Story by SlimeID
Disclaimer :
Naruto by Masashi Kishimoto
Warning : OOC, Miss Typo, EYD kurang bagus, dan lain-lain!!!
Rate : T or M?
Genre : Romance , Family, Slice of life, etc.
- Ore to haha -
Summary : Berkisah antara Kushina dan putra semata wayangnya bernama Naruto. Wanita tegar nan kuat yang diceraikan mantan suaminya karena tuduhan palsu. Kushina dan Naruto hidup berdua selama tiga tahun ini, namun siapa sangka terjadi sesuatu diantara mereka. Perasaan terlarang yang sebenarnya tak boleh mereka rasakan.
•••
Iris biru milik pemuda bersurai pirang nampak menatap ke arah taman yang berada tepat di belakang rumahnya dengan senyum tipis yang menghias bibirnya.
Fokus pemuda tersebut bukan pada makhluk hidup berjenis bunga yang mekar menunjukkan keindahannya di taman itu, namun pada sosok wanita yang sedang menyirami tanaman-tanaman tersebut.
Indra pendengarannya dapat menangkap senandung wanita bersurai warna merah itu saat tangan putih wanita tersebut sibuk memegang alat siram dan mengisi alat itu dengan beberapa liter air.
"Kaa-san! Sepertinya kau lebih mencintai tanaman-tanaman itu daripada anakmu sendiri."
Wanita yang dipanggil ibu itu nampak tersadar dengan suara pemuda tersebut. Mata ungunya berpindah fokus kepada anaknya yang sedang berada di ambang pintu belakang rumahnya.
"Ara, Naruto-kun". Panggil wanita itu pada pemuda tersebut.
Naruto melangkahkan kakinya mulai mendekati wanita bersurai merah yang biasa ia panggil ibu itu. Iris biru pemuda tersebut terlihat sesekali melirik ke arah tanaman-tanaman yang tumbuh di area belakang rumahnya.
"Kaa-san, aku lapar". Naruto berkata dengan memegang perutnya.
"Ah, baiklah. Kaa-san akan memasakkan sesuatu untukmu."
Wanita yang berumur kepala tiga itu bernama lengkap Uzumaki Kushina. Pemuda di depannya tersebut bernama Uzumaki Naruto. Kushina merupakan single parent, suaminya menceraikan dirinya tiga tahun yang lalu karena Kushina dituduh melakukan perselingkuhan dengan salah satu sahabat pria itu.
Kushina sempat menyangkal perselingkuhan yang mantan suaminya tuduhkan padanya, namun pria itu tak percaya dan memilih menceraikan dirinya. Wanita itu pun hancur, hatinya terasa sakit saat mengingat kejadian itu. Kushina berusaha tegar, wanita bersurai merah itu merasa tertolong saat hak asuh Naruto jatuh padanya.
Mulai dari saat itu, Kushina bertahan menjalani hidup dan bekerja demi mencukupi kebutuhan dirinya beserta putranya. Wanita itu telah menjadi sosok ibu yang kuat dan bertanggung jawab terhadap anaknya.
•••
"Hari ini hari yang spesial, Naru."
Pasangan ibu dan anak tersebut saat ini berada di ruang makan. Kushina membawa sebuah panci menggunakan kedua tangannya dan meletakkan panci tersebut di atas meja.
"Memang hari ini hari apa?"
Naruto nampak bingung, sepertinya dia tidak tau apa yang spesial dari hari senin ini. Pemuda tersebut menerima mangkuk berisi nasi yang disodorkan wanita di depannya itu dengan tangan kanannya. Tak lupa kata terima kasih terucap di mulut pemuda itu.
"Eh? Kau tidak ingat?"
Kushina tersentak sesaat mendengar penuturan dari pemuda yang merupakan anaknya tersebut. Wanita tersebut membuka tutup panci dan terlihatlah sebuah masakan dengan kuah berwarna cokelat. Makanan itu adalah Kare, masakan rumahan yang biasa dibuat para ibu rumah tangga.
"Hari ini hari pertama kau bekerja, Naru". Ujar wanita berumur tersebut memberitahu.
Naruto mengangguk mengerti. Pemuda itu kira, jika hari ini adalah hari yang spesial atau hari yang sangat penting. Ternyata hanya itu pikirnya.
Pemuda bersurai kuning tersebut sekarang menginjak umur 23 tahun. Naruto telah lulus dari perkuliahannya dan diterima kerja di sebuah perusahaan yang bekerja di bidang periklanan yang berada di kota Konoha sebagai editor dan pengatur backsound.
"Jadi, kapan kau berangkat?"
"Jam delapan pagi nanti."
Naruto menuangkan kuah kare yang dimasak ibunya di atas nasi yang berada di mangkuk miliknya. Tangan kanan pemuda tersebut mengambil sebuah sendok di atas meja makan dan memegangnya.
"Segera makan makananmu. 30 menit lagi kau harus berangkat."
Perintah Kushina, kemudian wanita tersebut duduk di kursi sehingga dirinya sekarang berhadapan dengan putranya. Mata wanita itu nampak memandang ke arah Naruto yang sedang melahap makanannya. Bibir wanita itu merekah saat pemuda di depannya terlihat puas menikmati kare buatannya.
"Kaa-san tidak bekerja?" Tanya pemuda bersurai pirang tersebut.
"Hari ini Kaa-san libur."
Kushina bekerja di sebuah toko roti yang berada tak jauh dari tempat tinggal mereka. Wanita tersebut bekerja sebagai kasir dan terkadang membuat roti tapi bukan untuk dijual, melainkan untuk anak kesayangannya, Naruto.
"Kenapa libur?"
"Pemilik toko itu sedang berlibur bersama keluarganya ke Kyoto."
Pemuda yang mendengar jawaban dari wanita tersebut mengangguk mengerti. Naruto sebenarnya juga ingin berlibur dengan ibunya, mengajak wanita itu ke suatu tempat dan menghabiskan waktu bersama. Mungkin nanti.
"Kau kenapa, Naruto-kun?" Tanya Kushina saat putranya berhenti makan dan malah melamun.
Naruto tersadar kemudian menggelengkan kepalanya, "Aku tak papa, Kaa-san."
Mungkin konyol, Naruto selalu merasakan perasaan aneh saat hidup berdua dengan ibunya selama ini. Hati pemuda itu selalu merasa tenang dan terkadang tak terkendali saat wanita bersurai merah yang menjadi ibunya tersebut perhatian padanya.
Tak boleh, Naruto mengenyahkan pikiran anehnya. Pemuda beriris biru langit tersebut selalu ingin tau penyebab debaran di hatinya itu. Saat ia telah mengetahuinya, hati pemuda itu berusaha menolak dan membuang perasaan tabu yang melandanya.
"Terima kasih atas makanannya."
Naruto meletakkan sendoknya di sebelah mangkuk yang sudah kosong di atas meja. Pemuda tersebut melihat ke arah Kushina yang nampak tersenyum padanya. Sontak pipi pemuda beriris biru itu pun muncul semburat merah tipis. Hati Naruto menghangat, itu semua karena...
Ibunya yang bernama Uzumaki Kushina.
•••
"Aku berangkat."
"Hati-hati di jalan."
Pamit Naruto yang telah rapi dengan pakaian kerjanya. Kushina melambaikan tangan kanannya sebelum kepergian Naruto menuju perusahaan tempat pemuda tersebut bekerja. Wanita bersurai merah itu pun masuk ke dalam rumah, ingin melanjutkan pekerjaan rumah tangganya.
Kushina mengikat surai panjangnya menjadi ponytail. Wanita beriris violet itu mengambil sapu dan mulai menyapu lantai area rumahnya. Jika diperhatikan dengan jelas, ada semburat merah tipis di pipi wanita tersebut.
'Naru-kun nampak tampan dengan pakaian kerjanya.'
Kushina menggelengkan kepalanya saat sekelebat pikiran aneh mengusiknya. Wanita itu tak menampik jika putranya sekarang telah tumbuh menjadi pria yang tampan dan gagah. Kushina memegang dadanya yang terasa bergemuruh.
'Sadarlah, Kushina. Dia anakmu sendiri.'
Wanita beranak satu tersebut kembali fokus dengan kegiatannya. Hatinya masih merasa tak tenang karena memikirkan putranya sendiri. Kushina selalu menyangkal perasaan aneh di hatinya itu, namun sampai kapan.
Sampai kapan dia harus hidup dengan perasaan tak tenang ini. Kushina menyayangi Naruto. Bukan seperti ibu kepada anak, namun rasa sayang perempuan terhadap laki-laki. Kushina akan menjawab jujur jika wanita tersebut mencintai putranya sendiri.
Tabu.
Memang..
Kushina tak menampik jika perasaan yang melanda hatinya adalah perasaan terlarang. Perasaan yang sebenarnya tak boleh ia rasakan. Wanita bersurai merah itu telah menyerah kepada keadaan hatinya, dirinya menginginkan Naruto agar selalu di sisinya.
Kenapa harus ditahan?
Dirinya tak akan kuat...
Kushina berpikir untuk selalu memendam perasaan cintanya. Namun, lama-kelamaan perasaan tersebut semakin membesar dan membuat wanita itu tak bisa berpikir jernih.
Wanita pemilik marga Uzumaki tersebut mengenyahkan pikirannya untuk sesaat. Kushina kembali fokus untuk menyelesaikan aktivitas menyapunya.
•••
Dengan Naruto, pemuda bersurai kuning tersebut telah mengerjakan tugas pertamanya bekerja di perusahaan tempat kerjanya. Naruto telah mengedit satu video yang dipinta manajer periklanan padanya. Pemuda tersebut sempat mendapat pujian dari manajer perusahaan itu berkat video yang ia edit.
Naruto menatap ke arah kotak bekal buatan ibunya. Ia buka tutup kotak itu dan melihat isinya. Mata pemuda bersurai kuning itu dapat melihat tiga onigiri dengan beberapa bento berjajar rapi mengisi kotak bekalnya.
Tersenyum tipis sebentar, pemuda tersebut mengambil salah satu onigiri dan mulai melahapnya. Mulutnya mengunyah dengan pelan merasakan cita rasa dari makanan buatan ibunya.
"Seperti biasa. Masakan Kaa-san selalu enak." Naruto berujar kemudian melanjutkan kegiatan makannya.
•••
Wanita bersurai merah nampak sibuk dengan urusan dapur. Wanita itu yaitu Kushina melirik ke arah jam yang tak jauh darinya. Tersenyum senang saat jam tersebut menunjukkan pukul 04.00 sore. Yang berarti, putranya akan segera pulang.
Wanita yang masih terlihat muda itu melihat ke arah masakannya hari ini yaitu ramen spesial kesukaan Naruto.
"Aku pulang."
Ucap suara dari bagian depan rumah terdengar di telinga Kushina. Wanita beriris violet tersebut segera mematikan kompornya dan melangkahkan kakinya menuju ke area ruang tamu.
"Selamat datang, Naruto-kun".
Kushina melihat ke arah anak lelakinya tersebut yang sedang duduk melepas sepatunya.
"Kau ingin makan dulu atau ingin mandi, Naruto-kun?."
Naruto bangkit dari duduknya, "Aku ingin mandi dulu, Kaa-san."
"Baiklah, aku sudah menyiapkan air hangat untukmu."
Pemuda bersurai kuning yang merupakan anak Kushina mengangguk mengerti. Naruto merasa senang karena sambutan yang diberikan ibunya setelah ia pulang kerja. Tunggu, bukankah mereka seperti sepasang suami istri. Naruto merona tipis, hatinya berdebar aneh.
"Terima kasih, Kaa-san. Baiklah, aku akan mandi dulu". Ujar pemuda tersebut berterima kasih.
Naruto berjalan melewati Kushina menuju ke kamarnya untuk mengambil sebuah handuk. Lelaki tersebut juga ingin menenangkan debaran hatinya yang semakin tak terkendali. Sedangkan Kushina menatap kepergian Naruto dengan senyuman. Wanita itu berjalan kembali menuju ke arah dapur ingin menyelesaikan urusannya.
Beberapa waktu kemudian, Naruto keluar dari kamar mandi rumahnya dengan handuk di kepala pirangnya. Mata biru pemuda itu dapat melihat ke arah ibunya yang sedang menata makanan di ruang makan. Naruto segera menuju kamarnya ingin berganti pakaian. Pemuda tersebut telah selesai dan sekarang menggunakan kaos putih dengan celana pendek berwarna jingga.
Naruto berjalan menuju ruang makan dan mendudukkan dirinya di salah satu kursi. Kushina nampak mengangkat panci yang kali ini berisi ramen kesukaan putranya.
"Hoo, sore ini ramen kah."
Wanita bersurai merah yang mendengar nada senang dari anak lelakinya nampak tersenyum senang.
"Terima kasih atas kerja kerasmu, Naruto-kun."
Ujar Kushina dengan lembut. Wanita tersebut mengambil mangkuk dan mengisinya dengan ramen buatannya, kemudian menyodorkan pada Naruto.
"Ah, terima kasih, Kaa-san." Naruto menerima mangkuk berisi ramen tersebut dengan senang hati.
"A-ano, Kaa-san."
"Ada apa, Naruto-kun?."
"Bisakah kau berhenti dari pekerjaanmu?"
Kushina terkejut dengan permintaan putranya itu. Kenapa Naruto memintanya berhenti bekerja? Wanita beranak satu tersebut nampak tak mengerti.
"Karena aku telah bekerja, bisakah Kaa-san tidak bekerja dan mengurus urusan rumah saja?." pinta Naruto dengan nada menjelaskan.
"Ah, begitu ya. Baiklah jika kau memintanya."
Kushina sebenarnya tak ingin berhenti bekerja, namun rasa cintanya pada Naruto membuat ia menurutinya. Wanita bermarga Uzumaki itu juga merasa jika dia di rumah, ia dapat menyambut kepulangan Naruto setiap hari.
"Terima kasih telah menuruti permintaan egoisku, Kaa-san."
Kushina menggelengkan kepalanya nampak tak mempermasalahkannya, "Apapun akan Kaa-san lakukan untuk anak kesayangan Kaa-san."
Sontak pemuda bersurai kuning di depan wanita tersebut terlihat mengeratkan pegangan tangannya pada sumpitnya.
"Apapun?"
"E-eh?"
Kushina sedikit terkejut dengan apa yang barusan ia ungkapkan. Pipinya bersemu merah, dengan malu ia pegang pipinya dengan kedua tangannya.
"Ne, Kaa-san."
Wanita yang dipanggil tersentak saat anaknya memanggilnya. Hatinya masih berdebar dengan keras saat mengingat perkataan anehnya pada Naruto.
"Aku mencintaimu".
Kushina terdiam.
.
.
.
.
.
Wanita itu tersadar...
"E-eh?".
.
Owari
Arigatou
Jaa na
SlimeID
