VI. Aku dan Kesepianku


Teruntuk kawanku, Naruto.

Maaf karena baru sempat membalas surat-surat darimu. Bukan aku tak ingin membalas, aku hanya sedang disibukkan oleh pekerjaan baru sebagai pengajar dan mempersiapkan acara pernikahanku. Barangkali kau bisa datang bulan Agustus nanti? Agaknya terlalu muluk berharap kau datang. Tetapi, sekiranya, kita sama-sama tahu soal hasrat ingin bertemu. Ketahuilah bahwa aku cukup tersiksa membaca suratmu. Aku juga rindu.

Omong-omong, bagaimana kabarmu?

Salam,

Sasuke.

Ketika menulis surat balasan itu, aku tidak benar-benar mengharapkan dia datang—hanya basa-basi biasa, seperti bagaimana aku menangani seseorang dengan mulut manisku (boleh dikata). Aku hanya berharap dia berhenti mengejarku setelah dia membaca kalimat soal acara pernikahan. Tentunya dia berpikir hubungan kami tidak punya masa depan. Kami terpisah sangat jauh, terkendala oleh banyak hal. Mungkin dia merenung ketika membaca surat dariku, lalu berpikir untuk melanjutkan hidup seolah tak pernah ada aku. Tidak ada gunanya, pikir Naruto, barangkali. Demikianlah kesimpulan yang kuambil mengenai alasan kenapa dia tidak membalas suratku bahkan setelah aku menikah.

"Kau tampak gelisah." Suara lembut Hinata terdengar di belakangku. "Apakah ada sesuatu? Tiba-tiba berkunjung ke rumah besar seorang diri, kau bahkan tidak ingin ditemani."

Aku baru kembali dari rumah besar. Urusanku tidak lain dan tidak bukan ialah soal Sai.

#

Kutanyakan kepada Ayah apa maksud dibalik dikirimnya Sai padaku. Ayah menggaruk-garuk dada, cerutu terselip di sudut bibirnya. Tampak jelas pria tua itu pun kebingungan. Dia hanya berkata; kau tahu, Sasuke, ibumu… dan tidak melanjutkan kalimatnya, seolah aku dapat mengetahui dengan pasti.

"Setidaknya carikan dia pekerjaan. Mungkin dengan begitu, dia bisa menyewa rumah sendiri dan hidup dengan tenang tanpa tergantung pada keluarga kita."

Ayah menghela napas. "Pekerjaan ya…" ia menaruh cerutunya. "Walau bagaimanapun, dia itu adikmu," lanjutnya tidak nyambung.

Aku tidak merespons kalimat terakhirnya. "Ya, pekerjaan. Aku yakin dia lebih senang begitu. Mungkin Ayah punya rekomendasi pekerjaan untuknya—menjadi aktor kabuki, barangkali?"

Aku memang sengaja memancing mengingat kejadian beberapa hari lalu, ketika aku tak sengaja melihat Ayah tengah mojok dengan seorang kagema. Biar tahu rasa dia. Tatapan mataku membuatnya tak nyaman. Dia segera mengalihkan pembicaraan dan memberiku sebuah lukisan gulung kesukaannya. Aku paham sekali, dia memang pandai bernegosiasi. Dimintanya aku melihat keadaan Ibu, diakhiri dengan kepastian soal mencarikan pekerjaan untuk Sai. Biar kupikirkan, aku banyak teman yang bisa memberikan pekerjaan untuknya, pungkasnya sebelum aku menggeser pintu.

Aku mengunjungi Ibu di ruangan terpisah. Ibu tengah duduk dengan secangkir teh hijau di sampingnya. Shizune, pembantu di rumah besar, menyambut kedatanganku lebih antusias ketimbang Ibu. Dia bertanya soal pernikahanku lalu pergi ke belakang untuk membuatkanku minuman. Aku duduk di samping Ibu yang tampak tak peduli pada apa pun. Ibu terdiam, pandangan matanya kosong. Aku memanggil lembut. Ia menoleh dan seolah terkejut, tidak menyangka aku berada di sampingnya sejak tadi.

"'Suke, kita harus segera bicara soal harta warisan," desaknya tiba-tiba.

"Ada apa dengan harta warisan?"

"Kalau aku mati lebih dulu, aku tidak tahu apa yang bakal ayahmu lakukan. Bagaimana kalau dia memberikan seluruh hartanya pada anak tidak tahu diri itu? Aku tidak ingin itu terjadi."

Shizune menaruh minuman untukku dan mengulas senyuman sedih. Ibu telah berubah terlalu banyak. Kerutan di wajahnya semakin terlihat, dengan kantung mata tebal dan rambut yang mulai memutih. Dia menjadi jauh lebih tua sudah pasti karena efek banyak pikiran. Ibu tampak menyedihkan. Aku menggenggam tangannya, mencoba menenangkan.

"Aku sudah bicara soal itu dengan Ayah. Tidak ada yang perlu Ibu khawatirkan. Lihat, Ayah bahkan memberiku lukisan gulung kesukaannya."

Ibu percaya pada kata-kataku. Tak memakan waktu lama, aku pamit pulang. Ibu terlihat sedih melihat kepergianku. "Sering-seringlah datang kemari. Ibu kesepian." Dan Shizune memberiku dango untuk dibawa pulang. Untuk istrimu, katanya.

#

Demikianlah.

"Kenapa kau diam saja?" Hinata menegurku. Aku memijat kening.

"Tidak ada apa pun yang terjadi. Aku hanya sedikit memikirkan nasib adikku kalau dia sudah mendapat pekerjaan."

"Kau tidak perlu mengkhawatirkannya, suamiku. Bukankah dia sudah cukup dewasa? Berapa umurnya sekarang?"

Aku terdiam, menyadari bahwa aku tidak tahu menahu soal Sai. "Mungkin delapan belas."

"Nah. Sudah sangat matang untuk bekerja."

"Kau benar." Aku mengambil lukisan gulung yang diberikan Ayah, kutunjukkan pada Hinata. "Ayah sangat menyukai lukisan ini. Sekarang dia menurunkannya padaku. Bagaimana menurutmu?"

Hinata memandangi lukisan tersebut. "Ya, boleh juga. Biasanya pelukis melukis bebungaan, atau ya, kau tahu, ombak. Baru kali ini aku melihat lukisan seorang samurai, lengkap dengan pedangnya dalam gaya bertarung."

Tiba-tiba aku teringat cerita Ayah mengenai seorang samurai yang dahulu pernah melayani keluarga kami. Aku menceritakan hal itu kepada Hinata. Dalam hati, aku bertanya-tanya, apakah hubungan di antara Ayah dan samurai itu memang hanya sebatas kawan, mengingat, lagi-lagi, soal apa yang kulihat di kedai mi soba. Hinata terlihat senang mendengar cerita itu dan bertanya mengenai keberadaan samurai tersebut sekarang. Aku tidak tahu di mana dia—bahkan aku tidak tahu bagaimana wajahnya. Aku hanya mengetahuinya dari cerita-cerita yang dituturkan Ayah.

"Seingatku, sebelum kita bertemu, Ayah Mertua mengatakan kalau rambutmu panjang, seperti samurai saja. Selama menunggu kepulanganmu dari London, aku terus menerus membayangkan akan menikah dengan seorang samurai. Sejujurnya aku agak terkejut melihat rambutmu ternyata pendek," ungkap Hinata, diselingi tawa kecil.

"Apa kau kecewa?"

Hinata kembali tertawa. "Tidak mungkin. Aku justru menyukai pria rambut pendek."

Aku tersenyum. Kembali, aku gulung lukisan itu.

"Apa yang membuatmu memutuskan memotong rambutmu?"

Tak terasa, aku meremas lukisan gulung itu. Aku berpikir apa yang membuatku berani memotong pendek rambut yang sudah kupanjangkan selama bertahun-tahun. Hanya dari satu kalimat ajakan seseorang, lantas aku menyetujuinya begitu saja. Apa yang kupikirkan waktu itu? Aku hanya melihat tatapan mata Naruto yang tak lazim—yang secara mengejutkan, begitu menenangkan, meneduhkan. Sepasang mata biru yang amat indah, ditambah bulu mata yang lentik. Ditatap sedemikian teduh, kepalaku terasa buntu. Bisa jadi aku berpikir; aku ingin memulai kehidupan baru dengan lelaki ini. Dan simsalabim! Aku mengangguk tatkala dia memintaku untuk memotong rambut.

"Aku hanya ingin cari suasana baru," jawabku tidak yakin. Hinata tidak membahas lebih jauh.

Aku tidak bisa tidak memikirkan Naruto sejak perbincangan itu. Banyak hal yang telah terjadi di antara kami selama aku berada di London. Aku tidak bisa menganggapnya sebagai 'kekasih' karena tidak ada perbincangan apa pun mengenai hal itu, meski dari luar kami seolah sama-sama tahu bahwa tak pentinglah apa status ikatan kami. Aku hanya tahu kami berkawan dengan bonus ciuman-ciuman. Ciuman dan persetubuhan yang kadang membuatku jijik, tetapi tampaknya aku mulai terbiasa. Atau sebenarnya aku ini munafik, tidak bisa menafikan kenikmatan di atas rasa jijik.

Ketika semakin dekat masa penelitianku berakhir, Naruto semakin mencemaskan hubungan kami. Dia menjadi menyebalkan dan sangat mengatur. Setiap hari aku harus bersamanya, tidak boleh tepisah barang satu jam. Dia selalu menginap di apartemenku dan memaksaku untuk patuh padanya. Aku seperti tidak memiliki kuasa atas diriku sendiri. Lalu, tatapan mata itu perlahan berubah. Itu adalah tatapan hewan yang menemukan mangsanya. Aku dibuat gelisah, takut akan bayangan-bayangan mengerikan yang kuciptakan sendiri.

Ada malam-malam ketika dia berbuat kasar, membuat ketakutanku semakin besar. Rasa cintanya kepadaku berubah menjadi ambisi untuk menguasaiku sepenuhnya. Secara perlahan pula, perasaanku terhadapnya lenyap. Aku bahkan tidak mengerti bagaimana harus mendefinisikan perasaanku untuk Naruto. Aku tidak terobsesi padanya. Aku hanya merasa senang karena dia amat bergantung padaku, seolah dia tidak dapat hidup kalau aku tidak di sampingnya.

"Apa yang terjadi padaku kalau kau pulang? Jangan pulang, Sasuke. Aku akan membangun istana untuk kita di sini kalau perlu. Asal kau tidak pergi." Saat itu, satu minggu sebelum aku kembali ke Jepang. Bajingannya aku, karena merasa lega akan terlepas dari Naruto. Aku menghiburnya dengan kata-kata manis, sebagaimana sifatku yang paling kubenci dan kuandalkan ini. Sering kali aku bertanya-tanya, apa yang membuat Naruto begitu cintanya—begitu terobsesinya—padaku. Aku tidak merasa memiliki keistimewaan. Hal ini pula yang kutanyakan pada diriku sendiri setelah melihat tatapan Hinata yang artinya kurang lebih sama dengan tatapan Naruto sebelum ini.

Naruto mengantarkanku ke pelabuhan. Dari perpisahan terakhir kami, dapat kulihat wajah depresinya yang tak rela melepas kepergianku. Aku melambaikan tangan. Dalam pikiranku, suatu hari aku akan merindukan lelaki ini—dan bukan saat ini, karena aku begitu bersyukur bisa lepas darinya. Apa yang bisa dia lakukan tanpa aku? Kubayangkan dia pergi ke perpustakaan seorang diri, tidur meringkuk seperti bayi, menikmati teh di depan jendela sambil memikirkanku dan betapa dia telah kehilangan dirinya sendiri. Naruto menjadi pria kesepian, sebagaimana aku selama ini yang selalu merasa sendiri meskipun sedang bersama seseorang.

Kemudian, seolah tercerahkan, aku teringat pada surat balasan yang kukirimkan padanya sebelum acara pernikahanku dengan Hinata. Beberapa waktu lalu, ada surat datang. Kupikir Naruto benar-benar lenyap dan tidak akan mengirimkan surat padaku lagi. Aku yang memang pengecut, belum berani membuka surat itu. Tapi hari ini aku akan membukanya. Tanpa pikir panjang, aku merobek amplopnya. Aku buka dan kubaca. Itu adalah suratku sendiri. Suratku tidak sampai padanya dan dikembalikan padaku.

Dadaku berdebar kencang. Mataku nyalang. Kulihat bagian belakang sobekan amplop cokelat tua itu. Dan betapa aku tidak bisa menahan kesedihanku.

Cap tulisan di belakang amplop surat:

[DECEASED]

Ketika menulis surat balasan itu, aku tidak benar-benar mengharapkan dia datang. Sekarang, aku sangat berharap dia ada di sini. Atau sebetulnya dia sudah ada di sini, melihat kehidupanku setelah menikahi seorang perempuan dari kalangan bangsawan, berlagak hidup tenang dan bahagia. Meski jauh di dalam palung jiwaku, aku semakin merasa tersisih dan menyendiri. Setiap hari, aku dipenuhi oleh pertanyaan bagaimana bisa Naruto mati tanpa penjelasan apa pun. Aku terus mencari tahu alasan dibalik kematiannya. Apakah dia mati dalam keadaan bahagia—ataukah menderita karena kering dirayap kesepian. Dan aku mempertanyakan hal yang sama pada diriku sendiri: apakah aku akan mati karena kesepian pula? Sebab, aku tidak pernah benar-benar merasa bahagia.[]


Edited: 11:03 PM

5/17/20

A/N:

Terima kasih bagi yang membaca sampai akhir. Terima kasih pula kepada siapa pun yang mengapresiasi karya saya ini.