Warning!!!

Banyak tempat, waktu, latar dan nama yang hampir sama di dunia asli dengan cerita ini.

Typo is everywhere. Koreksi bila salah.

Banyak Nama merek kesebut.

Mohon di maafkan jika banyak kesamaan, karena cerita di buat se real mungkin.

Jangan lupa vote and comment.

Selamat membaca

*Seminggu Sebelum Tes*

"ionn, ion, ion... bill, bill, Liat deh! Kita Masuk Sini yuk!!!"

Anastasya Ananda, ia mengganggu gue dan Billa yang sedang sibuk dengan urusan kami masing masing, gue baca Manga (komik Jepang), and Billa Main Game Mobile online di handphonenya.

"Apasih lo ganggu aja" ketus gue pada tasya, anastasya biasa dipanggil tasya oleh gue dan Billa.

"ih!!! Kita masuk sini yuk!!!! Inikan sekolah elit itu!!!!"

pekik tasya gemas ingin sekali pergi kesekolah itu.

Namun gue hanya diam dan menatapnya saja, malas menanggapi berhubung Billa yang masih sibuk dengan game onlinenya.

"ih!!! Billa!!! Billa!!!! Dengerin dong!!!" pekik tasya dan menggoyang goyangkan tangan Billa yang sibuk memainkan game di hape

"apasiiiii setannnnn, anying, matiiii kan gua!!!" Billa hanya mengumpat kesal dengan mata yang pasih terpancang ke handphonenya, lalu menatap Tasya Jutek

"Apaan siii" katanya gondok.

"ihhhh dengerin gue dulu dongggggg, nih liat..."

kata tasya sambil menunjukan Profile akun SMUN 45 JAKSEL di Instagram.

"ya teruss?!"

kata Billa yang dongkol karena ia harus AFK dari game nya ( Away From Keyboard)

"Dengerin dulu, Lo taukan SMUN 45 JAKSEL?"

"hmm"

sementara billa hanya bergumam malas, dan parahnya lagi saat ini gue gak peduli ia bicara apa, maksudnya gue tau smu itu, dan itu smu elite yang membutuhkan Otak Berkecapatan 5G.

Apa boleh buat karena mereka berdua tak memiliki otak seencer jus yang gue minum ini, gue mengacuhkannya dan kembali membaca 'Hyouka' gue.

"ini sekolah elittt!!!!! Kantinnya kek di korea!!! Fasilitas sekolahnya kek di jepang!!!! Cowok Cowoknya juga ganteng!!! Dan lagi seragam cewek sama cowoknya juga cakep cakep!!!!! Kita disana aja yaaaaa, pleaseee!!!!!!!!!!!!!!!!!!!"

Tasya mengepalkan kedua tangan Billa dikepalannya dan menatapnya girang, sementara Billa memicingkan matanya

"Cogan?"

gumam Billa dan tasya mengangguk angguk semangat.

O'ow, Firasat Gue Buruk nih.

Dengan Cepat mereka berdua menatap gue ngarep, gue sengaja pura pura gak liat, tapi gue tau dari aura mereka kalo mereka natap gue.

"yonn"

panggil Billa, mengkode untuk meminta bantuan.

Karena seperti biasa ia selalu memanggil gue begitu jika meminta bantuan atau tanggapan dari gue.

"Please Eonni chan"

Gue mulai eneg saat mendengar tasya yang memanggil gue dengan bahasa korea campur jepang atau apalah itu, dengan nada yang sok imut.

Namun gue tetap diam tak bergeming, gue tu paling sebal kebiasaan Tasya yang memilih sesuatu berdasarkan sesuatu yang sepele tanpa melihat bibit, bebet, dan bobotnya, termasuk soal cowok.

Benar saja ia selalu dipermainkan laki laki dan berujung patah hati, namun uniknya ia selalu move on dengan amat cepat.

Mereka mendekat ke gue dan terus membujuk gue saat ini, dan akhirnya gue memutar bola mata gue dan berdiri

"Enggak, Kalian Pasti gak akan bisa masuk" gue merapikan komik komik gue yang berserakan dan hendak keluar dari kamar Tasya

"udah ah gue mau pulang, mau mandi udah sore"

kata gue beranjak pergi dari kamar tasya dan pulang kerumah gue yang kebetulan Cuma lima langkah dari arah rumah mereka berdua, mereka Cuma melongo seperti sapi conge saat gue tinggal pergi.

Udah beberapa hari ini mereka buntutin gue, gak dirumah sendiri, gak dijalan, gak dirumah mereka, mereka ngomong sampe mulut mereka berbusa untuk minta gue bantu mereka, dan terpaksa hari ini gue harus mendengar permintaan mereka dengan jelas.

"thankyou banget lho udeh beliin semua yang gue mau bahkan jika gue gak minta"

yap.

Benar sekali, mereka menyogok gue dengan segala cara, mereka beliin barang barang yang gue sukain terutama yang berkaitan dengan 'Jejepangan' garis keras gue ini bisa dibilang 'Wibu' alias orang yang cukup addicted sama 'Anime' atau animasi dari Jepang.

Mereka beliin makanan makanan kesukaan gue, mulai dari mie ramen kemasan dan mie samyang kemasan, namun tetep aja mau mereka nyogok gue kaya apa juga tetap aja mereka berdua itu gak akan bisa masuk, yang ada gue doang yang bisa masuk.

Kami dari dulu memang tak ingin dipisahkan bahkan bila kehendak orang tua kami yang memintanya, kami bertiga benar benar seperti keluarga bahkan keluarga kamipun bagai keluarga, kami seperti memiliki sebuah benang yang mengikat kami namun tak terlihat, pokoknya kami benar benar selalu bertiga dan tak mungkin untuk dipisahkan dalam interval waktu yang sangat lama tentunya.

"Jadi sekarang lo mau dengerin Kita kan?"

Kata Tasya yang memastikan sifat gue yang tiba tiba ingin mendengarkan, jelas.

Gue tetep diem dan masih jutek gara gara kelakuan mereka yang benar benar bloon, yang benar saja coba masa mereka terus memohon sama gue sepanjang gue berbalanja di warung sayur?????

"Gece ah"

Kata gue gerah dengan tatapan mereka yang terus memohon.

"Nih jadi gini... Lu kan pinter..." Seperti biasa intonasi menyebalkan yang biasa dilontarkan oleh Billa ketika ingin menyampaikan sesuatu.

"kita kan bego"

Tasya menambahkan, merasa pendapatnya valid, namun Billa langsung memicingkan matanya ke tasya yang ada disebelah kirinya.

"lo aja yang bego, gua mah gak bego bego amat yak"

Kata Billa judes.

"yaudahlah, mau begoan siapa kek, lu berdua tuh ga bakal bisa masuk ke sekolahan itu"

Kata gue mulai jenuh, membahas soal ini.

"makanya dengerin gue dulu, nih... lo cukup belajar seperti biasanya, nanti dihari tes lu kasi kode ke kita buat jawab soal, sekarang gua mau jelasin cara lu kodein ke kita" kata Billa bersiap untuk menjelaskan.

"gak"

belum sempat menjelaskan gue langsung memotongnya dan menolak rencananya.

Billa langsung melongo saat gue langsung menolaknya.

"Gue gak mau pake cara Curang, oke?"

Kata gue, memang gue gak ingin segala sesuatu dari hasil curang, karena gue bukan orang yang menyukai kecurangan, karena itu gue jelas menolak rencana Billa mentah mentah.

"Ihhh please dongggggg, gue pengen banget kita bisa bareng bareng kesana"

Mohon mereka.

"kan kita bisa cari sekolah lain..., udah ah males gue, gue mau balik"

Kata gue beranjak pergi, dan lagi lagi gue ninggalin mereka dengan wajah yang tampak putus asa. Kasian sih, tapi apa boleh buat, itu prinsip gue. Lebih baik gue masuk sekolah bobrok biar mereka bisa masuk.

Jujur gue kasian sih, apalagi dari kemarin mereka ngerengek sama gue, tapi yang bikin gue kesel, bukannya minta diajarin belajar malah ngerencanain trik Nyontek, Aneh ah!

Kalo ngajarin mereka belajar sih gue dengan senang hati,

Namun mereka mana mau repot repot belajar hanya untuk tes sehari?

Mau masuk sekolah elite kok pake trik curang, gimana nanti saat ujian kenaikan kelas? apa mereka gak berfikir panjang, gimana kalau mereka gak naik kelas?

Kan ujung ujungnya gue maju sendirian tanpa mereka dong? Gue gamau.

Mereka itu gampang banget diajak kemana mana bareng, atau jajan dimana bareng, atau bahkan ngapain aja bareng termasuk hal yang memalukan asal bareng mereka tu mau, dan bego nya gue juga ikut walaupun harus malu, tapi kecuali Belajar Bareng.

Gue gak ngerti gliran gue ajak yang berhubungan dengan otak - belajar maksudnya, mereka gak pernah mau, repot repot melakukannya bahkan jika itu bersama. Heran.

"Lyoni... Pleaseee dengerin rencana gue dulu... gak curang curang amat kok ! pleaseeeee..., yon..., yoni..."

Saat ini Billa Lagi ngejar ngejar gue yang hendak pergi saat mereka mulai membahas aksi menconteknya itu, gue eneg parah sih kalau disuru ngikut trik contek, gue bisa tanpa mencontek tau! Tapi gue juga ngajarin mereka biar gak curang, tapi tetep aja ke cerdikan mereka kelewatan.

"Yon.. Please dong... Lo tau kan seragam di sana kek model seragam di Jepang lho! Emang lu gak pengen kita semua pakai seragam itu dan ngerasain sekolah rasa Jepang?"

Tasya bujuk gue dengan membahas sesuatu tentang 'jejepangan', emangnya gue bloon apa?

Seragam kek gitu di Korea Juga pake, lagian Jepang, Korea, Chinna juga budaya budaya oriental bukan?

"huftt... Denger yaa..., Gue-gakmau-kalian-masuk-sekolah-elite-karena-mencontek-dan-gue-gamau-bantu-kalian-melancarkan-aksi-mencontek, paham?"

Gue mengeja setiap kata yang gue kasih ke mereka, dan gue mulai ninggalin mereka pergi, tapi Billa tiba tiba menarik tagan gue dan membuat gue berhenti, gue pikir dia masih mau ngerengek sama gue lagi, soalnya gue nengok dengan muka gondok kearah Billa.

"Disana Ada Cogan Wibu"

Shit.

Kenapa harus bawa bawa cogan? Wibu Pula???

Gue natap Billa lurus lurus, lalu billa natap gue dengan tatapan alis mengangkat tanda ia bertanya 'gimana?'

"Boleh"

Sorry, gengs.

Gue Tarik Ucapan Gue buat gak bantu mereka mencontek.

JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT YA