Boboiboy hanya milik Animonsta
Warn: AU, HaliTauGem Siblings, Maybe OOC, Receh, Humor anjlok, Garingnya ngalahin produk tepung Sa*a ayam goreng krispi di TV.
You've been warned, honey.
Enjoy~
"SpiderWind! Beraksi! Hiahh!"
"SpiderWind akan menyelamatkan dunia!"
"Iyak! Roger, SpiderWind menuju lokasi!"
"Ah, maaf menginstrupsi, Kak Taufan. Tapi, aku sedang mengerjakan tugas. Suara Kakak cukup menggangguku dan menghilangkan konsentrasi," ujar Gempa dengan nada halus dan lembutnya.
Di hadapannya terdapat sebuah laptop dengan soal-soal yang ditampilkan oleh layarnya, Halilintar melakukan hal yang sama. Keduanya mengerjakan tugas bersama di ruang keluarga.
"Oh, gitu~" balas Taufan dengan nada minta ditabok. "Iya, SpiderWind bakalan lebih hening," balasnya sambil mengibaskan tangan.
Gempa tersenyum lembut, ia kembali mengerjakan soal-soalnya dengan tenang.
Taufan sendiri tidak ikut mengerjakan tugas yang deadline-nya sebentar lagi, ia sedang sibuk sekarang. Sedang sibuk meng-cover Spiderman, misalnya. Lihat saja, di punggungnya terdapat selimut berwarna merah milik Halilintar—Halilintar nggak protes karena dia udah capek dan sibuk. Pakaiannya berwarna biru. Biru dan merah, nama Angin Topan, logo di jaket dan topi juga angin topan, udah jadi SpiderWind belum, tuh?
Taufan meraih buku tebal terdekat, ia mendekatkannya pada telinga dan memasang wajah serius. "SpiderWind disini. Roger! ... Laksanakan!"
Pemuda itu melempar buku tebal yang memiliki name tag Boboiboy Halilintar di cover bukunya, ke sembarang arah. Taufan sendiri langsung berlari kalap dan menaiki anak tangga, bahkan dilewatinya dua hingga tiga anak tangga sekaligus.
Gempa tersenyum maklum di balik layar laptopnya yang menyala. Semenjak pemberitahuan bahwa wabah pandemi merajalela, dan para warga negara diharuskan mengisolasi diri di rumah masing-masing, sikap Taufan menjadi lebih menyerempet ke nggak waras.
Setiap hari, Taufan kerjaannya lari-lari nggak jelas di rumah. Meng-cover Spiderman—selimut Halilintar berperan banyak disini—dan berharap bisa manjat gedung. Yang realitanya hanya bisa manjat tangga dengan cara lompat-lompat sampai harus jatuh segala.
"Kata Papa Amato, kita harus berdikari, Blazey!"
Gempa menolehkan pandang, sedikit was-was kalau kakaknya berulah lagi. Halilintar masih diam, mengerjakan soal-soal dengan wajah datar. Apa Halilintar mencoba meng-cover patung disini?
Taufan kembali dengan boneka yang sebesar kepalan tangan, ia memeluknya mesra.
"Nah, Blazey! Kenalkan, ini Gempa! Adikku yang manis sekali~!" Taufan menunjuk Gempa dengan tangan kanannya. Gempa tersenyum heran, kenapa kakaknya ini tambah nggak waras?!
"Dan yang satu lagi, yang wajahnya sok serius dan judes itu. Namanya Kak Halilin!" Taufan beralih menunjuk kakaknya dengan terang-terangan, ia kembali memeluk boneka dengan pakaian merah yang ia sebut Blazey dengan penuh kasih sayang.
"Kak Taufan? Sedang apa?" Gempa bertanya. Walaupun dapat dilihat secara jelas, bahwa Taufan sedang duduk-duduk di sofa sambil mengajak bicara bonekanya. Yang Gempa herankan, darimana asal muasal boneka itu?!
"Ah! Gempa! Kenalkan teman baruku! Namanya Blazey!"
"Er ... Kenapa namanya mirip Blaze?"
Raut wajahnya tiba-tiba berubah, ia terduduk lemas. "Huweee! Gempa!" Taufan menubruk adiknya dengan pelukan menyesakkan, Gempa jadi kesulitan bernapas. Harus memanggil seorang Halilintar dulu agar Taufan bisa melepaskan Gempa.
"Aku rindu teman-teman laknatku!" rengek Taufan.
"Buset bro, gua sih, owh aja," balas Halilintar, kalimatnya mengikuti komentar-komentar hits di Instagram. Dan akhirnya Halilintar kebagian dialog, yeay!
"Kak Hali jahat!"
"Kenapa nggak pakai layanan Video Call di WhatsApp aja? Udah bisa sampai delapan orang, lho. Kalau aku sih, satu orang aja nggak ada." Gempa melunturkan senyum manisnya—yang kalau ditunjukkan di luar rumah, akan menaklukkan sepersekian gadis dan wanita paruh baya. Bahkan nenek-nenek masuk dalam katagori itu—lalu menunjukkan wajah murung.
"Cup, cup. Yang tabah ya, orang tabah disayang SpiderWind," ujar Taufan mencoba menenangkan adiknya.
Gempa menghembuskan napas, ia mencoba tersenyum pada kakaknya walau hatinya perih. Dalam hati tetap berteriak nista, ini nggak ada yang mau ngobrol aja gitu sama aku?! Jahat kalian! "Terima kasih, Kak Taufan."
"Iya, Gem. Terima kasih juga pada Blazey yang sudah memberiku motivasi!" Taufan mengulurkan Blazey ke arah wajah Gempa—benar-benar di wajah Gempa. Gempa tersentak kaget, masa ia harus ikutan nggak waras?
"Gua nggak ada yang nelepon tiap hari b aja, tuh."
Gempa menatap Halilintar seolah kakaknya itu adalah malaikat penyelamat.
"Kita kan, lagi bahas Video Call, Kak," ucap Taufan.
"Ya terus?"
"Terus hubungannya Telepon sama Video Call, apaan?"
"Nggak ada, sih," jawab Halilintar datar.
"Ih, Kakak! Bego kok, dipelihara."
Halilintar mengepalkan tangannya kesal. "Seharusnya kau lihat dirimu sendiri! Ngomong kok, sama boneka! Lagian ya, fitur Video Call dan Telepon di WhatsApp itu sama aja!"
"Aku nggak ngomong sama Blazey! Dan fitur Video Call dan Telepon itu jelas-jelas beda! Video Call bisa lihat wajah kalau Telepon nggak bisa!"
"Kau dari tadi bicara pada bonekamu seolah benda itu hidup! Apa perlu menungguku depresi dulu untuk menghentikanmu, hah?! Video Call maupun telepon, sama aja! Sama-sama bisa dengar suara!"
"Sudah kubilang! Aku tidak bicara pada Blazey! Aku—"
"BERHENTII!" Gempa yang sudah luar biasa stres karena tugasnya, terpaksa harus menambah stres ketika kedua kakaknya bertengkar, lagi. Untung saja hari ini tidak melibatkan meja dan kursi seperti minggu lalu.
"BERISIK, ANAKNYA AMATO!" Tok Aba datang dari arah kamarnya sambil membawa sapu lidi. Wajahnya mencoba digarangkan.
Ketiga cucu Tok Aba tersentak kaget, mereka tidak pernah tahu bahwa Tok Aba bisa berteriak sekencang ini.
"Haihh ..." Tok Aba menghela napas. "Kenapa kalian ribut-ribut begini? Bisa kedengaran sampai tetangga di ujung sana, tuh." Tok Aba menunjuk salah satu arah, mendefinisikan bahwa keberisikan mereka bisa terdengar hingga ke negara tetangga.
"Mana bisa jauh-jauh gitu, Tok," ujar Taufan ringan.
"Astagfirullah, istigfar. Atok sebenarnya udah capek ngurus kalian, tapi amanat dari Amato harus tetap Atok penuhi. Lagian kemana sih, bapak kalian itu? Ngilang-ngilang terus kayak doi." Tok Aba tiba-tiba membenturkan dahi di tembok terdekat, dengan pelan tentunya. Sapu lidinya sudah ia tinggalkan di tempat, biar sakit hati terus susah move on.
"Daripada kalian berisik-berisik gini, mending kalian potong rumput di halaman belakang, udah sampe setinggi lutut kalian, nih."
"Er ... Tok? Tapi kita masih memiliki tugas yang harus dikerjakan," ucap Gempa, berharap permintaan Atoknya bisa ditunda hingga tugasnya selesai.
"Lho, emangnya Atok peduli? Atok mau sore ini halaman belakang sudah rapi, serapi-rapinya artis di negara sebelah," ujar Tok Aba sambil kembali memasuki ruang kamarnya. Sapu lidi yang sebelumnya dibawa, ditinggalkan begitu saja, tergeletak di atas lantai.
Gempa tersenyum sabar, gapapa, dia udah biasa diginiin, kok!
"Gapapa lah, lagian kita juga harus berdikari! Harusnya kita punya inisiatif sendiri, dong! Ayo, SpiderWind duluan, ya!" Taufan beranjak dari tempatnya dan langsung berlari sambil melompat kecil ke arah pintu halaman belakang.
Halilintar yang sudah memutar bola matanya sejak mendengar kata 'berdikari', ikut beranjak dari tempatnya meski ogah-ogahan.
"KAKAK DAN ADIKKU YANG BUDIMAN. SPIDERWIND LUPA BAWA GUNTING RUMPUT!"
Tanpa disuruh dua kali, Halilintar dan Gempa mengambil dua buah gunting rumput dan sapu lidi yang awalnya terlupakan. Jika sapu lidi memiliki wajah, pasti rautnya sudah kegirangan karena yang menyelamatkannya adalah wajah tampan, datar, dan mempesona khas Halilintar.
Keduanya segera melangkahkan kaki ke arah halaman belakang. Keduanya mengerjapkan mata perlahan, bukannya rumput yang setinggi lutut yang Tok Aba ucapkan. Melainkan tumpukan sampah yang berceceran serta beberapa bunga yang layu.
Taufan tersenyum manis di tengah-tengah halaman belakang. Ini akan menjadi pekerjaan yang membosankan. Halilintar sedikit curiga kalau kakek mereka sengaja melakukan hal ini. Tapi ditepisnya pikiran itu karena tak mau melabeli diri dengan kata 'durhaka'.
"Nah, Kak Hali yang budiman. Jika Kak Hali belum tahu cara memotong rumput, maka begini caranya," ujar Taufan menggurui Halilintar, yang hanya memiliki stok kesabaran lebih sedikit dibanding siapa pun.
Sontak, kemarahan Halilintar tersulut. "Kau pikir aku payah, hah?! Sampe nggak tahu caranya potong rumput?!"
"He~? Aku nggak bilang begitu, lho~" balas Taufan sambil memotong rumput dengan asal.
Halaman belakangnya sendiri sudah terbebas dari sampah-sampah, bibit bunga baru sudah ditanam di tempat yang bertolak belakang dari kedua kembaran yang memiliki hobi bertengkar itu berada. Gempa sendiri sedang menyiram bibitnya sambil bersenandung riang.
"Jelas-jelas kau menyiratkan bahwa aku ini payah, harusnya kau lihat dirimu sendiri! Ngaca! Nggak punya kaca?!"
"Haduh, aku nggak ngomong gitu, kok. Ya udahlah, terserah Kakak saja. Biar Kakak berdi—"
"Shut up!"
"Hah?" Taufan nggak mudeng, ternyata. "Kakak. Kakak kan, tahu, aku nggak bisa Bahasa Asing. Pake bahasa lokal juga gapapa, kok."
Gempa menghela napasnya lagi. Kenapa sih, Halilintar dan Taufan harus menjadi kakaknya? Gempa capek tiap hari ribut mulu.
"Kau ini ...!"
"Lho, aku salah apa lagi? Perasaan setiap aku ngomong, salah terus, deh. Aku kan, cuma bilang berdikari. Aku mempelajarinya dari Ayah. Nggak boleh, ya?"
"Tahu nggak? As a main character! Aku udah bosan dengar kata itu tahu! Emangnya aku apaan, dijejelin kata itu terus?!"
"Kak, udah kubilang. Pake bahasa lokal aja, plis. Eh, plis itu kan, bukan bahasa lokal." Taufan terkekeh kecil.
"BERISIK LU! PERGI AJA SONO! JANGAN BALIK LAGI!"
"KENAPA KAKAK BERTERIAK PADAKU?!"
"KAU SENDIRI BERTERIAK PADAKU, TUH!"
"AKU BERTERIAK PADA KAKAK, KARENA KAKAK JUGA BERTERIAK PADAKU!"
"ITU TIDAK ADA HUBUNGANNYA, SPIDERMAN JADI-JADIAN!"
"AKU SPIDERMAN ORIGINAL, LHO! JANGAN MEREMEHKAN KEMAMPUANKU!"
Gempa menghela napas pasrah. Ia menghampiri kedua kakaknya dengan tujuan menghentikan teriakan kedua kakaknya, kalau tidak mau bertingkah seperti sedang menerencanakn prank untuk tetangga.
Kalau untuk Halilintar, Gempa maklum saja. Kakak bucinnya itu baru saja diputusin oleh pacarnya, alasannya sebentar lagi ujian. Tapi kan, ujian tahun ini ... dihapus. Semenjak itulah, Halilintar teriak-teriak gaje. Dan Gempa memaklumi hal itu. Memangnya siapa yang mau diputusin setelah memberikan segalanya pada sang mantan pacar?
"Er ... Guys, bisa tidak kita sudahi semua ini?" tanya Gempa kalem. Ia berbicara dengan jarak aman, yakni satu meter. Jaga-jaga jika kedua kakaknya ini malah melempar barang-barang terdekat padanya.
"DIAM KAMU!"
Gempa menarik napas panjang. Apa karena mereka kembar, maka mereka bisa berbicara barengan gitu? Lantas, Gempa siapanya mereka? Ikan lele?!
"BERHENTI KALIAN! AKU UDAH STRES TERUS KALIAN MAU AKU DEPRESI? IYA?! LALU MATI? KALIAN NGGAK BISA MAKAN KALAU GINI JADINYAAA!"
Teriakan menggelegar Gempa langsung menghentikan adu teriak kedua kakaknya. Tampang Gempa sekarang menyeramkan, ga boong, deh.
Taufan langsung bersimpuh di kaki sang adik, sementara satu tangannya menarik-narik Halilintar agar ikut bersimpuh sepertinya.
Halilintar menepisnya kasar, ia kembali sibuk dengan rumput-rumput menawan yang menunggu untuk dipotong.
"Maafkan hamba, Yang Mulia Gempa. Saya khilaf. Iya, iya. Ampun."
Samar-samar, Halilintar mendengar kalimat yang Taufan keluarkan. Nadanya terdengar pasrah. Halilintar tidak tahu harus tertawa nista atau harus ikut bersimpuh seperti adik jahilnya.
Gempa menghela napas. "Iya, Rakyat Jelata. Silakan lakukan pekerjaanmu lagi."
Wajah Taufan mendadak ceria, bersinar, mempesona. "Terima kasih, Yang Mulia!"
"Hmm." Gempa membalas dengan gumaman, ia kembali sibuk pada bibit bunganya setelah memastikan keadaan normal kembali.
"Kenapa Kakak tidak ikut minta maaf, sih?"
"Harus, ya? Aku nggak mau kelihatan kayak orang yang lagi ngemis-ngemis cinta meski ditolak juga akhirnya." Halilintar tersenyum miris, lalu wajahnya menampilkan ekspresi terkejut. Ia mendapati dirinya malah kelepasan bicara, kata-kata yang tidak boleh dibicarakan bersama Taufan.
"PFFTT ... BUAHAHAHAHAHHA. KAKAK SERIUS NGEMIS-NGEMIS?! TERUS DITOLAK JUGA?!" Taufan guling-guling di atas rumput yang sudah terpangkas. Membuat pakaian maupun selimut Halilintar yang masih terpasang di tubuhnya ikutan kotor.
Taufan lalu bangkit dari tempatnya, dan malah berlarian mengelilingi halaman belakang sambil teriak-teriak gaje.
"KAU INI MEMANG MAU DIHAJAR, YA?!" Halilintar hendak maju, ia sudah mengepalkan tangan kanannya. Namun, sebelum aksi baku hantam terjadi. Gempa sebagai rem dadakan, menghentikan kakaknya dari aksinya.
Taufan menghentikan kegiatan lari-lari nggak jelasnya. Malu juga karena aksi gajenya kepergok oleh gadis berkerudung merah muda tetangga sebelah yang lagi di-PDKT-in olehnya. Kan, nggak lucu kalau doi malah ilfeel.
Namun, Taufan berdeham sejenak untuk menghilangkan kegugupannya. Ia melepaskan selimut Halilintar yang malah mencekik lehernya perlahan. Ayolah Taufan masih mau PDKT, belum mau mati muda. Lalu, Taufan bangkit dari tempatnya dan menghampiri Halilintar yang masih memiliki hasrat ingin menghajarnya.
Taufan mengulurkan tangan kanannya, seulas senyum kecil tampan mempesona diterbitkannya. Kucing yang lewat aja sempat salah fokus.
Gempa yang masih mencoba menahan kakaknya akhirnya melepaskannya perlahan, kakaknya sudah berhenti memberontak.
"Apaan?" tanya Halilintar ketus.
"Maafin deh, iya. Upan ngaku salah."
"Ya, setiap kesalahan yang ada di muka bumi ini adalah kesalahanmu. Jadi, permintaan maaf saja nggak cukup," balas Halilintar, ia melipat tangan di atas dada.
"Ih, kok ngelunjak, sih?"
"Kenapa? Keberatan?"
"Tentu saja keberatan! Kakak kan, cowok!"
"Hubungannya apa?!"
"Cowok itu selalu salah, cewek itu selalu benar. Kalo Kakak mau kata-kata Kakak benar semua, jadi cewek dulu sana!"
"APA KAU BILANG?!"
Taufan dan Halilintar malah bermain kejar-kejaran tanpa melibatkan Gempa. Padahal Gempa bisa sakit hati, lho. Gapapa, Gempa kuat!
"KAKAK, KITA HARUS BERDIKARI, LHO!" teriak Taufan. Sambil berusaha mempercepat laju larinya. Meski area bermain keduanya hanya sebatas halaman belakang rumah yang diputari beberapa kali oleh keduanya.
"HUBUNGANNYA APAAN?!"
"NGGAK ADA. BIAR NYAMBUNG AJA SAMA JUDUL! KITA HARUS BERDI—"
"SHUT UP!"
"TUH KAN, NYAMBUNG! GEMPA AYO IKUTAN LARIIIII!" Taufan tanpa permisi menarik tangan Gempa dan membawanya memanjat pagar pembatas antara jalanan dengan halaman belakang rumah. Untung pagarnya tidak terlalu tinggi.
"Ah, Kak Taufan! Kita nggak boleh keluar rumah, kan?" tanya Gempa sambil sedikit berteriak. Keduanya sedang berlarian di tengah jalanan yang sepi.
"Halaman belakang rumah juga termasuk area luar rumah, kan?" tanya Taufan sambil melebarkan seringaian.
"SINI KALIAN! NGGAK ADA AMPUN-AMPUN LAGI!"
"HUWAA, MACAN NGAMUK!"
"APA KAU BILANG, ANGIN TOPAN?!"
Gempa terkekeh pelan, meski ia harus dipaksa menyejajari langkah sang kakak.
Sekarang ia tahu jawabannya. Mengapa Halilintar dan Taufan harus menjadi kakaknya. Karena tanpa mereka, hidup Gempa tak akan berbeda jauh dengan yang namanya hampa.
Fin
Ekstra~!
Setelah puas saling mengejar, Halilintar dan Taufan kembali berbaikan tanpa kata.
Keduanya sedang berada di dapur, meneguk segelas air dingin dari dalam kulkas.
Gempa yang baru saja datang langsung ternganga. "Kakak-Kakak sekalian. Kalian nggak puasa?"
Pertanyaan itu sontak membuat keduanya menyemburkan air minum. Gempa meliriknya tak terkesan. Pasti dia yang akan membersihkannya, berani jamin, deh.
"KENAPA AKU BISA LUPA?!"
"OTAK KAKAK HARUSNYA BISA BERDIKARI. PASANG SENSOR DI OTAK KALAU KITA LAGI PUASA!"
"LAGIAN OTAKMU EMANG NGGAK BERDIKARI, HAH?!"
Bolehkah Gempa bilang, kalau teriak-teriak seperti ini juga berpotensi membatalkan puasa?
Ekstra 2
"Mimpi apa aku punya cucu yang tingkat kewarasannya di atas rata-rata begini?" tanya Tok Aba lirih.
"Bagaimana denganmu, tembok? Ada berapa cucumu?"
"..."
Tidak bermaksud membuat Tok Aba OOC /bow. Tok Aba hanya sedang berkeluh kesah tapi tidak pada tempatnya, kok :D!
