Tittle : Because Of You
Rating : T, Mature
Genre : Angst, Romance
Warning! One-sided KiKasa (?) One-sided MoriKasa! Implied AoKise!
(Angst WITHOUT Happy Ending:))
Kasamatsu menyukai Kise yang sudah memiliki orang lain. Tapi Kasamatsu tetap berusaha mengejar sang surai Kuning dan berencana menyatakan perasaannya walau dia tau akan ditolak, setidaknya dia mencoba bukan?
Tapi dia tidak tau, bahwa itu merupakan awal dari kehancuran dirinya sendiri
"Kasamatsu-senpai!!" Panggil pemuda tinggi bersurai kuning pada pemuda raven di depannya.
"Hm?" Sang surai raven -yang kita ketahui bernama Kasamatsu- berbalik menatap Kise dengan tatapan bertanya.
"Besok izinkan aku untuk tidak latihan ya" Jawab Kise sambil memberikan ekspresi bahagia dan langsung membuat Kasamatsu kesal.
"Ha? Apa maksudmu? Bukannya Winter Cup sudah dekat? Kita harus berlatih!" Ucap sang Kapten sambil menatap adik kelasnya itu.
"Aku ada urusan-ssu~" Rengek Kise sambil memilin ujung kaosnya, dasar. Badan gede sifat kea anakanak,-
"Urusan apa?" Tanya Kasamatsu dengan ekspresi datar.
"Aku ingin bertemu dengan Aomine-cchi ssu" Jawab sang surai kuning bersemangat.
Deg
"K-Kau ingin bertemu Aomine!? Hell, Kise kita baru saja kalah dari timnya di InterHigh kemarin!" Ucap Kasamatsu kesal, walaupun sebenarnya tidak bisa dipungkiri kalau sebenarnya dia agak cemburu– oke, lupakan kalau Kasamatsu berkata seperti itu. Dia sama sekali tidak cemburu, tidak.
"Tapi–" Lagi-lagi Kise merengek dan menatap Kasamatsu dengan puppy eyes miliknya.
"Hahh, wakatta." Kasamatsu menghela napas pelan sambil mengangguk. Kise yang melihatnya pun langsung menunjukkan ekspresi senang.
"Ah? H-Hontou!? Arigatou, senpai." Jawab Kise sambil tersenyum lebar. Kasamatsu cuma bergumam 'hm' pelan untuk menjawab perkataan kouhai nya tersebut.
Setelahnya, Kise pun melangkahkan kakinya menuju tengah lapangan dan mulai berlatih shooting sendirian, padahal dia sudah boleh pulang.
Kasamatsu menatap Kise dari kejauhan dengan tatapan mata yang tidak bisa di artikan, lalu sedetik setelahnya dia mengeluarkan helaan napas lelah sambil tersenyum sendu.
Sepertinya aku tidak bisa menggapaimu heh?
Kasamatsu menyukai Kise. Dia ingin menyangkalnya, tapi tidak bisa. Dia sudah lama jatuh hati pada sang perfect copy, namun sampai sekarang masih tidak berani untuk mengungkapkan perasaannya.
Belum lagi sejak pertandingannya melawan Touou di InterHigh kemarin, Kise jadi lebih dekat dengan Aomine, sang panther dari Touou tersebut.
Bukannya Kasamatsu ingin bilang kalau dia itu cemburu, hanya saja– ah, lupakan.
Kasamatsu tidak tau apa hubungan sebenarnya dari Kise dan Aomine, tapi dia tau kalau dia belum siap mengetahui hubungan mereka yang sebenarnya.
Kasamatsu kembali tersenyum sendu sambil memperhatikan setiap shoot yang dilakukan Kise. Sejauh ini tidak ada yang meleset.
Kalau boleh, aku benar-benar ingin berada di sisimu selamanya.
Kasamatsu melihat jam tangan yang dia letakkan di dalam tasnya, untuk melihat apakah memang sudah waktunya mereka pulang atau tidak.
17:35 P.M
Ini sudah terlalu malam untuk mereka ada disini, jadi Kasamatsu memutuskan untuk menghampiri Kise yang masih fokus berlatih.
"Kise." Yang dipanggil langsung menoleh dengan ekspresi polos.
"Ya? Ada apa, senpai?" Tanya Kise sambil memiringkan kepalanya lucu.
"Kau sudah harus pulang. Ini sudah malam." Jawab Kasamatsu sambil mengambil bola basket di tangan Kise.
"Ah! Aku tidak sadar kalau hari sudah mulai gelap-ssu." Gumam Kise pelan sambil melihat ke arah luar, lalu sedetik kemudian dia tersenyum ke arah Kasamatsu. Senyum yang sialnya sangat tampan di matanya.
"Kalau begitu, aku duluan ya." Ucap sang surai blonde sambil meraih tasnya dan kemudian melangkah keluar dari gym.
Tapi, apa aku masih punya kesempatan?
Wajah Kasamatsu memerah sesaat setelah Kise keluar dari gym. Sambil menutup wajahnya dengan sebelah tangannya, Kasamatsu memungut bola basket yang berserakan di lantai lalu kemudian meletakkannya kembali ke gudang.
Setelah memastikan semua benda berada di tempatnya, Kasamatsu kemudian berjalan dan mengambil tasnya, sebelum akhirnya berjalan menuju pintu dan menguncinya.
Saat dia melangkah keluar dari gym, langit diluar sudah gelap. Kasamatsu berjalan santai menuju gerbang sekolah, dan berjalan pulang ke rumahnya.
Saat ini dia tinggal sendirian. Orang tuanya bercerai, tapi tidak ada satupun dari mereka yang mau merawatnya. Walaupun begitu, mereka tetap memberikan uang bulanan padanya. Tapi– sebenarnya yang Kasamatsu inginkan hanyalah kasih sayang mereka. Hanya itu.
Kasamatsu berjalan sangat pelan, matanya menatap ke depan, tapi terlihat kosong, seakan-akan dia adalah seonggok tubuh tanpa jiwa. Dia tenggelam dalam pikirannya sendiri, merasa bimbang dengan apa yang seharusnya dia lakukan.
Apa aku harus menyatakan perasaanku?
Pertanyaan yang sama terus terputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak. Dia bimbang, dia ragu, dia bingung harus melakukan apa.
Di satu sisi, dia ingin sekali menyatakan perasaan yang selama ini dia pendam pada Kise walaupun dia akan di tolak.
Tapi di sisi lain,
Dia takut.
Dia tidak takut pada kenyataan kalau Kise akan menolak perasaannya. Tapi dia lebih takut dengan alasan mengapa Kise menolaknya.
Kasamatsu mendongakkan kepalanya, menatap langit malam yang tertutupi awan sepenuhnya. Dari balik awan-awan itu, cahaya bulan yang terang terlihat menembus ke sela-sela awan. Walaupun tidak terlalu terang, Kasamatsu merasa aman karna cahaya bulan itu.
"Hahh" Kasamatsu menghela napasnya pelan.
Aomine Daiki.
Lelaki tinggi bersurai navy blue dari Touou itu memang sedikit menarik perhatiannya. Tubuh yang tinggi dan atletis (oke, di bagian ini Kasamatsu kesal.), salah satu pemain paling berbakat dalam bidang basket di Jepang, dan tentu saja, walaupun kulitnya lebih gelap daripada anggota Generasi Keajaiban yang lainnya, Kasamatsu mengakui kalau dia itu tampan.
Satu-satunya bagian yang membuat Kasamatsu resah adalah, bagaimana cara Kise memandang Ace SMA Touou itu.
Awalnya Kasamatsu berpikir tatapan yang diberikan Kise merupakan tatapan kagum, tapi lama-kelamaan–
–Kasamatsu sadar.
Kasamatsu sadar, dia sadar sepenuhnya. Tatapan itu adalah tatapan suka, tatapan cinta, tatapan seperti saat seorang Gadis menyukai seorang Lelaki dalam artian sensual.
Hati Kasamatsu sakit. Hatinya serasa seperti diremukkan dan dirobek menjadi bagian-bagian kecil saat melihat interaksi kecil mereka di malam setelah pertandingan mereka melawan Touou di Interhigh.
Saat Kasamatsu sudah selesai membereskan barang-barangnya dan bersiap untuk pulang, dia melihat sang surai kuning yang sedang duduk berdua di bangku taman dengan seorang lelaki bersurai biru gelap.
Mereka berdua sedang mengobrol santai, dan seperti biasa Kise akan bergelayut manja pada Aomine. Yah, dia melakukan itu pada semua orang yang dia kenal.
Tapi ada satu hal yang membuat dada Kasamatsu terasa sesak.
Cara Kise memperlakukan Aomine berbeda dengan cara dia memperlakukan Kasamatsu atau Kuroko atau yang lainnya.
Kise terlihat lebih lembut, senyumannya terlihat gentle, tidak terlalu menjengkelkan seperti biasa, dan sorot matanya terlihat teduh.
Kasamatsu iri.
Kise tidak pernah menatapnya dengan tatapan seperti itu, dia tidak pernah tersenyum lembut seperti itu padanya. Dia tidak pernah melakukan hal seperti itu padanya.
Dan yang paling membuat hati nya panas adalah bagaimana tanggapan Aomine terhadap apa yang dilakukan Kise.
Dia tidak menunjukkan sikap sombong seperti biasa, yang dia lakukan hanyalah tertawa pelan sambil mengusak surai Kise gemas.
Kasamatsu terdiam di tempatnya, meremas tali tas yang melingkari tubuhnya sambil menggigit bibir bawahnya kuat.
Saat itu Kasamatsu langsung membalikkan tubuhnya, berjalan cepat keluar dari halaman gedung olahraga itu tanpa menoleh ke belakang untuk kedua kalinya.
Sudah kalah dari lawannya, gagal untuk membalaskan dendam kekalahan tahun lalu yang disebabkan oleh dirinya, lalu orang yang dia suka malah berkencan dengan orang lain.
Great, just great.
Di perjalanan pulang, Kasamatsu bisa merasakan matanya memanas, dia berusaha menarik napas dalam, mengusap setitik air mata yang tidak sengaja menuruni pipi gembilnya.
"Ugh, sepertinya aku benar-benar harus melakukannya," Gumam Kasamatsu yakin, kepalanya dia angkat, pandangan matanya tajam dan yakin. Lalu dia melanjutkan–
"Atau aku akan menyesalinya.."
• •
Because of You
• •
⌈Seminggu Kemudian⌋
Peluit yang di bunyikan panjang dan nyaring menjadi pertanda bahwa latihan telah usai. Semua anggota klub Basket Kaijo terkapar di lapangan indoor mereka, sibuk mengambil napas mereka yang seakan diambil paksa oleh latihan bak neraka itu.
Manik blue metal bergulir menatap ke seluruh bagian di dalam ruangan itu, sesekali sudut bibirnya naik membentuk senyum tipis saat melihat ekspresi kelelahan teman setim nya yang terlihat lucu.
"BERKUMPUL!!" Pekik Kasamatsu nyaring, membuat seisi gym sontak berdiri dan berbaris di hadapan sang kapten.
"Terima kasih sudah bekerja keras hari ini. Kalian sudah boleh pulang." Ucap Kasamatsu tegas.
"HA'I!! ARIGATOU GOZAIMASU!!" Kasamatsu tersenyum kecil, menatap satu persatu teman satu tim nya yang mulai berkemas untuk segera pulang ke rumah.
Pupil matanya tiba-tiba terfokus pada pemuda jangkung dengan surai emas yang sedang asik berbincang dengan pemuda lainnya.
Eh? Itu–
Aomine?
Sejak kapan? Kasamatsu bahkan tidak menyadari kalau pemuda yang dijuluki panther nya Touou Gakuen itu menonton latihan mereka sedari tadi. Kasamatsu menatap mereka berdua dengan tatapan miris, namun sedetik kemudian dia mengumpulkan tekadnya dan berjalan mendekati dua sejoli itu.
"Kise." Kepala berhiasi helaian kuning itu menolehkan kepalanya, menatap sang surai hitam dengan tatapan bingungnya.
"Senpai? Ada apa?"
Kasamatsu tidak menjawab, matanya dia arahkan ke arah pemuda lainnya yang berdiri di samping Kise.
"Halo, Aomine. Aku tidak tau kau datang kesini." Ucap Kasamatsu dengan tatapan datarnya yang biasa.
"Yo, Senpai yang bisa diandalkan. Aku hanya kemari untuk menjemput anak ayam kuning itu." Jawab Aomine santai sambil mengorek telinganya.
Kasamatsu cuma menghela napasnya lelah, lalu mengalihkan pandangannya dengan menatap langsung ke netra madu milik Kise.
"Kise, temui aku hari ini pukul 7 di taman dekat rumahku, oke? Aku harus mengatakan sesuatu padamu."
Keadaan di sekitar mereka hening untuk beberapa saat. Kise yang masih mencerna ucapan sang senpai dan Kasamatsu yang menunggu jawaban kouhai nya.
Baru saja Kise ingin menjawab, Aomine tiba-tiba menyela–
"Membicarakan apa? Bukannya kau bisa mengatakannya disini?" Tanya Aomine sinis.
"Ini bukan urusanmu, bocah. Ini masalah pribadi, aku tidak bisa membicarakannya disini." Balas Kasamatsu tak kalah sinis.
Aomine menatap Kasamatsu dengan tatapan tidak suka, dan Kasamatsu yang menatap Aomine dengan tatapan kesal. Aura di sekitar mereka seketika berubah mencengkam, membuat yang lainnya mengurungkan niat mereka untuk mendekati mereka berdua.
"Ne, Aomine-cchi!! Sudahlah-ssu. Senpai, aku akan bertemu denganmu jam tujuh nanti-ssu." Ucap Kise seraya menengahi mereka.
Keduanya mengalihkan muka sambil berdecak sebal. Masih dengan perasaan jengkel yang memenuhi hati keduanya.
"Baiklah, sampai jumpa nanti, kouhai." Ujar Kasamatsu sambil berjalan menjauhi mereka, kembali asik mengemasi Barang-barangnya.
Aomine masih setia menatap Kasamatsu dari jauh. Tangannya terkepal, napasnya berderu, tatapannya menajam.
Dia tidak akan membiarkan Kise bertemu dengannya.
Biarlah kalau dia dikata egois. Kise itu pacarnya, walaupun saat ini Kise bilang kalau dia masih ragu dengan dimana hatinya berlabuh, Aomine tidak akan membiarkan Kasamatsu merebut Kise darinya. Tidak akan.
18:30 Malam.
Kasamatsu sudah sampai ke tempat pertemuan mereka, dengan memakai hoodie berwarna hitam, celana jeans dengan warna senada dengan hoodie nya, serta sepasang sepatu berwarna putih.
Dia duduk sendirian di bangku taman, jari-jarinya meremat kuat ujung hoodie nya, sesekali mengusap-usap kedua tangannya untuk mengurangi dinginnya angin malam yang terasa menusuk tubuhnya.
Dia membuka Smartphone miliknya, melihat-lihat isi galerinya dan terkadang membuka aplikasi chat, lalu kembali menutupnya. Dia menghela napas pelan.
Dia bosan.
Ini salahnya, dia datang 30 menit lebih cepat. Dia terlalu bersemangat. Padahal 30 menit itu bisa dia gunakan untuk hal yang berguna. Belajar, misalnya.
Kakinya ia ayunkan pelan, kepalanya ia tundukkan, menatap kedua ujung kakinya yang berayun maju mundur dengan pelan. Kasamatsu kembali menghela napas pelan.
Kenapa waktu berjalan sangat lambat?
Pikirnya saat itu sambil menatap langit malam yang tidak berhiasi bintang
Kise POV
Hari ini Kasamatsu senpai mengajakku untuk bertemu dengannya, dia bilang dia ingin membicarakan sesuatu padaku. Entah apa itu..
Kasamatsu Yukio.
Dia adalah seseorang yang membuat aku keluar dari kegelapan Kiseki no Sedai. Yah, walaupun sebagian besar itu dilakukan oleh Kuroko-cchi, tapi senpai adalah pendorong terbesarku.
Dia mengajarkan padaku pentingnya memiliki teman satu tim, dia mengajarkan padaku kalau kemenangan itu percuma jika aku hanya menang sendiri.
Kalau bisa dibilang, Kasamatsu senpai adalah cahayaku.
Aku mulai merasakan perasaan aneh setiap kali aku berada di dekat senpai. Jantungku berdetak lebih cepat, pandangan mataku tidak fokus, dan aku bisa merasakan pipiku memanas saat senpai menatap langsung ke arah kornea mataku.
Aku memang tidak mengerti, tapi aku tau kalau perasaan itu adalah perasaan suka. Perasaan cinta? Entahlah, aku sendiri tidak yakin.
Tapi– aku merasa salah saat aku sadar aku menyukai senpai.
Aomine-cchi.
Aomine-cchi adalah pacarku. Ya, pacar resmi. Terhitung sudah sekitar 4 bulan kami menjalani hubungan ini.
Kami mulai berkencan, seminggu setelah Interhigh usai. Aku tidak bisa berbohong, aku mencintai Aomine-cchi, aku senang menghabiskan waktu dengannya, menghabiskan malam yang dingin bersama kehangatannya, dan aku senang bisa berada di sisinya.
Tapi, aku merasa aneh. Aku merasa ada yang salah, aku merasa apa yang kulakukan saat ini itu salah.
"Kise." Aku tersentak kaget, menolehkan kepalaku ke asal suara, dan mendapati kepala berhiasi surai berwarna navy blue yang menyembul dari balik bingkai pintu.
"Ada apa, Aomine-cchi?" Tanya ku pelan tanpa menoleh kearahnya, masih sibuk memilih jaket yang akan kupakai untuk bertemu dengan senpai.
"Apa kau berencana menemui senpai galak itu?" Aku mengerutkan kening pertanda heran.
"Tentu saja, memangnya kenapa-ssu?"
Tap tap tap
Grep
"A-Aomine-cchi?" Ucap ku kaget saat Aomine-cchi tiba-tiba berjalan dan memelukku dari belakang.
Aomine-cchi tidak menjawab pertanyaanku, aku berusaha melepaskan pelukannya, tapi percuma saja. Pelukannya terlalu kuat.
"Aku melarangmu pergi.." Gumam Aomine-cchi pelan.
Aku kembali tersentak kaget saat tangan lelaki bersurai biru gelap itu masuk ke dalam kaosku, mengelus perut berhiasi abs itu dengan gerakan pelan.
"Ngh, Aomine-cchi.. Aku harus pergi-ssu."
"Bukankah aku bilang tidak boleh?"
"Tapi senpai akan menungg– hmmpt"
Aomine-cchi membungkam mulutku dan membawaku ke sebuah ciuman yang sedikit menuntut. Dia memegang tengkuk ku kuat, menarik pinggangku agar lebih dekat padanya, sambil memperdalam ciumannya.
Aku terbuai, menyerahkan diriku padanya dan menikmati permainan yang dia berikan.
Normal POV
Aomine memegang pinggang Kise dengan lembut, membawanya ke kasur tanpa melepaskan pangutan mereka.
Ciuman mereka berubah menjadi ciuman yang makin liar. Saling melumat, saling menghisap, bahkan Aomine sudah mulai menggunakan tangannya untuk membuka baju Kise.
Kise sendiri, tidak menolak perlakuan itu. Tubuhnya memanas, dia ingin lebih. Dan dia tau dia akan mendapatkannya.
Tapi Kise melupakan sesuatu yang penting, dan dia tidak menyadarinya.
Dia melupakan sesuatu.
19:45 Malam.
"Ugh, dimana bocah yang satu itu." Gerutu Kasamatsu pelan.
Dia sudah menunggu selama satu jam, ditambah keadaan di luar yang semakin dingin, dia bahkan sudah berpikir untuk menjitak kepala bocah kuning itu menggunakan batu karna sudah membuatnya menunggu lama dalam keadaan sejuk seperti ini.
Apa dia tidak akan datang?
Kasamatsu menggelengkan kepalabya pelan saat pikiran itu datang padanya. Kise bahkan tidak tau alasan dia mengajaknya kesini, jadi untuk apa dia menolak datang?
Mungkin hanya telat.
Kasamatsu bergumam pelan, memutuskan untuk kembali mengayunkan kedua kakinya, mulutnya menggumamkan suatu lagu sambil tersenyum kecil.
20:30 Malam.
Kasamatsu menendang batu yang ada di depannya dengan kuat sambil mendengus kesal. Kerutan samar-samar muncul di dahinya. Alisnya menekuk tajam ke bawah, dan bibirnya yang ia kerucutkan.
"Sebenarnya, apa yang anak itu lakukan sampai terlambat seperti ini!?" Ucapnya nyaring.
Tapi sedetik kemudian, dia terdiam. Tatapan matanya mendadak sendu. Kasamatsu menunduk dalam, menggigit bibir bawahnya pelan. Tangannya mengepal kuat.
Apa— Kise sudah tau kalau aku ingin menyatakan perasaanku?
Kasamatsu menutup kedua matanya erat, deru napasnya mulai tidak stabil.
Apa karena itu dia tidak datang?
Sambil mengeratkan pegangannya pada ujung lengan hoodie nya, Kasamatsu mendongak dan menatap langit malam yang semakin lama semakin gelap.
Apa dia akan membenci ku setelah ini?
Apa dia akan berpikir kalau aku menjijikkan?
"Heh, tentu saja, kau kan menyedihkan." Gumam Kasamatsu sambil terkekeh pelan.
Dia menolehkan kepalanya, menatap bayangan dirinya yang terpantul melalui genangan air yang ada di taman itu.
"Tch, lihat dirimu. Terlihat sangat menyedihkan, kau membuatku prihatin." Dia kembali bergumam, kali ini disertai dengan sebuah senyuman miris.
"Kemana hilangnya ekspresi galakmu yang biasa? Dasar Kasamatsu Yukio lemah."
Setelah itu, Kasamatsu tertawa. Tawa yang membuat siapapun yang mendengar tawa itu akan merasa iba padanya.
Kasamatsu mencoba berfikir positif. Mencoba memikirkan alasan yang logis atas keterlambatan adik kelas nya tersebut.
Mungkin dia sangat sibuk. Aku akan menunggunya.
Dan, Kasamatsu kembali menunggu.
22:00 Malam.
Sudah jam 10, dan tidak ada tanda-tanda kedatangan lelaki bersurai kuning itu.
Kasamatsu sudah mulai mengantuk. Tubuhnya mulai menggigil karena kedinginan, dan tubuhnya terasa pegal.
Harapannya mulai pupus. Dia hanya ingin menyatakan perasaannya, dia tidak peduli jika dia akan di tolak mentah-mentah. Tapi yang ditunggu tidak kunjung datang.
Dia menutup matanya, bersandar pada sandaran kursi, menghembuskan napas pelan.
Sebentar lagi. Aku akan menunggu sebentar lagi.
23:01 Malam.
Kise tidak datang. Dia benar-benar tidak datang, bahkan untuk menunjukkan batang hidungnya saja tidak.
Kasamatsu menunduk, menatap ujung sepatu yang dia pakai dengan tatapan kosong. Dia merasa hancur. Dia merasa seperti kalah sebelum bertarung.
Aku bahkan sudah ditolak sebelum menyatakan perasaanku.
Sambil menggigit bibir bawahnya kuat, Kasamatsu bangkit, mengambil tas nya yang tergeletak di sampingnya, menggaetnya dan meletakkannya dengan apik di bahu kanannya.
Kemudian dia melangkahkan kakinya, menjauh dari taman. Alisnya bertautan, kerutan samar terlihat di dahinya, pandangan matanya tidak fokus.
Dia ingin menangis, menangis terisak melihat nasibnya sendiri. Dia terlalu menyedihkan, dia bahkan tidak yakin kalau dia mau melihat dirinya sendiri di depan cermin lagi.
Tes
Ugh.
Sebelah tangannya ia gunakan untuk menghapus setitik air mata yang tanpa sengaja menetes dari pelupuk matanya. Ia gertakkan giginya, dan kembali menghembuskan napas kasar yang entah sudah ke berapa kali hari ini.
Kasamatsu menarik tudung hoodie nya, bergerak untuk meletakkan tudung itu ke posisi dimana wajahnya tidak akan terlihat. Dia memasukkan tangannya ke dalam saku jaket, guna mengurangi angin malam yang semakin lama semakin dingin.
Tiba-tiba, di kejauhan, Kasamatsu mendengarkan suara tawa. Pupil blue metal miliknya menajam, dia gulirkan untuk melihat ke kejauhan. Mendapati segerombolan anak muda yang sepertinya seumuran dengannya, yang sedang berkumpul di ujung gang yang terlihat gelap.
Saat sudah semakin dekat dengan mereka, Kasamatsu berdecih pelan.
Mereka semua jauh lebih besar daripada Kasamatsu. Kalau dia tebak, mungkin tinggi mereka rata-rata 180 cm ke atas.
Tidak adil.
Kasamatsu mengigit pipi bagian dalamnya kesal. Kalau di kategorikan sebagai seorang lelaki, dia itu tidak pendek. Bahkan bisa dibilang, dia itu tinggi. Tapi tetap saja, hampir semua orang yang dia temui tingginya jauh berbeda dengannya. Itu membuatnya kesal.
Tentu saja dia iri, andai saja dia sedikit lebih tinggi, pasti kemampuan basketnya bisa lebih di tingkatkan lagi. Mungkin levelnya akan lebih tinggi daripada dirinya yang sekarang.
Mungkin dia bisa mengalahkan Aomine, dan membuat Kise bahagia.
Tatapan matanya menyendu kala pemikiran itu terlintas begitu saja di kepalanya. Dia sudah terlahir seperti ini, dia lemah, dia tidak bisa mengalahkan Aomine, dia tidak bisa membawa tim nya menuju kemenangan. Dan sekarang dia bahkan tidak bisa mendapatkan cintanya.
Kau gagal.
Kalimat itu terus terputar di kepalanya bagai kaset rusak. Sekeras apapun dia mencoba, dia akan gagal pada akhirnya.
Namun itu merupakan masa lalu. Sekarang dia sudah baik-baik saja. Err, sepertinya.
Tapi—
Perasaan buruk apa ini?
Kasamatsu menggelengkan kepalanya pelan saat pikiran itu terlintas di kepalanya. Dia berjalan pelan, berusaha sebaik mungkin untuk tidak menarik perhatian para anak-anak itu.
Semakin dekat, dan semakin dekat.
Semakin dekat dia dengan anak-anak itu, semakin besar pula perasaan buruk yang dirasakan Kasamatsu. Tapi dia tidak menghiraukannya, dia hanya ingin pulang, berbaring di kasur empuk miliknya, dan memikirkan apa yang harus dia katakan pada Kise keesokan harinya.
"Oh?" Salah satu dari anak-anak itu, melihat Kasamatsu melalui ekor matanya.
Dia memperhatikan Kasamatsu dari jauh, menelitinya dari atas sampai bawah, kemudian menyeringai.
Dia menepuk pelan bahu salah satu temannya, lalu mengisyaratkan mereka untuk melihat ke arah Kasamatsu melalui tatapan mata.
Kasamatsu tidak menyadarinya, dia tetap menundukkan kepalanya. Menatap lurus ke arah jalan, masih sambil menggigit bibir bawahnya.
Sret.
"!?" Kasamatsu tersentak kaget saat tiba-tiba ada yang menariknya dari belakang.
Dia ditarik dengan kuat, dihempaskan ke dinding dan kemudian disudutkan oleh seseorang yang bahkan tidak dia kenal itu.
"Ah? Bukan seorang gadis?" Lelaki di depannya berucap, nadanya terdengar kecewa.
Kasamatsu masih diam, memproses apa yang baru saja terjadi padanya dan apa yang barusan lelaki di depannya ini katakan.
"Matamu terlalu bulat dan besar untuk ukuran lelaki, kau tau? Warna nya juga berbeda dari orang Jepang kebanyakan.." Lanjut lelaki itu.
"Lihat, sepertinya warna biru ya? Ckck, matamu indah seperti wanita. Aku kira kau seorang wanita awalnya."
Kasamatsu masih diam, menganalisis keadaan di sekitarnya.
Satu, dua, tiga, empat, lima. Lima orang.
Kasamatsu menatap lelaki di depannya dengan tatapan super kesal. Mood nya sedang tidak baik, dan mereka membuatnya kesal.
Dan apa itu tadi? Mereka mengira dia adalah seorang gadis? Apa mereka serius!?
"Menjauh dariku." Ucap Kasamatsu dingin. Kedua tangannya dia arahkan ke lelaki tadi, mencoba mendorong tubuh besar itu menjauh darinya, tapi lelaki itu tidak bergeser sedikitpun.
"Uwah.. Untuk ukuran lelaki manis, mulutmu tidak semanis wajahmu ya~" Jawab lelaki itu sambil menjilat bibir bawahnya yang tiba-tiba kering.
"Apa kau bilang!?" Kasamatsu berucap tajam. Sudah cukup dia mendengar penghinaan mereka padanya.
Tapi tiba-tiba, tatapan lelaki itu yang awalnya terlihat main-main, berubah menjadi tajam dan serius. Hal itu sontak membuat bulu kuduk Kasamatsu meremang, dia mulai memikirkan hal yang tidak-tidak.
"Kalian, pegangi dia." Perintahnya dingin. Membuat Kasamatsu membeku di tempat untuk sesaat.
Kasamatsu baru sadar dari lamunannya, saat dia merasakan kedua tangannya ditahan oleh bawahan lelaki tadi.
Kasamatsu memberontak, berusaha melepaskan pegangan mereka, tapi percuma.
Mereka terlalu banyak, mereka terlalu kuat. Kasamatsu tidak akan bisa mengatasinya.
Kasamatsu masih terjebak dalam keterkejutan nya, membuatnya lengah untuk sesaat.
Kesempatan itu dimanfaatkan dengan baik oleh kelima lelaki lainnya. Salah satu dari mereka melepas dasinya, lalu melingkarkan kain hitam itu pada kedua pergelangan tangan sang surai legam.
"Hei.. Berhentilah memberontak seperti itu~"
Lelaki yang berdiri dihadapan Kasamatsu berucap pelan, tangannya dia tenggerkan ke dagu sang surai hitam, mengangkatnya tinggi, membuatnya mendongak ke arahnya.
Kasamatsu mendelik kesal. Tatapannya masih sama, tajam dan garang. Bagaimana pun dia harus lolos. Dia harus lari.
Ini tidak bagus, pikirnya resah.
[To Be Continued]
Ekhem.. Racchi selaku author disini..
Jadi dalam rangka KiKasa Day [July 4] tahun ini, terbentuklah ini TwoShoot.
Awalnya Racchi pengen buat OneShoot. Tapi kalo dijadiin satu Chapter, bisa bisa ini nyampe 6K Words atau lebih.
Jadi daripada kalian bosan, Racchi jadiin aja ini TwoShoot..
Maaf juga kalo aku malah bikin Angst dan bukan fluff atau yang manis-manis :'D
Aku cuma punya ide untuk bikin angst doang soalnya:'D
Yaudah, see u soon~
[July, 4 2020]
Racchi
