Halo, readers! Akhirnya berjumpa juga dengan Author ini, hehehe.

Readers: "Apasal update lama sangat?"

Hehehe, author ada banyak masalah di dunia nyata. Mohon maaf ya :') Oke. Tanpa babibu lagi, mari kita baca cerita ini. ^^

Note: Rada OOC, gaje, Spoiler dari BBBTM2 dll


(Kilas balik waktu)

"Saya mohon. Kamu kena tinggalkan saya."

Lelaki itu terhenyak mendengar kalimat itu. Digenggamnya tangan istrinya yang mulai melemah sambil menggeleng sedih.

"Tidak! Saya takkan tinggalkan awak sendiri kat sini! Saya tidak akan!"

"Kaki kanan saya sudah hancur. Saya dah takde harapan lagi buat selamatkan diri, tapi kamu masih boleh."

"Ta- Tapi..."

"Tolong jaga Mimi. Ini permintaan terakhir saya."

Detik berikutnya, ia memeluk lelaki itu seerat mungkin. Lelaki itu tidak punya pilihan selain balas memeluk istrinya. Dia terisak-isak. Beberapa lama kemudian, Istrinya melepas pelukannya dan menatap lelaki itu dengan sorot mata penuh arti.

"Saya cinta kamu, Haryan. Saya akan selalunya cinta kamu."

Tanpa peringatan apapun, wanita itu tahu-tahu mendorong Haryan sekuat tenaga, membuat Haryan terhempas keluar bangunan itu. Haryan meringis sambil memegang bahunya yang terantuk tanah keras. Tiba-tiba ia terbelalak. Dipalingkannya wajahnya ke arah bangunan tak jauh dihadapannya itu. Namun belum sempat ia bangkit, sesuatu terjadi.

KABOOOOOOOOOOMMMMMM!

Bangunan itu meledak dengan ledakan yang begitu dahsyat. Asap hitam pekat membumbung di udara. Haryan menatap pemandangan penuh bencana itu dengan tatapan tidak percaya.

Istrinya mendorongnya keluar bangunan itu, dan wanita itu masih berada di dalam sana saat bangunan itu meledak.

Haryan mengigit bibirnya. Kakinya layu seakan tidak bertenaga. Ia ambruk dan menatap bangunan yang terbakar itu.

Tanpa ia sadari, sebuah anak sungai air mata mulai mengalir turun dari kedua pelupuk matanya yang rapuh. Haryan terisak keras. Detik berikutnya ia merentangkan tangan kanannya ke arah bangunan yang terbakar itu seraya berteriak sekuat tenaga.

"LINDAAAAAAAAAAA!"


"LINDAAAAAAAAAAA!"

Haryan berteriak kuat-kuat. Ia terbangun dari tidurnya yang tenang di atas meja kerjanya. Pria itu terengah-engah. Keringat dingin mengalir deras dari wajahnya. Seluruh tubuhnya gemetar hebat.

Mimpi buruk itu kembali meneror alam bawah sadarnya.

Haryan menggeretukkan giginya. Kenapa mimpi itu lagi? Kenapa harus Istrinya yang meninggal dalam ledakan itu? Kenapa wanita yang amat disayanginya itu harus pergi?

Lamunannya buyar begitu pintu aula markas ONION itu diketuk dari luar.

"Masuk," perintah Haryan kaku. Pintu Aula Markas ONION itu membuka, menampakkan sebuah sosok wanita tinggi berambut perak.

Rosaline.

"Ketua, kau baik-baik saja?" tanya wanita itu. Nada suaranya menunjukkan rasa simpati, walaupun nyaris tidak kentara akibat ditutupi raut muka dingin.

Haryan mengusap wajahnya yang penuh keringat. "Takda pe. Aku baik je," gumamnya datar. Rosaline mengernyit. Diputarinya meja Haryan hingga ia berdiri di belakang kursi sandaran lengan yang diduduki pria itu. Direndahkannya kepalanya hingga berada tepat di samping telinga kiri Haryan. Dirabanya pipi pria itu dengan tangannya yang pucat.

"Kau takkan mampu sembunyikan perkara tu daripada aku, Ketua," desisnya. "Biar aku tebak. Pasal kematian Linda ke?"

Haryan mendesah tanda mengalah. "Baiklah, kau menang," ujarnya seraya menepis tangan Rosaline dari pipinya. Ia merasa ngeri juga dipegang-pegang oleh wanita itu. "Ini dah kali kesekian aku dapatkan mimpi buruk pasal kematian dia. Dan hentikan rayuan kau dekat aku, Rosaline. Kau takkan boleh dapatkan hati aku. Takde seorang wanita pun selain Linda yang boleh ambik hati aku, termasuk kau sekali."

Rosaline tertawa geli. "Ah, betul juga tu," ujarnya sambil mengangkat kepalanya dari kursi Haryan. "Aku lupa, kau bukannya tipe yang aku mahukan."

Haryan tersenyum kecut. "Kau mengerikan, Rosaline," sindirnya. "Tak kan la kau mahukan tipe macam 'dia' pulak."

"Terima kasih atas pujianmu, Ketua," balas Rosaline sambil terkekeh. "Bukannya kenapa, tapi aku macam rasa selesa dengan mangsa yang masih sahaja terus menentang aku. Kalau sahaja Taka tak terkurung dalam penjara kristal tu, kalau sahaja Romy tak khianati aku, takkan la aku pusatkan perhatian aku dekat 'dia', atau mungkin... budak topi oren tu sekali."

Lawan bicaranya mendengus. "Jenayah pedofilia kau ni memang teruk," imbuhnya. "BoBoiBoy masih boleh diharap. Budak tu masih boleh jadi salah satu aset penting kita. Tapi aku masih tak faham pasal kau nakkan 'dia', padapun dia lah orang yang paling menentang kau, dan kau masih nakkan dia? Kau ni memang dah gila rupanya."

"Huh, padapun kau sorang yang jadikan 'dia' imbalan buat aku masa kau kecik dahulu," omel Rosaline sambil berjalan ke depan meja Haryan. "Kau bagi dia dekat aku, dan kau cakap aku yang gila? Kau tak ingat ke kalau kita ni sama-sama gila?"

"Setidaknya aku bukan peminat budak kecik macam kau," gumam Haryan malas. Rosaline mendekati meja Haryan lalu menghantam permukaan meja itu, walaupun tidak terlalu keras.

"Dan setidaknya aku dah berjaya kawal dia sebelum Linda buat cecair kawalan tu stabil," ujar Rosaline dengan senyum setan andalannya. "Isteri kau tu memang hebat, Ketua. Aku terkesan kau boleh dapatkan hati wanita jenius Kimia macam dia. Tapi andaikan Linda tak berjaya stabilkan cecair tu, budak lelaki tu tetap jadi milik aku. Dan tiada sesuatupun yang buat aku senang selain seksa mangsa aku sedemikian rupa, fufufu..."

(Kilas waktu berakhir)


.

.

C.E.R.M.I.N. G.A.L.A.X.Y.

Apocalypse by 'Sapu Katharsis'

.

.

.

BoBoiBoy milik Animonsta/Monsta


.

.

.

Bagian 9: Pesta Gala di Kuala Lumpur

Gedung Markas ONION, pukul 01:00 dini hari

Jam menunjukkan pukul 1 pagi. Semua penghuni Markas terlelap di kamar tidur masing-masing. Semuanya- kecuali dua sosok di ruang lab: Mimi dan Azurian. Azurian tampak duduk di salah satu kursi Lab sementara Mimi tampak sedang mengutak-atik sebuah mesin proto berukuran sedang di meja eksperimennya.

"Nampaknya engkau tengah serius, Nona Mimi," celetuk Azurian setelah sekian lama memperhatikan Mimi bekerja. "Kau fikir mesin buatan kau elok buat jadi pendukung daya benda kitar tu? Dan-"

Dia tidak melanjutkan kalimatnya begitu Mimi mendelik ke arahnya dengan tatapan marah.

"Satu kali lagi Uncle sebut dia benda 'kitar', aku akan belasah Uncle hingga lumat," desis Mimi dingin. "BoBoiBot tu bukan benda kitar! Dia kawan baik aku!"

Azurian mengusap wajahnya perlahan. "Ya, ya, Uncle minta maaf," gerutunya pelan. Dia hanya sanggup geleng-geleng kepala melihat sifat obsesif Mimi yang kambuh lagi. "Jangan cakap kau dah proyeksikan budak BoBoiBoy tu dekat kembaran robot dia. Kau ni dah macam budak jatuh hati tau."

"Ma- Mana ada! Aku anggap BoBoiBoy tu kawan je," jawab Mimi dengan wajah memerah. "Dia memang kawan aku. Tapi itu dulu. Sekarang... sekarang dia dah jadi pembelot! Dia lagi pentingkan kawan-kawan Pulau Rintis dia! Sa- sampai hati dia... sampai hati dia buat benda macam ni dekat aku! Aku benci dia! AKU BENCI DIA!"

Ia mengatakan itu dengan nada gusar. Ya, gusar. Mimi tidak tahu harus dengan cara apa lagi dia menahan emosinya. Gadis itu merasa dirinya sudah nyaris gila. Anak bertopi jingga itu... BoBoiBoy... Mimi tahu dirinya tidak akan berhenti sebelum pemuda cilik itu menjadi mayat kaku di hadapannya. Tanpa sadar air mata mulai mengalir turun dari sudut matanya, membuat gadis berpakaian lolita itu terisak.

"Aku benci dia... aku benci BoBoiBoy..." gumamnya sedih. "Uncle tak tahu apa yang aku rasa! Dia... Dia memang pelupa. Aku maklum. Tapi takkan la... takkan la dia terlampau pelupa macam ni. Pecahan-pecahan kuasa dia pon tak kenal aku. BoBoiBoy dan kawan-kawan pelik dia tu... diorang patut dibalas!"

Ia mengatakan itu sambil mencengkeram pinggir meja eksperimen di hadapannya, terisak parau disitu. Azurian hanya diam melihat kelakuan labil sang Ketua cilik ONION. Bagi pria itu, Mimi memang sudah tidak waras. Tapi Azurian memang sengaja membiarkan gadis itu menderita dalam obsesinya terhadap sang superhero elemental. Baginya, Mimi perlu dibiarkan gila, karena dengan begitu sifat kejamnya akan berguna banyak bagi tujuan Organisasi ONION dalam penaklukan Galaksi. 'Ah, betapa indahnya jika kehancuran ada dimana-mana,' batin Azurian sambil tersenyum puas. 'Tak sangka Haryan memiliki puteri kejam macam Mimi. Ini mesti akan jadi benda menarik, kuhuhuu...'

Dia kembali memandang Mimi sambil mengusap ujung dagunya. "Ah, ya," katanya mulai berbasa-basi. "Uncle baru sahaja siar-siar kat Stesen bandar siang tadi."

"Dah tu apa?" tanya Mimi agak cuek. Dia terlalu sibuk menyusun temuannya di meja eksperimen hingga nyaris tidak meladeni Azurian. Pria bertopi fedora itu hanya tersenyum kecil.

"Uncle nampak BoBoiBoy dan kawan-kawan Pulau Rintis dia kat Stesen bandar tadi. Bukannya benda tu ialah suatu kemujuran?"

"!?"

Sontak Mimi menghentikan pekerjaannya di meja eksperimen begitu ia mendengar nama sang Superhero elemental disebut-sebut. Selama beberapa detik ia mematung disitu. Pandangan matanya membayang.

"Uncle... Uncle kata dia dan kawan-kawan hodoh dia ada dekat KL sekarang ni?" tanyanya kaku. Dibaliknya badannya hingga sejajar dengan Azurian yang masih saja duduk di kursi Lab. Sejenak mata-mata mereka saling beradu.

"Iye lah. Apa lagi?" Azurian menukas dengan wajah malas. "Saya rasa kamu kena berjumpa dengan dia. Apa kata kalau kita tengok dia esok malam?"

Mimi terhenyak. "A- Apa?" katanya gugup. "A- Aku? Berjumpa dengan BoBoiBoy? Dimana?"

"Haish, Nona Mimi tak ingat ke agenda ONION malam ni? Operasi Death List 2.0 akan dilaksanakan dekat Pesta Gala gedung serbaguna KL."

"Me- Mestilah ingat! Tapi bukannya Pesta tu hanya akan dihadiri oleh Pejabat-pejabat Negara? BoBoiBoy dan kawan-kawan hodoh dia bukan Pejabat Negara lah."

"Oh, ya? Lantas kenapa Arumugam kata dia ikut diundang juga?"

Mimi menggaruk pipinya. "Err- sebab dia ialah keponakan daripada Tuan Ganesha Khan ke?"

"Tepat," balas Azurian dengan senyum sinis. "Nona bahkan lupa dengan satu pasal penting. Nona Mimi kan anak kepada Haryan Pakpak Darwish. Mestilah Nona diundang juga."

"Hee? Tapi... Tapi bukannya Vader dah dipecat daripada Kedutaan sebab kedok dia sebagai Ketua ONION terbongkar dua tahun lepas? Aku tak pasti lah!"

"Ahahaha, Nona ini... Maklumat tu hanya berlaku dekat lingkaran Intel Kedutaan lah. Jadi secara de jure, Haryan belum keluar daripada lingkup pejabat Kedutaan. Haihh... apahal la orang-orang Kedutaan ni. Dah la gerak lamban, keje pun tak becus."

Mimi melongo. "Jadi saya masih boleh ikut Pesta Gala tu ke?" tanyanya dengan wajah sumringah. "Asyik! Ini kesempatan bagus buat pakai baju Lolita baru aku!"

"Ya, ya. Dan jangan lupa, Nona akan berjumpa dengan BoBoiBoy dekat Pesta Gala nanti," ujar Azurian cepat-cepat. "Dia anak daripada Tuan Duta besar, jadi mesti dia dan kawan-kawan Pulau Rintis dia akan diundang. Amacam? Nona senang tak?"

Lawan bicaranya mengangguk sambil tersenyum aneh. "Senang pun," tukasnya dengan seringai lebar di wajahnya. Matanya semakin membayang, suatu pertanda bahwa jiwa psikopatnya kembali timbul. "Tak sabar lah aku berjumpa dengan BoBoiBoy, hihihi... ini mesti akan sangaattt menarik!"


Taman Kota Kuala Lumpur pukul 08:00

Taman kota terlihat begitu segar dan asri. Burung-burung berkicau di sela-sela pepohonan. Taman itu sendiri terlihat agak ramai dari biasanya. Apalagi kalau bukan BoBoiBoy dan teman-temannya yang tengah berolahraga di taman itu? Kelima Superhero cilik itu tampak asyik bermain bulu tangkis di salah satu sudut taman. BoBoiBoy dan Ying satu tim, Fang dan Yaya satu tim. Gopal dan Ayah BoBoiBoy tampak duduk di kursi taman yang tergeletak di pinggir area bulu tangkis. Anak gembul berdarah India itu tengah keram kaki, jadi mau tidak mau dia harus merelakan dirinya dari bermain bulu tangkis bersama teman-temannya. Imran tengah pergi membeli bubur ayam untuk mereka.

"Ayo, BoBoiBoy! Gunakan jurus Smash kau!" jerit Ayahnya semangat bukan kepalang. Bukannya tambah fokus, BoBoiBoy malah merasa terusik dengan teriakan Ayahnya yang terus-menerus.

"Ish, Ayah- BoBoiBoy nak fokus lah," gerutunya sebal sembari meraih bulu kok di tanah. Diliriknya Ying yang berada tak jauh di sampingnya. Gadis tionghoa itu mengangguk.

"Ayo, BoBoiBoy. Giliran tim kita yang bagi servis maa."

"Okey," balas BoBoiBoy lalu melempar Kok itu ke udara. Dipukulnya Kok itu dengan raketnya, menciptakan sebuah tembakan keras ke arah Yaya dan Fang. Yaya yang melihat arah kok itu sontak berseru.

"Fang, cepat! Kok itu terbang ke arah kau!"

"Takde hal! Hiahhh!"

SMAKK!

Fang mengayunkan raketnya ke arah Kok itu, memukulnya keras. Ying segera mengantisipasi gerakan itu dengan pukulan yang keras pula. Tanpa terasa Kok itu nyaris tidak pernah menyentuh tanah akibat menerima pukulan raket terus menerus dari keempat anak itu. Betapa menegangkan, saudara-saudara!

"Wuoh! Hebat betul lah Anak-anak Uncle ni," tukas Ayah BoBoiBoy dengan mata berapi-api karena menikmati pertandingan itu. Gopal yang duduk di sampingnya tentu saja langsung facepalm dibuatnya.

"Dey Uncle, Anak Uncle tu cuma BoBoiBoy je lah."

"Hehehe, sori. Tapi Uncle macam dah anggap kamu semua ni anak Uncle," tukas sang Duta dengan senyum lebar. Dipalingkannya kepalanya kembali ke pertandingan bulu tangkis. "Ayo! AYO GUNA SMASH! CEPAT! ARGH! APESAL KAU TAK BALING KOK TU!?"

Gopal hanya mendesah pasrah melihat sikap semangat Ayah sahabatnya. Dilihatnya keempat temannya yang sedang asyik bertanding. Keram di kakinya sudah mulai menghilang, tapi entah mengapa Gopal tiba-tiba merasa seperti diserang rasa kesepian.

"Humm- memang lah aku ni patut sorang-sorang je dey," gumamnya pelan, nyaris berbisik. "Dan aku- Huh?"

Dia tidak melanjutkan keluh kesahnya begitu matanya menangkap sesuatu yang aneh. Tak jauh darinya terdapat sebuah genangan air bekas embun. Sang manipulator molekul tertegun. Genangan air itu terlihat beriak-riak, seolah-olah ada sesuatu yang terperangkap di dalamnya.

"Itu... itu bukan Ikan, kan?" batin Gopal mulai takut. "Mana ada Ikan terperangkap dalam genangan air embun?"

Dia berkedip-kedip, berharap genangan air yang beriak-riak itu cuma halusinasi pagi hari. Namun ternyata ketakutannya terbukti... karena tiba-tiba saja dari genangan air itu keluar sepasang tangan!

"GAAAAAAAAAHHHHHHHH!"

Gopal menjerit kuat-kuat hingga nyaris terpelanting dari kursi taman. Keempat temannya dan Ayah BoBoiBoy yang tengah asyik menikmati pertandingan bulu tangkis langsung berhenti bertanding dan tertegun melihat anak India itu.

"Gopal, kenapa kau?" tanya BoBoiBoy datang menghampiri. Gopal mengap-mengap, paranoid akibat insiden tangan yang keluar dari genangan air embun. Wajahnya pucat pasi. Dilihatnya Ayah BoBoiBoy dan teman-temannya satu persatu dengan celingukan.

"Itu... Itu ada tangan keluar dari genangan air kat sana tu!" tukasnya horor sembari menunjuk genangan air embun yang dimaksud. Teman-temannya menoleh ke arah genangan air. Tidak ada tangan yang keluar dari sana.

"Ehh? Tangan? Takde tangan pun," tukas BoBoiBoy bingung. "Kau pasti ke, Gopal?"

"Ya loh. Kamu dah gila kah?" tanya Ying dengan wajah sebal. "Mana ada tangan keluar dari genangan air?"

"Hmh! Ingat-ingat dia ni dah tak waras kot," cibir Fang sambil melipat tangan di depan dada. "Kitorang lagi bertanding Badminton lah. Apasal kau buat lawak karut ni? Buang masa."

"Mungkin Gopal cuma terbayang-bayang selepas tengok wayang horor kot," kata Yaya berusaha berpikir rasional. "Kan, Gopal?"

"Ish, korang ni! Betul aku tengok tangan keluar dari genangan air tu," ujar Gopal nyaris menangis. "Korang kena percaya kat aku dey. Aku serius la!"

"Dah, dah... jangan serang Gopal macam tu, anak-anak. Mungkin dia terlampau penat," kata Ayah BoBoiBoy berusaha mengalihkan perhatian. Dia merasa kasihan dengan anak India itu. "Ah, tengok tu! Imran dah balik dengan Bubur ayam dia. Jom kita sarapan ramai-ramai."

Benar saja. BoBoiBoy, Yaya, Ying dan Fang langsung teralihkan perhatiannya ke Imran yang sudah muncul di pintu masuk taman kota dimana Penjual bubur ayam berada. Pria itu melambaikan tangannya pertanda bubur ayam pesanan mereka sudah jadi. Sontak keempat anak itu langsung melesat ke arah penjual bubur ayam akibat keroncongan. Ayah BoBoiBoy tertawa saja melihat tingkah mereka yang kekanakan. Ia lalu menoleh ke arah sang manipulator molekul. Anak gembul itu tampak kalut.

"Cik adik takpe?"

Gopal menatapnya dengan wajah memelas. "Uncle... Uncle percaya dekat saya ke?" tanyanya gundah. "Saya serius lah. Saya nampak ada tangan yang keluar dari genangan air tu! Saya-"

Ayah sahabatnya menepuk bahu Gopal, memotong kalimat anak itu. "Baik kita bincangkan benda ni lepas balik rumah nanti, okey? Bukannya Uncle percaya dekat kamu, tapi Uncle rasa Uncle boleh bantu kamu pasal apa yang kamu nampak tadi."

"O- Okey... Terima kasih banyak, Uncle. Maaf sebab dah buat repot. Saya... Saya memang penakut dah."

Si lelaki tertawa. "Hahaha, adik ni macam ada hal je lah," kelakarnya pelan. "Dah, dah, jom kita pergi sarapan Bubur ayam. Kamu mesti lapar selepas bersukan tadi, kan? Kan?"

Gopal mengangguk. "I- Iye?"

"Dah tu apa lagi yang kamu tunggu? Jom lah. Nanti jatah bubur ayam kau dimakan Imran pulak."

"Hehehe- okey, Uncle!"

Keduanya lalu tertawa sambil menyusul BoBoiBoy dan teman-temannya yang sudah terlebih dahulu tiba di penjual bubur ayam yang mangkal di pinggir taman kota. Tak lama setelah mereka pergi, genangan air embun yang dilihat Gopal tampak beriak-riak kembali. Detik berikutnya sebuah sosok muncul dari dalam genangan air itu. Sorot matanya yang tidak manusiawi terlihat dingin. Dia adalah Syrena, sang Siren dari Planet Tim tam Dua, bekas bawahan Rosaline dan salah satu anggota Supreme Diamond dengan nama kode 'Ikan hias'.

"Itu ke BoBoiBoy dan kawan-kawan dia?" gumamnya sambil terkekeh. "Benar-benar kejutan. Budak India itu pon ada kat sini. Dan apa lagi yang kita dapatkan disini, hmm? Ah, tunggu... bukannya itu Encik Duta kawan lama Tuan besar Haryan? Ini kejutan ke ape?"

Ia mendelik ke sekeliling taman kota, berjaga-jaga kalau-kalau ada saksi mata yang melihatnya muncul dari genangan air embun. Keberuntungan baginya, karena tidak ada orang yang melihat kemunculannya di genangan air selain Gopal tadi. Syrena tersenyum serigala lalu terkekeh lagi.

"Mari kita tengok benda apa yang akan berlaku malam ini, khuhuhu..."

Detik berikutnya ia kembali membenamkan dirinya ke dalam genangan air, menghilang tanpa bekas.


Usai sarapan Bubur ayam di pinggir taman kota, BoBoiBoy dan teman-temannya pulang ke rumah untuk mandi pagi dan bersih-bersih. Sang Duta, Istrinya dan Imran langsung pergi ke kantor Kedutaan usai mandi. Alasannya ada beberapa urusan yang harus diselesaikan. Dengan kata lain, mereka sedang lembur.

Begitu masuk ke dalam kamarnya, BoBoiBoy langsung beranjak menuju kamar mandi untuk mandi air hangat. Benar saja, anak itu langsung merasa nyaman begitu ia membenamkan dirinya ke dalam bak mandi yang sudah diisi air hangat. Dalam sekejap seluruh tubuhnya terasa segar. Sambil menikmati suasana mandi bak sauna, Sang manipulator elemen merenung di dalam bak mandi seolah tengah berpikir keras.

"Gopal kata dia nampak ada tangan yang keluar dari genangan air dekat taman bandar tadi," gumamnya pada diri sendiri. "Memang la tak masuk akal. Tapi entah kenapa aku macam rasa kalau dia tak bohong. Rosaline pon boleh bertukar wujud jadi aura hitam, apatah lagi kalau hanya tangan yang keluar daripada genangan air? Hmm- baik aku bincangkan masalah ni dekat Gopal selepas cuti sekolah. Sekarang masa yang tepat buat berehat dan bersenang-senang, bukan buat berfikir benda-benda pelik dahulu."

Sementara itu di kamar anak perempuan, Yaya dan Ying tengah membereskan ranjang masing-masing. Guna mengisi rasa bosan, Yaya mengajak Ying mengobrol.

"Ei, Ying. Kamu rasa tak kalau Gopal berandai-andai pasal tangan yang muncul dekat genangan air kat taman bandar tadi?" tanyanya sambil menepuk-nepuk bantal gulingnya agar empuk. Ying yang saat itu tengah merapikan seprai ranjangnya tahu-tahu mendesah.

"Aiyoo- kamu ni macam tak kenal Gopal meh. Dia tu penakut maa," ucap Ying facepalm. "Lagipun kamu sorang yang cakap kalau dia mungkin cuma terbayang-bayang dengan film horor yang dia tengok tu."

Yaya mengerutkan kening. "Entahlah, Ying. Aku macam rasa kalau dia tak seratus peratus berandai-andai. Macam... Macam apa yang dia cakapkan tu memang berlaku."

"Huh?" Ying melongo. "Tapi kalau itu memang berlaku, apasal kita tak nampak tangan tu?"

"Haihh- kau lupa ke kalau kita bertanding badminton semasa Gopal jerit-jerit pasal tangan yang keluar dari genangan air tu? Dah la Ayah BoBoiBoy sibuk fokus dekat pertandingan kita, jadi kemungkinan besar cuma Gopal yang tengok insiden tangan tu."

Ying mendesah lagi. "Tapi tetap sahaja benda tu tak logic," ucapnya risih. "Dah la. Kita masih bercuti hoo. Kalau nak bahas benda-benda pelik macam tu, baik jangan masa kita bercuti."

"Hehehe, betul juga tu," kekeh Yaya malu. "Ya dah. Jom kita kemaskan bilik. BoBoiBoy kata dia nak ajak kita siar-siar kat rumah salah satu kawan lama dia. Kalau tak salah nama kawan dia tu ialah Hafiz."

"Eh, Oya ho! Saya pon terlupa pasal tu," ucap Ying kaget. "Ayah BoBoiBoy kata Hafiz tu anak daripada desainer baju terkemuka dekat KL ni. Dan berhubung kita tak bawa baju pesta, kita akan belanja baju dekat rumah Hafiz. Ihi, tak sabarnye!"

"Betul la! Apa kata baju-baju desain ibubapa dia mesti bernas, kan? Kan?"

"Ya loh! Saya boleh bayangkan penuh pernak-pernik!"

"Dan jangan lupa bros dan hiasan gaun cantik! Kyaaaa!"

Kedua gadis itu tampaknya sudah tenggelam dalam topik baju pesta. Jangan heran, saudara-saudara... tapi tipikal sebagian besar kaum hawa adalah suka barang-barang indah.

Ketika Yaya dan Ying membahas topik gaun pesta dan pernak-pernik di dalam kamar mereka, maka lain halnya dengan suasana kamar anak-anak lelaki dimana Gopal dan Fang berada. Fang langsung menghempaskan tubuhnya ke atas ranjangnya. Rupanya dia kelelahan setelah main bulu tangkis tadi. Dia juga masih kesal dengan racauan Gopal tentang tangan yang 'katanya' muncul dari genangan air, jadi dia nyaris tidak berbicara pada teman penggendali molekul-nya itu sejak pulang dari taman kota. Bahkan ketika Gopal bertanya padanya siapa giliran yang hendak mandi pagi duluan, Fang hanya menggumam tidak jelas, suatu isyarat kalau dia tengah malas berbicara pada temannya itu. Dan sebagai balasannya, Gopal memutuskan untuk mengokupasi kamar mandi saat itu juga.

Di dalam kamar mandi, sang pemuda India membuka bajunya dan menggantungkannya di pengait yang tertempel di pintu masuk. Dengan hanya mengenakan celana pendek, Gopal perlahan-lahan masuk ke dalam bathtube yang sebelumnya sudah dia isi dengan air hangat. Kecemasannya yang berlebihan mengenai 'tangan yang muncul di genangan air di taman kota Kuala Lumpur' berangsur-angsur lega. Ternyata mandi air hangat membuat perasaannya lebih baik.

"Hmm- mungkin itu cuma halusinasi aku je, dey," gumam sang manipulator molekul, berusaha menenangkan dirinya sendiri. Pikirannya semakin kacau akhir-akhir ini. Gopal menelan ludah. Semoga saja Ayah BoBoiBoy percaya dengan apa yang akan diceritakannya nanti.

SPLASH!

"?!"

Air di hadapannya tiba-tiba beriak, membuatnya mematung dalam sekejap.

"Apa-apaan itu tadi?" cicit Gopal kaget sekaligus takut. Dia yakin kalau dia tidak menggerakkan kakinya sama sekali, tapi kenapa air di bathtube itu bergemericik dengan sendirinya?

"Bertenang, Gopal... Bertenang... Huff, ini cuma imajinasi kau," timpalnya pada dirinya sendiri. Dia memandang ke air di sekelilingnya, khawatir kalau-kalau air itu beriak kembali. Tapi kali ini air itu tenang, setenang air kolam.

"Fuhh- Okey lah, itu memang imajinasi aku," timpal Gopal lega. Dalam hati dia tertawa geli. Mana ada air datar yang bergerak sendiri?

Dia lalu menyandarkan kepalanya di pinggir bathtube, hendak menikmati rendaman air hangatnya. Namun begitu ia bersandar disitu, sekonyong-konyong Gopal membelalak kaget setengah mati.

Sepasang tangan tiba-tiba muncul dari air bathtube dan menarik bahunya ke dalam air!

"HUWAAAAAAAAAAAAAAAAAA-!"

Gopal menjerit kuat-kuat. Dia berusaha menggapai-gapai pinggir bathtube tempatnya berendam tapi selalu terpeleset akibat tangannya yang licin. Sepasang tangan yang menarik bahu Gopal ke dalam air pun semakin menjadi-jadi. Mereka menyentak pemuda india itu hingga pegangannya terlepas.

"FANNNGGG! TOLONGG-! UMHP!"

Air yang masuk ke dalam mulutnya membuat teriakan Gopal terputus. Anak itu menggapai-gapai, berusaha melepaskan kedua tangan asing itu dari bahunya. Tidak disangka kedua tangan itu kuatnya minta ampun. Begitu kepalanya sudah terbenam, Gopal sadar kalau dasar bathtube itu sudah hilang, digantikan dengan air yang memiliki dasar yang dalam bak samudra. Tampaknya kedua tangan aneh itu hendak menariknya ke sebuah dimensi lain dengan air sebagai medium perantara. Tapi kenapa?

"Kita berjumpa lagi, ehehe. Masih ingat aku?"

"!"

Gopal terhenyak. Suara itu... dia ingat betul!

'Syrena? Apakah!?'

"Satu benda yang kau kena tahu. Kawan-kawan kau tu sampah. Bagi diorang, kau tu takde guna."

"?!"

Sang manipulator molekul tertegun. Dadanya terasa semakin sesak akibat oksigen yang mulai menghilang darinya. Rasa takut semakin menguasai dirinya. Tidak, dia tidak boleh membiarkan Makhluk gila itu menang!

Gopal menyentak bahunya sekali lagi, sukses melepaskan kedua tangan itu darinya. Kepalanya segera menyembul ke permukaan. Sayangnya kedua tangan itu kembali mencoba menarik tubuhnya kembali ke dalam air.

"AAAAAAAAAHHHHHHH!"

Mendengar jeritan keras Gopal, Fang yang tengah membaca majalah di atas kasurnya langsung terlonjak. Buru-buru dia melesat menuju kamar mandi. Yaya dan Ying serta BoBoiBoy yang baru saja selesai mandi pun mendengar jeritan teman India mereka. Segera mereka melesat menuju kamar Fang dan Gopal. Disitu mereka melihat Fang yang tampak menghantam pintu kamar mandi yang dikunci dari dalam menggunakan bahunya, berusaha mendobraknya.

"Fang, apa jadi ni? Apa benda yang berlaku?" tanya Yaya cemas. Fang mendelik ke arah ketiga temannya sejenak sebelum akhirnya ia kembali mencoba mendobrak pintu kamar mandi.

"Korang dengar tak Gopal jerit-jerit tadi?" tanyanya was-was. "Macam ada benda seram yang berlaku kat dalam bilik mandi! Cepat, bantu aku dobrak pintu ni!"

"Okey!"

Keempat anak itu lalu menghantam pintu kamar mandi itu dengan serempak. Setelah tiga kali dobrakan, pintu itu akhirnya terbuka juga. Begitu mereka masuk, mereka segera mencari Gopal di setiap sudut kamar mandi yang luas. BoBoiBoy yang pertama kali melihat Gopal di dalam bathtube. Sahabat India-nya itu terlihat menggapai-gapai tangannya di udara sementara seluruh tubuhnya sudah terbenam air. Buru-buru BoBoiBoy menghampiri bathtube itu dan menarik tangan Gopal darinya.

"Gopal, bertahanlah! Kami datang!"

Yaya, Ying dan Fang yang tengah mencari di sudut lain kamar mandi mendengar suara BoBoiBoy yang berasal dari area bathtube. Mereka lalu menyaksikan BoBoiBoy yang tengah menarik kedua tangan kecoklatan milik Gopal. Sang manipulator molekul tampaknya sedang 'tenggelam di bathtube', membuat Yaya, Ying dan Fang ragu sejenak. Lelucon hambar apakah ini?

"Aiyaa- apa kamu punya lawak ni ho?" gumam Ying facepalm. BoBoiBoy menoleh ke arah mereka sambil terus menarik tangan Gopal dari dalam air. Wajahnya terlihat panik.

"Kawan-kawan, ini bukan lawak lah! Badan Gopal macam ada yang tarik! Kuat betul! Bantu aku tarik badan dia keluar bathtube ni!"

"Hah?!"

Meski ragu, tapi akhirnya Yaya dan Fang membantu BoBoiBoy menarik Gopal keluar dari air. Ying mendesah saja sebelum akhirnya dia ikut menarik teman India-nya dari dalam bathtube. Benar saja. Tubuh Gopal seakan ditarik ke bawah oleh sesuatu yang kuat. Namun keempat anak itu sadar tidak ada waktu buat menanyakan hal itu. Mereka memfokuskan tenaga mereka untuk menarik tubuh Gopal keluar dari bathtube. Dua menit kemudian, tubuh Gopal berhasil ditarik keluar seluruhnya. Saking kuatnya tarikan BoBoiBoy, Fang, Yaya dan Ying, badan sang manipulator molekul sampai jatuh terpelanting di lantai kamar mandi. Melihat Gopal yang hanya mengenakan celana pendek, Yaya dan Ying cepat-cepat memalingkan wajah mereka ke arah lain, malu melihat teman India mereka yang bertelanjang dada. Fang segera melemparkan sebuah handuk pada BoBoiBoy, yang dengan sigap menerima handuk itu dan langsung menutupi tubuh Gopal dengannya.

"Gopal, kau okey?" tanyanya khawatir. Gopal segera bangkit dan memandang teman-temannya dengan mata berkaca-kaca. Hidungnya kembang kempis, sebuah tanda bahwa emosinya sedang kalut luar biasa.

"Aku... aku... aku nampak tangan itu lagi..." gumamnya tersedu-sedan. "Dia... Dia tarik badan aku ke dalam air. Dan dasar bathtube... dasar bathtube tu bertukar jadi dalam sangat! Aku- Aku takut lah... huhuhuhuhuuu..."

Tangis Gopal pecah saat itu juga, membuat teman-temannya iba. BoBoiBoy dan Fang segera menggiring Gopal keluar dari kamar mandi untuk menenangkan diri sementara Yaya dan Ying mengelap lantai kamar mandi yang hampir banjir akibat air yang tumpah ruah ketika mereka tengah berusaha menarik Gopal keluar dari bathtube. Ketika tengah menguras bathtube itu, tiba-tiba mata abu-abu kebiruan milik Ying menangkap sesuatu yang berkilat di dasar bathtube: Sebuah serpihan sisik ikan.

"Yaya, sini," gumamnya. Yaya yang sedang mengepel lantai kamar mandi Gopal dan Fang lalu menghampiri Ying dan bathtube dimana Gopal berendam tadi. Dilihatnya sisik yang ditunjuk sahabat tionghoa-nya, membuatnya menaikkan alis tanda bingung.

"Ehh? Apesal ada sisik ikan ni?" tanyanya heran. "Takkan lah Gopal ajak Ikan berendam jugak, kan?"

"Iya, ho. Saya pon hairan ma," timpal Ying tidak kalah heran. "Oh, ya. Kamu ingat tak masa kita nak tengok badan Kapten Kaizo kat Kapal Angkasa dia beberapa bulan lepas?"

"Hmm-" Yaya menggaruk dagunya. "Yang masa kita berjumpa dengan anak kepada Uncle Haryan: Mimi dan Pihak yang kudeta Mila daripada takhta dia kat Planet Tim Tam Dua: Syrena ke?"

"Tepat. Dan kamu ingat tak apa ras Syrena? Dia tu Siren, salah satu tipe Makhluk Fantasi yang boleh tukar wujud jadi burung camar ataupun duyung wo. Kalau tak silap, kuasa dia ialah berhubungan dengan portal medium air. Buktinya dia boleh benamkan diri dia di lantai yang boleh dia tukar jadi kolam. Dia pon boleh summon makhluk-makhluk air, macam ikan piranha dan lain sebahagainya."

Yaya terkejut mendengar kalimat Ying itu. "Jadi maksud kau, Syrena ke yang tarik Gopal masuk ke dalam bathtube ni tadi?"

Ying mengangguk. "Ini baru saya punya spekulasi, tapi kemungkinan besar dialah saspek utama daripada insiden ni," katanya. "Kesian Gopal. Saya nak minta maaf sebab tak percaya dekat dia tadi."

"Sudah kuduga dia tak bohong," ujar teman berhijab pink-nya lega. "Dia mesti rasa takut sangat tadi, bahkan sampai menangis. Tak sampai hati aku tengok dia tadi."

"Betul wo, dan juga-"

"Yaya, Ying, korang masih nak uruskan bilik mandi ke?" Fang tiba-tiba muncul di ambang pintu kamar mandi. "Tak payah urus benda tu. BoBoiBoy kata dia nak pergi ke rumah salah sorang kawan lama dia dua minit lagi. Kalau tak silap, nama kawan dia tu Hafiz. Ayah BoBoiBoy cakap kalau Hafiz tu anak kepada desainer terkenal kat KL. Berhubung kita nak beli baju buat Pesta Gala malam ni, kita kena berkunjung ke rumah dia. Baik korang siap-siap. Nanti kita jumpa kat Lobi."

"Okey," balas Yaya dan Ying bersamaan. Kedua gadis itu lalu keluar dari kamar mandi laki-laki dan menghampiri Gopal yang tengah dihibur oleh BoBoiBoy. Anak berkulit gelap itu tampaknya sudah lebih baikan karena dia langsung tersenyum begitu Yaya dan Ying melambaikan tangan ke arahnya.

"Semoga keadaan kamu jadi lagi baik, Gopal. Jumpa kat Lobi nanti ye!"

"Um, jumpa lagi," balas Gopal senang. BoBoiBoy yang melihat sikap sahabatnya itu lalu tersenyum lega. Akhirnya Gopal tidak menangis dan ketakutan lagi.

"Nah, aku nak siap-siap dah. Kau dan Fang juga kena siap-siap tau. Dah nak pukul sembilan ni. Rumah Hafiz agak jauh dari sini. Jangan lamban ye."

"Okey, BoBoiBoy."

Tepat pukul sembilan pagi, BoBoiBoy dan teman-temannya pergi menuju rumah Hafiz. Imran sedang menemani Orangtua BoBoiBoy di kantor, jadi dia tidak bisa mengantar mereka dengan Mobil pribadi keluarga. BoBoiBoy akhirnya memutuskan untuk menumpang Bus umum saja.

Lima belas menit kemudian, mereka tiba di depan pagar rumah Hafiz. Teman-temannya menganga melihat rumah besar bak mansion itu, kurang lebih hampir sama dengan rumah BoBoiBoy.

"Oi, BoBoiBoy. Apasal kawan-kawan kau ni orang kaya semua?" tanya Fang agak iri. "Rumah dah macam mansion dah ni."

"Iye, malu la BoBoiBoy. Kitorang mana kaya pun?" tanya Yaya minder, sesuatu yang jarang sekali terlihat dari dirinya. Ying dan Gopal saling pandang dan mengangguk. Mereka setuju dengan kata-kata Fang dan Yaya. Gaya hidup di Pulau Rintis tidaklah semewah gaya hidup di Kota.

"Ish, korang ni. Jangan la malu-malu. Hafiz tu budak baik tau. Aku jamin dia takkan tengok kawan dari status kekayaan," ujar BoBoiBoy berusaha menenangkan teman-temannya. Didorongnya pagar rumah Hafiz yang kebetulan tidak terkunci. "Jom masuk."

Mereka lalu berjalan menuju pintu rumah Hafiz. Spontan BoBoiBoy menekan bel rumah itu sambil berseru,

"Assalamualaikum!"

Tak lama kemudian,terdengar langkah kaki seseorang yang tergopoh-gopoh dari balik pintu. Pintu itu pun terbuka, menampakkan sosok seorang anak lelaki berambut hitam dan memakai hem putih.

"Waalaikumsalam... ada yang boleh saya bant-"

Kalimatnya terputus begitu dia melihat kelima Superhero cilik Pulau Rintis di depan pintu rumahnya. BoBoiBoy tersenyum lebar. Disapanya anak itu.

"Err- Hello, Hafiz... apa khabar? Ini aku BoBoiBoy. Kau masih ingat ke?"

Anak berambut hitam yang ternyata adalah Hafiz itu mematung di menampilkan ekspresi kaget yang luar biasa. Matanya mulai berair. Dia menghembuskan nafas seberat mungkin, nyaris tidak mempercayai apa yang dilihatnya saat ini.

"Bo- BoBoi... BoBoiBoy?" tanyanya terbata-bata dengan sikap tubuh mematung layaknya batu. BoBoiBoy merasa canggung juga melihat sikap teman lamanya itu. Pelan-pelan dia melambaikan tangan ke depan wajah Hafiz, hendak memastikan kalau anak itu tidak terkena serangan jantung.

"Fiz? Kau okey?"

Hafiz tidak bereaksi, membuat BoBoiBoy dan teman-temannya kebingungan. Namun sebelum mereka mengucapkan sesuatu pun, tahu-tahu Hafiz menerjang ke arah BoBoiBoy dan merangkul sang Superhero elemental erat-erat.

"Huwaaaa! BoBoiBoy, lama betul aku tak jumpa kau, Huhuhuhuuu-" Hafiz memekik terharu di bahu BoBoiBoy, membuat anak itu jadi salah tingkah. Teman-temannya juga terlihat ling-lung dengan kejadian itu. Sebegitu kagetnya kah anak yang bernama Hafiz itu melihat BoBoiBoy sampai-sampai dia bersikap layaknya patung selama beberapa saat tadi?

"Uhh, hehehe- iye, Hafiz... aku tengah cuti sekolah ni," kata BoBoiBoy senang. "Aku pon ajak kawan-kawan dari Pulau Rintis sekali. Perkenalkan, diorang ni ialah Gopal, Yaya, Ying dan Fang."

Hafiz melepas rangkulannya dari BoBoiBoy dan menatap teman-teman BoBoiBoy satu persatu. Digaruknya bagian belakang kepalanya sambil cengar-cengir malu.

"Hehehe, maaf sebab tekejut tengok kamu semua tadi," katanya cengengesan. "Saya Muhammad Hafiz, salah sorang kawan lama BoBoiBoy dekat KL ni. Korang boleh panggil saya Hafiz atau Fiz. Salam kenal ye."

"Salam kenal juga, Hafiz," tukas Yaya sambil tertawa kecil. "Saya Yaya, jiran BoBoiBoy dekat Pulau Rintis."

"Saya Gopal, kawan rapat kepada BoBoiBoy," kata Gopal senang.

"Saya Ying, kawan baik BoBoiBoy juga!" kata Ying ramah.

"Hmm, saya Fang, kawan sekaligus rival kepada BoBoiBoy," kata Fang berbangga diri. Hafiz memandangnya lamat. Ia terkekeh.

"Nampaknya kamu ni memang gila populariti, Fang," katanya tiba-tiba, membuat Fang terperanjat.

"Ma- Mana ada?" ujarnya teranggap-anggap. Wajahnya memerah bak udang rebus saking malunya. Teman-temannya tertawa melihat itu.

"Aiyaa, Fang ni memang nak jadi populer," gumam Ying geli. "Sebab BoBoiBoy populer sangat dekat sekolah kami, Fang jadi jeles, kan Fang?"

"Ish, korang ni! Jangan la permalukan aku," ujar Fang masih dengan wajah merahnya. Hafiz tertawa melihat itu. Dia menghela nafas panjang.

"Takpe, Fang. Aku maklum kot," katanya. "Kawan-kawan sekolah aku lagi parah dari kau. Diorang tu rata-rata Artis ataupun Anak Pejabat, lagi gilakan populariti, jadi jangan malu-malu sangat, okey?"

"Uhh, okey je lah," ujar Fang pelan. Dia melipat kedua tangannya di depan dada, masih merasa malu dengan hobi popularitasnya. Hafiz tersenyum dan menatap mereka semua.

"Jom lah masuk. Tak baik biarkan kawan-kawan baru aku tinggal kat luar sini," ajaknya. BoBoiBoy menggeleng cepat-cepat, membuat Hafiz heran.

"Sori, Hafiz. Tapi selain nak jumpa kau, kitorang datang kesini sebab nak minta bantuan kau," jelas si bocah bertopi jingga. "Keluarga kau kan pandai desain baju. Boleh tak kau bagi tengok desain terbaru dekat Butik Ibubapa kau? Kitorang tengah butuh baju bagus ni."

Hafiz mengangguk gembira. "Mestilah boleh! Ummi aku baru sahaja buat beberapa desain yang elok. Aku juga bantu Ummi tambah beberapa bahagian aksesori detil dekat desain beliau. Barangnya pon masih panas tau, baru datang pagi tadi. Jom ikut aku ke Butik. Tenang je, tak jauh pon."

Hafiz membawa mereka menuju Toko Butik milik Orangtuanya. Setibanya disana, Hafiz membuka pintu Toko dan mempersilahkan teman-temannya masuk ke dalam. Langsung saja mereka takjub, termasuk BoBoiBoy karena sebelum ini dia belum pernah berkunjung ke toko butik milik keluarga Hafiz.

Berbagai macam pakaian terpampang di setiap sudut toko, mulai dari gaun, setelan jas, berbagai jenis model kerudung, hijab ataupun khimar hingga baju anak yang imut-imut. Hafiz terkekeh melihat tingkah takjub teman-temannya. Dia menoleh ke Yaya dan Ying lalu mengangguk ke arah ruangan bagian busana wanita.

"Korang berdua boleh tengok baju-baju yang korang minatkan, berhubung saya tak tahu pasti macam mana selera pompuan," katanya jujur. "Nanti aku akan jenguk korang selepas bantu kawan-kawan lelaki korang pilih baju. Jumpa lagi ye."

"Jumpa lagi, Hafiz!"

Selesai melambaikan tangan ke arah teman-teman lelaki mereka, Yaya dan Ying melesat menuju ruangan bagian busana wanita, seakan tidak sabar untuk memilih baju pesta yang sesuai dengan selera mereka. Hafiz pun menoleh ke arah BoBoiBoy, Gopal dan Fang yang masih saja melongo di pintu butik. Disikutnya mereka satu-satu sambil berucap,

"Apa korang tunggu ni? Jom la tengok-tengok baju yang korang minat."

"O- Okey," balas ketiga temannya kikuk. Hafiz mengantar mereka menuju ruangan bagian busana pria. Disana terpampang berbagai Jas, aneka celana panjang, hem, dasi dan masih banyak lagi. Fang melihat sebuah setelan Tuxedo yang dikenakan salah satu patung manekin. Setelan Tuxedo itu berupa Jas luar berwarna abu keunguan. Lantas ia menggumam.

"Fiz, Setelan Tuxedo ni berapa harga?" tanyanya. Hafiz mendekati setelan Tuxedo itu dan melihat tag harganya.

"Harga setelan ni kiranya RM 170."

"Alamak! Mahalnya..." Fang menganga mendengar harga setelan tuxedo itu. Namun apa dikata, dia sudah terlanjur jatuh cinta pada setelan itu. "Tak boleh kurang ke?"

"Hmm-" Hafiz mengusap dagunya sembari berpikir-pikir. "Sebab kita baru sahaja berkawan, apa kata kalau aku bagi kau diskaun? Harga kawan-kawan."

"Ehh- iya ke?" Fang melongo. "Jadi berapa harga Tuxedo ni?"

"Saya bagi kamu diskaun 30%, Fang," ucap Hafiz kemudian. "Jadi harga Tuxedo ni ialah RM 119."

"Wuahh- kalau itu baru lah saya boleh beli!" ucap Fang senang sambil mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan sejumlah uang kertas darinya. Gopal dan BoBoiBoy yang melihat itu hanya bisa melongo.

"Patutlah rumah Hafiz tu macam mansion. Harga baju dekat butik keluarga dia mahal-mahal," gumam Gopal lesu sambil merogoh dompetnya dan memeriksanya. BoBoiBoy tiba-tiba menyikutnya dan menyelipkan beberapa uang kertas ke dompet Gopal, membuat anak India itu terhenyak.

"Bo- BoBoiBoy, apa maksud-"

"Ini uang daripada Ayah aku buat beli baju," bisik BoBoiBoy. "Fang sudah aku bagi, begitu pula Yaya dan Ying. Kamu je yang belum aku bagi sebab aku tak nak ganggu kau dahulu selepas insiden kau tenggelam dekat bathtube tu. Jangan risau pasal harga baju, Gopal. Ayah aku dah back-up semuanya."

Wajah Gopal berubah jadi cerah. "Ayah kau tu memang terbaik lah!" pekiknya senang,walaupun nadanya pelan. BoBoiBoy tersenyum tulus dan mengangguk ke arah sahabatnya.

"Jom kita tengok-tengok baju yang cocok buat kita."

"Okey!"

Gopal langsung melesat menuju salah satu setelan jas resmi dengan hem berwarna teh hijau tak jauh darinya. Langsung saja ia masuk ke kamar pas, membuat BoBoiBoy terkekeh.

"Hehehe, terbaik," gumamnya lega. Dia lalu melihat-lihat sebuah jas berwarna biru tua di sebelahnya. BoBoiBoy mengernyit. Dia sudah punya hem berwarna jingga di rumah, jadi yang dia butuhkan sekarang cuma jas dan celana panjang. BoBoiBoy menjentikkan jarinya dan meraih jas itu.

"Okey lah. Aku ambil Jas ini."

Sambil melihat-lihat celana panjang, BoBoiBoy melirik ke arah Hafiz yang sedang tertawa senang melihat Fang memakai setelan Jas Tuxedo-nya. Sebuah dugaan menganggu benaknya sejak tadi.

'Apasal aku belum pernah nampak Siti ni?' batinnya cemas. 'Hafiz nampak okey je, tapi aku hampir tak pernah tengok dia sorang-sorang dekat rumah dia macam ni. Dia selalunya bersama Kakak dia. Dan apasal aku nampak Siti semalam dekat mimpi aku? Ada benda yang tak selesa disini, tapi apa?'

Namun BoBoiBoy cepat-cepat menyingkirkan kecurigaan itu dari benaknya. Dia tidak ingin menganggu Hafiz dengan masalah pribadi semacam itu dahulu. Mungkin kapan-kapan saja dia menanyakan hal itu pada Hafiz. Sekarang mereka perlu fokus ke persiapan buat Pesta Gala.

Yaya dan Ying melihat-lihat aneka gaun pesta di ruangan bagian pakaian wanita. Ying memandang sekeliling. Semua gaun yang dia lihat cantik-cantik, tapi Ying tidak tahu harus memilih yang mana. Mayoritas gaun disitu memakai rok panjang semata kaki hingga menyeret di lantai, dan gadis Cina itu lebih suka dengan pakaian yang fleksibel dan bebas gerak tapi tetap sopan. Ying melirik ke arah Yaya yang terlihat berbinar-binar memilih baju, mungkin karena sahabat muslimah-nya itu minat dengan gaun-gaun rok panjang. Hafiz yang baru saja masuk ke ruang bagian pakaian wanita melihat kedua teman perempuan barunya sambil terkekeh.

"Korang dah dapat baju yang korang minat?" tanyanya ramah. Yaya menoleh ke arahnya.

"Hafiz, gaun-gaun dekat butik kau ni cantik semua lah! Saya tak tahu nak ambik yang mana," katanya sambil menyeringai malu. Hafiz tertawa melihat sikap Yaya dan menghampiri sebuah gaun yang dipakaikan ke sebuah manekin di belakang gadis berhijab itu. Yaya membalik badan dan mendapati sebuah pemandangan menakjubkan.

Gaun yang dipegang Hafiz itu berwarna merah jambu dan gradasinya: Warna-warna favorit Yaya. Di lengan gaun itu menjuntai serangkaian manik-manik berlian, begitu pula dengan lapisan rok bagian atas, berhubung rok gaun itu berlapis tiga. Sebuah buket bunga tiruan berwarna putih dan berinti kuning menggantung di bawah pinggang sebelah kanan gaun itu dan dilengkapi pita besar yang ujungnya menjuntai hingga lapisan rok kedua. Belum habis rasa takjub Yaya, Hafiz meraih sesuatu di belakang gaun itu: Sebuah hijab lapis tiga yang panjangnya sampai ke bawah dada. Warna hijab itu sama dengan warna gaun sebelumnya: Gradasi merah jambu. Di ujung hijab lapisan kedua dihiasi serangkaian manik-manik berlian, sama persis dengan rangkaian manik berlian di lengan gaun dan rok lapisan kedua. Di bagian belakang hijab itu menjuntai sebuah jubah yang terbelah dua layaknya syal. Keren namun tetap memberikan kesan elegan.

"Saya tak lah terlalu faham selera pompuan perihal baju pesta, tapi saya rasa gaun ini cocok buat awak," kata Hafiz gugup. Wajahnya terlihat memerah. "Ta- Tapi kalau awak sukakan gaun lain pon takpe. Saya bukannya ahli buat pasal gaun pon."

Untuk beberapa saat Yaya mematung melihat gaun yang 'direkomendasikan' Hafiz padanya. Tahu-tahu gadis itu bertepuk tangan kegirangan. Hampir saja dia memeluk Hafiz saking senangnya, namun cepat-cepat Yaya menyadarkan dirinya karena dia sadar, walaupun Hafiz adalah teman barunya, pemuda itu tetap saja bukan mahramnya.

"Hafiz! Gaun yang kamu pilihkan buat saya ni bernas betul lah!" tukas Yaya senang. "Jangan la pesimis macam tu. Buktinya saya suka gaun pilihan kamu ni. Berapa harganya?"

"Uhm, sebab awak ialah kawan baru saya, saya akan bagi awak diskaun 30%," ucap Hafiz, masih dengan wajah memerah. "Jadi harga akhirnya RM 130."

"Okey!" balas Yaya sambil mengeluarkan dompetnya namun tidak jadi. "Ehh, tapi sebelum saya bayar, boleh tak saya cuba gaun ni dekat bilik pas terlebih dahulu?"

Mendengar itu, wajah Hafiz semakin memerah hingga seperti buah tomat. "Me- Mestilah boleh," tukasnya segera. "Sila awak cuba."

"Okey!" Yaya lalu melesat menuju kamar pas wanita sambil menenteng gaun pilihan Hafiz di tangannya. Hafiz merasa kepalanya pening. Kenapa dirinya jadi gugup begini sih?

"Hafiz, kamu okey?" suara Ying membuyarkan lamunannya. Hafiz terlonjak melihat gadis bermata sipit itu dan mengelus dada saking kagetnya. Ditatapnya Ying dengan senyum ramah.

"Sa- Saya okey pon," gumamnya masih agak gugup, membuat Ying curiga. Namun Hafiz segera mengganti pokok pembicaraan agar gadis itu tidak bertanya lebih lanjut tentang sikap gugupnya tadi.

"Ying, awak dah dapatkan gaun yang awak minat ke?"

Ying menggeleng sedih. "Bukannya saya tak minat dekat gaun, Fiz," katanya. "Saya cuma tak nampak ada gaun yang cocok buat selera saya."

"Ehh? Maksud awak-"

"Saya macam sukar gerak kalau pakai gaun skirt panjang ma," jawab Ying jujur. Suaranya tercekat seakan hendak menangis. Dia ingin sekali ikut ke pesta gala bersama teman-temannya, tapi entah kenapa melihat gaun-gaun di butik Hafiz yang mayoritas panjang membuatnya minder.

Hafiz iba juga melihat wajah kusut Ying. Tahu-tahu ia menjentikkan jarinya. Dia melesat ke ruang penyimpanan stok barang dan kembali menenteng sebuah tas berisi sesuatu. Ia mengedipkan mata ke arah Ying, membuat gadis itu melongo.

"Saya rasa gaun ini cocok buat awak," kata Hafiz sok misterius. "Sedikit rahsia: Gaun ni desain buatan saya sorang. Cuba je."

"Uhh, okey?"

Ying mengambil tas yang digenggam Hafiz dan masuk ke kamar pas yang berada di samping kamar pas Yaya. Dua menit kemudian, terdengar suara memekik darinya. Ying keluar dari kamar pas itu sembari menatap Hafiz dengan mata berbinar-binar.

"Hafiz, lu ni memang terbaik lah!" pekiknya senang. Yaya yang baru saja keluar dari kamar pas tentu saja heran melihat tingkah senang Ying. Dilihatnya Ying melonjak-lonjak kegirangan sembari memeluk sebuah gaun. Seakan tahu kalau sahabatnya menatapnya, Ying tahu-tahu menoleh ke arah Yaya dan menunjukkan gaunnya.

"Yaya, tengok ni! Hafiz bagi saya gaun rancangan dia ho!" katanya melihat gaun itu dan membelalak kagum.

Gaun yang dikenakan Ying adalah perpaduan antara chongsam, kimono dan gaun era victoria. Warnanya biru dan kuning, yang tentunya adalah warna favorit Ying. Rok gaun itu membelah di bagian depan, menampakkan sebuah celana biru longgar, mungkin agar pemakai gaun itu tidak memperlihatkan paha yang seksi, namun masih mampu membuat pemakainya berjalan ataupun berlari dengan lincah. Hafiz tertawa saja melihat tingkah takjub kedua teman perempuannya itu.

"Nah, amacam? Awak suka tak gaun rancangan saya?" tanyanya gugup. Ying menoleh ke arahnya dan menyeringai selebar-lebarnya.

"Saya suka! Saya suka! Best-nya gaun ni, hihi!" Ying melonjak girang. "Saya masih boleh berlari kalau pakai gaun ni dekat Pesta nanti."

"Mungkin lagi baik kalau awak tak banyak lari dekat Pesta Gala," kata Hafiz geli. "Nama pon Pesta Gala, tak kan la orang nak sembarang lari. Semuanya mesti nak tampil anggun dan elegan."

"Hehe, saya cuma begurau ho."

"Hmm, ye lah tu," desah Hafiz sambil tersenyum simpul. Dia lalu menoleh ke arah Yaya yang sudah mencoba pas gaun pilihannya. "Nah,Yaya. Macam mana dengan awak? Gaun tu pas ke tak?"

Yaya mengangguk sumringah. "Um! Pas pon!" katanya senang. "Hebat betul usaha butik keluarga kau ni, Hafiz. Desain-desainnya lawa dan comel! Patutlah kamu punya rumah macam mansion," ia berkelakar. "Gurau je. Oh, ya. Saya dengar gaun Ying tu rancangan buatan awak. Kalau gaun saya ni rancangan siapa punya?"

Hafiz tersentak. "Ah, itu-" wajah cerahnya tiba-tiba menjadi mendung. "Gaun awak tu... Rancangan Kakak saya punya."

"Wah! Ye ke?" tanya Yaya kembali takjub. "Hebat betul la Kakak kamu. Gaun rancangan dia cantik betul!"

"Hehe, terima kasih, Yaya."

Yaya tersenyum dan memberikan sejumlah uang pada Hafiz. "Ini, saya beli gaun rancangan Kakak kamu," ucapnya gembira. "Tolong cakap dekat dia kalau saya sukakan gaun rancangan dia. Dah la sopan, cantik pula. Siapa nama Kakak kamu?"

"Ah, umm- nama Kakak saya..." Hafiz memelankan suaranya." ...Siti Zubaidah."

Teman berhijab pink-nya terkesiap. Nama itu kembali mengingatkan Yaya pada sebuah boneka manekin berhijab biru laut di Istana Boneka dalam Gedung Markas ONION. Apakah 'Boneka' Siti Zubaidah itu adalah Kakaknya Hafiz? Tapi kenapa?

Namun sang pengendali gravitasi kembali teringat bahwa bisa saja ada orang-orang yang memiliki nama yang sama, tidak terkecuali dengan Siti Zubaidah. Mungkin Siti Zubaidah di Markas ONION itu bukan Kakaknya Hafiz, mungkin saja Siti Zubaidah yang merupakan Kakaknya Hafiz masih berada di rumah, sedang mengerjakan sesuatu atau apalah itu. Yaya tidak ingin buru-buru mengambil kesimpulan. Mungkin saja memang ada dua Siti Zubaidah. Lagipula nama itu termasuk nama yang mulai pasaran.

Tapi masih ada satu pertanyaan yang menempel di benak Yaya. Akankah Hafiz mengenalkan Yaya pada Kakaknya suatu saat nanti? Yaya mulai merasa kagum dengan perancang gaunnya itu. Mungkin saja Kakak Hafiz bisa mengajarinya mendesain baju-baju indah. Lagipula Yaya merasa dirinya tidak hanya harus bisa membuat biskuit, namun juga membuat baju layaknya seorang gadis sejati.

"Oh iye. Mungkin korang berdua nak cuba tengok-tengok aksesori buat gaun-gaun tu," ucap Hafiz tiba-tiba setelah beberapa saat merenung. "Saya akan hantar korang berdua buat tengok sepatu, kalung, gelang, sarung tangan ataupun aksesori kepala. Korang nak ke?"

Yaya dan Ying mengangguk sumringah. "Mestilah nak!"


Malam pun tiba. Setelah Sholat Isya, BoBoiBoy, kelima teman Pulau Rintisnya dan kedua Orangtuanya serta Imran pun pergi ke gedung serbaguna Kuala Lumpur dimana Pesta Gala akan dilaksanakan. Setibanya di gedung serbaguna, Sang Duta yang pertama kali keluar dari Mobil diikuti istrinya. BoBoiBoy dan keempat temannya tidak langsung turun. Mereka malah menganga saat melihat gedung serbaguna dimana Pesta Gala dilaksanakan. Gedung itu bertingkat empat, dengan arsitektur modern dan mewah. Lantai pertama gedung itu adalah bagian resepsionis, katering dan teknisi lampu serta ruang bagian stereo. Lantai dua adalah ruang makan. Lantai tiga dan empat adalah ruang dansa. Di lantai tiga ada balkon luas, jadi bagi yang tidak ingin berdansa bisa bercengkrama di balkon itu.

"Wuahhh-" gumam kelima Superhero Pulau Rintis itu takjub. Banyak tamu berkumpul di pintu masuk gedung, berjalan masuk sembari berbincang dengan kenalan masing-masing. Sebagian besar dari mereka adalah Para Pejabat dan kerabatnya.

"Nah, apalagi yang kamu semua tunggu? Jom masuk," kata Ibu BoBoiBoy geli. Dirangkulnya lengan kiri suaminya. "Tak payah nak malu-malu. Lagipun kamu semua dah pakai baju-baju bagus! Hafiz hebat betul pilihkan baju buat kamu semua. Mari."

"Uhh, okey Mak," jawab BoBoiBoy agak gugup. Dia, Gopal dan Fang yang keluar dari Mobil lalu Yaya dan Ying, berhubung kedua gadis itu mengenakan gaun-gaun cantik yang penuh pernak-pernik. Baik BoBoiBoy maupun kedua teman lelakinya merasa wajah mereka memanas melihat penampilan kedua teman perempuan mereka. Yaya dan Ying terlihat begitu cantik dan manis.

"Hayoyo, sejak bila kamu berdua ni nampak lawa dan cantik?" kata Gopal sambil mengucek matanya. Tahu-tahu Ying mendengus karena sebal.

"Lu ni, kitorang ni pompuan wo, wajar lah cantik!" katanya cemberut. "Kalau kami kacak, itu lelaki namanya."

"Dah la Ying. Gopal mungkin Cuma nak puji penampilan kau," kata Yaya geli. "Lagipun ketiga kawan laki kita ni kacak betul. Tak sangka kamu bertiga ni nampak kacak dengan Jas dan Tuxedo."

"Ehehe, terima kasih, Yaya," balas BoBoiBoy sambil cengengesan.

"Dah habis ke kita nak basa-basi kat sini?" tanya Fang sambil menuding ke arah gedung Pesta dengan ibu jarinya. "Ibubapa BoBoiBoy dah pergi masuk gedung tadi. Baik kita-"

BRUK!

"AH!"

Fang tiba-tiba menubruk sesuatu, atau lebih tepatnya seorang anak lelaki berkacamata. Dia menoleh untuk meminta maaf.

"Ah, Ma- maaf, saya tak sengaja-"

Namun anak lelaki itu memotongnya sebelum Fang sempat menyelesaikan kalimat maafnya. "Tidak apa-apa. Saya juga salah karena tidak lihat jalan tadi," katanya sopan. BoBoiBoy yang melihat kejadian itu tahu-tahu tersentak. Dipandanginya anak berkacamata itu.

"Dimas? Kau ke ni?"

"Eh?"

Anak berkacamata yang rupanya adalah Dimas itu menaikkan satu alisnya karena bingung. Tahu-tahu wajahnya yang datar berubah menjadi ramah.

"Ah, BoBoiBoy. Akhirnya kita berjumpa lagi setelah sekian lama," kelakar Dimas geli. "Kau tidak banyak berubah."

"Kau pon sama je," kata BoBoiBoy senang. Ia menoleh ke arah Yaya,Ying dan Gopal. "Kawan-kawan, jom sini! Aku nak kenalkan korang ke salah satu kawan lama aku!"

"Ehh?" Yaya, Ying dan Gopal terhenyak mendengar seruan sang Superhero elemental. Mereka lalu mendekati Dimas. Anak berkacamata itu mengenakan Setelan Jas resmi dan Sepatu Pantofel, sesuatu yang khas dari diri Dimas.

"Halo, teman-teman baru," sapa Dimas sambil tersenyum senang. "Nama saya Dimas Abdul Rasyid, bisa kalian panggil Dimas. Asal Kendari, Sulawesi tenggara, Indonesia. Anak dari Ir. Harun Rasyid, seorang arsitek sekaligus perancang robot. Salam kenal, ya."

"Wahh, lu orang Indonesia?" pekik Ying takjub. "Salam kenal juga! Saya Ying, kawan BoBoiBoy yang paling laju!"

Fang tersenyum canggung. "Saya Fang, kawan sekaligus rival BoBoiBoy," katanya. "Tak sangka kamu juga salah sorang kawan lama BoBoiBoy."

"Saya Gopal, kawan akrab kepada BoBoiBoy!" sapa Gopal sambil merangkul bahu kanan BoBoiBoy, membuat anak itu terlonjak.

"Ish, kau ni! Tekejut aku," protes BoBoiBoy.

"Hehe, sori."

"Saya Yaya, Jiran BoBoiBoy dekat Pulau Rintis," sapa Yaya ramah. "Oh iya. Saya pon pandai buat Biskut!"

Dimas mengernyit. "Biskuit?" tanyanya. "Boleh saya lihat?"

"Okey!"

Yaya terlihat merogoh kantung gaunnya. Keempat temannya yang melihat itu langsung tersengih. BoBoiBoy segera membisikkan sesuatu pada Dimas.

"Dim, sori kalau aku masuk campur, tapi aku kena ingatkan kau. Biskut Yaya tu tak sedap!"

"Eh?" Dimas semakin bingung. "Biskuit dia tidak enak? Apa maksudmu?"

"Aiya, Biskut dia boleh buat kamu pengsan wo!" desis Ying panik. Dimas menggaruk kepalanya. Ada apa dengan teman-teman barunya ini? Kenapa mereka melarangnya memakan Biskuit buatan Yaya? Ying bahkan mempertegas kalau Biskuit Yaya bisa membuat orang pingsan.

Tapi tunggu dulu. Dimas teringat dengan insiden pingsannya Hafiz di markas GIDO kemarin sore akibat memakan Biskuit yang dibelikan Milyra. Dan Milyra sendiri yang mengatakan kalau pembuat Biskuit itu adalah salah satu temannya yang bernama Yaya.

'Apa jangan-jangan Yaya inilah pembuat Biskuit itu?' batin Dimas was-was. Dilihatnya Yaya mengeluarkan sebuah pack tembus pandang, dan isinya adalah BISKUIT BERBENTUK HATI YANG SAMA PERSIS SEPERTI BISKUIT YANG DIMAKAN HAFIZ TEMPO HARI!

"Allahu... benar juga apa yang kalian katakan tentang Biskut dia!" gumam Dimas ngeri. "Apa yang harus saya lakukan?"

"Kau cakap je lah kalau kau dah kenyang," usul Gopal.

Dimas menggeleng. "Aku belum makan apapun sejak sore tadi," jawabnya jujur.

"Apa kata kalau kau tolak je Biskut tu?" kini giliran Fang yang memberi usulan.

Sekali lagi Dimas menggeleng. "Kalian adalah teman-teman baruku. Tidak sopan menolak pemberian teman baru."

"Tapi-"

"Nah, ini Biskut aku! Kau mesti suka," ucap Yaya sumringah sambil menyodorkan bungkusan Biskuitnya pada Dimas. Dimas merasa tidak punya pilihan lain selain menerima Biskuit itu, walaupun dia nyaris yakin kalau Biskuit itu ujung-ujungnya akan berakhir di sudut terdalam Kulkas rumahnya.

"Uh, baiklah. Terima kasih, Yaya," balas Dimas canggung. Yaya memberinya tatapan penuh kegembiraan.

"Sama-sama!" tukas gadis berhijab itu senang bukan kepalang. Ternyata ada juga orang yang mau menerima Biskuit buatannya di KL ini. Tiba-tiba Dimas merasa ponselnya berdering. Dilihatnya layar ponsel itu lalu menatap BoBoiBoy dan teman-teman Pulau Rintisnya.

"Ah, ya. Maaf menganggu waktu kalian, tapi Ibuku mencariku," katanya. "Ibu sudah berada di lantai dua tempat makan malam berlangsung. Kalau kalian tidak keberatan, kalian bisa naik kesana sekarang. Mungkin saja kalian sudah lapar."

"Terima kasih sarannya, kitorang nak tengok suasana dahulu," ujar BoBoiBoy. "Salam dekat Mak kau ye."

"Oke. Sampai jumpa, semuanya!"

"Jumpa lagi, Dimas!"

BoBoiBoy dan keempat temannya melihat Dimas yang tergopoh-gopoh menaiki telundakan menuju pintu masuk gedung serbaguna. Tak lama kemudian anak itu menghilang di kerumunan para tamu pesta yang berbondong-bondong masuk ke dalam gedung.

"Nah, apalagi yang korang tunggu? Jom la kita masuk," ajak BoBoiBoy pada teman-temannya. Yaya, Ying, Gopal dan Fang mengekorinya dari belakang dengan pandangan penuh kecanggungan. Jarang-jarang mereka ikut pesta, apatah lagi Pesta Gala yang dihadiri orang-orang kalangan atas semacam ini.

Berhubung karena mereka sudah makan makanan berat berupa nasi lemak sore tadi, BoBoiBoy dan teman-teman Superhero-nya memutuskan untuk langsung naik ke lantai tiga dimana pesta dansa berlangsung. Benar saja. Sesampainya disana, mereka disambut dengan pemandangan heboh berupa pasangan-pasangan suami istri ataupun para anak-anak yang ikut berdansa bersama Orangtua mereka. BoBoiBoy melihat kedua Orangtuanya berdansa di tengah-tengah ruangan, membuat jiwa romantisnya kambuh.

"Bernas betul lah Ayah dan Mak... nampak lawa berdansa," gumamnya terharu. Dilihatnya Sang Duta merangkul bahu Istrinya. Sang Istri pun balas merangkul bahu suaminya. Keduanya saling memberi tatapan mesra satu sama lain. Pelan namun pasti, keduanya berdansa dengan lembut nan syahdu.

"Dey, BoBoiBoy. Kau tengah nampak Ibubapa kau berdansa ke?" goda Gopal, membuat wajah BoBoiBoy memerah. "Cakap je kau pon nak berdansa juga."

"Uhm, sori, Gopal. Tapi aku tak de minat buat dansa, kecuali kalau aku dah kahwin kot," ujar BoBoiBoy malu-malu. "Dah lah. Aku nak pergi duduk dekat balkon je lah. Dekat sana ada berbagai macam camilan. Ada yang nak join ke?"

Yaya mengangguk. "Aku join kau boleh, tak?" tanyanya malu-malu. "Aku pon nak tengok pemandangan bandar tau, mesti best!"

"Hmm, betul jugak tu! Okey la, Yaya. Jom!"

Dia lalu menoleh ke arah Ying, Gopal dan Fang. "Kalau korang nak cari aku dan Yaya, pergi je dekat area balkon. Jumpa lagi ye!"

"Jumpa lagi!"

Sepeninggal BoBoiBoy dan Yaya, Gopal menatap Fang dan Ying. "Nah, apa kata kalau kita cuba belajar dansa?" tawarnya. Kedua teman bermata sipitnya mengangguk.

"Okey la. Tapi kau dan Ying duluan," tukas Fang. "Aku masih nak tengok macam mana pergerakan dansa yang elok."

"Alah, senang je. Cuma pegang bahu dan tangan, apa susah?" tanya Gopal sambil meraih bahu dan tangan kanan Ying. "Kau tinggal maju, mundur, putar dan- Alamak!"

"GYAA!"

Karena gerakan Gopal yang terkesan amatir dan kaku, tanpa sengaja ia melepas tangan Ying, membuat gadis itu jatuh terduduk di lantai ruang dansa. Bukan main malunya gadis itu. Bagamana tidak, ia terjatuh ke lantai dansa dan dilihat hampir semua tamu pesta yang notabene pintar berdansa. Tatapan mereka aneh, nyaris mendekati tatapan mencemooh. Hanya ada beberapa pasangan dansa yang memberinya tatapan empati, salah satunya Ayah dan Ibu BoBoiBoy.

"Ying, kamu takpe?" tanya Ibu BoBoiBoy khawatir. "Kaki kamu tak terkilir, kan?"

"Sa- Saya okey je, Makcik," gumam Ying gugup. Perlahan ia berdiri. Diliriknya Gopal dengan tatapan kesal.

"Lu ni, Gopal, tak tahu cara dansa ke ho?!" tanyanya sebal, nyaris membentak. "Nasib baik saya cuma jatuh tadi. Kalau kaki saya yang terkilir, dah habis lu saya belasah!"

"Alamak-! Ma- Maaf, Ying... aku tak sengaja," ucap Gopal kikuk. "Mari kita cuba lagi ye?"

"Tak nak dah," balas Ying tak acuh karena masih kesal.

"Hmm, Ratu dansa sangat la tu," sindir Gopal. Ia kesal karena tidak pandai berdansa. Dengan wajah bersungut-sungut ia menaiki tangga menuju lantai empat, hendak mencari ketenangan disana. Fang melihat Gopal yang sudah menghilang di ujung atas tangga itu, membuatnya khawatir.

"Ying, kau tak rasa ke kalau Gopal macam kesal dekat kita?" tanyanya. "Aku macam tak selesa je tengok dia jauhi kita macam tu."

"Aiya, lu ni, biarkan je la dia sejenak kat atas tu," imbuh Ying, masih sebal dengan cara kasar Gopal dalam berdansa. "Ingat-ingat dia boleh belajar dansa kat atas tu. Baik lu jangan terlampau risaukan dia."

Fang tidak menjawab. Dia khawatir dengan Gopal. Namun belum sempat ia melanjutkan lamunannya, mata merah keunguan Fang menangkap sebuah sosok yang berjalan anggun dari arah timur ruang dansa. Anak berambut ungu landak itu kaget bukan kepalang. Pasalnya dia kenal betul dengan sosok yang berjalan anggun itu.

Rambut ungu kebiruan, wajah oriental, tidak salah lagi.

"Ah Ming... Apa yang dia buat dekat sini?"

Pemuda berembuk ungu landak itu langsung memberi isyarat gerakan kepala pada Ying, membuat sang manipulator waktu heran.

"Fang?" tanyanya. "Apa yang-"

"Shh!" Fang menaruh sebuah telunjuk di depan bibir. "Ying, kau tengok tak gadis rambut ungu tu?" angguknya ke arah Ah Ming. Ying menoleh ke arah anggukan Fang dan terkesiap.

"Ayak! Itu... Itu Ah Ming wo! Bukannya dia ialah salah sorang ahli pasukan daripada ONION?"

"Justru itu yang buat aku curiga dekat dia. Kau tunggu dekat pilar tangga tu. Aku akan cuba dekati dia."

Ying menelan ludah. "Lu yakin ke dia takkan buat benda teruk dekat kita?" tanyanya cemas.

Teman pengendali bayangannya mendesah pelan. "Aku pon tak pasti, tapi takkan lah kita nak duduk diam kat sini dan tengok apa benda teruk yang nak dia buat. Tunggu disini. Aku akan segera balik."

Perlahan Fang menjauh dari Ying dan mengendap-endap mendekati Ah Ming yang memunggunginya. Sadar kalau ada yang mendekatinya dari belakang, Ah Ming mencoba membalik badan dan bersiap dengan kuda-kuda. Namun sebelum ia sempat menyerang, Fang dengan cekatan mencengkram pergelangan salah satu tangannya, membuat Ah Ming tidak bisa lari dengan mudah.

"Fang!? Tak sangka kau-"

Fang menyentak tangan gadis itu, sebuah peringatan bahwa ia tengah serius. "Jawab aku, Ah Ming. Apa yang kau buat dekat sini?" desisnya tajam. "Jawab aku!"

Ah Ming memicingkan matanya. "Bukan urusan kau," tukasnya dingin. "Lepaskan aku!"

"Kau ingat aku nak senang biarkan kau lepas? Ini bukan benda lawak, Ah Ming. Jawab aku! Apasal kau ada dekat sini?"

"Kan aku dah kata, bukan urusan kau!"

"Jawab atau aku terpaksa gunakan kuasa bayang aku," ancam Fang. "Kau nak kedok kau sebagai ahli pasukan ONION terbongkar ke, Hah?"

Mendengar itu, Ah Ming berhenti memberontak. Bibirnya yang datar menyunggingkan sebuah senyum hambar.

"Kau memang sukar buat dikelabui, Pangxi," akunya. "Biar aku bagi tahu kau satu pasal. Gedung ni akan meletup tak lama lagi, dan kau takde daya buat hentikan letupan tu."

Fang terperanjat mendengar kalimat penuh kejutan itu. Ditatapnya Ah Ming dengan pandangan kaget bercampur marah.

"APA!? KAU KATA GEDUNG NI AKAN MELETUP!?


Sang Duta dan istrinya masih menikmati dansa mereka. Namun begitu mereka tengah asyik-asyiknya berdansa, sekonyong-konyong ponsel sang Duta bergetar. Istrinya menaikkan alis tanda heran.

"Abang, siapa yang telefon tu?"

"Kejap, dik," jawab sang Duta seraya meraih ponselnya dan melihat sang pemilik panggilan masuk. Ditekannya tombol nada sambung sambil bergumam,

"Assalamualaikum, Imran. Ada apa gerangan?"

"Waalaikumsalam. Maaf, Tuan besar. Tapi Anda takkan percaya perihal benda yang alat detektor saya tangkap dekat gedung ni!"

"Eh? Benda apa tu?"

"Maaf, Tuan. Tapi saya tak boleh cakap benda tu selama Tuan masih ada dekat ruang publik."

"Uhh- Okey?" ujar sang Duta agak ragu. Ditatapnya Istrinya. "Dik, aku ada pasal sekejap dengan Imran, macam ada benda kecemasan yang berlaku."

Istrinya terhenyak. "Benda kecemasan?" tanyanya khawatir. "Teruk ke benda tu?"

"Nampaknya begitu. Maaf dik, tapi aku kena pergi sekarang. Tolong awasi anak-anak."

"O- Okey, Abang. Hati-hati ye."

Sang Duta lalu bergegas menuju lantai satu. Di balik sebuah pilar yang sepi tamu, ia kembali menghubungi Imran.

"Aku sekarang berada dekat lantai satu. Dimana kau sekarang?"

"Saya ada dekat gedung parkir, Tuan. MechaBot ada bersama saya sekarang."

"Alamak-! Apasal dia boleh ada dekat situ?"

"Sori, kawan. Tapi ini bukan benda main-main," sebuah suara robotik terdengar dari seberang. "Aku tak nak kau ambil risiko cidera kalau terjadi apa-apa benda dekat kau sekarang. Alat detektor Imran baru sahaja tangkap suatu proyektor benda pelik dekat ruang kawalan elektrik gedung serbaguna ni."

"Korang ada asumsi ke benda pelik tu apa benda?"

Imran mendesah berat, "Maaf kalau ini terdengar mengerikan, Tuan," katanya gugup. "Tapi mengikut data yang masuk dekat alat detektor saya, benda pelik yang dimaksud ialah sebuah Bom."

Sang Duta terperanjat mendengar itu. Bom? Di gedung serbaguna? Yang benar saja!

"Kau cakap Bom!?" pekiknya tertahan, seakan hendak memastikan semesti-mestinya. "Kau gurau ke?"

"Buat apalah saya nak bergurau dekat Anda, Tuan," tukas Imran sebal. "Saya serius lah!"

"Okey, okey, aku percaya," gumam sang Duta dengan tubuh menegang. "Aku punya idea. Apa kata kalau korang yang tuntun aku ke lokasi detil Bom tu? Mungkin sahaja aku masih boleh cegah Bom tu daripada meletup."

"Idea yang bernas, Tuan. Dengarkan saya baik-baik. Anda jalan ke belakang gedung serbaguna tu. Lepas tu, Anda masuk ke basement khusus pegawai. Ingat, Tuan. Jangan ada sesiapapun yang tengok Tuan. Nah, selepas Tuan masuk ke basement khusus pegawai, Tuan belok kiri ke lorong bekas enjinering yang dah terbiar. Tuan terus jalan kat lorong tu. Di ujung lorong tu ada sebuah dinding buntu. Dekat situlah Bom itu terpasang."

"Aku faham, Imran. Aku akan hubungi kau lagi selepas tiba dekat dinding buntu lorong tu."

"Okey, Tuan. Mohon hati-hati."

Sang Duta mendesah panjang. Siapa sih orang yang dengan nekatnya menanam Bom di bawah gedung serbaguna tempat Pesta gala berlangsung? Lelaki itu hanya bisa geleng-geleng kepala.

Ia lalu mengikuti jalur seperti yang telah diinstruksikan Imran. Tujuh menit kemudian, ia telah sampai di dinding buntu lorong lama yang terletak di bawah gedung serbaguna. Sang Duta mendelik ke arah sesuatu yang terpasang di dinding buntu tersebut: Sebuah Bom waktu,

"Ini mesti Bom yang Imran maksudkan tu," gumamnya pada diri sendiri. Dihubunginya kembali Imran sembari menatap menit Bom yang telah menunjukkan angka 10:45 itu.

"Imran, aku dah tiba dekat lokasi detil Bom tu," ujarnya. "Skrin ini menujukkan masa 10 minit. Kiranya kita masih ada masa cukup buat cegat Bom ni daripada meletup."

Imran terkesiap. "Hebat, Tuan! Memang itu Bom-nya," katanya gembira. "Mengikut data, Anda kena lepaskan kabel kuning dan merah bersama-sama. Dengan begitu, Bom itu takkan meletup."

"Iya ke?" Sang Duta menggaruk dagunya sambil meneliti Bom yang dimaksud. Benar saja, ada dua utas kabel yang terpasang di Bom itu. Masing-masing berwarna kuning dan merah. Dengan penuh kehati-hatian, ditariknya kedua kabel itu secara serentak. Sukses!

"Alhamdulillah, berjaya," desahnya lega. "Aku berjaya cegat Bom ni daripada meletup, Imran. Kita dah boleh tenang sekarang."

"Tahniah, Tuan!" Imran berseru senang. "Sekarang Tuan kena-"

BZZTT!

"Huh?"

Sinyal dari Imran tiba-tiba terputus. Sang Duta mengerutkan kening. Apa yang sebenarnya terjadi?

"Pelik. Apasal tiba-tiba aku dan Imran putus sinyal ni?" ujarnya heran. "Apa mungkin-"

Kalimatnya terpotong begitu ia merasa sebuah benda dingin menempel di bagian belakang kepalanya.

Tanpa ia duga, seorang pria bertopi fedora dan bermata merah keunguan menempelkan moncong pistolnya tepat di belakang kepala Ayah BoBoiBoy. Orang itu... Azurian Faust, Supervisor ONION.

"Baik Anda sambungkan balik kabel-kabel Bom itu, Tuan Amato," gumam Azurian sinis. "Kalau tak, saya tak punya pilihan selain menembak kepala Anda saat ini juga."


Bersambung...

Akhirnya bagian ini selesai juga! Balik lagi ke menunda time! /WOI!/

Silahkan review bagian ini jika dirasa perlu. Author akan sangat berterima kasih dengan masukan dan kesan teman-teman sekalian! ^_^

Tetap setia menunggu kelanjutannya, ya. Love you all, dear readers :)