Bastard Guardian
.
.
.
Main Pair: Park Chanyeol x Byun Baekhyun
Rate: T
Genre: Romance, Drama, School-life
Disclaimer: All the casts aren't mine but the story's originally mine.
Warning: BoyxBoy, Shou-ai, OOC, typo(s)
DON'T LIKE DON'T READ
.
.
Baekhyun hanyalah siswa biasa yang tidak ingin terkena masalah apapun dengan siapapun. Tapi, karena kesalahan Luhan dan Kyungsoo, surat cinta yang dibuat oleh Luhan untuk Sehun justru dibaca oleh Park Chanyeol – salah satu berandal di sekolahnya – dan lebih parahnya lagi Chanyeol mengira Baekhyun-lah yang menulis surat itu dan menerima Baekhyun sebagai kekasihnya.
.
.
HAPPY READING
.
.
Chanyeol menguap. Demi Tuhan, ia benar-benar mengantuk dan ia merasa kalau ia tidak akan sanggup untuk membuka matanya bahkan sepuluh detik pun!
Tepat sebelum Chanyeol menuju ke alam mimpi, seseorang di sebelahnya menyentuh lengannya. Chanyeol menoleh, menatap Sehun yang duduk di sebelahnya dengan alis terangkat sebelah.
"Jongin di ruang loker. Dia bilang mau bolos, ikut tidak, hyung?" ajak Sehun.
Mata Chanyeol langsung berbinar. Ia bahkan lupa kalau tadi ia tidak akan pernah bisa membuka matanya walau hanya sepuluh detik. Chanyeol mengangguk dengan antusias. Sehun tersenyum lebar lalu mengangkat tangannya, membuat perhatian guru yang tengah mengajar itu teralih kepada Sehun.
"Ada apa, Oh Sehun?"
"Chanyeol merasakan nyeri pada bahunya lagi, Pak. Saya ingin mengantarnya ke UKS."
Guru itu memandang kedua muridnya dengan menyelidik. Ia tahu benar kalau kedua siswanya itu pasti mencari alasan lagi untuk membolos. Ia bahkan baru menyadari kalau Jongin belum kembali dari toilet sejak sepuluh menit lalu.
"Tunggu Jongin kembali baru kalian boleh pergi."
Chanyeol yang merasa bahwa ia harus melakukan sesuatu segera menyentuh bahunya perlahan.
"Saya sudah tidak bisa menahannya lagi, Pak. Jongin mungkin sakit perut makanya ia tidak kembali juga." kata Chanyeol mencari alasan.
Guru mereka akhirnya menghela napas. Ia yakin sekali kalau ia terus menanggapi ucapan Chanyeol dan Sehun hanya akan membuang waktunya. Jadi, tanpa banyak bicara lagi, guru itu membiarkan Sehun membantu Chanyeol ke UKS.
"Sedang apa dia di ruang loker? Ke kantin saja." ajak Chanyeol sambil memainkan ponselnya.
Sehun menggelengkan kepalanya. "Kalau kita ketahuan ada di kantin, orang tua kita akan dipanggil, hyung. Aku tidak mau mendengar omelan ibuku lagi."
Chanyeol menghela napas lalu hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Kedua sahabat itu lalu masuk ke ruang loker dan langsung memanggil nama Jongin.
"Kim Jongin!" seru Chanyeol.
"Jangan berisik, brengsek."
Chanyeol mendengus ketika mendengar Jongin yang mengumpatinya. Suaranya terdengar dari bagian pojok ruang loker membuat Chanyeol dan Sehun menghampiri Jongin di sana. Keduanya menggelengkan kepala melihat Jongin yang sedang memainkan game di ponselnya.
'Pantas dia mengumpati Chanyeol hyung.' batin Sehun.
Sehun segera duduk di sebelah Jongin untuk melihat permainan sahabatnya itu sedangkan Chanyeol memilih untuk bersandar pada dinding dan memejamkan matanya, ia memutuskan untuk tidur sebentar.
Ketika Chanyeol sekali lagi hampir pergi ke alam mimpi, suara pintu ruang loker terbuka membuat kedua mata bulatnya langsung siaga. Jongin yang tadi fokus pada permainan di ponselnya langsung mengunci layarnya dan meletakkannya di saku. Dalam hati, ia mengumpati siapapun yang telah mengganggunya itu.
Sehun meletakkan jari telunjuknya di depan bibir tipisnya, memberikan isyarat kepada kedua sahabatnya itu untuk diam.
'Apa kita sudah ketahuan oleh guru telah membolos?' batin Sehun.
Ketiga namja bertubuh tinggi itu terdiam. Mereka berpikir bahwa setelah ini mereka akan masuk lagi ke ruang konseling, orang tua mereka dipanggil, dan menjalani hukuman seperti biasa, namun, seluruh pikiran mereka mengenai hal tersebut langsung hilang setelah mendengar suara yang agak samar-samar.
Chanyeol mengernyit. Walaupun ia tidak bisa mendengarkan dengan jelas isi percakapan seseorang yang baru masuk itu tapi, ia yakin sekali kalau ia seperti mengenal suara itu.
Chanyeol bangkit dari duduknya dan diikuti oleh kedua sahabatnya. Mereka melangkah menuju ke lorong kedua dan melihat dengan jelas kalau salah seorang adik kelas mereka tengah menyelipkan sesuatu dari celah loker.
Chanyeol mengernyitkan kening. Itu kan lokernya? Apa yang tengah mereka lakukan?
Tidak ingin menahan rasa ingin tahunya, Chanyeol segera membuka mulut.
"Sedang apa kau di depan lokerku?"
Ketiga siswa kelas tiga tadi bisa melihat dengan jelas dua adik kelas mereka yang tampak terkejut karena tertangkap basah tengah melakukan sesuatu.
"L-loker s-sunbae?" tanya Baekhyun dengan terbata.
Chanyeol berjalan mendekat dan mengunci tatapannya pada manik milik Baekhyun yang terlihat bingung dan terkejut. Dalam hati, Chanyeol tertawa karena Baekhyun terlihat lucu. Tak lama, suara pintu ruang loker kembali terbuka membuat ketiga siswa kelas tiga tadi menatap seseorang lagi yang baru datang, Do Kyungsoo.
Chanyeol melirik Jongin yang terlihat terkejut.
'Lengkap sudah tiga-tiganya.' pikir Chanyeol.
"Iya, lokerku." kata Chanyeol santai.
Chanyeol menatap raut kebingungan dari ketiga adik kelasnya. Sebenarnya, mereka sedang apa sih? Masa mereka yang sedang menyelipkan sesuatu tetapi mereka tidak tahu loker siapa itu?
Merasa kalau ketiganya seperti tidak percaya dengan ucapannya, Chanyeol merogoh saku celananya dan mengambil kunci lokernya, kunci dengan nomor 61. Chanyeol bahkan membuka loker miliknya membuat Baekhyun secara refleks menoleh dan terkejut ketika ia melihat beberapa buku dengan namanya di dalam loker.
"Lokerku, kan?" ucap Chanyeol sambil menutup kembali loker miliknya. Tak lupa, ia juga mengambil amplop berwarna coklat susu yang baru saja diselipkan oleh Baekhyun itu.
"Jadi?" tanya Chanyeol. Pandangannya memandang antara amplop dan juga Baekhyun dengan bergantian, ia menunggu jawaban dari seseorang yang menyelipkan amplop tersebut, Byun Baekhyun.
"Ah, itu sepertinya ada–"
Chanyeol melihatnya. Ia melihat bagaimana Baekhyun yang tidak jadi melanjutkan perkataannya ketika Luhan mencengkram lengannya dengan erat. Tapi, Chanyeol memilih untuk mengalihkan pandangannya dan pura-pura tidak menyadari hal tersebut.
"Sepertinya ada?" tanya Chanyeol lagi. Pandangannya sama sekali tidak terlepas dari Baekhyun, berusaha untuk merekam bagaimana ekspresi adik kelasnya.
Baekhyun menghela napas.
"Sepertinya ada yang harus aku sampaikan pada Chanyeol sunbae." ucap Baekhyun.
Chanyeol terkejut. Bagaimana mungkin Baekhyun ingin menyampaikan sesuatu padanya? Chanyeol merasa tidak memiliki urusan yang harus ia bicarakan dengan Baekhyun. Tapi, pada akhirnya Chanyeol tetap menyahut.
"Oh, ya? Ada apa?"
Chanyeol melihat Baekhyun yang menggigit bibir bawahnya dengan gugup. Chanyeol menahan senyumannya, apa sekarang Baekhyun tengah memikirkan jawaban yang akan ia berikan pada Chanyeol?
Sambil menunggu jawaban Baekhyun – yang terlihat jelas sedang mencari alasan yang tepat – Chanyeol lalu membuka amplop yang kini berada di tangannya. Mata bulatnya membaca dengan cepat surat yang berada di tangannya. Isi dari surat itu mengenai Baekhyun yang menyatakan perasaannya kepada Chanyeol. Chanyeol benar-benar terkejut saat membacanya namun ia berusaha untuk menutupi ekspresinya dengan baik.
"Menyatakan perasaan, huh?"
Baekhyun tertegun.
"Hah?" ucapnya bingung.
Chanyeol menunjukkan sebuah surat yang sudah ia keluarkan dari amplop lalu menggoyang-goyangkannya di depan Baekhyun berusaha mengembalikan kesadaran adik kelasnya. Chanyeol melihat kalau Baekhyun terlihat sangat gugup di hadapannya namun, tak lama adik kelasnya itu menganggukan kepalanya pelan membuat Chanyeol terkejut. Entah sudah berapa kali ia dikejutkan oleh Baekhyun hari ini.
Ia tersenyum tipis lalu mengulurkan tangannya untuk mengacak surai kecoklatan milik Baekhyun membuat Baekhyun menahan napas. Pandangan Baekhyun menatap Chanyeol dengan penuh kebingungan sedangkan Chanyeol menatap Baekhyun dengan penuh keyakinan.
"Oke, mulai sekarang kita adalah sepasang kekasih."
Chanyeol tahu jawabannya pasti mengejutkan tidak hanya bagi kedua sahabatnya tapi, juga ketiga adik kelasnya ini. Ia tahu bagaimana ia yang tidak pernah menerima pernyataan cinta siapapun kini justru menerima adik kelasnya menjadi kekasihnya.
Chanyeol punya alasannya sendiri.
Alasan mengenai ia yang tidak menjalin hubungan dengan siapapun dan alasan mengenai mengapa ia menerima adik kelas di hadapannya ini.
"A-apa?" tanya Baekhyun.
Sepertinya, namja mungil itu baru saja mendapatkan kesadarannya kembali setelah Chanyeol mengiyakan pernyataan cinta Baekhyun itu.
Chanyeol tersenyum tipis lalu mengacak rambut Baekhyun dengan lembut. Setelahnya ia pergi dari sana tanpa mengatakan apapun tapi ia tahu kalau kedua sahabatnya mengikutinya keluar.
.
.
Baekhyun meletakkan kepalanya di meja kantin. Kepalanya mendadak pusing setelah kejadian di ruang loker kelas tiga tadi.
Setelah Chanyeol menerima pernyataan cinta Baekhyun, namja tinggi itu mengacak rambut Baekhyun lagi sebelum pergi dari ruang loker kelas tiga tadi diikuti oleh Jongin dan Sehun yang tertawa kecil karena hal itu.
"Minum dulu, Baek."
Kyungsoo memberikan sebotol air mineral dingin pada sahabatnya itu. Ia tahu bahwa Baekhyun pasti sangat terkejut dengan hal ini karena bagaimana mungkin seorang Park Chanyeol menerima seseorang menjadi kekasihnya?
Baekhyun meneguk air mineral yang diberikan Kyungsoo sebelum menghela napasnya lagi.
"Maafkan aku, Baek."
Baekhyun mengalihkan pandangannya ke Luhan yang duduk di hadapannya sambil memainkan jemarinya. Ia merasa kalau saja tadi dirinya membiarkan Baekhyun menjelaskan tentang kesalahpahaman ini, maka Baekhyun tidak akan disangka menyatakan perasaaannya kepada Chanyeol sunbae.
Baekhyun menggelengkan kepalanya.
"Tidak apa, Lu. Kau juga tidak mengira hal ini akan terjadi, kan?" tanya Baekhyun.
Sejujurnya, Baekhyun sendiri pun sama sekali tidak mengira kalau ia akan menjadi kekasih dari sunbaenya itu. Oh, jangan lupakan kalau ia adalah biang onar di sekolahnya.
Baekhyun merasakan ponsel di sakunya bergetar. Ia merogoh sakunya untuk mengambil ponsel dan melihat sebuah pesan singkat yang baru saja masuk.
Hyung, nanti malam aku akan ke rumahmu. Banyak yang harus kau jelaskan, ya kan?
Baekhyun mendengus. Ia segera menyimpan lagi ponselnya di saku dan tidak berniat untuk membalas pesan tersebut.
"Tapi, apa kalian tidak merasa bingung dan penasaran? Maksudku, seorang Park Chanyeol menerima pernyataan cinta seseorang?" kata Kyungsoo membuka percakapan kembali setelah mereka terdiam beberapa saat.
Luhan menganggukan kepala. "Tadi, aku mengira kalau Chanyeol sunbae pasti akan langsung menolak tapi, ia malah menerima Baekhyun bahkan Chanyeol sunbae juga tersenyum!" ucap Luhan.
Kyungsoo mengangguk. "Kau juga ingat kan kalau Chanyeol sunbae saja menolak Nayeon dan juga Jisoo sunbae saat hari kelulusannya tahun lalu?"
"Kau benar! Ada apa dengan Chanyeol sunbae?" ucap Luhan.
Baekhyun membenarkan perkataan kedua sahabatnya itu.
Ada apa sebenarnya dengan Park Chanyeol?
.
.
.
Sehun memarkirkan mobil hitamnya di halaman rumah yang luas itu. Setelah mengunci mobilnya, namja tinggi itu berjalan menuju pintu utama yang terlihat megah di rumah itu. Senyum tipisnya langsung mengembang ketika seorang pelayan menyapa dirinya.
"Selamat datang, Tuan Muda Sehun."
"Hyung ada?" tanya Sehun langsung.
Pelayan tersebut tersenyum lalu menjawab.
"Tuan Muda berada di halaman belakang. Tuan Muda Sehun ingin langsung ke sana?"
Sehun mengangguk. Setelah itu, pelayan tersebut mempersilahkan Sehun untuk masuk. Tanpa mengantar Sehun lagi – Sehun juga merasa itu tidak perlu karena ia sudah hafal seisi rumah ini – pelayan itu segera kembali menuju ke tempatnya.
Sehun berjalan melewati ruang keluarga dan langsung tersenyum lebar.
"Ibu!" serunya.
Seorang wanita paruh baya yang tadi sibuk dengan televisi di hadapannya segera menoleh, senyuman wanita itu mengembang lalu membuka kedua lengannya lebar-lebar, memberikan isyarat agar Sehun memeluknya.
Sehun dengan cepat menghampiri wanita itu lalu memeluknya dengan erat.
"Ibu, apa kabar? Sudah lama tidak melihat ibu." ucap Sehun dengan manja.
Benar, sosok Sehun saat berada di sekitar keluarganya seperti itu. Manja.
Wanita itu tertawa lalu mengelus kepala Sehun dengan lembut.
"Ibu cukup sibuk belakangan kali ini. Sehunnie juga sudah cukup lama tidak mampir ke sini, sudah punya pacar yaa?" godanya.
Sehun tertawa lalu menggelengkan kepala. "Aku sibuk belajar." 'Juga tawuran.' tambah Sehun dalam hati.
"Jangan terlalu banyak belajar. Sekali-kali pergi berkencan sana!"
Sehun tersenyum lalu menganggukan kepala. Saat ia ingin membuka percakapan kembali dengan wanita di sebelahnya ini, terdengar suara langkah kaki yang memasuki ruang keluarga dan seseorang yang berbicara.
"Ya! Pergi sana! Dia ibuku!" seru sosok itu.
Sehun dan wanita tersebut mengalihkan pandangan mereka dan terkekeh melihat seorang namja mungil yang tengah memegang gelas kosong berjalan menghampiri mereka.
"Dia juga ibuku!" ledek Sehun.
Namja mungil itu melotot. Sebelum terjadi adu mulut lebih lanjut, wanita itu segera mengambil alih.
"Iya, iya kalian semua adalah anak ibu. Baekhyunnie, mau minum, ya kan? Biar ibu yang ambilkan di dapur, Hyunnie di sini saja dan temani Sehun. Jangan bertengkar!" ucap wanita itu sambil mengambil alih gelas kosong di tangan putranya dan meninggalkan kedua orang tersebut di ruang keluarga.
Setelah ibunya pergi ke dapur, Baekhyun menoleh ke arah Sehun. Matanya terlihat menuntut sebuah jawaban dari Sehun membuat Sehun tertawa kecil.
"Kenapa, hyung?" tanyanya.
Baekhyun memutar bola matanya.
"Aku yang harusnya tanya! Kenapa bisa begini, Sehun bodoh?" sungutnya kesal.
Sehun mendengus ketika mendengar Baekhyun mengumpatinya. Benar-benar berbanding terbalik kalau mereka ada di sekolah. Baekhyun benar-benar bersikap sopan dan memanggilnya dengan sebutan sunbae.
"Pergi kemana sopan santunmu itu, hoobae-ya?"
"Ini bukan di sekolah!"
"Ck, baiklah baiklah! Aku menyerah, hyung. Kita tunggu ibu kembali dulu lalu ke halaman belakang, oke?"
Baekhyun langsung menganggukan kepala. Dia sudah penasaran sekali dengan apa yang sebenarnya terjadi dengan Park Chanyeol. Menerimanya sebagai kekasih? Yang benar saja!
Oke, kalian juga pasti penasaran, kan? Apa hubungan Sehun dan Baekhyun yang sebenarnya?
Mereka adalah sepupu.
Ingat apartemen milik sepupu Baekhyun? Apartemen itu milik kakak tiri Sehun yang notabene merupakan sepupu Baekhyun. Ayah kakak tiri Sehun menikah dengan ibu Sehun sekitar lima tahun lalu. Baekhyun sangat dekat sekali dengan kakak sepupunya dan Sehun seperti saudara kandung, oleh karena itu jangan heran ketika Sehun memanggil Nyonya Byun dengan sebutan ibu karena Baekhyun sendiri memanggil ibu Sehun dengan sebutan mama.
Baekhyun bilang Sehun itu jenius karena Sehun bisa melakukan akselerasi sebanyak dua kali. Oleh karena itu, Sehun memanggil Baekhyun dengan sebutan hyung karena Baekhyun memang notabenenya lebih tua dua tahun darinya. Loh? Seharusnya Baekhyun dan Sehun setingkat kan karena Sehun berhasil akselerasi sebanyak dua kali?
Ya, mereka seharusnya setingkat.
Namun karena suatu hal, Baekhyun harus berada satu tingkat di bawah sepupunya itu.
"Jadi?" tanya Baekhyun setelah mereka duduk di gazebo yang ada di halaman belakang kediaman Byun tersebut.
Sehun menggelengkan kepalanya. Baekhyun benar-benar tidak sabaran.
"Sejujurnya, aku juga tidak tahu dan benar-benar bingung kenapa Chanyeol hyung menerimamu." kata Sehun.
Baekhyun menoleh. "Kau tidak bertanya padanya?"
"Sudah, tapi dia bilang toh Baekhyun sendiri yang memintaku menjadi kekasihnya jadi aku menerimanya. Ini juga bisa menjadi alasannya untuk melindungimu, hyung." ucap Sehun sambil meniru intonasi dan ekspresi Chanyeol saat tadi menjawab pertanyaannya.
Baekhyun memijat pelipisnya yang entah kenapa terasa sakit.
"Tapi, apa yang sebenarnya kau lakukan di sana, hyung? Dengan dua temanmu pula!"
Baekhyun lalu menceritakan mengenai rencana kedua Luhan, kejadian ia, Luhan, dan Kyungsoo yang masuk ke ruang loker untuk mencari tahu loker milik Sehun kemarin, dan kejadian tadi pagi. Sehun melongo. Dia benar-benar tidak menyangka kalau teman Baekhyun sangat menyukainya sampai melakukan hal seperti itu. Sebelumnya, Baekhyun juga sempat meminta tolong padanya untuk menemui Luhan karena Luhan hendak memberikan kue coklat padanya. Awalnya, Sehun benar-benar merasa hal itu merepotkan tapi karena Baekhyun yang meminta tolong padanya mau tidak mau Sehun menurut dan menemui Luhan hari itu.
Lalu ternyata Luhan memutuskan untuk menyatakan perasaannya pada Sehun dengan membuat surat dan hendak menyelipkannya di lokernya namun sayangnya ia gagal.
'Lucu sekali.' pikir Sehun.
Sehun tertegun. Tunggu, biasanya ia akan risih kalau ada yang melakukan hal sampai seperti itu tapi kenapa ia tidak merasa risih? Justru ia merasa kalau itu hal yang lucu?
"Kenapa kau tidak bertanya saja padaku nomor lokerku, hyung? Lokerku itu nomor 94."
Baekhyun memutar bola matanya malas. "Kalau aku tiba-tiba tahu nomor lokermu, aku harus jawab apa kalau mereka bertanya bagaimana aku bisa tahu nomor lokermu?"
"Bilang saja hyung adalah pacarku." sahut Sehun main-main.
Baekhyun meninju lengan kiri Sehun membuat sepupunya itu mengaduh.
"Tapi, serius. Teman-temanku yakin sekali kalau kau membuka loker nomor 61! Kenapa bisa begitu?" tanya Baekhyun bingung.
"Ah, itu…"
Flashback On
"Chanyeol hyung."
Chanyeol menggumam. Ia sama sekali tidak melirik ke arah Sehun karena mata serta tangannya sedang sibuk memainkan game di ponselnya. Mabar dengan Jongin.
"Kau ikut pelajaran olahraga atau tidak, hyung?"
Chanyeol menggelengkan kepala. Cidera di bahunya masih terasa sedikit nyeri. Jadi, daripada cideranya itu bertambah parah lebih baik ia tidak olahraga dulu.
"Kenapa?" tanyanya singkat.
Sehun tersenyum lebar walau ia yakin Chanyeol tidak melihatnya.
"Boleh aku pinjam baju olahragamu, hyung? Baju olahragaku belum dikembalikan Junho."
Chanyeol menganggukan kepala. Sekitar lima menit kemudian, Chanyeol dan Jongin berseru senang karena mereka berhasil memenangkan permainan tersebut. Jongin menyimpan ponselnya di saku celana dan mengajak kedua sahabatnya itu untuk pergi ke lapangan indoor sebelum jam olahraga dimulai.
Keduanya menganggukan kepala setuju dan segera berjalan keluar dari ruang kelas. Ah, saat ini guru mereka memang sedang keluar ruangan. Jangan ditanya kapan kembalinya, karena guru tersebut memang sudah biasa untuk tidak pernah kembali ke kelas kalau sudah keluar ruangan. Chanyeol dan kedua sahabatnya itu sangat menyukai guru seperti ini.
"Hyung, kuncinya?" tanya Sehun saat mereka akan segera sampai di ruang loker.
Chanyeol yang sedang membalas pesan segera memberikan kunci loker miliknya kepada Sehun tanpa menoleh sama sekali.
Ketiganya lalu masuk ke ruang loker yang sepi. Mereka sama sekali tidak tahu kalau ada tiga orang lainnya yang sedang bersembunyi di pojok ruangan.
Sehun memasukkan kunci loker lalu membukanya. Selagi ia mengambil baju olahraga Chanyeol, Chanyeol hanya berdiri di sebelah Sehun sambil sibuk dengan ponselnya.
Setelah itu, ketiganya langsung berjalan keluar. Tidak menyadari kalau aktivitas mereka tadi diintip oleh ketiga adik kelasnya.
Flashback Off
Baekhyun melongo.
"JADI, KAU MEMINJAM BAJU MILIK PARK CHANYEOL DAN MENGAMBILNYA SENDIRI DI LOKERNYA?!" seru Baekhyun.
Ia sama sekali tidak menyangka kalau di hari mereka mengintip, Sehun malah meminjam baju olahraga Chanyeol dan bahkan mengambilnya sendiri di loker milik Chanyeol.
Sehun mendelik sambil mengusap telinganya yang terasa sakit karena seruan Baekhyun itu.
"Apa masalahnya? Toh Chanyeol hyung juga tidak keberatan sama sekali, kan? Yang salah itu hyung dan teman-teman hyung, kenapa melanggar peraturan sekolah?" sungut Sehun.
Baekhyun menatap Sehun dengan galak. "Tidak usah bicara mengenai peraturan sekolah denganku, Oh Sehun! Kau lebih banyak melanggar!"
Sehun tertawa. Yah, dia sudah tidak tahu berapa banyak peraturan sekolah yang ia langgar.
"Tapi, hyung…" Sehun menggantung ucapannya membuat Baekhyun menoleh karena Sehun tidak melanjutkan ucapannya itu.
"Apa?" tanyanya malas.
"Kau tidak merasa kalau ini seperti takdir? Maksudku, kau dan Chanyeol hyung. Teman-temanmu mengintip aku yang sedang membuka loker Chanyeol hyung dan kalian mengiranya itu milikku, lalu Luhan yang secara tiba-tiba merasa ragu meletakkan surat di loker itu dan hyung yang memutuskan untuk menyelipkannya dan aku serta teman-temanku yang tengah membolos di ruang loker dan berujung Chanyeol hyung yang mengira Baekhyun hyung yang menyatakan perasaannya. Ini terasa seperti takdir kan? Siapa yang tahu Chanyeol hyung dan Baekhyun hyung bisa saling mencintai ke depannya?" jelas Sehun panjang lebar.
Baekhyun menatap Sehun dengan sendu lalu menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak ingin takdir seperti ini."
"Kenapa?" tanya Sehun pelan.
"Karena ia tidak mungkin mencintaiku. Jadi, kalau ini hanya dijadikannya sebagai alasan untuk melindungiku maka biarkan aku menjalani peranku sebagai dirinya."
Sehun menatap Baekhyun dengan sendu. Manik matanya mengunci ekspresi milik Baekhyun yang terlihat sedih sambil menatap ke langit.
"Hyung…"
.
.
.
Hari Senin. Hari yang cukup banyak dikutuk oleh beberapa kalangan, seperti pelajar misalnya. Para pelajar yang tidak rela meninggalkan hari libur mereka itu untuk kembali lagi ke sekolah senang sekali mengutuk hari Senin, padahal tidak akan ada perubahan sebanyak apapun mereka mengutuknya.
Berbeda dengan pelajar lain, para pengurus OSIS justru sudah hadir di sekolah lebih pagi dari biasanya. Beberapa di antaranya sibuk menyiapkan upacara dan beberapa di antaranya sibuk berjaga di gerbang sekolah, mengamati, mencatat pelanggaran, dan bahkan memberikan hukuman di tempat bagi para pelanggar aturan.
Baekhyun salah satunya. Kalau minggu kemarin ia bertugas untuk membantu teman-temannya menyiapkan upacara, minggu ini ia berjaga di gerbang sekolah. Ekspresi wajahnya berubah menjadi datar dan nada bicaranya berubah menjadi galak. Hal ini cukup membuat teman-temannya heran dengan perubahan Baekhyun kalau ia sedang menjaga gerbang sekolah atau berkeliling untuk menyita barang bawaan siswa.
"Kemana ikat pinggangmu? Kau buang, hah?" ucap Baekhyun pada salah satu siswa. Mulut tajam miliknya yang biasanya hanya berlaku untuk beberapa teman dekatnya itu kini berlaku juga bagi siswa yang melanggar aturan.
Tanpa mendengar ucapan siswa itu, Baekhyun mencatat nama dan kelasnya. Karena ini baru pertama kali siswa tersebut melakukan pelanggaran jadi Baekhyun tidak akan memberikan hukuman apapun padanya.
Salah seorang rekannya, Irene, menghampiri Baekhyun dan merangkul bahunya. Baekhyun menoleh untuk melihat siapa yang merangkulnya dan ekspresi wajahnya melunak ketika melihat bahwa orang itu adalah Irene.
"Kenapa?" tanya Baekhyun santai.
Irene menggelengkan kepala. "Tidak, hanya saja kau cocok kalau menjadi ketua divisi kedisiplinan, Baek. Kenapa malah menjadi sekretaris?" tanya Irene sambil tertawa kecil.
Baekhyun mendengus. "Tanya saja sana pada Junmyeon! Padahal aku sama sekali tidak mau jadi sekretaris. Kepalaku mau meledak rasanya kalau mengerjakan proposal dan laporan pertanggungjawaban!" sungut Baekhyun kesal.
Irene kembali tertawa mendengar ucapan Baekhyun. Setelah itu, ia mengacak rambut Baekhyun dan menghampiri seorang siswi yang mengenakan rok terlalu pendek dan mengeluarkan omelan-omelan pedasnya.
Baekhyun menggelengkan kepala.
"Bagaimana mungkin aku menjadi ketua divisi kedisiplinan kalau Irene saja lebih seram dari malaikat maut?" gumamnya sambil menggelengkan kepala.
Baekhyun yang merasa haus segera berjalan menuju ke pos petugas keamanan untuk mengambil botol minum miliknya yang tadi ia letakkan di sana. Ketika tengah meneguk air dari botolnya, ia bisa mendengar dengan jelas beberapa bisikan dari teman-temannya. Rupanya, mereka melihat mobil milik Sehun sunbae yang hendak masuk ke sekolah.
"Hei, kau berani menyuruh Sehun sunbae turun?" bisik adik kelasnya pada salah satu rekannya yang langsung dibalas dengan gelengan kepala.
Baekhyun lalu segera berjalan kembali ke arah gerbang sekolah untuk melakukan pemeriksaan pada Sehun sunbae yang baru datang itu. Baekhyun mendengus. Kenapa juga adik kelasnya itu takut pada Sehun?
Di sekolah mereka, para siswa yang datang dengan membawa kendaraan pribadi akan diminta untuk turun dari kendaraan mereka sehingga anggota OSIS dapat melakukan pemeriksaan seragam dan atribut sekolah. Baekhyun mengetuk kaca jendela bagian pengemudi mobil Sehun sunbae. Tak lama kaca jendela mobil tersebut diturunkan sehingga Baekhyun bisa melihat siapa seseorang yang mengemudi tersebut.
Baekhyun tersentak kaget ketika matanya justru bertatapan dengan Chanyeol yang tengah memandangnya dari dalam mobil. Baekhyun kira ia akan bertatapan dengan Sehun ketika kaca jendela diturunkan, namun sepupunya itu justru ada di kursi penumpang. Rupanya, pagi ini Chanyeol dan Sehun memutuskan untuk berangkat ke sekolah bersama dengan mobil Sehun.
"Selamat pagi, sunbae. Bisa turun mobil sebentar?" tanya Baekhyun dengan sopan. Matanya masih bertatapan dengan Chanyeol sebelum akhirnya Baekhyun memilih untuk melepaskan kontak mata mereka, entah kenapa ia merasa gugup.
Chanyeol menganggukan kepala sebelum akhirnya ia turun dari mobil Sehun dan disusul dengan sang pemilik mobil. Baekhyun memberikan isyarat kepada salah satu rekannya untuk memeriksa atribut dan seragam sekolah milik Sehun sementara ia memeriksa Chanyeol.
Mata Baekhyun menatap dengan teliti penampilan Chanyeol dari atas ke bawah, berusaha mencari kalau-kalau sunbaenya itu melanggar peraturan.
"Dasi, sunbae." ucap Baekhyun. Tangannya menulis di buku catatan miliknya pelanggaran yang dilakukan oleh Chanyeol.
Chanyeol yang mendengar ucapan Baekhyun segera membuka pintu mobil kembali dan mengambil dasi miliknya yang tadi ia letakkan di mobil. Baekhyun menatap Chanyeol, ia menunggu sunbaenya itu memakai dasi miliknya, namun Chanyeol sama sekali tidak bergeming membuat Baekhyun mengernyitkan keningnya bingung.
Chanyeol mengulurkan jarinya menuju kening Baekhyun dan mengusap-usapnya dengan pelan membuat Baekhyun dan beberapa rekan OSISnya tercengang. Bagaimana mungkin seorang Park Chanyeol melakukan hal itu?
Tubuh Baekhyun menegang selama beberapa saat sebelum akhirnya ia paham bahwa Chanyeol menyuruhnya untuk tidak mengernyitkan keningnya. Baekhyun menggenggam jemari Chanyeol yang tadi mengusap dahinya dan menurunkannya.
"Jangan mengernyit." tegur Chanyeol. Ia kira Baekhyun belum paham maksud dari tindakannya itu.
Baekhyun menganggukan kepala.
"Dasinya, sunbae." kini giliran Baekhyun yang menegur Chanyeol.
Chanyeol terdiam. Matanya memandang antara dasi yang ada di genggamannya dan Baekhyun secara bergantian.
"Ada apa, sunbae?" tanya Baekhyun. Ia sama sekali tidak memahami maksud tatapan Chanyeol tersebut.
"Tolong pakaikan." ucap Chanyeol.
Baekhyun melotot. Apa tadi kata Chanyeol? Baekhyun tidak salah dengar kan?
Dalam hati, Baekhyun tahu bahwa ia tidak salah dengar. Chanyeol benar-benar memintanya untuk memakaikan dasi milik sunbaenya itu karena buktinya ia bisa mendengar bisikan-bisikan dari adik kelas dan juga rekan OSIS-nya. Baekhyun jamin ia akan menerima pertanyaan dari mereka nanti karena kejadian ini.
Baekhyun menghela napas lalu mengangguk pelan. Daripada Baekhyun tidak menurutinya dan membuat sunbaenya itu marah padanya, lebih baik ia mengalah saja dengan permintaan Chanyeol ini. Tak lama lagi juga siswa-siswi di sekolah mereka akan mengetahui bahwa ia dan Chanyeol adalah sepasang kekasih.
Chanyeol yang melihat Baekhyun yang menganggukan permintaannya itu terkekeh pelan sebelum akhirnya ia mengacak rambut Baekhyun yang terasa halus itu.
"Aku hanya bercanda, Baek. Tidak mungkin kan kau melakukannya di depan orang banyak?" kata Chanyeol sambil tersenyum. Ia tahu kalau Baekhyun sebenarnya merasa risih menjadi pusat perhatian seperti sekarang namun Baekhyun hanya tutup mulut karena merasa tidak enak dengan Chanyeol.
Baekhyun tertegun sesaat ketika mendengar ucapan Chanyeol, ia bahkan tanpa sadar menggerutu pelan, salah satu kebiasaannya ketika kesal karena diusili oleh seseorang. Chanyeol yang mendengar gerutuan Baekhyun malah tertawa karena menurutnya Baekhyun sangat lucu. Walaupun matanya sibuk melihat perubahan ekspresi Baekhyun, tangannya tetap bergerak untuk memasang dasi dengan cekatan. Ia tidak ingin Baekhyun malah menjadi marah karena Chanyeol belum memasang dasinya. Well, Chanyeol cukup sering mendengar ucapan teman-teman seangkatannya mengenai Baekhyun yang kalau sedang bertugas itu sangat galak dan tidak pandang bulu. Kakak kelas pun akan ia tegur kalau berbuat kesalahan.
Setelah Chanyeol selesai memasang dasi, Baekhyun menganggukan kepala puas. Ia lalu mengizinkan Chanyeol dan Sehun untuk masuk ke mobil dan segera masuk ke sekolah.
Ketika Baekhyun hendak berjalan meninggalkan kedua sunbaenya itu untuk memeriksa siswa lain, lengannya ditahan oleh seseorang membuat Baekhyun berbalik dan menatap sosok yang menahan lengannya tersebut.
Secara spontan, Baekhyun memiringkan kepalanya bingung sambil menatap sosok yang menahannya yang tak lain adalah Park Chanyeol.
Chanyeol tersenyum gemas melihat Baekhyun. Bagaimana mungkin ia tidak gemas ketika adik kelasnya ini terlihat sangat menggemaskan saat memiringkan kepalanya dan menatapnya dengan bingung begitu?
"Mmm, ada apa lagi, sunbae?" tanya Baekhyun.
"Ponselmu."
"Hah? Ponselku?" ulang Baekhyun.
Chanyeol mengangguk. Walaupun Baekhyun tidak sepenuhnya paham dengan tindakan sunbaenya itu, ia tetap memberikan ponselnya pada Chanyeol. Chanyeol mengetik sesuatu di ponsel milik Baekhyun sebelum akhirnya ia menyerahkannya kembali pada Baekhyun.
Baekhyun mengambil kembali ponselnya dan menatap layar ponselnya. Maniknya bisa melihat deretan angka di layar ponselnya, Baekhyun tersenyum kecil. Chanyeol mengetik nomor telponnya pada ponsel Baekhyun.
"Disimpan ya, Baekhyun. Nah, aku masuk dulu. Semangat bertugasnya!" kata Chanyeol. Ia mengacak rambut Baekhyun lagi – jujur saja Chanyeol sangat menyukai sensasi lembut ketika rambut Baekhyun menyentuh telapak tangannya – sebelum akhirnya masuk ke mobil Sehun.
Sehun yang sudah sejak tadi berada di mobil dan melihat perlakuan Chanyeol pada Baekhyun hanya menggelengkan kepalanya ketika Chanyeol akhirnya masuk juga ke mobil.
"Kukira aku baru saja melihat pertunjukan drama, hyung." sindir Sehun.
Chanyeol mendengus.
"Berisik, Oh Sehun."
.
.
Irene, Seulgi, dan Wendy menatap Baekhyun dengan tatapan menuntut jawaban. Baekhyun menatap ketiga perempuan di hadapannya itu dengan malas. Ia yakin sekali ketiganya akan bertanya mengenai kejadian tadi.
Ah, ya. Saat ini, anggota OSIS sedang berada di ruang OSIS untuk memberikan buku catatan pelanggaran kepada Sohyun yang bertugas untuk merekap data tersebut.
Baekhyun menghela napas, ia menyerah.
"Apa?" tanyanya pada akhirnya. Ia merasa sangat risih saat ditatap seperti itu oleh ketiga temannya.
Irene berdecak.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Byun? Seorang Park Chanyeol sunbae!" seru Irene.
Baekhyun menghela napas lagi. Benar kan tebakannya kalau ketiga perempuan di hadapannya itu penasaran dengan kejadian tadi.
"Memangnya ada apa?" sahut Baekhyun.
"Apa Chanyeol sunbae mengancammu?" tanya Wendy bingung.
Baekhyun menggelengkan kepala.
"Lalu sebenarnya ada apa?" sungut Seulgi.
Baekhyun memasang ekspresi jahil dan menatap ketiga orang temannya itu.
"Apanya yang ada apa?" ucap Baekhyun dengan nada main-main.
Seulgi mendengus. "Jangan bertanya balik!" serunya kesal.
Baekhyun menatap Seulgi polos. "Kata ibuku, kalau kau bingung ada baiknya bertanya kepada seseorang. Kalau aku bertanya padamu, tandanya aku bingung dengan maksud pertanyaanmu, paham?"
Sebelum salah satu di antara ketiganya membuka mulut kembali, Baekhyun segera memberikan buku catatannya pada Sohyun dan mengatakan akan mengambilnya pada saat istirahat nanti.
"Sampai jumpa!" ucap Baekhyun dengan cepat dan segera kabur dari ruang OSIS.
"YA! BYUN BAEKHYUN! KEMBALI KAU!"
Baekhyun tertawa kecil ketika ia bisa mendengar teriakan dari ketiga temannya itu dari luar ruang OSIS. Ia lalu berjalan menuju kelasnya karena sebentar lagi pelajaran jam pertama akan dimulai. Baekhyun menghampiri Luhan yang tengah sibuk dengan ponselnya itu, Baekhyun tebak Luhan pasti sedang bermain sosial medianya.
Tanpa menyapa Luhan, Baekhyun memilih duduk dan menyiapkan buku-buku yang akan dipakai pada jam pelajaran pertama.
"Baek." panggil Luhan.
Baekhyun menoleh. "Kenapa?"
"Aku sudah dengar."
"Aku tahu kau bisa mendengar."
Luhan mendengus lalu meninju bahu Baekhyun pelan.
"Baiklah, baiklah. Dengar apa?"
"Kejadian tadi pagi. Kau dan Chanyeol sunbae." ucap Luhan.
Baekhyun menganggukan kepala.
"Lalu?"
"Ini aneh, ya kan?"
Baekhyun menganggukan kepala lagi.
"Tentu saja. Tapi, aku bisa apa? Chanyeol sunbae sudah menerimaku menjadi kekasihnya."
"Tapi, kau tidak menyukainya."
Baekhyun menganggukan kepala untuk kesekian kalinya.
"Memang. Tapi, sekali lagi, aku tidak bisa apa-apa. Jangan menyalahkan dirimu sendiri, Luhan. Hal itu sudah berlalu, jadi, biarkan saja." kata Baekhyun. Ia tahu sekali kalau Luhan masih merasa tidak enak dengan dirinya karena kejadian di ruang loker beberapa hari lalu.
"Lalu bagaimana?" tanya Luhan lagi.
"Jalani saja." sahut Baekhyun santai.
"Maksudmu? Kau akan membuka hatimu untuk Chanyeol sunbae, begitu?"
Baekhyun terdiam ketika mendengar pertanyaan Luhan. Tapi, tak lama ia mengangkat bahunya.
"Tidak tahu."
.
.
"Tumben sekali." kata Luhan sambil melirik Baekhyun.
Baekhyun yang sedang memasukkan buku dan alat tulisnya ke tas menoleh dan menatap Luhan dengan bingung.
"Apanya?" tanya Baekhyun. Ia sama sekali tidak paham dengan maksud Luhan. Baekhyun meletakkan ponselnya di atas meja dan memakai tas punggungnya, bersiap untuk pulang sekolah.
"Ini Senin, Byun. Bukannya biasanya Jung saem melakukan evaluasi dengan anak OSIS? Biasanya ponselmu itu sudah bergetar terus dari sepuluh menit sebelum bel pulang tahu!" jelas Luhan panjang lebar.
Setelah Luhan mengatakan hal itu, ponsel yang Baekhyun letakkan di atas meja bergetar. Nama ketua OSIS – Junmyeon – terlihat jelas pada layar ponselnya membuat Baekhyun langsung mengumpat dan Luhan tertawa.
"Sialan kau, brengsek!" umpat Baekhyun tanpa suara sambil menempelkan ponselnya di telinga kirinya dan berjalan keluar kelas.
Luhan tertawa kencang. "Semangat, Baekhyunnie!"
Baekhyun berbalik badan dan mengacungkan jari tengahnya pada Luhan yang masih tertawa.
"Iya, Junmyeon. Aku baru keluar kelas." kata Baekhyun dengan cepat.
Baekhyun memutuskan panggilannya dan bersiap untuk berlari sebelum akhirnya ia melihat seseorang menghalangi jalannya. Baekhyun nyaris saja mengumpat pada seseorang yang ada di hadapannya itu. Apa dia tidak tahu kalau Baekhyun sedang buru-buru?
"Chanyeol sunbae?" ucap Baekhyun bingung. Apa yang sedang sunbaenya itu lakukan di sini? Baekhyun melirik beberapa siswa angkatannya yang baru keluar kelas dan sedang menatap mereka dengan penasaran. Baekhyun menghela napas lelah. Hilang sudah hari-hari tenangnya kalau berhubungan dengan sunbaenya itu.
"Kita tidak bisa pulang bersama hari ini, Baek. Aku ada evaluasi basket." jelas Chanyeol tiba-tiba. Baekhyun tertegun. Siapa juga yang mau pulang bersama? Tapi, Baekhyun tidak memiliki keberanian sebanyak itu untuk mengatakannya sehingga membuatnya hanya tutup mulut.
"Ah? Iya, sunbae. Tapi, kenapa tidak mengatakannya lewat pesan saja?"
Jujur, Baekhyun benar-benar bingung. Kenapa juga sunbaenya malah menghampirinya ke kelas begini? Kan sangat merepotkan?
Baekhyun merasakan ponsel di tangannya kembali bergetar. Junmyeon pasti sedang panik sekarang karena Baekhyun tidak juga sampai di ruang OSIS.
Chanyeol berdecak. "Aku tidak tahu nomor telponmu. Kau juga tidak mengirimkan pesan apapun padaku sejak tadi pagi aku memberikanmu nomorku."
Baekhyun tertegun. Ia benar-benar lupa untuk melakukan hal itu. Baekhyun menatap Chanyeol lalu tersenyum lebar.
"Maaf ya, sunbae?"
Chanyeol menganggukan kepala.
"Jangan lupa kirim pesan padaku."
Baekhyun mengangguk. Getaran secara berturut-turut pada ponselnya kembali terasa, ia yakin kini seluruh anggota OSIS mungkin tengah mengirimkan pesan singkat padanya. Oke, itu agak berlebihan tapi pesan yang diterimanya memang sangat banyak.
"HOI CHANYEOL! LAMA SEKALI!" teriak Jongin dari jauh.
Chanyeol mendengus ketika mendengar ucapan sahabatnya itu. Tangannya terulur untuk mengacak rambut coklat Baekhyun.
"Hati-hati ya, Baek."
"Iya, sunbae."
Setelah Chanyeol berjalan ke arah Jongin, Baekhyun segera bersiap untuk berlari lagi sambil mengangkat panggilan yang masuk, kali ini dari Irene.
"BAEKHYUN! KAU DIMANA?!" seru Irene.
"BAEKHYUN!"
Baekhyun mengumpat dalam hati karena diteriaki secara bersamaan oleh dua orang, ia kembali berbalik badan.
"BESOK AKU JEMPUT YA!" teriak Chanyeol.
Baekhyun mengangguk. Setelah melihat Chanyeol kembali berbalik badan, Baekhyun segera berlari dengan cepat ke ruang OSIS dengan omelan-omelan pedas dari Irene pada telinganya.
"Aku sedang berlari, sialan. Sudah dulu." ucap Baekhyun cepat dan mematikan panggilannya.
Karena fokusnya terpecah dengan panggilan Irene itu, Baekhyun sama sekali tidak menyadari kalau banyak anak angkatannya yang mendengar teriakan Chanyeol itu. Ia tidak menyadari kalau mulai sekarang ia akan menjadi pusat perhatian dari seluruh siswa di sekolahnya karena menjadi kekasih dari Park Chanyeol.
.
.
Baekhyun menyandarkan kepalanya di atas meja dengan lesu. Sebuah tangan menepuk bahunya sebanyak dua kali membuat Baekhyun segera mengangkat kepalanya dan tersenyum kecil ketika mengetahui bahwa orang itu adalah Junmyeon.
"Lelah, ya kan?"
Baekhyun mengangguk. Tapi, ia tahu dengan pasti bahwa Junmyeon jelas lebih lelah dibandingkan siapapun, beban yang ada di pundaknya jelas lebih berat karena ia adalah seorang penanggungjawab.
"Tidak apa, Baek. Kalau kau belum bisa menyelesaikan revisinya besok, kau bisa memberikannya lusa." ucap Junmyeon.
Baekhyun menggelengkan kepala.
"Tidak apa, aku akan berusaha untuk menyelesaikannya besok pagi. Waktunya semakin dekat dan semua rencana yang sudah disusun bisa saja menjadi berantakan hanya karena aku telat merevisi proposal."
Junmyeon tersenyum kecil lalu menganggukan kepala. Ia tahu sekali sosok di sebelahnya itu benar-benar sangat bertanggungjawab dengan tugas yang diberikan padanya tapi Junmyeon jelas tidak ingin Baekhyun memaksakan diri.
Saat itu, hampir semua anak OSIS telah pulang ke rumah setelah mereka mendapatkan evaluasi OSIS dari pembina OSIS mereka – Jung saem – dan hanya tersisa beberapa anak OSIS yang masih tetap di sekolah karena harus membicarakan beberapa hal.
Ngomong-ngomong soal evaluasi, evaluasi yang diberikan oleh pembina mereka bukan hanya sekedar 'evaluasi' tetapi juga 'omelan' mengenai kinerja OSIS yang dinilai masih kurang karena masih cukup banyak pelanggaran yang dilakukan oleh siswa-siswi sekolah mereka. Ditambah lagi, OSIS sekolah mereka akan segera menyelenggarakan sebuah festival olahraga internal bagi siswa-siswi sekolah mereka sehingga terdapat tambahan evaluasi mengenai susunan acara dan proposal yang mereka ajukan.
"Nah, sudah-sudah. Lakukan sisanya di rumah dan diskusikan saja lewat pesan singkat." ucap Myungsoo – wakil ketua OSIS.
Mendengar ucapan Myungsoo, Baekhyun dan teman-temannya yang lain segera melihat jam yang ada di ruang OSIS dan mengerang bersamaan. Pukul delapan kurang beberapa menit dan mereka masih berada di sekolah. Lalu besok pagi mereka sudah harus tiba di sekolah karena ada rapat sebelum kelas.
Setelah mengucapkan selamat tinggal, mereka lalu berpisah, ada yang pergi ke tempat parkir dan ada juga yang pergi ke depan gerbang sekolah, Baekhyun salah satunya.
"Baekhyun, kau dijemput?" tanya salah seorang rekannya.
Baekhyun menganggukan kepala. Tadi, ia mengirimkan pesan singkat kepada salah seorang supirnya untuk menjemputnya di sekolah karena Baekhyun yakin sekali ia benar-benar tidak akan kuat untuk naik bus ke rumahnya. Ia sangat lelah.
Baekhyun tersenyum lebar ketika mengenali mobil hitam yang ternyata sudah ada di depan gerbang sekolah. Ia dengan cepat masuk ke mobil dan menyandarkan dirinya di jok belakang.
"Lelah, Tuan Muda?" tanya supirnya.
Baekhyun menganggukan kepala.
"Lelah sekali." ucap Baekhyun dengan lesu.
"Kalau begitu, Tuan Muda tidur saja, nanti saat sudah sampai saya akan membangunkan Anda." kata supirnya.
Baekhyun tersenyum kecil dan menganggukan kepala.
"Terima kasih, ahjussi."
Baru saja Baekhyun hendak memejamkan matanya ketika ia mengingat sesuatu. Baekhyun merogoh sakunya dan mengambil ponselnya dan segera mengirimkan sebuah pesan singkat pada seseorang.
'Sebelum aku lupa.' batin Baekhyun.
Setelah pesan tersebut telah terkirim, Baekhyun menyimpan ponselnya dan segera memejamkan matanya, berniat untuk istirahat sebentar.
.
.
Sehun memasukkan keripik kentang ke mulutnya sambil sesekali bergumam untuk mengikuti alunan musik yang dipasang di mobilnya itu. Matanya melirik ke samping, lebih tepatnya pada Chanyeol yang sejak tadi sibuk menggerutu sambil melihat ke arah gerbang sekolah dan jam tangannya berkali-kali.
"Lama sekali." ucap Sehun dengan bosan.
Mereka sudah hampir empat jam berada di depan gerbang sekolah, jadi jangan salahkan Sehun kalau ia mengeluh bosan.
Yah, jangan heran apa yang ia dan Chanyeol lakukan saat ini di depan gerbang sekolahnya padahal jam sekolah sudah sejak tadi usai.
Apalagi kalau bukan menunggu Baekhyun pulang?
Namja bersurai merah di sebelahnya ini, pagi-pagi sekali datang ke rumahnya dengan diantar oleh sang supir. Sehun benar-benar terkejut saat tahu Chanyeol datang ke rumahnya untuk berangkat bersama, padahal biasanya Chanyeol selalu meminta untuk dijemput kalau ingin berangkat bersama.
Chanyeol bahkan menawarkan dirinya untuk mengemudi tadi pagi. Salah satu hal langka lainnya. Tapi, kini Sehun tahu apa tujuan Chanyeol. Jelas sekali ia ingin Sehun menemaninya untuk menunggu Baekhyun yang pada hari Senin suka pulang terlambat karena adanya evaluasi OSIS.
Chanyeol melirik jam tangannya. Sepuluh menit lagi jam delapan. Dia benar-benar bersumpah akan segera masuk ke sekolah kalau dalam sepuluh menit Baekhyun dan urusan OSISnya itu belum juga usai.
Tak lama, sebuah mobil parkir di depan gerbang sekolah mereka. Sehun mengernyitkan keningnya ketika ia merasa familiar dengan mobil tersebut.
"Ah, itu mobil Baekhyun. Sepertinya ia dijemput." kata Sehun tanpa sadar.
Chanyeol menoleh pada Sehun sebelum akhirnya ia menatap ke depan. Ke arah sebuah mobil yang berjarak beberapa meter di depan mereka.
"Bagaimana kau tahu?" tanya Chanyeol sambil mengernyit.
Sehun tertegun selama beberapa saat sebelum akhirnya ia menyahut.
"Ck. Selain hyung, aku juga sering hyung minta untuk mengawasinya kan? Aku cukup sering melihat mobil itu." kata Sehun. Dalam hati, ia merutuk karena bisa-bisanya ia mengucapkan hal tersebut.
Chanyeol menganggukan kepala. Tepat sepuluh menit setelahnya, seorang namja mungil masuk ke mobil yang berada di depan mereka.
"Heh, hebat juga kau, Sehun." kata Chanyeol.
Ia jelas mengenali bahwa namja mungil yang masuk ke mobil tersebut adalah adik kelasnya itu, Byun Baekhyun.
Sehun mendengus.
"Berhenti meremehkanku, hyung. Aku ini jenius."
Chanyeol mendengus lalu memutar bola matanya malas mendengar pujian yang Sehun lontarkan untuk dirinya sendiri itu.
"Yah, karena Baekhyun dijemput maka kita tidak perlu mengantarnya. Jadi, ayo pergi."
Sehun tersenyum senang ketika mendengar ucapan Chanyeol. Akhirnya ia bisa juga pulang ke rumah setelah selama empat jam ia dan Chanyeol menunggu Baekhyun yang sedang evaluasi OSIS itu pulang.
Tepat sebelum Chanyeol menjalankan mobil milik Sehun, ia merasa bahwa ponselnya bergetar, membuat Chanyeol segera mengambil ponsel miliknya yang ia letakkan di samping.
Sebuah pesan singkat masuk.
Dari nomor tidak dikenal.
Awalnya Chanyeol hendak mengabaikan pesan tersebut namun karena takut itu adalah hal penting, Chanyeol memutuskan untuk membuka pesan tersebut dan tersenyum lebar.
Selamat malam, Chanyeol sunbae. Ini nomorku.
-Baekhyun.
Jarinya segera membalas pesan singkat tersebut dan menyimpan nomor ponsel Baekhyun dan segera meletakkan ponselnya kembali dan mulai menyetir menuju rumahnya.
.
.
.
TBC
.
.
.
HAI SEMUANYA!
Ternyata masih banyak juga yang menunggu ff ini:') terima kasih hehe.
Semoga tidak membosankan ya!
Ditunggu review/follow/favoritnya^^
STAY SAFE SEMUANYA!
