Aku tahu ini gila, tapi bukankah hidup cuma satu kali?
Sakura Haruno meneguk ludah dan mengisi formulir di depannya dengan gerakan lambat. Pria di depannya sudah memandanginya selama kurang lebih lima menit karena ia tidak selesai-selesai mengisikan data dirinya sendiri. Sakura menggigit bibirnya sendiri, tiba-tiba ragu apakah tindakan ini benar atau tidak.
"Mmm… begini," ujar Sakura halus, nada suaranya sedikit bergetar. "Apa boleh aku membawa formulirnya pulang—"
"Kenapa? Kalau memang belum mau mendaftar, lebih baik tidak perlu kemari."
Sakura tercekat dan menyadari matanya mulai berair. Ingin sekali ia melempar kertas itu ke wajah orang di depannya dan lari secepat mungkin dari tempat ini, tapi ia yakin ia akan menjadi pengecut besar setelah melakukan itu. Sakura menarik nafas dalam-dalam, pada akhirnya tidak menanggapi dan memutuskan untuk mengisi lengkap formulir di depannya.
"Lama sekali." Cibir orang di depannya. "Tunai atau tidak?"
"…debit—"
"Empat ribu yen."
Sakura mengeluarkan dompetnya dan menyerahkan sebuah kartu berwarna abu-abu ke arah orang itu. Dengan gerakan kasar, kartunya diambil begitu saja dan tulisan bahwa empat ribu yen telah didebit dari kartunya terpampang besar-besar di layar. Sakura menerima kartunya kembali dan memasukkannya ke dalam dompet.
"Ingin mulai kapan?" tanyanya, nadanya masih ketus.
Orang ini benci sekali pada pekerjaannya, huh? Pikir Sakura dalam hati.
"Hei?"
"B-besok." Jawab Sakura cepat-cepat. "Aku hanya perlu datang dan—"
"Datang pukul empat kurang lima belas untuk melakukan persiapan awal, langsung pergi ke ruang A untuk berganti pakaian." Ujar orang di depannya, terlihat bahwa ia sudah menjawab pertanyaan yang sama berulang kali.
Sakura mengangguk-angguk dan memberikan senyuman tipisnya. "Baiklah… terima kasih."
Tidak ada jawaban yang diberikan oleh orang itu. Sakura berjalan keluar dari sana dan terdiam selama beberapa saat sesegera setelah kakinya menginjak jalan di luar gedung. Ia menarik nafas dalam-dalam dan menyadari kalau ia menangis setelahnya.
"Oh, Sakura!"
Seorang gadis berambut pirang setengah berlari dan menghampirinya. Ino Yamanaka menarik Sakura untuk menjauh dari tempat itu dengan tatapan khawatir. Ino membawanya masuk ke sebuah salon dan mendudukkan Sakura di salah satu kursi yang ada disana.
"Kau tidak jadi mendaftar?"
"Tidak, aku sudah mendaftar…" ujar Sakura sambil sesenggukan. "Hanya saja Kakak itu benar-benar menyeramkan…"
"Apa kubilang, aku saja yang mendaftarkanmu!" ujar Ino sambil melirik gedung tadi yang berada tepat di depan salon tempat mereka berada. "Kau tahu sendiri dia selalu menggerutu tiap keluar dari tempat itu. Lagipula, aku benar-benar tidak menyangka kau akan serius mendaftar kelas itu, Sakura. Maksudku, lihat dirimu sekarang."
Sakura mengikuti perintah Ino dan memperhatikan dirinya sendiri lewat kaca besar yang ada di depan mereka. Rambut merah mudanya tertata rapi dengan ikalan mempesona dibagian bawah, wajah dengan riasan lengkap—jangan lupakan eyelashes extension barunya—dan juga sweater putih pas badan yang membalut tubuhnya.
Dengan kata lain, ia akan langsung terbunuh hidup-hidup di kelas bela diri itu.
"Cinta sesaatmu benar-benar membutakan, aku tidak mengerti lagi harus bersikap seperti apa pada dirimu." Ujar Ino sambil menghela nafas. Ia bangkit berdiri dan membereskan berbagai gunting yang ada di salah satu meja. "Bagaimana kalau ternyata Hatake-san yang kau sukai itu memiliki sikap yang buruk? Atau ternyata dia sudah mempunyai istri? Atau ternyata dia menyukai laki-laki?"
Sakura menggelengkan kepalanya pelan. "Apapun itu aku akan menghargainya… aku hanya ingin mencoba terlebih dahulu."
"Ya, ketika ternyata ia benar-benar sudah mempunyai seorang istri, kau akan terjebak disana dan dibanting berkali-kali diatas matras." Ujar Ino sambil berlalu.
Sakura menatap gedung dengan tulisan NIKKO besar-besar tersebut dan menghela nafas. Pikirannya kembali ke peristiwa tiga tahun lalu.
.
.
Hari itu adalah hari yang sangat penting bagi Sakura. Ia memakai baju keberuntungannya dan ia datang sepuluh menit lebih awal dari waktu yang dijanjikan. Wanita berambut hitam yang ia temui beberapa hari lalu terlihat sedang serius memotong rambut seorang pelanggan, sementara tidak jauh dari sana, seorang gadis berambut pirang tengah melayani seseorang di konter nail art.
Sakura mendorong pintu di depannya dan memberikan senyuman terbaiknya.
"Selamat sore…"
"Hai. Sakura? Cepat sekali."
Warna beige mendominasi ruangan tersebut. Sakura duduk di salah satu kursi yang ada disana, memperhatikan bagaimana Kurenai Yuhi dengan terampil memotong rambut orang di depannya. Lagu jazz lembut mengalun memenuhi ruangan, sementara aroma lavender menguar dari humidifier yang terletak di meja sudut.
Kurenai menyelesaikan pekerjaannya setengah jam kemudian dan tersenyum pada pelanggan tersebut ketika ia melangkah keluar dari salon. Gadis pirang tadi juga menyusul lima menit setelahnya, menyisakan mereka bertiga di dalam ruangan tersebut.
"Jadi," ujar Kurenai, menarik sebuah kursi dan duduk tepat di hadapan Sakura. "Apa yang kau lakukan sekarang, Sakura?"
"A-ku?"
"Ya."
"Aku… seorang mahasiswa di Universitas Tokyo." Jawab Sakura pelan.
"Lalu kenapa kau ingin bekerja disini?"
"Karena aku menyukainya…" lanjut Sakura, matanya sedikit berkilat saat menjawab.
Kurenai memperhatikan Sakura. Penampilan gadis itu sangat rapi dan feminin—ia menangkap beberapa buku yang menyembul dari dalam tas yang dibawa gadis itu.
"Mahasiswa kedokteran?"
Sakura memperhatikan arah mata Kurenai dan tersenyum malu. "Ah, iya…"
Kurenai tidak bertanya lagi setelahnya. Ia mengucapkan salam selamat datang pada Sakura dan mengajarinya beberapa hal dasar untuk dapat bekerja di salonnya. Setiap hari setelahnya, Sakura akan datang tepat jam tiga sore dan kembali belajar dari Kurenai. Barulah dua bulan setelah pelajaran setiap harinya, Sakura mendapatkan tugas pertamanya.
Menggunting rambut.
Saat itu pukul delapan malam dan hujan tidak berhenti mengguyur kota Tokyo sedari pagi. Bau tanah basah memenuhi seluruh distrik tersebut dan hanya ada sedikit orang yang datang ke salon. Sakura sedang bersiap untuk membersihkan segala peralatan memotong rambut saat matanya menangkap sesosok laki-laki di seberang jalan.
Ia keluar setelah mematikan lampu dan berjalan lurus ke arah salon. Sakura berdiri saat laki-laki itu masuk ke dalam, kemejanya sedikit basah karena ia menembus hujan hanya bermodalkan jaket parasut besar.
Saat itulah ia merasakan jantungnya berdetak tidak karuan. Meskipun jantungnya jelas-jelas merusak hasil kerja tangannya setengah jam kemudian, laki-laki itu sama sekali tidak marah. Ia tersenyum dan pergi dari sana setelah membayar, setelah sebelumnya mengatakan, 'sampai bertemu esok hari'.
Sebulan setelahnya, Sakura mendapatkannya—nama laki-laki itu.
Kakashi Hatake.
.
.
Sakura tersenyum ke arah Ino dan keluar dari salon. Hari ini adalah hari yang sangat bersejarah—pada akhirnya ia berani untuk memberikan perkembangan pada perasaannya sendiri—dan ia sudah sampai di depan gedung NIKKO tepat pukul empat kurang dua puluh. Sakura menarik nafas dalam-dalam dan pada akhirnya melangkah masuk.
"Cepat sekali. Wajar saja, anak baru."
Sakura mengangkat kepala dan memberikan senyumannya.
"Kakak selalu menyenangkan… seperti biasanya."
"Hei, apa maksud kata-katamu itu?!"
Sakura cepat-cepat berlalu dan meninggalkan orang itu sendirian di ruang tunggu. Kakinya melangkah masuk ke sebuah ruangan dengan tulisan A besar-besar di daun pintu. Di hadapannya, lusinan seragam tergantung dengan rapi dalam berbagai ukuran. Sakura meletakkan tasnya yang ada disana dan meraih salah satu seragam.
"Yang itu terlalu besar."
Deg
Sakura merasakan jantungnya berdebar tidak karuan. Ia mengenal suara ini. Dengan gerakan pelan dan ragu-ragu, gadis itu memutar tubuhnya, memfokuskan pandangannya pada seorang pria yang baru saja masuk ke dalam ruang A.
Kakashi Hatake… ujarnya dalam hati, terkejut.
Kakashi memberikan senyum ke arahnya dan menarik sebuah seragam yang berada tidak jauh dari tempat mereka berdiri sekarang. Ia menarik seragam yang Sakura pegang dan menggantinya dengan satu set seragam berukuran lebih kecil.
"Kau baru mendaftar?"
"I-iya."
"Sudah tiga tahun bekerja bersama Kurenai, kenapa baru sekarang mendaftar kelas?" tanya Kakashi lembut. Sakura benar-benar tidak karuan dibuatnya. Meskipun suara orang di depannya berat dan dalam, hatinya benar-benar merasa senang dan tenang saat mendengarnya. Ia mengerjapkan mata beberapa kali saat menyadari dirinya mematung.
"Terima kasih." Ujar Sakura pelan tanpa menjawab pertanyaan Kakashi sebelumnya. Ia berjalan ke salah satu bilik ganti di dekat situ dan memakai gi yang diberikan Kakashi tadi. Lewat cermin besar di depannya, ia menatap dirinya sendiri dalam balutan gi berwarna putih. Kenapa ketika berdekatan dengan Kakashi ia malah seperti orang bodoh begini?
"Bersikaplah seperti biasa, akan rugi malah jika kau membuat suasana tidak nyaman." Gumam Sakura pada diri sendiri, mengingat tempatnya bekerja dan tempat pelatihan ini adalah tetangga. "Kau hanya perlu tersenyum sopan saat melihatnya…"
Sakura sudah mempersiapkan senyuman terbaiknya, namun lututnya tiba-tiba lunglai ketika melihat punggung telanjang Kakashi dari belakang. Pria itu sudah mengenakan celana gi-nya yang berwarna putih, namun tangannya masih sibuk mengibaskan atasan ginya dan tidak menyadari kalau ada Sakura di belakangnya.
Kakashi sepertinya mendengar suara-suara dari belakangnya dan ia berhenti sejenak.
Tidak, jangan berputar!
"Huh? Kau tidak apa-apa?"
Kedua mata Sakura bagai ditodong oleh senter besar-besar. Sakura menutup matanya dan berusaha tersenyum.
Sial, tepat seperti yang kubayangkan.
Sakura menutup matanya selama beberapa saat sebelum akhirnya membuka mereka kembali. Kakashi sudah memakai bajunya dengan lengkap sekarang, sebuah sabuk hitam terpasang gagah di pinggang pria itu.
Pintu ruangan terbuka dan beberapa orang mulai masuk ke dalam dan mengambil seragam-seragam yang tergantung. Sakura menghela nafas lega, memperhatikan Kakashi yang keluar dari ruangan dengan menyempatkan diri menyapa beberapa orang yang disana.
Mereka semua berkumpul di ruang B setelahnya, sebuah aula besar dengan matras lebar di bagian tengah. Sakura mengikuti orang di sekelilingnya—membungkukkan tubuh dalam-dalam sebelum mengambil posisi untuk duduk disana. Ia memperhatikan Kakashi duduk di bagian depan dan pria itu sedang memperhatikan mereka semua dengan senyuman terkembang.
"Seperti biasa, satu jam akan kita isi dengan latihan rutin." Ujar Kakashi. Suaranya terdengar sangat berwibawa dan semua orang disana memandangnya dengan tatapan kagum—tidak terkecuali Sakura—. "Dan kau, newbie."
Sakura merasa dirinya terpanggil. Ia bertatapan mata dengan Kakashi dan hatinya berhenti berdetak selama beberapa saat ketika melihat senyuman pria itu.
"Perhatikan semuanya dengan baik."
Sakura adalah anak satu-satunya dari pasangan suami istri yang terlambat memiliki keturunan. Ibunya berusia empat puluh dua tahun saat Sakura lahir, dan sejak enam tahun sebelumnya, wanita itu divonis mandul oleh beberapa dokter kandungan yang ia datangi bersama suaminya. Ketika Sakura lahir, mereka berdua berjanji akan memberikan apapun untuk gadis itu meski dengan kondisi ekonomi yang biasa-biasa saja—Sakura masuk ke sekolah negeri terbaik di distrik mereka dan mereka berhasil mengirim Sakura untuk kuliah kedokteran di ibu kota.
Saat mengetahui bahwa ia memiliki perasaan khusus pada dunia yang berbeda—make up, nail art, bahkan modelling—, Sakura tahu bahwa hal itu hanya akan menghancurkan ekspektasi besar orang tuanya akan dirinya. Ia berusaha untuk menekuni hobinya itu diam-diam dengan mendaftar kerja pada salon Kurenai tanpa meminta izin orang tuanya. Tentu saja sulit, karena ia masih harus menjalani masa residen di rumah sakit universitasnya pada waktu yang bersamaan.
Meskipun jalan yang dibuka oleh orang tuanya dan keinginannya bertolak belakang, Sakura tidak pernah menyesali apapun yang sudah terjadi pada hidupnya sampai sejauh ini. Setidaknya, sebelum ia menyadari kalau mengikuti kelas aikido adalah kesalahan terbesarnya dalam hidup.
Ia tidak pernah mengapat nilai 8 dalam pelajaran olah raga—tubuhnya sangat mudah memar, lembek seperti buah persik.
Matanya melebar memperhatikan orang-orang di depannya yang dengan mudah melakukan roll depan. Belum sempat keterkejutannya hilang, tubuhnya tersentak kaget saat orang-orang tersebut juga mulai membanting dirinya sendiri. Dua kali, demi Tuhan. Satu persatu orang dengan berbagai usia membanting dirinya sendiri di tengah matras, menimbulkan bunyi nyaring aduan matras dengan punggung memenuhi ruangan.
Sudah dipastikan tubuhku akan biru-biru, pikir Sakura lemas. Tidak ada yang boleh disesali, Sakura! Tentu saja ini semua tidak akan terjadi kalau kau berani mengajak Kakashi Hatake untuk minum kopi!
Latihan rutin yang berlangsung selama satu jam cukup membuat Sakura berkeringat—meskipun ia tidak melakukan apa-apa. Setelahnya, ketika mereka semua sudah duduk kembali dengan rapi di atas matras, Sakura dapat merasakan kalau ruangan ini mulai memanas akibat energi yang dikeluarkan oleh seluruh orang disini.
"Baiklah, seperti biasa, cari pasangan kalian." Ujar Kakashi. Nyaris semua orang segera berdiri dan bergabung menjadi satu tim dengan dua orang di dalamnya. "Perlakukan satu sama lain dengan hormat. Newbie, kau bersamaku."
Sakura tidak tahu apakah ia harus merasa senang atau takut. Dengan langkah berat, ia berjalan menghampiri Kakashi.
"Karena tadi kau hanya mengobservasi, lebih baik kita melakukan peregangan terlebih dahulu." Ujar Kakashi sambil mengisyaratkan Sakura untuk duduk di depannya. Ia menirukan gerakan Kakashi dan meraih ibu jari kakinya dengan tangan, namun rasa sakit tidak tertahankan di bawah lutut membuat Sakura meringis dan melipat kaki kembali.
"Tidak apa-apa, bulan depan kau akan bisa melakukannya tanpa masalah."
Kakashi kembali membantunya melakukan gerakan-gerakan peregangan. Sekolah menengah adalah saat-saat terakhirnya berolahraga dengan serius, setelahnya ia hanya melakukan senam zumba asal-asalan bersama Ino di mall-mall besar setiap dua minggu sekali. Sakura menghela nafas dan duduk di atas matras, pikirannya terbagi antara denyutan di bawah lututnya dan wajah Kakashi yang benar-benar memesona.
"Kau bisa roll depan?" tanya Kakashi.
Sakura menggeleng. Sebuah senyuman tidak enak muncul di wajahnya.
"Biasakan untuk menjawabku." Ujar Kakashi, mengisyaratkan Sakura untuk bertumpu pada kedua lututnya. "Sekarang coba roll depan. Sejauh yang kau bisa."
"A-aku—"
"Coba."
Sakura menelan ludah dan menatap matras kosong di depannya. Ia mengambil posisi untuk melakukan roll depan, menarik nafas, dan melakukan segala arahan guru olah raga sekolahnya dulu sejauh yang ia ingat. Tubuhnya berguling dengan sempurna dan Sakura merasa hebat. Ia tersenyum cerah ke arah Kakashi yang berada di sampingnya.
…atau, yang seharusnya berada di sampingnya. Kakashi terlihat ada di belakangnya, ekspresinya datar.
Sial, memalukan sekali, pikir Sakura saat menyadari kalau ia berguling ke samping.
"Baiklah, kesalahannya cukup sederhana. Sikap siap." Ujar Kakashi. Sakura menegakkan tubuh dan memasang sikap siap, memperhatikan pria itu yang sekarang sudah kembali berada di sampingnya. "Tempelkan dagumu dengan lehermu dan lihat apapun yang berada diantara kedua kakimu. Sampai disini mengerti?"
"Ya…" jawab Sakura takut-takut. "Sensei."
"Jangan tumpukan berat tubuhmu pada kepala, kau bisa mematahkan lehermu."
Sakura tiba-tiba merasa lemas dan ia jatuh kesamping. Dia tidak berbohong saat bilang kalau olahraga bukanlah mata pelajaran favoritnya. Gadis itu cepat-cepat duduk dan memandang Kakashi dengan ekspresi takut.
"M-maaf, tapi aku tidak bisa." Ujarnya lirih. "Tubuhku sangat kaku—"
"Itu karena kau takut. Semua orang bisa melakukannya." Kata Kakashi. Nadanya menenangkan, Sakura tidak mendengar adanya ejekan dari kata-kata Kakashi.
Ia masih ingat ketika guru olahraganya dulu memakinya karena ia tidak bisa melakukan roll depan dan seisi kelas menertawainya. Sakura memandang sekeliling, memandang orang-orang yang bahkan tidak memperhatikannya. Mereka sibuk satu sama lain melakukan pelatihan. Seorang gadis menolehnya dan memberikan senyuman menenangkan, membuat hati Sakura sedikit lega.
"Siapa namamu?"
"Sakura… Haruno."
"Baiklah, Haruno. Dengarkan aku," ujar Kakashi. Sakura mencoba untuk menahan wajahnya untuk tidak memerah karena jari kaki mereka bersentuhan sekarang. "Kau tentu tahu apa yang akan kau hadapi disini, 'kan? Kau akan dibanting, dikunci, dilempar… bahkan sangat mungkin tertendang dengan keras. Tapi pada akhirnya, kau akan sadar bahwa hal-hal tadi bukanlah apa-apa."
Sakura sadar bahwa ia hampir menangis sekarang. Tidak hanya itu, semakin ia tatap lekat-lekat wajah tampan di depannya, jantungnya semakin berdebar tidak karuan.
"Karena itu kau harus membiarkanku melatihmu dengan benar. Untuk dapat melakukannya, kau harus membuka diri terlebih dahulu." Kakashi menarik tangan Sakura untuk berdiri, lalu tersenyum kecil. "Lemaskan tanganmu dan percaya padaku. Jangan berteriak."
"Apa?"
Sakura menatap Kakashi dengan bingung. Belum sempat ia mencerna kata-kata Kakashi, ia merasa tangannya ditahan oleh pria itu dan tubuhnya dibanting dengan mudah oleh Kakashi ke atas matras.
Ya. Ia dibanting oleh orang yang disukainya.
"HuaaaaaAAAAAAAAAA!"
Tentu saja Sakura berteriak. Air mata gadis itu tumpah membasahi pipinya yang sudah merona sejak tadi, dan ia menatap Kakashi dengan pandangan tidak percaya. Meskipun ia tidak dibanting sekeras orang lain, namun ia tetap saja merasa sangat kaget dan takut. Kakashi menatapnya dengan tatapan bingung—pria itu cepat-cepat berlutut disampingnya dan menyentuh pundaknya.
"Apa kau terluka?"
Apa kau terluka? APA KAU TERLUKA? Jerit Sakura tidak terima dalam hati. Gadis itu duduk dan memandang orang-orang yang berkumpul di sekitarnya, lalu menggeleng pelan. Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan dan berlalu dari ruang B. Kakinya melangkah gontai memasuki ruang A, menjatuhkan dirinya di atas salah satu kursi, dan melanjutkan tangisannya.
Ia kira ia sudah menjadi lebih baik. Ternyata sama saja. Ia masih seorang pengecut yang bahkan menangis tanpa alasan.
Sakura menarik tasnya dari dalam loker dan berjalan keluar dari ruang tersebut. Ia tidak menanggapi tawa dan cibiran sinis dari laki-laki yang menjaga konter administrasi dan berjalan menyebrangi jalan kecil tersebut. Dengan lemas ia mendorong pintu salon, duduk di sofa tunggu dan memandang Ino dengan sayu.
"Kukira setidaknya kau akan bertahan sampai kelas selesai…" ujar Ino prihatin.
Sakura menggeleng dan menutup wajahnya.
"Rasanya aku ingin pergi jauh dari sini saja…"
.
.
Sakura berhasil melewati dua minggu pertamanya di kelas aikido tanpa tangisan—kecuali di hari pertama. Sayangnya, ia masih belum bisa melakukan roll depan. Hal terbaik yang bisa ia gapai hanyalah berguling dengan beberapa derajat condong ke kiri. Meskipun begitu, ia sudah berusaha mati-matian untuk tidak menangis lagi menghadapi kelas tersebut.
Setiap hari Sakura akan mengikuti latihan rutin kelas tersebut, pernapasan, peregangan, membanting diri sendiri ke matras—Sakura berusaha mati-matian untuk melakukannya dengan benar, namun ia selalu merasa bodoh setelahnya—, dan juga memukul dan menendang udara—membuatnya jatuh berkali-kali dan terbanting ke matras, jauh lebih keras dibandingkan saat ia membanting diri sendiri—.
Meskipun Sakura merasa dirinya sangat bodoh dan tidak berpengalaman, tidak ada seorangpun yang menertawainya di ruangan tersebut. Untuk memperhatikan gerakannya yang benar-benar anehpun orang lain tidak melakukannya. Hal tersebut cukup membantu Sakura untuk mencoba dan mencoba lagi, sampai akhirnya…
Krak
Sial, aku tahu ini pasti akan terjadi, gumam Sakura kesal dalam hati. Kakashi memberikannya tugas untuk bisa melakukan roll depan dalam 10 hari, dan ia selalu berlatih dengan rutin. Namun saat ini, Sakura merasakan sakit luar biasa pada pergelangan tangan kirinya. Gadis itu duduk dengan perasaan campur aduk dan memijat bagian tersebut.
Kakashi Hatake menyadari gerakan gadis itu yang terhenti dan memperhatikannya dalam diam. Konsentrasinya memang terpusat pada beberapa orang yang meminta latihan intensif darinya—beberapa diantara mereka akan mengikuti kompetisi beberapa hari lagi, dan Kakashi memberikan perhatian yang lebih pada mereka—dan ia sudah tidak terlalu memperhatikan Sakura lagi sejak hari ke tiga gadis itu bergabung. Keningnya berkerut saat melihat gadis itu memegangi pergelangan tangannya.
"Haruno."
Sakura mengangkat kepalanya dan mendapati Kakashi sudah berada di depannya. Pria itu berlutut dengan satu kaki di samping Sakura, tangannya dengan sangat hati-hati membawa pergelangan tangan Sakura lebih dekat untuk diamati.
"Terkilir?"
"Iya… sedikit. Tadi aku tidak terlalu seimbang." Ujar Sakura pelan.
Kakashi tahu ini bukan salahnya, namun pria itu merasa sangat tidak enak sekarang. Sakura memberikan senyuman kecil ke arahnya dan mengangkat bahu.
"Kurasa yang bisa kulakukan hanyalah kembali mengamati..."
"Ikut aku."
Sakura bangkit dengan ragu-ragu dan mengikuti Kakashi. Mereka masuk ke ruangan dengan tulisan D besar-besar, dan Sakura mendapati berbagai jenis obat-obatan dan peralatan medis sederhana berada disitu. Sakura duduk di salah satu kursi yang ada disana, memperhatikan Kakashi yang mengambil sebuah salep dari dalam lemari.
"Sensei?"
Kakashi menoleh ke arah Sakura. "Ya?"
"Kurasa aku tidak membutuhkan salepnya… tapi akan sangat membantu jika kau mempunyai perban dan obat pereda nyeri."
Kakashi sempat terdiam selama beberapa saat, pada akhirnya berjalan ke arah Sakura dengan segulung perban dan satu strip obat pereda nyeri. Sakura mengucapkan terima kasih singkat, membebat pergelangan tangannya sendiri dengan cepat dan menenggak obat pereda nyeri tersebut.
"Kurasa sensei bisa kem—"
"Kakashi."
Sakura tertegun selama beberapa saat dan memperhatikan pria di depannya dengan bingung.
"Kalau hanya kita berdua," ujar Kakashi pelan. "Kau bisa memanggilku Kakashi."
Sakura merasakan wajahnya memanas dan gadis itu segera berdeham pelan. Baiklah, tentu saja saat ini adalah progres yang sangat pesat, tapi ia begitu berkonsentrasi untuk mendapatkan perhatian Kakashi sampai-sampai ia tidak menyiapkan diri jikalau menerima perhatian itu!
"Setidaknya ini tidak akan sakit selama beberapa jam," ujar Sakura sambil tertawa kecil. "Kau bisa kembali. Sungguh. Aku akan langsung pergi ke salon jika rasa sakitnya semakin menjadi-jadi."
Kakashi memperhatikan gadis di depannya dengan bingung. Ia menangkap beberapa ruam biru pada tubuh gadis itu dan ia tahu persis alasan kenapa tubuhnya sampai memar seperti itu. Sekarang, ia membiarkan tangannya sendiri terkilir dan masih bisa tertawa seperti tadi. Kakashi menggelengkan kepalanya.
"Katakan, Haruno," ujarnya tenang. "Kenapa kau mendaftar kelas aikido?"
Sakura terdiam. Ia memandang Kakashi lekat-lekat, kemudian pandangannya turun ke pergelangan tangan kirinya. Ia tahu Kakashi pasti menganggapnya benar-benar payah sekarang. Sakura menghela nafas dan tersenyum, menyadari kebodohan dirinya sendiri setelah dua minggu melukai dirinya terus menerus.
"Karena aku menyukaimu. Aku menyukaimu sejak tiga tahun lalu, saat aku melihatmu menerobos hujan dan membiarkan aku menyentuh rambutmu. Aku masih ingat kau berkata kalau kita akan bertemu esok hari… dan benar kita bertemu, tapi kita tidak pernah berbicara lagi satu sama lain. Jadi aku putuskan untuk lebih dekat lagi denganmu, setelah tiga tahun, dengan mengikuti kelasmu. Aku berusaha mengatur jadwal pekerjaanku di salon dan jam residenku agar tetap bisa mengikuti kelasmu. Tapi sekarang aku sadar, semua yang kuberikan, semua usahaku, hanyalah tindakan terburu-buru yang membuatku makin lama makin terlihat bodoh di hadapanmu… Kakashi..."
"Haruno?"
Sakura tersadar dari pikirannya sendiri dan cepat-cepat tersenyum. "Tentu saja karena aku ingin belajar… aikido."
Itu adalah jawaban diplomatis yang sudah ia siapkan sejak setahun lalu, saat pikiran gila tentang dirinya mendaftar kelas aikido mulai muncul. Sakura terkekeh pelan dan menatap Kakashi lekat-lekat.
"Karena… itu."
.
.
"Haruno."
" .NO!"
Sakura bangkit dari tidurnya dan menatap jam. Ia terlambat sepuluh menit. Dengan cepat ia merapikan rambut dan mengusap sisa air liur di ujung bibir—matanya ia kerjapkan berkali-kali agar terbuka sempurna. Ia menarik jas putihnya dari balik pintu sebelum akhirnya berlari menuju sumber suara yang meneriakinya.
"Malas sekali. Kenapa kau tidur, kau kira kau sedang berlibur?!" jerit seniornya tanpa ampun. Sakura tidak menjawab, ia mengekor di belakang Shikamaru Nara dan menerima clipboard yang diserahkan laki-laki itu dengan tergesa-gesa. "ICU sedang penuh, cepat hubungi residen yang lain."
Sakura meraih ponselnya dan mengirimkan pesan darurat kepada teman-temannya yang lain, meminta mereka untuk cepat-cepat datang ke ruang ICU. Shikamaru segera saja membawanya ke salah satu tempat tidur yang diisi oleh seorang pasien yang sudah cukup tua. Nafasnya terengah-engah dan matanya membelalak menatap mereka berdua.
"Diagnosa?" tanya Sakura pelan.
"Reaksi alergi berlebihan." jawab perawat di sebelahnya.
"Apakah ia sudah diberi epinephrine?"
"Sudah, isha."
Sakura mengangguk dan menarik beberapa bantal dari tempat tidur kosong di sebelahnya. Ia meletakkan bantal tersebut di bawah kaki pasien itu, memperhatikan hela nafasnya yang mulai tenang, dan menulis sesuatu di atas buku catatannya.
"Berikan ini setelah tiga puluh menit." Ujar Sakura, memberikan kertas tersebut ke arah perawat itu.
Sakura berlalu dan memperhatikan teman-temannya sesama residen mulai mengambil alih para pasien yang membludak. Merasa lelah, ia berjalan keluar dari ruang ICU tersebut dan berjongkok di depan pintu kaca rumah sakit.
Ponselnya bergetar. Sakura tersenyum kecil saat nama Ino muncul di layar.
"Halo."
"Sakura?" ujar Ino dari seberang sana. "Aku tahu Kurenai-nee sendiri yang memintamu untuk beristirahat, tapi ini sudah dua minggu dan aku mulai merindukanmu."
Sakura tertawa kecil dan melirik pergelangan tangannya. "Aku sudah mulai membaik, tapi aku kira aku akan menggenapi cutiku menjadi tiga minggu."
"Betah sekali… kau tidak merindukan Hatake-san?"
Sakur terdiam selama beberapa saat. Tentu saja ia merindukan Kakashi—lebih tepatnya merindukan menatap laki-laki itu tanpa suara dan tentunya tanpa ketahuan. Pada akhirnya gadis itu tertawa pelan dan menggeleng sendiri.
"Aku yakin ia baik-baik saja." Gumam Sakura, memandang langit gelap yang ada di atas mereka. "Aku akan mampir sebentar nanti… kuharap kau mau menutup salon lebih larut. Jam sebelas?"
"Baiklah, akan kulakukan untukmu." Ujar Ino. "Sampai bertemu nanti."
Sakura mematikan sambungan dan kembali masuk ke dalam rumah sakit. Tentu saja Shikamaru kembali memakinya ketika mendapati gadis itu tidak melakukan apa-apa, dan langsung menyuruhnya untuk mencari pekerjaan yang bisa ia kerjakan di dalam ruang ICU tersebut. Selama dua jam para dokter residen berkutat dengan pasien-pasien yang entah kenapa banyak sekali hari itu, sebelum akhirnya mereka semua bebas tugas pukul sepuluh empat lima.
"Tidak aneh kenapa banyak sekali calon dokter yang putus di tengah jalan." Ujar Naruto sambil melepas jasnya di dalam ruang tugas mereka. "Nara-senpai… benar-benar. Aku tidak bisa berkomentar."
Sakura tersenyum dan menjatuhkan diri di atas sofa. Kakashi biasanya akan pulang pukul sembilan malam—pukul sepuluh tiap hari Senin dan Kamis—, sudah tidak mungkin ia bisa melihat Kakashi lagi hari ini.
Aku terlalu berkonsentrasi untuk menghilangkan diri dari hadapannya sampai-sampai tidak sadar kalau aku sangat merindukannya, pikir Sakura sedih. Ia berganti baju dan meraih tasnya, keluar dari ruang tugas tersebut dan berjalan menyusuri jalanan remang-remang di hadapannya.
Dua puluh menit kemudian Sakura sampai di depan salon dan tersenyum ke arah Ino dari balik jendela. Gadis itu sedang menyapu lantai, tampak sangat senang melihat Sakura setelah berhari-hari gadis itu tidak terlihat. Sakura masuk dan segera saja memeluknya.
"Sudah tidak diperban?" tanya Ino.
Sakura menggeleng. "Tubuhku pulih dengan cepat."
"Kau benar-benar beruntung mempunyai teman sepertiku, aku menunggumu selama satu jam dan aku tidak mengeluh sama sekali." Ujar Ino bangga. Ia menyerahkan sekotak donat ke arah Sakura yang diterima gadis itu dengan senyuman lebar. "Aku ingin mengajakmu ke kafe yang ada di ujung jalan, kau tahu, 'kan? Tapi kurasa kau akan lebih baik melakukan sesuatu terlebih dahulu."
"Um?" gumam Sakura bingung. "Apa itu?"
Ino mengerling ke arah bangunan di seberang mereka. Meskipun tulisan CLOSE terpajang di depan pintu, namun salah satu jendelanya masih memancarkan cahaya lampu.
"Tidak…" gumam Sakura sambil menggelengkan kepala. "Ino…"
"Ayolah, Sakura, anggap saja ini bayaran karena kau tidak menemuinya selama dua minggu!" desis Ino, setengah menyeret Sakura untu mengikutinya menyebrang jalan. "Tanyakan kabarnya, lalu bicarakan apa saja dengannya! Kalau perlu kau juga bisa menanyakan apakah uangmu akan kembali karena tidak mengikuti kelas selama dua minggu."
"Uh… Ino, kurasa ini bukan ide yang baik…"
"Memang bukan, tapi ini ide terefektif yang bisa kau lakukan untuk menjadi lebih dekat dengannya. Sekarang, masuk!"
Ino mengakhiri perkataannya dengan ketukan kasar di pintu kaca tersebut. Ia mencubit pipi Sakura dengan kencang, meninggalkan Sakura dan menghilang dibalik pintu salon, sementara Sakura memandang takut ke arah pintu yang dulu ia buka setiap hari selama seminggu.
Semoga bukan Kakashi… semoga bukan Kakashi…
"Haruno?'
Kakashi berdiri di depannya, masih lengkap memakai pakaian yang biasa ia pakai saat mengajar kelas. Bulir keringat terlihat menghiasi wajahnya yang berkilat dibawah lampu jalan. Sakura menelan ludah, berusaha mengeluarkan senyuman terbaiknya yang sepertinya malah terlihat seperti seringai menyeramkan.
"…donat?"
Meskipun samar, siapapun bisa melihat binar bahagia dan senyum tipis Kakashi. Pria itu menatap Sakura dan mengambil sebuah donat dari kotak di tangan Sakura.
"Baiklah, kalau begitu aku permi—"
"Apakah kau tidak mau masuk dulu?"
.
.
Ino mengetahuinya dari Kurenai.
Awalnya tidak ada yang terlalu memperhatikan kenapa gedung NIKKO di depan mereka memiliki jadwal tutup yang berbeda-beda. Salon akan tutup setiap pukul sepuluh malam, tidak peduli walaupun masih ada orang yang ingin berkunjung setelahnya. Namun gedung NIKKO mulai berubah menjadi aneh ketika setiap hari Senin dan Kamis jadwal tutupnya berubah menjadi pukul sepuluh malam.
"Aneh sekali, Kurenai-nee, jadwal kelas tersebut seperti tidak beraturan." Gumam Ino suatu malam dua tahun yang lalu, menatap Kurenai yang sedang menghitung pemasukan mereka hari itu.
"Aneh apanya?"
"Biasanya gedung depan akan tutup tepat pukul sembilan, 'kan?"
Kurenai tersenyum pada Ino yang sekarang sedang menyapu lantai.
"Tentu saja hal itu tidak aneh. Aku saja bisa langsung mengetahui maksudnya."
Ino berhenti menyapu dan memperhatikan Kurenai dengan tatapan tidak mengerti. Ia berusaha mencari jawaban dengan memandangi gedung tersebut—yang sekarang sudah tutup sempurna—, namun pada akhirnya ia menggeleng. Ino berjalan mendekat saat Kurenai memintanya untuk duduk di sampingnya.
"Siapa yang bertugas untuk menutup salon setiap hari Senin dan Kamis?"
"Saku—OH!"
Ino terkikik sendiri, menyadari maksud perkataan Kurenai. Ia sudah mengetahui bahwa Sakura menyukai pemilik gedung di hadapan salon mereka, yang juga merupakan salah satu pengajarnya juga, tapi ia tidak menyangka kalau perasaan temannya itu terbalas. Kurenai tersenyum ke arahnya dan mengetuk pelipisnya beberapa kali.
"Tapi apa mungkin ia benar-benar menyukai Sakura?"
"Oh, ayolah. Sepuluh tahun aku dan Kakashi tinggal berhadapan, baru saat ini saja ia selalu membuka jendela kantornya." Ujar Kurenai sambil memutar mata. "Sakura terlalu polos, bahkan nenekku saja bisa merasakannya kalau ia yang disukai oleh Kakashi."
.
.
Sakura menatap ruangan besar di depannya dan tersenyum kecil. Sepertinya ia tidak akan melanjutkan pelatihannya disini lagi. Kalau sampai tangan kanannya juga ikut terkilir, Shikamaru pasti akan mematahkan seluruh tulangnya sekalian sambil mengomelinya selama sebulan penuh. Ia duduk di atas matras dan memandang Kakashi yang sedang membereskan barang-barangnya.
"Sensei berlatih sampai semalam ini?" tanya Sakura pelan.
Kakashi menoleh dan tersenyum. "Kadang-kadang."
Sakura mengangguk-angguk dan menggigit donatnya. Ia tertegun saat Kakashi kembali menatapnya, sebuah senyuman jenaka terlihat diwajahnya.
"Apa kau mau mencobanya?" tanya Kakashi.
Sakura tertawa canggung. "Entahlah… maksudku, pergelangan tanganku baru saja sembuh…"
"Kau hanya perlu menggenggamnya."
Kakashi mengulurkan pedang bambu tersebut ke arah Sakura. Sempat ragu beberapa saat, Sakura pada akhirnya bangkit berdiri dan berjalan ke arah Kakashi. Ia memegang pedang yang tidak terlalu berat tersebut dengan kedua tangan dan menatap Kakashi.
"Lalu?"
"Ayunkan ke arahku."
Sakura mengikuti perintah Kakashi dan mengayunkan pedangnya ke arah pria itu. Dengan gerakan cepat namun anehnya sangat lembut, Kakashi menahan pedangnya, memblokir gerakan gadis itu, dan meletakkan pedangnya dengan sangat perlahan ke sisi kanan leher Sakura.
"Baiklah, aku kalah." Ujar Sakura sambil tertawa.
"Sekarang aku yang akan menyerang. Blokir gerakanku seperti tadi, mengerti?"
Sakura mengangguk. Ia menggenggam pedangnya dengan erat dan memperhatikan gerakan Kakashi yang berada di depannya. Saat pria itu sudah siap mengayunkan pedannya, Sakura terlebih dahulu maju beberapa langkah dan meletakkan pedang tersebut di bahu Kakashi, beberapa senti dari lehernya.
"Aku bahkan belum menyerang."
"Aku tahu. Aku tidak memberikanmu kesempatan. Aku menang." Ujar Sakura sambil tersenyum. Kakashi ikut tersenyum, menurunkan pedangnya dan menatap Sakura.
Betapa bahagianya ia tadi mendapati Sakura berada di depan pintu… walaupun anehnya gadis itu malah menawarkan sekotak donat padanya.
"Aku merindukanmu, kau tahu?"
Sakura tertegun. Pedangnya masih berada di bahu Kakashi, namun genggamannya tidak sekuat tadi.
"Katakan, Haruno," ujarnya tenang. "Kenapa kau mendaftar kelas aikido?"
Bibir gadis itu bergerak selama beberapa saat sebelum akhirnya kembali terdiam. Pedangnya menurun perlahan-lahan, jantungnya berdentum begitu keras dan matanya terbuka lebar menatap Kakashi.
"Karena aku menyukaimu. Aku menyukaimu sejak tiga tahun lalu, saat aku melihatmu menerobos hujan dan membiarkan aku menyentuh rambutmu. Aku masih ingat kau berkata kalau kita akan bertemu esok hari… dan benar kita bertemu, tapi kita tidak pernah berbicara lagi satu sama lain. Jadi aku putuskan untuk lebih dekat lagi denganmu, setelah tiga tahun, dengan mengikuti kelasmu. Aku berusaha mengatur jadwal pekerjaanku di salon dan jam residenku agar tetap bisa mengikuti kelasmu. Tapi sekarang aku sadar, semua yang kuberikan, semua usahaku, hanyalah tindakan terburu-buru yang membuatku makin lama makin terlihat bodoh di hadapanmu… Kakashi..."
"Haruno?"
"…karena aku menyukaimu."
Sakura hanya mampu mengucapkan tiga kata pertama dalam pikirannya, namun ternyata hal sesederhana itu mampu mengubah hidupnya setelah itu. Ia hanya menurut ketika Kakashi menarik pedangnya mendekat, membuatnya ikut berjalan tanpa mengalihkan pandangan dari wajah tampan pria di depannya, sebelum akhirnya tenggelam dalam ciuman pria itu.
Aku tidak pernah membayangkan ini sebelumnya, tapi kurasa ciuman ini seratus kali lebih hebat dari apapun yang bisa kubayangkan…
Sakura merasakan tangan pria itu di punggungnya dan tanpa sadar ia mendorong Kakashi. Mereka berdua terjatuh ke atas matras, menimbulkan bunyi berdebam yang keras, sebelum akhirnya saling pandang dan tertawa satu sama lain.
"Baiklah…" ujar Kakashi, menatap gadis di depannya sambil mengusap pipinya perlahan. "Kau menang."
