PIIP PIIP!
"Khun! Rak!"
"Bam...?"
"Bisakah kalian keluar sekarang juga...? Ada sesuatu yang ingin aku latih bersama kalian!"
Hah...?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Khun saat ini sedang berada di tempat latihan Bam bersama ayahnya; Khun Eduan. Tidak hanya dirinya, Rak juga dipanggil oleh Bam datang kemari. Beberapa saat lalu ketika ia dan Rak berdiskusi dengan data Yu Hansung, Bam meneleponnya dan menyuruh ia dan Rak latihan bersama.
Khun tidak mengerti mengapa Bam tiba-tiba saja mengajak mereka untuk latihan bersama. Ia terdiam lama sambil menatap benda persegi yang disebut clicker di tangannya. Clicker adalah alat yang membantu seseorang lebih mudah mengetahui senjata apa yang lebih cocok digunakan. Singkatnya—senjata yang lebih merefleksikan diri mereka sendiri.
" ... Apa-apaan ini?" Tanya Khun bingung. Kepalanya menoleh ke samping menatap Bam dengan pandangan mengonfirmasi, "Jadi, kau ingin aku menekan benda ini?"
Bam mengangguk antusias, "Iya! Itu akan memberitahu mu sifat dan bentuk shinsu apa yang cocok untukmu,"
"Maksudku ... aku tahu itu," ada jeda sejenak dari intonasi bicara Khun. Ia melirik ke sang ayah yang terlihat menguap. "Tapi kenapa tiba-tiba melakukan ini...?" Tanyanya tak mengerti. Khun kembali memfokuskan pandangannya ke Bam dengan pandangan bertanya.
"Dicoba saja. Bukankah tidak adil ... jika hanya aku saja yang berlatih sendirian?"
" ... yah, aku, sih, tidak masalah kalau kau melakukannya sendirian," jawabnya sambil mengendikkan bahu.
"Bam, aku cuma—"
"Kalau begitu aku duluan!"
Bam lebih dulu menekan clicker nya dan munculah sebuah shinsu berbentuk bulat. Eduan yang melihat hal tersebut membulatkan matanya terkejut.
"Itu..."
Sebuah orb?
"Kelihatannya menyenangkan! Aku akan mencoba juga!" Seru Rak tak mau kalah. Buaya itu pun menekan clicker miliknya dan terbentuklah sebuah perisai yang terbuat dari batu.
"Oh! Apa itu?!"
"Perisai batu ... apa itu artinya Rak lebih baik menggunakan shinsu untuk pertahanan?" pikir Bam.
Eduan melihat hal itu menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Manik matanya bergulir dan mendapati sisa satu orang yang tak menekan clicker.
"Hei, kenapa kau diam saja?"
"Huh?" Khun yang sedari tadi memperhatikan dua teman setimnya mengalihkan fokus ke Eduan.
"Cepat dicoba."
" ... Hah?" Ia terdiam sejenak sambil memproses apa maksud sang ayah. Kemudian segera menekan clicker miliknya sambil menggerutu kesal, "Ukh, menyusahkan saja."
Tak lama muncul tombak es dari clicker yang Khun pencet. Eduan yang melihat tombak es tersebut terkejut dan baru menyadari sesuatu—
" ... Tombak es? Kau anakku di luar sana, ya?" Tanyanya, sebab ia adalah pengguna elemen es. Kalau dugaannya benar, berarti lelaki bersurai biru senada dengannya itu adalah anaknya.
"Kau baru menyadarinya sekarang?!" Seru Khun tak percaya sang ayah baru menyadarinya. Lamban sekali, pikir Khun.
"Tapi kenapa kau bukan spear bearer? Tombak es adalah kemampuan yang langka."
Khun terdiam.
"Asal kau tahu aku tak pernah bisa ... mengalahkan mu dengan tombak,"
"Makanya aku tak mempelajarinya. Tim kami sudah punya spear bearer. Aku tak ingin merusak keseimbangan tim kami." Jelasnya.
Khun menoleh menatap Bam sambil memberikan senyuman penuh dukungan, "Kalau begitu, aku pergi dari sini, ya, Bam. Jangan memaksakan diri,"
"Khun! Coba sedikit lagi!" Seru Bam seiring Khun melangkahkan kakinya pergi. Ia mencoba menahan Khun agar tetap kembali berlatih bersamanya.
"Maaf, Bam. Perjuangan sia-sia tak cocok denganku," sesaat Khun kembali mengingat percakapannya dengan Evan saat berlatih menggunakan lighthouse sebelum mereka pergi ke Lantai Kematian.
"Tapi ..." Mendengar penuturan dari Khun, Bam merasa sedih. Ia merasa Khun tidak berniat menjadi kuat bersamanya. Apa itu memang keinginannya sendiri? Atau karena Khun menyerah mengalahkan ayahnya? Bam tidak tahu.
"Hei, bocah tengik."
"?" Khun menolehkan kepalanya menatap data sang ayah.
"Aku tak tahu apa yang terjadi antara kau dan aku di luar sana dan sejujurnya aku tak begitu peduli." Ujar Eduan sambil mengendikkan bahunya acuh. "Tapi kupikir kau tak akan bisa mengalahkanku jika kau terus melarikan diri seperti ini," sudut bibirnya terangkat menampilkan senyuman remeh.
"Bukankah lebih menguntungkan jika kau belajar dariku di sini dan menjadi lebih kuat?"
Kepalanya tertunduk memikirkan perkataan sang ayah. Banyak hal berkecamuk dalam pikirannya. Tentang Evan yang mengatakan ikan kecil tak selamanya bisa berenang mengejar hiu, tentang dirinya yang hanya bisa memperlambat Bam mengejar tujuannya sedangkan Bam sendiri semakin lama semakin terasa jauh dijangkau, tentang menjadi lebih kuat...
Khun mengepalkan kedua tangannya, "Menjadi lebih kuat ... apa untungnya kalau menjadi lebih kuat? Aku yakin jika kau melihat dirimu sendiri di luar sana, kau mungkin ingin melarikan diri. Aku tak tahu apa yang terjadi di kereta ketika kau menaiki menara, tapi ayahku di luar sana sama sekali berbeda denganmu. Jadi, kau tak perlu basa basi."
Ia kembali melangkahkan kakinya pergi dari tempat latihan sembari memikirkan apa yang sudah ia katakan.
Tidak. Bukan ini. Bukan ini yang ingin kukatakan.
Khun ingin mengatakan hal yang berbeda. Namun apa yang ingin ia suarakan tak selaras dengan apa yang telah ia ucapkan. Khun ingin menjadi lebih kuat. Ia ingin menjadi lebih kuat demi bisa berdiri berdampingan dengan Bam. Ia ingin menjadi lebih kuat agar terlihat pantas bertarung bersama-sama dengan Bam. Ia ingin menjadi lebih kuat agar bisa merencanakan strategi sempurna demi Bam selamat dari serangan musuh.
Khun ingin menjadi lebih kuat agar terlihat pantas menaiki menara bersama dengan Bam.
Tapi semakin ia memikirkan kepantasannya bersama dengan Bam, Khun merasa ia hanya menjadi penghambat segalanya. Semakin Khun memikirkan kepantasannya bersama dengan Bam, Khun semakin pula mempertanyakan apakah ia pantas menaiki menara bersama dengan Bam?
"Khun!"
Bam berseru kencang. Kedua tangannya mengepal erat. Bola mata berwarna kuning emas miliknya berkilat penuh determinasi. Bam tidak ingin Khun terlihat pesimis seperti ini. Menurutnya Khun lebih dari pantas untuk menjadi kuat. Ia tak akan membiarkan hanya dirinya yang menjadi kuat sedangkan teman-teman nya yang lain tidak.
"Tetap saja kita harus menjadi lebih kuat bersama-sama! Menjadi lebih kuat ... bukan hanya untuk mengalahkan petarung-petarung yang hebat. Perjalanan kita masih panjang sebelum kita menetapkan tujuan. Ayo kita lakukan bersama secara perlahan-lahan. Setidaknya kau harus jadi sedikit lebih kuat untuk hal itu..." jelas Bam.
Melihat sorot penuh determinasi dan tanpa keraguan dari bola mata kuning emas tersebut membuat Khun tertegun. Apa yang Bam katakan memang benar. Tapi itu saja tak cukup membuat hal yang berkecamuk di dalam hati dan pikirannya sirna. Keragu-raguan masih menggerogoti pikiran dan hatinya. Khun masih mempertanyakan kemampuannya.
Helaan napas pelan lolos dari bibir pemuda Irregular. Sorot matanya yang tajam kini berubah melembut. Bam kembali melanjutkan perkataannya seraya menjulurkan tangannya pada Khun. Intonasi suaranya pun melemah; nyaris seperti berbisik.
"Agar kita pergi bersama-sama ... tidak bisakah kau melakukannya demi alasan itu?"
"Bam..."
Khun terdiam di tempatnya. Untuk sejenak memori tentang ia dan Maria berputar dalam otaknya. Waktu itu ia berhasil membuat Maria lolos menjadi Putri Jahad dan akhirnya menaiki menara. Sementara Khun hanya membiarkan Maria pergi dan meninggalkan kekosongan dalam hatinya. Ada hal yang ingin ia utarakan pada gadis tersebut, namun lidahnya terlalu kelu untuk menyuarakan. Pun dirinya tak mengerti sesuatu apa yang ingin ia suarakan pada gadis tersebut. Apa yang ingin ia minta?
Dan Bam menyuarakan apa yang ternyata selama ini ingin ia suarakan.
Aku tak bisa memintanya untuk pergi bersama-sama, begitulah benak Khun.
Bam mengatakan sendiri ingin pergi bersama-sama. Bam mengatakan sendiri ingin mengajaknya menaiki menara bersama dengan menjadi lebih kuat meski tak secara jelas Bam bilang, namun Khun bisa menangkap implikasi dari cara Bam mengajaknya pergi bersama-sama.
Dan Khun selalu menemukan dirinya tak pernah bisa membantah ataupun menolak permintaan dari Bam.
"Haah, baiklah. Ayo kita lakukan."
Sebab inilah yang Khun inginkan.
Sebab Khun menginginkan ia dan Bam selalu menaiki menara bersama-sama, melewati segala rintangan bersama-sama, berjuang bersama mencapai apa yang menjadi tujuan mereka.
Ketika Khun selalu meragu pada dirinya sendiri, ketika itu juga ia selalu bisa menemukan dirinya kembali bangkit penuh determinasi dan percaya diri.
Dan itu semua berkat Bam. Cahayanya.
.
.
.
.
.
A/N :
yuuhuuuu Uso buat something yang baru yaitu Pair KhunBam dari Tower of God! Hope you like it. RnR please!
