Oke. Tanpa babibu lagi, mari kita baca cerita ini. ^^

Bagaimana reaksi teman-teman BoBoiBoy begitu mereka pertama kali menginjakkan kaki di rumah Sang Duta? Dan apa saja yang terjadi selama hari pertama BoBoiBoy dan teman-temannya di Kuala Lumpur? Apa saja tiga benda berbahaya yang saat ini dimiliki oleh penjahat-penjahat Galaksi? Silahkan cari jawabannya di bagian ini :)

Note: Rada OOC, gaje dll


.

.

C.E.R.M.I.N. G.A.L.A.X.Y.

Apocalypse by 'Sapu Katharsis'

.

.

.

BoBoiBoy milik Animonsta/Monsta


.

.

.

Bagian 8: Rumah,Teman lama dan Topi baru.

Suasana di alam bawah sadar BoBoiBoy dan Milyra yang tergabung terlihat lebih ramai dari biasanya. Di sebuah gazebo besar di tengah sebuah taman yang asri, tampak ketiga pecahan elemental BoBoiBoy: Petir, Angin dan Tanah berbincang-bincang dengan ketiga pecahan gelombang Milyra: X, Gamma dan Infra. Ekspresi bingung bercampur cemas yang terlihat dari wajah-wajah mereka menunjukkan apa yang mereka bicarakan adalah hal yang kurang menyenangkan.

"Tak sangka Milyra Fragrance dan Milyra Ultraviolet boleh berjaya masuk-masuk dekat alam bawah sedar ni," kata Tanah cemas seraya bertopang dagu. "Kita kena siasat sebab diorang boleh buat benda mustahil tu."

"Ha'ah lah, tak tahu pon kalau diorang boleh susup-susup kesini," ungkap Gamma sama cemasnya. Dipeluknya bantal empuk berbentuk bulat di pangkuannya. "Korang tahu kan kalau diorang tu ialah pecahan pembelot daripada kuasa manipulasi gelombang Milyra? Itu artinya diorang tak boleh dianggap sambil lalu!"

"Mestilah tahu. Tapi yang aku nak tanyakan, apasal dia orang macam stalk pecahan-pecahan kuasa yang belum aktif lagi?" tanya Angin heran sambil menggaruk bagian belakang kepalanya yang agak gatal. "Fragrance kata dia nakkan BoBoiBoy Daun, walaupun kuasa elemental Daun belum aktif lagi. Dari situ la aku boleh rasa kalau ada sesuatu yang pelik dekat dia dan Violet tu."

"Hmph! Memang lah diorang tu budak-budak pelik," tukas X sebal sembari menyilangkan kedua tangan di depan dada. "Sampai bila kita nak lehe-lehe buat waspada kat diorang? Buang masa betul."

Infra mendesah murung. "Aku cuma nak diorang beborak balik dengan kita lagi," ujarnya sedih. "Bagaimanapun juga, Fragrance dan Violet tetaplah 'adik-adik' kita. Tanah betul. Kita kena siasat benda ni. Diorang tu ialah anomali, sebab kes kuasa yang memiliki kehendak sendiri diluar kawalan ahli kuasa macam ni dah termasuk perkara yang langka dan mungkin baru berlaku kali ini."

"Ish, apasal benda pelik ni makin lama makin rumit?" protes Petir sambil menancapkan pedang petirnya ke lantai keramik gazebo keras-keras saking kesalnya. "Kalau diorang masih saja remehkan kita macam ni, akan aku belasah diorang!"

"Bertenang, Petir. Kita kena fikirkan perkara ni guna kepala dingin," kata Tanah menenangkan. "Aku rasa Fragrance dan Violet tu lagi pandai dari yang kita nampak. Kalau kita gegabah sikit sahaja, bisa gawat!"

"Korang fikir tak kalau ada kemungkinan diorang cuba join dekat ONION?" timpal Angin. "Maksud aku- diorang stalk pecahan-pecahan kuasa yang lain, sombongnya minta ampun dan nampak sengaja jadikan kita sebagai musuh diorang. Harap-harap diorang takde agenda pelik dah."

Infra tersenyum. "Semoga saja," katanya penuh harap. "Ah, ya. Sebelum lupa, ada benda yang nak aku bagi tengok kat korang."

"Apa benda tu?" tanya kedua saudarinya dan ketiga pecahan elemental BoBoiBoy bersamaan. Infra membuka kedua telapak tangannya yang memunculkan secercah sinar merah jambu. Sekonyong-konyong sebuah laptop muncul di pangkuannya. Gadis pengendali gelombang infra merah itu mengetik sebentar sebelum akhirnya memunculkan sinar hologram dari layar laptop. Tiga pasang setelan jas setengah resmi muncul dari hologram.

"Aku baru saja dapat maklumat daripada Balance," kata gadis itu. "Dia kata dia ada firasat suatu benda teruk akan terjadi esok malam. Dia pun tak pasti apa benda teruk tu, tapi dia titip maklumat ini pada kita semua, khususnya pada ketiga pecahan BoBoiBoy. Kemungkinan korang bertiga akan bertandang ke suatu party. Maka dari itu, dia bagi korang setelan Jas ini guna jaga-jaga. Dan nampaknya korang bertiga kena sedia gunakan kuasa tahap awal untuk kali pertama lagi."

"Apa?!" Petir menjerit kaget. "Aku masih belum terbiasa dengan kuasa awal aku lagi, dan dah berapa kali aku kalah duel semasa berlatih dengan X! Dan sekarang Balance nak bagi kitorang amaran pulak?! Dia nak kita kalah dalam satu kali tumbukan ke, Hah?!"

"Jangan risau. Aku akan bagi kau latihan tambahan mulai esok pagi," ujar X segera. "Agar kau dah lagi sedia untuk lawan musuh dengan kuasa tahap kau tu."

"Ta- Tapi..."

"Helehh, cakap je kau takut kalah macam Ayam, kan? Kan?" goda Angin, membuatnya disambar dengan tatapan tajam dari Petir.

"Kau cakap aku ni macam Ayam?!"

"Ehh... tak, tak, tak! Aku gurau je, hehehehe..."

"Tapi ada betulnya juga cakap Angin tu. Kau tu macam Ayam, Petir. Penakuttt..." Gamma tahu-tahu ikut menimpali, membuat kekesalan Petir semakin menjadi-jadi.

"Korang berdua ni memang sengaja cari gara-gara kat aku, Heh?!"

"Ekh?!" Angin tersengih melihat Petir yang tampak sudah memunculkan pedang petirnya kembali. "Wey Gamma, Apasal kau pancing amarah dia lagi?!" bisiknya ngeri pada Milyra Gamma. Yang ditanya hanya menoleh ke arah Angin sembari cengar-cengir.

"Tapi kau pernah citer kat aku kalau Petir tu penakut. Belon pun dia takutkan juga," ujar Gamma polos, tidak menyadari bahwa kalimatnya itu membuat Petir langsung ambil ancang-ancang dan menerjang ke arah mereka dengan pedang petir terhunus.

"DAH HABIS KORANG BUAT AKU MARAH KE, HAAAHHH?! TEBASAN PEDANG PETIR!"

"AAAAAAHHHHHHH!"

Serta-merta Petir menerjang ke arah Angin dan Gamma, membuat kedua anak itu menjerit horror dan segera ambil langkah seribu, takut dengan amukan dari sang BoBoiBoy pengendali petir. X mendesah panjang sembari menepuk keningnya melihat kejadian itu.

"Mulai lagi dah," tukasnya sebal lalu menyusul ketiga pecahan yang mulai saling kejar mengejar di halaman itu. "Apa pasal korang bertiga ni tak boleh senyap, Heh?! BERHENTI AKU KATA!"

Dan tampaklah di area taman alam bawah sadar itu Angin dan Gamma yang dikejar Petir dan Petir yang dikejar X. Tanah dan Infra hanya bisa tertawa pelan nan hambar melihat adegan kejar-mengejar tersebut. Tak lama kemudian kedua pecahan nomor urut tiga dari BoBoiBoy dan Milyra itu memutuskan untuk kembali ke pokok masalah.

"Pada akhirnya kita berdua lagi yang bahas perkara ini," ucap Infra miris sambil melipat kedua tangannya di depan dada, mendecak-decak.

"Jadi sampai dimana terangan kita tadi?" tanya Tanah tiba-tiba. Infra memandang laptopnya kembali lalu menimpali.

"Ah, Balance bagi aku suatu maklumat lagi," katanya malu-malu sambil mencari file yang dimaksud. Begitu ketemu, langsung saja ia berseru. "Dapat! Tengok ini, Tanah."

"Hmm?"

Tanah memandang lamat file yang diperlihatkan Infra padanya itu: Sebuah data yang berisi informasi tentang Kekuatan dasar manipulasi gelombang milik Milyra, data akurat mengenai Milyra Fragrance dan Milyra Ultraviolet serta sebuah wacana mengenai anomali-anomali kuasa.

"Amacam? Maklumat ni membantu, tak?" tanya Infra. Tanah memandang file itu sekali lagi sebelum akhirnya pemuda berpakaian serba cokelat susu itu tersenyum semiris-mirisnya.

"Memang membantu, tapi pasal wacana anomali kuasa ni... jangan harap kita akan terbantu kalau benda penting macam tu masih dianggap sebagai wacana," timpalnya sarkastik. "Aku butuh bantuan BoBoiBoy Cahaya kalau nak siasat benda macam tu."

"Sebab dia ialah pecahan yang punya daya analitik yang bagus ke?" Infra menggaruk dagunya. "Kalau kita memang butuh sangat orang yang punya daya analitik macam tu, Violet pun boleh dah."

"Masalahnya Violet dah anggap kita ni musuh dia, tau," gumam Tanah muram. "Takde jalan lain ke?"

Infra memandang Tanah dengan rasa peduli. "Mari berharap semua ini akan ada jalan keluarnya suatu masa nanti," katanya lembut, membuat Tanah tersenyum lega.

"Betul. Baik kita tunggu masa tu."


Kedai Es Krim Sangkaya, Kuala Lumpur 2014, pukul 13:45

Seperti yang sudah ditawarkannya, Imran mengajak BoBoiBoy dan kawan-kawannya makan es krim di Kedai Sangkaya. Sebelumnya dia sudah memberitahu Ibu BoBoiBoy tentang hal itu. Wanita itu sempat kaget, tapi setelah Imran menjelaskan secara baik-baik, Ibu BoBoiBoy segera maklum dan memberinya izin.

"Nah, kita dah sampai," celetuk Imran begitu mobil yang dikemudikannya tiba di pinggir jalan tempat kedai es krim Sangkaya berada. "Ayo turun. Uncle jamin ais krim kat sini mesti sedap! Dan yang paling bernas lagi, Uncle akan belanja kamu semua!"

"Hah? Biar betul?!" pekik Gopal dengan wajah berseri-seri. Pasalnya ini kali pertama dia ditraktir makan es krim dengan cuma-cuma karena selama ini hanya dia sendiri yang 'membujuk' penjual untuk mengratiskan dagangannya alias berhutang. "Uncle serius ke ni?"

"Serius..." goda Imran geli. "Nah, cepat la order. Nanti Uncle yang bayar."

"HORE! Terima kasih, Uncle!"

Spontan kelima anak pra-remaja itu melesat menuju kedai Sanjaya dan berlomba memesan es krim masing-masing. Ying memesan es krim vanilla Oreo, Yaya memesan es yogurt stroberi krim, Gopal memesan es krim dark milk cokelat dan BoBoiBoy memesan es krim jeruk vanilla.

Kini tibalah giliran Fang untuk memesan.

"Umm- saya nak order ais krim lobak merah."

"Ehh?" Si pria penjual langsung saja menaikkan salah satu alisnya tanda bingung. "Adik okey ke? Mana ada ais krim lobak merah?"

"Ekh? Ye ke?" ujar Fang kaget. "Ma- Maaf, Pakcik. Tapi tu je ais krim yang saya minat."

Setelah ia mengatakan itu, tahu-tahu terdengar suara cekikikan dari arah belakang. Sang pengendali bayangan cepat-cepat menoleh dan seperti yang ia duga, tampak teman-temannya yang sudah duduk di kursi kedai menahan tawa dengan wajah memerah saking gelinya.

"Oi! Apa pandang-pandang? Tak lawak lah!" semburnya sebal. BoBoiBoy tidak tahan lagi. Tawanya meledak saat itu juga.

"Hahahaha! Fang, kau ni... tak habis-habis minatkan lobak merah tu! Hahahahaha!"

"Hihi, betul la! Ais krim pun kamu mahu yang perisa lobak merah. Tak boleh order yang lain kah?" timpal Ying dengan wajah merah bak udang rebus akibat menahan tawa. Fang menggeram kesal. Aura gelap muncul di sekeliling tubuhnya. Namun sebelum ia sempat mengeluarkan kekuatannya, sekonyong-konyong Pak penjual es krim menepuk kepalanya dengan halus, membuat Fang kaget dan tidak jadi menyerang teman-temannya.

"Takpe, adik. Saya boleh buatkan ais krim perisa lobak merah tu," katanya lembut. "Tapi mungkin kena tambah bayar lagi, sebab ais krim ni perisa baru."

"Ehh? Tapi-"

"Takpe, Tuan Fang. Biar saya tambah bayarkan Tuan," timpal Imran tiba-tiba. Sebenarnya dia heran sedari tadi begitu mendengar rasa es krim favorit Fang itu. Namun Imran berhasil mengendalikan geli hatinya dan hanya geleng-geleng kepala sembari tersenyum simpul.

"Wah, terima kasih Uncle!" tukas Fang gembira bukan kepalang. Langsung saja ia menoleh ke arah si penjual dan mengacungkan jari telunjuk kanannya tinggi-tinggi.

"Saya nak order ais krim lobak merah satu!"


Arloji Imran menunjukkan pukul dua lebih sepuluh. Dia, BoBoiBoy dan Yaya baru saja keluar dari Masjid Raya setelah menunaikan shalat dzuhur. Ying, Gopal dan Fang yang duduk-duduk di dekat pagar masjid segera menyusul ketiganya masuk ke dalam Mobil Rolls-Royce yang dikemudikan Imran. Bagi pria itu hari ini sudah cukup untuk mengajak BoBoiBoy dan teman-temannya berkeliling alun-alun kota dan makan es krim enak. Sekarang saatnya mengajak mereka pergi ke rumah BoBoiBoy untuk beristirahat. Toh mereka pasti masih capek setelah datang dari Stasiun kereta Kuala Lumpur menjelang siang tadi.

"Nah, macam mana siar-siar singkat dekat KL ni?" godanya begitu ia mengemudikan Mobil itu.

"Um! Um! Seronok,seronok!" ujar Yaya senang. "Hebat la Uncle Imran dah ajak kitorang siar-siar kat sini."

"Terima kasih Uncle, sebab dah repot-repot ajak siar-siar," tambah Gopal sumringah. Imran mengangguk.

"Sama-sama," jawabnya ramah. Dideliknya sebentar BoBoiBoy yang duduk di kursi penumpang di sebelahnya. Anak bertopi dinosaurus itu ternyata sudah tertidur pulas di kursinya karena lelah.

"Hehehe, terbaik-" gumam Imran sembari tersenyum simpul sebelum akhirnya kembali fokus membawa Mobilnya di jalan raya Kuala Lumpur.

Setengah jam pun berlalu. Mobil yang membawa BoBoiBoy dan teman-temannya akhirnya tiba di pintu gerbang rumah BoBoiBoy. Fang dan Yaya yang tidak tidur langsung saja melongo, takjub melihat pintu gerbang itu.

"Besarnya gerbang ni," gumam Fang, belum lepas dari kekagetannya.

"Ha' ah lah, bernas betul Ibubapa BoBoiBoy, sampai boleh punya rumah macam mansion," timpal Yaya tidak kalah kaget. Imran menekan klakson sebanyak dua kali dan tahu-tahu pintu gerbang berat itu terbuka, menampakkan pemandangan spektakuler di baliknya.

Sebuah pekarangan yang luasnya mungkin mencapai setengah hektar menyambut Mobil yag dikemudikan Imran. Pekarangan itu ditanami berbagai macam jenis bunga, mulai dari tulip, melati hingga anggrek. Di sudut kanan pekarangan terdapat pohon wisteria yang bunga-bunganya menjuntai, menaungi sebuah gazebo cozy berwarna putih tulang di bawahnya. Di sudut kiri pekarangan tampak kolam teratai yang dihuni oleh ikan koi yang gemuk-gemuk. Di alun-alun pekarangan terdapat sebuah air mancur yang airnya segar. Dindingnya dilapisi semen dan keramik berwarna biru toska dan putih. Di belakang air mancur itu berdiri sebuah rumah mewah lantai dua bergaya mansion. Imran mengerem Mobil dan menengok ke belakang. Yaya dan Fang masih saja menganga.

"Nah, Anak-anak, kita dah tiba," ujarnya geli.

"Ehh? Uh- dah tiba ke?" sekonyong-konyong BoBoiBoy menggeliat di kursinya dan bangun. Digaruknya perutnya sejenak sembari mengumpulkan kesadarannya. Ying dan Gopal yang juga tertidur ikut-ikut bangun. Sontak mereka langsung takjub melihat pemandangan di sekeliling mereka.

"Wuahh! Cantiknya!" pekik Ying girang. "Macam negeri dongeng wo!"

"Uish, dah macam juragan terkemuka yang punya!" kata Gopal ikut takjub.

"Bagusnya rumah ni," ucap BoBoiBoy ikut-ikut takjub.

"Dey, ini rumah dinas Ibubapa kau lah! Apasal ikut-ikut takjub pulak?" tanya Gopal heran.

"Ehh- iya ke?" BoBoiBoy nyengir hambar. "Hehehe, sori... dah lama aku tak duduk kat sini, jadi pon ikut takjub macam korang," katanya malu-malu.

Imran tertawa kecil. "Dah, dah. Baik kalian semua masuk dahulu. Kalian kena berehat lepas siar-siar kat bandar tadi."

"Okey!"

BoBoiBoy dan teman-temannya lalu menaiki telundakan menuju pintu rumah sang Duta. Sesampainya di teras, BoBoiBoy menekan bel pintu.

"Assalamualaikum. Mak, ini BoBoiBoy."

"Waalaikumsalam," balas sebuah suara wanita yang disertai dengan pintu rumah yang terbuka. Tampak ibu BoBoiBoy disana. Serta-merta wanita paruh baya itu memeluk putranya erat-erat hingga anak itu nyaris sesak nafas.

"Masya Allah! Dah lama Mak tak jumpa kamu, BoBoiBoy!" tukas sang Ibu gembira bukan kepalang lalu mencium pipi anaknya kiri dan kanan. "Sejak kamu pergi temankan Tok Aba kat Pulau Rintis, Mak jadi rindu!"

"Hehehe, iya Mak. BoBoiBoy juga rindu Mak," ucap BoBoiBoy tulus. "Tok Aba bagi salam dekat Mak dan Ayah. Atok juga kata beliau sihat-sihat sahaja."

Ibunya tersenyum. "Tok Aba memang Atok terbaik sedunia," ucapnya terharu. Dia masih saja belum melepaskan pelukannya terhadap putranya sampai akhirnya matanya menangkap keempat sosok sahabat BoBoiBoy yang tampak berdiri kikuk di teras.

"Wah, ini ke kawan-kawan yang kamu pernah bagi tahu dekat Mak, BoBoiBoy?" tanyanya ramah sembari memandang Yaya, Ying, Gopal dan Fang bergantian. "Comelnya kamu semua! Siapa nama kalian?"

"Umm, saya Yaya, jiran Tok Aba dan BoBoiBoy kat Pulau Rintis," jawab Yaya ramah.

"Ihi, saya Ying, kawan BoBoiBoy yang suka lari laju!" jawab Ying bersemangat.

"Saya Gopal, kawan dekat BoBoiBoy yang minat makanan!" jawab Gopal bangga.

"Dan saya Fang, kawan BoBoiBoy yang terpopuler dekat sekolah!" jawab Fang dengan percaya diri, membuat teman-temannya facepalm.

"Ish! Apahal la kau ni, Fang," ujar BoBoiBoy sebal, malu dengan tingkah teman pengendali bayangannya yang tahu-tahu jadi sok populer. "Mak aku tengok tingkah kau tau."

Ibu BoBoiBoy tertawa melihat itu. "Ahaha, takpe, takpe. Kawan kamu ni memang comel, BoBoiBoy. Tak payah kamu larang dia berekspresi," katanya, membuat Fang memberi BoBoiBoy sebuah tatapan kemenangan. BoBoiBoy mengalah saja dengan pendapat dari ibunya itu.

"Ehem," tiba-tiba Imran yang terlihat membawa koper-koper BoBoiBoy dan teman-temannya berdehem di dekat mereka. "Akak, saya rasa Akak kena bagi diorang masa rehat buat sejenak," ucapnya. "Diorang dah penat lepas tiba dari Stesen tadi."

"Hmm- ye lah tu," tukas Ibu BoBoiBoy dengan tatapan malas. "Dan siapa pulak yang bawa diorang siar-siar kat Bandar hingga terlewat petang, Haaa?"

"Hehehe- saya, Akak..." Imran cengengesan, merasa malu dengan ajakannya pada BoBoiBoy dan teman-temannya untuk berjalan-jalan di kota sepanjang siang tadi. Sang Nyonya rumah hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah asisten keluarganya itu. Dia kemudian menoleh ke arah putranya dan teman-temannya.

"Nah BoBoiBoy, Mak akan ajak kawan-kawan kamu berbincang sekejap dekat ruang tengah. Kamu dan Imran yang uruskan barang-barang. Para Pelayan baru sahaja berehat lepas sediakan bilik-bilik tido buat kawan-kawan kamu."

"Okey Mak."

BoBoiBoy lalu membantu Imran mengangkat koper teman-temannya ke lantai dua dimana kamar-kamar yang akan ditempati Gopal, Fang, Yaya dan Ying berada. Ketika tengah membawa koper-koper itu, BoBoiBoy memulai percakapan.

"Uncle Imran, bila masa Ayah dan Uncle tahu maklumat rahsia macam jati diri Kapten Kaizo?" tanyanya heran. "Setahu saya, Ayah tak pernah cakap kalau dia tahu maklumat Top Secret macam tu."

Imran mendesah. "Ayah Tuan muda BoBoiBoy memang penuh kejutan," katanya sembari tertawa kecil. "Lagipun umur Tuan muda masih kecik sangat. Seharus pon Tuan tak perlu fikir benda-benda rumit macam tu. Tapi selepas Ayah Tuan cakap kalau Tuan dan kawan-kawan Tuan ialah saksi mata Organisasi yang dikawal Tuan Haryan, saya rasa Tuan kena faham kalau benda tu dah jadi rahsia umum dekat keluarga inti Tuan. Mau tidak mau Tuan kena terlibat dalam perkara ni."

BoBoiBoy merenungi kata-kata Imran itu. "Uncle fikir Ayah mesti marah dekat aku kalau Ayah dah balik dari ofis nanti ke?"

"Hmm... Mungkin kot," kata Imran agak ragu. "Tuan besar bukanlah peribadi yang senang ditebak. Tapi Uncle yakin kalau Tuan BoBoiBoy terangkan alasan Tuan secara baik-baik, Ayah Tuan mesti akan maklum. Nanti Uncle akan cuba temankan, okey?"

"Um!" angguk BoBoiBoy puas. "Terima kasih banyak, Uncle."

Sementara itu, Ibu BoBoiBoy mengajak Gopal, Fang, Yaya dan Ying menuju ruang tengah. Ruang tengah itu cukup luas, dengan empat buah sofa empuk berwarna jingga kecoklatan, sebuah Tv LCD dengan stereo berkualitas tinggi serta lampu gantung kristal yang menggantung di plafon atas sofa-sofa tersebut. Tak lama kemudian, mereka pun berbincang-bincang.

"Jadi, kalian semua dah berkawan sejak lama ke?" tanya Ibu BoBoiBoy pada Gopal,Yaya,Ying dan Fang. Keempat anak itu celingak-celinguk, merasa canggung ditanya seperti itu.

"Ehm, sebenarnya saya, Gopal dan Ying sahaja yang dah berkawan lama," jawab Yaya ramah. "Pasal Fang, dia baru berkawan sejak dia pindah sekolah kat Pulau Rintis."

"Ohh, biar betul?" tanya sang Nyonya rumah senang. Ia menoleh ke arah anak berambut landak yang dimaksud. "Sebelumnya kamu bersekolah dekat mana, Fang?"

Fang tersentak. "Ah, itu-" gumamnya gugup. Dia bingung apakah harus menceritakan jati dirinya sebagai Alien berwujud manusia dan bersekolah di Planet lain sebelum pindah ke sekolah rendah Pulau rintis atau tidak. "Sebenarnya-"

"Dey, Makcik, Fang ni Alien lah!" potong Gopal tiba-tiba. "Dia bersekolah kat Pulau Rintis ni sebab dia nak siasat kitorang dan nak ambik jam kuasa kitorang atas perintah Kapten Kai-"

"WOI! Apasal kau cakap-cakap benda pelik macam tu!?" pekik Fang horor sambil membekap mulut 'ember' teman manipulator molekulnya. Habis sudah pamornya sebagai teman biasa BoBoiBoy. "Ma- Makcik, jangan dengar cakap Gopal. Dia ni memang tak betul!"

Sejenak Ibu BoBoiBoy melongo mendengar itu. Dia lalu menoleh ke arah Yaya dan Ying. Kedua gadis itu merasa tubuh mereka kaku bukan main.

"Yaya, Ying, betul ke apa yang dicakapkan Gopal tadi?" tanyanya. "Fang ni alien?"

Yaya dan Ying menelan ludah. Keduanya saling pandang sejenak sebelum akhirnya Yaya membuka mulut.

"Be- Betul, Makcik. Fang ni alien," katanya gugup, membuat Fang yang duduk tak jauh darinya nyaris pingsan di tempat.

"I- Iya ho, Fang ni memang alien," timpal Ying terbata-bata. "Tak apa kalau Makcik anggap kami ni pelik, tapi itu lah maklumat sebenar Fang ni."

Selama enam puluh detik Ibu BoBoiBoy hanya melongo hebat. Tahu-tahu wanita itu tertawa, membuat keempat anak yang bersamanya saling melempar pandang.

"AHAHAHAHA! Kalian ni memang lucu," ucap si Nyonya rumah di sela-sela tawanya. "Kalian fikir Makcik tak tahu ke kalau Fang ialah alien? Hahahahaha! Sungguh menggelikan."

"Ehhh?" Gopal menganga mendengar itu. "Ta- Tapi macam mana Makcik tahu?"

"Senang je. Ayah BoBoiBoy dan salah satu rakan dia: Tuan Ganesha Khan yang bagi tahu," jawab ibu BoBoiBoy setelah tawanya mereda. "Lagipun Tuan Khan tu berkawan baik dengan salah satu Puteri dekat dimensi beta Planet Gogobugi. Makcik rasa Planet itulah tempat darimana kamu berasal, Fang."

"Be- Betul," tukas Fang gugup."Saya memang berasal dari Planet Gogobugi. Tak sangka rakan Ayah BoBoiBoy berkawan dengan Kak Lien. Banyak betul kejutan yang aku dapat akhir-akhir ini."

"Aik? Siapa pulak Kak Lien tu?" tanya Ying bingung.

"Dia tunangan Abang aku, walaupun Kapten Kaizo belum boleh beradaptasi dan masih lagi anggap Kak Lien sebagai kawan," jawab Fang pendek, membuat ketiga teman manusianya terkejut.

"Bernasnya Kapten Kaizo dah bertunang!" ucap Yaya dengan mata berbinar-binar.

"Iya ho, saya pon tekejut lah!" pekik Ying sumringah

"Suit! Suit!" Gopal bersiul menggoda. "Tak sangka Kapten yang garang nan seram macam Kapten Kaizo boleh bertunang!"

"APA!? KAU CAKAP ABANG AKU GARANG NAN SERAM!?"

"Ehh- tak! Tak!"

"Humph! Tahu takut?" kata Fang menyilangkan kedua tangannya di depan dada seraya cemberut. Yaya dan Ying cekikikan melihat tingkah kedua teman lelaki mereka itu. Ibu BoBoiBoy hanya mendesah sembari tersenyum. 'Ada hal je lah budak-budak ni,' batinnya dalam hati.

Tak lama kemudian, BoBoiBoy dan Imran datang mendekati mereka. Keduanya saling mengedipkan mata satu sama lain sebelum akhirnya Imran angkat bicara.

"Akak, semua koper sudah kami bawa ke bilik tidur masing-masing."

"Bagus! Terima kasih, Imran," ujar ibu BoBoiBoy puas. "Nah, BoBoiBoy, ajak kawan-kawan kamu ke bilik tidur mereka. Kalian mesti penat. Selamat berehat, anak-anak."

"Terima kasih, Makcik! Terima kasih, Uncle Imran!" balas Yaya, Ying, Gopal dan Fang gembira. BoBoiBoy lalu menuntun teman-temannya menuju kamar-kamar tidur yang sudah disediakan di lantai dua. Pertama mereka pergi menuju Kamar tidur untuk Yaya dan Ying. Kamar itu memiliki balkon yang menghadap ke arah jalan utama. Pemandangan kota metropolitan Kuala Lumpur terlihat jelas dari sana. Sebuah pendingin ruangan bertengger di atas pintu menuju balkon. Dua tempat tidur yang masing-masing berisi dua bantal kepala dan satu bantal guling yang berseprai putih angsa plus selimut tebal berukuran standar namun mewah berada di sisi kiri dan kanan kamar. Di pojok kanan terdapat lemari pakaian yang terbuat dari kayu jati serta koper-koper milik Yaya dan Ying sementara di pojok kiri terdapat satu buah meja rias yang juga terbuat dari kayu jati. Di samping lemari pakaian terdapat kamar mandi ber-shower plus westafel dengan keran yang berisi air dingin dan air hangat. Mau tidak mau Yaya dan Ying memekik girang melihat kamar tidur yang akan mereka tempati selama satu pekan itu.

"KYAAAA! Mewahnya bilik tido ni!" jerit mereka sambil berpegangan tangan satu sama lain dengan girangnya. Tanpa babibu kedua gadis itu langsung masuk ke dalam kamar dan melompat ke atas tempat tidur masing-masing, ingin merasakan keempukan tiada tara. BoBoiBoy, Gopal dan Fang hanya bisa nyengir hambar melihat tingkah kedua teman perempuan mereka itu.

"Bagusnya bilik ni," ucap Fang kagum.

"Betul tu, sampai buat Yaya dan Ying rasa seronok," tambah Gopal tak kalah kagum. "Dey, BoBoiBoy, bilik aku dan Fang macam ni juga ke?"

BoBoiBoy tersenyum. "Kita tengok je lah nanti," katanya sok misterius. Dia lalu menoleh ke arah Yaya dan Ying yang sudah bangkit dari kasur masing-masing. "Nah, Yaya, Ying, aku nak ajak Gopal dan Fang ke bilik tidur diorang. Korang berehat ye. Esok pagi baru kita pergi melancong!"

"Okey!" balas kedua gadis itu bersamaan. BoBoiBoy lalu menutup pintu kamar perempuan kemudian menuntun Gopal dan Fang ke kamar tidur mereka. Sesampainya disana, kedua anak lelaki itu langsung menganga hebat. Kamar tidur yang akan ditempati Gopal dan Fang ternyata tidak kalah mewah dengan kamar tidur Yaya dan Ying. Di sisi kanan dan kiri kamar itu terdapat dua tempat tidur berseprai putih tulang. Masing-masing tempat tidur dilengkapi dengan dua bantal kepala dan satu bantal guling serta satu selimut tebal. Di pojok kiri terdapat lemari pakaian yang terbuat dari jayu jati serta koper-koper milik Gopal dan Fang. Di pojok kanan terdapat satu meja belajar dan sebuah cermin untuk bergaya. Di samping lemari terdapat kamar mandi ber-shower plus westafel berisi air dingin dan air hangat. Sebuah pendingin ruangan bertengger di atas bingkai pintu yang mengarah ke balkon. Sepintas kamar tidur itu hampir tidak ada bedanya dengan kamar tidur Yaya dan Ying. Namun ada satu hal yang benar-benar membedakan kedua kamar itu: Balkon kamar Gopal dan Fang tidak menghadap ke jalan utama melainkan menghadap ke arah taman rumah BoBoiBoy yang sepi. Mendadak balkon itu terkesan seram, khususnya bagi Gopal yang penakut.

"Nah, Amacam? Bernas tak bilik tido korang ni?" tanya BoBoiBoy sumringah.

"Me- Memang lah bernas," ujar Gopal agak ngeri. "Tapi apasal balkon bilik ni kena menghadap ke taman? Kalau malam-malam ada pontianak macam mana?"

"Kau ni penakut betul la! Sudah, sudah! Masuk sana!" tukas Fang tidak sabar sembari mendorong tubuh Gopal yang gemetaran masuk ke kamar mereka. "Aku penat lah! Kau tak nak berehat ke?"

"Me- Mestilah nak! Tapi... Tapi kenapa kita dapat bilik yang punya balkon seram macam ni?"

"Ish, kau ni! Nasib baik Mak BoBoiBoy bagi kita bilik tidur. Kau nak tido kat ruang tengah sorang-sorang ke, Hah?"

"Tak nak! Mestilah tak nak!"

"Kalau macam tu, tak payah nak protes," ucap Fang cemberut melihat sifat penakut Gopal yang kambuh kembali. BoBoiBoy menyeringai melihat tingkah kedua teman lelakinya itu sambil mengacungkan jempol tangan kanannya.

"Hehehe, terbaik."

Malam pun tiba. BoBoiBoy dan Imran baru saja pulang dari masjid setelah sholat isya. Begitu keduanya tiba di dalam rumah, Imran menangkap sosok Sang Duta alias Ayah dari BoBoiBoy di ruang tengah. Pria itu tampaknya baru pulang dari kantor. Sekonyong-konyong Imran cepat-cepat mendorong BoBoiBoy ke tangga menuju lantai dua.

"Ehh? Apasal Uncle Imran dorong-dorong aku ni?" tanya BoBoiBoy kebingungan.

"Shh!" desis Imran. "Ayah Tuan ada dekat ruang tengah. Baik dia tak nampak Tuan dahulu. Kalau tak, dia akan bagi Tuan beribu soalan. Tuan dah sedia ke tak?"

"Umm- belum?"

"Nah, tu lah. Maka dari tu, baik Tuan jangan jumpa Ayah Tuan dahulu sebelum makan malam tersedia, okey?"

"Uhh, iye."

"Bagus. Sekarang Tuan masuk bilik dahulu dan berehat. Kalau makan malam dah tersedia, baru Uncle panggil Tuan dan kawan-kawan Tuan."

BoBoiBoy mengangguk. Dia lalu masuk ke dalam kamarnya yang berada di samping kamar Yaya dan Ying. Langsung saja ia merebahkan diri ke atas kasur. Sejenak ia melamun, tidak tahu ingin melakukan apa. Tiba-tiba saja sebuah ide muncul di benaknya. Diraihnya telepon rumah di meja samping tempat tidurnya dan memasukkan nomor Tok Aba. Begitu nada sambung berbunyi, suara Tok Aba langsung terdengar dari gagang telepon itu.

"Halo? Dengan Aba disini. Ada yang bisa dibantu?"

"Assalamualaikum, Atok. Ini BoBoiBoy."

"Hah? Wa'alaikumsalam. Ya Allah, BoBoiBoy cucu Atok! Macam mana kat kereta tadi? Kau dah tiba dekat KL ke? Apasal baru telepon Atok ni?"

"Hehehe- maaf, Tok. BoBoiBoy terlupa nak bagi tahu kalau BoBoiBoy dan kawan-kawan BoBoiBoy dah tiba dekat rumah Ayah dan Mak. Uncle Imran ajak siar-siar dekat Bandar lepas tiba kat Stesen siang tadi."

"Hmm- ye lah tu. Makan Ikan banyak-banyak kat sana ye. Masih kecik dah pelupa. Oh, ya. Macam mana khabar Ibubapa kau? Diorang sihat ke?"

"Iyee, Alhamdulillah Mak dan Ayah BoBoiBoy sihat."

"BoBoiBoy! BoBoiBoy! Kau dah tiba kat KL ke?" tahu-tahu suara cempreng Ochobot terdengar dari ujung telepon, membuat BoBoiBoy kaget.

"Ochobot! Kau ke ni?" tanyanya gembira."Iye, kitorang dah tiba kat rumah aku. Kalau sahaja kau ada kat sini, kau mesti gelak masa tengok reaksi Yaya, Ying, Gopal dan Fang dekat rumah aku. Diorang macam takjub sangat tau!"

"Ehh? Betul ke tu, BoBoiBoy? Alahh- andai aku join korang, mesti best!

"Hmm- kau ni senang-senang je termakan ajakan BoBoiBoy, Ochobot," gerutu Tok Aba. "Lagipun kau tu Sfera kuasa. Bahaya kalau warga KL nampak kau."

"Hehehe, sori Tok Aba."

Tok- Tok- Tok!

"Tuan BoBoiBoy, makan malam dah siap." Suara Imran menyusul suara ketukan pintu kamar BoBoiBoy. "Jom keluar. Kawan-kawan Tuan juga dah duduk dekat bilik makan tau."

"Okey, Uncle Imran. Tunggu kejap," balas BoBoiBoy segera. Dia lalu kembali berbicara di telepon. "Tok Aba, Ochobot, saya sudah dipanggil buat makan malam. Nanti kita bincang lagi."

"Okey, BoBoiBoy. Jaga diri kau elok-elok kat sana ye," jawab Tok Aba penuh sayang.

"Dan jangan lupa bawa buah tangan, tau!" seru Ochobot senang.

"Um!" angguk BoBoiBoy mantap. "Terima kasih banyak, Tok Aba. Terima kasih banyak, Ochobot. BoBoiBoy pergi makan dulu. Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam. Semoga cuti korang menyenangkan!"

BoBoiBoy menutup teleponnya lalu bergegas keluar kamar. Terlihat Imran yang sudah menunggunya di ambang pintu kamarnya. Keduanya lalu turun ke lantai satu menuju ruang makan. Yaya, Ying, Gopal dan Fang sudah duduk di kursi-kursi yang mengelilingi meja makan. Ibunya tengah membawa semangkuk sayur sup dari dapur. Buru-buru BoBoiBoy menghampiri sang ibu.

"Mak duduk sahaja dekat kerusi makan tu. Biar BoBoiBoy yang bawa mangkuk ni."

Ibunya tersenyum. "Berbudinya anak Mak ni," pujinya lembut. BoBoiBoy nyengir sambil mengambil mangkuk sayur sup itu dari tangan Ibunya dan pelan-pelan meletakkannya di atas meja. Setelah itu dia pun duduk manis di kursi makan di samping Gopal. Imran sudah menghilang dari dapur. Mungkin ada beberapa hal yang harus ia bereskan.

Tak lama kemudian mereka berenam menikmati makan malam yang enak. Menu malam itu cukup spektakuler bagi BoBoiBoy dan teman-temannya: Sayur sup panas berisi jagung, sawi, potongan wortel dan sosis rebus, Stik daging sapi tenderloin panggang berukuran jumbo dengan saus barbekyu dan lada hitam, Tempe dan Tahu bacem, Ikan teri goreng tepung dan yang terakhir, potongan-potongan pisang susu yang disiram dengan krim gula icing dan ceri merah yang bulat-bulat.

"Uhh- Alhamdulillah, kenyangnya," desah BoBoiBoy setelah mereka selesai makan. Yaya dan Ying lalu membantu Ibu BoBoiBoy cuci piring sementara BoBoiBoy, Gopal dan Fang membersihkan meja dan ruang makan. Begitu selesai, Ibu BoBoiBoy menatap mereka semua.

"Terima kasih sudah bantu Makcik bersih-bersih," katanya lembut. "Makcik nak berehat sekarang."

"Sama-sama, Makcik! Selamat berehat!"

BoBoiBoy meninggalkan teman-temannya di ruang tengah sebentar untuk mengantar Ibunya ke kamar. Begitu tiba di tepi ranjang, wanita itu duduk sejenak. BoBoiBoy mengernyit melihat bahasa tubuh ibunya yang kaku.

"Eh? Mak okey ke?" tanyanya sembari mendekati ibunya takut-takut. Sekonyong-konyong kedua tangan wanita itu terjulur dan tahu-tahu sudah memeluk erat sang manipulator elemen, membuat anak itu terkejut.

"M- Mak, apa yang..."

"Hiks, Mak... Mak bahagia kamu balik dari Sektor 456 dengan selamat..." isak sang ibu dengan sesunggukan. "Kamu boleh sahaja terbunuh! Haryan dan Mawar Liar bukan lawan yang seharusnya kamu lawan, nak. Mak tak tahu apa yang Mak kena buat kalau kamu dan kawan-kawan kamu berjaya dihapuskan mereka."

BoBoiBoy terpana mendengar kata-kata ibunya itu. Dipeluknya ibunya dengan penuh rasa bersalah. Jujur saja, dia masih merasa ketakutan sejak insiden Rosaline dan ONION yang membuat dirinya dan teman-temannya sengsara. Untuk saat ini perhatian orangtuanya adalah surga baginya, karena bagaimanapun juga dirinya masih bocah berusia 13 tahun yang labil. BoBoiBoy merasa lebih lega setelah memeluk ibunya. Dilepasnya pelukannya dan menatap sang ibu lamat.

"Mak, BoBoiBoy... BoBoiBoy nak minta maaf sebab dah buat Mak dan Ayah cemas," ucapnya penuh sesal. "BoBoiBoy akan cuba lagi waspada. Mak jangan cemas. Semuanya sudah terkawal dengan baik. Lagipun BoBoiBoy dah ada disini bersama Mak. Jangan sedih lagi, ye?"

Ibunya mengangguk lemah. "Mak percaya kamu, nak," katanya terharu sembari membuka topi putranya dan mengacak-acak rambut BoBoiBoy, membuat anak itu tersengih.

"Makk! Jangan la kacau rambut BoBoiBoy!"

"Hehehe, maaf, nak... Mak belum pernah kacau rambut kamu lagi lepas kamu duduk dengan Bapak kat Pulau Rintis," ujar ibunya geli. "Nah, pergilah ke kawan-kawan kamu. Kalian boleh main dekat ruang tengah, tapi jangan terlampau bising ye. Mak nak berehat."

"Okey, Mak!"

"Oh, satu lagi. Ayah kamu nak berbincang dengan kamu pasal ONION dekat bilik keje dia. Mak rasa Ayah juga nak interogasi kawan-kawan kamu. Tapi jangan cemas. Imran akan kawal kalian selepas dia urus beberapa hal, jadi jangan terlampau cemas, Okey?"

"O- Okey, Mak... Terima kasih. BoBoiBoy pergi dulu ye. Selamat berehat."

BoBoiBoy lalu mengecup pipi ibunya dan beranjak keluar kamar orangtuanya. Dalam perjalanan menuju ruang keluarga dimana teman-temannya berada, ia melewati sebuah jendela balkon yang terbuka. Anak itu mendesah panjang. Mungkin pelayan-pelayan yang bertugas di rumah tadi lupa menutup jendela balkon itu. BoBoiBoy lalu beranjak ke jendela balkon yang dimaksud, hendak menutupnya. Namun begitu ia hendak menutup jendela balkon itu, sekonyong-konyong angin malam berhembus kencang sekali, membuat BoBoiBoy melindungi wajahnya dengan tangannya agar tidak kelilipan. Begitu ia menurunkan tangannya, tahu-tahu matanya menangkap sesosok gadis berhijab biru laut yang berdiri di ujung balkon. Sejenak BoBoiBoy terkesiap melihat sosok itu. Aura gadis berhijab biru itu terasa hangat dan familiar, membuat BoBoiBoy memicingkan matanya.

"Apakah..."

Gadis itu tersenyum simpul. Tahu-tahu BoBoiBoy merasa kepalanya sakit. Dicengkeramnya kepalanya dengan wajah meringis. Sontak tubuhnya terhuyung sedikit. Sebuah suara tiba-tiba melintas di benaknya begitu ia tengah menyeimbangkan dirinya sambil berpegangan di pagar balkon.

"BoBoiBoy, bila-bila masa kau bawa kawan-kawan baru kau tu ke Kuala Lumpur. Aku nak berjumpa dengan diorang. Mesti best kalau kita semua bisa akrab!"

Pemuda cilik bertopi jingga itu terbelalak. Diabaikannya sakit kepalanya sejenak sembari berusaha fokus ke gadis berhijab biru laut itu. Entah mengapa pandangannya tiba-tiba menjadi samar-samar. Dengan lirih BoBoiBoy menggumam ke arah gadis itu,

"Si- Siti?"

BoBoiBoy merasa pandangannya semakin kabur hingga akhirnya meredup. Detik berikutnya dia ambruk di lantai balkon, tidak sadarkan diri.


Markas GIDO, pukul 20:00

Malam telah menjelang. Semua anggota mulai membereskan pekerjaan masing-masing, tidak terkecuali Xuo Chang yang saat itu menjadi pengganti sementara Nyonya Anisa selama wanita itu menghadiri rapat di pusat pertahanan galaksi. Chang baru saja menyelesaikan sebuah urusan penting di dimensi asalnya, dan sekarang saatnya ia melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Ia lalu memeriksa beberapa dokumen yang agak berserakan di meja Nyonya Anisa. Sebagian besar isi dokumen itu adalah laporan dari tiap-tiap divisi. Dengan cermat Master Chang mengarsip dokumen-dokumen itu menurut divisi masing-masing. Begitu ia selesai memasukkannya ke dalam lemari arsip, matanya tahu-tahu tertuju ke arah lemari arsip yang kelihatannya masih baru. Dilihatnya nama lemari arsip kosong tersebut.

Arsip Divisi STAR.

Wajah Master Chang langsung berubah menjadi muram.

"Lu mesti bergurau," desisnya getir. Memang, Divisi STAR adalah divisi yang baru-baru ini dibentuk di dalam GIDO. Fungsi divisi itu sendiri adalah untuk mem-back up pekerjaan divisi MOON dan divisi SUN yang masing-masing berfungsi sebagai grup penyelamatan/pencegahan kejahatan dan grup pengintai/penyerang. Divisi MOON diketuai oleh Hafiz sementara divisi SUN diketuai oleh Tara. Sebenarnya jika dilihat dari segi usia, kedua anak itu belum cukup umur untuk diberikan jabatan-jabatan berat seperti itu, berhubung Hafiz baru berumur tiga belas tahun sementara Tara baru berumur dua belas tahun. Akan tetapi setelah Master Chang melihat kebolehan mereka dalam memimpin divisi masing-masing, ia kembali mempertimbangkan posisi Hafiz dan Tara hingga akhirnya memutuskan untuk mengizinkan keduanya memimpin divisi-divisi lapangan tersebut, dengan pengawasan dari Master Chang tentunya.

Sayang, akhir-akhir ini Master Chang agak kelabakan dalam mengurus divisinya: Divisi METEOR. Banyak anggotanya yang merupakan Instruktor GIDO menghilang secara tiba-tiba. Master Chang mencoba menginvestigasi hal ini dan mencari tahu keberadaan rekan-rekannya, namun selalu saja tertunda akibat agenda utama yaitu mencari kandidat anggota GIDO yang baru. Ya, anggota GIDO berkurang drastis sejak dua tahun yang lalu akibat serangan tiba-tiba dari para penjahat galaksi. Mereka mengira GIDO menyimpan Sfera-sfera kuasa, yang ternyata dalam kenyataannya tidaklah demikian. GIDO memang merupakan salah satu organisasi pelindung galaksi, tapi tujuan mereka sangatlah umum yakni mencegah dan menanggulangi Tindak Pidana biasa seperti perampokan maupun pembunuhan hingga Tindak pidana luar biasa seperti konspirasi yang dibumbui dengan hal-hal berbau kausalitas yang terjadi di seantero galaksi. Tujuan GIDO tidak khusus seperti TAPOPS yang seperti kita ketahui lebih terfokus pada penyelamatan Sfera-sfera kuasa. Dengan kata lain, GIDO tidak menyimpan Sfera kuasa apapun.

Para penjahat dari berbagai penjuru galaksi mendatangi dan memporak-porandakan Markas GIDO guna mencari Sfera-sfera kuasa disana dan seperti yang sudah kita duga, hasilnya nihil. Banyak anggota GIDO yang terluka akibat insiden itu. Sebagian besar anggota memilih keluar dari GIDO akibat trauma, jadi wajar saja kalau GIDO saat ini benar-benar membutuhkan anggota baru maupun aliansi dari badan-badan perlindungan galaksi lainnya.

Master Chang melihat lemari arsip divisi STAR yang masih kosong dan baru itu sekali lagi. Pria itu mendesah berat. Nyonya Anisa sudah yakin seratus persen untuk menunjuk Milyra sebagai ketua divisi STAR, dan Chang tidak habis pikir mengapa temannya itu menunjuk anggota baru ingusan seperti Milyra sebagai Ketua divisi baru. Memang dari segi umur gadis itu sudah layak untuk mengetuai sebuah divisi, berhubung Milyra akan segera berulang tahun yang ke-19. Namun jika dilihat dari kacamata disiplin, gadis itu masih terbilang payah. Ditambah lagi Milyra adalah anak yang lumayan sensitif akibat isu keluarganya yang hancur. Kalau bukan karena bujukan Nyonya Anisa, Chang hampir pasti menolak usulan untuk menunjuk Milyra sebagai ketua divisi STAR.

"Tuan Chang."

Mendengar namanya disebut, Master Chang menoleh ke ambang pintu dimana suara itu berasal. Tampak Dimas yang berdiri di pintu ruang kerja Anisa sembari menenteng sebuah map di tangannya.

"Ah, Dimas. Apa maklumat yang kamu bawa tu?" tanya Chang segera. Dia tampak tertarik dengan map yang dibawa anak berkacamata itu. Dimas berjalan masuk ke ruang kerja itu dan menaruh map yang dibawanya di atas meja Nyonya Anisa. Sikap tubuhnya terlihat agak kaku.

"Maaf kalau saya mengganggu, Tuan Chang. Tapi saya baru selesaikan laporan ini."

"Hmm? Baru tahu wo kalau kamu buat laporan hari ni," kelakar Master Chang. Sebenarnya rasa gelinya itu ada benarnya juga. Dimas adalah ketua divisi ASTEROID. Divisi ASTEROID sendiri adalah divisi GIDO yang berfungsi sebagai penemu dan penyedia alat-alat untuk misi. Dengan kata lain, divisi ASTEROID adalah ilmuwannya GIDO. Mereka membuat apa saja yang diperlukan divisi MOON dan SUN, mulai dari senjata non lethal, rompi anti peluru hingga pesawat luar angkasa. Bukan hanya membuat, mereka juga meneliti alat-alat yang digunakan oleh para penjahat di galaksi dan dimasukkan dalam intel GIDO untuk berjaga-jaga jikalau kasus alat yang sama terulang kembali. Sayangnya akhir-akhir ini divisi ASTEROID jarang mendapat sample dari luar, jadi lumayan masuk akal kalau laporan yang dibuat dari divisi mereka mulai berkurang akhir-akhir ini.

Dimas membuka map di depannya dan menunjukkan kertas-kertas laporan di dalamnya. "Sebenarnya laporan yang saya bawa ini adalah laporan Top Secret. Silahkan Anda lihat dulu."

Master Chang mengerutkan kening. Laporan Top Secret? Kata kunci itu sukses menjebol bendung rasa penasarannya. Dengan penuh ingin tahu ia memeriksa laporan itu dengan seksama. Tapi entah mengapa raut wajahnya semakin lama semakin menegang seiring ia membaca laporan itu.

"SILAP DUNIA APAKAH INI?!" serunya kaget hingga nyaris melempar map itu ke muka Dimas. "Dimas, darimana kamu dapatkan ini maklumat?!"

Dimas agak tersentak melihat reaksi pria itu. Tapi ia tetap berusaha tenang. "Ini laporan mengenai tiga Alat berbahaya di galaksi, Tuan Chang," tuturnya. "Tiga Alat itu adalah Telekinetic Nano Ring, Sapu Katharsis dan robot Plan-T. Saya dapat info mengenai Telekinetic Nano Ring dari Kapten Kaizo saat dia berkunjung kemarin. Seperti yang kita ketahui, Cincin itu menjadikan pemakainya memiliki kemampuan telekinesis alias menggerakkan benda mati. Cincin telekinesis ini juga terakhir kali dipakai oleh Haryan Pakpak Darwish, Ketua ONION. Saya baru dapat info kalau Tuan Haryan meninggal karena bunuh diri, dan Kapten Kaizo hanya menemukan secuil serpihan dari batu giok merah cincin itu. Sayangnya kita belum mendapat info pasti siapa yang menggandakan produk terlarang itu."

Master Chang merasa jantungnya berdebar-debar saking kagetnya. "Apa menurut kamu cincin itu diperbanyak dan disebar dekat Market ilegal ke ho?"

"Saya rasa cincin itu punya kemungkinan kecil untuk dijual di pasar gelap," geleng Dimas. "Kalau dilihat dari struktur sample serpihan yang diberikan Kapten Kaizo kemarin, Cincin itu adalah barang yang teramat langka. Gioknya dibuat dari hasil leburan mineral air mata fosil buaya purba Darghaya yang didiamkan dalam suhu Planet Venus. Dan kita tahu sendiri Planet Venus hampir tidak dihuni Makhluk hidup manapun karena suhunya yang tinggi. Siapapun yang menggandakan Telekinetic nano ring sudah pasti adalah Makhluk hidup super."

Master Chang mengangguk-angguk dengan wajah tegang. "Sambung maklumat kamu," katanya.

Dimas tersenyum sejenak sebelum akhirnya melanjutkan penjelasannya. "Alat yang kedua adalah Sapu Katharsis. Saya mendapatkan cetak biru samar alat itu dari seorang intel kita yang bernama Obscura. Obscura bilang dia mendapatkan cetak biru samar itu dari orang dalam Organisasi alias ONION. Untuk saat ini kita bisa bilang kalau Sapu Katharsis adalah senjata rahasia milik ONION. Dan setelah saya teliti cetak birunya, saya akhirnya punya dugaan sementara kalau fungsi alat itu adalah untuk memindahkan suatu dimensi ke dimensi lainnya."

"Maksud kamu semacam teleport kah?" tanya Master Chang.

"Mendekati," balas Dimas sedikit frustasi. "Tapi saya masih bingung apakah fungsi Sapu Katharsis hanya untuk melempar orang ke dimensi lain, wilayah lain ataukah keduanya. Mohon beri saya waktu untuk mengumpulkan info alat ini lebih banyak lagi."

"Tentu," tukas Master Chang dengan wajah serius. "Dan alat yang terakhir?"

"Robot Plan-T," jawab Dimas segera. "Saya mendapat cetak biru robot itu langsung dari orang dalam Organisasi."

"Apa?!" seru Chang kaget. "Lu fikir dia boleh kita percaya ke? Kita tak tahu apakah dia akan perangkap kita ke tak."

Dimas mendesah. "Untuk saat ini kita hanya bisa bergantung padanya dulu," ujarnya muram. "Menurut info yang kudapat darinya, Sapu Katharsis dan Plan-T adalah dua operasi yang berkaitan. Entah apa maksudnya."

"Apa menurut kamu ONION dah selangkah lagi jauh dari kita sebab proyek Plan-T tu ke?"

"Tidak juga. Plan-T adalah rencana baru."

"Lu tahu ke siapa pencetus idea Plan-T itu?"

"Pencetus ide Plan-T itu adalah Haryan Pakpak Darwish sendiri," jawab Dimas. "Tuan Haryan adalah perakit robot jenius, jadi bukan sesuatu yang mengherankan jika dia yang membuat cetak biru untuk robot-robot proyek Plan-T ini."

Chang mengangguk. "Saya faham. Haryan memang budak jenius sejak dia kecik lagi, terutama pasal benda robotik," ujarnya. "Dan siapa Supervisor dari proyek Plan-T itu? Haryan juga ke? Atau orang lain?"

Mendengar itu, raut wajah Dimas tiba-tiba berubah menjadi mendung. "Supervisor Plan-T adalah..." gumamnya kaku. "...Azurian Faust."

Master Chang terbelalak. "Kejap!" katanya. "Tadi lu kata Supervisor Plan-T ialah Azurian Faust?! Lelaki misteri dekat ONION tu?"

"Tepat sekali."

"Tapi apasal kena dia yang jadi Supervisor benda tu?" Master Chang memijit pelipisnya karena stress. "Kita semua tahu kalau Azurian tu orang yang sukar ditebak. Apa dia punya rancangan ni?"

Dimas mengepalkan kedua tangannya. "Saya rasa ini ada sangkut-pautnya dengan kematian Ayah saya."

Master Chang melongo. "Saya tahu Dr. Harun Rasyid ialah seorang Arsitek genius," katanya. "Tapi apa hubungan dia dan rancangan Plan-T?"

"Ayah saya bukan hanya gemar membangun rumah, Tuan. Ayah juga gemar membangun robot, bahkan robot buatan Ayah pernah bersaing dengan robot buatan Tuan Haryan dalam suatu Olimpiade tingkat nasional," timpal Dimas muram. "Dan sehari persis setelah kecelakaan yang menimpa Ayah, cetak-cetak biru robot milik Ayah dirampas oleh Azurian."

"Dicuri?"

"Dicuri dengan paksa," sindir Dimas dingin. "Maaf, Tuan Chang. Tapi saya mungkin kurang nyaman dengan pembicaraan yang membahas Azurian Faust dan Ayah saya. Apa bisa kita percepat?"

"Ah, maafkan saya," tukas Master Chang agak canggung. "Saya hampir lupa kalau kamu tak nyaman dengan pasal Azurian tu. Jadi ada keterangan lain?"

"Untuk saat ini hanya sampai disitu yang saya ketahui."

Master Chang mengangguk mantap. "Okey lah kalau macam tu," katanya kemudian. "Baiklah, Dimas. Saya terima laporan kamu. Tak sangka benda ni ialah maklumat yang sangat langka. Maaf sebab dah buat kau sedih lagi, nak. Pulanglah cepat. Mak kau mesti dah risau sebab kau pulang malam sangat."

"Terima kasih, Tuan Chang. Selamat malam," balas Dimas sopan sembari membungkuk hormat lalu menghilang di balik pintu.

Sepeninggal Dimas, Master Chang melihat map laporan anak itu untuk kedua kalinya. Detik berikutnya ia mendesah lalu menaruh map itu di lemari arsip divisi ASTEROID.

"ONION... apa sebenarnya yang kamu orang rancangkan?" desisnya getir.


"BoBoiBoy? Kau okey ke?"

"Ugh..."

BoBoiBoy membuka kelopak matanya perlahan. Sinar putih menyilaukan kedua mata hazelnya. Samar-samar pemuda cilik itu melihat sosok berjubah biru yang duduk tak jauh di depannya. BoBoiBoy bangkit dari tidurnya dan memegang kepalanya yang agak pusing.

"Di- Dimana aku?" tanyanya putus-putus. Penglihatannya mulai cerah. Dia melihat area sekeliling. Sudah pasti dia sedang tidak berada di balkon rumahnya karena ia mendapati dirinya berada di sebuah gazebo kristal yang dikelilingi taman bunga. BoBoiBoy melongo. Tempat apa ini?

"Alhamdulillah, kau bangun juga rupanya."

"Eh?"

Mendengar suara yang familiar itu, BoBoiBoy langsung teringat sosok berhijab biru yang dilihatnya di balkon malam itu. Ditolehkannya wajahnya ke sosok yang dimaksud. Gadis berhijab biru duduk berpangku tangan di atas sebuah dipan kecil di dalam gazebo kristal. Selama beberapa detik BoBoiBoy hanya sanggup tertegun melihat gadis itu. Dia bingung sekali.

"I- Ini... apakah semua ini?" tanyanya gagu. "Dimana aku?"

Si gadis menghela nafas pelan. "Untuk saat ini kau tak perlu cemaskan perkara tu," katanya agak geli, geli karena melihat tingkah BoBoiBoy yang seakan tersesat di Planet asing. "Yang penting aku senang kita dah berjumpa lagi."

BoBoiBoy mengerutkan kening. "Err... sori, kita pernah berjumpa ke?" tanyanya ragu. Gadis berhijab biru itu tersenyum dan menunjuk saku jaket BoBoiBoy.

"Hmm- biar aku bagi kau satu petunjuk," katanya. "Kau masih simpan tak liontin B dengan lambang petir tu?"

"Ehh- masih?" BoBoiBoy merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan Liontin yang dimaksud. "Liontin ini ke yang kamu maksud?"

"Tepat," jawab si gadis seraya bertepuk satu kali. "Sekarang tengok Liontin tu kemudian tengok aku."

"O- Okey." BoBoiBoy menurut saja dengan arahan yang diberikan si gadis berhijab biru. "Macam mana kau tahu kalau aku punya Liontin ni?"

Gadis berhijab biru tertawa kecil. "Mestilah aku tahu. Kan aku yang bagi kau Liontin tu."

BoBoiBoy terperanjat mendengar kalimat si gadis. Kalau gadis itu yang memberinya liontin B lambang petir, itu berarti-

"Siti?"

Dia terkejut begitu gadis berhijab biru itu memberinya satu anggukan kepala.

"Betul lagi benar."

"Hah?! Iya ke?" seru BoBoiBoy tidak percaya. Dia tidak menyangka bahwa dia bertemu kembali dengan teman lamanya itu lagi, walaupun tempat pertemuan mereka kali ini terlihat begitu asing. Dia dan Siti Zubaidah bertemu di sebuah gazebo kristal yang dikelilingi taman bunga? Yang benar saja!

"Kau tak bergurau, kan?" tanyanya kembali, hendak memastikan semesti-mestinya.

Siti menggeleng. "Tak. Ini memang aku," katanya sambil nyengir. "Selamat datang kembali, BoBoiBoy."

Sang manipulator elemen tampak menganga melihat sosok temannya itu. Namun detik berikutnya dia berseru penuh kegembiraan.

"Waahhhh... Senangnya berjumpa dengan kau lagi, Siti!" pekiknya girang. "Dah lama kita tak saling tengok tau! Macam mana khabar kau? Sihat?"

Siti mengangguk senang. "Yup! Alhamdulillah aku selalunya sihat!" jawabnya penuh semangat. "Kau sorang macam mana?"

"Alhamdulillah, sihat pun," balas BoBoiBoy sembari menyeringai. "Wuih, bernasnya kita dah berjumpa ni! Oh, ya. Aku nak tanya: Apasal kau tak pernah balas kolom komentar dekat post Facebook aku lagi? Dah hampir dua tahun kau tak bagi komentar apapun. Kau ada banyak urusan ke?"

Siti menggeleng. "Aku dah takde urusan lagi," jawabnya. Nada suaranya tiba-tiba memelan. BoBoiBoy menaikkan satu alisnya, merasa heran dengan perubahan sikap yang tiba-tiba itu.

"Aik? Kalau takde urusan, apasal kau tak pernah balas kolom komentar aku lagi?" tanyanya bingung.

"Hmm- apa kata kau cuba tebak?"

"Ish, jangan suruh aku main tebak-tebak, Siti. Aku serius lah!"

Siti terkekeh. "Mungkin lain masa sahaja aku bagi tahu kau apa alasan kenapa aku tak pernah balas kolom komentar kau lagi," katanya sok misterius. Entah kenapa BoBoiBoy merasa temannya ini mulai membuatnya jengkel.

"Ye lah tu," tukasnya sebal. "Apahal la kau ni, Siti. Baru je berjumpa dah buat mengarut."

"Hehehe, Sori," ujar Siti dengan wajah agak bersalah. "Oh, ya. Aku senang kau dah bawa kawan-kawan Pulau Rintis kau ke Kuala Lumpur, macam yang pernah aku impikan."

"Eh, Ha'ah lah! Aku dah janji pulak tu," timpal BoBoiBoy kembali senang. "Nah, jom aku ajak kau berjumpa dengan kawan-kawan aku sekarang. Mesti best!"

Sekali lagi Siti menunjukkan wajah canggungnya."Ehm, sori... Mungkin lain masa je lah," katanya ragu sambil mengepalkan kedua tangannya di atas pangkuan.

"Hee?" BoBoiBoy terhenyak. "Tapi kau sorang yang cakap kalau kau nak berjumpa dengan Kawan-kawan baru aku. Apasal kau tiba-tiba berkelakuan pelik ni? Kau ada masalah teruk ke?"

Dia melangkah menuju dipan dimana Siti duduk. 'Ada yang tidak beres disini,' batinnya curiga. Namun sebelum dia melangkah lebih jauh, sekonyong-konyong Siti mengangkat tangan kanannya, sebuah isyarat agar sang manipulator elemen tidak mendekatinya.

"Tak payah kau pergi dekat aku, BoBoiBoy. Belum mahram pun," tutur Siti lembut. Sorot matanya tiba-tiba berubah sedih. "Bila-bila masa je lah aku tengok kawan-kawan Pulau Rintis kau. Aku rasa... aku rasa tak layak untuk jumpa diorang dengan keadaan aku yang macam ni."

Mendengar kalimat canggung temannya itu membuat kesabaran BoBoiBoy mencapai limit. "TAPI KENAPA!?" serunya kesal. "Kenapa kau tiba-tiba tak nak berjumpa dengan diorang? Kau nampak sihat walafiat! Dan apasal kita ada kat tempat macam ni? APA YANG SEBENARNYA BERLAKU?!"

Siti memberinya sebuah senyum, namun kali ini senyum itu tampak jelas sekali dipaksakan di wajahnya yang sedih itu. "Kau akan fahamkan benda ni di masa hadapan, BoBoiBoy," katanya sendu. "Oh, ya. Aku masih punya satu permintaan dekat kau. Tolong kau tukar lambang petir kau dengan lambang B tapi tetap bernuansa petir. Kau akan lagi mudah dikenali dengan lambang B macam tu. Ingat ye."

BoBoiBoy menggerutukkan giginya. "Aku... Aku masih tak faham dengan apa yang berlaku kat sini," tukasnya getir. Dikepalnya kedua tangannya erat-erat di kedua sisi tubuhnya sembari menunduk ke lantai gazebo kristal. Punggungnya gemetar tidak karuan. "Aku bahkan tak tahu kau ni nyata ke tak."

Siti menggeleng lemah. "Tak payah kau fikirkan semua ini, BoBoiBoy. Ini bukan masa yang tepat untuk buat benda tu," tukasnya lembut. "Sekarang bangunlah. Kawan-kawan kau menanti."

"Huh?"

Sekonyong-konyong sebuah sinar putih menyilaukan menyinari gazebo kristal itu. BoBoiBoy memicingkan matanya karena silau. Siti tersenyum kepadanya sekali lagi sebelum akhirnya sosoknya menghilang, ditutupi sinar itu. Begitu sinar itu menghilang, sosok Gazebo kristal dan Siti sudah tergantikan dengan kamar tidur dan sosok teman-teman superheronya plus sosok sang Duta dan sosok Imran.

"Uhh- apa... apa jadi ni?"

"BoBoiBoy dah sedar!" pekik Gopal girang. Dia yang paling pertama melihat BoBoiBoy membuka mata. "Kawan-kawan, Pakcik, Uncle Imran, tengok ni! Dia dah siuman!"

"BoBoiBoy!" Yaya,Ying dan Fang buru-buru mendekati ranjang sang superhero elemental. Sang Duta dan imran juga sama buru-burunya. Sang Duta menempelkan punggung tangannya ke kening putranya. Ia mendesah lega.

"Alhamdulillah, kamu sudah sedar nak," ucapnya penuh syukur. BoBoiBoy memandangnya dengan wajah bingung walaupun matanya agak kuyu.

"Ayah... apa... apa jadi ni?"

Sang Ayah mendesah lagi. "Ayah dan Imran serta kawan-kawan kamu sudah tunggu kamu sedari satu jam lepas," tuturnya. "Kawan-kawan kamu cakap kamu pergi hantar Mak ke bilik rehat, tapi satu jam kemudian kau tak balik-balik. Imran dan kawan-kawan kamu lalu cari kamu. Nahasnya, Ying jumpa kau pengsan dekat balkon utama."

"Hah? Bi- Biar betul?" tanya BoBoiBoy terbata-bata. Kepalanya masih terasa pusing. Pertemuannya dengan Siti di gazebo kristal tadi... apakah ada hubungannya dengan semua ini?

"BoBoiBoy, kalau boleh tanya, apasal kamu boleh pengsan semasa saya jumpa kamu dekat balkon tu meh?" tanya Ying cemas. "Lu ada sakit kah?"

Yaya mengangguk. "Betul tu. Kitorang jadi cemas kau kenapa-kenapa," imbuhnya khawatir. "Kalau kau ada masalah, cubalah bagi tahu."

"Hmm... hampir sahaja kitorang bawa kau ke hospital, BoBoiBoy," timpal Fang. "Kalau tak, dah musnah rancangan cuti sekolah kita kali ni."

"Nasib baik kau cuma pengsan akibat demam, BoBoiBoy," celetuk Imran. "Ingatkan kau terkena leukimia."

"Haih, mana ada?" ujar BoBoiBoy cemberut. "Gurau je lah Uncle ni."

Mendengar itu, Imran tertawa juga. Detik berikutnya ia diikuti semua yang ada disitu termasuk BoBoiBoy. Suasana jadi cair seketika. BoBoiBoy lalu menghela nafas dan memandang Sang Duta yang duduk di pinggir tempat tidurnya.

"Ayah, ada benda yang BoBoiBoy nak bagi tahu," katanya lemah. Tahu-tahu Sang Duta menempelkan jari telunjuk kanannya di depan bibir seraya geleng-geleng kepala.

"Tak payah kamu bagi tahu Ayah semuanya, BoBoiBoy," tukasnya. "Kamu baru sedar dari pengsan. Lagipun kawan-kawan kamu dah bagi tahu semua yang mereka ketahui, mulai dari pasal kuasa-kuasa korang, pasal Sfera kuasa, pasal ONION dan pasal Haryan. Bagi Ayah itu sudah lebih dari cukup. Maaf kalau Ayah terlampau keras, nak. Ayah cuma mahu hidup kamu aman sentosa."

BoBoiBoy merenung, memandangi jam kekuatannya. "Ehm... jadi BoBoiBoy masih boleh jadi Superhero ke?" tanyanya takut-takut. Ayahnya mengangguk.

"Boleh, asal kamu dan kawan-kawan kamu masih boleh diawasi," jawabnya lembut. "Lagipun kamu duduk dengan Tok Aba kat Pulau Rintis. Ayah yakin beliau mesti akan selalu jaga cucu beliau."

"Hehehe, betul, yah. Tok Aba memang terbaik!" ucap BoBoiBoy sumringah. Perasaannya jadi lebih mendingan. "Terima kasih sebab sudah fahamkan BoBoiBoy dan kawan-kawan BoBoiBoy,Yah."

"Sama-sama," balas sang Ayah dengan senyum tulus di wajahnya. Ditepuknya kepala anaknya, membuat BoBoiBoy tersengih."Dan jangan pernah buat Ayah dan Mak cemas lagi!"

"Iye, iye... BoBoiBoy akan usahakan," seru BoBoiBoy agak sebal. "BoBoiBoy dah besar lah!"

"Hmm- ye lah tu, Yang mulia," goda Ayahnya, membuat mereka semua tertawa untuk kedua kalinya. Pria itu menoleh ke arah kelima anak superhero yang ada disitu sembari mendesah panjang.

"Baik kita sambung bahas pasal musuh-musuh kita semua di lain masa sahaja," katanya lagi. "Lagipun korang juga tengah cuti sekolah, jadi kena bersenang-senang. Apa kata kita semua datang ke Pesta Gala dekat balai serba guna Kuala Lumpur malam esok? Ianya terbuka untuk pejabat negara dan kenalan-kenalannya."

"Hah?! Pesta Gala?!" seru BoBoiBoy dan teman-temannya bersamaan. "Mestilah nak!"

Imran terkekeh. "Budak-budak ni," gumamnya geli. "Tapi kalian kena pakai baju paling bernas tau! Sebab ini ialah pesta kalangan atas. Jangan cuba nak pakai baju karung."

"Alamak! Kami tak bawa baju pesta lah!" tukas Fang tiba-tiba.

"Yaloh! Ingatkan kita tak pegi pesta apapun wo," gumam Ying khawatir. "Macam mana ni?"

"Tak kira, Ying. Pakcik tahu solusinya," celetuk Ayah BoBoiBoy lalu memandang putranya. "BoBoiBoy, kalau esok pagi keadaan kau dah lagi baik, ajaklah kawan-kawan kamu ni pergi ke rumah Hafiz. Ibubapa dia kan desainer baju terkenal dekat KL ni. Mereka mesti akan bagi diskaun buat kamu semua."

"Siap, Ayah," balas BoBoiBoy senang. Tahu-tahu dia menguap tanda mengantuk. "Hoahh... mengantuknya..."

"Kalau macam tu baik kita semua pergi berehat," usul Imran. "Tuan besar juga masih ada keje, kan?"

"Ya," angguk Ayah BoBoiBoy. "Mari kita semua berehat. Esok pagi kita akan jalan-jalan pagi selepas sholat subuh. Jangan lamban ye."

"Okey, Pakcik!" jawab teman-teman BoBoiBoy. Mereka lalu menoleh ke arah pemuda bertopi dinosaurus jingga itu dan melambaikan tangan.

"Selamat malam, BoBoiBoy! Tidur elok-elok!"

BoBoiBoy mengangguk dan balas melambaikan tangan. "Selamat malam juga, kawan-kawan!"

Sepeninggal keempat anak itu, Sang Duta lalu mencium kepala BoBoiBoy. "Ayah harap kamu akan selalu membela kebenaran, nak," doanya tulus. "Tapi ingat, jangan gegabah dan buat masalah yang lagi teruk dari sebelumnya."

"Okey, Yah. Insha Allah," jawab BoBoiBoy mantap. Dipeluknya bahu Ayahnya. "BoBoiBoy sayang Ayah."

Ayahnya pun membalas pelukannya. Kedua berpelukan selama satu menit sebelum akhirnya mereka melepas tangan masing-masing. BoBoiBoy lalu merebahkan badannya kembali ke kasur empuknya. Dilihatnya Ayahnya sebelum akhirnya ia terlelap. Sang Duta tersenyum kecil melihat anaknya yang lelah itu. Setelah semua yang terjadi, putranya itu kini bisa merasakan istirahat kembali.

"Ayah berdoa yang terbaik untuk kamu, nak," gumamnya penuh sayang. "Ayah akan selalu berdoa yang terbaik untuk kamu. Berehatlah, kau layak mendapatkannya."

"Tuan besar, Tuan masih nak duduk kat dalam bilik Tuan muda BoBoiBoy ke?" tahu-tahu Imran bergumam ke arahnya, membuyarkan lamunan sang Duta. Lelaki paruh baya itu segera menoleh ke asisten pribadinya itu sembari berucap.

"Sekejap lagi, Imran," balasnya. Imran mengernyit.

"Tapi Tuan, Tuan tak nak terima hasil analisa saya perihal Tuan Haryan ke?"

Mendengar nama Haryan disebut-sebut, sontak Sang Duta merasa tubuhnya merinding. Ia menelan ludah. Entah kenapa ia selalu merasa sedih dan menyesal setiap kali mendengar nama teman lamanya itu.

"Takpe, Imran. Esok siang je lah kau tunjukkan hasil analisa kau perihal dokumen sisa milik Haryan," katanya. "Aku tak nak urus perkara tu hari ini. Lagipun hari sudah malam. Baik kita semua berehat."

Imran mengangguk. "Okey, Tuan. Insha Allah saya akan usahakan," katanya yakin. "Ah iya, macam mana dengan dokumen maklumat 'Empat ketua kemansyuran ONION' yang dihantar Tuan Ganesha Khan tempo hari? Apa perlu saya analisa juga?"

Sang Duta menggeleng. "Untuk saat ini biar saya dan Tuan Khan je lah yang analisa perkara tu. Saya tak nak kamu terlampau beban," tuturnya empatik. "Sekarang pergilah kunci semua pintu rumah. Habis tu pergilah berehat. Kamu sudah banyak membantu hari ini."

Imran mengangguk sekali lagi. "Baik, Tuan. Saya mohon diri dulu," balasnya sambil membungkuk sopan sebelum akhirnya pergi dari kamar itu. Sang Duta mendesah panjang. Dia hanya berharap semua permasalahan bejibun ini akan segera selesai.

"Tuhan akan menolong kami, Insha Allah," desahnya penuh harap. Untuk kesekian kalinya dia menoleh ke arah ranjang dimana BoBoiBoy yang tertidur lelap. Sang Duta tersenyum miris. Semoga anaknya tetap terus mengikuti jejaknya sebagai pembela kebenaran, dan Sang Duta yakin dengan hal itu.

"Selamat tidur, nak. Moga mimpimu indah."

Setelah mengatakan itu, perlahan ia melangkah keluar dari kamar anaknya. Namun sebelum dia menutup pintu, sekonyong-konyong sebuah benda berkilau yang tergeletak di kaki tempat tidur BoBoiBoy menyita perhatiannya. Sang Duta mengernyit. Diraihnya benda berkilau itu. Ternyata sebuah liontin huruf B dengan lambang petir.

"Apasal BoBoiBoy boleh punya Liontin ni?" gumamnya heran. "Cantik betul!"

Setelah asyik melihat Liontin B petir kuning itu dengan seksama, pandangannya lalu tertuju pada topi dinosaurus jingga milik putranya yang tergeletak di atas meja belajar. Sang Duta tertegun. Dilihatnya kedua benda itu: Liontin B petir kuning dan topi dinosaurus jingga BoBoiBoy bergantian selama beberapa kali. Tak lama kemudian sebuah senyum menghiasi bibirnya.

'Brilian!', batinnya gembira. 'Idea yang brilian!'

Diraihnya topi anaknya dan mencocokkan liontin B petir kuning itu di logo petir biasa topi itu lalu senyam-senyum sendiri. Selama beberapa detik itulah Sang Duta terlihat menampakkan wajahnya yang paling bahagia sedunia.

"Nampaknya aku kena buatkan dia topi baru," bisiknya penuh semangat. "Terbaik!"


Bersambung...

Untuk kali ini Author minta maaf karena bab pesta gala mungkin bakal terbit di bab selanjutnya. Sekali lagi author mohon maaf, ya. :')

Untuk kali ini Author kemungkinan besar akan update sekitar dua minggu sekali atau lebih. Jadi kalau ada waktu kosong baru Author lanjutkan fanfic ini. Jika perlu, silahkan review bagian ini. Author akan sangat berterima kasih dengan masukan2 dan kesan teman-teman sekalian! ^_^

Akhir kata, Tetap setia menunggu kelanjutannya, ya. Love you all, dear readers :)