Kelas Online : Setelah Kelas
Disclaimer : Masashi Kishimoto dan Mikio Ikemoto
...
Pada hari itu, anak-anak tidak diberikan PR, kecuali Boruto yang dihukum menyalin materi lima set karena terlambat masuk. Sambil mengerjakan 'hukuman'nya, Boruto mengeluh.
"Tanganku pegal sekali.. Rasanya mau putus, dattebasa!" umpatnya.
Tiba-tiba, ada seekor ular putih. Ular itu merayap di meja Boruto. Boruto mengenal ular itu. Milik Mitsuki.
"Boruto, jangan lupa masuk ke Kamoon. Jam tiga sore," suara Mitsuki terdengar melalui ular itu.
"Iya.." ucapnya.
"Id dan password sudah dikirim ke emailmu."
"Ok. Makasih, Mitsuki."
Boruto teringat. Kamoon adalah aplikasi yang dikembangkan oleh Perusahaan Kaminarimon. Awalnya, aplikasi itu digunakan para pekerja untuk mengikuti rapat virtual. Namun, aplikasi itu juga digunakan Boruto untuk mengikuti kelas online tadi pagi. Kali ini, aplikasi itu juga digunakan untuk nongkrong online.
Boruto menyimpan kertas yang ia gunakan, sementara ular itu pergi dari kamar Boruto melalui jendela.
"Hukuman itu nanti saja baru dikerjakan," ucapnya menganggap enteng,"toh nantinya selesai juga."
Sementara itu, Shikadai sedang bertelengkup di kamarnya. Lukanya baru selesai diobati. Ia teringat ketika ibunya menangkap basah dirinya yang tidur saat kelas online. Ia tidak menduga kalau ibunya tega menerbangkannya dengan kipas raksasa. Angin dari kipas itu benar-benar kencang. Shikadai terlempar jauh, kemudian terjatuh ke dalam semak berduri. Badan dan lengannya terluka akibat tertusuk duri. "Merepotkan.. nasibku benar-benar sial hari ini," keluhnya dalam hati. "Makanya, lain kali jangan tidur di kelas online lagi!" bentak Temari, ibu Shikadai, sambil menyimpan obat, pinset, dan kapas.
"Iya, Ibu.." ucapnya yang lalu berpikir,"Merepotkan.."
Shikadai tidak berani mengeluh terang-terangan karena ada ibunya di depannya. Bisa-bisa, ia tidak diberi makan malam karena berkata 'merepotkan'. Setelah ibunya meninggalkannya, ia ingin berbaring. Namun, ia teringat dengan luka di sekujur badannya itu.
"Merepotkan.. Luka ini membuatku tidak bisa berbaring.." desahnya.
Tak lama kemudian, Temari kembali lagi.
"Shikadai?!" panggilnya.
Shikadai bangkit dari tempat tidurnya.
"Tadi Inojin telepon. Jangan lupa masuk ke Kamoon. Jam tiga. Id dan password sudah dikirim ke emailmu."
"Iya, Ibu."
"Jangan ketiduran lagi ya!"
"Iya, Ibu."
Di sisi lain, Inojin sebagai host dari nongkrong online memilih untuk memulai nongkrong onlinenya di kamarnya. Ia tidak mau nongkrong onlinenya terganggu seperti tadi. Sudah cukup ia menanggung malu karena teman-teman dan gurunya mendengarkan pertengkaran kedua orangtuanya. Inojin melihat ke arah jam dinding. Jam tiga. Ia menyalakan laptopnya, kemudian membuka aplikasi Kamoon. "Yosh.. Id dan password sudah kusebar.. Tinggal tunggu mereka masuk," ucapnya.
Begitu Inojin masuk, ternyata sudah ada Sarada dan Chocho. "Hai, Inojin," sapa mereka berdua.
"Cepat juga kalian masuk," ucap Inojin.
"Aku semangat saat mau nongkrong online. Nih kusiapkan banyak keripik," balas Chocho sambil menunjukkan beberapa bungkus keripik.
"Dasar gendut!" ejek Inojin.
"Kalau bukan Chocho yang ajak, sebenarnya aku tidak mau ikut," timpal Sarada.
"Begitu ya," Inojin berkata,"Sudah kuduga."
Beberapa saat kemudian, masuklah Boruto dan Mitsuki. Mereka berdua masuk secara bersamaan.
"Hai, semuanya!" sorak Boruto dengan berisik.
"Kamu terlalu berisik, Baka!" seru Sarada.
"Halo," sapa Mitsuki sambil tersenyum.
"Hai, Boruto, Mitsuki," sapa Inojin.
"Mau keripik?" tanya Chocho sambil membuka bungkus keripiknya.
"Gendut, mana bisa mereka ambil keripiknya! Ini kan nongkrong online," tegur Inojin.
"Hm.. benar juga ya. Ya sudahlah, kumakan sendiri," desah Chocho.
Tak lama kemudian, masuklah Shikadai. Hanya kepalanya yang muncul. Tentu saja, karena ia masih bertelengkup.
"Oah.. merepotkan.." keluhnya.
"Shikadai, kamu baik-baik saja?" tanya Chocho.
"Aku takut saat melihatmu diterbangkan Tante Temari," sambung Boruto. "Seharusnya kamu tidak tidur di kelas online," tegur Inojin.
"Aku tahu itu.. Merepotkan.. Punggungku luka semua.." desah Shikadai.
"Semoga cepat sembuh, Shikadai," Sarada mendoakan.
Tiba-tiba, Temari muncul juga di layar Shikadai. Boruto jelas ketakutan.
"Halo, Tante Temari.." sapa kelima teman Shikadai.
"Kupikir kalian ada kelas online lagi.. ternyata cuma mengobrol ya.." ucap Temari.
"Hehehe.. Iya, Tante.." tawa Inojin.
"Kalau begitu, nikmati waktu kalian," Temari tersenyum, namun berubah galak saat melihat ke arah Shikadai,"Meskipun cuma ngobrol, awas kalau kamu ketiduran lagi!"
Temari meninggalkan layar.
"Ibu galak itu merepotkan," keluh Shikadai ketika ibunya tidak lagi di kamarnya.
"Betul," Chocho mengiyakan.
"Kalau itu aku setuju," ucap Inojin.
"Aku juga. Apalagi ibuku punya Byakugan, dattebasa," sambung Boruto.
"Makanya jadi anak baik," timpal Sarada. Selain pintar, anak itu tidak pernah membuat masalah.
"Aku setuju dengan Sarada," ucap Mitsuki.
Mitsuki lalu teringat Boruto yang terkena hukuman.
"Boruto, apa hukumanmu sudah selesai?" tanyanya.
"Belum, nanti saja baru kukerjakan. Tanganku sudah mau putus," keluhnya.
"Apa saja yang kamu buat sampai kamu terlambat?" tanya Chocho.
"Aku kesiangan dan dimarahi Ibu," jawab Boruto.
"Ibumu masih mending. Dia tidak punya kipas raksasa," komentar Shikadai.
"Aku tidak bisa bayangkan kalau Tante Hinata juga galak seperti Tante Temari," sambung Sarada.
"Jangan! Itu mengerikan, dattebasa," cegah Boruto.
"Tapi Ibu seperti itu bagus untukmu loh," sindir Inojin. Setidaknya, Boruto tidak akan sering mengacau kalau ibunya segalak Temari.
Berbicara tentang Ibu, Sarada sedikit sedih.
"Bersyukurlah kalian kalau Ibu kalian sering di rumah. Ibuku sibuk bekerja tahu," ucapnya.
"Hm.. Iya juga sih.." Chocho berpikir sejenak,"Eh, Sarada. Jadi tadi kamu sendirian di rumah?"
"Begitulah," jawab Sarada.
"Pantas saja kamu lupa matikan kompor! Hahaha!" tawa Boruto.
"Tidak lucu," Sarada setengah membentak.
"Kupikir sendirian itu juga merepotkan," komentar Shikadai.
"Tapi sendirian itu mengasyikkan juga," bantah Mitsuki.
"Kalau aku sendirian, aku akan habiskan semua cemilanku sepuasnya," sambung Chocho.
Inojin pun langsung menyindir Chocho.
"Dasar, sendirian atau tidak, kamu pasti tetap ngemil juga. Toh kamu ngemil di kelas online," sindirnya.
"Ngemil itu hidupku, tahu!" seru Chocho.
"Penyakitmu semakin memburuk," ledek Mitsuki.
Chocho adalah anak yang santai, sehingga ia tidak tersinggung. Sementara itu, Sarada melihat langit yang mendung. Ia pun teringat dengan jemurannya. "Terima kasih, semuanya. Aku duluan yah," ucapnya.
"Yah.. Kok Sarada cepat keluar sih? Enggak asyik dong.." keluh Chocho.
"Aku harus menyimpan jemuran. Langit sudah mendung," jawabnya. "Aku juga.. aku ingin tidur.. Hoam.." keluh Shikadai.
"Aku akan bermain dengan Himawari," ucap Boruto.
Tiba-tiba, terdengar suara Karui, ibu Chocho.
"Chocho.. Apa kalian sudah selesai? Ibu mau pakai laptopnya," tanya Karui.
"Sebentar lagi, Ibu," jawab Chocho.
"Ya sudah, kalau begitu Ibu rapat online pakai HP," jawab Karui lalu pergi. "Apaaaa? Rapat onlineeeeee?" tanya Boruto. Kalau bukan nongkrong online, bisa-bisa pecah gendang telinga teman-temannya.
"Baka, tidak sopan teriak terus," tegur Sarada yang batal keluar karena mendengar ada rapat online. "Seriusan nih?" tanya Inojin.
Baru saja Inojin bertanya, ia mendengar suara ibunya.
"Inojin.. Sudah selesai ngerumpinya?" tanya ibunya.
"Ibu membuatku malu lagi," jawab Inojin.
"Ibu mau pinjam laptopmu buat rapat online. Sebentar lagi dimulai."
"Rapat online?"
"Bukan hanya ibu Chocho tapi ibu Inojin juga?" tanya Mitsuki.
"Merepotkan, sebentar lagi ibuku pasti.." tebak Shikadai.
"Shikadai!" panggil Temari.
"Tuh, kan. Sudah kuduga," desah Shikadai.
Temari mendekatkan wajahnya ke layar laptop Shikadai. "Kalian masih nongkrong?" tanyanya.
"Begitulah.." jawab Shikadai.
"Ibu hitung sampai tiga, kamu harus leave meeting. Satu… dua…." "Iya, Ibu. Merepotkan."
"Berhenti mengeluh. Kamu juga harus istirahat karena lukamu!"
"Iya, Ibu."
Shikadai pun menghilang dari layar Kamoon. Entah berapa kata merepotkan yang keluar dari mulutnya pada hari itu. Akan tetapi, ia tidak sendirian. Inojin juga dipaksa ibunya. "Inojin.. Kamu juga.. ayo end meeting.." suruh Ino. Ekspresinya ikut berubah, mengintimidasi siapapun yang melihatnya.
"Ah.. iya, Bu.." jawab Inojin.
Terpaksa, Inojin end meeting. Layar yang awalnya memunculkan wajah anak-anak pun menghilang. Mitsuki memandang layar laptopnya dengan kebingungan. Ia mengingat Inojin dan Shikadai yang dipaksa keluar oleh ibu masing-masing.
"Semengerikan itukah seorang ibu?" tanyanya.
Meskipun nongkrong online itu berakhir dengan terpaksa, Mitsuki sangat menikmatinya. Ia tidak banyak berbicara, namun kehadiran Boruto membuatnya merasa lebih baik. Dimatikan laptopnya, kemudian dipandangnya langit berawan abu. "Sarada benar. Langitnya mendung," pikirnya.
Sementara itu, Sarada lega saat nongkrong online selesai. Setelah mematikan laptopnya, ia melesat ke halaman belakang. Untunglah, hujan belum turun. Dengan cepat, ia mengambil jemurannya. "Sebelum hujan turun, aku harus cepat," gumam Sarada.
Berkat latihannya, Sarada dapat mengambil semua jemuran tepat pada waktunya. Ketika ia kembali ke dalam rumah, hujan langsung turun. "Fyuh… Hampir saja.." ucapnya.
Sarada melihat ke arah jam dinding. Jam setengah empat. Ia memutuskan untuk bersantai sambil membaca novel.
Sementara itu, apa yang dilakukan Chocho? Tidak diceritakan pun semuanya pasti tahu. Ia sedang mengunyah keripik kentang kesukaannya, tidak peduli apakah cuacanya cerah atau hujan. Ia begitu senang karena memakan cemilan kesukaannya. Apalagi, ia memakannya sambil menonton drama romansa!
