Note: Jadi ini tuh kek remake dari fict 7 days series sama crazy little things. Semuanya langsung jadi satu oneshot panjang atau Longshot. Fict ini juga aing persembahkan sebagai ekstra birthday fict untuk Sasuke di 23 Juli. Tanggal yang akan jadi kunci di fict ini. Dan yah, bacanya harus runtut sampai akhir ya (jangan diloncat), karna masih ada omake sebelum menyumpahi author atas endingnya XD.


Cover by artist / owner

Standard Disclaimer Applied.

Seven Days

Tujuh hari. Bagaimana nasib Sasuke Uchiha jika harus mengurus bocah aneh berambut nyentrik selama tujuh hari? Apakah ini hanya akan terlewat begitu saja? Atau justru mengantarkan dirinya pada ikatan takdir yang tak terduga?/ "Sasuke-nii, mau anu dong."/ "Dasar bocah, baru mau lulus kuliah aja udah mau ena-ena."/ Lah, coeg?!

[ Inspired by NCT Dream: 7 Days ]

.

.

Warn: Weirdo af, campur kata kasar dan nonbaku. Don't Like Don't Read!


—Day 1. 23 Juli 2020, Amegakure.

"Kau benar-benar bisa menjaganya kan?" Seorang pria bersurai pirang menatap penuh selidik lewat iris sapphirenya ke arah sosok pria bertubuh tinggi di hadapannya.

"Hn," balas pria itu, Sasuke Uchiha, pada seorang pria lain bernama Naruto Uzumaki yang sudah menanyainya pertanyaan yang sama berulang kali.

"Dia mungkin sedikit aneh dan agak menyusahkan, tapi Saku-chan an—"

"Ya. Cepatlah pergi, Dobe!" Sasuke berseru kesal saat sesi pamitan dengan Naruto di bandara tak kunjung usai.

Naruto menghela napas pasrah. Ia tidak menduga harus pergi mendadak karena suatu urusan seperti ini. Pasalnya, adik sepupunya, Sakura Haruno, baru saja pergi berlibur ke tempatnya setelah gadis gulali itu menyelesaikan sidang skripsinya.

Mereka yang awalnya akan menghabiskan dua minggu liburan bersama di kota tempat kerja Naruto, harus menunda selama seminggu karena pria pirang berkulit tanned itu punya urusan yang lain.

Dan mengingat tabiat Sakura, Naruto tidak yakin bisa meninggalkan Sakura seorang diri. Terutama di kota yang masih asing bagi adik sepupunya itu. Jadi, berakhirlah ia meminta bantuan Sasuke Uchiha, sahabat baiknya sejak sekolah menengah pertama itu untuk menginap di apartemennya dan menjaga Sakura. Untung saja ia punya dua kamar dalam apartemen itu.

"Aa, baiklah, sampai bertemu seminggu lagi —dattebayou," pamit Naruto lalu menghilang di antara kerumunan lalu lalang orang di bandara.

"Hn, ya." Sasuke melangkah berbalik setelah memastikan punggung Naruto tidak terlihat lagi.

.

.

Suara televisi yang mengisi kesunyian di ruang tamu itu mengudara. Sedangkan orang yang menyalakannya malah asik dengan gawainya sendiri. Alih-alih menonton televisi, ia malah seperti ditonton oleh televisi.

"Naruto-nii menyebalkan, baka! Bisa-bisanya ia malah pergi. Jika dalam tujuh hari ia tidak kembali aku akan menghancurkan koleksi legonya," omel sosok gadis manis berambut senada gulali dengan bibir yang sudah mencebik kesal.

Baru saja akan menekan nomor telepon Ino untuk mencari teman mengobrol, suara bel apartemen yang dibunyikan mengalihkan atensinya.

"Apa orang itu sudah datang?" tanya Sakura pada dirinya sendiri, mengingat Naruto menitipkannya pada seorang teman bernama Sasuke Uchiha.

Kalau tidak salah ingat, dulu mereka pernah bertemu saat libur musim panas dua atau tiga tahun lalu karena Naruto membawanya ke rumah bersama teman-teman kakak sepupunya yang lain. Dan kebetulan saja saat itu Sakura sedang main dan berlibur sebentar ke rumah bibi Khusina. Walau Sakura sendiri tidak yakin mengingat dengan benar wajah mereka semua.

Piipp!

Suara alarm keamanan berbunyi saat pintu apartemen itu dibuka. Sakura cukup terkejut saat mendapati sosok pria tinggi tegap bersurai kelam dan bernetra tajam bak obsidian kini tengah berdiri menjulang di hadapannya.

"Hn, Sakura?" sapa pria itu seadanya.

Tapi bukannya menjawab, Sakura masih mematung di tempat. Netra klorofilnya memperhatikan pria yang diketahui bernama Sasuke itu dengan seksama. Dari penampilannya sih udah kayak om-om, tapi kok ganteng banget ya? Mirip hot sugar daddy gitu coeg kalau kata Ino. Apalagi degan lengan kemeja yang digulung sampai siku, memperlihatkan otot lengan pria tampan itu, ambyar teh neng Sakura lihatnya.

"Saya tahu saya ganteng. Tapi gak perlu segitunya kalau ngelihatin saya," tegur sosok Sasuke menyadarkan Sakura dari lamunannya sendiri.

"Hah?" ucap Sakura terkesiap mendengar apa yang dikatakan om-om di depannya. Cih, ganteng-ganteng narsis.

"Kamu gak mau mempersilahkan saya masuk?" tanya Sasuke lagi.

"Ah iya, silahkan masuk. Anggap saja rumah tamu, jadi jangan aneh-aneh."

Sasuke mengernyitkan alisnya mendengar sambutan aneh Sakura. Tapi akhirnya memilih acuh dan menggeret koper kecilnya masuk. Sebelum kemudian, medudukkan diri begitu saja di sofa ruang tamu yang sudah dihafalnya itu.

"Paman mau minum apa?" teriak Sakura dari arah dapur.

"Hn, tak perlu repot, jus tomat saja."

"Oke, tak perlu sungkan, air putih akan segera datang," balas Sakura setengah berteriak.

Sasuke kembali mendengus mendapati sikap aneh gadis gulali itu. Ia pikir Sakura hanya bercanda, tapi nyatanya gadis itu memang membawa dua gelas air putih dingin di tangannya.

"Ini Paman," ucap Sakura meletakkan gelas itu di meja, lalu duduk di sofa yang berseberangan.

"Aku seumuran dengan kakakmu, berhenti memanggilku paman," kesal Sasuke yang bahkan langsung berbicara nonformal setelah sebelumnya berusaha berbicara formal pada gadis manis yang tak terlalu dikenalnya ini.

"Oh benarkah? Tapi wajah Paman terlihat lebih tua."

Ctak! Perempatan siku imajiner muncul di dahi Sasuke, gadis ini benar-benar pandai bicara.

"Hn, matamu sepertinya bermasalah," balas Sasuke tak terima dibilang terlihat tua.

"Hum, terserah kau. Dan sebenarnya, ada hal yang ingin kupastikan."

"Hn? Jangan berbicara tidak sopan seperti itu, panggil Sasuke-nii."

"Ya, ya, namaku Sakura, dan itu urusan nanti. Yang terpenting, jawab dulu pertanyaanku."

"Hn?"

"Kau sahabat dekat Naruto-nii kan? Jadi katakan dengan jujur padaku, apa dia punya kekasih?"

Sasuke menaikkan sebelah alisnya heran, kenapa tiba-tiba menanyakan tentang hal ini, "Tidak, dia tidak punya kekas—"

Bruk!

Belum sempat Sasuke menyelesaikan perkataanya, ia sudah dikejutkan oleh Sakura yang tiba-tiba merangsek maju ke arahnya. Lengkap dengan kedua lengan mungil gadis itu yang mengungkung bahu lebarnya. Dalam jarak sedekat ini, hidung mereka bahkan hampir bersentuhan. Membuat satu sama lain dapat merasakan deru napas masing-masing.

"A- apa-apaan kau ini!" seru Sasuke terkejut saat mendapati netra klorofil yang tengah memandangnya tajam dan penuh selidik.

"Kau sendiri," ucap Sakura setengah berbisik mengintimidasi, "apa kau punya kekasih?"

Sasuke terkejut sekaligus heran dengan pertanyaan aneh yang terus datang tiba-tiba, "Tidak. Tapi jika kau tertarik padaku sebaiknya lupakan sa—"

"Baiklah kalau begitu," sela Sakura memotong ucapan pria tampan di depannya dan kembali mendudukkan dirinya di sofa, meraih keripik kentang yang tadi tidak sempat ia habiskan.

Apa-apaan itu? batin Sasuke tak habis pikir dengan tingkah lahu Sakura yang tidak tertebak. Otak cerdasnya memikirkan alasan di balik pertanyaan-pertanyaan barusan. Dan netra obsidiannya mendelik horor saat sebuah asumsi melintasi kepalanya.

"Kau ... tidak berpikir bahwa aku dan Dobe punya hubungan kan?" tanya Sasuke dengan pandangan mendelik ke arah gadis musim semi itu.

Sakura bergumam tak jelas, menelan keripik kentangnya sebelum kemudian berujar, "Wah, kalian bahkan punya panggilan Khusus? Yah, dua orang pria dewasa yang sudah cukup umur untuk menikah sering menginap bersama. Hmm, hanya memastikan," jawab Sakura dengan nada dan pandangan yang menurut Sasuke sangat menyebalkan.

"Kau gila?! Aku ini straight, pria normal dengan hormon testosterone penuh yang masih tertarik pada wanita. Kalau kau tidak percaya ... aku bisa membuktikannya padamu," desis Sasuke dengan seringai miring di bibir tipisnya yang terlihat berbahaya.

Jika kalian mengira Sakura akan salah tingkah, menyesal, marah, atau mungkin meneriaki Sasuke mesum, maka selamat, kalian salah.

Karena nyatanya, saat ini Sakura hanya memberikan tatapan datar diiringi suara kunyahan keripik kentang sebagai latarnya, "Oh, tidak perlu. Lagipula, kau itu bukan tipeku."

Bagai tersambar petir di siang bolong, seringai yang awalnya tercipta dengan penuh percaya dirinya mendadak luntur diiringi pandangan tak percaya. Baru kali ini ada gadis yang terang-terangan menolaknya seperti ini. Sial, harga dirinya terluka sekarang.

"Aku bosan, jadi aku mau pergi ke gym di seberang gedung untuk latihan boxing, kau pakai kamar Naruto-nii saja ya, aku tidak suka kamar pria," ucap Sakura berdiri dari duduknya, melangkah ke dalam kamar untuk berganti celana training, lengkap dengan tas ransel di punggung, "jangan merindukan aku ya, dadah!"

Klap!

Dan suara pintu yang ditutup mengiringi kepergian Sakura dengan Sasuke yang masih mematung di tempatnya.

"Hn, tujuh hari saja, bertahanlah selama tujuh hari," batin Sasuke menyemangati dirinya sendiri.

DAY 1 - FIN


.

—Day 2. 24 Juli 2020, Amegakure.

Cahaya matahari pagi yang membias lewat celah jendela besar yang tertutup gorden membangunkan seorang gadis dari tidur lelapnya.

"Uakh, jam berapa sekarang?" tanyanya pada dirinya sendiri, melirik ke arah jam digital di nakas, masih jam setengah delapan pagi ternyata.

Krucuk!

Gadis itu, Sakura Haruno, meringis saat mendengarkan bunyi lapar dari perut mungilnya. Semalam ia dan teman kakak sepupunya, Sasuke Uchiha, memutuskan memesan pizza sebagai makan malam. Dan alhasil, sekarang ia sudah lapar lagi.

"Baiklah, ayo mandi dan cari makan," ujar Sakura memberi semangat pada dirinya sendiri sebelum kemudian melangkah menuju kamar mandi yang untungnya disediakan di dalam kamar.

Tak butuh waktu terlalu lama untuk Sakura menyelesaikan mandinya, hanya empat puluh menit saja. Lebih cepat lima menit dari biasanya. Wow kemajuan yang bagus, puji Sakura pada dirinya sendiri.

"Nah, ayo kita cari makan," ujarnya melangkah membuka pintu kamar, namun ia dikejutkan dengan bau harum makanan yang memenuhi indranya begitu saja.

"Hn, kau sudah bangun?" tanya Sasuke di arah meja makan dengan balutan kaus hitam santai yang menunjukkan tubuh atletisnya, sukses membuat Sakura sport jantung saking kagetnya. Ganteng banget coeg, gak ada akhlak gantengnya! Akhlak mana akhlak? Sakura butuh akhlak sekarang.

"Bangsat," ucap Sakura refleks saat netra emerald miliknya menangkap pemandangan sempurna dari ciptaan Tuhan bernama Sasuke Uchiha.

'Jangan-jangan ini orang waktu pembagian jatah ketampanan pakai orang dalam lagi, makanya bisa ganteng gini. Sedangkan teman-temannya di kelas yang mirip kentang buluk itu pasti ngantrinya di akhir-akhir, jadi udah keambil semua jatahnya sama orang sejenis Sasuke. Hmm, Saku teh yakin pasti gitu,' batin Sakura bermonolog ria.

Oke, abaikan pemikiran tak masuk akal Sakura barusan.

"Gak bisa lebih kasar lagi?" tanya Sasuke memandang gadis gulali itu bak seorang guru yang memarahi muridnya.

"Humm ... maaf, khilaf."

"Sini sarapan. Orang kayak kamu pasti lebih milih gak sarapan daripada bangun pagi nyiapin makanan," tebak Sasuke santai sambil mengajak Sakura bergabung sarapan dengannya. Ini yang mana tuan rumah sih sebenarnya?

Sakura mendengus sebal mendengar ucapan menyelekit yang dilontarkan pria Uchiha itu. Tapi pada akhirnya ia melangkah mendekat untuk ikut sarapan. Ia tidak bisa membalas karena mau tak mau ucapan Sasuke benar adanya, ia malas bangun pagi dan memasak.

"Gak diracunin kan?"

Kini Sasuke yang balik mendengus, "Aku masih hidup."

"Siapa tau kan," Sakura mengangkat bahunya cuek lalu memulai sarapannya.

Goddamnit! Enak banget anying!

Kokoro Sakura sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Gadis musim semi itu menikmati sarapannya dengan baik, sekali-kali emerald miliknya mencuri pandang ke arah depan.

Jika dipikir-pikir Sasuke itu seperti perfect husbando juga ya. Ganteng iya, mapan iya, pinter masak lagi. Tapi ya itu, omongannya nyelekit. Yah, yang namanya manusia, memang gak ada yang sempurna kan.

"Hn, aku mengerti kalau pesona wajahku sekuat itu. Tapi segera makan sarapannya, keburu dingin," celetuk Sasuke menegur Sakura dari aksi curi pandangnya.

Uhuk! Sakura tersedak makanannya sendiri mendengar ucapan kelewat percaya diri dari Sasuke, netra klorofilnya melempar pandangan horor tak setuju.

"Tak perlu terlalu bersemangat seperti itu," ucap Sasuke menyodorkan satu gelas air putih ke Sakura.

"Ini bentuk penolakan tahu!" seru gadis gulali itu kesal setelah menandas air putih dalam gelas itu hingga tandas setengahnya. "Hum, terimakasih."

Sasuke jujur sedikit terkesiap mendengarnya, alisnya naik sebelah dengan dengusan kecil di bibirnya, "Hn, bahan makanan di kulkas habis. Jadi aku akan berbelanja setelah ini."

"O- oh, kau mau pergi ke supermarket?" tanya Sakura antusias.

"Berhenti bicara seperti itu padaku," protes Sasuke menyoroti cara bicara Sakura yang masih belum berubah.

"Sasuke-nii mau ke supermarket? Aku ikut ya?" ulang Sakura memperbaiki kalimatnya agar terdengar lebih sopan, netra klorofilnya melempar pandangan ala puppy-eyes yang biasa ia gunakan ketika membujuk seseorang.

Sasuke mengernyit melihat duality Sakura yang berubah begitu saja dari anak anjing liar menjadi anak anjing penurut yang menggemaskan. Tunggu, apa ia baru saja berpikir bocah yang berjarak sekitar tujuh tahun darinya itu menggemaskan? Baut kepalanya pasti sedang lepas.

"Setelah kau selesaikan sarapanmu," putus Sasuke akhirnya.

"Tentu saja, terimakasih," balas Sakura kembali berterimakasih lalu melempar senyum lima jari, moodnya benar-benar sangat baik sekarang.

.

.

Saat ini Sakura dan Sasuke tengah melangkah menyusuri basement menuju mobil pria Uchiha itu.

Cklek!

Suara pintu mobil terbuka terdengar dari arah belakang, baru saja Sakura akan mendudukkan dirinya, suara serak-serak becek —kalau tidak mau disebut basah, terdengar. Dan entah mengapa, rasanya lebih merdu daripada bel pulang sekolah.

"Kau pikir aku supirmu? Duduk depan!" ucap Sasuke setengah memerintah. Sakura mempoutkan bibirnya lucu sebelum kemudian menutup kembali pintu belakang dan pindah ke bangku penumpang di depan.

Perjalanan terasa hening beberapa saat. Sakura yang memang terbiasa pecicilan sebagai gadis hiperaktif, akhirnya tak kuasa menahan diri dan buka suara terlebih dahulu.

"Sasuke-nii, mau anu dong."

"Dasar bocah, baru mau lulus kuliah aja udah mau ena-ena."

Bangsat, belum selesai ngomong coeg! Batin Sakura kesal. Dasar 'anu', satu kata berjuta makna. Itu Sakura belum selesai menginterpretasikan maksud 'anu' yang dia bicarakan. Eh, Sasuke seenaknya sendiri mengartikan sebagai ena-ena.

"Cih, udah tua, mesum. Aku mau anu itu, maksudnya mau nyalain radio."

"Oh."

Ctak!

Perempatan siku imajiner muncul di dahi lebar Sakura, pria yang terlihat memasang wajah arogan itu benar-benar menguji kesabarannya.

Malas berdebat lebih jauh, Sakura akhirnya menekan layar LCD touchscreen kecil di depannya. Mencari siaran yang biasanya memperdengarkan lagu-lagu pengisi perjalanan.

Jari telunjuk gadis musim semi itu berhenti saat salah satu channel menyiarkan lagu hits yang biasa ia dengar. Tanpa dipersilakan, Sakura langsung saja ikut menyanyi, mengikuti setiap beat dan lirik lagunya.

Sasuke mendengus melihat tingkah Sakura, suaranya bisa dibilang bagus juga. Jujur saja awalnya Sasuke mengira suara gadis itu pasti memekakkan telinga, mengingat betapa cemprengnya ia, ternyata tidak juga.

Then a boy with, then a boy with luv

Dan berakhirlah sudah lagu kesukaan Sakura dari salah satu boyband hallyu wave, BT*S.

Jeda beberapa saat, lagu berikutnya pun dimulai, sepertinya lagu kali ini dari aliran western.

Shine bright like a diamond.

Baris pertama lirik lagu itu terdengar, Sakura mengernyitkan alisnya, "Mbak Rihanna kalau ikut kelas fisika Oro-sensei gak lulus kayaknya. Diamond doesn't shine, they are reflects!"

Kali ini ucapan Sakura sukses membuat Sasuke tertawa lepas, ada-ada saja tingkah gadis ini. Entahlah, sikap kritis Sakura yang aneh terasa lucu saja di telinga Sasuke saat ini.

"Kenapa tertawa? Aku ini masuk ranking paralel lho," ucap Sakura menyombongkan diri.

Sasuke hanya tersenyum tipis sebagai balasan, tangannya terangkat ke atas kepala Sakura, menepuknya pelan dua kali sebelum kemudian kembali fokus menyetir.

Bang— Hum, kayaknya Sakura sudah kebanyakan berkata kasar hari ini. Duh, apa-apaan sih pria di sampingnya ini, sempat-sempatnya mencuri kesempatan seperti itu. Dan lagi, apa-apaan coba dirinya sendiri. Bisa-bisanya ia agak salah tingkah begini. Padahal Sakura biasanya tidak terlalu peduli mau ada cowok setampan apapun mendekatinya.

Dan alhasil, sisa perjalanan hanya diisi diam. Dengan Sakura yang sibuk tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Namun tak butuh waktu lama, mobil sedan hitam milik Sasuke sudah terparkir rapi di area parkir yang sudah disediakan. Segera saja mereka turun dan memulai aktivitas belanja pagi ini.

Sakuralah yang pertama kali berlari masuk ke dalam. Mengambil troli dan menuju rak-rak yang menyediakan bumbu penyedap makanan.

"Paman, mau ko-masa apa ko-roy?" tanya Sakura pada dua bumbu penyedap instant di tangannya.

"Hn? Terserah."

"Ih, kok terserah?!"

"Ck, ko-masa," jawab Sasuke asal-asalan.

"Ih, kok ko-masa sih, rasanya kurang enak, micinnya lebih kerasa ko-roy."

Terus lu napa nanya, sat. Batin Sasuke kesal. Tapi ia memilih diam saja. Ingat, dua peraturan dunia. Pertama, wanita selalu benar. Yang kedua, bila wanita salah, kembali ke peraturan pertama.

"Sasuke-nii! Nii-san beneran mau bayarin belanjaannya, kan?"

"Hn."

"Kalau gitu, aku boleh nambah cokelat yaa?"

Sasuke terlihat mengangguk, membuat wajah Sakura langsung berubah sumringah. Dan entah kenapa itu terlihat sedikit menggemaskan.

"Eng, Sasuke-nii, enakan cokelat yang mana? Cokelat yang enam belas bar, dua belas bar, atau justru yang delapan bar?" Sakura kembali bertanya dengan tiga batang cokelat di tangannya.

Sasuke menatap awas ke arah tiga cokelat yang sama. Hanya saja, berbeda dari segi ukuran. Otak cerdasnya terlihat berpikir keras, tidak mau menjadi sasaran damprat karena menjawab asal-asalan seperti tadi.

"Hn yang enam belas bar," jawab Sasuke penuh pertimbangan. Bukan tanpa alasan ia memilih itu, yang ia tahu wanita biasanya menyukai cokelat, makanya ia pilih yang paling besar.

"Loh, Sasuke-nii mau aku jadi gendut ya?!"

Lah? Ini kenapa dia jadi salah lagi coeg?!

"Kalau begitu, yang delapan bar?" jawab Sasuke agak ragu, dia merasa sedikit cengok, kenapa dia disuruh memilih jika akhirnya salah?

"Ah, Sasuke-nii pelit, bilang aja gak mau bayar mahal, kan?"

Coeg! Asdfghjkl! Ini kenapa dia jadi salah lagi ya Lord. Duh, cantik-cantik stress. Batin Sasuke merasa frustrasi.

Menarik napas sejenak, Sasuke akhirnya mengambil tiga batang cokelat dari tangan Sakura, dan memasukkan semuanya ke dalam troli.

"Kalau gak habis, simpan buat persediaan," ucap Sasuke disela emosi yang berusaha ia tahan. Wajahnya bahkan sudah terlihat sedikit memerah.

"Hahahahahahaha." Gelak tawa Sakura terdengar begitu jernih. Membuat Sasuke —ekhem, sedikit terpana sebelum kemudian berubah kesal.

"Kenapa kau tertawa? Apa ada yang lucu?" sewot Sasuke yang sepertinya masih terlihat kesal. Garis wajahnya yang kuat terlihat sedikit mengeras dengan pandangan datar.

"Tidak ada apa-apa kok, lucu aja masih ada orang yang sabar gitu, aku cuma iseng aja kok, penasaran reaksi Nii-san, hehehe."

Hehe? Astaga, sabarkan batin Sasuke Uchiha, Tuhan.

"Hn."

"Hahaha, jangan ngambek dong Nii-san. Keren lho bisa sabar gitu, kalau itu Ino pasti kita udah baku hantam, hahaha."

Sasuke bingung harus bereaksi bagaimana, ia kesal tapi juga senang mendengarnya. Ah, terserahlah.

Setelah adegan tidak jelas dalam pilih-memilih, mereka akhirnya mendorong troli untuk pergi ke kasir, tapi sepertinya Sakura melupakan sesuatu.

"Nii-san, sebentar."

"Apa lagi?"

"Anu, lupa beli kinderj*oy buat stok persediaan. Sebentar ya, tunggu sini," ucap Sakura sambil berlalu secepat kilat menuju rak deretan snack, meninggalkan Sasuke yang hanya bisa cengok, terdiam di tempatnya.

"Hah? Kinderj*oy? Dia pikir dia umur berapa," ucap Sasuke sambil menggelengkan kepalanya pelan.

Sakura, entah kenapa terasa lain dari banyak gadis yang ia temui. Dan Sasuke sedikit bingung mengenai itu, entah gadis itu memang lain atau justru kelainan, hahaha. Batin Sasuke menertawakan semua sikap random Sakura.

"Sudah Nii-san, ayo ki-" ucapan Sakura terhenti saat netra klorofilnya tak sengaja bertemu sosok yang amat dikenalnya.

"Oh, hai Sakura," sapa sosok itu mendorong trolinya mendekati Sakura.

Sasuke menaikkan alis pirangnya mendapati reaksi Sakura yang terlihat kesal.

"Hai," balas Sakura seadanya, dari semua orang kenapa harus bertemu Sabaku no Gaara sih, yang notabenenya adalah mantan kekasih Sakura.

"Aku tidak menyangka bisa bertemu kembali denganmu di sini," ujar Gaara melempar senyum tipis di wajah menawannya.

"Oh."

Mendengar jawaban ketus Sakura, Gaara hanya bisa meringis pelan, "Aa, ini benar-benar sudah cukup lama ya, pertemuan kita kembali seperti sebuah takdir rasanya."

Sakura mendengus sinis mendengar ucapan Gaara yang terasa tak masuk akal baginya, "Jika pertemuan kita saat ini kau sebut takdir, apa perpisahan kita dulu juga sebuah takdir? Takdir yang kau buat karena kesalahanmu sendiri."

Gaara terdiam, ia tidak menolak fakta itu, karena memang apa yang terjadi dirinyalah penyebab semuanya berakhir, "Sakura, aku ta—"

"Aku tidak mengerti apa maumu, tapi maaf, aku sudah punya kekasih baru sekarang," ujar Sakura menarik lengan Sasuke mendekat.

Netra onyx tajam Sasuke mendelik horor karena harus terlibat drama picisan di hadapannya. Baru saja ia akan menarik lengannya menjauh agar tidak terjadi kesalahpahaman berkepanjangan, tapi hal itu harus diurungkannya saat merasakan tangan mungil Sakura terasa gemetar di balik wajah sok kuat yang ditunjukkannya.

Ah, gadis ini benar-benar, batin Sasuke frustasi pada dirinya sendiri

"Benarkah?" pandangan jade dingin milik Gaara menatap bertanya pada iris obsidian tajam milik Sasuke.

Menghela nafas pelan, Sasuke pada akhirnya mengangguk, "Ya, aku yang akan menjaganya mulai sekarang."

"Ah, benarkah? Tapi setauku tipe pria Sakura itu se—"

"Yak! Berhentilah seolah kau tau semua tentangku, hubungan kita sudah berakhir sejak kau tidur dengan wanita itu! Jadi, kumohon ... jangan berusaha peduli lagi," ucap Sakura yang terdengar memelankan intonasinya di akhir kalimat, kepala gulalinya juga terlihat menunduk entah karena apa.

Dan sebelum ada yang membuka suara di antara mereka, Sakura sudah berlalu begitu saja meninggalkan kedua pria itu. Tapi baru beberapa langkah pergi, gadis gulali itu terlihat berbalik kembali ke arah Gaara, melayangkan tendangan cukup keras di tulang kering sang pria Sabaku, "Tadi kelupaan," ujarnya enteng, lalu kembali melangkah pergi keluar supermarket.

Baik Sasuke maupun Gaara terlihat cengo, Sakura benar-benar gadis yang aneh.

Menghela napasnya pelan, Sasuke jujur saja tidak ingin terlibat. Tapi sayangnya ia sudah terlanjur terlibat, "Ketahui batasanmu," bisik Sasuke pelan dan tajam, lalu mendorong troli itu ke arah kasir sebelum kemudian menyusul Sakura ke mobil.

.

.

Sakura menatap taman hiburan di hadapannya tak percaya, Sasuke ternyata serius saat mengatakan ingin mengajaknya ke tempat yang menyenangkan.

Pasalnya beberapa saat yang lalu setelah Sasuke membayar belanjaan di kasir dan kembali ke mobil, pria itu mendapati Sakura tengah terisak pelan. Tapi gadis gulali itu berkilah dengan alasan matanya berair karena matanya tak sengaja kecolok.

Karena tak tahan melihat Sakura yang sesenggukan, Sasuke berjanji akan membawa Sakura ke tempat yang menyenangkan jika gadis itu mau berhenti terisak dan tersenyum.

Dan di sinilah mereka saat ini. Di salah satu taman hiburan raksasa kota Amegakure. Dengan Sasuke yang mengantre membeli tiket. Untung saja ini bukan weekend, jadi taman hiburan ini tidak terlalu ramai.

"Ayo masuk," ajak Sasuke setelah memasang gelang tiket di tangan Sakura

"Ayo!" Gadis gulali itu berseru senang dan menarik tangan Sasuke masuk, untung ia mengenakan hoodie dan training selutut bukan celana rumahan pendek, jadi mereka tidak perlu repot ganti baju terlebih dahulu.

"Kau bisa jatuh jika berlari seperti itu, kau kan bukan bocah lagi," tegur Sasuke yang tak habis pikir dengan tingkah kekanakan Sakura yang berlari kesana-kemari ingin mencoba semua wahana.

"Hehehe, habisnya tempat ini benar-benar sangat menyenangkan," balas Sakura dengan senyum manis yang tercetak lebar di bibirnya.

Sasuke mendengus pelan, tempat ini memang menyenangkan. Tapi bagi pria dewasa sepertinya, club and bar dengan alkohol dan wanita di dalamnya, tentu saja akan lebih menyenangkan.

Namun sepertinya cuaca hari sangat mendukung untuk pergi bermain. Cuaca yang cerah berawan dengan angin semilir yang berhembus benar-benar membuai waktu. Sampai tak terasa saat ini sudah menginjak waktu sore.

"Kau tunggu di sini sebentar, aku mau ke toilet," ucap Sasuke menunjuk salah satu bangku kosong, mereka baru saja menyelesaikan acara bermain wahana sepuas Sakura dan berniat mencari café untuk makan malam. Tapi sayangnya Sasuke sudah tak bisa lagi menahan panggilan alam yang menderanya.

"Oke, Nii-san, cepat pergi sana sebelum ngompol," goda Sakura pada Sasuke yang hanya dibalas dengusan.

Saat ini gadis gulali itu tengah mendudukkan dirinya di salah satu bangku, menatap punggung lebar Sasuke yang mulai menjauh. Hmm, sepertinya, ia harus berterimakasih dengan baik nanti.

.

.

Sasuke mengernyit heran melihat kerumunan orang yang tengah mengerubungi sesuatu entah apa.

"Apa yang terjadi?" tanyanya pada seorang pria paruh baya yang tengah berdiri di belakang para kerumunan.

"Ah, tadi katanya ada gadis berambut merah muda yang dirampok," jawab bapak itu mengingat apa yang terjadi.

Sasuke sontak mendelikkan netra onyxnya tajam. Gadis berambut merah muda? Mendadak pikirannya langsung tertuju pada Sakura mengingat warna rambut nyentrik seperti itu jarang ditemui. Sial, kalau terjadi apa-apa pada Sakura, Naruto yang mengidap sister-complex itu benar-benar akan membunuhnya.

Segera saja ia membelah kerumunan di depannya untuk melihat lebih jelas apa yang terjadi, "Sakura! Apa kau tidak ap—"

Sasuke terdiam di tempatnya saat apa yang terjadi berbanding terbalik dengan pikirannya. Bukan pemandangan Sakura yang tengah terluka karena ulah perampok, melainkan perampok itu sendiri yang terlihat babak belur dengan sosok gadis gulali yang mengacungkan tinju ke arahnya. Di belakangnya ada petugas keamanan yang terlihat berusaha memisahkan mereka.

"Yak! Kau ini masih muda dan sehat, bisa-bisanya kau memanfaatkan anugerah Tuhan seperti itu," omel Sakura menarik kerah pria yang sepertinya seumuran dengannya itu.

"A- akh!" Sedangkan pria itu sendiri terlihat meringis kesakitan dengan sudut bibir yang terluka.

"Jika kau memang segitunya membutuhkan uang, bilang saja, walau banyak orang jahat di dunia ini, orang-orang yang memiliki belas kasih pasti masih ada," dumel Sakura dengan intonasi yang sangat pelan nyaris menyerupai bisikan, membuat pria bersurai cokelat di depannya bingung.

Setelah melepaskan kerah pemuda itu, Sakura terlihat merogoh hoodienya, mengeluarkan secarik kertas dari dalam dompetnya, lalu menyelipkannya ke dalam saku pria itu.

"Hiduplah dengan baik," bisik Sakura pelan, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling yang entah mengapa sudah cukup ramai dengan kerumunan orang, ia tidak terlalu menyadarinya karena terfokus pada pria bersurai cokelat di hadapannya ini.

Setelah mengedarkan netra klorofilnya seksama, akhirnya Sakura bisa menemukan sosok Sasuke di antara kerumunan. Menghampirinya lalu menariknya pergi meninggalkan pria yang baru saja di hajarnya, dan juga kerumunan orang-orang yang penasaran, "Sasuke-nii ayo, aku lapar. Dan oh ya Pak penjaga, lepaskan saja dia, dia tidak benar-benar ingin merampok kok."

Dan setelah mengatakan itu, kedua sosok gulali dan emo itu sudah pergi melangkah meninggalkan kerumunan yang mulai membubarkan diri.

Sedangkan pria yang baru saja berniat merampok Sakura, kini hanya bisa memandang tak percaya ke arah dua punggung yang baru saja meninggalkannya. Di kertas itu, tertulis uang dalam jumlah yang cukup besar, cukup untuk operasi ibunya.

"Terimakasih, siapapun namamu, terimakasih banyak," gumam pria itu dengan air mata yang menetes dari ujung matanya, menggenggam erat kertas yang diberikan oleh gadis yang sebelumnya menghajarnya.

Dan itu adalah pemandangan yang sempat tertangkap onyx tajam Sasuke saat ia menoleh untuk memastikan, sebelum kemudian pria bersurai cokelat itu menghilang dari horizon pandangnya ketika mereka berbelok ke sebuah café.

Sakura, gadis yang benar-benar penuh dengan kejutan, batin Sasuke pada dirinya sendiri.

Day 2 - FIN


.

—Day 3. 25 Juli 2020, Amegakure.

Sreekk!

Suara pintu kamar mandi bergeser mengudara, sosok gadis berambut senada gula kapas keluar dari dalamnya dengan tampilan rambut acak-acakan.

Semalam ia tertidur sangat pulas setelah menghabiskan sehari penuh bermain di taman hiburan bersama Sasuke. Ah, bicara tentang pria Uchiha itu, Sakura jadi teringat suatu hal. Segera saja ia melangkahkan kakinya ke meja rias untuk menyisir rambut gulalinya sebelum keluar kamar.

"Yap, sempurna," puji Sakura pada dirinya sendiri saat berhasil menata rapi rambut panjangnya, segera saja ia melangkahkan kakinya keluar kamar untuk menemui Sasuke yang ia yakin sudah bangun.

Cklek!

Suara pintu terbuka membuat sosok pria bersurai kelam yang berkutat di dapur menoleh. Telapak tangannya membuat isyarat agar Sakura mendekat untuk bergabung sarapan.

Netra Sakura memperhatikan penampilan Sasuke yang lebih rapi hari ini. Kemeja hitam dengan lengan di gulung dan juga celana bahan berwarna hitam, outfit yang senada dengan surai hitam dan obsidian kelam milik pria itu. Rambut hitamnya disisir rapi kebelakang, memberikan kesan tegas yang nyata dari rahang kokohnya.

"Wah, aku benar-benar berhutang banyak padamu," ucap Sakura saat mendudukkan dirinya di meja makan, "sejujurnya kau tak perlu repot menyiapkan makanan. Kita bisa memesan layanan makanan di café apartemen."

"Aku memang suka memasak," jawab Sasuke mendudukkan dirinya di bangku seberang Sakura.

"Ah iya, aku lupa mengatakan ini kemarin, aku akan mengganti tiketnya."

Sasuke menaikkan sebelah alisnya, "Hn? Tak perlu."

Sakura berdecak pelan, "Aku tahu kau orang kaya yang bahkan menggunakan black-card hanya untuk membeli tiket taman hiburan, tapi aku bukan tipe orang yang suka berhutang."

Ingatan Sakura menggali memori pemandangan Sasuke yang mengantre membeli tiket lalu membayarnya dengan sebuah black-card, kartu yang tidak bisa dimiliki oleh sembarang orang. Tidak cukup kaya, orang itu juga berpenghasilan fantastis untuk memilikinya.

Netra klorofil Sakura memandang lurus onyx tajam yang terasa menusuk di wajah dingin pria itu. Orang yang tidak mengenal Sasuke mungkin berpikir pria itu arogan, walau terkadang memang begitu. Tapi Sasuke bisa dibilang pria yang cukup hangat lewat afeksi kecil yang dia berikan.

"Tidak perlu, beberpa tiket tak akan membuatku jatuh miskin," jawab Sasuke santai.

Sakura mendecih pelan, "Sepertinya kau pria yang kaya."

"Memang, aku sangat kaya," ujar Sasuke menyombongkan diri dengan santainya.

"Lebih kaya dari Naruto-nii?"

"Dobe— maksudku Naruto, dia kaya, tapi aku lebih kaya. Kau bisa memeriksanya."

"Kenapa bisa begitu?"

"Hn, karena keluargaku adalah old money," jawab Sasuke cuek.

Sakura mengangguk mengerti. Keluarganya juga sangat kaya tapi tidak sampai tahap bisa disebut sebagai konglomerat apalagi old-money. Ayahnya adalah seorang kepala kepolisian dan ibunya adalah dokter di rumah sakit kenamaan Konoha.

"Memang apa pekerjaanmu?"

Sasuke menghentikan makannya sejenak. Melirik ke arah Sakura yang memandang penasaran ke arahnya. Dagu tajam pria itu sedikit terangkat untuk menyombongkan dirinya, tatapan iris obsidiannya yang tajam menatap lurus netra klorofil Sakura, "Aku seorang insinyur dan juga investor pemilik beberapa gedung pencakar langit di Ame. Area Se—"

"Oh begitu," respon Sakura sebelum Sasuke sempat menyelesaikan kalimatnya.

Hah? Apa-apaan barusan? Padahal beberapa saat yang lalu gadis gulali itu terlihat sangat antusias, namun saat ini malah terlihat seperti tidak terjadi apa-apa.

"Kaa-chan ingin aku jadi dokter sepertinya. Tapi aku malah sekolah jaksa, jadi Kaa-chan berharap aku akan menikah dengan dokter," jelas Sakura menyadari raut wajah Sasuke yang terlihat bingung.

Sasuke mendengus pelan, "Lalu jika aku seorang dokter kau akan memacariku begitu?"

"Tidak juga, tipeku itu pria berambut merah seperti anikiku, Sasori-nii. Yah, kalau bisa seperti itu."

"Bocah ini benar-benar," dengus Sasuke, ia sudah tertolak dua kali hanya dalam kurun waktu tiga hari.

"Aku bukan bocah, usiaku dua puluh satu tahun," bela Sakura dengan netra klorofilnya yang memicing tak terima. Walau wajah imutnya yang seolah masih berusia enam belas tahun itu berkata sebaliknya. Sepertinya genetik baby-face memang khas dalam keluarganya, lihat saja wajah Sasori yang sangat menipu usianya.

"Hn, terserah kau. Dan aku ada kerjaan setelah ini, jadi baru akan pulang nanti malam. Jangan membuat masalah yang membahayakan dirimu."

"Aku ini bisa melindungi diriku sendiri, Naruto-nii dan Sasori-nii saja yang suka berlebihan," gerutu Sakura memanyunkan bibirnya

Berbicara tentang perlindungan diri, mendadak Sasuke jadi teringat kejadian tempo hari. Pemandangan seorang pria yang terlihat menangis sambil memegangi secarik kertas, "Kau ... apa benar memberi sesuatu ke pria kemarin?"

"Ah? Iya."

"Apa itu ... uang?"

"Hmm," gumam Sakura mengangguk pelan.

"Kenapa?"

Sakura tak langsung menjawab, ia terlihat memikirkan sesuatu entah apa, "Saat aku memukulnya, aku sempat mendengar dia membisikkan sesuatu tentang ibunya."

"Dia bisa saja menipumu."

"Tidak."

"Kenapa kau terlihat begitu yakin?"

"Entahlah, tapi insting tajam seorang jaksa penuntut umum itu memang ada. Aku punya intuisi yang baik untuk mengenali orang," jawab Sakura mengingat sebuah dorongan yang kuat dari hatinya untuk menolong pria kemarin.

Sasuke terdiam sejenak, "Apa kau sudah memutuskan akan bekerja dimana setelah kau lulus?"

"Hmm, dari akumulasi nilai semester, aku lulusan terbaik di angkatanku. Tapi aku belum menentukan, mungkin di Konoha atau mungkin juga ganti suasana di sini."

"Amegakure?"

"Aku suka hujan," jawab Sakura sederhana, mengingat Amegakure memang tempat yang tepat untuk para pecinta hujan, kota hujan Amegakure.

Sasuke mengangguk mengerti, dan menyuap suapan terakhir sarapannya sebelum kemudian berdiri dari duduknya untuk melangkah menuju mesin pencuci piring otomatis.

"Kalau begitu aku pergi dulu," ujar Sasuke berjalan ke arah sofa untuk mengambil dasi dan coat tipisnya, memakai dasi itu asal-asalan, lalu berjalan ke arah pintu.

"Tunggu!" seru Sakura menghentikan langkah sang pria Uchiha yang baru saja akan memutar kenop pintu.

Sakura berlari kecil menghampiri Sasuke, membuat pria beriris obsidian tajam itu memandang heran.

"Pakai dasimu yang rapi," ujar Sakura sedikit berjinjit untuk merapikan dasi pria jangkung di hadapannya.

Tanpa sadar Sasuke menarik senyum tipis di sudut bibirnya, gadis ini benar-benar di luar dugaan.

"Nah, sudah selesai."

"Apa hanya itu yang ingin kau sampaikan?" tanya Sasuke memastikan.

"Ah itu, apa ada sesuatu yang ingin kau makan untuk makan malam?"

"Hn? Kenapa tiba-tiba?"

"Tadi pagi kan Nii-san sudah masak, nanti biar Sakura saja!" seru Sakura terlihat antusias dengan binar di matanya.

"Kau bisa masak apa?"

"Sasuke-nii maunya apa?"

"Yaki gyoza?"

"Hah? Apaan tuh? Gak ngerti, yang lain coba."

Entah mengapa firasat Sasuke mendadak terasa tidak enak, tapi pada akhirnya ia memutuskan untuk tetap menjawab, "Pad thai?

"Ehm, No!"

"Beef bulgogi bowl?"

"Tau sih, tapi ribet ah."

"Ya sudah. Terserah kau saja," ujar Sasuke pasrah menghadapi Sakura dan segala keanehannya.

"No! Sasuke-nii yang pilihin!" kekeuh Sakura pada pendiriannya.

Sasuke kembali menghela napas sedikit kasar. Duh, cantik-cantik ribet.

"Chicken cordon bleu? Itu cukup simple kan?"

"Wah enak tuh. Eh, tapi aku gak pernah nyoba masak, takut gagal nanti," jawab Sakura terlihat sedikit murung, bibirnya mempout lucu.

Onyx tajam Sasuke menahan untuk tidak memelototi gadis gulali di hadapannya, ia masih mencoba bersabar sebisa mungkin, "Hn, pasta bolognese?"

"Sausnya susah buatnya, nan—"

"TERUS KAU BISANYA APA?!" teriak Sasuke dengan emosi yang meluap begitu saja. Kesel atuh teh si Akang.

"Aku? Indo*mie telor aja sih sebenernya, hehehe."

Ctak! Perempatan siku imajiner muncul di dahi Sasuke. Kalau gitu, ngapain nawarin aduh Neng. Duh!

Kembali menghela napas pelan untuk menghimpun kesabaran, Sasuke berusaha menguatkan hati, "Hn, ya sudah, masak Indo*mie telor aja sana."

"Nah, gitu dong Nii-san, daritadi kek, buat ribet aja deh!"

Sasuke menganga tak percaya, rasanya tekanan darahnya naik begitu saja. Naruto berbohong saat mengatakan Sakura sedikit gila, karena nyatanya gadis gulali itu sangatlah gila dan luar biasa absurd.

Tidak tahu lagi bagaimana harus menanggapi, Sasuke berbalik begitu saja meraih kenop pintu lalu melangkah keluar tanpa mengatakan apapun. Meninggalkan Sakura yang tak bisa menahan tawa di balik pintu yang baru saja ditutup itu.

"Kekeke, astaga! Bagaimana dia bisa terlihat semenggemaskan itu sih, hahaha," kekeh Sakura mengelap setitik air mata yang menggenang karena terlalu banyak tertawa.

Yah, moodnya menjadi berkali-kali lipat lebih baik hari ini. Dan ini mungkin terlalu tiba-tiba, tapi Sakura rasa dia mulai sedikit menyukai Sasuke. Terutama bagaimana wajah dengan pahatan yang tajam itu terlihat kesal, benar-benar suatu hiburan yang menyenangkan.

.

.

Udara malam ini tidak terlalu dingin, bahkan cenderung hangat. Sasuke muncul dengan kaus putih polos dan celana pendek selutut warna hitam. Rambutnya yang setengah basah ia biarkan acak-acakan begitu saja, menambah kesan seksi yang mengintimidasi pada dirinya.

Duh, seksi banget sih, buat kokoro lemah aja si Akang.

Setelah pulang tadi, Sasuke mendapati Sakura sedang berkutat di dapur. Jadi, ia memutuskan untuk mandi terlebih dahulu sebelum kemudian bergabung. Akan tetapi, pemandangan yang ia jumpai seusai mandi benar-benar membuatnya jawdrop, entah mengapa kepalanya mendadak terasa pening.

"Astaga Sakura, apa yang terjadi?!" seru Sasuke kaget begitu memasuki area dapur dan ruang makan.

Ini habis perang dunia ketiga atau bagaimana sih? Benar-benar sangat kacau. Panci dan wajan berserakan dan bahkan tercium bau hangus. Bumbu-bumbu banyak yang tumpah dan mengotori meja. Bahkan ada piring yang terbelah dua di tempat sampah.

"Uh, ya, bukan apa-apa. Kita bisa bereskan nanti, hehehe," ucap Sakura yang muncul dengan dua piring mie dan telor di atasnya. Gadis itu berjalan santai dengan kaus putih pendek dan hotpants yang menampakkan kaki jenjangnya yang bersih.

Sasuke menghela napas untuk yang kesekian kalinya hari ini. Mendengar Sakura menyebut kata kita, sepertinya itu pertanda yang tidak baik untuk jam tidurnya.

"Sasuke-nii buruan!" seru Sakura sambil meletakkan dua piring di meja makan. Lengkap dengan dua gelas air putih di atasnya.

Sasuke mengangguk pasrah dan memakan makan malamnya yang untungnya masih berasa seperti mie pada umumnya.

Dan tepat seperti dugaannya, gadis itu tidak membiarkan Sasuke kembali begitu saja. Memaksanya untuk membantu membersihkan kerusuhan yang telah dibuat oleh adik sepupu Naruto itu.

"Sasuke-nii, ini kerannya kok gak mau nyala sih?!" teriak Sakura pada Sasuke yang tengah merapikan bumbu dapur yang berserakan.

Sasuke menolehkan kepala emonya, netra onyx miliknya sedikit melotot saat mendapati Sakura tengah menarik-narik leher keran seperti mau mencopot keran itu dari tempatnya.

Segera saja ia berjalan tergesa menghampiri Sakura, berusaha mencegah gadis musim semi itu merusak sang keran air lebih jauh.

"Hei, hati-hati, jangan menariknya seperti itu!" Tangan Sasuke hendak menggapai tangan Sakura, berusaha menghentikan aksi bar-bar sang gadis. Akan tetapi sayangnya, belum sempat hal itu dilakukan, keran air tersebut telah terlepas begitu saja dari tempat asalnya. Menghujani mereka, terutama Sakura, dengan cukup derasnya.

Tenaga gadis gulali itu benar-benar bukan main sampai bisa melepas keran air yang padahal terikat kuat pada tempatnya.

"Kyaaa!" pekik Sakura terkaget saat merasakan hampir sekujur tubuhnya tersiram mendadak.

Dengan secepat kilat Sasuke meraih keran yang terlepas dan menutupnya kembali seperti semula.

Hening beberapa saat, Sasuke berusaha mengatur napas dan juga emosinya. Sedangkan Sakura, terlihat berusaha kembali menata ikat rambutnya.

Baru saja pria pirang itu bebalik dan hendak memarahi Sakura. Tapi obsidiannya terkejut saat mendapati pakaian dalam Sakura yang berwarna hitam tercetak jelas di balik kaus putihnya yang terlihat basah. Memperlihatkan bagaimana bentuk tubuh ideal gadis itu tercetak jelas bersamaan dengan perut rampingnya yang sungguh menggoda.

"Hei kau! Ganti saja bajumu dulu, lalu bawa pel kemari," titah Sasuke dengan pandangannya yang berusaha menoleh ke arah lain.

Sakura sendiri terlihat bingung kenapa tiba-tiba ia disuruh ganti baju? Netra klorofilnya menatap ke arah kaus yang digunakannya dan menyadari maksud perkataan Sasuke.

"Oh, nanti saja, lagipula aku masih pakai bra, bukan masalah besar," balas Sakura cuek lalu mengambil kain pel dan hendak memulai membersihkan kerusuhan yang ia buat.

"Kau gila ya?! Aku ini pria dewasa dengan hormon penuh yang bisa menyerangmu kapan saja! Ganti bajumu cepat!"

Sakura mendecak pelan, "Kau tidak akan melakukan apapun, aku tahu itu. Naruto-nii biasanya juga biasa sa—"

"Aku bukan Naruto, baka! cepat ganti bajumu atau aku bahkan tak bisa menjamin apakah kita akan berakhir satu ranjang atau tidak malam ini."

Sakura kembali mendecak lalu bergumam entah apa. Sebelum kemudian, berbalik melangkah menuju kamarnya untuk mengganti baju sebelum Sasuke kembali mengomelinya panjang lebar.

"Bocah itu, apa yang ada di kepalanya sih," rutuk Sasuke pelan, tak habis pikir dengan apa yang barusan terjadi, netra onyxnya melirik ke arah bawah, yakni pusat gairah para pria. Bungsu Uchiha itu menghela napas lega, yang tadi itu hampir saja. Jika saja Sakura memberontak sekali lagi, ia sendiri bahkan tidak bisa menjamin apa yang akan terjadi selanjutnya.

Ah, melihat semua kekacauan ini, sepertinya malam ini akan jadi malam yang panjang.

Day 3 - FIN


.

—Day 4. 26 Juli 2020, Amegakure.

Matahari pagi ini cerah namun tak terlalu terik. Cocok dengan mood seorang Sakura Haruno yang terasa sangat baik hari ini.

Gadis gulali itu sengaja bangun lebih pagi agar bisa membantu Sasuke menyiapkan sarapan. Tapi yang ada ia malah diusir dari dapur dan disuruh menunggu di sofa ruang santai yang juga merangkap ruang tamu itu.

Netra emerald Sakura bergerak kesana-kemari memperhatikan setiap detail gerakan kecil yang dibuat oleh Sasuke Uchiha. Hari ini, pria itu kembali mengenakan setelan kemeja yang rapi dengan lengan tergelung. Postur tegap dengan bahu lebarnya benar-benar perpaduan yang sempurna jika dipasangkan dengan sebuah coat sebagai outer atau luaran.

Ah, bagaimana bisa ia tidak menyadari ini. Pia tampan yang berdiri tak jauh darinya itu benar-benar salah satu karya seni terbaik Tuhan. Bak Eros atau mungkin Adonis dalam mitologi Yunani lama.

Pria itu bukan tipenya, tapi sekarang apa pentingnya itu. Wajah dingin yang tajam itu merusak semua list tipe ideal yang Sakura buat. Ini adalah hari keempatnya bersama Sasuke, tapi bagaimana bisa pria itu terlihat semakin menggoda dari hari ke hari?

Sakura memegangi jantungnya yang mendadak berdegup lebih cepat dari biasanya. Apa ini? Apa dia ... sakit jantung?! Eh, tapi sepertinya tidak, ia selalu medical check-up setiap tahun, dan semua organnya normal. Kalau begitu ... Apa dia jatuh cinta?!

Ah, ini sulit ditentukan.

"Apa kau keberatan kalau aku menyalakan lagu?" tanya Sakura akhirnya untuk memecah pikirannya yang terasa kalut. Lengan mungilnya meraih remote dvd untuk memutar musik yang akan mengisi pagi yang cerah ini.

"Hn, terserah."

Sakura tersenyum senang, "Aku memilih lagu ini untukmu."

Tak butuh waktu lama sampai salah satu lagu yang dipilih Sakura mengisi suasana apartemen menjadi lebih cerah. NCT 127, Angel.

Sasuke mengernyit saat sebuah lagu dengan bahasa yang asing mengisi indra pendengarannya. Tapi karena lagu itu memiliki nada yang terdengar menyenangkan, ia cukup menikmatinya.

Dan tibalah di bagian chorus, dimana Sakura tiba-tiba langsung berlari ke arah meja makan dan mendudukkan dirinya di sana agar bisa melihat Sasuke lebih jelas. Bibirnya terbuka untuk menyanyikan part favoritnya dengan ceria. Netra klorofilnya menatap lurus ke arah iris obsidian Sasuke yang balik menatapnya bingung.

"I'll be your morning star~ And you are my angel~ You are my angel~"

Sasuke mendengus pelan tak percaya melihat aksi cheesy dari seorang Sakura Haruno di hadapannya, "Apa kau sedang mencoba merayuku?"

"Kenapa kau berpikir begitu? Kekeke."

"Hn, lupakan."

"Aku hanya sedang menyanyi kok. I'll be your morning star~ And you are my angel~ You are my angel~"

Menggelengkan kepala pelan, Sasuke menyodorkan segelas susu coklat hangat ke arah Sakura.

"Terimakasih Sasuke-nii."

"Hn."

Sakura menenggak susu coklat itu cukup cepat hingga tandas setengahya dalam satu kali tegukan. Sebelum kemudian, kembali menatap Sasuke yang kini menyodorkan satu piring sandwich daging ke arahnya, "Sasuke-nii, berapa mantan pacarmu?"

Uhuk! Sasuke sedikit tersedak air liurnya sendiri. Pria itu tak langsung menjawab, mendudukkan dirinya di bangku seberang Sakura dengan sepiring sandwich daging di hadapannya.

"Wanita akan mengatakan pria itu playboy jika jumlah mantannya banyak, tapi mereka juga tidak mau percaya jika jumlahnya sedikit," jawab Sasuke panjang lebar.

"Aku tidak akan marah, cepat katakan!" seru Sakura terlihat tak sabar mendengar jawaban apa yang akan dilontarkan Sasuke.

"Aku tidak punya mantan."

"Hah?"

"Lihat, kau tak percaya."

"Bu- bukan begitu, maksudku ... aku hanya tak percaya saja jika kau sebegitu tidak lakunya." Sakura berujar dengan polosnya, bibir mungilnya mengunyah sandwichnya dengan pandangan terheran-heran.

Iris onyx tajam milik Sasuke tentu saja langsung melotot tak terima. Yang benar saja bocah menyebalkan di depannya ini. Tidak laku? Ck, itu mustahil, apa dia tidak tahu berapa banyak wanita yang rela melempar dirinya sendiri ke atas ranjang panas bungsu Uchiha itu?

Bahkan jika dihitung ada puluhan atau bahkan lebih wanita di luar sana yang menggodanya dan dengan suka rela membuka kaki mereka untuknya.

"Aku hanya tak terlalu suka hubungan yang mengikat," balas Sasuke dengan raut yang terlihat sedikit kesal.

"Aa, seperti apa tipe idealmu?"

Sasuke menghentikan suapannya, mengamati dengan baik setiap detail ekspresi yang ditampilkan di wajah manis Sakura, "Hn, wanita yang cerdas. Dalam urusan intelektual dan juga urusan ranjang." Pria Uchiha itu mengakhiri ucapannya dengan sebuah seringai miring yang tajam dan cukup mematikan.

"Ohh." Sakura ber-oh ria sebagai respon. "Urusan ranjang yang seperti apa?"

"Wanita yang bisa membawaku ke titik terliar dan ju— ... tunggu, kenapa aku harus memberi tahumu? Bocah fokus belajar sana!"

"Ck, aku bukan bocah! Aku sudah selesai sidang skripsi tahu." Sakura memandang datar pada orang kesekian yang mengira dirinya masih bocah pelajar.

"Hn, lalu kenapa bertanya? Kau tertarik padaku?"

"Belum. Tapi gak tahu lagi kalau nanti sore. Aku akan memberitahumu jika aku punya rencana meyukaimu."

Dalamnya lautan bisa diukur, dalamnya pikiran wanita siapa yang tahu? Sasuke benar-benar tak mengerti jalan pikiran Sakura. Ia akui gadis itu memang menarik, senyumnya yang cerah terasa menggelitik suatu sudut kosong yang tak pernah terketuk.

Tapi tetap saja ia bukanlah tipe orang yang ingin terburu-buru. Pria itu ingin menikmati kebebasan selama yang ia bisa.

"Aku memang tampan dan penuh pesona, tapi jangan jatuh padaku." Sasuke berujar dengan wajah dinginnya yang memandang angkuh.

"Hah?"

"Hn, kalau kau jatuh ke kolam, aku bisa menolongmu, tapi kalau kau jatuh cinta padaku, aku tidak bisa menolong."

Suasana hening untuk sesaat, Sakura menyelesaikan kunyahan sandwich terakhirnya, menyenderkan punggung mungilnya di sandaran kursi makan yang sedang didudukinya itu. "Tidak perlu menolongku."

"Hn?" Satu alis Sasuke terangkat saat mendapati tatapan tajam dari netra teduh Sakura, wajah manis gadis itu bahkan membalas dengan sedikit terangkat juga saat menatapnya, seolah memberikan kesan angkuh namun memikat disaat bersamaan.

"Kalau aku jatuh ke kolam, kau tak perlu menolongku, karena aku bisa berenang. Tapi kalau aku jatuh cinta padamu, kau harus menolongku, karena aku tidak suka jatuh cinta sendirian."

Sasuke mengerjap sejenak, apa ia baru saja diintimidasi oleh gadis merah muda di hadapannya ini?

"Jika kau tiba-tiba punya rencana menyukaiku, katakan saja padaku," lanjut Sakura berdiri dari duduknya untuk meletakkan piring bekas makannya ke dalam mesin pencuci piring otomatis, lalu meraih sebuah ransel yang tergeletak di sofa dan melangkah pergi keluar apartemen.

"Ah, gadis yang aneh, aku bisa gila," gumam Sasuke pada dirinya sendiri.

.

.

Cuaca sore ini sangat baik untuk berolahraga sore. Seperti lari kecil contohnya. Banyak pasangan muda-mudi bahkan lansia yang terlihat berlari santai di sore hari menyusuri trotoar kota Amegakure.

Termasuk juga pria tampan bernama Sasuke yang sudah mengganti baju kerjanya menjadi setelan training abu-abu. Ia baru saja pulang dari urusan pekerjaan yang selesai lebih cepat hari ini. Tapi anehnya pria Uchiha itu tidak menemukan Sakura di apartemen. Sepertinya gadis gulali itu masih belum pulang.

Karena tidak ada kerjaan lain lagi, Sasuke memutuskan untuk berlari sore di area sekitar kompleks apartemen yang biasanya memang disediakan jalur khusus untuk lari pagi dan sore.

Setelah memastikan cukup berolahraga, Sasuke hendak berjalan kembali ke apartemen Naruto. Tapi langkahnya terhenti saat melihat punggung mungil yang terasa tidak asing untuknya belakangan ini.

Bukankah itu Sakura? Sedang apa dia? Tanya batin Sasuke pada dirinya sendiri, pria pirang itu tak bisa melihat jelas karena saat ini Sakura tengah jongkok di pinggir area taman dengan posisi membelakanginya.

Karena penasaran dan ingin memastikan, Sasuke memutuskan untuk menghampiri sosok itu, dan benar saja gadis itu adalah Sakura.

"Makanlah yang banyak, huhuhu, kenapa kau sangat uwu sih," ucap Sakura pada seekor anak anjing kecil berwarna putih yang tengah memakan sesuatu dari kaleng makanan anjing yang diberikan Sakura.

"Kau sedang apa?" tanya Sasuke yang tengah berdiri menjulang dengan postur tegapnya di samping Sakura.

Mendengar ada yang berbicara dengannya, sontak saja Sakura menoleh, "Oh Sasuke-nii, aku sedang memberi makan Samoy."

Sasuke mengernyit heran, ia ikut menjongkokkan diri di samping Sakura, menatap anak anjing berwarna putih yang tengah makan dengan lahapnya, "Samoy?"

"Iya, aku menamainya Samoy dari kata samoyed," jawab Sakura menunjuk anjing kecil yang berjenis ras anjing samoyed itu, "lucu kan? Samoy!"

"Kiing?"

Anak anjing itu terlihat mengangkat kepalanya menatap Sakura saat mendengat gadis gulali itu menyebutkan nama Samoy.

"U- uh, wow! Apa dia mengerti namanya Samoy?!" Sakura bertanya heboh menunjuk samoyed yang menatap polos ke arahnya.

"Kiing?" Anak anjing itu terlihat kembali merespon ucapan Sakura.

Dengan bibir yang menganga takjub, Sakura kemudian berteriak kecil dan menutupi wajahnya yang memerah, "Astaga! Kenapa dia lucu sekali?!"

Sasuke yang melihat itu hanya mendengus pelan lalu mengulurkan lengan kokohnya untuk mengelus bulu halus samoyed di depannya.

"Hei, apa kau mengerti namamu Samoy?" tanya Sakura yang baru saja meredakan euforia kegembiraan yang begitu meletup karena merasa gemas dengan samoyed di hadapannya.

"Kiing!" Samoyed itu menggerak-gerakkan ekornya terlihat merespon.

"Samoy?" tanya Sakura sekali lagi untuk memastikan.

"Kiing?"

"U- uh, Samoy?"

"Kiing? Kiing?" Samoyed yang diberi nama Samoy itu merespon senang dengan ekor yang mengibas-ngibas lucu.

"Hn, anak anjing yang pintar," puji Sasuke sedikit terkekeh jenaka. Namun saat iris onyx tajamnya melirik ke arah Sakura, ia dibuat terkejut karena gadis itu terlihat menunduk dalam. Menyembunyikan paras manisnya di antara helai rambut gulali yang menutupi wajahnya.

Padahal sampai beberapa waktu lalu, gadis khas bunga musim semi itu masih terlihat ceria dan senang. Sasuke benar-benar tidak mengerti perubahan suasana hati wanita yang menurutnya sangat ekstrim ini, "Hei, kau tak ap—"

Krontang!

Krontang!

Krontang!

Trang!

Belum sempat Sasuke menyelesaikan ucapannya, ia sudah dikejutkan oleh aksi Sakura yang dengan bar-barnya menumpahkan semua isi tas ranselnya begitu saja. Bahkan Samoy pun terlihat memekik terkejut saat menatap beberapa kaleng yang berjatuhan di depannya.

"Samoy, makanlah dengan baik. Aku sangat menyukaimu, huhuhu." Sakura memekik gemas, menyerahkan semua kaleng makanan itu pada anjing samoyed di depannya, yang kemudian dibalas sang anjing dengan gonggongan senang dan ekor yang kembali berkibas-kibas.

Sedangkan Sasuke sendiri tak habis pikir dengan isi tas ransel Sakura yang ternyata semua isinya adalah makanan hewan. Kemana perginya semua perlengkapan merepotkan yang biasanya dibawa para wanita?

"Hn, dia tidak bisa memakan semua itu sekaligus," ujar Sasuke akhirnya, setelah meredakan rasa terkejut juga keheranannya.

"Kau mau bantu habiskan?" tanya Sakura polos.

"Baut kepalamu lepas ya?" Delik Sasuke tajam.

Sakura mengerucutkan bibirnya asal, kembali menatap Samoy yang masih berusaha menghabiskan kaleng pertamanya. Sepertinya Sasuke benar. Tapi jika diperhatikan lagi, Samoy tidak terlihat seperti anjing jalanan sungguhan. Maksud Sakura, anjing itu masih terlihat sedikit terawat.

"Samoy benar-benar sangat lucu," puji Sakura mengacuhkan komplain Sasuke sebelumnya.

"Sejujurnya namanya terdengar aneh," celetuk Sasuke mengutarakan pedapat yang sedari ditahannya.

Sakura mengerjap bingung, "Eh? Kenapa?"

"Dia jantan, kan? Namanya entah kenapa kurang cocok."

"Hmm," gumam Sakura pada dirinya sendiri, ia terlihat memikirkan sesuatu entah apa, "kalau begitu dibalik saja!"

Sasuke mengernyit bingung mendengar seruan Sakura, ia tidak mengerti maksud kata 'dibalik' yang Sakura ucapkan. Apa jadi Yomas begitu?

"Iya, huruf a dan o-nya dibalik. Jadi Somay!" seru Sakura terlihat bangga dengan idenya.

Sungguh berbanding terbalik dengan ekspresi Sasuke yang menujukkan penolakan. Otak cerdas bungsu Uchiha itu langsung teringat akan salah satu nama makanan, "Somay? Kau pikir dia itu dimsum?"

"Ck, itu terdengar lucu tau~"

"Sepertinya kau harus memeriksa isi kepalamu, benar-benar aneh."

"Tidak, pokoknya namanya berubah menjadi Somay! Kau mengerti samoyed kecil? Namamu sekarang sudah ganti. Dari Samoy menjadi Somay, ingat ya~" Sakura terkikik gemas sendiri saat menyampaikan hal itu pada samoyed di depannya.

"Ta—"

"Ah, ternyata kau di sini!" seru seorang pria paruh baya dari kejauhan sebelum Sasuke sempat memberikan sanggahan, pria itu terlihat mendekat ke arah Sakura dan juga Sasuke.

"Anda pemilik Somay?" tanya Sakura pada pria bersurai hitam yang kini mengelus bulu halus Somay.

"Hah?" Pria itu mengerjap bingung tak mengerti.

"Ah, maksud saya, Anda pemilik anjing samoyed ini?"

"Bisa dibilang iya, bisa juga tidak," jawab pria itu.

"Eh? Maksudnya?"

"Aku seorang perawat anjing jalanan, dia salah satu anjing yang kurawat sampai ada pemiliknya," jelas pria itu melempar senyum hangat ke arah dua orang di depannya.

Sakura mengangguk paham, "Kalau begitu tolong bawa makanan ini untuk anjing-anjing lainnya," ujar Sakura menyodorkan kaleng-kaleng makanan hewan yang tadi dibelinya.

Pria paruh baya itu sedikit terkesiap menatap kaleng makanan hewan yang tergolong kelas premium, sebelum kemudian melempar senyum hangat ke gadis cantik di hadapannya, "Terimakasih banyak, Nona."

"Hum, terimakasih kembali," balas Sakura balik melempar senyum hangat pada pria paruh baya itu.

"Ah, kalau begitu saya permisi dulu, hari akan beranjak petang, saya harus memulangkan mereka semua ke kandang," pamit pria itu menggendong Somay yang baru saja menyelesaikan makannya di tangan kiri. Sedangkan tangan kanannya terlihat merangkul kaleng makanan hewan yang tadi diberikan oleh Sakura.

"Iya, hati-hati ya Paman!" seru Sakura pada pria paruh baya yang kini semakin mengecil dari horizon pandang. Sedangkan yang diserukan terlihat menoleh dan tersenyum sebelum kemudian benar-benar hilang dari balik tikungan.

"Sudah petang, ayo pulang," ajak Sasuke pada Sakura.

"Ayo," jawab Sakura mengiyakan ajakan Sasuke lalu mensejajarkan langkah pria itu untuk kembali pulang.

Ah, sore yang menyenangkan.

Day 4 - FIN


.

—Day 5. 27 Juli 2020, Amegakure.

Ini sudah hari kelima Sakura bersama Sasuke. Tapi sepertinya gadis itu baru tersadar kalau ia bahkan tidak memiliki nomor ponsel pria itu.

"Sasuke-nii, minta nomormu dong!" seru Sakura menyerahkan benda kotak persegi panjang ke hadapan Sasuke.

Alis pria Uchiha itu naik sebelah. Lengan kekarnya meraih benda persegi itu lalu memasukkan sederet angka yang menjadi nomor teleponnya.

Sakura tersenyum senang saat Sasuke memberikan kembali handphonenya padanya. Segera saja ia simpan nomor kontak pria tampan itu lalu men-diall-nya, membuat smartphone di saku celana Sasuke bergetar.

"Itu nomorku, simpan ya Nii-san."

"Hn."

"Ah, apa ada jam-jam dimana aku tidak boleh meneleponmu?"

"Tidak, kau bisa memanggilku kapan saja jika kau butuh bantuan."

Sakura mengangguk tersenyum. Saat ini mereka baru saja menyelesaikan sarapan pagi. Dan Sasuke berjanji (setelah dipaksa), kalau hari ini ia akan menemani Sakura jalan-jalan, mengingat jadwalnya yang kebetulan sedang kosong.

Padahal awalnya Sasuke berniat hang out dengan salah satu klub pecinta basketnya. Tapi karena adik sepupu Naruto ini terus rewel bosan, mau tak mau ia mengalah saja.

"Oke, kalau begitu aku siap-siap dulu ya," ujar Sakura melesat menuju kamar untuk berganti baju.

Sasuke hanya mengangguk dan membereskan sisa sarapan pagi mereka. Sebelum kemudian, mengganti bajunya dengan setelan yang nampak lebih casual.

"Sakura!" teriak Sasuke memanggil gadis gulali itu, pasalnya ini sudah lima belas menit tapi Sakura tak kunjung keluar."

"..."

Mendapati hening tidak ada jawaban, Sasuke kembali berteriak, "Sakura cepatlah!"

"Iya sebentar!" balas Sakura menyahut dari balik pintu.

Sasuke mendengus, salah satu kebiasaan wanita yang membuatnya malas adalah menunggu, iris onyx tajamnya menatap pantulan dirinya di layar televisi yang mati. Hari ini ia mengenakan ripped jeans dan kaus putih yang di lapisi jaket denim. Penampilan kasual karena mereka hanya akan jalan-jalan di area jajanan kuliner Ame. Dan mungkin juga, akan mampir ke beberapa tempat lain nantinya.

"Ck, Kura cepatlah!"

"Iya Sasuke-nii, ini aku keluar!" teriak Sakura melangkahkan kaki keluar kamar, ia mengenakan dress one piece berwarna biru langit dengan corak awan berwarna putih di atasnya.

Mereka memandang satu sama lain dan cukup terkejut. Pakaian mereka hari ini senada berwarna biru dan putih. Padahal, mereka sama sekali tidak janjian sebelumnya.

Sasuke memandang seksama gadis mungil di hadapannya. Ini pertama kalinya ia melihat Sakura memakai dress. Karena di hari-hari sebelumnya, gadis itu berpakaian mirip preman ganguro atau algojo siap jagal. Yang jelas, setelan training itu menutupi sisi feminim gadis itu yang sebenarnya —ekhem, terlihat sangat manis jika menggunakan dress.

Sedangkan Sakura sendiri menatap kagum dengan terang-terangan ke arah Sasuke. Karena ia merasa salut bahwa pria itu tidak hanya terlihat keren dengan setelan formal. Akan tetapi, dengan setelan casual seperti ini pun tidak bisa menyembunyikan aura memikatnya, "Wah Nii-san, sepertinya aku menyukaimu lebih dari yang bisa kubayangkan."

Mendengar ucapan Sakura, Sasuke hanya mendengus. Tersadar dari lamunannya yang sempat mengagumi betapa manisnya sosok gadis bak jelamaan gulali ini.

"Kalau sudah siap, ayo," ujar Sasuke berbalik menuju pintu untuk keluar dari apartemen.

"Siap Suke-nii," jawab Sakura mengejar langkah pria itu setelah memastikan apartemennya terkunci. Mereka saat ini memasuki lift untuk turun ke area basement.

"Huh? Apa-apaan 'Suke-nii'?" Sasuke berdecak protes dengan panggilan aneh yang baru saja diterimanya.

"Nii-san juga memanggilku Kura tadi, memangnya aku kura-kura!" sahut Sakura tak terima.

"Itu karena kau lambat," balas Sasuke enteng.

"Apa?! Aku ti—"

"Cepat masuk," potong Sasuke membukakan pintu mobilnya untuk Sakura, memaksa gadis itu untuk diam tidak membantah.

"Huh." Sakura mendengus kecil dengan bibir terpout lucu, membuat Sasuke penasaran bagaimana rasanya jika ia menci— ... tunggu, sepertinya pikirannya yang barusan sudah gila. Mungkin baut kepalanya ada yang lepas. Ya, pasti seperti itu, haha.

Menggeleng pelan beberapa kali, akhirnya Sasuke menyalakan mesin mobilnya dan membawa mereka ke tempat yang dituju.

.

.

Sakura menatap terkagum pada area jajanan kuliner yang mirip pasar apung itu. Di sana ada jalur khusus seperti trotoar yang disediakan untuk berjalan kaki, dengan kedai para penjual berjejer di pinggir trotoar itu. Lalu di sekeliling mereka juga dilewati aliran sungai Amegakure, dengan beberapa orang yang membuka jasa berkeliling naik perahu. Membuat Sakura benar-benar tidak bisa menahan pekik antusiasnya.

Grep!

Manik emerald Sakura membulat saat merasakan tangan besar Sasuke menggenggam tangan mungilnya. Rasanya hangat, Sakura sangat menyukai hal itu.

"Di sini ramai, repot kalau terpisah."

Sakura mengerjap mendengar penjalasan Sasuke, "Ah, sepertinya aku harus sering pergi ke tempat ramai bersamamu."

"Hn." Sasuke hanya mendengus kecil lalu menggandeng lengan Sakura untuk mulai menyusuri jalan setapak yang disediakan.

"Nii-san aku mau itu!" Sakura menunjuk pada gula kapas yang dijual di salah satu kedai. Netra klorofilnya berpendar cerah.

Sasuke entah mengapa mengulum senyum melihat wajah Sakura yang sedikit memerah karena senang dan juga efek terkena hangat mentari pagi. "Hn, ambillah."

"Terimakasih." Sakura tersenyum saat menerima uluran gula kapas yang senada dengan rambut merah mudanya.

Setelah membayar, mereka kembali menyusuri jalanan setapak, membeli hal apa saja yang diinginkan Sakura. Sasuke sedikit terkejut awalnya saat Sakura memilih area ini untuk dikunjungi. Pasalnya kebanyakan wanita tidak menyukainya karena akan capek berjalan. Belum lagi jika harus berdesalan dengan orang lain, yang mana hal itu akan merusak dandanan mereka.

Namun sekali lagi, ini adalah Sakura Haruno, gadis aneh yang lain dari yang lain, atau mungkin malah kelainan.

"Loh? Deidara-nii? Sai?" Sakura berhenti membuat Sasuke tersadar dari setengah lamunannya. Menatap dua orang pria tampan berbadan tinggi yang berpapasan dengan mereka. Satu berambut pirang bernetra saphhire. Sedangkan satunya lagi besurai gelap klimis dengan iris yang sama hitamnya. Sepertinya mereka teman Sakura.

"Wah aku tak menyangka akan bertemu Saku-chan di sini, un," pria pirang itu menatap Sakura dengan pandangan berbinar senang.

Sedangkan Sakura juga terlihat sama antusiasnya, ia bahkan melepas genggaman tangan Sasuke dan bergerak maju untuk berpelukan dengan Deidara.

Sai hanya mendengus sebagai respon. Sedangkan Sasuke, entah kenapa terlihat tak menyukai kedekatan keduanya. Padahal sebelumnya ia biasa saja saat bertemu dengan Gaara.

"Huhu, aku merindukan Saku-chan, un," ucap sang pria pirang dengan nada mendramatisir.

"Apaan, ini bahkan belum seminggu sejak mereka terakhir bertemu," dengus Sai menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.

Sasuke menolehkan kepala menatap si pucat itu, "Kalian teman Sakura?"

"Iya, namaku Sai Shimura, aku berteman dengan Sakura sejak SMP. Yang pirang itu Deidara-nii, sahabat aniki Sakura, salam kenal," jawab Sai melempar senyum tipis pada lawan bicaranya.

"Aa, aku Sasuke," balas Sasuke singkat ikut memperkenalkan dirinya.

"Kau bilang mau liburan di Iwagakure, kenapa malah di Ame?" tanya Sakura setelah acara berpelukan ala teletubbies mereka usai.

"Mendadak nenek Sai rindu dengan cucunya, jadilah kami liburan di sini. Selain itu, ada pameran dan kurator seni yang ingin kamu kunjungi, un," jawab Deidara menjelaskan. Dan Sakura nampak menganggukk paham. Bukan hal aneh jika melihat dua pecinta seni ini pergi bersama.

Setelahnya, mereka terlihat asik berbincang entah apa. Mengabaikan kehadiran dua sosok lain yang hanya bisa memandangi dua sahabat itu. Satu dengan senyum, dan satu lagi dengan pandangan ingin memisahkan.

"Oh ya Deidara-nii, dia teman Naruto-nii, namanya Sasuke Uchiha," Sakura menarik lengan Deidara untuk mendekat ke arah Sasuke.

"Sasuke-nii, ini Deidara sahabat Sasori-nii, kakak laki-lakiku. Dan yang itu sahabatku, namanya Shimura Sai." Sakura memperkenalkan Sasuke pada dua sahabatnya itu.

"Hai, namaku Deidara. Salam kenal, un."

"Hn, Sasuke."

Dan setelah perkenalan singkat dan sedikit basa-basi itu, akhirnya mereka pamitan dan berpisah.

Saat ini, Sasuke dan Sakura tengah menikmati makan siang di atas kapal dengan ukuran cukup besar yang melaju pelan mengelilingi sungai besar Amegakure.

"Sepertinya kau sangat menyukai si pirang itu," ujar Sasuke membuka pembicaraan. Ia baru saja menghabiskan makan siangnya, dan tengah menyeruput es kopinya dengan pandangan menyelidik ke arah Sakura.

"Oh Deidara-nii?"

"Hn."

"Iya, aku menyukainya."

Sasuke hampir saja menyemburkan es kopinya jika saja ia tidak ingat harus menjaga imej cool-nya saat ini. Pria Uchiha itu tidak menyangka jika Sakura akan dengan terang-terangan mengakuinya seperti itu. Dan entah kenapa, itu membuatnya sangat kesal dengan alasan yang bahkan tidak diketahuinya.

"O- oh. Kenapa?"

"Hum? Apanya yang kenapa?"

"Kenapa menyukainya?"

"Yaaa ... karena dia Deidara-nii."

Sasuke mengernyit tidak senang mendengar jawaban Sakura. "Tapi kenapa?" Nada suara pria Uchiha itu entah mengapa agak sedikit meninggi.

Sakura menatap bingung ke arah Sasuke, sebelum kemudian memasang senyuman jahil di wajah cantiknya, "Hmm? Apa kau sedang cemburu pada Deidara-nii?"

Iris onyx tajam milik Sasuke mendelik horor, "Bi- bicara apa kau, aku hanya penasaran."

Sakura mengangguk-anggukkan kepala gulalinya paham, "Hmm, aku menyukainya ya karena itu Deidara-nii, kalau itu Sasuke Uchiha, kurasa aku cinta, hehe."

Uhuk! Sasuke tak bisa menahan diri untuk tidak tersedak es kopinya sendiri, ia tidak menyangka juga akan mendengarkan jawaban seperti ini, "Ka- kau bicara apa sih?!" tegurnya berusaha menahan roman merah menghiasai wajah putih bersihnya.

Gila saja, kenapa ia harus terlihat seperti anak SMA atau bocah labil yang malu-malu meong saat mendapat pernyataan cinta dari seorang lawan jenis? Hell no! Harga diri Uchihanya bisa tercoreng jika seperti ini.

Padahal selama ini ada puluhan wanita cantik menyatakan cinta padanya. Dan biasanya, ia bisa dengan mudah menolak dengan wajah datar tak berperasaan. Tapi kenapa ketika Sakura yang mengatakan rasanya jadi sulit? Hn, Sasuke sendiri juga tidak tahu jawabannya.

"Wah Sasuke-nii salah tingkah." Sakura masih tekekeh menggoda.

"Ck, tidak. Tutup mulutmu, ini karena udaranya sangat panas."

Gadis khas bunga musim semi itu menghentikan kekehannya dan mendengus, sejak kapan Amegakure sang kota hujan menjadi kota yang panas?

"Dasar tsundere," gumam gadis gulali itu pelan.

Ah, sepertinya hari ini pun berjalan dengan sangat menyenangkan.

DAY 5 - FIN


Selipan A.N. Yang scene pasar apung itu kek sistem farmhouse susu lembang di daerah Bandung, jadi bayangin aja lah kek gt wkwkw.


.

—Day 6. 28 Juli 2020, Amegakure.

Ini adalah hari keenam Sasuke menjaga Sakura. Tidak ada yang spesial hari ini, karena ia harus pergi dari pagi sampai malam untuk urusan pekerjaan.

Melangkah sedikit gontai memasuki apartemen. Pria tampan dengan sorot mata yang tajam itu memijit pelan area tengkuknya sebelum kemudian menarik dasi yang terasa mencekiknya itu sampai lepas. Hah, ini benar-benar hari yang berat dan melelahkan.

Mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan yang terasa sepi, Sasuke mengernyitkan alisnya bingung karena tidak mendapati Sakura yang biasanya duduk rapi di sofa untuk menonton serial televisi kesukaannya.

"Apa dia belum pulang?" tanya Sasuke entah pada siapa.

Menghela napas pelan, Sasuke memilih untuk segera membersihkan dirinya saja. Mungkin gadis gulali itu masih bermain bersama temannya kemarin, si pirang Deidara. Cih, buat kesal saja.

Tunggu, kenapa ia merasa kesal dengan siapa Sakura menghabiskan waktu? Ck, baut kepalanya pasti lepas. Sasuke bergumam entah apa untuk menyadarkan dirinya sendiri. Sebelum kemudian, memilih untuk segera masuk ke kamar mandi daripada harus berhadapan dengan pikiran aneh yang kembali membayanginya.

.

.

Jam digital sudah menunjukkan pukul 09.48 p.m. Sebentar lagi, waktu akan memasuki jam sepuluh malam. Tapi masih belum ada tanda-tanda bahwa Sakura akan segera pulang.

Sasuke yang sedang bersantai di sofa besar Naruto mengusap wajahnya gusar saat suara hujan samar-samar memasuki indra pendengarannya.

Iris obsidian tajamnya menatap ke arah jendela besar yang mulai basah di rintiki air mata langit itu. Bahkan sesekali, terdengar suara petir yang menyambar dengan keras. Membuat Sasuke, lagi dan lagi kembali menghela napas lelah untuk yang kesekian kalinya.

Lengan kekarnya meraih smarthphone hitam miliknya, mencari daftar kontak yang bertuliskan nama Sakura.

Tuut ...

Hingga dering ketujuh tetap tidak ada suara yang menyahut. Membuat Sasuke menggigit bibirnya tanpa sadar. Tapi untung saja sambungan teleponnya segera tersambung di dering yang kesembilan.

"Halo Sakura?" tanya Sasuke memastikan.

"..."

Hening, tidak ada jawaban yang menyahut, keheningan yang entah kenapa membuat jantung Sasuke berdegup khawatir.

"Sakura jawab aku!" Seru Sasuke di antara suara hujan yang terdengar melalui speaker handphone-nya.

"Hiks..."

Satu isakan yang terdengar dari seberang panggilan. Mmbuat Sasuke yang awalnya bersandar santai pada sofa segera menegakkan punggung tegapnya. Degup jantungnya mendadak berdetak lebih cepat.

"Kau tak apa? Apa kau terluka? Dimana kau sekarang?" Runtutan pertanyaan mengalir begitu saja dari bibir Sasuke.

"It's ... not ... fine." Suara Sakura yang terdengar serak membuat Sasuke segera bangkit dari duduknya untuk meraih coat dan juga kunci mobilnya.

"Katakan padaku kau dimana sekarang?!"

"Hwaa..." Bukannya jawaban yang di dengar Sasuke, melainkan pekik tangis Sakura yang berbaur bersama hujan yang semakin deras.

"Sakura, katakan dimana kau sekarang! Aku akan menyusulmu." Sasuke berujar dengan langkah kakinya yang berlari sepanjang koridor untuk memasuki lift dan turun ke basement.

"Ta— hiks ... —man."

"Taman yang mana?!"

Tuut!

Tapi lagi-lagi bukannya jawaban yang terdengar, bunyi yang menyahut malah bunyi nada sambungan yang terputus.

"Sial," umpat Sasuke gusar dengan sorot kekhawatiran yang tak bisa ia sembunyikan.

Menyalakan mesin mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi, Sasuke mulai menyusuri jalanan kota Amegakure, mencari taman mana yang sekiranya Sakura maksud.

Dibandingkan menghadapai amukan Naruto karena gagal menjaga Sakura. Sasuke lebih takut jika ada hal buruk yang menimpa gadis khas bunga musim semi yang belakangan ini mengisi pikirannya.

.

.

Deidara melangkahkan kaki panjangnya menyusuri trotoar taman ketiga yang dikunjunginya malam ini. Tapi ia masih saja belum bisa menemukan keberadaan Sakura.

Cipratan air hujan yang mengenai sepatunya tak ia hiraukan. Dengan tangan kiri yang sibuk memegangi payung di antara derasnya hujan, dan juga tangan kanannya yang sibuk menelepon nomor Sakura yang mendadak tidak aktif, Sasuke menajamkan iris hitamnya untuk mencari helaian merah muda di antara jarak pandang yang mengecil tertutup jatuhan deras air yang disertai petir itu.

"Sakura!" Sasuke berusaha berteriak walau suaranya kembali teredam di antara hujan yang membasahi bumi.

Udara dingin yang terasa menusuk tulang semakin menyeruak walau saat ini pria Uchiha itu tengah mengenakan coat panjang yang cukup hangat.

"Saku—"

Baru saja hendak menyerukan kembali nama Sakura, pita suara Sasuke terasa tercekat saat netra onyxnya mendapati dua sosok insan berbeda gender yang berjarak beberapa meter darinya itu tengah berpelukan erat di antara deras hujan yang membasahi mereka.

Walau hanya pernah bertemu sekali dengan sosok pria di sana, Sasuke mengenalinya dengan baik sebagai Sabaku no Gaara. Dan gadis mungil dengan surai gulali yang tengah di dekap pria Sabaku itu, tidak lain tidak bukan adalah Sakura Haruno.

Pegangan Sasuke pada payungnya mengerat, nyaris menyerupai cengkeraman. Bibirnya yang memucat dingin berdecih. Sebelum kemudian, berbalik dengan pandangan dingin ke arah mobilnya terparkir tadi. Pikirannya benar-benar sangat kacau saat ini.

Duk!

"Ah maaf," ucap seorang pemuda yang baru saja menabrak bahu Sasuke, menyadarkan pria Uchiha itu dari lamunannya.

"Hn." Sasuke bergumam lalu mendongak untuk menatap lebih jelas sosok yang baru saja menabraknya itu.

"Loh, Sasuke, kan? Sedang apa di sini?" seru pria di depannya heboh. Yang segera Sasuke kenali sebagai sosok pirang yang baru saja dijumpainya kemarin, Deidara.

"Bukan apa-apa."

"Oh, tapi dimana Sakura-chan? Kau tidak bersamanya, un?" tanya Deidara yang celingukan dari balik payungnya mencari keberadaan Sakura.

Mendengar nama Sakura disebut membuat ruang kecil di hati Sasuke terasa tak nyaman karena mengingat pemandangan yang baru saja dijumpainya.

"Boleh aku minta tolong padamu?" Bukannya menjawab pertanyaan Deidara, Sasuke malah menanyakan hal lain yang membuat alis pria pirang di hadapannya naik sebelah, iris birunya memandang bingung dan penuh tanya.

"Minta tolong apa, un?"

"Hn, apa kau masih lama di Ame?"

"Kurasa satu minggu lagi."

"Dimana kau tinggal sekarang?"

Deidara mengernyitkan dahinya bingung, untuk apa pria di hadapannya ini menanyakan dimana ia tinggal.

"Aku tinggal di rumah neneknya Sai, un. Memangnya ada apa?"

"Untuk malam ini dan juga besok, bisakah kau menggantikanku tinggal di apartemen Naruto?"

"Eh, kenapa?"

"Hanya sampai besok, lusa Naruto sudah kembali."

"Tapi kenapa tiba-tiba begini, un?" Deidara bertanya bingung, ini bukan masalah ia tidak mau menemani Sakura yang notabene sudah seperti adiknya sendiri. Hanya saja, ia bingung kenapa tiba-tiba Sasuke meminta digantikan?

"Aku ada urusan pekerjaan." Bohong, Sasuke jelas berbohong. Ia sudah mengosongkan semua jadwal yang memungkinkan dirinya keluar kota dan meninggalkan Sakura selama gadis itu masih di Amegakure.

Tapi ia sendiri tak punya pilihan lain. Pikirannya benar-benar kacau dengan alasan yang bahkan tidak ia ketahui apa. Ia butuh waktu untuk sendiri, kehadiran Sakura bisa bepengaruh buruk untuk dirinya saat ini.

"O- oh, baiklah." Deidara mengangguk menyanggupi walau ia sendiri masih terlihat bingung.

Sasuke balas mengangguk juga, meraih sebuah kartu kosong berwarna putih dan sebuah pena dari balik coat yang dipakainya, menuliskan sesuatu di sana.

"Ini alamatnya dan kata sandinya, apa kau bisa pergi sekarang?"

Deidara mengangguk menerima uluran kertas itu, "Iya, kebetulan aku memang habis makan dan mau mencari taksi pulang, un."

"Tunggu, kau tidak bawa mobil?"

"Tidak, tadi aku diantar Sai tapi ia pergi duluan karena suatu urusan, un."

"Kalau begitu, sekalian bersamaku saja, aku mau mengemasi barang."

"Eh, baiklah." Deidara mengangguk dan mengikuti Sasuke setelah mengirim pesan singkat pada Sai kalau ia tidak akan pulang malam ini.

.

.

Iris sapphire Deidara memandang bingung ke arah apartemen yang sepi.

"Dimana Sakura-chan?"

"Hn, mungkin sebentar lagi akan pulang atau mungkin juga tidak."

Deidara berjengit terkejut, "Apa? Dimana dia? Bukankah kita harus mencarinya?!"

"Dia sudah bersama seseorang sekarang dan sepertinya ... baik-baik saja."

"Bersama siapa?" Deidara yang bingung terus bertanya, membuat Sasuke yang tengah mengemasi koper kecilnya menghela napas lelah.

"Sabaku."

"Eh? Sabaku? Emm— ah, bersama Sabaku no Gaara? Bagaimana bisa?" tanya Deidara lagi, ia bersyukur kalau Sakura memang bersama sosok yang dikenalnya.

Walau Gaara pernah menyakiti Sakura, tapi pria merah itu cukup bisa dipercaya. Hanya saja, Deidara merasa bingung. Bagaimana bisa Sakura sedang bersama mantan yang dihindarinya semenjak putus itu?

"Ck, kau tanya saja sendiri padanya." Sasuke menjawab ketus dengan kopernya yang sudah siap.

Pria dengan surai hitam kelam itu menatap Deidara tajam. Onyx yang bertemu sapphire. Satu terlihat dingin sedangkan satunya lagi terasa hangat.

"Jaga Sakura baik-baik," pamit Sasuke yang lalu melangkahkan kakinya meninggalkan apartemen Naruto dan juga meninggalkan Deidara yang hanya bisa memandang bingung ke arahnya.

.

.

Suara bel yang berbunyi mengalihkan atensi Deidara yang tengah sibuk menonton televisi. Ia memang sengaja menunggu Sakura pulang.

Drek!

Lengan kokoh Deidara menarik kenop pintu dan membukanya. Di depannya langsung tesaji pemandangan sosok pria bersurai merah setinggi dirinya yang tengah menggendong ala bridal style sosok mungil yang dikenalinya sebagai adik perempuan sahabatnya, Sakura Haruno.

"Sakura-chan!" pekik Deidara berusaha memindahkan tubuh mungil Sakura dari dekapan Gaara. Kedua sosok itu terlihat basah, sepertinya mereka kehujanan.

"Aa, hati-hati, jangan sampai membangunkannya."

"Eng, kenapa kalian berdua basah, un? Apa kau ingin masuk dulu dan mengeringkan diri?" tawar Deidara.

Walau ini bukan apartemennya, ia merasa kasihan dengan tubuh Gaara dan Sakura yang terlihat basah kuyup seperti ini.

"Tidak perlu." Iris jade Gaara menatap sosok Sakura yang kini telah berpindah ke dalam gendongan Deidara.

"Sebenarnya apa yang terjadi, un?"

"Dia ketiduran di mobil."

"Ck, maksudku kenapa Sakura-chan bersamamu, un!" Deidara berseru gemas karena rasa penasarannya tak kunjung usai.

"Aa, biar Sakura saja yang menjelaskan sendiri, aku pamit." Gaara sedikit membungkukkan tubuh tegapnya untuk berpamitan sebelum kemudian melangkah berbalik. Meninggalkan Deidara yang tengah mendumel karena ulah dua pria arogan yang tidak menjawab pertanyaannya dan malah pergi begitu saja.

'Yah, ini sudah benar-benar berakhir sekarang,' batin Gaara sebelum kemudian menghilang di balik pintu lift yang membawanya turun.

DAY 6 - FIN


.

Anehnya, seminggu terasa begitu singkat adanya

Setiap waktu yang ku habiskan bersamamu

Itu terlalu buruk untuk mengakhirinya

[ NCT Dream - 7 Days ]

.

—Day 7. 29 Juli 2020, Amegakure.

Sakura Haruno mengerang pelan saat merasakan bias sinar matahari yang menyentuh kulitnya. Netra klorofilnya mengerjap menyesuaikan cahaya yang memasuki indra pengelihatannya. Rasa hangat dan silau beradu dalam sinar mentari pagi ini.

"Eng? Sakura-chan sudah bangun, un?"

Mendengar suara seorang pria yang tiba-tiba saja membuka pintu kamarnya membuat Sakura terkesiap dan segera duduk dari posisi tidurnya.

"Loh Deidara-nii?!" Gadis gulali itu berseru kaget saat Deidara masuk ke dalam kamarnya dan mendudukkan dirinya di atas ranjang tepat di samping Sakura.

"Aku pinjam baju Naruto ya Sakura-chan?" tunjuk Deidara pada kaus hitam yang tengah digunakannya.

"Uh, iya." Sakura menatap bingung ke arah Deidara yang tiba-tiba saja muncul di hadapannya. Iris hijau jernihnya beralih menatap pantulan dirinya di cermin dan terkejut saat mendapati pakaiannya sudah berbeda dengan kemarin malam.

"Ah itu, aku memanggil layanan apartemen untuk mengirim pegawai wanita yang sedang bertugas semalam. Aku khawatir kau akan sakit jika tidur dengan pakaian basah begitu, un," jelas Deidara yang mendapati pandangan panik Sakura.

"O- oh, terimakasih kalau begitu."

"Sama-sama, Sakura-chan terlihat sangat lelah semalam, bahkan hari ini aku sampai bangun duluan, un," kekeh Deidara menyombongkan dirinya yang biasanya telat bangun.

Sakura mendengus sebelum kemudian kembali bertanya, "Tapi kenapa kau bisa ada di sini?"

"Oh itu, Sasuke menyuruhku untuk menggantikannya menemanimu."

"Hah? Sasuke-nii? Kemana dia?"

"Dia bilang ada urusan pekerjaan, un."

"Apa? Kenapa dia tidak pamit kepadaku?!" seru Sakura yang terlihat kesal.

"Habis Sakura-chan tidak ada saat Sasuke pergi kemarin, un!"

"Kalau begitu bagaimana kau bisa bertemu dengannya? Kalian bertukar kontak kemarin?"

"Tidak, kami tidak sengaja bertemu saat aku baru saja pergi ke kedai ramen dan akan mencari taksi untuk pulang. Lalu dia meminta tolong padaku setelahnya, un."

"Oh begitu ya." Sakura mengangguk lalu memijat pelipisnya pelan.

"Ano Sakura-chan..."

"Hum?"

"Semalam apa yang terjadi? Kenapa Gaara yang mengantarmu pulang, un?" Deidara betanya panasaran. Iris blue-ocean pria itu menatap lurus ke arah netra zamrud Sakura seolah meminta penjelasan.

Sakura terdiam, ingatannya kembali memutar kejadian kemarin malam. Saat itu ia tengah dalam perjalanan pulang setelah pergi ke sebuah dojo terkenal di Amegakure. Tapi langkahnya terhenti saat mendapati pemandangan Sabaku no Gaara, mantannya, tengah berjalan bersama seorang wanita lain di sebuah butik elite yang menjual gaun pernikahan.

Bohong jika Sakura tidak sakit hati. Ada setitik rasa tak terima pada dirinya saat melihat pria merah itu bahagia begitu saja di saat ia harus melalui banyak masa sulit hanya untuk melupakan kenangannya bersama Gaara.

Ditambah lagi, tatapan mereka yang tidak sengaja bertemu dan hujan yang tiba-tiba turun seolah mendramatisir keadaan. Membuat kaki Sakura terasa berat saat itu juga.

Karena tidak ingin terlihat menangis di hadapan sosok pria yang pernah meninggalkan bahagia dan juga luka dalam hatinya itu. Sakura pun berlari ke sebuah area taman yang tidak jauh dari sana. Menumpahkan semua air mata yang berusaha ia tahan sedari tadi.

Tapi tak lama kemudian, ia ingat bahwa ada panggilan masuk dari Sasuke dan setelahnya handphonenya mati begitu saja karena kehabisan baterai. Jadi ia pikir Sasuke tidak jadi datang karena tidak tahu dimana posisinya berada saat itu.

Dan saat itu, di tengah hujan yang semakin mengguyur. Netra klorofil Sakura terkejut karena mendapati Sabaku no Gaara yang berdiri di depannya. Pria tampan bersurai merah darah itu teguyur hujan yang turun dengan sangat deras malam itu.

Masih terekam jelas juga dalam memorinya tentang pria itu yang meminta maaf berulang kali dan menjelaskan bahwa ia menyesal. Akan tetapi takdir mereka paling indah memang sampai saat itu saja. Yaitu, saat sebelum mereka akhirnya memutuskan berpisah beberapa tahun yang lalu.

Gaara mengatakan kalau ia akan menikah dengan wanita yang dijodohkan ayahnya. Dan ia dengan tulus berharap, bahwa Sakura juga akan bahagia entah dengan siapa nantinya. Lalu kemudian, percakapan mereka diakhiri dengan Gaara yang menanyakan apakah ia bisa meminta sebuah pelukan perpisahan.

Akal sehat Sakura tentu saja menolak. Tapi batinnya bergejolak mengingat semua hal yang pernah pria itu lakukan untuknya. Gaara tidak terlalu menyukai hujan, tapi dulu pria Sabaku itu pernah rela berdiri selama hampir dua jam penuh di bawah guyuran hujan hanya untuk menemani Sakura yang sedang bermain di bawah proses presipitasi.

Terlepas dari pengkhianatan yang sempat dilakukan oleh bungsu Sabaku, Gaara adalah sosok pria yang juga banyak membantunya di masa lalu. Jadi Sakura pikir, tak ada salahnya mengakhiri kisah mereka dengan pelukan perpisahan dan hati yang berdamai. Saling memaafkan demi ketenangan jiwa masing-masing.

Mereka berpelukan cukup lama dengan Sakura yang kemudian merasa lega dan bisa ikhlas setelah menuangkan semua kesedihannya dalam tangisan yang leleh turun bersama air hujan. Rasa sakit hati dan beban yang selama ini ia tahan, terasa luluh begitu saja. Mungkin akan berat, tapi Sakura akan mencoba untuk terus berdamai dengan dirinya sendiri.

Dan karena hari sudah malam, Gaara pun menawarkan Sakura tumpangan pulang. Dan juga, karena terlalu lelah sehabis latihan di dojo, ditambah sempat menangis entah berapa lama, membuat kelopak mata Sakura akhirnya memberat dan ia pun tertidur tanpa sadar. Dan begitu terbangun, tiba-tiba saja ia sudah disambut dengan kehadiran Deidara di hadapannya.

"Ah begitu," gumam Deidara yang mengangguk paham setelah mendengarkan penjelasan Sakura.

"Yah, lagipula itu masa lalu, kurasa aku bisa berdamai dengan Gaara dan juga dengan hatiku sekarang. Aku merasa lebih lega. Harusnya saat aku bertemu dengan Gaara hari itu, aku mengucapkan selamat tinggal yang layak yang tidak sempat terucap karena kami malah bertengkar, hahaha," curhat Sakura panjang lebar yang diakhiri dengan tawa renyah. Karena jujur saja, ia memang merasa jauh lebih lega setelah berdamai sekarang.

Deidara yang mendengar kondisi Sakura membaik melempar senyum cerahnya. Tangannya terulur untuk mengusak pelan surai unik adik sahabatnya itu, "Baguslah kalau begitu, sekarang mandilah dan ayo kita pegi makan, un!" seru Deidara bersemangat.

"Yosh! Ayo!"

.

.

Detik demi detik berlalu. Netra emerald Sakura memandang bosan ke arah pemandangan jalanan di sampingnya. Ia baru saja selesai branch (breakfast - lunch) atau bisa disebut sebagai makan siang yang merangkap sarapan bersama dengan Deidara. Dan trotoar pejalan kaki yang dilaluinya saat ini, tengah dipenuhi oleh para pekerja yang sepertinya sedang istirahat makan siang.

Selepas dari acara makannya bersama Deidara, sebenarnya pria pirang itu mengajaknya untuk pergi ke stadion yang akan menyelenggarakan baseball sore ini bersama Sai. Hanya saja, Sakura merasa tidak mood dan memilih untuk pergi sendiri entah kemana.

Dan jika berbicara tentang mood, jujur saja suasan hati Sakura adalah merasa galau. Sakura entah kenapa merindukan Sasuke. Pria Uchiha itu, tidak membalas pesannya. Dan juga, nomornya entah mengapa tidak aktif. Hal yang sukses membuat Sakura jadi sedikit kesal karena tidak mendapat ucapan selamat tinggal yang layak.

Walau jujur dalam hatinya saat ini ia sangat berharap bisa bersama pria itu dalam waktu yang sangat lama atau bahkan selamanya pun ia tak akan keberatan. Oh Tuhan, ini baru seminggu ia mengenal Sasuke, tapi rasanya seperti seluruh hidupnya bergantung pada pria itu, menyebalkan.

Bruk!

"Awh!" Sakura mengaduh pelan saat tubuh mungilnya yang tidak fokus menabrak seorang pejalan kaki lainnya. Kepala gulalinya mendongak untuk meminta maaf. Akan tetapi, ia malah terdiam beberapa saat ketika melihat siapa yang baru saja ditabraknya.

"..."

"Sasuke-nii?!" seru Sakura yang bergegas bangkit dari duduknya, menatap tak percaya pada pria tampan dengan iris obsidian tajam yang balik menatap ke arahnya dengan pandangan yang sulit didefinisikan.

"..." Sasuke masih bergeming di tempatnya, pikirannya mendadak kacau. Padahal, ia sedang berusaha menghindari Sakura untuk sementara waktu. Tapi entah kenapa, gadis khas bunga musim semi itu malah tiba-tiba saja muncul di hadapannya.

"Kau kenapa tidak mengabariku dan pergi tiba-tiba saja?" tanya Sakura dengan pandangan menuntut.

Sasuke menghela napas pelan, "Bukankah kau sedang sibuk dengan Sabaku."

"Hah? Sabaku? Sasuke-nii bertemu Gaara? Kapan?"

"..." Tak ada jawaban yang mengalir dari bibir tipis Sasuke, pria itu hanya mengalihkan tatapan tajamnya ke arah lain.

Sakura yang tidak mendapati jawaban apapun berpikir keras dimana Sasuke kira-kira bertemu Gaara? Apa saat Gaara mengantarnya pulang? Atau mungkin saat ... tunggu, apa malam kemarin Sasuke benar-benar datang mencarinya?

"Apa semalam kau benar-benar mencariku?"

Iris tajam Sasuke yang sempat teralih menatap kembali wajah manis Sakura yang terlihat terkejut dengan netra hijau cerlangnya yang membola, "Hn. Tapi tenang saja, aku cukup tahu diri untuk tidak mengganggu waktu kalian."

Setelah menyelesaikan kalimatnya, Sasuke berbalik pergi untuk kembali ke kantornya, meninggalkan Sakura yang masih terpaku di tempat.

"Tunggu!" Sakura yang sudah tersadar dari keterkejutannya menoleh ke arah Sasuke yang sudah menyeberangi jalanan.

Segera saja Sakura belari untuk mengejar langkah pria Uchiha itu. Akan tetapi naasnya, karena keterburuannya sendiri, Sakura tidak menyadari lampu penyeberangan jalan yang sudah berubah saat ia berlari untuk menyeberang.

Kecepatan dari langkah kaki Sakura dan juga keterkejutan pengemudi yang baru saja menekan kontrol gasnya bukanlah perpaduan yang baik. Karena sedetik setelahnya, mendadak pandangan Sakura terlihat mengabur bersamaan dengan banyaknya suara teriakan dari orang-orang yang bahkan tidak dikenalnya.

Gadis khas bunga musim semi itu sudah tidak tahu lagi seberapa jauh tubuh mungilnya terpental dari tempat dimana kakinya terakhir berpijak. Di antara deru napasnya yang memendek dan terasa mencekik. Di antara degup jantungnya yang mulai memelan. Di antara seluruh saraf perasanya yang sudah tidak bisa merasakan sakit. Dan walau ada banyak sekali darah yang mengucur dari tubuhnya, Sakura bersyukur indra pengelihatannya masih berfungsi secara samar-samar untuk menangkap sosok pria bersurai dan bernetra tajam yang menghampirinya dengan sorot khawatir yang sama sekali tidak berusaha disembunyikan.

"Sakura! Sakura!" Seruan dari suara yang belakangan ini menjadi suara favoritnya mengudara, menjadi melodi pengantar saat-saat terakhirnya di dunia yang fana ini.

Sakura sama sekali tidak menyesal telah mengenal Sasuke. Itu adalah salah satu hal terbaik yang pernah Sakura alami selama ia hidup dan mungkin juga setelah ia mati.

"Sakura! Sakura! Sakura bertahanlah!" Suara itu kembali menyeru parau, mengundang senyum simpul untuk terlukis di bibirnya, bersamaan dengan kalimat terakhir yang ia ucapkan sebelum detak jantungnya benar-benar berhenti berdegup.

"Sasuke ... aku ... mencintaimu."

"Aku ... aku juga mencintaimu... kumohon bertahanlah..." Sasuke mengiba pelan. Tapi sayang, sama sekali tidak ada jawaban dari nadi yang sudah memelankan denyutannya hingga kemudian benar-benar berhenti.

Dan berakhirlah sudah kisah ini, setidaknya Tuhan masih berbaik hati mengizinkan Sakura mendengarkan jawaban atas perasaannya yang ternyata berbalas. Sebelum kemudian, menutup mata dan nafasnya untuk selama-lamanya.

DAY 7 - FIN


.

A.N. Ini ending paling sampis yang pernah ada :) Apa yang kalian harapin dari manusia labil korban naga terbang Indosiar saat kecil dan korban suara hati istri saat besar? lol. Jan tabok aing yak atas endingnya wkwkw. Makasih buat semua yg udah baca, xoxo.

.


O M A K E


Takdir dan semesta terkadang masih memiliki sedikit keajaiban untuk membalas tangan-tangan berhati tulus yang menyayanginya.

Ketulusan hati seorang manusia yang tidak hanya terhadap sesamanya. Tetapi juga pada makhluk hidup lain di semesta ini. Entah itu kepada seekor anjing, kucing, ataupun pada tumbuh-tumbuhan. Ketulusan hati lewat hal sederhana kecil yang telah mengantarkan semesta untuk memberikan keajaibannya.

Dan semesta pun kembali bergolak dalam rangkaian masa. Putaran waktu menekan nafasnya hingga ke titik terdalam yang tak tersentuh asa. Semua rangkaian memori terputar bak sebuah film berskenario takdir yang menampilkan tawa dan juga luka. Dan di sanalah masa kembali tertawa pada tangis anak Adam dan juga Hawa.

Tepukan pelan pada pipi yang dibarengi gaungan suara jam besar yang berdentang sebanyak dua kali, menyalakkan kesadaran seorang insan fana begitu saja.

Seorang gadis khas bunga musim semi bernama Sakura Haruno terlonjak dari posisi tidurnya dalam satu gerakan kilat yang terlalu mendadak. Tubuhnya yang tak siap terasa sedikit ngilu saat dipaksa duduk tegak secara tiba-tiba. Netra gioknya berpendar di antara deru napasnya yang semakin memburu. Menatap kondisi sekelilingnya dan nyaris berteriak saat mendapati sosok kakak sepupunya, Naruto Uzumaki, kini tengah menatapnya dengan sebuah koper di samping kaki.

"Kau sudah bangun? Apa habis mimpi buruk —dattebayou?" Naruto bertanya di antara detikan jam besar yang mengisi heningnya ruangan.

Iris zamrud Sakura mengerjap berulang kali, kembali menatap sekelilingnya. Ini ... bukan rumah sakit melainkan apartemen kakak sepupunya. Dengan posisinya yang terduduk pasca bangun tidur di sofa depan televisi.

"Kenapa Naruto-nii ada di sini?"

"Aku tadi berencana berangkat tanpa pamit karena kau tertidur sangat lelap. Tapi melihat Saku-chan yang gelisah, sepertinya kau sedang mimpi buruk, jadi aku memilih membangunkanmu —dattebayou," jelas Naruto merapikan helai gulali Sakura yang menempel di wajah cantiknya yang berkeringat.

"Hah?" Sakura menganga tak percaya, bukankah ia sudah mati? Ia bahkan masih ingat rasa sakit saat terpental di kerasnya aspal yang terasa sangat nyata. Sebelum kemudian, seluruh saraf perasanya secara mendadak lumpuh seketika.

"Hum? Ada apa Sakura-chan?"

"Uh, ta— tanggal berapa sekarang?" tanya Sakura memastikan setelah ia berhasil menata kembali komposisi dirinya.

"Tanggal 23 bulan Juli 2020, kenapa memangnya?" Naruto balik bertanya bingung.

Sakura kembali terdiam dengan mulut menganga tak percaya. Ini adalah hari yang sama dengan hari keberangkatan Naruto dan juga hari pertamanya bersama Sasuke. 23 Juli 2020, di kota Amegakure.

Plak!

Sebuah tamparan cukup keras Sakura layangkan untuk dirinya sendiri, rasanya nyata dan sakit. Dan saat tangan Sakura kembali terulur untuk memberikan tamparan kedua, telapak tangan Naruto menahannya. Iris biru laut pria itu menatap bingung dan khawatir ke arah adik sepupunya itu.

"Saku-chan? Ada apa denganmu?"

"A— ah, tidak apa-apa. Itu ... teman Naruto-nii jadi menginap?"

"Sasuke? Iya, dia akan datang satu atau dua jam lagi mungkin. Setelah mengantarku ke bandara, nanti aku akan menyuruhnya untuk langsung ke sini —dattebayou."

"Apa ... apa dia pria dengan tubuh tinggi yang memiliki rambut hitam dan iris obsidian yang tajam?"

Naruto mengernyit saat Sakura masih mengenali sosok Sasuke. Pasalnya ini sudah lewat beberapa tahun sejak terakhir kali ia membawa teman-temannya ke rumah saat libur musim panas, yang dimana Sakura kebetulan berkunjung saat itu, "Iya, benar. Kau masih ingat mereka, Sakura-chan? Padahal saat itu kau hanya bertemu mereka sebentar kan karena Kaa-chan memintamu datang menjenguknya?"

Sakura mengangguk mengiyakan dan melempar senyum tipis karena tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Setelah beberapa perbincangan singkat, akhirnya Naruto berpamitan pergi ke bandara, meninggalkan Sakura yang masih terpekur di sofa sampai entah berapa lama, dengan otak cerdasnya yang berusaha menalar semua ini. Apa semua yang dialaminya selama ini hanya sebuah mimpi belaka? Tapi ... kenapa terasa sangat nyata? Apa sebenarnya yang terjadi?

Ting-tung!

Bunyi bel apartemen yang ditekan membuat Sakura berjengit dari duduknya. Iris zamrudnya melirik jam besar yang menunjukkan pukul tiga lebih sepuluh menit, ini sudah sekitar satu jam sejak Naruto pergi.

Tanpa menunggu lebih lama, Sakura segera berdiri dan bergegas pergi untuk membuka pintu apartemen. Dan yang benar saja, saat pintu di depannya terbuka, Sakura benar-benar tak bisa menahan diri untuk tidak memekik terkejut.

"Hn, Sakura?" sapa pria itu seadanya.

Tapi bukannya menjawab, Sakura masih mematung di tempat. Netra klorofilnya memperhatikan pria yang diketahui bernama Sasuke Uchiha itu dengan seksama. Semua yang ada pada diri pria itu, entah penampilannya, pakaiannya, wangi tubuhnya, dan bahkan kalimat pertama yang ia ucapkan, semua benar-benar sama persis seperti yang Sakura alami di 'mimpi' anehnya.

"Saya tahu saya ganteng, tapi gak perlu segitunya kalau ngelihatin saya," tegur Sasuke menyadarkan Sakura dari lamunannya sendiri.

Dan ya, dari sinilah kisah mereka yang sebenarnya akan dimulai.


SEVEN DAYS: Truly The End

— 2020.07.29 —