekan-rekannya. Seharusnya dia memulai acara bersih-bersih Istana Boneka sejak kemarin, bukannya mulai membersihkan mereka saat awal Siang tadi agar dia tidak terlambat datang untuk menghadiri rapat ini.
Ashrlati yang berada di ujung lain meja panjang tempat rapat akan dilaksanakan menatap gadis itu dengan wajah empatik. Dia merasa kasihan juga dengan Ketua baru dari ONION ini. Mimi memang masih terlalu muda dan kekanakan sehingga banyak dari anggota Supreme Diamond maupun prajurit bawahan ONION yang kurang menyukainya, walaupun dari segi kekejaman Mimi dan Haryan nyaris tidak ada bedanya. Wanita Cyborg itu menghela nafas panjang lalu berdehem, membuat seisi ruang rapat terdiam dalam sekejap dan mengalihkan pandangan ke arahnya.
"Baiklah, rakan-rakan sekalian yang terhormat. Apa kata kalau kita mulakan sahaja rapat besar kita mengenai Pelaksanaan pengaktifan Sapu Katharsis hasil rancangan Tuan Ketua Haryan dan Pelengkap Supreme Diamond ini? Berhubung Nona Ketua Mimi sudah ada, jadi kita mulakan sahaja, oke?"
"Fyuh, akhirnya bermula juga," gumam Ah Meng sembari bertopang dagu. "Kalau bisa, kita pantaskan je lah rapat ni. Saya nak keje tugas sekolah wo.
Ashrlati tersenyum simpul. "Baiklah kalau macam tu. Mari kita mulakan rapat," katanya segera lalu menatap anggota Supreme Diamond satu persatu. "Berhubung Rosaline selaku Ketua Supreme Diamond dah tiada, juga Nona Mimi yang sudah menjadi Ketua ONION, maka saya umumkan kita kena cari dua member baru buat mengisi member yang kosong. Ada usulan?"
Sebastian mengangkat tangannya. "Hei, aku ada usul," katanya dengan gaya meyakinkan. "Apa kata Fragrance dan Violet sahaja yang isi dua tempat kosong daripada member Supreme Diamond? Diorang patut buat posisi tu."
Mendengar itu, Ah Meng refleks mengangguk tanda setuju. "Iya hoo. Saya setuju dengan usulan punya Tian," ungkapnya. "Lagipun diorang memang dah tak kerasan sebagai manifestasi daripada kuasa gelombang milik Milyra."
"Saya tidak setuju," ucap Syrena tiba-tiba. "Sori, Sebastian. Tapi aku lagi suka kalau member daripada Supreme Diamond ialah Makhluk hidup asli, bukan hasil manifestasi daripada kuasa. Kau faham maksud aku, kan?"
"Apa?!" tukas Sebastian kaget. "Dengar, kau Siren jadi-jadian, aku sudah anggap diorang sebagai Makhluk hidup utuh. Lagipun diorang ialah Milyra yang aku harapkan. Diorang tu kuat dan tak lembek macam Milyra. Yang jelas aku dah tetapkan kandidat aku untuk jadi member Supreme Diamond yang baru, camkan itu!"
"Sudah, sudah! Jangan begaduh!" lerai Ah Ming segera. "Tian, aku tahu kau mahukan Milyra Fragrance dan Milyra Ultraviolet jadi member Supreme Diamond, tapi kau kena ingat: Diorang bukan makhluk hidup utuh. Diorang hanya pecahan kuasa. Jika diorang tiba-tiba terpaksa menghilang kerana kuasa empu diorang juga hilang, maka itu hanya akan membuang masa. Bukan begitu, Mimi?"
Mimi melongo. "Ehh, sebenarnya aku lagi sukakan Fragrance dan Violet join ke Supreme Diamond," tukasnya malu-malu. "Diorang dah ada disini, jadi kita takkan penat buat cari ahli pasukan baru."
"Saya setuju ma. Lagipun diorang mungkin boleh berguna buat operasi kita di masa hadapan," tanggap Ah Meng dengan senyum simpul. "Saya lagi suka kalau perekrutan kita dilakukan secara instan dan pantas."
"Ashrlati, aku benci cakap benda ni, tapi aku kurang suka kalau ada member baru yang lemah," tukas Arumugam. "Untuk apa kita mencari member baru yang lemah kalau kita sudah punya sekutu yang kuat?"
Ashrlati menelan ludah, kebingungan. Orientasi rekan-rekannya ini memang hanya memandang Kekuatan sebagai tolak ukur yang pantas untuk Supreme Diamond serta sifat malas mereka yang sudah memandang kedua pecahan terakhir dari Mila itu sebagai kandidat nomor satu. Tapi kalau memikirkan risiko, maka Ashrlati memilih untuk tidak menyetujui Fragrance dan Violet sebagai kandidat utama Supreme Diamond yang notabene adalah kelompok Eksekutif ONION sejak zaman bihari, yang dimana anggota-anggotanya seharusnya tidak melulu memakai Otot namun juga Otak sebagai penyeimbang. Dengan berat hati ia memejamkan mata dan berucap.
"Kawan-kawan... maaf, tapi menurut saya usul Sebastian tak dapat diterima secara sambil lalu," katanya tegas. "Memang pon Milyra Fragrance dan Milyra Ultraviolet memihak kita, tapi itu bukannya bermakna kalau diorang akan punya peluang sehingga seratus peratus menjadi member daripada Supreme Diamond. Maka dari tu, saya serahkan pencarian Kandidat kepada Syrena. Jadi Nona Mimi, macam mana menurut Anda?"
Diserang seperti itu membuat Mimi gugup juga. Di satu sisi pendapat Ashrlati itu ada benarnya namun di satu sisi dia ragu apakah ada kandidat yang lebih kuat diluar sana? Tapi mengingat Fragrance dan Violet bukanlah makhluk hidup utuh dan hanya pecahan dari kekuatan Gelombang milik Milyra, mau tidak mau Mimi beranggapan tidak ada salahnya kalau mencari kandidat yang lebih banyak lagi diluar sana.
"Baiklah. Kalau difikir-fikir, saranmu ada betulnya juga, Ashrlati," ucapnya kemudian. "Tapi takkan lah Syrena bekerja sorang-sorang. Dia mesti dibantu."
Ashrlati mengangguk. "Baiklah. Kerana Nona Mimi dah memutuskan kalau pencarian kandidat lah yang lagi baik, maka kita akan fokus mencari kandidat luar ONION yang berpotensi mengisi kekosongan dua member daripada Supreme Diamond. Dan seperti yang saya cakap tadi, Syrena-lah yang bertanggung jawab dalam masalah ini. Aku serahkan semua ni pada kamu, Syrena. Kau pon boleh minta bantuan yang lain jika perlu."
Syrena tertawa. "Serahkan padaku," katanya dengan tawa renyah. "Akan aku usahakan mencari siapa yang terbaik buat Supreme Diamond. Tapi dengan syarat, aku kena diberi hak istimewa sesuai yang aku mau."
"Tenang sahaja, Syrena. Semua dah terkawal baik," kata Ashrlati. Mendengar keputusan itu, Sebastian jadi cemberut dibuatnya. Padahal dia sudah berharap banyak agar kedua pecahan dari saudari kembarnya lah yang akan mengisi dua kursi kosong bekas Mimi dan Rosaline. Baginya Fragrance dan Violet mengingatkannya pada Bundanya, dan dia akan melakukan apapun untuk membuat kehadiran kembali terasa olehnya apapun caranya, walaupun sebenarnya dia sudah ada agenda tersembunyi untuk itu.
"Baiklah. Sebab pasal kandidat buat mengisi dua member kosong untuk Supreme Diamond dah selesai, maka kita pindah ke topik selanjutnya," kata Ashrlati mantap. "Sapu Katharsis kini sudah siap buat diaktifkan. Hanya sahaja kita masih belum punya masa yang pasti buat benda tu. Ada usulan?"
Arumugam mengangkat tangannya. "Aku ada usul," katanya cepat. "Apa kata kalau kita aktifkan Sapu Katharsis dua bulan kedepan? Mungkin ini terkesan terlampau pantas, tapi aku paling tidak suka mengulur-ulur waktu."
"Boleh juga. Akan aku pertimbangkan usulanmu itu, Aru," ucap Ashrlati halus. "Yang lain?"
"Tunggu. Aku tak setuju," kata Ah Ming segera. "Korang tak ingat ke kalau Azurian baru mulakan Proyek Plan-T buat Sapu Katharsis selepas diaktifkan nanti? Proyek tu baru bermula tahun ini. Nampaknya proyek Plan T tu baru akan siap enam bulan lagi, dan masa untuk uji cobanya pon boleh makan masa hingga enam bulan kalau kita nak hasil yang maksimal. Tanpa Plan-T, Operasi pengaktifan Sapu Katharsis takkan ada gunanya bak nasi tanpa lauk."
Ashrlati mangut-mangut. "Betul juga apa yang kamu cakapkan tu, Ah Ming," ujarnya bimbang. "Saya baru ingat kalau Sapu Katharsis takkan berguna tanpa adanya hasil dari Plan-T rancangan Haryan dan disupervisi oleh Azurian. Mungkin kita kena ulur masa buat sekejap buay aktifkan Sapu Katharsis sambil menunggu proyek Plan-T berhasil terwujud. Lagipun kita takkan mampu buat hancurkan musuh kalau Supreme Diamond masih belum lengkap. Tak sangka benda ni jadi macam rumit sangat. Apa kita kena buat ni?"
Lama mereka membisu, berpikir keras kapan waktu yang pas untuk mengaktifkan Sapu Katharsis sekaligus proyek Plan T yang sudah rampung sebelum itu. Sekonyong-konyong Mimi membuka mulut, membuyarkan kebisuan di ruang rapat itu.
"Kawan-kawan, Sebenarnya ini sudah lama aku rancangkan. Tapi aku takut korang takkan setuju dengan aku," ucapnya ragu, membuat semuanya memandanginya dengan raut muka keheranan.
"Apasal kau baru cakap sekarang?" ujar Sebastian gemas. "Cepatlah, bagi tahu kitorang apa yang ada kat fikiran kau tu!"
"Betul. Mungkin dengan itu kita akan lagi pasti untuk masa pengaktifan Sapu Katharsis," ungkap Ashrlati." "Ayo, Nona Mimi. Cakap je lah apa usulan kamu. Kami akan dengarkan, sebab kamu lah Ketua ONION sekarang."
Untuk beberapa saat Mimi merasa lidahnya kelu. Dalam hati ia merasa deg-deggan juga. Tapi mau bagaimana lagi, rencana pengaktifan Sapu Katharsis sudah dia simpan di benaknya sejak lima hari yang lalu dan sudah ia susun sematang mungkin. Dihembuskannya nafasnya, berusaha menenangkan dirinya sendiri. Setelah siap, ia memulai usulannya dengan senyum aneh diwajahnya.
"Aku nak Sapu Katharsis diaktifkan satu tahun yang akan datang. Lagipun kemungkinan besar Plan-T dah terwujud di masa itu. Amacam? Idea aku bernas, kan? Dengan begitu kita akan punya banyak masa buat meneror 'kawan-kawan' kita, hihihi..."
Tiga hari pun berlalu. Fang berhasil menyelesaikan perekrutannya sebagai Anggota TAPOPS. Dengan senyum mengembang ia mengepak barang-barangnya sebagai persiapan untuk pulang ke Bumi malam ini. Sayangnya itu tidak berlangsung lama, karena satu tahun setengah lagi dia akan sering datang ke Markas TAPOPS untuk menjalankan misi, dan tentunya hal itu akan mengurangi waktunya untuk menikmati kebersamaan dengan kawan-kawan manusianya di Bumi.
"Fang, kau masih berkemas ke?"
"Huh?"
Fang melempar pandangannya ke ambang pintu kamar dimana suara itu berasal. Disana berdiri Sai dan Shielda, yang tampaknya kurang nyaman melihat kepergian teman baru mereka yang bisa mengendalikan bayangan itu. Mereka masuk ke dalam kamar sewa Fang di markas TAPOPS dan membantunya mengemas barang-barangnya walaupun ekspresi wajah mereka tampak berat hati.
"Te- Terima kasih," ujar Fang malu-malu gengsi begitu melihat Sai dan Shielda membantunya mengemasi barang-barangnya dengan cekatan. Mereka melakukan itu tanpa berbicara sedikitpun selama kurang lebih sepuluh menit. Setelah itu, Sai membuka mulut.
"Kau pasti ke malam ni nak pergi balik ke Bumi?"
Fang mengangguk. "Iye," jawabnya jujur. "Lagipun aku ada kawan-kawan baik kat sana. Diorang mesti dah rindukan aku."
"Kau beruntung, Fang. Kau punya kawan baik kat Bumi," ujar Shielda kagum. "Aku dan Sai tak punya kawan satupun kat Bumi. Seumur hidup, kami hanya beborak di Planet-planet selain Bumi. Kami bahkan tak tahu macam mana sikap Manusia kat Bumi kalau diorang nampak kami."
"Haih, paling-paling diorang akan sangka korang budak Bumi juga lah," tanggap Fang sembari menutup kopernya dan menguncinya dengan gembok kecil. "Dibandingkan Alien-alien lain yang ada kat Galaxy ni, kitalah yang paling identik dengan Manusia. Bahkan kawan-kawan Bumi aku tekejut semasa diorang tahu kalau aku ni Alien. Tenang sahaja, aku yakin diorang tu ramah."
"Macam tu ke?" tanya Sai mangut-mangut. "Aku rasa aku akan kerasan kalau aku berjumpa dengan diorang nanti. Diorang nampak macam menarik-"
'Ya, ya... aku jamin diorang akan menarik buat kamu. Mesti seronok kalau tengok korang bergabung untuk dihancurkan, hahahaha...'
"AKH!"
Sekonyong-konyong suara wanita itu kembali berdengung-dengung di telinganya dan menyebabkan sakit kepala yang sangat, membuat Sai langsung merosot turun ke lantai sembari memegangi kepalanya dan meringis kesakitan. Melihat gelagat Sai yang tiba-tiba seperti itu, Fang dan Shielda buru-buru menghampirinya dan memapahnya ke kasur di kamar Fang.
"Sai!" lagi-lagi Shielda kembali dilanda kecemasan akan peristiwa yang sering dialami saudara kembarnya ini. Disandarkannya kepala Sai ke bahunya. Anak itu berkeringat dingin dan tampaknya sudah hampir pingsan.
"Ugh, Shi- Shielda... dia... dia lagi..." ujar Sai putus-putus hingga akhirnya tidak sadarkan diri, membuat Shielda nyaris menjerit. Fang yang tidak tahu apa-apa langsung melongo hebat melihat kejadian itu. Didekatinya kedua anak kembar itu dan menyodorkan obat hirup pada Shielda untuk digunakan Sai.
"Shielda, apa benda yang berlaku dekat Sai hingga dia pengsan macam ni?" tanya Fang segera. Shielda yang tengah sibuk menaruh obat hirup pemberian Fang di hidung saudaranya lalu menatap sang manipulator bayangan dengan tatapan khawatir bukan kepalang.
"Maaf sebab tak bagi tahu kau perihal benda ni, Fang. Tapi akhir-akhir ini Sai sering pengsan macam ni," akunya khawatir. "Kau mungkin takkan percaya, tapi Sai cakap dia sering alami sakit kepala lalu pengsan selepas dengar suara seorang wanita kat benak dia."
"He- eh? Dia pengsan selepas dengar suara seorang wanita?" tanya Fang heran. "Wanita siapa?"
"Entah. Aku pun tak pasti, tapi aku punya firasat kalau wanita yang ia maksudkan ialah Mawar Liar yang bernama asli Rosaline."
"APA?!"
Fang kaget sekali begitu mendengar kalimat Shielda. Ditatapnya Shielda nanar, membuat gadis itu gugup melihat tatapan menyerang dari Fang itu.
"Fa- Fang, apahal kau ni?" tanya Shielda kekeran. "Apa yang-"
"Kau cakap Rosaline yang serang fikiran Sai?" tanya Fang, seakan minta kepastian lagi. Shielda mengangguk kecil tanda respon, walaupun ia masih kebingungan dengan sikap Fang yang tiba-tiba berubah menjadi agresif. Masih memandang Shielda lekat, Fang kembali menggumam dengan nada ketidakpercayaan.
"Tak mungkin," desisnya getir. "Dah sangka pon dia sudah terhapuskan. Tapi kenapa dia boleh serang fikiran Sai?"
Shielda menelan ludah. "Aku- Aku pon tak tahu kenapa benda ni boleh berlaku. Aku juga tak tahu kenapa hanya Sai yang diserang macam ni. Kau kenal wanita yang bernama Rosaline tu ke?"
Fang membuka mulut, hendak menjawab pertanyaan Shielda. Sayangnya dia tidak jadi melakukannya begitu Kaizo tahu-tahu muncul di ambang pintu seraya mengomel.
"PANG! Apasal kau masih berehe-rehe kat situ, Hah?! Dah lama aku tunggu kau kat Kapal Angkasa. Kau nak balik ke Bumi ke tak?!"
"Egh?! Okey, okey. Saya nak balik ke Bumi, Kapten," balas Fang gugup lalu mengambil kopernya. Sebelum ia keluar dari kamar sewanya, ia menghampiri Shielda yang masih saja berusaha membuat Sai siuman dan bergumam.
"Aku kenal dia, Shielda. Aku kenal Rosaline. Tapi mungkin aku tak boleh bincangkan pasal tu dekat kau sekarang. Mungkin aku boleh sambung balik penjelasan aku lain masa nanti."
"Okey," angguk Shielda pelan. "Terima kasih, Fang. Jumpa lagi."
Fang balas mengangguk. "Jumpa lagi," katanya ramah sebelum akhirnya dia dan Kaizo menghilang di ujung serambi yang mengarah ke kait parkir markas TAPOPS. Shielda menatap kepergian temannya dengan harap-harap cemas. Diliriknya Sai yang masih juga belum sadarkan diri di pangkuannya. Dalam hati Shielda berharap semua ini akan terjawab pada waktunya.
Taman Kota Pulau Rintis, 3 Agustus 2014 pukul 14:00
Hari ini adalah hari terakhir sebelum ujian tengah semester. Untungnya Fang tiba tepat pada waktunya karena untuk ujian tengah semester tersebut akan berlangsung keesokan harinya yang berlangsung selama dua pekan. Setelah itu akan dilanjutkan dengan libur selama dua pecan pula. Di Kedai Kokotiam tampak BoBoiBoy dan keempat sahabat Superhero-nya yang tengah belajar bersama untuk hari esok. Ochobot dan Tok Aba tampak sibuk membersihkan piring dan gelas, mumpung Kedai Kokotiam sedang tidak ada pelanggan. Melihat keseriusan cucunya dan teman-temannya belajar, Tok Aba terkekeh.
"Wuih, tumben Atok tengok korang serius belajar ni. Biasa pon begaduh."
Gopal mendesah. "Haish, mestilah kami kena serius, Tok Aba. Saya tak nak dapat markah rendah kat Peperiksaan nanti," ujarnya takut. "Kalau Markah saya rendah, Appa saya takkan bagi saya pegi cuti kat Kuala Lumpur nanti!"
"Ei? Pegi bercuti kat Kuala Lumpur?" tanya Tok Aba heran bercampur takjub. "Siapa punya idea tu?"
"Hehehe, sebenarnya itu idea BoBoiBoy, Tok," kata BoBoiBoy sambil cengengesan. "BoBoiBoy nak bawa kawan-kawan BoBoiBoy bercuti kat KL nanti. Lagipun BoBoiBoy dah mintak persetujuan dari Ayah lewat telefon semalam. Ayah kata boleh, selama kitorang tak buat benda teruk kat sana."
"Betul, Tok Aba. Saya nak tengok macam mana kehidupan kat Bandar metropolis macam Kuala Lumpur secara langsung," tanggap Yaya dengan mata berbinar-binar. "Mesti seronok! Dan yang paling bernas lagi, mesti banyak orang Bandar yang akan berminat dekat Biskut aku."
"Ehh-" serentak semuanya memandang gadis berhijab pink itu dengan tatapan facepalm. Penduduk Kota besar seperti Kuala Lumpur akan berminat terhadap Biskuit maut buatannya? Yang benar saja!
"Oh, iya. Macam mana dengan keputusan kamu, Ochobot? Nak join ke tak?" tanya Ying tiba-tiba, membuat Ochobot kaget hingga nyaris menjatuhkan piring yang dibawanya.
"Ahh, Ehh... sori, kawan-kawan. Tapi nampaknya Aku tak berminat buat join korang cuti kat KL," ungkapnya jujur. "Korang dah tahu kalau aku ni Power Sphera, Aku mesti diincar. Lagipun KL tu tak macam Pulau Rintis yang dah aku kenal sejak dahulu. Aku pon nak temankan Tok Aba kat sini. Kesian beliau kalau sorang-sorang je urus Kedai masa korang bercuti nanti."
"Hmm, betul juga apa kata Ochobot. Keselamatan dia lagi terjamin disini," ucap Fang setuju. "Takpe, Ochobot. Kitorang takkan paksa kau."
"Hehehe, terima kasih, Fang," tukas Ochobot dengan mata menyipit tanda senang sebelum akhirnya kembali terbenam di pekerjaannya mencuci piring di belakang Kedai.
"Jadi macam mana menurut Atok?" tanya BoBoiBoy penuh harap. "Tenang sahaja, Tok. BoBoiBoy akan jaga kawan-kawan BoBoiBoy semasa bercuti kat KL. Ayah cakap semalam kalau Kawan-kawan BoBoiBoy boleh mendiami rumah dinas milik Ayah. Rumah dinas tu kan luas, banyak kamar yang masih kosong."
Tok Aba menggaruk dagunya tanda ragu. "Atok setuju sahaja," katanya dengan nada kurang meyakinkan. "Tapi macam mana dengan kawan-kawan kamu? Mereka dah dapat izin dari anggota keluarga mereka ke belum?"
"Um, Um! Yaya sudah," ucap Yaya gembira. "ToToiToy ada acara berkemah sehingga dua pekan. Ibu Yaya pon ada urusan sekejap kat luar Pulau Rintis, jadi Ibu Yaya kata Yaya boleh ikut BoBoiBoy tuk cuti kat KL."
"Saya pon sudah diberi izin sama Mama," kata Ying senang. "Mama kata saya boleh ikut ke KL juga. Nanti Mama yang akan jaga Nenek selama saya pergi bercuti."
"Humm, Appa aku pon nak bagi izin kalau Markah aku bagus di Peperiksaan tengah semester ni," tukas Gopal sedih. "Harap-harap Markah aku bagus, jadi aku boleh ikut ke KL."
"Kapten Kaizo dah bagi aku Izin," ucap Fang dengan nada pasrah. "Tapi dengan syarat aku kena bawa buah tangan semasa aku pulang dari bercuti."
Tok Aba tertawa mendengarnya. "Abang kau tu memang cari kesempatan lah, Fang. Kau kena buat dia senang tau," sarannya. "Baiklah. Atok harap kalian semua Berjaya lulus peperiksaan dengan Markah terbaik. Dan semoga cuti kalian menyenangkan."
BoBoiBoy dan teman-temannya mengangguk. "Terima kasih, Tok Aba!" tukas mereka gembira.
Dua pekan kemudian...
"D- Dey, tunggu aku!"
"Haiya- lu ni Gopal, cepat sikit lah! Nanti kita ditinggal Kereta ho."
Di Stasiun Kereta Api Pulau Rintis, Gopal dan Ying tampak tergopoh-gopoh membawa koper masing-masing menuju pintu masuk peron. Mereka lalu menyodorkan tiket mereka ke petugas pengecekan tiket kereta sambil mengatur nafas mereka akibat kelelahan berlari. Sebenarnya salah mereka juga Karena baru pergi ke Stasiun satu jam sebelum Kereta Yong Pin Train yang akan membawa kelima Superhero cilik kita ke Kuala Lumpur. Selesai pemeriksaan Tiket, kedua anak itupun melesat menuju peron dimana BoBoiBoy, Yaya dan Fang sudah menunggu mereka di sebuah bangku tunggu di sebelah salah satu jalur kereta, masing-masing dengan sebuah Koper di jinjingan. Begitu kelima sahabat itu sudah berkumpul, lantas Yaya memeluk Ying sementara BoBoiBoy dan Fang mendekati Gopal. Iseng-iseng BoBoiBoy menyikut sang manipulator molekul.
"Hai, Ying. Hai, Gopal," sapanya ramah. "Akhirnya korang tiba juga."
"Betul tu. Apasal korang lama sangat ni?" tanya Fang heran. "Tujuh minit lagi Kereta dah tiba tau."
Ying tersenyum malu-malu. "Hehehe, sori. Tadi saya temankan Mama pergi kat Pasar ma, jadi agak lamban buat datang."
"Hum, kau lagi baik dari aku Ying. Aku lamban datang sini sebab Aku baru pek-pek barang-barang aku pagi tadi," keluh Gopal. "Aku lamban tido semalam."
"Ei? Apasal kau boleh lamban tido?" Yaya ikut heran mendengar pernyataan Gopal itu, membuat anak gembul itu mendesis sedih.
"Haih, aku begadang semalam sebab nonton Detektif Konon musim terbaru la dey! Tak mungkin aku lewatkan kesempatan besar macam tu."
Fang menepuk keningnya sendiri sambil facepalm. "Haish, kau ni. Detektif Konon masih boleh ditonton lain masa. Seharusnya kau tahu apa yang lagi prioritas."
"Ish, mana lagi penting?! Detektif konon musim baru yang tak tahu bila nak tayang balik ke Pekpek barang? Kau ni ada hal je lah, dey."
"Tapi kau dah tahu kan kita nak pegi ke KL hari ini? Apasal tak pek barang-barang kau dari jauh-jauh hari, Ha?!"
"Sudah, sudah. Korang jangan begaduh!" lerai Yaya segera begitu melihat perdebatan Gopal dan Fang mulai memanas. "Korang jangan lah macam ni. Berdebat takkan menyelesaikan masalah."
BoBoiBoy mengangguk tanda setuju. "Betul apa kata Yaya," katanya. "Lagipun Gopal dah tiba kat sini. Tak payah kita ungkit masalah yang dah lewat, kan?"
Mendengar itu, lantas Gopal dan Fang membuang muka guna menjaga gengsi masing-masing. Namun belum sampai satu menit mereka seperti itu, tahu-tahu sebuah deritan bunyi Kereta Api terdengar dari kejauhan. Tak lama kemudian, Kereta Yong Pin Train yang akan mengantar BoBoiBoy dan kawan-kawan ke Kuala Lumpur tiba di depan peron. BoBoiBoy lalu mengajak kawan-kawannya masuk ke dalam Kereta dan menempati kursi yang sesuai dengan nomor yang tertera di tiket mereka. Yaya dan Ying duduk berdampingan sementara Gopal dan BoBoiBoy yang juga duduk berdampingan mendapat tempat dua kursi di seberang kedua gadis itu. Fang menghembuskan nafas lega karena dia memang lebih nyaman duduk sendiri di depan jejeran kursi BoBoiBoy dan Gopal, apalagi kalau tidak ada yang melihatnya 'bermesraan' dengan bekal yang dibawanya: Delapan buah Donat Lobak Merah!
Dua menit lagi Kereta Yong Pin akan segera berangkat. BoBoiBoy memandang sekeliling peron stasiun sembari tersenyum simpul. Sekonyong-konyong lamunannya buyar begitu medengar sebuah suara Digital dan suara seorang pria tua tak jauh dari Kereta.
"BoBoiBoy!"
Anak bertopi jingga itu lantas menoleh ke sumber suara. Rupanya dari Tok Aba dan Ochobot yang entah mengapa sudah berada di atas gerbong Kereta dimana BoBoiBoy dan teman-temannya berada. Mau tak mau BoBoiBoy melongo melihat Kakeknya dan Power Sphera generasi ke-9 itu berada disitu.
"Tok Aba? Ochobot?"
"Haih, Korang tak tahu ke kalau Tok Aba nak bagi salam perpisahan dekat korang semua?" gerutu Ochobot seraya berkacak pinggang. "Jangan cakap kau dah lupa pasal tu, BoBoiBoy."
BoBoiBoy terperangah. "Eh? Ha'ah lah," tukasnya kaget. "Ma- Maaf, Tok."
Tok Aba terkekeh. "Tu lah. Jangan lupa kau masih kena jumpa Atok sekali lagi sebelum pegi bercuti kat Bandar nanti," ujarnya berkelakar "Nah, jaga elok-elok diri kau dan kawan-kawan kau ye. Atok doakan semoga korang tiba kat tujuan dengan selamat. Dan BoBoiBoy, kau kena ingat satu pasal: Bagi semua maklumat yang kau tahu perihal bandar utama Malaysia tu. Itu akan bantu kawan-kawan kau buat kenali bandar Kuala Lumpur."
BoBoiBoy mengangguk. "Insha Allah. BoBoiBoy akan bagi tahu apa-apa maklumat yang diorang butuhkan selama menetap kat KL nanti," balasnya yakin. "Atok tenang sahaja, okey?"
"Ha, tahu takpe," tawa Tok Aba geli melihat tingkah polos Cucunya. Ochobot yang sedari tadi terbang di sebelahnya lalu mendekati BoBoiBoy sembari menyodorkan sesuatu.
"Err, BoBoiBoy. Mungkin ini terdengar remeh. Tapi nampaknya kau butuh ini," katanya sambil menyerahkan Liontin huruf B kuning berbentuk petir ke tangan BoBoiBoy. Serta-merta sang pengendali elemental tersentak sedikit melihat benda itu.
"Alamak, aku hampir terlupa Liontin pemberian Siti ni," katanya senang. "Terima kasih, Ochobot."
"Sama-sama," tanggap Ochobot geli. "Nah, jaga elok-elok Liontin tu ye. Mesti Siti akan senang sebab kau masih simpan benda pemberian dia."
BoBoiBoy mengangguk. "Betul tu. Dia mesti senang kalau tengok Liontin pemberian dia masa aku jumpa dia kat KL nanti. Oke, jumpa lagi, Tok Aba. Jumpa lagi, Ochobot. Jaga diri elok-elok ye."
"Okey, Cucu Atok yang terbaik. Semoga cuti korang semua menyenangkan," balas Tok Aba tulus begitu ia dan Ochobot pergi keluar gerbong kereta Yong Pin. Tepat setelah mereka berdua keluar dari gerbong, Peluit tanda Kereta akan berangkat pun berbunyi. BoBoiBoy dan teman-temannya melambaikan tangan ke arah Ochobot dan Tok Aba yang balas melambaikan tangan pula sebelum akhirnya Kereta Yong Pin bergerak dengan cepat meninggalkan Stasiun Pulau Rintis menuju Kuala Lumpur.
Lima menit pun berlalu. Kelima Superhero cilik itu akhirnya merasa bosan juga berada di dalam kereta Yong Pin yang jumlah penumpangnya tidak terlalu banyak. Bisa dikatakan hanya mereka berlima-lah yang berada di gerbong yang mereka tempati. Tahu-tahu BoBoiBoy menjentikkan jarinya begitu mendapat sebuah ide guna mengisi waktu mereka selama perjalanan.
"Kawan-kawan, apa kata kalau kita bernyanyi? Tak sedap kita berdiam selama perjalanan ke KL ni."
Yaya mengangguk. "Betul tu. Lagipun kita kan bercuti, mestilah kita kena semangat, kan? Kan?"
"Tapi lagu apa yang nak kita nyanyikan wo?" ucap Ying bingung. "Kita kena nyanyikan lagu riang gembira, biat seronok!"
"Hmm, apa kata kalau kita nyanyi lagu tido punya Appa aku?" usul Gopal.
"Ish, kau ni! Kita nak lagu buat bersemangat lah, bukan lagu tido," dengus Fang kesal.
BoBoiBoy mengusap dagunya sendiri seraya berpikir. Sekonyong-konyong ia menggumam. "Aku ada lagu dari seorang Penyanyi asal Indonesia bernama Tasya," katanya. "Lagu dia pon bertema cuti. Amacam? Korang nak nyanyikan ke tak?"
"Wah, boleh juga! Saya nak, saya nak!" ucap Ying riang. "Ayo, BoBoiBoy. Kamu nyanyikan lagu tu, nanti kami ikuti."
Mendengar itu, BoBoiBoy lalu tersenyum kecil. Ia lalu berseru pada teman-temannya.
"Baiklah. Akan aku cuba," katanya sigap. "Korang ikut aku ye."
"Siaappp!"
BoBoiBoy menghela nafasnya lalu berdehem. Setelah itu, ia bertepuk tangan berjeda sembari mulai bernyanyi diikuti teman-temannya.
Libur telah tiba, Libur telah tiba*
Hore! Hore! HORE! (Hore!)
Simpanlah Tas dan Bukumu
Lupakan keluh kesahmu
Libur telah tiba, Libur telah tiba!
Hatiku Gembira!
Istana Kerajaan Knightia, Dimensi beta Planet xxxx, 16 Agustus 2014 pukul 21:34
"Jadi macam mana dengan keadaan Komander Spark? Dia dah tak marah lagi ke?"
"Maaf, Tuan Puteri. Tapi nampaknya Komander masih dalam mood yang kurang baik."
Liena mangut-mangut di atas Singgasananya. Sudah nyaris satu bulan Komandan Spark tidak mengajaknya bicara pasca kejadian mengintai Pesawat Angkasa milik Kaizo. Mungkin pria bertudung keabuan itu masih tidak suka dengan keyakinan sang Putri Kerajaan Knightia akan sang Kapten Legendaris yang akan melindunginya jika saatnya sudah tiba. Tapi toh dia tidak perlu juga menutup diri selama berhari-hari seperti ini. Liena jadi khawatir kalau keadaan Komandan Spark lebih buruk dari yang dibayangkan. Ditatapnya pengawal yang memberitahu tentang perihal sang Komandan dengan pandangan pasrah.
"Baiklah. Aku faham," katanya kemudian. "Kalau ada perkembangan baru mengenai keadaan Komander Spark, tolong bagi tahu aku. Kau boleh pergi."
"Baik. Terima kasih, Tuan Puteri. Selamat malam."
Sepeninggal sang pengawal, Liena masih saja termenung di ruang takhta Istana yang luas itu. Dia tidak habis pikir, mengapa Komandan Spark sangat tidak suka terhadap Kaizo dan adiknya? Kedua orang itu pergi dari Planet mereka karena dikejar Tengkotak yang menyerang kediaman mereka, jadi menurut Liena itu merupakan sesuatu yang wajar. Liena sebenarnya ingin menyadarkan Komandan Spark, pria yang menggantikan sosok Abangnya itu akan hal ini, dan bahwa Kaizo dan Fang bukanlah bermental buronan seperti yang disangkakan hampir seluruh penghuni dimensi beta Planet xxxx. Tapi entah mengapa Liena belum bisa membuka hati sang Komandan yang masih saja tertutup rapat untuk melepas kesalahpahaman tentang Kaizo dan Fang.
Ketika ia masih saja terbenam dalam benaknya akan masalah itu, tiba-tiba sebuah Hologram Transmisi muncul dari meja ruang takhta yang terletak di tengah-tengah ruangan. Liena kemudian turun dari Singgasananya dan berjalan menuju Hologram Transmisi itu lalu menyambungkannya dengan si pengirim Transmisi. Detik berikutnya, muncul Khan di Hologram Transmisi itu.
"Liena, maaf sebab dah ganggu masa luang kau. Tapi aku punya beberapa maklumat penting," kata Khan cepat-cepat, membuat Liena mengerutkan kening tanda bingung.
"Maklumat penting lagi?" tanyanya. "Apa isi daripada maklumat itu, Khan?"
"Baiklah. Akan aku sambungkan Laptop aku ke sinyal Transmisi agar kau boleh tengok apa isi file penting yang dikirimkan 'Logam Mulia'. Tengok elok-elok ye."
Layar Hologram Transmisi pun berubah, dari yang tadinya menampilkan Khan berubah menjadi tampilan kerangka cetak biru sebuah robot humanoid dengan tinggi nyaris dua kaki beserta penjelasan singkat beberapa bagian tubuhnya, membuat Liena melongo hebat melihat itu.
"Khan, ape ni?" tanyanya penuh keingintahuan. "Proyek ONION selain Sapu Katharsis ke?"
"Kemungkinan besar ya," jawab Khan yakin." Mengikut maklumat singkat yang aku dapatkan dari file cetak biru ni, Proyek ini diberi nama kode 'Plan-T'. Memang nama dia macam pelik, tapi kau kena tahu kalau Proyek yang satu ini tidak boleh diremehkan sambil lalu."
"Dari cetak biru yang kau bagi ni, aku memang dah punya firasat kalau ini bukan proyek sebarang proyek," ujar Liena curiga. "Tapi kenapa ONION nak produksi Robot-robot Mecha macam ni?"
"Entah, aku pon tak pasti apa sebab diorang buat proyek ni di samping Sapu Katharsis," balas Khan bingung. "Tapi tenang sahaja, Liena. Lambat laun kita akan dapatkan jawabannya. 'Logam mulia' tu benar-benar berguna, walaupun aku tak percayakan dia seratus peratus."
Liena tertawa kecil. "Kau terlampau nekat buat ambik risiko besar ni, Khan. Aku harap dia takkan serang kita, berhubung dia masih kat pihak ONION. Okey, aku dah nak tido ni. Dah larut malam tau. Kita bisa sambung bincang kita mengenai benda ni lain masa nanti."
"Okey, Liena. Maaf sebab dah ganggu masa rehat kau. Jumpa lagi."
Hologram Transmisi itupun mati bersamaan dengan Liena yang menguap lebar akibat kelelahan mengatur pemerintahan di Kerajaan Knightia plus menjaga Perisai Planet Blessing yang melingkupi seluruh bagian dimensi beta Planet xxxx agar tetap stabil sepanjang hari. Dengan langkah nyaris gontai ia melangkah menuju ruang tidurnya yang terletak di ujung serambi Istana. Begitu ia melewati balkon rendah yang menjorok ke arah Danau yang mengelilingi Istana, sekonyong-konyong sebuah Pesawat Angkasa berukuran standar mendarat di halaman balkon rendah yang luas, membuat Liena menghentikan langkahnya dan menoleh kesitu.
"Kapal Angkasa?" gumamnya heran. "Siapa yang nak bertamu kat Istana larut malam macam ni?"
Ia pun memutuskan untuk melangkah menuju balkon rendah dan menemui pemilik Pesawat Angkasa yang bersangkutan. Namun begitu baru setengah jalan, tiba-tiba saja Pesawat Angkasa itu melempar sebuah sinar ke lantai balkon diikuti sebuah sosok yang tahu-tahu sudah berdiri di bekas sinar yang dilemparkan tadi, membuat Liena terkesiap. Pelan namun pasti, wanita muda itu berjalan mendekati sosok itu.
"Siapa awak ni? Apasal datang ke Istana saya larut malam ni?"
Awalnya Liena mengira sosok kaku yang berdiri tak jauh dihadapannya itu tidak akan menjawab pertanyaannya. Namun ia keliru. Sosok itu tahu-tahu menyambutnya dengan suara yang sudah lama sekali tidak didengar oleh Liena.
"Lama tak jumpa, Lien."
"Eh?"
Liena merasa jantungnya berdegup kencang mendengar sapaan kaku tapi penuh perhatian itu. Tanpa sadar Liena mempercepat langkahnya ke arah sosok itu dan berhenti sekitar satu dua meter di hadapannya. Dengan gugup ia memandang sosok itu lekat-lekat. Sinar lampu Pesawat Angkasa yang masih melayang-layang diatas mereka menyorot ke sosok yang langsung membuka helm kekuatannya di hadapan Liena, membuat wanita itu terpana selama beberapa detik melihat wajah asli sosok misterius yan datang ke Istana Knightia di tengah malam yang berbintang itu. Liena menelan ludah sembari menyebut nama sosok itu dengan mulut gemetar.
"Kaizo..."
Bersambung...
*Lirik lagu 'Libur telah tiba' oleh Tasya
Baiklah. Kita telah tiba di penghujung chapter 6. Maaf kalau banyak hal bejibun di chapter ini :'D Jika berminat, silahkan review ^^
Tetap setia menunggu kelanjutannya, ya. Love you all, dear readers :)
