REASON
.
.
Sekarang mereka sudah menjejaki tahun kedua di UA. Bukan lagi kelas 1-A melainkan 2-A
Predikat kelas 'cari mati' mungkin akan terus menuai panggilan baru kedepannya.
Karena satu tahun yang mereka lewatkan bersama bisa dibilang seperti kembali dari ujian masuk hari itu, yang mulai mengarahkan mereka pada pengalaman hidup – mati – hidup.
Gila.
Satu kata inilah yang sebenarnya mendeskripsikan setengah perjalanan mereka saat menjadi seorang pahlawan nanti. Tidak terhitung lagi berapa banyak mereka berdarah – darah, berurai air mata, menghadapkan diri di ujung tebing curam seakan bisa mati dimana dan kapan saja.
Midoriya Izuku sejak pertama kali melangkahkan kakinya di UA, dirinya tahu bahwa Ia telah bersiap menjadi pahlawan untuk mimpinya, untuk harapan orang – orang disekitarnya. Tidak pernah berubah bahkan ketika mimpinya hampir sepenuhnya hancur oleh dunia di masa kecilnya. Rapuh dan menyedihkan.
Dirinya bukan seorang pendendam. Tentu saja. Jika iya, maka seandainya Ia di hadapkan pada situasi seorang pembunuh masuk ke dalam rumahnya, mungkin Ia akan dendam pada dunia, pada guru yang tidak menghiraukannya, pada teman – teman yang membullynya—
—pada Kacchan yang tidak lagi menjadi temannya.
Midoriya menghela napas setelah menahannya karena kegugupan yang di landa beberapa menit lalu di depan pintu masuk sekolah. Ya, dirinya yang seperti ini tidak pernah berubah. Seperti sebuah tradisi memasuki tahun-ajaran-baru-yang-pasti-penuh-jeritan yang sudah siap menunggunya saat masuk.
"Minggir nerd "
Ya. Satu hal ini pun tidak berubah.
Namun bedanya Midoriya tidak akan terlalu berjengit ketakutan seperti tahun pertamanya atau seperti tahun tahun dimana Ia selalu diperlakukan.
Midoriya menggeser tubuhnya sedikit dari pintu kelas sehingga Ia tidak menghalangi jalan masuk pemuda eksplosif itu.
"Ah, um...maaf Kacchan" suaranya pelan namun tidak bergetar.
"Cih, sebaiknya kau tidak merusak moodku pagi-pagi begini, Deku sialan."
Bakugou melanjutkan langkahnya setelah melempar glare mematikan pada Midoriya di belakangnya.
Midoriya tidak tahu harus menjawab apa—lebih tepatnya Ia sepenuhnya sadar bahwa hal tersebut bukan untuk dirinya menjawab.
Karena kalimat itu sudah seperti peringatan.
Midoriya sepertinya akan banyak menghela napas hari ini. Sungguh, belum setengah hari, oh tidak, BAHKAN belum juga dirinya memasuki kelas, sudah ada kejadian bertemu Kacchan yang seperti itu.
Terlebih lagi padanya.
Memang hubungan mereka bisa di bilang...lebih baik? Tidak tahu juga sebenarnya apa yang dapat menggambarkan hubungannya dengan Kacchan. Pemuda pirang itu masih saja mengucapkan kata – kata yang menyakitkan, tapi tidak juga mengancam. Sepertinya hubungan mereka bisa dikatakan sebagai rival dilihat dari persaingan 'sehat' mereka ketika berlatih bahkan dalam hal akademik. Tentu saja hal tersebut tidak terang terangan di ungkapkan satu sama lain, apalagi oleh pemuda dengan quirk ledakan itu.
Midoriya pun tidak dapat mengakuinya secara sepihak, namun tidak dapat dipungkiri jika Ia ingin menganggapnya seperti itu. Setidanya pemuda dengan rambut sewarna daun pohon teduh itu ingin sedikit memberi title pada hubungan mereka yang tidak karuan ini.
Menggelengkan kepalanya. Midoriya berusaha untuk tidak terlalu ambil pusing. Akhirnya Ia membuka pintu kelas (yang menyebalkan karena Kacchan kembali menutupnya setelah masuk tadi) dan berseru riang.
"Selamat pagi semua!"
"Selamat pagi Midoriya-kun!"
"Pagi Deku-kun!"
Tersenyum. Dengan langkah pasti Ia melangkah masuk ke dalam kelas.
Setidaknya, sekarang, Midoriya dapat merasakah bahwa dunia tidak lagi melihatnya hancur
seperti dulu.
.
.
- AFRAID - OF - YOU -
.
.
Bakugou Katsuki tidak pernah–tidak mau– berpikir bahwa dirinya sejajar dengan yang lain. Maka ketika Ia lulus dari SMP sampah itu, maupun sekarang ketika menapaki kaki di UA, Ia akan bertarung seperti biasa.
Tinggi dan angkuh.
Sejak kecil, Bakugou sudah mendapatkan apa yang diinginkan. Tanpa meminta. Tanpa mengulas belas kasihan. Hal itu lah yang membuatnya mulai berpikir untuk menjadi orang yang kuat tanpa bantuan orang lain.
Karena Bakugou Katsuki memiliki apa yang tidak mereka miliki.
Mereka yang berpikir dirinya lebih hebat dari Katsuki.
Mereka yang dengan sombongnya berdiri lebih tinggi dari Katsuki.
Dan mereka yang dengan naifnya bersikap baik-baik saja di depan Katsuki.
Mereka yang seperti Deku.
Quirkless Izuku.
Tidak berguna, tapi berusaha untuk membuatnya lebih hebat, lebih tinggi, naif.
Karena Katsuki memiliki apa yang Izuku tidak miliki. Karena Katsuki lebih hebat dari Izuku. Karena Katsuki bisa melakukan apapun sendiri tanpa Izuku. Karena itu Katsuki menyebutnya Deku. Tidak berguna, tidak dibutuhkan, tidak bisa melakukan apa-apa. Seharusnya dia tahu, seharusnya dia sadar, bahkan sebelum menginjak umur 4 tahun, lama dari itu—
—mimpinya sudah hancur.
KAU TIDAK BISA JADI PAHLAWAN
MENYERAH SAJA
TOLONG
LIHAT KENYATAAN
Apa yang harus Ia lakukan agar si bodoh itu mengerti? Sudah di hajar pun masih belum mengerti?
"Kacchan...tolong berhenti...kalau tidak,"
Tubuh kecil Izuku bergetar sambil mengepalkan kedua tangannya di depan dada. Air mata terus mengalir dari manik hijau besarnya. Tidak diragukan lagi, rasa takut tengah menyelimuti tubuh yang lebih pendek dari Katsuki itu.
Katsuki yang berdiri di depannya, mengarahkan salah satu telapak tangannya di depan Izuku. Ada letupan – letupan kecil dari quirk miliknya yang mulai berkembang.
"Kalau tidak, apa?"
"BAKUGOU AWAS!"
Bakugou Katsuki mengalihkan pandangannya pada sebuah bangunan rubuh yang jatuh di atas kepalanya.
"SIALAAANNN!" Bakugou dengan cepat mengarahkan ledakan besar pada bangunan rubuh itu, sehingga tersisa puing-puingnya yang hancur tersebar akibat ledakan yang diluncurkannya.
"Oi Rambut Sialan! Laporkan situasi dis–"
Manik merahnya terbelalak saat musuh yang harusnya tidak berjarak dekat dengannya tiba-tiba muncul di depan matanya.
"Teralihkan?"
Tendangan keras dirasakan Bakugou tepat di dada.
"AKHH!" Bakugou terpental jauh ke belakang, darah mendesak keluar dari mulutnya. Tubuhnya akhirnya terbentur tembok bangunan di belakangnya akibat tendangan tersebut. Nafasnya tersengal, lagi, darah kembali keluar dari mulutnya sehingga kali ini Bakugou sampai terbatuk.
"Tidak bisa melakukan apa-apa lagi, hm?" seorang pria berjubah hitam dengan luka di wajahnya menyeringai, seolah mengejek pemuda beberapa meter di depannya yang terlihat mengenaskan.
"Heh...tidak bisa ... melakukan...apa-apa...katamu?"
Bagukou membalas menyeringai, di sekanya darah di bibir. Tubuh yang mau tidak mau Ia akui sudah mulai melemah, di tegakkan kembali. Letupan – letupan api di kedua telapak tangannya kembali siap di arahkan pada pria berjubah di hadapannya.
Wajahnya terangkat. Manik merahnya memincing tajam.
Seketika Bagukou sudah berlari dengan cepat menuju pria tersebut, tanggannya sudah siap melayangkan ledakan ke hadapan musuh.
"SEKARANG SIAPA YANG TIDAK BISA MELAKUKAN APA APA SIALAAANN!"
"A-apa yan–"
Suara ledakan yang sangat besar pun terdengar.
Kepulan asap dan debu menghalangi pandang.
"Kalau tidak, apa?"
Katsuki memandang dengan ekspresi gelap di wajahnya. Izuku membuka mulutnya yang bergetar,
"K-kalau tidak...aku tidak akan memafkanmu Kacchan!
Aku...tidak takut padamu!"
Efek dari ledakan tersebut sudah cukup untuk membuat musuhnya terpental jauh dan sudah dipastikan tidak bisa lagi bergerak.
Itu yang Bakugou pikir.
Telat menyadarinya, salah satu tangan pria yang sudah terbaring tak berdaya di tanah itu terjulur kearah samping badannya. Tiba-tiba beberapa bola hitam kecil keluar dari sekujur tangan pria tersebut, warnanya semakin pekat. Ada pun kabut hitam aneh yang menyelimuti di sekitarnya.
"Kalau aku tidak bisa membunuhmu...mungkin... aku bisa membunuh tekadmu sebagai pahlawan!"
Bakugou menggertakan giginya saat tahu tujuan dari pria itu dan dengan segera berlari secepat yang Ia bisa.
"BERANINYA KAU BRENGSEKK!"
Quirk pria itu di lepaskan. Bola-bola hitam tadi dengan cepat meluncur searah dengan tangan pria itu terjulur. Ternyata, Bakugou tidak menyadari bahwa di reruntuhan bangunan di dekatnya, ada seorang wanita paruh baya yang bersembunyi melindungi dirinya dari serangan Bakugou saat melawan musuh.
Wanita paruh baya itu terdiam kaku saat tahu ada sesuatu yang mengarah kepadanya. Panik melanda dan tanpa sadar rasa panik itu membuat adrenalinnya terpacu sehingga–
"MATI KAUUUU!"
–quirk miliknya terlepas bersamaan dengan Bakugou yang mengahalau serangan musuh dengan ledakan.
Hal tersebut menimbulkan efek yang besar sehingga tubuh Bakugou itu terpental bersama wanita paruh baya yang di selamatkannya.
"Kacchan! Uraraka-san quirkmu!"
Bakugou tidak tahu apa yang terjadi setelahnya. Tubuhnya tiba-tiba terasa ringan. Seperti mengapung di air yang tenang. Ah, sejak kapan matanya terpejam. Jika seperti ini... dirinya akan kembali teringat.
.
.
- AFRAID - OF - YOU -
.
.
Katsuki menyadari ada alasan yang jauh lebih dalam dari alasan Ia membully Izuku karena si bodoh itu tidak memiliki quirk
Katsuki mengakui ada alasan yang jauh lebih dalam dari alasan Ia membenci Deku ketika menghajar pemuda dengan bitnik di wajahnya itu ketika bilang ingin masuk ke UA
Seharusnya, saat itu, Katsuki sadar mau bagaimana dirinya menyuruh Midoriya melompat dari atap sekalipun, dirinya akan tetap di hantui satu alasan yang sama
"Kau takut pada Midoriya Izuku, karena itu kau menyebutnya Deku agar dia tidak bisa merangkak naik, lebih jauh melebihi dirimu, Katsuki."
.
.
Bakugou Katsuki membuka matanya seketika.
.
.
.
- TO - BE - CONTINUE -
AN : First story with my dekuboi and katsuboi :'D Ok soooo, saya udah lama gak nulis dan ya SAYA MAU CURHAT DIKIT bisa bisanya akun yang dulu gak bisa masuk gara gara salah password hahaha stupid me ;)) seperti yang sudah dilihat...SAYA LAGI MELLOW BANGET SAMA DUA BOCAH INI. Akhirnya terlahir lah fic dengan genre yang... ugh not my thing... tapi saya hanya bisa membayangkan mereka seperti ini, I'm so sorry baby, yeah not you Katsuki shut up.
Okee sekali lagi saya udah lama gak nulis jadi bisa dibilang diri ini sekarang masih terbilang belajar untuk merangkai kalimat serta kata per kata yang sudah mulai memudar /bacoth
Jadiii maafkan kalau ada kesalahan di fic ini, kalau ada ranjau typo dll kritik, saran dan dukungan kalian sangat berarti dan saya terima dengan senang hati tentunya saya juga akan berusaha agar fic ini bisa berjalan dengan lancar tanpa hambatan apapun :*
.
.
SARANI MUKŌ E
PLUS ULTRA!
SEE YOU NEXT CHAP
