Fragments of Loneliness

iii. Teater


Keanehan itu tetap berlanjut, perlahan-lahan. Pertemanan kami terasa lebih intens setiap harinya. Aku bertanya-tanya pernahkah aku memiliki kawan sedekat ini selain Naruto? Mungkin saja karena perbedaan budaya kami, atau memang ada sesuatu yang tersembunyi di baliknya. Aku enggan berpikir terlalu jauh. Tapi aku tetap berpikir jauh—ya, bagaimana tidak? Ada yang tak lazim dari tatapan matanya. Aku mengenali tatapan mata semacam itu, meski rasanya kurang sopan kalau kukatakan padanya secara terang-terangan untuk jangan terlalu menempel padaku.

"Kau mungkin tidak tahu, tapi sudah beredar rumor kalau Sir Oscar ada hubungan dengan Lord Alfred," ungkap Naruto, membuka keheningan kami. Aku tengah membaca dan tidak begitu fokus mendengar ucapannya—siapa peduli. Aku mulai risih dengan kenyataan bahwa dia mengikutiku nyaris setiap hari, entah itu di universitas ataupun setelahnya. Dia tetap melanjutkan bicara tanpa peduli aku meresponsnya atau tidak. Lanjutnya, "ya, walau demikian, mereka tetaplah teman. Puisi dan drama, meskipun berbeda, tetapi sekiranya mereka masih berada di atas panggung yang sama—panggung kesusasteraan."

Naruto menopang dagu, menatapku, seperti memintaku untuk berhenti menaruh perhatian pada buku. "Apa kau mengenal Gaara?"

Dia memaksaku berpikir. "Gaara?"

"Ya. Gaara. Laki-laki berambut kemerahan, yang matanya hijau itu, yang mungkin mengingatkanmu pada tukang sihir."

"Memangnya kenapa?"

"Dengar," katanya, penuh penekanan, membuatku agak heran. "Orangtuanya punya bisnis foto, banyak orang-orang terkenal yang datang pada keluarganya untuk dibuatkan foto. Kau paham?" Apanya? Meski bingung, aku tetap mengangguk. "Harusnya kau paham bahkan sebelum aku menyelesaikan kalimat terakhir!"

Aku menatapnya kesal. Kadang dia begini. Maksudku, merasa bahwa semua orang memahami isi kepalanya. Kalau tidak, dia akan mencemooh dengan pandangan menjijikkan, seolah-olah orang lain yang tidak menangkap maksud omongannya adalah orang yang amat sangat bodoh. Tidak jarang dia lakukan itu padaku, yang membuatku sering mempertanyakan benarkah laki-laki ini tulus berkawan. Sifatnya ini pula yang sering kali membantah pemikiranku yang terlalu jauh soal perlakuannya.

"Katakanlah tidak semua orang paham apa maksudmu." Aku agak marah.

"Tidak, bukan begitu. Maksudku, keluarganya kedatangan Sir Oscar dan Lord Alfred. Mereka berfoto berdua dengan gaya sok bangsawan—" Naruto menekankan kata 'sok' membuatku semakin tidak tertarik pada apa pun yang dikatakannya. "—dan, ya, ayahnya melihat mereka berpelukan dan berbagi ciuman. Tidak ada yang bisa ayahnya lakukan karena dia bukan siapa-siapa. Kau mengerti, Sasuke? Sudah sepatutnya mereka kena hukum."

"Kena hukum?"

Naruto tertawa keras. "Oh, astaga!"

Kekesalanku telah melewati batas. Lekas aku pergi tanpa mengatakan apa-apa. Naruto memanggil namaku berkali-kali, memaksaku untuk kembali dan mendengarkan pembicaraan tidak jelasnya. Aku masa bodoh. Kutinggalkan dia sendiri dan berjalan-jalan tanpa tujuan. Sebab, aku tahu dia mungkin datang ke apartemenku, menungguku pulang untuk kemudian marah-marah (setidaknya itulah yang terlintas dalam kepalaku). Benar saja. Aku pulang jam delapan, Naruto sudah berdiri di depan pintu apartemenku. Tatapannya sayu seperti anak anjing yang dilupakan majikannya. Ayo berbaikan. Ucapannya terdengar memohon. Aku menghela napas dan membiarkannya memelukku.

"Aku paling benci dianggap bodoh." Aku berkata jujur padanya.

"Mana mungkin. Aku tidak pernah menganggapmu bodoh."

"Tatapanmu mengatakannya."

"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud."

Aku membuatkannya secangkir teh. Kami minum bersama-sama dalam keheningan yang aneh. Dia mencoba membuka kembali topik yang sebelumnya dibahas, dengan bahasa yang lebih jelas. Intinya ada hubungan tak lazim antara A dan B, dan keduanya adalah laki-laki. Itu melanggar hukum dan seharusnya masuk penjara. Apa yang dipikirkan orang-orang semacam itu? Aku membagi cerita yang kuketahui mengenai seni teater kabuki, yang pemainnya didominasi oleh laki-laki dan mereka berdandan menyerupai perempuan. Banyak di antara mereka yang melayani tamu pria dewasa. Itu hal biasa, tidak ada yang mempermasalahkannya. Kalau dipermasalahkan, kabuki bisa mati kehilangan pemain. Sempat ada larangan homoseks tetapi larangan itu tidak bertahan lama. Tidak ada yang peduli dengan urusan kelamin orang.

"Apa kau menentangnya, Sasuke?"

"Kenapa aku harus menentangnya?"

Tatapan itu lagi-lagi dia tujukan kepadaku. Bukan tatapan menghina, melainkan tatapan tak lazim yang membuat dadaku berdesir tidak menyenangkan.

"Besok," katanya, "ayo kita beli pakaian bagus buatmu—dan kalau kau tidak keberatan, sekalian memotong pendek rambutmu."

Aku heran kenapa aku mengiyakan.

#

Dosa terbesarku terjadi setelah itu (kalau ini bisa dikatakan sebagai dosa). Aku merasa tidak mengenal diriku sendiri. Di dalam pantulan cermin, aku seperti berhadapan dengan orang lain. Rambut pendek dibuat klimis. Mengenakan pakaian khas orang-orang Inggris. Setelan jas hitam elegan yang panjang mencapai lutut dengan kemeja berenda aneh di bagian leher. Tongkat kecil yang tidak kupahami fungsinya. Dan tentu saja topi fedora sebagai pemanis. Naruto menyulap penampilanku sedemikian rupa.

Naruto mengajakku menonton drama (lagi) di teater yang sama seperti pertama kali kami berteman. Setelah kupikir-pikir, bisa jadi sudah lewat setahun lebih sejak terakhir kali kami menonton drama. Kami duduk di barisan tengah. Seorang Lady menghampirinya dan menyapa sebentar. Wajahnya amat cantik dengan mata biru bersinar, seperti mata Naruto.

Ketika drama dimulai, aku tak dapat memfokuskan pikiranku. Tidak pula kupahami alur ceritanya. Penonton tertawa dan bertepuk tangan penuh antusiasme. Aku semakin tidak fokus. Fokusku hanya pada tangan Naruto, tangannya yang meremas tanganku erat. Aku mencoba menatap matanya. Seolah terfokus pada alur drama, dia amat memperhatikan panggung. Bagaimana bisa dia melakukan ini padaku. Kucoba menghindar dan tangannya berakhir menangkapku lagi. Meremas. Dadaku berdebar. Aku keringat dingin. Mestinya kukatakan kepadanya secara terang-terangan untuk tidak terlalu menempel padaku.

Sepulang dari teater, dia berkunjung ke apartemenku dan mencium bibirku penuh nafsu. Didorongnya aku ke dinding, membuatku terhimpit. Kepalanya dimiringkan, aku kaku kebingungan. Kenapa aku menerima saja perlakuan itu. Barangkali karena tiba-tiba terlintas kenangan masa kecilku yang aneh, yang membuatku mempertanyakan banyak hal. Kenangan aneh dengan sensasi yang sama-sama menjijikkan.

Sasuke. Sasuke. Dia mengerang memanggil namaku. Aku megap-megap. Pada akhirnya, pakaian yang dibelikan Naruto berserakan di lantai. Dan aku bak cacing yang meliuk-liuk gelisah karena terpaan panas.