Tittle : Because Of You
Rating : T, Mature
Genre : Angst, Romance
Warning! One-sided KiKasa (?) One-sided MoriKasa! Implied AoKise!
(Angst WITHOUT Happy Ending:))
Kasamatsu menyukai Kise yang sudah memiliki orang lain. Tapi Kasamatsu tetap berusaha mengejar sang surai Kuning dan berencana menyatakan perasaannya walau dia tau akan ditolak, setidaknya dia mencoba bukan?
Tapi dia tidak tau, bahwa itu merupakan awal dari kehancuran dirinya sendiri
Part sebelumnya...
Lelaki yang berdiri dihadapan Kasamatsu berucap pelan, tangannya dia tenggerkan ke dagu sang surai hitam, mengangkatnya tinggi, membuatnya mendongak ke arahnya.
Kasamatsu mendelik kesal. Tatapannya masih sama, tajam dan garang. Bagaimana pun dia harus lolos. Dia harus lari.
Ini tidak bagus, pikirnya resah.
[6K Words Warning!]
вecaυѕe oғ yoυ
"Woahh.. Tatapanmu menyeramkan~" Ucap lelaki itu sambil tersenyum miring.
"Kau tau? Dulu, banyak sekali gadis-gadis cantik yang lewat jalan ini.." Kasamatsu mengernyitkan dahinya heran.
"Tapi karna mereka tau tempat tongkrongan kami disini, mereka mulai memilih jalan lain karna takut." Lanjut lelaki itu sambil menunjukkan ekspresi sedihnya.
"Lalu apa peduli ku?" Tanya Kasamatsu sarkas, nada bicaranya dingin dan tajam.
Tapi lelaki di hadapannya malah melebarkan semyumannya.
"Aku bosan tau~"
"Jadi karena kau sudah disini-" Lelaki itu memberi jeda, ibu jarinya dia arahkan ke pipi Kasamatsu, mengelusnya pelan sebelum melanjutkan-
"-bagaimana kalau kita bermain sebentar. Bagaimana menurutmu, manis?"
Kelopak mata Kasamatsu membeliak kaget. Iris blue metalnya melebar, bertabrakan langsung dengan iris hazel milik lelaki di hadapannya.
Kasamatsu mulai panik ketika menyadari bahaya apa yang sedang dia hadapi. Mereka tidak meminta uang atau barang berharga. Ini lebih parah lagi.
Aku harus kabur, pikir Kasamatsu.
Kasamatsu memberontak, menggerakkan seluruh tubuhnya dengan acak, berusaha melepaskan pegangan mereka pada tubuhnya. Tapi percuma saja, dia kalah kuat.
"Muri desu yo~ Sekuat apapun kau mencoba, kau tidak akan bisa lolos." Ucap lelaki itu sambil tersenyum polos.
Kasamatsu menggeram rendah, tangannya mengepal kuat. Andai saja dia tidak di tahan seperti ini, dia pasti sudah melayangkan tinjunya sedari tadi.
"Lepaskan aku, atau aku akan berteriak." Jawab Kasamatsu.
Lelaki itu tiba-tiba tertawa, membuat Kasamatsu sedikit bingung dengan tindakannya barusan.
"Silahkan saja." Ujarnya.
"Apa kau tidak lihat? Gang ini terletak di pinggiran kota. Gedung di sini sudah kosong dan tidak ada yang menempati..."
"Jarak satu rumah dengan gang ini sekitar 1 Kilometer. Dan kau lihat rumah di depan sana?" Lelaki itu menunjuk ke satu arah, membuat Kasamatsu menolehkan kepalanya ke arah yang dimaksud.
Ada sebuah rumah, tepat di seberang gang ini. Baru saja Kasamatsu ingin berkomentar, lelaki itu melanjutkan ucapannya.
"Rumah itu memang ada orangnya, tapi mereka sekeluarga sedang liburan ke Kota sebelah dan akan kembali 4 bulan lagi." Lanjut lelaki itu, diakhiri dengan tawa nya yang terdengar memuakkan.
"Jadi-"
"Kau tidak akan bisa kabur." Lelaki itu kembali tersenyum miring, sebelah tangannya dia gunakan untuk menjambak surai gelap Kasamatsu, memaksanya mendongak.
Sret
Krak!
Kasamatsu terkesiap, saat lelaki di hadapannya membuka hoodie nya dengan paksa, merobek bagian depan hoodie nya dan melemparnya asal.
Setelah memastikan hoodie itu jatuh dengan benar, lelaki itu melanjutkan aksinya.
"HNG!" Rintih Kasamatsu kaget saat lelaki di hadannya menenggelamkan wajahnya di ceruk lehernya sambil menjilatnya pelan.
Lelaki itu menjilat, menghisap, dan sesekali menggigit leher Kasamatsu yang terekspos.
Posisi Kasamatsu tidak berubah. Kedua pergelangan tangannya masih terikat kuat, lengan bagian kanan dan kirinya masih ditahan oleh dua orang lainnya. Dia benar-benar tidak bisa melawan.
Lelaki di hadapannya masih melanjutkan aksinya, kini tangannya yang bebas dia masukkan ke dalam kaos biru milik Kasamatsu, mengusap kulitnya pelan.
Tubuh Kasamatsu mulai bergetar, air mata menggenang di pelupuk matanya, perasaan takut mulai menyelimuti dirinya.
Dia tidak berdaya, dia tidak punya kekuatan untuk melawan. Dia benar-benar sudah di ujung tombak saat ini.
"Hum? Kenapa tidak melawan lagi?"
Kasamatsu menggigit bibir bawahnya dengan kuat. Bisa dia rasakan darah yang sedikit mengalir dari bibirnya saat cairan pekat dengan rasa amis itu menyentuh lidahnya.
"L-Lepaskan aku... Ku-Kumohon." Pinta pemuda raven itu pelan. Suara nya bergetar, dia tidak peduli lagi dengan harga dirinya, dia hanya ingin pulang.
Tapi lelaki di hadapannya malah tersenyum.
"Aww~ kau sampai memohon begitu.. Manis sekali~" Jawab lelaki itu sambil menunjukkan ekspresi menyebalkan.
"Tapi itu malah membuatku makin ingin memakanmu, kau tau?" Kasamatsu menatap tidak percaya, air matanya makin mengalir deras, keringat dingin mulai bercucuran.
"Ti-Tidak.. Hiks biarkan a- hiks -ku pulang.."
Lelaki itu tidak memperdulikan tangisan Kasamatsu, dia malah terlihat makin senang, dan sedetik kemudian-
SRAK!
Lelaki itu merobek kaos Kasamatsu dalam sekali hentak, membuangnya ke tanah begitu saja. Membuat kulit putih mulus tanpa noda milik pemuda bersurai hitam cepak itu terekspos langsung di hadapannya.
"Nnh, b-biarkan aku pulang hiks."
Berpura-pura tidak mendengar, lelaki tidak di kenal itu terus saja mengelus tubuh telanjang di depannya, pupil hazel nya menggelap, tertutup oleh nafsunya sendiri.
Kami-sama, tolong selamatkan aku.
Pikir Kasamatsu sambil menangis, tak bisa membendung perasaan takut yang kini mulai menariknya ke dalam kegelapan.
Moriyama POV
Bzztt bzzt
Aku membuka mataku perlahan, melirik jam digital yang terletak di nakas sebelah kasurku, menatap angka yang terpampang disana dengan tatapan malas.
01:18 Pagi
Siapa yang menghubungiku tengah malam begini!?
Aku meraih flip-phone milikku, membukanya sambil menghela napas lelah.
Ugh, aku mengantuk.
Tapi kelopak mataku yang awalnya terbuka samar-samar, seketika terbuka lebar saat melihat siapa pelaku yang mengirimiku SMS malam-malam buta seperti ini.
2 missed call
1 unread message
Saat kubuka, semuanya dari Kasamatsu. Sontak aku heran. Untuk apa Kasamatsu menghubungiku tengah malam begini? Apa ada sesuatu yang terjadi?
Jari-jariku dengan cekatan membuka 1 pesan yang dia kirimkan padaku. Dan isi pesannya membuatku heran sekaligus cemas di saat yang bersamaan.
From : Kapten Chibi Galak
To : Me
"Jemput aku."
2 kata. Pesan itu hanya berisi 2 kata. Walaupun Kasamatsu orangnya memang tidak suka berbasa-basi, dia tidak akan mengirimkan pesan singkat tengah malam begini tanpa alasan tersendiri.
Perasaan khawatir mulai memenuhi pikiranku. Pikiran-pikiran buruk silih berganti datang dan menetap di otakku.
Saking khawatir nya, aku memutuskan untuk melacak Handphone Kasamatsu, dan mendapati kalau posisinya sekarang ini ada di samping taman di pinggir kota.
Untuk apa dia disana malam malam begini?
Tanpa menunggu lagi, aku turun dari tempat tidurku, mengambil sebuah jaket dan memakai celana panjang. Tak lupa kuambil kunci mobilku, dan langsung melesat ke tempat yang kutuju.
Gelap.
Adalah kalimat pertama yang kupikirkan saat aku sampai di tujuanku.
Tempat ini gelap dan sepi. Seperti kota mati. Jadi untuk apa Kasamatsu datang ke tempat seperti ini?
Saking gelapnya, aku memutuskan untuk menghidupkan senter pada flip-phone milikku. Setidaknya itu akan membantuku walau hanya sedikit.
Aku kembali mengecek maps. Disini dikatakan kalau lokasi Kasamatsu ada di sekitar sini.
Hmm, oh? Di dalam gang itu?
Aku menatap sebuah gang gelap yang berada di sela-sela gedung di hadapanku. Disana sangat gelap, aku hampir tidak bisa melihat apa-apa.
Kulangkahkan kakiku perlahan, masuk ke dalam tempat yang terlihat mencurigakan.
Normal POV
"Lagipula apa yang dilakukan Kasamatsu disin-"
Ucapannya terpotong, ekspresinya berubah menjadi kaget. Dia arahkan telapak tangannya di depan mulut guna menutupnya. Matanya membola, tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
Di ujung gang yang gelap itu, samar-samar dia bisa melihat siluet seseorang yang sedang terbaring di tanah. Tubuhnya ramping dan kecil.
Tolong jangan bilang kalau itu-
Moriyama berjalan mendekat, langkahnya ragu, walau begitu ia tetap tetap melangkah mendekat.
"Astaga." Ucapnya reflek saat dia bisa memastikan siapa siluet orang yang tadi.
Itu Kasamatsu. Tidak, dia yakin dia tidak salah lihat. Itu benar-benar Kasamatsu.
Dia tidak memakai sehelai benang pun di tubuhnya. Hanya sebuah sweater yang menutupi tubuh bagian bawahnya. Di tubuhnya juga terdapat cairan kental berwarna putih yang bahkan Moriyama tidak ingin mengetahui itu apa.
Dengan sigap, Moriyama meraih tubuh telanjang itu, mengangkatnya, lalu berlari menuju mobilnya.
"Apa yang terjadi, Kasamatsu?" Gumam nya pelan, berbicara pada dirinya sendiri.
Bohong. Dia itu tidak bodoh. Dia tau apa yang terjadi, sangat tau malah. Dia cuma- dia cuma tidak mau mempercayainya. Dia tidak ingin mempercayainya.
Moriyama membuka pintu penumpang, menurunkan tubuh kecil Kasamatsu dengan hati-hati, lalu ikut masuk dan duduk di kursi pengemudi, lalu menghidupkan mesin mobil.
Moriyama berpikir. Ia gulirkan netra gelapnya, menatap wajah Kasamatsu dalam diam.
Dia berpikir keras. Kalau dia ke rumah Kasamatsu, apa dia punya kuncinya? Dan apakah aman kalau mereka ke rumahnya? Yah, Kasamatsu memang sering bilang kalau dia tinggal sendirian. Tapi tetap saja Moriyama khawatir.
Setelahnya, Moriyama mengangguk pelan di dalam keheningan. Memutuskan untuk membawa sahabat karib nya itu ke apartemennya saja.
Apa definisi 'kehilangan' bagi kalian?
Kesedihan?
Kemarahan?
Ketabahan?
Pelajaran?
Atau mungkin, penyesalan?
Senja meredup, mega menggelap. Hujan merintih, ikut larut dalam kesedihan yang tidak berarti. Entahlah, aku tidak mengerti. Kehilangan itu berbisa. Kehilangan itu bengis.
Kau tidak bisa lari. Tidak bisa kabur. Tidak bisa bersembunyi darinya. Dia menghampirimu, menitahkan kepadamu untuk terus melangkah ke depan. Semua yang kau rasakan; amarah, depresi, semua tidak lagi bermakna di hadapannya.
Sekali lagi, dia menitahkan padamu untuk melangkah maju.
Moriyama menurunkan tubuh Kasamatsu dengan perlahan ke atas matras tempat tidurnya, berbalik untuk mengambil selembar selimut, lalu meletakkannya dengan apik di atas tubuh mungil lelaki hitam cepak tersebut.
Setelah dia yakin kalau Kasamatsu akan nyaman dalam posisi itu, dia melangkahkan kakinya keluar. Berusaha untuk tidak menimbulkan satu pun suara yang bisa membangunkan lelaki yang lebih kecil.
Moriyama mendengus pelan. Pikirannya melayang jauh, memikirkan apa yang harus dia lakukan dan apa yang harus dia katakan pada lelaki mungil itu saat dia bangun.
Yukio tidak seharusnya mengalami kejadian mengerikan ini. Batin Moriyama kesal.
Lagipula, apa yang Kasamatsu lakukan di sana, pada tengah malam seperti itu? Kalau Moriyama pikir, mungkin saja Kasamatsu sedang berada dalam perjalanan pulang menuju rumahnya.
Tapi dia habis kemana? Ke taman? Satu-satunya tempat yang berada di daerah itu hanyalah sebuah taman. Dan Moriyama tau jelas kalau itu merupakan taman favorit sahabatnya itu.
Tapi kenapa? Untuk apa? Tidak biasanya dia pulang selarut itu. Moriyama menggelengkan kepalanya kuat. Tubuhnya ia lempar ke sofa dengan keras. Wajah ditenggelamkan di sela-sela bantal sofa, menghela napas berat.
Lebih baik aku tidur dulu, pikirnya.
вecaυѕe oғ yoυ
PRANG!
Lelaki bermata sipit itu sontak terbangun dari tidurnya. Menatap horror ke arah asal suara nyaring tersebut. Segera bergegas saat dia sadar bahwa itu berasal dari kamarnya. Lebih tepatnya, 'kamar yang saat ini Kasamatsu tempati.'
Drap drap drap
Cklek
"KASAMATSU!" Moriyama memekik nyaring, dengan cekatan menghampiri sahabatnya yang sudah tergeletak di lantai kamar.
Kasamatsu tidak menjawab. Kepalanya masih mengarah ke lantai. Tubuhnya bergetar, napasnya tersendat-sendat.
"Kasamatsu, hei." Dengan pelan, Moriyama berjongkok di depan Kasamatsu, lalu meraih kedua bahunya.
Namun-
Plak!
"Ja-Jangan sentuh aku!" Beringsut mundur, tubuh kecil itu berusaha menjauh dari jangkauan pemuda lainnya. Netra indah dengan corak blue metal itu menatap Moriyama dengan tatapan takut.
Dia seperti terjebak. Dia masih terjebak. Terjebak di dalam ingatan akan kejadian itu, membuatnya tidak bisa membedakan mana dunia nyata dan khayalannya.
Moriyama membatu. Menatap nanar ke arah sosok di depannya. Ia berspekulasi bahwa Kasamatsu sendiri tidak sadar kalau ia adalah Moriyama.
"Kasamatsu? Ini aku, Moriyama." Ucapnya pelan, sedikit demi sedikit melangkah maju.
"JANGAN MENDEKAT! Ja-Jangan.. Kumohon hiks."
Moriyama tidak peduli. Kembali mengarahkan kakinya mendekat. Lalu dengan satu gerakan, ia merengkuh tubuh mungil itu.
Grep
"LEPASKAN!! Hiks kumohon- Jangan sentuh a -hiks- ku." Tubuh yang lebih kecil memberontak. Mendorong tubuh lelaki satunya dengan putus asa.
"Sshh.. Sshh, Yukio.. Tenanglah, ini aku.."
"Lepaskan hiks. Lepas-"
"KASAMATSU! INI AKU!" Moriyama berteriak nyaring, ia eratkan dekapannya. Membuat lelaki penyandang marga Kasamatsu itu terdiam membatu.
Manik blue metal itu melembut. Napasnya masih menggebu-gebu, tapi sudah lebih tenang. Ia tenggelamkan wajahnya ke dada lelaki yang lebih besar, menumpahkan kesedihannya. Masih sambil terisak, ia balas pelukan Moriyama tak kalah erat.
"Moriyama- a-aku hiks aku-" Moriyama tersenyum sendu, mengelus pelan punggung Kasamatsu guna menenangkannya.
"Jangan khawatir, aku disini." Ucapnya pelan.
Merasakan Kasamatsu yang mengangguk kecil di pelukannya, Moriyama tersenyum sayang. Kembali mengeratkan pelukannya, sambil membisikkan kalimat-kalimat penenang untuk orang yang ia cintai.
Orang yang ia cintai?
Ya. Tak dapat dipungkiri, pemuda bermata sipit itu jatuh ke dalam pesona Kasamatsu Yukio. Dia sadar, bahwa dia meyuka- lebih tepatnya mencintai pemuda galak itu.
Memang benar, dia terkenal dengan julukan 'Playboy nya Kaijo', tapi itu semata-mata untuk menyembunyikan perasaan yang sebenarnya.
Terlebih lagi, dia sadar bahwa Kapten galaknya itu sudah memiliki seseorang di dalam hatinya.
Moriyama Yoshitaka mencintai Kasamatsu Yukio. Dan Kasamatsu Yukio menyukai Kise Ryouta.
Memang terdengar klise, tapi itulah yang terjadi.
Walaupun kesempatannya kecil, Moriyama selalu berusaha. Dia berusaha keras agar selalu ada di belakang pemuda cepak itu saat dibutuhkan, seperti sekarang ini.
"Ne, Moriyama.." Moriyama kembali sadar saat mendengar panggilan lirih itu.
"Hm?" Balasnya, tangan besarnya terarah ke surai lembut Kasamatsu, mengelusnya pelan.
"Jangan bilang Kise- maksudku, jangan bilang siapapun soal hal ini, oke?" Moriyama mengerutkan keningnya heran. Jelas-jelas Kasamatsu ingin bilang untuk tidak mengatakannya pada Kise. Kenapa?
"Kenapa tidak?" Mendengar pertanyaan Moriyama, Kasamatsu terdiam.
"Pokoknya jangan bilang.. Kumohon."
Moriyama menghembuskan napas berat, lalu mengangguk.
"Baiklah."
Keadaan Kasamatsu memang terlihat lebih baik, tapi sebenarnya tidak. Dia kosong. Seperti mayat hidup. Dia hanya mengangguk dan menggeleng saat Moriyama menanyakan sesuatu padanya.
Dia sering berteriak keras, menyuruh agar Moriyama menjauh darinya. Pemuda menggemaskan itu terus menerus mengucapkan 'Maaf, tolong lepaskan aku. Kumohon' berulang kali dengan suara yang bergetar. Seakan-akan dia masih terjebak di masa lalunya.
Moriyama tidak suka. Ia tidak suka melihat orang yang ia cintai seperti ini. Dan tak bisa dipungkiri, perasaannya tidak enak.
Firasatku buruk.
Saat ini, Moriyama bisa mendengar bunyi gemercik air dari keran, yang ia yakini sebagai Kasamatsu. Ia posisikan bokongnya dengan nyaman di atas sofa beralaskan kain lembut itu, netranya fokus menatap tampilan televisi dihadapannya.
Lelaki tampan itu meletakkan ponselnya ke atas nakas. Menghembuskan napas lelah. Kobori susah sekali untuk dibohongi. Tapi setidaknya dia berhasil membuat sahabatnya itu mau memberikan keterangan sakit padanya dan Kasamatsu.
10 menit berlalu, dan suara gemercik itu belum juga hilang. Lelaki sipit itu hanya mengedikkan bahu nya, menganggap hal itu lumrah. Apalagi kondisi Kasamatsu yang belum stabil. Berada di bawah guyuran air hangat memang bisa menenangkan pikiran.
20 menit kemudian, Moriyama mulai merasa was-was. Pikirannya tidak tenang kala indra pendengarannya masih bisa mendengar suara guyuran air yang tak berhenti.
Lelaki itu memilih untuk berdiri, menghampiri kamar mandi yang terletak di ujung lorong.
Ia ketuk pintu kayu itu dengan punggung jarinya.
Tok tok.
"Kasamatsu?" Panggilnya cukup nyaring, memastikan agar suaranya bisa terdengar melalui gemercik air yang bising.
Tidak ada jawaban, hanya suara nyaring guyuran air yang tak berhenti.
Mencoba lagi, lelaki itu kembali mengetuk pintu itu. Kali ini dengan lebih kencang.
Tok tok tok.
"Kasamatsu! Kau dengar aku?" Suaranya meninggi. Kedua alisnya menyatu, ekspresi khawatir terlihat kentara di wajahnya.
Tak kunjung mendapat jawaban, lelaki raven itu memutuskan untuk memdobrak paksa pintu kamar mandi, hanya untuk mendapati Kasamatsu, belahan jiwanya ; orang yang ia sukai ; orang yang ia cintai, terbaring lemas di dalam bathub kamar mandi.
Hampir seluruh tubuhnya tenggelam di dalam bak berisi air, hanya menampakkan sedikit kelopak mata sang raven yang tertutup.
"Astaga Kasamatsu!" Moriyama panik, dengan cekatan ia berlari menuju tubuh kecil itu. Menariknya paksa keluar dari bathub.
Dingin.
Moriyama meringis pelan saat merasakan tubuh Kasamatsu yang sangat dingin. Kasamatsu sendiri, masih mengenakan pakaian lengkap. Sepertinya dia tidak melepasnya dan langsung menceburkan diri ke dalam bathub.
Moriyama panik, namun dia barusaha tenang. Dia berusaha melakukan pertolongan pertama, sama seperti yang sudah diajari sejak ia masih di sekolah menengah pertama.
"Ayolah, Kasamatsu. Bernapas, bernapas." Gumam Moriyama berulang-ulang, kala masih tak bisa merasakan deru napas ataupun detak jantung dari pemuda yang lebih kecil.
Tidak ada cara lain.
Walaupun ini adalah ide buruk, Moriyama tau dia tidak punya pilihan lain.
Lelaki yang lebih tinggi memindahkan tubuhnya, merangkak ke atas tubuh Kasamatsu. Kedua lututnya ia letakkan di masing-masing sisi tubuh yang lebih kecil, wajahnya ia dekatkan.
"Maafkan aku, Kasamatsu." Dengan begitu, Ia menutup jarak pada wajah Kasamatsu, dan menyatukan bibir mereka.
Moriyama memang pernah berkhayal bisa berciuman pada Kaptennya ini, tapi ia tidak menyangka kalau bibir Kasamatsu bisa sangat lembut seperti ini.
Sadar akan apa yang ia pikirkan, Moriyama menggeleng pelan. Ia tidak seharusnya berpikir seperti itu, ia harus menyelamatkan sang raven.
Dan dengan begitu, ia memompa udara melalui mulutnya. Memaksa untuk melakukan CPR, melakukan napas buatan.
Setelah beberapa detik berlalu, Kasamatsu tidak menunjukkan tanda-tanda akan bangun, membuat Moriyama menjadi sangat panik. Namun setelah itu-
"FWAH! UHUK UHUK! Ukh."
Grep
"A-Ah? Mo-Moriyama?"
"Kau bodoh! Apa yang kau lakukan hah!?"
Kasamatsu cuma diam. Ia tidak membalas perkataan Moriyama, tidak juga membalas pelukan eratnya. Dia cuma diam, menatap kosong ke arah dinding putih polos di hadapannya.
"Ne, Moriyama?"
"Ada ap-"
"Kenapa aku tidak mati?"
Deg.
Moriyama sontak melepas pelukannya, menatap ke arah Kasamatsu dengan tatapan kaget yang sangat kentara di wajah tampannya.
"Kenapa? Kenapa aku masih hidup?"
"Kasamats-"
"Kenapa kau menyelamatkan ku?" Netra indah itu bergulir, menatap langsung ke arah bola mata kembar milik Moriyama. Tatapannya kosong, tidak ada cahaya, tidak ada pula tatapan tajam khas seorang Kasamatsu Yukio.
Moriyama meneguk ludahnya susah payah. Apa yang harus ia katakan?
"Kasamatsu- hei. Dengarkan aku." Yang lebih tinggi memilih untuk memegang kedua sisi kepala Kasamatsu, memaksanya untuk melihat langsung ke arah netra nya.
"Kau- Kau jangan pernah melakukan hal seperti itu lagi, mengerti!?" Moriyama menggoyangkan kepala Kasamatsu pelan, sedangkan lelaki satunya hanya menatapnya kosong.
"Ada aku. Kau tidak sendiri, aku ada di sisi mu, Yukio. Sampai kapanpun itu. Aku tidak akan meninggalkanmu."
Kasamatsu kembali terdiam, netra indah nya menatap lama ke arah Moriyama, bibir bawahnya ia gigit pelan.
"Hiks"
Mendengar isakan pelan yang keluar dari lelaki di hadapannya, Moriyama kembali membawa Kasamatsu ke sebuah pelukan erat.
"M-Moriyama aku- hiks. Aku-" Moriyama tidak membalas, ia mempererat pelukannya, membiarkan sang raven menangis sepuasnya.
Setelah Kasamatsu tenang, Moriyama berdiri, berjalan menuju lemari pakaiannya dan mengambil sepasang piyama berwarna biru terang. Ia lemparkan piyama itu ke pangkuan Kasamatsu, membuat yang lebih kecil menatap heran.
"Baju mu basah, kau bisa masuk angin." Jelas Moriyama, yang kemudian dibalas anggukan oleh yang lebih kecil.
"Mau kubantu?" Pemuda sipit itu berjalan mendekat, hendak memegang lengan atas yang bersurai hitam cepak, namun seketika di tepis olehnya.
"J-Jangan." Suara Kasamatsu terdengar bergetar. Pupil matanya ikut bergetar, terlihat ketakutan.
"A-Aku sudah kotor, jadi- jangan sentuh aku." Moriyama kembali terdiam kala ia mendengar perkataan yang keluar dari mulut pemuda yang lebih kecil.
Alisnya menukik tajam, ekspresinya mengatakan bahwa ia tidak suka dengan apa yang baru saja sang raven ucapkan.
Lalu tanpa aba-aba, ia mencium pipi kanan Kasamatsu cepat.
Cup
"!!" Kasamatsu tercekat. Dengan gerakan reflek ia memundurkan tubuhnya. Telapak tangannya meraba pipi kanan yang barusan Moriyama cium.
"Mo-Moriyama-"
"Siapa yang bilang kau kotor, hm?"
"Aku-"
"Tak peduli apapun yang terjadi, kau tetap sama di mataku, Yukio. Jangan katakan hal seperti itu lagi." Suara meninggi, Moriyama menatap Kasamatsu tajam. Yang di tatap hanya menatap balik dengan tatapan bingung.
"Temani aku berbelanja." Ucap Moriyama setelahnya, menyadarkan Kasamatsu dari keterkejutan nya.
"O-Oke, aku akan berganti baju dulu."
вecaυѕe oғ yoυ
"A-Ano.. Moriyama- sweater mu terlalu besar untukku.." Moriyama tersenyum simpul saat melihat penampilan sang sahabat.
Lengan sweater dengan corak kebiruan itu terlihat terlalu panjang bagi sang raven. Membuatnya terlihat tenggelam. Ah, sahabatnya ini... Menggemaskan sekali sih? Moriyama jadi ingin memakannya.
"Itu terlihat bagus padamu." Kasamatsu mendengus, kesal akan perkataan yang bermata sipit.
"Ayo pergi saja."
Moriyama mengangguk, mengikuti langkah Kasamatsu yang sudah keluar rumah.
[Di Pusat Perbelanjaan]
"Kau ingin beli apa memangnya?" Kepala berhiaskan helaian legam itu bertanya, kepalanya ia tolehkan pada pemuda yang lebih tinggi.
"Hmm, beberapa bahan makanan. Aku juga ingin membeli alat tulis dan perlengkapan lainnya." Jawab Moriyama, asik menatap sekitar.
Kasamatsu menghela napasnya.
"Lebih baik kita berpencar. Itu akan menghemat waktu." Kasamatsu memberi saran.
"Kau yakin?"
"Tentu saja, baka!" Dengan pukulan ringan di daerah tengkuknya, Moriyama terkekeh pelan sebelum menyetujui usulan tersebut.
"Baiklah baiklah. Aku akan ke arah sana, kita akan bertemu di sini lagi setelah ini, oke?"
"Hm."
"Jangan keluyuran!"
"Ya."
"Jangan terlalu lama juga!"
"Kau kira aku anak kecil, sialan!?"
"Iya iya, maaf." Tertawa kecil, Moriyama melangkahkan kakinya menjauh.
Kasamatsu menghela napasnya pelan. Ia arahkan langkahnya mengelilingi rak barang di sekitarnya, berniat mencari barang yang ingin mereka beli.
Sampai suatu suara mengagetkannya.
"Oohh~ Kita bertemu lagi~"
Kasamatsu bergeming. Napasnya seketika memberat, kepalanya mendadak pening. Sekelebat ingatan akan malam itu kembali hadir di dalam pikirannya.
Suara itu.
Aku kenal suara itu.
Dengan napas yang terputus-putus, Kasamatsu menolehkan kepalanya patah-patah ke arah asal suara.
Mendapati seorang lelaki bersurai coklat, menatapnya sembari menyeringai.
Seringaian yang sama yang ia lihat pada malam itu.
Malam dimana ia kehilangan segalanya.
"Aku tak menyangka kita akan bertemu lagi~ Semuanya memang takdir hmm~" Satu langkah maju untuknya, maka satu langkah mundur untuk Kasamatsu.
Kasamatsu ingin berteriak, namun suaranya tercekat di tenggorokannya. Pupil indah bercorak blue metalnya menatap takut pada lelaki itu, yang semakin memperlebar seringaiannya.
Duk.
Ah, tidak.
Dia tersudutkan, lagi.
"Ne, kau sudah tau kalau kau tidak bisa kabur kan~?" Suara serak basah itu ditangkap pendengarannya, membuat kedua lutut sang raven melemas.
"Dan kau tau~? Aku merindukanmu, dan desahan menggemaskan mu itu." Lelaki itu berbisik langsung ke arah telinga Kasamatsu di akhir perkataannya. Kemudian menggigit pelan daun telinga yang bersurai hitam, membuat Kasamatsu sontak menahan napasnya.
Air mata mulai berkumpul di pelupuk matanya, ingatan yang terjadi pada malam itu terputar berulang-ulang di kepalanya, membuat rasa takutnya kembali menguasai.
"Jadi? Bagaimana kalau kita ulangi lagi hm~?"
Grep.
"Siapa kau?" Kasamatsu mengangkat kepalanya, mendapati Moriyama yang menatap lelaki itu dengan tatapan membunuh.
"Harusnya aku yang bertanya seperti itu." Yang bersurai coklat menjawab tak kalah sinis.
"Apa yang mau kau lakukan pada Yukio?"
"Yukio?"
Lelaki itu menatap bingung, lalu mengikuti arah tatapan Moriyama yang terarah ke Kasamatsu, sebelum mendengus kesal.
"Kau tidak bilang kau sudah punya pacar." Ujarnya sambil menatap ke arah Kasamatsu yang masih gemetaran.
"Tapi kau tau? Kau gagal menjaga pacarmu itu." Lelaki itu tertawa remeh.
"Lagipula tubuh pacarmu itu bagus kau tau? Desahannya malam itu juga terdengar sangat menggemask-"
BUGH
"MORIYAMA!"
Moriyama mendadak tuli, ia terus menerus melancarkan pukulan pada pemuda di depannya. Pemuda itu tersungkur, namun Moriyama tak peduli.
"Moriyama! Sudahlah!" Kasamatsu menarik kuat kerah baju bagian belakang yang dikenakan Moriyama, berusaha memberhentikan aksinya sebelum mereka membuat masalah.
Melihat sahabatnya yang tak kunjung menghentikan pukulannya, Kasamatsu kembali mencoba berteriak.
"MORIYAMA! SADARLAH!"
Pergerakan Moriyama berhenti ketika dirinya sadar apa yang baru saja ia perbuat. Ia baru saja termakan emosinya, ia lepas kendali.
"A-Ah?"
Kasamatsu berdecih pelan. Tangannya yang masih sedikit bergetar ia arahkan ke kerah lelaki yang lebih besar dan menariknya keluar.
"Kasamatsu, aku-"
"Sudah. Jangan ungkit itu lagi, aku sudah tau."
Tubuh Kasamatsu masih tidak berhenti bergetar. Ketakutannya kembali memakannya hidup hidup. Ia tidak bisa berpikir jernih. Tidak dengan keadaan seperti ini.
Mereka bertemu di supermarket ini. Terletak di tengah kota, dan Kaijo juga berada di sekitar sini.
Itu berarti-
Kasamatsu kembali menggigit bibir bawahnya resah. Tangannya mengepal kuat, berusaha menarik napas teratur sembari menunggu mereka sampai ke apartemen.
Itu berarti bahwa lelaki itu tinggal di daerah yang sama dengannya. Pasti mereka akan kembali berpapasan suatu saat nanti.
Pelupuk matanya kembali basah oleh air mata. Ia mempertahankan kelopak matanya untuk terbuka, menahan cairan bening itu agar tidak tumpah.
"Ukh." Moriyama melirik, menggertakkan giginya kesal saat melihat kondisi Kasamatsu yang kembali memburuk.
Mati.
Aku ingin mati saja.
Kata-kata itu terus berputar di kepala yang bersurai hitam cepak. Dia merasa tidak kuat. Memori kelam malam itu tidak bisa ia hilangkan dari kepalanya. Setiap malam, setiap dia ingin tidur, dimanapun dan kapanpun, sekelebat bayangan itu akan hinggap di kepala kecilnya.
Ia tidak tahan.
"Ne, Moriyama?" Yang dipanggil menoleh.
"Hm?"
Napasnya mulai teratur, tubuhnya tak lagi bergetar. Kedua netra blue metal kembarnya menatap penuh harap, walaupun ada sedikit secercah kesedihan yang terpancar.
"Apa besok aku boleh pergi ke sekolah?"
Ckiiit
Kasamatsu tersentak kaget saat Moriyama tiba-tiba menginjak rem pada mesin mobilnya. Membuat tubuh mereka sontak mencondong maju.
"Mo-Moriyama! Itu berbahaya!"
"A-Ah, maaf. Aku hanya terlalu terkejut."
"Kau- apa benar-benar yakin ingin ke sekolah?"
Kasamatsu mengangguk yakin, senyum manis ia tunjukkan, membuat lelaki satunya harus berusaha keras untuk menyembunyikan pipinya yang memerah.
"Baiklah, jika itu yang kau mau."
"SENPAIIII!!! KAU KEMANA KEMARINN!?" Baru saja mereka memasuki gym, mereka sudah disuguhkan oleh teriakan yang memecahkan gendang telinga.
"KISE, BERISIK!" Tanpa belas kasihan, Kasamatsu menggerakkan kakinya, menendang punggung besar pemuda kuning di hadapannya.
"Aww! Sakit, senpai!"
"Ah, iya iya. Maafkan aku." Kise mengerjab-ngerjabkan matanya bingung. Hah? Apa yang barusan ia dengar? Perkataan maaf? Dari kapten tsundere nya itu?
"Sudah. Ayo mulai latihan." Perkataan mutlak itu terucap, membuat semuanya kembali fokus pada jalannya latihan.
"Oi Kise!"
Kepala berhiaskan helaian kuning itu menoleh, menatap yang lebih tua dengan kerlingan indah pada netra madunya.
"Kau mengajak Aomine?" Yang bersurai kuning menaikkan sebelah alisnya bingung, lalu mengangguk mengerti saat ia tau maksud sang raven.
"Aomine-cchi bilang kalau tim nya tidak latihan hari ini-ssu, jadi dia meminta untuk datang."
"Kalau tidak boleh, aku akan bilang padan-"
"Tidak apa apa, sekali-sekali."
Lelaki penyandang marga Kise itu menatap heran. Apa yang terjadj pada Kaptennya hari ini? Apa kepalanya terbentur? Kenapa rasanya dia baik sekali hari ini?
Kise cuma menggelengkan kepalanya dalam diam. Memilih untuk melanjutkan latihannya sebelum ia diteriaki.
Latihan berjalan lancar. Hanya saja, kapten otoriter bersurai raven itu terlihat aneh. Mulai dari sikapnya, dan caranya berbicara.
Dia hanya-
Bersikap lebih baik dari biasanya.
Dan jangan lupakan kenyataan bahwa ia terlihat sangat manis hari ini.
Selama latihan, Kapten Kaijo itu tidak ada berteriak, ataupun marah-marah pada teman satu timnya.
Dia cuma tersenyum, kadang tertawa sambil memberitahu kesalahan mereka.
Dia juga tidak memukul atau menendang Kise sedikitpun. Memarahinya saja tidak. Ini membuat semua orang yang berada di gym menatap satu sama lain heran.
Apa yang terjadi pada Kapten galak mereka?
"Senpai, apa yang terjadi-ssu?" Tanya Kise hati-hati.
Kasamatsu memiringkan kepalanya polos, ekspresi bingung yang terlihat menggemaskan itu membuat Kise memerah.
"Kenapa? Apa ada yang salah?" Tanya Kasamatsu pelan.
"I-Ie, lupakan saja-ssu."
Moriyama hanya menatap dari jauh. Kedua alisnya saling bertautan, tatapan matanya terlihat khawatir.
Kenapa?
Kenapa perasaanku tidak enak?
"Ah, Aomine." Merasa namanya disebut, lelaki tinggi berkulit gelap itu menoleh.
"Hm? Oh. Kau."
Mendengar jawaban tidak sopan dari yang lebih muda, Kasamatsu cuma tersenyum simpul.
"Jaga Kise dengan baik, kau cecunguk tidak sopan." Setengah tertawa, Kasamatsu mendengus pelan.
Aomine menaikkan sebelah alisnya, masih tidak dapat memproses apa yang lelaki raven dihadapannya katakan.
"Apa mak-"
"Bocah itu tidak pandai diam. Juga terkadang sama sekali tidak sopan pada yang lebih tua. Dia itu merepotkan." Menghembuskan napas pelan, Kasamatsu melanjutkan perkataannya.
"Aku sendiri kewalahan untuk menjaga anak ayam yang satu itu." Lanjutnya diiringi kekehan kecil.
"Tapi sepertinya dia benar-benar bahagia jika bersamamu, heh? Aku iri." Kalimat terakhir pada perkataannya terucap sangat lirih. Netra indah bercorak blue metal miliknya menyendu, menatap sedih ke arah pemuda kuning yang asik menyapa para fans nya.
"He~? Kau tidak seperti yang biasanya, senpai." Nada mengejek terdengar jelas dari perkataannya, Kasamatsu hanya tertawa pelan.
"Pokoknya kau harus berjanji padaku!"
Aomine sedikit terkejut, saat pemuda galak itu menggenggam kedua tangannya erat. Netra nya menajam, menatap ke arah Aomine dengan sangat yakin.
"Berjanji padaku untuk tidak membuatnya sedih, terlebih saat aku tidak ada. Mengerti, brat?"
Setelah itu, tanpa berkata apapun lagi, yang bersurai hitam melenggang pergi. Meninggalkan Aomine dalam keadaan sangat bingung.
Apa maksudnya?
"Baiklah, latihan selesai sampai disini." Couch mereka berucap lantang. Matanya bergerak mengelilingi ruangan, terlihat bingung saat tidak bisa menemukan apa yang ia cari.
"Dimana Kasamatsu?"
Mendengar pertanyaan pelatih mereka, seisi ruangan terdiam. Mereka yakin kok, beberapa menit yang lalu sang Kapten masih bersama dengan mereka. Lalu, dia kemana?
Moriyama, merupakan yang terpanik dari mereka semua. Dia yang mengetahui keadaan Kasamatsu yang sebenarnya, merasa sangat khawatir pada sang raven sekarang.
"A-Aku akan mencarinya!" Moriyama berucap lantang, sembari berlari keluar gym. Sama sekali tidak menggubris ucapan pelatih mereka.
"Aku juga-ssu!" Tambah yang bersurai kuning. Ekspresinya terlihat campur aduk. Tak bisa dipungkiri, dirinya juga merasa cemas akan keadaan senpai manisnya itu.
Pencarian dilakukan. Di ruang loker, di belakanh gym, gudang, bahkan ada yang mencari di lapangan tim bola sebelah. Namun yang dicari tidak di temukan.
Kau dimana, Yukio?
Pertanyaan yang sama terus menerus terulang di kepalanya. Dia memilih untuk mencari di gedung sekolah yang sudah sepi, mencoba menggunakan keberuntungannya kali ini.
"Oke, pertama-tama aku akan mencari di kelasku sendi—" Pernyataan Moriyama terputus, kala netra gelapnya melihat siluet seseorang yang sedang menenggelamkan wajahnya di balik kedua lengannya. Sepertinya sedang tidur?
Mengetahui bahwa itu adalah Kasamatsu, dilihat dari surai hitam cepak khas miliknya, Moriyama mendesah lega.
Dengan santai, ia berjalan menuju bangku yang Kasamatsu tempati, lalu berdiri di hadapannya, mengguncang bahunya pelan.
"Oi, Kasamatsu sialan. Jangan tiba-tiba menghila begitu. Aku khawatir." Gumamnya nyaring, masih sambil mencoba membangunkan pemuda mungil di depannya.
"Oi. Bangun, Kasamatsu." Moriyama sedikit merasa kesal saat raven di hadapannya tak kunjung membuka mata nya.
Hm?
Namun sesuatu menarik perhatiannya.
Tergeletak begitu saja pada marmer yang dingin, Moriyama berjongkok sebentar untuk mengambil benda berbentuk tabung kecil dengan label di depannya.
Apa ini?
Benda kecil itu terlihat seperti botol obat, dengan isinya yang sudah kosong.
Moriyama menyipitkan netranya, berusaha keras untuk membaca tulisan kecil pada botol obat itu.
Sleeping— pil?
Sleeping pil?
Obat tidur?
"Kasamatsu. Aku tidak bercanda. Bangun sekarang, sialan." Nada bicara berubah panik, Moriyama tanpa berbasa-basi, memilih untuk membalikkan tubuh sang raven secara paksa.
Moriyama bingung setengah mati. Kasamatsu tidak kunjung bangun, Moriyama bahkan tidak yakin kalau ia melihat sahabatnya itu bernapas.
Lalu dengan perasaan panik, Moriyama menaruh jarinya di depan hidung Kasamatsu, berniat mengecek pernapasan dari pemuda yang lebih kecil.
Nihil.
Tidak ada.
Dia tidak bernapas.
Masih berusaha mempertahankan pemikiran positifnya, Moriyama berpindah untuk mengecek detak jantungnya.
Hening.
Tak terdengar apapun.
Jantungnya tak lagi berdetak.
"Kau sialan." Moriyama menggeram rendah, nadanya terlihat tajam, walaupun air mata sudah menggenang di pelupuk matanya.
"Apa yang terjadi, sialan?"
Oh ayolah, Moriyama tidak bodoh. Memang apalagi skenario yang tepat selain 'bunuh diri overdosis obat'?
Moriyama gagal.
Dia terlalu lemah, dia tidak bisa menjaga sahabatnya.
Dia terlalu naif.
Firasat buruknya menjadi kenyataan, dan Moriyama menyesal dia tidak menjaga Kasamatsu dari dekat.
BRAK!
"MORIYAMA-SENPAI, APA KAU SUDAH MENEMUK—" Kise terdiam, melihat pemandangan di hadapannya.
Air mata mengalir deras dari kedua netra indah pemuda sipit, sedangkan Kasamatsu masih sedia disana. Dengan damai.
"M-Moriyama-senpai, apa yang terjadi?"
Moriyama cuma menggeleng pelan, tak kuasa menahan isakannya sendiri. Kise terdiam. Netra madunya terbuka lebar. Masih tidak bisa mempercayai hal yang terpampang jelas di hadapannya.
"Bo— Bohong." Kise berucap pelan, suaranya bergetar. Napasnya memberat, dia terlihat mengepalkan tangannya kuat.
"Jelas-jelas tadi senpai masih baik baik saja kok? Dia masih tertawa bersama yang lain." Bahkan tidak berpikir untuk menambahkan efek '-ssu' pada perkataannya, Kise masih terlihat tidak percaya.
"Ini. Bacalah." Ujar Moriyama seraya memberikan sepucuk surat yang ia temukan di dekat Kasamatsu tadi.
Dia sudah membacanya, sebelum yang bersurai kuning tiba.
Dengan perasaan terpukul, Kise meraih selembar kertas tersebut. Membuka nya perlahan, kemudian membaca kata perkata yang ada pada surat tersebut dengan pelan.
Ah! Kalau kalian sudah menemukan surat ini, berarti aku sudah tidak lagi berada di dunia ini.
Jadi, ehm.. Halo? Kurasa? Hehe. Maaf membuat kalian khawatir. Terutama kau, Moriyama.
Pertama, aku ingin mengucapkan terima kasih. Pada Moriyama. HEH JANGAN KE PEDE AN KAU SIALAN!
Tapi terima kasih sudah merawatku, juga menjagaku. Terlebih saat kita bertemu lelaki itu di supermarket.
Maafkan juga aku yang tidak bisa menjaga diri. Mungkin jika aku sedikit lebih kuat, surat ini tidak akan pernah kutulis hehe.
Anu, gomenasai, ne? Aku tau kok, kau menyukaiku. Bahkan mungkin kau mencintai ku. Maafkan aku. Maafkan aku yang tidak peka. Dan aku malah menyukai orang lain.
Andai aku lebih peka, mungkin kita bisa mendapatkan akhir yang lebih baik dari ini.
Oh ya! Dan.. Aku belum menceritakan apa yang terjadi malam itu, bukan? Maafkan aku ya.. Kau bisa bertanya pada Kise, alasan mengapa aku berada di taman itu sampai larut malam.
Ngomong-ngomong soal Kise.. Aku yakin dia akan membaca surat ini juga, jadi aku ingin berbicara dengannya!
Halo, kouhai sialan! Lakukan latihan dengan benar! Jangan hanya berpacaran dan bermesraan dengan pacar idiot mu yang satu itu! Sebentar lagi Winter Cup dan aku tidak mau tau pokoknya kau harus mengalahkannya kali ini!
Maaf kemarin tidak bisa datang latihan maupun datang ke sekolah. Akhir-akhir ini, banyak yang terjadi. Oh, tapi tenang! Walaupun tidak ada aku, Aomine sialan itu sudah berjanji untuk melindungimu saat aku tidak ada, jadi kau jangan khawatir!
Kise.
Aku—
Aku menyukaimu. Tidak. Aku mencintaimu. Sungguh.
Sudah lama aku memendamnya, tapi karna harga diri, dan aku juga takut pada kenyataan, aku tidak berani mengungkapkannya padamu.
Terlebih, kau terlihat bahagia saat bersama Ace nya Touou itu, dan aku tidak mau mengganggu apa yang membuatmu bahagia.
Aku memutuskan untuk menyatakan perasaanku pada malam itu, di taman. Walaupun aku tau pasti ditolak, setidaknya aku akan merasa lega kalau sudah mengungkapkan segalanya.
Aku menunggu lama, sialan! Disana itu dingin, mana sudah jam 11 malam pula. Tapi kau pada akhirnya tidak datang.
Setidaknya datang dan berikan aku jaket, sialan! Dasar kouhai tidak tau diri!
Oh. Kalau kau bertanya-tanya kenapa aku melakukan hal ini, kau bisa tanya Moriyama. Aku yakin dia akan menjelaskan semuanya padamu.
Aku hanya..
Aku—
Hanya tidak tahan lagi.
Maafkan aku yang meninggalkan kalian ya, hehe. Semoga tim Kaijo kedepannya akan lebih sukses! Oh! Pilihlah kapten baru dengan bijak ya! Atau kalau tidak, suruh Kobori!
Maafkan aku. Senang bisa bertemu kalian. Aku tidak akan melupakan setiap momen kita bersama. Aku bersumpah untuk tidak melupakannya.
Tertanda, Yukio Kasamatsu.
Tangan itu meremat kuat kertas di pegangannya. Air mata mengalir deras, isakan tertahan terdengar menggema ke seluruh ruangan.
Kasamatsu menyukainya. Senpai yang ia sukai juga menyukainya balik, namun dia bahkan tidak sempat untuk membalas perasaan itu.
"Kenapa— Kenapa senpai melakukannya." Ujarnya di sela-sela tangisannya.
"Kise." Yang bersurai kuning menoleh, mendapati Moriyama yang menatapnya sangat tajam.
"Apa yang terjadi malam itu? Kenapa Kasamatsu berada di taman itu sampai larut?" Kise menatap Moriyama sendu. Tatapan matanya kosong, pancaran kebahagiaan yang selalu membuat kedua netra madu nya berkilau sudah hilang.
"Malam itu. Kasamatsu senpai menyuruhku menemuinya di taman pukul 7." Jelas Kise. Tangannya mengepal kuat.
"Tapi— aku sibuk melakukan 'sesuatu' dengan Aomine-cchi, dan aku lupa kalau senpai menunggu."
"A-Aku tidak tau senpai akan menunggu selama it—"
BUGH!
Kise memegang pipi yang baru saja Moriyama pukul dengan tatapan kaget.
"HEI! Apa yang kau lakukan pada pacarku, sialan!?" Aomine, tiba-tiba saja muncul dari belakang.
Moriyama tidak peduli. Ia cengkram keras kerah kaos yang Kise pakai, air mata kembali menggenang di pelupuk matanya.
"Kau bocah sialan." Moriyama menggeram rendah. Ia sudah tidak peduli kalau yang ia pukul barusan adalah adik kelasnya.
"Lepaskan Kise, brengsek." Aomine balik menggeram, merebut Kise. Menarik tubuhnya dan menyembunyikannya di belakang tubuhnya sendiri, bermaksud melindunginya.
Melihat adegan di depannya, Moriyama tertawa, sangat kencang. Mengundang tatapan heran dari yang bersurai biru gelap dan tatapan takut dari yang bersurai kuning.
"Brengsek? Kau panggil aku brengsek?" Moriyama kembali tertawa. Netranya menajam, menatap datar pada dua sejoli di hadapannya.
"Bajingan seperti kalian mengataiku brengsek? Ha! Jangan bercanda."
"Yukio menyuruhmu menemuinya, dengan alasan ingin mengatakan sesuatu. Dia hanya ingin berbicara padamu, bukannya membunuhmu, sialan!"
"Dia menunggumu. Berjam-jam, dalam dinginnya malam. Hanya untuk menemuimu. Tapi tebak. Kau tidak datang." Lanjut Moriyama, diakhiri dengan tawa remeh miliknya.
"Itu kan salahnya, siapa suruh—"
"Aomine Daiki." Ucapan Aomine terpotong, kala pemuda di hadapan mengucapkan namanya dengan nada dingin.
"Kau tidak punya hak bicara disini."
"Aku cuma mau bicara pada orang yang menjadi penyebab Yukio membunuh dirinya sendiri." Mendengar ucapan Moriyama, mata Kise membeliak kaget. Apa maksudnya!?
"M-Moriyama-senpai. A-Apa maksudmu!? Aku tidak—"
"Yukio menelponku, tengah malam. Mengirimi ku pesan bahwa dia meminta jemputan pada malam itu."
"Tentu aku kaget. Itu jam 1 pagi! Untuk apa Yukio mengirimiku pesan pada jam 1 pagi!?"
"Aku khawatir, jadi langsung saja aku menuju lokasi yang ditunjukkan gps ku."
"Dan tebak, aku menemukan apa?" Moriyama mengangkat kepalanya, wajahnya basah akan air mata, namun netranya penuh akan kebencian.
"Aku menemukan Yukio. Tergeletak di atas tanah, tanpa memakai busana. Ya, gara-gara kau, Yukio diperkosa, ditinggalkan begitu saja disana sendirian. ITU SEMUA KARNA KAU, KISE RYOUTA!"
Dibalik punggung Aomine, Kise gemetar pelan. Tidak pernah sekalipun ia melihat seniornya itu semarah ini. Tapi kenyataan yang dikatakan Moriyama lebih membuatnya takut.
"Jika saja kau mau menemuinya barang sebentar. Dia tidak akan mengalami semua ini sialan! Dia tidak peduli jika kau akan menolaknya! Dia hanya ingin kau bertemu dengannya!"
"L-Lalu kenapa kau— kau— hiks." Terisak pelan, Moriyama memunggungi keduanya. Memilih untuk berjalan menuju tubuh Kasamatsu yang sudah tidak bernyawa, lalu mengangkatnya.
"Moriyama-senpai. Kau mau kemana—" Kise baru ingin menyentuh mereka berdua, namun Moriyama mendesis pelan, memberi peringatan lewat tatapannya.
"Jangan sentuh kami." Dan dengan begitu, Moriyama meninggalkan keduanya, dan berlari menuju rumah sakit.
Detik itu juga, Kise jatuh merosot.
"K-Kise!" Aomine yang berada di dekatnya sontak berjongkok, berusaha menenangkan pemuda kuning yang mulai kesusahan mengambil napasnya itu.
"Aomine-cchi. Gara-gara aku— senpai—" Tangisannya pecah. Perasaannya bercampur aduk menjadi satu.
Andaikan ia datang tepat waktu. Andaikan ia tidak melupakan janji mereka. Andaikan—
Semua yang tersisa hanyalah kalimat 'Andaikan'.
Aomine sendiri tidak jauh berbeda. Sekarang semua sikap kapten galak itu sudah jelas. Bohong jika ia bilang kalau ia tidak merasa bersalah. Karna semua ini gara-gara dia.
Bagaikan air dan minyak, bagaikan matahari dan bulan.
Aku adalah minyak dan kau adalah air. Aku adalah bulan dan kau adalah matahari.
Kita tidak ditakdirkan bersama. Aku akan selalu berada di bawah, dikala kau bersinar terang di atas.
Kita berbeda, takdir tidak menulis nama kita bersamaan.
Walaupun begitu, aku tetap mencintaimu.
«Because Of You»
END
[A/N]
Bro, endingnya ga bikin puas banget. Gaada angst nya sama sekali.. Huft. Mungkin ini project yang paling berantakan.
Gomen. Ini juga project terpanjang wkwk. Untuk chapter satu 2K words, dan chapter dua dengan 6K words. Total 8K words.
Maaf aku lama ngelanjutin. Kena writers block itu bikin gemes pen nyubit ginjal seseorang.
Yosh, kita ketemu di Fic berikutnya! Pai pai~ maaf endingnya kurang banget. Sumpah kalo kalian mau kritik, atau bahkan caci maki juga aku maklum karna aku juga pengen banget caci maki cerita ini karna berantakan banget:')
-Racchi
