Summary: Odasaku belajar bahwa mempercayai Dazai ketika anak itu bilang 'percaya saja' adalah sesuatu yang melelahkan. (Kedua orang itu terseret ke dunia 'kartu sihir' ketika membantu Ango mengecek peti selundupan).

Bungou Stray Dogs milik Asagiri Kafka dan Harukawa Sango

"Merunduk, Dazai," Odasaku menarik Dazai turun, peluru berdesingan di kepala mereka. Pohon yang menjadi benteng mendadak keduanya pasti sudah dipenuhi lubang-lubang bekas peluru di sisi depan.

"Sankyu, Odasaku," Dazai mengecek beberapa kartu di tangannya. "Mau gunakan ini?" Dia tersenyum sambil menunjukkan kartu bertuliskan 'habis gelap terbitlah terang' pada Odasaku.

"Sihir cahaya, kah? Boleh juga," Odasaku mengambil kartu itu lalu merobeknya jadi dua, kemudian melemparnya ke arah pasukan yang hampir bisa disebut mengepung mereka.

Cahaya terang meledak dalam lima detik. Odasaku menyeret Dazai menjauh. Mereka sudah mendapatkan semua kartu tersembunyi dari area ini, saatnya pergi ke area selanjutnya.

•_•

Semuanya berawal dari percakapan di bar dua malam lalu ...

"Belakangan ini ada beberapa barang selundupan baru yang membuatku tertarik." Ango bertutur.

"Hmm, apa itu? Jam tangan antik?" terka Odasaku.

Ango menggeleng, menyesap isi gelasnya pelan-pelan.

"Manuskrip asli panduan bunuh diri dari zaman praaksara?" Giliran Dazai mencetuskan tebakannya.

Ango menaruh kembali gelasnya dengan kening berkerut. Semua kata-kata Dazai terdengar janggal, dan itu sungguh mengganggunya untuk melanjutkan minum. Sebab, lidahnya gatal untuk segera membantah.

"Pastinya bukan," sahut Odasaku, mendahului Ango.

'Oh, tumben Odasaku-san mau tsukkomi' pikir Ango.

"Tidak ada manuskrip pada zaman praaksara, Dazai."

"Oh, benar."

'Bagian itunya?'

Ango mengurut pelipisnya. "Jadi, yang kumaksud itu adalah sebuah peti senjata bekas perang dunia."

"Itu cukup kuno," tanggap Odasaku, sekilas mempelajari ekspresi Ango, lalu menambahkan, "tapi sepertinya bukan itu yang jadi sumber ketertarikanmu?"

Ango mengangguk. "Ada rumor yang beredar bahwa orang-orang yang terlibat dengan peti itu lenyap secara misterius."

"Hee ~ ke mana mereka kira-kira?" Dazai bersenandung. "Mungkin itu berkaitan dengan kemampuan khusus?"

"Kupikir juga begitu. Kalian berminat untuk memeriksanya? Dazai-kun, dengan kemampuanmu itu, kamu tidak akan terkena dampak kalau ternyata ada hal buruk terkait kemampuan. Dan Odasaku-san, bisa melihat bahaya dalam rentang waktu 6 detik, 'kan?"

"Boleh juga, aku besok senggang," Odasaku menyatakan kesanggupan.

Dazai tercenung sebentar. "Baiklah, besok. Sebenarnya ada rapat eksekutif, tapi itu membosankan, jadi pass ~"

"Jangan jadikan aku sebagai alasan kalau bos memanggilmu, lho, Dazai-kun," Ango menggelengkan kepalanya.

"Yah, kenapa tidak? Mori-san tidak akan keberatan kalau aku membantu seorang petugas intelijen, bukan?" Dazai tertawa santai. Ango mengangkat bahunya, isyarat lepas tangan.

•_•

Keesokan harinya, Ango mengajak kedua temannya itu ke gudang penyimpanan barang selundupan Port Mafia. Agak jarang memang--mungkin pertama kalinya--mereka bertiga bisa bersama terkait pekerjaan. Penjaga gudang tampak mengerutkan keningnya sekilas ketika melihat kombinasi eksekutif termuda dengan mata-mata dan pekerja kelas bawah Port Mafia, berjalan beriringan sambil bercakap-cakap biasa.

"Nah, itu peti yang kumaksud." Ango menunjuk sebuah peti yang tergeletak di salah satu bilik khusus.

"Ada isinya?" tanya Odasaku.

"Belum diperiksa." sahut Ango. "Harusnya ada beberapa set senjata kuno, tapi petugas kularang membukanya untuk antisipasi."

Odasaku berdiri diam di depan pintu selama beberapa detik, memejamkan mata, lalu membukanya kembali sambil berkata, "Aku tidak melihat adanya bahaya yang mengancam nyawa dalam 6 detik ke depan. Tapi gak tahu gimana 10 detik setelahnya."

"Kalau begitu aku akan membukanya," Dazai maju dengan santai, memainkan kunci yang baru dicurinya dari saku jas Ango.

Klik,

Tutupnya terbuka. Dazai membuka peti yang panjangnya lebih dari semeter itu dengan bantuan Odasaku. Ango menyorotkan senter untuk melihat lebih jelas. Isi peti itu memang senjata. Puluhan set pistol dan beberapa bilah pedang tampak bertumpukan dengan rapi.

Dazai menyentuh salah satunya dengan iseng. Tiba-tiba saja cahaya terang menyorot keluar dari peti. Lubang tak berdasar muncul dan menarik Dazai masuk ke dalam.

"Dazai-kun!" Ango mengulurkan tangannya tapi ditepis Odasaku.

"Tutup petinya, Ango!" Odasaku melompat masuk, menyusul Dazai yang sudah lebih dulu lenyap dalam lubang cahaya.

Ango menggigit bibir, khawatir pada kedua temannya tapi juga paham dengan resiko lubang cahaya itu akan semakin melebar jika dia tidak segera menutup petinya.

Brak!

Jadi Ango membanting tutupnya segera setelah Odasaku lenyap. Pendar cahaya itu padam. Menghela napas, Ango membuka tutup peti itu sekali lagi, berharap Odasaku dan Dazai akan muncul. Namun, yang dilihatnya hanya tumpukan senjata berdebu.

"Apa-apaan ini ..." Ango mengusap tengkuknya dengan frustrasi. Jika itu adalah kemampuan khusus seseorang, harusnya Dazai bisa menetralkannya. Kemampuan Odasaku tidak bisa memprediksi bahaya ini karena peti tersebut baru memunculkan reaksi setelah Dazai menyentuh isi di dalamnya. Daripada itu, bagaimana cara mengembalikan mereka berdua?

•_•

Dazai melihat sekelilingnya, dia berada di tengah-tengah pasar, orang-orang dengan pakaian eropa tempo dulu berlalu lalang dengan riuhnya. Mereka kelihatan panik, menatap cemas ke arah langit. Dazai turut menengadah, penasaran. Dilihatnya semburan api saling berbalas dengan air. Kemudian, pusaran angin menghempas sisa-sisa keduanya, membersihkan kembali langit.

"Waah ~" Dazai bersiul kagum. "Hei, Paman, kok bisa begitu?" Dicoleknya asal seorang warga untuk ditanyai.

"Sudah jelas, kan, sedang ada pertarungan dengan kartu sihir api, air, dan angin!" Lelaki berompi putih yang ditanya menjawab seolah itu adalah pengetahuan umum.

"Dapat dari mana tuh, kartu-kartunya?" kejar Dazai lebih jauh.

"Berburu lah, kartu-kartu sihir itu tersebar di seluruh dunia. Paling banyaknya di daerah konflik dan peperangan."

"Jadi tempat ini juga?" Dazai memastikan.

Pria yang ditanyai itu menampilkan ekspresi masam. "Kota ini sedang diperebutkan."

Percikan-percikan api yang jatuh dari atap mulai membakar kios-kios. Dazai masih berdiri di tempat sementara orang-orang mulai berlarian menjauh.

"Dazai!"

Dazai membiarkan dirinya diseret kuat-kuat oleh sebuah tangan yang familiar. Penariknya itu baru berhenti ketika sampai di bangunan yang agaknya tidak akan mudah terbakar.

"Odasaku, kau di sini juga?" Dazai menampilkan cengiran santainya.

"Hah ... berdiri diam begitu, kau memang tidak punya sistem perlindungan diri ya?" Odasaku tahu, marah-marah dengan nada tingginya Ango tidak akan banyak membantu.

"Ahaha,"

Lihat, anak itu malah tertawa saja.

"Jadi bagaimana, kau sudah tahu cara untuk kembali ke dunia kita?" tanya Odasaku.

"Odasaku sudah dengar tentang kartu sihir?" Dazai memulai. Odasaku mengangguk sedikit, meski pembicaraan masalah itu hanya samar-samar dia dengar. "Kemungkinan di antara kartu-kartu itu, ada yang fungsinya untuk mengirim kita kembali."

Odasaku mengedipkan matanya beberapa kali, mencoba menyimpulkan kata-kata Dazai menjadi suatu tindakan. "Dengan kata lain, kita harus berburu kartu juga?"

Dazai mengangguk. "Dan mungkin, peluangnya lebih besar di medan pertempuran," tambahnya.

"Aku mengerti. Kalau gitu kita harus segera cari senjata." Odasaku bergumam tentang di mana mereka akan menemukan toko yang menjual senapan.

"Odasaku mau pistol yang tidak pernah kehabisan peluru atau pedang yang tidak akan patah?" tanya Dazai sambil tersenyum misterius.

"... Pistol lebih cocok untukku." Odasaku menyahut juga meski merasa janggal. Mengapa Dazai bertanya seolah-olah dia memegang kedua pilihan itu di balik saku bajunya?

"Kalau begitu, ini," Dazai menyerahkan padanya selembar kartu. "Odasaku, aku tidak berdiri diam di tengah keramaian tanpa tujuan, lho."

Oke, Odasaku cukup terkesan. "Berapa kartu yang berhasil kau curi?" Dazai sangat lihai masalah pencopetan, Odasaku baru lihat sendiri buktinya.

"Tiga ... " Dazai mengeluarkan satu persatu kartu dari balik lengannya. Odasaku tetap diam ketika jumlahnya sudah melebihi angka yang disebut temannya itu.

"... Tiga puluh, maksudku."

Tipikal Dazai. Odasaku tidak berniat protes. "Jadi, bagaimana cara menggunakan kartu-kartu ini?" Dazai bertanya.

"Dari yang kudengar, robek itu dan efeknya akan muncul dalam beberapa detik." Odasaku mengulang kembali apa yang dia dengar dari hiruk pikuk pasar.

"Lebih praktis dari kukira," Dazai tersenyum, "kupikir perlu kontak darah atau semacamnya."

Odasaku mengabaikan ocehan Dazai tentang mantra yang dikarangnya sendiri, mulai merobek kartu bertuliskan 'Unlimeted Gun Works' itu. Benar saja, dalam lima detik sebuah pistol lama yang cukup cocok untuknya sudah berada di tangan.

"Aha, aku tidak sabar untuk melihat Odasaku beraksi dengan kemampuan asli," Dazai bertepuk tangan, dia sudah pernah melihat sekali kekuatan penuh Oda, dan menurutnya, itu sangat menarik untuk ditonton.

"Jangan senang begitu." Odasaku setengah mengeluh. "Aku akan melindungimu, tapi kau juga cobalah bertahan untuk tetap hidup," pesannya dengan serius.

"Hm, hm, aku mengerti ~" sahut Dazai riang, membuat pernyataannya menjadi sungguh diragukan.

•_•

Kamar penginapan sederhana dengan satu tempat tidur. Odasaku terbaring di sana nyaris tak bergerak. "Maaf, Dazai," gumamnya pada pria yang lebih muda, yang duduk diam menyandar ke kaki ranjang.

Perban tebal yang membalut dada Odasaku tampak masih merembeskan darah. "Aku ceroboh. Padahal kemampuanku sudah memberi tanda, tapi aku gagal menghindar."

"Dan itu karena Odasaku melindungiku." Dazai menghela napas. Dia mengambil mantel hitamnya yang digantung di dinding, lalu menyampirkannya dengan asal di bahu.

"Mau ke mana?"

"Bentar ~" Dazai menunjukkan ekspresi santainya untuk sekian detik, tetapi aura dinginnya langsung menguar ketika ia membalikkan badan menuju pintu.

Odasaku memejamkan mata dengan khawatir. Bagaimana pun, Dazai tidak bisa diandalkan untuk peperangan. Dia tidak akan mengizinkan pria itu jauh-jauh darinya sepanjang pertempuran. Meskipun, pada beberapa situasi, Dazai secara ajaib berhasil membujuk satu pleton tentara untuk menjadi rekan.

Remaja 17 tahun itu kembali setelah tengah malam. Langkahnya agak pincang dan perbannya bertambah kusam. "Odasaku, sudah tidur?" tanyanya dengan suara goyah.

"Menurutmu aku bisa tidur?" Odasaku bertanya balik.

"Aku punya hal bagus untuk Odasaku," Dazai duduk lagi di lantai, menyandar ke sisi kanan tempat tidur. "Dua hal bagus, sebenarnya, aku jadi bingung mau kasih yang mana."

"Kalau begitu pilih saja secara acak."

"Oke."

Dazai tampak menepuk-nepuk tangannya dengan cepat beberapa kali, lalu melemparkan sebuah kartu pada Odasaku. "Itu untuk penyembuhan cepat."

Odasaku mengedipkan mata beberapa kali. Kartu itu sangat mudah dirobek sebenarnya, tapi rasa penasarannya menunda. "Dapat dari mana?"

"Biasa."

Odasaku tidak bisa percaya. "Secara kebetulan kartu yang kau curi secara acak adalah sihir penyembuhan?"

"He eh, beruntung, kan?"

"Dazai--"

"Sudah, lakukan saja, Odasaku," potong Dazai. "Akan kujelaskan setelahnya."

Odasaku menghela napas, lalu merobek kartu itu. Lima detik kemudian dia sudah sibuk melepaskan perban. "Jadi sekarang jelaskan, bagaimana kau dapat kartu ini?"

"Aku mendatangi pemburu yang kemungkinan punya, dan berhasil memintanya dengan jadi nagurareya."

"Kau ...," Odasaku terbelalak. Nagurareya, orang yang dibayar untuk dipukul.

"Tidak parah, aku sudah biasa, kok. Kan, aku sering jadi tawanan dan dipukuli sampai Chuuya datang," ujar Dazai buru-buru, tidak nyaman dengan cara Odasaku menatapnya, yang seperti ... prihatin? Dazai tidak suka dikasihani.

"Lain kali jangan lakukan itu."

"Haha ..."

"Terus, apa kau gak mau menyembuhkan lukamu juga dengan kartu itu?"

"Soal itu, Odasaku tahu kenapa aku selalu menyuruhmu yang menggunakan kartu?"

Odasaku baru sadar dengan kebiasaan Dazai yang satu itu. "Masa, kau menetralkan kemampuan kartu?" ragunya. Karena, jika ini memang kemampuan, harusnya sejak awal Dazai tidak akan bisa berada di dunia aneh ini.

"Memang begitu." Dazai mengiyakan. "Kau tahu Odasaku, beberapa kemampuan tidak bisa kunetralkan kalau tidak dengan menyentuh penggunanya."

"Jadi cara agar kita bisa keluar adalah dengan menemukan orang yang punya kemampuan membuat ruang fantasi ini? Mencarinya tanpa petunjuk?" Odasaku yakin itu akan makan waktu lama.

"Setengahnya benar." Dazai tersenyum aneh, "jangan lupa Odasaku punya dua alternatif untuk kembali."

•_•

Di tepi sungai, pukul 9 pagi. Pistol tanpa batas peluru yang dipegang Odasaku membantu banyak dalam perkelahian rebut-rebutan kartu. Setelah mengantongi segepok kartu beragam fungsi, kedua pendatang itu beristirahat sejenak di tepi aliran sungai tenang.

"Dazai ... jangan," Odasaku yang hampir membasuh muka tiba-tiba mencegah ketika temannya itu berniat melakukan hal yang sama. "Sungai ini sudah diracuni."

"Odasaku, kemampuanmu sungguh praktis, ya."

•_•

Ini sudah dua minggu sejak Odasaku dan Dazai mulai berburu kartu. Mereka sudah menyisir empat wilayah, tetapi kartu yang dicari-cari belum juga ketemu.

"Apa kartu yang bisa membawa kembali ke dunia nyata itu beneran ada?" gumam Odasaku sambil menyantap roti gandum yang keras. Pemilik toko cukup baik dengan memberi mereka beberapa bongkah secara gratis, setelah Dazai mengaku-aku sebagai pengembara miskin.

"Setelah sejauh ini aku menyadari satu hal," Dazai juga menggigit rotinya. "Odasaku tidak pernah memeriksa saku baju?"

Pria berambut merah itu menurut, merogoh saku depan kemejanya yang setahunya tidak berisi apa-apa. Ekspresinya berubah ketika mengeluarkan sebuah kartu, dengan tulisan yang tidak asing lagi baginya.

"Sudah mengerti, Odasaku?"

"Ayo cari lagi kartu untuk keluar dari sini, Dazai. Pasti ada cara lain."

"Ya ampun, walaupun jalan paling logis ada di depan matamu?"

"Tidak ada jaminan untukmu."

"Aku selalu suka pertaruhan."

Setelah itu mereka berdua diam, menghabiskan roti yang kualitasnya sungguh di bawah standar.

•_•

Wilayah keenam, lawan mereka adalah para makhluk legenda. Sebut itu naga yang bisa terbang, pemanah-pemanah api, dan para ksatria berpedang panjang. Menghadapi pertempuran yang sulit seperti itu, Odasaku cukup kerepotan juga.

Sementara Dazai memunguti kartu-kartu yang berserakan, Odasaku menghabisi delapan pemanah yang mengincarnya dari atas. Tetapi ketika dia lengah dengan 'terlalu banyak gambaran bahaya', sebuah pedang berhasil membuat goresan panjang tepat menyayat kedua matanya.

"Odasaku! Lima meter arah tenggara!" Dazai berseru dari kejauhan, agaknya tahu apa yang terjadi.

"Dua orang di kanan, lanjut arah jam 5 jarak 20 meter!"

Odasaku menggunakan petunjuk Dazai dengan akurat, dia menembak ke arah-arah yang disebut, dan berhasil lolos dari kepungan dengan cepat. Dazai menarik tangannya ke tepi, bergumam tentang luka Odasaku yang harus segera dirawat.

"Aku tidak apa-apa." Odasaku beradaptasi dengan segera. "Navigasimu cukup bagus, kita bisa lanjutkan terus seperti itu."

"Yeah, kedengaran bagus."

"Ada apa dengan nada sinis itu?"

Dazai tersenyum kecil, meski tahu Odasaku tidak bisa melihat. "Gunakan kartu ini."

"Kartu apa itu?"

"Semacam penyembuhan juga, kurasa?" Dazai menjawab tidak pasti.

"Kau tidak sedang memaksaku melakukan hal yang tidak kusetujui, kan?" Odasaku memastikan.

"Percaya saja padaku." Dazai menjawab sederhana. "Kita akan kembali ke dunia kita, itu janji."

Odasaku menghela napas, menimbang-nimbang kejujuran Dazai hanya dari suara. "Baiklah, aku percaya," putusnya.

Srek, kartu itu dirobek. Cahaya putih melingkupi Odasaku, lalu dalam sekejap pria itu sudah lenyap.

Dazai yang tinggal sendiri tersenyum kecil. "Maaf, yah, Odasaku. Kau pasti tidak setuju dengan cara ini, tapi itu cara paling logis untuk kita berdua." Eksekutif muda itu melirik sobekan kartu bertuliskan 'Ningen Shikkaku' di sampingnya, dan musuh yang tersisa--naga merah--yang siap mencaplok kepalanya dari atas. Dazai hanya memejamkan mata dengan pasrah.

•_•

Odasaku merasakan dingin lantai gudang penyimpanan barang. Dia membuka matanya, yang tidak sakit lagi. Sepertinya luka-luka yang diperolehnya dari dunia sebelah sama sekali menghilang.

"Odasaku-san ..."

Odasaku melihat Ango berdiri di ambang pintu. Ekspresinya setengah lega. "Kau kembali. Mana Dazai-kun?"

Odasaku tersadar. Dia menggeleng pelan. "Dazai ... membuatku menggunakan kartunya." Pria itu terlihat frustrasi. "Seharusnya aku tidak mempercayainya ketika bilang 'percaya saja', dia itu ..."

"Ngg, bisa ceritakan padaku apa yang terjadi?" Ango meminta penjelasan. Dia sudah ke sini setiap hari selama dua minggu terakhir, berharap teman-temannya kembali.

Odasaku memejamkan mata, teringat ketika Dazai menyuruhnya memeriksa saku. Ketika dia melakukan itu, sebuah kartu bertuliskan 'flawless' dia temukan.

"Itu adalah dunia dengan kemampuan khusus setiap orang diwujudkan dalam kartu. Semua orang bisa menggunakannya dengan cara merobek kartu itu. Kartu-kartu yang berserakan ... mungkin pemiliknya sudah mati, atau kemampuannya dicuri orang."

Odasaku merobek kartu Dazai, memungkinkannya kembali ke dunia nyata.

"Selama ini Dazai kebal dari dampak kartu lain, tetapi karena sekarang kartunya sudah hancur ..." Odasaku menggeleng lagi dengan raut khawatir, "Di sana ada banyak naga dan pemanah api, juga para pasukan berpedang ..."

"Tenanglah, Odasaku-san," Ango memberinya sebotol air mineral. "Bagaimana pun, kita sedang bicara tentang Dazai-kun, dia pasti punya rencana."

"Justru karena itu Dazai, aku semakin khawatir. Bisa saja hobi bunuh dirinya kumat di saat yang paling tidak tepat."

Kedua orang laki-laki itu menghela napas, tahu benar bahwa kemungkinan semacam itu cukup patut dipertimbangkan. Tidak ada jaminan Dazai bisa bertahan, atau ingin bertahan. Remaja labil itu harus terus-menerus diawasi, dan sekarang dia sendirian.

•_•

Hari berikutnya, Odasaku datang ke gudang itu, tidak melihat tanda-tanda adanya kemunculan Dazai.

Esoknya lagi, dia dipanggil Mori untuk semacam laporan. "Berapa persen kemungkinan Dazai-kun mati di sana, Oda-kun?" tanya bos Port Mafia itu di ujung. Odasaku tidak ingin menghitungnya.

Mori agaknya maklum dengan keheningan itu. "Kalau begitu, berapa persen kemungkinan dia terjebak di sana dan tidak bisa kembali?" Odasaku menanggapi dengan permintaan izin untuk meninggalkan ruangan.

Besoknya lagi, Odasaku tetap mengunjungi gudang setiap hari, bergiliran dengan Ango. Dia menyelesaikan tugas mafianya secepat mungkin dan segera berdiam di sisi peti. Setiap mereka membukanya, tidak ada sinar apapun lagi. Ango berpikir bahwa Dazai mungkin sudah melakukan sesuatu untuk menutup pintu dimensi.

Sebulan berlalu, dan orang-orang mulai kasak-kusuk tentang kemungkinan Dazai mati. Odasaku punya alasan untuk mempercayai spekulasi itu lebih dari siapa pun, karena dia lihat sendiri seberapa berbahaya tanah yang mereka pijak kala itu.

'Percaya saja padaku '

Odasaku menolak untuk membenarkan kemungkinan itu. Bahkan jika Dazai tidak bisa benar-benar dipercaya, kali ini saja dia berharap temannya itu serius dengan perkataannya.

'Kita akan kembali ke dunia kita,'

Dia berharap, Dazai benar-benar bermaksud menyebutkan 'kita' sebagai kata ganti. Bukan kebohongannya untuk menyembunyikan arti 'kamu'.

'Itu janji.'

Odasaku menghela napas. Yeah, Dazai tidak pernah menjanjikan sesuatu sebelumnya. Entah temannya itu benar-benar serius, atau malah sebaliknya, benar-benar putus asa.

•_•

"Odasaku-san, aku akan jaga malam ini. Pergilah tidur atau makan sesuatu." Ango mendorongnya keluar dari bilik kecil tempat peti terkutuk itu disimpan. Mata-mata berkacamata itu agak khawatir karena Odasaku benar-benar tidak mengurus dirinya sejak kembali. Pria berambut merah itu tidak mengatakan apa pun, tapi Ango bisa merasakan kekalutannya--hanya dengan menilik ke netra biru tua--yang terlampau tenang itu.

"Baiklah, tolong ya, Ango." Mengusap tengkuknya yang pegal, Odasaku mulai berjalan ke luar, meninggalkan bangunan besar yang belakangan terlalu sering dia sambangi itu.

Odasaku sempat berpikir untuk mengunjungi tempat kari langganannya, sekaligus menjenguk anak-anak. Tapi ini sudah terlalu malam, dan dilihat dari cara Ango mengkhawatirkannya, mungkin ekspresinya sedang tidak bagus dilihat.

Jadi pria itu berhenti sejenak di depan bar Lupin, lalu kakinya seolah bergerak sendiri untuk masuk. Bar kecil itu hampir selalu sepi, dan sekarang ini pun meja yang biasa mereka tempati sedang kosong.

Kosong, ya. Odasaku sedikit berharap Dazai akan duduk di sana seperti malam-malam sebelumnya. Mengambil tempat di kursinya yang biasa, mantan pembunuh bayaran itu menunggu pesanannya dibuat sambil menekurkan kepala.

"Hai, Odasaku~"

Biasanya Dazai akan berceloteh panjang lebar, sampai hal-hal yang paling tidak jelas sekali pun. Odasaku ingin mendengarnya lagi. Dia ingin teman karibnya itu ada di sini.

"Oodaasaakuu ~"

Dazai sering memanggil namanya dengan semi bersenandung seperti itu. Terutama kalau Odasaku hanya diam mendengarkan saat Dazai dan Ango membahas suatu topik.

Tep, bahunya ditepuk pelan dari samping.

Odasaku mengangkat kepalanya, menoleh ke bangku sebelah. Entah sejak kapan, Dazai sudah duduk di sana dengan senyum khasnya. Senyuman anak baik yang ceria, yang hanya muncul khusus di depan mereka berdua.

"Da ... zai?"

Remaja itu mengangguk. "Lucu, Odasaku melihatku seperti hantu."

"... Orang-orang sudah heboh bicara tentang pengganti eksekutif, asal kamu tahu." Odasaku mengatakan itu setelah terdiam 15 detik.

"Gawat juga," Dazai mengeluarkan ponselnya. "Kalau benar dipecat pun, aku akan minta Mori-san mengirim gajiku yang bulan lalu."

[Halo, Mori-san. Ini aku.]

Dazai mengirim pesan, yang tidak menunggu lama untuk dijawab.

[Dazai-kun, sudah berhasil kembali, ya? Aku sangat merindukanmu, lho ~]

Omong kosong, pikir Dazai sambil menulis balasan.

[Sudah nemu eksekutif pengganti?

Gajiku yang bulan lalu tetap lho, ya!]

Dazai sudah merencanakan untuk menyewa dapur dengan gaji yang dia pastikan barusan. Ada metode bunuh diri terbaru--membenturkan kepala ke tahu--yang ingin dia praktekkan.

[Aku sama sekali tidak ada niat untuk mengganti posisimu, Dazai-kun. Bahkan kalau kamu beneran mati, akan kubiarkan kursi eksekutif itu kosong.]

Dazai mengerutkan dahinya, agak heran. Keputusan Mori yang satu ini terasa agak janggal olehnya. Namun, dia memilih untuk kembali menyimpan ponselnya daripada repot memikirkan. Mori dan kelogisannya, bahkan dia tidak selalu bisa menerka alasan dari tindakan bosnya itu.

"Odasaku, tidak mau bertanya bagaimana aku kembali?" Dazai merebahkan kepalanya ke meja.

"Tentu, tapi daripada itu, aku benar-benar bersyukur kau ada di sini."

"Eh? Odasaku tidak marah karena kutipu?"

"Aku ingin memukulmu, tentu saja."

"Ugh ... maaf, deh."

"Aku hampir menyesal karena mempercayaimu, Dazai."

Dazai entah kenapa merasa seperti dia sedang dimarahi oleh saudara yang lebih tua. Meskipun dia tidak punya keluarga pada kenyataannya.

"Aku benar-benar minta maaf, Odasaku."

Dazai memejamkan matanya. Selain ekspresi kasihan, dia juga tidak suka ketika Odasaku menatapnya sedemikian tajam. Padahal kalau orang lain yang memelototinya begitu, mungkin dia merasa menang.

Odasaku menepukkan tangannya ke kepala Dazai. "Yah, apapun," gumamnya sederhana.

"Dazai-kun!" Ango berseru dari pintu bar. Dia masuk dengan tergesa dan mengguncang bahu pemuda itu, sekedar memastikan tidak sedang salah orang. Dari reaksi Ango, sepertinya Odasaku yang memanggilnya.

"Ahaha ... lama tak bertemu, Ango!"

"Apanya yang 'lama tak bertemu'! Kupikir kau benar-benar mati, Dazai-kun!" Ango yang ekspresif seperti ini, tidak akan kalian temukan di luar bar, tidak pada siang hari.

"Jadi, bagaimana kau bisa lolos, Dazai?"

"Teleportasi."

"Huh?"

Dazai tersenyum. "Karena Odasaku merobek kartuku, maka aku jadi tidak lagi punya kemampuan penetral di sana." Yang berarti sekarang kemampuan itu sudah kembali padanya. "Aku menyimpan puluhan kartu penghancur, kalian tahu. Atau setidaknya, itu bisa jadi penghancur ketika kugunakan."

Odasaku dan Ango bisa membayangkan.

"Jadi, uh, pertama-tama, aku menghancurkan para naga di sana dengan kartu 'Jeanne and the Dragon'."

"Dazai, itu bukannya kemampuan untuk mengendalikan ... naga?"

"Aku memerintah mereka untuk membakar diri sendiri

'Anak ini ... benar-benar menghancurkan dunia sana, ya.'

"Setelah itu aku menggunakan ini dan itu, lalu menemukan kartu teleportasi dan memakainya untuk pindah ke sini."

Ini dan itu yang disebut Dazai pastinya adalah deretan kekacauan yang dia sebabkan selama sebulan. Odasaku dan Ango tidak terlalu masalah untuk melewatkan detail.

"Oh iya, kau menemukan orang yang membuat dunia itu?" tanya Odasaku, tiba-tiba penasaran.

"Nemu, kok. Dia punya kemampuan mengubah kemampuan jadi kartu, tapi bukan dia yang benar-benar mengumpulkan semua kemampuan itu. Seseorang memaksanya. Dia menarik orang-orang masuk lewat peti itu untuk minta tolong."

"Dia memang ingin dunia itu dihancurkan ...?"

"Iya."

Ango tercenung sebentar, seolah memikirkan sebuah nama. "Dazai-kun, orang yang mengumpulkan semua kemampuan itu, kau diberitahu namanya?"

Dazai mengangguk. "Namanya ... Shibuzawa Tatsuhiko."

Omake

Dazai memejamkan matanya dengan pasrah ketika naga merah melayang beberapa meter di atasnya "Mati dimakan naga sebenarnya cukup legendaris juga," gumamnya, sementara makhluk yang akan memangsanya--atau paling tidak menyemburinya api--semakin dekat.

'Baiklah, aku percaya.'

Matanya mendadak terbuka. Dazai menarik keluar deretan kartu dari sakunya. "Hmm, ini tidak bagus, ini bagusan nanti, ini lumayan sih, tapi ..." Dibacanya buru-buru setiap tulisan di kartu dan mengomentari seberapa baik itu untuk digunakan. "Nah, yang ini!" Dazai memilih satu, merobeknya dan mulai bersenang-senang dengan kekacauan.

End.

(Maaf kalau bikin bosan ~)