Bastard Guardian

.

.

.

Main Pair: Park Chanyeol x Byun Baekhyun

Rate: T

Genre: Romance, Drama, School-life

Disclaimer: All the casts aren't mine but the story's originally mine.

Warning: BoyxBoy, Shou-ai, OOC, typo(s)

DON'T LIKE DON'T READ

.

.

Baekhyun hanyalah siswa biasa yang tidak ingin terkena masalah apapun dengan siapapun. Tapi, karena kesalahan Luhan dan Kyungsoo, surat cinta yang dibuat oleh Luhan untuk Sehun justru dibaca oleh Park Chanyeol – salah satu berandal di sekolahnya – dan lebih parahnya lagi Chanyeol mengira Baekhyun-lah yang menulis surat itu dan menerima Baekhyun sebagai kekasihnya.

.

.

HAPPY READING

.

.

Seorang namja mungil mendudukan dirinya di atas sofa empuk yang terdapat di dalam kamarnya yang besar. Dengan handuk yang berada di tangannya, namja mungil itu mengusap-usap rambutnya yang basah.

CKLEK

Pandangan namja mungil itu teralih ke arah seseorang yang baru saja memasuki kamarnya. Kepalanya menggeleng ketika melihat tingkah seenaknya dari orang yang baru saja masuk ke dalam kamarnya itu.

"Tidak bisakah kau mengetuk pintu dulu sebelum masuk?" ucap namja mungil itu sambil mengeringkan rambutnya.

Sosok yang baru saja masuk ke dalam kamarnya itu hanya mengangkat bahunya acuh sebelum akhirnya ia merebahkan dirinya di atas kasur milik si namja mungil.

"Kenapa kau berada di sini? Bukankah kau seharusnya sedang bersama dengan mereka?"

"Kami baru akan bertemu pukul sembilan nanti"

Namja mungil itu melirik ke arah jam dinding yang berada di kamarnya lalu mengernyitkan kening ketika melihat masih ada dua jam lagi sebelum waktu yang dikatakan oleh orang itu.

Tanpa bertanya lebih lanjut pada orang itu, namja mungil itu segera berjalan menuju kamar mandi yang berada di dalam kamarnya untuk menggantung handuk yang tadi ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya dan ketika ia kembali ke kamarnya, namja mungil itu sudah melihat orang yang tadi merebahkan dirinya di atas kasur sudah berdiri di depan meja dengan pengering rambut yang berada di tangannya.

"Rambutmu belum sepenuhnya kering. Kemarilah"

Namja mungil itu menghela napas lalu berjalan menghampiri sosok itu. Dia mendudukan dirinya di bangku yang berada tepat di depan orang itu dan setelahnya orang itu segera mengeringkan rambutnya dengan lembut.

"Hyung tidak akan suka jika melihatmu tidur dengan rambut yang masih basah"

Namja mungil itu tidak menanggapi dan hanya menatap ke arah pantulan dirinya dan orang yang sedang mengeringkan rambutnya di cermin.

"Bukankah aku sudah mengatakan padamu untuk membuatnya menjauhiku?" tanya namja mungil itu beberapa saat setelah mereka terdiam.

Pergerakan tangan sosok itu terhenti sebelum akhirnya ia kembali menggerakan tangannya untuk mengeringkan rambut coklat milik namja mungil yang kini menatapnya dari cermin.

"Kau tau kan kalau ia adalah orang yang sangat keras kepala?"

Namja mungil itu memutar bola matanya.

"Aku bisa lebih keras kepala darinya kalau aku mau"

Sosok itu terkekeh kecil ketika mendengar ucapan yang beberapa saat lalu keluar dari bibir tipis namja mungil yang sedang duduk itu. Meskipun begitu, dia benar-benar percaya kalau namja mungil di hadapannya ini bisa menjadi sangat keras kepala mengingat sifat mereka yang hampir sama.

"Hei, apa kau meremehkanku?" tanya si mungil kesal.

Yang bertubuh lebih tinggi menggelengkan kepalanya.

"Aku tidak pernah mengatakan hal itu, hyung. Kau-lah yang mengatakannya sendiri. Lalu tentang hal yang kau minta tadi aku hanya bisa bilang kalau aku hanya bisa berusaha karena dia benar-benar sangat keras kepala"

.

.

.

Luhan menggeram kesal sambil membanting sumpit yang berada di tangannya ke atas meja. Perilakunya yang tiba-tiba ini membuat dua orang yang sedang makan siang bersamanya kini mengalihkan pandangan mereka ke arah Luhan.

"Ada apa?"

Luhan mendengus.

"Aku heran dengan mereka! Kenapa sih mereka tahan dekat-dekat dengan Sehun sunbae-ku? Tidak bisakah mereka menjauh sehari saja?" sungut Luhan dengan kesal.

Baekhyun dan Kyungsoo – dua orang yang sedang makan siang dengan Luhan – mengalihkan pandangan mereka ke meja yang berada di bagian pojok dan bisa melihat dengan jelas sosok Oh Sehun yang sedang dikelilingi oleh beberapa yeoja.

"Tenanglah, Lu. Lagipula mereka juga tidak pernah digubris oleh Sehun sunbae kan?" tanya Baekhyun.

"Memang sih. Tapi, kemana Chanyeol sunbae dan Jongin sunbae ya? Tumben sekali Sehun sunbae berkumpul dengan teman-teman tim basketnya" ucap Luhan sambil memiringkan kepalanya. Tapi, tak lama kemudian pandangannya teralih ke arah Kyungsoo.

"Kau juga. Tumben sekali kau makan siang di kantin. Biasanya kan kau membawa bekal sendiri dari rumah" tambah Luhan.

Kyungsoo tersedak makanannya ketika ia mendengar ucapan yang keluar dari mulut Luhan. Baekhyun yang duduk di sebelah Kyungsoo segera memberikan minuman milik namja bermata bulat itu.

"Bu-bukankah aku sudah bilang kalau aku kesiangan tadi? Jadi, aku tidak sempat membuat bekal"

Luhan mengangguk-anggukan kepalanya paham. Setiap hari Kyungsoo memang membuat bekal untuk dirinya sendiri. Kyungsoo memang sangat suka memasak oleh karena itu ia lebih suka membuat bekal sendiri dan terkadang ia akan memberikan bekal buatannya kepada Luhan dan Baekhyun untuk mereka cicipi.

"Hai, semuanya! Bolehkan aku ikut bergabung?"

Ketiga namja mungil yang berada di sana segera mengalihkan pandangan mereka ke arah seorang namja yang dengan seenaknya langsung duduk di sebelah Luhan.

"Ck. Kami bahkan belum memberikanmu izin" decak Luhan.

Namja tadi hanya mengangkat bahunya acuh lalu segera menyantap makan siangnya dengan lahap.

"Oh iya, kalian sudah dengar belum?"

Luhan menoleh dengan cepat ke arah Jongdae dengan tatapan penasaran. Jongdae adalah salah satu biang gosip yang berada di sekolah mereka dan biasanya berita-berita yang keluar dari mulutnya itu memang benar. Tidak ada yang tau darimana anak itu bisa mendapatkan informasi yang akurat. Bahkan ketika ditanya pun Jongdae selalu enggan menjawab.

"Apa? Berita apa yang kau punya?" tanya Luhan dengan antusias.

Jongdae menelan makanannya lalu meneguk air mineral miliknya.

"Apakah kalian tau kenapa Chanyeol sunbae dan Jongin sunbae tidak masuk sekolah?" bisik Jongdae.

Mata Luhan berbinar. Itulah yang sejak tadi dia pikirkan. Kemanakah perginya dua sunbaenya itu?

"Mereka berdua saat ini sedang berada di rumah sakit. Aku memang kurang tau detailnya, tapi katanya bahu Chanyeol sunbae cedera sedangkan Jongin sunbae hanya luka ringan saja tapi ia tetap dirawat di rumah sakit. Mungkin besok Jongin sunbae sudah diperbolehkan untuk pulang"

Mata Luhan membulat karena terkejut sedangkan Baekhyun dan Kyungsoo tersedak oleh makanan mereka sendiri. Mereka benar-benar terkejut dengan berita yang dikatakan oleh Jongdae.

"Astaga! Kenapa bisa seperti itu?" tanya Luhan.

Jongdae mengangkat bahunya.

"Entahlah. Tapi, ada yang bilang kalau tadi malam Chanyeol sunbae dan Jongin sunbae terlibat dengan tawuran dengan sekumpulan geng motor. Aku juga tidak tau"

DEG

Baekhyun menelan air ludahnya. Meskipun Baekhyun takut dengan Chanyeol tapi membayangkannya tawuran dengan sekumpulan geng motor sehingga mengalami cedera pada bahunya membuat Baekhyun merasa kasihan dengan sunbaenya itu.

"Tapi, kenapa Sehun sunbae tidak ikut juga? Bukankah mereka selalu bersama?"

"Entahlah"

Baekhyun terdiam dan tidak berkomentar apa-apa sedangkan Luhan bersyukur karena sunbae kesukaannya itu tidak terluka seperti kedua temannya.

.

.

.

Baekhyun menghela napasnya lalu mengusap kedua bola matanya yang terasa pedih karena terlalu lama menatap ke arah layar laptop di hadapannya.

"Kau tidak pulang, Baek?"

Baekhyun mengalihkan pandangannya ke arah kanan dan dia bisa melihat salah seorang rekan OSIS-nya sedang menatap ke arahnya dengan tas yang sudah berada di bahunya. Sepertinya ia sudah mau pulang.

"Sebentar lagi. Kau sudah mau pulang?" tanya Baekhyun.

Temannya itu menganggukan kepalanya lalu melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.

"Sudah hampir pukul delapan malam. Lebih baik kau lanjutkan di rumah saja" ucapnya.

"Hanya tinggal sedikit lagi. Kau pulang saja lebih dulu. Aku akan mengunci ruangannya"

Temannya itu menatap khawatir kepada Baekhyun sebelum akhirnya Baekhyun menyuruhnya untuk segera pulang. Setelah temannya itu berpamitan, Baekhyun kembali melanjutkan tugasnya yang memang sedikit lagi akan selesai.

Sekitar dua puluh menit kemudian, namja mungil itu merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku karena ia duduk dengan posisi yang sama sejak beberapa jam lalu di depan laptop. Setelah memasukan seluruh barang-barangnya ke dalam tas, Baekhyun segera bangkit dan berjalan keluar dari ruangan itu. Tak lupa ia juga mengunci pintu ruangan itu.

Baekhyun berjalan keluar dari sekolahnya menuju halte bus yang berada tidak jauh dari gerbang sekolahnya. Namja mungil itu melirik jam tangannya dan ia bersyukur karena bus masih beroperasi jam segini.

Baekhyun menguap lalu menggosok-gosok kedua matanya yang terasa sangat berat. Dia benar-benar merasa sangat lelah hari ini. Setelah bersekolah, namja mungil itu mendapatkan tugas dari ketua OSISnya untuk membuat sebuah proposal.

Lima belas menit kemudian, bus yang Baekhyun tunggu tiba membuat mata anak itu berbinar senang walaupun gurat lelah masih terlukis di wajah mungilnya.

Baekhyun segera naik ke bus dan mencari tempat duduk yang kosong. Namja mungil itu memilih tempat duduk di sebelah jendela dan menyandarkan kepalanya ke jendela sambil memandang keluar jendela.

Sekitar dua puluh lima menit kemudian, Baekhyun turun dari bus dan kembali menguap. Baekhyun menghela napasnya. Dia masih harus berjalan beberapa menit hingga ia tiba di rumahnya.

Ketika ia sedang berjalan menuju rumahnya, Baekhyun tiba-tiba menghentikan langkahnya dan segera membalikan badannya. Mata sipitnya segera menoleh ke arah kiri dan kanan namun tidak ada seorang pun di sana selain dirinya.

Kening Baekhyun mengernyit. Dia benar-benar yakin sekali kalau tadi dia mendengar suara langkah kaki di belakangnya. Tapi, ketika ia membalikan badannya kenapa ia tidak bisa menemukan siapapun?

Baekhyun merasa kalau tengkuknya meremang. Namja mungil itu menelan air liurnya dan memutuskan untuk segera berlari dari sana menuju ke rumahnya dengan cepat.

.

.

.

Sehun memarkirkan mobil sportnya di halaman parkir sebuah rumah sakit besar di Seoul. Namja tinggi berkulit putih pucat itu menghela napasnya lalu segera turun dari mobil dengan paper bag berwarna coklat di tangannya.

Sehun segera berjalan menuju ke arah lift dan beruntungnya ia karena pintu lift dengan cepat terbuka sehingga ia tidak perlu menunggu untuk waktu yang lama.

Sehun menekan tombol angka lima dan tak lama ia sudah tiba di lantai lima. Namja tinggi itu membungkukan badannya ke arah para suster yang berada di tempat mereka berjaga sebelum akhirnya ia berjalan menuju ke salah satu ruangan yang berada di sana.

Setelah mengetuk pintu beberapa kali dan terdengar sahutan dari dalam ruangan, Sehun segera masuk ke sana dan dia bisa melihat seorang namja tinggi dengan rambut merah yang sedang duduk bersandar di tempat tidurnya.

"Kau sudah bisa duduk hyung?" tanyanya sambil meletakan paper bag itu di atas tempat tidur.

Chanyeol – namja tinggi berambut merah yang sedang duduk bersandar di tempat tidurnya itu – tidak menyahuti ucapan Sehun dan menarik paper bag yang dibawa oleh Sehun dan tersenyum puas ketika ia melihat seluruh barang yang ia minta telah dibawa oleh namja itu.

"Dimana dia sekarang?" tanya Chanyeol.

"Sekolah"

Kening Chanyeol mengernyit. Namja tinggi itu segera mengambil ponselnya yang berada di nakas dan menyalakan layarnya untuk melihat jam.

"Ini sudah terlalu larut. Bahkan kalau memang ada kegiatan ekstrakurikuler seharusnya itu sudah selesai satu jam yang lalu"

Sehun mendudukan dirinya di atas sofa lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.

"Aku tidak mengatakan kalau dia memiliki kegiatan ekstrakurikuler hari ini"

Sebelah alis Chanyeol terangkat.

"Lalu kenapa dia masih berada di sekolah?" tanya Chanyeol dengan tidak sabar.

"Dia mendapatkan tugas untuk mengerjakan sebuah proposal"

Chanyeol berdecak kesal. Namja tinggi itu segera turun dari atas tempat tidurnya dan segera membuka pakaian rumah sakitnya, mengabaikan rasa nyeri pada bahunya yang cedera. Setelah itu ia segera mengenakan sweater hitam dan juga mantel yang dibawakan oleh Sehun dan memakai sebuah topi dan kacamata.

"Kau belum sembuh, hyung. Kau baru saja masuk ke rumah sakit tadi malam dan kau sudah mau keluar?" tanya Sehun dengan nada yang sedikit lebih tinggi. Meskipun terlihat acuh, dia benar-benar khawatir dengan keadaan Chanyeol.

"Aku tidak keluar. Hanya pergi sebentar"

Sehun berdecak.

"Aku yang akan menjaganya. Kau tetaplah di sini, hyung"

Chanyeol memasukan dompet dan juga ponsel ke saku mantelnya lalu membalikan badan dan menatap Sehun.

"Kau tau aku sudah berjanji"

"Tapi, kau bahkan sedang terluka!" seru Sehun.

Chanyeol mengangkat salah satu sudut bibirnya lalu menatap Sehun dengan pandangan yang sulit dibaca.

"Dia juga terluka waktu itu"

Tanpa menunggu balasan dari Sehun, Chanyeol segera berjalan keluar dari dalam kamar rawat inapnya dan meninggalkan Sehun sendirian di sana. Sehun terdiam dan menatap nanar ke arah pintu yang baru saja tertutup.

Sehun memejamkan matanya lalu mengacak-acak surai coklatnya dengan kesal.

"Tapi, mereka akan terluka kalau tau kau pergi dengan keadaan seperti itu, hyung" ucap Sehun dengan lirih.

.

.

.

Chanyeol tersenyum puas ketika ia kini sudah berada di luar gedung rumah sakit tempatnya dirawat. Dia yakin, Sehun akan berusaha untuk menutupi agar tidak ada yang mengetahui kalau saat ini namja bersurai merah itu sedang tidak berada di ruangan rawat inapnya.

Chanyeol segera menghentikan sebuah taksi dan meminta agar ia segera diantarkan menuju sekolahnya.

Setelah tiga puluh menit akhirnya Chanyeol tiba di sekolahnya. Setelah membayar ongkos taksi, namja tinggi itu segera keluar dan memegang bahunya yang kembali terasa nyeri.

"Bertahanlah, bodoh. Ini tidak ada apa-apanya" gumamnya.

Chanyeol berjalan masuk ke dalam sekolahnya dan dari halaman sekolah ia sudah melihat kalau masih ada seseorang di sana karena sebuah lampu masih menyala dan Chanyeol yakin itu berasal dari ruangan OSIS.

Namja tinggi itu mendudukan dirinya di bawah sebuah pohon yang terdapat di halaman sekolahnya agar dirinya tertutup oleh bayangan pohon. Tapi, dari tempatnya duduk, namja tinggi itu masih bisa melihat dengan jelas ruangan OSIS itu.

Chanyeol melirik ke arah ponselnya yang sudah menunjukan waktu pukul delapan lewat. Dia berdecak kesal. Kenapa namja mungil itu lama sekali keluarnya? Apa ia berniat untuk menginap di sekolah?

Tapi, tak lama setelah itu, seorang namja mungil terlihat berjalan menyebrangi halaman sekolah. Chanyeol menghela napasnya lega lalu berjalan dengan jarak yang lumayan jauh dari namja mungil itu sehingga ia tidak menyadari keberadaan Chanyeol.

Chanyeol menatap ke arah sosok mungil yang sedang duduk di halte sambil menguap. Chanyeol tersenyum geli. Entah kenapa ekspresi namja mungil itu terlihat sangat lucu ketika ia sedang menguap.

Ketika Chanyeol melihat sebuah bus yang berhenti di halte, namja tinggi itu dengan cepat menghentikan sebuah taksi dan memintanya agar mengikuti bus itu.

Chanyeol turun dari taksi beberapa meter sebelum halte tempat pemberhentian namja mungil itu. Dia berjalan mengikuti namja mungil itu dan entah karena langkahnya yang terlalu lebar atau mungkin langkah namja itu lah yang terlalu pendek sehingga jarak mereka terlalu dekat dan namja mungil itu bisa mendengar langkah kakinya.

Mata Chanyeol membulat ketika ia melihat namja mungil itu berhenti. Dengan cepat ia bersembunyi di belakang pohon dan mengintip dari sana. Sesuai dengan tebakannya, namja mungil itu memang membalikan badannya untuk mencari seseorang yang berjalan di belakangnya tadi.

Chanyeol tersenyum geli ketika ia bisa melihat ekspresi ketakutan dari namja mungil itu. Chanyeol memutuskan untuk menunggu selama beberapa saat sebelum akhirnya ia berjalan ke arah namja mungil itu berlari.

Chanyeol menghembuskan napasnya lega ketika ia melihat namja mungil itu sudah masuk ke dalam rumahnya. Namja tinggi itu segera merogoh saku mantelnya dan menghubungi seseorang untuk menjemputnya.

"Hei, jemput aku di rumah Baekhyun. Jangan terlalu lama karena bahuku sakit sekali"

.

.

.

Baekhyun mengernyitkan keningnya dengan dalam ketika ia merasa kalau tempat tidurnya terguncang dengan kencang. Namja mungil itu mengerang lalu menyelimuti tubuh mungilnya dengan selimut tebal.

"Luhan, turun dari tempat tidurku sekarang!" erang Baekhyun.

Luhan – pelaku yang membuat tempat tidur Baekhyun bergoyang – hanya menggelengkan kepalanya sambil terus melompat-lompat di atas tempat tidur Baekhyun.

"Aku tidak akan berhenti sebelum kau bangun, Byun Baek~"

Baekhyun mengerang lagi sebelum akhirnya ia memilih untuk bangun. Baekhyun lebih baik mengalah sebelum Luhan merubuhkan tempat tidurnya karena Baekhyun tau Luhan tidak akan berhenti melompat-lompat di atas tempat tidurnya sebelum Baekhyun bangun.

"Apa?" tanya Baekhyun dengan suara serak sambil mengusap-usap kedua matanya.

Luhan berhenti melompat-lompat di atas tempat tidur Baekhyun lalu mendudukan dirinya dengan napas yang terengah-engah. Cukup lama juga ia melompat-lompat di atas tempat tidur sahabatnya itu.

"Cepat mandi" sahut Luhan sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

Baekhyun mengernyitkan kening.

"Seingatku ini hari Minggu"

Luhan memutar bola matanya malas.

"Tidak bisakah kau menurutiku saja?"

"Dan kenapa juga aku harus menurutimu?"

Luhan melotot ke arah Baekhyun yang menatap Luhan dengan pandangan malas. Baekhyun menghela napasnya lalu ia segera bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju ke kamar mandi yang berada di dalam kamarnya, meninggalkan Luhan yang masih duduk di atas tempat tidur Baekhyun sambil tersenyum puas.

.

.

.

"Belanja?!" seru Baekhyun sambil menatap ke arah supermarket yang berada di hadapannya.

Tanpa menanggapi ucapan Baekhyun, Luhan menarik pergelangan tangan namja mungil itu agar ia segera berjalan masuk ke dalam supermarket.

"Kalau kau disuruh oleh ibu-mu untuk belanja tidak perlu mengajak-ku" gerutu Baekhyun sambil mendorong troli.

Luhan tidak menanggapi ucapan Baekhyun dan memilih untuk terus berjalan sambil sesekali memasukan beberapa barang yang memang ia perlukan ke dalam troli yang didorong oleh Baekhyun. Karena ucapannya tidak ditanggapi lebih lanjut oleh Luhan, Baekhyun hanya menghela napasnya lalu menatap ke arah barang-barang yang tadi dimasukan oleh Luhan ke dalam troli.

"Kau tidak membeli peralatan mandi?" tanya Baekhyun.

Jujur saja, ia cukup bosan karena hanya menemani Luhan dan anak itu tidak membuka mulutnya sama sekali padahal biasanya namja bermata rusa itu selalu bercerita mengenai apapun walaupun ceritanya lebih banyak didominasi oleh cerita tentang Oh Sehun. Tumben sekali Luhan tidak membicarakan tentang Sehun pikir Baekhyun. Luhan yang berjalan di depan segera menghentikan langkahnya lalu berbalik.

"Untuk apa aku membeli peralatan mandi?" tanya Luhan dengan bingung.

Baekhyun mengernyitkan keningnya.

"Bukankah kau disuruh oleh ibu-mu untuk belanja bulanan?"

Luhan memiringkan kepalanya ke arah kanan sambil menatap Baekhyun dengan polos.

"Memangnya tadi aku bilang begitu?"

"Tidak sih. Tapi, untuk apa kau membeli semua ini?"

Luhan tersenyum dengan lebar membuat Baekhyun agak bergidik ketika melihat senyuman namja itu.

"Tentu saja karena aku ingin membuat kue untuk Sehun. Memangnya apalagi?"

Baekhyun membulatkan matanya. Seharusnya ia memang tau kalau Luhan tidak akan pernah berhenti untuk memikirkan Sehun.

Setelah mengatakan hal itu, Luhan segera berbalik badan dan kembali berjalan, meninggalkan Baekhyun yang masih berdiri di tempat sambil menatap ke arah Luhan dengan tatapan tidak percaya.

"Jadi, ia membangunkanku pagi-pagi hanya untuk hal ini?"

.

.

.

Kyungsoo mematikan televisi miliknya ketika ia mendengar bel apartemennya dibunyikan. Namja bermata bulat itu segera berjalan menuju pintu depan dan ia segera tersenyum dengan lebar ketika melihat kedua sahabatnya berada di sana.

"Akhirnya kalian datang juga" ucap Kyungsoo.

"Hai Kyungie" sapa Luhan sambil membalas senyuman lebar Kyungsoo.

Baekhyun memutar bola matanya malas dan memilih untuk langsung masuk ke dalam apartemen milik Kyungsoo sambil menggerutu. Kyungsoo mengernyitkan keningnya ketika ia melihat tingkah tak biasa Baekhyun tersebut dan menatap Luhan dengan curiga.

"Kau melompat-lompat di atas tempat tidurnya lagi ya?" tanya Kyungsoo.

Luhan hanya tersenyum lebar.

"Kalau tidak melakukan hal itu, mana mungkin dia ada di sini kan?"

Setelah itu Luhan segera berjalan masuk ke dalam apartemen Kyungsoo sambil tertawa kecil. Kyungsoo menggeleng-gelengkan kepalanya ketika mendengar ucapan Luhan. Namja bermata bulat itu sangat mengetahui kalau Baekhyun paling tidak suka jika seseorang membangunkannya dengan cara seperti itu.

Setelah menutup pintu apartemen dan menguncinya, Kyungsoo segera menyusul kedua sahabatnya yang sedang duduk di ruang tengah. Sepertinya mereka berdua cukup kelelahan karena membawa bahan-bahan untuk membuat kue.

"Kalian mau minum sesuatu dulu?" tawar Kyungsoo.

"Ya/Tidak" sahut Baekhyun dan Luhan bersamaan.

Baekhyun mengernyit dan menatap Luhan dengan sengit. Apa namja mungil itu tidak tau kalau Baekhyun kelelahan dan juga kehausan karena membawa bahan-bahan yang berat itu di siang hari yang panas begini?

Luhan memutar bola matanya.

"Kita bisa minum di dapur nanti"

"Apa maksudmu?" tanya Baekhyun sambil menatap Luhan dengan curiga. Jangan bilang kalau ia juga harus membantu kedua sahabatnya membuat kue untuk Sehun?

"Kau mengerti maksudku, Baekhyunnie"

Baekhyun menggeleng.

"Tidak!"

Luhan melotot.

"Byun. Baekhyun"

Baekhyun mengerang kesal lalu segera bangkit dan berjalan menuju dapur sambil menghentak-hentakan kakinya dengan kesal. Luhan tersenyum puas lalu menyusul Baekhyun ke dapur sedangkan Kyungsoo hanya menggelengkan kepalanya ketika melihat tingkah kekanakan kedua sahabatnya itu.

.

.

.

Baekhyun mendudukan dirinya di atas sofa sambil memejamkan matanya lelah. Namja mungil itu terlihat sekali sangat lelah karena ia sama sekali tidak mempedulikan beberapa bagian wajahnya yang terkena tepung.

"Ada tepung di wajahmu, Baek" ucap Kyungsoo.

"Biarkan saja" sahut Baekhyun pelan.

Luhan membaringkan dirinya di atas karpet bulu yang terdapat di ruang tengah apartemen Kyungsoo. Namja mungil bermata rusa itu lalu mengusap perutnya dengan pelan.

"Lapar~" ucap Luhan.

Kyungsoo melirik ke arah jam dinding yang terdapat di ruang tengah apartemennya.

"Sudah hampir malam. Jelas saja lapar" ucap Kyungsoo.

"Aku tidak sanggup lagi kalau kalian ingin memasak" kata Baekhyun sambil mengangkat kedua tangannya di udara.

Luhan mendengus.

"Aku juga tidak ingin memasak lagi. Bagaimana kalau beli saja?"

Baekhyun memincingkan matanya dan menatap Luhan dengan curiga. Namja mungil itu lalu menghela napasnya.

"Entah kenapa aku mempunyai firasat buruk"

.

.

.

"Kalau tau begini jadinya lebih baik memasak di apartemen Kyungsoo saja" gerutu Baekhyun.

Saat ini namja mungil itu sedang berjalan kembali menuju ke apartemen Kyungsoo setelah ia membeli makanan di salah satu restoran yang berada tak jauh dari sana. Sebenarnya kalau disuruh untuk memilih, Baekhyun pasti tidak akan mau pergi membeli makanan di sana tapi karena ia kalah dalam hompimpa jadi-lah ia yang pergi untuk membeli makanan.

"Lagipula kenapa sih aku selalu kalah setiap kali hompimpa dengan mereka berdua?"

Ketika ia sedang berjalan melewati sebuah gang sempit yang gelap, seseorang mencengkram lengannya membuat Baekhyun memekik karena terkejut. Hampir saja namja mungil itu diseret ke dalam gang sempit itu ketika seorang pemuda tinggi dengan hoodie hitam melepaskan cengkraman orang itu pada lengan Baekhyun dan menarik Baekhyun ke belakang tubuh sosok dengan hoodie hitam itu.

"Ck. Pengganggu" decak seseorang yang tadi ingin menyeret Baekhyun masuk ke dalam gang.

Tanpa menanggapi ucapan orang tersebut, sosok dengan hoodie hitam itu segera memukul orang tersebut dengan keras hingga terjatuh. Baekhyun membulatkan matanya ketika melihat kejadian tersebut. Dia benar-benar terkejut karena ini adalah pertama kalinya ia melihat perkelahian secara langsung.

Setelah orang itu bangkit, ia segera membalas pukulan sosok berhoodie hitam itu yang dengan sigap segera dihindari olehnya. Lalu terjadi perkelahian yang cukup sengit di antara mereka berdua hingga akhirnya sosok berhoodie hitam itu menjatuhkan orang itu dan mengunci pergerakannya di tanah.

"Pergi" ucap sosok berhoodie hitam itu dengan tajam.

Setelah sosok berhoodie hitam itu melepaskan kunciannya pada pergerakannya, sosok itu segera bangkit dan pergi dari sana sambil menyumpahi sosok berhoodie hitam itu.

Sosok berhoodie hitam itu hanya mendengus sambil memegang bahunya yang terasa nyeri.

"Lain kali berhati-hati lah" ucap sosok berhoodie hitam itu tanpa membalikan tubuhnya.

"Te-terima kasih" ucap Baekhyun dengan pelan.

Sosok di hadapannya hanya menganggukan kepalanya sebelum akhirnya ia berjalan pergi. Baekhyun menghela napas dan menatap kosong ke arah sosok yang berada beberapa meter di depannya itu.

"Ti-tidak mungkin kan?" gumam Baekhyun pelan.

.

.

.

Seorang namja mungil menyandarkan tubuhnya pada sandaran tempat tidurnya sambil menatap kosong ke arah depan. Dia segera mengambil ponsel miliknya ketika benda tersebut bergetar, tanda sebuah panggilan masuk.

"Tumben kau menelpon malam-malam begini, hmm?"

"..."

"Aku tidak apa-apa. Kau tenang saja"

"..."

"Ya, aku yakin"

"..."

"Jadi, memang benar dia ya?"

"..."

Namja mungil itu berdecak kesal.

"Aku belum mengatakan apapun padamu jadi bagaimana kau bisa mengetahuinya kalau bukan ia sendiri yang mengatakannya?"

"..."

"Jauhkan dia dariku"

"..."

Namja mungil itu tidak membalas ucapan sosok di sebrang telpon dan segera mematikannya. Tatapannya mengarah ke layar ponselnya dan terlihat seorang namja yang sedang merangkul namja yang sedikit lebih mungil darinya sambil tersenyum dengan lebar.

"Hyungie, bagaimana ini? Dia benar-benar serius dengan ucapannya"

.

.

.

TBC

.

.

.

Hallo semuanya! Maaf banget ya baru sempet update cerita. Sejujurnya aku pengen fast update karena respon antusias kalian semua ya ampun aku ganyangka kalau ternyata kalian seantusias itu dengan cerita abal ini:'). Maaf kalau ada kata-kata yang kurang pas atau typo yang bertebaran karena aku terlalu malas untuk mengeditnya hehehe.

Semoga chapter kali ini tidak membosankan ya soalnya aku sendiri juga bingung harus nulis apa:'). Tapi, aku akan usahain buat nulis cerita ini sampai selesai. Btw, malem ini aku update bareng author-author kece; Baekbychuu, RedApplee, Railash61, Exorado, Byun Min Hwa, Sigmame, Flameshine, JongTakGu88, Oh Yuri, Cactus93. Jangan lupa cek cerita kece mereka ya~

Thanks to:

Cupid – anggiebyun – byunbaek15 – Asmaul – dindinxoxo94 – Gianty581 – D'Queens – 2nd edition – Pastryprancis – Kiblis – inspired – bebeha – Deedaimonia – bbaek – cici fu – baeksootao – lepetitbyun – wrdatyb – anson – lily – yeolbee61 – rizchanbaek – hunniehan – Sebut Saja B – xoblacknights – chika love baby baekhyun – parkbyunCBKHKHnHS – divaans – Fanyssi – nur991fah – Hanna Byun614 – txetxeet – neniFanadicky – FlashMrB – baekfrappe – intaniaputri5 – zheend – mongsan – park in yeol – xiucogan – Maksute925 – sehunboo17 – Byunae18 – xiuxiumin – cb – yoldobiyol – chanbaekait – Macchiato Chwang – Eka915 – Nada702 – 015 – callmeria – shellapcys18 – – kacamatanyacolenso – ByunJaehyunee – SHINeexo – anaknyacb – kikysafitr – Guest – Galaxy Aquarius

Makasih buat review, follow, dan favoritenya ya. Aku harap respon kalian tidak berkurang ya atas cerita ini. Kritik dan saran aku terima asalkan kalian menggunakan kata-kata yang sopan.

Terakhir,

Mind to Review?