Disklaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto. No profit gained from this fanwork.

Warning: Sasuke's point of view all the way. Restorasi Meiji AU {1890ish}. Historical references. NaruSasu, slight SasuHina.


Fragments of Loneliness

i. Surat


Sepucuk surat datang di sore hari tatkala aku tengah duduk di beranda, dengan pena dan kertas di tangan, menulis haiku, puisi khas Jepang.

Ada stempel luar negeri di sudut amplopnya. Isinya kurang lebih bertanya mengenai kabar. Sudah lama tak jumpa. Ada kah kau kangen. Kulipat kembali surat itu, lantas ditaruh di atas tumpukan buku-buku. Tak terbesit dalam benakku untuk menulis surat balasan. Tidak ada gunanya. Dan makan waktu.

Tiga minggu berlalu, surat kedua datang. Apa yang sebetulnya dia harapkan dari seorang lelaki kaku sepertiku? Aku enggan memikirkan sesuatu yang dirasa akan membuat hidupku sulit. Beginipun sudah sulit. Aku tidak ingin menambah beban pikiran lain, terlebih dari sosok yang merupakan orang asing—orang yang tidak ada sangkut-pautnya denganku; walaupun, ya, dia memang orang asing.

Acara pertunangan semakin dekat. Aku mencoba mengabaikan segala topik mengenai London. Sudah nyaris satu tahun berlalu, sepatutnya aku lekas pulih dari segala kesengsaraan hati. Ketika pulang ke tanah air, aku disibukkan oleh kegiatan mengajar (sudah sepatutnya begitu). Enam bulan pertama, aku dikenalkan dengan seorang putri dari keluarga bangsawan Hyuuga. Aku tidak bodoh untuk tidak menyadari siasat Ayah. Pernikahan di atas bisnis sudah biasa dilakukan keluarga bangsawan, meskipun terkadang aku berharap bukan salah satunya. Tidak butuh waktu lama, pembicaraan mengenai pertunangan pun tiba. Malam itu, saat Ayah memanggilku untuk masuk ke dalam ruangan pribadinya (lebih tepat dikatakan sebagai ruang menyendiri), aku sudah tahu apa yang mau dia bicarakan.

"Bukankah dia cukup manis, Sasuke?"

Aku tak memiliki kekuasaan untuk menolak. Lagi pula, apa dasar dari penolakanku? Ayah bicara jauh ke depan; tentu, soal bisnis, dan betapa cinta tidak begitu penting dalam pernikahan. Ia juga bicara jauh ke belakang. Soal hak-hak daimyo yang dihapuskan setelah era restorasi Meiji dimulai, serta ronin yang mengenala dari satu kuil ke kuil lain. Begini, ada seorang samurai yang melayani keluarga kita, dahulu, dan dia berkawan dengan Ayah. Begitulah ia memulai cerita yang selalu diulangnya, berbasa-basi setelah aku menerima kesepakatan untuk menjalin hubungan lebih serius dengan putri Hyuuga.

Namanya Hinata-hime. Seperti namanya, dia memang seorang putri. Aku lebih sering memanggilnya Hinata. Meskipun silsilah keluarga bangsawan sekarang ini sudah bukan pada zamannya, tetapi sebagian dari mereka masih mempertahankan. Turun temurun. Aku bertanya-tanya apakah ini akan tetap berlanjut sampai lima puluh tahun ke depan.

Dia adalah perempuan yang cukup banyak omong, boleh dikata sedikit cerewet. Dalam pertemuan singkat kami, selalu dia yang bicara. Apa pun dia bicarakan. Tampaknya segala hal yang dia alami, lihat, dan rasakan begitu amat pentingnya. Aku melihat keceriaan itu sebagai sesuatu yang sia-sia. Topik bodoh yang sama sekali tidak membuatku tergerak untuk ikut antusias. Sebagai gantinya, aku hanya merespons singkat. Tetapi seolah dia tidak peduli dan melanjutkan omongannya.

Setelah tanggal pertunangan sudah ditentukan dan pertemuanku dengan Hinata semakin sering, ada satu hari ketika dia masuk seenaknya ke kamarku. Pikirnya, barangkali tidak masalah karena dia calon istriku. Aku tidak bisa menepis rasa risihku, terlebih ketika dia menemukan surat itu. Dia tidak bisa membacanya, tentu saja, dan bertanya apakah aku mau mengajarinya bahasa Inggris.

"Surat dari siapa?"

"Kawanku." Aku menjawab dengan tidak penuh minat. Hinata menyingkap lengan furisode-nya, kemudian duduk di sampingku yang sedang disibukkan oleh sesuatu.

"Perempuan?"

"Laki-laki."

"Bisakah kau jelaskan apa isi suratnya?"

Aku menjelaskan bahwa yang dia lakukan tidak sopan. Dia merengut dan meminta maaf, lalu pergi keluar. Aku memijat kening dan kembali fokus pada pekerjaan. Tidak bisa dibilang sebagai pekerjaan, memang. Hanya iseng menerjemahkan cerita dan barangkali akan kukirimkan ke surat kabar. Masalah tidak berakhir di situ. Malamnya aku kena tegur Ayah. Rupanya Hinata mengadu. Aku meminta maaf dan berkata bahwa aku sedang tidak enak badan. Ayah ingin aku pergi ke kediaman Hyuuga dan mengajak Hinata jalan-jalan.

Anjuran jalan-jalan itu berbuah manis. Kami pergi ke kuil Yasukuni, bicara mengenai sedikit sejarah Perang Boshin (aku yang memulainya). Kupikir dia tidak akan tertarik pada pembicaraan berat, rupanya dia cukup antusias. Banyak hal yang ditanyakannya kepadaku tentang perang itu, yang membuatku bertanya-tanya tidakkah dia mempelajarinya di sekolah. Atau sebetulnya Hinata hanya ingin banyak bicara, meski dia sudah tahu kebenarannya. Masalah tidak lagi diperpanjang. Kuputuskan pula untuk menjelaskan secara singkat soal isi surat itu; bahwa kawanku hanya bertanya soal kabar.

"Apakah menyenangkan sekolah di luar?"

"Lumayan. Tapi aku harus bisa beradaptasi. Banyak hal yang membuatku kaget, khususnya kebiasaan dan mode pakaian."

"Tentu saja!"

Dia lebih riang dari biasanya. Kami berjalan-jalan di sekitaran kuil setelah selesai berdoa. Aoki. Mitsutsume. Yukihira. Hinata merapal nama-nama yang sempat ia baca dalam Buku Jiwa, seperti anak kecil. Aku menilainya sebagai perempuan yang kekanak-kanakan, polos dan mudah ditipu. Aku dapat melihat dari pancaran matanya bahwa dia benar-benar jatuh cinta padaku. Kemudian, aku mengingat pesan Ayah: menikah tak perlu cinta, kau boleh saja mencari gundik setelah itu. Gundik. Seperti yang dilakukan Ayah. Tiba-tiba membawa anak laki-laki ke dalam keluarga kami, dan mengaku bahwa itu adalah anaknya dari wanita lain, seorang gundik yang dia rahasiakan, yang rupanya sudah meninggal karena sakit. Anak laki-laki itu seketika menjadi pelampiasan kebencian Ibu. Aku merasa kasihan, meski tidak melakukan apa-apa untuk menolongnya.

Apakah Hinata juga bisa menjadi sosok pembenci, seandainya dia mengetahui bahwa aku menipu dia dan kalau-kalau suatu hari aku juga memelihara gundik?


You will always be fond of me. I represent to you all the sins you never had the courage to commit.

Surat ketiga datang satu minggu setelah acara pertunangan dan aku kesulitan untuk mengabaikannya. Dikatakannya di dalam surat itu; pikirmu jalan semacam apa yang kutempuh untuk bisa mengirim surat—pikirmu, aku lekas berhenti? Aku mondar-mandir gelisah. Aku kehilangan akal. Aku tidak ingin surat-surat yang kuabaikan pada akhirnya tetap membawa masalah.

Kuputuskan menulis surat balasan. Dia tidak lagi mengirimiku surat sampai datang hari pernikahan. Hari-hari berlalu seolah tak pernah ada apa pun yang terjadi dalam hidupku.