IV. Suigetsu


Biar kuceritakan kisah menjijikkan yang terjadi padaku pada musim semi tahun 1880, yang terbayang kembali ketika Naruto menciumiku. Usiaku baru delapan waktu itu. Pernah kuceritakan soal ronin yang kulihat di Kuil Taisha setahun sebelumnya, yang menginspirasiku untuk memanjangkan rambut. Kuceritakan hal itu pada Suigetsu, kawanku. Dia tiga tahun di atasku. Dia bertanya hasrat semacam apa yang membuatku mengagumi ronin tersebut. Aku tidak memahami pertanyaan itu—maksudku, tidakkah mengagumkan mendengar cerita seorang ronin yang berjanji tidak akan pernah memotong rambutnya sebagai bentuk kesetiaannya kepada tuannya yang sudah meninggal?

"Dia punya alasan kuat. Kau tidak."

"Aku punya! Karena aku amat kagum padanya."

Seperti kebanyakan anak-anak yang bodoh dan gampang marah, kami bertengkar. Dia melemparkan batu dan membuat keningku berdarah. Aku menangis sejadi-jadinya tetapi tidak ada sesiapapun yang mendengar tangisanku—atau sebenarnya mereka tidak peduli—selain Sensei. Sensei menjemput dan menuntunku pulang. Aku dapat melihat Suigetsu yang bersembunyi di balik pohon kastanye. Dan seperti kebanyakan anak-anak pula, kami berbaikan dengan mudah. Suigetsu bertanya soal Sensei. Aku mengajaknya untuk belajar bersama. Dia menolak dengan alasan tidak ada gunanya menjadi pintar, lebih baik bekerja menghasilkan uang.

"Naa, Sasuke, apa kau tahu ada hutan di belakang perkampungan ini?"

"Itu hutan terlarang. Banyak yang bilang di sana dipenuhi oleh iblis."

Suigetsu tertawa. "Kau percaya?" aku mengangguk. "Bagaimana bisa kau percaya tanpa kau sendiri melihatnya?"

"Tidak ada siapa pun yang berani masuk ke sana. Kau tidak berpikiran untuk ke sana, kan?"

"Ha! Kau meremehkanku. Aku bukan penakut sepertimu."

"Aku tidak penakut!"

"Kalau begitu, ayo kita buktikan!"

Kami pergi ke hutan itu tanpa pikir panjang. Memang tolol sekali. Membutuhkan waktu kisaran dua jam untuk sampai di perbatasan desa. Aku tidak melihat apa pun yang menyeramkan. Kami masuk perlahan menyisiri pohon-pohon tinggi. Suigetsu berkata bahwa di hutan ini suatu hari pernah ditemukan mayat seorang pria, dan kuda yang mati terpotong lehernya. Entah siapa yang menemukan mayat itu, kalau orang-orang pun enggan masuk ke dalamnya. Tetapi sebagai anak kecil berpikiran pendek, aku tidak mengajukan pertanyaan rumit.

"Kau katakan pada ayahmu, bahwa keberanianmu melebihi dia," kata Suigetsu.

"Untuk apa?"

"Karena ayahmu cuma berani menggertak orang miskin. Mana mungkin terpikir dalam kepalanya untuk memasuki hutan ini."

Aku paham banyak yang tidak suka pada ayahku. Aku pun tidak suka padanya. "Dia bukan tidak berani masuk, tapi mungkin dia berpikir itu tidak ada gunanya dan terdengar bodoh."

"Ayo kita kembali. Tidak ada apa pun yang menarik di sini."

Aku setuju dan mengekor di belakangnya. Sialnya, kami tersesat di tengah-tengah hutan rimba. Segalanya tampak sama bagi kami dan rasanya kami hanya berputar-putar. Suigetsu mulai gelisah, terlebih ketika matahari semakin tenggelam. Aku gemetaran antara takut dan lapar. Aku ingin menangis tapi aku tidak ingin dianggap cengeng. Hari benar-benar gelap dan kami putus asa. Suara semak-semak membuat kami takut. Bagaimana kalau ada hewan buas? Suigetsu memegang tanganku erat ketika aku mulai terisak.

"Mungkin hutan ini terlarang bukan karena ada iblis di dalamnya, tetapi karena sekali kau masuk, hutan ini tidak akan membiarkanmu bisa pergi ke luar." Suigetsu mengatakan itu dengan suara gemetar. Kami terisak bersama. Malam barangkali telah mencapai puncaknya. Aku kedinginan, kelaparan, ketakutan. Suigetsu pun demikian. Sesekali kami saling pandang. Tidak ada yang bisa kami lakukan. Setidaknya, ayo kita cari sumber air. Suigetsu menuntunku untuk mencari sumber air. Tidak ada suara gemericik sungai sama sekali, yang terdengar hanya suara-suara burung dan gesekan daun-daun.

"Mungkin kita bisa memakan buah yang kita temukan di sini."

Aku menggeleng. "Kita tidak tahu kalau buah itu beracun."

Kami duduk di bawah pohon besar, saling memeluk lutut. Suigetsu meremas tanganku. Aku menggigit bibir.

"Aku mau pipis."

Suigetsu menahan tanganku. "Sasuke, maafkan aku. Aku sangat haus." Aku bingung ketika dia menyibakkan pakaianku dan mengulum penisku. Aku pipis. Ada sensasi banal yang kurasakan. Membayangkan air seniku masuk ke tenggorokan Suigetsu, membayangkan pula bagaimana rasanya. Aku menelan ludah, ingin muntah.

Kami tidak bicara lagi. Aku tidak tahu mau bicara apa setelah kejadian minum air kencing. Kami tidur dengan kepala saling bersandar. Aku dibangunkan oleh suara derap kaki kuda. Ayah datang menemukan kami. Ada kemurkaan di mukanya. Andai tidak ada warga desa yang melihatmu pergi kemari! Dia menampar pipiku keras sehingga membuatku jatuh tersungkur. Aku dihukum tidak boleh keluar rumah selama satu bulan. Hari-hariku hanya dilalui bersama Sensei. Sensei membesarkan hatiku. Katanya, menghabiskan waktu dengan belajar lebih menyenangkan, apalagi membayangkan kalau aku sudah menguasai bahasa Inggris dan bisa melahap buku apa pun yang aku suka.

Selama satu bulan itu, tidak terdengar kabar mengenai Suigetsu. Pikirku mungkin dia sibuk membantu ibunya bekerja. Setelah masa hukuman berakhir, barulah aku mendengar kabar tentangnya. Dia meninggal karena sakit malaria, beberapa hari setelah insiden di hutan terlarang. Tapi aku tidak percaya begitu saja. Aku menaruh curiga pada Ayah. Ketidak-sukaanku terhadapnya semakin membesar, menjadi benci. Terlebih ketika beberapa bulan kemudian Ayah membawa Kazu, seorang anak laki-laki hasil dari perselingkuhannya, dan membuat sikap Ibu berubah menjadi lebih dingin.

Hatiku perlahan-lahan mengeras. Aku tidak melakukan apa pun ketika melihat banyak bekas luka di tubuh Kazu. Bagiku, itu adalah hukum karma karena kehadirannya membawa masalah baru. Aku amat benci ketika Sensei menaruh perhatian padanya. Setelah sekian tahun, kekesalanku karena kehadirannya perlahan berubah menjadi kasihan. Dia hanya bocah malang. Ibunya mati dan dia dipaksa tinggal bersama kami, dengan siksaan fisik serta batin. Hatiku yang terlanjur mengeras tidak melakukan apa-apa untuk menolongnya keluar dari penderitaan. Bahkan setelah kematian Sensei, aku tidak menangis dan hanya menyendiri menulis haiku, tenggelam dalam kesedihan yang kusembunyikan rapat-rapat.