Before Love Came to Kill Us

.

©Big Hit Ent.

TaeKook

Tragedy

.

.

.

Sinar keperakan bulan yang masuk dari kaca jendela tanpa gorden terpantul indah di iris mata Jungkook. Pemuda itu menopang dagunya dengan tangan yang ia sandarkan ke kusen jendela, mengamati keramaian pusat kota Seoul 11 lantai di bawah sana yang masih hiruk pikuk tanpa mengenal waktu.

Mesin pendingin terus mengembuskan aliran udara bersuhu rendah ke arah tubuhnya yang tanpa balutan sehelai benang pun. Namun, rasa dingin yang dirasakan pundak hingga punggung telanjangnya kalah dari kehangatan yang melingkari pinggang. Seseorang memeluknya agak terlalu erat seolah Jungkook bisa kabur kapan saja bila pelukan itu melonggar sesaat. Orang itu tidur dengan pipi menempel pada perut Jungkook bagai anak kecil, membagi kehangatan lain.

"Mmmh"

Gumaman setengah sadar menyentakkan lamunan. Tanpa menoleh, telapak tangan Jungkook yang bebas mulai mengelus kepala pemuda di bawahnya. Atas bawah atas bawah. Gerakannya terus direpetisi sampai kemudian satu lengan yang tadinya melingkari pinggang Jungkook menghentikan kegiatan pemuda itu.

Jungkook tersentak. Hati-hati ia menoleh. Kini telapak tangannya telah diarahkan untuk menangkup sebelah pipi satunya pemuda tadi yang tidak menempel pada perut Jungkook. Sebuah kecupan singkat menyentuh jemarinya. Ketegangan yang lebih membekukan dari aliran udara mesin pendingin di kamar itu menjalar dari tulang punggungnya sampai ke tengkuk. Tanpa disadari ia bergidik.

Mata orang tersebut masih terpejam. Tak ada gerakan tanda ia akan bangun atau mengubah posisi tidur, tetapi bibirnya yang pucat bergumam sesuatu,

"Jangan tinggalkan aku, Kookie."

Setelahnya yang bisa telinga Jungkook tangkap hanyalah suara aliran napas teratur yang menandakan bahwa orang tersebut sudah kembali ke alam mimpi. Ketegangan di punggungnya mencair. Sebagai gantinya ia gemetar. Jungkook membungkuk makin rendah hingga ujung hidungnya hampir mencapai rambut pemuda di bawahnya. Matanya juga terpejam kuat sebagai usaha untuk meredam getaran itu.

Entah sudah berapa kali kalimat tersebut ia dengar. Segalanya mungkin akan baik-baik saja bila diucapkan pada keadaan normal. Keadaan ketika mereka hanya pasangan biasa yang baru saja bergumul dalam ranjang dengan penuh cinta. Nyatanya mereka jauh dari definisi itu.

Tidak sampai sejam lalu tubuhnya habis dipukuli sebelum kemudian orang tersebut kelelahan dan jatuh tertidur bagai anak-anak. Jungkook meringis merasakan sudut bibirnya yang tiba-tiba mendapat sengatan rasa sakit. Nampaknya dia akan kembali masuk kelas dengan muka keunguan besok pagi.

Dulu ia akan mentah-mentah bersedia menetap kalau perlu sampai sisa umur. Bahkan tanpa diminta pun dengan senang hati ia lakukan. Sekarang ia sudah terlalu lelah. Keingannya cuma satu. Kebebasan. Hubungan mereka sudah di tahap terlalu beracun sampai tiada lagi hal yang bisa diromantisasi. Namun, mudah mengatakan ingin merdeka sementara orang tadi memintanya untuk terus ada. Apalagi itu sama sekali bukan permintaan, tapi titah.

Jungkook kembali menegakkan punggung. Matanya nanar menatap orang yang baru saja minta untuk tidak ia tinggalkan ini. Wajahnya saat tidur benar-benar polos tanpa jejak kebengisan terselip. Begitu damai sampai-sampai Jungkook memutuskan akan bertahan lagi kali ini. Ia kalah.

Telunjuknya menyibakkan helaian rambut yang jatuh menutupi wajah orang itu. Jungkook menghela napas. Ekspresinya melembut. "Katakan padaku, bagaimana aku sanggup meninggalkanmu, Tae?"

Ia mengecup rambut di pucuk kepala Taehyung lembut. Berhati-hati agar tidak mengusiknya. Saat itu jam sudah menuju pukul tiga pagi. Jungkook menghabiskan malam dengan mengamati wajah Taehyung yang sedikit tertimpa cahaya bulan. Segala hal dari pemuda ini sungguh luar biasa. Ia diberkahi kesempurnaan wajah yang selalu berhasil menyihir Jungkook meski tiap hari mereka berjumpa sejak memutuskan untuk tinggal bersama dua tahun lalu. Jungkook tak pernah bosan memandanginya terutama selagi ia tidur. Sudut bibirnya melengkung kecil sambil terus mengamati Taehyung.

Lalu tiba-tiba ekspresinya menggelap. Ia memarahi diri sendiri. Sadar Jeon Jungkook, serunya di dalam benak. 'Ingat apa yang sudah dia perbuat padamu. Kau pikir dirimu pantas diperlakukan seperti itu?'.

Pikirannya yang lain menentang. Taehyung membutuhkannya.

Cuma dia yang bisa melengkapi Taehyung. Lagipula segala tindakan kasarnya tidak dilakukan setiap saat. Tidak tiap kali bertemu Taehyung berlaku keji seperti memukulinya tanpa ampun. Tidak tiap kali bergumul di ranjang Taehyung perlu menyakiti tubuhnya untuk bisa lebih puas. Tidak tiap kali saat mabuk Taehyung kehilangan kendali hingga tega membuatnya megap-megap kehabisan pasokan udara hingga bekas cekikan itu merah di leher.

Tidak setiap kali.

Seorang bijak pernah berkata kepadanya bahwa ketika kita diperlakukan buruk oleh seseorang maka yang harus kita lakukan ialah memanggil kembali memori-memori indah tentang orang tersebut. Momen manis, kebaikan, pengorbanan, pemberian, dan sebagainya yang kalau Jungkook pikir-pikir kembali alangkah tidak tau dirinya jika ia berani angkat kaki pergi dari apartemen mereka sebagai tindakan minimum atau sekalian pergi dari kehidupan Taehyung. Terus bersembunyi di tempat ia sama sekali tidak dikenali lalu memulai hidup baru.

Jungkook bukan orang yang tidak tau diri. Pergumulan batinnya sekali lagi menghasilkan keputusan bahwa ia akan menelan perih dan tetap setia di sisi Taehyung. Lagipula bila memutuskan pisah seakan Jungkook bisa saja sendirian terombang ambing di kota Seoul tanpa ada sumber daya dan koneksi untuk tetap melanjutkan hidup.

.

.

.

Notes: Dibuat segera setelah youtube secara random memutarkan lagu "Jessie Reyez ft. Eminem - Coffin". Saya kagum mendengar betapa beracunnya dinamika hubungan yang disampaikan pada lirik lagu dan tertarik menguji sampai mana kemampuan saya menggali ke-toxic-an dalam suatu hubungan ke media fanfiksi.