Bastard Guardian

.

.

.

Main Pair: Park Chanyeol x Byun Baekhyun

Rate: T

Genre: Romance, Drama, School-life

Disclaimer: All the casts aren't mine but the story's originally mine.

Warning: BoyxBoy, Shou-ai, OOC, typo(s)

DON'T LIKE DON'T READ

.

.

Baekhyun hanyalah siswa biasa yang tidak ingin terkena masalah apapun dengan siapapun. Tapi, karena kesalahan Luhan dan Kyungsoo, surat cinta yang dibuat oleh Luhan untuk Sehun justru dibaca oleh Park Chanyeol – salah satu berandal di sekolahnya – dan lebih parahnya lagi Chanyeol mengira Baekhyun-lah yang menulis surat itu dan menerima Baekhyun sebagai kekasihnya.

.

.

HAPPY READING

.

.

Baekhyun meraih ponselnya yang terletak di atas meja nakas di sebelah tempat tidur. Matanya mengerjap beberapa kali berusaha memfokuskan matanya ke layar ponsel dan mematikan alarm.

Pagi ini ia bangun lebih pagi dari biasanya. Tentu saja karena ia harus mengurus seseorang yang kini mungkin masih tertidur di kamar tamu apartemen sepupunya itu.

Baekhyun menguap lalu menepuk-nepuk pipinya beberapa kali agar tetap tersadar. Setelah itu ia segera bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke arah kamar mandi yang terdapat di dalam kamar untuk mencuci muka dan menyikat gigi.

Baekhyun mengusap wajahnya yang masih basah dengan handuk putih lalu membuka lemari pakaian milik sepupunya itu. Matanya menelusuri pakaian-pakaian yang terdapat di dalamnya sebelum akhirnya ia memilih sebuah hoodie berwarna biru gelap. Tanpa mengganti baju tidur – yang juga ia pinjam – Baekhyun segera mengenakan hoodie tersebut dan membawa ponsel serta dompet miliknya. Ia harus turun ke lantai dasar untuk mengambil laundry miliknya – Baekhyun membayar lebih agar saat pagi hari seragam sekolah miliknya dan Chanyeol sudah bersih – dan membeli sarapan.

Bukannya Baekhyun tidak bisa memasak, hanya saja tidak ada bahan makanan apapun di dalam kulkas milik sepupunya karena memang tidak ada yang menempati apartemen tersebut. Lagipula Baekhyun juga malas untuk pergi belanja bahan-bahan makanan. Lebih baik membeli makanan yang sudah jadi saja, kan?

Sebelum pergi keluar, Baekhyun mengecek kondisi Chanyeol lebih dahulu di kamar tamu. Baekhyun membuka pintu dengan perlahan, netranya menangkap tubuh Chanyeol yang masih berbaring di atas tempat tidur dengan nyaman.

"Chanyeol sunbae tidak akan bangun sepagi ini kan?" gumam Baekhyun sambil berpikir. Setelah itu namja bertubuh mungil itu mengangguk-anggukan kepalanya dengan yakin. Kalau Baekhyun saja tidak akan bangun sepagi itu saat di rumahnya maka Chanyeol juga begitu, kan?

Baekhyun menutup pintu kamar dengan perlahan lalu berjalan keluar dari apartemen. Ia berniat untuk membeli sarapan untuk mereka lebih dahulu sebelum mengambil seragam baju mereka.

.

.

Chanyeol mengerjapkan matanya sesekali ketika cahaya matahari menembus ke dalam kamar. Pria dengan surai merah itu mengerang dan setelahnya mengumpat. Ia bersumpah akan memecat siapa pun yang berani membuka tirai kamarnya sebelum ia suruh.

Chanyeol meringis lalu menyentuh luka yang terdapat di sudut bibirnya. Mata bulatnya mengerjap sambil menatap sekeliling. Keningnya mengernyit. Ini bukan kamarnya!

"Dimana aku?" ucapnya pelan. Chanyeol sama sekali tidak tahu dimana ia berada. Ia juga yakin ini bukan di rumah Jongin atau Sehun karena ia mengenal dengan baik rumah kedua sahabatnya itu.

Chanyeol mendudukan dirinya di atas ranjang sambil menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang. Chanyeol meringis ketika bahunya bersentuhan dengan kepala ranjang. Pemilik surai merah itu mengernyit, berusaha mengingat-ingat bagaimana ia bisa berada di sini.

Chanyeol mengingat bahwa kemarin ia dan beberapa anak sekolahnya bertarung dengan anak-anak lain dari sekolah sebelah. Ketika di tengah pertarungan, para polisi tiba di sana dan menyebabkan mereka harus kabur terpisah-pisah. Chanyeol ingat bahwa saat sedang melarikan diri, ia dan kedua temannya memutuskan untuk berpisah juga dan Chanyeol ingat bahwa ia memutuskan untuk bersembunyi di dalam sebuah gang gelap sebelum akhirnya ia tidak mengingat apa-apa lagi.

"Aku pingsan dan seseorang pasti membawaku ke sini." gumam Chanyeol.

Tangannya lalu menyentuh sebuah perban yang terdapat pada dahinya. Ia meringis, ini pasti luka yang disebabkan oleh lawannya yang memukulnya dengan menggunakan tongkat.

"Bajingan tengik itu!" umpat Chanyeol kesal. Ia bersumpah akan membalaskan perbuatan bajingan itu kalau bertemu lagi dengannya.

Chanyeol melirik ke arah ponsel miliknya yang terletak di atas nakas di sebelah tempat tidur dan mengambilnya. Ia melihat beberapa panggilan tidak terjawab dari Jongin, Sehun, dan ibunya. Lalu ia juga melihat beberapa pesan yang masuk yang berasal dari Jongin, Sehun, dan ibunya juga. Chanyeol berdecak ketika membaca pesan masuk dari ibunya yang mengatakan kalau ia tidak memberikan kabar pada ibunya bahwa ia tidak pulang lain hari maka uang saku bulanannya akan dipotong.

Setelah selesai membaca pesan-pesan yang masuk – Chanyeol sama sekali tidak berkeinginan untuk membalas – ia memutuskan untuk berjalan keluar kamar. Pandangannya mengedar ke sekeliling berusaha mencari keberadaan dari pemilik apartemen yang ia tempati saat ini.

Chanyeol menoleh ketika mendengar suara-suara yang Chanyeol tebak berasal dari dapur karena ia mencium aroma roti. Ia melangkah dengan agak cepat ke arah dapur. Mata bulatnya itu semakin membulat ketika ia berhasil menangkap sosok mungil dengan surai kecoklatan yang sedang membelakangi dirinya.

Oh, Chanyeol kenal sosok itu.

Kenal sekali.

Dia Byun Baekhyun, adik kelasnya.

Belum sempat Chanyeol membuka mulut untuk menyapa Baekhyun, namja mungil itu sudah berbalik dengan piring yang berisi berbagai macam roti yang sepertinya baru saja dihangatkan kembali dengan microwave. Tubuh mungilnya tersentak tanda bahwa ia terkejut ketika mendapati Chanyeol kini menatapnya dengan cukup intens.

Chanyeol masih menatap Baekhyun dengan sedikit bingung sebelum akhirnya Baekhyun berdeham dan memutuskan untuk menyapa Chanyeol lebih dahulu.

"Selamat pagi, Chanyeol sunbae." sapa Baekhyun sambil tersenyum. Namja mungil itu lalu menyuruh Chanyeol untuk duduk dan sarapan.

Baekhyun meletakan piring berisi berbagai macam roti di atas meja makan. Setelah itu ia juga meletakan dua susu kotak di atas meja makan. Seluruh pergerakan tubuh Baekhyun sama sekali tidak lepas dari pandangan Chanyeol yang sampai saat ini juga masih menatap Baekhyun.

"Hmm, aku baru saja hendak membangunkan sunbae tapi syukurlah kalau sunbae sudah bangun lebih dulu." kata Baekhyun agak pelan namun Chanyeol masih menangkap ucapan Baekhyun dengan jelas.

"Bagaimana aku bisa di sini?" tanya Chanyeol setelah ia hanya terdiam selama beberapa saat. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa sosok yang saat ini berada di hadapannya adalah adik kelasnya di sekolah. Pandangannya pun masih belum terlepas dari Baekhyun sehingga Baekhyun merasa gugup karena Chanyeol menatapnya dengan cukup intens.

"Kemarin saat aku hendak pulang, aku mendengar suara rintihan di dalam gang. Lalu karena penasaran akhirnya aku mengecek ke dalam gang dan menemukan sunbae dalam keadaan tidak sadar." jelas Baekhyun.

Chanyeol menganggukan kepalanya. "Lalu, apa kau yang membawaku ke sini?" tambahnya.

Baekhyun mengangguk dua kali. "Aku tidak bisa membiarkan sunbae terbaring begitu saja di dalam gang kan? Apalagi kondisi sunbae sedang terluka. Walau aku agak kesusahan sebenarnya saat membawa sunbae, tapi saat berada di depan apartemen aku meminta bantuan kepada petugas untuk membantuku."

Chanyeol kembali mengangguk. Itu juga salah satu pertanyaan yang ada di kepalanya. Bagaimanapun ukuran tubuhnya dan Baekhyun itu berbeda cukup jauh.

"Mmm, apa masih sakit, sunbae?" tanya Baekhyun sambil menatap Chanyeol. Chanyeol bahkan bisa melihat pancaran khawatir di dalam mata Baekhyun membuatnya sedikit merasa senang?

"Ya, masih. Tapi tenang saja ini tidak ada apa-apanya." kata Chanyeol. Chanyeol berusaha menahan senyumannya ketika ia melihat Baekhyun yang menghembuskan napas lega.

Setelah itu, Baekhyun lalu mengatakan agar Chanyeol segera memakan sarapan yang sudah ia beli tadi. Baekhyun juga meminta maaf bahwa ia hanya bisa memberikan roti dan susu kotak kepada Chanyeol karena ia tidak memiliki bahan makanan sama sekali yang dibalas Chanyeol dengan ucapan bahwa ia tidak masalah.

Mereka menikmati sarapan itu dengan keheningan menyelimuti mereka. Chanyeol yang tidak tahu harus mengatakan apa dan Baekhyun yang merasa bahwa sebaiknya ia tidak terlibat percakapan lebih banyak dengan Chanyeol. Menurutnya, mungkin saja sunbaenya itu tidak nyaman dengan kehadirannya di sana karena memang sebelumnya mereka belum pernah berbicara sama sekali.

Setelah menikmati sarapan yang penuh dengan keheningan tersebut, Baekhyun lalu memberikan seragam yang sudah ia ambil dari tempat laundry kepada Chanyeol dan menyuruh Chanyeol untuk segera mandi dan mempersiapkan diri mereka untuk pergi ke sekolah.

Chanyeol lalu menerima seragam tersebut sambil mengucapkan terima kasih. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Baekhyun akan mencuci seragamnya padahal Chanyeol sendiri tidak masalah kalau seragamnya tidak dicuci. Ia bisa meminta kepada supirnya untuk membawakan seragam sekolahnya yang lain. Tapi, karena ingin menghargai usaha Baekhyun, Chanyeol memilih untuk tidak mengatakan apapun.

"Ah, benar juga! Hampir saja aku lupa. Sunbae bisa mencari sikat gigi baru di lemari sebelah kiri dalam kamar mandi dan handuk bersih di lemari sebelah kanan, sunbae." kata Baekhyun lagi.

Chanyeol mengangguk lalu mengucapkan terima kasih lagi dan segera menuju ke kamar mandi di dalam kamar tamu. Dalam hati, Chanyeol merasa bahwa ia mengucapkan terima kasih cukup banyak pagi ini kepada Baekhyun.

Setelah selesai mandi dan berpakaian, Chanyeol lalu keluar dari kamar yang ia tempati dan melihat bahwa Baekhyun sedang duduk di sofa ruang tengah dengan kotak obat yang berada di atas meja. Pandangan Baekhyun yang sebelumnya fokus dengan ponselnya segera teralih ketika mendengar suara pintu tertutup di belakangnya.

"Chanyeol sunbae, sini kubantu untuk mengobati lukamu."

Chanyeol terdiam. Baekhyun yang lalu merasa kalau Chanyeol mungkin tidak nyaman dengan perbuatannya segera menggelengkan kepalanya dengan agak panik.

"Ah, tapi kalau sunbae ingin mengobatinya lagi sendiri tidak masalah. Maaf kalau aku lancang, sunbae." kata Baekhyun sambil menundukan kepalanya.

Mendengar ucapan Baekhyun, Chanyeol agak tersentak. Padahal saat ia terdiam tadi bukannya ia tidak nyaman dengan ucapan Baekhyun hanya saja ia agak sedikit terkejut dengan sikap adik kelasnya yang bahkan selalu menghindari kontak mata dengan dirinya tersebut saat di sekolah.

"Tidak bisakah kau membantuku saja?" pinta Chanyeol. Yah, walaupun nada pengucapannya itu lebih seperti seseorang yang memberikan perintah daripada meminta pertolongan.

"E-eh? Ba-baiklah, sunbae." ucap Baekhyun dengan agak terbata. Chanyeol lalu melangkah mendekat ke arah sofa dan mendudukan dirinya di sebelah Baekhyun. Baekhyun lalu membuka kotak obat yang berada di atas meja dan langsung mempersiapkan apa saja yang harus ia gunakan.

"Permisi ya, sunbae." kata Baekhyun sambil mengoleskan obat pada luka-luka yang terdapat di wajah Chanyeol. Baekhyun berusaha dengan sepelan mungkin saat mengoleskan obat karena ia tidak ingin mendapatkan pukulan di wajahnya karena ia mengobati luka berandalan sekolahnya ini dengan kasar bukan?

Chanyeol meringis sesekali ketika perih terasa di permukaan kulitnya. Baekhyun yang mengamati perubahan pada wajah Chanyeol itu sesekali berhenti sejenak sebelum akhirnya kembali mengoleskan obatnya lagi. Sejujurnya, Baekhyun merasa gugup karena sejak tadi pandangan Chanyeol sama sekali tidak lepas dari wajahnya. Dengan posisi yang sedekat ini, Baekhyun benar-benar berusaha untuk mengontrol ekspresi wajahnya agar sunbaenya itu tidak menyadari betapa gugupnya Baekhyun saat ini.

Baekhyun lalu mengganti perban pada luka di dahi Chanyeol itu. Kemarin saat mengobatinya, Baekhyun benar-benar terkejut karena darah yang keluar sangat banyak. Untungnya saat ini luka yang terdapat pada dahi sunbaenya itu sudah tertutup walau belum mongering.

Setelah itu, Baekhyun lalu merapikan kotak obatnya dan meletakkannya di tempat semula. Ia berjalan ke kamarnya dan mengambil tas ransel miliknya lalu kembali lagi ke ruang tengah dimana Chanyeol masih duduk di sana sambil memainkan ponselnya.

"Mmm, apa sunbae akan berangkat ke sekolah?" tanya Baekhyun hati-hati.

Chanyeol mendongak segera setelah menyimpan ponsel miliknya di saku celana seragamnya.

"Ya, aku akan ke sekolah."

Baekhyun menggigit bibir bawahnya ragu. Ia harus segera berangkat ke sekolah sekarang agar bus yang ia tumpangi tidak terlalu penuh. Tapi, bagaimana caranya ia memberitahu Chanyeol tentang hal ini? Ia tidak ingin dianggap tidak sopan karena mengusir Chanyeol secara halus.

Chanyeol yang mengamati ekspresi wajah Baekhyun lalu mengangguk paham. Adik kelasnya ini pasti hendak berangkat ke sekolah sekarang. Chanyeol melirik jam dinding yang terdapat di sana.

"Ayo, berangkat!" ajak Chanyeol datar. Namja bersurai merah itu mengambil jas sekolahnya yang berada di sofa dan segera berdiri.

"E-eh?"

Baekhyun mendongak. Matanya membola karena terkejut dengan ucapan Chanyeol. Apa tadi sunbaenya itu baru saja mengajaknya untuk pergi bersama ke sekolah?

Melihat Baekhyun yang hanya terdiam sambil menatapnya, Chanyeol lalu menggandeng pergelangan tangan Baekhyun sambil berjalan keluar.

"Kalau kau hanya diam saja dan menatapku, kita berdua akan datang terlambat ke sekolah. Aku sih tidak masalah datang terlambat, kau bagaimana?" tanya Chanyeol sambil berbalik untuk menatap Baekhyun dengan sebelah alisnya yang terangkat.

Baekhyun yang tadinya masih terkejut dengan ajakan Chanyeol dan tarikan Chanyeol pada pergelangan tangannya, kini berubah panik. Benar, ia tidak boleh datang terlambat karena bisa gawat kalau sampai ia dihukum dan tidak bisa mengikuti jam pelajaran pertama. Guru yang mengajarinya itu sangat galak dan siapa yang tahu kalau beliau akan memberikan semacam kuis di akhir sesi pelajaran?

.

.

Setelah keduanya sudah sampai di lobi apartemen, sempat terjadi perdebatan antara Chanyeol dan Baekhyun tentang angkutan apa yang akan mereka gunakan untuk pergi ke sekolah.

Baekhyun, tentu saja memilih untuk menaiki bus karena memang sudah terbiasa untuk menaikinya setiap berangkat ke sekolah dan pulang ke rumah. Tentu saja Chanyeol berpendapat berbeda. Namja tersebut memilih agar mereka pergi saja dengan menggunakan taksi karena tentu saja ia tidak terbiasa dengan bus. Setiap hari namja itu akan membawa kendaraan sendiri atau menumpang dengan salah satu temannya.

"Kalau kita naik taksi, uangnya akan sangat sayang, sunbae. Lebih baik kita naik bus saja! Itu lebih baik." kata Baekhyun.

Chanyeol memutar bola matanya malas. Untuk apa Baekhyun masih berdebat masalah uang? Padahal sejak awal, Chanyeol sendiri yang mengatakan akan membayar biaya taksinya. Dasar adik kelas keras kepala!

"Kita naik taksi saja. Kita tinggal duduk diam dan akan sampai di sekolah dengan nyaman. Lagipula belum tentu kita akan kebagian tempat duduk saat naik bus kan?"

"Tapi, setidaknya itu lebih sehat karena kita bisa berjalan sedikit ke halte di sana." kata Baekhyun sambil menunjuk ke arah halte bus yang letaknya tidak terlalu jauh dari apartemen.

"Aku tidak ingin berdesak-desakan di dalam bus." tukas Chanyeol.

"Kalau kita berangkat sekarang, mungkin saja kita masih bisa mendapatkan tempat duduk, sunbae!" ucap Baekhyun dengan nada tidak mau kalah.

Chanyeol berdecak. Kenapa juga adik kelasnya ini jadi bersikap seperti ini padanya? Berani sekali ia membantah Chanyeol. Sebelum Chanyeol dapat membalas perkataan Baekhyun, Baekhyun sudah lebih dulu membuka mulutnya.

"Ah, benar juga! Kenapa juga kita berdebat tentang apa yang akan kita gunakan untuk berangkat ke sekolah? Kalau sunbae ingin naik taksi, silahkan naik taksi. Kita kan tidak harus berangkat bersama?" ucap Baekhyun sambil menatap Chanyeol.

Chanyeol terdiam dengan alis mengerut. Keningnya juga mengernyit dan ia menatap Baekhyun dengan tatapan yang sulit diartikan. Baekhyun, sebagai seseorang yang ditatap Chanyeol dengan pandangan yang kurang mengenakan tersebut lalu menggigit bibir bawahnya.

Ia yakin sekali bahwa ia baru saja membuat sunbaenya itu kesal terhadapnya. Jadi, sebelum Chanyeol benar-benar memukul wajahnya atau yang lebih parah lagi seperti menjadikannya target di sekolah, Baekhyun memilih untuk segera menarik tangan Chanyeol keluar dari lobi apartemen dan mencari taksi.

Lebih baik mengalah, kan?

Tidak cukup sulit untuk mencari taksi di depan apartemen. Mereka segera bergegas masuk ke dalam taksi dan sampai saat ini belum ada percakapan apapun yang dimulai di antara mereka.

"Sunbae, sunbae marah padaku ya?" tanya Baekhyun pelan. Dalam hati, ia merutuk diri sendiri kenapa ia bisa dengan berani memulai percakapan dengan sunbaenya yang senang berbuat onar di sekolah. Padahal saat di sekolah, ia pasti akan menundukan kepalanya apabila mereka berpapasan secara tidak sengaja.

Chanyeol menggumam lalu menggelengkan kepalanya.

"Hanya kesal saja." sahut Chanyeol datar.

Baekhyun mengangguk pelan. Ia memilih untuk tidak memulai percakapan apapun lagi. Sekitar lima menit kemudian, Baekhyun lalu meminta kepada supir taksi untuk berhenti di depan sebuah mini market.

Chanyeol yang sejak tadi memandang keluar jendela segera menoleh dan menatap Baekhyun bingung. Apa anak ini lapar lagi?

"Sunbae, karena aku tidak ingin ada anak lain yang melihat kita keluar dari taksi bersamaan, aku turun di sini saja, ya! Terima kasih untuk biaya taksinya, sunbae." kata Baekhyun sambil tersenyum.

Sebelum Chanyeol sempat berkata sesuatu, Baekhyun sudah lebih dulu turun dari taksi dan membungkukan badannya ke arah Chanyeol dan mulai berjalan ke sekolah. Chanyeol menatap punggung Baekhyun yang kini sudah berjalan dengan tatapan sulit diartikan. Setelahnya ia mengatakan kepada supir untuk melanjutkan perjalanan.

Terserah Baekhyun saja.

Chanyeol tidak peduli.

.

.

.

Setelah membayar biaya taksi sesuai dengan tarif, Chanyeol segera melangkah keluar dari taksi dan masuk ke dalam gedung sekolahnya. Beberapa murid yang memang terbiasa hadir pagi terlihat menatapnya dengan heran.

Pertama, Chanyeol datang ke sekolah terlalu pagi.

Kedua, Chanyeol datang dengan taksi.

Kedua hal itu lah yang mungkin menjadi penyebab dari kernyitan dahi para murid di sekolahnya. Chanyeol sendiri hanya memasukkan sebelah tangannya ke dalam kantong celana dan memutuskan untuk melanjutkan tidurnya di kelas. Kepalanya masih terasa sakit tapi terima kasih kepada adik kelasnya yang dengan ikhlas mau merawat lukanya itu.

Baru juga Chanyeol hendak berbelok ke arah koridor kelasnya, sebuah lengan berwarna putih pucat merangkul dirinya dengan cukup erat. Tubuh tingginya tersentak kaget dan segera menoleh ke kanan.

Oh Sehun, sosok sialan yang membuatnya terkejut.

"Ck, apa sih?" sungut Chanyeol kesal.

Sehun mendengus. "Lihat, si berandal ini! Semalaman tidak bisa dihubungi, ibumu bahkan sampai menelponku dan membuatku berbohong dengan mengatakan kau ketiduran di rumahku, brengsek. Kemana saja kau?"

Chanyeol memutar bola matanya. Tumben sekali sahabatnya itu berbicara panjang lebar seperti itu. Bahkan Chanyeol baru sadar kalau Sehun tidak memanggilnya dengan sebutan hyung seperti biasa.

"Aku menginap di tempat lain."

"Dimana, hyung?"

Chanyeol terdiam. Apa ia harus mengatakan yang sebenarnya pada Sehun? Manik bulatnya melirik ke arah Sehun yang sampai sekarang masih menatapnya menyelidik.

"Tempat Jongin." sahut Chanyeol cepat.

Sehun mendengus lalu mengencangkan rangkulannya pada leher Chanyeol.

"Ha ha, bohong kau sialan!"

Chanyeol mendengus. Setelahnya ia melepaskan rangkulan Sehun yang terasa mencekik lehernya itu sebelum akhirnya berhenti berjalan. Sehun yang berjalan di sebelahnya pun juga ikut berhenti berjalan.

"Dimana, hyung?" ulang Sehun. Nada bicaranya terdengar menuntut.

Chanyeol menghela napas. Percuma juga dia berbohong, Sehun pasti tadi malam juga sudah menghubungi Jongin untuk bertanya apakah ia menginap di sana atau tidak.

"Tempat Baekhyun."

Sehun mengernyit. Apa tadi Chanyeol bilang?

"Tempat Baekhyun." ulang Chanyeol dengan sedikit lebih keras. Dia yakin sekali bahwa tidak ada yang salah dengan indra pendengaran sahabatnya itu. Hanya saja, sahabatnya itu pasti terkejut sekali saat mendengar jawaban Chanyeol.

Sehun tertawa kecil lalu meninju bahu Chanyeol dengan pelan.

"Bohong saja terus, sialan!" ucapnya.

Chanyeol mendengus lalu mengangkat bahunya.

Terserah Sehun saja.

Chanyeol tidak peduli.

.

.

Baekhyun yang sejak masuk ke kelas tadi menumpukkan wajahnya pada kedua sikunya yang terlipat itu mendongak ketika merasakan seseorang tengah menepuk-nepuk kepalanya dengan pelan.

Sebelah alis pemuda bertubuh mungil itu terangkat ketika melihat sahabatnya itu kini tengah tersenyum lebar.

Baekhyun menelan air liurnya.

Perasaannya tidak enak.

"Apa?" tanya Baekhyun dengan malas sambil menatap ke arah Luhan yang sejak tadi tidak juga membuka suaranya dan hanya menatapnya sambil tersenyum lebar seperti orang bodoh.

"Rencana kedua akan segera dimulai!" ucap Luhan.

Baekhyun mengernyitkan kening. Dia belum memahami maksud dari ucapan sahabatnya itu.

Luhan berdecak. "Rencana menjadikan Sehun sunbae pacarku!" bisik Luhan dengan kesal.

Baekhyun melotot.

"Rencana kedua?"

Luhan mengangguk.

"Apa rencana pertamanya?"

Luhan menghela napas. Pandangannya menatap ke arah Baekhyun dengan serius membuat pemilik manik coklat itu juga menatap Luhan dengan serius.

"Kue coklat yang kuberikan kemarin? Ingat tidak, Byun?"

Baekhyun menganggukan kepalanya. Baru menyadari bahwa rencana pertama yang dimaksudkan oleh Luhan adalah memberikan kue coklat ke Sehun sunbae yang mendapatkan respon positif dari kakak kelas kesukaan Luhan itu sehingga Luhan memutuskan untuk masuk ke rencana kedua.

"Kali ini apalagi?" tanya Baekhyun.

Tangannya terulur untuk mengambil botol minuman berisi teh hijau milik Luhan yang Baekhyun yakini baru dibeli namja manis itu di kantin sebelum masuk ke kelas. Tanpa meminta izin kepada pemiliknya, Baekhyun meminum teh hijau tersebut.

"Aku berencana untuk menyatakan perasaanku dan memintanya menjadi kekasihku."

BYUR.

"Uhuk, uhuk…" Baekhyun meletakkan botol minuman itu di atas meja dan segera menepuk-nepuk dadanya. Tenggorokannya terasa perih ketika ia tersedak akibat ucapan Luhan tersebut.

Luhan yang melihat reaksi Baekhyun, langsung mengernyit jijik ketika melihat meja milik Baekhyun basah terkena teh hijau yang sempat masuk ke dalam mulut sahabatnya itu. Luhan segera mencari tisu di dalam tasnya dan memberikannya kepada Baekhyun.

"Makanya kalau mau minta itu izin dulu!" ucap Luhan sambil menggelengkan kepala.

Baekhyun yang tengah membersihkan kekacauan di atas mejanya segera menoleh dengan cepat ke arah Luhan. Matanya menatap garang.

"Aku tersedak karena rencana bodohmu itu, sialan! Apa-apaan itu?!" seru Baekhyun tidak terima.

"Apanya yang rencana bodoh?! Aku yakin kalau Sehun sunbae juga menyukaiku atau setidaknya yah dia memiliki ketertarikan kepadaku!" sahut Luhan.

Baekhyun menatap Luhan dengan pandangan tidak percaya. Sejak kapan sahabatnya itu menjadi sangat percaya diri seperti ini?

Baekhyun menghela napas lelah.

Terserah Luhan. Percuma saja ia memberikan nasehat kepada namja manis itu, Luhan tidak akan mau mendengarkan ucapannya.

Ingat kan Baekhyun untuk membeli banyak tisu karena ia yakin Luhan pasti akan membutuhkannya ketika Sehun menolak pernyataan cinta Luhan.

.

.

Saat ini, kelas 2B sedang melaksanakan jam olahraga dan para siswa dan siswinya tengah mengambil nilai untuk lari dengan jarak 500 meter secara bergantian. Setelah mengambil nilai lari 500 meter, Baekhyun langsung menuju ke pinggir lapangan dan meminum air minum miliknya.

Baekhyun meminum air minum miliknya dengan cukup rakus dengan sebelah tangan yang mengusap peluh yang menetes pada dahinya.

Luhan berjalan mendekat dan mengulurkan tangannya untuk meminta minum Baekhyun. Baekhyun mendelik.

"Apa?"

"Minum." pinta Luhan singkat. Napas namja mungil itu masih terengah-engah karena ia baru selesai mengambil nilai.

"Kebiasaan. Lain kali, bawa air minum dari rumah, Lu." kata Baekhyun. Tangannya lalu mengoper botol minum miliknya yang tersisa setengah.

Luhan mengangguk-anggukan kepalanya setelah selesai meneguk minuman tersebut.

"Ini sudah selesai kan?" tanya Luhan setelah napasnya kembali normal.

Baekhyun melirik Luhan.

Entah kenapa, ia merasa perasaannya tidak enak.

Dua kali. Sudah dua kali, Baekhyun merasa perasaannya tidak enak. Pertama, tadi pagi saat Luhan baru datang. Kedua, saat ini.

"Sudah selesai kan, Byun?" tanya Luhan lagi. Ia merasa mungkin tadi Baekhyun tidak mendengar pertanyaannya karena Baekhyun tidak merespon pertanyaannya.

"Kurasa begitu."

"Nah, bagus! Ayo!"

Luhan menarik tangan Baekhyun untuk berdiri dari pinggir lapangan menuju ke arah guru olahraga mereka yang masih berdiri di tengah lapangan karena proses pengambilan nilai masih belum selesai.

"Permisi, pak."

Guru olahraga yang tengah berfokus pada lembar penilaian siswa segera mendongak dan menatap Luhan yang entah kenapa terlihat lemas.

"Ada apa, Luhan?"

"Boleh kah saya dan Baekhyun izin ke kelas lebih dulu, pak? Saya merasa pusing dan lemas." ucap Luhan dengan pelan.

Baekhyun yang berada di sebelah Luhan segera menoleh. Matanya menatap Luhan dengan menyelidik namun cepat-cepat ia alihkan pandangannya ketika ia merasa sosok di sebelahnya itu mencubit lengannya cukup kencang.

Guru olahraga tersebut memandang Luhan dan Baekhyun dengan teliti. Kedua siswa tersebut bukan lah siswa yang sering membolos dan mencari-cari alasan untuk kembali ke kelas lebih dulu, terlebih lagi Baekhyun adalah salah satu pengurus OSIS yang dipercaya oleh beberapa guru jadi guru tersebut yakin kalau kedua siswanya tidak akan berbohong.

"Baiklah, kalau memang kamu butuh obat sebaiknya pergi ke UKS dulu, Luhan. Baekhyun-ah, tolong temani Luhan, ya!" kata guru tersebut.

Luhan tersenyum tipis lalu berterima kasih dengan pelan kepada gurunya. Lalu keduanya segera membungkukkan badan mereka dan pergi ke arah gedung sekolah mereka.

Setelah berjalan cukup jauh, Baekhyun segera menghentikan langkahnya dan menoleh dengan cepat ke Luhan. Dia yakin sekali kalau Luhan tadi berbohong mengenai kondisi tubuhnya yang terasa lemas itu karena Baekhyun ingat sekali bagaimana semangatnya Luhan saat menarik tubuhnya itu.

"Jadi?" tanya Baekhyun sambil melipat tangannya di depan dada dan menatap Luhan dengan menyelidik.

Luhan justru tersenyum lebar.

"Ayo, kita harus ke ruang loker sekarang!"

Tanpa memedulikan pertanyaan Baekhyun, Luhan memutuskan untuk menggandeng lengan Baekhyun dan mengajaknya untuk kembali berjalan.

"Luhan." ucap Baekhyun dengan penuh penekanan.

Luhan berdecak.

"Baiklah, baiklah. Jadi, kau tahu kan kalau sebentar lagi kelas Sehun sunbae akan masuk ke jam olahraga?"

Baekhyun mengernyit. Mana dia tahu?

"Ck. Intinya, kita harus bersembunyi di ruang loker kelas tiga dan melihat yang mana loker Sehun sunbae. Aku berencana untuk meletakkan suratku nanti di lokernya."

"Kenapa tidak loker di ruang basket saja? Kan kau sudah tahu."

Luhan menggelengkan kepalanya.

"Harus berbeda, Baek."

Baekhyun menghela napas. Bagian mananya yang berbeda? Luhan sama-sama menulis surat, Luhan sama-sama meletakkan surat tersebut di loker milik Sehun sunbae, jadi apa bedanya?

Walaupun pikiran Baekhyun merasa tidak ada bedanya dengan rencana Luhan, tapi Baekhyun sama sekali tidak bersuara. Ia memutuskan untuk tidak berkomentar apapun karena Baekhyun pasti akan kalah saat berdebat dengan Luhan. Terutama tentang Oh Sehun.

"Luhan! Baekhyun!" seru Kyungsoo.

Kedua siswa itu segera menoleh dan tersenyum ketika mendapati bahwa Kyungsoo yang memanggil mereka.

"Kau darimana?" tanya Baekhyun. Tumben sekali ia melihat Kyungsoo berada di luar kelas saat jam pelajaran.

"Dari ruang guru. Kalian mau kemana? Sudah selesai olahraga?" tanya Kyungsoo. Luhan yang mendengar pertanyaan dari Kyungsoo segera tersenyum lebar, setelah itu ia menceritakan tentang rencana yang akan dilakukannya dengan Baekhyun membuat Kyungsoo terkejut.

"Serius mau masuk ke sana?"

Luhan menganggukan kepala dengan yakin. Kyungsoo menatap Baekhyun dengan ragu, tumben sekali sahabatnya itu mau melanggar peraturan sekolah. Baekhyun yang merasa ditatap oleh Kyungsoo segera membalas tatapannya.

"Kau tahu aku tidak pernah menang melawan dia." ucap Baekhyun kesal.

Kyungsoo terkekeh. "Baiklah, ayo kita ke ruang loker bersama-sama dan melihat nomor loker milik Sehun sunbae."

"Kyungsoo!" seru Baekhyun. Ia benar-benar terkejut dengan sikap Kyungsoo hari ini.

Namun, sebelum Kyungsoo sempat mengatakan sesuatu, Luhan sudah menarik lengan Baekhyun dan Kyungsoo menuju ruang loker kelas tiga. Baekhyun menghela napas. Ia sudah pasrah.

Ketiga siswa kelas dua tersebut segera masuk ke ruang loker anak kelas tiga. Ruang loker tersebut terdiri dari 120 loker untuk setiap angkatan. Ruang loker yang terdapat di sekolah mereka memang dibagi berdasarkan angkatan. Setiap angkatan akan mendapatkan satu ruang loker yang terdiri dari nomor-nomor loker. Pembagian loker tersebut dibagikan secara acak oleh pihak sekolah dan hanya anak-anak dari angkatan tersebut yang boleh masuk ke ruang loker, oleh karena itu cukup sulit bagi Luhan untuk mengetahui nomor loker milik sunbae kesayangannya itu.

"Lu, kau tahu ini akan melanggar peraturan sekolah." peringat Baekhyun ketika Luhan menarik tangannya dan Kyungsoo ke bagian sudut ruang loker.

"Saat kita membolos tadi juga sudah melanggar peraturan sekolah, Baek."

"Kau tahu kalau hanya anak-anak angkatan ini saja yang bisa–"

Belum juga Baekhyun menyelesaikan ucapannya, Luhan sudah menutup mulut Baekhyun dengan kedua telapak tangannya. Mata Baekhyun membelalak ketika ia mendengar pintu ruang loker terbuka dan terdengar percakapan dari orang-orang yang baru masuk ke sana. Ketiganya menahan napas.

'Tamat riwayat kami kalau mereka tahu siswa kelas dua masuk ke sini.' batin Baekhyun panik.

Baekhyun memejamkan matanya untuk menenangkan dirinya. Yah, semoga saja para siswa tersebut bukan pemilik loker di bagian sudut ruangan.

"Kita ke lapangan indoor dulu?" tanya sebuah suara yang dikenali dengan sangat baik oleh Luhan. Luhan mencengkram tangan Baekhyun dengan erat.

"Kebetulan sekali!" bisik Luhan dengan antusias.

"Kau benar." bisik Kyungsoo.

Ya, suara yang mereka dengar itu merupakan suara Sehun sunbae dan Baekhyun yakin kalau kedua orang temannya juga ada di sana.

"Ya, tentu saja. Untuk apa kita bolos kalau bukan ke sana dulu?" sahut Jongin.

Luhan menarik tangan Kyungsoo dan Baekhyun untuk mendekat ke sumber suara namun Baekhyun melepaskan tarikan tangan Luhan lalu menunjukkan ponselnya. Terdapat sebuah pesan dari ibunya dan Baekhyun harus segera membalasnya, Luhan tahu hal itu. Jadi, ia membiarkan Baekhyun tetap di tempat mereka dan menarik lengan Kyungsoo dengan cepat karena mereka mendengar suara pintu loker yang dibuka jadi mereka harus bergegas agar bisa mengetahui nomor loker milik Sehun.

"Lorong kedua." gumam Luhan pelan.

Mereka berusaha mengintip di lorong kedua tersebut dan benar-benar bersyukur karena ternyata ketiga namja tersebut sepertinya memiliki loker di lorong yang sama. Mereka bisa melihat kalau Jongin membuka loker dengan jarak dua loker dari arah kiri loker milik Sehun.

"Nomor 61." ucap Kyungsoo yakin.

Kyungsoo jelas yakin dengan nomor loker milik Sehun sunbae karena ia jelas melihat Sehun membuka loker bagian ujung dan mereka saat ini sedang mengamati dari bagian loker nomor 60 dan 80.

Setiap lorong loker terdiri dari dua baris loker yang saling berhadapan. Nomor loker tersebut terdiri dari nomor 1-20 yang berhadapan dengan nomor 21-40 dan seterusnya. Nomor satu dan dua puluh satu saling berhadapan, oleh karena itu karena mereka berdiri di dekat loker nomor 60 dan 80 maka loker yang ada di ujung yang berlawanan pasti nomor 61.

Setelah membalas pesan dari ibunya, Baekhyun segera menyusul kedua sahabatnya yang sedang mengintip di dekat lorong kedua. Baekhyun mengernyitkan keningnya ketika ia melihat Jongin dan Sehun yang sudah mengambil baju olahraga dari loker mereka masing-masing sedangkan Chanyeol hanya sibuk dengan ponselnya sambil berdiri di sebelah Sehun.

'Apa ia tidak olahraga?' batin Baekhyun.

Baekhyun buru-buru menggelengkan kepalanya.

Apa pedulinya?

"Jadi, loker nomor berapa?" tanya Baekhyun kepada dua sahabatnya setelah ketiga siswa kelas tiga itu sudah keluar. Ketika ia mengintip tadi, Sehun sudah menutup lokernya sehingga ia tidak mengetahui nomor loker Sehun.

"Nomor 61." ucap kedua sahabatnya dengan yakin.

Baekhyun menganggukan kepalanya.

.

.

Baekhyun meregangkan tubuhnya yang terasa kaku setelah mengerjakan pekerjaan rumah miliknya. Tangannya terulur untuk mengambil keripik kentang di atas meja. Sudah cukup lama juga mereka berkutat dengan pekerjaan rumah masing-masing.

Mereka? Ya, Luhan dan Kyungsoo sedang berkunjung ke rumah Baekhyun untuk mengerjakan pekerjaan rumah bersama.

Namun, sepertinya hanya Kyungsoo dan Baekhyun yang fokus mengerjakan pekerjaan rumah.

"Sedang apa, Lu?" tanya Baekhyun. Keningnya mengernyit ketika melihat buku tulis milik Luhan tersingkirkan dan tergantikan dengan selembar kertas berwarna putih dan amplop berwarna coklat susu di sebelahnya.

"Menulis surat cinta." sahut Luhan santai.

Baekhyun menggelengkan kepalanya. Luhan benar-benar serius dengan ucapannya yang akan meletakkan surat berisi pernyataan cintanya kepada Sehun sunbae.

"Pekerjaan rumahmu sudah?" kali ini Kyungsoo yang bertanya pada Luhan.

Luhan menggeleng.

"Setelah ini baru mengerjakan tugas."

"Aku mau pulang, Luhan." ucap Kyungsoo. Ia sudah memiliki janji malam ini karenanya dia menyetujui ajakan Baekhyun untuk mengerjakan pekerjaan rumah bersama dengan syarat mereka serius mengerjakan tugas dan Kyungsoo bisa pulang ke apartemennya sebelum malam hari.

Luhan yang sejak tadi fokus menulis kini mendongak. Netranya menatap Kyungsoo dengan serius.

"Kau pulang lebih dahulu tak apa, Kyung. Aku harus mengurus masa depanku dulu."

Kyungsoo memutar bola matanya. Terserah Luhan.

"Masa depan apanya?" sahut Baekhyun. Masalahnya, dia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang ada di pikiran Luhan. Bagaimana bisa Luhan sesuka itu dengan Sehun sunbae? Sayangnya, Baekhyun tidak berani bertanya atau ia akan mendengarkan 1001 alasan mengapa Luhan bisa menyukai Sehun sunbae.

"Ck, tentu saja Sehun sunbae!"

Baekhyun memutar bola matanya dan tidak memiliki niat untuk menyahuti ucapan Luhan. Ia lalu melirik surat yang tengah ditulis oleh sahabatnya itu. Keningnya mengernyit ketika tidak mendapati nama Sehun sunbae atau nama sahabatnya itu di bagian amplop surat.

"Sunbae? Kenapa tidak menulis nama Sehun?" tanya Baekhyun.

"Tanpa kutulis pun Sehun sunbae pasti tahu itu surat untuknya karena itu akan diletakkan di lokernya kan?"

"Lalu kenapa tidak ada namamu?"

Luhan menggelengkan kepala. "Aku meminta Sehun sunbae untuk datang ke taman lagi seperti kemarin untuk menjawab pernyataan cintaku, mungkin saja kan ia akan ingat kalau itu aku karena sebelumnya aku memberikannya kue di taman."

Baekhyun mengangkat sebelah alisnya. "Kau yakin? Yang menyatakan perasaan kepada Sehun sunbae kan bukan hanya kau saja."

"Tapi, yang berhasil ditanggapi olehnya itu hanya aku!" ucap Luhan dengan bangga.

Baekhyun menghela napas dan memilih tidak menyahut.

"Selesai!" seru Luhan.

"Kau yakin tidak akan menulis namamu atau nama Sehun sunbae?"

Luhan mengangguk.

"Aku yakin."

.

.

"Selamat pagi, bu."

Baekhyun mengecup pipi ibunya sebelum duduk di kursi yang ada di meja makan. Tangannya mengambil susu stroberi yang memang sudah disiapkan untuknya lalu meneguk susu itu dengan cukup cepat.

"Hyunnie mau berangkat sekarang?" tanya ibunya bingung. Biasanya putranya itu baru akan berangkat sekitar satu jam lagi dari sekarang, ini masih terlalu pagi.

Baekhyun menganggukan kepalanya pelan lalu menguap. Sejujurnya, ia masih mengantuk namun tadi malam Luhan meminta ia dan Kyungsoo untuk berangkat lebih awal karena akan meletakkan surat di loker milik Sehun sunbae.

"Mau berangkat bersama ayah?" tanya Tuan Byun yang baru saja duduk di meja makan.

Netra coklat Baekhyun yang sejak tadi fokus ke arah roti di piringnya kini menoleh ke sang ayah dan tersenyum lebar.

"Mau!" kata Baekhyun dengan senang. Lumayan sekali kalau seandainya ia diantar oleh sang ayah maka ia bisa tidur sebentar lagi di mobil.

"Kenapa Hyunnie tidak bawa mobil sendiri, sih? Kenapa setiap hari harus naik bus? Lelah kan?" ucap Nyonya Byun, sebal. Putranya itu benar-benar sulit sekali untuk dikasih tahu, padahal mobil ada, kalau seandainya mau diantar juga Baekhyun tinggal bilang tapi sang anak memilih untuk naik bus.

Baekhyun menggelengkan kepala. "Tidak lelah, kok."

Ibunya mengangkat tangan. Ia menyerah karena tidak bisa mengalahkan kekerasan kepala sang anak dan keputusan bulat yang sudah diambil sang anak.

"Ah, benar juga. Ayah kenapa berangkat jam segini?" tanya Baekhyun. Ia sudah selesai memakan sarapannya, hanya tinggal menunggu ayahnya menyelesaikan sarapannya saja.

"Ayah mau ke bandara. Hari ini ayah pergi ke Jepang, Hyunnie mau titip sesuatu?" tanya Tuan Byun.

Baekhyun mengangguk.

"Beli kan aku camilan seperti kemarin ya, Yah? Yang rasa stroberi!" ucap Baekhyun dengan senang.

Tuan Byun terkekeh melihat betapa antusias putranya tersebut lalu mengangguk. Setelahnya ia menghabiskan kopi hitam miliknya dan berpamitan kepada sang istri lalu berangkat ke bandara walau sebelumnya ia harus mengantarkan putranya lebih dulu ke sekolah.

Di tengah perjalanan, Baekhyun menyandarkan tubuhnya ke jendela sambil bersenandung menikmati alunan musik yang terputar. Pandangannya mengarah keluar jendela, menikmati pemandangan jalanan kota Seoul yang belum terlalu ramai.

"Hyun."

Baekhyun menoleh.

"Ada apa, Yah?"

"Hyunnie baik-baik saja kan? Tidak ada yang sakit?" tanya sang ayah. Matanya menatap dengan teliti wajah Baekhyun. Sudah cukup lama ia tidak berbincang dengan putranya karena sibuk dengan perusahaan miliknya.

Baekhyun tersenyum lalu mengangguk.

"Ayah tidak usah khawatir. Aku baik-baik saja, kok."

Ayahnya membalas senyumannya lalu mengangguk.

"Kalau ada yang terasa sakit, segera bilang kepada ibumu dan pergi ke rumah sakit, oke?"

Baekhyun memberikan sikap hormat kepada sang ayah sambil tersenyum.

"Siap, kapten!"

.

.

"Astaga Baek! Kenapa kau lama sekali?" sungut Luhan ketika ia melihat sahabatnya itu masuk ke kelas mereka. Ia dan Kyungsoo sudah tiba sejak lima menit lalu dan memutuskan untuk menunggu Baekhyun di ruang kelas 2B.

Baekhyun mendengus. Dia yakin sekali kalau Luhan dan Kyungsoo juga belum terlalu lama sampai di sekolah.

"Jangan berisik. Aku sudah rela datang pagi-pagi begini dan kau mengomeliku?!" ucap Baekhyun kesal.

Luhan segera mengubah ekspresinya menjadi tersenyum lebar. Lengannya merangkul bahu sang sahabat dan menyandarkan kepalanya di bahu Baekhyun.

"Hehehe, maaf. Aku gugup sekali, tahu?"

Baekhyun memutar bola matanya.

"Nah, sebaiknya kita cepat. Jangan sampai kelas tambahan untuk siswa kelas tiga sudah selesai, pasti ruang loker akan ramai." kata Kyungsoo.

Sejak kemarin, siswa kelas tiga di sekolah mereka memang mendapatkan jam tambahan belajar di pagi hari sebelum kelas pagi dimulai dan di sore hari mereka juga bisa melakukan konsultasi kepada guru dan melakukan kegiatan belajar mandiri di ruang kelas masing-masing.

Ketiga sahabat itu segera berjalan ke ruang loker yang ada di lantai satu. Suasana di sekolah terasa sangat sepi karena memang biasanya jarang murid kelas satu dan dua yang datang sepagi ini. Luhan saja yang gila mau datang jam segini, pikir Baekhyun.

"Sudah tersambung kan?" tanya Kyungsoo sambil menatap Baekhyun.

Baekhyun yang mendengarkan suara Kyungsoo dari ponselnya mengangguk. Ya, mereka sudah membagi tugas, dimana Luhan dan Baekhyun akan masuk ke ruang loker dan Kyungsoo akan menunggu di luar ruang loker, mengawasi keadaan kalau-kalau ada yang masuk ke sana.

"Jangan terlalu lama." pesan Kyungsoo sebelum kedua sahabatnya itu masuk ke ruang loker.

Baekhyun mengangguk dan menunjukkan ibu jarinya kepada Kyungsoo.

Baekhyun dan Luhan masuk ke ruangan yang baru saja kemarin mereka datangi itu. Pandangan keduanya menatap ke sekeliling untuk melihat keadaan.

"Sepi." ucap Luhan.

Baekhyun mengangguk. Tentu saja sepi karena siswa kelas tiga pasti sedang berada di kelas masing-masing untuk jam tambahan.

"Sebaiknya kau cepat. Kita tidak tahu akan ada yang datang atau tidak."

Luhan mengangguk. Keduanya segera bergegas menuju ke lorong kedua dan berhenti di loker dengan nomor 61. Luhan menelan air liurnya. Ini benar-benar terasa berbeda karena kali ini surat itu berisi pernyataan cintanya.

Baekhyun yang merasa kalau Luhan hanya terdiam segera menoleh.

"Kenapa tidak buru-buru diselipkan? Jangan lama-lama, Luhan." ucap Baekhyun. Tangannya yang kiri masih memegang ponselnya dan didekatkan ke telinganya.

"Baek, aku ragu."

Baekhyun menoleh dengan cepat.

"Maksudmu?" tanya Baekhyun. Kemana perginya rasa percaya diri Luhan kemarin?

Luhan mengangkat bahunya.

"Entah lah."

Baekhyun berdecak.

"Kita sudah melanggar peraturan sekolah dua kali, Luhan! Lalu kau memutuskan untuk tidak menyelipkan suratnya?" kata Baekhyun. Baekhyun merasa agak kesal juga dengan sikap Luhan yang sedikit plin-plan ketika ia dan Luhan sudah masuk ke ruang loker kelas tiga. Menurut Baekhyun, sudah terlanjur.

"Hei, kalian belum memasukkan suratnya?"

Baekhyun yang mendengar suara Kyungsoo segera menyahut.

"Belum."

Melihat Luhan yang masih terlihat ragu, Baekhyun mengambil amplop surat yang ada di tangan Luhan dan memutuskan untuk menyelipkan suratnya di loker nomor 61 namun belum juga surat itu masuk dengan sempurna dari celah loker, sebuah suara mengejutkan Baekhyun dan Luhan membuat keduanya segera menoleh ke arah sumber suara.

"Sedang apa kau di depan lokerku?" tanya si pemilik suara.

Baekhyun dan Luhan membelalakan mata mereka. Tunggu dulu, apa tadi katanya?

Lokerku?

Baekhyun tidak salah dengar kan?

"L-loker s-sunbae?" tanya Baekhyun dengan terbata.

Sedangkan Kyungsoo yang mendengar suara Baekhyun yang terbata dari sambungan telpon segera menegang. Di dalam ruang loker ada Sehun sunbae? Tanpa menunggu lama, namja dengan mata bulat itu segera masuk ke ruang loker sehingga menimbulkan suara keras, mata bulatnya melihat kedua sahabatnya yang terpaku di lorong kedua. Ia masih belum bisa melihat Sehun, jadi Kyungsoo memutuskan untuk menghampiri kedua sahabatnya.

Mata Kyungsoo ikut membelalak. Ternyata bukan hanya Sehun sunbae yang ada di sana tetapi juga Jongin sunbae dan Chanyeol sunbae!

Ketiga siswa kelas tiga itu menatap Kyungsoo yang baru datang dengan cukup berisik sebelum akhirnya salah satu di antara mereka yang memiliki surai merah berjalan mendekat. Matanya mengunci tatapan salah satu dari tiga adik kelasnya itu.

"Iya, lokerku." kata Chanyeol santai.

Kyungsoo yang baru datang menoleh ke arah Baekhyun dan Luhan. Loker Chanyeol sunbae? Bukankah loker itu adalah loker Sehun sunbae? batin Kyungsoo.

Chanyeol berjalan semakin dekat, tangannya merogoh saku celananya dan menunjukkan sebuah kunci loker dengan nomor 61 bahkan ia membuka loker dengan nomor 61 tersebut. Baekhyun menoleh, menatap isi loker tersebut dan ia semakin terkejut ketika melihat beberapa buku di dalam sana tertera nama Park Chanyeol. Itu jelas sekali loker Chanyeol. Tapi, kemarin? Bukannya Kyungsoo dan Luhan bilang itu loker milik Sehun sunbae?

"Lokerku, kan?" ucap Chanyeol sambil menutup kembali loker miliknya. Tetapi, ia juga mengambil amplop berwarna coklat susu yang baru saja diselipkan oleh Baekhyun itu.

"Jadi?" tanya Chanyeol. Pandangannya memandang antara amplop dan juga Baekhyun dengan bergantian, ia menunggu jawaban dari seseorang yang menyelipkan amplop tersebut, Byun Baekhyun.

"Ah, itu sepertinya ada–"

Baekhyun tidak jadi menyelesaikan kalimatnya karena merasa Luhan mencengkram lengannya dengan erat. Baekhyun paham. Sahabatnya itu menyuruhnya untuk tutup mulut kalau itu surat dari Luhan untuk Sehun sunbae.

"Sepertinya ada?" tanya Chanyeol lagi. Pandangannya sama sekali tidak terlepas dari Baekhyun.

Baekhyun menghela napas.

"Sepertinya ada yang harus aku sampaikan pada Chanyeol sunbae." ucap Baekhyun.

Kelima orang lainnya terlihat terkejut.

"Oh, ya? Ada apa?"

Baekhyun menggigit bibir bawahnya. Sial, apa yang harus ia lakukan sekarang?

Baekhyun memutar otaknya dengan cepat, berusaha mencari cara untuk bisa lolos dari situasi ini namun belum juga otaknya itu menemukan jawaban, Chanyeol kini membuka mulutnya kembali.

"Menyatakan perasaan, huh?"

Baekhyun tertegun.

"Hah?" ucapnya bingung.

Chanyeol menunjukkan sebuah surat yang sudah ia keluarkan dari amplop lalu menggoyang-goyangkannya di depan Baekhyun. Baekhyun terkejut. Sejak kapan Chanyeol membuka amplop tersebut?

Baekhyun menelan air liurnya lalu dengan pelan menganggukan kepalanya. Baiklah, dia hanya perlu menahan malu setelah ini karena seorang Park Chanyeol tidak pernah menerima pernyataan cinta dari siapapun.

Chanyeol tertegun melihat Baekhyun yang menganggukan kepalanya dengan pelan itu. Ia tersenyum tipis lalu mengulurkan tangannya untuk mengacak surai kecoklatan milik Baekhyun membuat Baekhyun menahan napas. Pandangan Baekhyun menatap Chanyeol dengan penuh kebingungan, ia akan ditolak, ya kan?

"Oke, mulai sekarang kita adalah sepasang kekasih."

Kyungsoo dan Luhan melotot.

Jongin dan Sehun saling berpandangan dengan bingung.

Baekhyun kehilangan nyawanya.

"A-apa?"

.

.

.

TBC

.

.

.

HALO SEMUANYAAAAA!

Apa kabar? Aku balik lagi bawa Bastard Guardian, masih ada kah yang menunggu?

Pertama, aku mau mohon maaf karena sudah 4 tahun tidak update cerita ini karena jujur aja aku sempat lupa sama alur awalnya tapi sekarang aku coba susun pelan-pelan lagi dari ulang.

Kedua, aku mau mohon maaf lagi kalau seandainya ini tidak sesuai dengan ekspektasi kalian. Apalagi udah nunggu lama kan:')

Ketiga, aku mau berterima kasih sama yang sudah review, follow, favorite karena jujur aja aku tidak menyangka kalau aku masih suka dapet review di ff ini dan pada nanya kapan dilanjut dan sebagainya:') aku juga tidak tega sama para pembaca tapi semoga saja ini tidak mengecewakan kalian.

Keempat, boleh kan aku minta review/follow/favoritenya? Itu bener-bener bikin aku semangat dan mutusin buat coba ngelanjutin ini lagi.

Kelima, yah kalau ada yang berkenan mampir ke ff lainnya boleh bangetttt. Yang mau baca drabble singkat boleh mampir ke ig aku; baecyeol.

Keenam, UDAH AH BANYAK BANGET.

SAMPAI JUMPA DI CHAPTER 5!