Fragments of Loneliness

v. Sai


Aku tidak ingin Naruto datang mengacaukan pernikahanku dengan Hinata. Lebih dari itu, aku tidak ingin Ayah mengetahui rahasia terbesarku. Bisa saja Ayah merencanakan hal mengerikan untuk menyingkirkan Naruto, meskipun kemungkinan itu amatlah kecil. Selama ini aku cukup tenang hidup dalam kepura-puraan. Tidak ada yang kurasakan selain perasaan muak.

Di hadapan meja kayu, aku duduk memandang kertas kosong serta tinta di sampingnya. Sesekali pandanganku mengarah ke taman di halaman belakang rumah (sengaja kubuka pintunya lebar-lebar, agar pikiranku lebih segar). Hinata menyiapkan secangkir teh tanpa kuminta. Setelah resmi menjadi istriku, sikapnya sedikit banyak berubah. Dia tidak lagi terlalu cerewet. Barangkali karena sekarang kami hanya hidup berdua, jauh dari keluarga besar sehingga tidak ada kegiatan apa pun yang menarik untuk dia ceritakan. Hinata duduk di sampingku seraya memeluk nampan. Pandangannya sama terarah pada taman.

"Pohon bonsai itu menjadi agak sedikit besar," katanya. Dia amat menyukai kegiatan bercocok tanam. Kepiawaiannya mengurusi tanaman pun terbukti dari banyaknya bunga-bunga yang bermekaran. Dia sempat menceritakan soal hobinya padaku sewaktu kami belum menikah. Saat itu rasanya aku terlalu angkuh untuk peduli pada apa pun yang dikatakannya. Aku merespons singkat. "Bukankah besok jadwalmu libur?" tanyanya.

"Ya." Aku berpikir sejenak. "Mau jalan-jalan?"

Hinata tampak senang. Senyuman langsung terukir di bibirnya. "Tentu saja." Dia katakan kepadaku hendak pergi berbelanja untuk bekal besok. Dia masih lugu, seperti anak-anak. Hal-hal kecil bisa dengan mudah membuatnya bahagia, meskipun sebenarnya jalan-jalan adalah agenda kami setiap akhir pekan atau pada saat aku libur mengajar. Jalan-jalan kami tidak selalu pergi ke tempat jauh. Kadang hanya berkeliling pedesaan, mengunjungi kuil-kuil, makan bersama di bawah naungan pohon rindang. Apa saja. Kegiatan itu tampaknya hanya dilakukan oleh pasangan tua. Aku sendiri pun merasa heran. Pikirku, di bulan-bulan pertama setelah pernikahan, suasana rumah akan dipenuhi oleh gairah seks yang menggila. Tetapi rupanya tidak begitu.

Pandanganku kembali terfokus pada kertas.

Kuncup bunga mekar;

menghangatkan hati

kau dan aku

Apakah aku memikirkan Hinata ketika menulis haiku itu, atau justru Naruto. Seketika, aku merasa konyol. Aku seakan bisa melihat senyumannya; Naruto. Dia duduk di hadapanku, bertopang dagu seperti biasa, dengan sorot mata tak lepas dariku. Walau kadang perasaan benci kurasakan untuknya, tetapi di lain waktu kebencian itu menjadi samar dan terlupakan. Apa yang sedang Naruto lakukan sekarang? Jauh dariku, dia pasti merasa kesepian. Pernah diceritakannya kepadaku bahwa hanya aku kawan satu-satunya yang tulus. Kawan-kawannya sebelum ini hanyalah orang-orang yang mendekatinya karena mengetahui status keluarganya. Aku amat memahami perasaan Naruto, karena kami berada di posisi yang sama.

Sosok kawan bagiku barangkali tidak lepas dari Sensei—dan Suigetsu. Dan keduanya sudah tiada. Mereka yang menganggapku teman di perguruan tinggi tidak lebih dari topeng kasta. Mereka merasa sudah sepatutnya bangsawan berteman dengan bangsawan. Ketika sebagian dari kami lulus dan aku dikirim ke London, tali pertemanan itu lenyap seolah tidak pernah ada.

Dalam lamunanku, aku mendengar suara pintu diketuk. Dadaku berdebar karena barusan memikirkan soal Naruto. Apa jadinya kalau orang yang mengetuk pintu itu adalah dia? Aku menyiapkan hatiku sebelum lekas berdiri dan melangkah membuka pintu. Itu adalah pemikiran konyol yang tentu saja tidak mungkin terjadi. Di hadapanku Sai berdiri membawa kain besar di belakangnya.

"Nii-sama, Ayah memintaku untuk tinggal di sini. Mungkin aku bisa bantu-bantu." Tatkala mengatakan itu, tatapannya terlihat gelisah. Sai enggan menatapku.

"Apa ada masalah di rumah besar?"

"Tidak, tidak ada."

Aku mempersilakannya masuk. Aku hendak menyiapkan teh untuknya tetapi dia menolak. Dia tidak ingin merepotkanku. Aku segera menjelaskan duduk perkaranya. "Sekarang aku sudah punya istri. Keputusan semacam itu tidak bisa hanya aku saja yang putuskan, atau hanya Ayah saja. Aku tidak punya masalah dengan itu. Tapi kalau-kalau istriku menolak, aku tidak bisa melakukan apa-apa."

"Aku mengerti."

Hinata muncul beberapa menit kemudian dan terkejut dengan kedatangan adikku. Kujelaskan padanya mengenai kedatangan Sai dan maksud Ayah mengirimnya kemari. Hinata menatap tak yakin, tetapi tampaknya dia pun gelisah karena merasa tidak enak padaku kalau dia tidak mengizinkannya.

"Ya, aku tak masalah," katanya, sebelum berlalu ke dapur dengan wajah muram.

Aku ada acara malam itu. Acaraku sendiri, sebetulnya. Hanya ingin menonton kabuki, berhubung Hinata tidak begitu suka. Aku tidak ingin meninggalkan Sai dan Hinata berduaan saja di rumah, maka aku mengajak Sai keluar bersama. Kami menonton kabuki dan bisa kupastikan dari pancaran matanya bahwa itu adalah kali pertama dia melihat pertunjukan semacam ini. Dia amat jarang keluar. Sehari-hari dia sudah seperti pembantu di rumah besar. Aku menerka-nerka, kalau memang benar Ayah mengirimkan Sai kemari dengan alasan bantu-bantu, bukankah sebenarnya Ayah membebaskan dia dari penderitaan? Itu tidak mungkin.

Kami pulang sebelum pukul sembilan. Karena lapar, di perjalanan pulang, aku melihat ada kedai mi soba dan memutuskan untuk makan di sana. Tetapi itu tidak benar-benar terjadi. Kedai itu cukup terpencil di pojokan agak gelap. Tatkala kusibak tirai noren, aku melihat bayangan yang sangat kukenal tengah duduk menyantap seporsi mi soba seraya merangkul seseorang. Aku mundur dan berkata pada Sai sebaiknya kita makan di rumah saja, siapa tahu Hinata menyiapkan makan malam selagi menunggu kita pulang. Sai tampak bingung. Dia tidak mengatakan apa pun, menurut saja.

Hinata sungguh-sungguh menyiapkan makanan untuk kami. Aku merangkak ke kamar mendekati pukul sepuluh. Hinata telah terlelap di balik futon. Aku membaringkan diri di sampingnya. Perasaan jijik itu kembali merayap memenuhi hatiku. Aku melihat Ayah. Entah apa yang dia lakukan di sini—bersama seorang kagema. Aku amat yakin sosok yang dirangkul Ayah adalah pelacur kabuki. Aku tidak menyangka rupanya selain memelihara gundik, dia juga menyembunyikan seorang pemuda. Kebencianku semakin memuncak. Ketika lengan Hinata meraba-raba, aku berbalik arah memunggunginya dan pura-pura tidur. Hatiku lagi-lagi mengeras.