.
Dan ia takut. Ia sungguh ketakutan sekarang.
"Dia dan pasukannya di serang saat sedang melakukan pengiriman bantuan perbekalan ke tempat pasukan lain. Mereka di sergap di perjalanan."
.
.
Author Ela_JungShim presents
An Alternate Universe FAN-FICTION
"COME HOME"
Pairing : HoMin (Jung Yunho X Shim Changmin)
Rate : T
Length : 2 of ? (sorry it should be twoshoot but it still hasn't end yet)
Desclaimer : They're belongs to GOD, themselves and DBSK/TVXQ/ToHoShinKi. Yang Ela punya hanya plot fanfic, ide gila dan cinta buat TVXQ!
Warn : TYPO's, Soldier!Jung, Soloist!Shim
This is HOMIN Fanfiction. Jadi pair utamanya adalah HOMIN. Bagi yang tidak suka, silahkan angkat kaki dari fanfic ini. Simple.
.
.
.
.oOHOMINOo.
.
.
.
Dingin seolah merambati setiap sel di dalam tubuhnya. Benaknya sudah membayangkan kemungkinan yang terburuk saat mendengar ucapan Jung-Eommonim.
Yunho hyung-nya. Terbujur kaku. Dengan luka tembak dan entah luka apa lagi di tubuhnya. Wajah yang pucat. Dada yang tak lagi bergerak naik-turun. Tubuh yang tak lagi hangat. Dan jantung yang tak lagi berdetak.
Tidak…
Tidak! Ini tidak mungkin benar-benar terjadi!
"Eom—eommonim katakan kalau i—hiks—ini tidak be—hiks—benar…" pinta Changmin dengan begitu memelas. Bahkan bulir-bulir air mata sudah membasahi pipinya tanpa bisa di cegah. Suaranya terdengar begitu parau. Ketakutan berpusar kencang di dalam perutnya. Membuatnya gemetar.
"Yunho belum meninggal, Changmin-ah." hibur sang eommonim dari seberang kota sana. "Anak itu begitu kuat keinginnnya untuk hidup. Dia tidak akan meninggalkan kita semudah itu. Hanya saja—"
"—hanya saja apa, Eommonim?!" kejar Changmin tidak sabar. Suaranya yang parau terdengar begitu bergetar saat mengucapkan setiap patah katanya. "Ka-kalau Yunho-hyung baik-baik saja, mengapa suara Eommonim terdengar parau seperti habis menangis?"
Hening.
Changmin tak tahu apakah keheningan itu hanya ia yang merasakan, ataukah memang studio yang biasanya begitu penuh hingar bingar memang sedang berdiam. Namun Changmin tak peduli. Yang ia pikirkan saat ini hanyalah jawaban dari sosok yeoja yang telah melahirkan kekasihnya itu.
"Hanya saja, mereka tidak tahu betapa kritis kondisinya." Jawab Jung-eommonim. "Yunho tertembak tiga kali."
Changmin terkesiap. Satu tangannya menutupi mulutnya. Dan air mata-nya mengalir semakin deras. Ia sungguh tak bisa membayangkan rasa sakit yang dirasakan oleh kekasihnya saat ini.
Tiga peluru. Bukan satu, atau dua, tapi tiga peluru, menembus kulitnya, dan bersarang di dalam tubuh Yunho hyung-nya.
Ya Tuhan…
"Mereka sengaja mengincar tentara yang memiliki pangkat lebih tinggi, Changmin-ah. Dan diantara pasukan saat itu, Yunho-lah yang memilki pangkat paling tinggi. Tapi General Choi memastikan bahwa tidak ada tembakan yang mengenai organ utama."
"Di-dimana saja Yunho-hyung tertembak?"
"Yunho tertembak di kaki kanan…"
Oke, kaki kanan. Tidak akan ada masalah berarti jika disana. Yunho hyung-nya sudah pernah tertembak disana.
"...perut.."
Ia memejamkan erat kedua matanya. Perut. Tidak baik. Ada terlalu banyak pembuluh darah arteri besar disana yang bisa menyebabkan pendarahan yang sangat berbahaya.
"…dan dada kiri."
Hatinya mencelos. Perutnya seolah di aduk dengan sangat menyakitkan. Dada kiri—tempat dimana paru-paru kiri berada berada. Dan terutama, disana tempat jantung bernaung.
"Changmin-ah, Changmin-ah. Tolong tenanglah." bujuk sang Eommonim yang mengerti benar apa yang dirasakan Changmin—karena belum ada satu jam yang lalu ia juga merasakan kengerian yang sama. "General Choi memastikan bahwa tidak ada organ penting yang tertembak. Peluru di dada kirinya tidak tidak mengenai jantung atau paru-parunya. Begitu pula dengan pembuluh arterinya. Kata General Choi, tidak ada pendarahan hebat yang terjadi, dan operasi pengambilan peluru-peluru-nya berhasil dilakukan dengan baik. Hanya saja..." Jung-Eommonim terdiam dan menghela nafas berat. "Hanya saja, dokter disana mengatakan bahwa sekarang ini adalah masa kritisnya. Dari semenjak operasi dilakukan, sampai sekarang ini Yunho belum sadar. Jika besok Yunho bisa sadar, maka masa kritis sudah terlewati. Tapi... tapi jika tidak... ia akan koma."
Koma.
Tidak. Tidak mungkin. Ini tidak mungkin terjadi. Yunho hyung-nya tidak mungkin koma. Yunho hyung-nya itu begtu aktif dan bersemangat. Ia tak mungkin sanggup jika menghabiskan waktu hanya berbaring di tempat tidur, dengan tubuh penuh perban dan jarum infus menancap di tangannya... dengan mata terpejam tak sadarkan diri...
"Eom—hiks—eommonim…" panggil Changmin dengan suara yang begitu menyayat hati. Tangisannya benar-benar tak bisa di kendalikan lagi.
"Eomma tahu, Changmin-ah. Eomma mengerti. Tapi kita harus percaya kalau Yunho bukan orang selemah itu. Dia itu sangat bebal, kau tahu. Ia tidak akan kalah hanya karena ini." hibur sang Eommonim dengan kata-kata yang ia gunakan untuk mengibur hatinya sendiri yang sudah tidak muda lagi. "Yunho tidak akan meninggalkan kita karena kalah oleh luka-luka itu. Dia kuat, Changmin-ah. Dia kuat karena dia pasti ingat bahwa dia masih memiliki kita yang menunggunya disini. Jadi kita yang menunggusnya disini juga harus sama kuatnya dengannya, arra?"
"A—aku mengerti, eommonim." Ucap Changmin yang berusaha menahan suaranya agar tidak bergetar. Tak ingin membuat Jung-Eommonim semakin khawatir padanya. Yeoja paruh baya itu pastinya juga khawatir mengenai anaknya, dan ia tak perlu lagi menambah kekhawatirannya. "Ke-kejadian itu... k-kapan…?"
"Kemarin siang. Dan Yunho langsung di tangani di rumah sakit khusus tentara disana."
Kemarin siang.
Kemarin siang, Ia sedang bertemu dengan fans-nya dalam acara fans meeting. Menandatangani album dan tertawa-tawa bersama fans-nya yang bertingkah lucu. Sore hingga malamnya ia berkumpul dengan Kyu-Line, mengobrol banyak hal sambil minum-minum dan tertawa begitu bahagia.
Tanpa tahu kalau di seberang lautan sana, kekasihnya tengah diserang. Terkena tembakan demi tembakan, merasakan sakit yang berulang saat peluru demi peluru mengoyak tubuhnya, untuk kemudian menjalani operasi yang tidak sebentar.
Ya Tuhan…
"Eomma sendiri barusan saja mendapat telepon dari General Choi. Dan Eomma langsung menghubungimu begitu beliau selesai menelepon. Beliau berkata, jika ada perkembangan kondisi Yunho, beliau akan langsung menghubungi, dan aku berjanji kalau aku akan segera menghubungimu jika aku mendapat perkembangan Yunho, Changmin-ah."
"K-kamsahamnida, Eommonim."
"Tidak masalah, Changmin-ah. Eomma tahu, selain keluarganya di Gwangju, ada seseorang yang selalu menantikan setiap kabar mengenai Yunho." balas sang Eommonim lembut. "Dan Eomma benar-benar bersyukur akan keberadaanmu, Changmin-ah, karena Eomma tahu, Yunho berjanji padamu untuk kembali dengan selamat—" yeoja yang sudah tak lagi muda itu tersenyum lembut dari dalam rumahnya.
"—dan anak itu terlalu mencintaimu untuk berani ingkar padamu."
.
.
.
Setelah itu, Jung-Eommonim menutup teleponnya dengan janji akan segera mengabarinya apabila ia mendapat kabar sekecil apapun dari Afghanistan. Meninggalkan Changmin yang kini duduk terpekur. Benaknya mengulang kembali keseluruhan percakapan yang—jujur saja—begitu mengguncang dunia-nya.
Yunho. Yunho-nya. Saat ini sedang bertarung nyawa. Nun jauh disana, di tempat yang tak mungkin ia datangi.
Tidak berguna.
Kau benar-benar seorang kekasih yang tidak berguna, Shim Changmin.
Tertawa dengan riang disaat kekasihmu bertaruh nyawa di negara lain...
Dan sekarang, hanya bisa berdiam bodoh saat kekasihmu melawan malaikat maut yang siap menjemputnya kapan saja...
Kau sungguh idak berguna, Shim—
Sebuah pelukan lembut mengembalikan kesadarannya. Boa-noona.
"Hei anak bodoh, kekasihmu, si Yunho itu berpesan padaku, kalau ada sesuatu yang terjadi padanya disana, itu semua bukan salahmu. Dia dengan sadar pergi ke negara yang penuh peperangan, dan yang menjadi penyemangatnya untuk bertahan dalam kondisi apapun adalah dirimu." Boa berkata dengan lembut sambil mengusap punggung artis yang berada dalam bimbingannya itu. "Jujur ini keju sekali, dan aku ingin muntah saat pertama kali mendengarnya—tapi dia sudah membuatku berjanji untuk mengatakannya padamu. Yunho bilang, meskipun kau tidak disampingnya dan tidak melakukan apapun, hanya dengan keberadaanmu di dunia ini dan di dalam hatinya saja sudah sangat mendukungnya untuk berjuang sekuat tenaga agar bisa pulang dengan selamat—eeewww, ya Tuhan, kekasihmu itu benar-benar keju sekali. Gigiku ngilu mengatakan itu semua, dan aku akan berkumur-kumur sehabis ini."
Changmin terkekeh kecil. Manajer dan kekasihnya ini sebenarnya kompak sekali dalam segala hal—apalagi mereka seumuran—, kecuali jika itu sudah menyangkut dirinya. Boa-noona itu yeoja yang cool dan benci mendengar rayuan-rayuan gombal. Sedangkan Yunho-hyung itu, kalau bersamanya selalu melontarkan ucapan-ucapan yang cheesy sekali. 'Dasar lelaki kardus!', begitulah umpatan Boa-noona sebelum ia pergi meninggalkan tempat kejadian perkara, sambil bergidik jijik.
Satu tepukan keras pada punggungnya, dan pelukan dari manajernya itu terlepas. "Sekarang, ke toilet dan basuh wajahmu itu. Selesaikan satu pekerjaan ini dengan baik, dan aku akan berusaha membatalkan sisa jadwalmu setelah ini, oke?"
"Gomawoyo, noona." ucapnya sambil beranjak pergi menuju toilet. Tak menghiraukan tatapan begitu banyak pasang mata yang terarah kepadanya.
.
.
.
"Apakah kejadian tadi direkam?" tanya Boa dengan nada mengancam pada kru disana.
Juru kamera itu menggeleng cepat. "Sesuai permintaan anda tadi, begitu anda masuk ke ruang siaran, kami mematikan kamera dan menayangkan MV dari lagu yang sedang di putar." Ya, ini memang acara radio, tapi seperti yang kalian ketahui, acara radio-pun tetap merekam dan menayangkan semua yang terjadi selama acara.
Boa mengangguk puas. Memang begitu ponsel Changmin berbunyi, dan disana tertera 'Eommonim is calling' , Boa—yang saat itu juga merasakan firasat tidak enak—segera beraksi. Cepat-cepat ia mendatangi produser acara ini dan melakukan negosiasi—yang jelas berhasil di pihaknya, karena memang di perjanjian awal, jika ada masalah urgent, ia bisa meminta untuk stop rekaman tetapi hanya untuk beberapa menit saja. Dan untung saja sekarang memang sedang break untuk memutar lagu dari album terbaru Changmin, jadi PD-nim acara ini tidak begitu keberatan.
"Leeteuk-ssi, mohon bantuannya sampai acara ini selesai." ucap Boa pada artis yang berada dalam naungan manajemen yang sama itu.
"Tidak perlu begitu, Boa-ssi. Changmin sudah kuanggap seperti adik. Aku pasti akan membantunya. Tapi, Changmin akan baik-baik saja kan?"
"Aku yakin bocah itu akan baik-baik saja. Terjadi sesuatu dengan Yunho—entah apa aku belum tahu, tapi selama anak nakal itu tidak menangis meraung-raung, itu berarti si tentara masih bernyawa, dan si anak nakal akan baik-baik saja."
Leeteuk tertawa. "Kau benar-benar menyayangi Shim Changmin ya, Boa-ssi."
Pernyataan. Bukan sebuah pertanyaan. Dan hanya ditanggapi Boa dengan menaikkan satu alisnya dan sebuah senyuman.
"Hahahaha, oke, oke. Aku mengerti. By the way, kapan Boa-ssi ada waktu di ruangan? Aku ingin berkonsultasi dengan Direktur Non-Eksekutif Kwon yang beberapa hari ini sibuk memanajer-i adik sepupunya."
"Denganku? Ada sesuatu yang terjadi, Teuki-ah?"
"Bukan apa-apa, hanya sedang butuh teman sharing yang bisa memberi sudut pandang baru, dan mungkin memberi sedikit saran?"
"Harus secepatnya?"
"Tidak juga, kapanpun Direktur-nim ada waktu saja. Tidak buru-buru kok. Santai saja."
Boa menghela nafas. "Besok siang, kalau aku sudah selesai mengatur ulang jadwal bocah itu, aku akan mengabari."
"Hahahahaaa... akan kubawakan obat sakit kepala kalau begitu. Semoga sukses mengurusi maknae kesayangan semua orang itu."
"Dia sudah bukan maknae lagi, Teuki-ah. Sudah banyak artis muda di tempat kita." ucap Boa mengingatkan.
"Tapi dia sudah menjadi maknae di perusahaan kita semenjak kau masuk ke agensi dan selalu membawa bayi besarmu yang bermata bulat seperti boneka itu. Dan dia akan tetap jadi maknae kesayangan bagi kita meskipun dia nanti bertambah tua dan menjadi ahjussi-ahjussi."
"Hush. Sudahlah. Dia sudah kembali, dan waktunya melanjutkan siaran kalian. Dan banyak sekali hal yang harus aku lakukan."
Setelah itu, Boa kembali ke belakang layar dan sibuk dengan handphone-nya. Changmin sudah kembali dengan wajah yang lebih segar, dan break sudah selesai. Memasang wajah tersenyum seperti tidak terjadi apa-apa, Changmin mengangguk pada produser-nim, dan kamera kembali menyala untuk menyoroti mereka berdua.
It's show time.
.
.
.
.
.
Namun Changmin tak bisa menahan semuanya disaat penghujung acara, ia diminta menyanyikan lagu request dari fansnya secara live. Lagu miliknya yang berjudul A Person Like Tears.
"Bogo sipda, nae saranng, nae nunmul gateun saram (I miss you, my love, a person like my tears)" Bahkan baru bait pertama yang ia nyanyikan, air mata sudah jatuh dari sudut matanya. Namun karena bertahun-tahun melatih vokal, suaranya tidak bergetar, dan tidak mengganggu performa menyanyinya.
"Han eobsi heullyeodo niga dasi bogo sipda (Though it flows endlessly, I miss you one again)
Naui nun soge, gaseume, sara itneun neo (You live in my eyes and inside my heart)
Dasi neol aneul su itdamyeon (If only I can hold you once again)
Geuriun saranga, nae saranga (I miss you my love, my love)
Nal dorabol suneun eobtni (Can't you turn around and look at me?)
Ibssuri dal dorog neol bulleo bwado (I call out o you till my lips are chapped)
Daheul su eobtanabwa (But it doesn't reach you)
Sesang eoneu gose isseodo (Wherever you are)
Nan neoreeul chaja galge (I will go search for you)
Sumi meotneun geu nari wado (Even when the day I stop breathing comes)
Nan neoreul gidaryeo (I will wait for you)
Dasi saranghago sipeo (I want to love you again)
Michidorog geurim, saranga (My love, whom I miss crazily)
Nae sarangaaa.. (My Love)
Sa-rang-hae, sa-rang-hae (I love you, I love you)
Gaseumi teojige bulleodo (I call out tou you till my heart bursts)"
.
.
.
.
.
.
.
Dan setelah acara selesai, di dalam kamar apartement-nya yang sepi dan sepi, tetes demi tetes air mata terus mengalir tanpa henti dari sepasang mata bulat yang memandang sendu pada sebuah figura yang berisikan foto seorang abdi negara.
"...hyung... hiks... Yunho-hyung..."
Hanya sang rembulan yang menjadi saksi dari tangis pilu seorang anak muda yang berpisah ribuan kilometer dari kekasih hatinya. Hanya sanggup memanggil nama seseorang yang ia rindukan di sela isak tangisnya. Hanya sanggup mendoakan keselamatan dan kesehatannya dari daratan yang begitu jauh memisahkan.
.
.
.
.oOHoMinOo.
.
.
.
Dan seolah dunia tidak menginginkan ketenangan, sebuah headline pada surat kabar cetak maupun online semua memberitakan hal yang sama.
"Kekasih sang soloist Shim Changmin—yang baru saja mengeluarkan album barunya—sedang bertugas di Afghanistan dan kini terluka parah."
.
.
.
.
.
.
.
~TBC~
Oke, jadi ini harusnya twoshoot
Tapi entah kenapa, keasyikan ngetik, jadinya chap dua sepanjang ini /facepalm/
Jadinya belom bisa tamat, dan masih berlanjut ke chap berikutnya.
Btw, tulisanku agak kacau nggak sih? Soalnya udah lama sekali kan, enggak nulis ff lagi aku-nya...
Buat Chamimi dan Toto-chan, thank you for leaving a comment in ffn, hope I don't dissapoint you~
