Bastard Guardian

.

.

.

Main Pair: Park Chanyeol x Byun Baekhyun

Rate: T

Genre: Romance, Drama, School-life

Disclaimer: All the casts aren't mine but the story's originally mine.

Warning: BoyxBoy, Shou-ai, OOC, typo(s)

DON'T LIKE DON'T READ

.

.

Baekhyun hanyalah siswa biasa yang tidak ingin terkena masalah apapun dengan siapapun. Tapi, karena kesalahan Luhan dan Kyungsoo, surat cinta yang dibuat oleh Luhan untuk Sehun justru dibaca oleh Park Chanyeol – salah satu berandal di sekolahnya – dan lebih parahnya lagi Chanyeol mengira Baekhyun-lah yang menulis surat itu dan menerima Baekhyun sebagai kekasihnya.

.

.

HAPPY READING

.

.

Baekhyun menguap sambil berjalan menuju ke arah ruang makan. Ia tersenyum dan mengecup pipi ibunya yang sudah ada di ruang makan lebih dahulu.

"Pagi, bu."

"Pagi, Hyunnie. Berangkat lebih pagi?" tanya sang ibu.

Baekhyun mengangguk sambil menguap kembali. Sejujurnya ia mengantuk sekali setelah mengerjakan revisi pada proposal mengenai festival olahraga sekolahnya. Niatnya yang ingin tidur lebih lama harus dibatalkan karena ia teringat akan adanya rapat pagi sebelum kelas sehingga membuatnya harus berangkat lebih pagi.

Baekhyun mengambil sepotong roti dan mengoleskannya dengan selai stroberi. Setelah mengoleskan selai, namja mungil itu memasukan roti tersebut ke dalam mulutnya ketika ia merasakan ponselnya bergetar.

Dengan sebelah tangannya yang tidak memegang roti, Baekhyun merogoh sakunya dan mengambil ponselnya, ia menebak kalau Junmyeon atau mungkin Myungsoo yang mengirimkannya pesan.

"Jangan main ponsel saat sedang makan, Hyun." tegur ibunya.

"Maaf, bu. Sebentar saja, aku hanya ingin melihat siapa yang mengirimkan pesan, siapa tahu penting."

Kening Baekhyun mengernyit ketika ia justru melihat nama Chanyeol di layar ponselnya. Jarinya segera menekan ikon pesan dan ia tersedak ketika melihat isi pesan Chanyeol.

"Baekhyunnie! Ibu sudah ingatkan untuk tidak bermain ponsel!" omel ibunya sambil menyerahkan segelas susu kepada Baekhyun. Baekhyun menepuk-nepuk dadanya lalu mengambil segelas susu yang diberikan ibunya dan meneguknya dengan cepat.

Setelah itu, ia kembali memfokuskan matanya pada pesan yang masuk ke ponselnya beberapa saat lalu itu.

Baekhyun, aku sudah di lobi apartemenmu.

Baekhyun menghela napas. Ia lupa kalau hari ini Chanyeol akan menjemputnya, tadi malam saat mengirimkan pesan kepada Chanyeol, Baekhyun tidak menyertakan alamat rumahnya dan Baekhyun yakin kalau Chanyeol pasti mengira apartemen yang waktu itu adalah apartemen milik Baekhyun.

Sunbae, bisa tolong tunggu sebentar?

Setelah menekan tombol kirim, Baekhyun segera menghabiskan sarapannya dengan cepat dan meneguk sisa susu yang ada di gelas miliknya dengan tidak kalah cepat. Sebelum ibunya kembali menegur, Baekhyun bangkit dari duduknya dan mengecup pipi ibunya sambil mengucapkan selamat tinggal.

Bahkan sebelum sang ibu membalas ucapannya, Baekhyun sudah berlari dari ruang makan menuju ruang depan dan memanggil supirnya untuk mengantarnya ke apartemen milik sepupunya sebelum Chanyeol marah karena menunggu terlalu lama.

.

.

Chanyeol merapihkan rambutnya dan menatap penampilannya di depan kaca sekali lagi sambil tersenyum puas.

Ia lalu melangkah keluar dari kamarnya dan bergabung dengan kakaknya di meja makan. Ibu dan ayahnya sedang berada di luar negeri karena urusan pekerjaan sang ayah, jadi pagi itu ia hanya sarapan dengan kakaknya. Sang kakak menatapnya dengan bingung karena jarang sekali ia melihat adik laki-lakinya itu tersenyum di pagi hari.

"Tumben sekali." ucap Yoora.

Chanyeol yang sedang mengunyah roti isi miliknya menatap kakaknya bingung dengan sebelah alis terangkat. Apanya yang tumben? batin Chanyeol.

Yoora yang paham dengan raut wajah bingung sang adik segera menambahkan ucapannya.

"Kau. Tumben sekali tersenyum lebar begitu."

Chanyeol yang mendengar ucapan Yoora hanya terkekeh dan tidak menjawab ucapan kakaknya itu. Tidak mungkin kan ia bilang kalau ia senang karena hari ini bisa menjemput adik kelas yang sekarang menjadi kekasihnya itu?

Sambil mengunyah roti isinya, Chanyeol lalu mengernyitkan kening. Seingatnya, tadi malam saat Baekhyun mengirimkan pesan padanya namja mungil itu tidak mengirimkan alamat rumahnya, yah bukannya Chanyeol tidak tahu rumah Baekhyun – oh, tentu saja, Chanyeol bahkan bisa menyetir ke rumah Baekhyun sambil menutup mata karena ia hapal sekali – tapi ia harus berpura-pura tidak tahu mengenai itu.

Kernyitan pada keningnya semakin dalam sebelum akhirnya ia kembali tersenyum. Ia ingat kalau beberapa waktu lalu Baekhyun merawat dirinya di apartemen yang tidak terlalu jauh dari sekolah mereka, mungkin Chanyeol bisa menunggu di sana dan berpura-pura mengira Baekhyun tinggal di sana.

Setelah meneguk segelas susu, Chanyeol segera bangkit dari duduknya dan segera berjalan meninggalkan meja makan sebelum akhirnya Yoora memanggil dirinya.

"Yeol, nanti jadi noona temani ke dokter?"

Chanyeol menoleh dan menganggukan kepalanya. Hari ini, ia tidak akan mengikuti jam pelajaran tambahan di sore hari karena ada janji dengan dokter untuk memeriksakan kondisi bahunya. Sebenarnya, Chanyeol merasa kalau bahunya sudah tidak terlalu sakit dan Chanyeol juga merasa kalau ia tidak perlu memeriksakan bahunya kembali, namun, karena paksaan Yoora, Chanyeol memilih untuk mengalah dan bertemu dengan dokter dengan syarat Yoora menemaninya.

Ya, Chanyeol memang sedikit manja dengan sang kakak.

"Baiklah, nanti kabari saja kalau kau sudah di rumah sakit. Noona akan menyusul."

Chanyeol mengacungkan ibu jarinya pada Yoora dan segera berangkat. Tak membutuhkan waktu lama bagi Chanyeol untuk sampai di apartemen milik Baekhyun karena jalanan pagi hari yang masih sepi. Chanyeol mengetik pesan kepada Baekhyun yang mengatakan kalau ia sudah ada di lobi apartemen. Tak lama kemudian sebuah pesan masuk dan Chanyeol terkekeh ketika membaca pesan dari Baekhyun yang memintanya untuk menunggu.

Tidak sampai sepuluh menit, Chanyeol yang tengah duduk di sofa yang ada di lobi apartemen tersebut segera menolehkan kepalanya ke arah pintu masuk apartemen ketika mendengar seseorang memanggilnya.

"Chanyeol sunbae!"

Chanyeol lalu bangun dari duduknya dan berjalan menghampiri Baekhyun. Ia lalu mengernyitkan kening dan berpura-pura bingung ketika melihat Baekhyun ada di pintu masuk.

"Baek? Kenapa kau dari arah luar?" tanya Chanyeol.

Baekhyun menghela napas lega ketika mendengar nada ucapan Chanyeol yang terdengar biasa saja dan tidak tinggi.

"Aku lupa bilang pada sunbae kalau apartemen ini milik sepupuku. Aku tidak tinggal di sini, sunbae." jelas Baekhyun. Chanyeol menatap Baekhyun dengan sedikit terkejut – ia berpura-pura, tentu saja – sebelum akhirnya ia menggelengkan kepala karena menyadari bahwa kekasihnya itu cukup pelupa.

"Jadi, kau dari rumah dan menuju ke sini?" tanya Chanyeol.

Baekhyun menganggukan kepala.

"Kenapa kau tidak mengirimkan pesan saja berisi alamat rumahmu? Aku bisa menjemputmu di rumah."

Baekhyun tersenyum kecil lalu menggelengkan kepala. "Tidak apa, sunbae. Kalau sunbae menjemputku di rumah itu hanya memakan waktu dan sunbae bisa terlambat." jelas Baekhyun. Baekhyun tentu saja mengetahui kalau siswa tingkat akhir memiliki kelas tambahan di pagi hari.

Chanyeol yang mendengar penjelasan Baekhyun hanya menganggukan kepala dan mengajak Baekhyun menuju ke mobilnya.

Dalam perjalanan menuju ke sekolah, tidak ada percakapan antara dua insan tersebut. Hanya terdengar suara radio yang dinyalakan oleh Chanyeol untuk mengusir keheningan di antara mereka berdua. Sebenarnya, Baekhyun merasa kurang nyaman karena berada di mobil berdua dengan sang kakak kelas yang sekarang sudah menjadi kekasihnya itu dan sepertinya Chanyeol juga menyadari hal itu sehingga Chanyeol menyalakan radio. Baekhyun yang tengah memandang keluar jendela lalu menoleh ke arah Chanyeol ketika ia teringat sesuatu.

"Mmm, sunbae?"

Chanyeol melirik Baekhyun sekilas sambil bergumam. Melihat reaksi Chanyeol, Baekhyun lalu membuka kembali mulutnya untuk melanjutkan ucapannya.

"Sunbae tidak akan menjemputku setiap pagi, kan?" tanya Baekhyun. Yah, bukannya tidak senang – Baekhyun tentu senang karena mendapatkan tumpangan gratis – tapi kalau Chanyeol menjemputnya setiap pagi maka ia harus bangun lebih pagi demi berangkat ke sekolah bersama dengan Chanyeol.

Chanyeol mengernyitkan keningnya. Apakah Baekhyun tidak menyukai kalau Chanyeol menjemputnya dan mereka berangkat bersama ke sekolah?

Baekhyun yang melihat ekspresi Chanyeol tersebut merasa kalau Chanyeol mungkin salah paham dengan maksud dari ucapannya. Karena tidak ingin menimbulkan kesalahpahaman, Baekhyun segera menjelaskan kembali.

"Maksudku, jadwal kelas pagi kita berbeda cukup lama, sunbae. Aku tidak harus bangun lebih pagi, kan?" jelas Baekhyun dengan nada ragu.

Mendengar penjelasan Baekhyun, kernyitan pada keningnya menghilang dan ia tersenyum kecil. Ia menyadari kalau adik kelasnya ini tidak suka untuk bangun pagi.

"Tentu saja, mungkin kau bisa mengabariku kalau kau harus berangkat lebih pagi. Aku dengan senang hati akan menjemputmu."

Baekhyun tersenyum lebar mendengar ucapan Chanyeol. Setidaknya sunbaenya itu tidak marah karena hal ini.

"Ah, benar. Pulang sekolah juga begitu. Kalau kau memang masih ada di sekolah pada saat sore hari kita bisa pulang bersama." tambah Chanyeol ketika ia mengingat kalau Baekhyun cukup sering pulang larut dari sekolah.

Baekhyun menganggukan kepalanya. Ia lalu menoleh ke arah Chanyeol sambil tersenyum walaupun ia yakin Chanyeol mungkin tidak akan menyadari hal itu karena pandangannya fokus ke depan. Netranya lalu berfokus kepada bahu Chanyeol, seingatnya Chanyeol mengalami cidera pada bahunya, haruskah ia bertanya?

Baekhyun menggigit bibir bawahnya dan memutuskan untuk bertanya setelah batinnya sibuk berdebat. Menurutnya, tidak ada masalah kalau seandainya ia berniat menanyakan kondisi sunbaenya itu.

"Sunbae?"

"Ya?"

"Apa bahu sunbae sudah baik-baik saja? Aku sempat mendengar kalau bahu sunbae mengalami cidera."

Chanyeol melirik ke arah Baekhyun yang kini tengah menatapnya dari samping. Chanyeol juga melihat kalau Baekhyun tengah menggigit bibir bawahnya yang Chanyeol yakin kalau adik kelasnya itu mungkin ragu untuk menanyakan hal itu padanya.

"Hmm, sebenarnya aku merasa sudah tidak ada masalah pada bahuku, tapi noonaku memaksa untuk memeriksakan kondisi bahuku nanti."

Baekhyun menganggukan kepala saat mendengar penjelasan Chanyeol dan kembali menatap keluar jendela. Dalam hati, ia merasa lega karena cidera tersebut sudah membaik.

"Apa kau mau menemaniku ke dokter nanti sore, Baek? Aku mendapatkan izin untuk tidak mengikuti jam pelajaran tambahan sore nanti."

Baekhyun yang tengah menatap keluar segera menoleh dan mendapati Chanyeol yang melirik ke arahnya.

"Mungkin setelah dari rumah sakit kita bisa beli es krim, kau suka es krim? Aku tahu tempat yang menjual es krim enak." tambah Chanyeol ketika Baekhyun terdiam.

Mendengar kata 'es krim' Baekhyun segera tersenyum lebar dan menganggukan kepalanya setuju.

Well, mana mungkin ia menolak es krim?

.

.

Chanyeol dan Baekhyun turun dari mobil dan berjalan masuk ke gedung sekolah bersamaan. Tidak ada percakapan di antara mereka namun keduanya sama sekali tidak merasa canggung.

Baekhyun sedikit bersyukur ketika sekolah masih cukup sepi hanya ada beberapa murid tingkat tiga dan juga beberapa murid yang mungkin piket pagi sehingga menatap mereka dengan bingung namun sama sekali tidak berani membuka mulut.

Ketika mereka tengah berjalan di koridor, ada seseorang dari arah belakang yang secara tiba-tiba merangkul bahu Baekhyun dengan cukup erat membuat tubuhnya agak terhuyung ke depan. Chanyeol yang melihat itu segera menoleh dan mendapati Myungsoo sedang merangkul bahu Baekhyun.

"Ck, Kim Myungsoo!" decak Baekhyun. Tangannya terulur lalu memukul kepala Myungsoo karena kesal. Dia nyaris saja tersandung kakinya sendiri tadi.

Myungsoo yang tengah merangkul Baekhyun hanya terkekeh. Tak lama, ia merasa kalau ada seseorang yang tengah menatapnya dengan tajam sehingga ia menoleh ke arah seseorang yang berdiri di sebelah Baekhyun.

Park Chanyeol tengah menatap Myungsoo dengan tatapan tajam dari samping Baekhyun. Myungsoo sama sekali tidak menyangka kalau sosok yang berjalan di sebelah Baekhyun adalah Chanyeol. Sunbaenya yang terkenal karena seorang pembuat onar.

Tatapan yang diberikan oleh Chanyeol semakin tajam terutama pada rangkulan Myungsoo pada Baekhyun, membuat Myungsoo merasa takut dan seperti perintah tanpa suara, tangannya yang tengah merangkul bahu Baekhyun segera ia turunkan. Baekhyun yang merasa Myungsoo menurunkan rangkulannya segera menoleh ke arah Myungsoo dengan bingung. Tumben sekali Myungsoo langsung melepaskan rangkulannya tanpa perlu disuruh.

Baru saja Baekhyun hendak bertanya, Myungsoo sudah menepuk bahunya dan berkata akan ke kantin dulu sebelum menuju ruang OSIS. Baekhyun yang belum sempat menyahut hanya menggelengkan kepala melihat tingkah aneh Myungsoo itu.

"Dasar aneh." gumam Baekhyun.

"Kau ada rapat pagi ini, Baek?" tanya Chanyeol setelah beberapa saat kepergian Myungsoo.

Baekhyun melirik Chanyeol sekilas dan menganggukan kepalanya.

"Baiklah, kita berpisah di sini. Jangan lupa nanti sore, ya!" kata Chanyeol sambil mengulurkan tangannya untuk mengacak rambut Baekhyun dengan lembut.

Baekhyun kembali menganggukan kepalanya sambil tersenyum lembut.

.

.

Junmyeon mengetuk pintu kelas 3A di depannya dan membuka pintu tersebut ketika mendengar ucapan yang mempersilahkannya untuk masuk ke ruangan. Junmyeon yang diikuti oleh beberapa anggota OSIS lain segera masuk ke ruangan dan membungkukkan badan mereka ke arah guru yang tengah mengajar.

Guru yang tengah mengajar tersebut lalu menganggukan kepalanya paham ketika melihat beberapa anggota OSIS masuk ke dalam kelasnya dan mempersilahkan Junmyeon untuk mengambil alih kelasnya selama beberapa menit dan guru itu pun berjalan keluar kelas.

Junmyeon lalu mengucapkan beberapa kata terkait kedatangan anggota OSIS ke kelas 3A tersebut dan selagi Junmyeon tengah menerangkan hal tersebut, netra Irene menangkap sosok yang duduk tegak di barisan belakang sambil menatap dengan cukup intens ke arah sosok yang berdiri di sebelahnya, Baekhyun. Irene yang berdiri di sebelah Baekhyun segera berbisik kepada namja mungil itu.

"Jadi, ada apa dengan kau dan Chanyeol sunbae?" bisiknya.

Baekhyun yang sejak tadi sibuk dengan setumpuk kertas di tangannya segera menoleh dengan alis terangkat ke arah Irene. Irene lalu melirik ke depan atau lebih tepatnya pada Chanyeol sunbae yang sedang duduk di sebelah Sehun. Baekhyun yang mengikuti tatapan Irene hanya mendengus. Dia lupa kalau kelas 3A adalah kelas Chanyeol.

"Apanya yang ada apa?" ucap Baekhyun. Irene mendengus ketika mendengar ucapan Baekhyun yang masih sama saja sejak kemarin.

Ketika Junmyeon memerintahkan kepada anggota OSIS lainnya untuk menyebar dan melakukan sidak dadakan kepada murid-murid kecuali Baekhyun yang sejak tadi memegang kertas dan tidak melakukan sidak dan hanya berdiri di depan kelas.

Irene lalu tersenyum jahil dan merebut kertas-kertas tersebut dan menyerahkannya pada Junmyeon yang hendak berjalan dan melakukan sidak. Baekhyun yang terkejut dan ingin membantah segera mengurungkan niatnya ketika lengannya ditarik oleh Irene dan mereka melakukan sidak di barisan milik Chanyeol.

Mata Baekhyun melotot ke arah Irene yang pura-pura tidak melihat dan melakukan pemeriksaan kepada siswi yang ada di barisan itu sedangkan Baekhyun melakukan pemeriksaan kepada para siswa.

Sebenarnya, tidak pernah ada yang melakukan pemeriksaan pada Chanyeol sunbae kecuali Junmyeon. Alasannya? Tentu saja karena mereka takut.

Baekhyun mengambil dua buah buku komik yang disimpan oleh salah seorang sunbaenya di bawah meja sambil menggelengkan kepala. Teguran mengenai dilarang membawa buku komik ke dalam kelas pun juga keluar dari mulutnya dengan nada tajam.

Tanpa memedulikan sunbaenya yang hendak memohon padanya itu, Baekhyun segera berjalan menuju ke meja selanjutnya, meja Chanyeol dan Sehun.

Chanyeol segera berdiri dan menatap Baekhyun dengan intens. Baekhyun yang mendapatkan tatapan seintens itu secara refleks mengernyitkan keningnya. Apa ada sesuatu di wajahnya? batin Baekhyun.

Chanyeol yang melihat kernyitan di kening Baekhyun segera menggelengkan kepala lalu mengusap dahi Baekhyun dengan jarinya. Baekhyun yang merasakan sentuhan pada wajahnya pun tersentak dan menatap Chanyeol dengan bingung.

"Jangan mengernyit." tegur Chanyeol pelan.

Baekhyun mengangguk-anggukan kepalanya. Ia lalu memeriksa saku seragam dan bagian bawah meja Chanyeol dan tersenyum kecil ketika sunbaenya itu tidak melanggar peraturan. Saat hendak berjalan ke sisi sebelah Chanyeol, yaitu Sehun, Chanyeol menahan lengan Baekhyun dan berbisik di telinganya.

"Nanti makan siang bersama."

Baekhyun menoleh kepada Chanyeol dan menganggukan kepala. Sebenarnya, ia merasa kalau Chanyeol melakukan interaksi terlalu banyak padanya namun Baekhyun sama sekali tidak berani untuk mengatakan apapun selain mengiyakan semua perkataan Chanyeol.

Setelah memeriksa saku dan bagian bawah meja milik Sehun, Baekhyun lalu berjalan ke depan kelas dan mengambil kembali kertas yang tadi dipegang oleh Junmyeon. Pandangannya menajam saat melihat Irene yang tersenyum jahil padanya.

"Kekasih?" bisik Irene lagi.

Baekhyun menoleh dan melotot kepada Irene. Irene menahan tawanya ketika melihat wajah Baekhyun yang merona tipis.

Setelah itu, Junmyeon lalu menyampaikan perihal festival olahraga yang akan dilaksanakan dalam beberapa minggu lagi. Baekhyun lalu berjalan ke arah ketua kelas 3A dan menyerahkan formulir pendaftaran tersebut.

"Diserahkan maksimal hari Kamis depan, ya, sunbae." kata Baekhyun sambil menyerahkan formulir itu yang mendapatkan anggukan kepala dari sunbaenya.

Setelah itu, seluruh anggota OSIS tersebut segera pamit dari kelas karena mereka masih harus pergi ke beberapa kelas lagi.

.

.

.

Luhan menyilangkan tangannya di depan dada dan merengut. Baekhyun yang berjalan di sebelah sahabatnya itu hanya mendengus dan memutar bola matanya malas.

Alasan kenapa mood Luhan turun tidak lain adalah karena sidak dadakan yang tadi dilakukan oleh anggota OSIS, Luhan membawa parfum ke dalam kelas dan itu membuat anggota OSIS menyita parfum miliknya.

"Aku sudah sering mengingatkanmu untuk tidak membawa parfum ke kelas, Lu." kata Baekhyun dengan nada lelah. Ya, ini bukan kali pertama ia mengingatkan Luhan untuk meninggalkan parfum miliknya di loker.

"Kan aku sudah bilang itu tidak sengaja. Aku lupa meletakannya tadi pagi."

Baekhyun menggelengkan kepalanya. "Tidak ada alasan, Lu."

Luhan mendengus dan berjalan lebih cepat meninggalkan Baekhyun sedangkan Baekhyun hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Luhan yang kekanakan itu.

Setelah mereka mengambil makan siang mereka, keduanya lalu berjalan menuju salah satu meja yang sudah ditempati Kyungsoo lebih dulu.

"Kau sudah keluar daritadi?" tanya Baekhyun sambil meletakkan nampan berisi makanan miliknya di hadapan Luhan yang memilih duduk di sebelah Kyungsoo.

Kyungsoo mengangguk. "Tadi ada ulangan harian mendadak, yang sudah selesai boleh keluar lebih dahulu jadi, yah, aku keluar lebih awal."

Baekhyun menganggukan kepala saat mendengar penjelasan Kyungsoo. Tidak aneh sahabatnya itu keluar lebih dahulu dibandingkan murid lain karena Kyungsoo merupakan salah satu murid yang cerdas di sekolahnya.

Kyungsoo yang menyadari Luhan yang sepertinya dalam mood yang buruk menatap Baekhyun yang duduk di depan Luhan. Sebelah alisnya terangkat dan ia melirik kepada Luhan, memberikan isyarat agar Baekhyun mengerti.

"Parfumnya disita saat sidak tadi." jelas Baekhyun singkat. Kyungsoo lalu menatap ke arah Luhan dan menggelengkan kepalanya. Ia yakin sekali kalau Luhan lupa meletakan parfumnya di loker.

Luhan mendengus dan mengedarkan pandangannya ke arah belakang Baekhyun. Matanya melebar dan dengan refleks ia menendang kaki Baekhyun yang ada di bawah meja. Baekhyun yang ditendang oleh Luhan segera menatap Luhan dengan sebelah alis terangkat.

"Chanyeol sunbae berjalan ke sini!" bisik Luhan.

Sebelum Baekhyun sempat mengucapkan sesuatu, seseorang sudah meletakkan nampan di sebelahnya dan duduk. Well, siapa lagi kalau bukan Park Chanyeol?

Sehun memilih untuk duduk di sebelah Chanyeol sedangkan Jongin duduk di sebelah Kyungsoo dan berhadapan dengan Sehun.

Baekhyun melirik Chanyeol dan menatap ke sekeliling. Ia menghembuskan napasnya ketika tahu siswa-siswi yang ada di kantin sedang menatap mereka dengan penasaran. Baekhyun bahkan memutar bola matanya malas ketika pandangannya bertemu dengan Irene yang menatapnya dengan jahil dan duduk tidak jauh darinya bersama dengan teman-temannya.

Luhan kembali menendang kaki Baekhyun membuat pandangan Baekhyun beralih pada Luhan. Baekhyun tersenyum kecil ketika tahu bahwa Luhan kini sedang panik karena ia makan satu meja dengan Sehun.

"Sudah daritadi?" tanya Chanyeol pada Baekhyun.

Baekhyun segera menoleh dan menggelengkan kepala.

"Aku dan Luhan baru keluar kelas."

Chanyeol menganggukan kepala dan memfokuskan dirinya untuk menyantap makan siangnya sebelum akhirnya ia menyadari bahwa Baekhyun mendekatkan dirinya pada Chanyeol. Secara refleks, Chanyeol segera menoleh dan membulatkan matanya ketika melihat jarak antara dirinya dan Baekhyun yang terlalu dekat.

Chanyeol yakin kalau kedua sahabatnya dan sahabat Baekhyun kini juga tengah terkejut karena sikap namja mungil di hadapannya yang tiba-tiba mendekatkan dirinya pada Chanyeol itu.

Sebelum Chanyeol sempat membuka suaranya, Baekhyun segera menjauh dan menutup hidungnya.

"Sunbae merokok sebelum ke kantin?" tanya Baekhyun dengan kening mengernyit. "Bau rokoknya tajam sekali." tambah Baekhyun sambil menjauhkan dirinya dari Chanyeol.

Chanyeol menggelengkan kepala.

"Aku tidak merokok, itu Sehun." kata Chanyeol asal.

Baekhyun yang mendengarnya segera menoleh dan menatap Sehun dengan sebelah alis terangkat. Sehun yang mendapati tatapan tidak mengenakan dari kakak sepupunya itu segera memukul bahu Chanyeol.

"Hyung! Jangan menuduh yang tidak-tidak!" ucap Sehun kesal. Sial, Baekhyun pasti akan memukul kepalanya kalau ia merokok di sekolah.

Chanyeol menatap Sehun dengan alis terangkat ketika mendapati reaksi yang tidak biasanya dari Sehun itu. Biasanya Sehun hanya mendengus dan tidak menanggapi ucapannya yang asal itu, tapi kenapa namja itu terlihat kesal?

Chanyeol lalu berdecak ketika pandangan Sehun masih juga menajam kepadanya.

"Iya, aku yang merokok. Sehun hanya diam saja dan memperhatikan aku dan Jongin." jelas Chanyeol pada akhirnya.

Baekhyun menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Aku akan mencatat poin pelanggaran itu di buku catatanku nanti. Ingat kan aku, Lu." ucap Baekhyun pada Luhan yang hanya mengangguk pelan.

Chanyeol dan Jongin yang mendengar hal itu segera membelalakan mata mereka. Sial, bagaimana mungkin Chanyeol lupa kalau kekasihnya ini adalah salah satu anggota OSIS yang tidak pandang bulu saat menerapkan peraturan?

Sehun yang mendengar ucapan Baekhyun dan melihat ekspresi kedua sahabatnya itu hanya tertawa puas.

'Untung saja aku tidak berani merokok di sekolah.' batin Sehun.

.

.

.

Baekhyun memasukan buku-buku dan alat tulis yang ada di atas mejanya ke dalam tas ketika bel pulang sekolah berbunyi. Ia juga memeriksa ponselnya sebelum melangkah keluar kelas untuk memastikan bahwa tidak ada rapat OSIS atau urusan lainnya yang harus ia urus sore itu.

"Pulang bersama, Baek?" tanya Luhan ketika Baekhyun memasukan ponselnya ke saku celana.

Baekhyun menoleh ke arah Luhan dan menggelengkan kepalanya. "Maaf, aku sudah janji untuk menemani Chanyeol sunbae ke rumah sakit." kata Baekhyun.

Luhan menatap Baekhyun dengan bingung.

"Chanyeol sunbae sakit?"

Baekhyun menggeleng. "Hanya memeriksa kondisi bahunya, kau ingat kan bahunya sempat cidera beberapa waktu lalu?"

"Ah, begitu. Kalau begitu aku duluan ya, Baek! Nikmati kencan pertamamu~" ucap Luhan dengan nada jahil sambil berlari keluar kelas karena yakin Baekhyun akan memukul kepalanya kalau Luhan tetap berada di kelas.

Baekhyun mendengus ketika Luhan berlari meninggalkannya. 'Kencan pertama apanya? Aku hanya akan menemani Chanyeol sunbae ke rumah sakit.' batin Baekhyun.

Setelah itu, Baekhyun berjalan keluar dari kelas dan menuju ke parkiran mobil. Ia mempercepat langkahnya ketika melihat Chanyeol yang tengah menyandarkan dirinya pada mobil sambil menunggu kedatangan Baekhyun.

"Sudah lama menunggu, sunbae?" tanya Baekhyun ketika ia sudah berdiri di hadapan Chanyeol.

Chanyeol yang sebelumnya tengah fokus pada ponselnya segera mendongak ketika mendengar ucapan Baekhyun. Ia tersenyum tipis dan menggelengkan kepala.

"Berangkat sekarang?" tanya Chanyeol.

Baekhyun menganggukan kepala. Ia lalu berjalan menuju bagian kursi penumpang dan masuk ke mobil. Setelah memakai sabuk pengaman, Chanyeol segera menyetir keluar dari halaman parkir sekolah mereka dan menuju ke rumah sakit.

Perjalanan dari sekolah menuju ke rumah sakit memakan waktu yang cukup lama karena jalanan yang cukup padat. Chanyeol melirik ke arah Baekhyun yang memandang keluar jendela sambil menggumamkan lagu yang terputar di mobil. Menyadari bahwa mungkin Baekhyun menyukai dan mengetahui lagu yang tengah terputar itu, membuat Chanyeol menaikan volume sehingga suara lagu yang terputar terdengar lebih jelas.

Baekhyun yang terkejut karena suara lagu yang semakin keras mengalihkan pandangannya kepada Chanyeol.

"Kau menyukai lagu ini?" tanya Chanyeol setelah menyadari Baekhyun menatapnya.

Baekhyun terkekeh dan mengangguk.

"Well, siapa yang tidak?" kata Baekhyun.

Chanyeol yang mendengar ucapan Baekhyun ikut terkekeh. Dia benar-benar merasa senang karena sepertinya Baekhyun lebih santai dan nyaman berada berdua dengannya di mobil dibandingkan tadi pagi.

Sekitar dua puluh lima menit kemudian keduanya telah sampai di rumah sakit dan segera menuju ke ruangan dokter yang memang sudah membuat janji temu dengan Chanyeol.

"Kau tidak apa menunggu di sini, kan?" tanya Chanyeol ketika namanya sudah dipanggil.

Baekhyun menganggukan kepalanya. Chanyeol tersenyum dan mengacak rambut coklat Baekhyun dengan lembut sebelum masuk ke ruang pemeriksaan.

Selagi menunggu Chanyeol yang ada di dalam ruang pemeriksaan, Baekhyun memainkan game yang ada di ponselnya untuk mengusir rasa bosan sampai akhirnya seseorang memanggil namanya.

"Baekhyun?"

Baekhyun mendongakan kepalanya dan matanya berbinar ketika melihat seseorang yang ia kenal dengan cukup baik.

"Seohyun noona?"

Seohyun berjalan mendekat ketika melihat bahwa seorang murid yang tengah duduk di depan ruang pemeriksaan itu adalah sosok yang ia kenal.

"Sedang apa di sini? Baekhyun sakit?" tanya Seohyun dengan nada khawatir.

Baekhyun tersenyum dan menggelengkan kepalanya ketika mendengar nada khawatir yang keluar dari mulut seorang perawat yang ia kenal dengan baik itu.

"Tidak, aku sedang menemani temanku yang sedang diperiksa di dalam."

Seohyun menghela napas lega. "Temanmu sakit?" tanya Seohyun lagi.

"Hanya memeriksa kondisinya saja, beberapa waktu lalu bahunya cidera."

Seohyun menganggukan kepalanya. Tangannya lalu terulur dan mengusap kepala Baekhyun dengan pelan. "Noona terkejut sekali saat melihat Baekhyun duduk di sini. Syukurlah ternyata kau baik-baik saja."

Baekhyun terkekeh dan menganggukan kepala. Tidak heran kalau Seohyun merasa khawatir dengan dirinya setelah kejadian beberapa tahun lalu.

"Ingat untuk selalu menjaga kesehatanmu, Baekhyun."

Baekhyun memberikan sikap hormat pada Seohyun. "Siap, kapten!" serunya dengan riang.

Seohyun tersenyum sebelum akhirnya ia berpamitan kepada remaja yang ada di hadapannya itu untuk kembali bekerja.

Tak lama setelah Seohyun pergi, Chanyeol keluar dari ruang pemeriksaan membuat Baekhyun langsung berdiri dan menghampiri Chanyeol.

"Bagaimana, sunbae?" tanya Baekhyun.

"Tidak ada masalah. Bahuku sudah baik-baik saja dan sudah diperbolehkan untuk bermain basket lagi." jelas Chanyeol.

Baekhyun tersenyum lega.

"Syukurlah kalau begitu."

Chanyeol menganggukan kepala dan mengajak Baekhyun menuju ke kafe es krim yang berada tidak terlalu jauh dari rumah sakit. Baekhyun yang mendengar hal itu segera tersenyum lebar. Ini yang ia tunggu sejak tadi.

Es krim!

.

.

Setelah Chanyeol memarkirkan mobilnya, keduanya segera turun dan berjalan masuk ke kafe es krim yang Chanyeol bilang memiliki es krim yang enak.

Pandangan Baekhyun mengedar ke seluruh penjuru kafe tersebut dan tersenyum kecil ketika akhirnya matanya menatap deretan es krim yang ada di depannya.

Chanyeol lalu menggenggam tangan Baekhyun membuat perhatian Baekhyun teralih dari deretan es krim yang ada di hadapannya itu.

Sebelum Baekhyun sempat mengatakan sesuatu, Chanyeol sudah menarik tangannya pelan untuk kembali berjalan.

"Ayo, pesan. Sepertinya kau sudah tidak sabar sekali, hm?" tanya Chanyeol.

Baekhyun menganggukan kepalanya semangat. Mereka berdua lalu berdiri di depan konter untuk memesan.

"Satu es krim rasa coklat dan satu es krim rasa cookies and cream." pesan Chanyeol. Sebelah tangannya yang tidak menggenggam tangan Baekhyun ia gunakan untuk merogoh sakunya untuk mengambil dompet miliknya. Pergerakannya terhenti ketika ia merasa seseorang menarik tangannya pelan membuat Chanyeol menatap Baekhyun bingung.

"Mmm, aku belum pesan?" ucap Baekhyun dengan ragu. Ia benar-benar bingung karena Chanyeol sama sekali tidak menanyakan pesanannya setelah ia memesan es krim untuk dirinya sendiri dan justru bersiap untuk membayar.

Chanyeol yang menyadari ucapan Baekhyun segera tersentak selama beberapa saat sebelum akhirnya ia tersenyum kecil.

"Silahkan pesan sesukamu, Baek."

Pekerja yang tadi mencatat pesanan Chanyeol kini menatap Chanyeol dengan bingung setelah mendengar ucapan dua remaja di hadapannya itu.

"Jadi, satu es krim coklat dan satu es krim cookies and cream dijadikan satu?" tanya pekerja tersebut untuk memastikan.

Chanyeol menganggukan kepala dan memberikan isyarat kepada Baekhyun untuk memesan.

"Satu es krim stroberi dengan ekstra topping potongan stroberi." pesan Baekhyun.

Setelah mengulangi pesanan keduanya, Chanyeol segera membayar dan membiarkan Baekhyun untuk memilih tempat duduk. Tak lama setelah mereka duduk, pesanan mereka pun segera diantar dan mata Baekhyun segera berbinar saat melihat es krim pesanannya itu.

Saat mereka tengah menikmati es krim masing-masing, Baekhyun memutuskan untuk memulai percakapan dengan Chanyeol.

"Sunbae nampaknya sangat menyukai es krim, ya?"

Chanyeol yang baru saja memasukan sesendok es krim ke mulutnya menatap Baekhyun dengan bingung.

"Yah, sunbae memesan dua porsi es krim untuk diri sendiri." tambah Baekhyun ketika ia menyadari wajah kebingungan Chanyeol.

Chanyeol yang mendengar ucapan Baekhyun hanya tersenyum kecil.

"Kau juga sepertinya sangat menyukai stroberi, ya?"

Baekhyun tersenyum dan mengangguk dengan semangat.

"Ya, aku sangat menyukainya!" ucap Baekhyun yang kembali fokus dengan es krim yang ada di hadapannya dan tidak menyadari raut sendu serta tatapan kosong milik Chanyeol.

.

.

"Chanyeol! Ayo, cepat!" seru seorang namja mungil dengan semangat.

Chanyeol menggelengkan kepalanya sambil terkekeh ketika namja mungil yang sejak tadi menggenggam tangannya kini justru malah menarik tangannya agar ia berjalan dengan lebih cepat menuju kafe es krim langganan mereka.

"Satu es krim coklat dan satu es krim cookies and cream." pesan Chanyeol sebelum sosok di sebelahnya itu sempat membuka mulutnya.

Sosok itu lalu tertawa kecil ketika mendengar kekasihnya memesan es krim kesukaannya dengan cepat. Setelah Chanyeol membayar, keduanya segera mencari tempat untuk duduk dan memilih untuk duduk di sebelah jendela.

"Chanyeol."

Chanyeol yang tengah menatap keluar jendela segera mengalihkan pandangannya kepada sosok di hadapannya. Tatapan sosok itu menerawang keluar jendela dan ekspresinya terlihat sendu. Tangan Chanyeol terulur untuk menggenggam tangan mungil milik kekasihnya itu.

Sosok itu segera menoleh ketika ia merasa Chanyeol menggenggam tangannya dengan erat. Ia lalu tersenyum kecil.

"Kita bisa mengajak dia ke sini juga kan? Dia sangat menyukai es krim." ucap sosok itu pelan.

"Tentu saja, sayang."

Sosok itu kembali tersenyum.

"Dia pasti akan sangat senang dan menyukainya. Berjanjilah padaku untuk mengajaknya ke sini, Yeol."

"Aku janji."

.

.

Chanyeol memasuki rumahnya dengan santai dan hendak berjalan ke lantai dua dimana kamarnya berada ketika Yoora yang tengah duduk di sofa ruang tengah menghentikannya.

"Menikmati kencanmu, Park Chanyeol?"

Chanyeol tersentak dan menatap kakaknya dengan bingung. Bagaimana Yoora bisa tahu?

Melihat adiknya hanya terdiam dan menatapnya dengan bingung, Yoora memutar bola matanya dan kembali membuka mulutnya.

"Kau tiba-tiba saja mengirimkan pesan kepada noona untuk tidak menemanimu ke rumah sakit karena kau akan ditemani seseorang. Noona tebak itu kekasihmu, ya kan?"

Chanyeol menggelengkan kepalanya ketika mendengar ucapan Yoora. Nampaknya intuisi seorang perempuan benar-benar sangat kuat.

"Ya, aku ditemani oleh pacarku." jawab Chanyeol jujur. Menurutnya, percuma saja kalau ia berbohong pada kakaknya.

Mata Yoora berbinar.

"Benarkah? Bisa kah kau bawa dia ke rumah? Kau tidak pernah berkencan lagi semenjak beberapa tahun lalu dan hanya berbuat onar setelahnya." ucap Yoora sambil menggelengkan kepala.

Chanyeol mendengus saat mendengar ucapan Yoora. Tapi, kakaknya benar. Ia memang sering berbuat onar setelah kejadian beberapa tahun lalu.

"Akan kupikirkan." kata Chanyeol.

Setelahnya, ia segera naik ke lantai dua dan menuju ke kamarnya. Netranya segera fokus pada sebuah foto yang berada di atas meja belajarnya. Pandangannya menyendu dan ia tersenyum kecil.

"Kau benar. Dia sangat menyukainya." gumam Chanyeol sambil meneteskan air mata.

.

.

Hari demi hari berlalu. Kini Baekhyun semakin menyesuaikan dirinya sebagai seorang kekasih dari Park Chanyeol, pembuat onar nomor satu di sekolahnya. Banyak yang bertanya-tanya tentang bagaimana Baekhyun bisa menjadi kekasih Chanyeol namun Baekhyun memilih untuk tidak mengatakan apapun.

Kesibukan Baekhyun juga bertambah dengan semakin dekatnya hari festival olahraga sekolah mereka sehingga membuat Baekhyun menetap lebih lama di sekolah pada sore hari sehingga Chanyeol memutuskan untuk mengantarkan Baekhyun pulang kalau seandainya Baekhyun memiliki rapat.

Sebelum mengantarkan Baekhyun pulang, terkadang Chanyeol mengajak Baekhyun untuk makan malam bersama atau sekedar membeli camilan dan memakannya sambil mengobrol. Baekhyun sendiri tidak keberatan sama sekali karena dengan menghabiskan waktu berdua bersama dengan Chanyeol, Baekhyun juga merasa kalau ia dan Chanyeol menjadi semakin dekat dan Chanyeol ternyata tidak sekejam yang ia bayangkan sebelumnya. Walaupun tidak jarang Baekhyun merasa cukup takut kepada Chanyeol ketika nada suara Chanyeol meninggi ataupun ekspresinya berubah.

BRAK

Pintu ruang OSIS itu terbuka dengan keras membuat keempat orang yang sedang melakukan diskusi di dalamnya terkejut dan memandang sosok yang membuka pintu itu dengan bingung dan sedikit kesal.

"Ada apa, Jaehyun?" tanya Junmyeon dengan kening mengernyit. Sejujurnya, dia cukup kesal karena adik kelas yang juga anggota OSIS itu membuka pintu ruang OSIS dengan keras dan mengganggu diskusi yang tengah ia lakukan dengan rekannya yang lain.

Jaehyun – sosok yang membuka pintu itu – memilih mengabaikan ucapan Junmyeon dan menatap dengan pandangan memohon kepada Baekhyun yang juga tengah menatapnya dengan bingung.

"Baekhyun sunbae, kau harus ikut denganku!" serunya dengan panik.

Baekhyun mengernyitkan kening.

"Ada apa?" tanya Baekhyun bingung.

"Park Chanyeol sunbae berkelahi dengan seseorang!" ucap Jaehyun masih dengan nada panik.

Mendengar ucapan itu, Baekhyun dan rekannya yang lain segera bangkit dan memilih untuk mengikuti Jaehyun menuju tempat perkelahian Chanyeol.

"Sudah panggil Irene?" tanya Junmyeon sambil berjalan dengan cepat.

Jaehyun menganggukan kepala.

"Irene sunbae sudah dipanggil oleh Doyoung, namun sepertinya Irene sunbae sedang memiliki urusan dengan seorang guru." jelas Jaehyun.

Baekhyun menghela napas. Dalam hati, ia sebenarnya cukup takut ketika mendengar Chanyeol berkelahi dengan seseorang. Apa yang bisa ia lakukan? Ia selalu menjauh kalau seandainya Chanyeol tengah berkelahi dengan orang lain dan membiarkan Junmyeon ataupun guru kedisiplinan yang mengehentikan hal itu.

Kelima orang yang tengah berjalan dengan cepat itu menatap ke arah kerumunan di tengah koridor kelas dua itu. Junmyeon melangkah mendekati kerumunan, beberapa siswa yang berada di sana segera memberikan jalan ketika mengetahui Junmyeon berada di sana. Baekhyun yang berjalan di belakang Junmyeon ikut mendekat dengan langkah ragu.

Di tengah kerumunan tersebut, Baekhyun dapat melihat dengan jelas Chanyeol yang tengah berkelahi dengan seorang murid dari kelas dua. Baekhyun bahkan menahan napas ketika ia melihat darah yang mengalir dari dahi Chanyeol. Pandangannya lalu teralih kepada pecahan pot tanaman yang berserakan di lantai.

"HENTIKAN!" seru Junmyeon dengan keras.

Kedua siswa yang tengah berkelahi itu sempat berhenti sesaat sebelum akhirnya Chanyeol kembali memukul wajah adik kelasnya itu dengan keras.

"KUBILANG HENTIKAN!" seru Junmyeon lagi.

Chanyeol mendengus sebelum akhirnya ia memutuskan untuk berdiri sedikit menjauh dari sosok yang berkelahi dengannya sejak tadi. Baekhyun yang melihat bahwa Chanyeol menjauhi sosok yang tadi berkelahi dengannya segera berjalan dengan pelan menuju Chanyeol.

Chanyeol yang merasa bahwa Baekhyun tengah menatap dan mendekati dirinya dengan perlahan itu segera mengalihkan netranya dan menatap Baekhyun dengan dalam. Ia juga berusaha untuk mengatur napasnya yang terengah karena emosi dan berkelahi tadi.

Baekhyun berdiri di hadapan Chanyeol dan menatapnya dengan khawatir. Tangannya terulur untuk menyingkirkan rambut yang menutupi dahi Chanyeol dengan perlahan dan ia menahan napasnya ketika menyadari luka pada dahi Chanyeol yang cukup lebar.

Junmyeon menghela napasnya berat ketika melihat kondisi luka kakak kelasnya yang nampaknya cukup parah itu. Pandangannya teralih kepada sosok yang terduduk di lantai koridor dengan luka-luka pada wajahnya namun untungnya luka pada wajahnya tidak terlalu parah.

"Jadi, ada apa?" tanyanya pada sosok yang terduduk di lantai, Jung Daeseok.

Chanyeol yang mendengar perkataan Junmyeon justru mendengus dengan keras membuat Junmyeon mengalihkan pandangannya pada kakak kelasnya itu.

"Kau mau tahu apa yang dilakukan si brengsek ini?" tanya Chanyeol tajam. Baekhyun yang masih berdiri di sebelah Chanyeol berjengit kaget karena mendengar nada bicara Chanyeol yang menajam.

Junmyeon memilih untuk tidak menyahut dan menatap Chanyeol dengan penasaran.

"Si brengsek ini tiba-tiba saja melemparkan pot tanaman ke kepalaku ketika aku sedang lewat." kata Chanyeol dengan kesal.

Junmyeon, Baekhyun, dan anggota OSIS lainnya tersentak kaget dan menatap sosok yang terduduk di lantai itu dengan pandangan bingung. Apa yang membuat Daeseok melemparkan pot tanaman ke kepala Chanyeol sunbae?

"Itu benar. Aku, Jongin, dan mungkin beberapa orang yang ada di koridor melihat kejadian itu dengan jelas. Chanyeol hyung tentu saja tidak terima dan memutuskan untuk memukuli si brengsek itu." jelas Sehun ketika ia merasa para anggota OSIS di sana tidak percaya dengan ucapan Chanyeol.

Baekhyun menatap ke arah Sehun dengan pandangan serius. Mata coklatnya menilik ekspresi Sehun dengan teliti, berusaha melihat apakah Sehun mengatakan kebenaran atau tidak. Sehun yang juga merasa kalau Baekhyun tengah menatapnya segera menatap mata Baekhyun dengan tatapan yakin dan tegas.

Baekhyun yang melihat bahwa ekspresi Sehun menunjukkan bahwa ia berkata jujur segera menganggukan kepalanya pelan lalu mengalihkan pandangannya kepada Daeseok.

"Kenapa kau melemparkan pot tanaman ke kepala Chanyeol sunbae?" tanya Baekhyun.

Daeseok yang sejak tadi menunduk kini mendongakan kepalanya dan menatap Baekhyun yang baru saja membuka mulut.

"Jujur, Baekhyun." kata Daeseok.

Baekhyun tersentak kaget. "Hah?" tanya Baekhyun bingung.

"Chanyeol sunbae pasti memaksamu untuk menjadi kekasihnya, iya kan?" kata Daeseok lagi.

"Hah?"

Baekhyun menatap Daeseok dengan tatapan bingung. Apa-apaan itu?

Lain dengan reaksi Baekhyun, Chanyeol justru malah melangkah maju dan hendak menarik kerah Daeseok lalu memukuli sosok itu lagi kalau saja Baekhyun tidak menggenggam lengan Chanyeol dengan erat.

Chanyeol segera menoleh dan menatap Baekhyun dengan bingung. Baekhyun menggelengkan kepalanya.

"Cukup, sunbae." ucap Baekhyun tegas.

Mendengar ucapan Baekhyun, Chanyeol mendengus dan memilih untuk tetap berdiri di tempatnya. Junmyeon yang sejujurnya belum terlalu memahami situasi yang ada di hadapannya segera memijat pelipisnya denga pelan.

"Baekhyun, kau antarkan Chanyeol sunbae ke UKS untuk mengobati lukanya. Setelahnya, kau antarkan Chanyeol sunbae ke ruang OSIS." perintah Junmyeon.

Baekhyun menganggukan kepalanya ketika mendengar ucapan Junmyeon. Ia lalu mengajak Chanyeol untuk pergi ke UKS yang tentu saja diikuti oleh kedua temannya yang lain. Setelah kepergian mereka, Junmyeon membubarkan kerumunan yang ada di sana dan mengatakan kepada Myungsoo untuk membantu Daeseok berjalan ke ruang OSIS.

.

.

Baekhyun menganga sambil menatap tidak percaya ke arah sosok dengan wajah babak belur di hadapannya yang tengah menunduk. Pandangannya lalu teralih kepada Junmyeon dan Irene yang juga berada di ruang OSIS untuk memastikan bahwa ia tidak salah mendengar.

Junmyeon menggelengkan kepala.

"Kau mendengarnya dengan jelas, Baek. Alasan Daeseok melemparkan pot tanaman ke kepala Chanyeol sunbae karena ia berpikir Chanyeol sunbae memaksamu untuk menjadi kekasihnya." jelas Junmyeon lagi.

Baekhyun menghembuskan napas. Tangannya lalu mengacak surai coklatnya dan kini menatap Daeseok kembali.

"Tapi, kenapa? Maksudku, itu bahkan tidak memiliki urusan apapun denganmu sekalipun Chanyeol sunbae memaksaku." kata Baekhyun.

Daeseok yang sejak tadi menundukan kepalanya kini mendongak dan menatap Baekhyun.

"Jadi, Chanyeol sunbae benar memaksamu?" tanya Daeseok.

Baekhyun yang mendengar ucapan Daeseok segera menggelengkan kepalanya dengan cepat dan memegang lengan Chanyeol yang duduk di sebelahnya dengan erat ketika merasakan kalau Chanyeol hendak bangun dan mungkin saja, memukuli Daeseok lagi.

"Chanyeol sunbae tidak memaksaku sama sekali." ucap Baekhyun dengan tegas dan yakin.

Mendengar nada suara Baekhyun yang tegas dan yakin, Daeseok menghembuskan napas lega dan menganggukan kepala.

"Bagus kalau begitu." gumamnya pelan.

Chanyeol yang mendengar gumaman Daeseok hanya mendengus dan menatap tajam kepada adik kelasnya itu.

"Lalu apa yang membuatmu sampai melakukan itu? Benar dengan apa yang dikatakan Baekhyun, dipaksa ataupun tidak, itu sama sekali bukan urusanmu." kata Irene. Dia baru saja selesai membantu salah satu gurunya ketika Doyoung menghampirinya dan mengatakan bahwa Chanyeol sunbae dan seorang siswa kelas dua berkelahi sampai memecahkan pot tanaman.

"Aku menyukainya." kata Daeseok.

Chanyeol mendengus. "Kau suka melempar pot tanaman ke kepala seseorang? Jadi, ini bukan kali pertama, heh?" tukas Chanyeol tajam.

Daeseok menatap Chanyeol lalu menggelengkan kepala.

"Aku menyukai Baekhyun-ssi." kata Daeseok tegas.

Keempat siswa yang ada di dalam ruangan OSIS itu terkejut mendengar ucapan jujur dari Daeseok. Jadi, alasan sampai ia melempar pot tanaman ke kepala Chanyeol sunbae karena ia menyukai Baekhyun?

Irene dan Junmyeon menggelengkan kepala mereka.

"Kau tahu, alasan apapun itu tentu saja tidak bisa membenarkan tindakanmu pada Chanyeol sunbae." kata Junmyeon.

Daeseok mengangguk. "Sejujurnya, aku cukup menyesal karena tidak berpikir jernih sebelumnya namun aku merasa tidak bisa diam saja."

Baekhyun menghela napas. "Bagus kalau kau merasa menyesal atas tindakanmu tadi, tapi, tindakan penyerangan ini jelas merupakan masalah serius."

Irene mengangguk setuju. "Kasus ini akan diteruskan kepada pihak sekolah untuk menentukan hukuman yang tepat bagimu. Berdoa saja kau tidak dikeluarkan." ucap Irene tegas.

Wajah Daeseok berubah pucat ketika mendengar ucapan Irene yang mengatakan bahwa ia bisa saja dikeluarkan dari sekolah karena kasus ini. Chanyeol yang menyadari hal itu segera mendengus.

"Kau takut dikeluarkan dari sekolah? Percaya lah, sekolah ini tidak akan mengeluarkanmu karena kasus ini." kata Chanyeol datar.

Ketiga anggota OSIS yang ada di sana segera menggelengkan kepala mereka ketika mendengar ucapan datar Chanyeol yang merupakan pelanggar peraturan sejati di sekolah mereka yang sudah melanggar banyak peraturan namun tidak pernah dikeluarkan dari sekolah tersebut.

Ya, karena pamannya adalah pemilik sekolah ini.

"Tentu saja, paman sunbae adalah pemilik sekolah ini." kata Junmyeon.

Chanyeol menggelengkan kepala.

"Pamanku hanya tidak ingin nama sekolahnya menjadi jelek karena mengeluarkan seseorang dari sekolah."

.

.

Luhan menatap perban pada luka di dahi Chanyeol dengan tatapan tidak percaya. Pada saat jam istirahat pertama tadi, ia menemani Kyungsoo pergi ke perpustakaan karena Kyungsoo harus meminjam dan mengembalikan beberapa buku sehingga ia dan sahabatnya itu tidak mengetahui bahwa terjadi perkelahian di koridor kelas dua.

Luhan sendiri baru mengetahui kejadiannya saat ia masuk ke kelas dan mendengar beberapa temannya sedang membicarakan kejadian tadi dan ia mendengar alasan tindakan Daeseok dari Baekhyun.

Luhan sama sekali tidak menyangka kalau Chanyeol bahkan bersikap biasa saja dan tidak mengeluh sakit sedikitpun dengan luka yang cukup besar di dahinya itu. Luhan bergidik ngeri ketika membayangkan rasa sakit yang mungkin saja dirasakan oleh sunbaenya itu.

Pikiran Luhan teralihkan ketika sosok yang ia sukai dan tengah duduk di hadapannya itu berseru dengan cukup kencang.

"Ah, sial!" umpat Sehun sambil menepuk dahinya. Maniknya melirik kepada jam tangan di pergelangan tangannya dan ia kembali menepuk dahinya.

Kelima orang lainnya yang berada satu meja dengan Sehun menatap Sehun dengan bingung.

"Ada apa?" tanya Jongin pada Sehun sebelum ia kembali sibuk dengan mandu yang berada di dalam kotak makanannya. Jongin bilang seseorang yang menyukainya memberikannya mandu tersebut dan tentu saja Jongin dengan senang hati menerimanya.

"Aku lupa kalau buku itu hari ini rilis." kata Sehun. Tangannya merogoh saku celananya sebelum akhirnya ia kembali mengumpat ketika tidak menemukan ponselnya.

"Sial, aku meninggalkan ponselku di tas." umpat Sehun lagi.

Sehun menoleh ke arah kanannya – Chanyeol – dan menatap Chanyeol dengan pandangan memelas. Chanyeol yang memahami maksud dari tatapan Sehun hanya menggelengkan kepalanya dan merogoh saku celananya sendiri dan memberikan ponsel miliknya pada Sehun yang segera tersenyum lebar.

"Lain kali jangan tinggalkan ponselmu." pesan Chanyeol.

Sehun hanya mengangguk-anggukan kepalanya dan menyibukkan dirinya dengan ponsel Chanyeol. Hari ini merupakan hari perilisan buku dari penulis kesukaannya dan kalau Sehun tidak bisa mendapatkan stok buku di laman web penerbit buku tersebut, maka ia harus mengantre di toko buku dan Sehun jelas tidak menyukai hal itu.

"Bagaimana?" tanya Chanyeol setelah Sehun hanya sibuk dengan ponsel di tangannya.

Sehun tidak menyahut dan tak lama setelahnya ia kembali mengumpat.

"Hyung, aku gagal." kata Sehun dengan lesu. Ia meletakkan ponsel Chanyeol di atas meja dan mengacak rambutnya. Bagaimana bisa ia lupa?

Chanyeol yang tengah mengunyah makan siangnya hanya menggelengkan kepala dan menepuk-nepuk bahu Sehun.

"Gagal apa?" tanya Luhan pada akhirnya. Sejak awal memperhatikan tingkah Sehun, ia sudah sangat penasaran sekali dan ingin bertanya namun ia memilih untuk tetap diam.

"Buku The Great Man: II hari ini dirilis dengan stok terbatas di laman web dan juga toko buku. Karena aku gagal membeli melalui web maka aku harus menunggu dua bulan lagi sampai stoknya kembali dijual di pasaran." jelas Sehun.

"Bagaimana dengan toko buku? Mungkin stoknya masih ada." kata Luhan sambil menatap Sehun dengan bingung. Kalau memang stok di laman web sudah habis kan masih ada stok di toko buku?

Chanyeol mendengus. "Sehun tidak suka mengantre di toko buku. Dia lebih baik menunggu selama dua bulan."

Sehun berdecak. "Hyung kan tahu betapa panjangnya antrean untuk membeli buku itu kan? Tahun lalu, aku harus mengantre sejak malam sebelum penjualannya."

Chanyeol mengangkat sebelah alisnya. "Kau? Kita, Oh Sehun. Kau menyeretku dan Jongin untuk ikut mengantre denganmu dengan alasan kalau aku dan Jongin bisa membantumu untuk membeli makanan atau minuman atau menggantikanmu untuk mengantre kalau kau mau ke toilet." ucap Chanyeol dengan kesal.

"Dan aku tidak akan pernah mengantre lagi semenjak itu."

Jongin memutar bola matanya.

"Kau tidak akan pernah mengantre karena aku ataupun Chanyeol tidak akan pernah menemanimu lagi, Sehun." kata Jongin.

"Kapan penjualan buku itu di toko buku?" tanya Chanyeol.

Sehun menoleh dan menatap Chanyeol dengan penuh harap. "Sabtu ini. Apa hyung mau-"

Belum sempat Sehun menyelesaikan ucapannya, Chanyeol sudah memotong ucapannya.

"Jangan berpikir yang tidak-tidak. Sabtu ini kita ada latihan tanding basket." ucap Chanyeol dengan tegas.

Sehun menunduk lesu. Nampaknya ia harus menunggu dua bulan lagi agar dapat membeli buku itu.

Luhan yang mendengarkan percakapan itu secara diam-diam tiba-tiba saja matanya bersinar dengan cerah. Ia lalu menyentuh kaki Baekhyun dan Kyungsoo dengan kakinya secara bersamaan. Baekhyun dan Kyungsoo secara refleks menoleh secara bersamaan dan mendapati ekspresi Luhan yang terlihat mencurigakan – menurut Baekhyun.

Baekhyun menghembuskan napasnya lelah.

'Apalagi yang akan dilakukan si bodoh ini?' batin Baekhyun.

Nampaknya ia harus siap dengan segala ide gila yang ada di kepala Luhan tersebut.

.

.

.

TBC

.

.

.

CONTINUE/DISCONTINUE?

Lanjut atau tidak, ya? Merasa insecure dengan cerita yang aku tulis huhu.