Hai readers sekalian. Setelah sekian lama Hiatus, Author akhirnya balik mampir ke fandom ini juga, hehehe... Berhubung Author orangnya Multifandom, jadi ga melulu tinggal di satu fandom saja, hehehe. maafkan Author, ya :') Dan terima kasih banyak bagi teman-teman sekalian yang sudah mereview dan memohon-mohon untuk segera melanjutkan fanfic ini. Kalian memang terbaik, deh! Terharu saya :''''D Sekali lagi terima kasih banyak! ^^ Silahkan nikmati bagian ini, ya. ;)
Apa reaksi Liena selanjutnya setelah melihat Kaizo muncul di Istananya secara mendadak? Dapatkah Mila menemukan Laksamana Tarung? Apa saja yang akan terjadi pada BoBoiBoy dan teman-temannya saat tiba di Kuala Lumpur? Silahkan cari jawabannya di bagian ini :)
Note: OOC, gaje, dll
.
.
C.E.R.M.I.N. G.A.L.A.X.Y.
Apocalypse by 'Sapu Katharsis'
.
.
.
BoBoiBoy milik Animonsta/Monsta
.
.
.
Bagian 7: Reuni dan Undangan
Istana kerajaan Knightia, Planet xxxx/Gogobugi, 16 Agustus 2014 pukul 21:59
"Kaizo..."
Liena terpana hebat seakan ia tengah bermimpi. Pria yang selama ini ditaksirnya dalam diam tiba-tiba muncul di balkon Istananya malam itu. Kaizo menatap wanita itu datar, namun sorot matanya menunjukkan sebuah kerinduan yang kuat.
"Kau masih ingat aku ke?" tanyanya membuka percakapan.
Mendengar itu, Liena masih saja mematung. Dia tidak menjawab pertanyaan pria itu. Wajah tegangnya terlihat kaku, membuat Kaizo mulai panik. Dilambaikannya telapak tangannya tak jauh di depan wajah Liena sebanyak dua kali.
"Lien? Kau okey?"
BUNGG!
"ARGH!"
Tanpa diduga Liena meninju perut Kaizo keras-keras, membuatnya terkejut. Sembari terhuyung ke belakang karena rasa sakit, pemuda itu meringis dan menatap Liena sudah kembali mengepalkan tinjunya di kedua sisi tubuhnya.
"Oi, Lien! Kenapa kau tumbuk aku?!"
Liena mendengus. Diarahkannya tinjunya kembali menuju Kaizo. Namun kini Kaizo lebih siap. Diputarnya tubuh ke samping sehingga tinju Liena hanya mengenai udara kosong. Melihat wanita muda itu tengah lengah, cepat-cepat Kaizo mengambil kesempatan itu untuk menyerang balik. Ia membalik badannya, memanfaatkan kelengahan Liena. Langsung saja ia menyambar tangan kanan perempuan itu dan memelintirnya ke belakang, membuat Liena tidak bisa berkutik. Sia-sia dia membebaskan diri dari cengkraman pria itu.
"Akh! Lepaskan, Kaizo," desis Liena getir. Kaizo menggerutukkan giginya mendengar kalimat pedas itu.
"Aku takkan lepaskan kau sebelum kau terangkan watak pelik kau ni!" balasnya berang. "Sekarang bagi tahu aku sebab kau tumbuk aku tadi. Kita boleh bincangkan pasal ni secara baik-baik, kan?!"
Liena menggigit bibir, terisak. Tubuhnya yang tegang kini seolah-olah kehilangan tenaga. Kaizo segera melepaskan wanita itu akhirnya melangkah mundur, menjauhi Liena hingga satu meter. Sejenak Liena memandang Kaizo sebelum akhirnya ia membuang muka, tidak berani menatap kedua mata kemerahan milik pria itu.
"Tak sangka kita buat benda kasar macam ni lagi, saling tumbuk macam kali pertama kita berjumpa dahulu," kata Liena kemudian.
Kaizo mendesah. "Tapi kali ni aku yang menang, kan?"
"Hmm- syok sendiri lagi," ledek Liena pelan. "Ingatkan kau boleh menang ke sebab badan kau dah lagi besar daripada aku? Padapun badan kau lagi kecik dari aku semasa perjumpaan awal kita dahulu."
Kaizo menaikkan salah satu alisnya. "Memang lawak aku ni macam mengarut," katanya sambil tertawa pelan. "Okey, Lien. Boleh tak kau bagi tahu sebab kau tumbuk aku tadi?" tanyanya kemudian, kembali ke pokok pembicaraan semula. Liena menelan ludah dan mengangkat wajahnya kembali.
"A- Aku..." desisnya terbata-bata. "Aku penat tunggu kau dan Pang balik. Aku dah bagi korang rasa percaya aku. Aku... aku pon bela korang mati-matian dari Komander Spark tau. Kau tahu kan kalau dia tak sukakan korang sebab korang join sebagai member daripada TAPOPS?"
"Sori, Lien. Tapi itu sudah merupakan tradisi keluarga aku untuk lindungi Sfera kuasa sejak azali lagi. Lagipun kau tahu kan kalau Keluarga aku diserang Tengkotak? Ingatkan kau dah tahu pasal tu."
"Me- Mestilah aku ingat! Tapi tak kan la sampai join kat badan khusus macam TAPOPS pulak. Planet xxxx butuhkan korang berdua tau."
"Tahu pun. Tapi aku nak jadi pembela Kebenaran dekar Galaxy. Pang juga ikut sekali," jelas Kaizo. "Dan apasal kau masih sebut nama Planet Gogobugi dengan nama xxxx? Dah macam kena sensor."
Liena mendengus sebal. "Ish, kau ni! Tak ingat ke kalau semua warga Kerajaan Knightia tak sukakan nama konyol macam tu?" tanyanya sambil cemberut. "Tapi yang jelas aku tenang sebab keadaan korang baik-baik sahaja."
Langsung saja ia melangkah maju, hendak merangkul pria itu. Kaizo terhenyak. Ia mundur selangkah agar Liena tidak sampai merangkulnya, membuat wanita muda itu nyaris terjungkal.
"Apahal lah kau ni, Kaizo. Kenapa kau tak nak kena peluk?" tanya Liena heran.
Kaizo menghela nafas panjang. "Kita ni kawan je lah. Tak elok sentuh," ucapnya menjelaskan. Liena mangut-mangut mendengar itu. Ditatapnya Kaizo lamat. Kaizo pun melakukan hal yang sama.
Sepuluh menit berlalu. Mereka masih saja berada dalam posisi saling tatap-menatap sembari jaga jarak. Sinar bulan menerpa wajah-wajah mereka.
"Aku minta maaf," gumam Kaizo kemudian. Liena memejamkan matanya sebelum akhirnya membalas kalimat pria itu.
"Tak pe, aku fahamkan kau," katanya lembut. "Aku tahu keluarga kau tengah dalam masalah teruk, tapi aku yakin kau boleh uruskan semua pasal tu."
Kaizo mengigit bibir. "Tapi Lien, aku masih nak minta maaf sebab dah buat satu pasal teruk."
"Eh?" Liena melongo. "Pasal teruk apa yang kamu maksudkan ni?"
Pria di hadapannya meringis. Dipejamkannya matanya kuat-kuat. Tubuhnya kembali bergetar hebat.
"Lien, maaf. Aku... Aku dah kena belasah Puan Rosa."
"Hah?"
Liena terperanjat. Dilihatnya Kakak lelaki Fang itu bergetar hebat. Keringat dingin mengalir deras di wajahnya. Tahu-tahu tubuhnya sudah merosot ke bawah dengan kepala tertunduk, menangis sesunggukan. Dicengkramnya kedua lututnya sekuat mungkin, seolah-olah dirinya akan ambruk.
"Maaf, Lien... Maaf..."
"Ka- Kaizo? Apa kau merepek ni? Apasal kau tiba-tiba cakap benda macam ni?"
Kaizo mengangkat wajahnya tiba-tiba seakan disentak. "Kau tak faham ke? Aku dah kena belasah sama Puan Rosa, tahu tak?!" desisnya getir. "Dia... Dia sedut habis tenaga aku hingga aku berada dalam keadaan hidup dan mati! Dan sebelum itu, dia belasah Pang pulak! Aku hampir kehilangan harga diri aku sebab Pompuan teruk tu. Aku... Aku memang tak de guna..."
Mendengar penjelasan penuh kekalutan itu, Liena merasa dadanya sesak bukan main. Dia menghembuskan nafas, berusaha menenangkan dirinya. Dipandangnya Kaizo lekat-lekat, membuat sang Kapten tidak punya pilihan selain memandang wanita itu. Liena tidak mempedulikan wajah sembab Kaizo yang kemerahan akibat menahan tangis.
"Sudahlah, Kaizo. Aku terima permintaan maaf kau," kata Liena lembut tapi tegas. "Alasan kau jelas boleh dimaklumkan, jadi tak payah kau minta maaf berulang kali kat aku. Semua Makhluk hidup pernah buat salah. Tapi selama mereka mengaku salah dan alasan mereka boleh diterima, mereka akan dapatkan permintaan maaf. Dan sebab aku dah kenal kau sejak kecik lagi, aku akan cuba terus fahamkan kau."
Kaizo menatap Liena lekat-lekat. Wajahnya yang biasanya terlihat datar itu kini menjelma menjadi wajah sembab layaknya seorang anak kecil yang menangis. "Lien, kau-"
Tahu-tahu Liena menaruh jauh telunjuknya di depan bibir, sebuah isyarat bagi Kaizo untuk menenangkan diri. Perempuan itu memberinya satu senyum tulus.
"Kita impas sekarang. Jangan ada pasal teruk lagi, Okey?"
"Uh, Okey?"
Liena tertawa kecil. "Ini baru Kaizo kecik yang aku kenal, selalu cuba membela Kebenaran walaupun cara dia tak selalunya benar," godanya, membuat pipi Kaizo memerah. "Tak payah kau risaukan pasal tu. Lagipun aku tahu betul watak Kak Roz tu macam mana. Kakak ipar aku tu memang dah melampau."
Sang Kapten mendengus. "Aku takkan pernah faham sebab Abang Romeo nak kahwin dengan Puan Rosa," ujarnya pasrah. "Maksud aku, Benda istimewa apa yang Abang Romeo tengok daripada diri Rosaline sehingga diorang boleh jatuh hati? Dah tahu kan kalau Puan Rosa tu dah macam kutukan di mata penghuni Planet Tim tam Dua, Planet kelahiran dia sendiri? Puan Rosa pun dah jadi salah sorang penjenayah teruk yang terlampau minat terhadap budak kecik."
"Humm, betul juga tu. Kalau sahaja Abang Romy ataupun Tuan Klamkabot masih hidup, mungkin kita akan tahu jawabannya," balas Liena murung. "Cuma mereka berdua yang tahu betul maklumat mengenai sebab Kak Roz jadi berwatak teruk. Tapi sayang, mereka dah takde kat dunia ni."
Kaizo mengangguk. "Ya, sayang sekali," gumamnya dengan nada ragu sebelum akhirnya sebuah suara mengambil perhatiannya.
"Hmph! Tak sangka aku masih tengok kau beborak dengan Pemberontak legenda tengah malam begini, Tuan Puteri."
"?!"
Mendengar suara itu, sontak Liena dan Kaizo mengalihkan perhatian mereka. Sekonyong-konyong keduanya membelalak horor ke arah si empunya suara.
Komandan Spark.
"Ko- Komander, ini bukan macam yang Anda sangkakan," ujar Liena gugup.
Komandan Spark memicingkan matanya, menatap tajam ke arah sang kapten. "Kau lagi," gumamnya sebal. "Aku paling benci dengan penyusup, dan kau pon termasuk sekali, Kaizo. Baik kau berambus dari sini sebelum aku belasah kau saat ini juga."
Merasa situasi semakin memanas, Kaizo perlahan menaruh tangannya di gagang pedangnya. Ditatapnya Komandan Spark dengan tampang keras.
"Perkawanan aku dan Lien bukan kau punya pasal," desisnya. "Kenapa kau selalu sahaja ganggu kami?
"Hmh! Kau tu tak layak buat jadi kawan siapapun, termasuk jadi kawan Liena," balas lawan bicaranya geram. "TUSUKAN KUKRI TENAGA!"
"Tch, DINDING TENAGA!"
BLAAARRRRR!
Ledakan besar terjadi di balkon istana kerajaan Knightia akibat serangan Komandan Spark dan pertahanan Kapten Kaizo. Belum cukup sampai disitu, kedua lelaki itu lalu saling tebas senjata masing-masing, membuat kerusakan di sekitar balkon istana. Merasa muak dengan perkelahian itu, mau tidak mau Liena terpaksa menggunakan kekuatannya untuk melerai keduanya.
"Berhenti korang berdua! TETAKAN DINDING PLANET BLESSING!"
BUUUUUMMMMMM!
Serta-merta perisai jernih yang melingkupi Planet Gogobugi lenyap, berpindah tempat di antara Kapten Kaizo dan Komandan Spark. Keduanya merasa terkunci di udara, tidak bisa bergerak. Liena mengangkat tangan kanannya lurus ke depan. Sebuah aura putih kekuningan memancar darinya. Detik berikutnya aura putih kekuningan yang mengelilingi tubuhnya lenyap, membuat wanita muda itu jatuh terduduk di lantai balkon. Nafasnya memburu. Wajahnya yang tampak kelelahan terlihat lebih pucat dari biasanya. Bersamaan dengan itu, kekuatan Planet blessing yang menahan tubuh Kaizo dan Komandan Spark agar tidak menyerang satu sama lain ikut lenyap.
"LIEN!" Kaizo melihat Liena yang kondisinya sudah sangat lemah akibat menggunakan kekuatan Planet Blessing-nya terhadap mereka berdua. Namun sebelum ia sempat berseru kembali, Komandan Spark tahu-tahu sudah terlebih dahulu tiba di samping Liena, membantunya berdiri.
"Jangan buat benda apapun, Kaizo," tukas Komandan Spark sengit. "Sampai bila kau dan Fang nak seksa Liena macam ni, Hah?! Kalau sahaja kau takde kat sini, tak kan lah keadaan dia jadi buruk macam ni! Tinggalkan Puteri Liena sebelum aku sorang yang paksa kau pergi dari sini!"
"Cih," Kaizo menggeram marah. "Kau yang buat semua ni! Kenapa kau benci sangat dekat aku dan Fang?! Aku kau ajar kau!"
"Ka- Kaizo... jangan... jangan cuba nak begaduh..." tahu-tahu Liena menimpali walaupun nafasnya terasa sesak sekali. "A- Aku tahu kau tak sukakan ini... tapi... tapi aku dah senang kau jumpa aku... Aku mohon, pergilah... Aku tak nak... korang berdua berdebat... sebab aku..."
"Tapi Lien-"
"Pergi sekarang! Jangan risau pasal aku... Uhuk! Teruskan perlindungan kau... kat Sfera kuasa dan Galaxy. Aku dah cukup bahagia tengok... diri kau yang dah... besar. Sampai bila-bila aku akan terus... percayakan kau..."
Kaizo mendecih. Dalam hati dia ingin sekali melawan Komandan Spark. Namun melihat kondisi Liena yang sudah nyaris pingsan membuatnya menahan diri. Ia mendesah berat, seolah sebuah batu besar tengah menindih dadanya.
"Baik kalau macam tu yang kau nak," katanya kemudian. "Aku dan Fang akan balik sini selepas semua kewajiban aku dah terpenuhi, lepas tu kami akan bantu kamu kongsi kuasa Planet Blessing tu, aku janji. Terima kasih sebab dah percayakan kami, Lien."
Dia lalu menoleh ke arah Komandan Spark yang masih pasang wajah masam ke arahnya. "Dan kau... Tolong jaga dia selama aku tak ada kat sini."
Komandan Spark tidak menjawab. Ditatapnya sang Kapten lamat. Kaizo melangkah menuju bagian bawah Pesawat angkasanya. Sebuah sinar merah terang ditembakkan dari bagian bawah Pesawat angkasa tersebut, menyinari tubuh Kaizo seluruhnya hingga pria itu ditarik masuk ke dalam Pesawat. Detik berikutnya, Pesawat Angkasa itu berbalik arah dan terbang menuju angkasa lepas dengan kecepatan tinggi, menghilang dari pandangan Liena dan Komandan Spark. Keduanya membisu sebelum akhirnya sang Komandan angkat bicara.
"Liena, kau okey?"
"Ugh- maaf... maaf, Komander... aku terpaksa guna kuasa Planet Blessing tadi..."
"Dah, dah, jangan banyak cakap. Keadaan kau tengah teruk. Jom kita masuk."
Liena mengangguk lemah. Dibiarkannya Komandan Spark memapah tubuhnya yang loyo melewati lorong istana menuju Kamar tidur Liena. Begitu keduanya sudah tiba di dalam kamar sang Putri, sekonyong-konyong Liena menggumam.
"Komander... dah percayakan... Kaizo ke?"
Komandan Spark mendesah panjang. "Aku belum percayakan dia dan Fang seratus peratus," jawabnya seraya menaikkan tubuh Liena ke atas ranjang dan membukakan sepatu wanita itu. "Bagi aku sedikit masa untuk bagi kepercayaan aku pada mereka."
Liena menatap Komandan Spark dengan pandangan setengah sadar. "Aku tahu kalau Anda... boleh percayakan mereka," katanya kemudian. "Macam yang Abang Romeo buat. Aku... Aku tahu Abang Romy dah takde kat dunia ni, tapi kehadiran Anda dan Kaizo dah cukup bagi aku. Terima kasih... sebab dah urus aku selama ini, Komander..."
"Sama-sama, Liena," balas Komandan Spark datar, namun terlihat sorot matanya memancarkan aura kasih sayang. Ditariknya selimut hingga menutupi tubuh Liena agar wanita itu terhindar dari dinginnya malam.
Sementara itu di angkasa lepas, Mila melesat menuju Planet Darghaya menggunakan salah satu pesawat patroli milik GIDO. Bu Anisa menyuruhnya untuk mengambil 'Kursus pelajaran tambahan' sebagai langkah selanjutnya untuk memimpin Divisi Star. Tidak tanggung-tanggung wanita itu menyuruhnya mengunjungi salah satu rekan lamanya: Seorang Veteran terkemuka bernama Tarung, atau biasa dipanggil dengan nama pangkatnya di badan TAPOPS, Laksamana.
Lima menit kemudian, Mila telah tiba di permukaan Planet Darghaya. Sejenak gadis itu tertegun melihat penampakan alam disitu. Pohon-pohon lapuk, kabut Oksigen bercampur asam berkadar rendah serta berbagai jenis tanaman layu. Mila merinding juga melihat keadaan Planet yang jauh dari kata 'baik-baik saja' itu. Menurutnya, Planet ini lebih suram dari Planet Tim tam Dua, atau bahkan bisa dibilang Planet yang sudah mati. Hampir tidak terlihat tanda-tanda kehidupan disitu.
Satu pertanyaan yang muncul di benak Mila: Bagaimana bisa Laksamana Tarung tinggal di Planet mati seperti ini?
"Katakulululu!"
"Huh?"
Mila melihat ke bawah dimana suara aneh itu berasal. Seekor katak berwarna ungu cerah dengan keempat kakinya yang berwarna-warni tampak menggosok-gosok kepalanya di betis kirinya. Melihat hewan eksotis itu membuat naluri penyayang binatang miliknya timbul dalam sekejap.
"Wuaahh- Comelnya Katak ni!" ujar Mila gembira sambil berjongkok di hadapan Katak yang dimaksud. "Ingatkan Planet ni takde penghuni. Cantiknya warna kau."
Dibelainya kepala si Katak dengan penuh sayang. Si Katak sendiri tampaknya menikmati belaian tangan Mila yang halus. Namun entah bagaimana, kedua iris mata Katak itu tiba-tiba berubah menjadi pola spiral, membuat Mila membelalak.
"Apakah-"
"JANGAN TENGOK MATA KATAK TU!"
"Ekh?"
Spontan Mila menarik tangannya dari kepala si Katak dan segera menutup matanya rapat-rapat. Didengarnya sebuah kericuhan selama ia menutup matanya. Begitu suara kasak-kusuk itu usai, ia mendengar sebuah suara berat namun ramah ditujukan padanya.
"Nah, kamu boleh buka mata sekarang."
"O- Okey."
Perlahan Mila membuka kelopak matanya, mengerjap-erjap. Tak jauh di hadapannya berdiri sesosok Makhluk bertubuh tinggi nan kekar. Kulitnya yang berwarna abu-abu dihiasi garis-garis loreng bak Harimau putih. Rambut biru kehijauannya dibentuk segaya mungkin. Dia mengenakan topi rimba dan baju penjelajah berwarna coklat. Selama beberapa detik Mila hanya mampu melongo melihat sosok itu.
"Eh, Cik adik? Cik adik okey ke?" tanya sosok itu, membuat Mila sadar dari rasa kagetnya.
"Ah!" Gadis itu terhenyak. "Ma- Maaf, Tuan. Saya... Saya terlena tadi. Apa benda yang dah berlaku? Mana Katak ungu comel tu?"
"Haihh- Ini dah kali ke-5 saya gagal tangkap dia. Tapi nasib baik Cik adik segera tutup mata tadi. Kalau tak, berbahaya!"
"Ehh? Bahaya? Bahaya apa?"
Lawan bicaranya mendesah. "Katak tu: Katakululu, ianya memiliki kebolehan menghipnotis sesiapapun. Dan kalau mangsa dia dah terlanjur terkena hipnotis dia, mesti susah buat sedarkan mangsa tu balik."
"Alamak! Iya ke?" pekik Mila panik. "Fyuhh- nasib baik Tuan bagi saya amaran tadi. Kalau tak, dah lama saya jadi hamba hipnotis dia."
"Sama-sama," balas si loreng ramah. "Saya sebenarnya tengah meneliti spesies-spesies eksotis dan berbahaya macam Katakululu tadi, sayang ianya susah kena tangkap. Oh, iya. Tumben saya tengok Makhluk hidup berakal macam Cik adik disini. Apa Cik adik buat kat sini?"
"Ah, itu-" Mila menatap si Loreng dengan wajah ingin tahu. "Saya mencari seorang Laksamana TAPOPS. Atasan saya cakap beliau berada dekat Planet Darghaya ni."
Si Loreng tersentak sedikit mendengar kalimat Mila itu. "Oh? Kalau boleh tahu, siapa Atasan Cik adik? Dan siapa nama Laksamana TAPOPS yang Cik adik maksudkan tu?"
Mila memandang lawan bicaranya itu dengan harap-harap cemas. "Ahh... Umm... Ketua GIDO yang suruh saya buat kunjungi Laksamana TAPOPS dekat Planet ni. Dan nama Laksamana tue ialah Tarung. Tuan kenal beliau ke?"
Si Loreng tertawa ngakak. "Mestilah saya kenal beliau."
"Wah, betul ke?" tanya Mila dengan mata berbinar-binar. "Bo- Boleh tak Tuan hantarkan saya pada beliau? Saya butuh beliau buat ajarkan saya mana-mana strategi dalam berbagai Operasi lapangan sebab saya kena faham benda tu sebagai Ketua Divisi baru GIDO."
"Tentu, Cik adik. Mari, mari, Saya akan hantarkan Cik adik pada beliau sekarang."
"Horeee! Terima kasih, Tuan!"
Mila pun mengekori si Loreng menuju tempat dimana Laksamana Tarung disebutkan berada. Tak lama kemudian, keduanya tiba di halaman sebuah gubuk kecil yang rapi dan bersih. Mila celingak-celinguk melihat keadaan sekitarnya yang sepi, membuatnya curiga.
"Ehm- disini ke Laksamana Tarung tu berdiam?" tanyanya bingung. "Sunyi betul. Tuan pasti ke?"
"Tentu, saya dah pasti," jawab si Loreng yakin. "Baiklah, Cik Adik. Saya akan panggil Laksamana Tarung sekarang."
Daaaaannn si Loreng pun masih belum beranjak dari tempatnya berdiri, membuat Mila mengerutkan alisnya karena ling-lung.
"Umm- Tuan? Apasal Tuan masih ada kat sini?" tanyanya heran. "Tadi kata Tuan nak panggil Laksamana Tarung. Kenapa tak beranjak pulak?"
Mendengar kalimat polos Mila, si Loreng tertawa terbahak-bahak. "Hahahahaha! Cik adik, Laksamana Tarung memang sudah berada disini," katanya sembari melepaskan pakaian penjelajah dan topi rimbanya lalu melemparkannya dengan gaya etis, menampakkan tubuhnya yang hanya mengenakan sebuah celana panjang militer, sepasang sepatu bot dan sebuah singlet ketat. "Cik adik tak payah cari dia lagi, SEBAB SAYA LAH LAKSAMANA TARUNG YANG KAMU CARI!"
BRUKK!- Mila langsung menjatuhkan dirinya ke tanah melihat kejutan yang tidak etis itu.
"Pulah," desahnya ling-lung. "Ingatkan Tuan nak bawa saya pada Laksamana Tarung, tapi nyatanya Tuan sendirilah Laksamana Tarung tu. Tak lawak lah."
"Hehehe, sori, sori. Saya tak bermaksud buat bingungkan Cik adik," kata Laksamana Tarung cengar-cengir. "Ah, iya. Saya belum tahu siapa nama Cik adik. Boleh bagi tahu?"
"Ugh- nama saya Milyra. Panggil Mila pun takpe," ujar Mila sambil bangun dari tanah dimana ia menjatuhkan dirinya tadi. Mendengar nama Mila, mata Laksamana Tarung langsung melotot.
"Kejap, dik Mila," katanya penasaran. "Tadi kau cakap nama kau ialah Milyra. Sepanjang pengetahuan aku, nama Milyra cuma seorang yang punya iaitu Puteri mahkota dari Planet Tim tam Dua. Ke nama korang berdua ialah kebetulan semata?"
Mila mengangguk. "Saya memang Puteri mahkota daripada Planet Tim tam Dua," katanya murung. "Tapi saya kena kudeta. Saya masuk kat GIDO untuk lawan kejahatan dan ambik takhta saya balik."
"Apa? Kau terkena kudeta?!" seru Laksamana Tarung kaget. "Setahu saya Rosaline dan keluarga dia kuatnya ya ampun! Takde sesiapapun kat seantero Galaxy Andromeda yang mampu lawan korang, apalagi kena kudeta. Kenapa ini boleh berlaku? Dan mana pulak si Rosaline tu? Dia ada bisnes lain ke?"
"Umm- maaf, Tuan. Tapi Bunda saya dah takde kat dunia ni."
Sang Laksamana terhenyak. "Hah?! Benarkah itu, wahai dik Mila?" tanyanya dengn nada duka. "Sungguh teramat disayangkan, padahal saya rindukan kawan lama saya tu. Itupun kalau dia masih anggap saya kawan lagi."
Mila tersenyum simpul. "Jangan sedih, Tuan Laksamana. Saya yakin Bunda masih anggap Tuan sebagai kawan baik dia di lubuk hati dia yang terdalam," hiburnya. "Oh, ya. Balik ke topik. Saya ialah member Eksklusif yang diperintah buat ambik posisi sebagai ketua Divisi baru GIDO, tapi sebelumnya saya disuruh cari Tuan Tarung kat Planet Darghaya. Nyonya Anisa cakap saya kena belajar perihal Strategi perang dan Operasi khusus lapangan dari Tuan."
"Hmm, macam tu ke?" ujar Laksamana Tarung sambil menggaruk dagunya. "Okey, sebab saya dah takde ektifiti hari ni, maka saya akan ajarkan kamu mana-mana lesson yang baik untuk jadi ahli lapangan dalam Operasi khusus selama kurang lebih dua pekan! Kau sedia?"
"Sedia, Tuan Laksamana!" Angguk Mila mantap.
Prokk! Prokk! Prokk!
Mendengar suara tepukan tangan pelan itu membuat Laksamana Tarung dan Mila tersita perhatian. Disana, tak jauh dari mereka terlihat sesosok pemuda: Sebastian. Rupanya dia yang bertepuk tadi, seolah-olah mengejek Kakak kembarnya yang diterima sebagai murid sang Laksamana TAPOPS.
"Tahniah, Milyra, Tahniah," sindirnya sinis. "Tak sangka kau masih terlampau lemah hingga nak cari bantuan dekat Uncle Tarung sekali. Memalukan."
Mila pasang wajah tegang. "Tak habis-habis kau nak ganggu aku macam ni, Tian," desisnya berang. "Bagi tahu aku apa keperluan kau kat Planet Darghaya ni."
Laksamana Tarung mendesah. "Ah, Dik Sebastian. Lama tak jumpa," sapanya ramah. "Apa khabar kau? Oh, ya. Tak payah kasar-kasar dekat dik Mila ni. Bukannya korang berdua ni adik beradik? Kena lah saling sayang."
Sebastian meludah ke samping, merasa mual dengan kalimat sang Laksamana. "Cih, bila masa aku dan Milyra ni sayang-sayangan, Hah? Tak sudi betul! Gurau je lah Uncle Tarung ni."
"Hehehe, maaf, maaf. Uncle salah cakap eh?"
"Hmh! Uncle Tarung memang teruk pun. Masih je nak ajarkan Milyra si budak lemah tu."
Tiitt! Tiit! Tiiitt!
"Heh?"
Mila dan Sebastian mendengar suara arloji yang tiba-tiba berbunyi itu. Merasa penasaran, Mila mencari asal suara itu dan tertegun begitu melihat arloji yang melingkari pergelangan tangan kanan Laksamana Tarung. Layar arloji itu menunjukkan pukul tujuh pagi.
'Apasal tiba-tiba aku boleh rasakan sebuah firasat buruk masa tengok arloji tu?' batin Mila gugup. Sekonyong-konyong ia terperanjat begitu menyadari kulit Laksamana Tarung tahu-tahu sudah berubah warna menjadi merah menyala bak harimau sungguhan.
Tunggu dulu. Jangan-jangan...
"Hei, budak! BERANI KAU SEBUT AKU NI TERUK?!" sembur sang Laksamana ke arah Sebastian dengan mata berapi-api. "DAN KAU CAKAP DIK MILYRA NI LEMAH PULAK! AKU YANG TETAPKAN DIA TU LEMAH KE TAK!"
Sebastian mendengus. "Huh! Tak sangka Uncle Tarung ikut-ikut bela Milyra juga. Macam mana dunia ni nak maju kalau Makhluk lemah tu selalu dibela? Macam tak betul- Eh?"
BUAAAKKKK!
"AAAAAAAAAHHHHHHHHH!"
Tiada angin tiada hujan, tahu-tahu Laksamana Tarung menerjang ke arahnya dan tanpa buang-buang waktu langsung meninju rahang bawah adik kembar Mila itu tanpa ampun. Saking kerasnya tinjuan itu, Sebastian tahu-tahu sudah terlempar hingga menembus Atmosfer Planet Darghaya dan tidak kembali lagi.
"Hmph! Bertuah punya budak," dengus Laksamana Tarung jengkel. "Tak sangka budak kecik macam dia dah sombong minta ampun! Kalau aku nampak dia lagi, akan kubelasah dia."
Mila yang melihat kejadian mendadak itu mau tidak mau merinding juga. Dalam hati ia merasa kasihan dengan adik kembarnya yang ditinju tadi. "Err- Saya rasa Tuan Laksamana terlampau keras pada adik kembar saya," katanya gugup. "Kesian dia."
"Ohh- jadi kau terima carutan dia terhadap kau? Nak aku tumbuk juga ke?!"
"Ehh- tak, tak! Saya tak nak kena tumbuk lah"
"SUDAH! Sebab kau dah minta latihan dari aku, maka aku akan latih kau sekarang!" ujar Laksamana Tarung dengan nada tinggi sambil ambil kuda-kuda tinju, membuat Mila kaget. "Aku nak tahu apakah kau memang lemah macam yang Sebastian cakap tu. Kalau kau terbukti kuat, aku akan ajarkan kau semua yang aku tahu perihal strategi. Tapi kalau kau memang terbukti lemah, aku tak punya pilihan selain suruh kau berambus dari sini!"
"Ta- Tapi Tuan Laksamana tak cakap apapun pasal adu tinju sebelum ajar aku tadi," protes Mila bingung. "Ingatkan nak langsung ajarkan aku."
"Diam! Sekarang buktikan kekuatan kau!" tukas sang Laksamana dengan suara cetar membahana. "LAWAN AKU!"
Mila memutar kedua bola matanya seraya mendesah panjang. "Tak sangka Tuan Tarung jadi beringas selepas Arloji dia menunjukkan pukul tujuh tadi," gumamnya pasrah seraya pasang kuda-kuda. "KUASA MANIPULASI GELOMBANG!"
Stasiun Kuala Lumpur, pukul 11:00 AM
Ciitt-!
Suara rem Kereta api Yong Pin Express terdengar hingga seantero ruang peron. BoBoiBoy yang sedang membaca buku di gerbongnya langsung menyadari bahwa ia dan teman-temannya telah sampai di tujuan mereka. Segera saja ia membangunkan Gopal yang tertidur di sebelahnya.
"Gopal, bangun. Kita dah sampai."
"Uhh- Ehmm... Lima minit lagi, Amma-"
"Ish, kau ni. Bangun! Lagipun aku bukan Mak kau lah. Kau nak kami tinggal dekat Kereta ke?"
Gopal tidak menjawab. Anak keturunan India itu masih saja berlayar di alam mimpi, membuat mata kiri BoBoiBoy berdenyut-denyut.
"Humm- masih nak tido rupanya."
Dideliknya kursi penumpang di belakangnya. Rupanya Fang telah bangun dari tidurnya dan mulai bersiap-siap untuk turun dari Kereta. BoBoiBoy lalu menoleh ke bangku penumpang dimana Yaya dan Ying berada. Kedua anak gadis itu tampak menggeliat di kursi mereka, sedang mengumpulkan kesadaran setelah bangun dari tidur mereka sepanjang perjalanan di Kereta tadi. BoBoiBoy lalu beranjak dari kursi penumpangnya dan mendekati mereka.
"Yaya, Ying, jom siap-siap. Kita dah tiba ni."
"Uhmm- Okey, BoBoiBoy," jawab Yaya sambil mengucek matanya yang masih setengah tertutup. Ying yang duduk di sampingnya menguap lebar dan meregangkan otot-ototnya yang kaku selama tidur tadi. Dua menit kemudian kedua anak perempuan itu mulai siap-siap untuk turun. BoBoiBoy tersenyum melihat mereka sebelum akhirnya ia menoleh ke kursinya. Disana tampak Fang yang sudah segar bugar mengguncang-guncang Gopal yang masih saja tertidur nyenyak.
"Oi! Kau ni tukang tidur betul! BANGUN!" Fang mengguncang badan Gopal kasar. Diguncang begitu, Gopal malah mendorong tangan Fang dari pundaknya sembari bergumam keras.
"Ish! Aku masih nak tido lah," gerutu Gopal setengah sadar, membuat Fang memunculkan perempatan siku-siku imajiner di keningnya.
"Hiihh! Kau ni memang nak ditinggal! Awas saja kalau kitorang tinggalkan kau di Kereta ni, baru tahu rasa!"
BoBoiBoy mendesah panjang melihat temannya yang menolak untuk bangun tidur itu. Gopal masih mengantuk karena begadang nonton serial baru dari kartun Detektif Konon semalam. Tapi sayangnya rasa kantuk pemuda berkulit gelap itu kini bukan di waktu dan tempat yang tepat. Tiba-tiba sebuah ide melintas di benaknya. Didekatinya Yaya sambil memberi gadis berhijab itu isyarat pada Gopal yang masih tertidur.
"Psst- Yaya! Boleh tak aku minta biskut kau sebijik?"
"Eh? Buat apa?"
"Haehh- aku nak bangunkan Gopal lah! Bisa-bisa kita lamban turun dari Kereta kalau dia masih tetido macam tu."
"Uhh- Okey? Tapi apa hubungannya dengan biskut aku?"
BoBoiBoy tersenyum jahil. "Gopal kan sukakan biskut kau. Mestilah dia bangun kalau aku bagi makan biskut kau."
"Wahh! Iya ke?!" Kedua mata Yaya berbinar-binar mendengarnya. "Saya memang dah tahu kalau Gopal ialah penggemar setia biskut aku sejak azali lagi. Nah, ini aku bagi satu pek. Janji senang!"
"Hehe, terima kasih, Yaya," tukas BoBoiBoy nyengir sambil menerima satu bungkus biskuit buatan Yaya yang terkenal dengan 'keunikannya' itu. Melihat itu, spontan Ying menarik hoodie jaket sang pengendali elemen, membuat langkah anak itu terhenti.
"Eh? Kenapa, Ying?"
"Hayoii! Apa kamu punya rancangan ni? Gopal mesti pengsan balik kalau kamu bagi dia biskut Yaya!"
"Tapi ini je cara satu-satunya untuk bangunkan dia. Aku kena bagi makan dia biskut Yaya tau. Kalau tak, kita akan lamban turun dari Kereta ni."
"Haiya, tak kan lah sampai bagi Gopal biskut Yaya pulak! Kamu nak dia-"
"SUDAH! Bagi sini biskut tu!" Tahu-tahu Fang sudah menyambar biskuit Yaya dari genggaman BoBoiBoy, membuat BoBoiBoy dan Ying terkesiap. Namun sebelum mereka sempat berkata apa-apa lagi, Fang langsung saja memasukkan beberapa keping makanan horor itu ke mulut sang pengendali molekul, membuatnya tersedak.
"Uff! Fa- Fang?! Afa yanfg- UHUK! UHUK!"
Tindakan liar Fang itu sukses membuat Gopal tersadar seratus persen dari tidurnya. Merasa keping-keping keras biskuit Yaya masuk ke dalam mulutnya, Gopal langsung terbatuk-batuk. Dengan wajah merah padam karena kesal ia menatap Fang, menyemburnya dengan seruan penuh nada protes.
"Dey, Fang! Apasal kau bagi aku makan biskut Yaya?!"
"Hish! Kau pulak, apasal masih tetido?!' balas Fang tak kalah sengit. "Lagipun bukan aku yang punya idea awal buat bagi kau biskut Yaya, tapi si BoBoiBoy tu."
"Apa?!" Gopal mendelik sebal ke arah sahabat manipulator elemennya. "Dey, apesal kau nak bagi aku makan biskut tu?!"
"Hmph! Kau ni masih saja tido, padapun kita dah sampai kat KL ni," tukas BoBoiBoy sembari mempertahankan diri. "Nasib baik aku buat rancangan tu. Kalau tak, kau mesti dah kena tinggal sedari tadi."
"Ya loh, kamu ni tido bukan pada masa yang tepat ho," tambah Ying. "Kalau kita dah tiba kat rumah BoBoiBoy, baru kamu boleh minta bilik rehat."
"Sudah, sudah. Setidaknya Gopal sudah bangun sekarang," lerai Yaya segera. "Nah, amacam biskut aku? Mestilah sedap hingga kau boleh terbangun, kan Gopal?"
"Ekh?!" Gopal tersengih melihat wajah penuh harap Yaya itu. "Be- Betul. Biskut kau memang sedap hingga boleh bangunkan aku, hehehe..."
"Yeeeyy! Kau memang kawan baik aku. Lepas ni sering-sering lah order, Okey?"
Gopal menelan ludah. "O- Okey," balasnya pelan. Dalam hati ia menyesali kata-katanya itu. 'Hayoyo, apa salah aku hingga boleh berkawan dengan budak pembuat biskut rasa kertas pasir ni?'
Tak lama kemudian, Lima sekawan itupun turun dari Kereta Yong Pin Express dan berjalan dari peron menuju halaman luar Stasiun. BoBoiBoy celingak-celinguk, seakan tengah mencari-cari seseorang disitu.
"Siapa yang kau cari?" tanya Fang heran.
BoBoiBoy mendelik sebentar ke arahnya sebelum kembali mengedarkan pandangan. "Aku tengah cari Uncle Imran."
"Uncle Imran?" Ying mengerutkan kening. "Siapa dia?"
BoBoiBoy menggaruk kepalanya. "Uncle Imran ialah karyawan tetap keluarga aku," jelasnya. "Dia lagi muda dari Ayah dan Mak aku, kiranya lima tahun. Keluarga dia kenalan Ibubapa aku. Uncle Imran pon kadang jaga aku kalau Ayah dan Mak aku tengah pergi dinas. Korang tak payah risaukan watak dia. Dia baik dan ramah tau."
"Wah, macam Butler Alfred dekat serial Batman ke?" tanya Yaya riang. "Mesti best punya seseorang yang dekat macam Uncle Imran, kan? Kan?"
"Hoahh- tapi apasal Uncle Imran belum datang jugak?" tanya Gopal mulai protes. Wajahnya yang kuyu tampak merindukan kasur. "Aku nak rehat tau. Penat sangat."
"Sabar, Gopal. KL ni bandar besar wo," hibur Ying.
Yaya mengangguk. "Betul apa kata Ying," dukungnya tiba-tiba lalu melanjutkan penjelasannya mengenai fakta-fakta di Kota besar. "Di bandar sebesar ni, mana-mana kemungkinan boleh berlaku. Kemungkinan yang lagi mungkin ialah kemacetan. Tak jarang KL ni alami kemacetan, apalagi kalau dah masuk masa cuti sekolah."
"Hmm, ye lah tu," ucap Gopal mengalah. Sekonyong-konyong ia tersentak begitu melihat BoBoiBoy mulai beranjak meninggalkan mereka di pintu masuk gedung Stasiun itu.
"Dey, BoBoiBoy! Mana kau nak pergi?"
BoBoiBoy menoleh. "Ah, sori. Aku nak pergi dekat gerbang depan Stesen kejap," katanya. "Apa kata Kereta Uncle Imran terjebak kat situ? Tunggu kejap, ye. Nanti saya balik sini."
Pemuda cilik itu lalu menghilang di kerumunan orang-orang yang lalu lalang di sekitar Stasiun, membuat keempat temannya dilingkupi perasaan asing nan kikuk. Di suasana sibuk seperti itu, mau tidak mau Yaya, Ying, Gopal dan Fang merasa seperti anak hilang.
"Haish, dah macam budak-budak yang hilang dekat keramaian dah," desah Gopal sedih lalu duduk di sebuah bangku umum tak jauh di belakangnya. Yaya memutuskan untuk mengisi waktu sambil membaca Al-Qur'an. Ying melihat-lihat keadaan di sekitar Stasiun dengan wajah ingin tahu. Hanya Fang yang termenung, sibuk dengan pikirannya sendiri.
'Ingatan aku samar-samar pasal Kuala Lumpur ni', batinnya. 'Dah lama tak pergi sini selepas Abang Kaizo bawa aku kemari bertahun-tahun lepas. Ternyata bandar ni dah lagi maju dari sebelumnya. Harap-harap aku tak jumpa Mimi kat sini. Kalau tak, bisa habis aku kena belasah.'
Tepat saat itulah matanya menangkap sebuah sosok yang berdiri di dekat lampu jalan tak jauh dari mereka. Fang memicingkan matanya, berusaha mengenali sosok yang memandang ke arah mereka itu. Sosok itu ialah seorang pria paruh baya. Bajunya yang terkesan flamboyan namun rapi melambai pelan tertiup angin. Sebuah Topi fedora bertengger di kepalanya, menyembunyikan bagian atas wajahnya. Lelaki itu menaikkan ujung topinya dan menatap Fang dengan senyum aneh.
"Huh?"
Fang mengedip-ngedipkan matanya, berharap ia salah lihat. Namun sosok itu menyingkirkan segala keraguannya.
"Azurian Faust? Apa dia buat kat sini?"
Fang baru saja hendak mendatangi sosok yang dianggapnya sebagai Azurian Faust itu. Namun sebelum ia sempat beranjak, tahu-tahu sebuah klakson mobil yang tampaknya ditujukan kepada mereka terdengar dari kejauhan. Keempat sahabat BoBoiBoy menoleh ke sumber suara klakson. Langsung saja mereka melongo hebat melihat kendaraan beroda empat yang berhenti di hadapan mereka: Sebuah Mobil Rolls-Royce Phantom 6.7 L berwarna hitam keperakan dengan suara mesin yang halusnya keterlaluan. Kaca Mobil yang menghadap ke empat anak itu diturunkan, menampakkan wajah BoBoiBoy yang tersenyum lebar di baliknya. Di sampingnya tampak seorang pria yang kira-kira berusia dua puluhan akhir, duduk di kursi pengemudi. Pria itu tersenyum kecil lalu keluar dari Mobil, mendekati Yaya, Ying, Gopal dan Fang.
"Perkenalkan, saya ialah Imran, Asisten peribadi keluarga Duta besar. Kalian mesti kawan-kawan baik daripada Tuan muda BoBoiBoy."
"Err... Iye?" balas Yaya, Ying, Gopal dan Fang bersamaan. Mereka belum lepas dari rasa kaget melihat kendaraan spektakuler yang dikemudian Imran untuk menjemput mereka semua dari Stasiun. Melihat wajah-wajah kaget itu membuat Imran tertawa kecil sebelum akhirnya melanjutkan perbincangannya.
"Saya rasa kalian perlu simpan rasa kaget kalian hingga kita tiba dekat rumah Tuan muda BoBoiBoy nanti," katanya geli. "Nah, baik kalian segera masuk Kereta sementara saya masukkan barang-barang kalian ke bagasi belakang. Jangan sungkan-sungkan, okey?"
Keempat anak itu mengangguk pelan, gugup luar biasa. BoBoiBoy memberi isyarat pada teman-temannya untuk masuk ke dalam Mobil. Dengan malu-malu mereka masuk ke dalam Mobil bermerek Rolls-Royce itu. Yaya yang masuk pertama kali lalu diikuti Ying. Setelah kedua teman perempuan mereka duduk di kursi paling belakang, Fang pun mengisi kursi tengah Mobil diikuti Gopal. Anak India itu menutup pintu Mobil di sampingnya dengan tangan bergetar saking gugupnya.
"D- Dey, BoBoiBoy. Apasal kau tak cakap awal-awal kalau Uncle Imran nak jemput kita guna Kereta mewah?" tanyanya gemetar.
"Iya wo. Kereta merek popular macam Rolls-Royce pulak tu," tambah Ying tidak kalah gugup.
"Hmm- dah tahu pon kalau BoBoiBoy tu anak Duta. Wajar kalau keluarga dia punya Kereta macam ni," ujar Fang gengsi, walaupun dalam hati ia gugup minta ampun.
"Sori sebab dah repotkan Uncle Imran jemput kitorang guna Kereta mewah ni," timpal Yaya malu. "Tak sangka dia nak susah-susah jemput kita kat sini."
BoBoiBoy tertawa. "Korang rasa je lah macam dekat kereta peribadi," godanya geli melihat tingkah gugup kelewatan dari teman-temannya. "Tak payah nerves pulak. Jom kita pergi kat rumah aku."
Tak lama kemudian Mobil itu meluncur di jalan raya. Perjalanan menuju rumah sang superhero elemental memakan waktu sekitar empat puluh menit. Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya Gopal, Yaya dan Ying melihat-lihat pemandangan Kota Kuala Lumpur di sekeliling mereka dengan mata takjub bak anak norak. Lain halnya dengan Fang. Anak berambut ungu itu malah merenung di kursinya, seolah-olah tidak terlalu takjub dengan penampakan kota metropolitan itu. Melihat tingkahnya itu, BoBoiBoy dan Imran saling pandang. Segera saja Imran menggumam,
"Nampaknya Tuan Fang dah pernah berkunjung kat KL ni," katanya ramah. "Benar begitu?"
BoBoiBoy mengangguk. "Betul tu. Kau dah pernah tinggal kat sini ke?"
Pertanyaan itu membuat Fang tersentak, buyar dari lamunannya. Yaya, Ying dan Gopal yang tadinya asyik melihat-lihat panorama Kuala Lumpur jadi ikut-ikut tertarik dengan bahan pembicaraan itu.
"Wah, betul ke tu?" tanya Yaya kagum. "Tak cakap pun kalau kau pernah duduk kat sini, Fang."
Melihat wajah-wajah penasaran teman-temannya membuat Fang jadi salah tingkah. "Ekh?! I- Itu..." katanya gugup. "...aku pernah berdiam kat KL ni bersama Abang aku. Semasa itu, Abang Kaizo dibagi tugas dari atasan dia untuk teliti seluk beluk Bandar ni. Aku lalu ikut dia kesini untuk temankan dia selama penelitian."
"Oh, jadi nama Abang Tuan Fang ialah Kaizo ke?" tanya Imran takjub. "Macam nama Kapten Legenda yang pernah disebut Ayah Tuan BoBoiBoy. Ini kebetulan ke apa?"
"Ehh?" BoBoiBoy dan teman-temannya terkejut mendengar itu. "Uncle Imran, macam mana-"
"Jadi tak syak lagi. Maklumat yang dikatakan Tuan besar tu ialah benar."
"Hayoyo, macam mana Uncle dan Ayah BoBoiBoy boleh tahu pasal Kapten Kaizo ni?" tanya Gopal kebingungan. "BoBoiBoy, kau yang bagi tahu mereka ke?"
"Hah? Mana ada!" protes BoBoiBoy membela diri. "Aku pun baru tahu kalau maklumat Kapten Kaizo ada dekat Ayah aku. Uncle Imran, kenapa Ayah boleh dapatkan maklumat bernas macam tu?"
Imran tertawa kecil. "Ada banyak konspirasi yang berlaku kat Kedutaan beberapa bulan belakangan ini," jelasnya. "Kalau tak salah, Tuan besar dapatkan maklumat perihal kuasa Tuan muda BoBoiBoy dan kawan-kawan. Jangan salah, itu sudah jadi rahsia umum Keluarga Tuan besar."
Untuk beberapa saat BoBoiBoy dan teman-temannya merasa mati rasa mendengar penjelasan Imran itu. Mau tidak mau mereka membenarkan penjelasan tersebut, karena bagaimanapun juga berbohong tidak ada gunanya.
"Oh, ya. Satu lagi. Tuan besar nak kalian semua terangkan apa-apa yang berlaku dekat Tuan Haryan Pakpak Darwish. Kalau tak salah, kalian berjumpa dengan Tuan Haryan beberapa hari lalu. Saya tahu ini macam teruk, tapi maklumat kalian sebagai saksi mata mungkin akan bermanfaat bagi Tuan besar. Harap-harap kalian maklum."
"O- Okey," BoBoiBoy menjawab lemah, seolah sudah mati kutu. Diliriknya teman-temannya di kursi belakang. Peragai mereka tidak jauh berbeda darinya. Mereka duduk kaku seperti patung karena tegang. Melihat kondisi mereka membuat Imran jadi merasa bersalah juga. Ia pun memutar otak, berusaha mencari cara untuk mencairkan suasana.
"Wah, maafkan saya sebab dah buat kalian tegang macam ni," sesalnya kemudian. "Apa kata kalau kita singgah sekejap buat makan ais krim? Saya tahu dimana kedai Ais krim tersedap dekat Bandar KL ni. Kalian nak ke tak?"
Mendengar kalimat Es krim, serta-merta kekakuan yang melanda kelima anak di Mobilnya itu bersorak riang.
"Mestilah nak! HOREEE!"
Imran tersenyum. "Okey lah kalau macam tu. Pemberhentian berikutnya: Ais Krim Kedai Sangkaya!"
Rumah Dinas Duta besar, jam 16:00
Istri sang Duta mendesah panjang. Dirinya baru saja menerima telepon dari Imran kalau dia mengajak BoBoiBoy dan teman-temannya makan es krim sebelum tiba di rumah. Padahal beberapa jam yang lalu dia sudah menyuruh para pembantu untuk menyiapkan kamar tidur untuk anak-anak itu. Suaminya masih lembur di Kantor. Dalam sekejap saja wanita itu sudah diliputi aura kebosanan yang luar biasa. Dia lalu memutuskan untuk duduk di ruang tamu untuk membaca Tabloid emak-emak. Namun sebelum ia sempat membalik halaman pertama, bel rumahnya berdering
DING! DONG!
"Tunggu sekejap!" serunya seraya merapikan hijabnya dan bergegas menuju pintu. Dideliknya sosok yang menekan bel itu dari bingkai jendela. Wajahnya segera berubah cerah begitu melihat siapa sosok itu. Dibukanya pintu untuk menyambutnya.
"Assalamualaikum, Makcik. Maaf mengganggu."
"Waalaikumsalam. Wah- tumben lah Hafiz datang kesini. Ada perihal apa ni? Jom masuk. Biar Makcik buatkan Teh."
Sosok yang ternyata adalah Hafiz itu segera menggeleng. "Terima kasih, Makcik. Tapi saya kesini sebab saya nak bagi Makcik Undangan ni."
Disodorkannya sebuah amplop beraroma bunga matahari. Selama beberapa detik Istri sang Duta tertegun melihat benda itu.
"Eh? Undangan apa ni?"
"Oh, ini Undangan Pesta Gala buat Pejabat-pejabat Negara malam esok. Perusahaan Butik keluarga saya termasuk salah satu Sponsornya. Makcik dan Pakcik pun diundang sekali."
"Wahh- terima kasih," balas si Istri Duta dengan senyum mengembang sambil menerima Amplop undangan itu. "Makcik senang Butik keluarga kamu pun termasuk salah satu Sponsornya. Tapi nampaknya kamu tengah penat. Jom masuk buat berehat dan minum Teh. Sekejap pun takpe."
Hafiz menggeleng. "Tak payah repot-repot, Makcik. Saya masih mahu hantarkan Undangan ke rumah Pejabat lain," tolaknya halus. "Terima kasih sebab dah terima Undangan ni. Saya pergi dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Hati-hati ye. Salam dekat Ummi kamu."
"Okey, Makcik!"
Hafiz berlari ke arah pintu gerbang rumah Sang Duta besar sembari melambaikan tangan ke arah Ibu BoBoiBoy. Wanita itu balas melambaikan tangan seraya memegang Amplop surat Undangan yang diberikan Hafiz. Tanpa ia ketahui, Azurian menatap pertemuan keduanya dari balik sebuah pohon cemara di halaman rumah sang Duta.
"Hmm, menarik. Jadi memang benar kalau Pesta Gala itu akan berlangsung," gumamnya sinis. "Bagus, bagus. Pesta dimana para Pejabat Negara akan berkumpul? Fufufu, ladang yang bagus buat selesaikan rancangan lanjutan Death List. Mari kita tengok apa yang akan berlaku selanjutnya."
Dibalikkannya badannya lalu melompati pagar tinggi yang membatasi halaman rumah sang Duta dengan jalan raya. Begitu sudah cukup jauh, pria itu menyalakan earphone transmisinya lalu bergumam.
"Semua ahli Supreme Diamond, sedia buat jalankan Operasi Death List 2.0. Kita akan bersenang-senang malam esok."
"Roger.".
Bersambung...
Yey! Bagian ini akhirnya tuntas juga. Oh, ya. Mungkin di bagian selanjutnya bakal penuh dengan deskripsi pesta. Bagi yang suka pergi ke Pesta-pesta Gala pasti tahu kok gimana suasananya. /Ga semua orang pernah ikut pesta Gala, kali!/
Me: "Oh iya, Ding."
Untuk kali ini Author kemungkinan besar akan update sekitar dua minggu sekali atau lebih, berhubung Author sedang masa-masa Skripsi. Jadi kalau ada waktu kosong baru Author lanjutkan fanfic ini. Jika perlu, silahkan review bagian ini. Author akan sangat berterima kasih dengan masukan2 dan kesan teman-teman sekalian, hehehe... ^_^
Tetap setia menunggu kelanjutannya, ya. Love you all, dear readers :)
