Halo, guys! Akhirnya Author kembali lagi. Mohon maaf karena Author panjang banget hiatusnya, mweheehe... Silahkan dibaca ya. ^^
Buat Leafusim, Aprilia dan Kageyama Akira, terima kasih telah memberi review ya. ^_^ Kalian memang terbaik! ;D
Bagaimanakah Nasib Amato setelah terpojok di ruang bawah tanah gedung serbaguna tempat pesta gala berlangsung? Bagaimanakah konversasi BoBoiBoy dkk dengan para tamu di pesta tersebut? Temukan jawabannya di bagian ini ;)
.
.
.
C.E.R.M.I.N. G.A.L.A.X.Y.
Apocalypse by 'Sapu Katharsis'
(Season 1)
.
.
.
BoBoiBoy milik Animonsta/Monsta
.
.
.
Bagian 10: Operasi Death List 2.0. (Part 1)
Amato merasa jantungnya meloncat saat itu juga. Benda dingin yang tidak lain adalah moncong pistol itu benar-benar dirasakannya menempel kuat di bagian belakang kepalanya. Azurian memang tidak main-main.
"Apa yang kau nak, Azurian?" tanya Amato kaku. "Kalau kau memang berniat buat hapuskan aku, kenapa tak buat benda tu sekarang? Tak payah buat drama saspen macam ni."
Azurian tertawa kecil. Dia menyentak kepala Ayah BoBoiBoy dengan moncong pistolnya, membuat lelaki berambut dwiwarna itu nyaris kehilangan keseimbangan.
"Aku hanya mahu Anda sambungkan balik wayar-wayar Bom itu, Tuan Duta besar," ujar Azurian sinis. "Benda simple macam tu tak boleh Anda buat ke?"
"Kau penjenayah bersiri... Bom ni akan meletup dan hapuskan nyawa orang ramai! Mana aku sudi buat sambungkan balik wayar dia!?"
"Hmm, iya ke? Fufufu, alasan yang bagus, Tuan Amato. Patut lah Haryan benci sangat dekat Anda. Anda ni memang terlampau degil. Jadi apa yang mahu Anda pilih? Nak sambungkan balik wayar-wayar Bom tu ke tak?"
"Tak. Aku takkan sambungkan balik wayar Bom tu sampai bila-bila, terima kasih," sindir Amato berang. Nyawanya sudah jadi taruhan sekarang, karena Azurian bisa saja menembak tengkoraknya kapanpun dia mau. Walaupun begitu, Amato tidak akan pernah sudi menuruti permintaan musuhnya itu, biarpun nyawanya terancam sekalipun.
Dalam hati Amato menyesalkan dirinya yang tidak mengikutsertakan MechaBot dalam usaha menonaktifkan Bom ini. Memang teman Sfera Kuasa-nya itu rawan dalam bahaya jika terlalu sering dibawa bersamanya, tapi setidaknya MechaBot bisa memberinya Armor untuk melindungi diri.
Dan sang Duta pun terkadang lupa, ONION tidak melulu menjadikan Sfera-Sfera Kuasa sebagai target utama mereka. Bagi Organisasi, Sfera Kuasa hanyalah alat untuk keadaan darurat dan sebagai bahan tambahan urutan kesekian. Jika ingin diibaratkan, kemampuan alami anggota ONION adalah nasi dan senjata-senjata mereka adalah lauk pauknya. Sfera Kuasa hanyalah menjadi kerupuk sebagai menu pelengkap. Malah kemungkinan besar mereka lebih menarget si pemilik Sfera Kuasa ketimbang Sfera Kuasa itu sendiri.
"Hmm, mungkin lagi baik kita jangan hapuskan dia sekarang, Rian." Sebuah suara lain tiba-tiba terdengar di belakang Amato. Oh bagus, Azurian tidak sendiri. Apa sih yang lebih tidak nyaman ketimbang menyadari bahwa musuhmu ada lebih dari satu?
Azurian mendengus. "Syrena, kau tak faham ke? Tuan Amato ialah target paling atas dekat operasi Death List milik Tuan Haryan. Kalau dia tak dicegat, rancangan kita semua akan gagal!"
"Oh, ya?" Syrena terdengar sebal. "Kau tak ingat ke kalau dia boleh sahaja bermanfaat buat kita? Lagipun Tuan Amato ialah lelaki yang tak mudah ditebak, macam Tuan Haryan je. Tuan Haryan sorang yang cakap benda tu."
"Justru itulah sebab Tuan Amato kena dihapuskan. Dia terlampau berbahaya buat kelangsungan rancangan kita!"
Amato mendengar konflik adu mulut yang berlangsung di belakang punggungnya itu dengan wajah facepalm. Sejak dulu para anggota ONION seringkali tidak memiliki pendapat yang sama. Ada anggota yang agresif, ada pula anggota yang pasif. Hanya ada satu hal yang membuat mereka bersatu: Mereka semua memiliki jiwa penghancur. Dan hanya dua orang anggota ONION yang Amato tahu tidak memiliki jiwa penghancur sejak awal. Sayangnya sudah beberapa tahun ia tidak pernah melihat mereka lagi.
Dan sepertinya Azurian melonggarkan desakan pucuk pistolnya dari kepala sang Duta karena terlalu sibuk meladeni cekcok-nya dengan Syrena. Kesempatan yang bagus untuk membalik keadaan.
Sinyal di lorong itu entah kenapa bisa diblokir sehingga Ayah BoBoiBoy tidak bisa menghubungi MechaBot dan Imran untuk membantunya. Tapi Amato tidak tinggal diam. Perlahan dirogohnya kantung dada bagian dalam jas-nya, meraih pistol yang digunakannya untuk melindungi dirinya dan istrinya saat diburu Ah Meng dan Arumugam di salah satu lorong saat dinas ke London dulu. Peluru pistolnya bukan peluru letal, melainkan peluru bius. Amato tidak berminat menghabisi nyawa orang lain, sekalipun orang itu adalah penjahat yang mengancam nyawa.
Perlahan ia melirik lewat punggungnya. Azurian sudah mulai menurunkan pistol dari kepala Amato. Sepertinya pria bertopi fedora itu sudah nyaris kehilangan fokus. Amato berdoa dengan suara pelan sejenak. Detik berikutnya ia tak tanggung-tanggung membalik badannya dan melakukan tendangan berputar.
"HEAAAAHHH!"
Tendangan itu sukses mendarat di rusuk kanan Azurian, membuat pria bertopi itu terkejut dan jatuh. Saking kerasnya tendangan Amato, ia menabrak Syrena dan jatuh tumpang tindih di lantai lorong yang keras dan dingin. Amato tidak melewatkan kesempatan ini. Ditariknya Bom yang ditanam di dinding buntu itu, mencabut dan merusak semua kabelnya sehingga tidak bisa disambungkan kembali. Dengan kata lain, Bom itu tidak akan bisa dibuat meledak lagi. Ia lalu menendang pistol Azurian yang masih tergeletak di lantai hingga lepas dari tangan sang pria bertopi fedora, meraih senjata api yang sudah dalam keadaan siap tembak itu, mengeluarkan pelurunya dan menyimpannya di kantung dada bagian dalam jasnya yang lain.
Oke, merusak Bom sukses, menyabotase pistol musuh pun sukses. Sekarang yang perlu ia lakukan hanyalah lari. Amato tahu betul ia akan menjadi sasaran empuk bagi Azurian dan Syrena selama ia tidak memakai Armor dari MechaBot. Pistol biusnya pun tidak akan bisa berbuat banyak, karena Azurian dan Syrena terkenal dengan kekuatan-kekuatan aneh mereka yang masing-masing adalah Manipulasi realita dan Manipulasi Medium dimensi air, jadi untuk saat ini pilihan paling aman baginya adalah lari dari jangkauan musuh dan kembali ke Istri dan anaknya dalam keadaan selamat sentosa.
"Egh-" Azurian meringis akibat luka dalam yang dialami rusuk kanannya setelah menerima tendangan telak dari Ayah BoBoiBoy tadi. Ia berusaha berdiri sambil memegang dada kanannya. "Syrena... cepat kejar Tuan Amato... Aku tak boleh gunakan kuasa aku lebih lama lagi... rusuk kanan aku retak... cegat dia dan buat dia lupa dengan kejadian ini... cepat! Aku akan bagi tahu ahli pasukan Supreme Diamond yang lain... ugh- buat jalankan rancangan B..."
Syrena mendesah."Haish, ini semua sebab kita bertengkar tadi," rajuknya. "Baik kau berehat dekat dinding tu dahulu. Nanti aku akan hubungi tim medis selepas aku uruskan Tuan Duta kita."
Ia lalu menciptakan dimensi kolam di sepanjang lorong itu untuk dirinya sendiri. Syrena melompat ke dalam lantai dan berenang secepat mungkin di dalamnya, mengejar Amato yang berlari ke pintu masuk lorong.
Sementara itu, Amato berusaha menghubungi MechaBot dan Imran sambil berlari sekencang mungkin menuju pintu masuk lorong. Suara Imran dan MechaBot terdengar putus-putus di teleponnya.
"Tuan besar- BZZZT!... Tuan- BZZZT! baik ke?"
"Aku diserang! Ada dua ahli pasukan ONION dekat bawah sini! Korang kena pergi kesini segera!"
"Roger, Amato. Bertahanlah- BZZZT! ...semampu kau. Kitorang akan- BZZZT!... tiba segera."
Sinyal Imran dan MechaBot kembali terputus. Amato menggeretukkan giginya karena gemas. Kenapa sih dengan sinyal seluler di bawah sini? Sedikit-sedikit putus! Dia tidak akan bisa meminta bantuan kalau keadaannya begini terus. Apa yang harus dia lakukan?
Atau mungkin...
"Apa jangan-jangan mereka guna alat EMP?" gumam Amato menebak-nebak. "Kalau itu memang benar, maknanya kemungkinan besar itu sebab kenapa ruang bawah tanah ni boleh bebas daripada sinyal seluler, itulah kenapa sinyal aku buat hubungi Imran dan MechaBot tetiba putus. Tch, licik betul lah ONION tu. Tapi sejak bila mereka boleh tahu pasal benda EMP ni? Ah, tak kira. Baik aku keluar dari sini dahulu."
Dia terus berlari menuju pintu masuk lorong bawah tanah itu. Anehnya, pintu itu entah kenapa terasa semakin menjauh saja, membuat Amato berpikir bahwa dia hanya berlari di tempat sejak tadi.
"Ap- Apakah? Kenapa aku tak boleh sampai dekat pintu tu?"
"Mana kau nak lari, Tuan Duta?"
"Hah?"
Amato menoleh. Tahu-tahu dilihatnya Syrena sudah muncul tepat di belakang punggungnya. Belum sempat Amato mengelak, Syrena langsung menarik kerah Amato dan menghempas tubuh pria itu ke dinding lorong. Saking kerasnya hempasan itu, dinding dimana Amato terhempas langsung retak bak terkena gempa bumi.
"ARGH!"
Amato merasa punggungnya nyaris patah akibat hempasan itu. Syrena masih mencengkeram lehernya, menjebaknya diantara dinding lorong dan wanita itu. Amato berusaha melepaskan diri, tapi Syrena segera menyadari gelagat Ayah BoBoiBoy itu dan langsung mengeluarkan sepasang piranha besar. Piranha-Piranha itu tanpa ampun menancapkan gigi-gigi mereka ke lengan Amato dan menguncinya di dinding retak tempatnya terhempas tadi.
"Ugh... Apa... Apa yang sebenarnya korang rancangkan ni, Hah!?" tanya Amato sembari meringis kesakitan akibat rasa sakit di leher, punggung dan kedua lengannya. Syrena tersenyum jenaka melihat kondisi lawannya. Ia lalu melepaskan tangannya dari leher Amato, membuat pria itu terbatuk-batuk karena oksigen yang tiba-tiba masuk ke tenggorokannya.
"Patutlah Haryan benci awak. Awak ni memang degil," gumam Syrena sambil tertawa kecil. "Tak kira dengan Intel dekat Triad[1]. Maklumat mereka perihal awak ternyata ada betulnya juga."
Amato terbelalak mendengar kalimat Syrena itu. Nafasnya tiba-tiba menderu. Wajahnya terlihat lebih tegang dari biasanya.
"Kau... macam mana kau tahu benda aku dengan Triad?" tanyanya kaku. "Mawar Liar dan Haryan je yang tahu perihal tu dekat member ONION. Atau jangan-jangan kau-"
"Yah, tebakan awak memang betul," ujar Syrena sembari bertepuk satu kali. "Aku tahu semuanya sebab benda tu. Ahahaha, tak sangka awak ni terlampau pandai. Dragon Head Tuan R juga bagi salam dekat Awak. Dia cakap awak dah pernah gagalkan satu hingga dua operasi Triad dahulu. Hebat, memang hebat."
Amato mendengus. "Dah tu, apasal korang semua tak hapuskan aku sekali?" sindirnya kesal. "Korang dah hapuskan Ahmad dan Abang Luqman... korang dah teror dan hapuskan Harun... korang dah buat Kak Nisa dan Laila trauma... korang dah paksa Linda buat eksperimen-eksperimen teruk... korang dah buat kawan-kawan aku celaka! Haryan pun korang cuci otak dengan pandangan picik korang. Sebab korang... sebab korang dia jadi jahat macam tu, tahu tak!?"
PLAK!
Tahu-tahu tangan Syrena mendarat di pipi kiri Amato, menamparnya keras-keras. Pria itu merasa gendang telinganya bergetar hebat saking kerasnya tamparan itu. Syrena menggeretukkan giginya. Wajahnya terlihat merah padam karena marah.
"JAGA MULUT AWAK!" pekiknya murka. Sikap cerianya hilang sudah, berganti dengan kemarahan. "Tak payah awak ungkit-ungkit penderitaan awak. Awak fikir awak ni patut dikasihani? Hahaha, lawak hambar. Awak ni memang tak pernah jera, Amato. Lagipun Haryan sorang yang pilih jalan hidup dia. Awak cuma kawan dia yang takde guna! Apa peduli awak dekat dia? Dia dah anggap awak saudara dia, tapi awak masih sahaja pujuk dia kepada kebenaran. Benda hodoh tu betul-betul dah buat dia muak, tahu tak?"
Syrena mengulurkan tangannya ke arah Amato, membuat pria itu merapatkan kepalanya ke dinding di belakangnya dan memalingkan wajah, berusaha menjauh dari tangan Syrena. Namun wanita siren itu lebih cepat. Disambarnya dagu Amato dan memaksa pria itu menatap ke arahnya.
"Dan satu benda yang awak kena tahu," bisiknya sinis. "Anak awak dan kawan-kawan dia sudah masuk sebagai target utama kami. Awak fikir kami akan lagi lembut dekat budak-budak selepas Insiden dihapuskannya Ahmad dahulu? Hah, jangan mimpi! Dan budak India kawan anak awak tu... dia memang tak bohong pasal tangan yang muncul lewat air tu. Aku sengaja teror dia, buat aku makin senang tengok dia menderita, Hahahahaha!"
Amato menatapnya nanar. "Kau dan Rosaline memang takde beda..." geramnya. "Ingatkan Klon dia boleh beda sifat, ternyata sama sahaja. Kau dah seksa batin Gopal, kau dan koncro-koncro kau dah teror BoBoiBoy dan kawan-kawan dia. Takde benda lain ke dekat fikiran korang selain buat ketakutan dan teror? Tch- Korang ni memang tak betul!"
"Kami? Tak betul?" Syrena terkekeh. "Terima kasih atas pujian awak. Ah, ya. Tumben awak sebut Rosaline guna nama asli dia, bukan guna nama kode dia. Ini kebetulan ke ape?"
"Aku dah takde urusan dengan wanita pedofil tu. Baik korang berambus dari sini sekarang juga!"
Syrena menatap Amato dengan pandangan mencemooh. "Hmm, takde urusan Awak kata?" ujarnya geli. "Asal Awak tahu ye, dia rindukan Awak tau. Korang berdua memang tak pernah berjumpa lagi selepas Perang antar Galaxy hari tu. Aku faham, Awak trauma dekat dia selepas apa yang dia perbuat dekat diri Awak dan kawan-kawan Awak dahulu. Tapi hei, itu benda yang seronok buat dibawa ke wayang. Bukankah itu sempurna?"
Dia mengatakan itu sambil mendekat ke arah Amato, membuat pria itu semakin merasa tidak nyaman dan risih. Kenapa sih dengan wanita jahat nan aneh ini? Sudah memberi gertakan berisi informasi menyedihkan, pakai acara dekat-dekat ke lawan jenis pula! Dasar perempuan miskin harga diri!
Tapi tunggu, kenapa wajah Syrena terlihat rabun?
Amato tersentak. Ia baru menyadari bahwa Syrena menancapkan sebuah Jarum suntik ke bawah lehernya. Cepat-cepat ia memalingkan wajah ke arah Siren itu.
"Ugh- Apa... Apa yang kau nak perbuat!?"
Syrena tertawa. "Oh, takda pe. Aku cuma bagi Awak cecair hilang ingatan. Salah kami juga sebab dah remehkan Awak. Oh ya. Efek samping Cecair ni ialah Awak akan mengalami beberapa kenangan terburuk Awak. Satu lagi, Cecair ni dimodifikasi Rosaline khas buat Awak sebelum dia terhapuskan. Dia suruh aku buat bagi 'Hadiah Selamat tinggal' dekat Awak, dan inilah hadiah yang ia maksudkan tu."
Begitu wanita itu selesai berbicara, Amato langsung merasa tubuhnya dihinggapi rasa sakit yang luar biasa begitu cairan penghilang ingatan itu mulai masuk ke pembuluh darahnya. Gila! Apa jangan-jangan wanita jahat itu memang hendak menyiksanya perlahan-lahan seperti ini? Sungguh Psikopat!
Amato meringis. Ia hendak berteriak akibat rasa sakit dashyat yang menghinggapi tubuhnya itu, tapi entah kenapa kesadarannya mulai menghilang, membuatnya tidak sanggup mengeluarkan suara sedikitpun. Dilihatnya Syrena yang tersenyum jenaka nan sinis ke arahnya sebelum akhirnya pandangannya menjadi gelap gulita.
'Selamat tidur, Tuan Amato.'
Gopal menaiki tangga menuju lantai empat gedung serbaguna dimana Pesta Gala berlangsung, meninggalkan Fang dan Ying serta Ibu BoBoiBoy di lantai tiga. Ia masih kesal dengan dirinya sendiri yang tidak pandai berdansa. Apa memang dirinya ini tidak memiliki bakat apapun sehingga apa saja yang ia lakukan selalu berakhir dalam kekeliruan?
"Hmm, aku ni memang takde guna dah," desisnya pesimis. "Mengikut pendapat kawan-kawan aku, aku selalunya merusak dan merusak keadaan. Mungkin apa yang dicakapkan Syrena perihal diri aku selama ini ialah benar."
Ia lalu melayangkan pandangan ke aula dansa lantai empat gedung serbaguna. Disitu ada beberapa pasangan suami istri tengah berdansa, ada pula dua sampai tiga orang yang melihat-lihat lukisan-lukisan Anggota Keluarga Kerajaan Malaysia yang dipampang di setiap sudut aula. Salah satu dari pengamat lukisan-lukisan itu adalah seorang gadis berambut coklat gelap panjang, membuat Gopal penasaran. Pasalnya si gadis terlihat sebaya dengannya dan ia tidak ditemani siapapun. Apa yang dilakukan gadis itu sendirian disitu?
Sang pemuda berdarah India baru saja hendak menyapa si gadis. Namun tak disangka gadis itu menyadari kehadirannya dan tiba-tiba menoleh ke arahnya sembari tersenyum ramah.
"Awak takde kawan buat berbincang?"
"Ekh?" Gopal merasa pipinya memerah karena malu akibat ketahuan. "I- Itu…"
"Takda pe. Saya pun takde kawan buat berbincang dekat sini," ujar si gadis geli. "Sebenarnya saya ada dua kawan lelaki, seorang Abang dan seorang Uncle, tapi salah sorang dari mereka tengah temankan Ibu dia makan dekat lantai dua. Kawan saya yang satu lagi pon tak begitu minat buat naik ke lantai empat ni. Dia kata dia masih mahu nikmati suasana balkon kat lantai tiga. Abang saya pon tetiba pergi entah kemana selepas dia temankan saya tengok-tengok kat lukisan Keluarga Yang Dipertuan Agong Malaysia, kata ada assignment mendadak. Uncle saya jugak lagi asyik berbincang dengan kawan-kawan beliau dekat Kedutaan yang ikut Pesta Gala ni, jadi saya pon berseorangan pada akhirnya. Awak sorang kenapa tetiba naik ke lantai empat ni?"
"Ah, itu-" Gopal memilin-milin jari telunjuknya karena gugup. "Kawan-kawan saya kata saya tak reti cara berdansa, buat saya jadi marah dekat diri saya sendiri. Sebab tu lah saya naik ke lantai empat ni, nak tenangkan amarah."
Si gadis memandangnya dengan tatapan empati. "Kesiannya awak," katanya. "Tapi memanglah macam tu kalau kita berkawan, kadangkala kita punya peragai tak sesuai dengan keinginan kawan kita. Tapi pada akhirnya, kita dan kawan kita sedar akan kekeliruan kita lalu balik jadi kawan baik."
Gopal mangut-mangut. "Betul juga apa yang Awak cakap tu dey," katanya agak lega. "Terima kasih sebab dah hibur saya, hehehe. Tak tahu lah kalau saya masih sahaja rasa rimas dekat kawan-kawan saya, mesti kitorang putuskan perkawanan."
"Dan memutus perkawanan itu salah satu benda teruk yang pernah ada," ucap si gadis. "Sebisa mungkin kita usaha buat cegat putus perkawanan tu, sebab kawan ialah salah satu harta paling berharga dekat dunia ini."
"Ehe, betul tu, betul," ucap Gopal cengengesan. "Terima kasih lagi sebab dah tenangkan diri saya. Oh ya, nama aku Gopal, Gopal Kumar. Salam kenal ye."
"Gopal?" Si gadis tertawa kecil. "Nama yang comel lah. Nama aku Tara, Tara Singh. Salam kenal juga, Gopal."
BoBoiBoy dan Yaya pergi menuju Balkon gedung serbaguna di lantai tiga. Di balkon itu ada beberapa meja bundar tempat berbincang-bincang. Ganesha Khan, Paman Tara dan Arumugam tampak berbincang-bincang dengan asyiknya di salah satu meja bersama tiga orang temannya yang juga pejabat di Kedutaan. BoBoiBoy mencari-cari meja bundar yang tidak berpenghuni. Sayangnya semua meja sudah penuh.
"Alamak, kita tak dapat meja lah," keluhnya. "Takkan lah kita nak makan snack berdiri?"
"Hmm, tapi setidaknya terali balkon ni bisa dipakai buat sandarkan punggung, kan? Kan?" tukas Yaya berusaha optimis. Ia kasihan juga melihat BoBoiBoy yang murung akibat kehabisan meja. Tahu-tahu mereka berdua mendengar sebuah suara yang menyahut-nyahut nama mereka.
"Yaya! BoBoiBoy! Jom sini! Masih ada kerusi kosong buat korang berdua tau."
BoBoiBoy dan Yaya menoleh ke asal suara. Alangkah senangnya mereka begitu mereka melihat Hafiz melambaikan tangan ke arah mereka. Benar saja, anak itu hanya duduk sendirian di meja bundar yang terletak paling ujung di balkon besar nan panjang itu. Di kanan kiri-nya ada dua kursi kosong, membuat Yaya dan BoBoiBoy bersyukur bahwa mereka akhirnya mendapat tempat duduk disitu.
"Hafiz, kau tak bagi tahu kalau kau pon join Pesta Gala," sapa BoBoiBoy senang sembari duduk di kursi yang terletak di sebelah kanan Hafiz diikuti Yaya yang duduk di kursi sebelah kiri, walaupun gadis berkerudung pink itu menggeser kursinya agak jauh agar tidak terlalu berdekatan dengan kedua teman lelakinya. Hafiz terkekeh sambal menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Butik keluarga aku kan salah satu Sponsor buat Pesta Gala ni. Mestilah aku join, sekaligus wakilkan Ummi aku. Ummi tengah sibuk, jadi aku yang wakilkan beliau sebagai tamu sponsor Pesta ni." Tahu-tahu ia terlihat murung. "Sayangnya sekarang ni Snack bar dekat sini tengah habis. Para Chef katering masih cuba buatkan stok baharu dekat lantai satu. Aku tak tahu lah nak jamu korang berdua guna apa buat tunggu mereka buat stok snack lagi."
Yaya tiba-tiba tersenyum cerah mendengar keluhan Hafiz itu. "Tenang sahaja, Hafiz. Kebetulan saya bawa Biskut," katanya sumringah sembari mengeluarkan satu bungkus bening berisi biskuit coklat dengan selai berbentuk hati, membuat Hafiz berbinar-binar dan BoBoiBoy pasang wajah panik.
"Wuah, hebat betul lah awak ni, Yaya!" ucap Hafiz sumringah lalu meraih sekantung biskuit milik Yaya. BoBoiBoy menelan ludah. Ia khawatir setengah mati kalau-kalau Hafiz akan membencinya seumur hidup setelah mencicipi biskuit mengerikan buatan Yaya itu.
"Alamak… Yaya mule dah…" desis sang Superhero elemental. Segera ia berbisik ke telinga Hafiz, berusaha mengingatkan teman lamanya.
"Wei, Fiz. Baik kau dengar cakap aku pasal biskut Yaya tu. Biskut dia tu tak sedap!"
Hafiz yang meraih sepotong biskuit dari kantung itu menoleh ke arahnya dengan wajah bingung. "Apahal dengan biskut buatan Yaya ni?" tanyanya heran. "Bentuknya pon comel molek. Tak kan lah biskut dia ni tak sedap?" katanya kemudian sembari memakan biskuit itu dengan gaya yang sangat santai. Tentu saja kelakuannya itu membuat BoBoiBoy semakin memasang wajah ngeri.
"Habislah," batin BoBoiBoy ketakutan. "Hafiz mesti marah dekat aku selepas ni."
Yaya yang melihat Hafiz memakan biskuit buatannya pasang wajah penuh harap. "Ha, amacam, Fiz? Biskut aku sedap tak?"
Hafiz mengecap-ecap lidahnya sejenak. Satu menit kemudian, ia menyeringai.
"Wuahh- Biskut buatan awak ni memang lah sedap!" ucapnya gembira sambil mengambil sepotong biskuit lagi dengan ekspresi menikmati. "Hebat betul lah awak ni, Yaya! Saya sukakan biskut awak tau. Bila-bila masa saya nak order sehingga 10 pek boleh?"
BANG!- BoBoiBoy langsung jawsdrop mendengar pujian itu. Hafiz? Suka biskuit Yaya? Yang benar saja!
"Mestilah boleh! Aku punya banyak kat rumah tau," balas Yaya girang. Ya, girang. Selama ini teman-temannya sering menghindar kalau ia mulai membawa topik kelezatan biskuit buatannya, dan hanya Lahap yang sudi menikmati biskuit buatannya itu. Tapi kini ia bertemu dengan Hafiz yang ternyata suka dengan biskuitnya juga! Siapa sangka anak itu adalah manusia pertama yang antusias memuji kelezatan biskuitnya? Ini adalah hari yang sungguh istimewa bagi Yaya.
Hafiz mengemil biskuit Yaya lalu menyodorkan sepotong pada BoBoiBoy. "Ei, BoBoiBoy. Yaya ni kan kawan kau juga. Apasal kau tak makan biskut dia?"
BoBoiBoy menggeleng kuat-kuat. "Ta- Takpe, Hafiz. Saya… saya tengah diet biskut sekarang ni…" ujarnya kekeran. Dia masih kaget dengan pernyataan Hafiz yang suka dengan biskuit buatan Yaya. Apa jangan-jangan lidah Hafiz sedang tidak beres sampai ia bisa merasakan kelezatan biskuit yang sangat tidak enak itu?
"Tenang sahaja, Fiz. BoBoiBoy dah sering ambik tawaran biskut aku kat Pulau rintis," ucap Yaya geli. BoBoiBoy langsung mengiyakan. Ia tidak mau memperpanjang topik perbincangan akan biskuit Yaya. Bisa-bisa Hafiz malah akan memaksanya memakan makanan mengerikan itu. BoBoiBoy memutar otak, berusaha mencari topik lain. Tahu-tahu ia teringat akan Siti dan iseng-iseng bertanya.
"Oh iye. Hafiz, mana Siti? Aku tak pernah jumpa dia lagi tau. Bukannya korang tinggal satu atap ke? Korang berdua kan adik beradik?"
Pertanyaan BoBoiBoy itu spontan membuat Hafiz tersedak potongan biskuit yang dikunyahnya. Ia terbatuk-batuk. Yaya segera mengambil air mineral tak jauh dari meja mereka dan memberikannya pada Hafiz. Anak itu lalu meminumnya. Ia tersengal-sengal. Wajahnya terlihat pucat.
"Ka- Kak Siti?" cicitnya gugup. "Aku… aku tak tahu…"
"Eih? Apasal kau tak tahu ni?" BoBoiBoy mengerutkan kening. "Siti itu kan Kakak kau. Mestilah kau kena tahu apa-apa benda yang menyangkut dia. Dia tu kawan baik aku juga. Tak kan lah aku lupakan dia sambil lalu. Oh iye. Semalam aku pon mimpi berjumpa dengan dia tau."
Hafiz terhenyak. "Kak Siti… Kak Siti muncul kat mimpi kau?" tanyanya semakin gugup. Wajahnya tiba-tiba terlihat sedih sekali. Yaya melihat raut wajah anak itu dengan harap-harap cemas. Ia mengepalkan kedua tangannya di pangkuan, berusaha menyusun hipotesanya yang kemungkinan besar berakhir menyedihkan.
'Ada kemungkinan kalau 'patung' Siti Zubaidah kat Markas ONION itu memang Kakak daripada Hafiz,' batinnya iba. 'Dan ini macam bukan kebetulan sebab peragai Hafiz bertukar seratus peratus masa nama Siti disebut. Aku bagi tahu dia hipotesis aku ke tak? Aku tak nak Hafiz terkena serangan jantung. Tapi kalau aku tak cakap apapun, ujung-ujungnya Hafiz pon akan dapatkan maklumat ini juga. Apa aku kena buat ni?'
Namun Yaya tahu, sekarang bukan saat yang tepat untuk memberitahu Hafiz tentang hipotesanya itu. Sang manipulator gravity memilih diam dan lanjut mengamati interaksi kedua teman lelakinya.
BoBoiBoy terus mendesak Hafiz mengenai perihal Siti, membuat anak berambut hitam itu mulai risih. "Tak payah kau cakap benda teruk tu, BoBoiBoy," ucapnya kemudian.
"He?" BoBoiBoy terhenyak. "Ta- Tapi kenapa? Apa yang dah berlaku kat Siti?"
Hafiz mendesah panjang. Ia menggigit bibir. Dua detik kemudian ia tahu-tahu beranjak dari kursinya, memunggungi BoBoiBoy dan Yaya.
"Maaf, kawan. Tapi ini bukan masanya aku buat bagi tahu kau."
Dengan kalimat itulah ia pun berlalu masuk ke gedung, meninggalkan BoBoiBoy yang terbengong-bengong dan Yaya yang pasang wajah penuh rasa bersalah.
"Apahal dengan Hafiz tu? Macam ada benda tak selesa," ucap BoBoiBoy heran. "Aku nak tahu perihal pasal Siti lah. Apasal dia macam sembunyikan perihal Kakak dia macam tu?"
Yaya menelan ludah. Ia dan teman-teman Pulau Rintisnya sudah sepakat untuk tidak memberitahu hipotesa Jenazah Siti Zubaidah yang dijadikan patung manekin di markas ONION saban hari. Tapi tentu saja, menyembunyikan rahasia dari teman adalah salah satu hal paling sulit dilakukan. Ia membuka mulut, mencoba menenangkan BoBoiBoy. Namun belum sempat ia mengucapkan satu kata pun, sebuah suara mendahuluinya.
"Halo, kawan lama aku, BoBoiBoy. Hihi…lama tak jumpa."
Yaya terkesiap mendengar suara itu. Ia kenal betul pemilik suara itu. Dengan gugup ia menoleh ke sumber suara, begitu pula BoBoiBoy yang ikut kaget karena namanya disebut dalam sapaan.
Di hadapan mereka berdiri seorang gadis sebaya mereka, berambut coklat gelap dan memakai baju peralihan gothic Lolita dan sweet Lolita. Gadis itu tersenyum manis ke arah mereka. Yaya mencuap dengan pandangan tidak percaya.
"Mi- Mimi? Apa dia buat kat sini?"
Di salah satu sudut aula lantai tiga, Fang dan Ah Ming masih terus saling tatap dengan wajah menantang. Ah Ming menyentak tangannya hingga lepas dari cengkeraman Fang.
"Kamu ni macam lepas tengok hantu gentayangan je, Pang xi," gerutu Ah Ming. Fang menggeram. Ia berdiri di hadapan gadis itu, berusaha menghalanginya agar tidak kabur.
"Hantu ke, monster ke, terserah kau nak cakap apa," desis sang manipulator bayangan berang. "Aku tahu ada benda tak selesa dengan keberadaan kau disini. Cakap-cakap gedung ni akan meletup pulak tu. Korang ONION ni memang pelik! Selanjutnya apa? Nak hapuskan para tetamu pesta ni sampai takde sisa?"
"Hmm," Ah Ming mendesah panjang. "Aku rasa kau benar. Kitorang memang pelik," katanya sambil menyilangkan kedua lengan di depan dada. "Tapi tenang sahaja. Bom itu akan meletup kiranya dua puluh detik dari sekarang."
Fang tersentak. "Korang ni memang kejam!" desisnya murka.
"Terima kasih atas pujiannya, Pang xi. Sayangnya kami takkan boleh kau hentikan," ucap Ah Ming dengan wajah puas. Tahu-tahu ponselnya bordering. Ah Ming segera menempelkannya ke telinga dengan pengawasan penuh dari Fang.
"Halo?"
"Ah Ming… ugh, kita beralih… ke rancangan B."
Ah Ming melongo."Apa? rancangan B?" tukasnya terkejut. "Uncle Azurian gurau ke? Dan apasal suara Uncle macam kesakitan ni?"
Azurian meringis. "Rusuk aku retak akibat tendangan Tuan Amato. Boleh tahan juga dia, walaupun dia tak guna Armor dari Power Sphera dia," gumamnya agak sebal. "Dan parahnya, dia pon dah rosakkan Bom kita."
"Apa? Bom kita pon dah dia rosakkan?" Ah Ming menggeram gemas. "Cih, Ayah BoBoiBoy tu memang suka cari pasal dekat kita. Patutlah Tuan Haryan taruh nama Tuan Amato dekat mangsa Death List paling atas. Beliau terlampau pandai buat tengok rancangan-rancangan kita."
"Tenang, Ah Ming. Syrena dah uruskan Tuan Amato. Tak payah kau risaukan."
"Ye lah tu," gumam Ah Ming malas. "Uncle dimana sekarang?"
"Uncle tengah ada kat Kapal angkasa induk ONION bersama Arumugam dan Sebastian. Mereka pon bawa askar R.A.S. dan T.A.S. sekali, buat eksekusi peralihan rancangan B. Kiranya dua minit lagi kami akan tiba."
"Haish, padapun aku lagi suka kalau operasi Death List 2.0 ni lagi pantas. Okey lah. Aku akan tunggu kalian sehingga dua minit. Jumpa lagi, Uncle."
Ah Ming memutuskan sambungan teleponnya dengan Azurian. Ia lalu menatap Fang dengan pandangan penuh kemenangan.
"Aku teragak rimas sebab rancangan letupan tu tak jadi," katanya sambil berkacak pinggang. "Tapi kamu jangan senang dulu, Pang xi. Aku dan rakan-rakan aku masih ada parti susulan."
Fang menggeretukkan giginya. "Sudah kuduga korang masih ada rancangan lain," tukasnya marah. "Apa rancangan tu?"
"Hmm, kau ingat senang ke aku nak bagi tahu kau?" cibir Ah Ming. "Tidak, terima kasih. Tapi biar aku bagi tahu kau suatu hint. Rakan-rakan Supreme Diamond akan tiba tak lama lagi."
Tak jauh dari mereka, Ying memandang harap-harap cemas. Ibu BoBoiBoy yang melihat ke arahnya lalu tergelitik rasa ingin tahu.
"Ying, apa kamu buat seorangan kat sini? Mana kawan-kawan kamu?"
Ying menoleh ke arahnya. "Ahh, ehh… macam ni, Makcik. Kawan-kawan saya tengah berpencar. Kawan saya yang rambut ungu landak tu pon tetiba ada pasal dengan gadis kat sana. Oh iye. Mana Suami Makcik? Ingatkan tadi Makcik dan Pakcik tengah berdansa wo."
"Ah," Ibu BoBoiBoy tertawa kecil. "Suami Makcik tetiba ada pasal kecemasan, jadi dia buru-buru pergi sekejap kat lantai satu. Seharusnya dia sudah balik sekarang, dan-"
Wanita itu tidak melanjutkan kata-katanya begitu sebilah pedang mendesing ke arah lehernya. Ying yang melihat gerakan pedang itu buru-buru mengaktifkan jam kuasanya dan berdiri di depan Ibu BoBoiBoy, berusaha melindungi wanita itu dari bahaya yang tiba-tiba muncul.
"KUASA SLOW MOD!"
BLAAASSSSSHHHHH!
Desingan pedang itu melambat sehingga memberi waktu bagi Ying untuk mendorong Ibu BoBoiBoy dari target pedang tersebut. Setelah dirasa aman, Ying mengembalikan waktu ke kelajuan normal.
"Y- Ying, apa… apa benda yang berlaku tadi?" Tanya Ibu BoBoiBoy gugup. Ying segera pasang siaga di depan wanita itu, berusaha menenangkannya.
"Makcik, mohon jaga-jaga. Saya tetiba nampak sebuah pedang nak tebas Makcik tadi."
Ibu BoBoiBoy menelan ludah. "Te- Terima kasih, nak. Makcik berhutang budi pada kamu," katanya lega walaupun belum tenang seratus persen. "Tapi siapa gerangan yang mahu bawa pedang ke Pesta macam ni?"
Ying melayangkan pandangannya ke arah si penyerang yang nyaris menebas Ibu BoBoiBoy. Alangkah terkejutnya ia begitu melihat sosok si penyerang. Sosok itu tertawa kecil dan menatap Ying dengan senyum manis nan menggelikan.
"Halo, Ying. Apa kabarnya? Dah lama saya tak jumpa awak lagi hoo."
Sang manipulator waktu terkesiap. Sosok di depannya itu mengenakan baju tuxedo biru gelap dengan hem putih. Rambut hitam kebiruannya diikat sedikit. Sebuah kacamata kuning berlensa bundar bertengger di atas kepalanya. Mata merahnya berkilat. Tidak salah lagi...
"Kamu… kamu…" ujar Ying teranggap-anggap. "AH MENG!?"
Sementara itu di balkon, Mimi menatap BoBoiBoy lamat. BoBoiBoy yang tentunya merasa senang karena bertemu dengan salah seorang teman lamanya itu langsung beranjak dari kursinya, menghampiri gadis berpakaian Lolita itu. Dalam hati Mimi memekik girang. Akhirnya ia bertemu dengan BoBoiBoy, ia bertemu dengan pujaan hatinya itu. Sayangnya dia kini sedang menjalankan operasi kejahatannya bersama teman-teman ONION-nya yang lain, jadi dia mungkin tidak akan sempat bersenda gurau dengan BoBoiBoy. Tapi hei, bukannya nanti setelah semua ini sukses, Mimi akan menjadikan BoBoiBoy sebagai koleksi manekinnya yang paling berharga? Toh dia juga sudah menyiapkan sebuah Jas tuxedo paling mahal untuk dipakaikan ke anak itu sebagai hadiah kalau BoBoiBoy sudah menjelma menjadi 'benda diam' nanti. Bukankah itu sempurna? He he he…
"Hai, Yaya! Lama tak jumpa!"
"Hah?"
Mimi yang awalnya ceria langsung berwajah mendung begitu mendengar panggilan BoBoiBoy yang dialamatkan ke dirinya itu. "Ya- Yaya? Kenapa… kenapa kau sebut nama aku guna nama Yaya?" gumamnya dengan hati remuk. Sebegitu pelupanya kah BoBoiBoy hingga teman lamanya itu langsung salah menyebutkan nama? Ditambah BoBoiBoy memanggilnya dengan nama salah satu anak ingusan dari Pulau rintis: Yaya, mau tidak mau Mimi jadi tersulut emosi.
"Ehh?" BoBoiBoy langsung melongo melihat sikap Mimi itu. "Hanna, kau okey ke?"
"BoBoiBoy… kau…" Mimi menggeram hebat. Ia tidak habis pikir, bisa-bisanya BoBoiBoy melupakan namanya dan malah memanggilnya dengan nama salah seorang teman Pulau Rintis-nya yang jelas-jelas berada tak jauh di belakangnya. Mimi tidak tahan lagi. Ia mendesis sambil menyentak sepatunya ke lantai balkon gedung pesta gala keras-keras, membuat peragai BoBoiBoy yang awalnya ceria menjadi kebingungan.
"Ah, so- sori. Aku terlupa nama kau lah," ujar BoBoiBoy merasa bersalah. Mimi tidak menjawab saking marahnya. Kalau anak manipulator elemental itu masih saja berkutat dengan 'sindrom amnesianya' itu, maka tidak ada jalan lain lagi untuk memperbaiki perasaannya bencinya terhadap anak itu. Mimi bertekad akan menghabisi BoBoiBoy saat itu juga. Perlahan ia meraih pisau yang digunakannya untuk membunuh Siti dahulu dari saku belakang rok gaun lolitanya dan mengambil ancang-ancang. Dideliknya dada BoBoiBoy. Bagus, anak itu tidak melihat bahaya yang mengintainya. Satu tusukan, dan BoBoiBoy akan meninggal dengan sendirinya. Satu, dua, ti-
"BoBoiBoy, jaga-jaga!"
"Hah?"
Mimi terkesiap. Rupanya Yaya melihat gelagat meraih pisaunya itu. Namun sebelum Mimi sempat mengambil tindakan lebih, Yaya terbang ke arahnya dan berseru,
"GRAVITI PEMBERAT!"
"AAHHH!"
Dalam sekejap Mimi merasa tubuhnya tertarik ke bawah. Ia terduduk. Pisaunya jatuh beberapa inci darinya. Susah payah Mimi membebaskan diri dari lingkaran gravitasi milik Yaya. Ia mendecih.
"Yaya, kau…" desisnya berang. Yaya tidak menggubrisnya dan menoleh ke BoBoiBoy yang terbengong-bengong.
"BoBoiBoy, tengok tu! Dia bawa pisau. Nasib baik dia tak sempat serang kau tadi," tukasnya cemas. BoBoiBoy terhenyak mendengar kalimat itu. Dilihatnya Pisau yang tergeletak beberapa inci di hadapan Mimi. Sontak BoBoiBoy mengingat nama gadis itu dan merinding.
"Mi- Mimi? Kenapa kau bawa Pisau ni?" tanyanya ling-lung. Kegaduhan di balkon itu membuat para tamu pesta yang berada di balkon terkesiap. Sontak timbul hiruk pikuk disitu. Khan yang melihat kejadian itu lalu bergegas menghampiri mereka.
"Apa kamu budak-budak buat benda bising ni?" Khan baru saja hendak mengomeli BoBoiBoy, Yaya, dan Mimi sebelum akhirnya ia melihat Pisau Mimi, lingkaran gravitasi Yaya dan BoBoiBoy yang menganga kaku.
"Apakah-" ujarnya tidak percaya. Dia menoleh ke arah Yaya. "Cik adik, hilangkan lingkaran gravity adik sekarang. Itu kuasa dari Power Sphera. Tak boleh ada sesiapapun dari tamu awam yang boleh tahu kalau Cik adik punya kuasa tu!"
Yaya meringis. "Tak boleh, Pakcik. Saya tak nak Mimi terlepas. Saya nampak dia mahu tusuk BoBoiBoy guna Pisau dia tadi. Kita kena panggil pihak Polis segera!"
Khan mengangguk. "Tenang, Cik Adik. Saya ada kerabat kat Polis KL ni. Saya akan call dia segera dan-"
Ia terdiam begitu sebuah bayangan besar menutupi balkon gedung pesta gala. Tanpa sadar ia dan yang lainnya menengadah dan terbelalak melihat apa yang menyebabkan bayangan besar itu.
Belasan Pesawat Angkasa ONION, lengkap dengan Pasukan R.A.S. dan T.A.S sebagai armadanya.
BoBoiBoy terbelalak lebar. "Apa… Apa dah jadi ni !?"
Mimi tertawa kecil. Ditatapnya anak itu dengan pandangan penuh kemenangan
"Ini baru permulaan, BoBoiBoy kawan baik aku. Hihihi…"
Dimas yang saat itu tengah mengobrol dengan ibunya di lantai 2 gedung pesta gala merasa ganjil dengan bayangan besar yang menutupi sekeliling bingkai gedung. Laila melihat putranya yang gelisah itu dan segera bertanya,
"Dimas, nak, kamu kenapa?"
Anaknya menoleh ke arahnya dengan tatapan serius. "Ibu, tidakkah Ibu merasa aneh dengan bayangan yang tiba-tiba menutupi bagian luar gedung ini? Lihatlah, diluar jendela keadaannya sangat gelap, bahkan lebih gelap dari mendung!"
Laila tertegun. Ucapan anaknya ada benarnya juga. Ia beranjak dari kursi makannya dan memandang sekeliling. Para tamu terlihat kebingungan. Ada apa ini?
Tidak seperti ibunya yang fokus ke keadaan sekeliling, Dimas langsung meraih telepon genggamnya dan menghubungi Hafiz. Sayangnya nomor sahabatnya itu sedang tidak aktif. dihubunginya Tara. Syukurlah gadis itu mengangkat teleponnya.
"Halo, Tara. kamu dimana?"
"Ah, Dimas. Sori, aku dan kawan baru aku ada kat lantai empat sekarang. Aku tak dapat turun dahulu. Ada belasan Kapal Angkasa yang kepung Gedung ni sekarang!"
Dimas terbelalak. "Pesawat angkasa kau bilang!?" ujarnya kaget. "Ini tidak baik. Bisakah kau identifikasi siapa mereka?"
"Kejap," balas Tara sambil memicingkan matanya, melihat sisi kanan salah satu Pesawat Angkasa. Gopal yang berdiri di sampingnya menggigit-gigit kukunya karena ketakutan. Pesawat-pesawat Angkasa bermodel seram itu membuatnya merinding.
"T- Tara, si- siapa mereka tu?" tanyanya ketakutan. Tara memfokuskan padangannya sekali lagi ke sisi salah satu Pesawat Angkasa yang letaknya paling dekat dengan jendela besar dimana ia dan Gopal berada dibaliknya. Terlihat sebuah lambang bawang ungu mekar yang dicat pudar di sisi kiri Pesawat Angkasa itu, membuat Tara terperanjat.
"Tak mungkin…" ujarnya tidak percaya. "ONION!?"
"Imran, kau pasti ke Amato lewati lorong ni tadi?"
"Mestilah. Aku nampak poin Tuan besar lewat lorong ni semasa kita tengok dia kat alat detektor aku tadi. Tak payah nak risau."
MechaBot mendesah. "Ye lah tu," ujarnya pasrah. "Aku sempat cemas semasa sinyal Amato terputus tadi, macam ada benda EMP yang sengaja dipasang musuh dekat lorong Bom tu. Moga-moga dia okey je."
"Kurang boleh diharap," balas Imran cemas. "Tuan besar sempat kata kalau ada dua ahli pasukan ONION dekat lorong tempat Bom tu berdiam. Mana lagi dia tak bawa alat buat pertahankan diri. Memang pun Tuan besar selalunya bawa Pistol dia macam yang dia buat semasa dinas kat London hari tu. Tapi Pistol tu hanya diisi dengan Peluru bius. Mana pula Tuan besar tak cakap siapa sahaja ahli ONION yang serang dia tadi. Kalau dua ahli ONION tu ialah komplotan Supreme Diamond, habislah! Tuan besar takkan sanggup lawan mereka sorang-sorang guna tangan kosong. Kita kena bergegas!"
Satu menit kemudian, mereka tiba di pintu menuju lorong dimana Bom waktu yang dihentikan Amato berada. Imran hendak membuka pintu lorong itu, namun MechaBot buru-buru mencegahnya.
"Kejap, Imran," tukasnya tertahan. "Aku macam rasa tak selesa kalau kita buka pintu ni sambil lalu. Tak kira kalau ahli pasukan ONION yang serang Amato masih ada dibalik pintu ni. Baik kita waspada."
"O- Okey?" Imran mengangguk kaku sambil memelankan suaranya. Diambilnya Pistol berisi Peluru bius miliknya dari saku Jasnya. Setelah dirasa siap, ia menggangguk ke arah MechaBot. Sfera kuasa generasi keenam itu lalu balas mengangguk dan menyiapkan bazooka mini penghancur miliknya. Dengan penuh kehati-hatian, ia memutar gagang pintu di hadapan mereka.
Pintu itu pun terbuka, menampakkan pemandangan yang sangat tidak mengenakkan bagi MechaBot dan Imran.
Tak jauh dari mereka, tampak tubuh Amato yang terduduk bersandar di dinding lorong di belakangnya. Kedua lengannya berdarah. Terlihat bekas cekikan semi memar di lehernya. Pipinya tampak lebam akibat kena tamparan keras. Jasnya acak-acakan bercampur darah yang menetes-netes dari lengannya. Kepalanya tertunduk, tidak sadarkan diri. Di hadapannya berdiri Syrena yang tersenyum puas. Ia baru saja mencabut jarum suntik dari leher Amato setelah menyuntik paksa pria itu dengan Cecair Penghilang Ingatan versi 'spesial'.
"Amato!"
"Tuan besar!"
MechaBot dan Imran memekik histeris melihat keadaan Ayah BoBoiBoy yang mengenaskan itu. Syrena tertawa kecil mendengar nada kekalutan dari teriakan mereka dan menatap mereka dengan senyum puas.
"Ah, kalian Pahlawan kesiangan dah tiba rupanya," ujarnya geli. "Sayang sekali, kalian terlampau kesiangan buat selamatkan Tuan Duta kalian ini. Kesian…"
MechaBot menggeram. "Apa kau dah buat kat dia, Hah!?" teriaknya berang. Syrena tersenyum simpul. Ia mendecak gemas melihat tingkah MechaBot itu.
"Tenang, Tuan Mech. Saya cuma belasah sikit kawan kamu. Takkan lah saya sampai hati buat hapuskan dia, kan? Kan?"
"Kau ni memang merimaskan, Syrena…" tukas MechaBot risih. "Aku akan-"
"MechaBot, baik kamu bertenang dahulu," potong Imran. Ditatapnya Syrena lamat. "Syrena, saya tahu kalau kamu bukan sahaja belasah Tuan besar hingga dia pengsan. Saya ternampak sekejap kalau kamu lepas suntik Tuan besar guna suatu cecair. Jawab aku, cecair apa yang kamu suntikkan kat dia? Jangan cakap kalau cecair tu ialah suatu dadah terlarang."
"Oh, benda tu." Syrena menatap mereka dengan tatapan remeh. "Asal kau tahu, cecair tu ialah Cecair penghilang ingatan. Ingatkan kamu dah tahu benda tu. Hanya sahaja cecair penghilang ingatan yang aku bagi kat dia tu berbeza sikit dari cecair penghilang ingatan pada umumnya. Rosaline yang rancang cecair tu khas buat dia selepas dia sabotaj eksperimen cecair penghilang ingatan buatan Linda. Dia memang sukakan Tuan Duta kau ni menderita. Hebat, bukan?"
Mendengar itu, MechaBot merasa dirinya nyaris meledak akibat amarah yang memuncak. "Korang ni memang tak habis-habis seksa Amato dan kawan-kawan dia. Korang bahkan belasah anak dia dan kawan-kawan dia sekali. Apa yang sebenarnya korang mahukan, Hah!?"
"Hmm, apa yang kami nakkan? Boleh kau sebut Kejahatan untuk ambil alih alam semesta. Kau puas sekarang?"
"Keterlaluan!"
Imran mengerutkan alisnya. "Syrena, kalau kau nak kompromi, baik kau bagi kitorang Penawar dari Cecair penghilang ingatan yang kamu suntikkan dekat Tuan besar. Tak kan lah kau tak nak bagi kami Penawar tu?"
"Penawar?" Syrena tertawa geli mendengar permintaan Imran yang terdengar naif baginya. "Kau kata Penawar? Entah. Saya tak tahu. Cuma Rosaline je yang tahu kat mana dia simpan Cecair Penawar tu. Dan seperti yang kau dah tahu, dia sudah tiada. Takde harapan buat Tuan Duta kau ni pulih balik, ehehe…"
"Korang ni memang kejam!" Tukas MechaBot murka. "Takde ampun buat kamu! TEMBAKAN PEMUSNAH! HIAAAHHHH!"
BLAAAASSSSHHH!
Tembakan pemusnah milik MechaBot menarget Syrena. Wanita Siren itu segera mengantisipasi tembakan yang bisa menggorengnya hidup-hidup itu dengan menciptakan dimensi air di lantai yang tengah dipijaknya. Dengan cekatan ia pun berenang turun ke dimensi air itu, membuat tembakan pemusnah dari bazooka MechaBot melewati kepalanya dan malah menembus dinding buntu lorong itu, menciptakan lubang besar disana.
"Ehehe, tak kena!" ledek sang Siren. "Sayang sekali, Tuan Mech… engkau terlampau marah sehingga tak boleh berpikir jernih. Ah, ya. Saya rasa peran saya disini sudah tamat. Tapi jangan risau. Kami ONION masih ada rancangan B, jadi jangan terlampau awal buat selebrasi ye. Jumpa lagi!"
Dibenamkannya kepalanya ke dimensi air di lantai itu, menghilang dari hadapan Imran dan MechaBot. MechaBot mendecih kesal. Nyaris saja tembakannya mengenai Siren itu. Seandainya tembakan itu kena, maka MechaBot yakin Syrena sudah berubah menjadi Siren goreng sedari tadi.
"Tuan besar!" Imran segera berlutut di samping Amato yang masih pingsan. Ditekannya urat arteri di leher Amato menggunakan jari telunjuk dan jari tengah. Begitu ia merasakan detak disana, Imran menghembuskan nafas lega.
"Alhamdulillah, dia masih hidup," tukasnya senang. "Detak nadi dia masih ada, walaupun lemah. MechaBot, tolong bantu aku hentikan pendarahan kat lengan Tuan besar. Tak baik darah dia jadi terbiar."
"Okey," tanggap MechaBot segera, walaupun ia masih kesal karena tidak berhasil menghentikan Syrena. Disingkapnya lengan kanan jas Amato, menyobek perban yang disodorkan Imran dan membalut luka bekas gigitan Piranha modifikasi milik Syrena disana. Imran melakukan hal yang yang sama pada luka di lengan kiri Amato. Setelah sukses membalut luka-luka di tubuh Amato, Imran menyampirkan lengan kanan Amato di bahunya dan memegang pinggang pria itu, menggotongnya menuju pintu.
"Jom, MechaBot. Kita bawa Tuan besar keluar dari sini. Udara basement tak elok buat kita, apatah lagi buat orang pengsan."
MechaBot mengangguk. Ia terbang mengekori Imran dan Amato keluar dari ruang bawah tanah gedung serbaguna. Ketika tengah mengekori mereka, MechaBot tiba-tiba bergumam,
"Imran, kau tahu tak apa yang Syrena maksud sebagai rancangan B tadi?"
Mendengar pertanyaan Sfera Kuasa generasi keenam itu, Imran tertegun sembari terus berjalan menggotong tubuh lunglai Amato menuju pintu keluar. "Menurut hemat aku, rancangan B mereka ialah rancangan pengganti rancangan Bom mereka yang gagal. Tuan besar dah deactive-kan Bom itu tadi, jadi mahu tak mahu ONION pon bertukar kat rancangan B. Entah apa yang diorang nak buat guna rancangan B diorang tu."
"Nampaknya apa yang kamu cakap tu ada betulnya jugak," tukas MechaBot lesu. "Semoga mereka tak buat rancangan B mereka lagi teruk dari sebelumny-"
Kalimatnya terputus begitu ia dan Imran berhasil membawa Amato keluar dari ruang bawah tanah gedung serbaguna. Sebuah bayangan besar menaungi gedung itu. Pesawat-pesawat angkasa ONION mengepung gedung, membuat MechaBot dan Imran memandang ke arah Pesawat-pesawat angkasa itu dengan tatapan horor.
"Tak… Tak mungkin…"
Di atas Pesawat angkasa ONION yang paling besar, tampak Azurian Faust berdiri di anjungan Pesawat itu. dicengkeramnya bagian bawah dadanya yang masih sakit akibat tendangan telak Amato yang dialamatkan pada rusuknya beberapa saat yang lalu. Namun cederanya itu tidak menghalangi tekadnya untuk memimpin komando. Dengan wajah sadis ia pun berseru.
"Askar ONION, mulakan Operasi Death List 2.0.!"
Amato merasa dunia di sekelilingnya berputar. Pemandangan di sekelilingnya terlihat pudar. Perutnya terasa mual.
Apa yang sedang terjadi?
Pria itu merasa dadanya menyentuh permukaan tanah yang keras. Amato meringis. Tubuhnya terasa ngilu. Dilihatnya tanah dimana ia tertelungkup itu.
Batako merah.
Amato ingat, Kota kecil tempat tinggalnya dulu rata-rata memakai batako merah untuk menutupi jalan-jalan, terutama jalan yang menuju alun-alun. Benar saja. Pria itu mendapati dirinya berada di pertigaan jalan dimana ia melawan robot-robot jahat saat ia masih remaja cilik dulu, termasuk robot Sumorai yang sebenarnya bukan termasuk komplotan robot jahat sepenuhnya. Apa dia sedang berada di masa lalu? Ataukah ini hanya semacam halusinasi?
"Kenapa, Har? Kenapa kau buat semua ni?"
Amato tertegun mendengar suara familiar itu. Ia memalingkan wajah ke arah pertigaan dimana kedua sosok anak laki-laki tengah berkonflik retorika. Suara yang tadi didengarnya berasal dari anak laki-laki berarmor merah pemberian Sfera Kuasa keenam: MechaBot. Anak itu adalah Amato cilik. Air mata mengalir deras dari kedua pelupuk mata anak itu. Tangan kanannya mencengkeram bahu kirinya yang tampak memar. Amato terenyuh melihat sosok remajanya yang tersiksa. Hendak dirangkulnya diri remaja ciliknya, namun entah kenapa tubuhnya tidak bisa bergerak, seakan dipaksa terpaku ditempat.
Amato lalu menoleh ke anak laki-laki yang satunya lagi. Seorang anak laki-laki berkacamata, berambut belang hitam putih layaknya Sigung dan berpakaian serba coklat moka. Beberapa cakar robot berukuran besar mengelilingi anak itu bak ular. Ia mengenakan cincin telekinetic nano ring di tangan kanannya yang menggenggam sebuah Pistol Desert Eagle berwarna hitam dan perak. Ayah BoBoiBoy memandang anak berkacamata itu dengan tatapan lesu. Kini ia teringat, ia dan salah seorang teman lamanya pernah beradu retorika disini, tepat setelah keduanya menyerang secara fisik satu sama lain.
Anak berkacamata itu adalah Haryan cilik. Dia dan Amato berumur sebaya. Hanya saja kejadian-kejadian mengerikan dan menyedihkan melanglang buana diantara mereka dan teman-teman mereka, membuat kedua sahabat itu berbeda pandangan konflik, berseteru dan akhirnya menjadi musuh ketar satu sama lain hingga beranjak dewasa.
"Kamu ni memang tak faham-faham lagi, Amato. Dunia ini terlampau kejam. Tiada harapan buat baik kembali."
"Kau salah, Haryan…"
"Makhluk hidup ditakdirkan buat membinasakan diri mereka sendiri."
"Berhenti…."
"Awal kita tiada, akhir pun jadi tiada."
"Berhenti aku kata!"
"Kalau kau masih nak cuba hentikan aku, baik kau jadi musuh aku mulai saat ini."
"Kau kawan baik aku, Har… Aku… Aku tak nak kau bertukar tebiat macam ni. Sedarlah!"
Amato melihat konflik retorika kedua anak itu. Ia tertegun. Tanpa terasa air matanya mengalir deras.
Ini mimpi buruk. Benar-benar mimpi buruk.
Ia gagal menghentikan temannya itu, apatah lagi menyadarkannya. Bahkan sampai kematiannya pun ia gagal menyadarkannya. Dan penyesalan itu akan selalu menghantuinya
Tubuhnya terhuyung, tidak kuat lagi menopang badai penyesalan yang melanda sanubarinya. Detik berikutnya Amato terduduk di atas jalan batako merah, memeluk dirinya sendiri sembari terisak-isak.
"Maafkan aku, Har… maafkan aku…"
Bersambung...
[1] Triad (Mandarin: 三合会; Tradisional: 三合會; pinyin: Sānhéhuì) adalah sebuah organisasi kriminal etnis Tionghoa yang berbasis di Hong Kong, Macau, Tiongkok Daratan, dan di negara-negara dengan populasi etnis Tionghoa yang besar seperti Malaysia, Singapura, Taiwan, Amerika Serikat, Inggris dan Kanada. Semula bernama Tian Di Hui (Langit, Bumi, dan Manusia). Didirikan sekitar tahun 1760-an, dengan tujuan menumbangkan kekaisaran Manchu era Dinasti Qing dan merestorasi peraturan Han di Tiongkok. Dinasti Qing tumbang pada 1911. Komunitas yang awalnya bersifat patriotis ini kemudian berubah menjadi tak terarah yang mengakibatkan organisasi ini tidak terlibat dan tak ikut menikmati kemajuan Tiongkok. Mereka lalu menjadi marah dan depresi, tetapi tak mampu mengubah jalan hidup pemberontak yang mendarah daging selama dua abad lebih. Akhirnya mereka berkembang menjadi organisasi kriminal bawah tanah. Inilah awal mulanya TRIAD yang kita kenal dewasa ini. Saat ini posisi Triad lebih mirip seperti organisasi bisnis. Interaksi antar kekuatan geng Triad di Tiongkok daratan, Taiwan, Macau, dan Hongkong tidak menghindar dari perhatian pihak berwenang setempat, tetapi justru mendapat banyak keuntungan. Pasar terbesar saat ini berada di Tiongkok daratan, dan mereka sangat berorientasi pada bisnis. Mereka mengejar uang dalam jumlah besar melalui jalan apapun. (Wikipedia)
Author sebenarnya merasa agak riskan membuat Amato dkk pernah berkonflik kecil dengan Triad, berhubung Triad adalah salah satu Organisasi Kriminal berbahaya di dunia nyata. Tapi Author mengusahakan membuat referensi mereka lebih ke ranah fiksi kriminal karena mereka lumayan berpengaruh dalam konflik Amato dkk kelak di fanfic prekuel untuk Mechamato, Insha Allah. Oh, dan jika berminat, silahkan beri review ya ^^
Tetap setia menunggu kelanjutannya, ya. Love you all, dear readers :)
