Keterangan: untuk kepentingan plot, di sini Naruto sepenuhnya bule. Nama bangsawannya adalah Montgomery.


Fragments of Loneliness

ii. Naruto


Dia, sosok yang mengirimiku surat, bernama Naruto. Naruto Montgomery Namikaze.

Waktu itu, setelah masa feodal berakhir, perlahan-lahan Jepang membuka diri ke negara luar. Pemerintah mengirimkan anak muda terbaik mereka untuk mempelajari apa pun di negara lain (sesuai di bidang masing-masing), yang nantinya akan diterapkan di sini. Perdagangan pun menjadi lebih beragam dan modern. Ada yang berpikir perubahan ini membuat kehidupan semakin mudah, tetapi ada pula yang merasa semakin ditinggalkan—yang berpikir semacam ini biasanya ialah mereka yang tinggal jauh dari kota besar, yang kebanyakan belum tersentuh pendidikan.

Aku dipilih langsung oleh Menteri Pendidikan sebagai mahasiswa penelitian di usiaku yang baru menginjak dua puluh. Sempat terbesit dalam benakku bahwa ada campur tangan Ayah, yang mana merupakan salah satu bangsawan. Tetapi aku tidak peduli dan tetap antusias sebagaimana anak muda kebanyakan. Di London, aku mempelajari sastra Inggris. Aku menemukan banyak hal yang menarik dari kesusasteraan negara Barat, yang paling utama ialah plot rumit, tidak seperti novel-novel Jepang yang mengkhususkan pada kehidupan sehari-hari dan pendalaman yang dialami para tokohnya. Sedikitnya aku merasa kecewa.

Pada minggu pertama, aku mengenal Naruto. Dia mengomentari gaya berpakaianku yang aneh. Tentu saja, di mata mereka, pakaian tradisional semacam ini sangat aneh. Aku tidak banyak bicara dan memutuskan untuk mengabaikannya. Esoknya, dia mengomentari rambut panjangku yang seperti perempuan. Ingin sekali kujelaskan bahwa, hei, barangkali era samurai telah berakhir dan tren rambut panjang sudah dianggap kuno, tetapi aku masih ingin mempertahankannya karena aku tidak ingin melupakan sosok ronin yang suatu hari pernah kulihat di Kuil Taisha ketika usiaku tujuh tahun. Tapi tidak ada fungsinya menjelaskan hal itu, dia tidak mungkin paham. Jadi, sekali lagi, aku mengabaikannya.

Sialnya, dia tampak senang menggodaku. Sampai suatu hari, tatkala aku tengah membaca seri detektif, tiba-tiba dia duduk di hadapanku dan bicara soal apa yang diketahuinya mengenai seri itu. Aku merasa itu tindakan yang tidak sopan dan perasaan kesalku semakin menjadi-jadi. Aku makin benci padanya. Dia bicara seolah-olah dia akrab denganku padahal sebelum-sebelumnya dia senang menguji amarahku. Aku menghela napas dan menutup buku. Mengabaikannya (lagi, seharusnya). Naruto menahan tanganku dan berkata bahwa dia memiliki sesuatu yang lebih menyenangkan daripada cerita detektif—serta berjanji akan berhenti menggangguku kalau aku ikut dengannya sekali saja. Ini bukan ide buruk.

Rupanya dia membawaku ke teater, tempat drama dipentaskan dengan harga tiket yang bukan main mahalnya. Banyak aristokrat berpakaian nyentrik, lengkap dengan tongkat dan topi fedora. Serta perempuan-perempuan yang dibalut oleh gaun besar dan hiasan kepala yang tak kalah heboh. Sementara aku merasa terkucilkan dengan yukata sederhana, tidak membawa apa-apa selain dompet berisi uang logam yang kuselipkan di baliknya. Dari harga tiket itu, aku mengira-ngira bahwa Naruto juga merupakan anak dari keluarga bangsawan yang tidak mungkin memiliki sedikit uang. Aku tidak paham kenapa dia mengajakku, sosok yang sama sekali belum dikenalnya, daripada mengajak kawan-kawannya yang lain. Tetapi biarlah. Ini adalah kesempatan sekali seumur hidup, menikmati pentas drama di teater megah yang ternyata merupakan karya dari seorang dramawan terkemuka pada masa itu.

"Aku punya tambahan syarat," bisiknya sebelum tirai merah dibuka. Aku mendengarkan, menunggu dia melanjutkan bicara. "Kalau kau tidak suka dramanya, aku akan berhenti mengganggumu."

Memang begitu kesepakatannya.

"Tapi kalau kau suka, bertemanlah denganku."

Pertemanan kami dimulai dengan cara yang paling aneh (dalam sejarah hidupku). Kupikir selama ini dia membenciku karena dia selalu menggangguku. Aku tidak pernah memahami jalan pikirannya. Perlahan, kami mulai akrab dan membicarakan banyak hal; khususnya mengenai kesusasteraan Barat. Tidak kunyana rupanya dia gemar membaca. Dia menyukai cerita yang rumit, yang 'mengasah kemampuan berpikir', seperti cerita-cerita detektif—begitulah dia mengatakannya. Berkebalikan denganku yang lebih senang cerita sederhana, yang mengalir dan membuat seseorang bernostalgia.

Kami bertukar pikiran, berkunjung ke perpustakaan besar, menikmati masa muda tanpa kesia-siaan. Mulanya kukira aku akan menghabiskan kehidupanku selama dua tahun sebagai mahasiswa peneliti hanya dengan belajar dan belajar, ternyata aku menemukan kawan yang membawaku pada 'belajar dengan cara yang tidak membosankan'—berjalan-jalan dan berdiskusi, membagi pengetahuan.

Suatu sore, ketika Naruto berkunjung ke apartemenku, dia bertanya dari mana aku mempelajari bahasa Inggris. Itu pertanyaan konyol. Barangkali, memang benar, Jepang sempat sangat tertutup dan tidak ingin dicampuri oleh pengaruh Barat, tetapi itu sebelum restorasi dimulai, lebih tepatnya kisaran dua puluh tahun lalu. Dalam jarak itu, sudah dimulai sistem mahasiswa peneliti yang dikirim ke negara-negara Barat dan mempelajari segala sesuatunya, termasuk bahasa. Sejak kecil, aku gemar membaca. Dan mengetahui ada buku bacaan lain yang ditulis dengan beragam bahasa, membuatku tertarik mempelajari bahasa lain. Ayah menyewa guru khusus—Obito-sensei—untuk mengajariku bahasa Inggris. Dari pertanyaan konyol Naruto, sampailah aku pada cerita mengenai Sensei.

Sensei adalah sosok pria dengan perawakan kurus tinggi. Dia memiliki luka bakar di wajahnya akibat Perang Boshin ketika berumur dua puluhan. Pakaiannya lusuh tetapi bersih. Mungkin usianya kisaran empat puluh lebih. Sensei senang memanggilku bocchan barangkali karena dia merasa terhormat bisa mengajari anak bangsawan. Berkali-kali aku memintanya berhenti memanggilku begitu, tetapi dia tidak pernah mendengar. Naruto menyela dan bertanya arti dari bocchan; aku jawab sepertinya kalau di sini bisa diterjemahkan sebagai Young Master. Naruto pikir aku sangat kaya sampai bisa melanjutkan studi di Inggris, ditambah dengan sebutan bocchan. Itu pemikiran yang keliru.

Keluargaku cukup beruntung karena merupakan keturunan daimyo, meskipun di era Meiji ini daimyo sudah tidak memiliki hak atas tanah kepemilikan (diganti dengan upah sepuluh persen dari bekas wilayah kekuasaan yang kini menjadi milik kekaisaran). Era ini pula yang mengakhiri peran samurai. Secara perlahan, pendapatan keluarga menurun. Tidak ada pemaksaan upeti lagi kepada rakyat jelata, dan tidak tersisa seorang samurai pun yang mengabdi di keluarga kami. Mereka pergi entah ke mana, bisa jadi mati dalam Perang Boshin, atau menjadi ronin yang mengelana dari kuil ke kuil, tanpa tujuan hidup.

Bisa dibilang, keberuntunganku adalah hanya dari garis keturunan. Keluargaku tidak cukup kaya, hanya mengandalkan pemasukan dari bisnis perdagangan. Dan aku lahir beberapa tahun setelah restorasi dimulai, yang itu artinya aku tidak tahu menahu soal kehidupan era feodal keshogunan selain dari cerita-cerita Ayah dan peninggalan yang tersisa. Aku bisa studi di sini bukan karena keluargaku kaya, tetapi karena segala sesuatunya dibiayai oleh pemerintah. Dari sini, Naruto cukup paham mengenai kehidupanku di Jepang. Lalu, aku melanjutkan cerita soal Sensei yang sempat terpotong.

Selain mengajari bahasa Inggris, Sensei juga mengajariku menulis haiku (yang sampai saat ini masih kulakukan). Sesekali dia membawakan makanan saat datang, lebih sering membawa buku bacaan, salah satunya adalah The Adventures of Tom Sawyer. Dia menerjemahkan beberapa buku dan menunjukkannya padaku. Katanya, suatu hari, aku juga bisa menjadi penerjemah—atau bahkan penulis. Seseorang yang gemar membaca, biasanya juga gemar menulis. Dan memang benar demikian. Meski yang kutulis tidak jauh dari haiku.

Mengingat Sensei, mengingat bagaimana cara dia mengajariku, mengingat pula bagaimana cara dia mati. Di usiaku yang menginjak lima belas, Sensei melakukan seppuku sebagai bentuk pemberontakannya terhadap sistem pemerintahan. Aku tenggelam dalam kesedihan dan hari-hari kulalui dengan menulis haiku tentang Sensei.

Ketika musim gugur, menggugurkan dedaunan

menggugurkanmu

menjadi kering tulang-belulang

Naruto tertarik pada cerita mengenai kehidupanku. Dia menghabiskan waktu mendengarkanku berbicara. Aku tidak pernah banyak bicara selain dengan Naruto. Itu adalah keistimewaannya sebagai temanku satu-satunya di London. Ketika hari semakin larut, dia memutuskan untuk menginap. Kami tidur bersisian. Mula-mulanya tidak ada perasaan aneh malam itu, rasanya sama seperti ketika Sai, adikku—anak laki-laki dari gundik Ayah, menyelinap ke kamarku ketika hujan deras, dan berkata bahwa dia takut mendengar petir, lantas masuk ke dalam futon dan tidur memelukku erat. Tidak ada perasaan aneh selain karena Naruto adalah orang asing.