Kelas Online

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Di sebuah ruangan, tampak seorang pria berkemeja hijau. Rambutnya disanggul dengan rapi, namun penutup matanya membuatnya tampak aneh. Meskipun demikian, ia terbiasa dengan penampilan itu. Meskipun demikian, ia adalah guru yang sangat dihormati di Akademi Ninja Konoha. Aburame Shino adalah nama dari pria itu.

Pada hari itu, ia tidak mengajar di akademi. Pertandingan berkelompok semalam merusak bangunan akademi, sehingga harus direnovasi. Akibatnya, akademi ditutup hingga renovasi selesai. Apa boleh buat, ia memutuskan untuk mengajar dari rumah. Ia juga telah menghubungi semua orangtua murid bahwa pembelajaran akan dilaksanakan secara online mulai hari itu.

Ia pun membuka aplikasi yang ia gunakan untuk mengajar online. Begitu ia membuka aplikasi itu, layar laptopnya menunjukkan wajah seorang anak perempuan berambut hitam. Tidak ketinggalan kacamata dan qipao merahnya. Uchiha Sarada. Murid paling disiplin di akademi.

"Selamat pagi, Shino-sensei," sapa Sarada.

"Pagi, Sarada," sapa Shino.

Tak lama kemudian, muncul layar dengan wajah seorang anak laki-laki. Ia juga berambut hitam dan berkacamata. Hanya saja, ia memakai baju biru. Kaminarimon Denki. Murid paling jago teknologi di akademi. Kemudian, layar lain muncul dan tampak wajah seorang perempuan berambut ungu. Rambut panjangnya dikepang dua. Kakei Sumire. Sang ketua kelas.

"Selamat pagi, Sensei," sapa kedua anak itu.

"Selamat pagi," sapa Shino, "Hubungi teman kalian yang belum masuk ya. Kelas akan dimulai sepuluh menit lagi."

"Baik," sahut Sarada, Denki, dan Sumire.

Beberapa saat kemudian, layar yang terlihat di laptop Shino bertambah banyak. Di antara mereka, Shino memperhatikan mereka yang bertindak mencolok. Ada Yamanaka Inojin yang sedang menggambar, Nara Shikadai yang menguap berkali-kali, Akimichi Chocho yang menatap layar sambil memakan keripik kentang, bahkan Metal Lee yang bisa-bisanya latihan taijutsu di depan layar laptopnya.

"Ya ampun, bisa-bisanya mereka," desah Shino dalam hati.

Jujur saja, angkatan yang ia didik tahun ini berpotensi menjadi lulusan terbaik. Banyak muridnya yang menguasai jutsu orang tua mereka. Namun, angkatan itu juga yang paling banyak menimbulkan masalah. Terutama putra Hokage, Uzumaki Boruto. Setiap hari, selalu ada saja kenakalan dan kehebohan yang ia buat.

"Uzumaki Boruto, tunggu?" tanya Shino dalam hati.

Pandangan Shino menscan semua murid yang terlihat di hadapannya. Keturunan Uzumaki-Hyuga itu masih tidak terlihat. Shino lalu memeriksa siapa saja yang belum hadir selain Boruto. Tidak ada lagi. Tinggal Boruto saja yang belum masuk. Ia melihat ke arah jam yang ditampilkan di laptopnya. Sudah jam sembilan pagi. Apa boleh buat, ia harus memulai kelas tanpa Boruto.

"Kelas hari ini kita mulai," ucapnya dengan tegas.

"Baik, Sensei," semua murid mengiyakan.

Sambil mencari materi yang akan ia bagikan, ia dapat melihat semua murid membuka buku catatan masing-masing. Sekali lagi ia mencari Boruto, tetapi anak itu masih belum muncul. Apa boleh buat, kelas harus tetap berlanjut tanpanya. Disiplin harus ditegakkan pada siapa saja, bahkan putra Hokage sekalipun.

"Hari ini kita akan mempelajari elemen-elemen pada ninjutsu. Ada lima elemen, yaitu Katon, Suiton, Doton, Futon, dan Raiton. Katon adalah…" tutur Shino.

"Maaf, Shino-senseiiiiiii. Saya terlambattttt!" seru seseorang yang mengagetkannya.

Shino melihat ke layarnya. Ternyata, Boruto telah muncul dengan wajah mengantuk. Latar di sekeliling wajah anak itu menunjukkan tempat tidur yang belum dirapikan. Dalam hatinya, Shino menebak. Jangan-jangan, anak itu baru bangun tidur.

"Boruto, mengapa kamu terlambat?" tanya Shino.

"Saya bangun kesiangan, Sensei. Dan saya dimarahi Ibu," keluh Boruto.

"Sebagai hukuman, kamu harus mencatat materi hari ini sebanyak lima set."

"Hoam.. Iya, Sensei."

Boruto mengambil buku catatannya dengan malas. Shino yang melihatnya hanya bisa mengelus dadanya. Anak itu selalu saja tidak beres.

"Katon adalah jutsu yang memiliki elemen api," sambung Shino.

Tiba-tiba, layar Mitsuki hilang dari pandangan Shino.

"Oi, Mitsuki!" teriak Boruto.

"Jangan ribut, Baka! Ini di kelas!" bentak Sarada sambil menunjukkan kepalan tangannya. Bisa-bisa, dia memberikan tinjuan virtual.

"Ke mana Mitsuki?" tanya Chocho.

"Entahlah," komentar Inojin.

"Hoam.. Merepotkan," keluh Shikadai.

Anak-anak lain juga mulai ribut.

"Apa yang terjadi pada Mitsuki?" tanya Metal.

"Entahlah, ia tidak ada di laptopku," jawab Wasabi.

"Aku juga tidak bisa melihatnya di laptopku," sambung Denki.

"Aku juga," Iwabe setuju.

"Aaaa…. Bagaimana ini?" tanya Sumire yang mulai panik.

"Firasatku tidak enak," keluh Namida.

Shino memegang kepalanya. Ia pusing mendengar keributan dari murid-muridnya.

"Semuanya diam!" serunya.

Tidak ada lagi yang bersuara. Untunglah, Mitsuki kembali muncul di layar.

"Maaf, Sensei. Tadi laptop saya mati karena habis baterai. Sekarang lagi dicas," ucap Mitsuki.

"Baiklah. Tidak apa-apa, Mitsuki," Shino memaklumi alasan dari anak berambut biru itu, "Sekarang kita lanjutkan pelajaran."

Semua murid kembali serius.

"Berikut adalah gerakan tangan untuk membuat katon," ucap Shino sambil memperlihatkan sebuah video.

"…" semua murid memperhatikan.

"Anak-anak suka menonton. Kalau begini, pasti tidak ribut lagi," pikir Shino.

"Piiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii" sebuah suara melengking terdengar.

"Waduh, jangan-jangan.." pikir Shino.

Shino menghentikan videonya sejenak. Suara itu tetap ada.

"Tidak mungkin laptopku mengeluarkan suara seperti ini," pikirnya.

"Oi, suara apa itu?" tanya Boruto.

"Ada air mendidih yang dimasak di teko," jawab Mitsuki.

"Kenapa tidak dimatikan?" tanya Inojin.

"Sarada, apa suaranya dari kamu?" lanjut Chocho.

"Layar Sarada ada highlightnya, artinya memang dari dia," sambung Denki.

Shino melihat Sarada yang melihat ke samping, sementara layar Sarada tetap dihighlight. Artinya suara air mendidih itu dari dia.

"Ya ampun! Permisi Sensei," seru Sarada dengan tiba-tiba, kemudian ia tidak ada di layarnya. Hanya dinding yang terlihat.

Shino tidak bisa memarahi keteledoran Sarada. Apalagi, kedua orangtua anak itu sibuk dan jarang di rumah. Ayahnya masih menjalankan misi, sedangkan ibunya sibuk bekerja di rumah sakit. Kalau anak itu tetap di rumah, ia pasti sendirian. Saat itu juga, Sarada kembali terlihat di layarnya.

"Maaf, Sensei. Saya lupa kalau saya masak air," desah satu-satunya anak bermarga Uchiha itu.

"Tidak apa-apa," balas Shino.

Pemutaran video pun dilanjutkan, begitu juga dengan materi berikutnya. Tidak ada masalah ataupun keributan hingga sepuluh menit kemudian. Shino merasa lega.

"Berikutnya, Doton. Doton adalah jutsu yang memiliki elemen tanah," sambung Shino.

Shino tidak bisa lega lama-lama. Ia kemudian mendengar suara kunyahan yang renyah. Tanpa bertanya, ia sudah tahu siapa pelakunya. Tidak lain lagi. Akimichi Chocho. Muridnya ini sangat suka memakan keripik kentang. Baru saja ia hendak menegurnya, tetapi…

"Chocho, jangan ikut kelas sambil makan keripik!" larang seorang wanita yang merampas keripik kentang dari tangan Chocho.

"Tante Karui galak juga ya," desah Boruto.

"Ibu.. Tanpa keripik aku tidak bisa hidup," keluh Chocho lebay.

"Dasar gendut," ejek Inojin.

"Oh, Mama!" seru Choji, ayah Chocho,"Jangan galak-galak dong. Chocho bisa bertindak kok."

"Kamu terlalu memanjakannya, tahu," bentak Karui.

Chocho melihat ke kanan atas.

"Iya, Ibu.. maaf," desahnya, kemudian melihat ke arah layar,"Maaf, Sensei.. saya kebiasaan.."

"Lain kali jangan makan keripik saat kelas online lagi ya," tegur Shino.

"Baik, Sensei," desah Chocho.

Setelah gangguan yang kesekian kalinya, kelas berlanjut lagi. Shino dapat menyampaikan materinya tanpa hambatan apapun hingga lima belas menit kemudian.

"Yang terakhir adalah Raiton. Raiton merupakan jutsu.."

Shino belum selesai berbicara. Tiba-tiba terdengar sebuah suara bentakan. Baik Shino maupun anak-anak dapat mendengarnya dengan sangat jelas.

"Anata, apa-apaan ini?!" bentak seorang wanita.

"Tante Ino?" tanya Chocho.

"Justru aku yang harus bertanya," sahut seorang pria.

"Apa yang terjadi, dattebasa?" tanya Boruto.

"Hmm.." Mitsuki terdiam. Ia memutuskan untuk menyimak.

"Padahal aku sengaja mengalah! Aku izinkan anak kita kuasai Choju Giga dulu!" suara Ino, ibu Inojin, meninggi.

"Aku juga! Aku mengalah supaya marganya ikut marga kamu," Sai, ayah Inojin, tak mau kalah.

"Tapi dia masih belum belajar jutsuku!" sahut Ino.

"Inojin, abaikan saja," hibur Sarada.

Inojin yang mendengar pertengkaran kedua orangtuanya merasa malu.

"Maaf, Sensei," desahnya,"Saya akan pindah ke tempat yang lebih sepi."

"Ya ampun! Inojin? Kamu ada kelas online?" tanya Ino yang terlihat sebagian di layar. Sai juga terlihat.

"Seharusnya Ibu dan Ayah perhatikan sekeliling dong," sindir Inojin sambil menjauh dari kedua orangtuanya,"Aku pindah."

Orangtua Inojin tiba-tiba bertengkar saat kelas online berlangsung. Meskipun itu merupakan gangguan di kelasnya, Shino tidak bisa menyalahkan masalah keluarga. Sementara itu, Inojin yang awalnya mengikuti kelas online di ruang keluarga pindah ke kamarnya.

"Saya sudah pindah, Sensei," Inojin memberitahukan.

Shino melanjutkan penjelasannya hingga selesai.

"Akhirnya aku bisa selesaikan materi ini," pikirnya yang lega, kemudian bertanya pada semua murid,"Ada pertanyaan?"

Tidak ada yang bertanya.

"Kalau begitu, pelajaran teori hari ini.."

Tiba-tiba, terdengar lagi suara bentakan.

"Shikadai!" bentak seorang wanita,"Dasar! Berani-beraninya kamu tidur selama kelas online!"

"I…ibu!" Shikadai terkejut.

Layar Shikadai kemudian terlihat. Awalnya hanya terlihat dinding bergambar rusa. Tiba-tiba, semua melihat Shikadai yang melayang karena terkena kibasan kipas raksasa.

"Aaaaaaaa!" teriak putra dari tangan kanan Hokage itu.

Bantal, guling, dan tilam Shikadai juga ikut melayang. Semua anak yang melihatnya langsung merasa ngeri. Mereka bertambah ngeri ketika mendengar suara robekan dinding.

"Semengerikan itukah ibu Shikadai?" tanya Mitsuki.

"Tante Temari benar-benar mengerikan, dattebasa," desah Boruto yang ketakutan.

"Shikadai yang malang," desah Sarada.

"Yah, dia diterbangkan lagi oleh kipas raksasa Tante Temari," komentar Inojin.

"Dan dia pasti mengucapkan kata 'merepotkan' lagi," tebak Chocho.

Shino menggeleng-gelengkan kepalanya. Dari awal hingga akhir, selalu ada saja masalah yang terjadi selama kelas online.

"Ini benar-benar menyusahkan," desahnya.