Miyuki Kazuya x Sawamura Eijun

Rate! M

(Peringatan! Bukan untuk anak dibawah umur. Tapi, kalo bandel, silahkan :v)


Cahaya di langit terlihat meredup. Bintang-bintang mulai terlihat bersinar, menyinari langit gelap. Setelah latihan selesai, Sawamura terlihat berlari seperti biasa.

"Sawamura, jangan terlalu memaksakan diri ya."

"Miyuki... senpai! Aku tau kok!"

Ejek Miyuki sebelum meninggalkan kouhainya. Sawamura segera berlari setelah merespon ejekannya. Miyuki menghela napas ketika melihat punggung pitcher kidal itu mulai mengecil dari pandangannya. Ia menyesal. Kenapa ia tidak bisa membuat alur percakapan yang lebih panjang? Apakah ia tidak bagus dalam membuat topik pembicaraan? Itulah yang Miyuki pikirkan.

Sebenarnya, ada banyak topik pembicaraan yang ada di benaknya. Namun, topik itu tidak mau keluar dari tenggorokannya. Malah hal lain yang keluar. Masalah ini hanya terjadi saat ia bersama Sawamura. Miyuki mulai menyadarinya. Bahwa, akhir-akhir ini ia kurang berinteraksi dengan Sawamura. Tapi, sejauh ini Sawamura masih belum berubah.

Angin dingin berhembus menyapu kulit. Meskipun sekarang musim panas, tapi pada malam hari tetap terasa dingin. Setelah selesai mandi, Sawamura kembali ke kamarnya. Perbedaan suhu antara siang dan malam pada musim panas mungkin bisa membuatnya masuk angin.

"Tadaima modorimashita. Eh?"

Tidak ada seorang pun di kamar. Sawamura terlihat berpikir dan ia pun ingat. Malam ini Kuramochi mengatakan bahwa ia akan mencoba game baru di kamar Miyuki. Mungkin ia akan telat kembali ke kamar.

Sawamura berbaring di tempat tidurnya. Ia membuka ponsel dan mengecek Line nya.

Kelopak matanya memberat. Apa ia terlalu keras berlatih? Baru saja Sawamura membaca Line dari Wakana, ia tertidur.

DUBRAK!

"Miyuki, kau sekarang lagi senggang kan? Aku kemari membawa game yang baru ku beli."

"Kenapa tidak mainkan di kamarmu saja?"

Tanya Miyuki sekaligus bermaksud mengusir Kuramochi yang datang membawa controller game.

"Aku akan memainkannya sekarang."

Miyuki menghela napas kasar saat melihat Kuramochi dan Kawakami memasuki kamarnya untuk bermain game. Tanpa mengucapkan sepatah kata apapun, Miyuki meninggalkan kamarnya. Membiarkan temannya mengambil alih.

Di luar terlihat sangat gelap. Mungkin semua sudah kembali ke kamar masing-masing. Tiba-tiba, Miyuki mengkhawatirkan Sawamura. Mungkin ia terlalu banyak berlatih, lalu tertidur di lantai.

Sesampainya di depan kamar no 5, lampu terlihat menyala. Miyuki yakin bahwa Sawamura ada di dalam. Ia pun membuka pintu tanpa mengetuknya dahulu.

"Sawamura?"

Panggil Miyuki sembari menutup pintu. Sawamura terlihat di kasurnya sambil memegang ponsel. Ia berpikir, mungkin Sawamura bermain ponsel sambil tidur.

Sekali lagi, Miyuki memanggil Sawamura. Namun tidak ada sahutan. Yang terdengar hanyalah dengkuran halus.

Miyuki pun mendekati Sawamura. Ternyata kouhainya tertidur. Miyuki menunduk. Tangan kirinya mengangkup pipi Sawamura. Ia mendekatkan wajahnya, memperhatikan wajah pemuda brunette.

Bibir Miyuki dan Sawamura hampir bertemu. Awalnya, ia berpikir hanya menyentuh wajahnya. Namun, entah mengapa saat Sawamura seperti ini, ia menjadi hilang kendali.

Miyuki menjilat bibir Sawamura agar terbuka. Dimasukkan lidahnya ke dalam mulut Sawamura. Pada saat itu juga, Miyuki merasakan lidahnya sakit.

Tersadar, Miyuki menjauhkan wajahnya dari Sawamura. Salah satu tangannya spontan menutup bibir, matanya terbelalak kaget.

"Apa yang kau lakukan?"

Mendengar suara itu, Sawamura memandang Miyuki dengan tatapan yang dingin. Suaranya terasa sedingin es. Miyuki merasakan keringat dingin mengalir di pelipisnya. Ia pun menyadari bahwa Sawamura telah menggigit lidahnya.

Sawamura mengusap pelan bibirnya dengan jari telunjuk. Merasakan bibirnya basah, ia tersenyum miring ke arah Miyuki.

"Senpai mirip anjing."

Miyuki memperhatikan seringaian Sawamura. Seketika ia merasakan darah di sekujur tubuhnya mendidih.

"Miyuki senpai. Duduk."

"Eh?"

Miyuki meragukan kata-kata Sawamura.

"Kau tidak mendengarkanku~?"

Sawamura kesal. Dengan enggan, Miyuki duduk di lantai.

Masih dengan seringaian, Sawamura memandang Miyuki rendah dan menjulurkan kaki kanannya ke wajah Miyuki.

"Jilat."

"Hah? Apa maksud-"

"Tidak apa-apa kan? Tadi Miyuki senpai mencium paksa seorang kouhai yang sedang tertidur. Bahkan itu bukan ciuman biasa. Deep kiss, bukan?"

"A... aku hanya harus menjilatinya kan?"

Miyuki meraih pergelangan kaki Sawamura dan mendekatkannya ke wajahnya. Kuku yang dipotong rapi menyentuh mulut. Ia menjulurkan lidah dan menjilati jari Sawamura. Dari ujung hingga ke sela-selanya jari. Jari kaki Sawamura yang basah karena air liur terlihat memantulkan cahaya dari lampu. Bagaikan anjing. Miyuki berteriak senang dalam hatinya.

Kenapa Sawamura cepat berubah? Pikirnya. Sawamura menatap Miyuki dengan tatapan dingin, berbeda dari yang biasanya.

"Oke, kau sudah menjilatnya dengan benar. Anak pintar."

Sawamura menarik kakinya dan membelai lembut surai coklat Miyuki. Sawamura tersenyum lembut, jantung Miyuki berdetak kencang.

"Sawamu- aduh!"

Ketika Miyuki memanggil nama Sawamura, helai rambutnya ditarik kasar.

"Hmm... Senpai pikir bisa menyebut namaku semudah itu?"

Ekspresi Sawamura berubah lagi. Wajahnya menunduk dan memandang rendah Miyuki. Miyuki pun menggigit bibir melihatnya.

"Jangan lakukan itu. Tenang saja, aku akan memberimu hadiah."

Sawamura mencium bibir Miyuki dengan kasar. Ia menerobos masuk ke dalam bibir Miyuki dan mengajak lidahnya bermain. Saliva terlihat mengalir di sudut bibir Miyuki. Sesekali Sawamura mendesah manis.

"Bagaimana? Deep kiss ku tadi? Kau sangat menginginkannya kan?"

"Sialan kau! Sawamura!"

"Kau menyukaiku kan?"

"Hah?! Itu tidak-"

"Kalau begitu, kenapa disini begitu keras?"

Sawamura menggesekan kaki kanannya ke selangkangan Miyuki. Muncul semburat merah di pipi Miyuki. Ia menahan desahan. Melihat itu, Sawamura menyeringai senang dan semakin memperkuat gesekan.

"khu... Sawamuraa..."

"Hen-tai~"

Gesekan kaki Sawamura semakin kuat. Tangan Miyuki pun menahan kaki yang terus menggesek selangkangannya.

"Sesak ya?"

"Kau terlihat bersenang-senang."

"Tentu saja."

Sawamura bangkit dari tempat tidur. Lalu, dengan tenang ia duduk dipangkuan Miyuki. Tepat saat Sawamura duduk, ia merasakan ada sesuatu yang keras mengenainya. Tampilan mereka benar-benar berbeda dari biasanya. Air liur membasahi bibir hingga ke pipi, wajah memerah, mata saling menatap penuh nafsu.

"Ah..."

Sawamura mendesah pelan saat Miyuki melepaskan ciumannya. Benang saliva terlihat jelas karena pantulan cahaya lampu. Miyuki menyapu sisa saliva dari bibir hingga dagu Sawamura. Lidahnya turun ke leher. Membuat Sawamura memejamkan mata, menikmati hangatnya lidah Miyuki.

"Sawamura."

Sawamura tersenyum ketika Miyuki memanggil namanya.

Tangan Miyuki bergerak, menyentuh pipi Sawamura. Namun, Sawamura menampar tangannya.

"Jangan terburu-buru, senpai."

Sawamura bangkit dari pangkuan Miyuki. Ia membuka seluruh pakaian yang menempel di tubuhnya. Kejantanan yang mengeras muncul saat ia membuka celana dalam.

"Jangan bergerak. Cukup perhatikan saja."

Sawamura menjilati jarinya, membasahinya dengan air liur. Dan ia memasukkan 2 jari ke dalam lubang rektumnya. Jari bergerak perlahan, napasnya kasar.

"Nggh... Khuh..."

Jarinya bergerak semakin cepat. Tapi, jari saja tidak cukup. Sawamura menggoyangkan pinggulnya.

"Sa... wa... mura..."

Miyuki tampak seperti binatang buas yang bersiap menerkam mangsanya. Ia bernafas berat. Matanya sudah penuh nafsu sejak awal. Menahannya benar-benar menyesakkan.

Miyuki berlutut. Membungkuk hingga kepalanya menyentuh lantai. Ia memohon.

"Aku ingin memasukkannya... milikku... ke dalam... mu..."

"Haha... Kenapa senpai?"

"Eh?"

"Kau... umh... ingin memasukkan milikmu... ke dalam sini? Bukannya... kau tidak... ah... menyukai kouhaimu... ini? Dasar~ mesum~"

Ucap Sawamura bercampur dengan desahan. Tidak seperti suara bodoh biasanya, suaranya terdengar tenang dan seksi. Yang Miyuki tahu Sawamura adalah orang yang idiot, energik, dan polos. Namun, kali ini ia salah menilai seorang Sawamura Eijun.

"Sejak awal..."

"Ha?"

"Aku sudah menyukaimu... sejak awal aku bertemu..."

Sawamura menarik Miyuki dan membiarkan Miyuki memuaskannya. Malam itu, kamar no 5 dipenuhi suara desahan dan erangan kenikmatan.

"Hyaha! Sepertinya Sawamura harus mencobanya. Game kemarin bagus sekali!"

"Ha?"

Kuramochi dan Kawakami berada di depan pintu kamar no 5. Kuramochi senang sedangkan Kawakami menghela nafas.

"Tapi menurutku... Lagipula-"

"Apa? Kau belum menyadarinya?"

Kuramochi dan Kawakami baru saja selesai memainkan game yang baru. Karena begadang, ia bermaksud tidur di kamarnya.

Kuramochi membuka pintu dengan pelan. Ia tidak mau membangunkan kouhai kesayangannya.

"Sawamura... tidak. Eijun, apa tidak apa-apa melakukan ini denganku?"

"Tidak apa-apa kok. Lagipula yang melakukan seks denganku kan Miyuki senpai. Senpai juga begitu kan."

"Tubuhmu... baik-baik saja?"

"Sedikit sakit sih. Tapi, tenang saja. Aku baik-baik saja."

"Benarkah?"

"Rasa sakit ini adalah bukti bahwa kita sudah saling menyatu. Bagaimana ya... umm... aku sangat bahagia."

"Kau malaikat ya??

Miyuki dan Sawamura bermesraan di tempat tidur. Tak lama setelah bercakap-cakap, mereka berciuman sekilas, kemudian Sawamura tertidur dalam pelukan Miyuki.

Kuramochi pingsan, Kawakami menutup pintu dan segera pergi dari kamar no 5 sembari membopong Kuramochi.

Yaho~ aku balik lagi...

Btw, Otanjoubi Omedetou Eijun!

Maaf telat ngucapin, nih ku kasi hadiah spesial :v

Menurut kalian Eijun yang punya sifat sadistic gitu gimana?

Sekali-sekali pengen liat Kazuya yang disiksa gitu. Kasian Eijun mulu.

Untuk judul, "SS" artinya Sadistic Sawamura.

Jangan lupa reviewnya ya~

Oke, sankyuu sudah membaca~