Perkara Karung

Naruto (c) Masashi Kishimoto

Story by Chesee-ssu

Rate T

Tak ada keuntungan apapun dalam pembuatan fanfiksi ini kecuali kepuasan batin.


Happy reading ...


Ino menatap dua karung besar yang menyender mesra di samping rak sepatu pintu masuk. Matanya meneliti sedari tadi, seingatnya ketika ia pergi tak ada yang karung-karung besar ini. Siapa yang membawanya? Ino merasa tak pernah memberikan kunci flatnya pada siapapun.

Astaga, apakah penguntit?

Ino segera mengeluarkan semprotan cabai dari tasnya. Dengan langkah hati-hati ia memindai lorong. Kalau tiba-tiba penguntitnya muncul tiba-tiba, semprotan cabai akan menyambutnya dengan mesra.

"Loh, Ino su—ARGHH! MATAKUUUU!"

Ino ikut memekik dan membuang semprotan cabai ke sembarang arah. Dengan segera ia dekati lelaki berambut cokelat yang masih guling-guling di lantai akibat semprotan cabainya. Ino duduk dan mendekati si lelaki dengan wajah panik.

"AAA, MAAF SAYANG, KUKIRA PENGUNTIT. AKAN KUBAWAKAN AIR."

Ino segera melesat menuju kamar mandi. Sementara Kiba masih meraung-raung dan rentetan makian keluar dengan lancar.

Kadang Ino lupa kalau ia sudah punya suami.

Xxx

Ino menatap karung-karung yang masih bersender di lemari sepatu mereka. Setelah drama semprotan cabai tidak jelas itu selesai, kini ia memandangi karung-karung itu bagaikan alien. Kiba yang habis mandi berjalan di lorong sembari mengeringkan rambut. Langkahnya terhenti ketika matanya menangkap Ino yang berdiri di bibir pintu ruang tengah. Ia tersenyum, langkahnya berbelok mendekati si pirang.

"Kenapa melotot begitu?"

Ino terlonjak, ia memukul lengan suaminya. "Kebiasaan. Kaumau aku sakit jantung?"

"Hush, jangan bicara sembarangan."

Bola mata kebiruan Ino bergulir, melirik Kiba. "Jadi ... bisa jelaskan itu apa?"

Kiba kini menoleh menatap kedua karung yang ia bawa. Senyum terulas. "Itu dari Gaara. Ingat kan aku pergi ke Suna untuk perjalanan dinas? Ya, kami bertemu."

Mata Ino melotot. "Gaara ... yang punya perusahaan pasir?" matanya makin melotot ketika Kiba mengangguk. "Goblok! Ngapain kaubawa karung pasir, woi! Buat apaaaa?"

Kiba cengengesan melihat istrinya mulai marah. "Ya, mau bagaimana lagi. Dia kerjasama dengan kantorku, masa kutolak?" mata biru Ino masih mengeluarkan kobar api, Kiba makin panik, "tapi tenang saja, kok. Satu karung lagi isinya kacang dan kerupuk dari ... In ... In ..."

"India? Indonesia?"

Wajah Kiba seketika cerah. "Ah, iya, itu. Indonesia."

Ino menghela napas, tangannya bersedekap di dada. "Okelah kalau soal kerupuk dan kacang. Terus, pasir ini mau kita apakan? Duh, kenapa tidak kautolak saja, sih?"

"Buat pupnya Akamaru saja."

"Akamaru kan dirawat ibumu, Sayang," Ino menghela napas, "sudahlah, nanti saja kupikirkan. Kaumau makan apa?"

"Baru menawariku makan malam-malam, hm ... sungguh istri yang baik," Kiba mengalungkan handuknya di leher sang istrinya, ia menarik wanitanya mendekat. Ketika keduanya saling tatap, Kiba menyeringai. "I want your belly*."

Wajah istrinya merona. Ia menggendong istrinya dan tak memedulikan teriakan dan tawa wanitanya.

Xxx

Kiba terbangun saat merasakan Ino tak ada di sisinya.

Sang lelaki segera duduk dan menyipitkan mata. Ia mengucek matanya, lalu segera menapakkan kaki pada ubin kamar. Ke luar dari kamar, ia disambut Ino yang sedang berada di dapur. Senyumnya terbit seketika. Ia menghampiri Ino dan memeluknya dari belakang.

"Pagi," ujar Kiba sembari membenamkan wajah di persimpangan leher wanitanya, menikmati aroma tubuh yang sewangi bunga di taman. Ino tak membalas, tapi sebelah tangannya mengelus rambut Kiba, walau sasaran yang ia elus malah telinganya.

Sang lelaki kemudian menempatkan kepalanya di bahu Ino, menatap wajan yang berisi pasir. Ia menoleh, menatap Ino penuh tanya. "Kaumasih marah karena aku membawakan pasir sekarung?"

Ino mengedip, menatap Kiba heran. "Tidak."

"Terus kenapa malah masak pasir? Bahkan alien pun nggak makan pasir."

Tawa Ino lepas. "Oh, astaga," ujar sang gadis, "ini buat masak kacang dan kerupuk. Aku lihat di internet pasir bisa dipakai untuk memasak kacang dan kerupuk. Well, di internet bilangnya di sangrai, sih."

Kiba ber-oh ria. Ia melepas pelukannya. Kini ia melangkah ke meja makan dan mengambil gelas dan teko.

"Kalau kaumau kacang goreng biasa, di toples, ya," Kiba melirik toples bening didekatnya, tangannya mengambil toples dan memakan kacang di dalamnya.

"Enak. Istriku memang luar biasa."

Ino tertawa. "Tumben sekali aku mendengarmu memujiku."

"Yah ... habis, kaumemang luar biasa," ujar Kiba, "cantik, baik, dokter di rumah sakit ... lalu pintar. Aku saja tidak kepikiran pasirnya mau diapakan, tapi kau ... kaubisa berpikir dengan secepat itu. Kadang aku minder punya istri semenakjubkan dirimu."

Ino menghentikan aktivitas memasaknya, ia segera mendekati Kiba sembari membawa piring berisi kacang. Ia mengambil kursi dan duduk di samping Kiba.

"Kauitu bicara apa, sih. Sudah jadi suamiku juga, kenapa mesti minder," Ino menyodorkan kacang sangrai dan diambil beberapa oleh Kiba. Ucapan, "enak," membuat si rambut pirang kembali tersenyum.

"Ini baru pertama kan, kau masak begini?" Ino mengangguk, "Gila! Aku dulu pasti orang baik soalnya punya istri sempurna begini."

"Tentu kau orang baik. Kalau kau kriminal mana mau aku menikahimu."

"Sayanggg!"

Keduanya saling terkekeh. Mereka berdua menikmati pagi dengan sepiring kacang sangrai sembari berbincang hangat.

Ah, bahkan tanaman-tanaman yang berada di flat mereka merona melihat kemesraan mereka.


a.n: saya bingung mau bilang apa, wkwkw. Ini idenya dadakan, saya cuma mau ramein event aja, semoga suka, ya! ^^ btw i want your belly artinya wanna have s#x with you.