.

Berawal dari peristiwa,

keributan kemudian tercipta.

Entah siapa yang salah,

tiada satupun ingin mengalah

.

ARTI KATA MAAF

Final Fantasy VII dan segala karakternya adalah milik Square Enix serta semua pihak terkait.

M, Romance/Drama/Comedy

.

BAB I

AWAL MULA KISAH

.

"Love is being stupid together"

-Paul Valery-

.

Langit Edge sedikit berawan ketika sebuah truk patroli berjalan menyusuri jalanan kota yang hening. Suaranya mesinnya terdengar jelas hingga ke gang-gang sempit pemukiman akan tetapi tidak ada seorang pun yang keluar meskipun daerah itu biasanya ramai akibat banyaknya aktivitas penduduk sekitar. Semua pintu tertutup rapat, jendela pun hampir semuanya terpalang.

Beberapa sampah kertas beterbangan pada saat mobil tersebut berbelok di ujung jalan. Deru mesinnya yang pelan menunjukkan niat perjalanannya untuk sekedar melihat keadaan sekitar. Seakan tidak peduli dengan berita penangkapan Don Corneo yang terdengar dari radio kabin ketika truk tersebut melewati sebuah bangunan kosong dengan poster "Loveless" di salah satu temboknya.

Sunyi adalah nuansa yang didapat, kosong adalah yang terlihat. Ketiadaan aktivitas membuat kota tersebut seakan tanpa kehidupan. Padahal, sejak berdirinya kota ini tidak pernah berada dalam kondisi demikian. Termasuk ketika penyakit geostigma melanda.

Oleh karena itu, maka apa yang kiranya membuat Edge kini menjadi bak kota mati? Entahlah, yang pasti ini semua bermula dari munculnya wabah penyakit aneh yang sukses membunuh ribuan orang sejak dua bulan lalu. Dimana berbagai kesalahan, kekeliruan dan rasa acuh bergabung menjadi satu untuk menciptakan bencana terbesar sejak ancaman meteor di masa lampau.

Atau setidaknya demikian apabila mengacu pada isi sebuah buku harian tanpa nama yang baru saja dibuang keluar oleh seseorang dari mobil tersebut. Kronologi yang terdapat dalam buku harian tersebut adalah sebagai berikut.

.

Tidak ada yang tahu darimana asal penyakit tersebut. Yang pasti, kasus pertama muncul dari perbatasan antara Edge dan reruntuhan kota Midgar. Ketika seorang pria asal Wutai tiba-tiba tumbang di area pasar setelah sebelumnya mengkonsumsi daging tikus yang diolah secara salah.

Oleh dokter yang memeriksa saat itu, pria tersebut mulanya didiagnosa menderita sakit tifus karena kelelahan akibat bekerja terlalu keras. Istirahat adalah anjuran yang diberikan, antibiotik menjadi obat yang diresepkan. Kehidupan pun kemudian berjalan normal seperti biasa. Hingga dua minggu kemudian ia ditemukan meninggal di kamar kos-nya.

Tidak jelas apa yang menyebabkan kematian pria tersebut. Namun, hasil otopsi menunjukkan bahwa paru-parunya mengalami masalah akibat virus yang tidak diketahui jenisnya. Dimana kerusakan yang dihasilkan oleh virus tersebut juga menimbulkan cedera di bagian hati serta gangguan pada bagian jantung.

Temuan inipun sontak membuat dokter dan ilmuwan di ShinRa Municipal Hospital kala itu terkejut. Akan tetapi, belum sempat menindaklanjuti hal tersebut, mereka sudah dikagetkan dengan fakta bahwa lima orang Wutai lain yang tinggal bersama korban ditemukan sekarat setelah sebelumnya didiagnosa menderita penyakit serupa. Kepanikan pun bermunculan, segala upaya terus dilakukan. Namun, sebelum masalah terjawab, kembali satu per satu dari kelima orang itu meninggal dan kejadian serupa mulai banyak dilaporkan terjadi pada area pasar dimana korban pertama ditemukan pingsan oleh petugas keamanan.

Kepanikan pun segera menyebar. Musuhnya tidak lain adalah sebuah virus yang tidak kelihatan. Berbagai dugaan pun bermunculan. Ribuan tudingan juga mulai dilancarkan sementara korban terus berjatuhan. Sialnya, komunitas Wutai di kota itu paling banyak memperoleh ancaman.

Munculnya sentimen ras terhadap orang Wutai dan keturunannya tersebut sebenarnya tidak lepas dari peran media dan pemerintah yang tidak peka dengan keadaan.

Hampir semua orang menyalahkan komunitas Wutai di perbatasan kota karena opini yang terbangun adalah anggapan bahwa mereka memakan apa saja yang bernyawa. Sebagian lagi mengatakan bahwa virus ini adalah senjata biologis yang dikerahkan oleh Godo Kisaragi untuk menghancurkan sisa-sisa penduduk Midgar di kota itu dan komunitas tersebut merupakan pasukan pelaksananya. Semuanya berbalut dalam jalinan kesalahan yang sempurna sehingga pihak Wutai menarik semua orangnya dari WRO dan memutuskan hubungan dengan ShinRa. Daerah perbatasan Edge dengan Midgar pun juga membara akibat banyaknya aksi kekerasan bermotif rasial. Terutama sejak sekretaris Rufus Shinra secara terang-terangan menghujat orang keturunan Wutai pada saat konferensi pers di kota Calm.

Tensi politik pun sontak memanas dan mencapai puncaknya pada saat kerusuhan sosial pecah. Bangunan dibakar dan toko-toko milik pengusaha berdarah Wutai banyak yang dijarah. Aksi balasan pun dilakukan dan pemerintah kota seakan tidak mampu mencegahnya. Seorang pimpinan Turks yang masih berkerabat jauh dengan Godo Kisaragi pun berusaha menenangkan keadaan melalui opini di media massa. Namun, apa daya tulisannya justru dicap sampah oleh komunitasnya karena kenyataan berkebalikan dengan semuanya. Publik pun mulai mempertanyakan kualitas seorang presiden ShinRa pada saat Rufus akhinya memutuskan untuk memecat sang sekretaris akibat ucapannya yang tidak pantas beberapa waktu lalu.

Terlambat? Tentu saja. Korban sudah berjatuhan, wabah pun terlanjur menyebar.

Edge telah kehilangan sepertiga penduduknya ketika pemerintah kota memutuskan untuk melarang orang beraktivitas, keluar rumah maupun bepergian.

Itulah yang terjadi sekarang.

Kini apa yang hendak kita dapatkan?

.

Truk tersebut terus berjalan pada saat seekor anjing liar menggonggong dari kejauhan. Siaran radio berubah menjadi acara canda tawa pada saat kendaraan kembali berbelok sebelum akhirnya itu berhenti di muka salah satu gang.

Seperti halnya jalan kecil lain di kota itu, gang tersebut sepi dari orang yang berlalu lalang. Lorongnya terkesan suram seperti pintu kuburan. Sisakan patung malaikat bewarna putih yang tergantung diatas papan nama salah satu toko didalam kesendirian. Tangannya yang mengatup seakan berdoa memohon pertolongan dan kesembuhan ketika seorang pria berjas hitam turun dari pintu belakang truk yang terbuka. Munculkan kepalanya dengan mata yang terbungkus kacamata hitam.

"Inilama nggak?" tanya seorang pria dari dalam truk ketika pria berkepala plontos itu merapikan penampilannya. Memeriksa dasi, jas, sarung tangan serta headset earphone-nya agar penampilan senantiasa ideal ditengah segala kondisi dan suasana.

"Nggak…" jawabnya singkat sembari mengamati kondisi sekitar sebelum pandangannya tertuju pada papan nama sebuah bar bernama "Seventh Heaven" yang terpasang tidak jauh pada dinding lorong dihadapannya.

Pria berjas hitam itu kemudian mengambil sebuah smartphone dari saku celananya. Kakinya berjalan pelan ketika ia mulai menelpon seseorang.

"Aku sudah didepan."

Langkah pria itu terhenti didepan pintu masuk sebuah bangunan berukuran sedang. Diketuknya pintu tersebut meskipun papan penanda yang tergantung bertuliskan kata "open" pertanda kegiatan usaha masih berjalan seperti biasa. Ketukan terus dilakukan meski gerakannya terasa canggung bukan kepalang.

"Iya, sebentar…"

Suara seorang wanita terdengar dari dalam. Ketukan berhenti sejenak sebelum pintu kemudian terbuka. Menampilkan sosok wanita berambut panjang yang membawa sebuah kotak bungkusan. Wajahnya cantik dengan postur tubuh menawan. Wajar kiranya jika bar tempatnya berada jadi terkenal karena kepengurusannya.

"Maaf aku ngerepotin kamu lagi, Rude. Tapi tolong, ya..." ujar perempuan itu sembari menyerahkan kotak bungkusan tersebut kepadanya, "Jangan dibawa miring."

"It's okay," jawab pria itu singkat dengan mimik wajah datar. Suaranya diberat-beratkan agar terkesan berwibawa. Namun, aura canggung yang terasa membuat semua upaya itu menjadi konyol bukan kepalang. "Kamu yakin dia lagi ada di New Heaven sekarang? Kamu sudah hubungi dia belum?"

Gadis itu terdiam sejenak, mengangkat bahu dan menghela nafas sejenak. Ia menggelengkan kepalanya, tersenyum sembari berkata,"Jangan miring-miring bawanya. Memangnya dia mau kemana lagi?"

"Oke…"

Lelaki bersarung tangan hitam itu lalu tersenyum dan membalikkan badannya untuk kembali menuju truk patroli di ujung jalan. Dengan cepat ia kembali masuk kedalam. Hati-hati disimpannya bungkusan itu agar aman sesuai petunjuk yang diberikan.

Truk itu kemudian bergegas meninggalkan lokasi pertemuan.

Menyisakan sang wanita yang berdiri di pintu masuk bar miliknya untuk kemudian masuk kembali kedalam.

.

Mudah-mudahan dia bisa paham

.

Demikian isi hatinya.

.

"Lu kalo cerita yang jelas dong! Idup lu kompleks beut dah kek perumahan !"

Cloud terdiam ketika Rex sang bartender mengomentari ceritanya. Ia menggelengkan kepala dan mulai meminum "Bacardi" yang telah disediakan oleh lawan bicara.

"Ya gitu lah..."

"Tapi awal ceritanya gimana, bos?"

"Tambah," ujar sang pria berambut kuning kepada pria berambut hitam di hadapannya. Tangannya bergerak pelan menyodorkan gelas minuman yang kosong untuk meminta isi tambahan.

Tanpa bicara, Rex mengambil kembali botol "Bacardi" dari display dibelakangnya. Sosoknya yang berbalut kemeja putih panjang dengan vest bewarna hitam itu kemudian menuangkan isi minuman keras tersebut ke gelas temannya. Ia hanya terdiam santai saat pria beremblem serigala itu kembali berujar, "Sadar nggak sih dia, kelakuannya itu kan contoh buruk buat anak-anak."

"Oooh, jadi lu berdua berantemnya live?" Timpal Rex sambil meletakkan botol "Bacardi" miliknya di counter pada posisi yang bisa dijangkau mereka berdua. Hatinya mulai geli ketika pertanyaan susulan diajukan.

"Trus yang nonton siapa? Tetangga ikut dateng nggak?"

"Lu niat dengerin nggak sih?"

Mendengar respon tersebut, Rex hanya tertawa. Apalagi setelah sadar jika ucapannya membuat wajah Cloud semakin serius karena ia terkesan membuat percakapan tersebut hanya sekedar bahan candaan. Namun, ia segera menghentikannya ketika sadar. Jika hal tersebut terus dilakukan, maka besar kemungkinan si pelanggan akan "pulang".

Padahal dia masih belum puas.

Hatinya masih dilanda sedikit rasa penasaran.

"Tapi tetep lu harus jelasin gw dari awal."

"Kan gw udah jelasin tadi!?"

"Bos!? Gw udah bilang kan. Uraian lu itu nggak jelas." Jawab Rex sembari menatap lawan bicaranya. Tiada perubahan ekspresi terasa meskipun sudut matanya mendapati sebuah mobil penyemprot disinfektan melintas kencang sembari melaksanakan pekerjaannya di kejauhan. Kalimat "Gimana gw mau bilang lu nggak salah kalo ujung pangkalnya aja nggak jelas," menjadi kelanjutan isi pembicaraan sebelum kemudian disusul dengan ucapan "Ulangin lagi dong, kali ini pelan-pelan."sebagai penutup penjelasannya. Tempatkan Cloud sebagai pihak yang harus membalas dengan diawali tegukan minuman.

"Oke, jadi gini…"

Cerita pun lalu bermula. Uraikan awal peristiwa yang menjadi titik awal keributan.

Semuanya dimulai pada sore hari pukul enam. Tanggalnya kemarin sehingga peristiwa belum lewat dua puluh empat jam.

.

Sore itu semuanya berlangsung sunyi seperti biasa. Jalanan lengang, semuanya bersembunyi dibalik ruangan. Tidak ada yang bisa dilakukan oleh Cloud Strife sang pembawa pedang. Situasi memaksa ia menghentikan usaha karena kebijakan pemerintah setempat untuk menutup kota.

Kondisi bar saat itu sepi tanpa pelanggan. Tidak tutup tapi dijaga oleh Shelke sebagai bartender cadangan. Pastikan kondisi tetap prima meskipun Tifa saat itu tengah pergi untuk membeli beberapa barang kebutuhan.

Dalam situasi tersebut, banyak hal yang telah dilakukan oleh Cloud sebagai kepala keluarga. Yang pasti, ia tengah mencari hiburan dengan memainkan video game yang dulu dibelinya dari pusat kota. Keseruan begitu terasa salah satunya karena ia bermain dengan Denzel si anak angkat.

Sorakan bahagia saat itu terdengar dari sang anak ketika dirinya berhasil membunuh salah satu lawan. Babak penghabisan telah datang karena musuh sudah tinggal sepuluh orang dari seratus pada awalnya.

Chicken dinner sudah menunggu didepan mata. Kenaikan peringkat tinggal menunggu penyelesaian. Marlene pun ikut bersorak karena terbawa suasana. Semua acuh tak acuh pada keberadaan sehelai tissue bekas yang tergeletak di bawah sofa tempatnya berada.

Kehebohan terus terjadi ketika Denzel dan Cloud terus menunjukkan kemajuan dalam permainan.

Musuh terus berkurang menjadi delapan.

Tujuh.

Enam.

Lima.

Empat.

Dan …

"Aku pulang !"

Suara wanita terdengar seiring dengan bunyi pintu kamar yang terbuka. Tampilkan sosok wanita berpupil merah serta memiliki rambut panjang dalam balutan setelan kulit bewarna hitam. Tangan kanannya memegang kantong plastik putih berisi obat dan vitamin yang dibelinya dalam perjalanan. Wajahnya tampak lelah ketika membuka sepatunya untuk diletakkan pada rak. Sikapnya wajar pada saat ia melangah mendekati "suami" dan "anak-anaknya" yang tengah bermain bersama.

"Oh, hello…" Jawab Cloud datar. Tidak menyimak apalagi memperhatikan asal suara karena kedua matanya masih tertuju pada TV LCD dihadapannya. Tangannya dengan tangkas menekan tombol-tombol joystick ketika beberapa lawannya masih terus melakukan perlawanan. Denzel dan Marlene menyaksikan dengan antusias. Memberi semangat dan mengabari letak lawan..

"Aku kena, awas…pelakunya sembunyi di batu !" Arah Denzel sambil meletakkan controller-nya usai kalah lantaran karakternya terbunuh akibat terkena granat. Sisakan sosok Cloud yang masih berperang melawan tiga lawan yang tersisia.

Dua.

Satu lawan terbunuh. Kini tinggal dua lawan yang harus diselesaikan.

"Everything okay, kan?" tanya wanita itu sambil mengamati keadaan sekitar. Langkahnya terhenti ketika matanya mendapati adanya sampah didekat kaki pria yang tengah asik melakukan peperangan virtual.

Seketika itu juga hatinya menjadi panas dan ingin meluapkan kemarahan.

"Itu apa?"

Wanita itu kemudian meletakkan kantong belanjaan pada meja kecil didekatnya. Wajahnya sengit bukan kepalang ketika Cloud menoleh singkat dan menjawab "Huh?" sekenanya.

Saat itu seisi ruangan sontak terdiam. Para bocah bungkam dengan kepala menunduk kearah sang ibunda ditengah suara baku tembak yang tengah terjadi di layar kaca. Raut wajah mereka takut dan murah seolah tahu jika badai tak lama lagi akan menerpa.

Tinggal apa jawaban sang ayah.

Langit tengah menghitam pertanda badai segera datang.

Apa daya jawaban yang terucap tidak seperti yang diharapkan. Namun, 100% dapat dipastikan itu yang akan digunakan.

.

"Oh, itu tissue."

.

Pria berbaju hitam itu menjawab pertanyaan dengan singkat, padat dan jelas. Terkesan masa bodoh dengan lawan bicara sebelum perkataan tersebut dilanjutkannya.

.

"Jatuh pas lagi main game tadi."

.

Wanita tersebut kemudian terdiam sejenak. Kekesalannya memuncak sehingga dengan melihanya saja, Denzel dan Marlene segera bergegas kabur kebawah. Menghampiri Shelke yang berjaga di counter lantai pertama guna mengungsi dari zona pertempuran dimana perang akan segera meletus. Sebab, balasan wanita itu jelas menunjukkan bahwa hal tersebut akan segera terjadi.

.

"Terus, kenapa nggak kamu ambil?"

.

Que sera-sera, terjadi-terjadilah.

.

"Kan aku lagi main game."

.

Suara bom terdengar keras dari televisi ketika permainan tinggal menyisakan satu orang musuh yang harus dilawan. Lagi-lagi jawaban sekenanya diberikan sementara Cloud menggerakkan karakternya kebelakang pepohonan yang aman dari safe zone untuk memastikan kemenangan. Abaikan perempuan yang amarahnya telah memuncak seiring dengan peningkatan nada bicara.

.

"Memangnya game-nya nggak bisa di-pause?"

"Tunggu lah…. Bentar lagi…"

.

Dan demikian.

Tanpa basa basi, perempuan dengan pita pink di lengannya itu kemudian bergegas menghampiri televisi yang masih menampilkan jalannya permainan. Disambarnya remote yang tergeletak guna mematikan layarnya. Buat pertempuran berakhir anti klimaks sehingga Cloud beranjak dari sofanya untuk mengajukan protes berupa pertanyaan.

"Kamu ini ngapain sih !?" Demikian hal itu terucap. Wajahnya penuh keheranan sebelum melanjutkan, "Aku kan belum sempat save ! Padahal, menang itu dikit lagi!"

Wanita dengan lengan berpita jingga itu tidak mengucapkan apa-apa. Wajahnya seakan malas menanggapi suaminya yang kembali berkata-kata.

"Kamu kenapa sih?"

.

"Aku kenapa?"

.

Cukup sudah.

.

"I GIVE UP, CLOUD ! Aku nggak sanggup lagi kayak gini!"

.

Luapan emosi tersebut membuat Cloud tertegun sejenak. Ia terkesiap karena kepalanya sibuk mencerna apa yang terjadi didepan matanya sekarang. Sayangnya, belum selesai pikirannya bekerja, Tifa telah melanjutkan ucapannya.

"Aku itu cuma minta kamu bantuin kerjaan rumah. Tapi kok bisa-bisanya aku pulang cuma buat liat kamu males-malesan. Main game sambil dikelilingin sampah!?"

Terhadap omelan itu, Cloud sontak menjadi salah tingkah. Ia lalu berusaha melihat di sekitarnya. Memastikan apakah benar dirinya bermain ditengah sampah berserakan. Akan tetapi, belum sempat ia menyelesaikan pengamatannya, Tifa telah mengambil tissue tersebut, memeriksa sebelum kembali melemparkannya kelantai seraya bertanya.

"Kenapa ini basah!?"

.

"Wait-wait, Cloud…" Sela Rex ketika Cloud mengisi kembali gelasnya dengan "Bacardi" yang telah disediakan. Buat pria berambut kuning itu menghentikan cerita sembari menyesap minumannya.

"Lu nggak macem-macem didepan anak-anak kan?"

Tidak ada jawaban yang terdenger kecuali tenggakan minuman. Dalam bungkam Cloud melihat lawan bicaranya dengan menggeleng-gelengkan kepala dan berkata "Lu pikir gw gila apa?..."

"…."

"Sakit isi kepala lu."

Pramutama bar itu hanya tertawa dan kembali menuangkan Bacardi kegelas tamunya di tengah alunan music jazz lounge yang masih terus berlanjut dilator belakang suasana.

Pria bermata biru itu kemudian melanjutkan ceritanya.

.

"Itu basah karena aku pake,…."

.

"See !?" Kembali Rex menyela cerita yang tengah disampaikan. Kali ini diiringi dengan gebrakan keras pada meja counter tempat mereka melakukan pembicaraan, " yang sakit siapa sekarang !?"

"Ya udah, gw stop nih…"

"Eh, jangan dong…. Lu pengen dibantu apa nggak?"

"Gw males sih klo dikomentarin terus…"

"Iyaiya, lanjutin…"

.

Cloud menatap Tifa yang tengah marah. Nada suaranya yang rendah menunjukkan kalau ia hendak memberikan penjelasan. Sialnya, sepertinya Tifa sudah enggan mendengarkan apapun alasan yang disampaikan. Ekspresi muak jelas terpampang pada dirinya.

Akan tetapi, Cloud tidak menyerah. Sebab, itulah yang sebenarnya terjadi.

"Aku pakai tissue itu untuk ngelap meja karena aku tahu kamu itu nggak suka sama meja yang kotor karena bekas air. "

Demikian pembelaannya diberikan. Ia pun lalu menambahkan, "Lagian aku juga sudah ngelakuin semua kerjaan rumah. Aku tadi udah cuci baju, cuci piring juga bersihin sepatu kamu."

Ganti Tifa yang diam.

"Jadi sayang, kamu ini kenapa?"

Itulah akhir pembelaan seorang Cloud Strife yang karena kagetnya sampai lupa untuk meletakkan controller video game-nya di meja.

"Kamu bisa kok tanya Shelke sama anak-anak dibawah."

Tifa pun semakin diam. Kedua tangannya disimpan dibelakang dan itu adalah tanda yang sangat dipahami oleh Cloud sebagai sinyal salah tingkah dari pasangannya.

Keheningan lalu menyeruak ke seisi ruangan. Tiada suara terdengar kecuali seekor burung gagak diluar. SIsakan pasangan suami istri itu untuk saling bertatap-tatapan.

Sebelum jawaban yang ditunggu terucap keluar dengan nada pelan.

"Ok….Aku nggak tau soal itu." Balas Tifa seraya hendak mengalihkan topik pembicaraan. Namun, apa daya Cloud kembali melanjutkan pembicaraan. Seakan ingin meminta klarifikasi lanjutan dari apa yang terjadi sebelumnya.

"Nggak tau kamu bilang?"

"Ya, aku nggak tau." Jawab Tifa seraya menunjuk pintu masuk ruangan, "Aku kan baru pulang jadi ya.. gimana. Lagian juga, siapa yang suruh kamu biarin aja itu tissue nggeletak di lantai!?"

"Tifa, cuma karena kamu nggak tau bukan berarti kamu itu nggak salah." Ujar Cloud, "Kamu tau, OKE…"

Kembali Cloud menghentikan perkataannya. Ia berpikir sejenak sebelum melanjutkan, "Gini aja, kamu sekarang minta maaf…."

.

"MINTA MAAF SOAL APA? Aku kan nggak ngelakuin salah apa-apa. Oh, aku tahu, kamu minta aku bilang makasih kan buat kerjaan kamu. Aku kasih tau ya!? Ini semua Cuma salah paham. Udahlah, kamu balik main game lagi sana!? "

.

Cloud masih ingat betapa wajah wanita dihadapannya itu merah padam akibat perkatannya. Namun, dituduh yang bukan-bukan juga membuat ia tidak terima jika masalah ini berlalu begitu saja tanpa kata maaf. Ia pun kemudian merespon jawabannya dengan harapan akan memenangkan perdebatan.

.

"Sayangku, kalau aku jadi kamu saat ini, aku bakal….Ah sudahlah!? Kamu tahu? Lupain aja yang aku omongin tadi. Kamu maunya aku yang salah, kan!? Fine, aku minta maaf."

.

Usai berkata-kata, Cloud kemudian meninggalkan Tifa dengan muak. Ia pun lalu pergi meninggalkan ruangan, bantingan pintu yang keras buktikan kemarahan tengah diutarakan. Motor pun menjadi pelampiasan. Mesin menyala jalanpun menjadi pelampiasan.

Tidak banyak yang bisa ia katakan.

Pertanyaan "kamu mau kemana?" juga enggan dijawabnya.

.

Sang wanita sebenarnya merasa bersalah,

niat hati menyelesaikan tapi serba salah.

Ingin rasanya ia pergi mengejar,

sayang yang dikejar telah jauh di luar.

.

"Kayanya dia sangat tersinggung ya. Soalnya aku menghinanya sih."

-Doraemon-

.