Before Love Came to Kill Us

Chapter 2

.

©Big Hit Ent.

TaeKook

Tragedy

.

.

.

Tepukan tiga kali di bahu berikut seruan parau Taehyung menyentakkan Jungkook dari alam bawah sadar. Pagi datang secepat kerjapan mata padahal ia pikir baru terlelap lima menit lalu. Matahari sudah terbit sempurna menyajikan sinar hangat yang menyilaukan. Jungkook mencoba bangkit dari ranjang sambil bersungut-sungut. Pelupuk matanya terasa berat dan perih. Rasanya bagai kemasukan pasir dengan bonus terproduksinya air di sudut mata. Pandangan yang masih agak kabur ditambah salahnya tidak berdiam sambil menyesuaikan diri pada keadaan bangun mendadak dulu membuat tubuhnya limbung. Rasa pegal menjalar tiba-tiba dari beberapa titik, terutama area tengkuk. Jelas saja, dia terlelap dalam keadaan duduk. Lehernya berada di posisi miring hampir menunduk. Sangat tidak nyaman. Selain itu, bekas pukulan Taehyung yang semalam bersarang pada perut, dada, dan rahangnya kini tersengat oleh rasa sakit.

Jungkook menyadari bahwa Taehyung telah keluar kamar. Segera ia memungut kaos dan celananya yang berserakan di lantai kemudian berpakaian dengan susah payah. Ia lalu membuka pintu dan disambut bunyi ricik air dari shower yang dinyalakan. Berkat jadwal kelas paginya yang sama seperti jam masuk kantor Taehyung membuat rutinitas pagi mereka menjadi berbarengan. Pukul 07.00 pagi bangun lalu mandi dan sarapan hingga kira-kira setengah jam kemudian mereka siap berangkat.

Dua mug berukuran sedang diletakkan Jungkook pada meja makan dapur. Ia mengisi teko gendut berbahan alumunium dengan air dari wastafel sebelum kemudian menjerangnya di atas api. Tangannya meraih stoples bening berisi teh favorit mereka. Jungkook menaruh masing-masing satu kantong. Tak lupa juga ia tambahkan sesendok teh gula ke dalam mugnya dan dua sendok untuk Taehyung.

Dari dalam toilet suara air sudah tidak terdengar lagi. Bunyi pintu dibuka disusul langkah kaki Taehyung ke arah kamar terdengar dari dapur. Sambil menunggu airnya mendidih, Jungkook membuka kulkas. Dari dalam ia mengambil sebuah sendok bersih. Dinginnya logam itu entah mengapa membuat ujung jarinya lebih rileks. Jungkook lalu mengarahkan sisi cembung sendok ke area bawah mata. Tubuhnya tersentak sesaat setelah suhu rendah logam menyentuh permukaan kulit. Selebihnya yang terjadi justru sensasi dingin tersebut membantu menghilangkan perih.

Jungkook mengetahui trik ini dari salah satu teman kampusnya. Katanya selain bisa meredakan berbagai keluhan mata pasca begadang juga bisa menghlangkan kantung mata. Cara gadis itu saat membagikan rahasia kecil perawatan kulitnya terlihat sangat meyakinkan. Anak ini berbakat jadi sales, pikir Jungkook. Mulanya ia menertawakan, setelah iseng mencoba sendiri pada akhirnya harus dia akui temannya itu tidak berlebihan. Sendok kini menjadi barang wajib yang tiap malam harus ia siapkan dalam kulkas.

Tiba-tiba leher Jungkook dipeluk dari belakang saat sedang asyik memindahkan sendok bergantian pada pelupuk kiri kanan. Cubitan iseng diberikan Taehyung pada pipinya. "Kau sedang apa?"

"Mengurangi perih di mata. Seseorang membuatku terjaga hampir semalaman."

Respons Taehyung hanya berupa gumaman rendah. Laki-laki itu dengan santainya menekan sisi rahang Jungkook yang memar. "Kalau ini bagaimana? Didiamkan saja?"

Jungkook berhenti berkutat dengan sendoknya. Selajutnya ia cepat-cepat melerai dekapan Taehyung. "Percuma", katanya. "Mau kuobati juga kalau akhirnya nanti kena pukul lagi sama saja bohong."

"Astaga kau sarkas sekali hahaha." Tawa Taehyung memenuhi dapur apartemen mereka. Jungkook menghindar menuju kompor sambil mematikan apinya sebelum kemudian bahunya diputar. Bibirnya menempel pada milik Taehyung. Pemuda itu menciumnya tak sampai sedetik. Ciuman mereka singkat, tetapi sebelum Jungkook menghindar lebih lanjut, kedua telapak tangan Taehyung lekas menangkup pipinya. Pandangan mereka bertemu, dengan penuh determinasi ia berkata,

"Maafkan aku, ok?"

Jungkook meraih pergelangan tangan Taehyung. Kelopak matanya memejam. "Tanpa kau minta pun aku tau harus apa, Tae."

"Bagus." Taehyung mengusap kepala Jungkook. "Aku tidak akan melakukannya lagi. Kau tau aku bukan pria kasar."

Tak ada jawaban apa-apa dari Jungkook. Taehyung mengartikannya sebagai sinyal bahwa dia dimaafkan. "Sana mandi. Biar aku yang siapkan teh. Kau mau pakai masker atau tidak usah datang kelas saja hari ini?"

"Masker."

"Baiklah. Sekalian kubuatkan sarapan, ya. Roti bakar cokelat sepertia biasa, kan?"

.

.

.

Decitan ban terhadap jalan beraspal berbunyi samar kala Taehyung mengerem. Mereka telah sampai di kampus tempat Jungkook melanjutkan pendidikan jenjang sarjananya. Di sebelah kanan dari arah jalan berdiri megah bangunan kokoh berlantai lima dengan pahatan marmer berwarna keemasan bertuliskan "Seoul National Institute of Arts". Jungkook menyampirkan ranselnya di pundak lalu memakai masker warna hitam polos guna menutupi setengah wajahnya. Sampai petugas tau bahwa ia datang ke kampus dengan rahang bonyok, maka dirinya pasti disuruh pulang lagi meski telah membawa kartu mahasiswa. Penampilan dan sikap sangat dijunjung di sini. Bisa-bisa dia dikira habis terlihat insiden yang berpotensi menjatuhkan reputasi kampus.

Setelah memastikan maskernya rapi, sebelah tangan Jungkook bersiap memegang pintu mobil ketika Taehyung tiba-tiba menahan gerakannya.

Ia membuka pembicaraan, "Aku akan pulang telat nanti. Ada pesta makan malam bersama seluruh divisi dan tiap orang wajib hadir. Jangan menungguku, ya. Kau makan saja duluan."

Jungkook mengangguk tanpa menoleh.

"Kau bisa makan di luar atau masak sendiri. Kulkas kita penuh bahan makanan kok", lanjut Taehyung.

Masih tidak ada jawaban.

Kali ini Taehyung berdecak. Padahal ia sudah minta maaf, mengapa Jungkook malah bersikap dingin begini?

"Kookie, aku tau kau masih marah, tapi kalau kau terus bersikap kekanakan begini-"

Kalimatnya tidak bisa dilanjutkan karena Jungkook telah mengunci bibirnya. Mereka berciuman beberapa saat lalu Jungkook menjauhkan wajahnya.

"Aku tidak bermaksud membuatmu kesal. Kau kira sekarang jam berapa? Kau bisa telat ke kantor, Tae", ujar Jungkook sambil menaikkan kembali masker yang ia kenakan.

"Ah... benar juga. Hati-hati kalau begitu."

Jungkook buru-buru membuka pintu lalu melambaikan tangan pada Taehyung yang perlahan melajukan mobilnya. Ia memutar badan menuju setapak yang diapit rerumputan hias sebagai lahan terbuka hijau. Langkahnya tidak terlalu lebar. Masih ada waktu untuk menikmati udara pagi yang masih belum terlalu dipenuhi polusi. Jungkook mengisi paru-parunya dengan oksigen lalu mengembuskannya perlahan melalui mulut. Hal ini membantunya agar lebih tenang. Ia butuh menjernihkan pikiran supaya tidak lagi bersikap keterlaluan di hadapan Taehyung. Ada bagian dari dirinya yang merasa bersalah memerlakukan kekasihnya seperti tadi, tetapi ada pula bagian yang senang mendapati reaksi kesal Tae bahkan menurut sisi tersebut, Taehyung-nya berhak mendapat lebih dari sekadar respons pasif.

Tanpa sadar ia telah sampai pada pintu masuk yang wajib ditempeli kartu mahasiswa dulu lalu menunjukkan wajah di hadapan petugas keamanan. Jungkook berhasil masuk berbekal merendahkan maskernya hanya sampai bawah hidung. Beruntung petugas tersebut sudah mengenalinya. Ia melenggang santai sambil memeriksa huruf yang tertera pada tiap pintu, mencari ruangan untuk kelas paginya, filsafat seni.

Mata kuliah tersebut seharusnya sudah diambil pada tahun pertama jenjang perkuliahan, bukan pada tahun kedua sepertinya. Namun, saat itu Jungkook terlalu sibuk bekerja sambilan sampai tidak mengikuti masa orientasi yang berakibat pada dirinya tidak mengetahui info bahwa mata kuliah dari fakultas wajib diambil, bukan hanya bagian departemennya saja. Jadilah sekarang dia harus mengambil SKS tambahan demi mengejar ketertinggalan.

Selain dirinya, ada satu mahasiswa lagi yang bukan berasal dari jenjang pertama. Kasusnya agak lucu. Setelah diterima berkuliah di tempat mereka, pemuda itu malah mendaftar wajib militer sehingga ketika ia kembali ke kampus, angkatannya telah berada di tahun ketiga. Jungkook mengenalnya di minggu kedua kelas saat mereka duduk bersampingan. Kini, setiap kelas filsafat seni diadakan, orang itu pasti mengosongkan kursi di sebelahnya untuk nantinya Jungkook duduki.

"Ke sini, Kookie."

Seruan riang menyambutnya segera setelah masuk kelas. Jungkook berjalan ke arah datangnya panggilan. Posisinya kali ini tepat di tengah kelas. Kursi ketiga dari belakang.

"Eh, kenapa pakai masker? Sakit?"

Baru saja meletakkan tas langsung diinterogasi. Jungkook tersenyum sambil menyipitkan mata. "Flu biasa. Bukan masalah besar. Tidak ingin jadi lebih parah saja."

Lawan bicaranya membulatkan mulut membentuk huruf 'O'.

"Jimin hyung kenapa pilih bangku agak belakang?"

"Sejujurnya aku mau tidur saja di tengah kelas nanti hehe. Semalam aku begadang maraton film."

Jungkook memaksakan diri tertawa. Ngomong-ngomong soal begadang, harusnya dia yang lebih berhak tidur di kelas, tetapi sudah menjadi prinsip Jungkook untuk kuliah dengan sepenuh hati. Lagipula mata kuliah ini sangat menyenangkan untuk diikuti. Melalui filsafat seni, pemahaman tentang seni akan lebih luas karena banyak hal yang dapat dipertanyakan.

Jungkook menarik resleting ranselnya ketika dosen masuk, mencari buku catatan dan pulpen. Kelas dibuka dengan seruan selamat pagi dari dosennya, seorang wanita berusia kira-kira pertengahan 40-an, melalui pengeras suara. Raut wajahnya ramah, cara mengajarnya terlihat sangat antusias seolah seluruh mahasiswanya menyimak. Penampilannya sederhana dan manis. Kurang lebih beliau selalu memakai atasan blouse longgar dipadu celana panjang yang senada. Hari ini sama-sama berwarna cokelat susu dengan hiasan bunga di bagian bawah.

"Sehubungan dengan ide-ide penciptaan, proses mencipta karya seni bukan hanya didominasi oleh rasionalisme, empirisme, maupun daya pertimbangan rasio-empiris, tetapi juga oleh rasa, emosi, dan selera pencipta. Johann Wolfgang von Goethe menekankan pentingnya emosi pribadi pada penciptaan karya seni." [1]

Jungkook menggerakkan bibirnya tanpa suara agar nama yang terdengar asing itu dapat melekat lebih lama di ingatan. Ia menuliskannya asal di catatan, versi rapi dari pemikiran tokoh tersebut akan ia cari di internet nanti.

"Ada yang bisa menyebutkan apa saja emosi-emosi pribadi dalam diri manusia?"

Seorang gadis yang duduk di kursi paling depan mengangkat tangan. "Cinta, Bu."

Seisi kelas tergelak mendengarnya. Teman gadis tadi yang duduk di sebelahnya menyenggol bahunya main-main sambil tertawa. Jungkook mengerutkan dahi. Apakah yang dipikirkan para gadis hanya cinta?

"Sebenarnya bukan. Emosi dasar manusia yang diakui secara universal itu ada 6: bahagia, sedih, takut, marah, terkejut, dan jijik."

Seorang mahasiswa menginterupsi sambil mengangkat tangan, "Bukankah ketika jatuh cinta kita akan bahagia, Bu?"

"Betul. Namun, faktanya tidak sedikit juga orang yang lebih memilih mengakhiri hidup ketika putus cinta."

Kelas kembali heboh.

Di depan kelas, dosen tersebut juga tak sanggup menahan geli. "Jadi cinta bukan emosi dasar, ya. Pengalaman cinta setiap orang berbeda."

Selanjutnya isi kuliah yang semula berfilsafat berubah menjadi kelas cinta. Ini menarik untuk disimak sampai Jimin yang di lima menit awal sudah pulas tidur berbantalkan tangan di atas meja menjadi bangun dengan mata berbinar-binar, menyimak dengan serius. Segala hal mengenai cinta, harus diakui, memang menarik untuk dikupas tuntas. Akan tetapi, Jungkook malah mendapati dirinya merasa mual dan tidak nyaman.

Dosennya menjelaskan bahwa cinta telah menjadi sumber inspirasi karya seni dari sejak lama. Hampir semua karya dengan cinta sebagai sumber inspirasi utamanya mendapat tempat di hati publik. Untuk itu penting mengetahui berbagai sudut pandang mengenai cinta juga dari sisi keilmuan. Salah satu yang paling terkenal ialah teori segitiga cinta.

"Ada 3 komponen dalam cinta, yaitu intimacy, passion, dan komitmen. Ketiga hal dasar ini masing-masingnya memiliki tipe cinta tersendiri.

Jungkook sibuk mencatat berbagai informasi yang didengarnya. Tidak penting memang, tetapi bisa jadi suatu hari nanti dapat membantunya untuk mendapat sumber inspirasi. Ia menulis cepat-cepat agar tidak ketinggalan materi sampai kemudian sesuatu seakan menonjoknya,

"Tipe cinta dengan satu komponen yang terakhir adalah empty love. Hanya terdiri dari komitmen. Karakteristiknya ialah adalah dorongan yang kuat untuk mempertahankan suatu hubungan. Tipe ini dapat terjadi pada awal-awal hubungan, ketika intimacy dan passion belum berkembang. Selain itu, dapat terjadi pula pada hubungan yang sudah lama ketika komponen intimacy dan passion tadi telah berkurang atau bahkan hilang, tetapi ada hal tertentu yang membuat pasangan tersebut harus bertahan. Pada kedua situasi tadi-"

Jungkook tidak bisa mendengar sisanya.

Ia telah berlari keluar dari kelas sambil membekap mulut dengan telapak tangan. Rasa ingin muntah tak bisa ia tahan lagi. Jungkook tidak peduli bahwa ia telah mengacaukan sesi kuliah. Dia butuh mengeluarkan apa pun yang memenuhi rongga mulutnya di toilet sekarang.

BRAK!

Bunyi kencang dari pintu yang dibanting terbuka bergema di toilet kosong. Jungkook masuk ke salah satu bilik dan cepat-cepat menurunkan maskernya. Memuntahkan apa pun yang membuatnya mual.

Anehnya tidak ada benda apa pun yang keluar. Tidak ada sisa proses pencernaan roti bakar dan teh yang ia konsumsi saat sarapan tadi naik ke kerongkongan. Jungkook terus memuntahkan segalanya. Dan masih tetap berwujud muntah kering tanpa ada yang keluar. Sekarang pangkal lidahnya malah sakit saking kerasnya ia berusaha memuntahkan sesuatu

Jungkook terduduk lemas di lantai toilet. Perutnya ikutan mulas. Ia memegangi perut yang pada permukaannya itu masih terdapat memar kecokelatan. Sakitnya menjadi dua kali lipat. Ia meluruskan kaki sambil memejamkan mata. Mencoba mengatur napas.

Tiba-tiba pintu biliknya diketuk dari luar.

"Jungkook."

"Jungkook kau bisa dengar aku?"

"Kau tidak apa-apa?"

"Hei."

Ia membuka mata dulu sebelum menjawab, "Aku baik-baik saja, Hyung". Hati-hati ia mencoba berdiri sendiri dengan bertumpu pada partisi toilet. Pintu terbuka dan di hadapannya Jimin memandang dengan raut muka khawatir. Sedetik kemudian barulah ia menyadari ada yang aneh pada wajah Jungkok. Jimin mengarahkan satu tangan ke juniornya itu.

"Aku baik-baik saja, Hyung."

Jungkook menepis tangannya dan langsung berjalan melewatinya sambil memasang masker kembali. Kelas sudah selesai saat Jungkook tiba. Sebagian besar mahasiswa sudah meninggalkan ruangan menuju kelas berikutnya. Jungkook memutuskan hari ini dia akan membolos saja.

Setelah memastikan barangnya tidak ada yang tertinggal, Jungkook langsung memakai ranselnya dan pergi. Di tengah koridor ia berpapasan dengan Jimin kembali, tetapi ia tidak mau repot-repot menjawab seruan kekhawatiran seniornya. Dia butuh waktu sendiri.

Kepalanya yang menunduk membuat pandangan Jungkook hanya terbatas pada jalanan di depannya. ia terus berjalan hingga tiba di halte bis kampus. Otaknya tanpa permisi memutar kembali isi kuliah tadi.

Terpaksa bertahan, ya?

Jungkook menyandarkan punggungnya di tembok halte. Keinginannya untuk muntah muncul lagi.

.

.

.

[1] Susantina S. Filsafat seni: antara pertanyaan dan tantangan. Harmonia: Jurnal Pengetahuan dan Pemikiran Seni. 1(2):4-16.